Anda di halaman 1dari 4

Artikel:

Membongkar Tradisionalisme Pendidikan Pesantren;


"Sebuah Pilihan Sejarah"

Bahan ini cocok untuk Informasi / Pendidikan Umum bagian PENDIDIKAN /


EDUCATION.
Nama & E-mail (Penulis): Ahmad El Chumaedy
Saya Pengamat di Jakarta
Tanggal: 06 Oktober 2002
Judul Artikel: Membongkar Tradisionalisme Pendidikan Pesantren;
"Sebuah Pilihan Sejarah"
Topik: Transformasi Pendidikan Pesantren

Pendidikan di tengah medan kebudayaan (culture area), berproses merajut dua


substansi aras kultural, yaitu di samping terartikulasi pada upaya pemanusiaan
dirinya, juga secara berkesinambungan mewujud ke dalam pemanusiaan dunia di
sekitarnya (man humanizes himself in humanizing the world around him) (J.W.M.
Bakker, SJ; 2000: 22). Kenyataan ini nampaknya amat begitu diinsafi oleh para
designer awal dan founding fathers bangsa ini, hingga kemudian cita-cita yang
megkristal dalam tujuan pendidikan nasional (Mukaddimah UUD '45) kita, betul-
betul terarah ke pengertian seperti itu.

Dalam prakteknya, pengejawantahan cita-cita pendidikan nasional, nampaknya


tidak harus melulu ditempuh melalui jalur formal secara berjenjang (hierarchies),
yang dilaksanakan mulai dari Pendidikan Pra-Sekolah (PP. No. 27 Tahun 1990),
Pendidikan Sekolah Dasar (PP. No. 28 Tahun 1990), Pendidikan Sekolah
Menengah (PP. No. 29 Tahun 1990) dan Pendidikan Perguruan Tinggi (PP. No. 30
Tahun 1990), akan tetapi juga mengabsahkan pelaksanaan pendidikan secara non-
formal dan in-formal (pendidikan luar sekolah) (UU Sisdiknas, 2003). Artikulasi
pendidikan terakhir ini, basisnya diperkuat mulai dari pendidikan di lingkungan
keluarga, masyarakat dan lembaga-lembaga pendidikan swasta.

Paralel dengan pelaksanaan pendidikan luar sekolah dalam pelbagai bentuk dan
ragamnya, terdapat satu institusi pendidikan yang telah mengakar lama dalam
sejarah pendidikan di Indonesia, yaitu terutama pendidikan Islam yang
diselenggarakan di pesantren-pesantren (Islamic boarding school). Sebagai
institusi pendidikan Islam tradisional, pesantren sudah sejak lama survive dalam
sejarah perkembangan pendidikan Indonesia. Ia telah terbukti banyak memberi
sumbangan bagi upaya mewujudkan idealisme pendidikan nasional, yang bukan
sekedar hanya meningkatkan kualitas sumber daya manusia (human resource)
pada aspek penguasaan sains dan tekhnologi an sich, melainkan juga lebih
concern dalam mencetak warga negara Indonesia yang memiliki ketakwaan
terhadap Tuhan Yang Maha Esa, terutama dalam memupuk generasi yang
bermoral baik (akhlaq al-karimah).
Indegenousitas pesantren kontras berbeda dengan praktek pendidikan pada intitusi
pendidikan lainnya, sehingga dinamika sekaligus problematika yang muncul
kemudian, juga menampilkan watak yang khas dan eksotik. Di era globalisasi
sekarang ini, Alfin Toffler membayangkan akan terciptanya 'masyarakat informasi'
(the informasional society) yang sulit untuk dihindari oleh negara manapun di
permukaan bumi ini, termasuk Indonesia. Sehingga, fenomena globalisasi yang
begitu cepat mengalami akselerasi dalam pelbagai aspek, sebagai konsekuensi
logis dari penerapan high-tech (tekhnologi tinggi), menyebabkan bangsa Indonesia
tergiring pada pola interaksi yang amat cepat dan massif dengan negara-negara
lain di dunia. Dalam fase masyarakat informasi inilah, pesantren semakin
menghadapi tantangan yang tidak ringan dan lebih kompleks ketimbang periode
waktu sebelumnya.

Di tengah pergulatan masyarakat informasional, pesantren 'dipaksa' memasuki


ruang kontestasi dengan institusi pendidikan lainnya, terlebih dengan sangat
maraknya pendidikan berlabel luar negeri yang menambah semakin ketatnya
persaingan mutu out-put (keluaran) pendidikan. Kompetisi yang kian ketat itu,
memosisikan institusi pesantren untuk mempertaruhkan kualitas out-put
pendidikannya agar tetap unggul dan menjadi pilihan masyarakat, terutama umat
Islam. Ini mengindikasikan, bahwa pesantren perlu banyak melakukan
pembenahan internal dan inovasi baru agar tetap mampu meningkatkan mutu
pendidikannya.

Persoalan ini tentu saja berkorelasi positif dengan konteks pengajaran di


pesantren. Di mana, secara tidak langsung mengharuskan adanya pembaharuan
(modernisasi)-kalau boleh dikatakan demikian-dalam pelbagai aspek pendidikan di
dunia pesantren. Sebut saja misalnya mengenai kurikulum, sarana-prasarana,
tenaga kependidikan (pegawai administrasi), guru, manajemen (pengelolaan),
sistem evaluasi dan aspek-aspek lainnya dalam penyelenggaraan pendidikan di
pesantren. Jika aspek-aspek pendidikan seperti ini tidak mendapatkan perhatian
yang proporsional untuk segera dimodernisasi, atau minimalnya disesuaikan
dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat (social needs and demand), tentu
akan mengancam survival pesantren di masa depan. Masyarakat (baca: kaum
muslimin Indonesia) akan semakin tidak tertarik dan lambat laun akan
meninggalkan pendidikan 'ala pesantren, kemudian lebih memilih institusi
pendidikan yang lebih menjamin kualitas output-nya. Pada taraf ini, pesantren
berhadap-hadapan dengan dilema antara tradisi dan modernitas. Ketika pesantren
tidak mau beranjak ke modernitas, dan hanya berkutat dan mempertahankan
otentisitas tradisi pengajarannya yang khas tradisional, dengan pengajaran yang
melulu bermuatan al-Qur'an dan al-Hadis serta kitab-kitab klasiknya (Karel
Steenbrink, 1994, 167), tanpa adanya pembaharuan metodologis, maka selama itu
pula pesantren harus siap ditinggalkan oleh masyarakat. Pengajaran Islam
tradisional dengan muatan-muatan yang telah disebutkan di muka, tentu saja harus
lebih dikembangkan agar penguasaan materi keagamaan anak didik (baca: santri)
bisa lebih maksimal, di samping juga perlu memasukkan materi-materi
pengetahuan non-agama dalam proses pengajaran di pesantren.

Dengan begitu, pengembangan pesantren tidak saja dilakukan dengan cara


memasukkan pengetahuan non-agama, melainkan agar lebih efektif dan signifikan,
praktek pengajaran harus menerapkan metodologi yang lebih baru dan modern.
Sebab, ketika didaktik-metodik yang diterapkan masih berkutat pada cara-cara
lama yang ketinggalan zaman alias "kuno", maka selama itu pula pesantren sulit
untuk berkompetisi dengan institusi pendidikan lainnya! Persoalannya, betulkah
semua yang berwatak lama itu kurang baik?
Memahami Watak Tradisionalisme Pesantren
Persoalan ini tentunya harus dikembalikan pada proporsinya yang pas. Sebab,
watak tradisional yang inherent di tubuh pesantren seringkali masih disalahpahami,
dan ditempatkan bukan pada proporsinya yang tepat. Tradisionalisme yang
melekat dan terbangun lama di kalangan pesantren, sejak awal minimal
ditampilkan oleh dua wajah yang berbeda. Oleh karena itu, penyebutan tradisional
tentu harus ditujukan pada aspek yang spesifik, tidak asal gebuk rata.
Tradisionalisme pesantren di satu sisi melekat pada aras keagamaan (baca:
Islam). Bentuk tradisionalisme ini merupakan satu sistem ajaran yang berakar dari
perkawinan konspiratif antara teologi skolastisisme As'ariyah dan Maturidiyah
dengan ajaran-ajaran tasawuf (mistisisme Islam) yang telah lama mewarnai corak
ke-Islam-an di Indonesia (Abdurrahman Wahid, 1997). Selaras dengan
pemahaman ini, terminologi yang akarnya ditemukan dari kata 'adat (bahasa Arab)
ini, merupakan praktek keagamaan lokal yang diwariskan umat Islam Indonesia
generasi pertama. Di sini Islam berbaur dengan sistem adat dan kebiasaan lokal,
sehingga melahirkan watak ke-Islaman yang khas Indonesia (Martin van
Bruinessen, 1997, 140).

Sementara tradisional dalam pengertian lainnya, bisa dilihat dari sisi metodologi
pengajaran (pendidikan) yang diterapkan dunia pesantren (baca: salafiyah).
Penyebutan tradisional dalam konteks praktek pengajaran di pesantren, didasarkan
pada sistem pengajarannya yang monologis, bukannya dialogis-emansipatoris,
yaitu sistem doktrinasi sang Kiyai kepada santrinya dan metodologi pengajarannya
masih bersifat klasik, seperti sistem bandongan, pasaran, sorogan dan sejenisnya.
Lepas dari persoalan itu, karakter tradisional yang melekat dalam dunia pesantren
(sesungguhnya) tidak selamanya buruk. Asumsi ini sebetulnya relevan dengan
prinsip ushul fiqh, "al-Muhafadhah 'ala al- Qodimi as-Shalih wa al-Akhdu bi al-Jadid
al-Ashlah" (memelihara [mempertahankan] tradisi yang baik, dan mengambil
sesuatu yang baru (modernitas) yang lebih baik). Artinya, tradisionalisme dalam
konteks didaktik-metodik yang telah lama diterapkan di pesantren, tidak perlu
ditinggalkan begitu saja, hanya saja perlu disinergikan dengan modernitas. Hal ini
dilakukan karena masyarakat secara praktis-pragmatis semakin membutuhkan
adanya penguasaan sains dan tekhnologi. Oleh Karena itu, mensinergikan
tradisionalisme pesantren dengan modernitas dalam konteks praktek pengajaran,
merupakan pilihan sejarah (historical choice) yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.
Sebab, jika tidak demikian, eksistensi pesantren akan semakin sulit bertahan di
tengah era informasi dan pentas globalisasi yang kian kompetitif.

Di antara problem yang sering dijumpai dalam praktek pendidikan di pesantren,


terutama yang masih bercorak salaf, adalah persoalan efektivitas metodologi
pengajaran. Di sinilah perlunya dilakukan penyelarasan tradisi dan modernitas di
tengah dunia pesantren. Dalam hal ini, memang diperlukan adanya pembaharuan
di pesantren, terutama mengenai metodologi pengajarannya, namun pembaharuan
ini tidak harus meninggalkan praktek pengajaran lama (tradisional), karena
memang di sinilah karakter khas dan indegenousitas pesantren sebagai lembaga
pendidikan Islam di Indonesia. Justru yang perlu dilakukan adalah, adanya
konvigurasi sistemik dan kultural antara metodologi tradisional dengan metodologi
konvensional-modern. Dengan demikian, penerapan metodologi pengajaran
modern dan pembangunan kultur belajar yang dialogis-emansipatoris, bisa seirama
dengan watak asli dari kultur pesantren. ?

Penulis sekarang aktif sebagai Direktur Kajian pada Lembaga Studi Agama &
Kemasyarakatan
(èLSAK) Jakarta; Peneliti pada Centre of Education and Community Development
Study
(CECDeS) Jakarta
¨Alamat: Jl. ASPI UIN Jakarta 80 B Rt. 003 Rw. 08 Desa/ Kelurahan Pisangan
Kecamatan
Ciputat Kab. Tangerang 15419. Telp./fax. (021) 7445454; HP: 0856.858.9197;
E-Mail: elchumaedy@yahoo.com, dan aldy1406@yahoo.com

Saya Ahmad El Chumaedy setuju jika bahan yang dikirim dapat


dipasang dan digunakan di Homepage Pendidikan Network dan saya
menjamin bahwa bahan ini hasil karya saya sendiri dan sah (tidak ada
copyright). .
CATATAN:
Artikel-artikel yang muncul di sini akan
tetap di pertanggungjawabkan oleh
penulis-penulis artikel masing-masing dan
belum tentu mencerminkan sikap,
pendapat atau kepercayaan Pendidikan
Network.