Anda di halaman 1dari 43

Share : Copy Link

logo

LIVE REPORT

KONGRES LUAR BIASA PSSI 2019

HomeBisnisBank

Begini Awal Mula Kasus SNP Finance yang Rugikan 14 Bank

Oleh Nurmayanti pada 26 Sep 2018, 20:35 WIB

20151104-OJK

Liputan6.com, Jakarta Satu lagi kasus di sektor keuangan yang menyedot perhatian masyarakat.
Perusahaan multifinance PT Sunprima Nusantara Pembiayaan (SNP Finance) diketahui merugikan 14
bank di Indonesia hingga triliunan rupiah.

SNP Finance merupakan bagian dari Columbia, toko yang menyediakan pembelian barang secara kredit.
Dalam kegiatannya SNP Finance mendapatkan dukungan pembiayaan pembelian barang yang
bersumber dari kredit perbankan.

Deputi Komisioner Pengawas Perbankan III Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Slamet Edy Purnomo
mengungkapkan jika permasalahan pada SNP Finance sudah tercium sejak Juli 2017.

"Jadi yang membongkar awal adalah pengawas. Jadi di 2017 sudah tertangkap ada angka CAPS itu suatu
aplikasi connecting antara SNP sebagai multifinance dengan bank seperti Bank Mandiri yang paling
besar. Jadi ada beda itu (angka)," jelas dia di Jakarta, Rabu (26/9/2018).

OJK kemudian meminta dilakukan pemeriksaan kepada pihak perbankan secara internal dan oleh
pengawas.
Pada 2018, OJK kembali melakukan evaluasi. Lembaga ini dikatakan terlebih dulu memberi kesempatan
kepada internal perbankan untuk menyelesaikan saat diketahui terjadi masalah.

"Jadi dilakukan oleh investigator internal Bank Mandiri dan ditemukan memang terrnyata tidak pernah
dilakukan reconcile antara banking dan dari situ kita dalami lagi prosesnya dan ternyata ada kesalahan di
sistem yang tidak sempurna," jelas dia.

Slamet Edy menuturkan, terlepas dari kesalahan sistem yang bisa diperbaiki, tim kemudian
berkoordinasi dengan pengawas SNP di Industri Keuangan Non Bank (IKNB).

"Lalu muncul akhirnya hasil seperti itu dan akhirnya ketemu lagi sampai masalah MTN. Semua dipanggil
Pefindo, semuanya dipanggil. Dan dari hasil pemeriksaan saya lihat semua pengawasan jalan baik dari
Bank Mandiri," tegas dia.

Dia menuturkan, jika permasalahan ada terkait data yang diberikan SNP. Adapun mekanisme pemberian
pinjaman kepada SNP Finance yang dilakukan dengan sistem executing.

Bank memberikan kredit berupa joint financing atau memberikan langsung ke perusahaan pembiayaan
tersebut. Kemudian SNP Finance yang meneruskannya kepada pengguna.

Untuk mendapatkan kredit ini, terlebih dulu ditunjuk auditor publik yang bertugas memeriksa laporan
keuangan. Auditor yang ditunjuk adalah Kantor Akuntan Publik (KAP) Deloitte yang menilai kondisi
keuangan SNP Finance.

"Kalau laporan keuangan dia bagus harus diaudit eksternal dan biasanya menunjuk standar
internasional," tutur Slamet Edy.

Kemudian seiring dengan turunnya bisnis toko Columbia, kredit perbankan tersebut mengalami
permasalahan menjadi Non Performing Loan (NPL).
Kondisi tersebut telah diantisipasi perbankan dengan melakukan pencadangan (PPAP) pada tahun yang
sudah lewat, sehingga perbankan dapat meng-absorb risiko gagal bayar.

Salah satu tindakan yang dilakukan oleh SNP Finance untuk mengatasi kredit bermasalah tersebut
adalah melalui penerbitan Medium Term Note (MTN), yang diperingkat oleh Pefindo berdasarkan
laporan keuangan SNP yang diaudit DeLoitte.

Slamet Edy mengatakan jika penerbitan MTN tidak melalui proses di OJK. Ini mengingat MTN adalah
perjanjian yang bersifat private, namun memerlukan pemeringkatan karena dapat diperjualbelikan.

Sebelumnya diketahui jika SNP Finance mendapatkan peringkat efek periode Desember 2015-2017 idA-
/stable dari Pefindo. Kemudian pada Maret 2018, rating SNP Finance naik menjadi idA/stable.

Namun Pefindo kembali menurunkan rating SNP Finance sebanyak 2 kali. Pertama pada bulan Mei 2018,
diturunkan menjadi idCCC/credit watch negative dan pada bulan yang sama menurunkan lagi ke
peringkat idSD/selective default.

Akhirnya, saat terjadi permasalahan, SNP Finance mengajukan penundaan kewajiban pembayaran utang
(PKPU) terhadap kewajibannya sebesar kurang lebih Rp 4,07 triliun, yang terdiri dari kredit perbankan
Rp 2,22 triliun dan MTN sebesar Rp 1,85 triliun.

2 of 2

SNP Finance Rekayasa Laporan Keuangan Buat Bobol 14 Bank

Penipuan Dana Nasabah

Wakil Dittipideksus Bareskrim Mabes Polri, Kombes Pol Daniel Tahi Monang dan Karo Penmas Divisi
Humas Polri, Brigjen Pol Dedi Prasetyo saat rilis pengungkapan pembobolan dana nasabah di Bareskrim
Polri, Jakarta, Senin (24/9). (Merdeka.com/Arie Basuki)

PT Bank Mandiri Tbk angkat bicara mengenai kasus pembobolan dana di 14 bank oleh Lembaga
pembiayaan PT Sunprima Nusantara Pembiayaan (SNP Finance) yang merupakan anak usaha Columbia.
Bank Mandiri termasuk salah satu bank tersebut.
Corporate Secretary Bank Mandiri Rohan Hafas menjelaskan, SNP Finance adalah perusahaan
pembiayaan yang menjadi debitur Bank Mandiri sejak 2004. Selama belasan tahun menjadi debitur Bank
Mandiri, SNP Finance memiliki catatan yang baik dengan kualitas kredit yang lancar. Hal ini juga yang
membuat banyak bank kemudian ikut memberikan pembiayaan kepada SNP Finance.

Atas hal tersebut, Bank Mandiri melihat permasalahan di SNP Finance saat ini bukan semata-mata
disebabkan oleh ketidak hati-hatian perbankan dalam penyaluran kredit. Apalagi saat ini regulator telah
menetapkan rambu-rambu yang sangat ketat bagi perbankan.

"Kekisruhan di SNP Finance justru disebabkan itikad tidak baik pengurus perseroan untuk menghindari
kewajiban mereka," jelas Rohan seperti dikutip dari keterangan tertulis, Rabu (26/9/2018).

Buktinya, SNP Finance langsung mengajukan PKPU Sukarela, setelah kualitas kredit turun menjadi kol. 2.
Modus ini sering dilakukan dengan memanfaatkan celah dari ketentuan hukum terkait Kepailitan.

BACA JUGA

Nilai Pembobolan Dana 14 Bank oleh SNP Senilai Rp 2,4 Triliun versi OJK

OJK Pastikan Terus Monitor Kasus Sunprima Nusantara Pembiayaan

Terkuak, SNP Finance Rekayasa Laporan Keuangan Buat Bobol 14 Bank

BACA JUGA

Nilai Pembobolan Dana 14 Bank oleh SNP Senilai Rp 2,4 Triliun versi OJK

OJK Pastikan Terus Monitor Kasus Sunprima Nusantara Pembiayaan

Bareskrim Beberkan Pembobolan 14 Bank oleh SNP, Ini Respons BCA


https://m.liputan6.com/bisnis/read/3653257/begini-awal-mula-kasus-snp-finance-yang-rugikan-14-
bank?utm_source=Mobile&utm_medium=copylink&utm_campaign=copylink

Copy Link

Tag Terkait

SNP Finance

OJK

SNP

Lihat Semua

Suhu Panas

Wakil Menteri

Kabinet Jokowi

Pelantikan Presiden 2019

Jusuf Kalla

Ott Kpk

Rekomendasi

Kredit2

Tingkatkan Kualitas Kakao Mojokerto, OJK Ajak Petani Kelola Keuangan


OJK Terapkan Sistem Pendaftaran Elektronik Penambahan Modal

Forex Trading Jadi Lahan Terbesar Investasi Bodong

Jadi Korban Investasi Bodong, Yuk Adukan ke Warung Ini

Hanson Diminta Kembalikan Dana Triliunan ke Nasabah

Ini Penyebab Maraknya Investasi Bodong di Masyarakat

Kian Menjamur, OJK Temukan 68 Usaha Gadai Ilegal

OJK Kembali Temukan 297 Fintech Ilegal

OJK: Tak Ada Kenaikan Suku Bunga Kredit Hingga Akhir Tahun

OJK Ingin Lebih Banyak Pengusaha yang Ajukan Kredit Perbankan

Qnet Diduga Jadi Investasi Bodong, Ini Penjelasan OJK

Pinjaman Online, Bisnis Menjanjikan Namun Penuh Tantangan

LOGO

CNN Indonesia
Find it on Play Store GETX

logo

Ekonomi

MASUK DAFTAR

Home

Kanal

NasionalTeknologiInternasionalHiburanEkonomiGaya HidupOlahraga

Lainnya

InfografisFokusFotoKolomVideo

CNN TV

Aku & Jakarta

Music at Newsroom

Indeks

Download Apps

Ikuti Kami

Home Nasional Internasional Ekonomi Olahraga Teknologi Hiburan Gaya Hidup Infografis Foto Video
Fokus Kolom Terpopuler Indeks

Home Ekonomi Berita Keuangan

Kronologi SNP Finance dari 'Tukang Kredit' ke 'Tukang Bobol'

Tim, CNN Indonesia

Rabu, 26/09/2018 16:05

Bagikan :
Kronologi SNP Finance dari 'Tukang Kredit' ke 'Tukang Bobol'

Ilustrasi toko alat rumah tangga dan elektronik. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak).

Jakarta, CNN Indonesia -- Lima orang direksi dan manajer PT Sunprima Nusantara Pembiayaan (SNP
Finance) diamankan pihak berwajib terkait kasus dugaan tindak pidana pemalsuan dokumen,
penggelapan, penipuan, dan pencucian uang dalam aktivitas usahanya sebagai perusahaan pembiayaan
(multifinance).

SNP Finance merupakan bagian usaha Columbia, jaringan ritel yang menawarkan pembelian barang
rumah tangga secara kredit atau cicil. Dalam kegiatannya, SNP lah yang menyokong pembelian barang
yang dilakukan oleh Columbia dengan sumber pendanaan dari perbankan atau surat utang.

Di industri multifinance, SNP Finance boleh dibilang pemain kelas menengah ke bawah. Lihatlah, total
pembiayaan yang disalurkannya pun tidak lebih dari Rp5 triliun per tahun. Maklum, barang yang
dibiayainya hanya kasur, lemari, sofa, dan perabot rumah tangga lainnya.

Berbeda dengan multifinance sekaliber BCA Finance, Astra Sedaya Finance, FIF, dan Adira Finance yang
membiayai kendaraan roda empat dan sepeda motor. Tak heran, pembiayaan yang mereka salurkan
selalu berkisar puluhan triliun per tahun. Wajarlah, teman-teman seprofesi SNP Finance itu berinduk
usaha pada bank umum.

Lihat juga:Bank Mandiri: Itikad Tak Baik, SNP Finance Ajukan Pailit

Namun, Deputi Komisioner Manajemen Strategis dan Logistik Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Anto
Prabowo mengungkapkan seiring dengan turunnya bisnis ritel Columbia, kredit perbankan yang ditarik
SNP Finance pun bermasalah. "Dan menjadi NPL," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Rabu (26/9).

SNP Finance diketahui menerima fasilitas kredit modal kerja dari 14 bank. Salah satu dan yang paling
besar berasal dari PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. SNP Finance sendiri telah 20 tahun menjadi nasabah
Bank Mandiri. Namun, pada 2016, perusahaan mengajukan restrukturisasi kredit.
Saat itu, Bank Mandiri memasukkan SNP Finance dalam kelompok kolektibilitas 2 (kol 2) atau dalam
perhatian khusus. Restrukturisasi kredit diperlukan bukan karena perusahaan menunggak pembayaran,
melainkan agar perusahaan bisa mendapat kucuran dana dari bank lain.

Alih-alih membaik, Sekretaris Perusahaan Bank Mandiri Rohan Hafas mengatakan SNP Finance malah
menunjukkan itikad buruk. Dalam beberapa bulan terakhir, kreditnya mulai macet dan manajemen
perusahaan mengajukan pailit sukarela. Padahal, kredit macetnya saat itu mencapai Rp1,2 triliun.

Lihat juga:Kena 'Getah' SNP Finance, Multifinance Kesulitan Cari Modal

"Mereka sebanarnya sudah jadi nasabah kami 20 tahun dan reputasinya baik. Tapi tiba-tiba berubah
hanya dalam beberapa bulan terakhir kreditnya macet (Rp1,2 triliun). Jumlah itu termasuk pokok dan
bunga yang diakumulasi sejak beberapa tahun terakhir. Sekarang sudah jadi kredit macet," jelas dia.

Sekretaris Perusahaan SNP Finance Ongko Purba Dasuha menyatakan bahwa nilai pinjaman yang
mereka ambil secara total tak lebih dari Rp4 triliun. Hal itu juga tertuang dalam Penundaan Kewajiban
Pembayaran Utang (PKPU). "Ada dalam pengakuan utang di PKPU," katanya.

PKPU itu terbit pada 4 Mei 2018, setelah dikabulkan majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.
Dalam PKPU disebutkan total tagihan SNP Finance mencapai Rp4,07 triliun dari 14 bank sebagai kreditur
dengan jaminan Rp2,2 triliun, serta 336 pemegang MTN senilai Rp1,85 triliun.

Pada Desember 2017, menurut Sistem Informasi Debitur (SID) Bank Indonesia kategori SNP Finance
sebetulnya masih ada di kol 1 dengan status lancar. Tapi, Januari 2018, terjadi peralihan dan di bawah
kontrol OJK, yakni Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) yang kemudian statusnya berubah menjadi
kol 2.

Lihat juga:Anak Grup Columbia Heran atas Angka Dugaan Pembobolan Rp14 T
Hal itu berimbas pada timbulnya pertanyaan bank-bank yang mengucurkan dana mereka ke SNP Finance
dan berbuntut pada seretnya aliran kredit dari bank-bank lain. Di sisi lain, sistem manajemen penagihan
di kantor-kantor cabang SNP Finance semakin lemah.

Gali Lubang Tutup Lubang

Wakil Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Badan Reserse Kriminal Polri Komisaris Besar Daniel
Tahi Monang Silitong mengatakan pengungkapan kasus ini berawal dari laporan Bank Panin pada awal
Agustus 2018 lalu.

Menurutnya, SNP Finance mengajukan pinjaman fasilitas kredit modal kerja dan rekening koran kepada
Bank Panin periode Mei 2016 sampai 2017 dengan plafon kepada debitur sebesar Rp425 miliar.

Salah satu tindakan yang dilakukan oleh SNP Finance untuk mengatasi kredit macetnya adalah
menerbitkan surat utang berbentuk Medium Term Notes (MTN), yang diperingkat oleh Pefindo,
lembaga pemeringkat, berdasarkan laporan keuangan yang diaudit oleh KAP DeLoitte.

Lihat juga:Sebelum Dibekukan, Pefindo 'Teropong' SNP Finance Stabil

"Dapat disampaikan bahwa penerbitan MTN tidak melalui proses di OJK, mengingat MTN adalah
perjanjian yang bersifat private, namun memerlukan pemeringkatan karena dapat diperjual-belikan,"
terang Anto.

Mengutip siaran pers Pefindo, biro kredit independen tersebut mendapuk SNP Finance dengan
peringkat idA- (single A minus) sejak Desember 2015-November 2017. Lalu, peringkat itu dinaikkan
menjadi idA (single A) pada Maret 2018. Padahal, saat itu, keuangan SNP Finance mulai bermasalah.

Dua bulan setelahnya, yakni Mei 2018, OJK mengeluarkan sanksi Pembekuan Kegiatan Usaha (PKU)
terhadap SNP Finance melalui Surat Deputi Komisioner Pengawas IKNB II Nomor S-247/NB.2/2018.
Pefindo pun buru-buru menyematkan peringkat idCCC (triple C) atau credit watch negative sebelum
akhirnya menarik peringkat terhadap SNP Finance. Namun, sampai berita ini diturunkan, pihak Pefindo
belum merespons pertanyaan.

Lihat juga:November, OJK Bisa Cabut Izin Usaha SNP Finance

Dengan diberlakukannya PKU, maka SNP Finance dilarang melakukan kegiatan usaha pembiayaan. Jika
mangkir dari hal itu, maka OJK dapat langsung mengenakan sanksi pencabutan izin usaha.

Tak cuma itu, selama masa sanksi PKU, SNP Finance juga wajib menyampaikan dan melakukan tindakan
korektif. "Dalam jangka waktu 6 bulan sejak PKU, SNP Finance tidak memenuhi tindakan tersebut, maka
dapat dikenakan sanksi pencabutan izin usaha," imbuhnya.

Dengan kondisi itu, Anto menambahkan, OJK akan terus memonitor perkembangan kasus SNP Finance,
serta memantau tim audit internal bank yang melakukan investigasi internal dan akan memberikan
sanksi jika ada pegawai bank yang terlibat.

OJK akan terus berkoordinasi dengan instansi terkait, seperti Kepolisian dan Kementerian Keuangan
untuk penindakan yang diperlukan. OJK juga melarang penerbitan MTN tanpa seizin OJK dan
menyiapkan langkah koordinasi dengan Kemenkeu berkaitan dengan kerja Kantor Akuntan Publik

Lihat juga:Kasus SNP Finance, Bank Mandiri Pidanakan Deloitte Indonesia

Langgar Standar Audit

Kemenkeu menyebut dua akuntan publik yang mengaudit laporan keuangan SNP Finance, yakni Akuntan
Publik Marlinna dan Merliyana Syamsul melanggar standar audit profesional.
Mengutip data resmi Pusat Pembinaan Profesi Keuangan (PPPK), dalam mengaudit SNP Finance tahun
buku 2012 - 2016, mereka belum sepenuhnya menerapkan pengendalian sistem informasi terkait data
nasabah dan akurasi jurnal piutang pembiayaan.

Akuntan publik tersebut juga belum menerapkan pemerolehan bukti audit yang cukup dan tepat atas
akun piutang pembiayaan konsumen dan melaksanakan prosedur memadai terkait proses deteksi risiko
kecurangan, serta respons atas risiko kecurangan.

Lihat juga:Kasus SNP Finance, Dua Kantor Akuntan Publik Diduga Bersalah

Selain dua akuntan publik di atas, Kemenkeu juga menyoroti DeLoitte Indonesia. Mereka diberi sanksi
berupa rekomendasi untuk membuat kebijakan dan prosedur dalam sistem pengendalian mutu akuntan
publik terkait ancaman kedekatan anggota tim perikatan senior.

Sekretaris Jenderal Kemenkeu Hadiyanto menuturkan bahwa sanksi diberikan untuk memperbaiki
mereka. "Sanksi administratif diberikan untuk membuat kebijakan dan prosedur dalam sistem
pengendalian mutu akuntan publik yang lebih baik," katanya.

Clients and Market Leader DeLoitte Indonesia Steve Aditya ketika dikonfirmasi masih belum
menjelaskan sanksi yang diterimanya tersebut. "Kami sedang menyiapkan tanggapan terhadap
pemberitaan Anda. Kami akan segera respons," ucapnya. (bir/asa)

Bagikan :

snp finance ojk kementerian keuangan pefindo bank mandiri multifinance

ARTIKEL TERKAIT

Sri Mulyani Ibaratkan Dana Pensiun RI Seperti 'Danau Dangkal'

Ekonomi1 tahun yang lalu


Kasus SNP Finance, Dua Kantor Akuntan Publik Diduga Bersalah

Ekonomi1 tahun yang lalu

Kasus SNP Finance, Bank Mandiri Pidanakan Deloitte Indonesia

Ekonomi1 tahun yang lalu

Bank Mandiri: Itikad Tak Baik, SNP Finance Ajukan Pailit

Ekonomi1 tahun yang lalu

BACA JUGA

Bank Mandiri Laporkan Media Online soal Hoaks Bangkrut Rp9 T

#MandiriEror Tampung Keluhan Aplikasi Mandiri Bermasalah

Bank Mandiri Eror, Saldo Nasabah Berubah Drastis

Sopir Taksi Online Rampok dan Aniaya Karyawati Bank Mandiri

News We Can Trust

Lihat Versi Desktop

NasionalTeknologiInternasionalHiburanEkonomiGaya HidupOlahragaDownload Apps

© 2019 Trans Media, CNN name, logo and all associated elements (R) and © 2019 Cable News Network,
Inc. A Time Warner Company. All rights reserved. CNN and the CNN logo are registered marks of Cable
News Network, Inc., displayed with permission.

Tentang Kami | Redaksi | Pedoman Media Siber | LOGO


CNN Indonesia

Find it on Play Store GETX

logo

Ekonomi

MASUK DAFTAR

Home

Kanal

NasionalTeknologiInternasionalHiburanEkonomiGaya HidupOlahraga

Lainnya

InfografisFokusFotoKolomVideo

CNN TV

Aku & Jakarta

Music at Newsroom

Indeks

Download Apps

Ikuti Kami

Home Nasional Internasional Ekonomi Olahraga Teknologi Hiburan Gaya Hidup Infografis Foto Video
Fokus Kolom Terpopuler Indeks

Home Ekonomi Berita Keuangan

Kasus SNP Finance, Dua Kantor Akuntan Publik Diduga Bersalah

Tim, CNN Indonesia

Rabu, 26/09/2018 14:12

Bagikan :
Kasus SNP Finance, Dua Kantor Akuntan Publik Diduga Bersalah

Kementerian Keuangan memutuskan untuk memberi sanksi tiga akuntan publik yang memeriksa laporan
keuangan SNP Finance. (CNNIndonesia/Safir Makki)

Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Keuangan menyatakan dua akuntan publik yang mengaudit
laporan keuangan PT Sunprima Nusantara Pembiayaan (SNP) Finance; Akuntan Publik Marlinna dan
Merliyana Syamsul melanggar standar audit profesional.

Mengutip data resmi Pusat Pembinaan Profesi Keuangan (PPPK), dalam melakukan audit laporan
keuangan SNP tahun buku 2012 sampai dengan 2016, mereka belum sepenuhnya menerapkan
pengendalian sistem informasi terkait data nasabah dan akurasi jurnal piutang pembiayaan.

Akuntan publik tersebut belum menerapkan pemerolehan bukti audit yang cukup dan tepat atas akun
piutang pembiayaan konsumen dan melaksanaan prosedur yang memadai terkait proses deteksi risiko
kecurangan serta respons atas risiko kecurangan.

Lihat juga:Kena 'Getah' SNP Finance, Multifinance Kesulitan Cari Modal

Di samping itu, PPPK juga menyatakan sistem pengendalian mutu akuntan publik tersebut mengandung
kelemahan. Pasalnya, sistem belum bisa mencegah ancaman kedekatan antara personel senior (manajer
tim audit) dalam perikatan audit pada klien yang sama untuk suatu periode yang cukup lama.

Kementerian Keuangan menilai bahwa hal tersebut berdampak pada berkurangnya skeptisisme
profesional akuntan. Berdasarkan hasil pemeriksaan tersebut, Kementerian Keuangan menjatuhkan
sanksi administratif kepada mereka berupa pembatasan pemberian jasa audit terhadap entitas jasa
keuangan selama 12 bulan yang mulai berlaku tanggal 16 September 2018 sampai dengan 15 September
2019.
Selain terhadap dua akuntan publik tersebut, Kementerian Keuangan juga menghukum Deloitte
Indonesia. Mereka diberi sanksi berupa rekomendasi untuk membuat kebijakan dan prosedur dalam
sistem pengendalian mutu akuntan publik terkait ancaman kedekatan anggota tim perikatan senior.

Deloitte Indonesia juga diwajibkan mengimplementasikan kebijakan dan prosedur serta melaporkan
pelaksanaannya paling lambat 2 Februari 2019.

Lihat juga:Sebelum Dibekukan, Pefindo 'Teropong' SNP Finance Stabil

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Keuangan Hadiyanto mengatakan sanksi diberikan untuk
memperbaiki mereka. "Sanksi administratif diberikan untuk membuat kebijakan dan prosedur dalam
sistem pengendalian mutu akuntan publik yang lebih baik," katanya di Gedung DPR, Selasa (26/9).

Selain terhadap KAP tersebut, sanksi juga diderita oleh SNP Finance. Otoritas Jasa Keuangan (OJK)
membekukan kegiatan usaha mereka terhitung sejak 14 Mei lalu.

OJK bisa mencabut izin usaha SNP Finance pada November 2018 nanti. Pencabutan izin dilakukan jika
perusahaan melakukan kegiatan usaha sebelum berakhirnya sanksi pembekuan kegiatan usaha.

"Jika tidak dapat memenuhi ketentuan hingga berakhirnya jangka waktu PKU sesuai dengan ketentuan
POJK 29 (dicabut)," ujar Juru Bicara OJK Sekar Putih Djarot.

Clients and Market Leader Deloitte Indonesia Steve Aditya ketika dikonfirmasi CNNIndonesia sementara
itu meminta waktu untuk menyiapkan jawaban atas sanksi tersebut. "Kami sedang menyiapkan
tanggapan terhadap pemberitaan Anda, kami akan segera respons," kata Steve ketika dikonfirmasi.

Lihat juga:Anak Grup Columbia Heran atas Angka Dugaan Pembobolan Rp14 T

(ulf/agt)

Bagikan :
kementerian keuangan snp finance ojk

ARTIKEL TERKAIT

Bank Mandiri: Itikad Tak Baik, SNP Finance Ajukan Pailit

Ekonomi1 tahun yang lalu

Kasus SNP Finance, Bank Mandiri Pidanakan Deloitte Indonesia

Ekonomi1 tahun yang lalu

Kena 'Getah' SNP Finance, Multifinance Kesulitan Cari Modal

Ekonomi1 tahun yang lalu

Ingin Melanjutkan Studi ke Eropa? EHEF Indonesia is Back!

Promoted

Sebelum Dibekukan, Pefindo 'Teropong' SNP Finance Stabil

Ekonomi1 tahun yang lalu

BACA JUGA

Polisi Minta Warga Cek ke OJK Sebelum Pakai Pinjaman Online

Beli Rumah di Perumahan CitraGran Cibubur Gratis Interior

Promoted

OJK Diminta Tak Bungkam soal Bunuh Diri Ditagih Rentenir


APM Pelajari Aturan Baru Beli Mobil DP 0 Persen

Penuhi Permintaan OJK, Kominfo Blokir 527 Fintech Abal-abal

News We Can Trust

Lihat Versi Desktop

NasionalTeknologiInternasionalHiburanEkonomiGaya HidupOlahragaDownload Apps

© 2019 Trans Media, CNN name, logo and all associated elements (R) and © 2019 Cable News Network,
Inc. A Time Warner Company. All rights reserved. CNN and the CNN logo are registered marks of Cable
News Network, Inc., displayed with permission.

Tentang Kami | Redaksi | Pedoman Media Siber |

BINA NUSANTARABINUS UNIVERSITYAccounting

ACCOUNTING

Menu

ACCOUNTING

People Innovation Excellence

Home ArticlesMerunut Kasus SNP Finance & Aud...

MERUNUT KASUS SNP FINANCE & AUDITOR DELOITTE INDONESIA (1)

Oleh:

Bambang Leo Handoko dan Gatot Soepriyanto – Dosen Pengajar Program Studi Akuntansi dan Keuangan
Bina Nusantara (BINUS) University.

Catatan: Tulisan adalah pendapat pribadi kedua penulis, tidak serta merta mewakili pendapat institusi.
Belakangan ini sering dibahas di media cetak maupun di media elektronik, mengenai kasus yang cukup
menghebohkan masyarakat dan praktisi keuangan di tanah air, yaitu kasus SNP Finance. Di seri pertama
dari dua tulisan ini, kami ingin merunut kasus ini dari awal, mulai dari keberadaan SNP Finance,
hubungannya dengan perusahaan induknya, sampai kemunduran bisnis yang memaksa SNP Finance
memanipulasi laporan keuangannya. Selamat menyimak!

Siapa SNP Finance?

Sun Prima Nusantara Pembiayaan (SNP) Finance merupakan perusahaan multi finance, anak
perusahaan dari grup bisnis Columbia. Siapa yang tak kenal Columbia? Tentunya Anda mengetahui,
Columbia adalah perusahaan retail yang menjual produk perabotan rumah tangga seperti alat-alat
elektronik dan furnitur. Dalam menjual produknya, Columbia memberikan opsi pembelian dengan cara
tunai atau kredit cicilan kepada customernya. Nah, SNP Finance inilah yang menjadi partner Columbia
dalam memfasilitasi kredit dan cicilan bagi customer Columbia. Columbia sendiri mempunyai jumlah
outlet yang sangat banyak, tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia, melihat kondisi seperti itu,
tentu SNP Finance harus memiliki modal kerja (working capital) dalam jumlah yang besar untuk
menutup kredit para customer Columbia.

Lalu dari mana SNP Finance memperoleh dana untuk mencukupi modal kerja yang dibutuhkan? SNP
Finance menghimpun dana melalui pinjaman Bank. Kredit yang diberikan bank kepada SNP Finance
terdiri dari dua jalur, yang pertama melalui joint financing, dimana beberapa bank bergabung dan
memberikan pinjaman, dan yang kedua adalah secara langsung, dari sebuah bank kepada SNP Finance.
Bank Mandiri tercatat sebagai pemberi pijaman terbesar kepada SNP Finance. Bank-bank yang
memberikan pinjaman tersebut adalah kreditor, mereka punya kepentingan untuk mengetahui
bagaimana dana yang mereka pinjamakan ke SNP Finance. Apakah dana tersebut dikelola dengan benar,
karena tentunya bank juga mengharapkan keuntungan berupa bunga/interest, dan pengembalian pokok
pinjaman. Dalam hal ini bank bergantung pada informasi keuangan yang tertuang dalam laporan
keuangan yang dibuat oleh manajemen SNP Finance. Untuk memastikan bahwa laporan keuangan yang
disusun tersebut terbebas dari kesalahan atau manipulasi, maka laporan keuangan tersebut diaudit. SNP
Finance menggunakan jasa Kantor Akuntan Publik (KAP) Deloitte Indonesia yang merupakan salah satu
Kantor Akuntan Publik (KAP) asing elit (disebut the Big Four) untuk mengaudit laporan keuangannya.

Kegagalan Bisnis dan Manipulasi oleh SNP Finance


Pada dasarnya perjanjian utang piutang antara SNP Finance dengan para kreditornya (bank) tersebut
adalah kerjasama yang sifatnya mutualistik. SNP Finance membutuhkan dana, bank juga butuh
menyalurkan kredit. Namun dalam perjalanan waktu, ternyata bisnis retail Columbia yang merupakan
induk dari SNP Finance mengalami kemunduran. Apa penyebabnya? Kita bisa melihat bahwa perilaku
pembelian customer telah berubah, konsumen saat ini tidak lagi belanja produk furniture dan elektronik
dengan datang ke toko, melainkan mereka lebih suka membeli secara online melalui perangkat
gadgetnya. Mulai dari survey harga, survey spesifikasi produk, sampai dengan pembelian, semua
dilakukan secara online. Bahkan para online shop tersebut juga memberikan fasilitas kredit tanpa bunga
(bunga 0%) untuk tenor yang bahkan sampai 12 bulan. Kondisi perubahan perilaku pembelian customer
inilah yang memukul pangsa pasar dari Columbia, dan tentunya juga berdampak pada SNP Finance.
Buntutnya adalah kredit SNP Finance kepada para bank – bank/krediturnya tersebut menjadi
bermasalah, dalam istilah keuangan disebut Non Performing Loan (NPL).

Apa yang dilakukan SNP Finance untuk mengatasi utangnya kepada bank tersebut? SNP finance
membuka keran pendanaan baru melalui penjualan surat utang jangka menengah, disebut dengan MTN
(Medium Term Notes). MTN ini sifatnya hampir mirip dengan obligasi, hanya saja jangka waktunya
adalah menengah, sedangkan obligasi jangka waktunya panjang. MTN ini diperingkat oleh Pefindo
(Pemeringkat Efek Indonesia) dan kembali lagi bahwa Pefindo juga memberikan peringkat salah satunya
adalah berdasarkan laporan keuangan SNP Finance yang diaudit oleh Deloitte. Awalnya peringkat efek
SNP Finance sejak Desember 2015 – 2017 adalah A-, bahkan kemudian naik menjadi A di Maret 2018.
Namun tidak lama kemudian, di bulan Mei 2018 ketika kasus ini mulai terkuak, perikat efek SNP Finance
turun menjadi CCC bahkan di bulan yang sama tersebut turun lagi menjadi SD (Selective Default).
Default dalam bahasa sederhananya adalah gagal bayar. Berikutnya SNP Finance mengajukan
Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU), sebesar kurang lebih Rp 4,07 Trilyun yang terdiri dari
kredit perbankan 2,22 Trilyun dan MTN 1,85 Trilyun. Mengapa debitur dan pemegang MTN mau percaya
dan menyalurkan kredit kepada SNP Finance? Karena awalnya pembayaran dari SNP Finance lancar, dan
para kreditur tersebut juga menganalisis kesehatan keuangan SNP Finance melalui laporan
keuangannya, yang diaudit oleh kantor akuntan publik ternama, yaitu Deloitte. Namun ternyata terjadi
pemalsuan data dan manipulasi laporan keuangan yang dilakukan oleh manajemen SNP Finance.
Diantaranya adalah membuat piutang fiktif melalui penjualan fiktif. Piutang itulah yang dijaminkan
kepada para krediturnya, sebagai alasan bahwa nanti ketika piutang tersebut ditagih uangnya akan
digunakan untuk membayar utang kepada kreditor. Untuk mendukung aksinya tersebut, SNP Finance
memberikan dokumen fiktif yang berisi data customer Columbia. Sangat disayangkan bahwa Deloitte
sebagai auditornya gagal mendeteksi adanya skema kecurangan pada laporan keuangan SNP Finance
tersebut. Deloitte malah memberikan opini wajar tanpa pengecualian pada laporan keuangan SNP
Finance.

Bersambung ke bagian (2)


Merunut Kasus SNP Finance & Auditor Deloitte Indonesia (2)

Published at : 03 December 2018

RELATED CONTENT

PERBAIKI LAYANAN, DJP PANGKAS WAKTU PENERBITAN SKD SPDN DARI 10 HARI MENJADI REAL-TIME

Tax Ratio Series - Perhitungan Tax Ratio dari Masa ke Masa

PERATURAN MENTERI KEUANGAN TENTANG PENYESUAIAN BESARNYA NILAI JUAL OBJEK PAJAK TIDAK
KENA PAJAK PAJAK BUMI DAN BANGUNAN.

SHARE THIS

facebook

twitter

linkedin

email

LEAVE YOUR FOOTPRINT

NAME*

EMAIL*

MESSAGE*

FIND A PROGRAM
Type a keyword

All Program Types

SEARCHADVANCE SEARCH

GET CONNECTED WITH

SOCIAL MEDIA

Let’s relentlessly connected and get caught up each other.

fb

twitter

RSS Feed

Our biggest fans this week: Ryantiarno. Thank you! via https://t.co/0AWXOm8ykY
https://t.co/yc5uC4UqyW

1 month · reply · retweet · favorite

More From

BINUS EDUCATION

Select Program

Say Hi ! or..

SEND YOUR QUESTION

BINUS UNIVERSITY | Accounting & Finance

Jl. K. H. Syahdan No. 9, Kemanggisan, Palmerah

Jakarta 11480, Indonesia

Phone +62 21 534 5830, +62 21 535 0660 ext. 2346

Fax +62 21 530 0244

BINUS
BINA NUSANTARABINUS UNIVERSITYAccounting

ACCOUNTING

Menu

ACCOUNTING

People Innovation Excellence

Home ArticlesMerunut Kasus SNP Finance & Aud...

MERUNUT KASUS SNP FINANCE & AUDITOR DELOITTE INDONESIA (2)

Oleh: Bambang Leo Handoko dan Gatot Soepriyanto – Dosen Pengajar pada Prodi Akuntansi dan
Keuangan BINUS University.

Catatan: Tulisan adalah pendapat pribadi kedua penulis, tidak serta merta mewakili pendapat institusi.

Di bagian kedua tulisan ini, akan dibahas lebih lanjut bagaimana getah yang harus ditanggung oleh
manajemen dan auditor SNP Finance. Tak lupa, kami juga membahas tentang pelajaran yang bisa
diambil oleh para akuntan publik terkait sanksi yang dijatuhkan oleh regulator kepada Deloitte
Indonesia. Selamat membaca!

Sanksi atas Kecurangan Laporan Keuangan

Untuk manajemen dari SNP Finance sendiri saat ini kasusnya telah ditangani oleh Bareskrim Polri.
Mereka diduga melanggar pasal berlapis, yaitu KUHP 362 tentang pemalsuan surat, KUHP 362 tentang
penggelapan dan KUHP 378 tentang penipuan. Sementara apa sanksi untuk Deloitte sebagai auditornya?
Sanksi kepada Deloitte diberikan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), melalui siaran pers tertanggal 1
Oktober 2018, OJK memberikan sanksi kepada Akuntan Publik (AP) Marlina dan AP Merliyana Syamsul,
keduanya dari KAP Satrio Bing Eni dan rekan (pemegang afiliasi Deloitte di Indonesia), dan juga KAP
Satrio Bing Eny dan rekan sendiri. Sanksi yang diberikan adalah pembatalan hasil audit terhadap kliennya
yaitu SNP Finance dan pelarangan untuk mengaudit sektor perbankan, pasar modal dan Industri
Keuangan Non Bank (IKNB).

Apa yang menjadi dasar dari OJK untuk pemberian sanksi tersebut? Bahwa AP Marlinna, AP Merliyana
Syamsul dan Deloitte telah melakukan pelanggaran berat yaitu melanggar POJK Nomor
13/POJK.03/2017 tentang Penggunaan Jasa Akuntan Publik dan Kantor Akuntan Publik.
Pertimbangannya antara lain adalah sebagai berikut:

Telah memberikan opini yang tidak mencerminkan kondisi keuangan yang sebenarnya

Besarnya kerugian terhadap industri jasa keuangan dan masyarakat yang ditimbulkan atas opini kedua
AP tersebut atas Laporan Keuangan Tahunan Audit (LKTA) SNP Finance

Menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap sektor jasa keuangan akibat dari kualitas penyajian oleh
akuntan publik.

Auditor di Pusaran Kecurangan Laporan Keuangan

Apa yang seharusnya dilakukan oleh Deloitte? Apa yang menjadi kewajiban bagi auditor? Dalam hal ini
seharusnya auditor mengetahui betapa pentingnya laporan keuangan yang diaudit. Auditor mengetahui
persis siapa saja yang menjadi para pengguna utama (primary beneficiary) dari laporan keuangan yang
diaudit tersebut, pihak – pihak yang akan melakukan pengambilan keputusan dari laporan keuangan
tersebut. Apalagi bukan setahun dua tahun Deloitte mengaudit SNP Finance, tetapi dalam kurun waktu
yang cukup lama. Deloitte yang merupakan KAP big four melakukan kelalaian (negligence), yaitu dengan
kurang menerapkan prinsip kehati – hatian (professional skepticism) dalam mengaudit kliennya
tersebut. Ketika terjadi peningkatan hutang dan hutang yang menjadi non performing loan, harusnya ini
sudah menjadi lampu kuning bagi Deloitte untuk memberikan opini going concern atas laporan
keuangan SNP Finance. Opini going concern adalah informasi tambahan yang diberikan auditor di
paragraph penjelas dalam laporan auditor independen yang berfungsi untuk menyatakan bahwa
perusahaan dalam kondisi beresiko mengalami kebangkrutan. Dengan adanya opini tersebut, akan
menjadi warning bagi para kreditornya untuk berhati – hati dalam menyalurkan pinjaman. Selain itu
dengan adanya kondisi kesulitan keuangan yang dialami oleh SNP Finance, seharusnya Deloitte juga
mengetahui bahwa hal ini menjadi faktor tekanan/pressure bagi perusahaan untuk melakukan
kecurangan/fraud, yaitu dengan memanipulasi laporan keuangan agar tampak baik. Deloitte seharusnya
mengkategorikan kliennya tersebut sebagai high risk, atau beresiko tinggi melakukan fraud. Dengan
adanya kondisi high risk tersebut, mengacu pada standar audit yang dikeluarkan oleh International
Standard on Auditing (ISA) no 330 tentang respon auditor terhadap resiko kecurangan klien, Deloitte
seharusnya menambah porsi pengujian substantive pada test of details, seperti menambah sampel
untuk konfirmasi piutang pelanggan. Sehingga dari prosedur audit tersebut akan terungkap apabila
ternyata banyak piutang fiktif yang sengaja dibuat oleh kliennya.

Kasus SNP Finance dan Deloitte ini hendaknya menjadi pelajaran bagi para pelaku bisnis dan auditor.
Pelaku bisnis yang ingin melakukan kecurangan, atau manipulasi laporan keuangan juga berpikir dua
kali, karena saat ini OJK telah bersikap kritis untuk menyelidiki kasus kecurangan manajemen (white
collar crime). Auditor dan Kantor Akuntan Publik juga harus berhati-hati dalam memberikan opini audit,
jangan sampai opini yang diberikan menjadi menyesatkan bagi para pengguna laporan keuangan,
sehingga dampaknya jadi mengakibatkan kerugian material dalam jumlah besar.

Published at : 03 December 2018

RELATED CONTENT

Pihak-Pihak yang Terkait dalam Penyusunan Laporan Keuangan

Daftar 15 Perusahaan Impian Mahasiswa Fresh Graduate

BEGINI ATURAN MENDIRIKAN USAHA BARU DAN KETENTUAN LAPOR PAJAK

SHARE THIS

facebook

twitter

linkedin

email

LEAVE YOUR FOOTPRINT

NAME*

EMAIL*

MESSAGE*

FIND A PROGRAM

Type a keyword

All Program Types


SEARCHADVANCE SEARCH

GET CONNECTED WITH

SOCIAL MEDIA

Let’s relentlessly connected and get caught up each other.

fb

twitter

RSS Feed

My week on Twitter 🎉: 21 Mentions, 145K Mention Reach, 2 Likes, 13 New Followers. ...

7 days · reply · retweet · favorite

More From

BINUS EDUCATION

Select Program

Say Hi ! or..

SEND YOUR QUESTION

BINUS UNIVERSITY | Accounting & Finance

Jl. K. H. Syahdan No. 9, Kemanggisan, Palmerah

Jakarta 11480, Indonesia

Phone +62 21 534 5830, +62 21 535 0660 ext. 2346

Fax +62 21 530 0244

BINUS UNIVERSITY

Copyright © BINUS UNIVERSITY. All rights reserved.


Copyright © BINUS UNIVERSITY. All rights reserved.

BINA NUSANTARABINUS UNIVERSITYAccounting

ACCOUNTING

Menu

ACCOUNTING

People Innovation Excellence

Home ArticlesMerunut Kasus SNP Finance & Aud...

MERUNUT KASUS SNP FINANCE & AUDITOR DELOITTE INDONESIA (2)

Oleh: Bambang Leo Handoko dan Gatot Soepriyanto – Dosen Pengajar pada Prodi Akuntansi dan
Keuangan BINUS University.

Catatan: Tulisan adalah pendapat pribadi kedua penulis, tidak serta merta mewakili pendapat institusi.

Di bagian kedua tulisan ini, akan dibahas lebih lanjut bagaimana getah yang harus ditanggung oleh
manajemen dan auditor SNP Finance. Tak lupa, kami juga membahas tentang pelajaran yang bisa
diambil oleh para akuntan publik terkait sanksi yang dijatuhkan oleh regulator kepada Deloitte
Indonesia. Selamat membaca!

Sanksi atas Kecurangan Laporan Keuangan

Untuk manajemen dari SNP Finance sendiri saat ini kasusnya telah ditangani oleh Bareskrim Polri.
Mereka diduga melanggar pasal berlapis, yaitu KUHP 362 tentang pemalsuan surat, KUHP 362 tentang
penggelapan dan KUHP 378 tentang penipuan. Sementara apa sanksi untuk Deloitte sebagai auditornya?
Sanksi kepada Deloitte diberikan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), melalui siaran pers tertanggal 1
Oktober 2018, OJK memberikan sanksi kepada Akuntan Publik (AP) Marlina dan AP Merliyana Syamsul,
keduanya dari KAP Satrio Bing Eni dan rekan (pemegang afiliasi Deloitte di Indonesia), dan juga KAP
Satrio Bing Eny dan rekan sendiri. Sanksi yang diberikan adalah pembatalan hasil audit terhadap kliennya
yaitu SNP Finance dan pelarangan untuk mengaudit sektor perbankan, pasar modal dan Industri
Keuangan Non Bank (IKNB).

Apa yang menjadi dasar dari OJK untuk pemberian sanksi tersebut? Bahwa AP Marlinna, AP Merliyana
Syamsul dan Deloitte telah melakukan pelanggaran berat yaitu melanggar POJK Nomor
13/POJK.03/2017 tentang Penggunaan Jasa Akuntan Publik dan Kantor Akuntan Publik.
Pertimbangannya antara lain adalah sebagai berikut:

Telah memberikan opini yang tidak mencerminkan kondisi keuangan yang sebenarnya

Besarnya kerugian terhadap industri jasa keuangan dan masyarakat yang ditimbulkan atas opini kedua
AP tersebut atas Laporan Keuangan Tahunan Audit (LKTA) SNP Finance

Menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap sektor jasa keuangan akibat dari kualitas penyajian oleh
akuntan publik.

Auditor di Pusaran Kecurangan Laporan Keuangan

Apa yang seharusnya dilakukan oleh Deloitte? Apa yang menjadi kewajiban bagi auditor? Dalam hal ini
seharusnya auditor mengetahui betapa pentingnya laporan keuangan yang diaudit. Auditor mengetahui
persis siapa saja yang menjadi para pengguna utama (primary beneficiary) dari laporan keuangan yang
diaudit tersebut, pihak – pihak yang akan melakukan pengambilan keputusan dari laporan keuangan
tersebut. Apalagi bukan setahun dua tahun Deloitte mengaudit SNP Finance, tetapi dalam kurun waktu
yang cukup lama. Deloitte yang merupakan KAP big four melakukan kelalaian (negligence), yaitu dengan
kurang menerapkan prinsip kehati – hatian (professional skepticism) dalam mengaudit kliennya
tersebut. Ketika terjadi peningkatan hutang dan hutang yang menjadi non performing loan, harusnya ini
sudah menjadi lampu kuning bagi Deloitte untuk memberikan opini going concern atas laporan
keuangan SNP Finance. Opini going concern adalah informasi tambahan yang diberikan auditor di
paragraph penjelas dalam laporan auditor independen yang berfungsi untuk menyatakan bahwa
perusahaan dalam kondisi beresiko mengalami kebangkrutan. Dengan adanya opini tersebut, akan
menjadi warning bagi para kreditornya untuk berhati – hati dalam menyalurkan pinjaman. Selain itu
dengan adanya kondisi kesulitan keuangan yang dialami oleh SNP Finance, seharusnya Deloitte juga
mengetahui bahwa hal ini menjadi faktor tekanan/pressure bagi perusahaan untuk melakukan
kecurangan/fraud, yaitu dengan memanipulasi laporan keuangan agar tampak baik. Deloitte seharusnya
mengkategorikan kliennya tersebut sebagai high risk, atau beresiko tinggi melakukan fraud. Dengan
adanya kondisi high risk tersebut, mengacu pada standar audit yang dikeluarkan oleh International
Standard on Auditing (ISA) no 330 tentang respon auditor terhadap resiko kecurangan klien, Deloitte
seharusnya menambah porsi pengujian substantive pada test of details, seperti menambah sampel
untuk konfirmasi piutang pelanggan. Sehingga dari prosedur audit tersebut akan terungkap apabila
ternyata banyak piutang fiktif yang sengaja dibuat oleh kliennya.

Kasus SNP Finance dan Deloitte ini hendaknya menjadi pelajaran bagi para pelaku bisnis dan auditor.
Pelaku bisnis yang ingin melakukan kecurangan, atau manipulasi laporan keuangan juga berpikir dua
kali, karena saat ini OJK telah bersikap kritis untuk menyelidiki kasus kecurangan manajemen (white
collar crime). Auditor dan Kantor Akuntan Publik juga harus berhati-hati dalam memberikan opini audit,
jangan sampai opini yang diberikan menjadi menyesatkan bagi para pengguna laporan keuangan,
sehingga dampaknya jadi mengakibatkan kerugian material dalam jumlah besar.

Published at : 03 December 2018

RELATED CONTENT

Pihak-Pihak yang Terkait dalam Penyusunan Laporan Keuangan

Daftar 15 Perusahaan Impian Mahasiswa Fresh Graduate

BEGINI ATURAN MENDIRIKAN USAHA BARU DAN KETENTUAN LAPOR PAJAK

SHARE THIS

facebook

twitter

linkedin

email

LEAVE YOUR FOOTPRINT

NAME*

EMAIL*

MESSAGE*
FIND A PROGRAM

Type a keyword

All Program Types

SEARCHADVANCE SEARCH

GET CONNECTED WITH

SOCIAL MEDIA

Let’s relentlessly connected and get caught up each other.

fb

twitter

RSS Feed

My week on Twitter 🎉: 21 Mentions, 145K Mention Reach, 2 Likes, 13 New Followers. ...

7 days · reply · retweet · favorite

More From

BINUS EDUCATION

Select Program

Say Hi ! or..

SEND YOUR QUESTION

BINUS UNIVERSITY | Accounting & Finance

Jl. K. H. Syahdan No. 9, Kemanggisan, Palmerah

Jakarta 11480, Indonesia


Phone +62 21 534 5830, +62 21 535 0660 ext. 2346

Fax +62 21 530 0244

BINUS UNIVERSITY

Copyright © BINUS UNIVERSITY. All rights reserved.


Share : Copy Link

logo

LIVE REPORT

KONGRES LUAR BIASA PSSI 2019

HomeBisnisEkonomi

Bersama OJK, Sri Mulyani Dalami Peran Akuntan Publik di Kasus SNP Finance

Oleh Merdeka.com pada 27 Sep 2018, 18:21 WIB

(Foto: Merdeka.com/Yayu Agustini Rahayu)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, mengatakan telah melakukan
koordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terkait kasus perusahaan multifinance PT Sunprima
Nusantara Pembiayaan (SNP Finance), termasuk soal peran kantor akuntan publik Delloite Indonesia.

Kementerian Keuangan (Kemenkeu) bersama OJK akan merumuskan langkah yang akan ditempuh
selanjutnya.

"Kita sudah koordinasi sama OJK mengenai kinerja dan peranan dari pemeriksa dalam kasus SNP dari
Kemenkeu. Karena kita yang mengawasi dari sisi akuntan publik, kita bersama dengan OJK akan
berkoordinasi langkah apa yang akan dilakukan," ujar Sri Mulyani di kantornya, Jakarta, Kamis
(27/9/2018).

Apabila nanti pemerintah bersama OJK menemukan ada pelanggaran, maka akan diberikan sanksi sesuai
ketentuan. Hal ini untuk menjaga integritas dan kepercayaan publik terhadap sektor keuangan.
"Kalau memang mereka melakukan pelanggaran dan ada hal-hal yang tidak perform, ya harus
ketentuannya seperti apa, nanti kita lakukan. Yang penting adalah bahwa di dalam sektor keuangan itu,
faktor integritas dan kepercayaan, itu penting sekali," ujar dia.

Sri Mulyani menambahkan, kasus semacam ini bisa jadi penghambat bagi upaya pemerintah dalam
mendorong pendalaman pasar keuangan khususnya investasi. Untuk itu, dia berharap para regulator
dan pengawas investasi bisa bersama-sama memberikan keamanan bagi investor di bidang keuangan.

"Jadi setiap kali muncul kasus-kasus ini, itu akan juga menimbulkan sideback masyarakat yang
sebetulnya ingin mulai melakukan diversifikasi dari sisi investasinya mereka, apakah dia membeli
corporate bond, membeli saham, beli surat berharga negara, dan ini juga menjadi penghalang pada saat
kita mau makin meningkatkan apa yang disebut kinerja dan pendalaman market kita,” kata Sri.

Reporter: Anggun P.Situmorang

Sumber: Merdeka

2 of 3

Kemenkeu Jatuhkan Sanksi Deloitte Indonesia atas Audit SNP Finance

Suku Bunga

Ilustrasi Foto Suku Bunga (iStockphoto)

Seperti diketahui, Menteri Keuangan Republik Indonesia menjatuhkan sanksi administratif kepada
masing-masing akuntan publik Marlinna, Akuntan Publik Merliyana Syamsul, dan Kantor Akuntan Publik
(KAP) Satrio Bing, Eny dan Rekan (Deloitte Indonesia).
Sanksi ini diberlakukan sehubungan dengan pengaduan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang
menginformasikan ada pelanggaran prosedur audit oleh KAP. Demikian kutip dari laman PPPK
Kemenkeu, Kamis (27/9/2018).

Dari pengaduan itu, Kementerian Keuangan dalam hal ini Pusat Pembinaan Profesi Keuangan (PPPK)
melakukan analis pokok permasalahan dan menyimpulkan terdapat indikasi pelanggaran terhadap
standar profesi dalam audit yang dilakukan oleh kedua akuntan publik dalam pelaksanaan audit umum
atas laporan keuangan PT Sunprima Nusantara Pembiayaan tahun buku 2012-2016.

Untuk memastikan hal tersebut, PPPK melakukan pemeriksaan terhadap KAP dan dua akuntan publik
dimaksud. Hasil pemeriksaan menyimpulkan bahwa Akuntan Publik Marlinna dan Merliyana Syamsul
belum sepenuhnya mematuhi Standar Audit-Standar Profesional Akuntan Publik dalam pelaksanaan
audit umum atas laporan keuangan SNP Finance.

Hal-hal yang belum sepenuhnya terpenuhi adalah pemahaman pengendalian sistem informasi terkait
data nasabah dan akurasi jurnal piutang pembiayaan, pemerolehan bukti audit yang cukup dan tepat
atas akun Piutang Pembiayaan Konsumen dan dalam meyakini kewajaran asersi keterjadian dan asersi
pisah batas akun Pendapatan Pembiayaan, pelaksanaan prosedur yang memadai terkait proses deteksi
risiko kecurangan serta respons atas risiko kecurangan, dan skeptisisme profesional dalam perencanaan
dan pelaksanaan audit.

Selain hal tersebut, sistem pengendalian mutu yang dimiliki oleh KAP mengandung kelemahan karena
belum dapat melakukan pencegahan yang tepat atas ancaman kedekatan berupa keterkaitan yang
cukup lama antara personel senior (manajer tim audit) dalam perikatan audit pada klien yang sama
untuk suatu periode yang cukup lama. Kementerian Keuangan menilai hal tersebut berdampak pada
berkurangnya skeptisisme profesional.

Berdasarkan hasil pemeriksaan tersebut, Menteri Keuangan mengenakan sanksi administratif kepada
Akuntan Publik Marlinna dan Akuntan Publik Merliyana Syamsul berupa pembatasan pemberian jasa
audit terhadap entitas jasa keuangan (semisal jasa pembiayaan dan jasa asuransi) selama dua belas
bulan yang mulai berlaku tanggal 16 September 2018 sampai dengan 15 September 2019.

Sementara KAP Satrio Bing Eny & Rekan dikenakan sanksi berupa rekomendasi untuk membuat
kebijakan dan prosedur dalam sistem pengendalian mutu KAP terkait ancaman kedekatan anggota tim
perikatan senior sebagaimana disebutkan di atas. KAP juga diwajibkan mengimplementasikan kebijakan
dan prosedur dimaksud dan melaporkan pelaksanaannya paling lambat 2 Februari 2019.

3 of 3

Awal Mula Kasus SNP Finance

20151104-OJK Pastikan Enam Peraturan Akan Selesai Pada 2015

Petugas saat bertugas di Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Jakarta,(4/11/2015). Pengawas Pasar
Modal OJK mengatakan pembahasan enam beleid sudah final karena tidak ada lagi perdebatan dari segi
substansi. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, kasus di sektor keuangan kembali menyedot perhatian masyarakat. Perusahaan


multifinance PT Sunprima Nusantara Pembiayaan (SNP Finance) diketahui merugikan 14 bank di
Indonesia dengan nilai hingga triliunan rupiah.

SNP Finance merupakan bagian dari Columbia, toko yang menyediakan pembelian barang secara kredit.
Dalam kegiatannya, SNP Finance mendapatkan dukungan pembiayaan pembelian barang yang
bersumber dari kredit perbankan.

Deputi Komisioner Pengawas Perbankan III Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Slamet Edy Purnomo,
mengungkapkan permasalahan pada SNP Finance sudah tercium sejak Juli 2017.

"Jadi yang membongkar awal adalah pengawas. Jadi, di 2017 sudah tertangkap ada angka CAPS itu suatu
aplikasi connecting antara SNP sebagai multifinance dengan bank seperti Bank Mandiri yang paling
besar. Jadi, ada beda itu (angka)," ujar dia di Jakarta, Rabu, 26 September 2018.

OJK kemudian meminta dilakukan pemeriksaan kepada pihak perbankan secara internal dan oleh
pengawas. Pada 2018, OJK kembali melakukan evaluasi. Lembaga ini dikatakan terlebih dulu memberi
kesempatan kepada internal perbankan untuk menyelesaikan saat diketahui terjadi masalah.
"Jadi, dilakukan oleh investigator internal Bank Mandiri dan ditemukan memang ternyata tidak pernah
dilakukan reconcile antara banking, dan dari situ kita dalami lagi prosesnya dan ternyata ada kesalahan
di sistem yang tidak sempurna," jelas dia.

Slamet Edy menuturkan, terlepas dari kesalahan sistem yang bisa diperbaiki, tim kemudian
berkoordinasi dengan pengawas SNP di Industri Keuangan Non Bank (IKNB).

"Lalu muncul akhirnya hasil seperti itu dan akhirnya ketemu lagi sampai masalah MTN. Semua dipanggil
Pefindo, semuanya dipanggil. Dan dari hasil pemeriksaan saya lihat semua pengawasan jalan baik dari
Bank Mandiri," tegas dia.

Dia menceritakan, permasalahan ada terkait data yang diberikan SNP. Adapun mekanisme pemberian
pinjaman kepada SNP Finance yang dilakukan dengan sistem executing.

Bank memberikan kredit berupa joint financing atau memberikan langsung ke perusahaan pembiayaan
tersebut. Kemudian SNP Finance yang meneruskannya kepada pengguna.

Untuk mendapatkan kredit ini, terlebih dulu ditunjuk auditor publik yang bertugas memeriksa laporan
keuangan. Auditor yang ditunjuk adalah Kantor Akuntan Publik (KAP) Deloitte yang menilai kondisi
keuangan SNP Finance.

"Kalau laporan keuangan dia bagus harus diaudit eksternal dan biasanya menunjuk standar
internasional," tutur Slamet Edy.

Kemudian seiring dengan turunnya bisnis toko Columbia, kredit perbankan tersebut mengalami
permasalahan menjadi Non Performing Loan (NPL).

Kondisi tersebut telah diantisipasi perbankan dengan melakukan pencadangan (PPAP) pada tahun yang
sudah lewat, sehingga perbankan dapat meng-absorb risiko gagal bayar.
Salah satu tindakan yang dilakukan oleh SNP Finance untuk mengatasi kredit bermasalah tersebut
adalah melalui penerbitan Medium Term Note (MTN), yang diperingkat oleh Pefindo berdasarkan
laporan keuangan SNP yang diaudit DeLoitte.

Slamet Edy mengatakan jika penerbitan MTN tidak melalui proses di OJK. Ini mengingat MTN adalah
perjanjian yang bersifat private, namun memerlukan pemeringkatan karena dapat diperjualbelikan.

Sebelumnya diketahui jika SNP Finance mendapatkan peringkat efek periode Desember 2015-2017 idA-
/stable dari Pefindo. Kemudian pada Maret 2018, rating SNP Finance naik menjadi idA/stable.

Saksikan video pilihan di bawah ini:

BACA JUGA

OJK Pastikan Terus Monitor Kasus Sunprima Nusantara Pembiayaan

Terkuak, SNP Finance Rekayasa Laporan Keuangan Buat Bobol 14 Bank

Nilai Pembobolan Dana 14 Bank oleh SNP Senilai Rp 2,4 Triliun versi OJK

https://m.liputan6.com/bisnis/read/3653945/bersama-ojk-sri-mulyani-dalami-peran-akuntan-publik-di-
kasus-snp-finance?utm_source=Mobile&utm_medium=copylink&utm_campaign=copylink

Copy Link

Tag Terkait

Sri Mulyani
Merdeka.com

OJK

More Tag

Lihat Semua

Suhu Panas

Wakil Menteri

Kabinet Jokowi

Pelantikan Presiden 2019

Jusuf Kalla

Ott Kpk

Rekomendasi

Kredit3

Saat Luhut Bandingkan Dirinya dengan Nadiem Markarim, Siapa Lebih Unggul?

Mobil Kasdam III Siliwangi Terguling di Tol Cipularang


Nasdem Undang Anies Baswedan ke Kongres

Akan Kembali Bertemu PKS, Nasdem: Kerja Sama Politik Kewajiban

Dekat dengan Emak-Emak, Sandiaga Akan Jadi Jurkam Pilkada di DIY

Nasdem-PKS Bertemu, Ma'ruf Amin: Silaturahmi Politik

Pesan Khusus Wapres Ma'ruf Amin ke Kapolri Idham Azis

Soal Komposisi Kabinet, Ma'ruf Amin: Saya dan Pak Jokowi Juga Tak Puas

Ma'ruf Amin: Masalah Novel Tingkat Kesulitannya Tinggi

Kebijakan Safeguard Produk Tekstil Indonesia Bakal Dibalas Negara Lain?

Rupiah Masih Perkasa Meski The Fed Pangkas Bunga Acuan

Industri Manufaktur Tumbuh Melambat karena Faktor Global

× Tirto ID TIRTA ADI SURYA, PT FREE - Read on App Install dibaca normal 5 menit Home Ekonomi Kasus
SNP Finance dan Pertaruhan Rusaknya Reputasi Akuntan Publik Penulis: Dea Chadiza Syafina 08 Oktober
2018 OJK belum mewajibkan penyusun laporan keuangan terutama finance officer harus memiliki
sertifikat sebagai akuntan negara. tirto.id - Akhir pekan lalu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjatuhkan
sanksi administratif kepada dua akuntan publik (AP) dan satu kantor akuntan publik (KAP). Pangkal
soalnya, AP Marlinna dan AP Merliyana Syamsul serta KAP Satrio, Bing, Eny (SBE) dan Rekan dinilai tidak
memberikan opini yang sesuai dengan kondisi sebenarnya dalam laporan keuangan tahunan audit milik
PT Sunprima Nusantara Pembiayaan (SNP Finance). Sanksi yang diterima dua AP dan satu KAP itu berupa
pembatalan pendaftaran terkait hasil pemeriksaan laporan keuangan SNP Finance. Kedua AP dan satu
KAP itu memberikan opini ‘Wajar Tanpa Pengecualian’ dalam hasil audit terhadap laporan keuangan
tahunan SNP Finance. Padahal, hasil pemeriksaan OJK mengindikasikan SNP Finance menyajikan laporan
keuangan yang tidak sesuai dengan kondisi keuangan yang sebenarnya secara signifikan. Sehingga,
menyebabkan kerugian banyak pihak termasuk perbankan. Baca juga: Bos Columbia Leo Chandra dalam
Lingkaran Kasus Pembobolan Bank Deputi Komisioner Manajemen Strategis dan Logistik OJK, Anto
Prabowo mengatakan pengenaan sanksi terhadap dua AP dan KAP itu berlaku untuk sektor perbankan,
pasar modal maupun industri keuangan non bank (IKNB). Artinya untuk sementara mereka tidak dapat
melakukan proses audit jasa keuangan. Pembatalan pendaftaran KAP SBE berlaku efektif setelah KAP
tersebut menyelesaikan audit Laporan Keuangan Tahunan Audit (LKTA) tahun 2018 para klien yang
masih memiliki kontrak. KAP SBE juga dilarang untuk menambah klien baru. Sementara untuk AP
Marlinna dan AP Merliyana Syamsul, pembatalan pendaftaran efektif berlaku sejak ditetapkan OJK pada
Senin (1/10). “Sanksi yang dijatuhkan berlaku sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Sanksi ini juga
berlaku bagi emiten-emiten yang menerbitkan efek dan saham, yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia,”
jelas Anto kepada Tirto. OJK menilai AP Marlinna dan AP Merliyana Syamsul telah melakukan
pelanggaran berat sehingga melanggar POJK Nomor 13/POJK.03/2017 Tentang Penggunaan Jasa
Akuntan Publik dan Kantor Akuntan Publik. Ini sebagai mana tertera dalam penjelasan Pasal 39 huruf b
POJK Nomor 13/POJK.03/2017 (PDF), bahwa pelanggaran berat yang dimaksud antara lain AP dan KAP
melakukan manipulasi, membantu melakukan manipulasi, dan atau memalsukan data yang berkaitan
dengan jasa yang diberikan. Sementara itu, KAP SBE yang merupakan partner lokal Deloitte Indonesia,
menegaskan belum menerima salinan resmi putusan OJK tersebut. Dengan begitu, pihaknya belum bisa
memutuskan langkah apa yang akan ditempuh. KAP SBE menambahkan, pihaknya telah menerima
sanksi yang dijatuhkan oleh Pusat Pembinaan Profesi Keuangan (P2PK) Kementerian Keuangan. Namun
KAP SBE menyatakan sama sekali tidak pernah diminta untuk memberikan keterangan terkait LKTA SNP
Finance oleh OJK. “KAP SBE juga masih mempelajari opsi-opsi yang dapat ditempuh,” tulis KAP SBE
dalam keterangan resmi yang diterima Tirto. Baca juga: OJK Tingkatkan Pengawasan Akuntan Publik Usai
Kasus SNP Finance OJK Jatuhkan Sanksi Kantor Akuntan Publik Auditor SNP Finance Skandal pemalsuan
dan manipulasi laporan keuangan dalam skala internasional juga pernah menghebohkan dunia. Enron
Corporation, perusahaan energi asal Houston, Texas, Amerika Serikat (AS) bekerjasama dengan kantor
akuntan Arthur Andersen (AA) dalam aksi manipulasi laporan keuangan. Enron menggelembungkan nilai
laba perusahaan senilai $74 miliar. Padahal, $43 miliar di antaranya merupakan keuntungan fiktif berkat
‘otak-atik’ neraca laba-rugi. Salah satu caranya adalah dengan memasukkan nominal $586 juta sebagai
pendapatan di muka. Angka laba perseroan yang melantai di New York Stock Exchange (NYSE) dengan
kode emiten ESE itu pun melambung. Memasukkan angka proyeksi dalam laba perusahaan memang
masih mengikuti prinsip akuntansi dalam penyajian laporan keuangan. Enron dengan lihai
menyembunyikan kerugian dan utang di bawah metode off-balance sheet yang digunakan dalam
pembuatan laporan keuangan. Bentuk penipuan lain yang dilakukan termasuk penggelapan dana
perusahaan oleh eksekutif Enron yang mencapai $2,9 triliun. “Tujuan dari manipulasi laporan keuangan
adalah untuk menyembunyikan kerugian dan utang dari auditor, investor, analis keuangan dan
regulator,” tulis Profesor Edel Lemus M.I.B.A dari Carlos Albizu University, AS dalam jurnal internasional
berjudul The Finance Collapse of the Enron Corporation and Its Impact in the United States Capital
Market (PDF). Manipulasi yang tersaji di laporan keuangan Enron dibiarkan oleh akuntan publik Arthur
Andersen (AA) dalam auditnya. Untuk memoles laporan keuangan bobrok menjadi kinclong, AA
mendapat fee audit sampai dengan $25 juta dari Enron di tahun 2000. Angka itu belum termasuk duit
senilai $27 juta sebagai fee konsultan dan pekerjaan lainnya. Akuntan publik AA kemudian dinyatakan
bersalah dalam kasus Enron. “Reputasi Arthur Andersen hancur. Bisnis mereka akhirnya dijual kepada
rekan-rekan mereka di ‘Big Five’ –KPMG, Ernst & Young, Deloitte Touche Tohmatsu dan
PriceWaterhouseCoopers (yang kemudian menjadi ‘Big Four’)-. AA kemudian hilang terkena seleksi alam
karena melanggar etika,” tulis Mustofa dalam buku Manajemen Modern Bisnis Kantor Akuntan
(2014:244). Enron sendiri dinyatakan bangkrut pada 2001. ‘Cantik’ Tapi Palsu Berbagai trik menyulap
laporan keuangan ‘bobrok’ menjadi kinclong bertujuan untuk membuktikan bahwa bisnis perseroan
berjalan ‘mulus’ tanpa hambatan. Neraca akan terlihat ‘cantik’, jika keuntungan perusahaan tercatat
stabil dibanding angka-angka yang berfluktuasi. Upaya ‘mempercantik’ kinerja keuangan perseroan
dalam dunia akuntansi disebut juga sebagai ‘creative accounting’. Istilah akuntansi kreatif ini
didefinisikan sebagai ‘suatu proses di mana akuntan menggunakan pengetahuan mereka tentang aturan
akuntansi untuk memanipulasi angka-angka yang dilaporkan dalam laporan keuangan perusahaan.
Sebagaimana tertulis dalam buku Ethical Issues in Accounting, karangan Catherine Gowthrope dan John
Blake (1998:25). Salah satu alasan akuntansi kreatif ini dilakukan adalah untuk menampilkan keuntungan
yang merata setiap tahunnya. Tren pertumbuhan laba yang stabil lebih disukai oleh perusahaan
daripada menunjukkan keuntungan yang naik-turun kepada investor maupun masyarakat. “Variasi pada
pemerataan laba yang dilakukan perseroan adalah memanipulasi laba untuk dikaitkan dengan target
atau proyeksi bisnis tahun berikutnya,” Catherine Gowthrope dan John Blake (1998:29). Praktik
‘akuntan kreatif’ untuk ‘mempercantik’ laporan keuangan menurut Mustofa, sama sekali tidak sesuai
dengan standar profesi. Sesuai kode etik, seorang akuntan harus melapor jika menemukan adanya
sesuatu hal yang tidak beres dalam sebuah perusahaan. “Dengan keistimewaan yang dimilikinya,
akuntan semesatinya memiliki kewajiban untuk melaporkan segala sesuatu dengan apa adanya,
termasuk jika ada hal yang tidak wajar. Apalagi jika di kemudian hari diketahui bahwa penyimpangan
yang diprakarsai oleh manajemen tinggi perusahaan memiliki dampak yang luas pada perekonomian,”
rinci Mustofa (2014: 259). Belajar dari pengalaman Enron maupun perusahaan internasional yang
bangkrut lainnya, kegagalan auditor untuk melakukan pemeriksaan laporan keuangan secara intensif
dan memberikan sinyal peringatan, telah menimbulkan krisis finansial. Kemudian muncul kekhawatiran
tentang kualitas audit serta hubungan auditor dengan manajemen perusahaan. Kepercayaan investor
dan masyarakat bisa pulih, jika para auditor menerapkan standar yang tinggi. Karena itu, sangat penting
agar para akuntan bertindak proaktif ketika melihat ada hal-hal yang tidak benar. “Tindakan proaktif itu
dilakukan dengan kesadaran penuh terhadap tanggung jawab profesi dan juga kode etik,” tulis Mustofa
(2014:261). Buku Ethical Issues in Accounting juga menyebut, kode etik merupakan etika penting bagi
akuntan dan berbagai pihak yang mengandalkan informasi dari laporan keuangan yang diaudit dengan
relevan. Salah satu peran etik, tulis Catherine Gowthrope dan John Blake, adalah untuk meyakinkan
orang-orang yang berprofesi sebagai akuntan publik layak untuk mendapatkan kepercayaan, rasa
hormat, dan keuntungan finansial. “Kode etik dapat digunakan untuk meyakinkan orang lain bahwa
akuntan publik profesional bisa dipercaya dan tidak akan mengambil keuntungan dari akses informasi
yang bersifat istimewa,” tulis buku tersebut (1998:153). Baca juga: Bisnis Suram Columbia Picu Lilitan
Utang Triliunan SNP Finance Upaya Mitigasi Kecurangan Laporan keuangan yang tersaji harus
mencerminkan relevansi, tepat waktu dan dapat dipercaya oleh penggunanya. Oleh karena itu, laporan
keuangan harus memenuhi standar dan terbukti kualitas auditnya. Kualitas audit merupakan salah satu
hal penting dalam sebuah laporan keuangan, selain kredibilitas dan kualitas tinggi. Ketua Umum Institut
Akuntan Publik Indonesia (IAPI) Tarkosunaryo menyebut auditor dalam memberikan opini, secara
spesifik terbatas pada penyajian angka laporan keuangan. Auditor juga memberikan asuransi keyakinan
yang memadai atas penyajian informasi keuangan serta laporan keuangan. “Tapi opini tersebut tidak
serta merta memberikan asuransi atas masa depan suatu entitas atau keyakinan apakah perusahaan
tersebut dapat membayar utang-utangnya. Opini tersebut juga tidak untuk memberikan keyakinan atas
kelangsungan bisnis perusahaan,” jelas Tarkosunaryo kepada Tirto. Menurut Tarkosunaryo, masih
banyak faktor internal dan eksternal yang akan berpengaruh terhadap kelangsungan bisnis suatu
perusahaan. Termasuk pula, kemampuan entitas tersebut membayar utang. “Ini semua di luar kontrol
auditor. Apalagi auditor adalah pihak eksternal yang hanya ditunjuk untuk mencermati laporan
keuangan dan tidak mengawasi operasional perusahaan,” kilah Tarkosunaryo. Adanya kecenderungan
pandangan masyarakat bahwa suatu entitas mengalami gagal usaha ataupun gagal bayar, akibat auditor
salah memberikan opini atas penyajian laporan keuangan. Padahal, direksi dan manajemen internal
suatu perusahaan lebih bertanggung jawab atas tata kelola perusahaan. Pihak-pihak tersebut, menurut
Tarkosunaryo, adalah pihak yang merancang sejak awal hingga akhir transaksi termasuk merancang
sistem pembukuan dan laporan keuangan. “Bahkan termasuk bertanggung jawab untuk menetapkan
pengendalian internal, sehingga laporan keuangan dapat disusun sesuai kondisi sebenarnya,” sebut
Tarkosunaryo. Tanggung jawab auditor atas laporan keuangan adalah melakukan prosedur untuk
mendeteksi apakah laporan keuangan bebas dari salah saji material yang dicerminkan dalam bentuk
pemberian opini. Ia menegaskan tanggung jawab auditor terletak pada opini tersebut dan bukan pada
laporan keuangan. Oleh karena itu, diharapkan regulator seperti OJK dan juga Kementerian Keuangan
dapat mengatur bahwa pejabat penanggung jawab laporan keuangan sebuah perusahaan adalah
pemegang sertifikat akuntan negara yang diterbitkan Menteri Keuangan. Baca juga: Kasus SNP Finance
& Upaya Menutup Celah Curang Keuangan OJK maupun Kementerian Keuangan perlu untuk mewajibkan
pejabat internal yang bertanggung jawab dalam laporan keuangan untuk memiliki kompetensi profesi
dan menjadi anggota profesi. Tujuannya, agar terikat dengan kode etik profesi akuntansi. Saat ini ada
tiga organisasi profesi akuntansi yaitu IAPI, Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) dan juga IAMI. Anggota ketiga
organisasi tersebut juga berhak memiliki register negara untuk akuntan yang diterbitkan oleh Menteri
Keuangan. PT Bursa Efek Indonesia (BEI) juga mengusulkan agar direktur keuangan selaku
penyelenggara laporan keuangan wajib memiliki sertifikasi sebagai pihak yang diaudit (auditee) sebagai
upaya mitigasi kecurangan. Kewajiban pemegang register negara akuntan itu adalah menjadi anggota di
salah satu organisasi akuntan tersebut. “Dengan begitu, jika ada pelanggaran dalam laporan keuangan
maka Menteri Keuangan dapat membatalkan register negara dan dapat diawasi dengan lebih ketat oleh
organisasi,” kata anggota Dewan Pengurus Nasional IAI, Cris Kuntadi kepada Tirto. Baca juga artikel
terkait SNP FINANCE atau tulisan menarik lainnya Dea Chadiza Syafina (tirto.id - dcs/dra) Penulis: Dea
Chadiza Syafina Editor: Suhendra Subscribe for updates Manipulasi yang tersaji di laporan keuangan
Enron dibiarkan oleh akuntan publik Arthur Andersen Berita Menarik Lainnya Protes Kreatif Warga Jogja
saat Proyek Jalan Mangkrak Usai OTT KPK Politik Uang ala Boeing Pemekaran Wilayah Papua Dinilai
Prematur, Tak Murni Aspirasi Rakyat Tugas Perempuan Tidak Melulu Dapur, Sumur, dan Kasur, Pak
Kapolri Betapa Rumit Penamaan Lantai di Gedung-Gedung Jakarta Rasuna Said, Singa Podium yang
Menentang Poligami Gereja Papua Menyelamatkan Pendatang: 'Setiap Orang adalah Nayak' Benarkah
PBNU Kecewa dan Doakan Jokowi Kualat? Bangun Data Center di Dalam Negeri: Diwajibkan SBY, Dicabut
Jokowi Cara Idrus dan Markonah Menipu Para Pejabat Republik Instagram Dari Sejawat Rusia dan Turki
Mulai Patroli Gabungan di Suriah news.rakyatku.com Napak Tilas Dakwah Kiai, Santri Gresik Bersepeda
Sejauh 50 Kilometer timesindonesia.co.id MCR Kembali Bersama Jiwa Emo yang Saya Kira Telah Mati
mojok.co Rocky Gerung Sebut Prabowo Pertama Direshuffle Ini Alasannya law-justice.co Ahmad Dhani
Daftar Cawali Surabaya Via Gerindra ngopibareng.id Polisi Tetapkan Tersangka Dealer Mobil
suaramerdeka.com Terkait Pengaturan Cadar dan Celana Cingkrang, Wamenag Sebut untuk Penegakan
Disiplin ASN covesia.com Penemuan Bayi di Depan Rumah, Gegerkan Warga Ngawi faktualnews.co 6
Cara Kendalikan Amarah Menurut Islam portalmadura.com Iptek Dikti Sebut Stikes Rajekwesi Akan
Terus Berkembang blokbojonegoro.com Explore Topik Profil Search

Baca selengkapnya di artikel "Kasus SNP Finance dan Pertaruhan Rusaknya Reputasi Akuntan Publik",
https://tirto.id/c4RT.