Anda di halaman 1dari 9

MAKALAH

TENTANG

KERJASAMA INDONESIA – CHINA


DI BIDANG EKONOMI

Disusun Oleh :

NAMA : 1. EMMI ASNITA NASUTION


2. LENNI KHAIRANI
3. RIANA NASUTION
4. FEBRIYANTI
5. WINDA KRISTIN
6. EPAN SIHOMBING

KELAS : XI TKJ 2

MATA PELAJARAN : PKN

GURU PEMBIMBING : MUHAMMAD MAKSUM LUBIS, S.Pd

SMK NEGERI 3 PANYABUNGAN


KABUPATEN MANDAILING NATAL
T.A. 2018/2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan
hidayah-Nya, sehingga dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “KERJASAMA
INDONESIA – CHINA DI BIDANG EKONOMI”.

Makalah ini diajukan untuk memenuhi tugas yang diberikan dalam mata Pelajaran PKN.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini tidak terlepas dari bantuan dan
dukungan dari berbagai pihak oleh karena itu, penulis menyampaikan ucapan terimakasih
kepada seluruh pihak yang telah membantu hingga terseelesaikannya makalah ini.

Dalam kesempurnaan makalah ini, saran dan kritik yang sifatnya membangun sangat
penulis harapkan. Semoga makalah ini bermanfaat dan dapat memberikan sumbangan yang
berarti bagi pihak yang membutuhkan.

Panyabungan, Mei 2019


Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .............................................................................................................. i

DAFTAR ISI ............................................................................................................................. ii

BAB I PENDAHULUAN .................................................................................................... 1

A. Latar Belakang ...................................................................................................... 1

B. Rumusan Masalah ................................................................................................. 2

BAB II PEMBAHASAN ....................................................................................................... 3

A. Hubungan Kerjasama Bilateral Indonesia dan China (Tiongkok) ....................... 3

B. Ekspor Komoditas Pertanian Indonesia ke China ................................................. 4

C. Dampak dari Kerjasama Indonesia dengan China (Tiongkok) di Bidang

Ekonomi pada Sektor Pertanian ........................................................................... 4

BAB III PENUTUP ................................................................................................................. 6

A. Kesimpulan............................................................................................................ 6

B. Saran ...................................................................................................................... 6

ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Di era globalisasi seperti sekarang ini persaingan di dunia akan semakin ketat. Persaingan
dari segi ekonomi ideologi dan keamanan makin gencar terjadi. Ukuran pertumbuhan/
perkembangan suatu negara akan berbeda dengan negara lain. Faktor yang sangat
mempengaruhi adalah ketersediaan sumber daya manusia dan sumber daya alam. Untuk sumber
daya alam merupakan sebuah kekayaan yang sudah ada, sedangkan untuk sumberdaya manusia
perlu untuk membangun atau melakukan pembentukan untuk masing-masing negara yang
berbeda.
Cina merupakan negara yang berada di Asia timur dan berbatasan dengan negara negara
seperti Jepang, India, Pakistasn, Uzbekistan. Dengan julukan negara yang memiliki kepadatan
penduduk tertinggi di dunia, dan wilayahnya yang sangat luas. Kegiatan penduduknya yang
terpusat pada perdagangan, industri, dan berbagai pelayanan jasa, dikenal sebagai masyarakat
yang gigih, ulet dan pantanag menyerah. Perkembangan dan pertumbuhan ekonomi Cina yang
terus mengalami perkembangan ke arah yang lebih baik membuat negara ini menjadi salah
satu tolak ukur ekonomi dunia.
Selanjutnya tentang Indonesia, negara yang memiliki posisi strategis dan kekayaan
alam yang melimpah serta sejarahnya yang panjang. Bagian dari negara berkembang di
kawasan ASEAN. Dengan jumlah penduduk yang besar dan bisa dikatakan rendah dalam sisi
SDM. Kekayaan alam yang melimpah tidak semerta-merta bisa menjadikan Indonesia sebagai
negara Maju, karena dalam sistem pengelolaannya masih lemah. Dalam artian bahwa Indonesia
sampai saat ini baru bisa melakukan penggalian/eksploitasi tambang tanpa mengolahnya
menjadi barang jadi.
Melihat gambaran umum antara Cina dan Indonesia, dalam melakukan kegiatan ekonomi
pada suatu negara dua unsur yakni SDA dan SDM sangat diperlukan. Ada negara dengan
SDA yang melimpah tetapi tidak bisa mengolahnya karena tingkat SDM yang rendah,
dan ada yang sebaliknya negara dengan tingkat SDM tetapi tidak memiliki SDA yang melimpah.
Hubungan kerjasama antarnegara antara yang membutuhkan SDM dan yang membutuhkan SDA
telah lama terjalin. Fenomena diatas identik SDM tinggi berada pada negara maju sedangkan SDA
yang melimpah berada di negara berkembang. Tidak ada negara yang mampu memenuhi kebutuhan
negaranya tanpa ada bantuan dari negara lain. Seperti yang telah diketahui, tiap negara mempunyai
kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Timbul adanya rasa saling membutuhkan antara keduanya, oleh sebab itu rasa saling
membutuhkan tersebut dapat dijangkau dengan adanya hubungan/kerjasama bilateral/multirateral
negara-negara. Kita ambil contoh hubungan kerjasama yang dilakukan antara Cina dan Indonesia.
Bntuk- bentuk kerjasama yang dilakukan baik dari segi ekonomi, sosial dan budaya serta keamanan
menjadi isu penting. Dari sisi ekonomi hubungan Indonesia Cina adalah saling ketergantungan, Cina
membutuhkan bahan mentah sebagai alat produksi yang tentunya didapat dari ekspor yang dilakukan

1
Indonesia. Sedangkan Indonesia dengan jumlah penduduk yang besar dan kebutuhan penduduknya
yang besar pula belum bisa memenuhi kebutuhan secara mandiri.
Kerjasama Indonesia dan China dalam memenuhi kebutuhan negara salah satunya berupa
kerjasama di bidang pertanian. Kerjasama yang termasuk dalam bidang pertanian antara lain:
perkebunan, perikanan, kehutanan, tanaman pangan, dan hortikultura. Dalam bidang pertanian, antara
Indonesia dan China telah terbrntuk forum kerjasama bilateral di bidang pertanian yang diharpkan
mampu menjembatani kebutuhan kedua negara seperti dalam hal pertukaran teknologi, kerjasama
dalam pengembangan riset dan penelitian bidang pertanian ataupun kepentingan pengembangan
agrobisnis seperti peningkatan ekspor-impor produk-produk pertanian kedua negara. Oleh sebab itu
dilakukan impor barang jadi dari Cina, dengan harga yang rendah sesuai dengan kemampuan
penduduk Indonesia umumnya. Kerjasama ekonomi yang dilakukan juga mencakup pada bidang
pertanian. Dari fenomena diatas kami tertarik membahas tentang hubungan kerjasama ekonomi antara
Indonesia dan Cina. Kerjasama ekonomi merupakan suatu isu yang paling banyak dibicarakan, dan
umumnya kerjasama dilakukan berawal dari sisi ekonomi untuk kemudian berlanjut pada bidang-
bidang yang lain. Dengan mengambil judul “

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana kerjasama bilateral Indonesia dengan Cina di bidang ekonomi dan perdagangan
pada sektor pertanian?
2. Apa dampak dari kerjasama Indonesia dengan China (Tiongkok) di bidang ekonomi pada
sektor pertanian?

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Kerjasama Bilateral Indonesia dengan China (Tiongkok) di Bidang Ekonomi dan


Perdagangan pada Sektor Pertanian

1) Hubungan Kerjasama Bilateral Indonesia dan China (Tiongkok)


Berdasar pendapat yang dikemukakan oleh Plano dan Olton Hubungan Bilateral
merupakan : “Hubungan kerjasama yang terjadi antara dua negara di dunia ini pada dasarnya
tidak terlepas dari kepentingan nasional masing-masing negara. Kepentingan nasional
merupakan unsur yang sangat vital mencakup kelangsungan hidup bangsa dan negara,
kemerdekaan, keutuhan wilayah, keamanan, militer dan kesejahteraan ekonomi”. (Plane,
1990, 7 dalam jurnal Nahdia, 2014:5)
Kerjasama bilateral yang dilakukan Indonesia dengan negara lain, salah satunya ialah
dengan negara China (Thiongkok). Kerjasama kedua negara ini dimulai pada 13 April 1950,
dibekukan pada 30 Oktober 1967, kemudian dilanjutkan kembali dengan ditandatanganinya
MOU on the Resumption of Diplomatic Relations RI-RRC di Jakarta, pada tanggal 8
Agustus 1990 hingga saat ini. Hubungan bilateral Indonesia dengan Republik Rakyat
China mengalami peningkatan dalam beberapa periode terakhir ini. Dengan peningkatan
hubungan bilateral kedua negara telah terbentuk : Konsultasi Bilateral Tingkat Pejabat Tinggi,
Komisi Bersama Ekonomi dan Perdagangan, Dialog Bilateral Mengenai Keamanan Regional,
Konsultasi Masalah Imigrasi dan Konsuler.
Kerjasama Indonesia dan China dalam memenuhi kebutuhan negara salah satunya berupa
kerjasama di bidang pertanian. Kerjasama yang termasuk dalam bidang pertanian antara lain:
perkebunan, perikanan, kehutanan, tanaman pangan, dan hortikultura. Dalam bidang pertanian,
antara Indonesia dan China telah terbrntuk forum kerjasama bilateral di bidang pertanian yang
diharpkan mampu menjembatani kebutuhan kedua negara seperti dalam hal pertukaran
teknologi, kerjasama dalam pengembangan riset dan penelitian bidang pertanian ataupun
kepentinganpengembangan agrobisnis seperti peningkatan ekspor-impor produk- produk
pertanian kedua negara. Ada beberapa dasar kerjasama Indonesia dan China di bidang pertanian
antara lain (Sumber : Kementrian Luar Negeri (http://treaty.kemlu.go.id/ )):
1. Memorandum Saling Pengertian Kerja Sama Perikanan antara Kementerian Kelautan dan
Perikanan Republik Indonesia dan Kementerian Pertanian Republik Rakyat Tiongkok.
Jakarta, 02 Oktober 2013
2. Memorandum Saling Pengertian antara Departemen Pertanian Republik Indonesia dan
Administrasi Umum Pengawasan Mutu, Inspeksi dan Karantina Republik Rakyat Cina mengenai
Kerja Sama dan Konsultasi bidang Sanitari dan Fitosanitari. Beijing, 11 Desember 2008
3. Pengaturan Bilateral antara Departemen Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia dan
Kementerian Pertanian Republik Rakyat China mengenai Pemanfaatan sebagian dari Jumlah

3
Tangkapan yang diperbolehkan di Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia. Beijing, 19 Desember
2001
4. Memorandum Saling Pengertian antara Departemen Pertanian Republik Indonesia dan
Departemen Pertanian Republik Rakyat China tentang Kerjasama di bidang Pertanian. Jakarta, 07
November 2001

2) Ekspor Komoditas Pertanian Indonesia ke China


Selama periode Januari – Juni 2013, Indonesia melakukan ekspor komoditas pertanian ke
berbagai negara. Negara tujuan ekspor komoditas pertanian kedua Setelah India adalah China,
dimana sub sektor perkebunan kembali memberikan kontribusi nilai ekspor terbesar mencapai
US$ 1,83 milyar. Komoditas utama sub sektor perkebunan yang diekspor ke China adalah
kelapa sawit yang mencapai US$ 997,84 juta dan karet sebesar US$
724,17 juta. Komoditas perkebunan lainnya yang juga banyak diekspor ke China adalah
kelapa dan kakao walaupun dalam jumlah yang tidak terlalu besar, yakni masing-masing sebesar
US$ 42,97 juta dan US$ 19,89 juta.
Sementara, ekspor komoditas sub sektor lainnya relatif lebih kecil dibandingkan dengan
ekspor komoditas perkebunan.

Tabel 1. Negara Utama Tujuan Ekspor Komoditas Pertanian


Indonesia, Januari – Juni 2013

3) Dampak dari Kerjasama Indonesia dengan China (Tiongkok) di Bidang Ekonomi


pada Sektor Pertanian

Dampak positif kerjasama dari sisi konsumen atau masyarakat, kesepakatan ini membuat
pasar dibanjiri oleh produk-produk dengan harga lebih murah dan banyak pilihan. Dengan
demikian akan berdampak pada meningkatnya daya beli masyarakat sehingga diharapkan
kesejahteraan pun dapat ditingkatkan. Namun, kesepakatan tersebut juga memberikan dampak
4
negatif yang justru membuat industri petanian lokal gelisah. Hal ini dikarenakan industri
petanian lokal dinilai belum cukup siap menghadapi serbuan produk-produk China yang
berharga murah. Produk- produk dalam negeri masih memiliki biaya produksi yang cukup tinggi
sehingga harga pasaran pun masih sulit ditekan. Keadaan ini dikhawatirkan akan
memicu pemutusan hubungan kerja (PHK) dikarenakan ditutupnya perusahaan dalam negeri
akibat kalah bersaing.
Dari keseluruhan ekspor dan impor yang ada, bisa dikatakan Indonesia lebih banyak
mengimpor. Jika melihat dari keseluruhan total impor yang ada. Dari subsektor hotikultura
Indonesia bisa dikatakan masih bergantung pada impor. Misalnya buah-buahan dan sayur-
sayuran Indonesia sampai sekarang masih dikatakan ketergantungan akan impor dari Cina.
Tetapi disisi lain, kenaikan ekspor yang ada dinikmati oleh subsektor perkebunan, yaitu minyak
sawit.
Ini membuktikan, produk unggulan ekspor kita dalam sektor pertanian hanya minyak sawit
dan produk unggulan impor kita dari Cina adalah buah-buahan yang bisa dilihat baik pasar
modern maupun tradisional, lebih banyak buah yang diimpor daripada buah lokal. Hal ini
memberikan dampak yang tidak baik bagi perkembangan sektor pertanian di Indonesia, karena
dengan membanjirnya impor dari Cina, hal ini sangat merugikan petani Indonesia yang
mempunyai pekerjaan di sektor pertanian. Dan hasilnya, lahan untuk pertanian dibuka
menjadi lahan perkebunan kelapa sawit karena permintaan ekspor yang semakin meningkat.
Ini menunjukkan peran pemerintah Indonesia yang bisa dikatakan lebih mementingkan
produk unggulan seperti kelapa sawit untuk dibuka selebar- lebarnya agar dapat mengekspor
sebanyak mungkin dan produk yang ekspornya menurun dibiarkan tanpa tindakan yang
menudukung

5
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Kerjasama yang dilakukan negara-negara terdiri dari beberapa macam seperti
multirateral, bilateral dan regional. Aspek yang menjadi pola kerjasama yakni ekonomi, sosial
serta budaya. Suasana/ iklim dunia dapat memperngaruhi pola kerjasama yang dilakukan.
Adanya faktor saling membutuhkan dan saling bergantung menjadikan suatu negara harus
melakukan kerjasama dengan negara lain. Negara kaya atau tentram sekaligus masih
membutuhkan negara berkembang untuk mereka jadikan sebagai pasar.

B. Saran
Agar terwujudnya suatu bentuk kerjasama yang sesuai dengan harapan masyarakat
masing-masing negara. Dan kerjasama baik bilateral, multelateral maupun regional berjalan
dengan baik maka pemimnpin dan masyarakat suatu negara harus menyatukan visi dan misi
agar memiliki tujuan akhir yang sama yakni kerjasama yang meberikan dampak baik bagi
kemajuan bangsa dan negaranya.