Anda di halaman 1dari 144

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

FORMULASI SEDIAAN TABLET LIQUISOLID GLIBENKLAMID


DENGAN PELARUT GLISERIN DAN AMILUM KENTANG SEBAGAI
CARRIER MATERIAL

Buana Cahya Wijaya


NIM : 128114127

INTISARI

Glibenklamid merupakan obat antidiabetik oral golongan sulfonilurea


yang digunakan untuk pengobatan diabetes melitus tipe II dan termasuk dalam
Biopharmaceutics Classification System (BCS) 2 yang memiliki kelarutan rendah
dalam air dan memiliki permeabilitas tinggi. Penelitian ini memformulasikan
sediaan tablet liquisolid glibenklamid dengan menggunakan pelarut gliserin dan
amilum kentang sebagai carrier material. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui
pengaruh pelarut gliserin dan amilum kentang sebagai carrier material terhadap
sifat fisik dan profil disolusi pada tablet liquisolid glibenklamid serta mengetahui
proporsi optimum campuran bahan pelarut gliserin dan amilum kentang sebagai
carrier material dalam tablet liquisolid glibenklamid.
Pada penelitian ini menggunakan metode simplex lattice design untuk
optimasi formula dengan perbandingan run gliserin : amilum kentang R1
(0%:100%), R2 (0%:100%), R3 (25%:75%), R4 (50%:50%), R5 (50%:50%), R6
(75%:25%), R7 (100%,0%), dan R8 (100%,0%). Pengujian sifat serbuk meliputi
indeks kompresibilitas. Pengujian sifat fisik tablet meliputi keseragaman
kandungan, kekerasan, waktu hancur, kerapuhan, dan disolusi. Analisis data
dengan menggunakan Design Expert 9.0.
Hasil penelitian menunjukkan gliserin berpengaruh signifikan
meningkatkan respon kerapuhan, meningkatkan persentase obat yang terdisolusi
serta menurunkan kekerasan dan waktu hancur dengan proporsi optimum
campuran gliserin : amilum kentang pada jumlah 25 mg dan 287 mg (100% : 0%).

Kata kunci : liquisolid, glibenklamid, gliserin, amilum kentang, disolusi tablet,


simplex lattice design.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

ABSTRACT

Glibenclamide is an oral antidiabetics drug used for the treatment of


diabetes type II and include as Biopharmaceutics Classification System (BCS) II
which has a low solubility in water and high permeability. This research is
formulation liquisolid glibenclamide tablet dosage with glycerin solvent and
potato starch as carrier material. This study aims to determine the effect of
solvents glycerin and potato starch as carrier material on the physical properties
and dissolution profile in liquisolid glibenclamide tablet as well as to get optimum
proportions of glycerin solvent and potato starch as carrier material in
glibenclamide liquisolid tablet.
This study uses the method of optimization models simplex lattice design
with a comparison of each formula Run (R) glycerin : potato starch are R1 and
R2 (0%: 100%), R3 (25%: 75%), R4 and R5 (50%: 50%), R6 (75% : 25%), R7
and R8 (100%, 0%). Powder evaluation includes compressibility index.
Evaluation tablet includes tablet content uniformity, hardness, friability,
disintegration time and dissolution.
Data evaluation and evaluation of tablet powder was analyzed by Design
Expert 9.0. The results showed that glycerin significantly increase friability,
percentage drug dissolution, also decrease tablet hardness and disintegration
time of tablet with optimum mixture proportion glycerin : potato starch by an
amount of 25 mg and 287 mg (100%: 0%).

Key words : glibenclamide, glycerin, potato starch, physical properties,


dissolution tablet, simplex lattice design.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

FORMULASI SEDIAAN TABLET LIQUISOLID GLIBENKLAMID

DENGAN PELARUT GLISERIN DAN AMILUM KENTANG SEBAGAI

CARRIER MATERIAL

Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.)

Program Studi Farmasi

Diajukan oleh:

Buana Cahya Wijaya

NIM : 128114127

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

2016
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

FORMULASI SEDIAAN TABLET LIQUISOLID GLIBENKLAMID

DENGAN PELARUT GLISERIN DAN AMILUM KENTANG SEBAGAI

CARRIER MATERIAL

Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.)

Program Studi Farmasi

Diajukan oleh:

Buana Cahya Wijaya

NIM : 128114127

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

2016

i
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

ii
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

iii
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

HALAMAN PERSEMBAHAN

Kupersembahkan karya ini untuk :

Kedua orang tuaku dan kedua kakakku atas motivasi dan doanya

Sahabat-sahabatku yang selalu setia menemaniku

iv
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

v
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

vi
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PRAKATA

Puji syukur penulis kepada Tuhan yang Maha Esa karena atas kasih,

berkat, dan penyertaan-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul

“Formulasi Sediaan Tablet Liquislod Glibenklamid dengan Pelarut Gliserin dan

Amilum Kentang sebagai Carrier Material” dengan baik. Penulisan skripsi ini

merupakan salah satu syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.)

di Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma.

Selama menyelesaikan perkuliahan, penelitian, dan penulisan skripsi ini

peneliti mendapatkan motivasi, kerja keras, pantang menyerah, kritik dan saran

dari berbagai pihak. Oleh karena itu penulis ingin mengucapkan terima kasih

kepada :

1. Ibu Aris Widyawati, M.Si., PhD., Apt., sebagai Dekan Fakultas

Farmasi Universitas Sanata Dharma

2. Bapak Dr. Teuku Nanda Saifullah Sulaiman, M.Si., Apt. sebagi Dosen

Pembimbing yang telah banyak memberikan waktu, bimbingan, kritik,

dan saran mulai dari penulisan proposal, penelitian, hingga penulisan

skripsi.

3. Ibu Wahyuning Setyani, M.Sc., Apt., sebagai dosen penguji yang

telah memberikan waktu masukan, kritik dan saran kepada penulis.

4. Ibu Dr. Dewi Setyaningsih, M.Sc., Apt., sebagai dosen penguji yang

telah memberikan waktu, masukan, kritik dan saran kepada penulis.

vii
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

5. dr. Fenty M.Kes., Sp.PK sebagai dosen pembimbing akademik atas

pendampingannya selama perkuliahan.

6. Ibu Agustina Setiawati, M.Sc., Apt sebagai Kepala Penanggung Jawab

Laboratorium Fakultas Farmasi Universitas Sanat Dharma Yogyakarta

yang telah memberikan ijin dalam penggunaan fasilitas laboratorium

untuk kepentingan penelitian ini.

7. Semua dosen-dosen Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma

Yogyakarta yang telah sabar dalam mendidik dan memberikan ilmu

kepada penulis selama menempuh pendidikan di Fakultas Farmasi

Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

8. Bapak Musrifin, Bapak Agung, Mas Kunto, Bapak Parlan, Bapak

Kayat dan segenap laboran dan staff karyawan, yang telah membantu

selama penelitian berlangsung.

9. Adhi darma Wijaya, Debbie Lukito, Indra Cahya Wijaya dan

Veronica Cahya Wijaya sebagai orang tua dan kakak yang selalu

memberikan doa, semangat dan finansial sehingga penulis dapat

menyelesaikan penelitian ini.

10. Teman skripsi seperjuangan Yudha Adi Prabowo dan Desion Sudi

yang dapat bekerja sama dengan baik selama penelitian berlangsung.

11. Sahabat-sahabatku Bartolomeus Widiasta, Laurensius Danang

Wicaksana, Desion Sudi, Yudha Adi Prabowo, Satrio Budi Utomo,

Jonathan Wijaya, Malvin Choco, Kevien Arditanoyo, Michael

Giovanni, Bernadus Anggi, Yohannes Wikan, Clarisa Dian, Linda

viii
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Evelina Larisa, Lotmi Barasa, Vinsensia Septima yang selalu

memberikan dukungan, semangat, motivasi, dan persahabatan yang

paling berkesan sampai selamanya.

12. Grup “Change or Die” yang selalu memberikan dukungan semangat

kepada penulis

13. Teman-teman FST B 2012 dan angkatan 2012 Fakultas Farmasi

Universitas Sanata Dharma yang juga memberikan warna selama

masa perkuliahan penulis.

14. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang

telah memberikan doa, bantuan, dan dukungan selama penelitian

skripsi.

Penulis menyadari bahwa penyusun skripsi ini masih banyak kekurangan

mengingat keterbatasan kemampuan serta pengalaman yang dimiliki. Oleh karena

itu, kritik dan saran yang membangun sangat diperlukan oleh penulis untuk

menyempurnakan skripsi ni. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi

perkembangan ilmu pengetahuan.

Yogyakarta, 20 Juli 2016

Penulis

ix
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL........................................................................................ i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING .............................................. ii

HALAMAN PENGESAHAN SKRIPSI BERJUDUL ................................... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ...................................................................... iv

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ............................................................ v

HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI .................................................. vi

PRAKARTA ................................................................................................. . vii

DAFTAR ISI ....................................................................................................... x

DAFTAR TABEL .............................................................................................. xv

DAFTAR GAMBAR ....................................................................................... xvi

DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................. xvii

INTISARI....................................................................................................... xviii

ABSTRACT ........................................................................................................ xix

BAB I. PENDAHULUAN ................................................................................ 1

A. Latar Belakang ...................................................................................... 1

B. Rumusan Masalah ................................................................................. 3

C. Keaslian Penelitian ................................................................................ 3

D. Manfaat Penelitian ................................................................................ 4

E. Tujuan Penelitian .................................................................................. 4

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA...................................................................... 5

A. Tablet Liquisolid ................................................................................... 5

x
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

1. Definisi liquisolid ............................................................................. 5

2. Keuntungan dan kerugian tablet liquisolid ....................................... 5

3. Komponen Tablet Liquisolid ........................................................... 6

a. Pelarut non-volatile ..................................................................... 6

b. Carrier material ............................................................................ 6

c. Coating material ........................................................................... 6

d. Superdisintegran ........................................................................... 7

4. Cara pembuatan sediaan tablet liquisolid .......................................... 7

5. Mekanisme meningkatnya pelepasan obat liquisolid ...................... 9

6. Model matematika tablet liquisolid ............................................... 10

7. Uji sifat alir serbuk liquisolid .......................................................... 11

a. Sudut diam .................................................................................. 11

b. Kecepatan alir ............................................................................. 12

c. Kerapatan serbuk ruahan ............................................................ 12

d. Kerapatan serbuk mampat .......................................................... 13

e. Hausner ratio .............................................................................. 13

f. Indeks kompresibilitas ......................................................... 13

g. Distribusi ukuran partikel ........................................................... 14

h. Kandungan lembab (Moisture Content) ..................................... 14

8. Uji Mutu tablet liquisolid ................................................................ 15

a. Keragaman bobot ........................................................................ 15

b. Keseragaman kandungan ............................................................ 15

c. Kekerasan tablet .......................................................................... 16

xi
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

d. Kerapuhan tablet ......................................................................... 16

e. Waktu hancur tablet ..................................................................... 17

f. Disolusi tablet .............................................................................. 17

B. Monografi Bahan .................................................................................. 18

1. Glibenklamid .................................................................................. 18

2. Gliserin .......................................................................................... 19

3. Amilum kentang ............................................................................. 20

4. HDK Wacker N20 (Aerosil) .......................................................... 21

5. Avicel PH 102 (Microcrystalline Cellulose).................................. 21

6. Sodium Starch Glycolate (SSG) ..................................................... 22

7. Magnesium Stearat ......................................................................... 22

C. Landasan Teori ..................................................................................... 23

D. Hipotesis............................................................................................... 24

BAB III. METODE PENELITIAN.................................................................. 25

A. Jenis dan Rancangan Penelitian ........................................................... 25

B. Variabel Penelitian ............................................................................... 25

C. Definisi Operasional............................................................................. 26

D. Alat dan Bahan Penelitian .................................................................... 27

E. Tata Cara Penelitian ............................................................................. 28

1. Pembuatan sediaan tablet liquisolid ............................................... 28

2. Uji mutu serbuk liquisolid.............................................................. 29

a. Indeks kompresibilitas ............................................................. 29

b. Uji homogenitas serbuk............................................................ 29

xii
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

1) Pembuatan larutan induk .............................................. 29

2) Penentuan panjang gelombang maksimum .................. 29

3) Pembuatan kurva baku ................................................. 30

4) Homogenitas serbuk ..................................................... 30

3. Uji mutu tablet liquisolid ............................................................... 30

a. Uji keseragaman kandungan .................................................... 30

b. Uji kekerasan tablet .................................................................. 31

c. Uji kerapuhan tablet ................................................................. 31

d. Uji waktu hancur tablet ............................................................ 31

e. Penetapan kadar ....................................................................... 31

f. Uji disolusi ............................................................................... 32

1) Pembuatan larutan bufer fosfat pH 8,5 .............................. 32

2) Pembuatan larutan induk ................................................... 32

3) Penentuan panjang gelombang maksimum ....................... 32

4) Pembuatan kurva baku ...................................................... 32

5) Uji disolusi tablet............................................................... 33

F. Analisis Data ........................................................................................ 33

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ........................................................ 35

A. Hasil Uji Sifat Alir Serbuk Liquisolid.................................................. 35

1. Indeks kompresibilitas .................................................................... 35

B. Hasil Uji Homogenitas Serbuk Liquisolid ............................................ 37

C. Hasil Uji Mutu Tablet Liquisolid .......................................................... 40

1. Keseragaman kandungan tablet....................................................... 40

xiii
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

2. Kekerasan tablet .............................................................................. 41

3. Kerapuhan tablet ............................................................................. 43

4. Waktu hancur tablet ........................................................................ 44

D. Hasil uji Penetapan Kadar tablet ........................................................... 46

E. Hasil Uji Disolusi Tablet....................................................................... 47

1. Penentuan Panjang gelombang maksimum ..................................... 47

2. Penentuan Persamaan Kurva baku .................................................. 48

3. Uji Disolusi Obat ............................................................................ 49

F. Penentuan Formula Optimum ............................................................... 52

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ........................................................... 54

A. Kesimpulan ........................................................................................... 54

B. Saran ...................................................................................................... 54

DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 55

LAMPIRAN ...................................................................................................... 60

BIOGRAFI PENULIS ....................................................................................... 122

xiv
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

DAFTAR TABEL

Tabel I. Hubungan sudut diam dan sifat alir serbuk ................................. 12

Tabel II. Parameter indeks kompresibilitas, hausner ratio, dan kategori .. 14

Tabel III. Penggunaan uji keseragaman pada sediaan tablet ....................... 16

Tabel IV. Formula tablet liquisolid glibenklamid ....................................... 28

Tabel V. Hasil uji homogenitas serbuk liquisolid ...................................... 39

Tabel VI. Hasil penetapan kadar tablet liquisolid glibenklamid ................. 46

Tabel VII. Pemberian nilai dan bobot pada respon ...................................... 52

Tabel IX. Hasil prediksi formula optimum dan hasil formula R1 dan R2 .. 54

xv
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Skema secara umum liquisolid .................................................. 8

Gambar 2. Struktur kimia glibenklamid ...................................................... 18

Gambar 3. Struktur kimia gliserin ............................................................... 20

Gambar 4. Struktur kimia amilum kentang ................................................. 20

Gambar 5. Model plot respon indeks kompresibilitas serbuk .................... 36

Gambar 6. Spectrum graph glibenklamid dalam Methanol ........................ 37

Gambar 7. Kurva Baku Glibenklamid dalam metanol ................................ 38

Gambar 8. Model plot respon keseragaman kandungan tablet ................... 40

Gambar 9. Model plot respon kekerasan tablet ........................................... 42

Gambar 10. Model plot respon kerapuhan tablet .......................................... 43

Gambar 11. Model plot respon waktu hancur tablet ..................................... 45

Gambar 12. Spectrum graph glibenklamid dalam bufer fosfat pH 8,5 ........ 47

Gambar 13. Kurva baku glibenklamid dalam bufer fosfat ............................ 48

Gambar 14.a Profil disolusi tablet liquisolid glibenklamid R1-R4 (n=6) ....... 49

Gambar 14.b Profil disolusi tablet liquisolid glibenklamid R5-R8 (n=6) ....... 50

Gambar 15. Model plot respon disolusi tablet .............................................. 51

Gambar 16. Model plot formula optimum tablet .......................................... 53

xvi
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Sertifikat Analisis (Certificate Of Analysis COA) .................... 60

Lampiran 2. Hasil spektrofotometer UV glibenklamid ................................. 67

Lampiran 3. Data hasil uji sifat alir serbuk ................................................... 69

Lampiran 4. Data hasil uji homogenitas campuran ....................................... 70

Lampiran 5. Data hasil uji sifat fisik tablet ................................................... 71

Lampiran 6. Data penetapan kadar tablet ...................................................... 77

Lampiran 7. Data hasil uji disolusi tablet ...................................................... 78

Lampiran 8. Perhitungan keseragaman kandungan ....................................... 102

Lampiran 9. Perhitungan disolusi tablet ........................................................ 104

Lampiran 10. Data hasil kurva baku glibenklamid .......................................... 106

Lampiran 11. Analisis statistik sifat alir, sifat fisik dan disolusi tablet

liquisolid glibenklamid dengan Design Expert 9.0 dan

formula optimum ................................................................ 109

Lampiran 12. Analisis statistik sediaan tablet liquisolid glibenklamid

dengan menggunakan sofware R studio 3.23 ............................ 114

Lampiran 13. Dokumentasi ............................................................................. 117

xvii
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

INTISARI

Glibenklamid merupakan obat antidiabetik oral golongan sulfonilurea


yang digunakan untuk pengobatan diabetes melitus tipe II dan termasuk dalam
Biopharmaceutics Classification System (BCS) 2 yang memiliki kelarutan rendah
dalam air dan memiliki permeabilitas tinggi. Penelitian ini memformulasikan
sediaan tablet liquisolid glibenklamid dengan menggunakan pelarut gliserin dan
amilum kentang sebagai carrier material. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui
pengaruh pelarut gliserin dan amilum kentang sebagai carrier material terhadap
sifat fisik dan profil disolusi pada tablet liquisolid glibenklamid serta mengetahui
proporsi optimum campuran bahan pelarut gliserin dan amilum kentang sebagai
carrier material dalam tablet liquisolid glibenklamid.
Pada penelitian ini menggunakan metode simplex lattice design untuk
optimasi formula dengan perbandingan run gliserin : amilum kentang R1
(0%:100%), R2 (0%:100%), R3 (25%:75%), R4 (50%:50%), R5 (50%:50%), R6
(75%:25%), R7 (100%,0%), dan R8 (100%,0%). Pengujian sifat serbuk meliputi
indeks kompresibilitas. Pengujian sifat fisik tablet meliputi keseragaman
kandungan, kekerasan, waktu hancur, kerapuhan, dan disolusi. Analisis data
dengan menggunakan Design Expert 9.0.
Hasil penelitian menunjukkan gliserin berpengaruh signifikan
meningkatkan respon kerapuhan, meningkatkan persentase obat yang terdisolusi
serta menurunkan kekerasan dan waktu hancur dengan proporsi optimum
campuran gliserin : amilum kentang pada jumlah 25 mg dan 287 mg (100% : 0%).

Kata kunci : liquisolid, glibenklamid, gliserin, amilum kentang, disolusi tablet,


simplex lattice design.

xviii
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

ABSTRACT

Glibenclamide is an oral antidiabetics drug used for the treatment of


diabetes type II and include as Biopharmaceutics Classification System (BCS) II
which has a low solubility in water and high permeability. This research is
formulation liquisolid glibenclamide tablet dosage with glycerin solvent and
potato starch as carrier material. This study aims to determine the effect of
solvents glycerin and potato starch as carrier material on the physical properties
and dissolution profile in liquisolid glibenclamide tablet as well as to get optimum
proportions of glycerin solvent and potato starch as carrier material in
glibenclamide liquisolid tablet.
This study uses the method of optimization models simplex lattice design
with a comparison of each formula Run (R) glycerin : potato starch are R1 and
R2 (0%: 100%), R3 (25%: 75%), R4 and R5 (50%: 50%), R6 (75% : 25%), R7
and R8 (100%, 0%). Powder evaluation includes compressibility index.
Evaluation tablet includes tablet content uniformity, hardness, friability,
disintegration time and dissolution.
Data evaluation and evaluation of tablet powder was analyzed by Design
Expert 9.0. The results showed that glycerin significantly increase friability,
percentage drug dissolution, also decrease tablet hardness and disintegration
time of tablet with optimum mixture proportion glycerin : potato starch by an
amount of 25 mg and 287 mg (100%: 0%).

Key words : glibenclamide, glycerin, potato starch, physical properties,


dissolution tablet, simplex lattice design.

xix
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Glibenklamid adalah salah satu obat antidiabetik oral golongan

sulfonilurea generasi kedua yang digunakan untuk pengobatan diabetes tipe II.

Glibenklamid merupakan obat yang termasuk dalam Biopharmaceutics

Classification System (BCS) 2 yang memiliki kelarutan yang rendah dalam air dan

memiliki permeabilitas tinggi (Sirisha, Sruthi, and Eswariah, 2012). Pada obat

yang termasuk dalam BCS II, bioavailabilitas obat ditentukan dari kelarutan obat

tersebut dalam cairan gastrointestinal (Savjani, Gajjar and Savjani, 2012),

sehingga diperlukan teknik dalam formulasi untuk meningkatkan kelarutan obat,

diantaranya pengecilan ukuran partikel (mikronisasi), penambahan surfaktan,

pembuatan obat dalam bentuk garam, pembentukan kompleks, atau dengan

pembuatan dispersi solid, dan Liquisolid (Hadisoewignyo, 2012).

Pada penelitian ini dilakukan formulasi tablet liquisolid untuk

meningkatkan kelarutan obat glibenklamid. Liquisolid merupakan salah satu

teknik dalam meningkatkan laju disolusi obat yang memiliki keuntungan pada

pembuatannya yang sederhana dengan biaya produksi yang relatif murah serta

dapat meningkatkan bioavailabilitas obat yang tergolong BCS II dan BCS IV

(Mahapatra et al., 2014). Liquisolid membutuhkan 2 komponen utama berupa

pelarut dan carrier materialr Syarat pelarut dalam tablet liquisolid yaitu harus

inert, memiliki titik didih yang tinggi, viskositas yang rendah, dan bersifat non-

1
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

volatile. Contoh pelarut yang biasa digunakan PEG, propilen glikol, tween,

gliserin, dimetil etil asetamida, polisorbat (Syed and Pavani, 2012). Syarat carrier

material yaitu harus memiliki daya absorpsi yang tinggi sehingga dapat menyerap

suspensi obat. Contoh carrier material yaitu starch, cellulose dan laktosa

(Kulkarni, Aloorkar, Mane and Gaja, 2010).

Pada penelitian ini digunakan pelarut berupa gliserin, bahan ini banyak

digunakan sebagai bahan tambahan pada suatu formulasi untuk meningkatkan

kelarutan obat yang sukar larut dalam air. Glibenklamid memiliki kelarutan dalam

gliserin yang cukup tinggi dibandingkan beberapa pelarut lainnya yaitu sebesar

7,17 µg/mL (Singh et al., 2012). Gliserin diketahui telah berhasil digunakan untuk

formulasi likuisolid dan dapat memperbaiki profil disolusi pada beberapa obat

seperti Spironoloacton (Akbari et al., 2015), indometachin (Saeedi et al., 2011).

Pada penelitian ini juga digunakan amilum kentang sebagai carrier.

Amilum banyak digunakan sebagai bahan tambahan dalam suatu formulasi

sediaan tablet untuk dapat hancur dengan baik dalam medium disolusi dan

memiliki laju disolusi yang tinggi (Javadzadeh, Siahi, Asnaashari and Nokhodchi,

2007). Amilum kentang juga memiliki kemampuan disintegrasi serta pelepasan

obat yang baik dibandingkan amilum padi dan amilum jagung (Andrzej, Karol,

Magdalena and Ewa, 2014). Amilum diketahui telah berhasil digunakan untuk

formulasi likuisolid dan dapat memperbaiki profil disolusi serta menurunkan

kerapuhan tablet pada beberapa obat seperti Lovastatin (Shyam et al., 2014)

glyburide (Mohiuddin et al., 2014), carbamazepine (Vranikova et al., 2013).


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Formulasi sediaan tablet liquisolid glibenklamid dengan pelarut gliserin

dan amilum kentang sebagai carrier material diharapkan mampu memberikan

pengaruh terhadap sifat fisik dan persentase obat yang terdisolusi serta

mendapatkan proporsi formula optimum sediaan tablet liquisolid glibenklamid.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan sebelumnya, timbul

beberapa masalah yang akan diteliti sebagai berikut:

1. Bagaimana pengaruh pelarut gliserin dan amilum kentang sebagai carrier

material terhadap sifat fisik dan profil disolusi tablet liquisolid glibenklamid?

2. Berapa proporsi optimum campuran pelarut gliserin dan amilum kentang

sebagai carrier material dalam tablet liquisolid glibenklamid?

C. Keaslian Penelitian

Telah dilakukan beberapa penelitian tentang formulasi sediaan tablet

liquisolid glibenklamid dengan berbagai macam kombinasi pelarut dan carrier

material diantaranya PEG 400 dengan MCC oleh Sirisha (2012), propilen glikol

dengan Amilum kentang oleh Arun Kumar (2012), Synperonic PE/L44, dan

Cremophor ELP dengan Amilum kentang oleh Javaheri (2014). Formulasi sediaan

tablet Glibenklamid untuk meningkatkan kecepatan disolusi dengan teknik

Liquisolid dengan kombinasi pelarut tween 80 dan carrier material dengan

Amilum jagung oleh Sirisha (2012). Sejauh penelusuran peneliti, penelitian

tentang “Formulasi Sediaan Tablet Liquisolid Glibenklamid dengan Pelarut

Gliserin dan Amilum kentang sebagai Carrier Material” belum pernah dilakukan.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

D. Manfaat Penelitian

a. Manfaat teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi penelitian untuk

pengembangan formulasi tablet liquisolid glibenklamid dengan pelarut

gliserin dan amilum kentang sebagai carrier material.

b. Manfaat praktis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang sediaan tablet

liquisolid gilbenklamid bagi masyarakat.

E. Tujuan Penelitian

a) Tujuan umum

Mengetahui pengaruh pelarut gliserin dan amilum kentang sebagai carrier

material terhadap sifat fisik dan profil disolusi tablet liquisolid glibenklamid.

b) Tujuan khusus

Mengetahui proporsi campuran pelarut gliserin dan amilum kentang sebagai

carrier material terhadap sifat fisik dan profil disolusi tablet liquisolid

glibenklamid.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tablet Liquisolid

1. Definisi liquisolid

Liquisolid merupakan suatu teknik pembuatan tablet untuk meningkatkan

laju disolusi obat yang diperkenalkan oleh Spires pada tahun 2002 (Spireas,

2002). Metode ini telah diketahui dapat meningkatkan luas permukaan obat dan

persen obat terbasahi, liquisolid pada obat dengan kelarutan yang rendah dalam

air diharapkan dapat meningkatkan pelepasan dan bioavailabilitas obat secara oral

(Pavani, Noman dan Syed, 2013). Formulasi tablet liquisolid dapat diterapkan

pada berbagai macam obat yang sukar larut air atau hampir tidak larut air dengan

dosis obat yang kecil (kurang dari 100 mg) (Sinkar, Gondkar and Saudagar,

2015).

2. Keuntungan dan Kerugian dari Teknik Liquisolid

Adapun beberapa keuntungan dari teknik liquisolid antara lain metode

pembuatannya sederhana, biaya produksi yang rendah, meningkatkan pelepasan

dan bioavailabilitas obat yang tergolong BCS II dan BCS IV, memiliki

bioavailabilitas yang lebih baik dibandingkan dengan tablet konvensional,

pelepasan obat tidak dipengaruhi makanan dan pH pada obat oral dengan

kelarutan yang rendah dalam air (Mahapatra et al, 2014). Sedangkan kerugian dari

metode ini adalah memiliki keterbatasan dalam memformulasikan obat dengan

dosis besar (lebih dari 100 mg), dikarenakan pada obat dengan dosis yang besar

5
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

dibutuhkan penambahan pelarut, carrier material dan coating material dalam

jumlah yang besar untuk mendapatkan sifat alir dan kompresibilitas baik sehingga

dapat meningkatkan bobot tablet (Syed et al., 2012).

3. Komponen tablet liquisolid

a. Pelarut non volatile

Pelarut non volatile merupakan bahan yang bertindak sebagai surfakatan

untuk membantu kelarutan bahan aktif dalam air. Syarat pelarut dalam liquisolid

bersifat inert, tidak menguap, memiliki titik didih tinggi, dapat melarutkan bahan

aktif dan dapat terdispersi dalam sistem liquisolid. Contoh pelarut non–volatile

yang dapat digunakan dalam formulasi tablet liquisolid antara lain PEG, propilen

glikol, tween, gliserin, dimetil etil asetamida, polisorbat (Syed et al., 2012).

b. Carrier material

Carrier material merupakan bahan yang berfungsi sebagai penyerap

liquid medication dalam formulasi tablet liquisolid. Syarat carrier material yang

dapat digunakan dalam formulasi liquisolid antara lain memiliki pori dan daya

serap yang mencukupi untuk menyerap liquid medication. Contoh carrier yang

dapat digunakan dalam formulasi tablet liquisolid antara lain amilum, beberapa

tingkatan microcrystalline cellulose dan laktosa. (Syed et al., 2012).

c. Coating material

Coating material merupakan bahan yang digunakan untuk melapisi

partikel basah carrier yang telah menyerap liquid medication, sehingga

menghasilkan serbuk yang kering (Priya, Kumari, Ankita, 2013). Syarat coating

material yang baik adalah memiliki diameter partikel berkisar antara 0,01-5 µm
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

dan daya adsorpsi yang tinggi untuk menghasilkan serbuk yang kering dan

memiliki laju alir yang baik. Coating material yang relatif sering digunakan

dalam formulasi liquisolid adalah colloidal silicon dioxide (Aerosil®, Cab-O-Sil®

M5) (Vraníková and Gajdziok, 2013).

d. Superdisintegran

Superdisintegran merupakan bahan yang digunakan untuk mempercepat

waktu hancurnya tablet dalam medium air, dan dapat terdisintegrasi menjadi

partikel penyusunnya sehingga akan meningkatkan kecepatan disolusi dan

tercapainya bioavailabilitas yang diharapkan. Jenis bahan penghancur seperti pati

dan jenis-jenis lainnya merupakan jenis bahan penghancur yang umumnya

digunakan dan harganya relatif murah. Biasanya digunakan dengan konsentrasi 5-

20% dari berat tablet (Lachman, Ziff and Spiro, 1994). Syarat-syarat bahan

superdisintegran harus menghasilkan kehancuran yang cepat, memenuhi

kompaktibilitas yang baik, ukuran partikel kecil,dan memiliki sifat alir yang baik

(Debjit, Chiranjib, Krishnakanth, Pankaj, and Chandira, 2009). Superdisintegran

memiliki daya mengembang yang sangat tinggi dan cepat pada medium air

sehingga mampu mendesak penyusun tablet lainnya ke arah luar secara cepat yang

akan menyebabkan tablet dapat segera hancur (Sulaiman, 2007).

4. Cara pembuatan sediaan tablet liquisolid

Tablet liquisolid dibuat dengan cara menambahkan bahan aktif yang

sukar larut dalam air ke dalam pelarut non-volatile hingga membentuk suspensi

yang kemudian diubah menjadi bentuk serbuk yang mudah mengalir, non-

adherent dan siap untuk dikempa setelah penambahan carrier material dan
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

coating material (Gubbi and Jarag, 2009). Berikut merupakan tahapan secara

umum pembuatan tablet liquisolid pada gambar 1.

Bahan aktif
ditamba ditambahkan Carrier dan dicampur
+ Serbuk
coating
Pelarut non- kering
material
volatile
solven

ditambahkan

Dikempa Eksipien lain


menjadi dicampur (pelicin dan ditambahkan Disintegran
tablet pengikat)
dicampur

Gambar 1. Skema secara umum liquisolid (Priya et al., 2013).

Tablet liquisolid dirancang khusus dengan menambahkan bahan obat ke

dalam pelarut hingga terbentuk suspensi obat yang di serap oleh carrier material

sehingga suspensi obat dapat terdispersi merata pada sediaan serbuknya (Spireas,

2002). Tablet liquisolid dapat diaplikasikan dengan baik untuk bahan obat dengan

dosis kecil. Peningkatan laju pelepasan obat sebanding dengan fraksi obat yang

berada dalam dispersi molekulernya (Hadisoewignyo, 2012).

Pembuatan tablet liquisolid umumnya menggunakan superdisintegran

dan bahan pelicin. Superdisintegran dapat membuat tablet menjadi mudah untuk

hancur sehingga dapat membuat tablet menjadi lebih cepat untuk terdisolusi.

Bahan pelicin digunakan untuk memudahkan serbuk untuk mengalir sehingga

dapat dikempa menjadi tablet (Hadisoewignyo, 2012).


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

5. Mekanisme meningkatnya pelepasan obat liquisolid

a. Meningkatnya luas permukaan bahan obat

Ketika obat dalam sistem liquisolid larut dalam pelarut non-volatile, obat

akan berada pada keadaan dispersi molekuler di dalam carrier. Hal ini

menyebabkan luas permukaan obat menjadi besar sehingga pelepasan obat

meningkat. Dalam tablet liquisolid, pelepasan obat akan menjadi cepat karena luas

permukaan obat besar dibanding dengan partikel obat yang dibuat dengan metode

cetak langsung yang memiliki luas permukaan yang kecil untuk obat yang sulit

larut (Vraníková et al., 2013).

b. Meningkatnya kelarutan obat dalam air

Perlu diketahui bahwa sedikit jumlah pelarut non-volatile dalam

liquisolid tidak ikut melarutkan bahan obat. Pada antar permukaan padat-cairan

(liquisolid tablet dan medium disolusi), sangat memungkinkan sedikit jumlah dari

pelarut tersebut berdifusi keluar bersama dengan molekul obat dan bertindak

sebagai ko-solven yang akan membantu meningkatkan kelarutan bahan obat

dalam air (Lohithatsu et al., 2014).

c. Meningkatkan proses pembasahan

Pelarut non-volatile dalam liquisolid dapat bertindak sebagai surfaktan

dengan menurunkan tegangan permukaan antara permukaan tablet dengan

medium disolusi sehingga pembasahan dari partikel-partikel obat liquisolid

meningkat (Vraníková et al., 2013). Pembasahan dalam liquisolid ini dapat dilihat

dari sudut kontak yang kecil. Sudut kontak yang kecil berarti pembasahan

meningkat (Kulkarni et al., 2010).


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

10

6. Model matematika tablet liquisolid

Suatu pendekatan matematika yang dinyatakan Spireas dalam formulasi

liquisolid untuk menghitung jumlah non-volatile solvent, carrier material dan

coating material sehingga serbuk liquisolid memiliki kemampuan mengalir dan

kompresibilitas yang baik. Rasio eksipien (R) merupakan rasio dari jumlah

carrier (Q) dan coating material (q), nilai R ditunjukan dengan persaaman (1)

R= ..................................................................................................................... (1)

Liquid load factor (Lf) merupakan rasio dari jumlah liquid medication (W) dan

carrier material (Q). Nilai Lf ditunjukkan persamaan (2).

Lf = ..................................................................................................................... (2)

Kecepatan disolusi pada liquisolid akan semakin tinggi seiring meningkatnya

rasio eksipien (R) pada rentang 5 hingga 20. (Burra, Yamsani, Vobalaboina,

2011). Serbuk liquisolid akan memiliki sifat alir yang baik pada nilai rasio 20

(Satheeshbabu, Ghowthamarajan, Gayathri, Saravanan, 2011). Nilai rasio eksipien

yang rendah akan mengakibatkan penurunan kecepatan disolusi dan

meningkatnya nilai Lf akan menurunkan sifat kompresibilitas campuran akhir

(Vajir, Sahu, Ghuge, Bang, Bakde, 2012). Nilai Lf yang tinggi dan Rasio eksipien

yang rendah akan menghasilkan tablet dengan jumlah liquid medication yang

berlebihan dan tidak dapat diserap oleh pembawa, sehingga akan menurunkan

sifat kompresibilitas dan menyebabkan sejumlah liquid medication yang keluar

dari partikel primer ketika di kempa. Pada beberapa kasus, difusi obat pada

partikel primer lebih cepat dibanding difusi obat pada stagnant layer
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

11

(Hadisoewignyo, 2012). Hubungan antara liquid load factor (Lf) dan nilai R

ditunjukkan dengan persamaan (3) dan persamaan (4).

Lf = ɸ + φ (1/R) .................................................................................................... (3)

Lf = Ψ+ϕ (1/R) ..................................................................................................... (4)

Nilai Ψ dan ϕ menyatakan jumlah maksimum pelarut non-volatile yang digunakan

dan memiliki kompaktibilitas yang baik yang ditandai dengan kekerasan tablet

yang mencukupi dan tanpa adanya cairan yang keluar pada saat pencetakan tablet

(Abbas, Rasool, and Rajab, 2014 ).

7. Uji sifat alir serbuk liquisolid

Sifat alir serbuk sangat penting dalam memastikan proses pencampuran

yang efisien serta menjaga keseragaman bobot tiap tablet saat dikempa. Sifat alir

serbuk dipengaruhi oleh ukuran, bentuk partikel, bobot jenis, kelembapan yang

menyebabkan adanya kohesif antar partikel. (Siregar, 2008). Metode-metode yang

dapat digunakan dalam mengevaluasi sifat alir serbuk antara lain:

a. Sudut diam

Sudut diam merupakan sudut permukaan bebas yang terjadi antara

tumpukan serbuk terhadap bidang horizontal yang dipengaruhi oleh kohesi

antarpartikel. Nilai sudut diam digunakan untuk mengetahui mampu alir serbuk

yang dipengaruhi oleh kohesi antar partikel. Serbuk yang tidak kohesif akan

memiliki sifat alir yang baik, menyebar dan membentuk timbunan yang rendah

sedangkan serbuk yang lebih kohesif akan membentuk timbunan yang lebih tinggi

yang kurang menyebar. Pengukuran sudut diam dapat dilakukan dengan


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

12

menggunakan metode sudut jatuh. (Siregar, 2008). Hubungan sudut diam dan sifat

alir serbuk ditunjukkan pada tabel I.

Tabel I. Hubungan sudut diam dan sifat alir serbuk

Sudut diam (o) Sifat aliran


< 25 Sangat baik
25-40 Baik
40-45 Cukup baik
> 45 Sangat buruk
(Aulton, 2007).

b. Kecepatan alir

Kecepatan alir merupakan waktu yang dibutuhkan sejumlah serbuk untuk

mengalir melalui suatu alat. Mudah tidaknya granul atau serbuk dipengaruhi oleh

bentuk, luas permukaan, kerapatan, kelembaban granul.

Kecepatan alir serbuk = ...............................(5)

100 gram serbuk dengan kecepatan alir 10 g/detik dapat dikatakan baik

(Siregar, 2008).

c. Kerapatan serbuk ruahan

Kerapatan serbuk ruahan adalah perbandingan antara massa serbuk yang

belum dimampatkan terhadap volume termasuk kontribusi volume pori

antarpartikel. Kerapatan serbuk ruahan tergantung pada kepadatan partikel serbuk

dan susunan partikel serbuk. Pengukuran dilakukan dengan menggunakan gelas

ukur maka kerapatan serbuk ruahan dinyatakan dalam gram per mL (g/mL).

Kerapatan serbuk ruahan, dapat dihitung dengan rumus:

.......................................................................... (6)
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

13

M merupakan bobot serbuk dan Vo merupakan volume wadah dalam satuan mL

(Depkes RI, 2014).

d. Kerapatan serbuk mampat

Kerapatan serbuk mampat adalah tingkatan dari kerapatan serbuk

mampat yang diperoleh dengan cara mengetuk dengan secara mekanis gelas ukur

atau bejana pengukur yang berisi serbuk. Kerapatan serbuk mampat, dapat

dihitung dengan rumus :

......................................................................... (7)

M merupakan bobot serbuk dan Vf merupakan volume setelah pengetukan.

(Depkes RI, 2014).

e. Hausner ratio

Hausner ratio merupakan angka yang berhubungan dengan kemampuan

alir dari serbuk, dan tidak bernilai mutlak untuk suatu bahan tertentu, tergantung

dari metode yang digunakan untuk menentukannya (Arulkumaran and

Padmapreetha, 2014).

Uji Hausner ratio dapat dinyatakan dengan rumus :

.............................................................................(9)

Vo merupakan bobot volum sebelum dimampatkan dan Vf merupakan

bobot volum setelah pengetukan (Depkes RI, 2014).

f. Indeks kompresibilitas

Indeks kompresibilitas yaitu kemampuan granul untuk menurunkan

volumenya (memampatkan diri) pada tekanan tertentu. Indeks kompresibilitas

dipengaruhi oleh kerapatan, ukuran dan bentuk partikel. Semakin kecil persen
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

14

indeks pengetapan serbuk atau granul, semakin baik sifat alirnya. Sebaliknya,

semakin besar indeks pengetapan serbuk atau granul, semakin buruk sifat alirnya

(Sirisha et al., 2012). Uji ini dapat dinyatakan dengan rumus :

..............................................(8)

(Depkes RI, 2014).

Berikut merupakan paramater indeks kompresibilitas, hausner ratio dan

kategori yang disajikan pada tabel II.

Tabel II. Parameter indeks kompresibilitas, hausner ratio, dan kategori

Indeks kompresibilitas (%) Hausner ratio Kategori


< 10 1,00-1,11 Sangat Baik
11-15 1,12-1,18 Baik
16-20 1,19-1,25 Cukup Baik
21-25 1,26-1,34 Agak Baik
26-31 1,35-1,45 Buruk
32-37 1,46-1,59 Sangat Buruk
>38 > 1,60 Sangat Buruk Sekali
(Arulkumaran et al., 2014).

g. Distribusi Ukuran Partikel

Ukuran dan distribusi ukuran partikel atau granul akan mempengaruhi

bobot tablet, keseragaman bobot, waktu disintegrasi, kerapuhan (friabilitas) sifat

alir, dan kinetika kecepatan pengeringan pada granulasi basah. Metode yang

sering digunakan untuk mengukur ukuran partikel dan distribusi partikel adalah

mikroskopi, pengayakan dan sedimentasi (Dewi, 2010).

h. Kandungan Lembab (Moisture Content)

Material yang akan dikempa harus memiliki kandungan lembab/kadar air

dalam batas-batas tertentu. Hal ini penting karena berhubungan dengan sifat alir,

proses pengempaan, kompatibilitas dan stabilitas. Salah satu cara untuk


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

15

mengetahui kelembaban suatu bahan padat adalah dengan perhitungan

menggunakan data berdasarkan bobot keringnya. Angka hasil perhitungan ini

dianggap sebagai kandungan lembab (MC/moisture content) (Sulaiman, 2007).

Persamaan untuk menghitung moisture content yaitu:

...............................................(10)

(Dewi, 2010).

8. Uji Mutu tablet liquisolid

a. Keseragaman bobot

Keseragaman bobot tablet menentukan dosis dari tiap tablet yang telah

diproduksi. Keseragaman bobot dapat ditentukan berdasarkan penetapan kadar zat

aktif pada contoh bets yang mewakili menggunakan metode analisis yang sesuai

(Depkes RI, 2014). Variasi bobot tablet yang dikempa dipengaruhi oleh jumlah

serbuk yang memenuhi die pada proses pengempaan tablet (Allen, Popovich,

Ansel, 2014).

b. Keseragaman kandungan

Uji keseragaman kandungan berdasarkan pada penetapan kadar masing –

masing kandungan zat aktif dalam satuan sediaan. Keseragaman kandungan untuk

sediaan padat ditentukan dengan cara menetapkan kadar masing-masing 10 satuan

menggunakan metode analisis yang sesuai dan kemudian dihitung nilai

penerimaan. Perhitungan nilai penerimaan dengan rumus :

Np = | | .............................................................................(11)
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

16

M merupakan nilai rujukan , merupakan rata-rata dari masing-masing

kandungan (X1, X2,…Xn) yang dinyatakan dalam persentase, k merupakan

konstanta penerimaan dan s merupakan simpangan baku sampel.

Berikut merupakan penggunaan uji keseragaman pada sediaan tablet

yang disajikan pada tabel III.

Tabel III. Penggunaan uji keseragaman pada sediaan tablet

Bentuk sediaan Tipe Sub tipe Dosis dan perbandingan zat aktif
Tablet ≥ 25 mg dan ≥ 25% < 25 mg atau < 25%
Tidak Keragaman bobot Keseragaman
bersalut kandungan
Salut Selaput Keragaman bobot Keseragaman
kandungan
Lainnya Keseragaman Keseragaman
kandungan kandungan
(Depkes RI, 2014).

c. Kekerasan tablet

Tablet harus cukup kuat untuk mempertahankan bentuk selama

mengalami perlakuan mekanik pada saat proses pengemasan, transportasi, hingga

pada saat pemakaian (Arulkumaran et al., 2014). Kekerasan tablet merupakan

parameter penting dalam pembuatan tablet karena dapat mempengaruhi proses

disintegrasi dan disolusi tablet (Allen et al., 2014). Kekerasan tablet dipengaruhi

oleh bobot bahan, kompatibilitas bahan, tekanan pengempaan, celah antara punch

atas dan punch bawah pada saat pengempaan pengempaan (Siregar, 2008)

d. Kerapuhan tablet

Kerapuhan tablet merupakan kecenderungan tablet untuk remuk selama

penanganan, pengemasan dan pengiriman (Allen et al., 2014). Uji kerapuhan

tablet dilakukan untuk mengetahui seberapa besar kerusakan tablet yang terjadi
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

17

akibat goncangan atau gesekan selama pengangkutan. Kerapuhan tablet dianggap

cukup baik bila hasilnya kurang dari 1 % (Sulaiman, 2007).

e. Waktu hancur tablet

Waktu hancur tablet adalah waktu yang diperlukan tablet untuk pecah

dan menjadi partikel-partikel penyusunnya, sehingga akan meningkatkan luas

permukaan yang kontak dengan cairan dalam tubuh. Tekanan kompresi akan

mempengaruhi waktu hancur tablet. Semakin besar tekanan kompresinya pada

maka waktu hancur tablet makin lambat (Siregar, 2008). Waktu yang diperlukan

untuk menghancurkan tablet tidak lebih dari 15 menit (Allen et al., 2014). Selain

tekanan kompresi waktu hancur tablet juga dipengaruhi oleh pemilihan bahan

pembuatan tablet (Aulton, 2007)

f. Disolusi tablet

Disolusi adalah proses melarutnya zat aktif (bahan obat) dalam sediaan

obat ke dalam suatu medium. Pada umumnya medium yang digunakan berupa air.

Disolusi merupakan proses kinetik, sehingga prosesnya diamati dari pengamatan

terhadap jumlah zat aktif yang terlarut ke dalam medium sebagai fungsi waktu.

Disolusi juga merupakan tahap penentu terjadinya absorpsi. Berdasarkan laju

disolusi, dapat diperkirakan kecepatan absorbsi yang mempengaruhi mulai kerja,

intensitas, dan lama kerja obat di dalam tubuh.Pada tahun 1897, Noyes dan

Whitney mencoba menguantifikasikan jumlah obat yang terlarut melalui

persamaan :

dW/dt = D.S/h (Cs-C) .......................................................................... (12)


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

18

W merupakan berat zat aktif yang terlarut dalam medium selama waktu t,

sehingga dW/dt adalah kecepatan disolusi zat aktif (gram/waktu). D adalah

koefisien difusi zat yang terlarut dalam medium yang digunakan, S adalah luas

kontak muka zat aktif- medium, h adalah tebal lapisan tipis (film-difusi),

sedangkan Cs adalah konsentrasi dalam keadaan saturasi. Harga C menunjukkan

konsentrasi zat aktif terlarut pada saat t (Fudholi, 2013).

Pengujian disolusi sediaan tablet liquisolid glibenklamid mengikuti

penerimaan uji disolusi tablet glibenklamid yang tertera dengan nilai Q30 yaitu

75% zat aktif glibenklamid harus dapat larut setelah 30 menit dalam medium

disolusi (United States Pharmacopeial Convention, 2014).

B. Monografi bahan

1. Glibenklamid

Glibenklamid merupakan serbuk hablur putih atau hampir putih, tidak

berbau atau hampir tidak berbau. Glibenklamid mempunyai berat molekul sebesar

494.00 dengan Titik leleh 169,50C (Abdul, Swathimutyam, Padmanabha, Nalini,

and Prakash, 2011). Glibenklamid (Gliburide) merupakan antidiabetik oral

golongan sulfonilurea generasi kedua yang digunakan untuk pengobatan diabetes

tipe II memiliki durasi aksi obat selama 24 jam (Sweetman, 2009).

Gambar 2. Struktur Kimia Glibenklamid (Abdul et al., 2011).


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

19

Glibenklamid bekerja dengan menurunkan kadar glukosa dalam darah

dengan merangsang sel β Langerhans pankreas untuk memproduksi insulin. Kanal

Ca terbuka dan ion Ca2+ akan masuk sel β, merangsang granula yang berisi insulin

dan akan terjadi sekresi insulin dengan jumlah yang ekuivalen dengan peptida-C.

Dosis yang dianjurkan untuk DM tipe 2 adalah 2,5-5 mg setiap hari. Pada

penggunaan dosis yang besar dapat menyebabkan hipoglikemia. Glibenklamid

lebih efektif diminum 30 menit sebelum makan agar mencapai kadar optimal di

plasma. Obat ini cepat diserap dalam saluran pencernaan, cukup diberikan satu

kali sehari (Suherman, 2007).

Glibenklamid tidak larut dalam air, agak sukar larut dalam metilen

klorida, sukar larut dalam etanol dan metanol (Sweetman, 2009). Glibenklamid

termasuk salah satu obat yang masuk dalam golongan 2 dari Sistem Klasifikasi

Biofarmasetika (BCS) yang memiliki kelarutan yang rendah dalam air dan

memiliki permeabilitas yang tinggi (Sirisha et al., 2012). Glibenklamid memiliki

serapan maksimum pada panjang gelombang 229,5 nm dalam metanol

(Sudharshan and Bonde, 2009). Glibenklamid dalam medium disolusi buffer

phosphate pH 8.5 memiliki panjang gelombang 204.5 nm (Gianotto, Arantes,

Larra-Filho, Filho, and Fregonezi-Nery, 2007).

2. Gliserin

Gliserin memiliki pemerian cairan jernih yang tidak berwarna dan tidak

berbau. surfaktan atau emulgator non-ionik. Gliserin larut dalam air, methanol,

ethanol (95%), sedikit larut dalam aseton, praktis tidak larut dalam kloroform.

Gliserin memiliki titik leleh 17,8 0C, bobot jenis 1,262 g/cm3.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

20

Gliserin merupakan pelarut non-volatile yang digunakan dalam

pembuatan tablet liquisolid (Kulkarni et al., 2010). Gliserin memiliki sifat yang

stabil pada suhu ruang, tidak toksik dan tidak mengiritasi (Alvarez-Nunez and

Medina, 2004).

Gambar 3. Struktur kimia gliserin (Alvarez-Nunez and Medina, 2004).


3. Amilum Kentang

Amilum kentang atau pati kentang memiliki pemerian pemerian serbuk

putih yang tidak berbau dan tidak berasa. Amilum kentang memiliki berat

molekul 0,8-0,9 g/cm3. Amilum kentang mengandung amilosa sebesar 20-23%.

Amilum praktis tidak larut dalam air dingin dan ethanol dan larut dalam air panas.

Amilum kentang memiliki sifat yang stabil pada suhu ruang dan bersifat inert

(Häusler, 2009).

Gambar 4. Struktur kimia amilum kentang (Häusler, 2009).


Mekanisme aksi amilum adalah dengan aksi kapiler, deformasi dan

pengembangan ketika kontak dengan air dengan suhu 37oC, sehingga dapat

memutuskan ikatan hidrogen yang terbentuk pada saat pengempaan. Pada proses

pengempaan amilum akan terdistribusi pada seluruh bagian tablet sehingga dapat
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

21

membentuk jembatan hidrofil sehingga apabila tablet kontak dengan air, air akan

segerap diserap dengan cepat oleh tablet melalui jembatan hidrofil (Sulaiman,

2007).

Amilum baik digunakan sebagai pengisi dan penghancur dalam tablet

karena memiliki daya kompak, dapat menyerap air dan dapat terdisintegrasi

dengan baik saat pelepasan obat dalam medium air (Siregar, 2008). Amilum

kentang dapat digunakan sebagai carrier sebagai peningkat bioavailabilitas obat

dengan kelarutan yang rendah (Häusler, 2009).

4. HDK Wacker N20 (Aerosil)

Aerosil merupakan silikon dioksida murni yang diketahui dalam jumlah

kecil dapat menyerap air yang cukup besar. Aerosil berbentuk serbuk keputih-

putihan, ringan, tidak berbau, dan tidak berasa yang memiliki berat molekul

sebesar 60,08 dan praktis tidak larut dalam pelarut organik, air, dan asam, kecuali

asam hidrofluorat. Larut dalam larutan hangat hidroksida alkali. Aerosil dapat

berfungsi sebagai glidant pada konsentrasi 0,1-0,5% (Hapgood, 2009).

5. Avicel PH 102

Avicel merupakan salah satu merek dagang dari selulosa mikrokristal

berupa serbuk putih, tidak berbau dan tidak berasa dan banyak digunakan sebagai

bahan tambahan pada tablet cetak langsung, karena bahan ini dapat berfungsi

sebagai bahan pengisi, pengikat, dan sekaligus penghancur tablet. Avicel dapat

larut dalam 5% b/v larutan NaOH, praktis tidak larut dalam air, larutan asam, dan

sebagian pelarut organik. Avicel digunakan sebagai pengikat (binder) pada

konsentrasi 20-90 % (Guy, 2009). Avicel memiliki kompresibilitas dan sifat alir
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

22

yang baik dan dapat meningkatkan waktu hancur (Sulaiman, 2007). Avicel PH-

102 merupakan pengikat kering yang cukup efektif dalam pencampuran kering

(Siregar, 2008). Avicel PH-102 memiliki ukuran partikel 100 μm, kadar airnya 3-

5%, dan bobot jenis 0,28 – 0,33 g/mL (Guy, 2009). Avicel juga dapat

meningkatkan laju alir dan mengurangi variasi dari berat tablet (Ohwoavworhua,

Adelakun and Okhamafe, 2009).

6. Sodium Starch Glycolate (SSG)

Sodium Starch Glycolate (SSG) Pemeriannya berupa serbuk putih, tidak

berbau, tidak berasa, dan mudah mengalir dan sangat higroskopis. SSG memiliki

nama lain yaitu explotab®carboxymethyl starch, sodium salt, primojel®. Larut

sebagian dalam etanol 95% dan praktis tidak larut dalam air. Sodium Starch

Glycolate merupakan contoh superdisintegran yang dapat mengembang cepat

ketika kontak dengan medium air dan sering digunakan pada formulasi tablet

liquisolid. SSG umum digunakan sebagai penghancur pada konsentrasi 2 hingga

8% (Young, 2009).

7. Magnesium Stearat

Magnesium stearat digunakan sebagai lubricant untuk mengurangi

gesekan ketika sediaan padat dikeluarkan dari proses pengempaan. Magnesium

stearat memiliki pemerian serbuk putih, tidak berbau, tidak berasa, dan mudah

mengalir. Magnesium stearat dapat larut sebagian dalam etanol 95% dan praktis

tidak larut dalam air. Magnesium stearat umum digunakan sebagai pelicin untuk

menghindari terjadinya capping tablet pada konsentrasi 0,25 – 5%. Magnesium

stearat bersifat hidrofobik dan penggunaan magnesium stearat melebihi batas


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

23

dapat menurunkan kekerasan, kecepatan disintegrasi, kecepatan disolusi serta

dapat meningkatkan kerapuhan tablet (Allen and Luner, 2009).

C. Landasan teori

Liquisolid merupakan salah satu metode pembuatan tablet yang

digunakan untuk meningkatkan kecepatan disolusi obat yang sukar larut dalam

air. Metode liquisolid memiliki komponen utama yaitu pelarut dan carrier

material sangat mempengaruhi sifat fisik dan kecepatan disolusi tablet

(Hadisoewignyo, 2012). Metode liquisolid memiliki komponen utama yaitu

pelarut dan carrier material. Pelarut yang digunakan pada penelitian ini yaitu

gliserin.

Penelitian yang dilakukan oleh Ghadi (2015) tentang formulasi tablet

liquisolid spironolacton dengan pelarut gliserin, pada peningkatan proporsi

gliserin memberikan respon penurunan kekerasan tablet, peningkatan persentase

kerapuhan tablet dan peningkatan jumlah obat yang terdisolusi. Gliserin bersifat

inert larut dalam air, bahan ini banyak digunakan sebagai bahan tambahan pada

suatu formulasi untuk meningkatkan kelarutan obat yang sukar larut. Obat yang

ditambahkan pelarut akan berada pada keadaan dispersi molekuler dan ketika

campuran menjadi suspensi, obat akan berada dalam dispersi kasar. Pendispersian

tersebut menyebabkan luas permukaan obat menjadi besar, menurunkan tetapan

dielektrik obat, dan menurunkan sudut kontak sehingga terjadi peningkatan

kelarutan obat.

Carrier material yang digunakan dalam penelitian ini adalah amilum

kentang. Amilum banyak digunakan sebagai bahan tambahan dalam suatu


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

24

formulasi sediaan tablet untuk memiliki waktu hancur dengan baik dalam medium

disolusi dan memiliki laju disolusi yang tinggi (Javadzadeh et al., 2007).

Mekanisme aksi amilum adalah dengan aksi kapiler, deformasi dan

pengembangan ketika kontak dengan air dengan suhu 37oC, air akan segerap

diserap dengan cepat oleh tablet melalui jembatan hidrofil (Sulaiman, 2007).

Penelitian yang dilakukan oleh Shyam (2014) tentang formulasi tablet liquisolid

lovastatin dengan amilum kentang sebagai carrier material, pada peningkatan

proporsi amilum kentang memberikan respon peningkatan waktu hancur,

peningkatan persentase obat yang tedisolusi, penurunan kekerasan tablet dan

penurunan persentase kerapuhan.

D. Hipotesis

1. Peningkatan proporsi gliserin sebagai pelarut dapat meningkatkan persentase

kerapuhan, meningkatkan persentase obat yang terdisolusi dan menurunkan

kekerasan tablet. Peningkatan proporsi amilum kentang sebagai carrier

material dapat meningkatkan waktu hancur, meningkatkan persentase obat

yang terdisolusi, menurunkan kekerasan tablet dan menurunkan persentase

kerapuhan tablet.

2. Proporsi gliserin dengan jumlah 25 mg dan amilum kentang sejumlah 287 mg

diperkirakan sebagai formula optimum.


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Rancangan Penelitian

Penelitian yang dilakukan adalah eksperimental murni dengan melakukan

percobaan pembuatan formulasi sediaan tablet liquisolid glibenklamid dengan

menggunakan kombinasi pelarut gliserin dan amilum kentang sebagai carrier

material. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Formulasi Teknologi Sediaan

Padat dan Laboratorium Farmasi Fisika Universitas Sanata Dharma.

B. Variabel Penelitian

1. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah perbandingan gliserin dan

amilum kentang menggunakan simplex lattice design dengan R1 (0%:100%),

R2 (0%:100%), R3 (25%:75%), R4 (50%:50%), R5 (50%:50%), R6

(75%:25%), R7 (100%,0%), dan R8 (100%,0%).

2. Variabel tergantung dalam penelitian ini adalah disolusi tablet liquisolid,

sifat fisik serbuk liquisolid (indeks kompresibilitas), sifat fisik tablet

liquisolid (keseragaman bobot, kekerasan, kerapuhan, waktu hancur).

3. Variabel pengacau terkendali dalam penelitian ini adalah lokasi pemesanan

bahan yang dipakai, nomor ayakan, dan waktu pencampuran.

4. Variabel pengacau tak terkendali dalam penelitian ini adalah suhu dan

kelembaban ruangan.

25
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

26

C. Definisi Operasional

1. Sifat fisik serbuk merupakan parameter untuk mengukur kualitas serbuk

2. Indeks kompresibilitas merupakan banyaknya ruang kosong pada campuran

serbuk yang akan berdampak pada pembuatan tablet.

3. Sifat fisik tablet merupakan parameter untuk mengukur kualitas dari tablet

yang akan diproduksi. Parameter tersebut meliputi uji kekerasan,kerapuhan,

waktu hancur, keseragaman bobot, dan disolusi tablet.

4. Keseragaman kandungan merupakan salah satu parameter yang

menunjukkan setiap tablet yang dibuat memiliki kadar obat yang sama.

5. Kekerasan tablet merupakan salah satu parameter yang menunjukkan

interaksi-interaksi antar komponennya seperti goncangan dan keretakan

tablet.

6. Kerapuhan tablet merupakan salah satu parameter yang menunjukkan

kekuatan tablet terhadap benturan mekanik saat pentabletan.

7. Waktu hancur tablet merupakan salah satu parameter yang menunjukkan

waktu yang dibutuhkan tablet telah hancur sempurna.

8. Disolusi merupakan salah satu parameter yang menunjukkan kadar obat yang

terlarut sempurna pada waktu tertentu.

9. Formula tablet optimum merupakan formula yang memenuhi standar

penerimaan sediaan tablet yang ditetapkan meliputi memiliki kandungan zat

aktif sebesar 90% sampai 120%, kerapuhan < 0,8%, waktu hancur ≤ 15

menit, dan terdisolusi sebesar 100 % setelah 30 menit.


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

27

D. Alat dan Bahan Penelitian

1. Alat

Hardness tester merk Pharmatest®, Volumenometer merk ERWEKASYM®,

disintegran tester merk ATMI®, attrition tester merk ATMI®, timbangan

analitik merk DeltaRange®, MELTTER AE260, mesin cetak tablet single

punch KORSCH, statif, mortir dan stamper,alat uji disolusi tablet RC-6 D,

Spektrofotometer UV SCHIMADZU, stopwatch, dan alat- alat gelas.

2. Bahan

Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini yang memiliki spesifikasi

pharmaceutical grade adalah glibenklamid (PT. IFARS SOLO), Gliserin

(P&G Chemical), Amilum kentang (FAGRON), Avicel PH-102 (FMC

BioPolymer), , HDK Wacker N20 (Wacker Chemie AG Werk Burghausen),

Mg stearat (Nitica, India), SSG (Gujarat Overseas Inc. India).


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

28

E. Tata Cara Penelitian

Formula penelitian dibuat dengan perbandingan gliserin : amilum

kentang R1 (0%:100%), R2 (0%:100%), R3 (25%:75%), R4 (50%:50%), R5

(50%:50%), R6 (75%:25%), R7 (100%,0%), dan R8 (100%,0%) yang ditunjukan

pada tabel IV.

Tabel IV. Formula tablet liquisolid glibenklamid


Jumlah (mg)
Bahan
R1 R2 R3 R4 R5 R6 R7 R8
Glibenklamid 5 5 5 5 5 5 5 5
Gliserin 5 5 10 15 15 20 25 25
Amilum kentang 307 307 302 297 297 292 287 287
Aerosil 12 12 12 12 12 12 12 12
Avicel PH-102 200 200 200 200 200 200 200 200
SSG 17,5 17,5 17,5 17,5 17,5 17,5 17,5 17,5
MG stearat 3,5 3,5 3,5 3,5 3,5 3,5 3,5 3,5
Total 550 550 550 550 550 550 550 550
Keterangan : Penentuan perbandingan komposisi pelarut gliserin dan carrier material amilum
kentang pada masing-masing formula dilakukan dengan menggunakan simplex lattice design dari
Design Expert 9.0 dan didapatkan 8 formula yang disebut “R1 hingga R8”.

1. Pembuatan sediaan tablet liquisolid

Semua bahan ditimbang sesuai formula. Glibenklamid dan pelarut

gliserin dimasukkan dalam mortir dan diaduk hingga rata sehingga membentuk

suspensi. Suspensi tersebut kemudian diserap dengan dengan amilum kentang dan

diaduk dalam mortir selama 5 menit. Campuran ditambahkan aerosil sebagai

coating dan diaduk kembali selama 5 menit. Campuran dimasukkan kedalam cube

mixer dan diaduk selama 15 menit dalam cube mixer dengan kecepatan 50 rpm.

Massa serbuk kering dikeluarkan dari cube mixer kemudian diayak dengan

pengayak mesh nomer 16. Massa serbuk yang telah diayak kemudian dimasukkan

ke dalam cube mixer dan ditambahkan Avicel PH-102, SSG dan Mg stearat yang

sudah ditimbang. Massa sebuk lalu dicampur homogen selama 15 menit di dalam
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

29

cube mixer. Selanjutnya diuji sifat alir serbuk dan uji homogenitas serbuk. Serbuk

yang telah diuji, kemudian dikempa menjadi tablet. Tablet yang sudah dikempa

dilakukan pengujian meliputi sifat fisik dan uji disolusi.

2. Uji mutu serbuk liquisolid

a. Indeks kompresibilitas

Timbang seksama lebih kurang 100 g serbuk (M) dengan tingkat akurasi

0,1%, masukan dalam gelas ukur 250 mL tanpa pemampatan. Ratakan permukaan

serbuk dengan hati-hati tanpa pemampatan jika perlu, dan bacalah volume (V0)

pada skala tersebut. Pasang gelas ukur pada penyangga. Lakukan sebanyak 10,

500 dan 1250 ketukan sampai bobot volum serbuk mencapai minimum.

Perubahan volum serbuk dihitung sebagai Vf. Bobot jenis ketuk kemudian dapat

dihitung (Depkes RI, 2014).

b. Uji homogenitas serbuk

1. Pembuatan larutan induk

Larutan induk dibuat dengan cara menimbang seksama 100,0 mg

glibenklamid kemudian dilarutkan dengan metanol hingga 100 mL (Sudharshan et

al., 2009).

2. Penentuan panjang gelombang serapan maksimum

Larutan induk kemudian diambil 100 µL dan diencerkan dengan larutan

metanol hingga 10 mL sehingga didapat konsentrasi 10 µg/mL. Larutan

dimasukkan dalam kuvet dan diamati absorbansi pada panjang gelombang 200 –

400 nm sehingga akan diketahui serapan maksimum (Sudharshan et al., 2009).


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

30

3. Pembuatan kurva baku

Larutan induk dibuat seri kadar dengan konsentrasi 3,98 µg/mL, 5,97

µg/mL, 7,96 µg/mL, 9,95 µg/mL, 11,94 µg/mL dan diencerkan dengan metanol.

Setelah itu larutan dibaca dengan Spektrofotometer UV pada panjang gelombang

serapan maksimum, Serapan yang didapat dari masing-masing pengenceran

diplotkan dengan kadar dan dibuat kurva dengan persamaan garis dan regresi

linier.

4. Homogenitas serbuk

Pengujian dilakukan dengan mengambil 10 titik sampel serbuk. Sampel

ditimbang seksama masing-masing 88,0 mg kemudian ditambahkan metanol

sampai 100 mL. Sampel kemudian disaring dengan menggunakan milipore.

Serapan dibaca menggunakan spektrofotometer UV pada panjang gelombang

229,0 nm. Homogenitas serbuk harus memenuhi kriteria coefficient variation

(CV) kurang dari 5 %.

3. Uji mutu tablet liquisolid

a. Keseragaman kandungan

Masing-masing 10 tablet digerus satu per satu kemudian diambil sebanyak

88 mg kemudian dimasukkan ke dalam labu takar 100 mL dan ditambahkan

metanol sampai batas tanda sehingga didapat konsentrasi sebesar 8 µg/mL

Serapan dibaca menggunakan spektrofotometer UV pada panjang gelombang

229,0 nm. Hasil serapan kemudian dihitung kadar tiap-tiap formula (Run) dan

nilai penerimaan.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

31

b. Uji kekerasan tablet

Sebanyak 20 tablet diletakkan satu per satu secara horizontal pada

hardness tester, kemudian salah satu bagian dari mesin ini akan bergerak maju

untuk menghancurkan tablet dan alat membaca ukuran tablet yang hancur..

Kemudian, hasilnya dihitung rata-ratanya (Anilkumar, Arun, Amol, Harinath,

2010).

c. Uji kerapuhan tablet

Sebanyak 20 tablet ditimbang secara bersamaan dan dicatat sebagai

bobot awal. Seluruh tablet dimasukkan ke dalam attrition tester dengan kecepatan

putar 25 rpm selama 4 menit. Tablet hasil atrition tester dibersihkan dari serbuk

serbuk halus yang menempel dan ditimbang kembali. Nilai persen kerapuhan

dapat dihitung dari selisih penimbangan awal dengan penimbangan akhir dibagi

penimbangan awal dan dikalikan 100 persen (Arulkumaran et al., 2014).

d. Uji waktu hancur tablet

Enam tablet dipilih secara acak diletakkan di dalam tabung disintegran

tester. Tabung dimasukkan kedalam bejana yang telah diisi air bersuhu 370C,

tinggi air tidak kurang dari 15 cm sehingga tabung dapat turun naik dengan jarak

7,5 cm. Kemudian dicatat waktu hancur tablet. Tablet dikatakan hancur apabila

ada bagian tablet ada yang tertinggal di atas kasa. Waktu hancur tablet dikatakan

baik ≤ 15 menit (Depkes RI, 2014).

e. Penetapan kadar

Satu tablet ditimbang lalu digerus, kemudian diambil 88,0 mg dengan

seksama lalu dilarutkan dengan metanol dalam labu takar 10 mL sampai batas
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

32

tanda. Serapan diukur pada panjang gelombang maksimum metanol. Kadar

diperoleh dengan memasukkan nilai serapan ke dalam kurva baku glibenklamid

dalam metanol. Percobaan diulang sebanyak tiga kali tiap running dan dihitung

rata-rata serta simpangan deviasi (SD).

f. Uji Disolusi

1. Pembuatan Larutan buffer phosphate pH 8,5

Larutan buffer phosphate pH 8,5 sebagai medium disolusi dibuat dengan

cara menimbang sebanyak 6,8 gram monobasic potassium phosphat dan 1,99

gram NaOH kemudian ditambahkan akuadest ke dalam labu takar 1000 mL

hingga batas tanda (United States Pharmacopeial Convention, 2014).

2. Pembuatan larutan induk

Larutan induk dibuat dengan cara menimbang seksama 67,0 mg

glibenklamid kemudian ditimbang seksama lalu dilarutkan 40 mL metanol di

dalam labu takar 500 mL. Sonifikasi selama 5 menit lalu ditambahkan medium

disolusi hingga batas tanda (United States Pharmacopeial Convention, 2014).

3. Penentuan panjang gelombang maksimum

Larutan induk kemudian diambil 400 µl dan diencerkan dengan larutan

buffer phosphate pH 8,5 hingga 10 mL. Larutan ini dimasukkan dalam kuvet dan

diamati absorbansi pada panjang gelombang 200 – 400 nm sehingga akan

diketahui serapan maksimum.

4. Pembuatan kurva baku

Larutan induk dibuat seri kadar dengan konsentrasi 2,668 µg/mL, 4,002

µg/mL, 5,336 µg/mL, 6,670 µg/mL, 8,004 µg/mL yang diencerkan sampai 25 mL
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

33

dengan buffer phosphate pH 8,5. Setelah itu larutan dibaca dengan

Spektrofotometer UV pada panjang gelombang serapan maksimum, Serapan yang

didapat dari masing-masing pengenceran diplotkan dengan kadar dan dibuat kurva

dengan persamaan garis dan regresi linier.

5. Uji disolusi tablet

Tablet dimasukkan ke dalam labu yang berisi larutan 0,05 M buffer

phosphate pH 8,5 yang berfungsi sebagai media disolusi. Jarak pengaduk dayung

dari dasar labu adalah 2,5 ± 0,2 cm dan pengaduk dayung diputar pada kecepatan

50 rpm. Suhu medium dijaga konstan 37 ± 0,5º C dengan volume media disolusi

yang digunakan adalah 900 mL. Sampel obat yang terlepas ke medium diambil

pada menit ke 0, 5, 10, 15, 30, dan 45 menit sebanyak 5 mL pada posisi yang telah

ditentukan. Setiap kali pengambilan sampel diganti dengan volume yang sama

(5,0 mL) dengan medium buffer phosphate. Serapan dari larutan uji ditetapkan

kadarnya dengan spektrofotometer UV-VIS pada panjang gelombang maksimum.

F. Analisis Data

Data yang diperoleh dari percobaan adalah data indeks kompresibilitas,

homogenitas serbuk, uji disolusi dan sifat fisik tablet meliputi keseragaman bobot,

kekerasan, kerapuhan tablet, dan waktu hancur tablet.

Data sifat fisik yang diperoleh, dihitung rata-rata dan standar deviasi.

Data sifat alir, sifat fisik, dan uji disolusi tablet dianalisis menggunakan Design

Expert 9.0 sehingga didapatkan interaksi dari kedua komponen untuk masing-

masing respon dan formula optimum. Analisis statistik yang digunakan yaitu uji

ANOVA pada taraf kepercayaan 95% dengan menggunakan Design Expert 9.0
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

34

dan uji T tidak berpasangan dengan menggunakan R studio 3.2.3. Nilai p-value

yang kurang dari 0,05 menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan.


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Uji Sifat Alir Serbuk Liquisolid

Serbuk liquisolid yang dihasilkan diuji sifat alirnya untuk mengetahui

kemampuan alir serbuk dalam mengisi ruang kompresi pada mesin pencetak tablet

sehingga tablet yang dihasilkan memiliki keseragaman bobot yang baik.

Pengujian sifat alir serbuk liquisolid dilakukan dengan metode indeks

kompresibilitas.

1. Indeks Kompresibilitas

Indeks kompresibilitas merupakan kemampuan granul untuk

berkurang/menurun volumenya setelah diberi tekanan tertentu (Sulaiman, 2007).

Peningkatan nilai indeks kompresibilitas menunjukkan penurunan kemampuan

alir serbuk, sedangkan penurunan nilai indeks kompresibilitas menunjukkan

peningkatan kemampuan alir. Indeks kompresibilitas dipengaruhi oleh bentuk,

kerapatan dan ukuran partikel (Sirisha et al., 2012).

Respon indeks kompresibilitas ditunjukkan pada persamaan 13.

Y= 3,50 X1 + 0,05 X2 - 0,01 X1X2 ........................................................ (13)

Keterangan :
X1 = Gliserin
X2 = Amilum kentang

35
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

36

Model plot respon indeks kompresibilitas ditunjukan pada gambar 5.

Keterangan:
Y = Respon indeks kompresibilitas
A = Komponen gliserin
B = Komponen amilum kentang
= Design point
= Convidence interval
--- = Tolerance interval

Gambar 5. Model plot respon indeks kompresibilitas serbuk liquisolid

Pada persamaan (13) dapat diketahui bahwa gliserin, amilum kentang

dan interaksi gliserin dan amilum kentang memberikan pengaruh respon indeks

kompresibilitas. Persamaan (13) memiliki nilai p-value pada lack of fit sebesar

0,6836 (p>0,05), sehingga dinyatakan persamaan tersebut dapat menggambarkan

eksperimental. Hasil anova untuk persamaan (13) sebesar 0,0011 (p<0,05) maka

dapat dinyatakan terdapat perbedaan signifikan, sehingga penambahan tunggal

maupun interaksi gliserin dan amilum kentang pengaruhnya besar terhadap

persentase indeks kompresibilitas serbuk liquisolid. Nilai positif menunjukkan

penggunaan komponen gliserin meningkatkan indeks kompresibilitas dengan nilai

3,50. Komponen gliserin memiliki pengaruh yang dominan terhadap peningkatan

indeks kompresibilitas, hal ini disebabkan gliserin akan menyebabkan serbuk

menjadi basah dan menjadi lebih padat, sehingga berdampak pada peningkatan

indeks kompresibilitas. Nilai negatif pada interaksi amilum kentang menunjukkan

amilum kentang mampu menyerap gliserin menjadi serbuk kering sehingga


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

37

menurunkan indeks kompresibilitas. Hasil indeks kompresibilitas serbuk pada tiap

formula menunjukkan indeks kompresibilitas serbuk berada pada rentang 11,49%-

13,79% sehingga dapat dikatakan serbuk memenuhi persyaratan indeks

kompresibilitas yang baik yaitu berada pada rentang 11%-15% (Arulkumaran et

al., 2014).

B. Hasil Uji Homogenitas Serbuk

Uji Homogenitas serbuk dilakukan untuk mengetahui apakah proses

pencampuran serbuk yang dilakukan menghasilkan campuran yang homogen.

Pengukuran dilakukan menggunakan working standar glibenklamid dalam

metanol pada instrumen spektrofotometer UV untuk menentukan panjang

gelombang maksimum. Hasil serapan maksimum terukur pada panjang

gelombang 229 nm yang ditunjukan pada gambar 6.

229,0

Gambar 6. Spectrum graph glibenklamid dalam metanol (panjang

gelombang vs absorbansi)

Menurut Bilal (2013) serapan glibenklamid dalam metanol berada pada

panjang gelombang dalam kisaran 229,5 nm. Hal ini tidak berbeda jauh dari

penelitian tersebut dalam penentuan absorbansi panjang gelombang dibandingkan

dengan hasil yang didapat. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi absorbansi
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

38

yaitu zat yang dianalisis, peralatan, suhu, konsentrasi yang tinggi dan zat

pengganggu (Gandjar and Rohman, 2009). Berikut kurva baku glibenklamid yang

ditunjukkan pada gambar 7.

0,9
0,8 y = 0,0606x + 0,058
r = 0,998
0,7
0,6
Absorbansi

0,5
0,4
0,3
0,2
0,1
0
0 2 4 6 8 10 12 14
Konsentrasi (µg/mL)

Gambar 7. Kurva baku glibenklamid dalam metanol (n=1)

Persamaan kurva baku glibenklamid dalam metanol yang didapat yaitu

Y= 0,0606X + 0,058 dengan nilai regresi (r) sebesar 0,998. Menurut Miller dan

Miller (2010), nilai r yang dianjurkan untuk sebuah analisis dengan menggunakan

persamaan regresi linear adalah r dengan nilai diatas 0,99, sehingga persamaan

tersebut dapat digunakan untuk penetapan kadar obat glibenklamid.


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

39

Pengujian homogenitas serbuk dilakukan dengan mengambil 10 titik

sampel pada bagian atas tengah dan bawah cube mixer dan diukur dengan

instrumen spektofotometer UV. Hasil penetapan kadar tablet ditunjukan pada

tabel V.

Tabel V. Hasil uji homogenitas serbuk liquisolid


Sample no Kadar glibenklamid (%)
1 95,30
2 98,60
3 97,77
4 96,74
5 95,30
6 94,47
7 97,77
8 97,36
9 95,71
10 94,88
96,39
SD 1,44
CV 1,49 %

Hasil uji homogenitas diperoleh kadar 96,39 ± 1,44 (%) dengan

coefficient variation (CV) sebesar 1,49 %, sehingga serbuk yang dibuat dapat

dikatakan sudah homogen karena memenuhi persyaratan uji homogenitas yaitu

memiliki CV kurang dari 5% (Depkes RI, 2014).


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

40

C. Hasil Uji Mutu Fisik Tablet Liquisolid

1. Keseragaman Kandungan Tablet Liquisolid

Uji keseragaman kandungan bertujuan untuk mengetahui kandungan zat

aktif tiap tablet liquisolid yang telah dikempa.

Respon keseragaman kandungan ditunjukkan pada persamaan 14.

Y=2,230 X1 + 0,311 X2 - 0,007 X1X2 ............................................. (14)

Keterangan :
X1 = Gliserin
X2 = Amilum kentang

Model plot respon keseragaman kandungan ditunjukan pada gambar 8.

Keterangan:
Y = Respon keseragaman kandungan
A = Komponen gliserin
B = Komponen amilum kentang
= Design point
= Convidence interval
--- = Tolerance interval

Gambar 8. Model plot respon keseragaman kandungan tablet liquisolid

Pada persamaan (14) dapat diketahui bahwa gliserin, amilum kentang

dan interaksi gliserin dan amilum kentang memberikan pengaruh respon

keseragaman kandungan. Persamaan tersebut memiliki nilai p-value pada lack of

fit sebesar 0,3347 (p>0,05), sehingga dinyatakan persamaan tersebut dapat

menggambarkan eksperimental. Hasil anova untuk persamaan (14) sebesar 0,0820

(p>0,05) maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan signifikan sehingga

penambahan tunggal maupun interaksi gliserin dan amilum kentang pengaruhnya

kecil terhadap keseragaman kandungan tablet liquisolid. Nilai positif


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

41

menunjukkan penggunaan komponen gliserin meningkatkan kadar obat yang

terbaca dengan nilai 2,30. Komponen gliserin memiliki pengaruh yang dominan

terhadap peningkatan keseragaman kandungan, hal ini disebabkan penambahan

gliserin akan mendispersikan glibenklamid menjadi partikel yang lebih kecil,

sehingga berdampak pada peningkatan kelarutan glibenklamid dalam metanol.

Nilai negatif menunjukkan interaksi amilum kentang dalam menurunkan kadar

obat yang terbaca dengan nilai -0,007, hal ini disebabkan komponen amilum

kentang memiliki mekanisme pelepasan obat dengan mengembang dalam air

sehingga obat sulit untuk lepas. Hasil keseragaman kandungan tablet pada tiap

formula menunjukkan kadar tiap tabletnya berada pada rentang 93,65-100,45

dengan nilai penerimaan 2,81-7,56% sehingga dapat dikatakan tablet memenuhi

persyaratan keseragaman kandungan yaitu memiliki nilai penerimaan kurang dari

15% (Depkes RI, 2014).

2. Kekerasan Tablet Liquisolid

Kekerasan tablet merupakan parameter yang menggambarkan ketahanan

tablet terhadap tekanan mekanik seperti goncangan, kikisan dan terjadi keretakan

tablet selama pembungkusan, pengangkutan dan pemakaian. Kekerasan tablet

dipengaruhi oleh bobot bahan, kemampuan alir serbuk, kompaktibilitas bahan,

tekanan pengempaan, celah antara punch atas dan punch bawah pada saat

pengempaan pengempaan.

Respon kekerasan tablet ditunjukkan pada persamaan 15.

Y= –47,83 X1 + 0,03 X2 + 0,24 X1X2 + 0,0003 X1X2(X1X2) .............. (15)

Keterangan :
X1 = Gliserin
X2 = Amilum kentang
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

42

Model plot respon kekerasan tablet ditunjukan pada gambar 9.

Keterangan:
Y = Respon kekerasan tablet
A = Komponen gliserin
B = Komponen amilum kentang
= Design point
= Convidence interval
--- = Tolerance interval

Gambar 9. Model plot respon kekerasan tablet liquisolid

Pada persamaan (15) dapat diketahui bahwa gliserin, amilum kentang

dan interaksi gliserin dengan amilum kentang memberikan pengaruh respon

kekerasan tablet. Persamaan tersebut memiliki nilai p-value pada lack of fit

sebesar 0,41 (p>0,05), sehingga dinyatakan persamaan tersebut dapat

menggambarkan eksperimental. Hasil p-value pada anova untuk persamaan (15)

sebesar 0,0001 (p<0,05) maka dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan signifikan

sehingga penambahan tunggal maupun interaksi gliserin dan amilum kentang

pengaruhnya besar terhadap kekerasan tablet liquisolid.

Nilai negatif pada persamaan (15) menunjukkan penggunaan komponen

gliserin yang dominan terhadap penurunan kekerasan tablet dengan nilai –47,83.

Komponen gliserin memiliki pengaruh yang dominan terhadap penurunan

kekerasan tablet, hal ini disebabkan gliserin yang dijerap oleh amilum

menyebabkan serbuk menjadi lebih lembab sehingga menyebabkan serbuk

memiliki sifat alir dan kompresibilitas yang kurang baik. Hasil pada tiap formula
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

43

memiliki kekerasan tablet pada rentang 4,0–7,8 sehingga dapat dikatakan tablet

memenuhi persyaratan kekerasan tablet yaitu antara 4 kg hingga 8 kg.

3. Kerapuhan Tablet Liquisolid

kerapuhan tablet merupakan parameter kecenderungan tablet untuk

terkikis selama penanganan, pengemasan dan pendistribusian. Kerapuhan tablet

dipengaruhi oleh bobot bahan, kelembaban, kompatibilitas bahan, tekanan

pengempaan.

Respon kerapuhan tablet ditunjukkan pada persamaan 16.

Y= 5,23 X1 + 0,001 X2 – 0,026 X1X2 – 0,00003 X1X2(X1X2) ............. (16)

Keterangan :
X1 = Gliserin
X2 = Amilum kentang

Model plot respon kerapuhan tablet ditunjukan pada gambar 10.

Keterangan:
Y = Respon kerapuhan tablet
A = Komponen gliserin
B = Komponen amilum kentang
= Design point
= Convidence interval
--- = Tolerance interval

Gambar 10. Model plot respon kerapuhan tablet liquisolid

Pada persamaan (16) dapat diketahui bahwa gliserin, amilum kentang

dan interaksi gliserin dan amilum kentang memberikan pengaruh respon

kerapuhan tablet. Persamaan tersebut memiliki nilai p-value pada lack of fit

sebesar 0,8557 (p>0,05), sehingga dinyatakan persamaan tersebut dapat


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

44

menggambarkan eksperimental. Nilai p-value pada anova untuk persamaan (16)

sebesar 0,0001 (p<0,05) maka dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan signifikan

sehingga penambahan tunggal maupun interaksi gliserin dan amilum kentang

pengaruhnya besar terhadap persentase kerapuhan tablet liquisolid.

Nilai positif pada persamaan (16) menunjukkan penggunaan komponen

gliserin meningkatkan kerapuhan tablet dengan nilai 5,23 dan nilai negatif

menunjukkan interaksi amilum kentang menurunkan kerapuhan tablet dengan

nilai -0,026. Komponen gliserin memiliki pengaruh yang dominan terhadap

peningkatan kerapuhan tablet, hal ini disebabkan gliserin yang dijerap oleh

amilum menyebabkan serbuk menjadi lebih lembab dan menghasilkan tablet yang

lebih rapuh. Hasil kerapuhan tablet pada tiap formula menunjukkan bahwa nilai

kerapuhan tablet berada pada rentang 0,28–0,67 % sehingga dapat dikatakan

tablet memenuhi persyaratan kerapuhan tablet yaitu memiliki nilai kerapuhan

yang kurang dari 1 % (Sharma, 2010).

4. Waktu Hancur Tablet

Waktu hancur tablet adalah waktu yang diperlukan tablet untuk pecah

dan menjadi partikel-partikel penyusunnya, sehingga akan meningkatkan luas

permukaan yang kontak dengan cairan dalam tubuh (Siregar, 2008). Waktu

hancur dipengaruhi tekanan kompresi dan kompaktibilitas bahan (Aulton, 2007).

Waktu hancur bukan menjadi parameter nilai biovalibilitas dalam tubuh (Depkes

RI, 2014).
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

45

Respon waktu hancur tablet ditunjukan pada persamaan 17.

Y= –0,480 X1 + 0,002 X2 + 0,002 X1X2 ............................................. (17)

Keterangan :
X1 = Gliserin
X2 = Amilum kentang

Model plot respon waktu hancur tablet ditunjukan pada gambar 11.

Keterangan:
Y = Respon waktu hancur tablet
A = Komponen gliserin
B = Komponen amilum kentang
= Design point
= Convidence interval
--- = Tolerance interval

Gambar 11. Model plot respon waktu hancur tablet liquisolid

Pada persamaan (17) dapat diketahui bahwa gliserin, amilum kentang

dan interaksi gliserin dan amilum kentang memberikan pengaruh respon waktu

hancur tablet. Persamaan (17) memiliki nilai p-value pada lack of fit sebesar

0,9199 (p>0,05), sehingga dinyatakan persamaan tersebut dapat menggambarkan

eksperimental. Nilai p-value untuk anova pada persamaan (17) sebesar 0,0004

(p<0,05) maka dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan signifikan sehingga

penambahan tunggal maupun interaksi gliserin dan amilum kentang pengaruhnya

besar terhadap waktu hancur tablet liquisolid.

Nilai negatif pada persamaan (17) menunjukkan penggunaan komponen

gliserin menurunkan waktu hancur tablet dengan nilai -0,480 dan nilai positif

menunjukkan interaksi amilum kentang meningkatkan waktu hancur tablet dengan


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

46

nilai 0,002. Komponen gliserin memiliki pengaruh yang dominan dalam

menurunkan waktu hancur, hal ini disebabkan gliserin yang lebih cenderung

hidrofil dan larut dalam air sehingga dapat menurunkan waktu hancur tablet.

Komponen amilum kentang memiliki pengaruh dalam meningkatkan waktu

hancur, hal ini disebabkan amilum kentang yang memiliki mekanisme

mengembang dalam air dan tidak larut dalam air, sehingga dapat meningkatkan

waktu hancur tablet. Hasil waktu hancur tablet pada tiap formula menunjukkan

bahwa waktu hancur tablet berada pada rentang 0,81-1,26 menit, sehingga dapat

dikatakan tablet memenuhi persyaratan waktu hancur tablet yaitu kurang dari 15

menit (Depkes RI, 2014).

D. Hasil Uji Penetapan Kadar Tablet Liquisolid

Uji penetapan kadar dilakukan untuk mengetahui kadar glibenklamid

dalam tablet untuk digunakan dalam perhitungan uji disolusi. Hasil penetapan

kadar tablet ditunjukan pada tabel VI.

Tabel VI. Hasil penetapan kadar glibenklamid dalam tablet liquisolid

Formula Kadar tablet glibenklamid CV


× ± SD (%) n= 3 (%)
R1 97,98 ±1,80 1,84
R2 95,78 ± 1,56 1,63
R3 97,36± 1,09 1,12
R4 96,67 ± 1,46 1,51
R5 97,29 ± 1,55 1,59
R6 95,23 ± 1,67 1,75
R7 95,64 ± 1,92 2,00
R8 97,15 ± 1,61 1,66

Hasil penetapan kadar pada tiap formula menunjukkan bahwa kadar

glibenklamid dalam tablet berada pada rentang 93,44% hingga 99,22%, sehingga
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

47

memenuhi persyaratan kadar tablet glibenklamid yang tidak kurang dari 90 % dan

tidak lebih dari 110 % (United States Pharmacopeial Convention, 2014)

E. Hasil Uji Disolusi Tablet Liquisolid

1. Penentuan Panjang Gelombang Maksimum

Penentuan panjang gelombang maksimum dilakukan menggunakan

working standar glibenklamid dalam buffer phosphate pada instrumen

spektrofotometer UV. Hasil serapan maksimum terukur pada panjang gelombang

204,5 nm yang ditunjukan pada gambar 12.

204,5

Gambar 12. Spectrum graph glibenklamid dalam buffer phosphate

(panjang gelombang vs absorbansi)

Menurut Gianotto (2007) glibenklamid dalam medium buffer phosphate

memberikan serapan yang besar pada panjang gelombang 204,5. Dengan

demikian panjang gelombang 204,5 nm dapat digunakan sebagai panjang

gelombang maksimum dalam penentuan kurva baku glibenklamid dalam medium

buffer phosphate.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

48

2. Penentuan Persamaan Kurva Baku

Hasil penentuan persamaan kurva baku pada panjang gelombang 204,5

nm ditunjukkan pada gambar 13.

0,9
0,8 y = 0,0982x - 0,006
r = 0,999
0,7
0,6
Absorbansi

0,5
0,4
0,3
0,2
0,1
0
0 2 4 6 8 10
Konsentrasi (µg/mL)

Gambar 13. Kurva baku glibenklamid dalam buffer phosphate 0,05 M (n=1)

Pada gambar (13) menunjukkan absorbansi pada pengukuran seri kadar

glibenklamid berada pada range 0,2-0,8. Absorbansi yang terbaca pada

spektrofotometri hendaknya antara 0,2 hingga 0,8 karena memiliki persen

kesalahan terkecil yaitu 0,5% (Gandjar et al., 2009). Berdasarkan pengukuran

seri kadar glibenklamid dalam buffer phosphate 0,05 M didapatkan persamaan y =

0,0982x – 0,006 dengan nilai regresi (r) sebesar 0,999. Menurut Miller dan Miller

(2010), nilai r yang dianjurkan untuk sebuah analisis dengan menggunakan

persamaan regresi linier adalah r dengan nilai diatas 0,99, sehingga persamaan

tersebut dapat digunakan untuk uji disolusi tablet liquisolid glibenklamid.


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

49

3. Uji Disolusi Obat

Disolusi merupakan salah satu parameter yang menunjukkan kadar obat

yang terlarut sempurna pada medium disolusi pada waktu tertentu. United State

Pharmacope XXXVII mensyaratkan bahwa kelarutan tablet glibenklamid dalam

waktu 30 menit harus larut tidak kurang dari 75% dengan menggunakan alat tipe

II (tipe dayung) dalam medium buffer phosphate pH 8.5. Menurut Brian (2014)

medium disolusi buffer phosphate dapat mensimulasikan tubuh pada pengujian

disolusi dengan obat yang tergolong dalam asam lemah. Pada penelitian ini waktu

uji disolusi selama 45 menit untuk melihat apakah pada waktu tersebut masih

terjadi pelepasan zat aktif atau tidak. Hasil pengungkapan disolusi obat dengan

melihat nilai Q30 yaitu persentase kadar obat terdisolusi dalam medium pada

waktu 30 menit.

Berikut profil uji disolusi tablet liquisolid glibenklamid yang dinyatakan

dalam grafik persentase (%) obat terdisolusi dengan waktu yang ditunjukkan pada

gambar 14.a dan 14.b.

100

80
Obat Terdisolusi (%)

60
R1
R2
40
R3
20 R4

0
-10 0 10 20 30 40 50
Waktu (menit)

Gambar 14.a. Profil disolusi tablet liquisolid glibenklamid (n=6)


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

50

100

80

Obat Terdisolusi (%)


60
R5
R6
40
R7
R8
20

0
-10 0 10 20 30 40 50
Waktu (menit)

Gambar 14.b. Profil disolusi tablet liquisolid glibenklamid (n=6)

Pada pengujian disolusi ini didapatkan hasil akhir medium disolusi yang

jernih dengan terdapatnya partikel amilum kentang yang mengembang pada

medium disolusi, hal ini disebabkan amilum kentang yang memiliki mekanisme

mengembang di dalam air. Kadar glibenklamid yang dapat terdisolusi hingga

waktu 45 menit tidak dapat mencapai 100%, hal ini disebabkan karena adanya

partikel glibenklamid yang diperantarai gliserin untuk masuk ke dalam amilum

kentang dan terjebak hingga amilum kentang tersebut mengembang pada medium

disolusi. Hasil disolusi tablet pada tiap formula menunjukkan bahwa disolusi

tablet pada waktu 30 menit berada rentang 75,08% - 96,99%, sehingga dapat

dikatakan tablet memenuhi persyaratan kadar glibenklamid yang terdisolusi

dalam waktu 30 menit tidak kurang dari 75% (United States Pharmacopeial

Convention, 2014).
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

51

Respon disolusi tablet liquisolid ditunjukkan pada persamaan 18.

Y= 8,71 X1 + 0,26 X2 - 0,03 X1X2 ...................................................... (18)

Keterangan :
X1 = Gliserin
X2 = Amilum kentang
Model plot respon disolusi tablet ditunjukan pada gambar 15.

Keterangan:
Y = Respon disolusi tablet
A = Komponen gliserin
B = Komponen amilum kentang
= Design point
= Convidence interval
--- = Tolerance interval

Gambar 15. Model plot respon disolusi tablet liquisolid

Pada persamaan (18) dapat diketahui bahwa gliserin, amilum kentang

dan interaksi gliserin dan amilum kentang memberikan pengaruh respon disolusi

tablet. Persamaan (18) memiliki nilai p-value pada lack of fit sebesar 0,7506

(p>0,05), sehingga dinyatakan persamaan tersebut dapat menggambarkan

eksperimental. Nilai p-value untuk anova pada persamaan (18) yang diperoleh

sebesar 0,0002 (p<0,05) maka dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan signifikan

antar formula sehingga penambahan tunggal maupun interaksi gliserin dan

amilum kentang memberikan pengaruh yang besar terhadap disolusi tablet

liquisolid.

Nilai positif pada persamaan (18) menunjukkan penggunaan komponen

gliserin dan komponen amilum kentang masing-masing meningkatkan persentase

disolusi obat dengan nilai 8,71 dan 0,26. Komponen gliserin memiliki pengaruh

yang dominan dalam meningkatkan persentase obat yang terdisolusi, hal ini
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

52

disebabkan gliserin dapat meningkatkan pelepasan obat dengan mengecilkan

ukuran partikel, meningkatkan persentase obat yang terbasahi dan bertindak

sebagai ko-solven. Hasil negatif menunjukkan interaksi komponen gliserin dan

amilum kentang menurunkan persentase obat yang terdisolusi, penurunan disolusi

terjadi karena komponen gliserin sebagai pelarut dalam jumlah banyak akan

membuat obat tetap berikatan dengan gliserin (Hadisoewignyo, 2012) dan

komponen amilum kentang memiliki mekanisme pelepasan obat dengan

mengembang dalam air sehingga sulit dalam pelepasan obatnya sehingga interaksi

keduanya menyebabkan obat sulit untuk lepas dalam waktu tertentu.

F. Penentuan Formula Optimum

Formula optimum ditentukan dengan menggunakan Design Expert versi

9.0 yang diawali dengan menentukan parameter sifat fisik (keseragaman

kandungan, kekerasan, kerapuhan, waktu hancur) dan disolusi tablet liquisolid.

Liquisolid merupakan metode pembuatan sediaan tablet yang diciptakan untuk

meningkatkan disolusi obat yang sukar larut, sehingga pada respon uji disolusi

diberikan nilai 3 point. Disolusi obat dalam sediaan tablet sangat dipengaruhi oleh

waktu hancur, jika waktu yang dibutuhkan tablet untuk terdisintegrasi semakin

cepat maka disolusi obat akan berjalan lebih cepat karena terjadi peningkatan luas

permukaan pada zat aktif dengan medium disolusi. Sehingga respon waktu hancur

diberikan nilai 2.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

53

Nilai dan bobot parameter yang dioptimasi dapat dilihat pada tabel VII.

Tabel VII. Pemberian nilai dan bobot pada respon

Minimum Maksimum
Respon Goal Bobot
point point
Keseragaman
In range 90 % 110 % -
kandungan (%)
Kekerasan (kg) In range 4 kg 8 kg -
Kerapuhan (%) In range 0% 1% -
Waktu hancur (menit) Minimize 0 menit 15 menit ++
Disolusi obat (Q30) (%) Maksimal 75% 100% +++

Pada tabel VII pemberian nilai dan bobot respon kemudian dibuat hasil

prediksi untuk mendapatkan persamaan polinomial dan grafik untuk setiap respon.

Berikut hasil prediksi Design Expert 9.0 yang dapat dilihat pada gambar 16.

Keterangan:
Y = Respon disolusi tablet
A = Komponen gliserin
B = Komponen amilum kentang
= Design point
= Convidence interval
--- = Tolerance interval

Gambar 16. Model plot formula optimum tablet

Pada gambar 16 menunjukkan ada satu solusi dalam memprediksikan

formula optimum dengan proporsi gliserin 25 mg dan amilum kentang 287 mg

(100% : 0%) yang sama dengan formula R7 dan R8 dan nilai desirability-nya

sebesar 0,905. Desirability merupakan nilai yang besarnya nol sampai dengan satu

yang artinya bahwa semakin nilai desirability mendekati satu maka semakin

tinggi mendapatkan nilai respon yang diinginkan. Verifikasi data selanjutnya


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

54

dilakukan untuk melihat hasil prediksi dengan hasil percobaan yang kemudian

dianalisis dengan uji T tidak berpasangan dengan menggunakan R studio 3.2.3.

Berikut hasil prediksi formula optimum dan hasil formula R1 dan R2

disajikan pada tabel VIII.

Tabel VIII. Hasil prediksi formula optimum dan hasil formula R1 dan R2

Prediksi Hasil formula


Nilai p-value
Paramater formula Optimum
optimum
I II I II
Keseragaman
Kandungan 97,52 97,28 97,19 0,46 0,42
(%)
Kekerasan
4,31 4,28 4,27 0,36 0,14
(Kg)
Kerapuhan (%) 0,60 0,62 0,62 0,32 0,37
Waktu hancur
1,10 1,11 1,13 0,71 0,29
(menit)
Disolusi obat
92,42 92,79 91,87 0,51 0,24
(Q30)

Berdasarkan tabel VIII parameter keseragaman kandungan, kekerasan,

waktu hancur, kerapuhan, dan disolusi tablet mempunyai nilai p-value lebih dari

0,05 untuk fomula R1 dan R2 sehingga dapat dsimpulkan tidak ada perbedaan

signifikan antara prediksi dan hasil formula optimum. Hasil ini menunjukkan

bahwa formula hasil percobaan tablet liquisolid glibenklamid sesuai dengan teori

dan membuktikan bahwa formula optimum yang didapat dari simplex lattice

design dengan Design Expert 9.0 telah valid.


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

1. Gliserin sebagai pelarut berpengaruh signifikan meningkatkan persentase

kerapuhan, persentase obat yang terdisolusi serta menurunkan kekerasan dan

waktu hancur tablet.

2. Campuran bahan pelarut gliserin dan amilum kentang sebagai carrier

material menghasilkan formula optimum dengan perbandingan konsentrasi

gliserin : Amilum kentang (100% : 0%) metode Simplex Lattice Design

dengan proporsi jumlah bahan (25 : 287) mg.

B. Saran

1. Perlu dilakukan validasi formula optimum dalam banyak titik agar dapat

menggambarkan secara jelas sifat fisik dan disolusi tablet pada formula

optimum.

2. Perlu dilakukan validasi metode pada uji penetapan kadar dan disolusi.

3. Perlu dilakukan penurunan bobot tablet sehingga bahan eksipien yang

digunakan tidak terlalu banyak karena dosis yang digunakan kecil.

4. Perlu dilakukan pengembangan dalam formula agar dapat memberikan

pelepasan obat hingga 100%.

55
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

56

DAFTAR PUSTAKA

Abbas, A.A., Rasool, A.A., and Rajab, N.A., 2014, Preparation and Comparative
Evaluation of Liquisolid Compact and Solid Dispersion of Candesarta
Cilexetil, International Journal of Pharmacy and Pharmaceutical
Sciences, 6, 1-2.
Abdul, B.M., Swathimutyam, P., Padmanabha, R.A., Nalini, S., and Prakash,V.D.,
2011, Development and Validation of Glibenclamide in Nanoemulsion
Formulation by using RP-HPLC, Journal of Pharmaceutical and
Biomedical science, 8, 1-5.
Akbari, J., Saeedi, M., Semnani, K.M., Ghadi, Z.S., Hosseini, S.S., 2015,
Improving the Dissolution Properties of Spironolactone Using Liquisolid
Technique, Pharmaceutical and Biomedical Research, 1, 59-70.
Allen, L.V., Luner, P.E., 2009, Handbook of Pharmaceuticals Excipient, 6th ed.,
The Pharmaceutical Press, London, pp. 404-407.
Allen, L.V., Popovich, N.G., Ansel, H.C., 2014, Ansel’s Pharmaceutical Dosage
Forms and Drug Delivery Systems 10th edition, Lippincott William &
Wilkins, Baltimore, pp. 203-206, 250-253.
Andrzej, P., Karol, I., Magdalena, N., Ewa, P., 2014, The Excipients Used in the
Non-coated Tablets - A REVIEW, Chair and Department of Applied
Pharmacy, 26, 10-18.
Anilkumar, S., Arun,W., Amol, P., and Harinith, M., 2010, Development and
Characterisation of Oral Dissolving Tablet of Nifedipine Using Camphor
as a Subliming Material, Research Journal of Pharmaceutical Biological
and Chemical Sciences, 1, 46-49.
Arulkumaran, K.S.G., and Padmapreetha, J., 2014, Enhancement of Solubility of
Ezetimibe by Liquisolid Technique, International Journal of
Pharmaceutical Chemistry and Analysis, 1, 15-18.
Aulton, M.E., 2007, Aulton’s Pharmaceutics The Design and Manufacture of
Medicines 3rd edition, Philadelphia, PP. 16-25.
Alvarez-Nunez, F.A., Medina, C., 2004, Handbook of Pharmaceuticals Excipient,
6th ed., The Pharmaceutical Press, London, pp. 283-285.
Burra, S., Yamsani, M., Vobalaboina, V., 2011, The Liquisolid technique: an
overview, Brazilian Journal of Pharmaceutical Sciences, 47, 476-482.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

57

Debjit, B., Chiranjib, B., Krishnakanth, Pankaj, Chandira, R. M., 2009, Fast
Dissolving Tablet, Journal of Chemical and Pharmaceutical Research, 1,
163-177.
Dewi, K.S., 2010, Formulasi Sediaan Tablet Fast Disintegrating Antasida dengan
Starch 1500 sebagai Bahan Penghancur dan Laktosa sebagai Bahan
Pengisi, Skripsi, 2, 13- 20.
Depkes RI, 2014, Farmakope Indonesia, jilid V, Departemen Kesehatan Republik
Indonesia, Jakarta, pp. 753. 1523-1526.
Fudholi, A., 2013, Disolusi & Pelepasan Obat in vitro, Pustaka Pelajar,
Yogyakarta, pp. 3,59, 137-138, 142.
Gianotto, E.A.S., Arantes, R.P., Lara-Filho, M.J., Filho A.C.S.C., and Fregonezi-
Nery, M.M, 2007, Dissolution Test for Glibenclamide Tablet,
Quim.Nova, 30, 1218-1221.
Gubbi, S., and Jarag, R., 2009, Liquisolid Technique for Enhancement of
Dissolution Properties of Bromhexine Hydrochloride, J. Pharm and
Tech, 2, 382 – 386.
Guy, 2009, Handbook of Pharmaceuticals Excipient, 6th ed., The Pharmaceutical
Press, London, pp. 129-133.
Hadisoewignyo, L., 2012, Likuisolid: Teknik Pembuatan Tablet untuk Bahan
Obat Tidak Larut Air, Medicinus, 25, 32-37.
Hapgood, K.P., 2009, Handbook of Pharmaceuticals Excipient, 6th ed., The
Pharmaceutical Press, London, pp. 185-188.
Häusler, O., 2009, Handbook of Pharmaceuticals Excipient, 6th ed., The
Pharmaceutical Press, London, pp. 685-690.
Javadzadeh, Y., Siahi, M.R., Asnaashari, S., Nokhodchi, A., 2007, Liquisolid
Technique as a Tool for Enhancement of Poorly Water-soluble Drugs
and Evaluation of Their Physicochemical Properties, Acta Pharm., 57,
99-109.
Kulkarni, A.S., Aloorkar, N.H., Mane, M.S., and Gaja, J.B., 2010, Liquisolid
Systems : A Review, International Journal of Pharmaceutical Sciences
and Nanotechnology, 3, 795-802.
Lachman, M. E., Ziff, M. A., & Spiro, A., III, 1994, Maintaining a sense of
control in later life. In R. P. Abeles, H. C. Gift, & M. G. Ory (Eds.),
Springer, New York, pp. 216–232.
Lohithatsu, D., Ramana, J.V., Girish, P., Harsha, I.N.S., Madhu, G., Lavanya, K.,
Swathi, D.S., 2014, A Latest Review on Liquisolid Technique as a Novel
Approach, World Journal of Pharmaceutical Research, 3, 479-493.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

58

Mahapatra et al., 2014, Liquisolid Technique: A novel approach in


pharmaceutical formulation development, Journal of Chemical and
Pharmaceutical Research, 6, 529-543.
Mohiuddin, M. Z., Puligilla, S., Chukka, S., Devadasu, V., and Penta, J.,
Formulation and Evaluation of Glyburide Liquisolid Compacts,
International Journal of Pharma Research & Review, 3, 36-46.
Ohwoavworhua, F. O., Adelakun, and Okhamafe, 2009, Processing
Pharmaceutical Grade Microcrystalline Cellulose from Groundnut Husk:
Extraction Methods and Characterization, International Journal of Green
Pharmacy, 97-104.
Pavani, E., Noman, S., Syed, I.A., 2013, Liquisolid Technique Based Sustained
Release Tablet of Trimetazidine Dihydrochloride, Departmen of
Pharmaceutics, 5, 302-310.
Priya, C., Kumari, R., Ankita, K., 2013, liquisolid technique an approach for
enhancement of solubility, Journal of Drug Delivery & Therapeutics, 3,
131-137.
Saeedi, M., Akbari, J., Semnani, K.M., Farda, R.E., Dara, S.S.R., and Soleymani,
A., 2009, Enhancement of Dissolution Rate of Indomethacin Using
Liquisolid Compacts, 1, 25-34.
Satheeshbabu, N., Gowthamarajan, K., Gayathri, R., Saravanan, T., 2011,
Liquisolid: A Novel Technique To Enhance Bioavailability, Journal of
Pharmacy Research, 4, 181-185.
Savjani, K.T., Gajjar, A.K., and Savjani, J.K., 2012, Drug Solubility: Importance
and Enhancement Techniques, International Scholarly Research
Network, 1-10.
Shyam, J., Krishna R.V., Madhavi, K., Krishna V.M and Sudheer, K.D., 2014,
Enhancement of solibility and Dissolution Properties of Lovastatin by
Liquisolid Technique, 4, 713-722.
Singh, S.K., Srinivasan, K.K., Gowthamarajan, K., Prakash, D., Gaikwad, N.B.,
Singare, D.S., 2012, Influence of Formulation Parameters on Dissolution
Rate Enhancement of Glyburide Using Liquisolid Technique, Informa
Health Care, 8, 961-970.
Sinkar, N. B., Gondkar, S. B., and Saudagar R. B., 2015, Liquisolid Systems:
Solubility Enhancement of Poor Soluble Drugs, World Journal of
Pharmaceutical Research, 4, 1748-1765.
Siregar, Charles, J.P., dan Wikarsa, S., 2008, Teknologi Farmasi Sediaan Tablet
Dasar-Dasar Praktis, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta, pp. 1,
54-56, 149, 185, 193, 223, 235.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

59

Sirisha, V.N.L., Sruthi, B., and Eswaraiah, M.C., 2012, Preparation and In-Vitro
Evaluation of Liquid Solid Compacts of Glibenclamide, International
journal researh journal of pharmacy, 3, 1-4.
Spireas, S., 2002, Liquisolid System and Methods of Preparation Same,
Pharmaceutical Research, 9, 1-6.
Sudharshan, P.S., and Bonde, C.G., 2009, Development and Validation of
Analytical Method for Simultaneous Estimation of Glibenclamide and
Metformin HCl in Bulk and Tablet using UV-visible spektroscopy,Int.J.
Chem Tech Res, 1, 906-909.
Suherman, Suharti, K., Insulin dan Antidiabetik Oral, Dalam: Gunawan,S.G.,
R.Setiabudy, Nafradi, Elysabeth, 2007, Farmakologi dan Terapi,
Departemen Farmakologi dan Terapeutik Fakultas Kedokteran
Universirtas Indonesia, Jakarta, pp. 4.
Sulaiman, T.N.S., 2007, Teknologi Formulasi Sediaan Tablet, Universitas Gadjah
Mada,Yogyakarta, pp.80, 96,103,108-110.
Sweetman, S.C., 2009, Martindale The Complete Drug Reference, 36thed., The
Pharmaceutical Press, London, p.64.
Syed, I.A., Pavani, E., 2012, The Liquisolid Technique: Based Drug Delivery
System, International Journal of Pharmaceutical Sciences and Drug
Research, 88-96.
United States Pharmacopeial Convention, 2014, The United States Pharmacopeia,
28th edition, United States Pharmacopeial Convention Inc., Rockville,
pp. 3161-3163.
Vajir, S., Sahu, V., Ghuge, N., Bang. P, Bakde, B.V., 2012, Enhancement of
Dissolution Rate of Poorly Water Soluble Diclofenac Sodium by
Liquisolid Technique, 1, 1338-1349.
Vraníková, B., and Gajdziok, J., 2013, Liquid System and Aspects Influencing
Their Research and Development, Acta Pharm., 447-465.
Young, P.M., 2009, Handbook of Pharmaceuticals Excipient, 6th ed., The
Pharmaceutical Press, London, pp. 663-666.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

60

Lampiran 1. Sertifikat Analisis (Certificate Of Analysis COA

1. Glibenklamid
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

61

2. Gliserin
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

62

3. Amilum kentang
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

63

4. Aerosil (HDK Wacker N20)


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

64

5. Avicel PH 102
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

65

6. Sodium Starch Glycollate


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

66

7. Magnesium Stearat
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

67

Lampiran 2. Hasil spektrofotomer UV glibenklamid

1. Spectrum graph dan Peak detection glibenklamid dalam metanol

2. Kurva baku glibenklamid dalam metanol


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

68

3. Spectrum graph dan Peak detection glibenklamid dalam buffer phosphat

4. Deteksi dan kurva baku glibenklamid dalam buffer phosphat


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

69

Lampiran 3. Data hasil uji sifat alir serbuk

1. Uji indeks kompresibilitas


Indeks Rata-rata ± SD
Volume Volume
Formula Kompresibilitas Indeks
awal (mL) mampat (mL)
(%) Kompresibilitas (%)
170 148 12,94
R1 174 150 13,79
13,28 ± 0,45
168 146 13,09
171 149 12,86
R2 174 151 13,22
12,96 ± 0,23
172 150 12,79
171 150 12,28
R3 171 150 12,28
12,48 ± 0,34
171 149 12,86
174 153 12,07
R4 175 154 12,00
11,85 ± 0,31
174 154 11,49
174 153 12,07
R5 175 153 12,57
12,21 ± 0,31
175 154 12,00
174 153 12,07
R6 175 153 12,57 12,40 ± 0,29
175 153 12,57
174 151 13,22
R7 176 152 13,64
13,55 ± 0,30
174 150 13,79
174 151 13,22
R8 175 151 13,71
13,36 ± 0,31
175 152 13,14

Contoh perhitungan indeks kompresibilitas (IK) :

Diketahui berat serbuk : 100 gram

IK (%) : x 100% = x 100% = 12,941%


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

70

Lampiran 4. Data hasil uji homogenitas campuran

Persamaan regresi linier :


y = 0,0606x + 0,058
r = 0,998

Tabel Absorbansi sampel serbuk glibenklamid R8


No Absorbansi Konsentrasi Kadar
sampel (mg/L) (%) dalam 550 mg serbuk
1 0,520 7,62 95,30
2 0,536 7,89 98,60
3 0,532 7,82 97,77
4 0,527 7,74 96,74
5 0,520 7,62 95,30
6 0,516 7,56 94,47
7 0,532 7,82 97,77
8 0,530 7,79 97,36
9 0,522 7,66 95,71
10 0,518 7,59 94,88
96,39
SD 1,44
CV 1,49 %
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

71

Lampiran 5. Data hasil uji sifat fisik tablet


1. Keseragaman kandungan

Persamaan kurva baku


Y= 0,0606x + 0,058
R= 0,998

Formula R1

No Serapan Konsentrasi Kadar (%) tablet


(mg/L)
1 0,539 7,94 99,22
2 0,531 7,81 97,57
3 0,529 7,77 97,15
4 0,527 7,74 96,74
5 0,523 7,67 95,92
6 0,523 7,67 95,92
7 0,519 7,61 95,09
8 0,513 7,51 93,85
9 0,537 7,90 98,80
10 0,533 7,84 97,98
Rata-rata ( ) ± Simpangan deviasi (SD) 96,82 ± 1,67
Nilai penerimaan (Np) 5,69

Formula R2

No Serapan Konsentrasi Kadar (%) tablet


(mg/L)
1 0,533 7,84 97,98
2 0,534 7,85 98,18
3 0,521 7,64 95,50
4 0,517 7,57 94,68
5 0,533 7,84 97,98
6 0,527 7,74 96,74
7 0,532 7,82 97,77
8 0,521 7,64 95,50
9 0,516 7,56 94,47
10 0,513 7,51 93,85
Rata-rata ( ) ± Simpangan deviasi (SD) 96,27 ± 1,66
Nilai penerimaan (Np) 6,21
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

72

Formula R3

No Serapan Konsentrasi Kadar (%) tablet


(mg/L)
1 0,523 7,67 95,92
2 0,515 7,54 94,27
3 0,530 7,79 97,36
4 0,536 7,89 98,60
5 0,532 7,82 97,77
6 0,525 7,71 96,33
7 0,519 7,61 95,09
8 0,528 7,76 96,95
9 0,514 7,52 94,06
10 0,512 7,49 93,65
Rata-rata ( ) ± Simpangan deviasi (SD) 96,00 ± 1,70
Nilai penerimaan (Np) 6,57

Formula R4

No Serapan Konsentrasi Kadar (%) tablet


(mg/L)
1 0,533 7,84 97,98
2 0,530 7,79 97,36
3 0,523 7,67 95,92
4 0,545 8,04 100,45
5 0,529 7,77 97,15
6 0,522 7,66 95,71
7 0,520 7,62 95,30
8 0,526 7,72 96,53
9 0,533 7,84 97,98
10 0,517 7,57 94,68
Rata-rata ( ) ± Simpangan deviasi (SD) 96,91 ± 1,68
Nilai penerimaan (Np) 5,61
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

73

Formula R5

No Serapan Konsentrasi Kadar (%) tablet


(mg/L)
1 0,531 7,81 97,57
2 0,526 7,72 96,53
3 0,518 7,59 94,88
4 0,514 7,52 94,06
5 0,536 7,89 98,60
6 0,530 7,79 97,36
7 0,524 7,69 96,12
8 0,521 7,64 95,50
9 0,516 7,56 94,47
10 0,538 7,92 99,01
Rata-rata ( ) ± Simpangan deviasi (SD) 96,41 ± 1,71
Nilai penerimaan (Np) 6,19

Formula R6

No Serapan Konsentrasi Kadar (%) tablet


(mg/L)
1 0,520 7,62 95,30
2 0,515 7,54 94,27
3 0,516 7,56 94,47
4 0,513 7,51 93,85
5 0,542 7,99 99,83
6 0,528 7,76 96,95
7 0,521 7,64 95,50
8 0,517 7,57 94,68
9 0,540 7,95 99,42
10 0,534 7,85 98,18
Rata-rata ( ) ± Simpangan deviasi (SD) 96,25 ± 2,21
Nilai penerimaan (Np) 7,56
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

74

Formula R7

No Serapan Konsentrasi Kadar (%) tablet


(mg/L)
1 0,526 7,72 96,53
2 0,523 7,67 95,92
3 0,535 7,87 98,39
4 0,532 7,82 97,77
5 0,527 7,74 96,74
6 0,524 7,69 96,12
7 0,519 7,61 95,09
8 0,541 7,97 99,63
9 0,539 7,94 99,22
10 0,529 7,77 97,15
Rata-rata ( ) ± Simpangan deviasi (SD) 97,26 ± 1,48
Nilai penerimaan (Np) 4,78

Formula R8

No Serapan Konsentrasi Kadar (%) tablet


(mg/L)
1 0,527 7,74 96,74
2 0,541 7,97 99,63
3 0,533 7,84 97,98
4 0,529 7,77 97,15
5 0,535 7,87 98,39
6 0,531 7,81 97,57
7 0,533 7,84 97,98
8 0,539 7,94 99,22
9 0,532 7,82 97,77
10 0,528 7,76 96,95
Rata-rata ( ) ± Simpangan deviasi (SD) 97,94 ± 0,94
Nilai penerimaan (Np) 2,81
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

75

2. Uji Kekerasan Tablet

Formula (kg)
Replikasi
R1 R2 R3 R4 R5 R6 R7 R8
1 6,8 7,7 6,4 5,4 6,1 5,5 4,3 4,1
2 7,3 7,3 6,2 5,6 5,5 5,1 4,2 4,4
3 7,6 7,5 6,4 5,5 6,2 5,1 4,4 4,5
4 7,3 7,7 6,4 5,4 5,8 5,1 4,1 4,4
5 7,7 7,8 6,1 5,7 5,6 5,0 4,5 4,3
6 7,3 7,7 6,4 5,7 5,7 5,2 4,5 4,4
7 7,3 7,7 6,3 5,8 5,7 5,2 4,3 4,4
8 7,8 7,1 6,1 6,0 5,9 5,3 4,2 4,5
9 7,1 7,4 6,5 5,8 5,8 5,0 4,2 4,1
10 7,8 7,5 6,4 6,2 6,8 5,3 4,2 4,1
11 7,4 7,5 6,5 5,7 5,5 5,1 4,4 4,3
12 7,0 7,4 6,5 5,8 5,7 5,2 4,2 4,5
13 7,7 7,7 6,1 5,9 5,9 5,2 4,4 4,1
14 7,3 7,5 6,3 5,6 5,8 5,4 4,0 4,3
15 7,7 7,3 6,2 5,8 5,8 5,0 4,3 4,3
16 7,3 7,7 6,1 5,6 5,9 5,4 4,4 4,4
17 7,4 7,5 6,5 5,7 5,8 4,9 4,5 4,3
18 7,5 7,7 6,5 5,8 5,7 5,2 4,4 4,5
19 7,3 7,6 6,3 5,8 5,8 5,3 4,5 4,1
20 7,4 7,0 6,2 5,9 6,0 5,4 4,3 4,5
X 7,40 7,51 6,32 5,73 5,80 5,18 4,31 4,32
SD 0,26 0,22 0,15 0,19 0,17 0,15 0,28 0,15
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

76

3. Uji Kerapuhan Tablet

Replikasi Rata-rata ± SD
Formula 1 2 3
Bobot yang hilang (%) Bobot yang hilang (%)
R1 0,43 0,49 0,28 0,40 ± 0,11
R2 0,41 0,37 0,39 0,39 ± 0,02
R3 0,54 0,30 0,42 0,42 ± 0,12
R4 0,45 0,38 0,48 0,44 ± 0,05
R5 0,45 0,32 0,52 0,43 ± 0,10
R6 0,38 0,54 0,52 0,48 ± 0,08
R7 0,67 0,46 0,67 0,60 ± 0,12
R8 0,59 0,64 0,59 0,61 ± 0,03

4. Uji Waktu Hancur Tablet

Replikasi Rata-rata ± SD
Formula 1 2 3
menit menit
R1 0,81 0.83 0,88 0,84 ± 0,04
R2 0,96 0,94 0,86 0,92 ± 0,05
R3 1,02 1,09 1,13 1,08 ± 0,06
R4 1,12 1,17 1,22 1,17 ± 0,05
R5 1,22 1,07 1,16 1,15 ± 0,07
R6 1,13 1,14 1,26 1,18 ± 0,07
R7 1,12 1,15 1,08 1,12 ± 0,04
R8 1,04 1,17 1,02 1,08 ± 0,08
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

77

Lampiran 6. Data penetapan kadar tablet

Persamaan regresi linier


Y= 0,0606X + 0,058
r= 0,998

Formula Absorbansi Konsentrasi Kadar (%) Rata-rata CV


kadar ± SD (%)
0,523 7,67 95,92
R1 0,537 7,90 98,80 97,98 ± 1,80 1,84
0,539 7,94 99,22
0,531 7,81 97,57
R2 0,519 7,61 95,09 95,78 ± 1,56 1,63
0,517 7,57 94,68
0,526 7,72 96,53
R3 0,536 7,89 98,60 97,36 ± 1,09 1,12
0,528 7,76 96,95
0,528 7,76 96,95
R4 0,533 7,84 97,98 96,67 ± 1,46 1,51
0,519 7,61 95,09
0,530 7,79 97,36
R5 0,522 7,66 95,71 97,29 ± 1,55 1,59
0,537 7,90 98,80
0,527 7,74 96,74
R6 0,521 7,64 95,50 95,23 ± 1,67 1,75
0,511 7,48 93,44
0,514 7,52 94,06
R7 0,519 7,61 95,09 95,64 ± 1,92 2,00
0,532 7,82 97,77
0,520 7,62 95,30
R8 0,533 7,84 97,98 97,15 ± 1,61 1,66
0,534 7,85 98,18
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

78

Lampiran 7. Data hasil uji disolusi tablet

Persamaan regresi linier

Y= 0,0982X - 0,006 dengan nilai r = 0,999

Formula R1

Jumlah zat aktif glibenklamid ( )

Berat tablet percobaan : 552 mg

Kadar
Faktor Kadar
Menit Abs fp Kadar (mg) terkoreksi
koreksi terdisolusi
(mg)
0 0 0 0 0 0 0
5 0,049 2 1,01 0 1,01 20,50
10 0,085 2 1,67 0,006 1,67 34,04
15 0,13 2 2,49 0,015 2,51 51,00
30 0,194 2 3,67 0,029 3,69 75,14
45 0,207 2 3,90 0,049 3,95 80,40

Berat tablet percobaan : 551 mg

Kadar Kadar
Faktor
Menit Abs Fp Kadar (mg) terkoreksi terdisolusi
koreksi
(mg) (%)
0 0 0 0 0 0 0
5 0,069 2 1,37 0 1,37 28,01
10 0,107 2 2,07 0,008 2,08 42,36
15 0,156 2 2,97 0,017 2,99 60,85
30 0,229 2 4,31 0,031 4,34 88,41
45 0,238 2 4,47 0,053 4,53 92,20
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

79

Berat tablet percobaan : 549 mg

Kadar Kadar
Faktor
Menit Abs fp Kadar (mg) terkoreksi terdisolusi
koreksi
(mg) (%)
0 0 0 0 0 0 0
5 0,062 2 1,25 0 1,25 25,49
10 0,091 2 1,78 0,007 1,78 36,50
15 0,151 2 2,88 0,015 2,89 59,17
30 0,217 2 4,09 0,031 4,12 84,22
45 0,232 2 4,36 0,051 4,41 90,26

Berat tablet percobaan : 551 mg

Kadar
Faktor Kadar
Menit Abs fp Kadar (mg) terkoreksi
koreksi terdisolusi
(mg)
0 0 0 0 0 0 0
5 0,066 2 1,32 0 1,32 26,89
10 0,109 2 2,11 0,007 2,12 43,10
15 0,152 2 2,90 0,017 2,91 59,36
30 0,206 2 3,89 0,031 3,92 79,81
45 0,221 2 4,16 0,050 4,21 85,80
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

80

Berat tablet percobaan : 550 mg

Kadar Kadar
Faktor
Menit Abs fp Kadar (mg) terkoreksi terdisolusi
koreksi
(mg) (%)
0 0 0 0 0 0 0
5 0,058 2 1,17 0 1,17 23,95
10 0,112 2 2,16 0,007 2,17 44,28
15 0,147 2 2,80 0,018 2,82 57,61
30 0,193 2 3,65 0,030 3,68 75,08
45 0,218 2 4,11 0,049 4,15 84,81

Berat tablet percobaan: 551 mg

Kadar Kadar
Faktor
Menit Abs fp Kadar (mg) terkoreksi terdisolusi
koreksi
(mg) (%)
0 0 0 0 0 0 0
5 0,053 2 1,08 0 1,08 22,04
10 0,084 2 1,65 0,006 1,66 33,74
15 0,143 2 2,73 0,015 2,75 55,95
30 0,209 2 3,94 0,030 3,97 80,91
45 0,224 2 4,22 0,051 4,27 86,93

Rata-rata Q 0 menit : 0,00 % ± 0,00 %

Rata-rata Q 5 menit : 24,48 % ± 2,88 %

Rata-rata Q 10 menit : 39,00 % ± 4,79 %

Rata-rata Q 15 menit : 57,32 % ± 3,52 %

Rata-rata Q 30 menit : 80,59 % ± 5,20 %

Rata-rata Q 45 menit : 86,74 % ± 4,17 %


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

81

Formula R2

Jumlah zat aktif glibenklamid ( )

Berat tablet percobaan : 551 mg


Kadar Kadar
Faktor
Menit Abs fp Kadar (mg) terkoreksi terdisolusi
koreksi
(mg) (%)
0 0 0 0 0 0 0
5 0,057 2 1,15 0 1,15 24,07
10 0,094 2 1,83 0,006 1,84 38,34
15 0,145 2 2,77 0,017 2,78 58,04
30 0,203 2 3,83 0,032 3,86 80,52
45 0,227 2 4,27 0,053 4,32 90,13

Berat tablet percobaan : 551 mg

Kadar Kadar
Faktor
Menit Abs fp Kadar (mg) terkoreksi terdisolusi
koreksi
(mg) (%)
0 0 0 0 0 0 0
5 0,063 2 1,26 0 1,26 26,36
10 0,111 2 2,14 0,007 2,15 44,85
15 0,157 2 2,99 0,018 3,01 62,66
30 0,214 2 4,03 0,033 4,07 84,74
45 0,231 2 4,34 0,054 4,40 91,68
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

82

Berat tablet percobaan: 551 mg

Kadar Kadar
Faktor
Menit Abs fp Kadar (mg) terkoreksi terdisolusi
koreksi
(mg) (%)
0 0 0 0 0 0 0
5 0,059 2 1,19 0 1,19 24,83
10 0,103 2 2,00 0,007 2,00 41,78
15 0,144 2 2,75 0,018 2,77 57,67
30 0,197 2 3,72 0,032 3,75 78,22
45 0,228 2 4,29 0,053 4,34 90,50

Berat tablet percobaan: 551 mg

Kadar Kadar
Faktor
Menit Abs fp Kadar (mg) terkoreksi terdisolusi
koreksi
(mg) (%)
0 0 0 0 0 0 0
5 0,066 2 1,32 0 1,32 27,51
10 0,113 2 2,18 0,007 2,19 45,62
15 0,155 2 2,95 0,019 2,97 61,90
30 0,217 2 4,09 0,033 4,12 85,89
45 0,236 2 4,44 0,055 4,49 93,60
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

83

Berat tablet percobaan : 550 mg

Kadar Kadar
Faktor
Menit Abs fp Kadar (mg) terkoreksi terdisolusi
koreksi
(mg) (%)
0 0 0 0 0 0 0
5 0,071 2 1,41 0 1,41 29,47
10 0,117 2 2,25 0,008 2,26 47,24
15 0,148 2 2,82 0,019 2,84 59,34
30 0,206 2 3,89 0,032 3,92 81,82
45 0,223 2 4,20 0,054 4,25 88,77

Berat tablet percobaan : 551 mg

Kadar Kadar
Faktor
Menit Abs fp Kadar (mg) terkoreksi terdisolusi
koreksi
(mg) (%)
0 0 0 0 0 0 0
5 0,068 2 1,36 0 1,36 28,27
10 0,108 2 2,09 0,008 2,10 43,71
15 0,151 2 2,88 0,018 2,90 60,36
30 0,208 2 3,92 0,033 3,96 82,44
45 0,224 2 4,22 0,054 4,27 88,99

Rata-rata Q 0 menit : 0,00 % ± 0,00 %

Rata-rata Q 5 menit : 26,75 % ± 2,06 %

Rata-rata Q 10 menit : 43,59 % ± 3,16 %

Rata-rata Q 15 menit : 59,99 % ± 2,02 %

Rata-rata Q 30 menit : 82,27 % ± 2,79 %

Rata-rata Q 45 menit : 90,61 % ± 1,81 %


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

84

Formula R3

Jumlah zat aktif glibenklamid ( )

Berat tablet percobaan : 552 mg

Kadar Kadar
Faktor
Menit Abs fp Kadar (mg) terkoreksi terdisolusi
koreksi
(mg) (%)
0 0 0 0 0 0 0
5 0,08 2 1,58 0 1,58 32,27
10 0,131 2 2,51 0,009 2,52 51,58
15 0,155 2 2,95 0,023 2,97 60,87
30 0,195 2 3,68 0,039 3,72 76,21
45 0,214 2 4,03 0,060 4,09 83,76

Berat tablet percobaan: 551 mg

Kadar Kadar
Faktor
Menit Abs fp Kadar (mg) terkoreksi terdisolusi
koreksi
(mg) (%)
0 0 0 0 0 0 0
5 0,09 2 1,76 0 1,76 36,08
10 0,147 2 2,80 0,010 2,81 57,71
15 0,178 2 3,37 0,024 3,40 69,66
30 0,224 2 4,22 0,041 4,26 87,30
45 0,233 2 4,38 0,063 4,44 91,11
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

85

Berat tablet percobaan : 550 mg

Kadar Kadar
Faktor
Menit Abs fp Kadar (mg) terkoreksi terdisolusi
koreksi
(mg) (%)
0 0 0 0 0 0 0
5 0,075 2 1,48 0 1,48 30,50
10 0,106 2 2,05 0,008 2,06 42,34
15 0,16 2 3,04 0,020 3,06 62,92
30 0,211 2 3,98 0,040 4,02 82,52
45 0,217 2 4,09 0,061 4,15 85,23

Berat tablet percobaan : 551 mg

Kadar Kadar
Faktor
Menit Abs fp Kadar (mg) terkoreksi terdisolusi
koreksi
(mg) (%)
0 0 0 0 0 0 0
5 0,09 2 1,76 0 1,76 36,08
10 0,122 2 2,35 0,010 2,36 48,31
15 0,164 2 3,12 0,022 3,14 64,34
30 0,202 2 3,81 0,040 3,85 79,00
45 0,226 2 4,25 0,060 4,31 88,43
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

86

Berat tablet percobaan : 551 mg

Kadar Kadar
Faktor
Menit Abs fp Kadar (mg) terkoreksi terdisolusi
koreksi
(mg) (%)
0 0 0 0 0 0 0
5 0,059 2 1,19 0 1,19 24,43
10 0,127 2 2,44 0,007 2,44 50,12
15 0,171 2 3,24 0,022 3,27 66,98
30 0,224 2 4,22 0,041 4,26 87,28
45 0,247 2 4,64 0,063 4,70 96,37

Berat tablet percobaan : 551 mg

Kadar Kadar
Faktor
Menit Abs fp Kadar (mg) terkoreksi terdisolusi
koreksi
(mg) (%)
0 0 0 0 0 0 0
5 0,053 2 1,08 0 1,08 22,18
10 0,131 2 2,51 0,006 2,52 51,62
15 0,159 2 3,02 0,023 3,05 62,48
30 0,219 2 4,12 0,040 4,16 85,38
45 0,235 2 4,42 0,062 4,48 91,85

Rata-rata Q 0 menit : 0,00 % ± 0,00 %

Rata-rata Q 5 menit : 30,26 % ± 5,85 %

Rata-rata Q 10 menit : 50,28 % ± 5,01 %

Rata-rata Q 15 menit : 64,54 % ± 3,24 %

Rata-rata Q 30 menit : 82,95 % ± 4,58 %

Rata-rata Q 45 menit : 89,46 % ± 4,64 %


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

87

Formula R4

Jumlah zat aktif glibenklamid ( )

Berat tablet percobaan : 551 mg

Kadar Kadar
Faktor
Menit Abs fp Kadar (mg) terkoreksi terdisolusi
koreksi
(mg) (%)
0 0 0 0 0 0 0
5 0,051 2 1,04 0 1,04 21,58
10 0,137 2 2,62 0,006 2,63 54,25
15 0,174 2 3,30 0,020 3,32 68,56
30 0,197 2 3,72 0,039 3,76 77,64
45 0,213 2 4,01 0,059 4,07 84,13

Berat tablet percobaan : 551 mg

Kadar Kadar
Faktor
Menit Abs fp Kadar (mg) terkoreksi terdisolusi
koreksi
(mg) (%)
0 0 0 0 0 0 0
5 0,059 2 1,19 0 1,19 24,61
10 0,147 2 2,80 0,007 2,81 58,05
15 0,186 2 3,52 0,021 3,54 73,12
30 0,211 2 3,98 0,040 4,02 82,97
45 0,223 2 4,20 0,061 4,26 87,94
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

88

Berat tablet percobaan : 551 mg

Kadar Kadar
Faktor
Menit Abs fp Kadar (mg) terkoreksi terdisolusi
koreksi
(mg) (%)
0 0 0 0 0 0 0
5 0,08 2 1,58 0 1,58 32,55
10 0,162 2 3,08 0,009 3,09 63,78
15 0,192 2 3,63 0,023 3,65 75,42
30 0,241 2 4,53 0,041 4,57 94,34
45 0,248 2 4,66 0,064 4,72 97,47

Berat tablet percobaan : 549 mg

Kadar Kadar
Kadar Faktor
Menit Abs fp terkoreksi terdisolusi
(mg) koreksi
(mg) (%)
0 0 0 0 0 0 0
5 0,063 2 1,26 0 1,26 26,21
10 0,143 2 2,73 0,007 2,74 56,75
15 0,184 2 3,48 0,021 3,50 72,62
30 0,199 2 3,76 0,040 3,80 78,71
45 0,209 2 3,94 0,060 4,00 82,92
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

89

Berat tablet percobaan : 551 mg

Kadar Kadar
Faktor
Menit Abs fp Kadar (mg) terkoreksi terdisolusi
koreksi
(mg) (%)
0 0 0 0 0 0 0
5 0,067 2 1,34 0 1,34 27,63
10 0,149 2 2,84 0,007 2,85 58,83
15 0,183 2 3,46 0,022 3,49 71,99
30 0,221 2 4,16 0,040 4,20 86,75
45 0,237 2 4,45 0,062 4,52 93,26

Berat tablet percobaan : 552 mg

Kadar Kadar
Faktor
Menit Abs fp Kadar (mg) terkoreksi terdisolusi
koreksi
(mg) (%)
0 0 0 0 0 0 0
5 0,072 2 1,43 0 1,43 29,47
10 0,166 2 3,15 0,008 3,16 65,15
15 0,198 2 3,74 0,023 3,76 77,56
30 0,22 2 4,14 0,041 4,18 86,24
45 0,231 2 4,34 0,062 4,41 90,82

Rata-rata Q 0 menit : 0,00 % ± 0,00 %

Rata-rata Q 5 menit : 27,01 % ± 3,82 %

Rata-rata Q 10 menit : 59,47 % ± 4,19 %

Rata-rata Q 15 menit : 73,21 % ± 3,07 %

Rata-rata Q 30 menit : 84,44 % ± 6,13 %

Rata-rata Q 45 menit : 89,42 % ± 5,55 %


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

90

Formula R5

Jumlah zat aktif glibenklamid ( )

Berat tablet percobaan : 549 mg

Kadar Kadar
Faktor
Menit Abs fp Kadar (mg) terkoreksi terdisolusi
koreksi
(mg) (%)
0 0 0 0 0 0 0
5 0,075 2 1,48 0 1,48 30,58
10 0,162 2 3,08 0,008 3,09 63,59
15 0,204 2 3,85 0,025 3,87 79,80
30 0,215 2 4,05 0,047 4,10 84,39
45 0,219 2 4,12 0,069 4,19 86,36

Berat tablet percobaan : 551 mg

Kadar Kadar
Faktor
Menit Abs fp Kadar (mg) terkoreksi terdisolusi
koreksi
(mg) (%)
0 0 0 0 0 0 0
5 0,076 2 1,50 0 1,50 30,84
10 0,151 2 2,88 0,008 2,89 59,22
15 0,189 2 3,57 0,024 3,60 73,84
30 0,211 2 3,98 0,045 4,02 82,55
45 0,228 2 4,29 0,069 4,36 89,43
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

91

Berat tablet percobaan : 552 mg

Kadar Kadar
Faktor
Menit Abs fp Kadar (mg) terkoreksi terdisolusi
koreksi
(mg) (%)
0 0 0 0 0 0 0
5 0,067 2 1,34 0 1,34 27,41
10 0,149 2 2,84 0,007 2,85 58,35
15 0,192 2 3,63 0,024 3,65 74,83
30 0,213 2 4,01 0,046 4,06 83,15
45 0,227 2 4,27 0,069 4,34 88,89

Berat tablet percobaan : 551 mg

Kadar Kadar
Faktor
Menit Abs fp Kadar (mg) terkoreksi terdisolusi
koreksi
(mg) (%)
0 0 0 0 0 0 0
5 0,066 2 1,32 0 1,32 27,08
10 0,163 2 3,10 0,007 3,11 63,72
15 0,201 2 3,79 0,025 3,82 78,38
30 0,213 2 4,01 0,046 4,06 83,32
45 0,221 2 4,16 0,069 4,23 86,80
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

92

Berat tablet percobaan : 551 mg

Kadar Kadar
Faktor
Menit Abs fp Kadar (mg) terkoreksi terdisolusi
koreksi
(mg) (%)
0 0 0 0 0 0 0
5 0,057 2 1,15 0 1,15 23,70
10 0,14 2 2,68 0,006 2,68 55,05
15 0,186 2 3,52 0,023 3,54 72,69
30 0,205 2 3,87 0,045 3,91 80,28
45 0,217 2 4,09 0,068 4,16 85,28

Berat tablet percobaan : 551 mg

Kadar Kadar
Faktor
Menit Abs fp Kadar (mg) terkoreksi terdisolusi
koreksi
(mg) (%)
0 0 0 0 0 0 0
5 0,081 2 1,59 0 1,59 32,72
10 0,157 2 2,99 0,009 3,00 61,49
15 0,193 2 3,65 0,025 3,67 75,36
30 0,223 2 4,20 0,046 4,24 87,07
45 0,231 2 4,34 0,070 4,41 90,58

Rata-rata Q 0 menit : 0,00 % ± 0,00 %

Rata-rata Q 5 menit : 28,72 % ± 3,27 %

Rata-rata Q 10 menit : 60,24 % ± 3,36 %

Rata-rata Q 15 menit : 75,82 % ± 2,73 %

Rata-rata Q 30 menit : 83,46 % ± 2,23 %

Rata-rata Q 45 menit : 87,89 % ± 2,05 %


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

93

Formula R6

Kadar zat aktif glibenklamid ( )

Berat tablet percobaan : 550 mg

Kadar Kadar
Faktor
Menit Abs fp Kadar (mg) terkoreksi terdisolusi
koreksi
(mg) (%)
0 0 0 0 0 0 0
5 0,056 2 1,14 0 1,14 23,87
10 0,192 2 3,63 0,006 3,64 76,35
15 0,203 2 3,83 0,026 3,86 81,01
30 0,214 2 4,03 0,048 4,08 85,69
45 0,219 2 4,12 0,070 4,19 88,09

Berat tablet percobaan : 549 mg

Kadar Kadar
Faktor
Menit Abs fp Kadar (mg) terkoreksi terdisolusi
koreksi
(mg) (%)
0 0 0 0 0 0 0
5 0,053 2 1,08 0 1,08 22,75
10 0,168 2 3,19 0,006 3,20 67,23
15 0,187 2 3,54 0,024 3,56 74,94
30 0,203 2 3,83 0,046 3,88 81,57
45 0,211 2 3,98 0,069 4,05 85,14
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

94

Berat tablet percobaan : 549 mg

Kadar Kadar
Faktor
Menit Abs fp Kadar (mg) terkoreksi terdisolusi
koreksi
(mg) (%)
0 0 0 0 0 0 0
5 0,072 2 1,43 0 1,43 30,08
10 0,174 2 3,30 0,008 3,31 69,59
15 0,206 2 3,89 0,025 3,91 82,28
30 0,223 2 4,20 0,048 4,25 89,33
45 0,236 2 4,44 0,071 4,51 94,83

Berat tablet percobaan : 552 mg

Kadar Kadar
Faktor
Menit Abs fp Kadar (mg) terkoreksi terdisolusi
koreksi
(mg) (%)
0 0 0 0 0 0 0
5 0,072 2 1,43 0 1,43 29,92
10 0,163 2 3,10 0,008 3,11 64,99
15 0,211 2 3,98 0,024 4,00 83,73
30 0,228 2 4,29 0,049 4,34 90,77
45 0,237 2 4,45 0,072 4,53 94,70
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

95

Berat tablet percobaan : 552 mg

Kadar Kadar
Faktor
Menit Abs fp Kadar (mg) terkoreksi terdisolusi
koreksi
(mg) (%)
0 0 0 0 0 0 0
5 0,087 2 1,70 0 1,70 35,67
10 0,167 2 3,17 0,009 3,18 66,56
15 0,206 2 3,89 0,024 3,91 81,82
30 0,217 2 4,09 0,048 4,14 86,54
45 0,224 2 4,22 0,070 4,29 89,69

Berat tablet percobaan : 551 mg

Kadar Kadar
Faktor
Menit Abs fp Kadar (mg) terkoreksi terdisolusi
koreksi
(mg) (%)
0 0 0 0 0 0 0
5 0,089 2 1,74 0 1,74 36,50
10 0,179 2 3,39 0,010 3,40 71,29
15 0,214 2 4,03 0,025 4,06 85,07
30 0,228 2 4,29 0,049 4,34 90,94
45 0,237 2 4,45 0,072 4,53 94,88

Rata-rata Q 0 menit : 0,00 % ± 0,00 %

Rata-rata Q 5 menit : 29,80 % ± 5,73 %

Rata-rata Q 10 menit : 69,33 % ± 4,10 %

Rata-rata Q 15 menit : 81,47 % ± 3,51 %

Rata-rata Q 30 menit : 87,48 % ± 3,61 %

Rata-rata Q 45 menit : 91,22 % ± 4,18 %


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

96

Formula R7

Kadar zat aktif glibenklamid ( )

Berat tablet percobaan : 549 mg

Kadar Kadar
Faktor
Menit Abs fp Kadar (mg) terkoreksi terdisolusi
koreksi
(mg) (%)
0 0 0 0 0 0 0
5 0,101 2 1,96 0 1,96 41,09
10 0,211 2 3,98 0,011 3,99 83,56
15 0,217 2 4,09 0,033 4,12 86,33
30 0,241 2 4,53 0,056 4,58 96,02
45 0,248 2 4,66 0,081 4,74 99,23

Berat tablet percobaan : 549 mg

Kadar Kadar
Faktor
Menit Abs fp Kadar (mg) terkoreksi terdisolusi
koreksi
(mg) (%)
0 0 0 0 0 0 0
5 0,088 2 1,72 0 1,72 36,10
10 0,209 2 3,94 0,010 3,95 82,76
15 0,213 2 4,01 0,033 4,05 84,78
30 0,227 2 4,27 0,055 4,33 90,63
45 0,235 2 4,42 0,079 4,50 94,21
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

97

Berat tablet percobaan : 548 mg

Kadar Kadar
Faktor
Menit Abs fp Kadar (mg) terkoreksi terdisolusi
koreksi
(mg) (%)
0 0 0 0 0 0 0
5 0,093 2 1,81 0 1,81 38,09
10 0,227 2 4,27 0,010 4,28 89,85
15 0,231 2 4,34 0,035 4,38 91,90
30 0,243 2 4,56 0,057 4,62 96,99
45 0,252 2 4,73 0,081 4,81 100,96

Berat tablet percobaan : 551 mg

Kadar Kadar
Faktor
Menit Abs fp Kadar (mg) terkoreksi terdisolusi
koreksi
(mg) (%)
0 0 0 0 0 0 0
5 0,099 2 1,92 0 1,92 40,17
10 0,215 2 4,05 0,011 4,06 84,78
15 0,219 2 4,12 0,033 4,16 86,79
30 0,232 2 4,36 0,056 4,42 92,23
45 0,239 2 4,49 0,080 4,57 95,41
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

98

Berat tablet percobaan 552 mg

Kadar Kadar
Faktor
Menit Abs fp Kadar (mg) terkoreksi terdisolusi
koreksi
(mg) (%)
0 0 0 0 0 0 0
5 0,084 2 1,65 0 1,65 34,37
10 0,204 2 3,85 0,009 3,86 80,39
15 0,208 2 3,92 0,032 3,95 82,40
30 0,226 2 4,25 0,055 4,31 89,75
45 0,233 2 4,38 0,079 4,46 92,93

Berat tablet percobaan : 549 mg

Kadar Kadar
Faktor
Menit Abs fp Kadar (mg) terkoreksi terdisolusi
koreksi
(mg) (%)
0 0 0 0 0 0 0
5 0,097 2 1,89 0 1,89 39,55
10 0,217 2 4,09 0,010 4,10 85,85
15 0,224 2 4,22 0,034 4,25 89,03
30 0,238 2 4,47 0,056 4,53 94,88
45 0,246 2 4,62 0,081 4,70 98,46

Rata-rata Q 0 menit : 0,00 % ± 0,00 %

Rata-rata Q 5 menit : 38,23 % ± 2,57 %

Rata-rata Q 10 menit : 84,53 % ± 3,20 %

Rata-rata Q 15 menit : 86,87 % ± 3,30 %

Rata-rata Q 30 menit : 93,42 % ± 2,98 %

Rata-rata Q 45 menit : 96,87 % ± 3,15 %


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

99

Formula R8

Kadar zat aktif glibenklamid ( )

Berat tablet percobaan : 549 mg

Kadar Kadar
Faktor
Menit Abs fp Kadar (mg) terkoreksi terdisolusi
koreksi
(mg) (%)
0 0 0 0 0 0 0
5 0,095 2 1,85 0 1,85 38,18
10 0,198 2 3,74 0,010 3,75 77,33
15 0,224 2 4,22 0,031 4,25 87,59
30 0,231 2 4,34 0,054 4,40 90,72
45 0,236 2 4,44 0,079 4,51 93,11

Berat tablet percobaan : 550 mg

Kadar Kadar
Faktor
Menit Abs fp Kadar (mg) terkoreksi terdisolusi
koreksi
(mg) (%)
0 0 0 0 0 0 0
5 0,091 2 1,78 0 1,78 36,60
10 0,213 2 4,01 0,010 4,02 82,84
15 0,228 2 4,29 0,033 4,32 88,97
30 0,237 2 4,45 0,055 4,51 92,83
45 0,243 2 4,56 0,079 4,64 95,59
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

100

Berat tablet percobaan : 550 mg

Kadar Kadar
Faktor
Menit Abs Fp Kadar (mg) terkoreksi terdisolusi
koreksi
(mg) (%)
0 0 0 0 0 0 0
5 0,103 2 2,00 0 2,00 41,13
10 0,217 2 4,09 0,011 4,10 84,38
15 0,229 2 4,31 0,033 4,34 89,36
30 0,237 2 4,45 0,055 4,51 92,83
45 0,239 2 4,49 0,079 4,57 94,08

Berat tablet percobaan : 549 mg

Kadar Kadar
Faktor
Menit Abs fp Kadar (mg) terkoreksi terdisolusi
koreksi
(mg) (%)
0 0 0 0 0 0 0
5 0,097 2 1,89 0 1,89 38,94
10 0,213 2 4,01 0,010 4,02 83,01
15 0,225 2 4,23 0,033 4,27 88,00
30 0,234 2 4,40 0,055 4,45 91,86
45 0,239 2 4,49 0,079 4,57 94,25
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

101

Berat tablet percobaan : 549 mg

Kadar Kadar
Faktor
Menit Abs fp Kadar (mg) terkoreksi terdisolusi
koreksi
(mg) (%)
0 0 0 0 0 0 0
5 0,098 2 1,91 0 1,91 39,32
10 0,206 2 3,89 0,011 3,90 80,36
15 0,221 2 4,16 0,032 4,19 86,47
30 0,229 2 4,31 0,054 4,36 89,96
45 0,234 2 4,40 0,078 4,48 92,35

Berat tablet percobaan : 549 mg

Kadar Kadar
Faktor
Menit Abs fp Kadar (mg) terkoreksi terdisolusi
koreksi
(mg) (%)
0 0 0 0 0 0 0
5 0,119 2 2,29 0 2,29 47,26
10 0,197 2 3,72 0,013 3,73 77,00
15 0,213 2 4,01 0,031 4,05 83,43
30 0,232 2 4,36 0,053 4,42 91,07
45 0,239 2 4,49 0,079 4,57 94,24

Rata-rata Q 0 menit : 0,00 % ± 0,00 %

Rata-rata Q 5 menit : 40,24 % ± 3,74 %

Rata-rata Q 10 menit : 80,82 % ± 3,11 %

Rata-rata Q 15 menit : 87,30 % ± 2,16 %

Rata-rata Q 30 menit : 91,54 % ± 1,17 %

Rata-rata Q 45 menit : 93,94 % ± 1,11 %


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

102

Lampiran 8. Perhitungan keseragaman kandungan

Persamaan regresi linier


Y= 0,0606x + 0,058
R= 0,998

Formula R1

No Serapan Konsentrasi Kadar (%) tablet


(mg/L)
1 0,539 7,94 99,22
2 0,531 7,81 97,57
3 0,529 7,77 97,15
4 0,527 7,74 96,74
5 0,523 7,67 95,92
6 0,523 7,67 95,92
7 0,519 7,61 95,09
8 0,513 7,51 93,85
9 0,537 7,90 98,80
10 0,533 7,84 97,98
Rata-rata ( ) ± Simpangan deviasi (SD) 96,82 ± 1,67
Nilai penerimaan (Np) 5,69
Contoh perhitungan:

Konsentrasi sampel 1

Y= 0,0606x + 0,058
0,539 = 0,0606x + 0,058
X= 7,94 mg/L

Kadar (mg) = Konsentrasi sampel 1 (mg/L) x faktor pengenceran (fp) x Volume


labu takar(ml)
= 7,94 mg/L x 1 x 0,1 L
= 0,79 mg

Kadar sampel (%) = = = 0,90 %

Jumlah zat aktif (mg) dalam 550 mg tablet

Jumlah zat =

= = 4,96 mg

Kadar 550 mg tablet (%) = = = 99,22 %


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

103

Perhitungan nilai penerimaan


Rata-rata kadar R1 jika ̅ = 96,82 %

T = 100%, maka M (kasus 1) yang digunakan jika ̅ ≤ 98,5 %

Kondisi :
M= ̅
Nilai penerimaan :

Np = 98,5 - ̅ + ks
= 98,5 – 96,82 + 2,4(1,67) = 5,69 %
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

104

Lampiran 9. Perhitungan disolusi tablet

Persamaan regresi linier

Y= 0,0982X - 0,006 dengan nilai r = 0,999

Formula R1

Jumlah zat aktif glibenklamid ( )

Kadar
Faktor Kadar
Menit Abs fp Kadar (mg) terkoreksi
koreksi terdisolusi
(mg)
0 0 0 0 0 0 0
5 0,049 2 1,01 0 1,01 20,50
10 0,085 2 1,67 0,006 1,67 34,04
15 0,13 2 2,49 0,015 2,51 51,00
30 0,194 2 3,67 0,029 3,69 75,14
45 0,207 2 3,90 0,049 3,95 80,40
Berat tablet percobaan = 552 mg

Berat tablet sesungguhnya = 550 mg

Fp (faktor pengenceran) = 10 ml /5 ml = 2

Perhitungan :

1. Kadar (mg) menit ke-5


Y = 0,0982X - 0,006

0,049 = 0,0982X - 0,006

X = 0,560 µg/mL

Kadar = 0,560 µg/mL x fp x 900 mL

= 1008 µg

= 1,01 mg
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

105

2. Faktor koreksi menit ke-5

=(

3. Kadar terkoreksi menit ke-5 = kadar (mg) + faktor koreksi


= 1,01 + 0 = 1,01 mg

4. Kadar awal glibenklamid =

= = 4,941 mg

5. Kadar terdisolusi =

= = 20,50 %

Keterangan :

Faktor koreksi : kadar dalam medium yaitu pada pengambilan medium tiap

selang waktu sebanyak 5,0 ml dan diganti dengan volume

medium yang sama, tiap pengambilan tersebut, akan terjadi

pengurangan kadar dalam medium sehingga agar kadar dalam

medium dianggap tetap maka dijadikan faktor koreksi.


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

106

Lampiran 10. Data hasil kurva baku glibenklamid

1. Hasil kurva baku glibenklamid dalam metanol

Konsentrasi Absorbansi Persamaan regresi linier :


(µg/mL)
3,98 0,315 Y = 0,0606x + 0,058
5,97 0,406 r = 0,998
7,96 0,528
9,95 0,664
11,94 0,789

Pembuatan Kurva Baku :

a. Pembuatan larutan induk dengan cara mengambil 100 mg glibenklamid ad 100

ml metanol.

Konsentrasi glibenklamid murni (Certificate of Analysis) : 99,5 %

Jumlah yang diambil : 99,5% x 100 mg = 99,5 mg

b. Dibuat variasi konsentrasi dari larutan induk adalah sebagai berikut :

Konsentrasi 3,98 µg/mL

C1V1=C2V2

995 µg/mL x 0,4 ml = C2 x 100 ml, => C2 = 3,98 µg/L

Konsentrasi 5,97 µg/mL

C1V1=C2V2

995 µg/mL x 0,6 ml = C2 x 100 ml, => C2 = 5,97 µg/L

Konsentrasi 7,96 µg/mL


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

107

C1V1=C2V2

995 µg/mL x 0,8 ml = C2 x 100 ml, => C2= 7,96 µg/mL

Konsentrasi 9,95 µg/mL

C1V1=C2V2

995 µg/mL x 1 ml = C2 x 100 ml, => C2 = 9,95 µg/mL

Konsentrasi 11,94 µg/mL

C1V1=C2V2

995 µg/mL x 1,2 ml = C2 x 100 ml, => C2 = 11,94 µg/mL

2. Hasil kurva baku glibenklamid dalam bufer fosfat pH 8,5

Konsentrasi Absorbansi Persamaan regresi linier :


( )
2,668 0,253 Y= 0,0982x - 0,006
4,002 0,385 r = 0,9996
5,336 0,528
6,670 0,647
8,004 0,777

Pembuatan Kurva Baku :

a. Pembuatan larutan induk dengan cara mengambil 67,0 mg glibenklamid ad 500

ml metanol dan bufer fosfat PH 8,5 .

Konsentrasi glibenklamid murni (Certificate of Analysis) : 99,5 %

Jumlah yang diambil : 99,5% x 67 mg = 66,7 mg

b. Dibuat variasi konsentrasi dari larutan induk adalah sebagai berikut :

Konsentrasi 2,668
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

108

C1V1=C2V2

133,4 x 0,5 ml = C2 x 25 ml, => C2 = 2,668

Konsentrasi 4,002

C1V1=C2V2

133,4 x 0,75 ml = C2x 25 ml, => C2 = 4,002

Konsentrasi 5,336

C1V1=C2V2

133,4 x 1 ml = C2 x 25 ml, => C2 = 5,336

Konsentrasi 6,670

C1V1=C2V2

133,4 x 1,25 ml = C2 x 25 ml, => C2 = 6,670

Konsentrasi 8,004

C1V1=C2V2

133,4 x 1,5 ml = C2 x 25 ml, => C2 = 8,004

Keterangan :

C1 = Konsentrasi larutan induk (mg/L)

V1= Volume yang diambil dari larutan induk (ml)

C2 = Konsentrasi larutan yang dibuat (mg/L)

V2 = Volume labu takar (ml)


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

109

Lampiran 11. Analisis statistik sifat alir, sifat fisik dan disolusi tablet
liquisolid glibenklamid dengan software Design Expert 9.0
dan formula optimum

1. Sifat alir
a. Respon indeks kompresibilitas
Signifikasi model persamaan

Model persamaan respon kecepatan alir

Persamaan simplex lattice design :

Y= 3,50 X1 + 0,05 X2 - 0,01 X1X


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

110

2. Sifat fisik tablet


a. Respon keseragaman kandungan
Signifikasi model persamaan

Model persamaan respon keseragaman kandungan

Persamaan simplex lattice design :

Y = 2,230 X1 + 0,311 X2 - 0,007 X1X2

Respon kekerasan tablet


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

111

Model persamaan respon kekerasan tablet

Persamaan simplex lattice design :

Y= –47,83 X1 + 0,03 X2 + 0,24 X1X2 + 0,0003 X1X2(X1X2)

b. Respon kerapuhan tablet

Model persamaan respon kerapuhan tablet

Persamaan simplex lattice design :

Y= 5,23 X1 + 0,001 X2 – 0,026 X1X2 – 0,00003 X1X2(X1X2)


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

112

c. Respon waktu hancur

Model persamaan respon waktu hancur tablet

Persamaan simplex lattice design :

Y = - 0,480 X1 – 0,002 X2 + 0,002 X1X2

3. Disolusi tablet (Q30)


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

113

Model persamaan respon disolusi tablet (Q30)

Persamaan simplex lattice design :

Y= 8,71 X1 + 0,26 X2 - 0,03 X1X2

4. Penentuan formula optimum

Formula dengan proporsi Gliserin : Amilum kentang (25:287) mg yang dipilih

dengan nilai desirability 0,904.


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

114

Lampiran 12. Analisis statistik sediaan tablet liquisolid glibenklamid dengan


menggunakan sofware R studio 3.23

1. Formula Optimum 1
Uji t tidak berpasangan
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

115

Respon Nilai p-value


Keseragaman Kandungan (%) 0, 46*
Kekerasan (Kg) 0,36*
Kerapuhan (%) 0,32*
Waktu hancur (menit) 0,71*
Disolusi obat (%) 0,51*

Keterangan * p-value > 0,05 menunjukkan data tidak berbeda signifikan, ** p-value < 0,05
menunjukkan data berbeda signifikan

2. Formula Optimum 2
Uji t tidak berpasangan
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

116

Respon Nilai p-value


Keseragaman Kandungan (%) 0, 42*
Kekerasan (Kg) 0,14*
Kerapuhan (%) 0,37*
Waktu hancur (menit) 0,29*
Disolusi obat (%) 0,24*

Keterangan * p-value > 0,05 menunjukkan data tidak berbeda signifikan, ** p-value < 0,05
menunjukkan data berbeda signifikan
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

117

Lampiran 13. Dokumentasi

A. Dokumentasi alat

1. Cube mixer

2. Alat uji indeks kompresibilitas


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

118

3. Mesin cetak tablet

4. Alat uji kekerasan tablet dan kerapuhan tablet

5. Alat uji waktu hancur dan disolusi tablet


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

119

B. Dokumentasi hasil formula tablet

Formula R1 Formula R2

Formula R3 Formula R4
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

120

Formula R5 Formula R6

Formula R7 Formula R8
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

121

Formula Optimum
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

122

BIOGRAFI PENULIS

Buana Cahya Wijaya lahir di Tegal pada tanggal 1 Mei

1994, merupakan anak ketiga dari tiga bersaudara dari

pasangan Bapak Adhi Darma Wijaya dan Ibu Debbie

Lukito. Penulis memulai pendidikan dibangku TK

Elkana Tegal pada tahun 1998-2000, dilanjutkan di SD

Pius Tegal pada tahun 2000-2006. SMP Negeri 7

Tegal pada tahun 2006-2009. SMA Pangudi Luhur

santo Joseph Yogyakarta pada tahun 2009-2012. Kemudian penulis melanjutkan

pendidikan di program studi S1 Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

pada tahun 2012-2016. Selama menempuh pendidikan S1, penulis memiliki

pengalaman sebagai seksi perlengkapan Pengobatan dan jalan Sehat (2014),

Pengobatan gratis (2015) dan asisten dosen praktikum Farmakokinetika-

Biofarmasetika (2016).