Anda di halaman 1dari 9

PEMERINTAHAN PROPINSI LAMPUNG

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH Dr.H.ABDUL MOELOEK


Dr.Rivai N0. 6 Telp. 0721-703312 , 703455 , 35112 Fax. 703952
BANDAR LAMPUNG

PANDUAN PENINGKATAN MUTU DAN KESELAMATAN PASIEN


RSUD Dr.H.ABDUL MOELOEK
PROPINSI LAMPUNG

Bandar Lampung, Agustus 2016


PEMERINTAHAN PROPINSI LAMPUNG
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH Dr.H.ABDUL MOELOEK
Dr.Rivai N0. 6 Telp. 0721-703312 , 35112 , 703455 Fax. 703952
BANDAR LAMPUNG

KEPUTUSAN KEPALA RSUD DR.H.ABDUL MOELOEK


Nomor : Kep / 01 / PMKP / VI / 2016
tentang

BUKU PANDUAN PENINGKATAN MUTU DAN KESELAMATAN PASIEN


DI RSUD Dr.H.ABDUL MOELOEK PROPINSI LAMPUNG

KEPALA RSUD Dr.H.ABDUL MOELOEK PROPINSI LAMPUNG

Menimbang :

1. Bahwa RSUD Dr.H.Abdul Moeloek Propinsi Lampung selalu berupaya untuk


meningkatkan kualitas pelayanan sesuai dengan standar pelayanan kesehatan dan
harapan masyarakat.
2. Bahwa peningkatan kualitas pelayanan kesehatan di RSUD Dr.H.Abdul Moeloek Propinsi
Lampung merupakan upaya perbaikan mutu melalui pendekatan komprehensif terhadap
pemenuhan indikator mutu rumah sakit.
3. Bahwa didalam upaya perbaikan mutu di rumah sakit sangat diperlukan suatu kebijakan
yang yang menjadi acuan agar terwujud berdaya guna bagi tenaga kesehatan dan
memberikan kepuasan bagi masyarakat.
4. Bahwa sehubungan dengan perKomitebangan pada huruf a ,b,dan c di atas, dipandang perlu
diberlakukan Kebijakan Perbaikan Mutu di RSUD Dr.H.Abdul Moeloek Propinsi Lampung
dengan Keputusan Direktur Utama RS.

Mengingat :

1. Undang-undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit


2. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 436/Menkes/SK/VI/1993 tentang Standar
Pelayanan Rumah Sakit dan Standar Pelayanan Medis, junto Keputusan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia Nomor 1333/Menkes/SK/XII/1999 tentang Standar Pelayanan Rumah
Sakit
3. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 1691 tentang Keselamatan Pasien.

Memperhatikan :

1. Surat Perintah Kepala RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Propinsi Lampung Nomor : 800 / 388 /
11.13 / 7.2 / I / 2015 tentang Penunjukkan sebagai Tim Persiapan Akreditasi Nasional dan
Internasional RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Propinsi Lampung.
2. Hasil perumusan Komite Mutu dan Keselamatan Pasien RSUD Dr.H.Abdul Moeloek
Propinsi Lampung tentang Pedoman Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien RSUD
Dr.H.Abdul Moeloek Propinsi Lampung.

MEMUTUSKAN
Menetapkan :
1. Buku Pedoman tentang Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien di RSUD Dr.H.Abdul
Moeloek Propinsi Lampung sebagaimana tercantum dalam lampiran keputusan ini.
2. Buku Pedoman berklasifikasi biasa.
3. Direktur Utama RSUD Dr.H.Abdul Moeloek Propinsi Lampung sebagai Pembina Materi
Buku Pedoman ini.
4. Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan.

Ditetapkan di : Bandar Lampung


Pada Tanggal : 23 Maret 2016

Direktur Utama RSUD Dr.H.Abdul Moeloek


Propinsi Lampung

dr. Hery Djoko Subandriyo, M.K.M


Pembina Tingkat I
Nip : 196104261996031001

Tembusan :
Ketua Komite Medik RSUD Dr.H.Abdul Moeloek Bandar Lampung.
Ka Irja / Ka Irna RSUD Dr.H.Abdul Moeloek Bandar Lampung.
Ka SPI RSUD Dr.H.Abdul Moeloek Bandar Lampung.
Ketua Komite Keprawatan RSUD Dr.H.Abdul Moeloek Bandar Lampung.
Ka Instalasi RSUD Dr.H.Abdul Moeloek Bandar Lampung.
Para Karu RSUD Dr.H.Abdul Moeloek Bandar Lampung.
PEMERINTAHAN PROPINSI LAMPUNG
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH Dr.H.ABDUL MOELOEK
Dr.Rivai N0. 6 Telp. 0721-703312 , 35112 , 703455 Fax. 703952
BANDAR LAMPUNG

BAB I
DEFINISI UPAYA PENINGKATAN MUTU PELAYANAN RUMAH SAKIT

A. Sejarah Perkembangan Mutu.

Upaya peningkatan mutu pelayanan kesehatan sebenarnya bukanlah hal yang baru. Pada
tahun (1820 –1910) Florence Nightingale seorang perawat dari Inggris menekankan pada aspek-
aspek keperawatan pada peningkatan mutu pelayanan. Salah satu ajarannya yang terkenal sampai
sekarang adalah “ hospital should do the patient noharm”, Rumah Sakit jangan sampai merugikan
atau mencelakakan pasien. Di Amerika Serikat, upaya peningkatan mutu pelayanan medik dimulai
oleh ahli bedah Dr. E.A.Codman dari Boston dalam tahun 1917. Dr.E.A Codman dan beberapa ahli
bedah lain kecewa dengan hasil operasi yang seringkali buruk, karena seringnya terjadi penyulit.
Mereka berkesimpulan bahwa penyulit itu terjadi karena kondisi yang tidak memenuhi syarat di
Rumah Sakit. Untuk itu perlu ada penilaian dan penyempurnaan tentang segala sesuatu yang terkait
dengan pembedahan. Ini adalah upaya pertama yang berusaha mengidentifikasikan masalah klinis,
dan kemudian mencari jalan keluarnya. Kelanjutan dari upaya ini pada tahun 1918 The American
College of Surgeons (ACS) menyusun suatu Hospital Standardization Programme. Program
Standarisasi adalah upaya pertama yang terorganisasi dengan tujuan meningkatkan mutu pelayanan.
Program ini ternyata sangat berhasil meningkatkan mutu pelayanan sehingga banyak Rumah Sakit
tertarik untuk ikut serta. Dengan berkembangnya ilmu dan teknologi maka spesialisasi ilmu
kedokteran diluar bedah cepat berkembang. Oleh karena itu program Standarisasi perlu diperluas agar
dapat mencakup disiplin lain secara umum.

Pada tahun 1951 American College of Surgeon, American College of Physicians, American
Hospital Association bekerjasama membentuk suatu Joint Commision on Accreditation of Hospital
(JCAH) suatu badan gabungan untuk menilai dan mengakreditasi Rumah Sakit .

Pada akhir tahun 1960 JCAH tidak lagi hanya menentukan syarat minimal dan essensial untuk
mengatasi kelemahan-kelemahan yang ada di Rumah Sakit, namun telah memacu Rumah Sakit agar
memberikan mutu pelayanan yang setinggi-tingginya sesuai dengan sumber daya yang ada. Untuk
memenuhi tuntutan yang baru ini antara tahun 1953-1965 Standar akreditasi direvisi enam kali,
selanjutnya beberapa tahun sekali diadakan revisi.

Atas keberhasilan JCAH dalam meningkatkan mutu pelayanan, Pemerintah Federal memberi
pengakuan tertinggi dalam mengundangkan “Medicare Act”. Undang-undang ini mengabsahkan
akreditasi Rumah Sakit menurut Standar yang ditentukan oleh JCAH. Sejak saat itu Rumah Sakit
yang tidak diakreditasi oleh JCAH tidak dapat ikut program asuransi kesehatan pemerintah federal
(medicare), padahal asuransi di Amerika sangat menentukan utilisasi Rumah Sakit karena hanya 9,3%
biaya Rumah Sakit berasal dari pembayaran langsung oleh pasien.

Di Australia, Australian Council on Hospital Standards (ACHS) didirikan dengan susah


payah pada tahun 1971, namun sampai tahun 1981 badan ini baru berhasil beroperasi dalam 3
Negara bagian. Tetapi lambat laun ACHS dapat diterima kehadirannya dan diakui manfaatnya
dalam upaya peningkatan mutu pelayanan sehingga sekarang kegiatan ACHS telah mencakup
semua negara bagian. Pelaksanaan peningkatan mutu di Australia pada dasarnya hampir sama
dengan di Amerika.

Di Eropa Barat perhatian terhadap peningkatan mutu pelayanan sangat tinggi, namun
masalah itu tetap merupakan hal baru dengan konsepsi yang masih agak kabur bagi kebanyakan
tenaga profesi kesehatan. Sedangkan pendekatan secara Amerika sukar diterapkan karena perbedaan
sistem kesehatan di masing-masing negara di Eropa. Karena itu kantor Regional WHO untuk Eropa
pada awal tahun 1980-an mengambil inisiatif untuk membantu negara-negara Eropa
mengembangkan pendekatan peningkatan mutu pelayanan disesuaikan dengan sistem pelayanan
kesehatan masing-masing.

Walaupun secara regional WHO telah melakukan berbagai upaya, namun pada simposium
peningkatan mutu pada bulan Mei 1989 terdapat kesan bahwa secara nasional upaya peningkatan
mutu di bjhtf xerbagai negara Eropa Barat masih pada perkembangan awal.

Di Asia, negara pertama yang sudah mempunyai program peningkatan mutu dan akreditasi
Rumah Sakit secara nasional adalah Taiwan. Negara ini banyak menerapkan metodologi dari
Amerika. Sedangkan Malaysia mengembangkan peningkatan mutu pelayanan dengan bantuan
konsultan ahli dari Negeri Belanda,

Di Indonesia langkah awal yang sangat mendasar dan terarah yang telah dilakukan
Departemen Kesehatan dalam rangka upaya peningkatan mutu yaitu penetapan kelas Rumah Sakit
pemerintah melalui Surat Keputusan Menteri Kesehatan No.033/Birhup/1972. Secara umum telah
ditetapkan beberapa kriteria untuk tiap kelas Rumah Sakit A,B,C,D. Kriteria ini kemudian
berkembang menjadi Standar-Standar.Kemudian dari tahun ke tahun disusun berbagai Standar baik
menyangkut pelayanan, ketenagaan, sarana dan prasarana untuk masing-masing kelas Rumah Sakit.
Disamping Standar, Departemen Kesehatan juga mengeluarkan berbagai panduan dalam rangka
meningkatkan penampilan pelayanan Rumah Sakit.

Sejak tahun 1984 Departemen Kesehatan telah mengembangkan berbagai indikator untuk
mengukur dan mengevaluasi penampilan (performance) Rumah Sakit pemerintah kelas C dan
Rumah Sakit swasta setara yaitu dalam rangka Hari Kesehatan Nasional. Indikator ini setiap dua
tahun ditinjau kembali dan disempurnakan. Evaluasi penampilan untuk tahun 1991 telah dilengkapi
dengan indikator kebersihan dan ketertiban Rumah Sakit dan yang dievaluasi selain kelas C juga
kelas D dan kelas B serta Rumah Sakit swasta setara. Sedangkan evaluasi penampilan tahun 1992
telah dilengkapi pula dengan instrumen mengukur kemampuan pelayanan. Evaluasi penampilan
Rumah Sakit ini merupakan langkah awal dari Konsep Continuous Quality Improvement (CQI).
Berbeda dengan konsep QA tradisional dimana dalam monitor dan evaluasi dititik beratkan kepada
pencapaian Standar, maka pada CQI fokus lebih diarahkan kepada penampilan organisasi melalui
penilaian pemilik, manajemen, klinik dan pelayanan penunjang. Perbedaan yang sangat mendasar
yaitu keterlibatan seluruh karyawan.

B. Pengertian Mutu.

Pengertian mutu beraneka ragam dan di bawah ini ada beberapa pengertian yang secara
sederhana melukiskan apa hakekat mutu.

1. Mutu adalah tingkat kesempurnaan suatu produk atau jasa.


2. Mutu adalah expertise, atau keahlian dan keterikatan (commitment) yang selalu dicurahkan
pada pekerjaan
3. Mutu adalah kegiatan tanpa salah dalam melakukan pekerjaan.

Dimensi mutu atau aspeknya adalah :

1. Keprofesian.
2. Efisiensi.
3. Keamanan Pasien.
4. Kepuasan Pasien.
5. Aspek Sosial Budaya.
Mutu Terkait dengan Input, Proses, Output dan Outcome.

Pengukuran mutu pelayanan kesehatan dapat diukur dengan menggunakan 4

variabel, yaitu :

1. Input, ialah segala sumber daya yang diperlukan untuk melakukan pelayanan kesehatan,
seperti tenaga, dana, obat, fasilitas, peralatan, bahan, teknologi, organisasi, informasi, dan
lain-lain. Pelayanan kesehatan yang bermutu memerlukan dukungan input yang bermutu
pula. Hubungan struktur dengan mutu pelayanan kesehatan adalah dalam perencanaan dan
penggerakan pelaksanaan pelayanan kesehatan.
2. Proses, merupakan aktivitas dalam bekerja, adalah merupakan interaksi profesional antara
pemberi pelayanan dengan konsumen (pasien/masyarakat). Proses ini merupakan variabel
penilaian mutu yang penting.
3. Output, ialah jumlah pelayanan yang dilakukan oleh unit kerja/rumah sakit.
4. Outcome, ialah hasil pelayanan kesehatan, merupakan perubahan yang terjadi pada
konsumen (pasien/masyarakat), termasuk kepuasan dari konsumen tersebut.

Banyak pihak yang berkepentingan dengan mutu, yaitu :

1. Konsumen.
2. Pembayar / perusahaan/asuransi.
3. Manajemen RSUD Dr.H.Abdul Moeloek Propinsi Lampung.
4. Karyawan RSUD Dr.H.Abdul Moeloek Propinsi Lampung.
5. Masyarakat.
6. Pemerintah.
7. Ikatan profesi.

Setiap kepentingan yang disebut di atas berbeda sudut pandang dan kepentingannya terhadap
mutu. Karena itu mutu adalah multi dimensional.
BAB II
RUANG LINGKUP UPAYA PENINGKATAN MUTU PELAYANAN
DI RSUD DR.H.ABDUL MOELOEK

C. Definisi Upaya Mutu di RSUD Dr.H.Abdul Moeloek Moeloek


Propinsi Lampung.

Upaya peningkatan mutu pelayanan kesehatan dapat diartikan keseluruhan upaya dan kegiatan
secara komprehensif dan integratif memantau dan menilai mutu pelayanan RSUD Dr.H.Abdul
Moeloek Propinsi Lampung memecahkan masalah-masalah yang ada dan mencari jalan keluarnya,
sehingga mutu pelayanan RSUD Dr.H.Abdul Moeloek Propinsi Lampung akan menjadi lebih baik.

Di RSUD Dr.H.Abdul Moeloek Propinsi Lampung upaya peningkatan mutu pelayanan adalah
kegiatan yang bertujuan memberikan asuhan atau pelayanan sebaik-baiknya kepada pasien.
Upaya peningkatan mutu pelayanan RSUD Dr.H.Abdul Moeloek Propinsi Lampung akan sangat
berarti dan efektif bilamana upaya peningkatan mutu menjadi tujuan sehari-hari dari setiap unsur di
RSUD Dr.H.Abdul Moeloek Propinsi Lampung termasuk pimpinan, pelaksana pelayanan langsung
dan staf penunjang.

Upaya peningkatan mutu termasuk kegiatan yang melibatkan mutu asuhan atau pelayanan
dengan penggunaan sumber daya secara tepat dan efisien. Walaupun disadari bahwa mutu
memerlukan biaya, tetapi tidak berarti mutu yang lebih baik selalu memerlukan biaya lebih banyak
atau mutu rendah biayanya lebih sedikit.

Berdasarkan hal di atas maka disusunlah definisi dan tujuan dari upaya peningkatan mutu
pelayanan RSUD Dr.H.Abdul Moeloek Propinsi Lampung adalah keseluruhan upaya dan kegiatan
yang komprehensif dan integratif yang menyangkut input, proses dan output secara objektif,
sistematik dan berlanjut memantau dan menilai mutu dan kewajaran pelayanan terhadap pasien, dan
memecahkan masalah-masalah yang terungkapkan sehingga pelayanan yang diberikan di RSUD
Dr.H.Abdul Moeloek Propinsi Lampung berdaya guna dan berhasil guna.

D. Strategi.

Untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan RSUD Dr.H.Abdul Moeloek Propinsi Lampung
maka disusunlah strategi sebagai berikut :

1. Setiap petugas harus memahami dan menghayati konsep dasar dan prinsip mutu pelayanan
RSUD Dr.H.Abdul Moeloek Propinsi Lampungsehingga dapat menerapkan langkah-langkah
upaya peningkatan mutu di masing-masing unit kerjanya.
2. Memberi prioritas kepada peningkatan kompetensi sumber daya manusia di RSUD
Dr.H.Abdul Moeloek Propinsi Lampung, serta upaya meningkatkan kesejahteraan karyawan.
3. Menciptakan budaya mutu di RSUD Dr.H.Abdul Moeloek Propinsi Lampung termasuk di
dalamnya menyusun program mutu RSUD Dr.H.Abdul Moeloek Propinsi Lampung dengan
pendekatan PDCA cycle.
4. Pendekatan Pemecahan Masalah
Pendekatan pemecahan masalah merupakan suatu proses siklus (daur)
yang berkesinambungan. Langkah pertama dalam proses siklus ini adalah identifikasi
masalah. Identifikasi masalah merupakan bagian sangat penting dari seluruh proses siklus
(daur), karena akan menentukan kegiatan-kegiatan selanjutnya dari pendekatan pemecahan
masalah ini. Masalah akan Komite mutu apabila :
a. Hasil yang dicapai dibandingkan dengan Standar yang ada terdapat penyimpangan
b. Merasa tidak puas akan penyimpangan tersebut.
c. Merasa bertanggung jawab atas penyimpangan tersebut.

Dengan telah jelasnya cara memecahkan masalah maka bisa dilakukan tindakan perbaikan.
Namun agar pemecahan masalah bisa tuntas, setelah diadakan tindakan perbaikan perlu dinilai
kembali apakah masih ada yang tertinggal. Dari penilaian kembali maka akan didapatkan masalah
yang telah terpecahkan dan masalah yang masih tetap merupakan masalah sehingga proses siklus
akan berulang mulai tahap pertama.

E. Standar dan Rencana Implementasi Mutu

Penerapan Standar dan Rencana Implementasi Mutu Pelayanan dan Keselamatan Pasien di
RSUD Dr.H.Abdul Moeloek Propinsi Lampung berdasarkan Standar akreditasi rumah sakit nasional
dan internasional.

1. Standar 1. Semua yang bertanggung jawab memimpin dan

menjalankan organisasi berpartisipasi didalam perencanaan dan monitoring


keberhasilan kualitas dalam program keselamatan pasien.

a. Standar 1.1 Pimpinan bekerja sama menjalankan peningkatan mutu dan


program keselamatan pasien.
Implementasi: Ketua Komite Mutu membuat laporan kepada pimpinan serta
pemilik RS dan meminta rekomendasi atas laporan untuk
peningkatan mutu dan keselamatan pasien.

b. Standar 1.2 Pimpinan memprioritaskan proses yang harus dimonitor dan


perbaikan serta keselamatan pasien yang mana yang harus diperhatikan.
Implementasi : Pimpinan dan Ketua Komite Mutu menentukan indikator klinis dan
manajemen yang akan di monitor.