Anda di halaman 1dari 106

TESIS

MEDIASI DALAM KELALAIAN MEDIK

Diajukan Oleh

NORBIATI, S.H.
NIM : B2A115050

MAGISTER ILMU HUKUM

PROGRAM PASCA SARJANA

UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

FEBRUARI 2017
i

Usulan Proposal Tesis ini

Telah diperiksa di periksa dan di setujui untuk dinilai

Pada Tanggal……………..

PEMBIMBING UTAMA

Dr. Djoni S. Gozali, SH,. M. Hum.


NIP :19610619 198603 1 015

PEMBIMBING PENDAMPING

Dr. Diana Haiti, SH., MH.


NIP : 19680414 199412 2 001

Diketahui oleh

Ketua Program Studi

Program Magister Ilmu Hukum

Prof. Dr. H. Hadin Muhjad, SH., M.Hum.


NIP : 19600418 198603 1 002

i
iii

DAFTAR ISI

Halaman
BAB I PENDAHULUAN ................................................................ 1
A. Latar Belakang ............................................................... 1
B. Rumusan Masalah .......................................................... 7
C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian .................................. 10
D. Tinjauan Pustaka ............................................................ 11
E. Metode Penelitian........................................................... 38
F. Pertanggungjawaban Sistematika .................................. 43

BAB II DAYA MENGIKAT KESEPAKATAN MEDIASI


TERHADAP KASUS KELALAIAN MEDIS ..................... 44
A. Kelalaian Medik ............................................................. 44
B. Mediasi dalam Kelalaian Medik .................................... 55
C. Legitimasi Kesepakatan Mediasi dalam Kelalaian
Medis .............................................................................. 77

BAB III LANGKAH HUKUM APABILA TERJADI


PENGINGKARAN TERHADAP HASIL
KESEPAKATAN MEDIASI KELALAIAN MEDIK ......... 82
A. Konsekuensi Kesepakatan Mediasi Kelalaian
Medik ............................................................................. 82
B. Pengingkaran Kesepakatan Mediasi Medik ................... 87
C. Prosedur Penyelesaian Apabila Terjadi
Pengingkaran Kesepakatan Mediasi Kelalaian
Medik ............................................................................. 93

BAB IV PENUTUP ............................................................................ 95


A. Kesimpulan .................................................................... 95
B. Saran ............................................................................... 96

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................. 97


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dunia medis mengalami banyak pergeseran paradigma, dari yang awalnya

adalah layanan kesehatan dengan orientasi sosial (social oriented) namun seiring

perjalanan dan perkembangan jaman hal tersebut berubah haluan dengan

orientasi bisnis (bisnis oriented) yang tentu tujuannya adalah profit sehingga

lebih tepat disebut sebagai industri kesehatan. Hal ini juga sejalan dengan

berubahnya pola hubungan antara dokter dengan pasien yang dahulu bersifat

hubungan vertikal dimana para dokter maupun provider jasa layanan kesehatan

berorientasi sosial tersebut dalam menjalankan atau memberikan jasa layanan

kesehatan tidak dapat di tuntut secara hukum karena sifat sosialnya yang melekat.

Namun seiring dengan pergeseran paradigma pola hubungan antara antara dokter

atau provider fasilitas layanan kesehatan dengan pasien adalah bersifat horizontal.

Dengan adanya kesejajaran kedudukan pola hubungan antara dokter ataupun

pemberi jasa fasilitas layanan kesehatan dengan pasien membuka ruang pada

pasien untuk menuntut akan hak-hak mereka.

Seringkali kita dapati berita baik cetak maupun elektronik mengenai

tuntutan pasien terhadap dokter maupun terhadap provider jasa layanan kesehatan

didasari ketidakpuasan atas jasa layanan kesehatan yang diberikan, hal ini berawal

dari keluhan yang tidak tertangani dan terkomunukasikan dengan baik sehingga

berlanjut pada sengketa dan tidak jarang masuk pada ranah pengadilan dengan di

1
2

akhirinya gugatan secara perdata bahkan tak jarang pula diringi dengan tuntutan

pidana.

Arus globalisasi dan informasi juga memberikan kontribusi kepada

masyarakat, sehingga masyarakat semakin kritis dan menyadari akan hak-haknya

sebagai pasien yang telah dilindungi oleh Undang-undang namun tidak

memahami secara komprehensif.

Hubungan hukum antara dokter maupun fasilitas layanan kesehatan

dengan pasien memiliki kekhususan dalam hukum. Ketika pasien memutuskan

untuk berobat ke dokter atau datang ke fasilitas layanan kesehatan, maka terjadi

kesepakatan yang melahirkan perikatan hukum yaitu yang disebut pejanjian

teraupetik apabila terpenuhinya syarat sah perjanjian sebagaimana yang

dinyatakan dalam pasal 1320 BW dan menimbulkan hak dan kewajiban di

anatara kedua belah pihak yang saling berhadapan, di mana salah satu pihak

berkewajiban untuk memenuhi prestasi terhadap pihak lain dan satu pihak

lainnya berlaku hal yang sebaliknya terhadap pihak yang lain. Di mana antara

pasien dengan dokter atau provider kesehatan adalah partnership adanya

kesetaraan dan kesamaan di hadapan hukum sesuai dengan Azas equality before

the law.

Pemerintah melalui Kementrian kesehatan menetapkan kebijakan agar

setiap rumah sakit wajib untuk mengikuti Akreditasi atau harus terakreditasi

dengan orientasinya adalah sasaran keselamatan pasien dan keluarga.

Hubungan pasien dengan tenaga kesehatan atau provider layanan kesehatan

adalah hubungan saling percaya menimbulkan perikatan sebagaimana yang


3

tertuang dalam 1233 BW bahwa Tiap-tiap perikatan baik karena persetujuan, baik

karena undang-undang. Dalam pelaksanaan transaksi terapeutik, dimana dokter

dalam menjalankan tindakan medik (prestasi) sekecil apapun selalu mempunyai

resiko, hal ini sebagai akibat dari respon tiap tubuh berbeda-beda karena manusia

itu unik tidak ada yang benar-benar identik. Sehingga tidak jarang mendapatkan

hasil yang tidak sesuai harapan.

Seorang doker atau tenaga kesehatan dalam menjalankan profesinya

berdasar standar disiplin keilmuan yang mereka miliki (attitude, skill and

knowledge). Sehingga apabila seorang dokter menjalankan profesi tidak sesuai

dengan standar profesinya atau menyimpang dari standar profesinya maka

dikatakan tidak professional.

Dalam kasus1 yang pernah terjadi pada tahun 2012 yang di mediatori oleh

Tim Ombudsman yaitu seorang pasien bernama Husnaen, umur 70 tahun, warga

Masingai RT.8 RW. 2 Kupau, Tabalong selama kurun waktu 7 tahun mendekam

selembar kasa didalam perutnya. Diduga, kasa itu tertinggal saat lelaki itu

menjalani operasi prostat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pembalah

Batung, Amuntai, Hulu Sungai Utara (HSU), pada tahun 2006. Namun pasca

operasi kondisi Husnaen bukannya membaik malah terus memburuk. Di

ungkapkan agus, empat bulan setelah menjalani operasi itu, terjadi pembengkakan

di perut ayahnya. Tak hanya itu kemudian muncul bisul bernanah yang tak

kunjung hilang. Tragisnya, kondisi tersebut hanya di obati di puskesmas terdekat

disertai pengobatan tradisional. Dari hari kehari, bahkan tahun ketahun kondisi
1
http://regional.kompas.com/read/2013/11/20/0917210/7.Tahun.Kain.Kasa.Bersarang.Dal
am.Perut.Husnaen. diambil 4 Januri 2017
4

tersebut terus memburuk, Husnaen harus hidup dalam kondisi terus menahan

sakit. Barulah setelah penyakitnya semakin parah, keluarga memutuskan

membawa ke Rumah Sakit di Tabalong. Namun karena peralatan medisnya

terbatas, dia di rujuk ke RSUD Ulin Banjarmasin. Pada akhir oktober 2013,

Husnaen menjalani pemeriksaan di rumah sakit terbesar di Kalselteng itu.

Berdasar hasil Rontgen, terdapat perban di dalam perut bagian kanan bawah yang

di operasi. Operasi pengambilan kain kasa langsung dilakukan. Namun kasus

tersebut telah diselesaikan dengan cara mediasi yang dimediatori oleh tim dari

Ombudsman.

Tanggung jawab dokter dan provider layanan kesehatan dapat dimintakan

apabila terbukti berbuat kesalahan atau kelalaian.

Seorang dokter apabila karena kesalahannya menimbulkan akibat kerugian

maka pasien berhak menuntut adanya pergantian kerugian sejalan berdasarkan

perbuatannya melanggar hukum 1365 KUH Perdata. Perlindungan hukum

terhadap pasien di akomodir dalam Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009, Pasal

58 ayat (1) menyebutkan bahwa “Setiap orang berhak menuntut ganti rugi

terhadap seseorang, tenaga kesehatan, dan/atau penyelenggaraan kesehatan yang

menimbulkan kerugian akibat kesalahan atau kelalaian dalam pelayanan

kesehatan yang diterimanya”.

Seringkali akibat dari pelayanan yang kurang optimal membuat pasien dan

keluarga merasa tidak puas, rasa ketidakpuasan yang di rasakan tersebut

menimbulkan keluhan (complain) dan tidak tertangani. Komplain yang tidak

tertangani dengan baik mengakibatkan timbul perselisihan. Perselisihan atau


5

sengketa ini dapat berlanjut dengan dua alternative penyelesaian yaitu litigasi

maupun nonlitigasi, hal ini tergantung dari para pihak yang bersengketa dalam

memilih jalur penyelesaian mana yang mereka sepakati.

Hal ini sejalan dengan apa yang di atur dalam pasal 29 Undang-undang

Nomor 36 tahun 2009 menyebutkan bahwa : “Dalam hal tenaga kesehatan diduga

melakukan kelalaian dalam menjalankan profesinya, kelalaian tersebut harus

diselesaikan terlebih dahulu dalam mediasi”.

Dalam praktiknya para dokter maupun provider layanan kesehatan dalam

menyelesaikan malpraktik medik lebih cendrung memilih penyelesaian sengketa

Nonlitigasi. Dengan pertimbangan biaya murah, mudah cepat dan hal yang paling

mendasar adalah berkenaan dengan kerahasiaan (confidensial). Kerahasian bagi

tenaga kesehatan dan provider sangat penting berkaitan dengan nama baik dan

kepercayaan pelanggan.

Jika melihat dari paparan kasus di atas suatu hal yang sudah kategori

absolute malpraktik medik atau dalam kata lain bahwa mapraktik medik itu tidak

diperlukan beban pembuktian lagi karena telah terbukti secara nyata bahwa terjadi

malpraktik medik. Mediasi dalam ranah Hukum Pidana terhadap kasus

malpraktik medik menjadi kabur dalam pelaksanaan, sehingga kesepakatan

mediasi dapat di ingkari oleh para pihak terutama pihak pasien yang menjadi

korban dalam hal ini. Sehingga ada kemungkinan kesepakatan mediasi menjadi

dikesampingkan dan berujung pada tuntutan pidana. Sehingga tidak menutup

kemungkinan kesepakatan dari mediasi menjadi batal demi hukum.


6

Kelalaian dalam tindakan medis dikatakan malpraktik medik masuk dalam

ranah hukum pidana. Kelalaian adalah salah satu bentuk dari malpraktik medik,

sekaligus merupakan bentuk malpraktik yang paling sering terjadi. sehingga untuk

menentukan apakah seorang tenaga medis melakukan tindak pidana atau bukan

perlu adanya kajian yang mendalam dengan melakukan pembuktian pada KUH

Pidana Pasal 359 yang menyebutkan bahwa: “Barangsiapa karena salahnya

menyebabkan matinya orang dihukum penjara selama-lamanya lima tahun atau

kurungan selama-lamanya satu tahun”

Dan pasal 360 ayat (1) menyebutkan bahwa: “Barang siapa karena

kesalahannya menyebabkan orang luka berat dihukum dengan hukuman penjara

selama-lamanya lima tahun atau kurungan selama-lamanya satu tahun”.

Selanjutnya ayat (2) menyebutkan bahwa: “barang siapa karena kesalahanya

menyebabkan orang luka sedemikian rupa sehinggga orang itu menjadi sakit

sementara atau tidak dapat menjalankan jabatannya atau pekerjaannya sementara,

dihukum “

Mediasi merupakan sarana yang paling sering ditempuh atau menjadi

pilihan utama khususnya bagi para tenaga kesehatan, akan tetapi kekuatan

kesepakatan mediasi dalam hal kelalaian tersebut akankah dapat dijadikan dasar

untuk hapusnya penuntutan pidana. Namun jika menelaah dari hukum kesehatan

yang bersifat Lex Spesialis dan lebih mengedepankan mediasi apabila timbul

sengketa medik.
7

B. Rumusan Masalah

Dari uraian di atas dapat ditarik rumusan masalah sebagai berikut :

1. Daya mengikat kesepakatan mediasi terhadap kasus kelalaian medik.

2. Langkah hukum apa yang ditempuh apabila salah satu pihak

mengingkari kesepakatan hasil mediasi ?.

C. Keaslian Penelitian

Penelitian ini mengangkat judul mengenai Mediasi Dalam Kasus Kelalaian

Medik. Mediasi dalam hal kasus malpraktik medik ini sebenarnya sudah ada

beberapa peneliti yang melakukan penelitian mengenai hal ini. Akan tetapi belum

ada lagi penelitian yang membahas lebih lanjut mengenai bagaimana tentang daya

mengikat sebuah mediasi, dan kasus kelalaian medik seperti yang apa atau

dengan kelalaian medik yang bagaimana yang dapat dilakukan mediasi.

Keaslian dari penelitian ini dapat dilihat dari originalitas dapat dilihat dari

rumusan masalah dan pembahasannya, dimana pemabahasan ini lebih menitik

beratkan pada keadaaan dan reguasi yang berlaku pada masa ini.

Namun terkait dengan judul penelitian yang penulis angkat, tentu ada

beberapa penelitian yang hampir serupa seperti pada halnya dengan tema bahasan

penelitian ini, di antaranya:

1. Penelitian ini dilakukan oleh lalu M. Guntur Payasan Wp, S.Kep.2 Pada

Program Magister Ilmu Hukum Universitas 17 Agustus 1945 Semarang

2
M. Guntur Payasan. Implementasi Mediasi Sebagai Alternative Penyelesaian Sengketa
Medik. Tesis pada Program Magister Ilmu Hukum Universitas 17 Agustus 1945 Semarang pada
Tahun 2011. Diambil 23 Januari 2017
8

pada Tahun 2011, dengan jenis penelitian tesis, dengan mengangkat judul

“Implementasi Mediasi Sebagai Alternative Penyelesaian Sengketa

Medik”. Dimana peneliti membahas mengenai Hubungan antara dokter

dengan pasien yang terjalin perjanjian terapeutik menimbulkan hak dan

kewajiban masing-masing pihak yaitu pihak pemberi layanan (medical

providers) dan pihak penerima layanan (medical recivers) dan ini harus

dihormati para pihak. Tim dokter sebagai medical providers mempunyai

kewajiban untuk melakukan diagnosis, pengobatan dan tindakan medik

terbaik menurut pengetahuan, jalan pikiran dan pertimbangannya,

sedangkan pasien atau keluarganya sebagai medical recivers mempunyai

hak untuk menentukan pengobatan atau tindakan medik yang akan

dilakukan terhadap dirinya.hubungan hukum yang dilahirkan dari

hubungan layanan hukum antara dokter dan pasien telah melahirkan

aspek hukum dibidang perdata : gugatan perdata disebabkan 3 (tiga) hal

yaitu wanprestasi, Onrecht Matige Daad dan karena mengakibatkan

kurang hati-hati dan cermat dalam proses mengupayakan kesembuhan.

Dengan hasil kesimpulan yaitu Pelaksanaan mediasi sebagai alternatif

penyelesaian sengketa medik bila memperhatikan peraturan perundang-

undangan yang secara khusus yakni Pasal 29 Undang-undang No. 36

Tahun 2009 Tentang Kesehatan yang menyebutkan “dalam hal tenaga

kesehatan diduga melakukan kelalaian dalam menjalankan profesinya,

kelalaian tersebut harus diselesaikan terlebih dahulu melalui mediasi

serta kendala yang di hadapi berkaitan dengan kurangnya regulasi,


9

sengketa yang dilandasi konflik emosional, dan masih kurangnya

mediator yang bersertifikat.

2. Penelitian yang dilakukan oleh dr. H. Yunanto, SH3 dengan Jenis

Penelitian Tesis, Mengangkat Judul “Pertanggung Jawaban Dokter dalam

Transaksi Terapeutik”, Di Program Magister Ilmu Hukum Program

Magister Ilmu Pascasarjana Universitas Diponegoro, Semarang Pada

Tahun 2009, Dalam Penelitiannya, Peneliti Mengupas Mengenai

Hubungan Hukum Antara Dokter Dan Pasien Dalam Transaksi terapeutik

suatu Perjanjian Apapun Bentuknya Harus Mengikuti Kaedah-Kaedah

umum yang berlaku, Untuk syarat sahnya suatu perjanjian. yaitu harus

dipenuhi syarat-syarat yang termuat dalam Pasal 1320 KUH Perdata,

yaitu adanya kata sepakatan diantara para pihak, kecakapan para pihak

dalam hukum, suatu hal tertentu dan kausa yang halal. secara yuridis,

yang dimaksud dengan kesepakatan adalah pernyataan persesuaian

kehendak antara pasien dengan dokter atas dasar informasiyang diberikan

oleh dokter. Didalam transaksi terapeutik, penerima palayanan medis

terdiri dari pasien orang dewasa yang cakap untuk bertindak, orang

dewasa yang tidak cakap sehingga memerlukan persetujuan dari

pengampunya dan anak dibawah umur yang memerlukan persetujuan

dari orang tuanya. Untuk hal tertentu dalam hal ini adalah suatu upaya

penyembuhan yang dalam pelaksanaannya memerlukan kerjasama yang

berdasarkan sikap saling percaya. oleh karena itu dalam mengemban


3
Yunanto. Pertanggung Jawaban Dokter dalam Transaksi Terapeutik. Tesis Program
Magister Ilmu Hukum Pascasarjana Universitas Diponegoro, Semarang. Tahun 2009. Diambil 23
Januari 2017
10

kepercayaan ini dokter dalam mengupayakan penyembuhan terhadap

pasiennya harus berdasarkan standar medis yang tertinggi. Sedangkan

yang dimaksud oleh sebab yang halal adalah yang tidak dilarang oleh

undang-undang, tidak bertentangan dengan kesusilaan dan ketertiban

umum seperti apapun alasannya menggugurkan kandungan adalah

dilarang oleh undang-undang sehingga kesepakatan mengenai hal ini

dianggap tidak memenuhi syarat perjanjian.

D. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

1. Tujuan

a. Mengkaji dan menganalisis konsep daya mengikat kesepakatan

mediasi dalam kasus malpraktik medik.

b. Mengkaji dan menganalisis upaya-upaya hukum yang dapat

ditempuh apabila salah satu pihak mengingkari hasil kesepakatan

mediasi.

2. Kegunaan teoritis

a. Memahami konsep daya mengikat kesapakatan mediasi dalam

kasus kelalaian medik.

b. Memahami langkah hukum yang dapat ditempuh apabila salah

satu pihak mengingkari kesepakatan mediasi.

3. Kegunaan praktis

a. Sebagai acuan bagi para tenaga medis yang akan mengadakan

mediasi kasus kelalaian medik


11

b. Membuka wawasan masyarakat akan hak-haknya sebagai pasien

yang dilindungi oleh hukum

c. Sebagai bahan referensi untuk dilakukan penelitian dan

pengembangan lebih lanjut.

E. Tinjauan Pustaka

1. Konsep kontrak teraupetik

Kontrak Teraupetik atau hal yang lazim kita dengan adalah perikatan

antara pasien dengan dokter atau tenaga medis lainnya. Salah satu definisi

kontrak adalah yang diberikan oleh salah satu kamus bahwa kontrak adalah

suatu kesepakatan yang diperjanjikan (promissory agreement) di antara dua

belah pihak yang menimbulkan, memodifikasi atau menghilangkan

hubungan.4

KUH Perdata memberikan pengertian pada kontrak ini (dalam hal-hal

disebut perjanjian) sebagai suatu perbuatan dimana satu orang atau lebih

mengikatkan dirinya terhadap satu orang atau lebih, vide Pasal 1313 KUH

Perdata.5 Perikatan bersumber dari perjanjian dan undang-undang, perikatan

yang bersumber dari undang-undang dibagi dua yaitu dari undang-undang

saja dan dari undang-undang karena perbuatan manusia. Selanjutnya

perikatan yang lahir dari undang-undang karena perbuatan manusia dapat

4
Henry Campbell. 1968 Black Law Dictionary.
5
Fuadi, Munir, 2015, Hukum Kontrak. Bandung: PT. Citra Aditya Bakti.
12

dibagi dua, yaitu perbuaatan yang sesuai hukum dan perbuatan yang

melanggar hukum.6

Dalam Pasal 1320 BW menyebutkan syarat sahnya suatu kontrak yaitu

pertama, adanya kesepakatan kedua belah pihak. Kedua, kecakapan untuk

membuat untuk membuat suatu perikatan. Ketiga, suatu hal tertentu.

Keempat, suatu sebab yang halal.7

Asas-asas perjanjian antara lain sebagai berikut8:

a. Asas tidak boleh main hakim sendiri

Yang dimaksud dengan tindakan menghakimi sendiri adalah

tindakan untuk melaksanakan hak menurut kehendaknya sendiri

yang bersifat sewenang-wenang tanpa pihak lain yang berwenang

melalui pengadilan atau meminta bantuan hakim, sehingga akan

menimbulkan kerugian.

b. Asas kebebasan berkontrak

Hukum perjanjian mempunyai sitem terbuka, hukum perjanian

memberikan kebebasan yang seluas-luasnya kepada masyarakat

untuk mengadakan perjanjian yang berisi dan bermacam apa saja

asalkan tidak melanggar ketertiban umum dan kesusilaan.

c. Asas Konsensualisme

Dalam hukum perjanjian juga berlaku suatu asas yang dinamakan

konsensualisme. Kata ini berasal dari kata latin Consensus yang

6
Miru. Ahmadi, 2014, Hukum Kontrak dan Perancangan Kontrak. Jakarta: PT. Jaya
Grapindo Persada.
7
Pasal 1320 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata
8
Soeroso, R, 2011, Perjanjian di bawah tangan Pedoman Praktis Pembuatan dan Aplikasi
Hukum, Jakarta : Sinar Grafika.
13

berarti sepakat. Yang berarti perjanjian itu timbul sudah dilahirkan

sejak detik tercapainya kesepakatan.

Unsur-Unsur Perjanjian terdiri dari unsur-unsur sebagai berikut9 :

a. Unsur Esensialia

Unsur esensialia tanpa ada unsur esensialia maka tidak ada

perjanjian

b. Unsur Naturalia

Adalah sebuah unsur yang telah di atur dalam undang-undang

c. Unsur Aksidentalia

Adalah unsur yang nanti ada atau mengikat para pihak jika jika

para pihak memperjanjikannya.

Sebuah kontrak tidak akan lahir dan mengikat para pihak apabila tidak

ada kesepakatan antara para pihak yang mengikatkan diri dalam sebuah

perjanjian ataupun kontrak. Kesepakatan para pihak merupakan unsur

mutlak utuk terjadinya suatu kontrak. Kesepakatan ini dapat terjadi dengan

berbagai cara, namun yang paling penting adalah adanya penawaran dan

penerimaan atas penawaran tersebut.10

Cara-cara untuk terjadinya penawaran dan penerimaan dapat dilakukan

secara tegas maupun dengan tidak tegas, yang penting dapat dipahami atau

dimengerti oleh para pihak bahwa telah terjadi penawaran.11

Terkait dengan pasien yang datang kedokter atau tempat layanan

kesehatan baik untuk berobat, berkonsultasi ataupun medical check- up rutin


9
Soeroso, R, Opcit, hlm.16
10
Fuadi, Munir. Opcit
11
Miru. Ahmadi, Opcit
14

saja, maka ketika antara pasien dan dokter atau layanan kesehatan tersebut

sepakat maka lahirlah sebuah kontrak dalam hal medis disebut atau lazim

dikenal sebagai kontrak teraupetik.

Sebelum membahas mengenai kontrak teraupetik perlu di pahami

terlebih dahulu bahwa hubungan hukum antara dokter ataupun jasa layanan

kesehatan dengan pasien dalam upaya proses pengobatan adalah perjanjian

dengan objek prestasi adalah upaya yang maksimal bukan pada hasil.

Pada hukum perdata terdapat dua jenis perjanjian yaitu resultaats

verbintenisyang merupakan perjanjian berdasarkan hasil serta Inspaning

verbintenis dimana objek perjanjiannya adalah upaya maksimal dan

perjanjian teraupetik termasuk di dalam inspanning verbintenis sehingga

pada pengobatan atau perawatan kesehatan, sembuh atau tidak sembuh nya

pasien bukanlah suatu prestasi (objek yang dijanjikan), tetapi dilihat dari

tetapi dilihat dari proses atau upaya yang dilakukan oleh dokter apakah

sudah sesuai dengan standar operasional.12

Perjanjian teraupetik dipahami adalah seorang dokter secara maksimal

merawat, mengobati pasien yang datang ke tempat praktik atau ke instalasi

gawat darurat, ketika seorang dokter dokter dating ke IGD maka perikatan

antara dokter dengan pasien terlahir adalah karena adanya perjanjian, maka

lahirnya hubungan hukum ini sesungguhya bersumber dari ketentuan pasal

1233 BW.

12
Desriza Ratman. Mediasi Non Litigasi Terhadap Sengketa Medic Dengan Konsep Win-
Win Solution. Elek Media Komputindo. Jakarta 2012
15

2. Konsep kelalaian dalam malpraktik medik

Dewasa ini sering sekali kita mendengar kata “malpraktik” yang

dilakukan oleh dokter maupun tenaga kesehatan lainnya, tetapi kita tidak

memahami secara tepat apa itu malpraktik, sehingga seakan-akan

malpraktik itu hanya di tujukan kepada dokter maupun tenaga kesehatan

lainnya. Akan tetapi malpraktik itu dapat diberlakukan kepada semua

profesi yang melakukan kegiatan profesinya yang tidak sesuai dengan

standar ilmu dan kompetensinya yang ditetapkan oleh bidangnya masing-

masing.

Malpraktik atau Malpractice berasal dari kata “Mal” yang berarti buruk,

sedangkan kata Practice berari suatu tindakan atau praktik, secara harfiah

dapat dartikan sebagai suatu tindakan “buruk” yang dilakukan oleh dokter

dalam hubungan dengan pasien. Malpraktik sebagaimana definisi bukanlah

rumusan hukumyang diatur dalam Undamg-Undang melainkan suatu

kumpulan dari berbagai perilaku menyimpang yang dapat terjadi karena

suatu tindakan yang disengaja (intentional) seperti pada misconduct

tertentu, tindakan kelalaian (negligence) ataupun sesuatu kekurang

kemahiran atau ketidak kompetenan yang tidak beralasan (professional

misconduct) 13

Seperti uraian sebelumnya bahwa hubungan pasien dengan dokter atau

tenaga kesehatan lainnya adalah hubungan hukum kontrak teraupetik

(inspanning verbintenis) dimana hubungan yang timbul dengan objek

13
Novianto, Widodo Tresno, Agustus, 2015, Penafsiran Hukum Dalam Menentukan
Unsur-Unsur Kelalaian malpraktik medic (medicalpractice) , Yustisia, Edisi 92 Mei. hlm.141
16

perjanjiannya adalah usaha yang maksimal sesuai dengan pasal 1234 KUH

Perdata, yaitu memberikan sesuatu, melakukan sesuatu, atau tidak

melakukan sesuatu yang tidak terpenuhi.

Menurut beberapa pengertian yang mengemukan tentang malpraktik

medik14 menurut Black Law Dictionary:

Malpractise is any professional misconduct, unsreasonable lack of


skill. This term is usually applied to such conduct by doctor,
lawyer,and accqountants. Failurefailure onerendering professional
services to exercise that degree of skill and learning commonly applied
under all the circumstance in the community by the average prudent
reputable member of the profession with the result of injury, lossor
damageto the resipient of those to rely upon them. It is any
professional misconduct unreaonable lack of skill or fidelity in
professionalor judiciary duties, evil practice or illegal or
immoralconduct.
Yang diartikan sebagai berikut : “Malpraktik adalah sikap tindak yang

salah kekurang terampilan dalam ukuran yang wajar. Istilah ini umumnya

digunakan terhadap tindak salah dari para dokter, pengacara dan akuntan.

Kegagalan untuk memberikan pelayanana professional dan melakukan

ukuran pada tingkat keterampilan dan kepandaian yang wajar dalam

komunitas teman seprofesi secara rata-rata sehingga mengakibatkan luka,

kehilangan atau kerugian terhadap mereka. Termasuk didalamnya setiap

sikap tindak profesional yang salah, kekurang terampilan yang tidak wajar

atau kekurang hati-hatian atau kewajiban hukum, praktik yang buruk atau

praktik yang ilegal atau praktik yang tidak normal”.

14
Desriza Ratman , 2012, Mediasi Non Litigasi Terhadap Sengketa Medik Dengan
Konsep Win-Win Solution, Jakarta : Gramedia
17

Menurut Nusye KI Jayanti menerangkan bahwa malpraktik dapat

terjadi karena tindakan yang disengaja (intentional), seperti pada kelakuan

buruk (misconduct) tertentu, tindakan kelalaian (negligence) ataupun suatu

ketidakmahiran atau ketidakkompetenan yang tidak beralaskan.15

Selanjutnya Nusye juga menjelaskan lebih lanjut bahwa Professional

misconduct yang merupakan kesengajaan dapat dilakukan dalam bentuk

pelanggaran ketentuan etik, ketentuan disiplin profesi, misalnya sengaja

melakukan tindakan yang merugikan pasien, penipuan ( Fraud), penahanan

pasien, pelanggaran wajib simpan rahasia kedokteran, aborsi illegal,

euthanasia, penyerangan seksual, misrepresentasi, keterangan palsu,

menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran yang belum teruji

atau diterima, sengaja melanggar standar, berpraktik tanpa izin praktik,

berpraktik diluar kompetensinya dan lain-lain.16

Lebih lanjut lagi tentang kesengajaan bahwa kesengajaan tersebut tidak

harus berupa sengaja mengakibatkan hasil yang buruk bagi pasien, namun

yang penting lebih kearah pelanggaran yang disengaja (deliberate

violation) dengan suatu standar tertentu (berkaitan dengan motivasi)

ketimbang hanya berupa error (berkaitan dengan informasi).17 Kelalaian

dapat terjadi dalam tiga bentuk, yaitu :

15
Jayanti, Nusye KI, 2009, Penyelesaian Hukum Dalam Malpraktik kedokteran. Pustaka
Yogyakarta: Pustaka Yustisia
16
Jayanti, Nusye KI, Opcit
18

a. Malfeasance

Melakukan tindakan yang melanggar atau tidak tepat atau tidak

layak (unlawfull/improper), misalnya : melakukan tindakan medis

tanpa indikasi yang memadai (pilihan tindakan medis tersebut sudah

improper).

b. Misfeasance

Melakukan pilihan tindakan medis yang tepat namun dilaksanakan

dengan tidak tepat (improper performa), misalnya: melakukan

tindakan medis dengan menyalahi prosedur.

c. Nonfeasance

Tidak melakukan tindakan medis yang merupakan kewajiban.

Pada dasarnya kelalaian itu menurut rumusan pasal 1366 BW adalah

sikap kurang berhati-hati seorang profesional untuk bekerja sesuai dengan

standar yang diharapkan dari profesinya itu yang menimbulkan kerugian

bagi orang lain. Kelalain itu bisa terjadi karena ketidaksengajaan (culpa),

kurang hati hati, tidak peduli; sebenarnya akibat yang ditimbulkan itu bukan

merupakan tujuan tindakan tersebut; yang penting suatu kesalahan atau

kelalaian yang kecil / sepele dalam lapangan kedokteran bias berakibat

serius atau fatal.18

Dalam praktiknya untuk menentukan unsur-unsur

kesalahan/kealfaan/kealalaian dugaan terjadinya malpraktim medik tidaklah

18
Machli Riyadi, Op cit hlm. 213
19

mudah, perbuatan dari pelayanan kedokteran yang dapat menyebabkan

malpraktik kedokteran pada saat pemeriksaan, cara pemeriksaan, alat yang

dipakai pada saat pemeriksaan, menarik diagnosis atas fakta hasil

pemeriksaan, wujud perlakuan terapi, maupun perlakuan untuk menghindari

kerugian dari salah diagnosis atau salah terapi.19

Dari terminologi bahasa, kealfaan mengandung arti kekeliruan yaitu

bahwa sikap batin orang yang menimbulkan keadaan yang dilarang itu

bukannya menentang larangan, bukan pula menghendaki atau menyetujui

timbulnya hal yang dilarang itu, melainkan karena kesalahan, kekeliruan

dalam batin sewaktu berbuat sehingga menimbulkan keadaan yang dilarang

itu, karena ia kurang mengindahkan dilarang itu sehingga perbuatan itu telah

terjadi kealfaan, lalai atau teledor. Kealfaan mengandung syarat tidak

mengadakan penduga-duga/ sikap batin sebagaimana yang diharuskan oleh

hukum dan tidak mengadakan penghati-hatian sebagaimana yang

diharuskan oleh hukum. Yang dimaksud dengan tidak menduga-duga dapat

terjadi karena20,

a. Pelaku berpikir bahwa akibat tidak akan terjadi karena perbuatannya

itu, padahal pandangan itu ternyata berlaku tidak benar, dalam hal ini

terjadi kealfaan yang tidak disadari (buweste culpa), terletak pada

kesalahan pikiran/ atau pandangan yang seharusnya tidak dilakukan.

19
Widodo Tersno Noviato. 2015. Penapsiran Hukum Dalam Menentukan Unsure-Unsur
Dalam Kelalaian Malpraktik Medic. (Medical Praktice). Fakultas Hukum Universitas Sebelas
Maret: Jurnal Hukum Yustisisa. Edisi 29 Mei
20
Ibid
20

b. Pelaku delik sama sekali tidak mempunyai pikiran bahwa akibat

yang dilarang itu mungkin terjadi, karena perbuatannya, masuk

dalam kealfaan yang tidak disadar (onbuweste culpa ) dan tidak

mengadakan penduga-duga karena tidak adanya pikiran sama sekali

bahwa akan terjadi akibat yang fatal karena perbuatannya itu.

Didalam definisi malpraktik terdapat dua (2) istilah yang harus

dibedakan, yaitu kesalahan dan kelalaian :

a. Kesalahan (dolos, intentional, vorstz, willen en weten hadelen)

1) Dalam arti sempit ialah semua tindakan medis atau yang

berhubungan dengan ruang lingkup medis yang dilarang secara

langsung oleh undang-undang.

2) Dalam arti sempit ialah bahwa tindakan yang dilakukannya

berdasarkan adanya unsur kesengajaan yang dapat dilihat dari

tindakan yang terarah, dengan hasil yang sudah diketahui

adanya aturan hukum yang melarangnya dan kadang-kadang

didasari dengan motivasi bayaran.

b. Kelalaian (culpa, negligence)

1) Dalam arti sempit ialah pekerjaan dokter sudah sesuai dengan

standar profesi dan yang diperbolehkan oleh Undang-Undang,

tetapi kadang-kadang bekerja dibawah standar dengan tidak

hati-hati atau sembrono serta tidak melaksanakan kewajiban

untuk memenuhi hak pasien.


21

2) Dalam arti sempit ialah semua tindakan tersebut tidak ada motif

serta tidak ada unsur kesengajaan dan semata-mata karena

kealfaan atau kelalaian seorang dokter dengan tidak hati-hati

atau sembrono dalam mengerjakan tindakan medik yang

sebenarnya akibat yang timbul tidaklah diharapkan.

Unsur-Unsur pada standar profesi kedokteran harus memenuhi unsur-

unsur21 berikut ini :

a. Berbuat secara teliti/ seksama (zorgvuldig handelen), dikaitkan

dengan culpa/kelalaian sehingga bila seorang dokter tidak bekerja

secara hati-hati, maka dia sudah memenuhi unsur kelalaian.

b. Seorang dokter harus bekerja sesuai dengan ukuran ilmu medik

(Volgens de medische standart), maksudnya seorang dokter yang

berpraktik harus melaksanakan tugasnya sesuai dengan keilmuannya

atau wewenang dan kompetensinya, misalnya seorang dokter umum

tidak boleh melakukan tindakan section caesaria, walaupun dia

sanggup atau mampu mengerjakannya berdasar pengalamnya

membantu dokter ahli kebidanan dan kandungan.

c. Harus mempunyai kemampuan rata-rata (overage) dibanding

kategori keahlian medik yang sama (gemiddaelde bewaamheid van

gelijke medische category) maksudnya adalah apabila seorang

menyatakan dia berbuat kelalaian adalah dokter umum juga bukan

dokter ahli atau dokter spesialis.

21
Leenen dalam Ratman, Desriiza, 2012, Mediasi Non Litigasi Terhadap Sengketa
Dengan Konsep Win-Win Solution. Jakarta: Gramedia. Hlm.58
22

d. Bila seorang dokter dinyatakan telah melakukan suatu kelalaian,

maka ukurannya adalah situasi dan kondisi yang sama terhadap

sejawat yang menilainya (gelijkeomstandgheden).

e. Sarana dan upaya yang sebanding dan proporsional dengan tujuan

dan tindakan medik tersebut.

Kelima unsur tersebut dipakai untuk menguji apakah seorang dokter

melakukan suatu malpraktik atau tidak.

Secara singkat malpraktik medik dikelompokkan berdasar berat

ringannya tingkat malpraktik, mulai dari yang ringan sampai yang berat 22 :

a. Error Of Judgement (kesalahan penilaian)

b. Slight negligence (kelalaian ringan)

c. Gross Negligence (kelalaian berat)

d. Intentional wrong doing atau criminal intent (tindakan dengan

kesengajaan atau yang bersifat kriminal

Unsur-Unsur Malpraktik Medik Berdasarkan pengertian perbuatan

melanggar hukum seperti yang dirumuskan dalam Pasal 1365 BW maka ada

empat syarat yang harus dipenuhi untuk menuntut kerugian adanya perbuatan

yang melanggar hukum yaitu ;

a. Adanya perbuatan (daad) termasuk kualifikasi perbuatan melanggar

hukum.

b. Adanya kesalahan (doleus maupun culpoos) si pembuat

c. Adanya akibat kerugian (schade)

22
Desriza Ratman. Opcit. hlm.61
23

d. Adanya hubungan perbuatan dengan akibat kerugian (oorzakelijk

verband atau causal verband ) orang lain.

3. Konsep Mediasi

Dari banyaknya kasus malpraktik medik dewasa ini yang kita temui

tidak jarang kasus tersebut diselesaikan melalui mediasi, mediasi dipilih

oleh sebagian pihak atau masyarakat modern ini lebih efektif selain

terjaminnya masalah kerahasiaan berkaitan dengan kapabilitas dan nama

baik, mediasi juga dianggap sebagai sarana yang cepat dalam menyelesaikan

perkara. Sebelum lebih jauh membahas mengenai mediasi terlebih dahulu

kita pahami tentang mediasi.

Dasar utama dari perdamaian di Indonesia adalah dasar Negara yaitu

Pancasila, dimana dalam filosofisnya tersirat bahwa asas penyelesaian

sengketa adalah musyawarah untuk mufakat hal tersebut tersirat dalam

Undang-Undang Dasar 1945.23

Sedangkan mengenai perdamaian yang dibuat diluar pengadilan,

diatur dalam RO (Rechlement op de Rechtletterlijke Organisatie)

Khususnya Pasal 3.a ayat (1) RO, menyebutkan “ apabila menurut hukum

adat perkara-perkara perdata tertentu masuk kekuasaan hakim-hakim

perdamaian desa, maka keadaan ini tetap dipertahankan”

Kemudian lebih lanjut disebutkan dalam Pasal 1851 KUH Perdata,

yang dimaksud perdamaian adalah “ suatu persetujuan dengan mana kedua

23
Amriani, Nurnaningsih, 2011, Mediasi Alternatif Penyelesaian Sengketa Perdata di
Pengadilan.Jakarta: Raja Grafinda Persada. Hlm53
24

belah pihak, dengan menyerahkan, menjanjikan atau menahan suatu barang,

untuk mengakhiri suatu perkara, menjanjikan atau menahan suatu barang,

untuk mengakhiri suatu perkara yang sedang bergantung atau mencegah

timbulnya perkara”.

Undang-Undang No. 30 Tahun 1999 merupakan Alternatif

Penyelesaian Sengketa (ADR), seperti yang dimuat dalam pasal 1 angka 10,

pasal 6 ayat (3) bahwa : “alternatif penyelesaian sengketa adalah lembaga

penyelesaian sengketa atau beda pendapat melalui prosedur yang disepakati

para pihak, yakni penyelesaian diluar pengadilan dengan cara konsultasi,

negosiasi, mediasi, konsiliasi atau penilaian ahli”.

Dalam pasal 6 ayat (3) menyebutkan bahwa : “Dalam hal sengketa

atau beda pendapat, sebagaimana dimaksud dalam ayat (2), tidak dapat

diselesaikan maka atas kesepakatan tertulis para pihak, sengketa atau beda

pendapat diselesaikan melalui bantuan seorang atau lebih penasihat ahli

ataupun melalui mediator”.

Istilah mediasi berasal dari bahasa latin “mediare” yang artinya

berada ditengah-tengah. Mediasi dikenal sebagai sebagai salah satu bentuk

proses penyelesaian sengketa antara para pihak yang dilakukan dengan

bantuan seorang penengah yang disebut mediator netral, adil serta

mempunyai keahlian tentang hal yang dipersengketakan (jikalau

memungkinkan) sebagai fasilitator dimana keputusan yang dibuat untuk


25

mencapai kesepakatan tetap di ambil oleh para pihak secara sukarela dan

damai.24

Menurut Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, kata damai artinya

“aman, tentram, tidak bermusuhan”. Berdamai artinya “berbaik kembali,

berhenti berperang atau bermusuhan”. Berarti juga berunding , bermufakat,

mendamaikan artinya “menyelesaikan permusuhan, pertengkaran,

persengketaan atau merundingkn supaya mendapat persetujuan. Dengan

demikian, perdamaian artinya “ penghentian, permusuhan, persengketaan

atau permufakatan, menghentikan persengketaan25.

Pada umumnya, asas-asas yang berlaku pada alternatif penyelesaian

sengketa sebagai berikut26 :

a. Asas ititkad baik, yakni keinginan dari para pihak untuk

menentukan penyelesaian sengketa yang akan maupun sedang

mereka hadapi.

b. Asas kontraktual, yakni adanya kesepakatan yang dituangkan

dalam bentuk tertulis mengenai cara penyelesaian sengketa.

c. Asas mengikat, yakni para pihak wajib untuk mematuhi apa yang

telah disepakati.

d. Asas kebebasan berkontrak yakni para pihak dapat dengan bebas

menentukan apa saja yang hendak di atur oleh para pihak dalam

perjanjian tersebut selama tidak bertentangan dengan undang-

24
Desriza Ratman . Opcit. hlm.132
25
Hazin, Nur Kholif, 1994, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia Super Baru, Surabaya:
Terbit Terang.hlm.75
26
Jimmy Joses Sembiring. 2011. Cara Menyelesaikan Sengketa Diluar Pengadilan.
Jakarta: Trans media Pustaka. hlm 10
26

undang dan kesusilaan. Hal ini berati pula kesepakatan mengenai

tempat dan jenis penyelesaian sengketa yang akan dipilih.

e. Asas kerahasiaan, yakni penyelesaian atas sesuatu sengketa tidak

dapat disaksikan oleh orang lainkarena hanya para pihak yang

bersengketa yang dapat menghadiri jalsnnya pemeriksaan atas

suatu sengketa.

Mediasi yang sering kita kenal pada praktiknya yaitu mediasi litigasi

yaitu mediasi yang berada dalam wilayah lingkungan peradilan dan mediasi

Nonlitigasi adalah mediasi yang dilakukan atau dikehendaki (inisiasi) oleh

para pihak dengan bantuan seorang ahli dibidangnya dan bersifat netral atau

dikenal dengan sebutan mediator. Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999

tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa, yang mulai berlaku

sejak 12 Agustus 1999. Dalam undang-undang ini para pihak yang

bersengketa diutamakan menempuh jalur penyelesaian melalui negosiasi

atau mediasi, jika tidak menghasilkan kesepakatan maka akan diteruskan ke

proses arbitrase27, Namun Desriza dalam Bukunya menyebutkan mediasi

berdasarkan kategorinya digolongkan menjadi dua28 yaitu ; Mediasi Hukum

(court conneted mediation) dan mediasi pribadi

a. Mediasi Hukum

Tahun 2002 dikeluarkan Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 1

Tahun 2002 tentang Pemberdayaan Pengadilan Tingkat Pertama

menerapkan lembaga damai. Setahun kemudian di PERMA

27
http://imenetwork.org/mediasi dikutip 15 Agustus 2017
28
Ratman. Desriza , Opcit.hlm.132
27

tersebut dicabut dengan dikeluarkannya PERMA No. 02 Tahun

2003 tentang prosedur mediasi, selanjutnya disempurnakan

kembali dengan terbitnya PERMA Nomor 01 tahun 2008 tentang

Prosedur Mediasi di Pengadilan. Dan terakhir karena mengingat

banyak perkara yang tertumpuk dipengadilan maka Mahkamah

Agung mengeluarkan PERMA No. 1 Tahun 2016 Tentang

Prosedur Mediasi di Pengadilan terkait batas waktu mediasi yang

lebih singkat dari 40 hari menjadi 30 hari terhitung sejak penetapan

perintah melakukan Mediasi. Kedua, adanya kewajiban bagi para

pihak (inpersoon) untuk menghadiri secara langsung pertemuan

Mediasi dengan atau tanpa didampingi oleh kuasa hukum, kecuali

ada alasan sah seperti kondisi kesehatan yang tidak memungkinkan

hadir dalam pertemuan Mediasi berdasarkan surat keterangan

dokter; di bawah pengampuan; mempunyai tempat tinggal,

kediaman atau kedudukan di luar negeri; atau menjalankan tugas

negara, tuntutan profesi atau pekerjaan yang tidak dapat

ditinggalkan.

b. Mediasi pribadi

Berbeda dengan mediasi hukum, maka mediasi pribadi di atur oleh

kesepakatan para pihak yang mempunyai niat untuk

menyelesaikan sengketanya dengan memilih mediator atas

kesepakatan para pihak juga.


28

Dari beberapa rumusan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa

pengertian mediasi mengandung unsur –unsur sebagai berikut29:

a. Mediasi adalah sebuah proses penyelesaian sengketa berdasar

asas kesukarelaan melalui suatu perundingan.

b. Mediator yang terlibat dan diterima oleh para pihak yang

bersengketa di dalam perundingan.

c. Mediator bertugas membantu para pihak yang bersengketa di

dalam perundingan.

d. Mediator tidak mempunyai wewenang untuk mengambil

keputusan selama perundingan berlangsung.

e. Tujuan mediasi adalah untuk mencapai atau menghasilkan

kesepakatan yang dapat diterima oleh pihak-pihak yang

bersengketa.

4. Konsep pertanggungjawaban hukum tenaga medik

Suatu perbuatan dapat melanggar hukum jika memenuhi syarat

bertentangan dengan empat hal, yakni dengan hak (subjektives Recht) orang

lain, kewajiban hukumnya sendiri, kesusilaan dan nilai-nilai yang ditaati

dalam pergaulan masyarakat. Berdasarkan norma tersebut, perbuatan dokter

dokter terhadap pasien dalam pelayanan medis dan terjadi malpraktik

dikualifikasikan sebagai melanggar hukum apabila memenuhi empat unsur

tersebut.30

29
Amriani, Nur Naningsih Opcit hlm.61
30
Riyadi, Machli, 2015, Hukum Kesehatan Kontemporer Aegroti salus lex suprema.
Malang: Akademia.
29

Akan tetapi jika merujuk dalam dalam perundang-undangan di

Indonesia tidak yang memberikan rujukan jelas tentang tindak pidana.

Dalam pandangan Schaffmester dalam bukunya Chairul Huda menyebutkan

penggunaan kesalahan sebagai dasar bukan keharusan menurut undang-

undang yang empiris, tetapi Asas normatif.31;

Pertanggungjawaban Malpraktik Medik Menurut kamus besar bahasa

Indonesia arti tanggung jawab adalah ; ”keadaan wajib menanggung segala

sesuatunya (kalau terjadi apa-apa boleh ditunutut, dipersalahkan,

diperkarakan, dan sebagainya”.

Menurut Black’s law dictionary, tanggung jawab (liability)

mempunyai tiga arti antara lain ;

a. An Obligation one is bound in lawor justice to perform


b. Condition of being responsible for a possible or actual loss.
c. Condition which creates a duty to perform an act immesiately or in
the future
Tanggungjawab hukum (legal liability) menurut Black;s Law

Dictionary mempunyai arti;

“Liability Wich Court recognize and enforce as between partieslitigant”

Menurut Nusye KI Jayanti32 tanggungjawab mengandung keadaan

cakap terhadap beban kewajiban atas segala sesuatu akibat perbuatannya.

Pengertian tanggungjawab tersebut mengandung tiga unsur ;

a. Kecakapan.

31
Huda, Chairul, 2008, Dari Tiada Pidana Tanpa Kesalahan Menuju Tiada
Pertanggungjawaban Pidana Tanpa Kesalahan. Jakkarta: Prenada Media.
32
Jayanti, Nusye kI, 2009, Penyelesaian hukumdalam praktik medic
kedokteran.Yogyakarta: Pustaka Yustisia, hlm.22
30

b. Beban kewajiban.

c. Perbuatan

Lebih lanjut Nusye menerangkan unsur33 kewajiban mengandung

makna sesuatu harus dilakukan, tidak boleh tidak dilaksanakan, jadi sifatnya

harus atau ada keharusan. Sedangkan unsur perbuatan mengandung arti

segala sesuatu dilakukan. Dengan demikian tanggungjawab adalah

;“keadaan cakap menurut hukum baik orang ataupun badan hukum, serta

mampu menanggung kewajiban terhadap segala sesuatu yang dilakukan”.

Manusia sebagai makhluk sosial dimana ia hidup saling berdampingan

dengan manusia lainnya tentang saling memiliki ketergantungan dan

keterikatan dengan manusia lainnya. Ada hak dan kewajiban yang saling

berhadapan. Sehingga segala sesuatu yang dilakukan memiliki konsekuensi

dan tanggungjawabnya masing-masing, karena itu manusia atau orang

disebut sebagai subyek hukum. Tanggung jawab juga merupakan wujud

kesadaran manusia sebagai anggota masyarakat dalam setiap perbuatan yang

dilakukan.

Sehingga sebagai seorang tenaga medis maupun penyelenggara jasa

layanan kesehatan kepadanya dalam melakukan setiap kegiatannya

dibebankan tanggungjawab dalam hal ini tanggung jawab hukum.

33
Jayanti, Nusya ki, Opcit.hlm.23
31

Tenaga kesehatan harus mengembangkan dan mengetahui 16wajib

Hukum Profesi kesehatan dalam setiap tindakan supaya terhindar dari

perkara sengketa medic. 16 wajib hukum tersebut, yaitu34:

a. Adequate Information

Dalam adequate information mengandung makna Hak Asasi

Manusia (human right). pasien dan pelayanan kesehatan harus salig

tukar informasi dengan kedudukan yang sederajat dan seimbang.

b. Informed Consent

Informed consent adalah consentut (persetujuan) yang diberikan

setelah mendapat informasi. Informed consent harus selalu ada

karena mengandung arti atau unsur penghargaan kepada pasien

(HAM). Tenga kesehatan harus menginformasikan semua langkah

atau tindakan yang akan dikerjakan beserta risiko-risiko medis

yang kemungkinan terjadi mengingat pekerjaan medis adalah

pekerjaan yang uncertain (tidak pasti)

c. Medical Record

Merupakan catatan tindakan medic yang dilakukan oleh

tenagakesehatan.

d. Standart Profession Of Care (Doctrine Of Necessity) biasa disebut

doktrin keseriusan, doktrin ini menggunakan Doctrine Necessity

34
Nusye K Jayanti. Penyelesaian Hukum Dalam Malpraktik Kedokteran. 2009. Jakarta :
Pustaka Yustisia. Cetakan Pertama. Hlm 80
32

e. Second Opinion

Apabila dalam member pelayanan kesehatan kepada pasien lebih

dari 2 atau 3 kali tidak ada kemajuan.

f. Medical Risk

Tenaga kesehatan harus selalu siap setiapsaat menggantisipasi

terjadinya risiko.

g. Medical Emergency Care

Artinya dalam keadaan darurat atau emergency, pelayanan

kesehatan harus cepat dan tepat, risiko menjadi nomor dua.

Contohnya, pasien dating dalam keadaan sekarat kurang darah,

maka tenaga kesehatan harus bertindak cepat dan tepat, mati atau

hidup itu adalah risiko.

h. Social Insurance Of Health Care

Kesehatan menurut masyarakat international atau PBB harus

dibantu oleh asuransi social, sebab pelayanan kesehatan adalah

wajib hukumnya,

i. Medical Liability

Tenaga kesehatan harus mampu membedakan jenis tanggngjawab

dalam pelayanan kesehatan. Pembagian tanggungjawab dalam

pelayanan kesehatan akan memudahkan dalam pemecahan suatu

masalah bila terjadi suatu sengketa medik.


33

j. Negligent Medical Care (Culpa Levisimma/Lighte Schuld)

Kesalahan dalam pelayanan kesehatn yang dilakukan oleh tenaga

kesehatn haruslah wajar. Misalnya, kesalahan karena kurang

pengalaman, kurang pengetahuan sehingga menuebakan kurang

hati-hati. Kesalahan harus dalam batas wajar, tidak boleh salah

lebih dari dua kali, tetapi tetapberpedoman pada standar operasi

prosedur. Kesaahn wajar tersebut Negligent Medical Care.

k. Contributory Negligence

Terhadap kesalahan yang terjadi, diteliti dari mana asalnya. Tenaga

kesehatan harus paham darimana asal kesalahan tersebut terjadi

(dari pasien, dari teknologi, dari tenaga medis atau dari tenaga non

medis).

l. Assumption Of Risk (Volenti non fit injura)

Semua risiko medis yang akan terjadi sudah diasumsikan terlebih

dahulu.

m. Medical Intervention

Pelayanan kesehatan harus selalu mengintervensi pelaksanaan

wajib hukum Informed Consent dan Medical Record dalam setiap

pelayanan kesehatan sebagai perlindungan hukum tenaga

kesehatan.

n. Medicare Medicaid Program


34

Dalam setiap pemeliharaan kesehatan harus selalu memikirkan

biaya kesehatan. Medical Program harus selaras Medicare

Program.

o. Medical Committee

Dalam pelayanan kesehatan harus mempunyai badan komite medis

yang menyusuri setiap kesalahan medis antara lain : mencari

penyebab terjadinya kesalahan. Hal ini semua ditanyai oleh intern

justice of medical profession

p. Accreditation Of Health Care (Joint Commission)

Badan akreditasi pelayanan kesehatan dari asosiasi medis, bukan

dari pemerintah. Badan assosasi tersebut terdiri dari kumpulan

dokter, rumah sakit, serta pelayanan kesehatan lainnya. Tugasnya

adalah membimbing bukan memerintah atau menilai.

Tanggung jawab hukum yang dibebankan kepada fasilitas

penyelenggara jasa layanan kesehatan dalam hal ini rumah sakit terdapat

dalam Undang-Undang Rumah sakit, Pasal 46 Menyebutkan bahwa :

“Rumah Sakit bertanggungjawab secara hukum terhadap semua kerugian

yang ditimbulkan atas kelalaian yang dilakukan oleh tenaga kesehatan di

Rumah Sakit.”

Sehingga dalam menjalankan usaha dalam pemberian jasa layanan

kesehatan Rumah Sakit yang dipersonifikasikan sebagai orang sehingga di

golongkan sebagai subyek hukum badan Hukum (Recht Persoon)


35

pendukung hak dan kewajiban juga dibebankan tanggung jawab hukum

selain juga tenaga kesehatan yang bersangkutan sebagai orang (Persoon).

5. Teori kepastian hukum

Indonesia adalah Negara hukum hal ini tertmuat dalam Undang-

Undang Dasar 1945 Pasal 1 ayat (3) yang menyebutkan bahwa Negara

indonesia adalah Negara Hukum. Sehingga semua peraturan yang mengatur

tentang kehidupan bernegara dibuat oleh pejabat yang berwenang demi

menjamin kepastian hukum bagi warga negaranya. Pembuatan hukum yang

dilakukan secara sengaja oleh badan yang berwenang untuk itu merupakan

sumber yang bersifat hukum yang paling utama.35

Ajaran yang beraitan dengan kepastian hukum adalah ajaran

positivisme Hukum, atau disebut juga aliran legitimisme yang sangat

mengagungkan hukum tertulis, sehingga aliran ini beranggapan tidak ada

norma di luar hukum positif, pandangan yang sangat mengaung-agungkan

hukum tertulis pada positivism hukum ini, pada hakikatnya merupakan

penghargaan yang berlebihan terhadap kekuasaan yang menciptakan hukum

tertulis itu, sehingga di anggap kekuasaan itu adalah sumber hukum dan

kekuasaan adalah hukum.36

Seorang penganut Potivisme, Hart mengemukakan berbagai arti dari

positivism sebagai berikut37:

a. Hukum adalah perintah;

35
Satjipto Raharjo. 2014. Ilmu Hukum. Bandung : Citra Aditya Bakti. Cetakan ke-8.
hlm83
36
Riduan syahrani. 2004. Rangkuman Inti Sari Hukum. Bandung : Citra Aditya Bakti.
Cetakan ketiga. hlm 43
37
Ibid. hlm 44
36

b. Analisa terhadap konsep-konsep hukum berbeda dengan studi

sosiologis, historis, dan penilaian kritis;

c. Keputusan-keputusan dapat di deduksi secara logis dari peraturan –

peraturan yang sudah ada lebih dahulu, tanpa perlu menunjuk pada

tujuan-tujuan sosial, kebijaksanaan, moralitas;

d. Penghukuman secara moral tidak dapat ditegakkan dan

dipertahankan oleh penalaran rasional, pembuktian atau pengujian;

e. Hukum sebagaimana diundangkan, ditetapkan, positum, harus

senantiasa dipisahkan dari hukum yang seharusnya di ciptakan,

yang diinginkan.

Pandangan Kelsen yang menyamakan antara Norma dengan aturan.

Akibatnya terdapat isitilah “penormaam”, Norma kabur, konflik norma.

yang benar adalah penuangan kedalam aturan. Aturan yang kabur dan

konflik aturan.38

Fungsi esensial Norma Hukum adalah untuk mengharuskan

manusia berprilaku dengan cara tertentu (karena norma hukum tersebut

menghubungkan perilaku yang berlawanan dengan tindakan koersif, apa

yang disebut konsekuensi tindakan tidak sah), maka poin penentu dalam

mengevaluasi dalam penciptaan norma adalah apakah manusia diwajibkan

oleh norma tersebut-subjeknya untuk berpartisipasi dalam penciptaannya

atau tidak.39

38
Peter Mahmud Marzuku. 2017. Penelitian Hukum. Jakarta : Prenamedia.cetakan ke-7
Hlm. 51
39
Hans Kelsen. 2008. Pengantar Teori Hukum. Bandung:Nusa Media. cetakan ke-8
hlm138
37

Dalam ajaran Pure Theory Of Law secara ringkas dikatakan bahwa

Hans Kelsen ingin membersihkan ilmu hukum dari anasir-anasir nonhukum,

seperti sejarah, moral, sosiologis, politik dan sebagainya. Kelsen, misalnya

menolak masalah keadilan dijadikan bagian pembahasan dalam ilmu

hukum. Bagi Kelsen, keadilan adalah masalah ideology yang ideal rasional.

Kelsen hanya ingin menerima hukum apa adanya, yaitu berupa peraturan-

peraturan yang dibuat dan diakui oleh Negara.40 Sedangkan dalam ajaran

Grundnorm merupakan induk yang melahirkan peraturan hukum dalam

suatu tatanan sistem hukum tertentu. Grundnorm ibarat bahan bakar yang

menggerakkan seluruh sistem hukum. Grundnorm memiliki fungsi sebagai

dasar mengapa hukum itu ditaati dan mempertanggungjabkan pelaksanaan

hukum.41

Suatu perundang-undangan menghasilkan peraturan yang memiliki

ciri-ciri sebagai berikut42 :

a. Bersifat umum dan komprehensif yang dengan demikian

merupakan kebalikan dari sifat-sifat yang khusus dan terbatas.

b. Bersifat universal. Ia diciptakan untuk menhadapi peristiwa-

peristiwa yang akan datang yang belum jelas bentuk konkritnya.

Oleh karena itu ia tidak dapat dirumuskan untuk mengatasi

peristiwa-peristiwa tertantu saja.

40
Teguh Prasetyo dan Abdul Halim Barkatullah. 2014. Filsafat, teori dan Ilmu Hukum.
Jakkarta : Rajawali Pers. hlm111
41
Ibid . hlm 114
42
Opcit. Satjipto Raharjo. Hlm83
38

c. Ia memiliki kekuatan untuk mengoreksi dan memperbaiki dirinya

sendiri. Adalah lazim bagi suatu peraturan untuk mencantuk

klausul yang memuat kemungkinan dilakukannya peninjauan

kembali.

F. Metode Penelitian

1. Jenis Penelitian

Penelitian Hukum Normatif adalah menemukan kebenaran koherensi,

yaitu adakah aturan hukum sesuai norma hukum dan adakah norma yang

berupa perintah atau larangan itu sesuai dengan prinsip hukum, serta apakah

tindakan (act) seseorang sesuai dengan norma hukum (bukan hanya sesuai

aturan hukum) atau prinsip hukum.43

2. Tipe penelitian

Tipe penelitian ini adalah penelitian hukum44 yang mengkaji norma

hukum, di dasarkan pada :

a. Konsep hukum sebagai perintah untuk melakukan sesuatu atau

tidak melakukan sesuatu tertentu yang didukung oleh paksaan fisik

yang akan dijatuhkan kepada siapayang tidak menaati ketentuan.45

43
Marzuki, Peter Mahamud, 2005, Penelitian Hukum.Jakarta: adhitya adrebina Agung.
hlm.56
44
ibid
45
ibid hlm 17
39

b. Veritas est adaequoatio rei et intellectus (kebenaran merupakan

kesesuaian antara sesuatu yang dibicarakan dengan yang ada dalam

pikiran ).46

3. Pendekatan

a. Pendekan perundang-undangan (statute approach)

Ialah pendekatan dengan peraturan perundang-undangan serta

regulasi yang terkait yaitu;

1) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana

2) Kitab Undang-Undang Hukum Perdata

3) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 30 tahun 1999

tentang Arbitrase Dan Alternatif Penyelesaian Sengketa.

4) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 tahun 2009

tentang Kesehatan.

5) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 tahun 2009

tentang Rumah Sakit.

6) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 29 tahun 2004

tentang Praktik Kedokteran.

b. Pendekatan kasus (case approach)

Ialah pendekatan kasus yang terjadi seputar hukum kesehatan yang

berkaitan dengan judul penelitian ini dimana peneliti mengambel

46
ibid. hlm 32
40

sampel penelitian pada Kantor Perwakilan Ombudsman

Kalimantan Selatan

c. Pendekatan Konseptual

Ialah pendekatan tentang konsep hukum perikatan dalam KUH

Perdata, kelalaian dalam KUH Pidana serta konsep hukum

Kesehatan yang bersifat Lex Spesialis yang saling terkait dan

relevan dengan judul penelitian.

4. Bahan hukum

a. Bahan Hukum Primer

Bahan hukum primer didapat dengan melakukan kajian dan

telaahan peraturan perundang-undangan yaitu:

1) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Lembaran Negara

Tahun 1958 Nomor 127

2) Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Buku III Lembaran

Negara Republik Indonesis Tahun 1975 Nomor 12

3) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 30 tahun 1999

tentang Arbitrase Dan Alternatif Penyelesaian Sengketa

Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 138


41

4) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 tahun 2009

tentang Kesehatan Lembaran Negara Republik Indonesia

Tahun 2009 Nomor 144

5) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 tahun 2009

tentang Rumah Sakit Lembaran Negara Republik Indonesia

Tahun 2009 Nomor 153

6) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 29 tahun 2004

tentang Praktik Kedokteran Lembaran Negara Republik

Indonesia Tahun 2004 Nomor 116

7) Kode Etik Kedokteran Indonesia Dan Pedoman Pelaksanaan

Kode Etik Kedokteran Indonesia.

b. Bahan Hukum Sekunder

Bahan hukum sekunder didapat dengan menelaah mengenai

pendapat para ahli Hukum Kesehatan, pendapat para ahli hukum

pidana terkait dengan kelaiaan dan malpraktik medik, pendapat

para ahli Hukum perdata terkait dengan perjanjian teraupetik, daya

mengikat sebuah perjanjian dan konsep mediasi dalam hukum

perdata dan hukum pidana

c. Bahan Non Hukum

Bahan nonhukum didapat dengan melakukan wawancara dengan

praktisi (Mediator Ombudsman Kantor Perwakilan Kalimantan


42

Selatan) dalam kasus malpraktik medik yang berkaitan case yang

dipaparkan pada penulisan ini.

5. Prosedur memperoleh bahan hukum

Proesedur memperoleh balan hukum yaitu dengan melakukan kajian

dan analisis perundang-undangan, mengkaji dari buku-buku yang ditulis oleh

para pakar dibidang yang relevan dengan judul penulisan ini, pengumpulan

data pada instansi yang terkait, melakukan wawancara dengan praktisi hukum

(Mediator)

6. Pengolahan dan analisis bahan hukum

a. Penafsiran Gramatikal

Penafsiran secara tata bahasa, yaitu suatu cara penafsiran undang-

undang menurut arti perkataan (istilah) yang terdapat dalam

undang-undang yang bertitik tolak pada arti perkataan–perkataan

dalam hubungannya satu sama lain dalam kalimat kalimat yang

yang di pakai dalam undang-undang. Dalam hal ini hakim wajib

mencari arti kata-kata yang lazim di pakai dalam bahasa sehari-hari

yang umum, oleh karena itu di pergunakan kamus bahasa atau

meminta bantuan pada para ahli bahasa.

b. Penafsiran Sosilogis

Hakikatnya suatu penafsiran Undang-Undang yang di mulai

dengan cara gramatikal selalu harus di akhiri dengan penafsiran

sosiologis. kalau tidak demikian maka tidak mungkin hakim dapat

membuat suatu keputusan yang benar-benar sesuai dengan


43

kenyataan hukum di dalam masyarakat sehingga dengan demikian

penafsiran sosiologis adalah penafsiran yang disesuaikan dalam

keadaan masyarakat. Misalnya; di Indonesia masih banyak

peraturan yang berlaku yang berasal dari zaman kolonial, sehingga

untuk menjalankan peraturan itu hakim harus dapat menyesuaikan

dengan keadaan masyarakat Indonesia pada saat sekarang.

c. Penafsiran Ekstensif

Penafsiran ekstensif adalah penafsiran yang dilakukan dengan cara

memperluas arti kata-kata yang terdapat dalam peraturan

perundang-undangan sehingga suatu peristiwa dapat dimasukkan

ke dalam.

G. Pertanggungjawaban Sistematika

Penelitian ini menekankan pada penelitian Hukum Normatif di susun secara

sistematika sebagai berikut; :

BAB I. mengatur tentang latar belakang masalah berkaitan dengan isu

hukum yang diangkat, rumusan masalah mengangkat dua isu hukum. Keaslian

Penelitian mengangkat dua penelitian yang hampir serupa namun berbeda baik

dari isu hukum maupun analisa pembahasan, untuk menunjang keaslian penulisan

yang penulis angkat, Tujuan Dan Kegunaan Penelitian terdiri dari kegunaan

teoritis dan kegunaan praktis dari penelitian ini, Tinjaun Pustaka, Metode

Penelitian, Pertanggungjawaban Sistematika Penulisan.


44

BAB II. Memuat mengenai pembahasan dan analisis dari rumusan masalah

daya mengikat kesepakatan mediasi, Mediasi Dalam Kasus kelalaian Medik yang

terdiri dari tiga Sub. Bahasan.

BAB III. Memuat mengenai pembahasan dan analisis Pertanggungjawaban

hukum terhadap kasus kelalaian medik, akibat hukum dan konsekuensi dari

kesepakatan mediasi kelalaian medik yang terdiri dari tiga Sub. Bahasan

BAB IV. Memuat tentang jawaban dari temuan dari hasil penelitian berupa

kesimpulan dan saran penulis.


BAB II

DAYA MENGIKAT KESEPAKATAN MEDIASI TERHADAP KASUS

KELALAIAN MEDIK

A. Kelalaian Medik

Hukum Indonesia mengikuti Civil Law Sistem dimana perbuatan melawan

hukum diartikan sebagai sua tu perbuatan atau kealfaan, yang atau bertentangan

dengan hak orang lain, atau bertentangan dengan kewajiban hukum sipelaku atau

bertentangan kesusilaan maupun dengan keharusan yang harus diindahkan dalam

pergaulan hidup terhadap orang lain atau benda, sedang barang siapa karena

kesalahannya sebagai akibat perbuatan itu telah mendatangkan kerugian pada

orang lain, kewajiban membayar ganti kerugian47

Untuk menentukan apakah seseorang telah melakukan kesalahan maka

harus dilakukan telaahan mendalam terlebih dahulu mengenai kesalahan, Beranjak

dari konsep yang jelas baru dapat dibangun sebuah kontruksi kesalahan/ kelalaian

yang dilakukan oleh seorang tenaga medis. Secara sempit kesalahan dipandang

sama dengan kealfaan. Dengan kata lain, istilah kesalahan digunakan sebagai

sinonim dari sifat tidak berhati-hati.48 Beberapa pandangan yang mengulas

tentang konsep kesalahan.

47
Rosa Agustina. 2004. Perbuatan Melawan Hukum. Jakarta : Program Pasca Sarjana
Fakultas Hukum Indonesia. Cetakan kedua. hlm 72
48
Chairul Huda. 2005. Dari Tiada Pidana Tanpa Kesalahan Kesalahan Menuju Kepada
Pertanggungjawaban Pidana Tanpa Kesalahan. Jakarta : prenada media. hlm 75

44
45

1. Kesalahan dalam KUH Perdata

Dengan dicantumkan syarat kesalahan dalam Pasal 1365 KUH

Perdata, pembuat undang-undang berkehendak menekankan bahwa pelaku

perbuatan melawan hukum hanyalah bertanggungjawab atas kerugian yang

ditimbulkannya apabila perbuatan tersebut dapat dipersalahkan kepadanya.49

Istilah kesalahan (schuld) juga digunakan dalam arti kealfaan

(onrehchtzaamheid) sebagai lawan dari kesengajaan. Kesalahan mencakup

dua pengertian yakni kesalahan dalam arti luas dan kesalahan dalam arti

sempit. Kesalahan dalam arti luas, bila terdapat kealfaan dan kesengajaan;

kesalahan ini terletak pada suatu hubungan kerohanian (psychisch verband)

antara lain alam pikiran dan perasaan subjek dan suatu perkosaan

kepentingan tertentu.50

Pembuat undang-undang menerapkan istilah schuld (kesalahan) dalam

beberapa arti yaitu51 :

a. Pertanggungan jawab si pelaku atas perbuatan dan atas kerugian,

yang ditimbulkan karena perbuatan tersebut.

b. Kealfaan sebagai lawan kesengajaan.

c. Sifat melawan hukum, dalam Pasal 1366 KUH Perdata

menegaskan bahwa “ setiap orang bertanggungjawab, bukan

hanya atas kerugian disebabkan perbuatan-perbuatannya,

melainkan juga atas kerugian yang disebabkan kelalaiannya”.

49
.Opcit. hlm 46
50
Ibid. hlm 46
51
Ibid. hlm 47
46

Unsur kesengajaan dalam perbuatan melawan hukum di anggap ada

apabila dengan perbuatan yang dilakukan dengan sengaja tersebut telah

menimbulkan konsekuensi tertentu terhadap fisik dan/atau mental atau

harta benda korban, meskipun belum merupakan merupakan kesengajaan

untuk melukai (fisik atau mental) dari korban tersebut.52

2. Konsep kesalahan menurut Hukum Pidana

Dari terminologi bahasa, kealfaan mengandung arti kekeliruan yaitu

bahwa sikap batin orang yang menimbulkan keadaan yang dilarang itu

bukannya menentang larangan, bukan pula menghendaki atau menyetujui

timbulnya hal yang dilarang itu, melainkan karena kesalahan, kekeliruan

dalam batin sewaktu berbuat sehingga menimbulkan keadaan yang dilarang

itu, karena ia kurang mengindahkan yang dilarang itu sehingga perbuatan itu

telah terjadi kealfaan, lalai atau teledor. Kealfaan mengandung syarat tidak

mengadakan penduga-duga/ sikap batin sebagaimana yang diharuskan oleh

hukum dan tidak mengadakan penghati-hatian sebagaimana yang

diharuskan oleh hukum. Yang dimaksud dengan tidak menduga-duga dapat

terjadi karena53,

a. Pelaku berpikir bahwa akibat tidak akan terjadi karena

perbuatannya itu, padahal pandangan itu ternyata berlaku tidak

benar, dalam hal ini terjadi kealfaan yang tidak disadari (buweste

culpa), terletak pada kesalahan pikiran/ atau pandangan yang

seharusnya tidak dilakukan.

52
Ibid. hlm. 48
53
Loccit jurnal Widodo Tersno Noviato. hlm
47

b. Pelaku delik sama sekali tidak mempunyai pikiran bahwa akibat

yang dilarang itu mungkin terjadi, karena perbuatannya, masuk

dalam kealfaan yang tidak disadar (onbuweste culpa ) dan tidak

mengadakan penduga-duga karena tidak adanya pikiran sama

sekali bahwa akan terjadi akibat yang fatal karena perbuatannya

itu.

Menurut Simons kesalahan adalah adanya keadaan psychis yang

tertentu pada orang yang melakukan perbuatan pidana dan adanya hubungan

antara keadaaan tersebut dengan perbuatan yang dilakukan yang sedemikian

rupa, hingga orang itu dapat dicela karena melakukan perbuatan tadi54.

Dalam lapangan hukum acara pidana, berkaitan dengan asas Praduga

Tidak Bersalah, kesalahan di artikan sebagai telah melakukan tindak

pidana.55

Dalam hukum pidana, kesalahan dan kelalaian seseorang dapat diukur

dengan apakah pelaku tindak pidana itu mampu bertanggung jawab, yaitu

bila tindakannya itu memuat 4 unsur yaitu56:

a. Melakukan perbuatan pidana (sifat melawan hukum);

b. Di atas umur tertentu mampu bertanggung jawab:

c. Mempunyai suatu bentuk kesalahan yang berupa kesengajaan

(dolus) dan kealpaan/kelalaian (culpa);

d. Tidak adanya alasan pemaaf.

54
Tamsil Iskandar / D 101 08 298.2014. Tinjauan Yuridis Tentang Pembuktian Seorang
Dokter Dalam Melakukan Malpraktek Pelayanan Medis. Jurnal Ilmu Hukum Legal Opinion Edisi
4, Volume 2.
55
Opcit.hlm 74
56
Ibid. hlm 74
48

Dalam kitab Undang-Undang Hukum Pidana, yakni yang seperti

misalnya yang terdapat dalam rumusan-rumusan delik menurut57 :

a. Pasal 338 yang berbunyi: “Hij die opzettelijk een ander van het

leven berooft” Atau barang siapa dengan sengaja merampas

nyawa orang lain.

b. Pasal 359 berbunyi : “Hij aann wiens schuld de dood van een

ander tewijten is” atau barang siapa yang karena salahnya telah

menyebabkan matinya orang lain.

Opzettelijk yang berasal dari perkataan opzet itu, oleh pembentuk

undang-undang telah dipergunakan untuk menunjukkan adanya suatu

kesengajaan atau dolus, sedangkankan perkataan schuld telah

dipergunakannya untuk menunjukkan adanya suatu Ketidaksengajaan atau

suatu culpa.58

Pasal 358 dalam rumusan Bahasa Belanda berbunyi Hij die

opzettelijk een ander van het leven berooft, wordt, als schuldig aan

doodslag, gestraft met gevangenisstraf van ten hoogste vijftien jaren

Menurut Mr. E. M. L Engelbrect telah menerjemahkan rumusan diatas

sebagai barang siapa dengan sengaja menghilangkan nyawa dihukum karena

salahnya pembunuhan, dengan hukuman penjara selama-lamanya lima belas

tahun, sedangkan menurut M. Budiarto, S.H,-K.Wantjik Saleh, S.H., telah

menerjemahkan sebagai barang siapa dengan sengaja menghilangkan nyawa

orang, karena pembunuhan biasa, dipidana dengan pidana penjara selama-


57
P.A.F. Laminantang. 2013. Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia Bandung : Citra
Aditya Bakti. Cetakan kelima. hlm 276
58
Ibid
49

lamanya lima belas tahun, sedangkan menurut R. Soesilo menerjemahkan

barangsiapa dengan sengaja menghilngkan jiwa orang lain, dihukum karena

makar mati, dengan hukuman penjara selama-lamanya lima belas tahun,

sedangkan menurut lamintang, perumusan Pasal 338 KUHP diatas

seharusnya diterjemahkan sebagai berikut : Barangsiapa dengan sengaja

menghilangkan nyawa orang lain, karena bersalah telah melakukan

pembunuhan, dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanyan lima

belas tahun.59

Pasal 359 KUHP di dalam rumusannya dalam Bahasa Belanda

berbunyi “Hij aann wiens schuld de dood van een ander tewijten is, wordt

gestrat met gevangenisstraf van ten hoogste een jar of hectenis van ten

hoogste negen meaden”. Diterjemahkan menurut Mr. E. M. L Engelbrect

yaitu barang siapa karena kesalahannya menyebabkan orang mati, dihukum

dengan hukuman penjara selama-lamanya lima tahun, sedangkan menurut

M. Budiarto, S.H,-K.Wantjik Saleh , S.H., telah menerjemahkan dengan :

barang siapa karena kekhilafannya menyebakan orang mati, dihukum

dengan penjara selama-lamanya lima tahun atau kurungan Selama-lamanya

satu tahun, sedangkan menurut R. Soesilo telah menerjemahkan rumusan

pasal 359 yaitu barang siapa karena salahnya menyebabkan matinya orang

dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya lima tahun atau

kurungan selama-lamanya satu tahun.60

59
Ibid. hlm 279
60
Ibid . hlm 279
50

Kesalahan selalu ditujukan pada perbuatan yang tidak patut, yaitu

melakukan sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan atau tidak melakukan

sesuatu yang seharusnya dilakukan. Menurut ketentuan yang diatur dalam

hukum pidana bentuk-bentuk kesalahan terdiri dari :61

Kesengajaan, yang dapat dibagi menjadi:

a. Kesengajaan dengan maksud, dimana akibat dari perbuatan itu

diharapkan akan timbul, atau agar peristiwa pidana itu sendiri

terjadi;

b. Kesengajaan dengan kesadaran sebagai suatu keharusan atau

kepastian bahwa akibat dari perbuatan itu sendiri akan terjadi,

atau dengan kesadaran sebagai suatu kemungkinan saja.

c. Kesengajaan bersyarat sebagai suatu perbuatan yang dilakukan

dengan disengaja dan diketahui akibatnya, yaitu yang mengarah

pada suatu kesadaran bahwa akibat yang dilarang kemungkinan

besar terjadi.

Jadi, kelalaian merupakan salah satu bentuk kesalahan yang timbul

karena pelakunya tidak memenuhi standar perilaku yang telah ditentukan

menurut undang-undang, kelalaian itu terjadi dikarenakan perilaku orang itu

sendiri.

Namun dalam praktiknya tidaklah mudah untuk menentukan

apakah memang benar terjadi malpraktik medik baik itu kesengajaan (dolus)

ataupun kelalaian (culpa), tidak jarang dalam pelaksanaan penentuan adanya

61
Tamsil Iskandar. Opcit
51

malpraktik medik apakah itu dolus ataupun culpa yang menjadi fokusnya

ada yang mementukan dari akibat yang ditimbulkan akan tetapi juga ada

yang memfokuskan dari causalitas nya, sehingga hal ini menjadi perdebatan

yang tak berujung dari kalangan akedimisi maupun para penegak hukum.

karena untuk membangun kontruksi hukum adanya dugaan malpraktik

medik dalam ranah pidana tidaklah mudah.

Sampai sekarang, hukum kedokteran di Indonesia belum dapat

dirumuskan secara mandiri sehingga batasan-batasan mengenai malpraktik

belum bisa dirumuskan secara tegas, sehingga isi pengertian dan batasan-

batasan malpraktik kedokteran belum seragam bergantung pada sisi mana

orang memandangnya. Undang-Undang Nomor 29 tahun 2004 tentang

Praktik Kedokteran juga tidak memuat tentang ketentuan malpraktik

kedokteran. Pasal 66 ayat (1) mengandung kalimat yang mengarah pada

kesalahan praktik dokter yaitu: “Setiap orang yang mengetahui atau

kepentingannya dirugikan atas tindakan dokter atau dokter gigi dalam

menjalankan praktikkedokteran dapat mengadukan secara tertulis kepada

ketua Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia”. Norma ini

hanya memberi dasar hukum untuk melaporkan dokter ke organisasi

profesinya apabila terdapat indikasi tindakan dokter yang membawa

kerugian, bukan pula sebagai dasar untuk menuntut ganti rugi atas tindakan
52

dokter. Pasal itu hanya mempunyai arti dari sudut hukum administrasi

praktik kedokteran.62

Persoalan malpraktik atau kelalaian kedokteran lebih dititikberatkan

pada permasalahan hukum, karena malpraktik kedokteran adalah praktik

kedokteran yang mengandung sifat melawan hukum sehingga menimbulkan

akibat fatal bagi pasien.63

Dalam teori perrow, yaitu “the perrow’s normal theory” intinya

menyatakan sebagai berikut64 :

a. Dalam sistem tertentu, kecelakaan tidak dapat dihindari sama

sekali.

b. Dalam industry yang komplek dan bertecknologi tinggi maka

kecelakaan merupakan hal yang normal.

Pelaksanaan pelayanan kesehatan teutamanya di rumah sakit

merupakan pekerjaan sulit, rumit, dan komplek serta memerlukan bantuan

teknologi, metode, alat dan oobat-obatan, maka dalam kaitannya dengan

upaya keselamatan pasien yang tertuang dalam “ the national patient safety

foundation” diimpulkan bahwa65 :

a. keselamatan pasien (pasien safety) di artikan sebagai upaya

menghindari dan mencegah adverse event (adverse outcome)

62
Erdiansyah. Pertanggungjawaban Pidana Terhadap Dokter Atas Kesalahan Dan
Kelalaian Dalam Memberikan PelayananMedis di Rumah Sakit . Jurnal Ilmu Hukum Volume 3
HLM 299
63
Ibid hlm.318
64
Nusye K Jayatanti Opcit. hal 106
65
Ibid. hlm107
53

yang disebabkan oleh proses layanan serta meningkatkan mutu

outcomes.

b. Keselamatan pasien tidak hanya bertumpu pada orang (person),

peralatan atau departemen saja,tetapi juga interaksi dari berbagai

komponen dan sistem.

c. Adverse event yang terjadi tidak secara otomatis merupakan bukti

adanya malpractice. Pembuktian malpraktik menghendaki empat

unsur yaitu :

1) Duty

2) Dereliction of duty

3) Damage

4) Direct causation between damage and dereliction of duty

d. Kesalahan diagnosis tidak dapat dikataka sepanjang malpraktise

sepanjang dokter dalam membuat diagnosis telah memenuhi

ketentuan dan prosedur.

e. Dokter dapat dituntut pidana apabila ada tindakannyamemenuhi

rumusan pidana beserta unsure-unsurnya ( mens read dan octus

reus).

f. Tanggung jawab pidana (criminal res[onsibility) selalu bersifat

individual dan personal, tidak dapat di alihkan kepada pihak lain.

g. Dokter juga boleh digugat jikapasien mengalami kerugian akibat

tindakan dokter yang melawan hukum ( onrechtmatige daad)


54

h. Tergugat (evil liability) atas terjadinya malpractice yang di

alihkan oleh dokter dapat di alhkan berdasarkan tanggungrenteng

(doctrine of vicarious liability)

Pertanggungjawaban pidana terhadap dokter atas kesalahan dan

kelalaian dalam memberikan pelayanan medis di rumah sakit, dimana

tanggung jawab dokter dalam bidang hukum pidana suatu perbuatan dapat

dikategorikan sebagai criminal malpractice apabila memenuhi rumusan

delik pidana yaitu : Perbuatan tersebut harus merupakan perbuatan tercela

dan dilakukan sikap batin yang salah yaitu berupa kesengajaan, kecerobohan

atau kealpaan. Kesalahan atau kelalaian tenaga kesehatan dapat terjadi di

bidang hukum pidana, diatur antara lain dalam : Pasal 263, 267, 294 ayat

(2), 299, 304, 322, 344, 347, 348, 349, 351, 359, 360, 361, 531 Kitab

Undang-Undang Hukum Pidana. Ada perbedaan penting antara tindak

pidana biasa dengan tindak pidana medis. Pada tindak pidana biasa yang

terutama diperhatikan adalah akibatnya, sedangkan pada tindak pidana

medik adalah penyebabnya. Walaupun berakibat fatal, tetapi jika tidak ada

unsur kelalaian atau kesalahan maka dokternya tidak dapat dipersalahkan66.

Namun sering kali pasien mencampur adukkan antara akibat dan

kelalaian. Bahwa timbul akibat negatif atau keadaan pasien yang tidak

bertambah baik belum membuktikan adanya kelalaian. Kelalaian itu harus

dibuktikan dengan jelas. Harus dibuktikan dahulu bahwa dokter itu telah

melakukan ‘breach of duty’. Damage berarti kerugian yang diderita pasien

66
Ibid. hlm 319
55

itu harus berwujud dalam bentuk fisik, finansial, emosional atau berbagai

kategori kerugian lainnya, di dalam kepustakaan dibedakan : Kerugian

umum (general damages) termasuk kehilangan pendapatan yang akan

diterima, kesakitan dan penderitaan dan kerugian khusus (special damages)

kerugian finansial nyata yang harus dikeluarkan, seperti biaya pengobatan,

gaji yang tidak diterima. Sebaliknya jika tidak ada kerugian, maka juga

tidak ada penggantian kerugian. Direct causal relationship berarti bahwa

harus ada kaitan causal antara tindakan yang dilakukan dengan kerugian

yang diderita.67

Dalam pengkonstruksian adanya adanya dugaan malpraktik medik

adalah ditentukan berdasarkan unsur-unsur yang harus di penuhi

berdasarkan kausistis tidak dapat disamaratakan pada tiap kasus.

B. Mediasi dalam Kelalaian Medik

Penjelasan mediasi dari sisi kebahasaan (etimologi) lebih menekankan pada

keberadaan pihak ketiga yang menjembatani para pihak bersengketa untuk

menyelesaikan perselisihannya. Penjelasan ini amat penting guna membedakan

dengan bentuk-bentuk alternatif penyelesaian sengketa lainnya seperti arbitrase,

negosiasi, adjudikasi dan lain-lain. Mediator berada pada posisi di ‘tengah dan

netral’ antara para pihak yang bersengketa, dan mengupayakan menemuk

sejumlah kesepakatan sehingga mencapai hasil yang memuaskan para pihak yang

67
Ibid. hlm 318
56

bersengketa. Penjelasan kebahasaan ini masih sangat umum sifatnya dan belum

menggambarkan secara konkret esensi dan kegiatan mediasi secara menyeluruh.

Oleh karenanya, perlu dikemukakan pengertian mediasi secara terminologi yang

diungkapkan para ahli resolusi konflik.68

Hasil dari mediasi adalah menghasilka sebuah kesepakatan yang disetujui

oleh para pihak yang berselisih atau bersengketa yang pada umumnya dituangkan

dalamsebuah perjanjian tertulis untuk dipatuhi dan dilaksanakan oleh para pihak.

Kesepakatn ini bersifatmengkat kedua belah pihak sebagaimana yang tercantum

dalam Pasal 1338 ayat (1). Kesepakatan dari mediasi yang dituangkan dalam

perjanjian tertulis ini di sebut kontrak perdamaian yang di atur dalam pasal 1851

sampaidengan pasal 1864.

Mediasi pada umumnya dikenal sebagai salah satu bentuk Alternatif

Penyelesaian Sengketa dalam hukum perdata, namun dalam perkembangannya

mediasi dapat dilakukan dalam perkara pidana yang dikenal dengan Mediasi

Penal. Mediasi Penal dapat dipergunakan dalam beberapa tindak pidana yang

berkategori khusus. Penerapan mediasi dalam penyelesaian perkara pidana

bertujuan selain tidak memperpanjang suatu konflik antara pelaku dan korban

akan tetapi membantu aparat penegak hukum dalam mengurangi penumpukan

berkas perkara.69

Sengketa mediasi diatur dalam Pasal 130 HIR, Pasal 154 RBG, dan

PERMA No.1 Tahun 2008 tentang Mediasi, dimana dalam Pasal 1 ayat (7)

68
Respiratory University of Riau. Perpustakaan Universitas Riau. Penyelesaian Sengketa
Melalui Mediasi Di Luar Pengadilan Di Indonesia.http://Respiratory.unri.ac.id/
69
Keyzha Natakharisma I Nengah Suantra. Mediasi Dalam Penyelesaian Perkara Pidana
Di Indonesia. Fakultas Hukum Universitas Udayana hlm 1
57

mendefinisikan bahwa mediasi merupakan cara penyelesaian sengketa melalui

proses perundingan untuk memperoleh kesepakatan para pihak dengan dibantu

oleh mediator. Hadirnya mediasi dalam menyelesaikan sengketa medis sangat

beralasan dikarenakan tidak semua permasalahan sengketa medis harus di

selesaikan secara litigasi di pengadilan.70

Dalam pasal 1 Angka 10 Undang-Undang Nomor 30 tahun 1999

menyebutkan bahwa” Alternatif Penyelesaian Sengketa adalah lembaga

penyelesaian sengketa atau beda pendapat melalui prosedur yang disepakati para

pihak, yakni penyelesaian di luar pengadilan dengan cara konsultasi, negosiasi,

mediasi, konsiliasi, atau penilaian ahli. Dari definisi tersebut dapat disimpulkan

bahwa alternatif penyelesaian sengketa merupakan suatu cara penyelesaian

sengketa yang dilakukan diluar pengadilan dan pelaksanaannya diserahkan

sepenuhnya kepada para pihak dan para pihak dapat memilih penyelesaian

sengketa yang akan ditempuh yakni melalui konsultasi, negosiasi, mediasi,

konsiliasi atau meminta penilaian ahli. Hal ini menjadi kehendak bebas

sepenuhnya dari para pihak. Kebebasan untuk memilih bentuk penyelesaian yang

membedakan antara penyelesaian sengketa diluar pengadilan dan penyelesaian

sengketa melalui pengadilan.71

Mediasi merupakan jiwa daripada pancasila yaitu musyawarah untuk

mencapai mufakat, dan pada sekarang ini mediasi menjadi alternatif penyelesaian

sengketa Nonlitigasi yang menjadi pilihan terutama bagi kalangan medis, hal ini

70
Mediasi ( Non Litigasi ) Langkah Awal Penyelesaian Sengketa Medis
http://www.lbhyogyakarta.org/2013/07/mediasi-non-litigasi-langkah-awal-penyelesaian-
sengketa-medis/. 5 juli 2013
71
Jimmy Joses Sembiring. 2011. Cara Menyelesaikan Sengketa di Luar Pengadilan
(Negosiasi, Mediasi, Konsiliasi dan Arbitrase. Jakarta: Transmedia Jakarta.hlm 7.
58

dikarenakan dengan mediasi dapat dilakukan secara cepat, biaya murah dan hal

terpenting adalah masalah kerahasiaan karena hanya diselesaikan oleh para pihak

dan dibantu oleh mediator yang kompeten dan dapat dipercaya.

Aturan tentang mediasi ini lahir dikarenakan pada masa itu dibutuhkannya

investasi asing untuk membantu percepatan perkembangan iklim investasi di

Indonesia, sehingga besarnya desakan pasar dari para investor akan regulasi yang

mengatur adanya penyelesaian sengketa diluar pengadilan maka lahirlah Undang-

Undang Nomor 30 tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian

Sengketa, khusus mengenai alternatif penyelesaian sengeta di atur secara khusus

dan singkat dalam Bab II terdiri dari satu pasal dan sembilan ayat.

Pasal 1 angka 10 Undang-Undang No. 30 Tahun 1999 mendefinisikan

“alternatif penyelesaian sengketa adalah lembaga penyelesaian sengketa atau beda

pendapat melalui prosedur yang disepakati para pihak, yakni penyelesaian di luar

pengadilan dengan cara konsultasi, negosiasi, mediasi, konsiliasi atau penilaian

ahli”. Maksud dari definisi ini dapat disimpulkan bahwa alternatif penyelesaian

sengketa merupakan suatu cara penyelesaian sengketa yang dilakukan diluar

pengadilan dan pelaksanaannya diserahkan sepenuhnya kepada para pihak dan

para pihak dapat memilih penyelesaian sengketa yang dapat ditempuh yakni

melalui konsultasi, negosiasi, mediasi, konsiliasi, atau meminta penilaian dari

ahli.72

72
Jimmy Joses Sembiring. Opcit. hlm.10
59

Pada dasarnya mediasi secara normatif mengandung lima unsure-unsur

sebagai berikut73 :

1. Mediasi adalah sebuah proses penyelesaian sengketa berdasarkan

perundangan.

2. Mediator terlibat dan diterima oleh para pihak yang bersengketa di

dalam perundangan.

3. Mediator bertugas membantu para pihak yang bersengketa untuk

mencari penyelesaian.

4. Mediator tidak mempunyai kewenangan membuat keputusan selama

perundingan berlangsung.

5. Tujuan mediasi adalah untuk mecapai atau meghasilkan kesepakatan

yang diterima pihak-pihak yang bersangkutan guna mengakhiri

sengketa.

Pada umumnya asas- asas yang berlaku pada alternatif penyelesaian

sengketa sebagai berikut74 :

1. Asas itikad baik, yakni keinginan dari para pihak untuk menentukan

penyelesaian sengketa yang akan maupun sedang mereka hadapi.

2. Asas kontraktual, yakni adanya kesepakatan yang dituangkan dalam

bentuk tertulis mengenai cara penyelesaian sengketa.

3. Asas mengikat, yakni para pihak wajib untuk mematuhi apa yang telah

disepakati.

73
Edi As’Ad. Hukum Acara Perdata dalam perpekstif mediasi (ADR) di Indoensia.
2012.Yogyakarta: Graha Ilmu. Hlm 5
74
Jimmy Joses Sembiring. Loccit. Hlm 11
60

4. Asas kebebasan berkontrak, yakni para pihak dapat dengan bebas

menentukan apa saja yang hendak diatur di atur oleh para pihak dalam

perjanjian tersebut selama tidak bertentangan dengan dengan undang-

undang dan kesusilaan.

5. Asas kerahasiaan, yakni penyelesaian atas suatu sengketa tidak dapat

disaksikan oleh orang lain karena hanya pihak yang bersengketa yang

dapat menghadiri jalannya pemeriksaan atas suatu sengketa.

Dari penelitian David Spencer dan Michae Brogan merujuk pada

pandangan Ruth Carlton tentang lima prinsip dasar mediasi. Lima prinsip ini

dikenal dengan lima dasar filsafat mediasi. Kelima prinsip tersebut adalah; prinsip

kerahasiaan (confidentiality), prinsip sukarela (volunteer)prinsip pemberdayaan

(empowerment), prinsip netralitas (neutrality), dan prinsip solusi yang unik (a

unique solution).75

Para pihak (inpersoon) dalam hal ini sepakat untuk menyelesaikan perkara

mereka dengan jalan mediasi, maka secara tidak langsung mereka membuat

kontrak tidak tertulis bahwa mereka telah sepakat menyelesaikan secara mediasi.

Setiap perjanjian atau kesepakatan yang dibuat tentu mempunyai akibat hukum,

dalam pasal 1338 ayat (1) menyebutkan bahwa ” bahwa setiap persetujuan yang

dibuat secara sah berlaku sebagai undang – undang bagai mereka yang

membuatnya”. Hal ini dimaknai bahwa setiap persetujuan yang dibuat para pihak

adalah mengikat para pihak.

75
Opcit Respiratory University of Riau. Perpustakaan Universitas Riau
61

Sebelum membahas syarat sah dalam kontrak maka penulis paparkan

terlebih dahulu mengenai asas –asas dalam kontrak yang harus yaitu76 ;

1. Asas Konsensualisme

Asas konsensualisme sering di artikan bahwa dibutuhkan kesepakatan

untuk lahirnya kesepakatan. Pengertian ini tidak tepat karena maksud asas

konsensualime ini adalah bahwa lahirnya kontrak ialah pada saat

terjadinya kesepakatan. Dengan demikian, apabila tercapai kesepakatan

antara para pihak, lahirlah kontrak walau kontrak itu belum dilaksanakan

pada saat itu. Asas konsensualisme ini tidak berlaku terhadap kontrak

formal dan kontrak riel.

2. Asas kebebasan berkontrak

Asas kebebasan berkontrak merupakan merupakan salah satu asas

yang sangat penting dalam hukum kontrak. kebebasan berkontrak ini oleh

sebagian sarjana hukum biasanya di dasarkan pada pasal 1338 ayat (1).

3. Asas mengikatnya kontrak (Pacta Sunt Servanda)

Setiap orang yang membuat kontrak, dia terikat untuk memenuhi

kontrak tersebut karena kontrak tersebut mengandung janji-janji yang

harus dipenuhi dan janji tersebut mengikat para pihak sebagaimana

mengikatnya undang-undang. Hal ini di atur dalam pasal 1338 ayat (1)

yang menyatakan bahwa semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku

sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya.

76
Ahmadi Miru, Opcit hlm 3
62

4. Asas Itikad Baik

Asas itikad baik merupakan salah satu asas yang dikenal dalam

hukum perjanjian. Ketentuan tentang itikad baik ini diatur dalam pasal

1338 ayat (3) bahwa perjanjian harus dilaksankan dengan itikad baik.

Sementara itu Arrest H.R di negeri Belanda memberikan peranan tertinggi

terhadap itikad baik, bukan lagi pada teori kehendak. Begitu pentingnya

itikad baik tersebut sehingga dalam perundingan-perundingan atau

perjanjian antar para pihak, kedua belah pihak akan berhadapan dalam

suatu hubungan hukum khusus yang dikuasai oleh itikad baik dan

hubungan khusus ini akan membawa akibat lebih lanjut kedua belah pihak

itu harus bertindak dan mengingat kepentingan-kepentingan yang wajar

bagi pihak yang lain.

Agar suatu kontrak oleh hukum di anggap sah sehingga mengikat

kedua belah pihak, maka kontrak tersebut haruslah memenuhi syarat-syarat

tertentu. Syarat syah kontrak tersebut dapat digolongkan sebagai berikut77:

1. Syarat Sah Yang Umum

a. Syarat sah umum berdasarkan pasal 1320 KUH Perdata,

yang terdiri atas :

1) Kesepakatan kehendak;

2) Wewenang berbuat

3) Perihal tertentu;

4) Kausa yang legal.

77
Munir Fuadi Opcit hlm 27
63

b. Syarat sah yang umum diluar Pasal 1338 dan 1339 KUH

Perdata, yang terdiri atas :

1) Syarat itikad baik;

2) Syarat sesuai dengan kebiasaan;

3) Syarat sesuai dengan kepatutan;

4) Syarat sesuai dengan kepentingan umum;

2. Syarat Sah Yang Khusus

a. Syarat tertulis untuk kontrak-kontrak tertentu;

b. Syarat akta notaris untuk kontrak-kontrak tertentu;

c. Syarat akta pejabat tertentu (yang bukan notaris) untuk

kontrak-kontrak tertentu;

d. Syarat izin dari yang berwenang.

Lebih lanjut Ahmadi Miru dalam bukunya menjelaskan mengenai

keempat syarat sahnya perjanjian sebagaimana di atur dalam pasal 1320

BW tersebut diatas akan diuraikan sebagai berikut78:

1. Kesepakatan

Kesepakatan para pihak merupakan unsur mutlak untuk terjadinya

suatu kontrak, kesepakatan ini dapat terjadi dengan berbagai cara, namun

yang paling penting adalah adanya penawaran dan penerimaan atas

penawaran tersebut. Cara-cara terjadinya penawaran dan penerimaan dapat

dilakukan secara tegas maupun dengan tidak tegas, yang penting dapat

78
Ahmadi Miru Opcit hlm14
64

dipahami atau dimengerti oleh para pihak bahwa bahwa telah terjadi

penawaran dan penerimaan.

Berdasarkan berbagai cara terjadinya kesepakatan tersebut di atas,

secara garis besar terjadinya kesepakatan yang terjadi secara tidak tertulis

tersebut dapat berupa kesepakatan lisan, simbol-simbol tertentu, atau

diam-diam.

Seseoarang yang melakukan kesepakatan secara tertulis biasanya

dilakukan baik dengan akta dibawah tangan maupun dengan akta autentik.

Disamping itu dengan cara-cara di atas, dapat pula terjadi suatu

kontrak dengan perantaraan elektronik yang walaupun penawaran dan

penerimaan atau kesepakatan terjadi secara tertulis (dapat di baca), namun

kedudukannya berbeda dari kontrak tertulis sebagaimana tersebut di atas

tetapi merupakan sebagai sarana untuk menyampaikan isi penawaran dan

penerimaan antara para pihak.

Kesepakatan secara lisan merupakan bentuk kesepakatan yang

banyak terjadi dalam masyarakat, namun kesepakatan secara lisan ini

kadang tidak disadari sebagai suatu perjanjian padahal sebenarnya sudah

terjadi perjanjian antara para pihak yang satu dengan pihak yang lainnya.

Kesepakatan yang terjadi dengan menggunakan simbol-simbol

tertentu sering terjadi pada penjual yang hanya menjual satu macam jualan

pokok.

Kesepakatan dapat terjadi hanya dengan berdiam diri, misalnya

dalam hal perjanjian pengangkutan.


65

Berdasar syarat sahnya perjanjian tersebut di atas, khususnya syarat

kesepakatan yang merupakan penentu terjadinya atau lahirnya perjanjian.

Berarti bahwa tidak adanya kesepakatan para pihak, tidak terjadi kontrak.

2. Kecakapan

3. Hal tertentu

4. Sebab yang halal

Dalam menentukan pilihan pendekatan dalam menyelesaikan

konflik, maka sebaiknya perlu kajian dulu apa yang menjadi keunggulan

pendekatan terutama para pihak yang memilih mediasi dibandingkan

dengan penyelesaian di pengadilan, hal ini bisa dilihat dari beberapa hal

(karakteristik) yang mendasar di bawah ini79 :

Karateristik Pengadilan Mediasi

Sifat Tidak sukarela, karena Sukarela, karena

hakim yang memiliki kesepakatan para

kewenangan selama pihaklah yang akan

proses berlangsung menentukan proses dan

hasil

Pihak pemutus Hakim Para pihak

Kekuatan Mengikat dan memiliki Mengikat apabila

kekuatan memaksa terjadi kesepakatan

(eksekutorial), tapi sebagai kontrak /

dimungkinkan upaya perjanjian dan tertutup

79
http://imenetwork.org/wp-content/uploads/2012/06/negosiasi.jpg. dikutip 15 Agustus 2017
66

hukum lanjutan upaya banding (final)

(banding, kasasi)

Pihak ketiga Adalah hakim yang adalah mediator/pihak

ditetapkan oleh ketua netral yang dipilih

Pengadilan dan secara sukarela oleh

umumnya tidak para pihak dan biasanya

memiliki keahlian pada memiliki keahlian pada

objek persengketaan objek persengketaan

Aturan pembuktian Mengacu pada hukum Tidak ada khusus,

acara yang sudah ada tergantung prosedur

(formal) yang disepakati para

pihak

Proses Masing-masing pihak Tawar-menawar

menyampaikan bukti melalui perundingan

hukum (negosiasi/ dialog/

musyawarah mufakat)

Hasil Berupa putusan hakim Berupa kesepakatan

yang menyatakan satu para pihak yang

pihak menang (benar) dituangkan dalam

dan pihak lain kalah perjanjian atau kontrak

(salah). Pihak yang yang dapat diperkuat

kalah masih menjadi akte autentik

dimungkinkan sampai pada ketetapan


67

mengajukan upaya pengadilan

hukum lanjutan seperti

banding, kasasi hingga

Peninjauan kembali

Pelaksanaan Harus terbuka untuk Tertutup untuk umum,

umum, jika tidak maka kecuali ada pihak-pihak

putusan hakim batal yang disetujui para

demi hukum pihak untuk hadir

Pada rumusan Pasal 6 Ayat (3) dikatakan bahwa kesepakatan tertulis

para pihak” sengketa beda pendapat diselesaikan melalui bantuan”

seorang atau lebih penasihat ahli maupun melalui seorang mediator.80

Sebuah mediasi dikatakan berakhir apabila mediasi tersebut

mencapai sebuah kesepakatan yang dapat diterima oleh para pihak,

sehingga sebuah mediasi dikatakan berhasil apabila81 ;

1. Sudah ada kesepakatan atau hasil yang dicapai para pihak mengenai

permasalahan sengketanya.

2. Salah satu pihak atau kedua belah pihak sepakat untuk tidak

melanjutkan persengketaan.

3. Salah satu pihak atau kedua belah pihak tidak menerima hasil-hasil

yang dirumuskan mediator.

80
Sudiarto. 2013. Negosiasi, Mediasi dan Arbitrase Penyelesaian Sengketa Alternatif di
Indonesia. Bandung : Pustaka Reka Cipta
81
Ibid
68

Menurut Undang-Undang No. 30 tahun 1999, kesepakatan

penyelesaian sengketa atau beda pendapat secara tertulis adalah final dan

mengikat bagi para pihak untuk di laksanakan dengan itikad baik.

Kesepakatan tertulis tersebut wajib didaftarkan dipengadilan negeri dalam

waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari paling lama terhitung sejak

persetujuan dan penandatanganan dan wajib dilaksanakan dalam waktu

paling lama 30 (tigapuluh) hari sejak pendaftaran dipengadilan itu.82

Berdasarkan paparan diatas, maka maka sengketa medik merupakan

hukum khusus (lex specialis) ditangani secara khusus pula. Sengketa

medik yang ada, harus diselesaikan melalui peradilan profesi terlebih

dahulu, berdasar pada teori 83:

1. Ksepakatan Masyarakat International PBB

2. Piagam Atlantik 1942, piagam PBB 1945, UDHR 1948

3. Deklarasi atau Konvensihukum kesehatan international.

4. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 Tentang Kesehatan Pasal 54,

yang berbunyi :

a. Terhadap tenaga kesehatan yang melakukan kesalahan atau

kelalaian dalam melaksanakan profesinya dapat dikenakan

tindakan disiplin

b. Penentuan ada tidaknya keslahan atau kelalaian sebagaimana

dimaksudayat (1) ditentukan oleh Majelis Disiplin Tenaga

Kesehatan.
82
Sudiharto. 2013. Negosiasi, Mediasi, dan Arbitrase Penyelesaian sengketa alternatif di
indonesia. Bandung : Pustaka Reka Cipta
83
Nusye K Jayanti. Opcit hlm 108
69

c. Ketentuan mengenai pembentukan tugas, fungsi, dan tata kerja

Majelis Disiplin Tenaga Kesehatan ditetapkan dengan Keputusan

Presiden.

5. Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang praktik kedokteran,

Pasal 1 Poin 14, yang berbunyi : “Majelis Kehormatan Disiplin

Kedokteran Indonesia adalah lembaga yang berwenang untuk

menentukan ada tidaknya kesalahan yang dilakukan oleh dan dokter

gigi dalam penerapandisiplin ilmu kedokteran dan kedokteran gigi dan

menetapkan sanksi”.

6. Surat Edaran Petunjuk Rahasia dari Kejaksaan Agung No:B006/R-

3/I/1982, Jaksa Agung, Tanggal 19 Oktober 1982 tentang “Perkara

Profesi Kedokteran” bahwa agar tidak meneruskan perkara sebelum

konsultasi dengan pejabat dinas kesehatan setempat atau departemen

kesehatan Reublik Indonesia.

7. Keputusan Mahkamah Agung No:4/PVV-V/2007, bahwa sengketa

medic diselesaikan terlebih dahulu melalui Peradilan Profesi.

Berikut ini penulis paparkan beberapa kasus dengan melakukan

pengumpulan data yang berkaitan dengan mediasi dalam hal kelalaian

medik berdasarkan data yang penulis atau penelitian ini melalui

permintaan data pada Kantor Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan

Provinsi Kalimantan Selatan bedasarkan surat permohonan ijin

pengumpulan data dengan Nomor: 0166/UN84.1.11/PS/2017 ;


70

1. Berdasarkan laporan dari masyarakat atas Nama Agus Triyono

(selaku kuasa dari Bapak Kusnen) yang beralamat di Desa Kasiau

Kecamatan Murung Pudak RT.02 Kabupaten Tabalong. Pada

pokoknya mengadukan dugaan malpraktik yang terjadi saat tindakan

operasi yang dilakukan pada tahun 2006 di Rumah Sakit Umum

Daerah Pembalah Batung Amuntai Kabupaten Hulu Sungai Utara,

yang diduga mengakibatkan tertinggalnya kain kasa di dalam tubuh

pasien atas nama Kusnen. Setelah menjalani operasi, keadaan

Kusnen bukannya membaik malah terus memburuk, perut Kusnen

mengalami pembengkakan kemudian muncul bisul bernanah yang

pecah bercampur darah disertai badan panas dan tidak bias kencing

secara normal hal tersebut berlangsung selama 7 tahun, sakit yang

tak kunjung hilang dan karena keterbatasan biaya kondisi tersebut

hanya di obati di puskesmas terdekat saja.dari hari kehari bahkan

sampai tahun ketahun kondisi Kusnen terus memburuk bertahun

tahun hidup dalam keadaan menahan sakit tanpa dapat melakukan

aktifitas sehari-hari. Setelah sekian lama dan kondisi semakin parah

akhirnya keluarga membawa Kusnen untuk berobat kerumah sakit di

Tabalong namun karena peralatan medis yang terbatas, Kusnen di

rujuk ke Rumah Sakit Daerah Ulin di Banjarmasin, pada akhir

Oktober 2013 Kusnen menjalani pemeriksaan. Berdasarkan hasil

rontgen didapat bahwa ada perban diperut bagian kanan bawah

bagian yang bekas di operasi 7 tahun yang lalu. Kemudian keluarga


71

yang diwakili oleh Agus Triono sebagai anak dari Kusnen

melaporkan kepada Ombudsman Perwakilan Kalimantan Selatan.

Dari gambaran kronologis tersebut maka dapat buat perjanjian damai

dengan Surat Perjanjian Damai (Acte Van Dading) dengan Nomor:

001/0131/LM/II/Bjm-02/2014, antara Rumah Sakit Daerah

Pambalah Batung. Amuntai Kabupaten Hulu Sungai Utara dengan

Bapak Agus Triono (Anak Kandung/Kuasa dari Sdr. Kusnen). Pada

hari selasa Tanggal 18 (Delapan Belas) Bulan Februari Tahun Dua

Ribu Empat Belas (2014) bertempat dikantor Ombudsman Indonesia

Perwakilan Klaimanta Selatan Jalan Sultan Adam RT. 03 NO. 23

Kelurahan Surgimufti Banjarmasin (70122).

Menerangkan para pihak yang mana Pihak Pertama yang diwakili

oleh Agus Triono selaku anak kandung dari Bapak Kusnen sedangkan

Pihak Kedua yang diwakili oleh Dr. dr. I Nyoman Gde Anom selaku

Direktur RSUD Pambalah Batung Amuntai.

Menerangkan terlebih dahulu hal-hal sebagai berikut :

a. Bahwa antara pihak pertama dan pihak kedua telah terjadi

permasalahan/perselisihan hukum sehubungan dengan dugaan

kasus malpraktik yang diduga dilakukan oleh salah satu tenaga

dokter di RSUD Pembalah Batung saat melakukan operasi pada

saudara Kusnen (ayah kandung bapak Agus Triono);

b. Bahwa sehubuungan dengan hal tersebut di atas Pihak Pertama

dan Pihak Kedua sepakat untuk menyelesaikan


72

permasalahan/perselisihan hukum diluar pengadilan (out of

court settlement) atau dilakukan dengan mediasi oleh

Ombudsman Perwakilan Kalimantan Selatan;

c. Bahwa Pihak Kedua bersedia melaksanakan kewajiban hukum

sebagaimana yang telah disepakati dengan Pihak Pertama.

Selanjutnya kedua belah pihak sepakat untuk mengikatkan diri

dalam surat perjanjian perdamaian dengan ketentuan dan syarat sebagai

berikut:

a. Pihak Pertama bersedia tidak melakukan pengaduan apapun,

lisan maupun tulisan, bersedia tidak akan melakukan

rencana/perbuatan tuntutan atau gugatan apapun terhadap pihak

kedua, karena tuntut menuntut atau gugat menggugat pada

akhirnya hanya akan merugikan para pihak, baik moril maupun

materil;

b. Pihak pertama menyatakan bahwa pihak kedua tidak bersalah

apapun dan tidak dibebankan tanggungjawab hukum apapun

terhadap peristiwa yang menimpa pihak pertama dan pihak

pertama menjamin tidak ada lagi keluhan, aduan, gugatan,

tuntuntan, ancaman, paksaan atau cara apapun terhadap pihak

kedua yang dilakukan oleh pihak pertama atau pihak manapun

yang mengatasnamakan atau bersimpati kepada pihak pertama;

c. Pihak kedua menyetujui ;


73

1) Bertanggungjawab penuh atas perawatan dari pasien (saudara

Kusnen)

2) Memberikan bantuan kemanusiaan kepada pihak pertama

sebesar Rp. 125.000.000,- (seratus duapuluh lima juta rupiah)

sebagai tanda prihatin/simpati/tali asih terhadap saudara

Kusnen ( ayah kandung bapak Agus Triono) atas kejdian

yang menimpa pihak pertama dan surat perjanjian

perdamaian (acte van dading) ini merupakan alat bukti yang

sah atas pemberian bantuan kemanusiaan tersebut.

d. Pihak pertama degan ini menerima dengan baik bantuan

kemanusiaan sebagaimana tersebut butir 3 di atas serta dengan

ini pihak pertama membebaskan pihak kedua dari segala

tuntutan hukum, baik secara perdata maupun pidana, tuntutan

disiplin dan atau etika;

e. Bahwa segala permasalahan dan urusan yang berkenaan antara

pihak pertama dengan pihak kedua di atas dinyatakan selesai

dengan tuntas;

f. Bahwa selanjutnya dengan ini para pihak telah saling

memberikan tanda bebas dan lunas sepenuhnya antara pihak

yang satu dengan pihak yang lain tidak akan ada gugat

menggugat dan/atau tuntut menuntut lagi dalam bentuk apapun

dan dengan cara bagaimanapun mengenai hal-hal tersebut diatas,

baik sekarang maupun yang akan datang;


74

g. Bahwa pernyatan dimaksud dalam butir di atas, merupakan

bagian yang terpenting dan tidak dapat ditarik oleh para pihak

baik sekarang maupun yang akan datang;

h. Para pihak berpendapat bahwa permasalahan ini di nyatakan

telah selesai dengan tuntas, melalui jalan musyawarah mufakat

damai, dan perdamaian ini mengakhiri semua sengketa maupun

pengaduan dan semua proses pemeriksaan baik ditingkat

Kepolisian, Kejaksaan, Pengadilan dan mencegah timbulnya

perkara,baik perdata maupun pidana serta perdamaian ini tidak

dapat dibantah atau dibatalkan dengan alasan apapun juga;

i. Perjanjian perdamaian ini, penafsiran dan pelaksanaannya, serta

segala akibat yang timbul darinya di atur dan tunduk kepada

hukum yang berlaku di Negara Republik Indonesia;

j. Apabila suatu ketentuan dalam perjanjian perdamaian ini karena

suatu alasan di nyatakan sebagai tidak berlaku, tidak sah atau

tidak dapat dilaksanakan, maka ketentuan lain dari perdamaian

ini tetap berlaku dan mengikat sepenuhnya;

k. Perjanjian perdamaian ini ditandatangani dalam Bahasa

Indonesia dan telah dibaca oleh para pihak serta isinya telah

dipahami.

2. Kasus kedua adalah berdasar laporan pada Bulan Mei 2013 dengan

Nomor : 0122/KLA/0064.2013/bjm-02/V/2013 dengan uraian

menurut pelapor sebagai berikut ;


75

a. Selasa sore 7 Mei 2013 pihak keluarga membawa Ilmalia Ika

Hastuti (korban) yang sedang hamil 37 minggu Ke Rumah Sakit

Umum Daerah Ulin Banjarmasin dengan maksud hanya untuk

mendapatkan perawatan lebih lanjut perihal adanya Hipertensi

yang dialami oleh korban, hasil pemeriksaan dokter dan catatan

hasil pemeriksaan setiap bulannya, mempridiksikan kelahiran

bayi sekitar bulan Juni mendatang;

b. Setelah dilakukan perawatan oleh rumah sakit, tanpa disertai

penjelasan resiko penggunaan obat perangsang dan pilihan

terbaik atau akibat-akibat yang terjadi. Pihak Rumah Sakit

mengambil tindakan melakukan tiga kali suntikan Induksi

(perangsang) sehingga tindakan persalinanpun dilakukan;

c. Selain itu, pihak rumah sakit juga tidak menyampaikan kepada

keluarga untuk menyiapkan darah, sehingga terjadi

keterlambatan dalam memberikan darah kepada korban yang

diduga mengakibatkan nyawa Ilmalia Ika Hastuti (anak pelapor)

tidak terselamatkan padahal menurut pelapor kondisi korban

sebelumnya dalam keadaan sehat;

d. Pelapor juga menduga adanya ketidakprofesionalan pelayanan

oleh RSUD Ulin, menyebabkan bayi yang dilahirkan sekitar 10

jam dirawat, juga turut meninggal dunia, padahal pihak keluarga

baru saja selesai menguburkan jasad ibunya;


76

e. Atas kejadian tersebut keluarga korban atau pelapor merasa

kecewa dan meminta RSUD Ulin Banjarmasin menjelaskan dan

bertanggungjawab atas persoalan tersebut, baik dengan

menjelaskan tindakan medis yang dilakukan, meminta maaf

kepada keluarga korban, serta memberikan sanksi yang tegas

kepada oknum yang terbukti melakukan penyimpangan prosedur

dn malpraktik sehingga menyebabkan dua nyawa melayang

yaitu ibu dan anak;

Setelah dilayang suraat pemanggilan kepada pihak terlapor serta

berkoordinasi dengan MKDKI dan Ombudsman RI di Jakarta dalam

rangka analisis laporan dan tindaklanjut penanganan penyelesaian laporan,

maka para pihak baik pelapor dan pihak terlapor bersepakat menunjuk

Bagian Hukum RSUD Ulin Banjarmasin sebagai mediator dan Kantor

Perwakilan Ombudsman Kalsel sebagai Co Mediator, yang mana pihak

pelapor sebagai pihak pertama diwakili oleh Ibu (orang tua korban) dan

pihak terlapor adalah Dokter Penanggung Jawab Pasien (DPJP) pada

RSUD Daerah Ulin Banjarmasin, dengan ini menyepakati beberapa hal

dengan Penutupan Laporan/Pengaduan Masyarakat dengan Nomor:

0277/SRT/0064.2013/bjm-02/XI/2013 dengan materi kesepakatan sebagai

berikut :
77

a. Pihak kedua yaitu dokter Penanggngjawab pasien

menyampaikan permohonan maaf, jika dalam pelayanan yang

diberikan kepada Alm. Ny. Ilmalia Ika Hastuti 32 tahun, dengan

Nomor RMK 1047526 selama dirawat di RSUD Ulin terdapat

kekhilafan yang tidak disengaja;

b. Selama proses perawatan pihak kedua sama sekali tidak ada niat

mencelakakan pasien;

c. Pihak pertama menerima permohonan maaf dari pihak kedua

dengan hati yang ikhlas dan rasa lapang dada;

d. Para pihak sepakat berdamai dan menandatangani kesepakatan

damai dan menyampaikan persoalan di antara para pihak selesai;

e. Pihak pertama bersepakat tidak akan membawa persoalan ini ke

jalur hukum atau lembaga manapun dan menyatakan mencabut

semua laporan yang telah disampaikan.

C. Legitimasi Kesepakatan Mediasi dalam Kelalaian Medik

Mediasi pada prinsipnya diberlakukan untuk perkara perdata yang di atur

secara jelas dalam Undang-Undang Nomor 30 tahun 2009, akan tetapi semakin

kesini mediasi juga mulai di beri ruang dalam hukum pidana hal ini terlihat dalam

beberapa peraturan terbaru seperti dalam mediasi penal pada Tindak Pidana

Lingkungan Hidup (TPLH) akan tetapi diberi batasan pada jenis dan besarnya

tindak pidana yang dilakukan , dan dalam praktiknya mediasi juga di gunakan

oleh para praktisi hukum dalam kasus dugaan malpraktik medik seperti pada
78

paparan kasus yang penulis uraikan di atas, sehingga menjadi pertanyaan dan

perlu kajian lebih dalam berkaitan legitimasinya.

Seperti yang diutarakan dalam Teori John Locke bahwa perlindungan hak-

hak kodrati merupakan basis pendirian negara, dimana kekuasaan negara yang

diberikan rakyat lewat kontrak sosialnya dan dilaksanakan melalui hukum yang

dibentuk adalah ditujukan untuk melindungi hak-hak kodrati dari bahaya-bahaya

yang mungkin mengancam keberadaan pemenuhan hak-hak dasar tersebut.

Meskipun Locke tidak secara eksplisit menyebutkan bahwa kesehatan adalah

salah satu hak dasar, namun kesehatan adalah salah satu unsur yang menunjang

manusia dalam menjalani dan mempertahankan hidupnya.84

Setiap tindakan medis selalu mengandung resiko, hal ini dikarenakan setiap

orang mempunyai genetiknya yang berbeda-beda, sehingga setiap tindakan yang

sama pada orang yang berbeda akan mempunyai respon yang berbeda pula. Hal

ini tidak dipahami oleh semua orang, sehingga tidak jarang dalam praktiknya,

tindakan medis menimbulkan hasil yang tidak sesuai harapan bagi pasien dan

keluarga menimbulkan kekecewaan, tergantung besar kecil harapan dan

penerimaan pasien dan keluarga. Praktik dilapangan juga tidak jarang terjadi

kelalaian atau kesalahan oleh tenaga medis dalam menjalankan prosedur

tindakan, juga menimbulkan kekecewaan bagi pasien dan kelurga, bahkan

kelalaian tersebut dapat mengakibatkan cacat permanen yang mengakibatkan

orang tersebut tidak dapat melakukan aktifitas sehari-hari bahkan sampai pada

84
Evalina Alissa Dan Arrie Budhiartie. Eksistensi Lembaga Mediasi Sebagai Sarana
Penyelesaian Sengketa Medis. Majalah Hukum Forum Akedemika.
79

kematian. Beragam permasalahan dibidang kesehatan membuat kedudukan

hukum menjadi penting.

Bahwa perilaku dokter sebagai manusia biasa, bukan sebagai malaikat,

dalam hal-hal tertentu bias saja berlaku salah karena kelalaiannya (bukan

dolus/kesengajaan) yang dirasakan merugikan pasien, sudah barang tentu akibat

terhadap pasien itu di evaluasi oleh Tim “Medical Audit” (medical review

Malpractice Commision). Selanjutnya jika kesimpulan perlu diangkat menjadi

sengketa hukum, maka dapat ditempuh penyelesaian terbaik sesuai dengan hukum

undang-undang kesehatan dan bukan konfrontasidi hukum umum dalam perkara

kriminal yang berlarut-larut memakan waktu dan tenaga karena interprestasinya

lemah, sedangkan pasien menjadi tidak terurus sebagaimanamestinya dalam

pelayanan kesehatan.85

Hukum dijadikan sebagai alat untuk mengatur dan menyelesaikan sengketa

medis. Sengketa medis meliputi86 :

1. Sengketa yang terjadi dalam hubungan antara dokter dan pasien;

2. Obyek sengketa adalah upaya penyembuhan yang dilakukan oleh

dokter;

3. Pihak yang merasa dirugikan dalam sengketa medis ialah pasien baik

kerugian berupa cacat/luka bahkan menuju pada kematian;

85
Nusye KJayanti. Opcit Hlm 112
86
http://www.lbhyogyakarta.org/2013/07/mediasi-non-litigasi-langkah-awal-
penyelesaian-sengketa-medis/dikutip 15 Agustus2017
80

4. Kerugian yang diderita pasien disebabkan oleh adanya dugaan

kesalahan dan kelalaian dari dokter.

Sesuai dengan Pasal 29 UU 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan “Dalam hal

tenaga kesehatan diduga melakukan kelalaian dalam menjalankan profesinya,

kelalaian tersebut harus di selesaikan terlebih dahulu melalui mediasi”. Selain

itu, mediasi bisa juga dilakukan oleh MKDKI (Majelis Kehormatan Disi plin

Kedokteran Indonesia) sebagai lembaga yang menjaga marwah kehormatan

dokter/dokter gigi dalam menjalankan disiplin keilmuan kedokteran. Majelis ini

merupakan lembaga otonom KKI (Konsil Kedokteran Indonesia) yang

keberadaannya berdasarkan Pasal 1 ayat 14 UU No. 29 Tahun 2004 tentang

Praktik Praktek Kedokteran. Tugas MKDKI adalah menegakkan aturan-aturan

dan ketentuan penerapan keilmuan kedokteran dalam pelaksanaan pelayanan

medis yang seharusnya diikuti oleh dokter dan dokter gigi. Oleh karena itu,

MKDKI merupakan badan yang ditunjuk oleh KKI untuk menangani kasus-kasus

dugaan pelanggaran disiplin kedokteran atau kedokteran gigi dan menetapkan

sanksi dimana penyelesaian dilakukan secara mediasi87.

Menurut Mudzakkir mengemukakan beberapa kategorisasi sebagai tolok

ukur dan ruang lingkup terhadap perkara yang dapat diselesaikan di luar

pengadilan melalui Mediasi Penal adalah sebagai berikut88:

87
Ibid
88
Mudzakkir, Dalam I Made Agus Mahendra Iswara, “Mediasi Penal Penerapan Nilai-
Nilai Restoratif Justice dalam Penyelesaian Tindak Pidana Adat Bali”, Tesis, Program
Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Jakarta, 2013, h.55-56.
81

1. Pelanggaran hukum pidana tersebut termasuk kategori delik aduan, baik

aduan yang bersifat absolut maupun aduan yang bersifat relatif.

2. Pelanggaran hukum pidana tersebut memiliki pidana denda sebagai

ancaman pidana dan pelanggar telah membayar denda tersebut (Pasal

80 KUHP)

3. Pelanggaran hukum pidana tersebut termasuk kategori “pelanggaran”,

bukan “kejahatan”, yang hanya diancam dengan pidana denda.

4. Pelanggaran hukum pidana tersebut termasuk tindak pidana di bidang

hukum administrasi yang menempatkan sanksi pidana sebagai ultimum

remedium.

5. Pelanggaran hukum pidana tersebut termasuk kategori ringan/serba

ringan dan aparat penegak hukum menggunakan wewenangnya untuk

melakukan diskresi.

6. Pelanggaran hukum pidana biasa yang dihentikan atau tidak diproses ke

pengadilan (Deponir) oleh Jaksa Agung sesuai dengan wewenang

hukum yang dimilikinya.

7. Pelanggaran hukum pidana tersebut termasuk kategori pelanggaran

hukum pidana adat yang diselesaikan melalui lembaga adat.

Hasil akhir dari lembaga perdamaian itu sendiri adalah tercapainya

perdamaian sebagai pengakhiran konflik sutau perkara, secara outentik perdamian

dapat dibuktikan atau dinyatakan dalam bentuk tertulis, perdamaian harus

dilakukan oleh semua pihak yang terlibat dalam perkara dan oleh orang yang

mempunyai kuasa untuk itu, dan ditetapkan dengan akta perdamaian yang
82

mempunyai kekuatan hukum dan sifatnya final. Jadi sebelum pemeriksaan perkara

dilakukan hakim dipengadilan negeri selalau mengupayakan perdamaian para

pihak di persidangan.89

Edi As’Ad. Opcit. Hlm 69


89
BAB III

LANGKAH HUKUM APABILA TERJADI PENGINGKARAN

TERHADAP HASIL KESEPAKATAN MEDIASI KELALAIAN MEDIK

A. Konsekuensi Kesepakatan Mediasi Kelalaian Medik

Sebuah kesepakatan terlahirkan apabila adanya penerimaan di antara para

pihak yang bersengketa menerima hal pokok atau unsur esensial dari sebuah

permasalahan yang mereka hadapi.

Setiap perjanjian sudah barang tentu memiliki akibat-akibat hukum. Pasal

1338 ayat (1) menentukan bahwa setiap persetujuan yang dibuat secara sah

berlaku sebagai undang – undang bagai mereka yang membuatnya. Ini berarti

setiap persetujuan mengikat para pihak. Dari perkataan “setiap” dalam pasal diatas

dapat disimpulkan asas kebebasan berkontrak.

Kebebasan berkontrak ini dibatasi oleh hukum yang sifatnya memaksa.

Sehingga para pihak yang membuat persetujuan harus mentaati hukum yang

sifatnnya memaksa tersebut. Misalnya terhadap pasal 1320. Ayat 2 pasal diatas

merupakan kelanjutan dari ayat 1 karena jika persetujuan dapat dibatalkan secara

sepihak berarti persetujuan tidak mengikat. Apa yang hendak dicapai oleh para

pihak dalam suatu perjanjian harus disertai dengan suatu itikad baik. Perjanjian

yang dibuat berdasarkan ketentuan pasal 1320, 1335, 1337 KUH Perdata

mempunyai kekuatan hukum yang mengikat dan berlaku sebagai undang-undang

bagi mereka yang membuatnya. Hal ini adalah sumber mengikat yang berasal dari

internal para pihak, akan tetapi ada faktor eksternal yang diluar para pihak yang

82
83

juga berperan dalam sebuah pengikatan sebuah perjanjian yaitu pasal ketentuan

Pasal 1339 dan Pasal 1347 KUH Perdata. untuk menentukan daya mengikatnya

suatu perjanjian terdiri dari syarat yang biasa diperjanjikan; kepatutan; kebiasaan;

dan undang-undang. Dikaitkan dengan kekuatan mengikat dari unsur-unsur

perjanjian yang dibuat oleh para pihak (unsur accidentalia).

Namun ada beberapa konsekuensi hukum dari tidak terpenuhinya salah

satu atau lebih dari syarat-syarat sahnya kontrak tersebut bervariasi mengiuti

syarat mana yang dilanggar. Konsekuensi hukum tersebut adalah sebagai

berikut90:

1. Batal demi hukum (nietig, nul and void)

Batal demi hukum dalam hal dilanggarnya syarat objektif dalam pasal

1320 KUH Perdata, sayarat obkektif tersebut adalah:

a. Perihal tertentu

b. Kausa yang legal

2. Dapat dibatalkan ( vernoetigbaar, voidable)

Dapat dibatalkan, misalnya dalam hal tidak terpenuhinya syarat

subjektif dalam pasal 1320 KUH Perdata, syarat subjektif tersebut adalah :

a. Kesepakatan kehendak dan

b. Kecakapan berbuat

3. Kontark tidak dapat dilaksanakan (Unenforceable)

Kontrak yang tidak dapat dilaksanakan adalah kontrak yang tidak

begitu saja batal, tetapi tidak dapt dilaksanakan. Namun kontrak tersebut

90
Munir Fuadi. Opcit. Hlm 28
84

masih mempunyai mempunyai status hukum tertentu. Bednya dengan

kontrak yang batal (demi hukum) adalah bahwa kontrak yang tidak dapat

dilaksankan masih mungkin dikonversi menjadi kontrak yang sah.

sedangkan bedanya dengan kontrak yang tidak dapat kontrak tersebut

dapat dibatalkan (voidable) adalah bahwa dalam kontrak yang dapat

dibatalkan, kontrak tersebut sudah sah, mengikat dan dapat dilaksanakan

sampai dengan kontrak tersebut dibatalkansementara kontrak yang tidak

dapat dilaksanakan belum mempunyai kekuatan hukum sebelum

dikonversi menjadi kontrak yang sah.

4. Sanksi Administratif

Ada juga syarat kontarak yang tidak terpenuhi , hanya mengakibatkan

dikenakan sanksi administratif terhadap salah satu pihak atau kedua belah

pihak dalam kontrak tersebut.

Dalam pasal 1320 unsur kesepakatan kehendak, namun apabila dalam suatu

kontrak yang ditandatangani terjadi salah satu dari unsur-unsur : paksaan (dwang),

penipuan (bedrog) atau kesilapan (dwaling) terhadap kontrak tersebut tidak

terpenuhi syarat kesepakatan kehendak. Sehingga apabila tidakterpenuhinya

syarat kehendak maka kontrak ini dapat dibatalkan, diantara adalah sebagai

berikut91 :

1. Unsur Paksaan

Yang dimaksud dengan paksaan (dwang, duress) menurut KUH

Perdata adalah suatu perbuatan yang menakutkan seseorang yang

91
Munir fuadi. Ibid. hlm 30
85

berpikiran sehat, dimana terhadap orang yang terancam karena paksaan

tersebut timbul ketakutan, baik terhadap dirinya maupun terhadap

kekayaan dengan suatu kerugian yang terang dan nyata. Menurut KUH

Perdata, agar suatu paksaan dapat mengakibatkn pembatalan suatukontrak,

paksaan tersebut haruslah memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :

a. Paksaan dilakukan terhadap:

1) Orang yang membuat kontrak

2) Suami atau istri yang membuat kontrak

3) Sanak keluarga dalam garis ke atas atauke bawah

b. Paksaan dilakukan oleh:

1) Salah satu pihak Dalam kontrak

2) Pihak ketiga untuk kepentingan siapa kontrak tersebut dibuat

c. Paksaan tersebut menakutakan seseorang

d. Orang yang takut tersebut harus berpikiran sehat

e. Ketakutan karena paksaan tersebut berupa:

1) Usia

2) Kelamin

3) Kedudukan

f. Ketakutan bukan karena hormat dan patuh kepada orang tua atau

sanak keluarga tanpa paksaan.

g. Setelah terjadi [aksaan kontrak tersebut tidaktelah dikuatkan

(dengan tegas atau diam-diam)

h. Tidak telah lewat waktukedaluarsasetelah dilakukan paksaan.


86

Seperti yang tealh disebutkan bahwa paksaan dapat menyebabkan

dibatalkan diyang batalkannya suatu kontrak dalam hal paksaan

menimbulkan92 :

a. Ketakutan terhadap diri orang tersebut

b. Ketakutan terhadap kerugian yang nyata dan terang terhadap harta

kekayaan orang yang bersangkutan.

2. Unsur penipuan dalam kontrak

Yang dimaksud dengan penipuan (bedrog, fraud, misprepresentation)

dalam suatu kontrak adalah suatu tipu muslihat yang dipakai oleh salah

satu pihak sehingga menyebabkan pihak lain dalam kontrak tersekontrak

telah menandatangani kontrak tersebut. Padahal tanpa tipu muslihat

tersebut, pihak lain Itu tidak akan menandatangani kontrak yang

bersangkutan. Akan tetapi dalam pasal 1328 haruslah bersifat substantial.

suatu perbuatan tidak boleh disangkakan melainkan harus dibuktikan.

Dilihat dari segi keterlibatan pihak yang melakukan penipuan, suatu

penipuan dalam kontrak dapat dibagi kedalam:

a. Penipuan disengaja (intentional mispresentation)

b. Penipuan karena kelalaian (negligent mispresentation)

c. Penipuan tanpa kesalahan (innocent mispresentation)

d. Penipuan dengan jalan merahasiakan (concealment)

e. Penipuan dengan jalan tidak terbuka informasi.

92
Fuadi Munir. Ibid
87

Undang-undang tidak membedakan semua jenis penipuan tersebut.

Karena itu, dapat disimpulkan bahwa semua jenis penipuan tersebut dapat

menyebakan dibatalkannya suatu kontrak dengan alas an tidak

sempurnanya unsure kesepakatan kehendak berdasarkan pasa pasal 1320

KUH Perdata.

3. Unsur kesilapan

Seeorang dikatankan melakukan kesilapan manakala dalam membuat

kotrak dipengaruhi oleh pandangan atau kesan yang ternyata tidak benar.

a. Kesilapan terhadaphakikat barang

b. Kesilapan terhadap diri orang.

B. Pengingkaran Kesepakatan Mediasi Kelalaian Medik

Dari beberapa teori pada umumnya menyebutkan sifat melawan hukum

tindak pidana ditujukan pada suatu perbuatan yang melanggar atau bertentangan

dengan hukum, sedangkan hukum yang dimaksud adalah hukum yang berlaku

secara umum baik dalam artian formil maupun materiil. Pengertian hukum yang

bersifat umum adalah hukum yang mengatur dan mengikat kehidupan masyarakat

secara umum. Selanjutnya Noyon mengatakan bahwa Zonder recht (tanpa hak) itu

adalah berbeda dengan tegen het recht (melawan hukum) dan perkataan

wederrechtelijk itu dengan tidak dapat disangkal lagi menunjuk pada pengertian

yang terakhir. Sedangkan terminologi Wederechtelijkheid dalam kaitannya

sebagai bentuk ”melawan hak” adalah semata-mata merujuk pada hak yang
88

diberikan oleh hukum yang berlaku secara umum/dibuat oleh penguasa, bukan

hak yang timbul dari hubungan kontraktual.

Berangkat dari hal tersebut, kita akan bandingkan ”melawan hukum”

dalam tindak pidana dengan ”melawan perikatan” dari hubungan kontraktual.

Sifat melawan hukum melekat pada suatu perbuatan sehingga perbuatan itu dapat

dipidana, baik karena bertentangan dengan undang-undang maupun karena telah

melanggar hak subjektif orang lain, namun pada akhirnya perbuatan tersebut harus

pula dilarang peraturan perundangan yang berlaku. Sedangkan ”melawan

perikatan” melekat pada perbuatan yang bertentangan dengan hak dan kewajiban

yang timbul dari perjanjian, dimana Pasal 1338 KUH Perdata.93

Konsep hukum perdata Indonesia sendiri menganut asas yang dikenal

dengan “asas kebebasan berkontrak” asal tidak bertentang dengan ketertiban

umum dan kesusilaan. Asas kebebasan berkontrak ini tidaklah berlaku mutlak

karena masih dibatasi oleh peraturan yang terdapat dalam BW yaitu Pasal 1320,

Pasal 1337, Pasal 1683 dan Pasal 1338 ayat 394.Seperti kita ketahui bersama

kesepakatan ataupun perdamaian yang telah disepakati oleh para pihak yang

bersengketa adalah undang-undang bagi para pembuatnya atau dengan kata lain

bahwa kesepakatan tersebut mempunyai kekuatan hukum yang yang mengikat

sebagaimana yang tertuang dalam Pasal 1338.

Sifat melawan hukum melekat pada perbuatan yang telah melanggar aturan

hukum yang dibuat oleh penguasa, sedangkan sifat melawan perikatan melekat

93
https://aufalawyer.wordpress.com/2013/09/28/pantaskan-perjanjian-di-
pidana/. dikutip 20 Desember 2017
94
https://aufalawyer.wordpress.com/2017/10/20/pembatalan-perjanjian-dalam-
hukum-perdata/. Dikutip 20 deember 2017
89

pada perbuatan yang telah melanggar aturan yang dibuat oleh para pihak dalam

suatu perjanjian.95

Namun demikian kebatalan atau batal demi hukum suatu kontraari sahnya

kontrak terjadi jika perjanjian tersebut tidak memenuhi syarat objektif dan syarat

objektif dari sahnya kontrakyaitu suatu haltertentu dan sebab yang halal. Jadi

kalau kontrak itu objeknya tidak jelas atau bertentangan dengan undang-undang

ketertiban umum atau kesusialaan, kontrak tersebut batal demi hukum.96

Mediasi dapat dijadikan sebagai langkah awal dalam menyelesaikan

sengketa medis dikarenakan beberapa alasan berikut97: “Bahwa upaya

penyembuhan yang dilakukan oleh dokter merupakan upaya penyembuhan yang

didasarkan pada usaha yang maksimal dan ikhtiar (inspanning verbintenis). Ruang

lingkup kesehatan untuk membuktikan dugaan perbuatan melanggar (malpraktek

kedokteran) bukanlah hal yang mudah namun harus dipelajari dan di analisis

terlebih dahulu setiap perbuatan buruk (adverse event) danTidak semua adverse

event identik dengan malpraktek kedokteran”.

Namun demikian, kebebasan berkontrak pada dasarnya harus dihormati

dalam pelaksanaannya pada tataran praktis. Pembatalan suatu perjanjian hanya

dapat dilakukan apabila ada putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap

yang mengacu pada syarat sahnya perjanjian yaitu melanggar Pasal 1320 ayat 1

95
Ibid. https://aufalawyer.wordpress.com/2013/09/28/pantaskan-perjanjian-di-
pidana/. dikutip 20 Desember 2017
96
Akhmadi Miru. Hukum Kontrak Dan Perancangan Kontrak. Opcit. hlm106
97
Mediasi ( Non Litigasi ) Langkah Awal Penyelesaian Sengketa Medis
http://www.lbhyogyakarta.org/2013/07/mediasi-non-litigasi-langkah-awal-penyelesaian-
sengketa-medis/. 5 juli 2017
90

dan/atau ayat 2 (dapat dibatalkan) serta melanggar Pasal 1320 ayat 3 dan/atau 4

(batal demi hukum)98.

Batal demi hukum akibat putusan pengadilan yang berkekuatan hukum

menjadikan perjanjian tersebut dianggap tidak pernah ada sejak perjanjian tersebut

dibuat, sedangkan dapat dibatalkan akibat putusan pengadilan yang berkekuatan

hukum tetap menjadikan perjanjian tersebut tidak lagi berlaku sejak putusan

berkekuatan hukum tetap.

Selain apa yang disebutkan diatas, alasan pembatalan lainnya suatu

perjanjian adalah apa yang dinyatakan dalam Pasal 1321 BW, yaitu adanya cacat

kehendak diakibatkan kekhilafan (dwaling), paksaan (dwang) dan/atau penipuan

(bedrog).

Dalam beberapa buku ketiga tentang perikatan yaitu pada pasal 1853 yang

berbunyi perdamaian dapat diadakan mengenai kepentingan keperdataan yang

timbul dari suatu kejahatan atau pelanggaran. Dalam hal ini perdamaian sekali-

kali tidak menghalangi pihak kejaksaan untuk menuntut kejahatan atau

pelanggaran. Kemudian Pasal 1859 memuat bahwa namun pelanggaran dapat

dibatalkan bila telah terjadi suatu kekeliruan mengenai orang yang bersangkutan

atau pokok perselisihan. Perdamaian dapat dibatalkan dalam segala hal, bila telah

dilakukan penipuan atau paksaan.

Dalam sebuah kontrak ada dikenal dengan doktrin ketidakadilan

(Unconscionability) adalah suatu doktrin dalam ilmu hukum kontrak yang

98
https://aufalawyer.wordpress.com/2017/10/20/pembatalan-perjanjian-dalam-
hukum-perdata/
91

mengajarkan bahwa suatu kontrak dapat dibatalkan oleh pihak yang dirugikan

manakala dalam kontrak tersebut terdapat klausula yang tidak adil dan sangat

memberatkan salah satu pihak sungguhpun kedua belah pihak telah

menadatangani kontrak tersebut. Batalnya atau dibatalkan kontrak karena alasan

ketidakadilan ini dapat didasari atas dasar99:

1. Tidak terpenuhinya unsur kesepakatan kehendak (Pasal 1320 KUH

Perdata)

2. Kontrak tersebut melanggar ketertiban Umum (Pasal 1337 KUH

Perdata)

3. Kontrak tersebut melanggar kesusilaan (Pasal 1337 KUH Perdata).

Beberapa halyang menapat criteria suatau kontrak dapat dibatalkan atau

tidak dibatalkan yaitu100:

1. Kriteria Utama Unsur Ketidakadilan

Yang menjadi krteria utama agar suatukontrak batal atau dapat

dibatalkan karena alasan ketidakadilan (unconscionabilitny) adalaha

apakah dalam pengertian dan kebutuhan komersil dari suatu perdangan

atau suatu kasus.

2. Antara Teori Asumsi Risiko dengan Doktrin Ketidakadilan

Menurut prinsip asumsi resiko jika seseorang telahmenandatangani

suau kontrak sungguhpun dia tidak membaca semua isis kontrak, namun

oleh hukum dia dianggapa telah mengasumsi resiko dari isi kontrak yang

mungkin tidak adil, artinya dia bersedia menanggung resiko tersebut.

99
Munir fuadi.Hukum Kontrak.OPsit. hlm42
100
Ibid. hlm 42
92

Akan tetapi apabila seseorang tidak atau sangat terbatas pilhan atau

sangat kurang kekutan tawar mwnawarnya dalam kontrak terdapat

klausula yang begitu tidak adildan memberatkan salah satu pihak, maka

dia tidak dapat lagi telah mengasusi resiko.

3. Ketidakadilan Subtanstif dan Ketidakadilan Prosedural

Dalam ketidakadilan bersifat prosedural yang dimaksud adalah

ketidakadilan dari klausula kontrak akibat dari kedudukan para pihak yang

tidak seimbang dalam prosese tawar menawar dari kontraktersebut.

Sementara dari ketidakadilan substantif yang dimaksud adalah

klausula dalam kontrak itu sendiri yang bersifat beratsebelah tanpa

menghubungkan pada proses tawar menawar dari kontrak tersebut.

4. Keterkejutan yang tidak adil (unfair surprise)

Yaitu sutu klausula daam kontrak yang di anggap merupakan unfair

surprise manakala klausula tersebut bukanbukan klausula yang

diharapkanoleh orang yang normal dalam kontrak semacam itu sementara

pihak yang menulis kontrak mempunyai alasan untukmengetahui bahwa

klausula tersebut tidak akan sesuai dengan keinginan yang wajar dari

pihak lain, tetapi pihak yang menulis kontrak tersebut

tidakberusahamenarik perhatian pihak lainnya terhadap klausulatersebut.

5. Klausula pembebasan(exculpatory clause)

Merupakan suatu klausula dalam kontrak yang memebebaskan salah

satu pihak dari kewajiban untuk mengganti kerugian yang disebabkan

oleh perbuatannya sendiri.


93

6. Gant rugi campur aduk(remedy meddling)

Merupakan suatu perwujudan dari apa yang dilarang oleh doktrin

ketidakadilan, dimana hal ini merupakan suatu taktik dimana pihak

kreditur berusaha untuk memperbesar haknya jika pihak debitur

wanprestasi dan mengurangi/meghapuskan kewajibannya dalam kontrak.

Selain beberapa hal yang dikemukakan di atas yang dapat membatalkan

suatu kontrak juga kontrak tersebut tidak boleh melanggar prinsip kepentingan

umum (openbar orde). Karena sesuai dengan prinsip hukum yang universal dan

sangat mendasar bahwa kepentingan umum tidak boleh dikalahkan oleh

kepentingan pribadi. Karena itu jika ada kontrak yang bertentangan

dengankepentingan/ketertiban umum, kontrak tersebut sudah pasti bertentangan

dengan undang-undang yang berlaku yang menurut pasal 1339 KUP Perdathal

tersebut tidak dibenarkan.101

C. Prosedur Penyelesaian Apabila Terjadi Pengingkaran Kesepakatan

Mediasi Kelalaian Medik

Sebuah kesepakatan mediasi tidaklah lah bersifat final dan mempunyai

kekuatan hukum kesepakatan dapa dibatalkan atau batal demi hukum apabila

terpenuhi unsure pembatal dalam kesepakatan mediasi.

Ada beberapa langkah hukum yang dapat dilakukan oleh para pihak yang

mengingkari sebuah kesepakatan mediasi yaitu:

101
Munir Fuadi. Ibid . Hlm 66
94

1. Melakukan gugatan secara perdata

Apabila terdapat kerugian dari di alami oleh pihak yang bersengketa

maka upaya hukum adalah melakukan gugatan secara perdata bahwa pada

tindakan selama perawatan terjadi perbuatan melawan hukum dengan

sanksi pembayar ganti kerugian yang di alami.

Akan tetapi dengan adanya gugatan perdata idak berarti

menghapus perbuatan pidanyanya, sehingga upaya berikutnya adalah :

2. Penuntuttan secara pidana

Dalam perbuatan
BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

Daya mengikat kesepakatan mediasi terhadap kasus kelalaian medik

langkah hukum apabila terjadi pengingkaran terhadap hasil kesepakatan mediasi

kelalaian medik

Hukum kesehatan adalah hukum yang bersifar Lex Specialis dan apabila

didapati adanya dugaan kelalaian medik maka harus di dahului dengan mediasi

sesuai dengan apa yang tertuang dalam Undang-Undamg Kesehatan bahwa

apabila diduga adanya kelalaian medik maaka harus di mediasi terlebih dahulu,

hal ini mengandung makna bahwa mediasi adalah langkah awal dalam

menyelesaikan adanya dugaan kelalain medik yang dilakukan oleh MKDI, akan

tetapi apabila hasil pemeriksaan engarah adanya kelalaian medik, maka

berdasarkan norma hukum yang beralaku maka malpraktik medik yang

merupakan delik umum serta adanya ketentuan bahwa gugatan perdata tidak

menghapuskan pidana maka kelalaian medik patut untuk dilanjutkan pada ranah

hukum pidana.

Bahwa dalam regulasi hukum yang berlaku di Indonesia berkaitan dengan

mediasi diatur dalam Pasal 130 HIR/Pasal 154 RBG (sebagai landasan

fundamental) Juga diatur dalam perma Nomor 1 tahun 2016 tentang mediasi.

Kemudoan lebih khsisi berdasar sifat lex spesialisnya di aturdalam Undang-undag

Ksehatan bawa apabila da dugaan kelalaian medic ter;ebih dahulu di amdiasi akan

95
96

tetapi mediasi hanya langkah awal apabila memang terdapat dugaan kuat akan

adanya kelalaian medik maka bedasar Pasal 1853 dilanjutkan pada ranah pidana,

karena normatif belum ada dasar hukum yang dapat memberikan kepastian

hukum bagi penyelenggaran mediasi sebagai upaya untuk menyelesaikan kasus

kelalaian medik, sehingga apabila itu tetap dilaksanakan dalam implementasinya

mengalami kendala karena bukan tidak mungkin dalam pelksanaannya akan

adanya tidk lanjut penututan dranah pidana bagi para pihak yang merasa tidak

medapat keadilan dalam penyelsaian mediasi.

B. Saran

Bahwa adanya dugaan kelalaian harus diselesaikan terlebih dahulu dengan

mediasi, akan tetapi mediasi hanya langkah awal sehingga tidak menutup

kemungkinan dilakukan gugatan dalam hukum perdata dan penuntutan dalam

ranah hukum pidana, maka hal ini perlu pengaturan yang lebih jelas mengenai

beberapa hal ;

1. Adanya kosensus nasional pada semua stake holder terkait mengenai

batasan yang jelas dan tegas mengenai kelalalian medik

2. Adanya norma yang mengatur secara jelas untuk memberikan kepastian

hukum baik dari sisi tenaga kesehatan maupun pasien dan keluarga

bagaiamana penyelesaian kelalaian medik dengan cara mediasi.


DAFTAR PUSTAKA

A. Peraturan Perundang-Undangan

Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Buku III Lembaran Negara Republik

Indonesis Tahun 1975 Nomor 12

Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Lembaran Negara Tahun 1958 Nomor 127

Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran, , Lembaran

Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 116

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Alternatif Penyelesaian

Sengketa Dan Arbitrase, , Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun

1999 Nomor 138

Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan, Lembaran Negara

Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144

Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 Tentang Rumah Sakit, , Lembaran

Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 153

Kode Etik Kedokteran Indonesia Dan Pedoman Pelaksanaan Kode Etik

Kedokteran Indonesia.

B. Buku-Buku

As’Adi, Edi. 2012. Hukum Acara Perdata Dalam Perspektif Mediasi (ADR) Di

Indonesia. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Chazawi, Adami, 2000, Kejahatan Terhadap Tubuh dan Nyawa, Jakarta: PT. Raja

Grafindo Persada.

97
98

Erwin, Muhamad. 2012. Filsafat Hukum Refleksi Kritis Terhadap Hukum.Jakarta

: Raja Grafindo Persada.

Fuadi, Munir. 2015, Hukum Kontrak. Bandung : PT. Citra Aditya Bakti.

Huda, Chairul. 2008. Dari Tiada Pidana Tanpa Kesalahan Menuju Tiada

Pertanggungjawaban Pidana Tanpa Kesalahan, Jakarta: Prenada Media.

Hanafiah , M. Jusuf dan Amri Amir. 2008. Etika Kedokteran Dan Hukum

Kesehatan. Jakarta : Buku Kedokteran EGC

Jayanti, N. KI. 2009. Penyelesaian Hukum Dalam Malapraktik Kedokteran.

Jakarta : Pustaka Yustisia

Miru, Ahmadi. 2014. Hukum Kontrak dan Perancangan Kontrak. Jakarta: PT.

Jaya Grapindo Persada

Moeljatno, 2002, Azas-Azas Hukum Pidana. Jakarta: Rineka.

Marzuki, P. Mahmud. 2005. Penelitian Hukum,Jakarta: Kencana

Naningsih , A. Nur. 2011. Mediasi Alternatif Penyelesaian Sengketa Perdata Di

Pengadilan, Jakarta : Raja Grafindo Persada.

Raharjo, Satjipto. 2014. Ilmu Hukum. Bandung: Citra Aditya Bakti. Cetakan ke-8

Ratman, Desriza. 2012 Mediasi Nonlitigasi Terhadap Sengketa Medik Dengan

Konsep Win-Win Solution. Jakarta: Kompas Gramedia.

Riyadi, Machli. 2010. Seri Hukum Kesehatan Malpraktik Medik Dalam Kontrak

Teraupetik Kajian teoritis dan Empiris, Surabaya: Selasar Pulishing

Romsan, Ahmad. 2016. Alternative Dispute Resolution Teknik Penyelesaian

Sengketa di Luar Pengadilan: Negosiasi dan Mediasi. Malang : Setara Press


99

Sembiring, J. Joses. 2011. Cara Menyelesaikan Sengketa Di Luar Pengadilan

(Negosiasi, Mediasi, Konsiliasi, dan Arbitrase). Jakarta : Visi Media

Soeprapto, Pitono, dkk. 2006. Etik Hukum Di Bidang Kesehatan. Surabaya.

Airlangga University Perss

Soeroso, R, 2011, Perjanjian di Bawah Tangan Pedoman Praktis Pembuatan

Dan Aplikasi Hukum, Jakarta : Sinar Grafika.

Sungguh, As’ad. 2014. Kode Etik Profesi Tentang Kesehatan Kedokteran,

Psikologi, Kebidanan, Keperawatan, Apoteker dan Rumah Sakit. Jakarta:

Sinar Grafika.

Sudiarto. 2013. Negosiasi, Mediasi dan Arbitrase Penyelesaian Sengketa

Alternatif di Indonesia. Bandung : Pustaka Reka Cipta.

Syahrani, Riduan. 2004. Rangkuman Inti Sari Hukum. Bandung : Citra Aditya

Bakti.

Widjaja, Gunawan. 2002. Alternatif Penyelesaian Sengketa. Jakarta : Raja

Grafindo Persada.

Yutina, E. Wahyati. 2012. Mengenal Hukum Rumah Sakit. Bandung : Keni

Media.

-----------------, 2015, Hukum Kesehatan Kontemporer Aegroti Salus Lex Suprema,

Malang : Akademia
100

C. Tesis dan Jurnal Hukum

Yunanto. Pertanggung Jawaban Dokter dalam Transaksi Terapeutik. Tesis

Program Magister Ilmu Hukum Pascasarjana Universitas Diponegoro,

Semarang. Tahun 2009

Tesis M. Guntur Payasan. Implementasi Mediasi Sebagai Alternatif Penyelesaian

Sengketa Medik. Tesis pada Program Magister Ilmu Hukum Universitas 17

Agustus 1945 Semarang pada Tahun 2011

Machli Riyadi. Malpraktik Medik Dalam Kontrak Teraupetik Jurnal Cakrawala

Hukum.Volume 2, Nomor 2. Mei 2013

Widodo Tresno Novianto, Agustus, 2015, Penafsiran Hukum Dalam Menentukan

Unsur-Unsur Kelalaian malpraktik medic (medical practice), Yustisia, Edisi

92 Mei

Tamsil Iskandar/D 101 08 298. Tinjauan Yuridis Tentang Pembuktian Seorang

Dokter Dalam Melakukan Malpraktek Pelayanan Medis. Jurnal Ilmu

Hukum Legal Opinion Edisi 4, Volume 2, Tahun 2014.

Erdiansyah. Pertanggungjawaban Pidana Terhadap Dokter Atas Kesalahan Dan

Kelalaian Dalam Memberikan Pelayanan Medis Di Rumah Sakit. Jurnal

Ilmu Hukum. Volume 3 No. 2

D. Artikel dan Internet

http://regional.kompas.com/read/2013/11/20/0917210/7.Tahun.Kain.Kasa.Bersara

ng.di.Dalam.Perut.Husnaen. diakses, 4 Januri 2017


101

http://imenetwork.org/wp-content/uploads/2012/06/negosiasi.jpg. dikutip 15

Agustus 2017

E. Kamus-Kamus

Hazin, Nur Kholif, 1994, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia Super Baru,

Surabaya: Terbit Terang

Henry CampbellBlack. 1968Black Law Dictionary, Fourt Edition, Minnesota:

West Publishing Co.

F. Pengumpulan Data.

Pengumpulan Data (Kasus) pada Kantor Perwakilan Ombudsman Kalimantan

Selatan