Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PRAKTIKUM SISTEMATIKA TUMBUHAN

PECOBAAN I
KONSEP KATEGORI DAN TAKSON

OLEH :

NAMA : LINA AULIA NURDIN


NIM : F1D1 18 037
KELOMPOK : I (SATU)
ASISTEN : WINDI EGIDYA PUTRI

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
SEPTEMBER
2019
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Keanekaragaman tumbuhan saat ini semakin bertambah seiring penemuan-

penemuan spesies baru tumbuhan. Bertambahnya jumlah spesies baru di

identifikasi melalui sistem klasifikasi, sehingga melahirkan penamaan bagi

tumbuhan. Klasifikasi tumbuhan adalah pembentukan kelompok-kelompok dari

seluruh tumbuhan yang ada di bumi ini hingga dapat disusun takson-takson

secara teratur mengikuti suatu hierarki. Kegiatan klasifikasi tidak lain adalah

pembentukan kelompok-kelompok makhluk hidup dengan cara mencari

keseragaman ciri atau sifat di dalam keanekaragaman ciri yang ada pada

makhluk hidup tersebut.

Takson yang terdapat pada tingkat takson (kategori) yang lebih rendah

mempunyai kesamaan sifat lebih banyak daripada takson yang terdapat pada

tingkat takson (kategori) di atasnya. Perbedaan antara istilah takson dengan

kategori yaitu istilah takson yang ditekankan adalah pengertian unit atau

kelompok yang mana pun, sedangkan istilah kategori yang ditekankan adalah

tingkat atau kedudukan golongan dalam suatu hierarki tertentu. Dalam

taksonomi tumbuhan istilah yang digunakan untuk menyebutkan suatu nama

takson sekaligus menunjukkan pula tingkat takson (kategori).

Menurut kesepakatan internasional, istilah-istilah untuk menyebut masing-

masing takson bagi tumbuhan itu tempatnya tidak boleh diubah sehingga

masing-masing istilah itu menunjukkan kedudukan atau tingkat dalam hierarki


atau menunjukkan kategorinya dalam sistem klasifikasi. Dalam taksonomi

tumbuhan istilah yang digunakan untuk menyebutkan suatu takson sekaligus

mencerminkan pula di mana posisi dan seberapa tinggi tingkatnya dalam

hierarki klasifikasi. Berdasarkan latar belakang di atas maka dilakukan

praktikum yang berjudul Konsep Kategori dan Takson.


B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah pada praktikum ini adalah sebagai berikut :

1. Bagaimana cara memahami konsep kategori dan takson?

2. Bagaimana cara memahami sifat analisis, sifat sintesis, sifat mantap, sifat

yang baik untuk taksonomi dan sifat-sifat lainnya?

3. Bagaimana mengetahui sumber bukti taksonomi penting pada bahan yang

disediakan?

4. Bagaimana cara memahami batasan-batasan takson dan penerapannya pada

penggolongan jenis-jenis yang dipraktikumkan dalam kesatuan yang berbeda-

beda tingkatnya?

C. Tujuan Praktikum

Tujuan yang ingin dicapai pada praktikum ini adalah sebagai berikut :

1. Memahami konsep kategori dan takson.

2. Memahami sifat analisis, sifat sintesis, sifat mantap, sifat yang baik untuk

taksonomi dan sifat-sifat lainnya.

3. Mengetahui sumber bukti taksonomi penting pada bahan yang disediakan.


4. Memahami batasan-batasan takson dan penerapannya pada penggolongan

jenis-jenis yang dipraktikumkan dalam kesatuan yang berbeda-beda

tingkatnya.

D. Manfaat Praktikum

Manfaat yang dapat diperoleh dari praktikum ini adalah sebagai berikut :

1. Dapat memahami konsep kategori dan takson.

2. Dapat memahami sifat analisis, sifat sintesis, sifat mantap, sifat yang baik

untuk taksonomi dan sifat-sifat lainnya.

3. Dapat mengetahui sumber bukti taksonomi penting pada bahan yang

disediakan.

4. Dapat memahami batasan-batasan takson dan penerapannya pada

penggolongan jenis-jenis yang dipraktikumkan dalam kesatuan yang berbeda-

beda tingkatnya.
II.TINJAUAN PUSTAKA

A. Taksonomi

Istilah taksonomi berasal dari bahasa Yunani taxis (susunan) dan nomos

(hukum/aturan), yang pertama kali diusulkan oleh Candolle (1813) sebagai teori

klasifikasi tumbuhan. Taksonomi diberi batasan sebagai teori dan praktek

klasifikasi organisme. Cabang taksonomi yaitu, taksonomi mikro dan taksonomi

makro. Taksonomi mikro diterapkan pada tingkat spesies, sedangkan taksonomi

makro digunakan untuk klasifikasi taksa yang lebih tinggi. Taksonomi berkaitan

erat dengan cabang biologi yang lebih besar yaitu sistematika. Istilah

sistematika, berasal dari bahasa Yunani yang dilatinkan yaitu systema, dan

diterapkan dalam sistem klasifikasi oleh Linnaeus (1735) dalam bukunya yang

berjudul Systema Naturae (Rosadi dan Pratomo, 2008).

Definisi yang lebih maju dikemukakan oleh Simpson (1961) bahwa

sistematika adalah kajian ilmiah terhadap bermacam-macam organisme dan

keanekaragamannya serta segala hubungan biologis di antara mereka.

Sistematika mencoba mengadakan pengelompokan terhadap keanekaragaman

hewan, serta mengembangkan dasar dan cara untuk melaksanakan aktivitas itu.

Seperti yang terjadi pada setiap cabang ilmu, dalam perjalanan sejarahnya kajian

terhadap keanekaragaman organisme telah mengubah dan meluaskan objek-

objek yang menjadi sasarannya. Manfaat utama klasifikasi adalah sebagai kunci

identifikasi dan filosofi para ahli taksonomi terdahulu yang menekankan tentang

manfaat taksonomi (Rosadi dan Pratomo, 2008).


B. Tingkatan Takson

Makhluk hidup dikelompokkan menjadi suatu kelompok besar kemudian

kelompok besar ini dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil. Kelompok-

kelompok kecil ini kemudian dibagi lagi menjadi kelompok yang lebih kecil lagi

sehingga pada akhirnya terbentuk kelompok-kelompok kecil yang

beranggotakan hanya satu jenis makhluk hidup. Tingkatan-tingkatan

pengelompokan ini disebut takson. Taksa (takson) telah distandarisasi di seluruh

dunia berdasarkan International Code of Botanical Nomenclature dan

International Committee on Zoological Nomenclature. Urutan takson antara lain,

Kingdom, Divisio, Clasis, Ordo, Familia, Genus dan Spesies (Amiruddin, 2015).

C. Sifat Morfologi Tumbuhan dalam Klasifikasi

Sifat morfologi telah digunakan untuk kepentingan kemudahan dalam

taksonomi. Sifat dalam taksonomi dapat diperoleh dari berbagai bagian dan fase

perkembangan tumbuhan, meliputi sifat morfologi, antomi, palinologi,

embriologi, sitologi dan fitokimia. Sifat morfologi dibedakan menjadi beberapa

macam, yaitu sifat analisis dan sintesis, sifat kualitatif dan kuantitatif serta sifat

baik dan sifat buruk. Sifat analisis merupakan sifat yang digunakan untuk

identifikasi , pencirian dan pembatasan suatu takson yang terdapat terbatas untuk

membedakan suatu takson dan kerabat dekatnya, sedangkan sifat sintesis

digunakan untuk menyatakan kelompok-kelompok menjadi kelompok yang

lebih tinggi tingkatannya secara serba sama dan meluas pada seluruh anggota

suatu takson (Sari, 2012).


D. Familia Malvaceae

Tumbuhan suku Malvaceae merupakan tumbuhan suku kapas-kapasan

yang memiliki habitus semak dan perdu, jarang dalam bentuk pohon serta

kerapkali dengan rambut bintang. Daun tersebar, tunggal, kerapkali bertulang

daun menjari, kebanyakan dengan daun penumpu. Bunga beraturan, kebanyakan

berkelamin dua. Kelopak tambahan kerapkali ada. Kelopak bertaju lima atau

bergerigi lima. Daun mahkota berjumlah lima tersusun melekat dan melekat juga

dengan tabung benangsari (van Steenis 1988). Tumbuhan Malvaceae merupakan

tumbuhan dikotil yang memiliki bentuk daun terbagi dan bergerigi, dapat

tumbuh dalam berbagai jenis pH dan tekstur tanah, serta dapat tumbuh optimal

dibawah sinar matahari penuh (Dorly dkk, 2016).

E. Kembang Sepatu (Hibiscus rosa-sinensis)

Hibiscus rosa-sinensis merupakan spesies dari genus Hibiscus dan famili

tumbuhan malvaceae. H. rosa-sinensis lebih dikenal sebagai tanaman hias,

karena memiliki berbagai karakter bunga dengan warna maupun bentuk mahkota

yang beranekaragam. Hibiscus rosa-sinensis merupakan tanaman semak annual

atau perennial yang memiliki berbagai macam warna bunga. Hibiscus rosa-

sinensis memiliki cabang-cabang ramping dengan panjang hingga 6 meter. Daun

tersusun spiral (tersebar), berbentuk bulat telur, dengan helaian daun berukuran

15 cm panjangnya dan lebarnya 10 cm. Daun Hibiscus merupakan daun tunggal,

berlobus, dan memiliki sepasang stipula atau daun penumpu. Bunga merupakan

bunga tunggal yang muncul di ketiak daun (Silalahi, 2019).


III. METODE PRAKTIKUM

A. Waktu dan Tempat

Praktikum ini dilaksanakan pada hari Selasa, 1 Oktober 2019 pada pukul

07.30-09.00 WITA. Bertempat di Laboratorium Biologi, Unit Botani, Fakultas

Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Halu Oleo, Kendari.


B. Bahan Praktikum

Bahan yang digunakan pada praktikum ini tercantum pada Tabel 1.

Tabel 1. Bahan dan Kegunaan


No. Nama bahan/tanaman Kegunaan
1 2 3
1. Hibiscus rosa-sinensis Sebagai objek pengamatan
2. Hibiscus schizopetalus Sebagai objek pengamatan
3. Hibiscus sabdariffa Sebagai objek pengamatan
4. Hibiscus tiliaceus Sebagai objek pengamatan
5. Sida rhombifolia Sebagai objek pengamatan
6. Ceiba petandra Sebagai objek pengamatan
7. Durio sp. Sebagai objek pengamatan
8. Cossypium arboretum Sebagai objek pengamatan
9. Muntingia calabura Sebagai objek pengamatan

C. Alat Praktikum

Alat yang digunakan pada praktikum ini tercantum pada Tabel 2.

Tabel 2. Alat dan kegunaan


No. Nama alat Kegunaan
1 2 3
1. Buku panduan Sebagai petunjuk identifikasi tumbuhan
2. Buku gambar Sebagai media untuk menggambar objek
pengamatan (tumbuhan)
3. Alat tulis Untuk menggambar dan mencatat hasil
pengamatan
D. Prosedur Kerja

Prosedur kerja yang dilakukan pada praktikum ini sebagai berikut:

1. Mengamati semua sifat dan ciri bahan praktikum yang tersedia.

2. Mengelompokkan bahan yang tersedia sesuai kesamaan sifatnya.

3. Mempraktekkan pemahaman tentang konsep kategori,takson dan sifat-sifat

yang digunakan untuk bukti taksonominya, sehingga dapat memastikan

perbedaan atau persamaan sifat antar jenis, marga, familia dalam satu bangsa.

4. Mendiskusikan pengelompokan jenis-jenis itu dalam kesatuan-kesatuan

sehingga hubungan kekerabatannya menjadi jelas.

5. Membuat tabel perbandingan sebagai hasil pengamatan.


DAFTAR PUSTAKA

Amirudin, A., 2015, Pengembangan Aplikasi Sistem Pembelajaran Klasifikasi


(Taksonomi) dan Tata Nama Ilmiah (Binomial Nomenklatur) pada
Kingdom Plantae (Tumbuhan) Berbasis Android, Skripsi, Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Lampung,
Lampung.

Dorly, Ningrum, R.K., Suryantari, N.K. dan Anindita, F.L.R., 2016, Studi
Anatomi Daun dari Tiga Anggota Suku Malvaceae di Kawasan Waduk
Jatiluhur, Jurnal Seminar Nasional XIII Pendidikan Biologi FKIP UNS,
13(1): 611

Rosadi, B. dan Pratomo, H., 2008, Taksonomi secara Umum, Modul 1, Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Terbuka, Jakarta.

Sari, V.R., 2012, Variasi Morfologi Tanaman Kepel (Stelechocarpus burahol


Hook. F dan Thomsom.) yang Tumbuh pada Ketinggian Berbeda,
Skripsi, Universitas Airlangga, Surabaya.
Silalahi, M., 2019, Hibiscus rosa-sinensis L. dan Bioaktivitasnya, Jurnal
EduMatSains, 3(2): 135
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan

Hasil Pengamatan pada praktikum ini dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3.Hasil Pengamatan


Gambar
No. Nama Bahan Klasifikasi
Pengamatan Literatur
1 2 3 4 5
1 Kembang Regnum : Plantae
sepatu Divisi : Magnoliophyta
(Hibiscus Kelas : Magnoliopsida
rosa-sinensis) Ordo : Malvales
Famili : Malvaceae
Genus : Hibiscus
Spesies : Hibiscus rosa-
sinensis
(Putri, 2013)
2 Kembang Regnum : Plantae
sepatu gantung Divisi : Spermatophyta
(Hibiscus Kelas : Dicotyledoneae
schizopetalus) Ordo : Malvales
Famili : Malvaceae
Genus : Hibiscus
Spesies : Hibiscus
schizopetalus
(Dalimartha,
2005)
3 Rosella Regnum : Plantae
(Hibiscus Divisi : Magnoliophyta
sabdariffa) Kelas : Dicotyledoneae
Ordo : Malvales
Famili : Malvaceae
Genus : Hibiscus
Spesies :Hibiscus
sabdariffa
(Mardiah, dkk.,
2009)
Tabel 3. Lanjutan
1 2 3 4 5
4 Waru Regnum : Plantae
(Hibiscus Divisi : Magnoliophyta
tiliaceus) Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Malvales
Famili : Malvaceae
Genus : Hibiscus
Spesies : Hibiscus tiliaceus
(Hamdan, 2010)
5 Sidaguri Regnum : Plantae
(Sida Divisi : Magnoliophyta
rombhifolia) Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Malvales
Famili : Malvaceae
Genus : Sida
Spesies : Sida rhombifolia
(Simanjuntak,
2017)
6 Kapuk Regnum : Plantae
(Ceiba Divisi : Magnoliophyta
petandra) Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Malvales
Famili : Bombacaceae
Genus : Ceiba
Spesies : Ceiba petandra
(Elumalai,dkk.,
2012)
7 Durian Regnum : Plantae
(Duriosp.) Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliophyta
Ordo : Malvales
Famili : Bombaceae
Genus : Durio
Spesies : Durio sp.
(Pratiwi, dkk.,
2018)
Tabel 3. Lanjutan
1 2 3 4 5
8 Kapas Regnum : Plantae
(Gossypium Divisi : Spermatophyta
arboretum) Kelas : Dicotyledoneae
Ordo : Malvales
Famili : Malvaceae
Genus : Gossypium
Spesies : Gossypium
arboretum
(Mardjono, 2001)
9 Kersen Regnum : Plantae
(Muntingia Divisi : Magnoliophyta
calabura) Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Malvales
Famili : Elaeocarpaceae
Genus : Muntingia
Spesies : Muntingia calabura
(Zahara, 2018)

Tingkatan-tingkatan pengelompokan ini disebut takson. Urutan takson

antara lain, Kingdom, Divisio, Clasis, Ordo, Familia, Genus dan Spesies. Takson

yang terdapat pada tingkat takson (kategori) yang lebih rendah mempunyai

kesamaan sifat lebih banyak daripada takson yang terdapat pada tingkat takson

(kategori) di atasnya. Perbedaan antara istilah takson dengan kategori yaitu

istilah takson yang ditekankan adalah pengertian unit atau kelompok yang mana

pun, sedangkan istilah kategori yang ditekankan adalah tingkat atau kedudukan

golongan dalam suatu hierarki tertentu. Dalam taksonomi tumbuhan istilah yang

digunakan untuk menyebutkan suatu nama takson sekaligus menunjukkan pula

tingkat takson (kategori).

Pengamatan ini dilakukan dengan menggunakan bunga kembang sepatu

(Hibiscus rosa sinensis), bunga sepatu gantung (Hibiscus schizopetalus), rosella

(Hibiscus sabdariffa), waru (Hibiscus tiliaceus), sidaguri (Sida rhombifolia),


kapuk (Ceiba petandra), durian (Durio sp), kapas (Gosyypium arboretum) dan

kersen (Muntingia calabura). Tumbuhan-tumbuhan tersebut digolongkan ke

dalam ordo yang sama yaitu Malvales. Malvales merupakan salah satu ordo

tumbuhan yang dicirikan dengan adanya columna, yaitu bagian bunganya terdiri

atas perlekatan bagian bawah tangkai sarinya membentuk badan yang

menyelebungi putik dan bagian pangkalnya berlekatan dengan pangkal daun-daun

mahkota, sehingga bila mahkota bunga ditarik keseluruhannya akan terlepas dari

bunga bersama-sama dengan benang sari dan meninggalkan kelopak dan bakal

buah saja.

Ordo Malveales dikelompokkan lagi ke dalam beberapa familia,

diantaranya Familia Malvaceae, Bombaceae, dan Elaeocarpaceae. Karakteristik

tumbuhan Familia Malvaceae yaitu tumbuhan yang habitusnya berupa terma atau

perdu, umumnya memiliki daun penumpu, bunga aktinomorf dan berukuran besar,

dan helai mahkota bunga ada lima. Contoh tumbuhan yang tergolong ke dalam

familia ini adalah bunga kembang sepatu (Hibiscus rosa sinensis), bunga sepatu

gantung (Hibiscus schizopetalus), rosella (Hibiscus sabdariffa), waru (Hibiscus

tiliaceus), sidaguri (Sida rhombifolia) dan kapas (Gosyypium arboretum).

Karakteristik tumbuhan Familia Bombaceae yaitu tumbuhan yang berupa pohon,

duduk tersebar dengan daun penumpu, daun tunggal atau majemuk menjari, bunga

memiliki lima helai mahkota yang tersusun seperti bintang. Contoh tumbuhan

yang tergolong ke dalam familia ini adalah durian (Durio sp) dan kapuk (Ceiba

petandra). Karakteristik tumbuhan Familia Elaeocarpaceae yaitu tumbuhan yang

habitus berupa perdu atau pohon kecil, daun tunggal, bunga terdapat dalam berkas
yang terletak di ketiak daun. Contoh tumbuhan yang tergolong ke dalam familia

ini adalah kersen (Muntingia calabura).

Tumbuhan kembang sepatu (Hibiscus rosa-sinensis), kembang sepatu

gantung (Hibiscus schizopetalus), rosela (Hibiscus sabdariffa), waru (Hibiscus

tiliaceus) digolongkan ke dalam satu tingkatan genus yaitu, Hibiscus. Hal ini

menunjukan adanya hubungan kekerabatan antar empat spesies tumbuhan ini.

Kembang sepatu (Hibiscusrosasinensis) memiliki bunga yang terdiri dari 5 helai

daun kelopak (sepalae) yang dilindungi oleh kelopak tambahan (epicalix)

sehingga terlihat seperti dua lapis lingkaran kelopak bunga (petalae), kembang

sepatu memiliki benang sari yang filamen seluruhnya bersatu dalam satu berkas

sehingga membentuk tabung yang membungkus putik. Bentuk bunga seperti

terompet dan berwarna merah serta pada tangkai bunga terdapat ruas bunga.

Tumbuhan kembang sepatu gantung (Hibiscusshizopetalus) sedikit

berbeda dengan kembang sepatu (Hibiscusrosasinensis) dimanna bunga pada

kembang sepatu gantung bunganya berukuran lebih kecil dengan mahkota bunga

yang berlekuk dalam sehingga terlihat keriting. Bunganya berwarna merah terang

dengan tangkai sari sangat panjang sehingga muncul menggantungditengah

mahkota bunga yang terbuka penuh. Bunga ssepatu gantung lebih mudah layu dan

gugur dari pada jenis bunga lainnya yang berasal dari Genus Hibiscus.

Tumbuhan waru (Hibiscustiliaceus) memiliki bunga yang terdapat dalam

tandan yang berisi 2 sampai 5 kuntum. Bunga waru berwarna kuning dan bagian

tengahnya berwana merah cokelat. Daun mahkota bunga berbentuk seperti kipas

dengan tangkai sari berbentuk tabung dan membungkus tangkai putik. Tumbuhan
rosela (Hibiscussabdariffa) memiliki karakteristik bunga yaitu yang berwarna

cerah dimana kelopak bunga (calix) berwarna merah gelap dan kelopaknya lebih

tebal diantara bunga dari Genus Hibiscus. Bunga keluar dari ketiak daun dan

merupakan bunga tunggal yaitu pada setiap tangkai hanya terdapat satu bunga.

Bunga memiliki 8-10 kelopak (calix) yang berbulu.


V. PENUTUP

A. Simpulan

Kesimpulan dari praktikum ini adalah sebagai berikut :

1. Kategori adalah tingkat atau struktur atau hirarki taksonomi dari yang tertinggi

sampai yang terendah atau dari yang terendah sampai yang tertinggi,

sedangkan takson adalah setiap golongan atau unit taksonomi tingkat yang

manapun atau dengan kata lain sebagai satuan unit dari pengelompokkan dalam

klasifikasi.

2. Sifat analisis, sifat sintesis, sifat mantap, sifat yang baik untuk taksonomi dan

sifat sifat lainnya berdasarkan hubungan tingakat kekerabatan.

3. Sumber buku taksonomi itu penting pada bahan yang disediakan untuk

menjadi acuan dalam mengklasifikasikan atau mengidentifikasi suatu tanaman

4. Batasan batasan takson dan penerapannya pada penggolongan jenis jenis yang

dipraktikumkan dalam kesatuan yang berbeda beda tingkatnya dengan mlihat

karakteristik sifat dan ciri morfologinya.

Saran

Saran yang dapat disampaikan pada praktikum ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk laboratorium, agar menyediakan keperluan laboratorium seperti kunci

determinasi.

2. Untuk asisten, sudah baik.

3. Untuk praktikan, agar serius dalam melakukan praktikum dan konsisten

terhadap waktu.

Anda mungkin juga menyukai