Anda di halaman 1dari 26

BAGIAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT TUGAS KELOMPOK

DAN KEDOKTERAN KOMUNITAS JULI 2019


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HALU OLEO

ANALISIS MASALAH KESEHATAN KELUARGA PASIEN HIPERTENSI

PENYUSUN :
Pramudya Bagas, S.Ked (K1A1 12 093)
Nirmalawati Linar, S.Ked (K1A1 12 090)
Mardhatillah Abdullah, S.Ked (K1A1 14 022)
Pipit Layakharisma, S.Ked (K1A1 13 046)
Sri Wahyuni, S.Ked (K1A1 12 043)

PEMBIMBING :
dr. H. Juriadi Paddo, M.Kes

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


BAGIAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
DAN KEDOKTERAN KOMUNITAS
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2019
1
HALAMAN PENGESAHAN

Yang bertanda tangan di bawah ini, menyatakan bahwa :

Nama & NIM : Pramudya Bagas, S.Ked (K1A1 12 093)


Nirmalawati Linar, S.Ked (K1A1 12 090)
Mardhatillah Abdullah, S.Ked (K1A1 14 022)
Pipit Layakharisma, S.Ked (K1A1 13 046)
Sri Wahyuni, S.Ked (K1A1 12 043)

Judul : Identifikasi Masalah Kesehatan Keluarga Pasien Hipertensi

Telah menyelesaikan tugas refarat Kedokteran Keluarga dalam rangka kepanitraan klinik pada
Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran
Universitas Halu Oleo.

Kendari, Juli 2019


Mengetahui,
Pembimbing

dr. H. Juriadi Paddo, M.Kes

2
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan
rahmat dan karunianya, sehingga penulis dapat menyelesaikan refarat dengan judul
“Identifikasi Masalah Kesehatan Keluarga Pasien Hipertensi” dalam rangka kepanitraan klinik
pada Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran
Universitas Halu Oleo. Penulis mengucapkan terima kasih kepada: dr. H. Juriadi Paddo, M.Kes
atas bimbingan dan arahannya dalam penyusunan tugas ini sehingga dapat terselesaikan dengan
baik serta semua pihak yang telah berkontribusi dalam penyelesaian laporan ini yang penulis
tidak menyebutkan namanya.
Penulis menyadari bahwa pada proses pembuatan tugas ini masih banyak kekurangan.
Oleh karena itu, segala bentuk kritik dan saran dari semua pihak yang sifatnya membangun
demi penyempurnaan penulisan berikutnya sangat penulis harapkan.
Penulis berharap semoga tugas ini dapat bermanfaat bagi penulis pada khususnya dan
para pembaca pada umumnya serta dapat dipergunakan sebagaimana mestinya. Atas segala
bantuan dan perhatian baik berupa tenaga, pikiran dan materi pada semua pihak yang terlibat
dalam menyelesaikan laporan ini penulis ucapkan terima kasih.

Kendari, Juli 2019

Penulis

3
BAB I

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
Hipertensi atau tekanan darah ting gi merupakan pembunuh diam-diam karena
pada sebagian besar kasus tidak menunjukkan gejala apapun. Hipertensi merupakan salah satu
faktor resiko utama yang menyebabkan serangan jantung dan stroke, yang menyerang
sebagian besar penduduk dunia. Hipertensi adalah suatu keadaan dimana dijumpai tekanan
darah 140/90 mmHg atau lebih untuk usia 13 – 50 tahun dan tekanan darah mencapai 160/95
mmHg untuk usia di atas 50 tahun. Pengukuran tekanan darah minimal sebanyak dua kali
untuk lebih memastikan keadaan tersebut. Hipertensi dapat dikelompokan menjadi dua jenis,
yaitu: Hipertensi primer atau essensial dan hipertensi sekunder. Hipertensi primer adalah
hipertensi yang tidak atau belum diketahui penyebabnya. Hipertensi primer menyebabkan
perubahan pada jantung dan pembuluh darah. Sedangkan hipertensi sekunder adalah
hipertensi yang disebabkan atau sebagai akibat dari adanya penyakit lain dan biasanya
penyebabnya sudah diketahui, seperti penyakit ginjal dan kelainan hormonal atau pemakaian
obat tertentu1
Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan jumlah penderita hipertensi akan
terus meningkat seiring dengan jumlah penduduk yang bertambah pada 2025 mendatang
diperkirakan sekitar 29% warga dunia terkena hipertensi. WHO menyebutkan negara
ekonomi berkembang memiliki penderita hipertensi sebesar 40% sedangkan negara maju
hanya 35%, kawasan Afrika memegang posisi puncak penderita hipertensi, yaitu
sebesar 40%. Kawasan Amerika sebesar 35% dan Asia Tenggara 36%. Kawasan Asia
penyakit ini telah membunuh 1,5 juta orang setiap tahunnya. Hal ini menandakan satu dari
tiga orang menderita hipertensi. Sedangkan di Indonesia cukup tinggi, yakni mencapai
32% dari total jumlah penduduk2
Risiko hipertensi di Indonesia termasuk tinggi, perubahan gaya hidup menyebabkan
peningkatan prevalensi hipertensi, pola diet dan kebiasaan berolahraga dapat menstabilkan
tekanan darah. Karena tidak menghindari dan tidak mengetahui faktor risiko hipertensi,
sehingga mereka cenderung untuk menjadi hipertensi berat,sebanyak 50% diantara orang
dewasa yang menderita hipertensi tidak menyadari sebagai penderita hipertensi. Penyakit
hipertensi telah menjadi masalah utama utama dalam kesehatan masyarakat di Indonesia3

1.2.Tujuan

4
1.2.1 Tujuan Umum
Melakukan pendekatan kedokteran keluarga terhadap pasien hipertensi dan
keluarganya untuk mewujudkan keadaan sehat di Kelurahan Gunung Jati,
Kecamatan Kendari, Kendari
1.2.2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui karakteristik (fungsi keluarga, bentuk keluarga, dan siklus keluarga)
keluarga pasien hipertensi
b. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya masalah kesehatan
pada pasien hipertensi dan keluarganya.
c. Mendapatkan pemecahan masalah kesehatan pasien hipertensi dan keluarganya.
1.3. Manfaat
1.3.1. Bagi Penulis
Menambah pengetahuan penulis tentang kedokteran keluarga, serta
penatalaksanaan hipertensi dengan pendekatan kedokteran keluarga.
1.3.2. Bagi Tenaga Kesehatan
Sebagai bahan masukan kepada tenaga kesehatan agar setiap memberikan
penatalaksanaan kepada pasien hipertensi dilakukan secara haolistik dan
komprehensif serta mempertimbangkan aspek keluarga dalam proses
penyembuhan.
1.3.3. Bagi Pasien dan Keluarga
Memberikan informasi kepada pasien dan keluarganya bahwa keluarga juga
memiliki peranan yang cukup penting dalam kesembuhan pasien.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
5
2.1.Hipertensi
2.1.1. Definisi
Hipertensi adalah suatu keadaan ketika tekanan darah sistolik ≥ 140 mmHg
dan atau tekanan darah diastolik ≥ 90 mmHg, pada pemeriksaan yang berulang.
Tekanan darah sistolik merupakan pengukuran utama yang menjadi dasar
penentuan diagnosis hipertensi. Adapun pembagian derajat keparahan hipertensi
pada seseorang merupakan salah satu dasar penentuan tatalaksana hipertensi4
2.2.2. Epidemiologi
Menurut data WHO, di seluruh dunia sekitar 972 juta orang atau 26,4% orang di
seluruh dunia mengidap hipertensi, angka ini kemungkinan akan meningkat menjadi
29,2% di tahun 2025. Dari 972 juta pengidap hipertensi, 333 juta berada di negara
maju dan 639 sisanya berada di negara berkembang, termasuk Indonesia5
Penyakit terbanyak pada usia lanjut berdasarkan Riset Kesehatan Dasar tahun
2013 adalah hipertensi dengan prevalensi 45,9% pada usia 55-64 tahun, 57,6%
pada usia 65,74% dan 63,8% pada usia ≥ 75 tahun10
2.2.3. Etiologi dan Faktor Risiko
Risiko relatif hipertensi tergantung pada jumlah dan keparahan dari faktor
risiko yang dapat dimodifikasi dan yang tidak dapat dimodifikasi. Faktor-faktor
yang tidak dapat dimodifikasi antara lain faktor genetik, umur, jenis kelamin, dan
etnis. Sedangkan faktor yang dapat dimodifikasi meliputi stres, obesitas dan nutrisi.
Faktor-faktor yang mempengaruhi hipertensi yaitu9:
a. Faktor Genetik
Adanya faktor genetik pada keluarga tertentu akan menyebabkan
keluarga itu mempunyai resiko menderita hipertensi. Orang yang memiliki
orang tua dengan riwayat hipertensi mempunyai resiko dua kali lebih besar
untuk menderita hipertensi dari pada orang yang tidak mempunyai keluarga
dengan riwayat hipertensi.
b. Umur
Peningkatan umur akan menyebabkan beberapa perubahan fisiologis.
Pada usia lanjut terjadi peningkatan resistensi perifer dan aktivitas simpatik.
Pengaturan tekanan darah yaitu refleks baroreseptor pada usia lanjut berkurang
sensitivitasnya, peran ginjal juga berkurang dimana aliran darah ginjal dan

6
laju filtrasi glomerulus menurun sehingga ginjal akan menahan garam dan air
dalam tubuh.
c. Jenis Kelamin
Laki-laki mempunyai resiko lebih tinggi untuk menderita hipertensi
pada usia muda. Laki-laki juga mempunyai resiko lebih besar terhadap
morbiditas dan mortalitas kardiovaskuler. Sedangkan di atas umur 50 tahun
hipertensi lebih banyak terjadi pada wanita.
d. Ras
Hipertensi lebih banyak terjadi pada orang berkulit hitam dari pada
yang berkulit putih. Sampai saat ini, belum diketahui secara pasti
penyebabnya.
e. Obesitas
Menurut Hall (1994) perubahan fisiologis dapat menjelaskan hubungan
antara kelebihan berat badan dengan tekanan darah, yaitu terjadinya resistensi
insulin dan hiperinsulinemia, aktivasi saraf simpatis dan sistem renin-
angiotensin, dan perubahan fisik pada ginjal. Peningkatan konsumsi energi
juga meningkatkan insulin plasma, dimana natriuretik potensial
menyebabkan terjadinya reabsorpsi
2.2.4. Klasifikasi Hipertensi
Klasifikasi Hipertensi berdasarkan JNC VII4,7:

2.2.5. Patofisiologi
Patomekanisme hipertensi melibatkan dua sistem yang terlibat dalam
mempertahankan tekanan darah normal, yaitu sistem saraf simpatis dan system
hormonal. Sistem saraf simpatis melepaskan zat-zat kimia seperti adrenalin dan
noradrenalin yang mengatur pembuluh darah untuk vasodilatasi dan vasokonstriksi
jika diperlukan tubuh8
Patofisiologi terjadinya hipertensi adalah melalui terbentuknya angiotensin
II dari angiotensin I oleh angiotensin I converting enzyme (ACE). Ketika tekanan
arteri menurun, reaksi intrinsik dalam ginjal itu sendiri menyebabkan banyak

7
molekul protein dalam sel jukstaglomerular terurai dan melepaskan rennin
Selanjutnya oleh hormon rennin akan diubah menjadi angiotensin I. Oleh ACE
yang terdapat di paru-paru, angiotensin I diubah menjadi angiotensin II.
Angiotensin II adalah vasokonstriktor yang sangat kuat dan memiliki efek-efek lain
yang juga mempengaruhi sirkulasi. Selama angiotensin II ada dalam darah, maka
angiotensin II mempunyai dua pengaruh utama yang dapat meningkatkan tekanan
arteri. Pengaruh pertama, yaitu vasokonstriksi, timbul dengan cepat. Vasokonstriksi
terjadi terutama pada arteriol dan sedikit lemah pada vena. Cara kedua dimana
angiotensin II meningkatkan tekanan arteri adalah dengan bekerja pada ginjal untuk
menurunkan ekskresi garam dan air7
Banyak faktor yang menyebabkan seseorang mengalami peningkatan tekanan
sistole dan atau diastole, tetapi sebenarnya peningkatan ini terjadi akibat 2 parameter yang
meningkat yaitu peningkatan tahanan perifer total tubuh dan peningkatan cardiac
output / curah jantung. Sehingga dapat dikatakan bahwa segala sesuatu yang
menyebabkan terjadinya peningkatan salah satu atau keduanya, maka akan
menyebabkan orang tersebut mengalami peningkatan tekanan darah (hipertensi)6

Gambar 1 . Patofisiologi Hipertensi

(Kadir, 2015)
2.2.6. Diagnosis

8
Menegakan diagnosis hipertensi, diperlukan beberapa tahapan pemeriksaan
yang harus dijalani sebelum menentukan terapi atau tatalaksana yang akan diambil.
Algoritme diagnosis hipertensi ini diadaptasi dari Canadian Hypertension
Education Program. The Canadian Recommendation for The Management of
Hypertension 20144
Gambar 2. Algoritma Diagnosis Hipertensi

(PERKI, 2015)

2.2.7. Tatalaksana4

9
Gambar 3. Algoritma Tatalaksana Hipertensi

(Muhadi, 2016)

BAB III

10
DATA PEMERIKSAAN KESEHATAN

3.1.Identitas Penderita
Nama : Ny.T
Usia : 45 tahun
Status : Menikah
Pekerjaan : IRT
Golongan Darah :O
Pendidikan Terakhir : SMA/Sederajat
Agama : Islam
Suku : Muna
Alamat : Kelurahan Gunung Jati
Tanggal Periksa : 10 Juli 2019

3.2.Anamnesis
3.2.1. Keluhan Utama
Keluhan utama pasien adalah nyeri kepala
3.2.2. Riwayat penyakit sekarang
Pasien sering merasa nyeri kepala yang dirasakan hilang timbul sejak kurang lebih
6 tahun. Nyeri kepala timbul tidak menentu namun semakin memberat saat
beraktivitas dan biasanya membaik setelah istirahat. Nyeri kepala seperti terikat dan
terasa berat disertai dengan tegang pada area leher belakang. Pasien sudah sering
mengalami hal tersebut namun jarang memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan
kesehatan terdekat.
3.2.3. Riwayat penyakit dahulu
Riwayat penyakit dahulu pasien (-)
3.2.4. Riwayat penyakit keluarga
Riwayat keluarga pasien tidak ada yang menderita keluhan yang sama
3.2.5. Riwayat kebiasaan
Pasien memiliki riwayat kebiasaan konsumsi makanan yang asin
3.2.6. Riwayat pengobatan
Apabila keluhannya kambuh pasien beristirahat dirumah. Sampai saat ini pasien
belum pernah berobat di fasilitas pelayanan kesehatan.
3.2.7. Riwayat social ekonomi
11
Aspek ekonomi keluarga Ny.T tergolong menengah kebawah. Saat ini
perekonomian keluarganya ditanggung oleh suaminya yang bekerja sebagai
pedagang. Pembiayaan kesehatan keluarga menggunakan Kartu KIS (kartu
Indonesia Sehat). Akses pelayanan kesehatan juga terjangkau. Aspek sosial keluarga
Ny.T cukup baik, setiap seminggu sekali di akhir pekan diusahakan untuk
melakukan kumpul keluarga.
3.2.8. Riwayat gizi
Pasien memiliki kebiasaan makan sehari-hari 3x sehari untuk makan utama yang
terdiri dari ikan, nasi, sayur dan kadang-kadang mengkonsumsi pisang. Pasien juga
senang mengkonsumsi makanan yang asin (garam berlebih)

3.3. Pemeriksaan Fisik


3.3.1. Status Generalis
Keadaan umum : Sakit ringan
Kesadaran : Compos Mentis
Tekanan darah : 150/90 mmHg
Pernapasan : 20 x/menit
Nadi : 88 x/menit
Suhu : 36,7ºC
3.3.2. Status Gizi
IMT = BB (kg) / TB2 (m2)
= 60 / (1,6)2 = 23,43
Status gizi = Normal
3.3.3. Keadaan Regional
Kulit Kulit berwarna sawo matang, ikterus (-), sianosis(-
)
Kepala Bentuk normal, tidak teraba benjolan, rambut tidak
mudah dicabut.
Mata OD : Bentuk normal, konjungtiva tidak anemis,
sklera tidak ikterik, palpebra superior et inferior
tidak edema, pupil bulat dengan diameter kurang
lebih 3 mm, reflek cahaya (+), arkus senilis (+).

12
OS : Bentuk normal, konjungtiva tidak anemis,
sklera tidak ikterik, palpebra superior et inferior
tidak edema, pupil bulat dengan diameter kurang
lebih 3 mm, reflek cahaya (+), arkus senilis (+).
Telinga Bentuk normal, liang telinga lapang, tidak ada
sekret, tidak ada serumen
Hidung Bentuk normal, tidak ada sekret, tidak ada deviasi
septum nasi
Mulut Bentuk normal, perioral tidak sianosis, bibir
lembab, lidah tidak kotor, arkus faring simetris,
letak uvula di tengah, faring tidak hiperemis, tonsil
T1-T1 tenang, mukosa mulut tidak ada kelainan,
tidak ada halitosis, tidak memakai prothesa.
Leher Tidak teraba pembesaran kelenjar getah bening

Thorax
Paru-paru :
Inspeksi : Simetris saat statis dan dinamic, tidak ada retraksi
Palpasi : Tidak teraba massa
Perkusi : Sonor
Auskultasi : Vesikuler +/+, ronchi -/-, whezzing -/-
Jantung :
Inspeksi : Pulsasi iktus cordis tidak terlihat
Palpasi : Iktus cordis teraba pada ICS IV linea midclvicula sinistra, tidak
kuat angkat
Perkusi : Tidak dilakukan
Auskultasi : Bunyi jantung I dan II reguler
Abdomen
Inspeksi : Gambaran vena dan usus tidak tampak
Palpasi : Nyeri tekan epigastrium (+), hepar & lien tidak teraba, turgor
kulit baik
Perkusi : Timpani
Auskultasi : Bising usus (+), Normal
Ekstremitas
13
Akral Hangat : + + Akral Edema : - -
+ + - -
3.4. Pemeriksaan Penunjang
Tidak dilakukan
3.6. Diagnosis Holistik
3.6.1. Diagnosis dari segi biologis
Hipertensi grade I
3.6.2. Diagnosis dari segi psikologis
Dari segi psikologis, Ny.T dan keluarga tidak terdapat masalah. Ny.T menyadari
bahwa dirinya sakit setelah dilakukan kunjungan ke rumahnya. Namun kesadaran
untuk memeriksakan diri ke dokter sebelum kunjungan rumah masih kurang
3.6.3. Diagnosis dari segi sosial dan ekonomi
Aspek ekonomi keluarga Ny.T tergolong menengah kebawah. Saat ini
perekonomian keluarganya ditanggung oleh suaminya yang bekerja sebagai
pedagang. Pembiayaan kesehatan keluarga menggunakan Kartu KIS (kartu
Indonesia Sehat). Akses pelayanan kesehatan juga terjangkau. Aspek sosial
keluarga Ny.T cukup baik, setiap seminggu sekali di akhir pekan diusahakan untuk
melakukan kumpul keluarga.
3.7. Penatalaksanaan Holistik
3.7.1. Farmakologi
Mengkonsumsi Amlodipine 20 mg 1x1
3.7.2. Non Farmakologi
Diet rendah garam
Olahraga ringan
Rajin memeriksakan kesehatan terutama tekanan darah ke fasilitas layanan
terdekat
3.8. Prognosis
Penyakit : dubia ad bonam
Keluarga : dubia ad bonam
Masyarakat : dubia ad bonam

BAB IV
14
PEMBAHASAN ASPEK KEDOKTERAN KELUARGA

4.1.Identifikasi Keluarga
4.1.1. Profil Keluarga
a. Nama Pasien : Ny. T
b. Nama Kepala Keluarga : Tn. M
c. Alamat : Kelurahan Gunung Jati
d. Bentuk Keluarga : Keluarga Besar (Extended Family)
e. Daftar Anggota Keluarga
Tabel 2. Daftar Anggota Keluarga
N Nama Umur Pendidikan Hub. Pekerjaan Riw. Ket status
O Terakhir Dengan Pernikahan kesehatan
KK

1 Tn. M 47 Th SMA/ Sederajat Kepala Pedagang Sudah Sehat


Keluarga menikah
2 Ny. T 45 Th SD/Sederajat Isteri IRT Sudah Hipertensi
Menikah
3 An. A 20 Th SMA/ Sederajat Anak Pelajar Belum Sehat
Kandung Menikah
4 An. W 16 Th SMP/ Sederajat Anak Pelajar Belum Sehat
Kandung Menikah
5 An. L 8 Th SD/ Sederajat Anak Pelajar Belum Sehat
Kandung Menikah
6 Ny. WI 78 Th Tidak sekolah Mertua - Belum Hipertensi
Menikah
7 Tn. S 30 Th SMA/ Sederajat Adik Ipar Buruh Belum Sehat
Menikah
8 Tn. R 35 Th SMA/ Sederajat Adik Ipar Buruh cuci Sudah Sehat
Menikah
Sumber : Data Primer, 2019

Kesimpulan : Keluarga Ny.N adalah extended family yang terdiri atas 8 orang yang tinggal dalam satu rumah.
Dalam anggota keluarganya, ibu kandung pasien mengalami hal serupa. Sedangkan suami, saudara dan anak tidak
pernah menderita sakit berat

4.1.2. Keadaan Rumah /lingkungan

15
a. Jenis bangunan : Permanen
b. Lantai rumah : Alas plastik
c. Penerangan : Baik
d. Kebersihan : Kurang
e. Ventilasi : Kurang
f. Dapur : Ada
g. Jamban keluarga : Tidak ada
h. Sumber air : Sumur
i. Sumber pencemaran : Ada
j. System pembuangan air limbah : Tidak ada
k. Tempat pembuangan sampah : Ada
l. Sanitasi lingkungan : Baik
m. Pemanfaatan pekarangan : Kurang
4.1.3. Keadaan Spiritual Keluarga
a. Ketaatan beribadah : Cukup
b. Keyakinan tentang kesehatan : Kurang
4.1.4. Keadaan Sosial Keluarga
a. Tingkat pendidikan : Kurang
b. Hubungan antar anggota keluarga : Cukup
c. Hubungan dengan orang lain : Baik
d. Kegiatan organisasi sosial : Tidak ada
e. Keadaan ekonomi : Cukup
4.1.5. Kultural Keluarga
a. Suku : Muna
b. Agama : Islam
4.2. Penilaian Status Sosial dan Kesejahteraan Hidup
4.2.1. Denah Rumah

Dapur WC

Kamar 2 Ruang Tengah

Ruang Tamu Kamar 1

4.2.2. Penilaian Perilaku Kesehatan Keluarga


16
 Jenis tempat berobat : Puskesmas Kandai
 Asuransi / jaminan kesehatan : KIS
 Jarak layanan kesehatan tempat berobat : Jarak Puskesmas Kandai dengan
rumah Ny.T berjarak 1 km, pasien menggunakan kendaraan pribadi (Motor)
untuk transportasi ke Puskesmas.
4.2.3. Sarana Pelayanan Kesehatan
Tabel 2. Pelayanan kesehatan
Faktor Keterangan Kesimpulan
Cara mencapai Jalan kaki Ny.T ke Puskesmas
pusat pelayanan Kendaraan pribadi dengan kendaraan
kesehatan pribadi (motor)
Tarif pelayanan Sangat mahal Tarif pelayanan
kesehatan Mahal kesehatan
Terjangkau menggunakan
Murah fasilitas Kartu
Gratis Indonesia Sehat
Kualitas pelayanan Sangat Memuaskan
kesehatan Memuaskan
Cukup Memuaskan
Tidak memuaskan

4.2.4. Pola Konsumsi Makanan Keluarga


Pasien dan keluarga biasanya makan 3x sehari untuk makanan utama yang
diolah sendiri dengan anggota keluarga. Pasien terbiasa mengkonsumsi makanan
yang asin.
4.2.5. Pola Dukungan Keluarga
4.2.5.1. Faktor pendukung terselesaikannya masalah dalam keluarga:
Dalam menyelesaikan masalah, Ny.T selalu berkomunikasi dengan
keluarganya (Suami) dalam mengambil keputusan. Tidak ada masalah
dalam keluarga, suami serta anak-anaknya sangat mendukung kesehatan
Ny.T

4.3. Identifikasi Fungsi-Fungsi Dalam Keluarga

17
4.3.1. Fungsi Holistik
4.3.1.1. Fungsi Biologis
Didalam keluarga Ny.T terdapat orang yang sakit selain dirinya yakni
ibu pasien yang juga mengalami hipertensi
4.3.1.2. Fungsi Psikologis
Tidak ditemukan masalah fungsi psikologis keluarga Ny.T pasien
menyadari dirinya sakit namun kesadaran untuk memeriksakan diri ke
fasilitas kesehatan masih kurang
4.3.1.3. Fungsi Sosial dan Ekonomi
Aspek ekonomi keluarga Ny.T tergolong menengah kebawah. Saat ini
perekonomian keluarganya ditanggung oleh suaminya yang bekerja
sebagai pedagang. Pembiayaan kesehatan keluarga menggunakan Kartu
KIS (kartu Indonesia Sehat). Akses pelayanan kesehatan juga terjangkau.
Aspek sosial keluarga Ny.T cukup baik, setiap seminggu sekali di akhir
pekan diusahakan untuk melakukan kumpul keluarga.
akrab dengan tetangga dan temannya.
4.3.2. Fungsi Fisiologis dengan APGAR Score
Tabel 3 APGAR score Ny.T (45 Tahun)
APGAR Ny.T terhadap keluarga 2 1 0
A Saya puas bahwa saya dapat kembali ke keluarga bila √
menghadapi masalah
P Saya puas dengan cara keluarga saya membahas dan √
membagi masalah dengan saya
G Saya puas dengan cara keluarga saya menerima dan √
mendukung keinginan saya untuk melakukan
kegiatan baru atau arah hidup yang baru
A Saya puas dengan cara keluarga saya √
mengekspresikan kasih sayangnya dan merespon
emosi saya seperti kemarahan, perhatian dll
R Saya puas dengan cara keluarga saya dan saya √
membagi waktu bersama-sama
Untuk Ny. T APGAR score dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Adaptasi (adaptation)

18
- Penilaian : dari tingkat kepuasan pasien dan anggota keluarga dalam menerima
bantuan yang dibutuhkan.
- Hasil : pasien merasa puas, karena pada saat dibutuhkan mereka bersedia dating
membantu (score 1)
b. Kemitraan (partnership)
- Penilaian : tingkat kepuasan pasien dan anggota keluarga terhadap komunikasi
dalam mengambil keputusan dan menyelesaikan masalah.
- Hasil : sangat jarang terjadi masalah dalam keluarga, kalaupun ada hanya
masalah kecil namun diselesaikan sendiri (score 2)
c. Pertumbuhan (growth)
- Penilaian : tingkat kepuasan pasien dan anggota keluarga terhadap kebebasan
yang diberikan keluarga dalam mematangkan pertumbuhan dan kedewasaan
semua anggota keluarga.
- Hasil : hampir selalu (score 2)
d. Kasih Sayang (affection)
- Penilaian : tingkat kepuasan anggota keluarga terhadap kasih saying serta
interaksi emosional yang berlangsung.
- Hasil : Kasih sayang keluarga terhadap pasien puas dengan kehangatan atau
kasih sayang yang diberikan keluarga (score 1)
e. Kebersamaan (Resolve)
- Penilaian : tingkat kepuasan anggota keluarga terhadap kebersamaan dalam
membagi waktu, kekayaan dan ruang atas keluarga.
- Hasil : Pasien puas dengan waktu yang disediakan keluarga untuk menjalin
kebersamaan (Score 2)

4.3.3. Fungsi Patologis dengan alat SCREEM Score


19
Fungsi patologis keluarga Ny.T dinilai menggunakan alat S.C.R.E.E.M sebagai
berikut:
Tabel 5 SCREEM keluarga Ny.T
Sumber Patologis
Social Ny.T tidak memiliki masalah
dengan hubungan sosial dan
memiliki komunikasi yang baik
-
antara keluarga, kerabat ataupun
tetangga. Ny juga sering berkumpul
dengan suami dan anaknya.
Culture Menggunakan adat Muna dalam
berbahasa dan berbudaya,
-
pengambilan keputusan juga
berdasarkan diskusi keluarga besar.
Religious Fungsi agama Ny.T dan keluarganya
-
baik
Economic Kondisi ekonomi mampu Perekonomian kadang kala
mencukupi dan memenuhi tidak dapat mencukupi
kebutuhan pokok. kebutuhan tambahan
Educational Tingkat pendidikan dan
pengetahuan Ny.T dan keluarga
tergolong kurang. Ny.T dan suami
memiliki riwayat pendidikan yang
-
cukup namun anak pasien juga
mendapatkan pendidikan yang baik.
Pengetahuan Ny.T terhadap
penyakitnya kurang
Medical Dalam pembiayaan kesehatan Ny.T
Kurangnya kesadaran diri
dan keluarga menggunakan Kartu
untuk memeriksakan diri ke
KIS. Akses pelayanan kesehatan
fasilitas layanan kesehatan
terjangkau.

4.3.4. Genogram dalam keluarga

20
: Pasien
: Laki-laki
: Perempuan

4.4. Identifikasi Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kesehatan


4.4.1. Identifikasi Faktor Perilaku dan Non Perilaku Keluarga
4.4.1.1. Faktor Perilaku Keluarga
Pengetahuan
Tingkat pendidikan akhir Ny.T mencapai lulusan SD sedangkan
suaminya mencapai lulusan SMA, namun anak-anak Ny. T mendapat
pendidikan yang baik. Ny.T memiliki pengetahuan yang kurang tentang
penyakitnya namun dapat memahami penjelasan yang diberikan mengenai
penyakitnya.
Sikap
Sikap keluarga Ny,T sangat mendukung Ny.T untuk dapat mengubah
pola hidup menjadi lebih baik sehingga tidak memperberat penyakitnya
Tindakan
Tindakan keluarga terhadap kondisi Ny.T sangat baik dengan membantu
mengingatkan Ny.T rutin meminum obatnya serta pemperbaiki pola makan
dan lebih sering mengkonsumsi makanan yang bergizi.
4.4.1.2. Faktor Non Perilaku Keluarga
Lingkungan
Lingkungan sekitar rumah Ny.T tergolong kurang bersih, memiliki
sanitasi yang kurang baik. Rumah Ny.T memiliki sirkulasi udara yang dan
pencahayaan yang kurang.
Pelayanan kesehatan
Tarif pelayanan kesehatan menggunakan fasilitas kartu KIS. Akses
pelayanan kesehatan berjarak 1 km dengan tempat tinggal Ny.N sehingga
dapat dengan mudah dijangkau
Usia, Keturunan dan Jenis Kelamin
21
Pada penyakit gastritis yang dialami oleh Ny.T dipengaruhi oleh faktor
genetik dari keluarga Ny.T dikarenakan dari ibunya memiliki riwayat
menderita hipertensi
4.5. Daftar Masalah
4.5.1. Masalah Medis
Hipertensi grade I
4.5.2. Masalah Non Medis
Pasien tidak memiliki masalah psikologis, terdapat hubungan yang baik dengan
keluarga pasien, kerabat maupun tetangga. Ny.T rutin berkumpul bersama keluarga
dan sering mengikuti kegiatan yang diadakan di lingkungan tetangganya. Dan tidak
terdapat masalah dalam menjangkau fasilitas layanan kesehatan. Akan tetapi pasien
memiliki kesadaran yang kurang dalam hal kebersihan rumah dan kesehatan. Pasien
juga memiliki kebiasaan yang buruk yaitu sering mengkonsumsi makanan dengan
kandungan garam yang agak berlebihan
4.6. Tinjauan Kasus
4.6.1. Kunjungan Rumah
 Tanggal Kunjungan I : 10 Juli 2019
 Tanggal Kunjungan II : 15 Juli 2019
 Tanggal Kunjungan III : 20 Juli 2019
 Alamat : Kelurahan Gunung Jati

4.7. Intervensi Pada Keluarga


a. Kunjungan pertama, Senin 10 Juli 2019
 Melakukan kunjungan rumah di Kelurahan Gunung Jati
 Melakukan pendekatan pada pasien dan anggota keluarga
 Menggali informasi tentang keluarga pasien. Hasilnya didapatkan data tentang
keluarga pasien
 Mencari faktor risiko penyebab terjadinya hipertensi. Didapatkan hasil penyebab
pasien mengalami hipertensi adalah pola konsumsi pasien yang senang
mengkonsumsi gorengan dan makanan yang asin (garam berlebih)
 Memantau kondisi dan lingkungan rumah pasien. Didapatkan hasil lingkungan
rumah pasien kurang bersih. Serta terdapat sanitasi yang kurang. Halaman rumah
tidak dimanfaatkan dengan baik.

22
b. Kunjungan Kedua, Senin, 15 April 2019
 Melakukan edukasi kepada pasien mengenai definisi, penyebab, gejala klinis,
terapi dengan gaya hidup dan obat, serta komplikasi dari penyakit yang diderita
 Melakukan edukasi agar pasien mengetahui pola makan yang sehat dan bergizi.
 Menyarankan kepada pasien agar meminum obat secara teratur sesuai arahan
dokter.
c. Kunjungan Ketiga, Senin, 20 April 2019
 Pasien sudah mengetahui tentang hipertensi, faktor resiko, pengobatan dan cara
mencegah agar keluhan tidak bertambah berat,
 Keluarga pasien menyadari pentingnya peran keluarga dalam pengobatan pasien.
 Pasien sudah mencoba mengubah pola makan dan kebiasaan makan pasien

DAFTAR PUSTAKA

1. Saputra, B. R., Rahayu., Indrawanto, I.S. 2013. Profil Penderita Hipertensi di RSUD
Jombang Periode Januari-Desember 2011. 9(2) : 116-120

23
2. Tarigan, A.R., Lubis, Z., Syarifah. 2018. Pengaruh Pengetahuan, Sikap dan Dukungan
Keluarga terhadap Diet Hipertensi di Desa Hulu Kecamatan Pancur Batu Tahun 2016.
Jurnal Kesehatan. 11(1) : 9-17
3. Herwati., Sartika, W. 2014. Terkontrolnya Tekanan Darah Penderita Hipertensi
Berdasarkan Pola Diet dan Kebiasaan Olahraga di Padang Tahun 2011. Jurnal Kesehatan
Masyarakat 8(1) : 8-14
4. Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia. 2015. Pedoman Tatalaksana
Hipertensi Pada Penyakit Kardiovaskular. Jakarta
5. Muhadi. 2016. JNC 8: Evidence-based guideline Penanganan Paisen Hipertensi Dewasa.
CKD-236: 43(1) : 54-59
6. Kadir, Akmarawita. 2015.Hubungan Patofisiologi Hipertensi dan Hipertensi Renal. Jurnal
Ilmiah Kedokteran. 5(1): 15-25
7. Sylvestiris, Alfa. 2014. Hypertension and Retinopathy Hipertension. Jurnal 10(1): 1-9
8. Herawati, I., Wahyuni. 2016. Manfaat Latihan Pengaturan Pernafasan Untuk Menurunkan
Tekanan Darah Pada Penderita Hipetensi Primer. The 3rd University Research Colluquium
2016 : 79-87
9. Yonata, A., Satria, A. 2016. Hipertensi sebagai Faktor Pencetus Terjadinya Stroke.
Majority 5(3)
10. Zaenurrohmah, D.H., Rachmayanti, R.D. 2017. Hubungan Pengetahuan dan Riwayat
Hipertensi dengan Tindakan Pengendalian Tekanan Darah pada Lansia. Jurnal Berkala
Epidemiologi : 5(2) : 174-184

LAMPIRAN

Gambar 1. Pemeriksaan Tekanan Darah

24
Gambar 2. Kondisi Ruang Keluarga

Gambar 3. Wadah Penampungan Air

25
Gambar 4. Kondisi Halaman Rumah dan Wadah penampungan sampah

26