Anda di halaman 1dari 15

BAGIAN 2

MENGIDENTIFIKASI MASALAH TERKAIT TERAPI OBAT (Rovers)

Tujuan dari dilakukannya pharmaceutical care pada apoteker adalah untuk mencegah
terjadinya masalah terapi obat sebelum masalah itu terjadi dan menyelesaikan masalah yang telah
terjadi. Seperti yang telah dijelaskan dalam APhA’s Principles of Practice for Pharmaceutical
Care, apoteker bekerjasama dengan pasien dan penyedia pelayanan kesehatan lainnya untuk
meningkatkan kesehatan, mencegah penyakit dan memastikan bahwa regimen terapi obat yang
diterima pasien sudah aman dan efektif. Apoteker yang bekerja di bagian pelayanan kesehatan
memberikan kemampuan mereka dalam bagian masalah terapi obat untuk meningkatkan kesehatan
dan kesejahteraan pasien.
Bagian ini dan tiga bagian lainnya akan mencakup bagaimana pelayanan kefarmasian
dilakukan dan memberikan informasi yang konkrit untuk membantu apoteker meningkatkan
kemampuan praktiknya untuk memberikan pelayanan kefarmasian.

SIKLUS PELAYANAN KEFARMASIAN


Praktek dari pelayanan kefarmasian termasuk bagian-bagian lainnya pada langkah yang
diilustrasikan ke dalam diagram Siklus Pelayanan. Poin pertama dari siklus yaitu
mengidentifikasikan masalah terkait terapi obat.
Di dalam Siklus Pelayanan, apoteker pada awalnya akan bertanya pada diri sendiri
bagaimana dia harus bertindak-apakah pasien mempunyai masalah terapi obat? Jika jawabannya
iya, maka apoteker harus segera bertindak. Langkah selanjutnya yaitu untuk mendeterminasikan
apa yang akan dia lakukan berikutnya, yang melibatkan pada tujuan terapetik untuk pasien.
Kemudian, dia harus memutuskan bagaiman cara yang terbaik untuk mencapai tujuan. Pada poin
ini, apoteker mengembangkan dan mengimplementasikan rencana pelayanan. Setelah menetapkan
rencana, langkah terakhir yaitu menunjukkan tindak lanjut yang memadai pada pasien dan
monitoring untuk menetapkan apakah tujuan terapetik sudah tercapai.
Jika tujuan telah tercapai, siklus akan berhenti sampai waktu berikutnya ketika apoteker
mempunyai alasan untuk mengevaluasi pasien. Jika tujuan belum tercapai, atau jika kemudian
pasien mengembangkan masalah terapi obat, siklus pelayanan akan dimulai kembali. Setiap
apoteker mendeteksi terjadinya masalah terapi obat, hal tersebut merupakan petunjuk untuk segera
bertindak.
Gambar 1. Siklus Pelayanan

Mengapa dilakukan?
(mengidentifikasi masalah)

Bagaimana cara untuk


Apa yang akan dilakukan?
memastikan bahwa itu berjalan?
(membuat rencana terapi)
(memonitor dan follow-up)

Bagaimana cara melakukannya?


(mengembangkan rencana
pengobatan)

Masalah Terapi Obat, Bukanlah Masalah Medis.


Penting untuk diketahui bahwa terdapat perbedaan antara masalah medis dan masalah
terapi obat. Masalah medis adalah keadaan sakit: seperti, masalah yang berakaitan dengan fisiologi
hasil dari bukti klinis terkait kerusakan. Sedangkan, masalah terapi obat, adalah masalah pada
pasien yang diakibatkan atau dapat diatasi dengan obat. Masalah terapi obat biasanya berkembang
dari masalah medis. Hipertensi adalah penyakit, dan merupakan masalah medis. Jika pasien
membutuhkan terapi obat untuk hipertensinya akan tetapi tidak mendapatkan obatnya, maka ia
mengalami masalah terapi obat. Hipertensi bukanlah masalah terapi obat, tetapi kebutuhan akan
terapi obatnya adalah masalah terapi obat.
Dalam prakteknya, perbedaan seperti itu merupakan hal yang penting. Diagnosis dari
masalah kesehatan adalah tanggung jawab seorang dokter, sedangkan cakupan praktik seorang
apoteker harus dibatasi hanya untuk masalah terapi obat. Setelah apoteker memberikan pelayanan
kefarmasian pada beberapa pasien, apoteker akan segera membedakan antara dua macam masalah
tersebut. Akan tetapi, sampai saat itu seorang praktisi kesehatan dalam hal ini apoteker harus
menggunakan perhatian tinggi untuk memastikan bahwa mereka tidak dengan sengaja mencoba
untuk mendiagnosis keadaaan medis-yang mana hal tersebut merupakan sangat jelas adalah tugas
seorang dokter. Mereka juga harus tidak memperbolehkan diri mereka untuk ikut dalam diskusi
tentang diagnosis pengobatan ketika pasien menanyakan pendapat apoteker tentang keadaan
penyakit mereka.
Menemukan Masalah Terapi Obat
Ketika apoteker secara kritis mengevaluasi praktek umum mereka, secara langsung hal
tersebut muncul bahwa mereka telah menemukan dan mengatasi masalah terapi obat. Setiap hari,
apoteker menemukan interaksi obat dan duplikasi terapetik, berdiskusi dengan dokter,
mengedukasi pasien, dan melakukan apa yang dibutuhkan untuk memecahkan masalah yang
belum teratasi. Apakah apoteker yang melakukan hal tersebut telah melakukan pharmaceutical
care? Jawabannya ada pada bagian, bagaimana apoteker mengatasi masalah terapi obat dan
bagaimana praktisi pharmaceutical care memenuhi keseluruhan proses setelah masalah terapi obat
teridentifikasi.
Biasanya hanya ada cara yang terbatas yang menjadikan seorang apoteker menyadari
bahwa pasien mempunyai masalah terkait obat. Biasanya yaitu ketika seorang apoteker memeriksa
resep dan berpikir “hal ini tidaklah benar!”. Hal tersebut khususnya benar untuk masalah terkait
dosis obat, interval dosis, atau durasi terapi. Kemungkinan lain, beberapa masalah terapi obat
diidentikasikan ketika membaca modul review penggunaan obat dari perangkat lunak apoteker
atau dari orang ketiga yang menyatakan bahwa komputer terindikasi kemungkinan masalah terkait
interaksi obat, duplikasi terapeutik, atau masalah kepatuhan.
Semua masalah diidentifikasi dengan metode-metode ini yang mempunyai dua jenis yang
mirip: mereka meyatakan masalah dari resep, bukan pasien dengan masalah. Lebih lanjut lagi,
tidak ada yang mewakili masalah bahwa apoteker secara perlunya dimaksudkan untuk
menemukan, apakah hal tersebut merupakan hal yang rutin terjadi dalam pengisian resep. Saat ini
apoteker tidak menemukan masalah sebanyak masalah yang menemukan mereka. Ditemukannya
masalah-masalah tersebut tidak selalu merupakan tujuan atau terorganisir, tetapi lebih sering
sebuah ketidaksengajaan.
Pendekatan yang terorganisir sangat penting untuk meraih keberasilan. Hasil studi dari
Currie et al menunjukan bahwa ketika masalah diidentifikasikan dengan metode yang biasanya,
apoteker menemukan rata-rata tiga masalah terapi obat dari 100 pasien. Namun, ketika apoteker
berlatih menunjukan maksud untuk menemukan masalah terapi obat, mereka menemukan rata-rata
57.6 masalah dari 100 pasien. Keseluruhan, apoteker yang menggunakan pendekatan terorganisir
7.5 kali lebih banyak menemukan masalah terapi obat dibandingkan apoteker mengidentifikasi
masalah menggunakan metode yang biasanya.
Dalam praktek pharmaceutical care, apoteker menunjukan untuk mencari masalah yang
tidak mau atau tidak bisa mereka identifikasikan. Dengan mempertimbangkan beberapa contoh.
Apoteker mengisi resep kapsul amoxicillin 250 mg yang diberikan 3 kali sehari selama 10 hari.
Ketika menunjukan review rutin dari profil medis pasien, apoteker menyadari bahwa pasien juga
menggunakan kontrasepsi oral. Apoteker mengidentifikasikan interaski obat potensial dan
mengkonsultasikan kepada pasien sebagai kebutuhan alternatif lain untuk pengontrol kelahiran/
kontrasepsi untuk bulan ke depan. Dalam skenario lainnya, apoteker yang sama mendapatkan dan
mengerjakan resep yang sama dan melakukan review profil yang sama, tetapi tidak menemukan
kemungkinan adanya interaksi obat potensial atau apapun untuk diberikan kepada pasien sebagai
obat kontrasepsi oral. Pasien mendapatkan konseling standar mengenai pengobatannya. Kemudian
pasien hamil bukan karena keinginan, tapi karena amoxicillin yang diminumnya mempengaruhi
keefektifan obat kontrasepsi yang dia dapatkan dari sampel dokter- yang mana apoteker tidak
mengetahui bahwa dia sedang meminum itu. Tanpa pengetahuan yang spesifik terhadap pasien,
apoteker tidak dapat mengidentifikasi interaksi obat potensial.
Pemberi pelayanan kefarmasian mengetahui bahwa semua masalah dapat diidentifikasi
dari resep, melihat profil, dan penelusuran menggunakan perangkat lunak. Beberapa praktisi,
membuat poin tambahan untuk memastikan bahwa hasil akhir yang diinginkan dari terapi dapat
tercapai dan tidak ada masalah terapi obat yang timbul.
Jadi, jawaban dari “apakah apoteker yang menemukan masalah telah memberikan
pharmaceutical care?” hal tersebut akan muncul pada banyak praktisi yang sebagiannya yaitu
memberi pelayanan pharmaceutical care. Tetapi, tanpa pengertian yang lebih resmi tentang
masalah terapi obat dan bagaimana menemukan hal tersebut agar konsisten, logis, dan terorganisir
dengan baik, apoteker tidak dapat mengidentifikasikan semua permasalahan dan memberikan
pelayanan dalam level yang pasien butuhkan.
Lebih Dari Konseling

AphA Principles of Practice For Pharmaceutical Care mendeskripsikan lima langkah bagi
proses pharmaceutical care (ada di dalam kotak). Sebagai seorang apoteker memberikan semua
aktivitas yang diperlukan untuk menyajikan setiap dari langkah-langkah tersebut, maka dia telah
mempraktekan pharmaceutical care.

Lima langkah dalam proses pharmaceutical care


1. Hubungan profesional harus diciptakan bersama pasien.
2. Informasi medis pasien yang spesifik harus dikumpulkan, diorganisasikan, dicatat dan dijaga
3. Informasi medis pasien yang spesifik harus dievaluasi dan masalah terapi obat harus
direncanakan pengembangannya bersama dengan pasien.
4. Apoteker harus memastikan bahwa pasien telah mendapatkan semua kebutuhan, informasi, dan
pengetahuan yang dibutuhkan untuk mendapatkan rencana terapi obat.
5. Apoteker harus mereview, memonitor, dan memodifikasikan rancana terapeutik yang
dibutuhkan dan yang sesuai dalam kaitannya dengan pasien dan tim pelayanan kesehatan
lainnya.

Masalah terapi obat dapat diidentifikasikan dalam langkah 2 dan 3, karena pada bagian tersebut
apoteker mengumpulkan data spesifik pasien dan dengan serius menguji untuk menentukan apakah
ada masalah. Hal yang tersirat dalam lima langkah ini adalah kenyataan bahwa memberikan
pharmaceuitical care membutuhkan keselurahan fokus kerja dari praktek apoteker, daripada hanya
fokus pada produk, apoteker harus menerima level tanggung jawab yang baru. Dahulu, praktek
pencampuran obat tradisional, apoteker hanya bertanggung jawab untuk resep racikan secara benar
sesuai dengan resep. Ketika akhirnya Kongres mengeluarkan hukum pada tahun 1990
membutuhkan bahwa apoteker harus memberikan konseling pengobatan tentang resep mereka
(diketahui sebagai “OBRA 90”) dan kemudian merubah praktek kefarmasian mereka yaitu yang
membutuhkan konseling untuk seluruh pasien dalam resep pengobatan mereka, apoteker
bertanggungjawab dalam memastikan bahwa pasien paham aspek-aspek kunci dari penggunaan
pengobatan. Dalam menyajikan pharmaceutical care, apoteker melangkah lebih maju untuk
bertanggung jawab pada semua kebutuhan terkait obat pada pasien. Kebutuhan-kebutuhan ini
dirangkum dalam kotak yang ada di bawah.
Lima kunci terkait kebutuhan obat pada pasien
Apoteker yang memberikan pelayanan kefarmasian harus memastikan bahwa ia memenuhi kebutuhan
sebagai berikut :
1. Pasien mendapatkan indikasi yang secukupnya untuk setiap obat yang mereka terima
2. Terapi obat pada pasien efektif
3. Terapi obat pada pasien aman
4. Pasien dapat mematuhi terapi obat dan aspek lainnya dalam renacana emeliharaan kesehatan
5. Pasien mendapatkan semua terapi obat yang diperlukan untuk mengatasi beberapa indikasi

Seperti yang ada di dalam daftar, apoteker harus yakin bahwa setiap pengobatan yang diberikan
adalah untuk tujuan yang logis dan bahwa obat memenuhi tujuan terapeutik-tanpa tidak semestinya
memberikan efek merugikan ataupun interaksi obat. Apoteker juga harus memastikan bahwa
pasien mampu untuk melaksanakan rejimen obat seperti yang telah diinstruksikan dan bahwa
pasien tidak mempunyai kondisi yang tidak ditangani yang akan mempengaruhi penambahan
terapi obat. Lima kebutuhan terkait obat berhubungan dengan 7 macam masalah terapi obat (lihat
Tabel 1). Hanya setelah setiap dari lima kebutuhan sudah dievaluasi dan apoteker merasa percaya
diri bahwa dari setiap hal tersebut telah terpenuhi dan memberikan cara optimal dapat disimpulkan
bahwa pasien tidak mempunyai masalah terapi obat.
Tabel 1. Masalah yang Timbul Dari Tidak Bertemunya Kebutuhan Terkait Obat

Kebutuhan Terkait Obat Masalah Terapi Obat


Indikasi yang tepat 1. Terapi obat yang tidak dibutuhkan
Efektivitas 2. Salah obat
3. Dosis terlalu rendah
Keamanan 4. Reaksi obat yang merugikan
5. Dosis terlalu tinggi
Kepatuhan 6. Kepatuhan tidak sesuai
Indikasi yang tidak diobati 7. Membutuhkan terapi obat tambahan

Penyebab Masalah Terapi Obat


Apoteker mengumpulkan data riwayat pasien, mengevaluasi data, dan mengidentifikasikan
masalah terapi obat, mereka juga harus menentukan penyebab dari setiap masalah. Penting untuk
mengetahui penyebabnya karena hal tersebut akan mempengaruhi rencana pengobatan potensial
yang akan diterapkan untuk memecahkan masalah. Setiap masalah terapi obat pada Tabel 1
mempunyai penyebab yang terbatas, dan akan ditunjukkan pada Tabel 2.
Kedua tabel menyajikan bukti yang kuat bahwa metode memcahkan masalah pada saat ini
tidak sesuai. Walaupun metodenya secara umum sering digunakan dalam praktek kefarmasian
yang memungkinkan apoteker untuk mengidentifikasikan masalah sewaktu-waktu dengan resep
berhubungan dengan kepatuhan, alergi, interaksi obat, dan lainnya. Tidak semua masalah dan
penyebab dapat diidentifikasikan tanpa data lebih lanjut. Sebagai contoh, akan sangat tidak
mungkin bagi seorang apoteker untuk menentukan apakah terapi obat tambahan diperlukan kecuali
apoteker mengetahui kondisi medis pasien sekarang ini.
Tabel 2. Penyebab Dari Masalah Terapi Obat
Masalah Terapi Obat Penyebab
Terapi obat yang tidak dibutuhkan Tidak ada indikasi medis
Adiksi/ penggunaan obat untuk tujuan kesenangan
Terapi tanpa obat lebih tepat
Duplikasi terapi
Pengobatan untuk mecegah terjadi efek samping

Salah obat Bentuk sediaan obat tidak tepat


Ditemukan adanya kontraindikasi
Kondisi sukar disembuhkan dengan obat
Obat tidak diindikasikan untuk kondisi tersebut
Tersedianya banyak obat lain yang lebih efektif

Dosis Terlalu Rendah Dosis tidak tepat


Frekuensi tidak tepat
Durasi tidak tepat
Penyimpanan tidak tepat
Pemberian tidak tepat
Interaksi obat

Reaksi Obat merugikan Obat tidak aman untuk pasien


Reaksi alergi
Rute pemberian tidak tepat
Interaksi obat
Dosis meningkat atau menurun dengan cepat
Efek yang tidak diharapkan

Dosis terlalu tinggi Dosis tidak tepat


Frekuensi tidak tepat
Durasi tidak tepat
Interaksi obat
Kegagalan penggunaan obat Produk obat tidak tersedia
Pasien tidak dapat menerima produk obat
Tidak dapat menelan obat atau dengan cara lain
Pasien tidak paham petunjuk terapi
Pasien memilih untuk tidak meminum obat
Butuh terapi obat tambahan Adanya kondisi lain yang tidak diobati
Terapi sinergis
Terapi profilaksis

Pendekatan pharmaceutical care untuk menerapkan apa yang dibutuhkan agar mampu
mengidentifikasi masalah pada pasien daripada masalah dalam resep. Tanpa pendekatan ini, hanya
sedikit masalah tearapi obat yang akan ditemukan dan diatasi. Dan apabila jika masalah
diidentifikasikan tanpa data yang cukup akan sulit utuk menentukan timbulnya penyebab masalah.
Dalam beberapa kasus, sedikit apoteker dapat melakukan tapi memberikan konseling pasien lebih
lanjut dan menekankan kepatuhan pasien. Praktisi pharmaceutical care dapat menentukan jika
pasien tidak patuh, karena dia memberikan efek meragukan, tidak mampu menebus obat, atau tidak
percaya pada obat. Jika masalah telah diketahui, memberikan intervensi edukasi yang sesuai akan
lebih cocok.
Masalah Terapi Obat “Aktual dan Potensial”
Masalah terapi obat dapat berupa aktual atau potensial. Perbedaan antar keduanya sangat
penting, tapi tidak selalu muncul dalam prakteknya. Masalah aktual adalah masalah yang telah
terjadi, dan apoteker harus mencoba untuk mengatasinya. Masalah potensial adalah masalah yang
diperkirakan akan terjadi-suatu hal yang beresiko untuk terjadi pada pasien- jika apoteker tidak
segera membuat keputusan. Ketika terjadi masalah terapi obat aktual, apoteker harus segera
mengambil langkah aksi. Jika terdapat masalah terapi obat potensial, apoteker harus segara
mengambil langkah yang diperlukan untuk mencegahnya.
Apakah masalah yang terjadi aktual atau potensial? Apoteker memberikan konseling pada
pasien mengenai resep amoksisilin baru dan mengetahui bahwa pasien mempunyai riwayat reaksi
hipersensitif terhapad golongan penisilin. Seperti yang ditunjukan dalam Tabel 2, masalah ini
dapat diidentifikasikan reaksi obat merugikan karena reaksi alergi. Masalah ini merupakan DRP
potensial, karena pasien saat itu tidak secara langsung sedang alergi pada pengobatan tersebut.
Sekarang, apa pasien harus menerima amoksisilin. Kemudian, kecuali pada pasien timbul tanda-
tanda dan gejala reaksi alergi, maka masalah tetap potensial.
Apoteker juga akan mengidentifikasikan masalah yang ada tetapi belum diperoleh karena
kurangnya data untuk diidentifikasikan merupakan secara jelas adalah sebuah masalah.
Seharusnya, sebagai contoh, setelah melakukan skrining pada profil pasien, apoteker percaya
bahwa pasien tidak mengeluh dengan pengobatan darah tingginya. Sampai apoteker dapat secara
jelas memastikan bahwa pasien tidak menerima pengobatan yang telah diberikan, masalah ini juga
termasuk potensial.
Konsep dari masalah aktual dan potensial dapat menjadi isu yang melekat dalm hubungan
apoteker-dokter. Dalam praktek kefarmasian yang biasanya, kebanyakan intervensi yang apoteker
coba untuk buat dengan dokter adalah terkait dengan masalah potensial. Seringkali, dokter tidak
mempertimbangkan masalah potensial seperti yang dilakukan apoteker. Sebagai contoh yang
paling umum adalah interaksi obat-obat. Kecuali pasien sedang menderita akibat toksisitas atau
kurangnya efek klinis karena interaksi obat-obat, hal tersebut merupakan DRP potensial. Terlalu
sering, apoteker menginformasikan kepada dokter bahwa masalah DRP potensial hanya untuk
menemukan bahwa dokter akan melanjutkan terapi seperti yang biasanya. Pada banyak dokter,
kecuali masalah potensial tersebut sangat mematikan, seperti interaksi yang melibatkan warfarin,
masalah potensial baru dianggap benar-benar potensial. Konsekuensinya dari masalah potensial
harus secara sering sangat membahayakan barulah seorang dokter tergerak untuk melakukannya.
Hasilnya seringkali berbeda anatara interaksi apoteker-dokter menyangkut masalah terapi
obat. Contohnya, jika apoteker menemukan tidak ada keluhan pada pasien dengan mahalnya obat
penurun kolesterolnya karena dia tidak mampu membayarnya, dokter akan segera menggantinya
dengan obat lain yang mampu dibayar pasien. Masalah seperti ini, seorang dokter mengetahui
sampai masalah ini diperbaiki, tujuan terapi obat yang diinginkan tidak akan tercapai.
Selama ini telah dikatakan, apoteker tidak seharusnya menyimpulkan bahwa masalah
potensial memerlukan penyelesaian. Lebih baik, sebelum memutuskan menghubingi dokter
mereka harus mempertimbangkan seberapa parah konsekuensi dari masalah potensial yang dapat
terjadi. Konsekuensi dari pemberian penisilin kepada pasien yang mempunyai reaksi alergi
sebelumnya terhadap pensilin sangatlah jauh dari pemberian ibuprofen pada pasien yang
mempunyai efek lambung parah saat diberikan ibuprofen. Dalam kedua kasus ini, apoteker harus
segera bertindak menyelesaikan masalah, tetapi pada akhirnya tetap membutuhkan intervensi
dokter. Kebanyakan apoteker telah mencoba untuk mengurangi panggilan telepon yang tidak
diperlukan kepada dokter dengan mengatur penyaringan interaksi obat melalui perangkat lunak
yang cukup baik sehingga hanya interaksi klinis relevan yang akan ditandai. Apoteker harus
berkembang menjadi praktisi pharmasceutical care, mereka akan mengatasi jenis yang lebih luas
dari masalah terapi obat dengan cara yang sama.
Walaupun menemukan dan mengatasi masalah terapi obat membutuhkan proses pemikiran
yang baru, hal tersebut tidaklah jauh dari proses berfikir apoteker sebelumnya. Apoteker telah
dilatih untuk menentukan resep dan mengidentifikasikan masalah potensial, pharmaceutical care
akan memberikan proses ini selangkah lebih maju untuk pasien. Aspek yang paling menantang
dari memberikan pelayanan kefarmasian adalah belajar untuk fokus kepada pasien, tanyakan
pertanyaan yang tepat, dan kembangkan kemampuan penyelidikan dan yang baik pada pasien.
Studi Kasus
Studi kasus dibawah ini akan dipertimbangkan pada bagian selanjutnya. Setelah membaca
ini, pertimbangkan petanyaan yan ada dibawahnya. Pertanyaan tersebut meminta pendapat seorang
apoteker bagaimana jalan untuk menentukan apakah pasien membutuhkan keperluan yang
diperlukan terkait informasi yang dikumpulkan untuk mengidentifikasi masalah terkait obat yang
mungkin timbul. Dengan menjawab pertanyaan tersebut, apoteker memberikan langkah
pertamanya dalam memberikan pelayanan kefarmasian.

STUDI KASUS
Mary Blythe adalah seorang wanita kulit putih dengan usia pertengahan 30an yang merupakan pasien baru di
apotek anda. Anda tidak pernah menerima resep dia sebelumnya. Hari ini, Mary membawakan pada anda
resep dengan isi Serzone (nefazodone) tablet 150 mg, cara pakai : satu tablet 2x sehari, copy 3x, ditandangani
oleh Dr. R, Dennis, dokter keluarga disekitar sana. Mary juga meminta sebotol Afrin (axymetazoline) semprot
hidung. Ketika anda mengumpulkan data demografis umum, anda menyadari bahwa Mary mempunyai
asuransi pengobatan dari suaminya yang seorang pekerja kantor dan mempunyai harga 10 Dollar dari tiap
resepnya. Dia bekerja sebagai agen perumahan real-estate yang kantornya berada di sekitar sana dan dia
mempunyai seorang anak laki-laki berusia 14 tahun. Tidak terdapat gangguan apapun dalam keadaan jiwa
Mary, perilaku, cara berpakaian serta penampilannya yang mengidentifikasikan ketidaknormalan. Mary
diperkirakan memiliki tinggi 5,5 kaki dan berat badannya terlihat normal.
1. Bagaimana seharusnya sebagai seorang apoteker memulai untuk membangun hubungan terapi dengan
pasien, sehingga apoteker mampu untuk mengumpulkan data yang dibutuhkan untuk
mengidentifikasi adanya masalah terapi obat?
2. Data apa saja yang perlu dikumpukan untuk menentukan jika :
a. Terdapat indikasi yang cocok untuk setiap obat
b. Terapi obat efektif
c. Terapi obat aman
d. Pasien mampu patuh dengan terpi pengobatan
e. Terdapat beberapa kondisi tidak terobati yang harus dilakukan dengan terapi obat?
DAFTAR PUSTAKA
1. Principles of Practice for Pharmaceutical Care. Washington, DC: American
Phramaceutical Association; 1995
2. Currie JD, Chriscihlles EA, Kuehl AK, Buser RA. Effect of a training program on
community pharmacistd detection of and intervention in drug-related problems. J Am
Pharm Assoc. 1997;NS37:182-91
PCNE (vs 8)

Klasifikasi Dasar
Kode Domain primer
Masalah P1 Efektivitas pengobatan
(potensial juga) P2 Keamanan pengobatan
P3 Lainnya
Penyebab C1 Pemilihan obat
(termasuk kemungkinan C2 Bentuk obat
penyebab masalah potensial)
C3 Seleksi dosis
C4 Lama pengobatan
C5 Dispensing
C6 Penggunaan obat
C7 Terkait pasien
C8 Lainnya
Intervensi yang Direncanakan I0 Tidak ada intervensi
I1 Tingkat prescriber
I2 Tingkat pasien
I3 Tingkat obat
I4 Lainnya
Penerimaan Intervensi A1 Penerimaan intervensi
A2 Tidak ada penerimaan intervensi
A3 Lainnya
Status dari DRP O0 Status masalah yang tidak diketahui
O1 Masalah terselesaikan
O2 Masalah terselesaikan sebagian
O3 Masalah tidak terpecahkan

Masalah – Masalah
Domain Primer Kode Masalah
Efektivitas Pengobatan P1.1 Tidak ada efek terapi obat / kegagalan terapi
P1.2 Efek pengobatan obat tidak optimal
P1.3 Gejala atau indikasi yang tidak diobati
Keamanan Pengobatan P2.1 Kejadian obat yang merugikan (mungkin) terjadi
Lainnya P3.1 Masalah dengan efektivitas biaya pengobatan
P3.2 Pengobatan obat yang tidak perlu
P3.3 Masalah / keluhan yang tidak jelas
Penyebab (termaksud kemungkinan penyebab masalah potensial)
Domain Primer Kode Penyebab
Seleksi Obat C1.1 Obat yang tidak sesuai menurut pedoman/formularium
C1.2 Obat yang tidak sesuai (kontraindikasi)
C1.3 Tidak ada indikasi untuk obat
C1.4 Kombinasi obat yang tidak tepat
C1.5 Duplikasi yang tidak tepat dari kelompok terapeutik
C1.6 Tidak ada pengobatan meskipun ada indikasi
C1.7 Terlalu banyak obat yang diresepkan untuk indikasi
Form Obat C2.1 Form obat yang tidak sesuai
Seleksi Dosis C3.1 Dosis obat terlalu rendah
C3.2 Dosis obat terlalu tinggi
C3.3 Regimen dosis tidak cukup sering
C3.4 Rejimen dosis terlalu sering
C3.5 Penginformasian waktu dosis salah, tidak jelas atau hilang
Durasi Pengobatan C4.1 Lama pengobatan terlalu singkat
C4.2 Lama pengobatan terlalu lama
Penyerahan C5.1 Obat yang diresepkan tidak tersedia
C5.2 Informasi yang diperlukan tidak disediakan
C5.3 Obat, kekuatan atau dosis yang disarankan salah (OTC)
C5.4 Obat atau kekuatan yang tidak ada
Proses Penggunaan Obat C6.1 Waktu pemberian dan / interval pemberian dosis tidak tepat
C6.2 Pengunaan obat kurang
C6.3 Penggunaan obat berlebihan
C6.4 Obat tidak diberikan sama sekali
C6.5 Obat yang salah diberikan
Terkait Pasien C7.1 Pasien menggunakan / mengambil lebih sedikit obat daripada
yang ditentukan atau tidak ambil obatnya sama sekali
C7.2 Pasien menggunakan / mengambil lebih banyak obat daripada
yang ditentukan
C7.3 Penggunaan obat berlebihan yang tidak diatur
C7.4 Pasien menggunakan obat yang tidak perlu
C7.5 Obat berinteraksi dengan makanan
C7.6 Obat pada pasien tidak tepat
C7.7 Interval waktu atau interval dosis yang tidak tepat
C7.8 Pasien menggunakan obat dengan cara yang salah
C7.9 Pasien tidak dapat menggunakan obat sesuai petunjuk
Lainnya C8.1 Tidak ada atau pemantauan hasil yang tidak sesuai
C8.2 Penyebab lainnya
C8.3 Tidak ada penyebab yang jelas
Intervensi yang Direncanakan
Domain Primer Kode Intervensi
Tidak Ada Intervensi I0.1 Tidak Ada Intervensi
Tingkat Preskriber I1.1 Hanya informasi yang diinformasikan
I1.2 Preskriber meminta informasi
I1.3 Intervensi diusulkan kepada prescriber
I1.4 Intervensi didiskusikan dengan prescriber
Tingkat Pasien I2.1 Konseling pasien (obat-obatan)
I2.2 Informasi tertulis disediakan (hanya)
I2.3 Pasien dirujuk ke prescriber
I2.4 Disampaikan kepada anggota keluarga
Tingkat Obat I3.1 Obat diubah menjadi….
I3.2 Dosis diubah menjadi….
I3.3 Formulasi diubah menjadi ... ..
I3.4 Instruksi penggunaan diubah menjadi ... ..
I3.5 Obat dihentikan
I3.6 Obat baru dimulai
Intervensi Lainnya I4.1 Intervensi lainnya
I4.2 Efek samping dilaporkan kepada ahli

Penerimaan Proposal Intervensi


Domain Primer Kode Implementasi
Intervensi Diterima A1.1 Intervensi diterima dan sepenuhnya dilaksanakan
A1.2 Intervensi diterima, sebagian dilaksanakan
A1.3 Intervensi diterima tetapi tidak diimplementasikan
A1.4 Intervensi diterima, implementasi tidak diketahui
Intervensi Tidak A2.1 Intervensi tidak diterima: tidak layak
Diterima A2.2 Intervensi tidak diterima: tidak ada kesepakatan
A2.3 Intervensi tidak diterima: alasan lain
A2.4 Intervensi tidak diterima: alasan yang tidak diketahui
Lainnya A3.1 Intervensi yang diusulkan, penerimaan tidak diketahui
A3.2 Intervensi tidak diusulkan

Status Dari DRP


Domain Primer Kode Hasil Akhir Dari Intervensi
Tidak diketahui O0.1 Status masalah tidak diketahui
Terselesaikan O1.1 Masalah benar-benar terselesaikan
Sebagian Terselesaikan O2.1 Masalah sebagian terselesaikan
Tidak Terselesaikan O3.1 Masalah tidak terselesaikan, kurangnya kerjasama
pasien
O3.2 Masalah tidak terselesaikan, kurangnya kerjasama
prescriber
O3.3 Masalah tidak terselesaikan, intervensi tidak efektif
O3.4 Tidak perlu atau kemungkinan untuk menyelesaikan
masalah