Anda di halaman 1dari 68

SUSUNAN PENGURUS

Penasehat Umum Pimpinan Redaksi


Nining Purnawati, S.KM Dian Sophi Pebri Ramadhani
Universitas Lambung Mangkurat

Penanggung Jawab
Dewan Redaksi
Ikatan Senat Mahasiswa Kesehatan
Masyarakat Seluruh Indonesia Syifa Nurhakiki Universitas Muhammadiyah Jakarta
(ISMKMI) Rahma Ismayanti Universitas Negeri Malang
Fitrah Bintan Harisma Universitas Airlangga
Sri Purwanti UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Pimpinan Umum
Muhammad Zakki S. Universitas Negeri Semarang
Nadya Nova Evananda
Universitas Airlangga Ngakan Putu Anom H. Universitas Udayana
Mutiara Shinta N. U. Universitas Indonesia
Administrator Dezembrix Taufik M. Universitas Ahmad Dahlan

Isnaini Alfazcha Zukhruf


Universitas Negeri Semarang
Dian Pratiwi Abdullah Penanggung Jawab Public Relation
Universitas Hasanuddin
Widya Nur Azizah Universitas Airlangga

Tim Public Relation


Puji Melati STIKES Cirebon
Aldian Noor Qolbi Universitas Udayana
Anggi Osyka Universitas Sumatera Utara
Muhammad Asyrovi A. Universitas Udayana

Layout dan Multimedia


Nadhira Khairani UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Mutiara Ramadhan Universitas Airlangga
Rini Puji Astuti Universitas Ahmad Dahlan
Anita Siti Fatonah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Dedi Suhendi Universitas Siliwangi

i
BIMKMI Volume 5 No.1 | Januari- Juli 2017
MITRA BESTARI

Administrasi Kebijakan Kesehatan Gizi Kesehatan Masyarakat


Nurnaningsih Herya Ulfah, SKM, M.Kes Septa Katmawanti, S.Gz, M.Kes
Universitas Negeri Malang Universitas Negeri Malang

Oedojo Soedirham, dr,. MPH, MA, PhD dr. Ni Wayan Arya Utami, M.App.Sc.,
Universitas Airlamgga
PhD
Universitas Udayana

Galuh Nita Prameswari, SKM, M.Si


Epidemiologi Universitas Negeri Semarang

Desi Nurfita, SKM, M.Kes


Universitas Ahmad Dahlan

Hoirun Nisa, SKM, M.Kes, Ph.D Biostatistika dan Kependudukan


UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Lukman Fauzi, SKM, MPH
Universitas Negeri Semarang
Dr. drh. I Made Subrata, M. Erg
Universitas Udayana

Kesehatan Lingkungan
Arum Siwiendrayati, SKM, M.Kes
Universitas Negeri Semarang

Keselamatan dan Kesehatan Kerja


Dani Nasirul Haqi, SKM, M.KKK
Universitas Airlangga

Evi Widowati, SKM, M.Kes


Universitas Negeri Semarang

ii
BIMKMI Volume 5 No.1 | Januari- Juli 2017
ISSN: 2302-7835
DAFTAR ISI
Susunan Pengurus............................................................................................................................................... i
Mitra Bestari……………………………………………………………………………………………………………… ii
Daftar Isi.................................................................................................................................................................. iii
Petunjuk Penulisan............................................................................................................................................. iv
Sambutan Pimpinan Umum BIMKMI…...................................................................................................... xi
Artikel Penyegar
Meal: Media Edukasi Audio-Visual Sebagai Controller Menuju Babak Baru Lingkaran Nikotin
(E-Cigarette)
Nyoman Yuni Karunia Surya
................................................................................................................................................................................................................................................. 1
PMT: Cukupkah Menyelesaikan Masalah Gizi Bangsa?
Rahma Ismayanti
................................................................................................................................................................................................................................................ 10

Tinjauan Pustaka
Program Desa Binaan Berbasis Interprofessional Education Dan Transprofessional Education
Sebagai Upaya Dalam Mengentaskan Masalah Gizi Ibu Dan Anak Di Indonesia
Arya Krisna Manggala, Tjokorda Istri Pramitasuri
.............................................................................................................................................................................................................................................. 12
Balad (Balok Nada) Sebagai Inovasi Media Pembelajaran Yang Menyenangkan Untuk Anak
Disabilitas Intelektual Dengan Mengoptimalkan Kinerja Otak Tengah
Sobhita Paramita1, Rizqi Zuroida2, Novitha Sari Pattara3, Shely Dinar Thamara
.............................................................................................................................................................................................................................................. 20
Potensi Traffic Food Labelling Dalam Kantin Sehat Sebagai Upaya Mengurangi Risiko Obesitas
Pada Pekerja Kantoran
Aldian Noor Qolbi, A.A. Ratih Surya Prameswari, Ni Luh Putu Ari Handayani
.............................................................................................................................................................................................................................................. 26

Editorial
FCTC: Solusi Terbaik Menanggulangi Permasalahan Rokok Di Indonesia
Husda Oktaviannoor
................................................................................................................................................................................................................................................. 35

Penelitian Asli
Hubungan Masa Kerja Dan Kecemasan Dengan Kelelahan Pada Pengemudi Sopir Bus Eksekutif
Antar Kota Dan Antar Provinsi (Akap) Di Terminal Giwangan Yogyakarta
Mutmainah, Ahmad Ahid Mudayana
................................................................................................................................................................................................................................................. 38
Efektivitas Promosi Kesehatan Melalui Media Lagu Terhadap Pengetahuan Ibu Mengenai Gizi
Seimbang Di Tk Al-Ikhlas Pandanwangi Kota Malang
Rahma Ismayanti
................................................................................................................................................................................................................................................. 46

iii
BIMKMI Volume 5 No.1 | Januari- Juli 2017
Petunjuk Penulisan
Pedoman Penulisan Artikel

Berkala Ilmiah Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Indonesia (BIMKMI)


Indonesian Public Health Student Journal

Berkala Ilmiah Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Indonesia (BIMKMI) adalah


publikasi per semester yang menggunakan sistem seleksi peer-review dan redaktur.Naskah
diterima oleh redaksi, mendapat seleksi validitas oleh mitra bestari, serta seleksi dan
pengeditan oleh redaktur. BIMKMI menerima artikel penelitian asli yang berhubungan
dengan dunia kesehatan masyarakat meliputi epidemiologi, kesehatan lingkungan,
keselamatan dan kesehatan kerja, administrasi dan kebijakan kesehatan, biostatistik
dan kependudukan, promosi kesehatan dan ilmu perilaku, ilmu gizi kesehatan
masyarakat, kesehatan reproduksi, kesehatan global, dan one health baik penelitian
lapangan maupun laboratorium, artikel tinjauan pustaka, laporan kasus, artikel penyegar
ilmu kesehatan masyarakat, advertorial, petunjuk praktis, serta editorial. Tulisan merupakan
tulisan asli (bukan plagiat) dan sesuai dengan kompetensi mahasiswa kesehatan masyarakat.

Ketentuan Umum:
1. Penulis merupakan lulusan mahasiswa S1 atau masih menempuh jenjang
pendidikan S2 program studi kesehatan masyarakat saat mengirimkan artikel.
2. Bila penulis lebih dari satu orang, maka minimal salah satunya harus berasal dari
mahasiswa program studi kesehatan masyarakat. Maksimal terdiri dari enam
orang dalam satu kelompok.
3. BIMKMI hanya menerima tulisan asli yang belum pernah diterbitkan pada jurnal
lain.
4. Penulisan naskah :
1. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dengan baik dan
benar, jelas, lugas, serta ringkas.
2. Naskah diketik menggunakan microsoft word 2003
3. Menggunakan ukuran kertas A4 dengan margin kanan 3 cm, kiri 4 cm, atas 3
cm, dan bawah 3 cm
4. Naskah menggunakan 1 spasi dengan spacing after before 0 cm, jarak antar
bab atau antar subbab yaitu 1 spasi (1x enter)
5. Menggunakan jenis tulisan (font) Arial Reguler, ukuran 10, sentence case,
justify
6. Naskah maksimal terdiri dari 15 halaman terhitung mulai dari judul hingga
daftar pustaka

iv
BIMKMI Volume 5 No.1 | Januari- Juli 2017
Petunjuk Penulisan
5. Naskah dikirim melalui email ke alamat redaksibimkmi@bimkes.org dengan
menyertakan identitas penulis beserta alamat dan nomor telepon yang bisa
dihbungi

Ketentuan Menurut Jenis Naskah:


1. Penelitian asli: hasil penelitian asli dalam ilmu kesehatan masyarakat. Format
terdiri atas judul penelitian, nama dan lembaga pengarang, abstrak, dan teks
(pendahuluan, metode, hasil, pembahasan/diskusi, kesimpulan, dan saran).
2. Tinjauan pustaka: tulisan artikel review/sebuah tinjauan terhadap suatu fenomena
atau ilmu dalam dunia kesehatan masyarakat, ditulis dengan memperhatikan aspek
aktual dan bermanfaat bagi pembaca.
3. Laporan kasus: artikel tentang kasus yang menarik dan bermanfaat bagi pembaca.
Artikel ini ditulis sesuai pemeriksaan, diagnosis, dan penatalaksanaan sesuai
kompetensi kesehatan masyarakat.
4. Artikel penyegar: artikel yang bersifat bebas ilmiah, mengangkat topik-topik yang
sangat menarik dalam dunia kesehatan masyarakat, memberikan human interest
karena sifat keilmiahannya, serta ditulis secara baik. Artikel bersifat tinjauan serta
mengingatkan pada hal-hal dasar atau klinis yang perlu diketahui oleh pembaca.
5. Editorial: artikel yang membahas berbagai hal dalam dunia kesehatan masyarakat.
Memuat mulai dari ilmu dasar, berbagai metode terbaru, organisasi, penelitian,
penulisan di bidang kesehatan masyarakat, lapangan kerja sampai karir dalam dunia
kesehatan masyarakat. Artikel ditulis sesuai kompetensi mahasiswa.
6. Petunjuk praktis: artikel berisi panduan diagnosis atau tatalaksana yang ditulis
secara tajam, bersifat langsung (to the point) dan penting diketahui oleh pembaca
(mahasiswa kesehatan).
7. Advertorial: Penulisan mengenai obat dan kandungannya berdasarkan metode
studi pustaka

Ketentuan Khusus:
1. Untuk keseragaman penulisan, khusus naskah Penelitian Asli harus mengikuti
sistematika sebagai berikut:
a. Judul karangan (Title)
b. Nama dan Lembaga Pengarang (Authors and Institution)
c. Abstrak (Abstract)
d. Isi (Text), yang terdiri atas:
i. Pendahuluan (Introduction)

v
BIMKMI Volume 5 No.1 | Januari- Juli 2017
Petunjuk Penulisan
ii. Metode (Methods)
iii. Hasil (Results)
iv. Pembahasan (Discussion)
v. Kesimpulan
vi. Saran
vii. Ucapan terima kasih
e. Daftar Pustaka (Reference)
2. Untuk keseragaman penulisan, khusus naskah Tinjauan Pustaka, Advertorial, dan
Artikel Editorial harus mengikuti sistematika sebagai berikut:
a. Judul
b. Nama penulis dan lembaga pengarang
c. Abstrak
d. Isi (Text), yang terdiri atas:
i. Pendahuluan (termasuk masalah yang akan dibahas)
ii. Pembahasan (Isi)
iii. Kesimpulan
iv. Saran
e. Daftar Rujukan (Reference)
3. Untuk keseragaman penulisan, naskah Artikel Penyegar harus mengikuti
sistematika sebagai berikut:
a. Pendahuluan
b. Isi
c. Kesimpulan
4. Judul ditulis dengan Sentence case, dan bila perlu dapat dilengkapi dengan subjudul.
Naskah yang telah disajikan dalam pertemuan ilmiah nasional dibuat keterangan
berupa catatan kaki. Terjemahan judul dalam bahasa Inggris ditulis italic.
5. Nama penulis yang dicantumkan paling banyak enam orang, dan bila lebih cukup
diikuti dengan kata-kata: dkk atau et al. Nama penulis harus disertai dengan
institusi asal penulis. Alamat korespondensi ditulis lengkap dengan nomor telepon
dan email.
6. Abstrak harus ditulis dalam bahasa Inggris serta bahasa Indonesia. Panjang abstrak
tidak melebihi 200 kata dan diletakkan setelah judul naskah dan nama penulis.
7. Kata kunci (key words) yang menyertai abstrak ditulis dalam bahasa Inggris dan
bahasa Indonesia. Kata kunci diletakkan di bawah judul setelah abstrak. Tidak
lebih dari 5 kata, dan sebaiknya bukan merupakan pengulangan kata-kata dalam
judul.

vi
BIMKMI Volume 5 No.1 | Januari- Juli 2017
Petunjuk Penulisan
8. Kata asing yang belum diubah ke dalam bahasa Indonesia ditulis dengan huruf
miring (italic).
9. Tabel dan gambar disusun terpisah dalam lampiran terpisah. Setiap tabel diberi
judul dan nomor pemunculan. Foto orang atau pasien apabila ada kemungkinan
dikenali maka harus disertai ijin tertulis.
10. Penulisan sitasi menggunakan sistem Vancouver dengan penomoran yang runtut
dan ditulis dengan nomor sesuai urutan. Apabila sitasi berasal dari 2 sumber atau
lebih, penomoran dipisah menggunakan koma. Nomor kutipan ditulis superskrip
dan dibuat dalam tanda kurung siku […]
11. Daftar pustaka disusun menurut sistem Vancouver, diberi nomor sesuai dengan
pemunculan dalam keseluruhan teks, bukan menurut abjad.

Contoh cara penulisan daftar pustaka dapat dilihat sebagai berikut :


1. Naskah dalam jurnal
i. Naskah standar
Vega Kj, Pina I, Krevsky B. Heart transplantation is associated with an
increased risk for pancreatobiliary disease. Ann Intern Med 1996 Jun
1;124(11):980-3.
atau
Vega Kj, Pina I, Krevsky B. Heart transplantation is associated with an
increased risk for pancreatobiliary disease. Ann Intern Med 1996;124:980-3.
Penulis lebih dari enam orang
Parkin Dm, Clayton D, Black RJ, Masuyer E, Freidl HP, Ivanov E, et al.
Childhood leukaemia in Europe after Chernobyl: 5 year follow-up. Br j
Cancer 1996;73:1006-12.
ii. Suatu organisasi sebagai penulis
The Cardiac Society of Australia and New Zealand. Clinical exercise stress
testing. Safety and performance guidelines. Med J Aust 1996;164:282-4.
iii. Tanpa nama penulis
Cancer in South Africa [editorial]. S Afr Med J 1994;84:15.
iv. Naskah tidak dalam bahasa Inggris
Ryder TE, Haukeland EA, Solhaug JH. Bilateral infrapatellar seneruptur hos
tidligere frisk kvinne. Tidsskr Nor Laegeforen 1996;116:41-2.
v. Volum dengan suplemen

vii
BIMKMI Volume 5 No.1 | Januari- Juli 2017
Petunjuk Penulisan
Shen HM, Zhang QF. Risk assessment of nickel carcinogenicity and
occupational lung cancer. Environ Health Perspect 1994;102 Suppl 1:275-
82.
vi. Edisi dengan suplemen
Payne DK, Sullivan MD, Massie MJ. Women`s psychological reactions to
breast cancer. Semin Oncol 1996;23(1 Suppl 2):89-97.
vii. Volum dengan bagian
Ozben T, Nacitarhan S, Tuncer N. Plasma and urine sialic acid in noninsulin
dependent diabetes mellitus. Ann Clin Biochem 1995;32(Pt 3):303-6.
viii. Edisi dengan bagian
Poole GH, Mills SM. One hundred consecutive cases of flap laceration of the
leg in ageing patients. N Z Med J 1990;107(986 Pt 1):377-8.
ix. Edisi tanpa volum
Turan I, Wredmark T, Fellander-Tsai L. Arthroscopic ankle arthrodesis in
rheumatoid arthritis. Clin Orthop 1995;(320):110-4.
x. Tanpa edisi atau volum
Browell DA, Lennard TW. Immunologic status of cancer patient and the
effects of blood transfusion on antitumor responses. Curr Opin Gen Surg
1993;325-33.
xi. Nomor halaman dalam angka Romawi
Fischer GA, Sikic BI. Drug resistance in clinical oncology and hematology.
Introduction. Hematol Oncol Clin North Am 1995 Apr;9(2):xi-xii.
2. Buku dan monograf lain
i. Penulis perseorangan
Ringsven MK, Bond D. Gerontology and leadership skills for nurses. 2nd ed.
Albany (NY): Delmar Publishers; 1996.
ii. Editor, sebagai penulis
Norman IJ, Redfern SJ, editors. Mental health care for elderly people. New
York: Churchill Livingstone; 1996.
iii. Organisasi dengan penulis
Institute of Medicine (US). Looking at the future of the Medicaid program.
Washington: The Institute; 1992.
iv. Bab dalam buku
Philips SJ, Whisnant JP. Hypertension and stroke. In: Laragh JH, Brenner BM,
editors. Hypertension: patophysiology, diagnosis, and management. 2nd ed.
New York: raven Press; 1995.p.465-78.
v. Prosiding konferensi

viii
BIMKMI Volume 5 No.1 | Januari- Juli 2017
Petunjuk Penulisan
Kimura J, Shibasaki H, editors. Recent advances in clinical neurophysiology.
Proceedings of the 10th International Congress of EMG and Clinical
Neurophysiology; 1995 Oct 15-19; Kyoto, Japan. Amsterdam: Elsevier; 1996.
vi. Makalah dalam konferensi
Bengstsson S, Solheim BG. Enforcement of data protection, privacy and
security in medical information. In: Lun KC, Degoulet P, Piemme TE,
Rienhoff O, editors. MEDINFO 92. Proceedings of the 7th World Congress on
Medical Informatics; 1992 Sep 6-10; Geneva, Switzerland. Amsterdam:
North-Hollan; 1992.p.1561-5.
vii. Laporan ilmiah atau laporan teknis
a. Diterbitkan oleh badan penyandang dana/sponsor:
Smith P, Golladay K. Payment for durable medical equipment
billed during skilled nursing facility stays. Final report. Dallas
(TX): Dept. of Health and Human Services (US), Office of
Evaluation and Inspection; 1994 Oct. Report No.:
HHSIGOEI69200860.
b. Diterbitkan oleh unit pelaksana
Field MJ, Tranquada RE, Feasley JC, editors. Helath services
research: work force and education issues. Washington: National
Academy Press; 1995. Contract no.: AHCPR282942008. Sponsored
by the Agency for Health Care Policy and research.

viii. Disertasi
Kaplan SJ. Post-hospital home health care: the elderly/access and utilization
[dissertation]. St. Louis (MO): Washington univ.; 1995.
ix. Naskah dalam Koran
Lee G. Hospitalizations tied to ozone pollution: study estimates 50,000
admissions annually. The Washington Post 1996 Jun 21;Sect A:3 (col. 5).
x. Materi audiovisual
HIV + AIDS: the facts and the future [videocassette]. St. Louis (MO): Mosby-
Year book; 1995.

3. Materi elektronik
i. Naskah journal dalam format elektronik
Morse SS. Factors in the emergence of infectious disease. Emerg Infect Dis
[serial online] 1995 Jan-Mar [cited 1996 Jun 5]:1(1):[24 screens]. Available
from: URL: HYPERLINK

ix
BIMKMI Volume 5 No.1 | Januari- Juli 2017
Petunjuk Penulisan
http://www.cdc.gov/ncidod/EID/eid.htm
ii. Monograf dalam format elektronik
CDI, clinical dermatology illustrated [monograph on CD-ROM]. Reeves JRT,
Maibach H. CMEA Multimedia Group, producers. 2nd ed. Version 2.0. San
Diego: CMEA; 1995.
iii. Arsip computer
Hemodynamics III: the ups and downs of hemodynamics [computer
program]. Version 2.2. Orlando (FL): Computerized Educational Systems;
1993.

x
BIMKMI Volume 5 No.1 | Januari- Juli 2017
Sambutan Pimpinan Umum
BIMKMI
Assalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh

Kontribusi mahasiswa dalam publikasi berkala ilmiah sangat dibutuhkan. Banyak


sekali manfaat yang akan didapat dari tulisan ilmiah yang dipublikasikan oleh mahasiswa.
Berkala ilmiah menjadi sarana mahasiswa untuk menyampaikan gagasannya disertai dengan
data terkait yang dapat dibuktikan kebenarannya, karena telah melalui serangkaian
penelitian dan analisis data. Gagasan mahasiswa yang ditulis secara ilmiah dan
dipublikasikan dapat menjadi referensi dalam penulisan sejenis di masa yang akan datang.
Dua hal di atas adalah sedikit contoh dari manfaat yang akan didapat mahasiswa, baik
sebagai penulis maupun pembaca. Namun banyaknya manfaat yang didapat, tidak diimbangi
dengan tingginya minat mahasiswa untuk mempublikasikan tulisannya.
Memperpanjang batas waktu call for paper adalah salah satu bukti konkret akibat dari
minimnya minat mahasiswa mempublikasikan tulisannya. Hal ini terus terjadi dari periode
penerbitan satu edisi ke edisi yang lain. Publikasi tulisan ilmiah masih menjadi sebuah
keterpaksaan di kalangan mahasiswa, tidak ada yang mempublikasikan tulisannya tanpa
dilatar belakangi tuntutan mendapat letter of acceptance. Minimnya minat mahasiswa
mempublikasikan tulisannya tersebut berdampak pada jumlah artikel yang diterbitkan
setelah melewati proses seleksi, peninjauan (review), dan penyuntingan (editing).
Sebanyak delapan artikel, dengan rincian satu editorial, dua artikel penelitian, tiga
artikel penelusuran pustaka, dan dua artikel penyegar, telah lolos serangkaian proses yang
telah dilakukan oleh tim penyusun dan diterbitkan dalam BIMKMI volume 5 nomor 1.
Terima kasih atas kontribusi dari seluruh penulis yang telah mengirimkan artikel
untuk dipublikasikan, tim penyusun BIMKMI, mitra bestari, dan pihak lain yang sudah
berusaha menyajikan publikasi ilmiah terbaik. Tak ada gading yang tak retak, mohon maaf
apabila terdapat kekurangan dan kesalahan selama proses penerbitan edisi ini. Kritik dan
saran yang membangun sangat kami nantikan demi terwujudnya BIMKMI sebagai wadah
publikasi ilmiah yang kompeten dan terakreditasi. Semoga dengan diterbitkannya satu edisi
terbaru BIMKMI, menumbuhkan semangat mahasiswa kesehatan masyarakat untuk mulai
menulis dan berpartisipasi dalam mempublikasikan tulisan ilmiahnya pada edisi selanjutnya.

Selamat membaca.
Wassalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh

Surabaya, Juni 2017


Pimpinan Umum BIMKMI 2017
Nadya Nova Evananda

xi
BIMKMI Volume 5 No.1 | Januari-Juli 2017
MEAL: MEDIA EDUKASI AUDIO-
Artikel VISUAL SEBAGAI CONTROLLER
MENUJU BABAK BARU LINGKARAN
Penyegar NIKOTIN (E-CIGARETTE)
1
Nyoman Yuni Karunia Surya
1
Mahasiswa Program Studi Kesehatan Masyarakat,
Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

ABSTRAK
Pendahuluan: Data Kementerian Kesehatan menunjukkan peningkatan prevalensi
perokok dari 27% pada tahun 1995, meningkat menjadi 36,3% pada tahun 2013. Salah
satu alternatif sekaligus pengobatan bagi para perokok aktif adalah e-cigarette (electronic
cigarette). Salah satu jenis e-cigarette ini yaitu vape. Tujuan artikel adalah ini membahas
mengenai bagaimana kondisi pemakaian e-cigarette saat ini dan upaya preventif promotif
dalam meningkatkan pengetahuan remaja terkait e-cigarette dengan media edukasi
audio-visual melalui media sosial.
Isi: E-cigarette adalah alat elektronik yang mirip seperti rokok dan dapat menghasilkan
asap yang merupakan hasil penguapan cairan. Peran e-cigarette yang awalnya sebagai
pengobatan dan alternatif bagi para perokok aktif konvensional bergeser menjadi sebuah
gaya hidup jaman sekarang. Hal ini mulai mengkhawatirkan karena e-cigarette tetap
mengandung nikotin seperti pada rokok konvensional yang dapat menimbulkan
kecanduan dan mengandung bahan-bahan kimia yang akan memberikan dampak buruk
bagi kesehatan. Artikel ini penting untuk menyadarkan masyarakat dan remaja
khususnya mengenai keberadaan e-cigarette dan dampak yang ditimbulkan dalam
jangka pendek dan panjang. Penyadaran pada remaja dapat dilakukan melalui edukasi
yang menarik melalui media sosial. Pengembangan media edukasi audio-visual dapat
dilakukan untuk memberikan pengetahuan yang komprehensif terkait e-cigarette.
Kerjasama lintas sektor diperlukan dalam memaksimalkan edukasi, yaitu sektor
kesehatan, TI, dan pendidikan.
Kesimpulan: Dengan kolaborasi beberapa sektor dalam menciptakan media edukasi
audio-visual yang menarik diharapkan dapat meningkatkan kewaspadaan dan
pengetahuan masyarakat dan anak muda dalam menentukan sikap terhadap
penggunaan vape.
Kata Kunci: E-cigarette, Vape, Media Edukasi, Audio-Visual, Lintas Sektor

ABSTRACT
Introduction: Health Ministry data showed an increase in smoking prevalence from 27%
in 1995, increased to 36.3% in 2013. One alternative well as treatment for active smokers
is the e-cigarette (electronic cigarette). One type of e-cigarette is vape. The purpose of
this article describes how the conditions of e-cigarette use today and promotive and
preventive efforts in improving knowledge of adolescents about e-cigarette with audio-
visual educational media through social media.
Contents: E-cigarette is an electronic device that looks like a conventional cigarette and
can produce smoke which is the result from evaporation of the liquid. The role of e-
cigarette is initially as a treatment and alternatives to conventional active smokers shift
into a lifestyle today. It starts to alarming because the e-cigarette still contains nicotine as
well as in conventional cigarettes are, that can cause addict and contain chemicals that
will negatively impact our health. This article is important to make public and young
people aware in particular about the existence of e-cigarette and it impact in the short and
long term. Awareness in adolescents can be done interestingly by education interacting
through social media. The development of educational audio-visual media can be done to

1
BIMKMI Volume 5 No.1 | Januari-Juli 2017
provide comprehensive knowledge related to e-cigarette. Cross-sector cooperation is
needed to maximize education, namely the health sector, IT, and education.
Conclusion: With the collaboration of several sectors in create an interesting audio-
visual educational media is expected to increase awareness and knowledge of the
community and young people in determining attitudes towards the use of vape.
Keywords: E-cigarette, Vape, Media Education, Audio-Visual, Cross Sector

1. PENDAHULUAN meningkat menjadi 36,3% pada tahun


Dewasa ini, rokok masih menjadi 2013. Artinya, jika 20 tahun yang lalu dari
salah satu masalah yang mengundang setiap 3 orang Indonesia 1 orang di
perhatian publik. Kebijakan terkait rokok antaranya adalah perokok, maka
juga sering menimbulkan pro kontra, dewasa ini dari setiap 3 orang Indonesia
seperti nasib RUU Pertembakauan yang 2 orang di antaranya adalah perokok.
masih menimbulkan ketidakpastian. Keadaan ini semakin mengkhawatirkan,
Menurut PP No. 109 Tahun 2012 tentang karena prevalensi perokok perempuan
Pengamanan Bahan yang Mengandung turut meningkat dari 4,2% pada tahun
Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau 1995 menjadi 6,7% pada tahun 2013.
Bagi Kesehatan, rokok merupakan salah Dengan demikian, pada 20 tahun yang
satu produk tembakau yang lalu dari setiap 100 orang perempuan
dimaksudkan untuk dibakar dan dihisap Indonesia 4 orang di antaranya adalah
dan/atau dihirup asapnya, termasuk perokok, maka dewasa ini dari setiap 100
rokok kretek, rokok putih, cerutu, atau orang perempuan Indonesia 7 orang di
bentuk lainnya yang dihasilkan dari antaranya adalah perokok. Lebih
tanaman Nicotiana tabacum, Nicotiana memprihatinkan lagi adalah kebiasaan
rustica, dan spesies lainnya atau buruk merokok juga meningkat pada
sintetisnya yang asapnya mengandung generasi muda. Data Kementerian
nikotin dan tar, dengan atau tanpa bahan Kesehatan menunjukkan bahwa
[8]
tambahan. prevalensi remaja usia 16-19 tahun yang
Rokok yang telah terkenal dengan merokok meningkat 3 kali lipat dari 7,1%
kenikmatannya bagi penikmatnya dan di tahun 1995 menjadi 20,5% pada tahun
kekejiannya bagi penentangnya, memiliki 2014. Dan yang lebih mengejutkan
dampak yang tidak sepele. Menurut adalah usia mulai merokok semakin
Fowles (2000) dalam Sukmaningsih muda (dini). Perokok pemula usia 10-14
(2009), rokok mengandung bahan-bahan tahun meningkat lebih dari 100% dalam
yang bersifat toksik seperti bahan kurun waktu kurang dari 20 tahun, yaitu
karsinogen, tar, nikotin, nitrosamine, dari 8,9% di tahun 1995 menjadi 18% di
[9]
karbonmonoksida, senyawa PAH tahun 2013.
(Polynuclear Aromatic Hydrogen), fenol, Menurut Aditama (1995) dalam
karbonil, klorindioksin, dan furan. Nikotin Nururrahmah (2014), kebiasaan merokok
merupakan senyawa utama rokok yang terbukti merupakan penyebab terhadap
diserap ke dalam sistem peredaran kurang lebih 25 jenis penyakit yang
darah melalui paru yang selanjutnya menyerang berbagai organ tubuh
disirkulasikan ke otak dalam waktu yang manusia. Penyakit-penyakit tersebut
sangat cepat. Nikotin bereaksi langsung antara lain kanker mulut, esophagus,
ke jantung dengan merubah kecepatan faring, laring, paru, pembuluh darah,
[1]
denyut dan tekanan darah. pankreas dan kandung kemih. Hasil
Perokok aktif kian bertambah penelitian di Inggris menunjukkan bahwa
seiring waktu, baik dewasa, remaja kurang lebih 50% para perokok yang
maupun anak-anak, baik laki-laki merokok sejak remaja akan meninggal
maupun perempuan. Saat-saat ini akibat penyakit-penyakit yang
merupakan fase paling memprihatinkan berhubungan dengan kebiasaan
terkait rokok di Indonesia. Hal ini merokok tersebut. Hal ini diperkuat oleh
didukung oleh beberapa data Kompas (2010) di mana lebih dari 60 juta
Kementerian Kesehatan yang penduduk Indonesia mengalami
menunjukkan peningkatan prevalensi ketidakberdayaan akibat dari adiksi
perokok dari 27% pada tahun 1995, nikotin rokok, dan kematian akibat

2
BIMKMI Volume 5 No.1 | Januari-Juli 2017
mengonsumsi rokok tercatat lebih dari kerja sebagai alat pemyemprot dan
[19]
400 ribu orang per-tahun. menguap cairan nikotin dalam cartridge
Data-data tersebut semakin bagi perokok aktif. Rokok elektrik atau
menguatkan posisi Indonesia yang dikenal dengan sebutan (Electronic
berstatus darurat rokok. Menurut The Nicotine Delivery Systems atau E-
rd
Tobacco Atlas 3 edition (2009) terkait Cigarette) adalah alat penguap
persentase penduduk dunia yang bertenaga baterai yang dapat
mengkonsumsi tembakau didapatkan menimbulkan sensasi seperti merokok
sebanyak 57% pada penduduk Asia dan tembakau dengan tambahan berbagai
[2]
Australia, 14% pada penduduk Eropa macam perasa di dalamnya. Vaporizer,
Timur dan pecahan Uni Soviet, 12% Vape pens, hookah pens, electronic
penduduk Amerika, 9% penduduk Eropa cigarette (e-cigs), dan e-xpipa adalah
Barat, dan 8% pada penduduk Timur beberapa dari banyak jenis Electronic
Tengah serta Afrika. Sementara itu Nicotine Delivery Systems (ENDS). Vape
persentase perokok pada penduduk di merupakan sebutan rokok elektrik yang
negara ASEAN tersebar di Indonesia paling dikenal di Indonesia.
(46,16%), Filipina (16,62%, Vietnam Vape adalah alat elektronik yang
(14,11%), Myanmar (8,73%), Thailand mirip seperti rokok yang membawa
(7,74%), Malaysia (2,90%), Kamboja propylene glycol dan/atau glycerol mist
(2,07%), Laos (1,23%), Singapura ke saluran pernafasan saat dihisap
[14]
(0,39%), dan Brunei (0,04%). Bahkan melalui mulut. Kandungan yang terdapat
predikat juara pun dinobatkan kepada dalam vape memiliki kandungan yang
Indonesia. Kenyataan ini tentu mengusik hampir sama dengan rokok konvensional,
pemerintah untuk melakukan aksi dan namun yang membedakannya adalah
perubahan. Terbukti dengan adanya jumlahnya yang lebih sedikit. Kandungan
beberapa kebijakan terkait rokok yang cairan yang digunakan dalam vape
ditetapkan oleh pemerintah, seperti umumnya terdiri dari propilen glikol,
kawasan tanpa rokok, pelarangan gliserol, air suling, perasa/penyedap
reklame rokok, penambahan gambar (untuk mensimulasikan rasa tembakau),
[3]
pada kemasan rokok, dan isu kenaikan dan nikotin. Namun bedanya dengan
harga rokok hingga 50.000. rokok konvensional, vape tidak
Metode Nicotine Replacement mengandung tar berbahaya dan zat aditif
Therapy merupakan terapi untuk kimia beracun.
membantu perokok aktif berhenti Vape terdiri dari bagian baterai,
merokok. Metode ini juga didukung oleh cartridge (tempat cairan), dan atomizer
WHO yang turut berperan dalam untuk menyemprotkan cairan dengan
mendorong masyarakat berhenti menerapkan energi dan menghasilkan
merokok terbukti dengan ditempatkannya panas sehingga membentuk uap air. Di
beberapa macam NRT pada daftar obat- awal kemunculannya, e-cigarette muncul
obatan esensial WHO. Salah satunya sebagai solusi yang paling menjanjikan
yang berkembang dengan cepat di untuk Tobacco Harm Reduction (THR).
seluruh dunia adalah rokok elektrik (e- Produk Tobacco Harm Reduction ini juga
cigarette). Rokok elektrik diciptakan oleh memberikan kebebasan untuk
salah satu perusahaan di Cina pada konsumennya dalam menentukan
tahun 2003 dan dengan cepat menyebar konsentrasi/kadar nikotin dan pilihan rasa
ke seluruh dunia dengan berbagai nama yang beragam. Cara kerjanya yaitu
dagang seperti NJOY, Epuffer, blu cig, dimulai dari pengguna menarik udara
green smoke, smoking everywhere, dan melalui vape, sensor mendeteksi aliran
[11] [20]
lain-lain. udara dan memanaskan cairan dalam
Menurut Tjandra Yoga Aditama, cartridge, yang kemudian menguapkan
Kepala Badan Penelitian dan cairan dalam cartridge. Aerosol yang
Pengembangan Kesehatan memberikan nikotin untuk pengguna
(Balitbangkes) Kementerian Kesehatan, vape, dan bagian lain dari aerosol vape
peran rokok elektrik pada awalnya dilepaskan ke udara bebas ketika
[3]
sebagai alternatif yang aman pengganti pengguna bernapas.
rokok konvensional dengan mekanisme

3
BIMKMI Volume 5 No.1 | Januari-Juli 2017
Dalam perjalanannya, e-cigarette sempurna akan rokok elektrik akan
diklaim lebih aman dari rokok menimbulkan ketidaktahuan bahaya
konvensional. Namun, masih banyak rokok elektrik dan penggunaannya.
pertanyaan mengenai tingkat keamanan, Fenomena tersebut tidak hanya terjadi di
efek terhadap pengurangan bahaya dan negara maju, tetapi juga di negara
pemberhentian merokok, dan dampak berkembang seperti Indonesia. Peran e-
total terhadap kesehatan masyarakat dari cigarette yang awalnya merupakan
penggunan e-cigarette tersebut. upaya pengobatan berbelok arah
Walaupun belum ada bukti yang cukup menjadi gaya hidup (lifestyle) masa kini.
dalam mengetahui keefektifan Ditandai juga dengan menjamurnya toko-
penggunaan vape untuk menghentikan toko yang menjual vape dan beragam
perilaku merokok, peminat e-cigarette perlengkapannya.
[3]
justru semakin meningkat. Peminatnya Produsen yang melacak hal ini
tidak hanya orang dewasa, namun anak makin melebarkan sayapnya utk
remaja pun sudah mulai menggemari mendapat keuntungan. Produsen e-
rokok elektrik ini. cigarette mengklaim e-cigarette lebih
Menurut sebuah survei di AS pada aman dibandingkan rokok
[4]
lebih dari 10.000 orang dewasa konvensional. Perusahaan e-cigarette
menunjukkan bahwa pengguna e- telah berkembang pesat dengan
cigarette meningkat hingga hampir empat menggunakan pesan pemasaran yang
kali lipat yaitu dari 0,6% (2009) menjadi agresif yang mirip dengan yang
2,7% (2010) diantara perokok aktif. digunakan untuk mempromosikan rokok
Sementara di Inggris juga mengalami pada 1950-an dan 1960-an. Iklan e-
peningkatan dari 2,7% (2010) menjadi cigarette ada di televisi dan radio di
[3]
6,7% (2012). Hal ini diperkuat juga banyak negara yang telah lama melarang
dengan laporan dari penelitian CDC pada iklan serupa untuk rokok dan produk
tahun 2013 mengenai penggunaan e- tembakau lainnya dan mungkin secara
cigarette pada remaja yaitu pada tahun tidak langsung mempromosikan merokok
[3]
2012 menunjukkan bahwa pengguna dengan rokok konvensional.
rokok elektrik usia remaja meningkat dua Masuk akal untuk mengasumsikan
kali lipat dihitung sejak tahun 2011 dan bahwa, jika perokok yang ada beralih
penting untuk diketahui bahwa 75% dari sepenuhnya dari rokok konvensional
remaja yang menjadi responden (tanpa perubahan lain dalam pola
merupakan perokok aktif. penggunaan) ke e-cigarette, akan ada
Berdasarkan penelitian Bam dkk beban penyakit yang lebih rendah
(2014) dalam Damayanti (2016), pada disebabkan oleh kecanduan nikotin.
tahun 2010, kesadaran terhadap Namun, bukti yang ada saat ini meskipun
keberadaan rokok elektrik di Indonesia terbatas menunjukkan tingginya tingkat
mencapai 10,9% di mana laki-laki lebih penggunaan ganda e-cigarette dengan
banyak mendengar tentang rokok elektrik rokok konvensional sehingga manfaat
yaitu 16,8% dibandingkan dengan penghentian merokok konvensional tidak
perempuan yaitu 5,1%, sedangkan terbukti dengan penggunaan e-cigarette.
berdasarkan usia kesadaran tentang Selain itu, tingginya tingkat penggunaan
keberadaan rokok elektrik pada usia 15- ganda dapat mengakibatkan total beban
24 tahun lebih besar yaitu 14,4% kesehatan masyarakat yang lebih besar
dibandingkan dengan pada usia 25-44 dan mungkin meningkatkan risiko
tahun yaitu 12,4%. Berdasarkan individu jika perokok mempertahankan
pengguna rokok elektrik di Indonesia bahkan meningkatkan level kecanduan
yaitu di antara pengguna baru dan rokok tembakau selama bertahun-tahun
[3]
mantan perokok pada tahun 2010-2011 dan bukannya berhenti.
[15]
mencapai 0,5%. Berdasarkan data- Penggunaan ganda terjadi akibat
data tersebut, terbukti banyak konsumen dari penurunan kadar nikotin yang
baik orang dewasa maupun remaja yang dirasakan ketika mengunakan e-cigarette
mulai beralih menggunakan rokok menyebabkan pengguna juga
elektrik, namun peralihan yang tidak mengonsumsi rokok konvensional
diikuti dengan pengetahuan yang (tembakau) sebagai kompensasi

4
BIMKMI Volume 5 No.1 | Januari-Juli 2017
kebutuhan nikotin yang tak terpenuhi kesehatan, antara lain terjadinya efek
sehingga tetap terpajan oleh zat toksik buruk terhadap tubuh yaitu adrenalin
dan karsinogen yang berbahaya dari meningkat, tekanan darah meningkat,
[12]
rokok tembakau. Leventhal dkk dalam dan adiksi akibat adanya kandungan
[6]
Journal of the American Medical nikotin.
Association mensurvei lebih dari 2.000 Peredaran rokok elektrik yang
pelajar SMP di wilayah Los Angeles yang belum terstandarisasi dapat
sebagian besar berusia sekitar 14 tahun. menimbulkan kerugian bagi konsumen.
Tidak ada seorangpun yang pernah Konsumen yang menderita kerugian
menghisap rokok, namun ada beberapa akibat mengkonsumsi rokok elektrik yang
yang pernah mencoba e-cigarette. Hasil belum memiliki standarisasi memiliki hak
yang didapatkan 10 bulan kemudian untuk meminta pertanggung jawaban
adalah para remaja yang menggunakan kepada pelaku usaha yang menjual dan
e-cigarette, empat kali lebih mungkin memasarkan produk rokok elektrik
[5]
mulai merokok konvensional (tembakau) tersebut. Beberapa penelitian
dibanding remaja yang tidak menemukan bahwa rokok elektrik dapat
[13]
menggunakan e-cigarette. mengancam kesehatan, seperti yang
E-cigarette juga memiliki beberapa telah dikemukakan oleh Norman
kelebihan bagi penggunanya yaitu Edelman, kepala medis dari American
memiliki efek yang bermanfaat bagi Lung Association mengatakan bahwa
kesehatan seperti meningkatkan rokok elektrik berstatus lebih aman
toleransi latihan dan sedikit menimbulkan belum cukup valid karena efek jangka
batuk, tidak menimbulkan bau rokok/bau panjang rokok elektrik belum diuji secara
nafas dan lebih tidak toksik daripada klinis. Kemudian terkait efek samping
rokok konvensional. Namun tidak rokok elektrik, FDA (Food and Drug
sepadan dengan efek negatifnya yang Administration) di Amerika Serikat sudah
lebih banyak, pada perokok konvensional merilis data dari 18 penelitian mengenai
yg beralih ke e-cigarette akan rokok jenis ini. Nikotin cair sintesis yang
menimbulkan sensasi di tenggorokan terkandung di dalamnya ternyata bisa
yang mirip dengan merokok membuat paru-paru teriritasi. Saat rokok
konvensional dan penggunaannya mirip dihisap, cairan ini akan berubah menjadi
dengan merokok pada umumnya carbonyl yang mengakibatkan kanker.
sehingga tidak dapat mempermudah Nikotin cair sintesis dalam rokok jenis ini
pemberhentian merokok konvensional. juga mengandung perasa buatan dan
Pada beberapa orang yang sensitif pengawet makanan. Bahan-bahan ini
terhadap propylene glycol akan aman bila dikonsumsi secara biasa, tapi
merasakan mulut dan tenggorokan lain soal bila diisap. Begitu pula di
kering, beberapa rasa memiliki bau yang Indonesia, Badan Pengawasan Obat dan
menetap, pada beberapa produk Makanan (BPOM) telah memperingatkan
terdapat sisa kontaminan dan logam masyarakat bahwa rokok elektrik yang
sehingga cukup berbahaya, puffing beredar di pasaran adalah produk ilegal
technique yang memerlukan latihan, dan dan belum terbukti keamanannya.
tidak semua orang mengurangi konsumsi Menurut BPOM, rokok elektrik
rokok konvensional walaupun tujuan mengandung nikotin cair dan bahan
awal e-cigarette adalah untuk menekan pelarut propilen glikol, dieter glikol, dan
[3]
konsumsi rokok kovensional. gliserin. Jika semua bahan itu
Tjandra juga mengatakan bahwa dipanaskan akan menghasilkan senyawa
yang lebih menghawatirkan adalah e- nitrosamine. Senyawa tersebut dapat
cigarette dianggap lebih aman (illusive menyebabkan kanker.
safety) dibandingkan rokok oleh Penelitian lainnya oleh Vardavas
konsumen karena tidak menghasilkan dkk dalam Tanuwihardja (2012)
'asap' yang merupakan akibat dibakarnya memaparkan efek akut e-cigarette pada
tembakau atau rokok, di mana uap airnya paru menunjukkan bahwa setelah
ternyata berbahaya juga. Dalam penggunaan lebih dari lima menit, kadar
penggunaan jangka panjang, e-cigarette Nitrit Oksida udara ekshalasi menurun
bisa menyebabkan bahaya bagi secara signifikan dan tahanan jalan

5
BIMKMI Volume 5 No.1 | Januari-Juli 2017
napas meningkat signifikan, efek tersebut Salah satu pengembangan media
merupakan respon yang sama seperti edukasi berbasis audio visual merupakan
[10]
pada penggunaan rokok tembakau. bentuk edukasi yang menarik dan
Meski sudah terbukti berbahaya bagi memiliki keefektivitasan yang baik. Media
kesehatan, pihak produsen yang ini merupakan kombinasi dari media
memproduksi rokok elekrik tersebut tetap audio dan media visual atau biasa
menyatakan bahwa produknya aman disebut media pandang-dengar.
untuk dikonsumsi dan konsumen hampir Kelebihan media audio visual adalah
tidak pernah memperdulikan bahaya dapat mencakup dari semua aspek
yang terkandung dalam rokok elektrik indera penglihatan, indera pendengar,
tersebut. Hal-hal seperti ini dapat dan juga indera peraba, sehingga
menyebabkan kerugian bagi kemampuan dari seluruh indera pada
[7]
konsumen. remaja dapat lebh terasah dengan baik
karena dijalankan secara bersamaan dan
2. HASIL seimbang.
Melihat kerugian yang dapat Menurut R.Benschofer, pelajaran
ditimbulkan oleh penggunaan e-cigarette, yang bisa diingat lewat media pandang
diperlukan adanya controller dalam dengar ini, setelah 3 hari, bisa 65%.
penggunaan e-cigarette ini sendiri. Sedangkan lewat media dengar saja
Controller dalam makna pengontrol atau 10% dan level media pandang saja 20%.
pengawas dapat diwujudkan melalui Lembaga Riset dan Penerbitan Komputer
edukasi. Edukasi sangat diperlukan yaitu Computer Technology Research
sebagai upaya promotif, preventif dan (CTR) menyatakan bahwa orang hanya
adanya ketidaksempurnaan pengetahuan mampu mengingat 20% dari yang dilihat,
yang dimiliki akan memperparah dan 30% dari yang didengar. Tetapi
kerugian atau bahaya. Edukasi orang dapat mengingat 50% dari yang
bertemakan e-cigarette yang dikemas dilihat dan didengar dan 80% dari yang
dengan baik tentu dapat menarik dilihat, didengar, dan dilakukan sekaligus.
khalayak khususnya remaja untuk Temuan penelitian lainnya menunjukkan
menyimak dan memperhatikan sehingga bahwa pengetahuan yang dapat diingat
informasi yang dimiliki akan lebih seseorang antara lain bergantung
komprehensif dan niscaya dapat kepada, melalui indera apa ia
mendorong remaja bersikap bijak dalam memperoleh pengetahuannya.Hubungan
mengambil keputusan terkait keberadaan jumlah pengetahuan dengan jenis
dan pemakaian vape. Remaja adalah rangsangan dapat dilihat sebagai berikut:

Gambar 1. Hubungan Jumlah Pengetahuan dengan Jenis Rangsangan


sasaran yang paling diutamakan karena Berdasarkan penelitian-penelitian
posisi remaja yang berada dalam masa tersebut, media edukasi berbasis audio-
labil dan suka mencoba-coba. Disamping visual dapat digunakan untuk
itu, jumlah remaja pengguna e-cigarette meningkatkan pengetahuan secara
yang meningkat juga menjadi salah satu efektif. Media audio-visual berupa video
penyebab sasaran utama edukasi adalah yang berisikan informasi mengenai e-
[15][20]
para remaja. cigarette merupakan salah satu cara

6
BIMKMI Volume 5 No.1 | Januari-Juli 2017
peningkatan pengetahuan remaja. cigarette, bidang TI yang berperan dalam
Edukasi dilakukan melalui media sosial pembuatan media audio-visual yang
yang merupakan kegemaran untuk menarik dan keterkaitannya dengan
menghabiskan waktu luang oleh remaja diseminasi melalui media sosial, dan
era sekarang. Media sosial yang menjadi bidang pendidikan yang berperan dalam
sasaran seperti facebook, twitter, menentukan batasan-batasan informasi
youtube, Instagram, line, dan media sesuai kapasitas yang dapat diserap oleh
sosial lainnya. remaja ataupun dewasa dan metode
Berdasarkan penelitian Pew penyampaian kepada anak didik remaja.
Internet, 73% remaja Amerika Dengan adanya kolaborasi lintas sektor
menggunakan situs media sosial pada tersebut, edukasi yang diciptakan akan
tahun 2010. Angka tersebut mengalami lebih efektif dan efisien untuk mencapai
kenaikan yang signifikan dari 2 tahun tujuan.
sebelumnya yaitu 65% pada tahun 2008. Konten informasi yang diberikan
Dalam penelitian ini juga didapatkan pada MEAL antara lain definisi e-
bahwa pada tahun 2010, 31% remaja ciggarette serta gambaran tentang
usia 12-17 di Amerika menggunakan bahaya dan dampak dari e-ciggarette
media sosial untuk mendapatkan yang masuk ke dalam tubuh manusia.
informasi kesehatan dan kebugaran fisik, Desain video edukasi berupa informasi
dan 17% diantaranya menggunakan singkat dengan durasi 1-5 menit dan
media sosial untuk mengumpulkan video satu sama lain saling berkaitan.
informasi tentang topik kesehatan yang Video yang singkat dan dilengkapi
sulit untuk mendiskusikannya dengan dengan musik yang sesuai dapat
orang lain seperti pengguna narkoba dan menarik minat remaja untuk menonton.
[16]
topik kesehatan seksual. Dengan MEAL bertujuan untuk mencerdaskan
kondisi seperti itu, tentu edukasi melalui masyarakat khususnya remaja tentang
media sosial harus dilakukan dengan bahaya penggunaan vape. MEAL dapat
benar dan tepat untuk mencegah diakses melalui media sosial dan
terjadinya kesalahpahaman dan didistribusikan ke sekolah-sekolah
miskomunikasi pada remaja. dimana akan menyasar kepada
Berdasarkan data Kementerian Kelompok Siswa Peduli AIDS dan
Komunikasi dan Informatika pada tahun Narkoba (KSPAN), Palang Merah
2013, 63 juta atau lebih dari seperlima Remaja (PMR), dan Unit Kesehatan
jumlah penduduk Indonesia merupakan Sekolah (UKS), serta LSM yang fokus
[17]
pengguna internet. Hasil penelitian terhadap remaja dan bahaya tembakau.
[21]
Socialbakers (2012) dalam Destiana
(2013) menyatakan bahwa Indonesia
menduduki nomor empat sebagai negara 3. KESIMPULAN
pengguna Facebook terbesar di dunia Dengan adanya paparan MEAL e-
dengan jumlah pengguna 49.948.800 cigarette melalui media sosial dan
dan Facebook menjadi media sosial kolaborasi beberapa sektor dalam
nomor satu di Indonesia. Pengguna menciptakan media edukasi audio-visual
Facebook di Indonesia didominasi oleh yang menarik diharapkan dapat
kalangan generasi muda berusia 18-24 meningkatkan kewaspadaan dan
tahun sebanyak 21.477.984 pengguna pengetahuan remaja akan keberadaaan
[18]
dan diikuti oleh usia 25-34 tahun. e-cigarette yang perlahan mulai
Agar terciptanya edukasi yang mengancam generasi muda Indonesia.
tepat dan efektif, dalam proses Sehingga babak baru ancaman lingkaran
pembuatan media memerlukan nikotin dapat dihentikan seiring tingkat
kolaborasi lintas sektor antara bidang pengetahuan remaja yang semakin
kesehatan, bidang TI (Teknologi meningkat dalam menentukan sikap
Informasi), dan bidang pendidikan. terhadap keberadaan dan penggunaan
Masing-masing bidang memiliki peran e-cigarette.
penting dalam menciptakan edukasi ini. Diharapkan penelitian selanjutnya
Bidang kesehatan yang berperan dalam dapat mengembangkan desain video dan
menentukan konten video terkait e- memperluas sasarannya. Penelitian ini

7
BIMKMI Volume 5 No.1 | Januari-Juli 2017
baik untuk kedepannya jika November 2016.
diintegrasikan dengan Dinas Kesehatan <http://www.depkes.go.id/>.
dan Bidang Pendidikan. 10. Tanuwihardja RK, Susanto AD.
“Rokok Elektronik (Electronic
DAFTAR PUSTAKA Cigarette).” Jurnal Respirologi
1. Sukmaningsih AA. “Penurunan Indonesia. 32:1(2012):57-59.
Jumlah Spermatosit Pakiten dan 11. Yamin CK, Bitton A, dan Bates DW.
Spermatid Tubulus Seminiferus “E-cigarettes: A Rapidly Growing
Testis pada Mencit (Mus muculus) Internet Phenomenon.” Annals of
yang Dipaparkan Asap Rokok.” Internal Medicine. 153:9(2010):607-
Jurnal Biologi. 12:2(2009):13 609.
2. Gisthiandari D, Sulistyowati E. 12. Strasser AA, et al. “New Lower
“Perlindungan Hukum Terhadap Nicotine Cigarettes Can Produce
Konsumen Atas Rokok Elektrik.” Compensatory Smoking and
Jurnal Mahasiswa Teknologi Increased Carbon Monoxide
Pendidikan. 1:1(2016). Exposure.” Drug and Alcohol
3. Prakoso Td. “Is It Safe To E- Dependence. 86:2(2007):294-300.
Cigarette Smoking As Alternative 13. “Studi: Remaja Pengguna Rokok
Smoking?.” Majority. 4:5(2015). Elektronik, Cenderung untuk
4. Nofandri G. “Perancangan Iklan Merokok”. VOA Indonesia. 2015. 8
Layanan Masyarakat Tentang November 2016.
Bahaya E-Cigarette Bagi Kesehatan <http://www.voaindonesia.com/a/stud
Untuk Pelajar SMA.” Skripsi Jurusan i-remaja-pengguna-rokok-elektronik-
Seni dan Desain Fakultas Sastra cenderung-akan-
UM. (2016). 6 November 2016 < merokok/2930149.html>
http://karya-ilmiah.um.ac.id/> 14. “Hari Tanpa Tembakau Sedunia.”
5. Chrismanto R. “Perlindungan Hukum 2015. Kementerian Kesehatan RI. 8
Terhadap Konsumen Rokok Elektrik November 2016.
Yang Mengandung Zat Adiktif Yang <http://www.depkes.go.id/resources/
Belum Terstandarisasi Berdasarkan download/pusdatin/infodatin/infodatin
Uu Perlindungan Konsumen Dan Uu -hari-tanpa-tembakau-sedunia.pdf>
Kesehatan.” Skripsi Universitas 15. Damayanti, A. “Electronic Cigarette
Padjajaran. (2016). 6 November dan Faktor Yang Berpengaruh
2016 Terhadap Penggunaannya.” Jurnal
<http://repository.unpad.ac.id/21301/ Berkala Epidemiologi. 4:2(2017):250-
> 261.
6. “Menyingkap Fakta Keamanan 16. Lenhart A, et al. “Social Media and
Rokok Elektrik.” 2014. CNN Young Adults.” Pew Internet and
Indonesia. 15 November 2016. American Life Project. (2010). 7
<Http://www.cnnindonesia.com/Gaya November 2016
-Hidup/20141105132553-255- <https://eric.ed.gov/?id=ED525056>
9816/Menyingkap-Fakta-Keamanan- 17. “Pengguna Internet di Indonesia 63
Rokok-Elektrik/> Juta Orang”. 2013. Kementerian
7. Nurcahya G, Ariana P. “Perlindungan Kominfo. 23 Februari 2017.
Hukum Terhadap Konsumen Di <https://kominfo.go.id/>
Indonesia Terkait Bahaya Konsumsi 18. Destiana I, Salman A, dan Rahim
Rokok Elektrik.” Kertha Semaya. MH. “Penerimaan Media Sosial:
2016;4(04). Kajian dalam Kalangan Pelajar
8. Pemerintah Republik Indonesia. Universiti di Palembang.” Jurnal
Pengamanan Bahan Yang Komunikasi Malaysian Journal of
Mengandung Zat Adiktif Berupa Communication. 29:2(2013):125-140.
Produk Tembakau Bagi Kesehatan. 19. Hammado, N. “Pengaruh Rokok
PP No. 109 Tahun 2012. 2012. Terhadap Kesehatan dan
9. “Htts 2016: Suarakan Kebenaran, Pembentukan Karakter Manusia.”
Jangan Bunuh Dirimu Dengan Candu Prosiding Seminar Nasional UNCP.
Rokok.” Kemenkes RI. 2016. 15 1:1(2014):77-84

8
BIMKMI Volume 5 No.1 | Januari-Juli 2017
20. Pemkab Kulon Progo DIY. 21. Laksono AD, Yulian F.
Membangun Kesadaran Remaja “Pembelajaran Bahaya Merokok
Berperilaku Sehat. Oleh Fajar Berbasis Multimedia”. Jurnal
Uswatun. 2011. 1 Mei 2017 Mahasiswa Universitas
<http://www.kulonprogokab.go.id/v21 Muhammadyah Sidoarjo. (2015). 1
/files/MEMBANGUN-KESADARAN- Mei 2017
REMAJA.pdf> <http://s3.amazonaws.com/academia
.edu.documents/

9
BIMKMI Volume 5 No.1 | Januari-Juli 2017
PMT: CUKUPKAH MENYELESAIKAN
Artikel MASALAH GIZI BANGSA?

Penyegar Rahma Ismayanti


1

1
Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu
Keolahragaan, Universitas Negeri Malang

1. PENDAHULUAN 2. PEMBAHASAN
Status gizi yang baik merupakan Pada tahun 2015-2019, ditargetkan
salah satu faktor penentu keberhasilan sebanyak 90% balita dengan status gizi
[2]
pembangunan kesehatan yang pada kurus mendapatkan PMT, namun
dasarnya adalah bagian yang tak hingga pada tahun 2016, persentase
terpisahkan dari pembangunan nasional balita kurus yang mendapat PMT masih
[1]
secara keseluruhan. Indonesia hari ini sebesar 62,8%, artinya hal ini masih
masih memiliki beban gizi sebagai menjadi tugas bagi pemerintah dalam
masalah kesehatan masyarakat utama pengadaan dan pendistribusian PMT
yang perlu diselesaikan. Data surveilans hingga sampai ke meja makan keluarga
gizi atau pemantauan status gizi (PSG) balita kurus di Indonesia.
Indonesia tahun 2016 menyebutkan Program PMT dianggap menjadi
bahwasanya persentase balita kurus di intervensi yang tepat bagi percepatan
Indonesia sebesar 11,1%, angka perbaikan gizi yang berfokus pada 1.000
tersebut mengindikasikan bahwa hari pertama kehidupan (HPK), seperti
Indonesia termasuk negara dengan yang telah diamanatkan dalam Peraturan
[1]
kategori masalah gizi akut (>5%). Presiden Nomor 42 Tahun 2013 tentang
Pemerintah terus berupaya Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan
[3]
meningkatkan status gizi masyarakat, Gizi yang berfokus pada 1000 HPK.
sehingga hal ini menjadi fokus dalam PMT yang dihasilkan adalah berupa
Rencana Pembangunan Jangka makanan tambahan pabrikan, yang lebih
Menengah Nasional (RPJMN) bidang praktis dan lebih terjamin komposisi zat
Kesehatan tahun 2015-2019, yang gizinya, sehingga diharapkan dapat
[4]
beberapa targetnya meliputi peningkatan meningkatkan status gizi balita kurus.
status gizi balita, diantaranya adalah: Program PMT di Indonesia telah berjalan
1. Menurunnya bayi dengan berat sejak tahun 1997, namun permasalahan
badan lahir rendah (BBLR) (8%) gizi bangsa belum kunjung berakhir, hal
2. Menurunnya prevalensi kekurangan ini mengindikasikan bahwa manajemen
gizi (underweight) pada anak balita pelaksanaan program PMT masih perlu
(17%) ditingkatkan lagi. Untuk itu, kementerian
3. Menurunnya prevalensi stunting kesehatan sejak tahun 2016 telah
(pendek dan sangat pendek) anak menginisiasi langkah monitoring dan
baduta (28%) evaluasi (monev) untuk memantau
4. Prevalensi wasting (kurus dan keberlangsungan program PMT di 34
[2]
sangat kurus) anak balita (9,5%). provinsi di seluruh Indonesia. Dengan
Menyikapi hal tersebut, direktorat Gizi monev ini diharapkan pemerintah dapat
Masyarakat, Kemenkes RI sebagai garda melihat lebih detil terkait capaian
terdepan pembangunan gizi masyarakat program PMT di lapangan serta hal-hal
Indonesia memiliki rencana kerja dalam yang menjadi problem di daerah,
rangka memperbaiki status gizi balita, sehingga dapat mengembangkan sistem
yakni dengan memberikan makanan manajemen PMT menjadi lebih baik
tambahan (PMT) bagi balita kurus di
Indonesia

10
BIMKMI Volume 5 No.1 | Januari-Juli 2017
3. PENUTUP Dengan menciptakan kolaborasi yang
Sampai saat ini, kita menyadari baik antara gerakan pemerintah dan
bahwasanya masalah gizi kurang adalah keluarga, maka kita semua turut ikut
masalah yang multifaktorial. Berbagai serta dalam pembangunan gizi menuju
upaya yang dilakukan pemerintah dalam bangsa sehat yang berprestasi.
peningkatan status gizi seperti yang
dilakukan dengan menggunakan DAFTAR PUSTAKA
program PMT ini, tidak akan kunjung 1. Kementerian Kesehatan RI. Buku
berhasil ketika tidak ada dukungan Saku Pemantauan Status Gizi
keluarga didalamnya. Keluarga menjadi Tahun 2016. Jakarta: Direktorat Gizi
kelompok intervensi yang sangat Masyarakat, 2017.
berpengaruh dalam peningkatan status 2. Kementerian Kesehatan RI.
gizi balita, dengan menerapkan gerakan Rencana Pembangunan Jangka
masyarakat hidup sehat (germas) Menengah Nasional Bidang
dengan pendekatan keluarga (DPK) Kesehatan. Jakarta: Kementerian
diharapkan anggota keluarga dapat Kesehatan RI, 2015.
berperan aktif dalam upaya hidup sehat. 3. Peraturan Presiden Nomor 42
Germas DPK dalam rangka Tahun 2013 tentang Gerakan
peningkatan status gizi keluarga dapat Nasional Percepatan Perbaikan
dilakukan dengan cara: Gizi. Jakarta, 2013.
1. Keluarga mengikuti program KB 4. Peraturan Menteri Kesehatan
2. Ibu bersalin di fasilitas kesehatan Nomor 51 Tahun 2016 tentang
3. Bayi mendapatkan imunisasi dasar Standar Produk Suplementasi Gizi.
lengkap 5. Kementerian Kesehatan RI.
4. Bayi diberi ASI eksklusif selama 6 Indikator Keluarga Sehat. Jakarta:
bulan Kementerian Kesehatan RI, 2002
5. Pemantauan pertumbuhan balita
[5]
setiap bulan.

11
BIMKMI Volume 5 No.1 | Januari-Juli 2017
PROGRAM DESA BINAAN BERBASIS
Tinjauan INTERPROFESSIONAL EDUCATION
DAN TRANSPROFESSIONAL
Pustaka EDUCATION SEBAGAI UPAYA
DALAM MENGENTASKAN MASALAH
GIZI IBU DAN ANAK DI INDONESIA*
Arya Krisna Manggala,1 Tjokorda Istri Pramitasuri1
1
Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran
Universitas Udayana, Denpasar
st
*telah dipresentasikan secara oral pada call for paper 1
Indonesian Youth Conference on Sustainable Development,
Universitas Gadjah Mada, 29 September 2015

ABSTRAK
Pendahuluan: Masalah gizi ibu dan anak di Indonesia memerlukan perhatian dari semua
sektor dalam rangka mencapai tujuan pembangunan kesehatan nasional dan
Sustainable Development Goals. Maka, diperlukan suatu program yang dapat
memfasilitasi pencapaian visi pembangunan kesehatan nasional yang ditunjang dengan
kolaborasi antara stakeholder dan sektor terkait, yakni melalui implementasi
pembelajaran berbasis Interprofessional Education (IPE) dan Transprofessional
Education (TPE) pada mahasiswa kesehatan dalam jenjang akademik.
Pembahasan: Program Desa Binaan berbasis IPE dan TPE disesuaikan dari Model
Konseptual Pendidikan Interdisiplin dalam Kolaborasi Pelayanan Kesehatan Terpusat
Pasien milik D’Amour and Oandasan yang terdiri dari tiga tingkatan, yaitu tingkat makro,
meso, dan mikro. Manfaat yang akan didapat tidak hanya terbatas pada sektor
kesehatan, namun juga berdampak positif pada pembangunan nasional secara
keseluruhan.
Kesimpulan: Program Desa Binaan berbasis IPE dan TPE bersifat solutif, komprehensif,
terintegrasi dan berkesinambungan sehingga efektif untuk digunakan dalam
mengentaskan masalah gizi ibu dan anak di Indonesia.
Kata kunci: Desa Binaan, Interprofessional Education, Transprofessional Education

ABSTRACT
Introduction: Maternal and children nutritional problems need to be considered by all
sectors, in order to achieve and accelerate the health and sustainable development goals.
Thus, a program that can help to reach the vision of national health development by
collaborating stakeholders and other sectors, is actually needed, such as the
implementation of Interprofessional Education (IPE) and Transprofessional Education
(TPE) learning model among medical and health allied students within the academic
setting.
Discussion: The program entitled IPE and TPE-based Desa Binaan has been designed
with preference from Interprofessional Education for Collaborative Patient-Centred
Practice Model by D’Amour and Oandasan that consist of three levels: macro, meso, and
micro. The benefits will be gained are not only limited to health sector, but also positively
associated with national health development goals in general.
Conclusion: IPE and TPE-based Desa Binaan Programme is a solutive, comprehensive,
integrated and continuous program, thus, it considered to be an effective way to eradicate
maternal and children nutritional problems in Indonesia.
Keywords: Desa Binaan, Interprofessional Education, Transprofessional Education

12

BIMKMI Volume 5 No.1 | Januari-Juli 2017


1. PENDAHULUAN
Sejauh ini, Indonesia telah meraih bahwa keberhasilan pembangunan
sejumlah kemajuan dalam perbaikan gizi kesehatan sangat ditentukan oleh
masyarakat, namun masih ada kesinambungan antar program dan
tantangan yang harus dihadapi yaitu sektor, maka diperlukan suatu program
masalah gizi ibu dan anak. Hasil Riset yang dapat memfasilitasi pencapaian
Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun visi pembangunan kesehatan nasional
2013 melaporkan bahwa prevalensi yang ditunjang dengan kolaborasi antara
berat-kurang (underweight) adalah stakeholder dan sektor terkait dalam
sebesar 19,6%, terdiri dari 5,7% gizi rangka mencapai solusi permasalahan
[5]
buruk dan 13,9% gizi kurang. Prevalensi KIA di Indonesia.
ini meningkat dari tahun sebelumnya, Salah satu sektor yang
yaitu 18,4% pada tahun 2007 dan memegang peranan vital dalam
17,9% pada tahun 2010. Selain itu, peningkatan kualitas sumber daya
prevalensi balita pendek (stunting) pada manusia Indonesia adalah perguruan
tahun 2013 naik menjadi 37,2% dari tinggi dimana setiap perguruan tinggi
[1]
tahun-tahun sebelumnya. Riskesdas harus menjalankan kewajiban dasar
tahun 2010 menemukan bahwa terdapat sebagai institusi pendidikan, yaitu
21,5% balita usia 2-4 tahun berupa pendidikan, penelitian, dan
[6]
mengonsumsi energi di bawah pengabdian kepada masyarakat. Poin
kebutuhan minimal (<70% angka terakhir yaitu pengabdian masyarakat
kecukupan gizi) dan 16% mengonsumsi menjadi dasar utama bagi mahasiswa
protein di bawah kebutuhan minimal untuk terjun langsung ke masyarakat
(<80% angka kecukupan gizi). Padahal, dalam membantu segala permasalahan
gizi yang adekuat sangat diperlukan yang dihadapi oleh masyarakat. Salah
untuk tumbuh kembang anak. Menurut satu langkah nyatanya adalah melalui
sebuah studi, kejadian cacat bawaan program Desa Binaan.
fisik terjadi pada 1,32 per 1.000 Desa Binaan adalah program
kelahiran, salah satunya karena kerja yang dilakukan oleh lembaga
kekurangan konsumsi asam folat oleh mahasiswa, baik tingkat fakultas
[2]
ibu hamil. maupun universitas dan dikoordinasikan
Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), secara bersama-sama dengan para
terutama masalah gizi, merupakan salah stakeholder terkait. Sejalan dengan
satu prioritas yang harus diperbaiki oleh upaya penanggulangan masalah gizi ibu
sektor terkait. Apalagi, persentase anak dan anak di pedesaan, program kerja
balita yang berstatus gizi kurang dan Desa Binaan dalam bidang kesehatan
buruk di daerah pedesaan lebih tinggi adalah upaya yang sangat strategis
dibandingkan daerah perkotaan untuk dilaksanakan sehingga diperlukan
disebabkan oleh kurangnya aksesibilitas suatu metode yang solutif, komprehensif
terhadap penyedia layanan kesehatan dan terintegrasi untuk dikombinasikan
[3]
dan kurangnya pengetahuan. dengan program Desa Binaan dalam
Pemerintah melalui Peraturan Presiden bidang kesehatan. Dalam hal ini,
Nomor 2 Tahun 2015 telah menyusun metode komunikasi dan kerjasama antar
Rencana Pembangunan Jangka bidang ilmu sangat direkomendasikan.
Menengah Nasional (RPJMN) 2015- Pada tahun 2010, World Health
2019 sebagai pedoman Organization (WHO) memperkenalkan
penyelenggaraan upaya pembangunan metode yang dinamakan
kesehatan nasional dalam rangka Interprofessional Education (IPE) dan
mencapai Sustainable Development Transprofessional Education (TPE). IPE
Goals, dimana KIA menjadi salah satu adalah suatu praktik yang terjadi apabila
[4]
sasaran pokok yang ingin dicapai. murid dari dua atau lebih program studi
Berkaitan dengan hal tersebut, dari rumpun ilmu kesehatan saling
meningkatnya akses dan pelayanan belajar secara kolaboratif untuk
mutu pelayanan kesehatan di daerah mengembangkan tujuan yang efektif
terpencil juga menjadi bahasan pokok dalam mengoptimalkan derajat
dalam RPJMN 2015-2019. Mengingat kesehatan masyarakat melalui

13

BIMKMI Volume 5 No.1 | Januari-Juli 2017


pendekatan yang komprehensif. Dalam program Desa Binaan merupakan suatu
praktiknya, kapabilitas anggota tim langkah konkrit yang berlandaskan Tri
dalam IPE diasah mengenai teamwork Dharma Perguruan Tinggi. Desa Binaan
building dengan saling meningkatkan dideskripsikan sebagai program
kemampuan anggotanya serta berbagi peningkatan mutu kesehatan di
pengetahuan dan ilmu dalam pedesaan (terutama daerah yang
menanggapi kasus-kasus sehingga memiliki tingkat kesehatan yang kurang
terjadi diskusi interaktif antar program baik) dengan dilandasi prinsip
[7]–[10]
studi , sedangkan TPE adalah pelaksanaan yang berkesinambungan.
eksekusi dari IPE dimana para Penerapan IPE dan TPE dalam setting
mahasiswa akan melakukan Desa Binaan akan memberikan
pembelajaran di tempat praktik atmosfer pelaksanaan program yang
[9]
pelayanan kesehatan. Apabila kedua komprehensif, ditinjau dari subjek
hal ini dilakukan dengan baik, pelaksana yang terdiri atas berbagai
penanggulangan masalah gizi ibu dan bidang ilmu kesehatan serta target
anak di Indonesia akan terlaksana pelaksanaan yang mencakup tujuan
dengan lebih optimal. promotif, preventif, kuratif, dan
Berdasarkan latar belakang rehabilitatif.
permasalahan tersebut, penulis
menawarkan solusi inovatif berupa B. Rancangan Mekanisme
program Desa Binaan berbasis IPE dan Pelaksanaan Program
TPE sebagai upaya dalam Pelaksanaan program desa
mengentaskan masalah kesehatan gizi binaan ini disesuaikan dari Model
ibu dan anak. Adapun inti dari Konseptual Pendidikan Interdisiplin
pembahasan dalam karya ini meliputi dalam Kolaborasi Pelayanan Kesehatan
prinsip dasar, rancangan pelaksanaan Terpusat Pasien milik D’Amour and
program, analisis manfaat, serta Oandasan yang terdiri dari tiga tingkatan,
keterbatasan dan strategi pengelolaan yaitu tingkat makro, meso, dan mikro.
program. Tingkat makro meliputi faktor sistemik,
yakni sistem pembelajaran dan profesi
2. PEMBAHASAN (educational and professional system),

Faktor Sistemik (Makro)


Sistem pembelajaran dan profesi, kebijakan pemerintah, dan nilai sosial budaya

Gambar 2. Model Rancangan Mekanisme Pelaksanaan Program yang diadaptasi


dari Model Konseptual Pendidikan Interdisiplin dalam Kolaborasi Pelayanan
[11]
Kesehatan Terpusat oleh D’Amour and Oandasan.

kebijakan pemerintah, dan nilai sosial


A. Prinsip Dasar budaya, sedangkan level meso dan
Upaya pencegahan dan mikro dibagi menjadi dua bagian, yakni
[11]
penatalaksanaan masalah gizi ibu dan IPE dan TPE. Selain itu, Framework
anak di daerah pedesaan melalui for Action on Interprofessional Education

14

BIMKMI Volume 5 No.1 | Januari-Juli 2017


and Collaborative Practice dari WHO Pendekatan Transprofessional
juga menjadi pondasi dari rancangan Education (TPE)
[10]
program ini. Sementara itu, TPE akan
memfokuskan pada pengaplikasian dari
Pendekatan Interprofessional Education IPE di tempat pelayanan kesehatan.
(IPE) Pada pendekatan ini, mahasiswa akan
Pada pendekatan IPE, faktor berkolaborasi dengan penyedia layanan
institusi dan proses administratif adalah kesehatan, yakni kader posyandu dari
bagian dari tingkat meso, dimana kedua desa binaan yang dituju. Tingkatan
faktor institusi melibatkan peran meso dalam TPE ini meliputi faktor
lembaga mahasiswa dan pihak institusi. organisasi, yakni sistem dari layanan
Lembaga mahasiswa yang dimaksud kesehatan di desa binaan serta struktur
ialah dari pihak Badan pelayanan kesehatan. Dengan
Eksekutif/Senat/Himpunan yang mengetahui komponen ini, mahasiswa
bergerak di bidang pengembangan dapat menunjukkan strategi dalam
masyarakat serta didukung oleh pihak optimalisasi pelayanan kesehatan dasar.
institusi seperti rektor dan dekan. Selain itu, mahasiswa juga perlu
Disamping kerjasama dari tingkat mengkaji tentang sistem dan regulasi
institusi, diperlukan pula kerjasama dari yang ada dalam posyandu tersebut
fakultas rumpun ilmu kesehatan yang untuk menganalisis efektivitas dari segi
bernaung dalam suatu institusi. Misalnya, pelayanan.
pihak BEM Universitas akan Adanya faktor interaksi sebagai
berkoordinasi dengan pihak BEM tingkatan mikro akan mempengaruhi
Fakultas, khususnya fakultas ilmu kinerja tim untuk mencapai tujuan yang
kesehatan serta pihak rektorat dengan diperoleh serta rasa kepemilikan dalam
pihak dekanat fakultas ilmu kesehatan sebuah tim. Nantinya, para tim akan
untuk menyisipkan kurikulum baru serta dibimbing oleh supervisi, yakni praktisi
praktik kerja di lapangan. kesehatan terkait seperti dokter ahli gizi,
Dalam prosesnya, para sarjana kesehatan masyarakat, dokter
mahasiswa dari program studi yang anak, dokter kandungan, serta kader
berbeda akan digabungkan dalam satu posyandu untuk memantau
kelas dan pembelajaran sehingga perkembangan gizi dalam kaitannya
mereka saling bertemu dan mengenal, dengan KIA secara komprehensif
menjelaskan masing-masing profesi, meliputi kegiatan promotif, preventif,
menjelaskan keterkaitan antarprofesi kuratif, dan rehabilitatif. Keluaran yang
dalam lingkup sistem pelayanan diharapkan dengan adanya TPE adalah
kesehatan serta manfaat yang akan peningkatan derajat kesehatan dengan
terjadi, dan mengenali nilai-nilai kualitas perawatan yang efisien dan
pendekatan IPE terhadap pelayanan efektif mengenai masalah gizi, serta
kesehatan dibantu dengan pembimbing adanya pemantauan berkelanjutan
akademis melalui diskusi interaktif dan sehingga pemberdayaan kesehatan
lecture antar program studi kesehatan, desa binaan akan terwujud.
seperti pendidikan dokter, pendidikan Salah satu program pokok
dokter gigi, ilmu kesehatan masyarakat, posyandu, yakni program gizi KIA akan
fisioterapi, farmasi, ilmu keperawatan, difokuskan dalam program desa binaan
ilmu kebidanan, ataupun psikologi. ini, dimana program gizi pokok tersebut
Luaran yang diharapkan dari adanya antara lain melakukan kunjungan rumah
IPE ini ialah meningkatkan pengetahuan (sweeping) pada balita yang tidak hadir
antarprofesi, mengoptimalkan peran dan pada hari Posyandu, anak yang kurang
kemampuan untuk terjun ke desa binaan gizi, atau anak yang mengalami gizi
sesuai bidang ilmunya masing-masing, buruk, membawa ke posyandu untuk
menjaga komunikasi, kerjasama, dan ditimbang dan diukur berdasarkan
[8],[10]
saling mempercayai. standar, mengecek jadwal imunisasi,
melakukan penyuluhan gizi, serta
melakukan pemberian vitamin A dan
sirup besi (Fe). Apabila ditemukan anak

15

BIMKMI Volume 5 No.1 | Januari-Juli 2017


dengan kurang gizi, maka para Kementerian Kesehatan untuk mencapai
mahasiswa bersama dengan kader Masyarakat Sehat yang Mandiri dan
posyandu dapat memberikan intervensi Berkeadilan dapat diraih dengan
berupa scalling up nutrition secara dukungan berbagai pihak, demi
[12]
berkala. Konseling gizi bagi para kesejahteraan masyarakat umumnya
perempuan hamil dan ibu merupakan dan kesehatan ibu dan anak khususnya.
bagian yang penting dari program Peran IPE dan TPE yang
terpadu ini. dilakukan secara komprehensif dan
Target mahasiswa yang akan berbasis kepentingan penduduk desa
mengikuti program desa binaan TPE ini binaan akan berkontribusi terhadap
adalah mahasiswa semester 3 yang optimalisasi derajat kesehatan dan
sebelumnya sudah mendapatkan materi mengurangi biaya perawatan karena
tentang gizi melalui IPE. Hal ini akan sebelumnya telah dilakukan tindakan
terus berlanjut hingga masa perkuliahan preventif dan promotif. Selain itu,
pre-klinik/jenjang S-1 berakhir. Nilai dari adanya kebijakan yang menggratiskan
setiap diskusi interaktif dan lecture setiap penduduk desa binaan dalam
dalam IPE dan studi kasus di desa memperoleh pelayanan dapat
binaan melalui TPE akan meringankan beban finansial penduduk
diakumulasikan dan diintegrasikan dalam cakupan bidang kesehatan. Hal
dengan kurikulum melalui sistem satuan ini akan sesuai dari luaran yang
kredit semester (SKS) tersendiri untuk diharapkan dari adanya program ini,
[11]
setiap blok, sedangkan frekuensi waktu yakni cost-effectiveness.
yang diestimasikan untuk IPE adalah Penelitian McAlister dkk pada
dua kali per bulan (hari Jumat) dan dua tahun 2014 tentang strategi multidisiplin
kali pertemuan per bulan (hari Sabtu dalam menangani pasien yang memiliki
dan Minggu) untuk TPE. Implementasi risiko gagal jantung mengemukakan
ini belum dilakukan di sistem pendidikan bahwa 15 dari 18 percobaan strategi
di Indonesia sehingga perlu mendapat multidisiplin adalah cost saving sehingga
perhatian, terutama dari kalangan dapat menghemat biaya. Selain itu, studi
[13]
instiusi sebagai bentuk inovasi. menunjukkan bahwa anak dengan gizi
kurang sangat berhubungan dengan
C. Analisis Manfaat prestasi sekolah yang buruk serta
Manfaat program Desa Binaan pendapatan yang rendah sebagai orang
[10]
berbasis IPE dan TPE tidak hanya dewasa. Oleh karenanya, berkaitan
ditinjau dari segi kesehatan, namun juga dengan cost-effectiveness dan
finansial dan sosial. Sistem kesehatan di mengingat bahwa pemenuhan gizi anak
Indonesia yang terutama bertujuan merupakan salah satu investasi bagi
untuk mengupayakan pemerataan individu maupun bangsa di masa depan,
kesehatan di seluruh daerah baik kota strategi IPE dan TPE memiliki manfaat
maupun desa memerlukan komitmen, secara ekonomi yang patut
baik dari para pemangku kepentingan dipertimbangkan.
atau stakeholders, pembuat kebijakan, Dari segi sosial, Hal dasar yang
maupun pelaksana program yang menjadi konsep pelaksanaan IPE dan
berasal dari komponen masyarakat TPE adalah interaksi antarsesama
untuk turut bersinergi menyukseskan program studi, baik dari mahasiswa,
tujuan tersebut. Dengan adanya akademisi dan klinisi yang akan
program Desa Binaan, diharapkan membimbing mahasiswa, serta kader
nantinya dapat turut berkontribusi dalam pelayanan kesehatan di desa binaan.
pemantauan status gizi, pencegahan Penelitian Dwi Tyastuti, dkk pada tahun
masalah gizi ganda, penatalaksanaan 2013 melaporkan bahwa kemampuan
bagi ibu dan anak yang telah terpapar komunikasi, pengetahuan dasar,
masalah gizi, serta meningkatkan kemampuan pemecahan masalah,
penjaminan kualitas kesehatan ibu dan kemampuan kerjasama, dan
anak di Indonesia demi terwujudnya profesionalisme antarprofesi merupakan
generasi emas Indonesia di masa yang manfaat dari adanya pendekatan ini
akan datang. Tekad dan tujuan sehingga pada dasarnya mahasiswa

16

BIMKMI Volume 5 No.1 | Januari-Juli 2017


telah mengetahui manfaat sosial dari strategi pengelolaan program yang
[13]
adanya IPE dan TPE. Dengan adanya komprehensif dalam mengoptimalkan
pendekatan ini pula, mahasiswa dapat pelaksanaan IPE dan TPE.
peka terhadap sistem kesehatan lingkup Pembelajaran berbasis kolaborasi
terkecil melalui desa binaan, antarprofesi kesehatan, terutama
mendekatkan diri pada masyarakat desa penguatan pada level akademik (IPE)
setempat, serta peduli terhadap ditunjang oleh komitmen dari
perkembangan gizi ibu dan anak. stakeholder dan juga kurikulum yang
Beberapa fakta terkait manfaat tersedia. Tentunya, stakeholder
sosial pada IPE dan TPE adalah termasuk pengajar dan fasilitator harus
beberapa layanan kesehatan di memiliki komitmen dan totalitas dalam
Denmark yang penyedia layanan mengembangkan, menyampaikan, dan
kesehatannya dari berbagai macam mengelola IPE yang diwujudkan melalui
profesi kesehatan. Mereka memfasilitasi komunikasi yang baik, adanya antusias,
diskusi terbuka untuk meningkatkan memiliki target kemajuan program, serta
staffnya untuk bekerja secara kolaboratif. mampu menyusun protokol dan tujuan
Proses tersebut dinilai merupakan yang jelas sehingga dapat tercapai
[10]
praktik terbaik sebagai bentuk dalam waktu tertentu. Kurikulum yang
pengembangan semangat (spirit tersedia juga dikondisikan dengan desa
development) dalam tim. Penerapan setempat agar berkesinambungan
serupa juga terjadi di Nepal, dimana dengan implementasi TPE, serta dibagi
negara ini memiliki strategi nasional dalam tahap-tahap tertentu, seperti
yang bernama Saving Newborn Lives prinsip dasar IPE dan TPE dan
yang diemplementasikan untuk pentingnya bagi kemajuan pribadi dan
menurunkan tingginya mortalitas bayi institusi terkait, kemampuan komunikasi
yang baru lahir. Perawat dan mahasiswa efektif, solusi permasalahan kesehatan
fakultas kedokteran diikutsertakan di desa setempat, maupun pelaksanaan
dalam program ini sebagai ‘katalis’ monitoring dan evaluasi secara berkala
[10],[15]
melalui kurikulum sehingga dapat dan terukur.
[10]
menguatkan hubungan antarprofesi. Secara teknis, mewajibkan
mahasiswa dalam setiap kehadiran,
D. Keterbatasan dan Strategi mengintegrasikan kurikulum IPE dengan
Pengelolaan Program modul pembelajaran dan diberikan
Program IPE dan TPE melibatkan bobot SKS yang sama pada seluruh
interaksi antarsektor sehingga program studi kesehatan, maupun
diperlukan pengelolaan program yang pembelajaran dengan bentuk diskusi
adekuat, baik dari pihak akademik kelompok kecil setelah pemberian
sebagai penyelenggara, maupun dari materi IPE dapat meminimalisasi
[8],[10]
pihak desa yang menjadi tujuan dari keterbatasan yang terjadi. Selain itu,
program ini. Studi yang dilakukan oleh untuk melihat kemajuan mahasiswa dan
El-Awaisi et al. pada tahun 2017 penerapan IPE di desa binaan melalui
menemukan bahwa keterbatasan dari implementasi TPE, penilaian oleh
program pembelajaran berbasis fasilitator terhadap mahasiswa dapat
kolaborasi seperti IPE dan TPE adalah diukur melalui laporan yang wajib
waktu yang dialokasikan pada kurikulum dikerjakan dan dipresentasikan pada
yang tidak sesuai, lokasi yang jauh akhir penyelenggaraan program.
dengan desa binaan, lokasi gedung ilmu Tentunya, monitoring dan evaluasi yang
kesehatan yang berbeda sehingga dilakukan oleh stakeholder berupa
dapat menghambat komunikasi efektif feedback dari fasilitator, mahasiswa,
secara langsung, pemberian materi maupun masyarakat desa binaan yang
mengenai IPE yang waktunya tidak teratur sangat diperlukan dalam
sesuai dengan mahasiswa, kurangnya mengembangkan dan mengoptimalkan
sumber daya yang mumpuni, biaya, kebermanfaatan program, terutama dari
[10],[16]
serta pengalaman mengenai segi kesehatan ibu dan anak.
implementasi IPE dan TPE yang masih
[14]
terbatas. Oleh karena itu, diperlukan

17

BIMKMI Volume 5 No.1 | Januari-Juli 2017


3. KESIMPULAN Medical Education 16:6035 (2011):
Program Desa Binaan berbasis 1–10.
IPE dan TPE memiliki prinsip solutif, 8. Hall, Philip D., et al. “A Novel
komprehensif, terintegrasi dan Approach to Interprofessional
berkesinambungan. Melalui kerjasama Education: Interprofessional Day,
yang baik antar seluruh komponen, the Four-Year Experience at the
tekad dan tujuan Kementerian Medical University of South
Kesehatan untuk mencapai masyarakat Carolina.” Journal of Research in
sehat yang mandiri dan berkeadilan Interprofessional Practice and
dapat diraih dengan dukungan berbagai Education 2:1(2011): 49–62.
pihak, demi kesejahteraan masyarakat 9. Suhoyo, Yoyo. “Konsep Inovasi
umumnya dan kesehatan ibu dan anak Strategi Pendidikan Di Institusi
khususnya. Pendidikan Kedokteran Konsep
Inovasi Strategi Pendidikan Di
Institusi Pendidikan Kedokteran.”
DAFTAR PUSTAKA Jurnal Pendidikan Kedokteran
1. Badan Penelitian dan Indonesia 1;2(2015): 1–10.
Pengembangan Kesehatan. Riset 10. World Health Organization.
Kesehatan Dasar (Riskesdas) Framework for Action on
2013. Jakarta: Kementerian Interprofessional Education &
Kesehatan Republik Indonesia, Collaborative Practice. Geneva:
2013. WHO press,. 2010.
2. Titaley, Christiana R., et al. “Iron 11. Curran, Vernon. “Interprofessional
and Folic Acid Supplements and Education for Collaborative Patient-
Reduced Early Neonatal Deaths in Centred Practice.” Vol. 18. Canada;
Indonesia.” Bulletin of the World 2005.
Health Organization 88:7 (2010): 12. Kementerian Kesehatan Republik
500-508. Indonesia. Buku Pegangan Kader
3. Kementerian Kesehatan Republik Posyandu. Jakarta: Katalog dalam
Indonesia. Rencana Strategis Terbitan Kementerian Kesehatan
Kementerian Kesehatan Tahun Republik Indonesia, 2012.
2015 - 2019. Jakarta: Katalog 13. Tyastuti, Dwi, et al. “An Educational
dalam Terbitan Kementerian Intervention of Interprofessional
Kesehatan Republik Indonesia, Learning in Community Based
2015. Health Care in Indonesia: What Did
4. Badan Perencanaan Pembangunan We Learn from the Pilot Study?”
Nasional. Rencana Pembangunan Journal of Education and Practice
Jangka Menengah Nasional 2015- 4:25 (2013): 1–12.
2019. Jakarta: Kementerian 14. El-Awaisi A, et al. “A Middle
Perencanaan Pembangunan Eastern Journey of Integrating
Nasional Republik Indonesia, 2015. Interprofessional Education into the
5. Kementerian Kesehatan Republik Healthcare Curriculum: A SWOC
Indonesia. Buku Pegangan Analysis.” BMC Medical Education
Sosialisasi Jaminan Kesehatan 17:1 (2017): 15-21.
Nasional Dalam Sistem Jaminan 15. Hammick, Marilyn, dan Campion-
Sosial Nasional. Jakarta: Katalog smith C. “Learning in
dalam Terbitan Kementerian Interprofessional Teams.” In: AMEE
Kesehatan Republik Indonesia, Guides in Medical Education.
2013. Dundee: Association for Medical
6. Undang-Undang Republik Education in Europe; 2010.
Indonesia Nomor 12 Tahun 2012 16.Manggala, Arya Krisna, dan
Tentang Pendidikan Tinggi. 2012. Tjokorda Istri Pramitasuri
7. Bridges, Diane R., et al. “Perception of Pre- and Post- Event
“Interprofessional Collaboration: of Interprofessional Education
Three Best Practice Models of among Third Year Medical and
Interprofessional Education.” Health Students, Faculty of

18

BIMKMI Volume 5 No.1 | Januari-Juli 2017


Medicine Udayana University,
Denpasar, Bali, Indonesia.” In: 12th
International Medical Education
Conference. Kuala Lumpur; 2017.

19

BIMKMI Volume 5 No.1 | Januari-Juli 2017


BALAD (BALOK NADA) SEBAGAI
Tinjauan INOVASI MEDIA PEMBELAJARAN
YANG MENYENANGKAN UNTUK
Pustaka ANAK DISABILITAS INTELEKTUAL
DENGAN MENGOPTIMALKAN
KINERJA OTAK TENGAH
1 2
Sobhita Paramita , Rizqi Zuroida , Novitha Sari
3 4
Pattara , Shely Dinar Thamara
1
Departemen Epidemiologi, Fakultas Kesehatan
Masyarakat, Universitas Airlangga, Surabaya
2
Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas
Kesehatan Masyarakat, Universitas Airlangga, Surabaya
3
Departemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja,
Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Airlangga,
Surabaya
4
Departemen Gizi, Fakultas Kesehatan Masyarakat,
Universitas Airlangga, Surabaya

Abstrak
Pendahuluan: Disabilitas intelektual adalah gangguan yang ditandai dengan
keterbatasan baik dalam fungsi intelektual dan perilaku adaptif. Disabilitas intelektual
ringan ditandai dengan seorang individu yang memiliki keterbatasan dalam beradaptasi
namun masih memiliki potensi keterampilan akademik yang bisa dikembangkan,
sehingga mereka membutuhkan program dan bimbingan khusus untuk mengembangkan
potensi mereka.
Pembahasan: Balad dikemas dalam bentuk balok tipis yang terlihat seperti laptop mini
dengan konsep yang menggabungkan teknologi, musik, dan perpaduan warna. Tujuan
pembuatan media Balad ialah untuk membantu meningkatkan kemampuan kognitif
terutama peningkatan daya ingat dan kemampuan belajar bagi anak dengan disabilitas
intelektual ringan. Alat ini dapat membantu mengaktifkan otak tengah anak sehingga
mampu menyeimbangkan kerja otak kiri dan otak kanan. Apabila otak tengah anak
disabilitas intelektual aktif, maka dapat meningkatkan daya ingat dan kemampuan belajar
mereka.
Kesimpulan: Balad dapat membantu mengoptimalkan fungsi kognitif anak disabilitas
intelektual ringan. Prinsip dari media ini adalah santai, menyenangkan, mudah diterapkan
oleh semua lembaga khusus mengajar anak berkebutuhan khusus.

Kata Kunci: Media, Disabilitas Intelektual, Musik, Otak Tengah, Fungsi Kognitif

Abstract
Introduction: Intellectual disability is a disability characterized by significant limitations
both in intellectual functioning and in adaptive behavior as expressed in conceptual,
social and practical adaptive skills. Mild intellectual disability is an individual that has
limitation in their adaptive skill but still have potential academic skill to developed, also
they need a special program and guidance to develop their potential.
Discussion: The tool design looks like a mini laptop. Balad combines with technology,
music, and color to stimulate the child's brain. The purpose of making media BALAD is to
improve cognitive abilities, especially memory enhancement and learning for children with
intellectual disability. This tool can activate the midbrain that is able to balance the works
of left brain and right brain. If the midbrain of an intellectual disability child is active, it can
improve memory and his ability to learn.

20

BIMKMI Volume 5 No.1 | Januari-Juli 2017


Conclusion: BALAD is one of the media that can enhance cognitive abilities, especially
memory enhancement and learning for children with mild intellectual disability. The tool
has its principles of relaxing, fun, implicative for learning and easily applied by all
agencies specialized for children with special needs.

Keywords: Media, Intellectual Disability, Music, Midbrain, Cognitive Functions

1. PENDAHULUAN daripada anak pada umumnya. Maka


American Association of Mental dari itu, kami merancang sebuah media
Retardation (AAMR) atau yang saat ini inovatif terutama untuk membantu
dikenal sebagai American Association of proses belajar anak-anak disabilitas
Intellectual Developmental Disability intelektual ringan. Media tersebut
(AAIDD) mendefinisikan disabilitas bernama "BALAD" yang akan dibahas
intelektual sebagai gangguan yang dalam penjelasan lebih lanjut.
ditandai dengan keterbatasan baik
dalam fungsi intelektual dan perilaku 2. PEMBAHASAN
adaptif seperti yang dapat ditunjukkan Balad merupakan suatu akronim
dalam keterampilan adaptif konseptual, dari Bahasa Indonesia yaitu “BALok
sosial dan praktis. Gangguan ini berasal nADa” yang berarti sebuah media
[1]
sebelum memasuki usia 18 tahun. pembelajaran bagi anak yang
Berdasarkan kondisinya, disabilitas mempunyai disabilitas intelektual ringan
intelektual diklasifikasikan menjadi di mana alat tersebut berbentuk kotak
disabilitas intelektual ringan, disabilitas seperti balok namun tipis dan
intelektual moderat, dan disabilitas mempunyai nada yang dapat keluar
intelektual yang parah. apabila balok tersebut ditekan. Balad
Salah satu klasifikasi adalah merupakan salah satu media
disabilitas intelektual ringan. Daniel P. pembelajaran yang dapat meningkatkan
Hallahan, James M. Kauffman, dan kemampuan kognitif terutama
Paige C. Pullen (2009: 149), peningkatan daya ingat dan
mendefinisikan sebagai klasifikasi yang pembelajaran bagi anak dengan
digunakan untuk menentukan individu disabilitas intelektual ringan di mana
[1]
yang IQ sekitar 50- 70. Namun, masih media ini mempunyai prinsip santai,
memiliki hasil yang dapat dioptimalkan menyenangkan, dan mudah diterapkan
berdasarkan Smith & Tyler (2010: 270) oleh semua instansi pembelajaran
di mana disabilitas intelektual ringan khusus anak berkebutuhan khusus.
memiliki kesulitan belajar, namun Tujuan pembuatan media Balad ialah
mampu bekerja, bisa menjaga untuk membantu meningkatkan
hubungan sosial yang baik, dan mampu kemampuan kognitif terutama
memberikan kontribusi kepada
[2]
masyarakat.
Berdasarkan definisi disabilitas
intelektual ringan tersebut, dapat
disimpulkan bahwa disabilitas intelektual
ringan ditandai dengan seorang individu
yang memiliki keterbatasan dalam
keterampilan adaptif mereka namun
masih memiliki potensi keterampilan
akademik yang bisa dikembangkan,
sehingga mereka membutuhkan
program dan bimbingan khusus untuk
mengembangkan potensi mereka.
Anak-anak dengan disabilitas intelektual
ringan masih mampu untuk berdiri
sendiri di lingkungan masyarakat dan
memperoleh pendidikan meskipun
membutuhkan waktu yang lebih lama
Gambar 3. Desain Media Balad
21

BIMKMI Volume 5 No.1 | Januari-Juli 2017


peningkatan daya ingat dan Pembagian ini dibagi sesuai dengan
kemampuan belajar bagi anak dengan kompleksitas jenis musik yang
disabilitas intelektual ringan. dimainkan.
Balad menggabungkan Langkah-langkah dalam
teknologi, musik, dan perpaduan warna menggunakan alat ini adalah: Buka
yang mampu merangsang kerja otak pengunci Balad sehingga layar dapat
anak. Model alat ini dirancang seperti ditarik ke atas, pilih tombol ON pada
bentuk laptop mini. Terdapat dua sisi layar Balad, setelah muncul menu daftar
pada bagian dalam laptop, sisi atas lagu beserta tingkat kesulitannya lalu
adalah layar yang di dalamnya mampu pilih salah satu lagu yang paling mudah
menampilkan notasi dan lagu, yakni dari level 1 lalu mainkan. Ketika
sedangkan pada sisi satunya terdapat musik diputar, secara otomatis akan
tombol atau tuts yang menunjukkan muncul lampu pada tuts yang harus
kunci yang harus dimainkan oleh ditekan. Lalu tekan tuts sesuai dengan
pengguna. nyala lampunya. Teruskan langkah
Kelebihan media Balad tersebut hingga satu lagu selesai.
dibandingkan media pembelajaran Apabila satu lagu telah selesai, ulangi
musik lainnya adalah Balad dikemas langkah-langkah tadi secara urut hingga
dalam bentuk balok tipis yang terlihat level yang lebih sulit pada lagu-lagu
seperti laptop mini, digunakan tanpa berikutnya.
menggunakan akses internet dan bukan Hubungan antara penggunaan
berbasis gadget sehingga meminimalisir BALAD dengan cara belajar anak
kemungkinan anak ketergantungan disabilitas intelektual ringan adalah alat
terhadap internet dan penggunaan ini dapat membantu mengaktifkan otak
gadget, Balad tidak menyediakan fitur tengah anak sehingga mampu
game over apabila anak melakukan menyeimbangkan kerja otak kiri dan
banyak kesalahan dalam menekan tuts otak kanan. Apabila otak tengah anak
musik karena media ini membiarkan disabilitas intelektual aktif, maka dapat
kemampuan kognitif anak dapat terlatih meningkatkan daya ingat dan
secara perlahan, serta klasifikasi level kemampuan belajar mereka.
pada Balad ditentukan berdasarkan Untuk menelaah bagaimana
tingkat kompleksitas irama musik klasik BALAD mampu dijadikan alternatif
yang ada pada setiap level. media pembelajaran bagi anak
Di Balad ini dibagi menjadi disabilitas intelektual ringan, mari lihat
beberapa level atau klasifikasi mulai dari bagan berikut ini:
level termudah sampai tersulit.

Gambar 2. Mekanisme Musik dapat Mengoptimalkan Fungsi Kognitif dan Daya Ingat
22

BIMKMI Volume 5 No.1 | Januari-Juli 2017


Musik pertama-tama akan secara bertahap mereka dapat
diproses oleh auditory cortex dalam melakukan latihan memainkan alat
bentuk suara agar dapat dinikmati oleh musik. Bermain alat musik dapat
otak kanan. Otak kiri akan memproses mengaktifkan jemari serta anggota
lirik dalam musik tersebut. Efek tubuh kiri dan kanan sehingga
selanjutnya adalah pada sistem limbik merangsang aktivitas perkembangan
(otak mamalia) yang menangani memori otak kiri dan kanan. Dengan bantuan
jangka panjang. Sistem limbik ini musik yang dipadukan dengan gambar
menangani respons terhadap musik dan pada layar BALAD, maka anak tidak
emosi. Secara umum, musik mudah mengalami kejenuhan. Kekuatan
menimbulkan gelombang vibrasi, dan mereka dalam menyimpan informasi
vibrasi itu menimbulkan stimulasi pada pun menjadi lebih tinggi karena
gendang pendengaran. Stimulasi itu keseluruhan bagian otak turut aktif
ditransmisikan pada susunan saraf menyimpannya tidak hanya dalam
pusat (limbic system) pada otak tengah, bentuk visual, namun auditori dan emosi
lalu hypothalamus atau kelenjar sentral sehingga menghidupkan visualisasi dan
pada susunan saraf pusat akan imajinasi. Hal inilah yang membuat
mengatur segala sesuatunya untuk belajar menjadi mengasyikkan bagi
mengaitkan musik dengan respons anak-anak.
[3]
tertentu. Selain itu, menurut Daniel J.
Dalam sebuah penelitian Siegel, dalam bukunya The Developing
khusus, para ahli syaraf yang dipimpin Mind, Toward a Neurobiology of
Gordon Shaw dari University of Interpersonal Experience mengatakan,
California, Irvine, pada tahun 1993 musik klasik menghasilkan gelombang
menguji anak-anak berusia 3-5 tahun alfa yang menenangkan yang dapat
yang menerima pelajaran piano selama merangsang sistem limbik jaringan
[5]
6 bulan. Para ahli menemukan, para neuron otak. Pada tahun 1998, Don
pianis cilik ini mengalami peningkatan Campbell, seorang musisi sekaligus
yang bermakna dalam penalaran pendidik, bersama Dr. Alfred Tomatis
spatial-temporal (dasar untuk teknik, yang psikolog, mengadakan penelitian
matematika, dan catur) dibanding anak- untuk melihat efek positif dari beberapa
anak yang menerima pelajaran jenis musik. Hasilnya dituangkan dalam
menyanyi, komputer, dan yang tidak buku mereka yang di Indonesia
mendapatkan ekstra. Efek ini bahkan diterbitkan dengan judul Efek Mozart,
tampak lebih nyata pada anak-anak Memanfaatkan Kekuatan Musik untuk
yang lebih tua. Sebuah penelitian di Mempertajam Pikiran, Meningkatkan
California menemukan, sesudah belajar Kreativitas, dan Menyehatkan Tubuh.
piano 2 kali seminggu selama sebulan, Banyak fakta menarik yang diungkapkan
nilai matematika dari anak-anak kelas 2 Campbell dan Tomatis. Di antaranya,
di wilayah miskin meningkat dibanding ada hubungan menarik antara musik
anak-anak kelas 4 dari daerah makmur. dan kecerdasan manusia. Musik (klasik)
Hal ini dapat menjadi dasar bahwa terbukti dapat meningkatkan fungsi otak
musik dapat mengaktifkan jaringan dan intelektualitas manusia secara
saraf-saraf di otak. Dengan jaringan optimal. Campbell kemudian mengambil
otak yang saling terhubung, anak lebih contoh karya Mozart, Sonata in D major
cepat menangkap dan mengolah K 488 yang diyakininya mempunyai efek
[6]
stimulasi dan informasi, serta stimulasi paling baik bagi anak.
menemukan solusi dengan cara-cara Sesungguhnya bukan hanya
yang mungkin tidak biasa. Dengan kata musik Mozart yang dapat digunakan.
lain, musik merangsang otak untuk Semua musik berirama tenang dan
membangun seluas mungkin akses mengalun lembut, akan memberi efek
yang diperlukan dalam pengolahan data, yang baik bagi janin, bayi, dan anak-
memperkuat daya nalar, serta lahap anak. Namun lebih sering disebut Efek
[4]
menyerap informasi. Mozart karena musik-musik gubahan
Ketika anak sudah terbiasa Mozart Lay yang pertama diteliti. Tapi
mengikuti irama dengan alat musik, ternyata, musik-musik dari komposer
23

BIMKMI Volume 5 No.1 | Januari-Juli 2017


lain juga patut didengarkan. Musik klasik Satu hal yang perlu diperhatikan
juga termasuk dalam kategori musik adalah, otak tengah dapat tertutup
instrumental karena dibuat hanya kembali karena adanya tekanan dan
berupa suara perpaduan dari alat-alat kesedihan. Kesedihan dapat merusak,
musik. Dalam buku Kindegarden is Too sedangkan rasa gembira dapat
Late, Masaru menyatakan bahwa membuka otak. Oleh karena itu,
pendidikan yang dapat dimanfaatkan memerlukan latihan yang sering untuk
untuk meningkatkan kecerdasan siswa memasuki kondisi terdominasi oleh otak
[7]
adalah musik instrumental. tengah. Sekitar 70-80% metode
Oleh karena itu, pada media pembelajaran ini berhasil untuk
BALAD ini jenis musik yang mengaktifkan otak tengah anak, asalkan
diperdengarkan dalam permainan ini anak tersebut memiliki jiwa yang sehat
adalah musik klasik karena dianggap dan bersedia bekerja sama, dengan
paling efektif dalam pembelajaran untuk usia antara 5-12 tahun. Namun, ada
anak disabilitas intelektual. Serta, musik beberapa hambatan yang dapat
klasik yang digunakan adalah musik mengganggu aktivasi otak tengah
Mozart. seperti: tekanan, ketakutan, kurang
Musik Mozart dapat percaya diri, curiga, tidak mau
merangsang otak tengah. Menurut menerima, berpikir yang tidak-tidak, dan
sebuah penelitian, musik Mozart mampu lain sebagainya. Maka dari itu,
merangsang kecerdasan otak tengah. diperlukan hubungan dan komunikasi
Musik Mozart diyakini memiliki yang baik antara orang tua dan anaknya.
gelombang yang mampu merangsang Jika sudah lama tidak dilatih, maka otak
pengembangan otak bayi dalam tengah bisa saja tertutup. Untuk
kandungan. Namun jika yang dilatih mencegah, anak-anak membutuhkan
adalah anak berusia di atas enam tahun, latihan 10-15 menit sekurang-kurangnya
maka sebaiknya diperdengarkan musik tiga kali dalam seminggu. Namun,
Mozart dengan volume sedikit keras. alangkah lebih baiknya apabila latihan
Musik yang didengar mampu dilakukan setiap hari. Bahkan, ketika
membesarkan neuron-neuron yang ada anak memasuki universitas, mereka
kemudian memicu aktivasi otak tengah. juga perlu melakukan hal yang sama. Ini
Otak tengah mengandung pusat-pusat tugas sepanjang hidup untuk melatih
[9]
yang mengendalikan keseimbangan dan otak tengah agar tetap aktif.
serabut saraf yang menghubungkan
otak depan dengan otak belakang. Otak 3. KESIMPULAN
tengah merupakan bagian atas batang BALAD adalah salah satu media
otak. Semua berkas serabut saraf yang yang dapat meningkatkan kemampuan
membawa informasi sensorik sebelum kognitif, terutama peningkatan daya
memasuki talamus akan melewati otak ingat dan kemampuan belajar untuk
[8]
tengah. anak-anak dengan disabilitas intelektual
Apabila seorang anak telah ringan. Prinsip dari media ini adalah
mengaktifkan otak tengahnya, maka santai, menyenangkan, mudah
akan terjadi keseimbangan dalam diterapkan oleh semua lembaga khusus
penggunaan otak kanan dan kiri. mengajar anak berkebutuhan khusus.
Masalah mental akan dapat di Kelebihan media Balad
minimalisasi setelah aktivasi otak dibandingkan media pembelajaran
tengah. Beberapa manfaat lain ketika musik lainnya adalah Balad digunakan
anak mampu mengembangkan otak tanpa menggunakan akses internet dan
tengah adalah: meningkatkan memori, bukan berbasis gadget sehingga
meningkatkan konsentrasi, kreativitas, meminimalisir kemungkinan anak
kemampuan atletik, keseimbangan ketergantungan terhadap internet dan
hormon, keseimbangan penggunaan penggunaan gadget, membiarkan
otak kanan dan kiri, mempertajam intuisi, kemampuan kognitif anak dapat terlatih
berkurangnya rasa takut dan stres, secara perlahan, serta klasifikasi level
meningkatkan kemampuan belajar pada Balad ditentukan berdasarkan
dengan cepat, dan mengendalikan tingkat kompleksitas irama musik klasik
[9]
emosi agar tetap stabil. yang ada pada setiap level.
24

BIMKMI Volume 5 No.1 | Januari-Juli 2017


untuk Mempertajam Pemikiran,
DAFTAR PUSTAKA Meningkatkan Kreativitas, dan
1. Hallahan, Daniel P., Kauffman, Menyehatkan Tubuh. Jakarta:
James M., dan Pullen, Paige C., Gramedia Pustaka Utama, 2001.
Exceptional Learners An Introduction 7. Ibuka, Masaru. Kindergarden is Too
to Special Education. New York: Late. New York: Simon and Schuster,
Pearson, 2007. 1977.
2. Smith, Deborah D., dan Tyler, Naomi 8. US National Library of Medicine
C. Introduction to Special Education. National Institutes of Health. Music
Canada: Pearson, 2010. Therapy for Autistic Spectrum
3. Sehat dan Anggi, S. “Pengaruh Disorder. By Christian Gold, Tony
Pembelajaran Fisika Menggunakan Wigram, dan Cochavit Elefan. 19
Music Terhadap Hasil Belajar Pada April 2006. 16 Mei 2016.
Energy dan Usaha di SMP 2 <https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubme
Pematang Siantar T.P 2006/2007.” d/24936966>
Jurnal Pendidikan Mat & Sains. 2:2 9. Sze, Susan dan Sanna, Yu. “Effects
(2007): 77-83. of Music Therapy on Children with
4. Lerch, Donna. “The Mozart Effect: A Dissabilities.” Journal of ICMPC8,
Closer Look.” UIUC Spring (2000). Evanston, IL, USA 1-876346-50-7.,
28 Agustus 2016 1-876346-50-7. (2004).
<http://lrs.ed.uiuc.edu/students/lerch 10. Grossman, Herbert J dan Begab,
1/edpsy/mozart_effect.html> Michael J. Classification in Mental
5. Siegel, Daniel J. The Developing Retardation. Washington DC:
Mind. Guilford Press: New York, American Association on Mental
2012. Defeciency, 1983
6. Campbell, Don. Efek Mozart:
Memanfaatkan Kekuatan Musik

25

BIMKMI Volume 5 No.1 | Januari-Juli 2017


POTENSI TRAFFIC FOOD LABELLING
Tinjauan DALAM KANTIN SEHAT SEBAGAI
UPAYA MENGURANGI RISIKO
Pustaka OBESITAS PADA PEKERJA
KANTORAN
1 1
Aldian Noor Qolbi , A.A. Ratih Surya Prameswari , Ni
1
Luh Putu Ari Handayani
1
Prodi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran,
Universitas Udayana, Denpasar

ABSTRAK
Pendahuluan: Obesitas merupakan suatu masalah kesehatan yang memerlukan
penanganan yang efisien dan komperhensif. Data Riskesdas 2013 menyatakan, satu dari
lima laki-laki dan satu dari tiga wanita mengalami obesitas. Terlebih lagi obesitas lebih
banyak diderita oleh orang usia produktif yang cenderung mengalami jobstress di tempat
kerja. Pekerja yang mengalami jobstress berisiko 4,6 atau 2,4 lebih besar terkena
obesitas. Padahal beberapa perkantoran di Indonesia telah memiliki kantin untuk
mengatur pola makan pekerjanya. Namun, banyak kantin yang kurang baik
pengelolaannya.
Pembahasan: Program kantin sehat ini akan dikombinasikan dengan sistem Traffic Food
Labelling yang memiliki potensi untuk mengontrol gizi para pekerja kantoran dengan
makanan yang sesuai dengan Pedoman Gizi Seimbang dan divalidasi lansung oleh ahli
gizi. Selain itu, program ini juga secara tidak langsung akan meningkatkan kesadaran
pekerja terkait pola makan sehat melalui informasi gizi praktis pada sistem Traffic Food
Labelling, AKG, dan BMR. Selanjutnya, kontrol akan dilakukan oleh ahli gizi dengan
melakukan pemeriksaan IMT satu bulan sekali. Hal tersebut dilakukan untuk mengetahui
keberhasilan program dalam mengurangi risiko obesitas pada pekerja kantoran.
Kesimpulan: Kantin sehat di perkantoran akan dipadukan dengan sistem Traffic Food
Labelling, AKG, dan BMR yang divalidasi oleh ahli gizi. Untuk mengukur kebehasilan
program ini, akan dilakukan pemeriksaan IMT satu bulan sekali.
Kata Kunci: Obesitas, Pekerja, Perkantoran, Kantin, Traffic Food Labelling

ABSTRACT
Background: Obesity was a mayor health problem that needs an efficient and
comperhensive treatments. Riskesdas 2013 has recorded that one of five men and one of
three women had the experienced obesity. Moreover, people who tend to have a job
stress in the workplace has suffered it. Eventhough some offices in Indonesia have
canteen to managed dietary habit of their workers.
Idea: The healthy canteen program will be combined with Traffic Food Labelling by Food
Standard Agency UK that has the potential to manage the dietary habit of the workers
based on Pedoman Gizi Seimbang and it will be validated by the nutritionist. In addition,
the program also will indirectly increase the awareness of the dietary habit among the
workers through the nutritional information on Traffic Food Labelling, AKG, and BMR.
Furthermore, the control will be carried out by the nutritionist with Body Mass Index (BMI)
check up once a month to know the program’s succsess to decrease the risk of obesity of
the office workers.
Conclusion: The healthy canteen in the office will be combined with Traffic Food
Labelling, AKG, and BMR that validated by nutritionist. Body Mass Index check up will be
held once a month to know the program’s succsess.
Key Words: Obesity, Workers, Office, Canteen, Traffic Food Labelling

26

BIMKMI Volume 5 No.1 | Januari-Juli 2017


1. PENDAHULUAN menyebabkan pekerja tersebut lupa
Obesitas merupakan masalah akan pola hidup yang sehat dan jarang
kesehatan yang memerlukan bergerak. Penelitian cross sectional
penanganan yang efisien dan terhadap kejadian obesitas pada
komprehensif. Setiap tahunnya Pegawai Negeri Sipil (PNS) Sekertariat
prevalensi kejadian obesitas terus Jendral Kementerian Kesehatan
mengalami peningkatan. Obesitas dapat Republik Indonesia yang dilakukan
memberikan gangguan kesehatan yang Widiantini tahun 2013, menunjukan 48%
serius dan dapat menyebabkan dari 230 PNS tersebut mengalami
[9] [14]
kematian dini. Seiring dengan obesitas. Penelitian tersebut juga
meningkatnya Indeks Masa Tubuh (IMT), menyebutkan pegawai yang mengalami
seseorang maka kemungkinan jobstress sedang atau berat dapat
seseorang tersebut terkena penyakit berisiko 4,6 atau 2,4 kali lebih besar
[14]
seperti diabetes mellitus, penyakit mengalami obesitas.
kardiovaskular, dan beberapa penyakit Pada dasarnya, seorang pekerja
[4]
kanker meningkat juga. Selain itu, memiliki waktu ideal untuk berkerja yaitu
Organization of Economic Cooperation selama 8 jam per hari. Namun, masih
and Development (OECD) menyatakan banyak pekerja yang mengerjakan
bahwa setiap peningkatan berat badan pekerjaannya hingga lebih dari waktu
sebanyak 15 kilogram maka akan yang ditentukan karena pekerjaan yang
meningkatkan risiko kematian sebanyak terlalu banyak. Oleh sebab itu,
[7]
30%. diperlukan strategi-strategi praktis dan
Pada tahun 2008, World Health mudah dikerjakan untuk menjamin
Organization (WHO) menyatakan bahwa kesehatan para pekerja di perkantoran
sebanyak 35% penduduk dunia berumur sebagai bentuk jaminan kesehatan dan
≥20 tahun mengalami overweight dan keselamatan kerja para pekerja di
[13]
obesitas. Data dari Riset Kesehatan kantor.
Dasar 2013 menyatakan, satu dari lima Sesuai dengan data di atas,
laki-laki dewasa dan satu dari tiga gagasan ini bertujuan untuk mengetahui
wanita dewasa telah mengalami potensi dari strategi komprehensif dalam
[6]
obesitas di Indonesia. Penelitian yang mengurangi risiko obesitas dan efisien
dilakukan oleh Trisnawati pada tahun pada pekerja kantoran dengan
2013 menyebutkan bahwa, seseorang menerapkan kantin sehat yang
yang mengalami obesitas berisiko lebih dikombinasikan dengan sistem Traffic
besar yaitu sebanyak 7,14 kali terkena Food Labelling yang diadopsi dari Food
penyakit Diabetes Mellitus (DM) tipe 2 Standard Agency United Kingdom dan
dibandingkan yang tidak menderita disesuaikan dengan kebutuhan
[12]
obesitas. penduduk di Indonesia.
Sesuai data-data tersebut, dapat
disimpulkan bahwa bahwa obesitas juga 2. PEMBAHASAN
banyak diderita oleh orang-orang Beberapa kantor yang berada di
dewasa yang telah mencapai usia Indonesia sebenarnya telah memiliki
produktif. Oleh sebab itu, perlunya program untuk menjaga kesehatan
inovasi yang komprehensif dan efisien pekerjanya, seperti senam pada hari
yang dapat memberikan dampak positif Jumat. Namun, masih banyak pekerja
dalam upaya pencegahan kejadian yang tidak melakukan hal tersebut
obesitas pada orang-orang dewasa padahal senam dapat membantu
berusia produktif tersebut. meningkatkan kesehatan dan
[10]
Obesitas pada umumnya kebugaran pekerja tersebut. Selain itu,
disebabkan oleh beberapa faktor seperti beberapa perkantoran yang ada di
kurangnya kesadaran akan pola makan Indonesia juga sudah menyediakan
yang sehat, jarang berolahraga, kantin di kantor tersebut. Hal tersebut
merokok, dan minum minuman yang bertujuan untuk memudahkan pekerja di
beralkohol. Namun, obesitas juga dapat perkantoran tersebut untuk mengakses
disebabkan oleh kejadian jobstress makanannya sehingga para pekerja
pada pekerja dan lembur kerja hingga tidak perlu keluar kantor untuk mencari
[3]
larut malam. Hal tersebut dapat makanan. Selain itu, dengan adanya
27

BIMKMI Volume 5 No.1 | Januari-Juli 2017


kantin di perkantoran maka akan Traffic Food Labelling merupakan
mengefisienkan waktu pekerja tersebut informasi tambahan yang terdapat pada
dalam melakukan pekerjaannya. Pada tampilan depan makanan yang dapat
dasarnya, keberadaan kantin di membantu konsumen untuk mengetahui
perkantoran bertujuan untuk kandungan gizi makanan yang
memberikan kenyamanan pekerja dikonsumsinya. Traffic Food Labelling
tersebut. diklaim pertama kali ditemukan oleh
Penelitian yang dilakukan oleh Food Standard Agency yang terdapat di
Padmaningsih (2005) tentang United Kingdom. Informasi tambahan
kebersihan lingkungan pekerjaan di tersebut akan memuat tentang nilai
sebuah perkantoran di daerah kandungan gizi makanan yang dapat
Sukoharjo, menunjukan bahwa memberikan dampak buruk bagi
sebanyak 27% responden yang kesehatan berupa total lemak, kalori,
merupakan pekerja dari perusahan garam, dan gula. Nilai kandungan gizi
tersebut menyatakan kondisi kebersihan tersebut akan dengan penandaan warna
kantin di perusahan tersebut buruk. Hal yang dimiliki oleh European Regulation
[2]
ini disebabkan banyak pekerja di kantin for Nutrition and Health Claims.
tersebut yang kurang memerhatikan Sebuah penelitian longitudinal
kebersihannya selama menyajikan yang dilakukan oleh Throndike tahun
makanan di kantin tersebut. Responden 2014 tentang efektivitas penggunaan
penelitian tersebut menyatakan banyak Traffic Food Labeliing di sebuah kantin
pekerja kantin yang mengelola makanan rumah sakit di Mussachusetts, Boston,
dengan kurang bersih dan banyak UK terhadap 2285 pekerja rumah sakit
pekerja kantin yang memiliki kebiasaan menunjukan perubahan pola makan
buruk seperti berbicara, batuk, dan yang signifikan. Selama 2 tahun
[8]
bersin. penelitian tersebut didapatkan proporsi
Selain mementingkan aspek penjualan makanan dengan label
kebersihannya, kantin di perkantoran berwarna merah menurun dari 24%
juga harus mengutamakan kualtitas menjadi 20% (p<0,001) dan proporsi
makanan yang disajikan dengan baik penjualan makanan dengan label
dan benar. Oleh sebab itu, diperlukan berwarna hijau meningkat dari 41%
pengelolaan lebih baik terhadap kualitas menjadi 46% (p<0,001) selama 24 bulan.
makanan yang disajikan di kantin di Sedangkan, penjualan minuman di
perkantoran. Menurut Kemenkes RI, kantin rumah sakit tersebut yang
kantin yang sehat merupakan suatu menggunakan label merah menurun dari
tempat umum untuk tempat makan yang 26% menjadi 17% dan minuman
memiliki pengolahan makanan yang berlabel hijau meningkat dari 52%
[11]
tertutup dan memberikan pelayanan menjadi 60% . Hal ini membuktikan
khusus untuk menyediakan makanan bahwa pengggunaan Traffic Food
dan minuman yang aman untuk Labelling dalam sebuah kantin dapat
[5]
dikonsumsi. WHO menyarankan untuk memberikan intervensi baik terhadap
lebih banyak mengonsumsi buah dan pengaturan pola makan pembelinya.
sayuran serta mengurangi konsumsi Selain itu, penerapan sistem Traffic
makanan yang mengandung lemak Food Labelling dapat memudahkan
[1]
jenuh, gula sederhana, dan natrium. seseorang untuk dapat mengakses
Bertolok ukur kepada peningkatan makanan ataupun minuman yang sesuai
kejadian obesitas pada masyarakat dengan kebutuhan nutrisi hariannya.
dengan usia produktif di dunia Berikut adalah tabel pewarnaan Traffic
khususnya di Indonesia, sehingga Food Labelling oleh Food Standards
usaha-usaha preventif dalam Agency United Kingdom:
penatalaksanaan faktor risiko obesitas
perlu dilakukan secara menyeluruh.

28

BIMKMI Volume 5 No.1 | Januari-Juli 2017


Tabel 1. Pewarnaan Traffic Food Labelling

Jumlah Kandungan per 100 gr


Warna Label
Gula Lemak Garam
>15 gr > 20 gr > 1.5 gr

5 gr - 15 gr 3gr - 20 gr 0.3 gr - 1.5 gr

≤ 5 gr ≤ 3 gr ≤ 0.3 gr
Berdasarkan Traffic Food sehat ini akan diterapkan sistem Traffic
Labelling dari Food Standards Agency Food Labelling yang akan memudahkan
U.K, Food Labelling ditentukan pekerja kantoran tersebut mengakses
berdasarkan kandungan gula, lemak, informasi mengenai gizi yang tergantung
garam, dan kalori dalam makanan. Food dalam suatu makanan.
Labelling dibedakan berdasarkan tiga Sistem ini diterapkan dengan
warna, yakni: merah, kuning, dan hijau. mencantumkan keterangan jumlah kalori,
Warna merah dalam sistem Traffic Food jumlah lemak, jumlah gula, dan jumlah
Labelling digunakan sebagai penanda garam yang terkandung dalam makanan
makanan dengan kandungan gizi yang dengan menggunakan cara rolling menu
tidak sehat untuk pengkonsumsinya. yang telah ditentukan oleh ahli gizi
Warna kuning atau amber dalam Traffic setiap harinya. Sistem pengambilan
Food Labelling digunakan sebagai makanan dalam kantin sehat Traffic
penanda makanan yang memiliki Food Labelling ini menggunakan sistem
kandungan gizi yang sifatnya boleh prasmanan, sehingga para pekerja
dikonsumsi namun pengonsumsinya dapat bebas mengambil makanan
masih perlu berpikir dua kali untuk sesuai dengan kebutuhannya masing-
mengkonsumsi makan tersebut, dengan masing, karena tidak semua orang
kata lain label kuning menandakan memiliki kebutuhan gizi yang sama.
makanan tersebut masih kurang sehat Walaupun kantin sehat ini akan menitik
untuk dikonsumsi. Warna hijau dalam beratkan pada pola makan yang sehat,
Traffic Food Labelling digunakan namun kantin sehat ini tidak akan
sebagai penanda makanan dengan memaksa para pekerja untuk
kandungan gizi yang cukup sehat atau mengonsumsi makanan yang
aman untuk dikonsumsi. Sehingga mengandung gizi sehat setiap harinya.
melalui Traffic Food Labelling ini dapat Kantin sehat tersebut akan
membantu calon pengonsumen untuk memanfaatkan intervensi dan informasi
memilih makanan mereka, bahkan untuk yang terdapat pada Traffic Food
anak-anak sekalipun. Labelling untuk meningkatkan
Kantin sehat yang akan kebiasaan dan kesadaran pekerja
diterapkan di perkantoran ini lebih kantor untuk mengatur pola makan
menekankan kepada pengaturan pola sehatnya secara pribadi.
gizi yang baik dan benar untuk pekerja Kantin sehat ini didesain sesuai
yang memiliki waktu lebih sedikit dalam dengan ketentuan dari kemenkes RI
memilih makanan yang sehat (2011) mengenai Pedoman Keamanan
dibandingkan masyarakat pada Pangan, bahwa kantin sehat harus
umumnya. Jadwal shift yang padat, memenuhi beberapa syarat, yakni:
waktu kerja yang tidak menentu, dan tempat pengolahan makanan yang
jarang melakukan gerak selama tertutup, lantai kantin yang bersih,
berkerja merupakan indikator bahwa dinding yang bersih dengan warna yang
pekerja kantoran memerlukan perhatian terang dan mudah untuk dibersihkan,
yang lebih masalah pengaturan pola gizi memiliki langit-langit yang tidak bocor,
seimbang. Program kantin sehat ini fasilitas sanitasi yang memadai,
pada dasarnya memiliki konsep yang terdapat pintu, jendela serta ventilasi
hampir sama dengan kantin sehat pada agar kelembapan udara di dalam kantin
umumnya. Namun, program kantin dapat terjaga. Selain persyaratan
29

BIMKMI Volume 5 No.1 | Januari-Juli 2017


gedung, terdapat beberapa persyaratan
mengenai pengolahan makanan,
seperti: kebersihan dan kerapian
pengolah makanan, pemilihan bahan
baku yang baik, penggunaan Bahan
Tambah Pangan sesuai dengan
Permenkes RI No.
1168/Menkes/Per/X/1999, serta
penyimpanan dan pengemasan
makanan agar makanan yang diolah
[5]
terjaga kualitasnya.
Kantin sehat ini akan diterapkan
pada perkantoran yang telah memiliki
Gambar 1. Ilustrasi Informasi Traffic
kantin sebelumnya. Hal ini bertujuan
Food Labelling
untuk mengubah kantin yang sudah ada
tersebut namun memiliki kualitas Kantin sehat ini hanya akan
pengelolaan pola makan pekerjanya dibuka pada untuk makan siang bagi
yang kurang baik. Sehingga kantin pekerja kantoran tersebut. Hal ini
sehat ini dapat memiliki pengelolaan bertujuan untuk mencegah para pekerja
kualitas yang baik dan informasi gizi untuk keluar kantor dan menghabiskan
pada makanan yang disajikan tersebut waktu lama untuk mencari tempat
mudah diakses oleh pekerja pada kantor makan di luar kantor. Sehingga hal ini
tersebut. Dalam segi ekonomi, dapat memberikan waktu yang efisien
pembiayaan untuk pengelolaan kantin bagi pekerja untuk melanjutkan
ini didapatkan dari uang makan pekerja pekerjaannya setelah makan siang di
setiap bulannya. Penyaji atau petugas kantin tersebut. Untuk mencegah
kantin sehat memang akan sulit untuk kejenuhan pekerja selama makan siang
menyiapkan menu-menu tertentu untuk di kantor, kantin ini akan melakukan
memenuhi kebutuhan individu pekerja sistem rolling menu dengan memberikan
setiap harinya. Pemasangan Traffic variasi makanan yang berbeda setiap
Food Labelling akan membantu harinya namun tetap mengutamakan
memudahkan pekerja untuk memilih kualitas makanan yang disajikan.
makanan sesuai dengan kebutuhan diet Keberadaan kantin sehat ini
individualnya. bertujuan untuk memperbaiki pola
Traffic Food Labelling yang makan para pekerja kantoran yang
diadopsi dari Food Standard Agency memiliki waktu sedikit dalam mengakses
U.K akan diberikan informasi tambahan makanan yang sehat. Hal ini
berupa komposisi makanan yang dikarenakan para pekerja kantoran
disajikan. Hal ini bertujuan untuk sebagian besar menghabiskan
memberikan peringatan bagi pekerja di waktunya untuk mengerjakan tugas
kantor tersebut yang memiliki alergi atau kantornya. Selain itu, pertambahan usia
pantangan tertentu dalam hal makanan membuat aktivitas fisik menjadi
sehingga mereka dapat memilih dan berkurang sehingga kemampuan otot
memilah makanan yang baik dan benar dan massa otot dalam tubuh menurun.
untuk mereka konsumsi setiap harinya Kehilangan massa otot menyebabkan
selama berada di kantor. Berikut adalah penurunan kemampuan tubuh dalam
ilustrasi tampilan Traffic Food Labelling membakar kalori dalam tubuh, tanpa
yang akan dipasangkan disetiap menu mengurangi jumlah asupan kalori terjadi
yang disajikan: penumpukan energi di dalam tubuh
yang pada akhirnya menyebabkan
[9]
kegemukan dan obesitas.
Penerapan Traffic Food Labelling
pada kantin sehat ini akan bekerja sama
dengan seorang ahli gizi sehingga
pemilihan bahan baku yang baik dan
keberagaman dalam pemilihan rolling
menu setiap harinya dapat sesuai
30

BIMKMI Volume 5 No.1 | Januari-Juli 2017


dengan Pedoman Gizi Seimbang. sebenarnya mereka butuhkan sesuai
Pedoman Gizi Seimbang adalah dengan seberapa berat pekerjaan yang
panduan konsumsi dan perilaku sehat kerjakan di kantor, sehingga gizi para
berdasarkan prinsip konsumsi pekerja tetap seimbang (tidak ada yang
keanekaragaman pangan, perilaku terlalu kurang, tidak ada yang terlalu
hidup bersih, aktivitas fisik dan berlebih).
memantau berat badan secara teratur Penerapan Traffic Food Labelling
dalam rangka mempertahankan berat dalam kantin sehat ini diharapkan
badan. memiliki outcome yang dapat
Pedoman Gizi Seimbang berbeda meningkatkan kesadaran pekerja
dengan Prinsip 4 Sehat 5 Sempurna. kantoran akan pentingnya kebiasaan
Prinsip 4 Sehat 5 Sempurna makan sehat seimbang sesuai dengan
menggunakan konsep yang kebutuhan. Namun mengubah
menyamaratakan kebutuhan gizi kebiasaan seseorang tentunya tidak
seseorang yang berumur di atas dua mudah dan perlu proses yang panjang,
tahun, sedangkan Pedoman Gizi untuk itu diperlukan controling terhadap
Seimbang lebih menekankan pada penerapan Traffic Food Labelling ini.
pengonsumsian makanan sesuai Oleh sebab itu, dalam program ini akan
dengan kebutuhan orang tersebut dilakukan pengecekan jumlah makanan
karena tidak semua orang memiliki pada setiap warna serta pemeriksaan
kebutuhan gizi yang sama. Oleh sebab IMT pekerja setiap bulannya.
itu, dalam program ini rolling menu Pemeriksaan Indek Masa Tubuh setiap
menggunakan Pedoman Gizi bulannya merupakan salah satu tolok
[6]
Seimbang. Keberadaan Pedoman Gizi ukur keberhasilan dari program ini.
Seimbang pada tahun 2014 yang Selain itu, dalam satu bulan diharapkan
dicanangkan oleh Kementrian pekerja pada perkantoran yang
Kesehatan RI telah menggantikan menerapkan program kantin sehat ini
paradigma masyarakat Indonesia telah mengalami perubahan prilaku
terhadap Prinsip 4 Sehat 5 Sempurna. terhadap pengaturan pola makan
Hal ini disebabkan karena Prinsip 4 individualnya.
Sehat 5 Sempurna sudah tidak sesuai Sesuai dengan pemaparan di
lagi dengan kebutuhan gizi masyarakat atas, keberadaan program kantin sehat
di Indonesia. yang dipadukan dengan Traffic Food
Labelling yang digunakan untuk Labelling di perkantoran ini merupakan
membedakan makanan secara salah satu inovasi yang dapat dijadikan
kandungan gizi adalah Labelling alternatif dalam menjaga kesehatan
menggunakan standar Angka para pekerja di perkantoran. Selain hal
Kecukupan Gizi (AKG). Selain tersebut, dengan adanya kantin sehat ini
menggunakan Food Labelling dapat membantu perkantoran dalam
berdasarkan pada Angka Kecukupan mengimplementasikan hak-hak pekerja
Gizi (AKG), dalam kantin sehat ini sebagai salah satu bentuk dari
diberikan informasi gizi praktis kesehatan dan keselamatan dalam
mengenai cara perhitungan kalori yang berkerja. Namun, di samping hal
dibutuhkan per individu dengan tersebut tersebut program ini tetap
menggunakan perhitungan Basal memiliki potensi baik dan potensi yang
Metabolic Rate (BMR). kurang baik dalam kinerjanya. Berikut
Informasi perhitungan Basal adalah analisis mengenai kelebihan,
Metalic Rate (BMR) dan penghitungan kelemahan, kesempatan, dan ancaman
diet perampingan (untuk pekerja yang yang terdapat pada program kantin
merasa perlu menurunkan berat badan) sehat ini.
akan dimuat pada papan yang akan
diletakan berdekatan dengan tempat Kelebihan yang dimiliki oleh
para pekerja mengambil makanan kantin sehat ini adalah:
mereka. Dengan mencantumkan a. Dalam kantin sehat ini terdapat
perhitungan Basal Metalic Rate (BMR) menu sehat yang diatur dan
diharapkan para pekerja nantinya dapat divalidasi oleh ahli gizi yang
menghitung kebutuhan kalori yang telah bekerjasama dalam
31

BIMKMI Volume 5 No.1 | Januari-Juli 2017


program ini. Sehingga pekerja apabila ada pekerja yang
kantoran tidak perlu memikirkan lembur hingga malam tidak
masalah kualitas dari makanan akan mendapatkan pelayanan
yang disajikan setiap harinya. dari kantin tersebut.
b. Melalui informasi tentang gizi c. Memerlukan biaya tambahan
yang terkandung dalam setiap karena harus memperkerjakan
makan yang disajikan di kantin seorang ahli gizi makanan yang
sehat ini, para pekerja dapat akan mengartur pola makanan
memilihi sendiri makanan yang setiap harinya sekaligus
mereka butuhkan sesuai sebagai head chef.
dengan kebutuhan diet d. Perasaan bosan yang dirasakan
individualnya. pekerja kantor dengan menu
c. Keberadaan kantin sehat di yang disajikan pada program
perkantoran ini dapat mencegah kantin sehat ini. Walaupun
atau mengurangi kebiasaan terdapat sistem rolling menu
pekerja yang mencari makanan yang akan disajikan setiap
di luar kantor. Hal ini harinya namun pekerja
bermanfaat untuk lebih biasanya tetap lebih suka
mengefisienkan waktu kerjanya mencari makanan di luar kantor.
di dalam kantor, karena ketika
pekerja mencari makan di luar Kesempatan yang terdapat
area kantor cendrungan akan pada program kantin sehat ini adalah:
menghabiskan waktu lama a. Dapat meningkatkan efisiensi
untuk memilih makanan yang waktu kerja bagi pekerja
akan mereka makan. kantoran karena pekerja sering
d. Sebagai upaya implementasi telat ketika harus mencari
kesehatan dan keselamatan makan di luar area kantor.
kerja bagi perkantoran yang b. Penerapan kantin sehat ini
menerapkan kantin sehat ini. sesuai dengan fakta yang
Sehingga dapat mengurangi sedang berkembang, yaitu
risiko-risiko yang berhubungan bahwa banyak pekerja yang
dengan penyakit akibat mulai lupa dengan kesehatan
pekerjaan. tubuhnya akibat terlalu sibuk
e. Pekerja kantor dapat berkerja.
beristirahat tepat waktu dan c. Keberadaan Traffic Food
kembali berkeja dengan tepat Labelling disetiap makanan
waktu juga. yang disajikan dapat
f. Menunjang pemeliharaan mempermudah pekerja memilih
kesehatan tenaga kerja di makanan sesuai dengan diet
tempat kerja yang nantinya individualnya.
akan berdampak pada d. Perkantoran atau tempat kerja
peningkatan kualitas dan akan memiliki pekerja yang
produktifitas kerja. terjaga kesehatannya.

Namun, adapun kelemahan Adapun ancaman yang dimiliki


yang dimiliki oleh program kantin sehat oleh program kantin sehat ini sebagai
ini, yaitu: berikut;
a. Kantin sehat hanya akan a. Adanya pengambilan jatah uang
diterapkan pada perkantoran makan yang terdapat pada gaji
yang telah memiliki kantin setiap bulannya yang akan
sebelumnya namun tidak baik dialokasikan untuk program
dalam pengelolaannya. Oleh kantin sehat tersebut.
sebab itu, tidak semua kantor b. Tidak semua kantor memiliki
dapat menerapkan program ini. kantin sebelumnya, sehingga
b. Kantin sehat hanya akan tidak semua kantor yang ada
melayani untuk istirahat makan dapat diaplikasikan program
siang saja. Oleh sebab itu, kantin sehat ini.
32

BIMKMI Volume 5 No.1 | Januari-Juli 2017


c. Ditakutkan para pekerja akan 4. Guh D et al. “The incidence of co-
merasa jenuh dengan program morbidities related to obesity and
ini dikarenakan pekerja overweight: a systematic review
diusahakan untuk tidak kelur and meta-analysis.” BMC Public
kantor selama jam istirahat Health. 9:88 (2009): 1-20.
makan siang. 5. Kementerian Kesehatan Republik
Indonesia. Pedoman Keamanan
3. KESIMPULAN Pangan di Sekolah Dasar. Jakarta:
Berdasarkan pemaparan Kementerian Kesehatan Republik
gagasan penulis diatas, maka dapat Indonesia, 2011.
disimpulkan beberapa hal yaitu kantin 6. “Permenkes Tentang Angka
sehat yang akan diterapkan di Kecukupan Gizi (AKG) 2013.”
perkantoran akan dipadukan dengan Kementerian Kesehatan RI,
informasi Traffic Food Labelling, Direktorat Jenderal Kesehatan
pedoman Angka Kecukupan Gizi (AKG), Masyarakat, Direktorat Gizi
dan Basal Metabolic Rate (BMR) yang Masyarakat. 2014.
telah divalidasi oleh seorang ahli gizi <http://gizi.depkes.go.id/permenkes
serta sebagai upaya evaluasi -tentang-angka-kecukupan-gizi>
keberhasilan program kantin sehat ini, 7. OECD Directorate for Employment,
akan dilakukan cek Indeks Masa Tubuh Labour, and Social Affiars. Update
(IMT) setiap satu bulan sekali. obesitas: Juni 2014. Paris:
Organization for Economic
4. SARAN Cooperation and Development,
Adapun saran yang dapat 2014.
diberikan oleh penulis karya ini adalah: <www.oecd.org/health/Obesity-
1. Bagi pembaca, diharapkan Update-2014.pdf>.
menerapkan pola hidup sehat untuk 8. Padmaningsih, Ristanti. “Pengaruh
mencegah penyakit-penyakit Keselamatan da Kesehatan Kerja
degeneratif. Terhadap Produktivitas Kerja
2. Diterapkannya program ini tidak Karyawan pada PT. TYFOUNTEX
hanya di perkantoran tetapi juga di Indonesia Kabupaten Sukoharjo.”
perguruan tinggi. 2009.
3. Bagi peneliti, disarankan mengkaji <http://eprints.undip.ac.id/13549/>.
kembali gagasan ini dengan menguji 9. Pallesen, Stale et al. “Associations
efektifitas program yang ditawarkan between night work and BMI,
penulis. alcohol, smoking, caffeine, and
exercise – a cross-sectional study.”
DAFTAR PUSTAKA BMC Public Health, BMC Obesity.
1. Amber, A.W.A, Heijden V.D. “A 2:43 (2015): 1-8.
Prospective Study of Breakfast 10. Sulistyowati, D.A. “Pentingnya
Consumption and Weight Gain Pelaksanaan Keamanan,
Among U.S. Men.” Obesity. 15:10 Kesehatan, dan Keselamatan Kerja
(2007): 2463-2469. di Perkantoran. Yogyakarta:
2. Anonim. Food Standard Agency Fakultas Ekonomi Universitas
(FSA) UK. Food Labels For More Negeri Yogyakarta. 2013.
Informed Choices. 2007. 28 11. Thorndike, A.N., Riis J.,
Desember 2015. Sonnenberg L.M. “Traffic Light
<www.food.gov.uk>. Labels and Choice Architecture
3. George, Alexis St et al. Promoting Healthy Food Choices.”
“Comprehensive sector-wide Am J Prev Med. 46:2 (2014): 143-
strategies to prevent and control 149.
obesity: what are the potential 12. Trisnawati, S.K., Setyorogo, S.
health and broader societal “Faktor Risiko Kejadian Diabetes
benefits? A case study from Mellitus Tipe II di Puskesmas
Australia.” Public Health Research Kecamatan Cengkareng Jakarta
& Practice. 25:4 (2015): 1-9.

33

BIMKMI Volume 5 No.1 | Januari-Juli 2017


Barat Tahun 2012.” Jurnal Ilmiah
Kesehatan. 5:1 (2013): 12-15.
13. WHO. Global Health Observatory
(GHO) data – overweight. 2008. 12
September 2016.
<www.who.int/gho/ncd/risk_factors/
overweight_text/en/>.
14. Widiantini, W., Zafiel, T. “Aktivitas
Fisik, Stres, dan Obesitas pada
Pegawai Negeri Sipil (PNS).” Jurnal
Kesehatan Masyarakat Nasional.
8:7 (2014): 330-336.

34

BIMKMI Volume 5 No.1 | Januari-Juli 2017


FCTC: SOLUSI TERBAIK
Editorial MENANGGULANGI PERMASALAHAN
ROKOK DI INDONESIA
1
Husda Oktaviannoor
1
Field Epidemiology Training Program (FETP), Fakultas
Kesehatan Masyarakat,
Universitas Indonesia, Depok

Tahun 2017 hangat dibicarakan Indonesia merupakan negara ketiga


mengenai kegiatan pameran alat dengan jumlah perokok tertinggi di dunia
produksi rokok atau WTPM (World setelah Cina dan India dengan
Tobacco Process and Machinery) yaitu prevalensi perokok yaitu 36,1%. Pada
memperkenalkan alat-alat produksi tahun 2007, Indonesia menduduki
rokok yang canggih yang akan peringkat ke-5 konsumen rokok terbesar
dipamerkan di Indonesia. WTPM setelah Cina, Amerika Serikat, Rusia
merupakan kelanjutan dari WTA (World dan Jepang.[3] Pada tahun 2010,
Tobacco Asia) yang diselenggarakan diperkirakan 384.058 orang di Indonesia
pada tahun 2012. menderita penyakit terkait konsumsi
Produksi rokok atau tembakau dan tembakau. Total kematian akibat
konsumsi rokok menimbulkan polemik di konsumsi rokok mencapai 190.260 atau
masyarakat. Satu sisi, rokok sangat 12,7% dari total kematian pada tahun
lekat di masyarakat. Di sisi lain, tidak 2010. Penyebab kematian terbanyak
sedikit juga yang menentang dengan adalah penyakit stroke, jantung koroner,
keberadaan rokok ini. Tembakau masih serta kanker trakea, bronchus dan
merupakan masalah global. Sedikitnya 5 paru.[4]
juta orang meninggal akibat penyakit Hal ini tidak dapat dipungkiri
yang disebabkan tembakau setiap mengingat bahwa Indonesia merupakan
tahunnya. Jumlah ini akan mencapai 10 salah satu negara atau satu-satunya
juta pada tahun 2030 di mana 70% negara Asia Pasifik dan anggota OKI
kematian terjadi di negara-negara (Organisasi Kenferensi Islam) yang
berkembang.[1] Hasil penelitian Wu belum tergabung dalam FCTC
Fen, et al (2013) pada penelitian kohort (Framework Convention on Tobacco
mengenai merokok dan kematian di Control).[1] Pengendalian tembakau di
Bangladesh menyebutkan bahwa pada Indonesia mengalami perdebatan
laki-laki yang menggunakan tembakau panjang, mulai dari hak asasi seorang
atau merokok memiliki risiko 1,4 kali perokok, fatwa haram merokok di
lebih besar (95% CI 1,06-1,86) tempat umum, sampai pada dampak
mengalami kematian dari semua antirokok terhadap perekonomian dan
penyakit penyebab rokok dibandingkan tenaga kerja di Indonesia. Dengan
bagi mereka yang tidak merokok, 2,91 alasan besarnya devisa yang diberikan
kali lebih berisiko (95% CI 1,24-6,80) oleh perusahaan rokok dan perdebatan
mengalami kematian akibat kanker, dan panjang tersebut membuat pemerintah
1,87 kali berisiko (95% CI 1,87-3,24) Indonesia masih menunda
mengalami kematian akibat penyakit menandatangani dan meratifikasi
jantung iskemik. Pada wanita yang FCTC.[5]
merokok lebih berisiko 1,65 kali (95% CI Merokok sampai saat ini masih
1,16-2,36) mengalami kematian akibat menjadi masalah nasional yang perlu
penyakit penyebab rokok, serta 2,69 kali secara terus menerus diupayakan
berisiko (95% CI 1,20-6,01) mengalami penanggulangannya, karena
kematian karena penyakit jantung menyangkut berbagai aspek
iskemik.[2] permasalahan dalam kehidupan, yaitu

35

BIMKMI Volume 5 No.1 | Januari-Juli 2017


aspek ekonomi, sosial, politik, utamanya dan jumlah batang rokok yang
aspek kesehatan. Dari aspek dikonsumsi di Indonesia yang telah
kesehatan, rokok mengandung 4000 zat berjalan lama dan sangat intensif.[6]
kimia berbahaya bagi kesehatan, seperti FCTC berdasarkan tujuannya yaitu
nikotin yang bersifat adiktif dan tar yang melindungi generasi sekarang dan
berifat karsinogenik, bahkan juga mendatang dari kerusakan kesehatan,
formalin. Beberapa penyakit yang sosial, lingkungan, dan konsekuensi
ditimbulkan karena kebiasaan merokok ekonomi dari konsumsi tembakau serta
seperti emfisema, kanker paru, paparan terhadap asap tembakau.
bronchitis kronis, dan penyakit paru FCTC telah menjadi hukum
lainnya. Dampak lainnya yakni internasional, 143 negara telah
terjadinya penyakit jantung koroner, meratifikasinya, termasuk negara-
peningkatan kolesterol darah, berat bayi negara penghasil tembakau terbesar di
lahir rendah pada bayi ibu perokok, dunia. Beberapa ketentuan pokoknya
keguguran, dan bayi lahir mati.[3] yaitu mensyaratkan negara anggota
Upaya pengendalian dampak FCTC melaksanakan larangan total
konsumsi rokok bagi kesehatan di terhadap semua jenis iklan, pemberian
Indonesia, saat ini memiliki kekuatan sponsor, dan promosi produk tembakau
berupa Undang-Undang Nomor 36 secara langsung maupun tidak
tahun 2009 tentang Kesehatan, langsung, menerapkan kawasan tanpa
Peraturan Pemerintah Nomor 109 tahun rokok secara total, mensyaratkan agar
2012 tentang Pengamanan Bahan yang sedikitnya 30% dari permukaan
Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk kemasan rokok digunakan label
Tembakau Bagi Kesehatan serta peringatan kesehatan dengan
Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 28 menggunakan gambar dalam kurun
tahun 2013 tentang Pencantuman waktu 3 tahun dan mengharuskan
Peringatan Kesehatan dan Informasi peringatan tersebut diganti-ganti setiap
Kesehatan pada Kemasan Produk kali setelah meratifikasi FCTC, dan
Tembakau.[6] Dengan melakukan menaikkan pajak tembakau.[1]
promosi kesehatan melalui media yakni FCTC jelas ditentang oleh industrri
melakukan pencantuman peringatan tembakau. Mereka menyatakan bahwa
seperti gambar-gambar dari foto nyata FCTC adalah obsesi negara maju yang
dampak kesehatan seperti kanker mulut, dipaksakan kepada negara
kanker nasofaring, dan lain sebagainya, berkembang. Mereka menyatakan
yang dilihat para perokok saat membeli bahwa FCTC hanya akan merampas
ataupun memperhatikan bungkus rokok, hak pemerintah dalam menentukan
diharapkan berdampak pada kesadaran kebijakan pengendalian dampak
perokok akan bahaya yang ditimbulkan tembakau nasional. Selain itu, mereka
pada kesehatannya, sehingga sedikit secara terus menerus menakut-nakuti
demi sedikit mulai mengurangi konsumsi pemerintah bawa FCTC akan merusak
rokok hingga benar-benar berhenti tatanan ekonomi, tanpa mengindahkan
untuk merokok. penemuan Bank Dunia yang
Selain itu kebijakan dalam menyatakan bahwa pengendalian
penyediaan dana bagi pengendalian dampak tembakau berdampak baik
tembakau yang diamanatkan dalam untuk kesehatan dan ekonomi.[1]
Undang-Undang Nomor 39 tahun 2007 FCTC terus melakukan upaya
tentang Cukai, dan pengaturan pajak dalam mengubah persepsi masyarakat
rokok yang tertuang dalam Undang- tentang tembakau dan perlunya memiliki
undang Nomor 28 tahun 2009 tentang Undang-undang serta peraturan yang
Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, kuat untuk mengendalikan penggunaan
juga merupakan kekuatan yang dimiliki tembakau. Sampai saat ini FCTC telah
pemerintah. Namun upaya tersebut memberikan dorongan baru untuk
mendapat ancaman dari maraknya iklan membuat peraturan perundangan
rokok di media penyiaran dan media nasional dan upaya-upaya untuk
luar ruang dan pemberian sponsor oleh mengendalikan dampak tembakau.[1]
industri rokok. Ancaman lainnya adalah Upaya-upaya yang dilakukan atau
adanya peningkatan prevalensi merokok kerangka kerja dalam FCTC adalah: 1)
36

BIMKMI Volume 5 No.1 | Januari-Juli 2017


mensyaratkan negara anggota Berdasarkan aspek yang
melaksanakan larangan total terhadap ditimbulkan dari bahaya tembakau dan
segala jenis iklan, pemberian sponsor upaya pengendalian tembakau melalui
dan promosi produk-produk tembakau, FCTC, hal ini merupakan solusi yang
baik secara langsung maupun tidak harus diimplementasikan dalam
langsung; 2) mengambil langkah- kebijakan pemerintah secara
langkah efektif dalam melindungi bukan komprehensif agar pengendalian dapat
perokok dari asap rokok di ruang publik, dilakukan secara total dan dampak yang
termasuk tempat kerja, kendaraan ditimbulkan akibat tembakau khususnya
umum, serta ruang publik lainnya. Salah dari aspek kesehatan dapat dikurangi
satu langkahnya adalah menerapkan bahkan dapat dihilangkan.
Kawasan Tanpa Rokok secara total; 3)
mensyaratkan agar sedikitnya 30% dari DAFTAR PUSTAKA
permukaan kemasan produk digunakan 1. Tobacco Control Support Center
untuk label peringatan kesehatan dalam Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat
kurun waktu 3 tahun, dengan peringatan Indonesia (TCSC-IAKMI).
yang ditulis setelah meratifikasi FCTC, Framework Convention on
dan menggunakan gambar; 4) Tobacco Control (FCTC). Jakarta:
mensyaratkan dilakukan suatu tindakan TCSC-IAKMI, 2011.
dalam rangka mengatasi 2. Wu Fen, et al. A Prospective
penyelundupan tembakau; 5) Studyof Tobacco Smoking and
menghimbau negara anggota untuk Mortality in Bangladesh. Plos One.
menaikkan pajak tembakau dan 2013; 8 (3): 1-11. 29 Mei 2017
mempertimbangkan tujuan kesehatan http://journals.plos.org/plosone/artic
masyarakat dalam menetapkan le?id=10.1371/journal.pone.005851
kebijakan cukai dan harga produk 6
tembakau; 6) negara anggota sepakat 3. Kementerian Kesehatan RI.
untuk menyusun suatu acuan yang Pedoman Pengembangan
dapat digunakan oleh seluruh negara Kawasan Tanpa Rokok. Jakarta:
dalam mengatur kandungan produk Kemenkes RI, 2011.
tembakau; 7) tindakan hukum perlu 4. Tobacco Control Support Center
dilakukan sebagai pengendalian Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat
dampak tembakau sehingga negara Indonesia (TCSC-IAKMI). Atlas
anggota sepakat melakukan pendekatan Tembakau Indonesia. Jakarta:
legislatif dan hukum dalam mencapai TCSC-IAKMI, 2013.
tujuan dan bekerja sama dalam 5. Supriyadi A. Kawasan tanpa rokok
pengadilan yang terkait dengan masalah sebagai perlindungan masyarakat
tembakau; 8) negara anggota akan terhadap paparan asap rook untuk
mengawasi pelaksanaan FCTC, mencegah penyakit terkait rokok.
sehingga implementasi FCTC dapat Skripsi. Fakultas Kesehatan
dijalankan dengan baik; 9) negara Universitas Dian Nuswantoro,
anggota memberikan komitmen untuk Semarang. 2014.
mengalokasikan dana global untuk 6. Peraturan Menkes RI nomor 40
pengendalian tembakau dengan tahun 2013 tentang Peta jalan
memobilisasi dukungan keuangan dari pengendalian dampak konsumsi
sumber dana yang ada.[1] rokok bagi kesehatan.

37

BIMKMI Volume 5 No.1 | Januari-Juli 2017


HUBUNGAN MASA KERJA DAN
Penelitian KECEMASAN DENGAN KELELAHAN
PADA PENGEMUDI SOPIR BUS
Asli EKSEKUTIF ANTAR KOTA DAN
ANTAR PROVINSI (AKAP) DI
TERMINAL GIWANGAN
YOGYAKARTA
1 1
Mutmainah , Ahmad Ahid Mudayana
1
Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas
Kesehatan Masyarakat, Universitas Ahmad Dahlan,
Yogyakarta

ABSTRAK
Pendahuluan: Kelelahan dapat menyebabkan berkurangnya kemauan untuk melakukan
pekerjaan dan meningkatkan kesalahan dalam bekerja dan menyebabkan kecelakaan
kerja. Masa kerja pada pengemudi sopir bus eksekutif Antar Kota dan Antar Provinsi
(AKAP) berpengaruh terhadap kelelahan kerja dikarenakan semakin lama seseorang
bekerja, maka semakin tinggi tingkat kelelahannya karena perasaan jenuh akibat
pekerjaan yang menoton. Sedangkan kecemasan yang dirasakan oleh pengemudi bus
eksekutif Antar Kota dan Antar Provinsi (AKAP) berpotensi menimbulkan kelelahan kerja.
Kecemasan yang dirasakan oleh supir bus umumnya diakibatkan oleh rasa khawatir
mengenai tuntutan pekerjaan.
Metode: Jenis penelitian ini analitik observasional dengan rancangan study cross
sectional dengan cara pengambilan sampel teknik Incidental Sampling yaitu sebanyak 63
pengemudi sopir bus eksekutif Antar Kota dan Antar Provinsi (AKAP). Instrumen yang
dipakai adalah kuesioner dengan metode Samn Perelli Scale dan Zung Silf-Rating
Anxienty Scale (SAS/SRAS). Analisis data menggunakan analisis univariat dan bivariat
dengan uji statistik Chi Square.
Hasil Penelitian: Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan ada hubungan masa kerja
dengan kelelahan hasil nilai sig (p=0,002) dengan (α=0,05) pada pengemudi bus
eksekutif. Ada hubungan kecemasan dengan kelelahan hasil nilai sig (p=0,007) dengan
(α=0,05) pada pengemudi bus eksekutif.
Kesimpulan: Ada hubungan yang signifikan antara masa kerja dan kecemasan dengan
kelelahan pada pengemudi bus eksekutif antar kota dan antar provinsi (AKAP) di
Terminal Giwangan Yogyakarta.

Kata Kunci: Masa kerja, Kecemasan, Kelelahan.

ABSTRACT
Background: Fatigue could lead to low willingness to do the work and improve the errors
in the work and caused accidents. Tenure on the inter-city and province (AKAP)
executive bus driver had an effect on fatigue due to the longer a person worked, the
higher the level of fatigue was because of the feeling of saturation caused by the
monotonous work. While the anxiety felt by the inter-city and inter-province executive bus
driver potentially caused fatigue. Anxiety felt by the driver was generally caused by a
sense of worry about the demands of the job.
Methods: This was an observational analytic study with study cross sectional design,
with Incidental Sampling technique that there were 63 inter-city and inter province
executives bus drivers as sample. The instrument used in this study was a questionnaire

38

BIMKMI Volume 5 No.1 | Januari-Juli 2017


with methods of Samn Perelli Scale and Zung Anxienty Sylphe-Rating Scale (SAS/SARS).
The data analysis applied univariate and bivariate Chi-Square test.
Results: The results of study showed that there was a relationship between tenure with
fatigue in the significance value (p = 0.002) with (α = 0.05) in executive bus driver. There
was a relationship between anxiety and fatigue in the significance value (p = 0.007) with
(α = 0.05) in executive bus driver.
Conclusion: There was a significant relationship between tenure and anxiety with fatigue
on inter-city and inter –province executive bus driver in Giwangan Bus Station of
Yogyakarta.

Keywords: Tenure, Anxiety, Fatigue.

1. PENDAHULUAN sebab itu cara menghadapinya pun


Keselamatan dan kesehatan kerja berbeda. Terkadang seorang individu
merupakan upaya untuk menjamin menganggap suatu persoalan kecil
keutuhan dan kesempurnaan jasmani sebagai hal yang sangat mengganggu
dan rohani tenaga kerja khususnya, dan dirinya. Sebaliknya perkara besar
manusia pada umumnya. Keselamatan baginya sangat mudah diselesaikan.
dan kesehatan kerja mempunyai banyak Kecemasan yang tidak proporsional
pengaruh terhadap faktor kecelakaan. akan berdampak pada negatif bagi
Adapun keselamatan kerja merupakan seseorang. Misalnya supir bus yang
suatu keadaan yang menjamin merasa cemas saat mengemudi atau
keselamatan para pekerja ketika bekerja. Jika rasa cemas tidak segera
bekerja. Apabila para pekerja berada diatasi, maka dapat menimbulkan stress
dalam kondisi sehat jasmani dan rohani, yang berkepanjangan bagi sang sopir.
serta didukung oleh sarana dan Pada titik ekstrem, tekanan psikologis
prasarana yang terjamin itu dapat menimbulkan kecelakaan yang
keselamatannya, produktivitas akan dapat membahayakan dirinya dan jiwa
meningkat. Banyak faktor yang orang lain. Kecemasan timbul akibat
mempegaruhi kesehatan, baik adanya respon terhadap kondisi stress
kesehatan individu maupun kesehatan atau konflik. Hal ini bisa terjadi di mana
masyarakat, antara lain keturunan, seseorang mengalami perubahan situasi
lingkungan, perilaku, dan pelayanan dalam hidupnya dan dituntut dalam
[1]
kesehatan. beradaptasi.
Masa kerja dapat memberikan Kelelahan subjektif biasanya
pengaruh positif terhadap kinerja terjadi pada akhir jam kerja. Saat
seorang pekerja. Semakin lama kebutuhan metabolisme dinamis dan
seseorang bekerja akan semakin mahir, aktivitas melampaui kapasitas energi
cekatan, dan berpengalaman atas yang dihasilkan oleh tenaga kerja, maka
pekerjaan yang digelutinya. Pada sisi kontraksi otot akan terpengaruhi
lain, durasi masa kerja yang lama dan sehingga kelelahan seluruh badan
[3]
panjang juga dapat menimbulkan terjadi. Kelelahan pada pekerja dapat
persoalan yang negatif, semisal menurunkan kinerja, serta merupakan
kelelahan dan kebosanan. Durasi suatu kondisi yang dapat berakibat
aktivitas kerja yang panjang meningkatkan risiko penyakit.
memberikan posibilitas besar Salah satu masalah kesehatan
terpaparnya seseorang bahaya-bahaya kerja yang dialami oleh tenaga kerja dan
yang tidak diinginkan di dunia kerja. berdampak terhadap keselamatan kerja
Kategori masa kerja sendiri, menurut adalah kelelahan kerja. Kelelahan
Suma’mur (1993) yang dikutip oleh merupakan suatu mekanisme
Kandung (2013) dibagi menjadi dua perlindungan tubuh agar tubuh terhindar
yakni; <5 tahun dan >5 tahun dalam dari kerusakan lebih lanjut sehingga
[2] [4]
skala nominal. terjadi pemulihan setelah istirahat.
Kecemasan pada setiap individu Kelelahan kerja adalah keadaan
memiliki tingkat yang berbeda, oleh karyawan mengalami penurunan

39

BIMKMI Volume 5 No.1 | Januari-Juli 2017


efisiensi kinerja, sehingga menyebabkan timbulnya kelelahan kerja baik fisik atau
berkurangnya kemauan untuk mental.
melakukan pekerjaan dan meningkatkan Peneliti tertarik untuk melakukan
kesalahan dalam bekerja dan penelitian mengenai Hubungan Masa
[5]
menyebabkan kecelakaan kerja. Kerja dan Kecemasan Dengan
Sedangkan berdasarkan data Kelelahan Pada Pengemudi Bus
Badan Pusat Statistik (BPS) Eksekutif Antar Kota dan Antar Propinsi
Ketenagakerjaan akhir tahun 2015, (AKAP) di Terminal Giwangan
angka kecelakaan kerja di Indonesia Yogyakarta. Tujuan peneliti ini adalah
berjumlah 105.182 kasus dengan untuk mengetahui hubungan masa kerja
korban meninggal dunia sebesar 2.375 dan kecemasan dengan kelelahan pada
orang. Jumlah kecelakaan yang tercatat pengemudi bus eksekutif Antar Kota dan
tersebut terbilang besar, karena itu perlu Antar Provinsi (AKAP) di Terminal
perhatian yang serius dari segenap Giwangan Yogyakarta.
pihak yang terkait. Salah satu penyebab
terjadinya kecelakaan adalah kelelahan 2. METODE PENELITIAN
fisik dan mental. Misalnya, para pekerja Penelitian ini merupakan
acap mengabaikan peraturan dan penelitian analitik observasional dengan
mekanisme kerja, jeda atau istirahat rancangan cross sectional karena
yang seharusnya dilakukan per-empat mencari hubungan variabel bebas dan
jam sekali diabaikan, pengabaian variabel terikat dengan melakukan
tersebut berujung pada kelelahan yang pengukuran pada saat yang bersamaan.
tidak terperi. Akhirnya, kelelahan fisik itu Cara pengambilan sampel teknik
berakhir pada kecelakaan yang Incidental Sampling yaitu sebanyak 63
sesungguhnya tidak diharapkan oleh pekerja. Instrumen yang dipakai adalah
yang bersangkutan. Pada sisi lain kuesioner dengan metode Samn Perelli
kecemasan yang tidak dikontrol dengan Scaledan Zung Selft-Rating Anxiety
baik juga dapat menimbulkan kelelahan Scale (SAS/SRAS). Analisis data
yang bersifat mental atau psikologis. menggunakan analisis univariat dan
Artinya, durasi kerja yang panjang dan bivariat dengan uji statistik Chi Square
kecemasan menjadi sumber penyebab

3. HASIL PENELITIAN
3.1 Analisis Univariat
3.1.1 Karakteristik Responden

Tabel 1. Karakteristik Responden di Terminal Giwangan Yogyakarta 2016


Karakteristik Total (N) Presentasi (%)
Umur
a. Dewasa (26-45 tahun) 48 76,4
b. Lansia (46-65 tahun) 15 23,6
Status Perkawinan
a. Menikah 59 93,7
b. Belum Menikah 4 6,3
Pendidikan
a. SD 15 23,8
b. SMP 18 28,6
c. SMA/SMK/Sederajat 30 47,6
Total 63 100
Sumber: Data Primer 2016

Berdasarkan hasil dari Tabel 1 di sebesar 48 orang (76,4%). Distribusi


atas, dapat dilihat bahwa distribusi umur umur yang paling sedikit adalah 46-65
yang paling banyak adalah 26-45 tahun tahun sebanyak 15 orang (23,6%). Hasil
40

BIMKMI Volume 5 No.1 | Januari-Juli 2017


dari karakteristik berdasarkan status paling banyak pada pekerja adalah
perkawinan rata-rata sudah menikah SMA/SMK/Sederajat sebesar 30 orang
yaitu pekerja yang sudah menikah (47,6%), dan SMP sebesar 18 orang
sebanyak 59 orang (93,7%), dan belum (28,6%). Tingkat pendidikan yang paling
menikah lebih sedikit sebanyak 4 orang sedikit adalah tingkat pendidikan SD
(6,3%). Sedangkan hasil karakteristik sebesar 15 orang (23,8%).
berdasarkan tingkat pendidikan yang

3.1.2 Masa Kerja

Tabel 2. Distribusi Masa Kerja Pada Responden Pengemudi Bus Eksekutif


No Kategori Total (Orang) Persentase (%)
1 Baru kerja (≤ 5 thn) 29 46
2 Lama kerja (> 5 thn) 34 54
Total 63 100
Sumber: Data Primer
Berdasarkan pengumpulan data tahun sebanyak 54% (34 responden).
dengan kuesioner diketahui bahwa Dapat disimpulkan bahwa mayoritas
responden yang memiliki masa kerja ≤5 responden memiliki masa kerja lebih
tahun sebanyak 46% (29 responden). dari 5 tahun.
Sedangkan yang memiliki masa kerja >5

3.1.3 Kecemasan

Tabel 3. Distribusi Kecemasan Pada Responden Pengemudi Bus Eksekutif


No Kategori Total (Orang) Persentase (%)
1 Cemas 39 61,9
2 Tidak cemas 24 38,1
Total 63 100
Sumber: Data Primer
Berdasarkan pengumpulan data mengalami kecemasan sebanyak 39
dengan kuesioner terhadap 63 responden (61,9%). Sedangkan
responden, diketahui bahwa tidak responden yang tidak berisiko
semua responden mengalami mengalami kecemasan sebanyak 24
kecemasan. Responden yang berisiko responden (38,1%).

3.1.4 Kelelahan

Tabel 4. Distribusi Kelelahan Pada Responden Pengemudi Bus Eksekutif


No Kategori Total (Orang) Persentase (%)
1 Lelah 38 60,3
2 Tidak lelah 25 39,7
Total 63 100
Sumber: Data Primer
Berdasarkan Tabel 4 di atas mengalami kelelahan. Dapat
menunjukkan bahwa dari 63 orang yang disimpulkan bahwa pengemudi sopir
berisiko mengalami kelelahan sebanyak bus rata-rata mengalami kelelahan pada
38 responden (60,3%), dan sebanyak saat bekerja.
25 responden (39,7%) tidak berisiko

41

BIMKMI Volume 5 No.1 | Januari-Juli 2017


3.2 Analisis Bivariat
3.2.1 Hubungan Masa Kerja dengan sehingga ada hubungan yang signifikan
Kelelahan pada Pengemudi antara masa kerja dengan kejadian
Sopir Bus kelelahan pada pengemudi bus
eksekutif Antar Kota dan Antar Provinsi
Pengujian dengan menggunakan (AKAP) di Terminal Giwangan
chi square diperoleh hasil nilai sig 0,002 Yogyakarta.
kemudian dibandingkan dengan α =
0,05 maka nilai sig 0,002 < 0,05

Tabel 5. Hubungan Masa Kerja dengan Kelelahan pada Pengemudi Bus Eksekutif Antar
Kota dan Antar Provinsi (AKAP) di Terminal Giwangan Yogyakarta
Variabel Kelelahan Total Sig RP
Ya Tidak
N % N % N %
Lama 27 79,4 7 20,6 34 34,0
Masa 2,094
Kerja Baru 11 37,9 18 62,1 29 29,0 0,002 (1,275-
3,438)
Jumlah 38 60,3 25 37,7 63 100
Sumber : data primer 2017

3.2.2 Hubungan Kecemasan dengan dengan α = 0,05 maka nilai sig 0,007<
Kelelahan pada Pengemudi 0,05 sehingga ada hubungan yang
Sopir Bus signifikan antara kecemasan dengan
kejadian kelelahan pada pengemudi bus
Berdasarkan pengujian dengan eksekutif Antar Kota dan Antar Provinsi
menggunakan chi square diperoleh hasil (AKAP) di Terminal Giwangan
nilai sig 0,007 kemudian dibandingkan Yogyakarta.

Tabel 6. Hubungan Kecemasan dengan Kelelahan pada Pengemudi Sopir Bus Eksekutif
Antar Kota dan Antar Provinsi (AKAP) di Terminal Giwangan Yogyakarta
Variabel Kelelahan Total Sig RP
Ya Tidak
N % N % N %

Cemas 29 76,4 10 25,6 39 37,0


kecemasan 1,983
Tidak 9 37,5 15 62,5 24 26,0 0,007 (1,146-
cemas 3,341)
Jumlah 38 60,3 25 39,7 63 100
Sumber: data primer 2017

4. PEMBAHASAN karyawan berpengaruh positif terhadap


4.1 Masa Kerja kinerja karyawan.
Hasil penelitian menggunakan 4.2 Kecemasan
kuesioner didapat bahwa masa kerja Hasil penelitian diukur
responden rata-rata >5 tahun, hal menggunakan kuesioner Zung Selft-
tersebut sangat mempengaruhi Rating Anxiety Scale (SAS/SRAS).
terjadinya kelelahan. Masa kerja Kecemasan yang dirasakan oleh supir
memeiliki pengaruh terhadap kinerja bus umumnya diakibatkan oleh rasa
[6]
seseorang. Penelitian Muttaqin, dkk khawatir mengenai tuntutan pekerjaan,
menyatakan bahwa masa kerja masalah rumah tangga, dan lainnya,

42

BIMKMI Volume 5 No.1 | Januari-Juli 2017


sehingga dapat menganggu perasaan Pekerjaan yang terlalu monoton
dan kendali emosi yang mengakibatkan dapat menimbulakan perasaan jenuh
tidak fokusnya seseorang untuk bekerja pada pekerjaan tersebut, sehingga
akibatnya rasa lelah akan datang dan dapat mengalami ketegangan pada otot
menganggu produktivitas kerja. (kelelahan otot) dan kurangnya
kemauan untuk bekerja (kelelahan
4.3 Hubungan Masa Kerja Dengan umum). Kelelahan tersebut dapat diatasi
Kelelahan Pada Pengemudi Bus sementara dengan beristirahat dan
Eksekutif melakukan peregangan pada otot. Hal
Hasil analisis bivariat pada tersebut sering dirasakan oleh
penelitian ini diperoleh nilai signifikasi p pengemudi bus eksekutif AKAP.
value sebesar 0,002 dengan =0,05 Penyebab terjadinya kelelahan pada
(P<0,05), berarti dapat disimpulkan pengemudi bus dikarenakan keadaan
bahwa ada hubugan yang signifikan individual, psikologis, dan keadaan
antara masa kerja dengan kelelahan. lingkungan. Pengalaman yang kurang
Hasil penelitian ini sesuai dengan teori pada pengemudi/ supir bus tidak bisa
yang menyatakan bahwa hubungan memanajemen (membagi waktu) untuk
kelelahan bergantung pada lamanya beristirahat, sehingga dapat
seseorang dalam bekerja. Hal tersebut menimbulkan terjadinya kelelahan,
dapat diketahui bahwa semakin lama timbulnya penyakit dan kecelakaan.
masa kerja seseorang maka semakin Hubungan yang bermakna antara
tinggi tingkat kelelahan. Ini disebabkan masa kerja dengan kelelahan yang
karena semakin lama seseorang bekerja dialami oleh responden, mengemukakan
maka perasaan jenuh akibat pekerjaan bahwa secara fisiologis dan psikologis
yang monoton tersebut akan dapat terjadi saat kondisi tubuh tidak
berpengaruh terhadap tingkat kelelahan fit/sakit atau seseorang mempunyai
[7]
yang dialaminya. keluhan terhadap penyakit tertentu.
Masa kerja berpengaruh signifikan Hasil penelitian ini diketahui bahwa
terhadap produktivitas kerja. Artinya, pekerja yang bekerja di bawah 10 tahun
semakin lama masa kerja karyawan, lebih banyak mengalami kelelahan
makan produktivitas akan semakin dibandingkan dengan pekerja yang telah
tinggi, sedangkan masa kerja pendek bekerja di atas 10 tahun. Semakin buruk
maka produktivitas kerja juga rendah. kondisi kelelahan kerja seseorang maka
[9]
Masa kerja yang sudah lama memiliki kelelahan akan semakin cepat.
pengalaman kerja yang banyak, artinya
karyawan yang memiliki masa kerja 4.4 Hubungan Kecemasan Dengan
yang cukup lama akan memiliki Kelelahan Pada Pengemudi Bus
pengalaman kerja yang banyak Eksekutif
sehingga menghasilkan produktivitas Hasil analisis bivariat pada
[8]
kerja yang tinggi. penelitian ini diperoleh nilai signifikasi p
Hasil penelitian menunjukkan value sebesar 0,007 dengan =0,05
bahwa masa kerja pengemudi bus (P<0,05) berarti dapat disimpulkan
eksekutif AKAP di Terminal Giwangan bahwa ada hubugan yang signifikan
Yogyakarta rata-rata > 5 tahun, hal antara kecemasan dengan kelelahan.
tersebut sangat mempengaruhi Hasil penelitian ini sesuai dengan teori
terjadinya kelelahan dikarenakan yang menyatakan bahwa kelelahan
semakin lama seseorang bekerja maka dapat dipengaruhi oleh konflik kerja,
semakin tinggi tingkat kelelahannya kapasitas kerja, dan stres kerja.
yang mana perasaan jenuh akibat Bilamana di lokasi kerja konflik begitu
pekerjaan yang monoton tersebut akan tinggi, lingkungan fisik juga buruk,
berpengaruh terhadap tingkat kelelahan kapasitas kerja rendah, serta tekanan
yang dialaminya. Namun, masa kerja kerja sangat tinggi, maka dapat
dapat memberikan pengaruh positif disimpulkan bahwa kelelahan kerja akan
[10]
pada kinerja apabila semakin lama meningkat secara signifikan.
seseorang bekerja maka akan lebih Kelelahan kerja yang ringan dan
berpengalaman begitupun sebaliknya. normal berkaitan erat dengan beban
kerja dan istirahat. Pada penelitian yang
43

BIMKMI Volume 5 No.1 | Januari-Juli 2017


dilakukan Setyowati, dkk (2014) pada dirasakan supir bus termasuk
pekerja mebel berdasar pengukuran kecemasan berat yaitu kecemasan yang
denyut nadi sebagai indikator beban terjadi setiap hari. Kecemasan yang
kerjanya, hampir semua pekerja dirasakan oleh supir bus umumnya
mengalami kelelahan ringan (95,7%), diakibatkan oleh rasa khawatir
dan kelelahan sedang (4,3%). Penelitian mengenai tuntutan pekerjaan, masalah
ini juga memberikan catatan bahwa rumah tangga dan lainya sehingga
kelelahan juga sangat terkait dengan dapat menganggu perasaan dan kendali
waktu jeda atau istirahat, namun emosi yang mengakibatkan tidak
penelitian ini tidak memfokuskan pada fokusnya seseorang untuk bekerja
persoalan itu. Penelitian ini juga akibatnya rasa lelah akan datang dan
menggambarkan bahwa kecemasan menganggu produktivitas kerja. Sebab
berpengaruh pada kelelahan para kelelahan seperti masa kerja, lamanya
pekerja. Penelitian ini juga kerja mental dan fisik, keadaan
mendeskripsikan bahwa kelelahan kerja lingkungan, sebab-sebab mental seperti
juga berhubungan secara tidak tanggung jawab, kekhawatiran dan
[11]
langsung dengan umur. konfilk serta penyakit-penyakit.
Penyesuaian diri dengan
kecemasan dalam menghadapi tuntutan 5. KESIMPULAN DAN SARAN
kerja pada mahasiswa perawat praktik 5.1 Kesimpulan
mengatakan bahwa ada hubungan yang Berdasarkan hasil penelitian dan
sangat signifikan sesuai dengan pembahasan dalam penelitian ini bahwa
penelitian yang dilakukan oleh masa kerja dagan kelelahan mempunyai
Oktaviana tahun 2013. Hal ini berarti hubungan yang signifikan dengan nilai
bahwa semakin baik penyesuaian diri P=0,002<(P=0,05). Ada hubungan
mahasiswa perawat praktik maka antara kecemasan dengan kelelahan
semakin ringan kecemasan yang yang signifikan dengan nilai
dialami oleh mahasiswa. Sebaliknya, P=0,007<(P=0,05). Maka dapat
semakin buruk penyesuaian diri disimpulkan bahwa masa kerja dan
mahasiswa perawat praktik maka kecemasan dengan kelelaha pada
semakin berat kecemasan yang dialami pengemudi sopir bus eksekutif Antar
[12]
mahasiswa tersebut. Kota dan Antar Provinsi (AKAP) di
Pada penelitian ini menunjukkan Terminal Giwangan Yogyakarta
bahwa kecemasan yang dirasakan oleh mempunyai hubungan yang signifikan.
pengemudi bus eksekutif AKAP di
Terminal Giwangan Yogyakarta 5.2 Saran
kecemasan subjektif terhadap suatu hal 1) Bagi pengelola bus di Giwangan
yang tidak menyenangkan, tidak Saran bagi pengelola bus di
menentu, menakutkan dan Giwangan adalah lebih
mengkhawatirkan akan adanya memperhatikan keadaan dan/atau
kemungkinan bahaya pada saat kondisi sopir bus yang akan
mengemudi. Kecemasan yang biasa berangkat atau bekerja,
dialami oleh pengemudi bus eksekutif memberikan waktu istirahat yang
lebih pada saat mengemudi dikarenakan cukup pada pengemudi sopir bus.
sering adanya tauran dan istirahat yang 2) Bagi pengemudi sopir bus
kurang sehingga kecemasan meningkat Saran bagi pengemudi sopir bus
pada saat mengemudi dan sering adalah lebih memperhatikan jam
mengalami pusing. istirahat, sehingga dapat
Berdasarkan dari hasil kecemasan memberikan kebugaran pada tubuh.
yang dirasakan oleh pengemudi bus Sebaiknya lebih respon terhadap
eksekutif AKAP di Terminal Giwangan situasi yang ada di lingkungan atau
Yogyakarta sangat berpotensi pengalaman baru agar mental dan
menimbulkan kelelahan kerja, dari hasil fisik tetap stabil tidak cemas dan
pengambilan data yang diukur cepat lelah.
menggunakan Zung Selft-Rating 3) Bagi peneliti lain
Anxiety Scale (SAS/SRAS) dapat di Mengadakan penelitian lebih lanjut
simpulkan bahwa kecemasan yang mengenai permasalahan yang
44

BIMKMI Volume 5 No.1 | Januari-Juli 2017


sama, namun dengan variabel lain Dengan Kelelahan Kerja Pada
seperti durasi tidur, usia, faktor Pekerja Model Di Cv. Mercusuar
pendidikan, stress dan keadaan dan Cv. Mariska Desa Leilem
lingkungan. Kecamatan sonder Kabupaten
Minahasa.” Jurnal Kesehatan
DAFTAR PUSTAKA Masyarakat. 4:2 (2012): 323-431.
1. Marliani, Rosleny. Psikologi 8. Elia P, Kindangen. “Hubungan
Industry dan Organisasi. Bandung: Antara Kelelahan Kerja dan Masa
Pustaka Setia, 2015. Kerja Dengan Produktivitas Kerja
2. Suma’mur. Hygiene Perusahaan Pada Tenanga Kerja Bongkar Muat
dan Kesehatan Kerja. Jakarta: PT Di Pelabuhan Bintung Tahun 2015.”
Took Gunung Agung, 2009. Jurnal Ilmiah Farmasi. 5:2 (2016):
3. Tarwaka. Dasar-Dasar 107-113.
Pengetahuan Ergonomi dan 9. Mentari, A., Kalsum, dan Umi, S.
Aplikasi di Tempat Kerja. ‘’Hubungan Karakteristik Pekerja
Surakarta: Harapan offiset, 2015. dan Cara Kerja Dengan Kelelahan
4. Tarwaka. Ergonomi Untuk Kerja Pada Pemanen Kelapa Sawit
Keselamatan, Kesehatan Kerja dan Di PT. Perkebunan Nusantara IV
Produktivitas. Universitas (PERSERO) Unit Usaha Adolina
Indonesia: Uniba Press, 2004. Tahun 2012.’’ Jurnal Lingkungan
5. Setyawati I. Kelelahan kerja kronis, dan Kesehatan Kerja. 1:2 (2012).
Kajian Terhadap Perasaan 30 April 2017
Kelelahan Kerja, Penyusunan Alat <https://jurnal.usu.ac.id/index.php/l
Ukur Serta Hubungannya Dengan kk/article/view/1327/708>
Waktu Reaksi dan Produktivitas 10. Yan, S., Yuanbin, W., Yanchun, D.,
Kerja. Yogyakarta: Universitas et al. “Risk Factor For Fatigue In
Gadjah Mada Yogyakarta, 2011. Patients With Epilepsy.” Journal Of
6. Muttaqin, A., Made, N., dan Lulup, Clinical Neuroscience. 33:13
E.T. “Pengaruh Latar Belakang (2016): 134-137.
Pendidikan, Masa Kerja dan 11. Setyowati, D.L., Zahroh, S., Baju,
Motivasi Kerja Terhadap Kinerja W. Penyebab Kelelahan Kerja pad
Karyawan pada PT. Indocitra Jaya Pekerja Mebel.’’ Jurnal kesehatan
Samudra Negara-Bali 2013.” Jurnal Masyarakat Nasional. 8:8 (2014):
Jurusan Pendidikan Ekonomi. 4:1 386-392.
(2014). 30 April 2017 Oktaviana, Rina. “Hubungan
<http://id.portalgaruda.org/index.ph Penyesuaian Diri Dengan
p?ref=browse&mod=viewarticle&art Kecemasan Dalam Menghadapi
icle=304776> Tuntutan Kerja Pada Mahasiswa
7. Melati, Srini. “Hubungan Antara Perawat Praktek.” Jurnal
Umur, Masa Kerja, dan Status Gizi Psikologi. 2:5 (2013): 131-142

45

BIMKMI Volume 5 No.1 | Januari-Juli 2017


EFEKTIVITAS PROMOSI KESEHATAN
Penelitian MELALUI MEDIA LAGU TERHADAP
PENGETAHUAN IBU MENGENAI GIZI
Asli SEIMBANG DI TK AL-IKHLAS
PANDANWANGI KOTA MALANG
1
Rahma Ismayanti
1
Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu
Keolahragaan, Universitas Negeri Malang

ABSTRAK
Pendahuluan: Masalah gizi masih merupakan masalah kesehatan masyarakat utama di
Indonesia. Kekurangan gizi belum dapat diselesaikan, prevalensi masalah gizi buruk
terus meningkat. Upaya untuk mengoptimalkan penyampaian Pesan Umum Gizi
Seimbang perlu dilakukan kepada masyarakat, melalui pendidikan dan promosi
kesehatan, serta komunikasi infomasi dan edukasi (KIE) yang tepat dan berbasis
masyarakat. Untuk mewujudkan tujuan tersebut, peneliti menggunakan media berupa
lagu yang memperkenalkan Pesan Umum Gizi Seimbang melalui lirik lagu.
Metode: Penelitian dilakukan terhadap 30 ibu balita di paguyuban wali murid TK Al-Ikhlas
Pandanwangi – Kota Malang. Penelitian yang dilakukan merupakan Quasy Experimental
dengan metode penelitian yang digunakan adalah Pre-Test Post-Test with Control Group
Design. Teknik pengambilan sampel menggunakan Simple Random Sampling. Analisis
data menggunakan uji T-Test Independent dengan taraf signifikansi 0,05.
Hasil: Hasil uji T-Test Independent yang dilakukan menyatakan bahwa nilai Sig. (2-tailed)
sebesar 0,015 < 0,05. Sedangkan peningkatan nilai rata-rata kelas eksperimen sebesar
24,13, sedangkan peningkatan nilai rata-rata kelas kontrol sebesar 19,53.
Kesimpulan: Media lagu dalam promosi gizi seimbang lebih efektif daripada
penggunaan media konvensional. Maka dari itu, media lagu menjadi rekomendasi
sebagai media dalam melakukan promosi gizi seimbang kepada masyarakat.

Kata kunci: Media Lagu, Pengetahuan, Gizi Seimbang

ABSTRACT
Introduction: Malnutrition still a major public health problem in Indonesia. Lack of
nutrition can not be resolved, the prevalence of malnutrition continues to rise. Efforts to
optimize the delivery of Pesan Umum Gizi Seimbang need to be done to the community,
through health education and promotion, as well as information, education, and
communication that is appropriate and community-based. To achieve these goals,
researchers used song as media to introduce Pesan Umum Gizi Seimbang through the
lyrics of the song.
Methods: The study was conducted on 30 mothers in the community of parents TK Al-
Ikhlas Pandanwangi - Malang. This research is Quasy Experimental research method
used is Pre-Test Post-Test with Control Group Design. The sampling technique using
Simple Random Sampling. Analysis of data using T-Test Independent test with a
significance level of 0.05.
Results: The results of T-Test Independent tests conducted states that the Sig. (2-tailed)
of 0.015 <0.05. While the increase in the average value of the experimental class at
24.13, while the increase in the average value of the control class 19.53.
Conclusion: Song that used as the media of balanced nutrition promotion is more
effective than the use of conventional media. Therefore, song became recommendation
as the media to promote balanced nutrition to the community.

46

BIMKMI Volume 5 No.1 | Januari-Juli 2017


Keywords: Song Media, Knowledge, Balanced Nutrition

1. PENDAHULUAN mengoptimalkan Poli Gizi di Puskesmas,


[5]
Masalah gizi masih merupakan dan revitalisasi Posyandu.
masalah kesehatan masyarakat utama Komunikasi Infomasi dan Edukasi
di Indonesia. Kekurangan gizi belum (KIE) merupakan salah satu strategi
dapat diselesaikan, prevalensi masalah dalam pencegahan dan
gizi buruk terus meningkat. Pemerintah penanggulangan masalah KEP melalui
terus berupaya meningkatkan derajat proses pembelajaran berupa transfer
kesehatan masyarakat khususnya pengetahuan serta edukasi gizi. Dari
menangani masalah gizi balita karena studi pendahuluan yang telah dilakukan
hal itu berpengaruh terhadap pada sebuah penelitian Nuhidayati
pencapaian salah satu tujuan (2008) terdapat hubungan antara
Sustainable Development Goals (SDGs) pengetahuan ibu tentang gizi seimbang
pada tahun 2030 yaitu mengurangi dua terhadap tingkat KEP pada balita,
per tiga tingkat kematian anak-anak usia dengan nilai probability (p) = 0,0125 < α
[1]
di bawah lima tahun, target ini = 0,05, dengan nilai korelasi = 0,98.
didukung dalam Rencana Nilai p < α mengindikasikan bahwa
Pembangunan Jangka Menengah variabel pengetahuan berhubungan
Nasional 2010-2014, yang dengan vaiabel KEP, dengan adanya
memprioritaskan perbaikan status gizi nilai korelasi sebesar 0,98 membuktikan
masyarakat dengan menurunkan bahwa hubungan pengetahuan ibu
prevalensi balita gizi kurang tentang gizi seimbang dengan tingkat
[6]
(underweight) menjadi 15% pada tahun KEP sangat kuat.
2014. Hasil Riskesdas dari tahun 2007 Pengetahuan tentang gizi
ke tahun 2013 menunjukkan fakta yang seimbang adalah hasil dari proses
memprihatinkan di mana underweight berfikir terkait pola konsumsi makanan,
[2]
meningkat dari 18,4% menjadi 19,6%. gaya hidup, aktivitas fisik, dan
Artinya, gizi buruk masih menjadi pemantauan berat badan (BB). Dalam
masalah bagi Indonesia. Hal ini sangat upayanya, pemerintah menyusun Pesan
merisaukan bagi masyarakat Indonesia Umum Gizi Seimbang untuk
karena mengancam kualitas Sumber memudahkan masyarakat dalam
Daya Manusia (SDM) yang sangat memahami gizi seimbang. Pesan
diperlukan di masa mendatang. Status tersebut merupakan rekonstruksi bentuk
gizi merupakan salah satu indikator Pedoman Nasional 4 Sehat 5 sempurna
dalam mengukur tingkat kesehatan yang disesuaikan dengan
[3]
masyarakat. perkembangan ilmu pengetahuan dan
Data Profil Kesehatan Kota Malang teknologi (IPTEK) dalam bidang gizi,
[4]
tahun 2014 menunjukkan bahwa dengan konten yang lebih lengkap,
selama tahun 2014 kasus gizi buruk / bahasa yang lebih sederhana, mudah
Kekurangan Energi Protein (KEP) di dipahami, mudah diingat, dan mudah
[7]
Kota Malang berjumlah 119 kasus. dipraktikkan.
Kasus terbesar berada pada wilayah Upaya untuk mengoptimalkan
kerja Puskesmas Pandanwangi, yakni penyampaian Pesan Umum Gizi
sebesar 31 kasus gizi buruk. Berbagai Seimbangperlu dilakukan kepada
upaya untuk menanggulangi kejadian masyarakat, melalui pendidikan dan
KEP telah dilakukan, antara lain promosi kesehatan, serta komunikasi
pemberdayaan keluarga, perbaikan infomasi dan edukasi (KIE) yang tepat
[8]
lingkungan, menjaga ketersediaan dan berbasis masyarakat. Dalam
pangan, perbaikan pola konsumsi dan upaya promosi Pesan Umum Gizi
pengembangan pola asuh, melakukan Seimbang, para petugas lapangan
komunikasi informasi dan edukasi (KIE), dituntut untuk lebih kreatif dan inovatif
melakukan penjaringan dan pelacakan dalam mengembangkan pesan-pesan
kasus KEP, memberikan penyuluhan berbasis budaya dan kearifan lokal.
Pemberian Makanan Tambahan (PMT), Salah satu media dalam promosi
pendampingan petugas kesehatan, kesehatan adalah media audio atau
47

BIMKMI Volume 5 No.1 | Januari-Juli 2017


berupa lagu. Sebuah studi penelitian Dalam hal penentuan responden,
yang dilakukan oleh Sari, dkk (2012) dilakukan penetapan kriteria inklusi dan
juga membuktikan keefektifan media eksklusi, adapun kriteria inklusi dalam
lagu dalam pembelajaran dan penelitian ini adalah: berumur <40 tahun,
penerapan gizi seimbang. Analisis 2 mempunyai bayi/ balita, dan bertempat
Way Anova menyatakan bahwa F-hitung tinggal di Kelurahan Pandanwangi,
> F-tabel (0.05; 1.66) = 9,54 > 3,98. Nilai sedangkan kriteria eksklusi dalam
tersebut membuktikan bahwa media penelitian ini adalah: memiliki
lagu secara signifikan lebih baik keterbatasan dalam penglihatan,
[9]
daripada media yang lain. keterbatasan dalam pendengaran, serta
Dari latar belakang yang telah keterbatasan dalam kemampuan
dijabarkan, mendorong penulis untuk membaca dan menulis. Populasi dalam
melakukan upaya promosi kesehatan penelitian ini adalah wali murid di TK Al-
kepada masyarakat Kelurahan Ikhlas Pandanwangi, dari kriteria inklusi
Pandanwangi, Kecamatan Blimbing, dan eksklusi tersebut, peneliti
Kota Malang terkait Gizi Seimbang mendapatkan 30 orang yang memenuhi
dalam rangka mencegah dan kriteria inklusi, dan sisanya sebanyak 10
menurunkan angka kasus KEP yang orang tergolong ke dalam kriteria
terjadi di Pandanwangi, untuk eksklusi. Sehingga data yang dianalisis
mewujudkan tujuan tersebut maka perlu adalah data yang bersumber dari 30
adanya program pemberian edukasi orang responden, yang selanjutnya
kepada ibu. Dalam program ini, telah terbagi kedalam dua kelas, yakni 15
dirancang media pendidikan kesehatan responden berada pada kelas
yang atraktif, edukatif dan menarik bagi eksperimen, dan 15 responden lainnya
ibu, dengan harapan dapat berada pada kelas kontrol.
mengenalkan ibu lebih dekat dengan Teknik pengumpulan data dalam
gizi seimbang. Media tersebut adalah penelitian ini adalah tes pengetahuan
lagu “PUGS” yang merupakan media mengenai gizi seimbang. Menurut
edukasi yang memperkenalkan makna Arikunto tes adalah merupakan alat atau
dan indikator gizi seimbang yang prosedur yang digunakan untuk
dikemas dalam lagu yang liriknya diganti mengetahui atau mengukur sesuatu
dengan lirik aransemen makna dan dalam suasana, dengan cara dan
indikator gizi seimbang, sehingga ibu aturan-aturan yang ditentukan. Tes yang
dapat lebih efektif dalam menerima dimaksud dalam penelitian ini adalah tes
pendidikan dan promosi kesehatan awal (pre-test) dan tes akhir (post-test)
terkait gizi seimbang sebagai langkah pengetahuan gizi seimbang. Tes awal
dalam pencegahan serta dilakukan sebelum adanya perlakuan,
penanggulangan kasus KEP yang sedangkan tes akhir setelah diadakan
terjadi di Pandanwangi. perlakuan. Tujuan dari tes ini adalah
untuk mengetahui kemampuan awal dan
2. METODE PENELITIAN akhir hasil belajar peserta dalam
Penelitian ini merupakan penelitian pemahaman prinsip gizi seimbang
quasy-experiment untuk mengukur peserta. Untuk membandingkan
keefektifan pengaruh suatu perlakuan pengetahuan gizi seimbang peserta
yang diberikan. Perlakuan yang antara kelas eksperimen dan kelas
[5]
dimaksud adalah penggunaan media kontrol.
lagu terhadap pembelajaran gizi Instrumen yang digunakan dalam
seimbang kepada peserta. Model penelitian ini adalah tes pengetahuan
penelitian yang digunakan yakni pre-test gizi seimbang dengan bentuk pilihan
[10]
post-test with control group, sehingga ganda, dikarenakan tes akan lebih
responden akan digolongkan ke dalam objektif jika dibandingkan dengan
kelas eksperimen yang diberi promosi instrumen tes berbentuk uraian. Tes
kesehatan dengan menggunakan media yang digunakan dalam penelitian ini
lagu, dan kelas kontrol yang diberi adalah tes buatan sendiri yang merujuk
promosi kesehatan menggunakan pada buku Pedoman Gizi Seimbang
media konvensional (powerpoint). yang dikeluarkan oleh Kementerian
[7]
Kesehatan RI pada tahun 2014. Tes
48

BIMKMI Volume 5 No.1 | Januari-Juli 2017


yang dimaksudkan adalah tes tertulis dengan pengujian hipotesis
yang harus dijawab oleh peserta. menggunakan uji-t independent, tetapi
Pemberian skor hasil tes adalah dengan jika data yang terkumpul tidak
memberikan angka 0 untuk setiap berdistribusi normal dan variansinya
jawaban salah dan angka 1 untuk tidak homogen, maka pengujian
jawaban benar, setelah tes hipotesis dilakukan dengan uji statistik
dilaksanakan dan diperoleh data, data non parametrik menggunakan uji mann
[11]
tersebut diolah dan dianalisis, yang whitney.
pada akhirnya diperoleh hasil untuk
penarikan kesimpulan mengenai 3. HASIL PENELITIAN
keefektifan penggunaan media lagu 3.1 Hasil Penelitian
terhadap pengetahuan ibu mengenai Data pre-test di kelas eksperimen
gizi seimbang. yang dikumpulkan, menghasilkan skor
Analisis data dalam penelitian ini tertinggi yang dicapai peserta
diawali dengan uji persyaratan analisis, penyuluhan adalah 77 dan skor
yakni berupa uji normalitas dan uji terendah adalah 38. Berikut adalah tabel
homogenitas, jika didapati data distribusi frekuensi skor pre-test kelas
berdistribusi normal dan mempunyai eksperimen.
varian yang homogen, maka dilanjutkan

Tabel 1 Distribusi Frekuensi Skor Pre-test Kelas Eksperimen


Nilai Frekuensi Valid Percent Cumulative Percent
38 2 13,3 13,3
46 2 13,3 26,7
54 2 13,3 40,0
62 3 20,0 60,0
69 4 26,7 86,7
77 2 13,3 100,0
Total 15 100,0

Tabel 2. Statistik Data Pre-test Kelas Eksperimen


Keterangan Nilai Statistik (N=15)
Mean 59,47
Median 62,00
Mode 69
Std. Deviation 12,933

Data pre-test di kelas kontrol yang dan skor terendah adalah 31. Berikut
dikumpulkan, menghasilkan skor adalah tabel distribusi frekuensi skor
tertinggi yang dicapai peserta adalah 77 pre-test kelas kontrol.

Tabel 3. Distribusi Frekuensi Skor Pre-test Kelas Kontrol


Nilai Frekuensi Valid Percent Cumulative Percent
31 2 13,3 13,3
38 2 13,3 26,7
46 2 13,3 40,0
54 2 13,3 53,3
62 3 20,0 73,3
69 2 13,3 86,7
77 2 13,3 100,0
Total 15 100,0

49

BIMKMI Volume 5 No.1 | Januari-Juli 2017


Tabel 4. Statistik Data Pre-test Kelas Kontrol
Keterangan Nilai Statistik (N=15)
Mean 54,40
Median 54,00
Mode 62
Std. Deviation 15,574

Data post-test di kelas eksperimen yang 100 dan skor terendah adalah 77.
dikumpulkan, menghasilkan skor Berikut adalah tabel distribusi frekuensi
tertinggi yang dicapai peserta adalah skor post-test kelas eksperimen

Tabel 5. Distribusi Frekuensi Skor Post-test Kelas Eksperimen


Nilai Frekuensi Valid Percent Cumulative Percent
62 2 13,3 13,3
69 2 13,3 26,7
77 2 13,3 40,0
85 2 13,3 53,3
92 4 26,7 80,0
100 3 20,0 100,0
Total 15 100,0

Tabel 6. Statistik Data Post-test Kelas Eksperimen


Keterangan Nilai Statistik (N=15)
Mean 83,60
Median 85,00
Mode 92
Std. Deviation 13,468

Data post-test di kelas kontrol yang adalah tabel distribusi frekuensi skor
dikumpulkan, menghasilkan skor post-test kelas kontrol.
tertinggi yang dicapai peserta adalah 92
dan skor terendah adalah 62. Berikut

Tabel 7. Distribusi Frekuensi Skor Post-test Kelas Kontrol


Nilai Frekuensi Valid Percent Cumulative Percent
62 4 26,7 26,7
69 4 26,7 53,3
77 3 20,0 73,3
85 2 13,3 86,7
92 2 13,3 100,0
Total 15 100,0

Tabel 8. Statistik Data Post-test Kelas Kontrol


Keterangan Nilai Statistik (N=15)
Mean 73,93
Median 69,00
a
Mode 62
Std. Deviation 10,667

3.2 Analisis dibandingkan dengan nilai α = 0,05,


3.2.1 Uji Normalitas Pre-Test diketahui nilai signifikansi lebih dari 0,05
Eksperimen (p > 0,05). Dengan demikian Ho diterima
Dari hasil perhitungan uji normalitas yang artinya data berdistribusi normal.
sebaran data pre-test kelas eksperimen Berikut disajikan tabel data uji
dengan bantuan SPSS diketahui nilai normalitas sebaran data pre-test kelas
signifikansi sebesar 0,200. Apabila eksperimen
50

BIMKMI Volume 5 No.1 | Januari-Juli 2017


Tabel 9. Hasil Uji Normalitas Sebaran Data Pre-Test Kelas Eksperime
Statistik Df Sig.
*
Pre_Ex 0,178 15 0,200

3.2.1 Uji Normalitas Pre- diketahui nilai signifikansi lebih dari 0,05
Test Kontrol (p > 0,05). Dengan demikian Ho diterima
Dari hasil perhitungan uji normalitas yang artinya data berdistribusi normal.
sebaran data pre-test kelas kontrol Berikut disajikan tabel data uji
dengan bantuan SPSS diketahui nilai normalitas sebaran data pre-test kelas
signifikansi sebesar 0,200. Apabila kontrol.
dibandingkan dengan nilai α = 0,05,

Tabel 10. Hasil Uji Normalitas Sebaran Data Pre-Test Kelas Kontrol
Statistik df Sig.
*
Pre_Con 0,154 15 0,200

3.2.2 Uji Normalitas Post-Test diketahui nilai signifikansi lebih dari 0,05
Eksperimen (p > 0,05). Dengan demikian Ho diterima
Dari hasil perhitungan uji normalitas yang artinya data berdistribusi normal.
sebaran data post-test kelas eksperimen Berikut disajikan tabel data uji
dengan bantuan SPSS diketahui nilai normalitas sebaran data post-test kelas
signifikansi sebesar 0,108. Apabila eksperimen
dibandingkan dengan nilai α = 0,05,

Tabel 11. Hasil Uji Normalitas Sebaran Data Post-Test Kelas Eksperimen
Statistik Df Sig.
Post_Ex 0,200 15 0,108

3.2.3 Uji Normalitas Post-Test diketahui nilai signifikansi lebih dari 0,05
Kontrol (p > 0,05). Dengan demikian Ho diterima
Dari hasil perhitungan uji normalitas yang artinya data berdistribusi normal.
sebaran data post-test kelas kontrol Berikut disajikan tabel data uji
dengan bantuan SPSS diketahui nilai normalitas sebaran data post-test kelas
signifikansi sebesar 0,070. Apabila kontrol.
dibandingkan dengan nilai α = 0,05,

Tabel 12. Hasil Uji Normalitas Sebaran Data Post-Test Kelas Kontrol
Statistik Df Sig.
Post_Con 0,211 15 0,070

3.2.4 Uji Homogenitas Variansi sebesar 0,417 (p > 0,05) . Maka dapat
Data Pre-Test disimpulkan bahwa sebaran data pre-
Setelah diadakan uji homogenitas test tersebut homogen. Berikut disajikan
varians dengan bantuan SPSS 22 for tabel uji homogenitas varians data pre-
Windows, diketahui nilai signifikansi test.

Tabel 13. Hasil Uji Homogenitas Variansi Data Pre-Test


df1 df2 Sig.
0,680 1 28 0,417

3.2.5 Uji Homogenitas Variansi sebesar 0,160 (p > 0,05) .Maka dapat
Data Post-Test disimpulkan bahwa sebaran data post-
Setelah diadakan uji homogenitas test tersebut homogen. Berikut disajikan
varians dengan bantuan SPSS 22 for tabel uji homogenitas varians data post-
Windows, diketahui nilai signifikansi test.
51

BIMKMI Volume 5 No.1 | Januari-Juli 2017


Tabel 14. Hasil Uji Homogenitas Variansi Data Pre-Test

Keterangan df1 df2 Sig.


2,086 1 28 0,160

3.3 Pengujian Hipotesis diberi promosi kesehatan dengan


3.3.1 Hipotesis Pertama menggunakan media lagu dengan
Hipotesis alternatif (Ha) yang kelompok yang diberi promosi
diajukan dalam penelitian ini berbunyi kesehatan dengan menggunakan media
“terdapat perbedaan pengetahuan ibu konvensional”. Hipotesis tersebut adalah
antara kelompok yang diberi promosi hipotesis nol (Ho).
kesehatan dengan menggunakan media Untuk membuktikan hipotesis
lagu dengan kelompok yang diberi tersebut digunakan analisis statistik
promosi kesehatan dengan dengan Uji-t dengan taraf signifikansi α
menggunakan media konvensional”, = 0,05. Hasil uji-t dikatakan diterima
untuk kepentingan pengujian, hipotesis apabila harga thitung> ttabel atau dengan
alternatif dalam penelitian ini diubah nilai signifikansi < 0,05. Perhitungan uji-t
menjadi hipotesis nol (Ho) sehingga ini dilakukan dengan bantuan program
berbunyi “tidak ada perbedaan SPSS 22 for Windows. Lebih jelasnya
pengetahuan ibu antara kelompok yang dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 15. Hasil Uji T-Test Independent


Data Thitung Ttabel db Sig. (2-taild) Ket.
Post-Test 2,578 2,048 28 0,015 th>tt= signifikan

Dari hasil perhitungan diperoleh kelompok yang diberi promosi


thitung sebesar 2,578, setelah kesehatan dengan menggunakan media
dibandingkan dengan ttabel pada taraf konvensional” diterima.
signifikasi α = 0,05 dan db = 28,
diperoleh nilai sebesar 2,048, ternyata 3.3.2 Hipotesis Kedua
thitung lebih besar dari ttabel. Dari hasil uji-t Hipotesis alternatif (Ha) yang
independen diatas juga diketahui bahwa diajukan dalam penelitian ini berbunyi
nilai Sig. (2-tailed) sebesar 0,015 < 0,05, “penggunaan media lagu dalam promosi
maka kedua indikator ini menunjukkan kesehatan lebih efektif daripada
bahwa terdapat perbedaan yang penggunaan media konvensional”, untuk
signifikan antara kelas kontrol dan kelas kepentingan pengujian hipotesis
eksperimen, sehingga Ho yang berbunyi alternatif dalam penelitian ini diubah
“tidak ada perbedaan pengetahuan ibu menjadi hipotesis nol (Ho) sehingga
antara kelompok yang diberi promosi berbunyi “penggunaan media lagu
kesehatan dengan menggunakan media dalam promosi kesehatan sama
lagu dengan kelompok yang diberi efektifnya dengan penggunaan media
promosi kesehatan dengan konvensional”, untuk menguji hipotesis
menggunakan media konvensional” tersebut dicari dengan melihat
ditolak. Dengan demikian maka Ha yang perbedaan rata-rata antara kelas
berbunyi “terdapat perbedaan eksperimen dan kelas kontrol. Hal ini
pengetahuan ibu antara kelompok yang untuk mengetahui ada tidaknya bobot
diberi promosi kesehatan dengan keefektifan penggunaan media lagu
menggunakan media lagu dengan dalam promosi kesehatan.

52

BIMKMI Volume 5 No.1 | Januari-Juli 2017


Tabel 16 Bobot Keefektifan Media Lagu
Peningkatan
Data Rata-Rata Bobot Keefektifan
Nilai
Pre-Test Eksperimen 59,47
24,13
Post-Test Eksperimen 83,60
4,6
Pre-Test Kontrol 54,40
19,53
Post-Test Kontrol 73,93

Dari tabel di atas dapat dilihat Dengan demikian data ini layak untuk
bahwa rata-rata kedua kelas sama- diteliti.
sama mengalami peningkatan. Namun Setelah diberikan perlakuan,
peningkatan nilai rata-rata kelas diadakan post-test untuk mengetahui
eksperimen lebih tinggi dan nilai rata- ada atau tidaknya peningkatan
rata kelas eksperimen lebih tinggi dari pengetahuan gizi seimbang.
nilai rata-rata kelas kontrol. Peningkatan Peningkatan pengetahuan tersebut
nilai rata-rata kelas eksperimen sebesar dapat dilihat dari nilai rata-rata post-test
24,13 yang diperoleh dari pengurangan pada kedua kelas. Nilai rata-rata kedua
nilai post-test kelas eksperimen (83,6) kelas menunjukkan adanya peningkatan
dan pre-test kelas eksperimen (59,47), pengetahuan, namun peningkatan yang
sedangkan peningkatan nilai rata-rata signifikan terjadi pada kelas eksperimen
kelas kontrol sebesar 19,53 yang dengan selisih nilai rata-rata pre-test
diperoleh dari pengurangan nilai post- dan post-test sebesar 24,13, sedangkan
test kelas kontrol (73,93) dan pre-test pada kelas kontrol terjadi kenaikan
kelas kontrol (54,4). sebesar 19,53.
Hasil bobot keefektifan adalah Berdasarkan hasil pengujian
sebesar 4,8 % yang diperoleh dari hipotesis pertama dapat diketahui
pengurangan prosentase nilai kelas bahwa terdapat perbedaan pengetahuan
eksperimen dan kontrol [(83,6 -59,4 / ibu antara yang diberi promosi
59,4 x 100%) – (73,93 – 54,4 / 54,4 x kesehatan dengan menggunakan media
100%)], dengan demikian hipotesis nol lagu dan media konvensional. Hal ini
(Ho) yang berbunyi berbunyi dapat dilihat dari hasil perhitungan uji-t
“penggunaan media lagu dalam promosi yaitu thitung lebih besar dari ttabel dengan
kesehatan sama efektifnya dengan taraf signifikansi α = 0,05. Dari hasil
penggunaan media konvensional” perhitungan, diperoleh thitung sebesar
ditolak, sehingga hipotesis alternatif 2,578, setelah dikonsultasikan dengan
(Ha) yang berbunyi “penggunaan media ttabel pada taraf signifikasi α = 0,05 dan
lagu dalam promosi kesehatan lebih db = 28, diperoleh nilai sebesar 2,048,
efektif daripada penggunaan media ternyata thitung lebih besar dari ttabel.
konvensional” diterima. Peningkatan pada kelompok
eksperimen ini disebabkan juga adanya
4. PEMBAHASAN perlakuan yang berbeda, yakni antara
Pada kedua kelas, sebelum kelas eksperimen yang menggunakan
diberikan perlakuan dilakukan pre-test media lagu dan kelas kontrol yang
pengetahuan gizi seimbang, jumlah soal menggunakan media konvensional
sebanyak 13 butir soal pilihan ganda. (powerpoint). Proses promosi kesehatan
Pre-test ini bertujuan untuk mengetahui di kelas eksperimen diawali dengan (1)
ada atau tidaknya perbedaan peneliti menjelaskan materi yang akan
pengetahuan gizi seimbang antara kelas diajarkan, (2) peserta mendengarkan
eksperimen dan kelas kontrol. Dari hasil lagu, kemudian mencatat lirik yang
uji homogenitas pada pre-test antara didengar. Kemudian peneliti
kedua kelas menunjukan bahwa kedua menampilkan liriknya melalui proyektor,
kelas tidak mempunyai perbedaan yang (3) peneliti menjelaskan keterkaitan lirik
signifikan pada kemampuan awal, yang lagu dengan indikator gizi seimbang, (4)
berarti kedua kelas memiliki peneliti memutarkan lagu 3 kali, dan
pengetahuan gizi seimbang yang setara. ditirukan oleh peserta dengan
menggunakan lirik lagu yang telah

53

BIMKMI Volume 5 No.1 | Januari-Juli 2017


tercatat, (5) peneliti menjadi conductor gizi seimbang melalui lirik lagu yang
bagi para peserta untuk bernyanyi tanpa mudah dihafal dan dimengerti.
menggunakan musik hingga semua Sebagai media pembelajaran,
peserta dapat bernyanyi dengan lancar, media lagu menjadi salah satu media
(6) peserta bernyanyi lagu gizi seimbang yang praktis untuk menggugah
dengan menggunakan musik. perasaan, minat dan semangat
Sedangkan di kelas kontrol, proses responden dalam mempelajari dan
promosi kesehatan dilakukan dengan mengingat pesan gizi seimbang. Dari
menyampaikan materi gizi seimbang hasil penelitian dapat diketahui bahwa
dengan menggunakan media penggunaan media lagu pada kelas
powerpoint kemudian dilanjutkan eksperimen membuat suasana belajar
dengan tanya-jawab. responden menjadi menyenangkan dan
Hasil pengolahan data pre-test lebih memotivasi responden untuk
menyatakan bahwa tidak ada perbedaan mengingat pesan gizi seimbang. Lain
yang signifikan antara pengetahuan gizi halnya dengan penggunaan media
seimbang ibu yang berada di kelas konvensional yang membuat suasana
kontrol dan di kelas eksperimen, belajar menjadi membosankan karena
sehingga dapat disimpulkan bahwa terkesan monoton, sehingga responden
pengetahuan gizi seimbang ibu di cepat merasa bosan dan antusiasme
kelompok eksperimen dan kelompok menjadi berkurang. Media lagu juga
kontrol pada tahap awal tidak berbeda secara tidak langsung membuat
secara signifikan. Hal ini dapat dilihat responden menghafal pesan gizi
dari rata-rata nilai pre-test kedua kelas seimbang karna menyanyikannya
dan dibuktikan dengan uji homogenitas secara berulang-ulang.
untuk melihat data yang diambil dari Dari berbagai manfaat positif yang
variansi yang sama tidak menunjukkan dapat diambil, maka dapat disimpulkan
perbedaan yang signifikan satu dengan bahwa penggunaan media lagu
yang lain. terhadap pengetahuan ibu mengenai
Hasil penelitian menunjukkan gizi seimbang lebih efektif daripada
bahwa nilai thitung 2,578 lebih besar dari penggunaan media konvensional,
ttabel 2,048 dengan taraf signifikansi (α) = dengan bobot keefektifan sebesar 4,8%.
0,05 dengan db= 28. Hal ini Berdasarkan bobot keefektifan yang
menunjukkan nilai thitung, (th) lebih besar diperoleh berarti adanya perbedaan
dari ttabel (tt) yang berarti terdapat kemampuan pengetahuan ibu mengenai
perbedaan yang signifikan pengetahuan gizi seimbang yang signifikan antara
gizi seimbang antara kelas eksperimen kelas eksperimen dan kontrol.
dan kelas kontrol. Rata-rata nilai akhir Kemampuan peserta didik kelas
responden pada kelas eksperimen eksperimen lebih baik daripada kelas
sebesar 83,6 lebih besar daripada kelas kontrol. Hal ini menunjukkan bahwa
kontrol yaitu yaitu, 73,93. Dengan penggunaan media lagu mempunyai
demikian dapat disimpulkan bahwa pengaruh positif terhadap pengetahuan
penggunaan media lagu dalam promosi ibu. Dengan demikian, dapat
gizi seimbang lebih efektif daripada disimpulkan bahwa media lagu efektif
penggunaan media konvensional. untuk promosi kesehatan mengenai gizi
Menurut Jamalus dkk (1988) dalam seimbang di paguyuban wali murid KB
[12]
Nggiri (2014), lagu merupakan hasil Al-Ikhlas Pandanwangi - Kota Malang.
karya seni dari musik yang
diperdengarkan menggunakan suara
atau dengan alat-alat musik, dan suara 5. KESIMPULAN
tersebut dapat difungsikan sebagai Berdasarkan kesimpulan hasil
media untuk mengekspresikan sebuah analisis data, pengujian hipotesis dan
gagasan pada orang lain, sehingga pembahasan yang telah dilakukan,
memungkinkan terjadinya komunikasi. maka dapat disimpulkan bahwa terdapat
Dengan memanfaatkan lagu sebagai perbedaan yang signifikan pengetahuan
alat komunikasi, maka lagu dapat ibu mengenai gizi seimbang antara yang
digunakan untuk mengajarkan indikator diberi promosi kesehatan dengan
menggunakan media lagu dan yang
54

BIMKMI Volume 5 No.1 | Januari-Juli 2017


diberi promosi kesehatan dengan 2. Kementerian Kesehatan RI. Rencana
menggunakan media konvensional. Hal Stategis Kementerian Kesehatan
ini dibuktikan dengan nilai rata-rata Tahun 2015-2019. Jakarta:
kelas eksperimen lebih besar dari nilai Kementerian Kesehatan RI, 2015.
rata-rata kelas kontrol, (83,6 > 73,93). 3. Departemen Kesehatan RI.
Hasil uji-t independent menyatakan nilai Pedoman Pemantauan Status Gizi
thitung 2,578 lebih besar dari ttabel 2,048 (PSG) dan Keluarga Sadar Gizi
dengan taraf signifikansi (α) = 0,05 dan (KADARZI). Jakarta: Direktorat
db= 28. Penggunaan media lagu dalam Jenderal Bina Kesehatan
peningkatan pengetahuan ibu mengenai Masyarakat, 2008.
gizi seimbang lebih efektif daripada 4. Dinas Kesehatan Kota Malang. Profil
penggunaan media konvensional. Hal ini Kesehatan Kota Malang Tahun 2014.
dibuktikan dengan adanya bobot Malang: Dinkes Kota Malang, 2014.
keefektifan sebesar 4,8%. 5. Arikunto, S. Dasar-Dasar Evaluasi
Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara,
6. SARAN 2007.
Dari hasil penelitian yang telah 6. Nurhidayati, E. E. “Hubungan
dilakukan, maka sebagai usaha untuk Pengetahuan Ibu Tentang Gizi
meningkatkan capaian promosi Seimbang dengan Tingkat KEP
kesehatan mengenai gizi seimbang, (Kekurangan Energi Protein) pada
disarankan hal berikut: Balita di Puskesmas Banjarejo Kota
a. Bagi penyuluh bisa menggunakan Madiun Tahun 2008.” Jurnal
media lagu sebagai salah satu Keperawatan AKPER 17
alternatif media promosi gizi Karanganyar (ISSN : 2338-6800),
seimbang agar peserta penyuluhan (2008): 43-53.
lebih termotivasi untuk 7. Kementerian Kesehatan RI.
menghafalkan dan memahami Pedoman Gizi Seimbang. Jakarta:
pesan gizi seimbang melalui media Direktorat Jenderal Bina Gizi dan
lagu, karena media ini dapat KIA, 2014.
mempermudah peserta dalam 8. Departemen Kesehatan RI.
menghafalkan dan memahami Pedoman Strategi KIE Keluarga
makna pesan gizi seimbang melalui Sadar Gizi (KADARZI). Jakarta:
lirik lagunya. Direktorat Jenderal Bina Kesehatan
b. Bagi peneliti lain, diharapan Masyarakat, 2007.
menjadi bahan pertimbangan 9. Sari, D. L., Pangesti, T. P., Susanta,
apabila melakukan penelitian D., Haryanti, T., & Ahya, R.
serupa atau lanjutan. Pembelajaran dan Penerapan Gizi
Seimbang Melalui Media Lagu
UCAPAN TERIMAKASIH Dolanan Jawa. Sukoharjo:
Terimakasih penulis ucapkan kepada TK Universitas Veteran Bangun
Al-Ikhlas Pandanwangi - Kota Malang Nusantara Sukoharjo, 2012.
yang telah bersedia menjadi responden, 10. Sudjana, & Ibrahim. Penelitian dan
kedua orang tua, tim penelitian, dosen Penilaian Pendidikan. Bandung:
pembimbing dan Ilmu Kesehatan Sinar Baru Algesindo, 2008.
Masyarakat Universitas Negeri Malang. 11. Hastono, Sutanto Priyo. Analisis
Data. Depok: Fakultas Kesehatan
Masyarakat Universitas Indonesia,
DAFTAR PUSTAKA 2006.
1. UNICEF, & Menteri Negara 12. Nggiri, A. M. Keefektifan
Perencanaan Pembangunan Penggunaan Media Lagu Terhadap
Nasional. Millenium Development Penguasaan Kosakata Bahasa
Goals. Jakarta: Menteri Negara Jerman Peserta Didik Kelas X SMA
Perencanaan Pembangunan Negeri 1 Muntilan Magelang.
Nasional, 2008. Yogyakarta: Universitas Negeri
Yogyakarta, 2014.

55

BIMKMI Volume 5 No.1 | Januari-Juli 2017


56

BIMKMI Volume 5 No.1 | Januari-Juli 2017