Anda di halaman 1dari 19

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)

LATIHAN RELAKSASI OTOT PROGRESIF (ROP) UNTUK MENURUNKAN


HIPERTENSI PADA LANSIA DI DESA KEBUMEN KECAMATAN
BATURADEN

Disusun oleh:
Profesi Ners Angkatan 23 Desa Kebumen

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN


FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN
JURUSAN ILMU KEPERAWATAN
PROGRAM STUDI PROFESI NERS
PURWOKERTO
2019
BAB 1. PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Usia lanjut merupakan kelompok orang yang sedang mengalami suatu
proses perubahan yang bertahap dalam jangka waktu beberapa dekade. Usia lanjut
adalah tahap perkembangan yang normal akan dijalani oleh setiap orang dan
merupakan kenyataan yang tidak dapat dihindari (Notoatmodjo, 2007). WHO
menyebutkan bahwa lanjut usia merupakan kelompok penduduk yang berusia 60
tahun atau lebih. Proporsi lansia secara global pada tahun 2014 adalah 12% dari
total populasi global. Menurut Kemenkes (2015) menyebutkan jika jumlah populasi
lansia berusia lebih dari 60 tahun di Indonesia mengalami peningkatan setiap tahun
yaitu 19.142.805 jiwa tahun 2014 menjadi 21.685.326 jiwa pada tahun 2015
(Fatmawati dkk., 2017). Persentase lansia di Jawa Tengah mencapai angka 13,03%
atau sekitar 4,49 juta jiwa dari keseluruhan populasi. Menurut Badan Pusat Statistik
(BPS) kabupaten banyumas, populasi lansia di Banyumas sendiri mencapai angka
kurang lebih 200.000 jiwa pada tahun 2013.
Hipertensi merupakan salah satu penyakit system kardiovaskuler yang
banyak dijumpai di masyarakat. Hipertensi bukanlah penyakit menular, namun
harus senantiasa diwaspadai. Tekanan darah tinggi atau hipertensi dan
arteriosclerosis (pengerasan arteri) adalah dua kondisi pokok yang mendasari
banyak bentuk penyakit kardiovaskular. Lebih jauh, tidak jarang tekanan darah
tinggi juga menyebabkan gangguan ginjal. Sampai saat ini, usaha-usaha baik
mencegah maupun mengobati penyakit hipertensi belum berhasil sepenuhnya,
karena adanya faktor-faktor penghambat seperti kurang pengetahuan tentang
hipertensi (pengertian, tanda dan gejala, sebab akibat, komplikasi) dan juga
perawatannya. Saat ini, angka kematian karena hipertensi di Indonesia sangat
tinggi. Jumlah penderita hipertensi di seluruh dunia diperkirakan 972 juta jiwa atau
setara dengan 26,4 persen populasi orang dewasa. Angka prevalensi hipertensi di
Indonesia berdasarkan riskesdas (riset kesehatan dasar) 2007 mencapai 30 persen
dari populasi. Dari jumlah itu, 60 persen penderita hipertensi berakhir pada stroke.
Sedangkan sisanya pada jantung, gagal ginjal, dan kebutaan. Sementara di dunia
Barat, hipertensi justru banyak menimbulkan gagal ginjal, oleh karena perlu di
galakkan pada masyarakat mengenai pengobatan dan perawatan hipertensi.
Data survey dari mahasiswa profesi ners unsoed angkatan 23, didapatkan
jumlah lansia di desa kebumen sebanyak 248 jiwa. Dari jumlah lansia tersebut,
lansia yang menderita hipertensi sebanyak 111 jiwa. Hal ini dikarenakan oleh
beberapa faktor, yaitu gaya hidup tentang konsumsi makanan yang baik dan benar,
serta cara perawatan dengan hipertensi yang kurang maksimal.
Penggunaan teknik relaksasi untuk menurunkan tekanan darah merupakan
salah satu cara yang mudah untuk dilakukan. Salah satu teknik relaksasi yang dapat
dilakukan oleh lansia hipertensi adalah teknik relaksasi otot progresif. Teknik
relaksasi otot progresif adalah suatu latihan dan olah pernafasan yang dilakukan
untuk menghasilkan respon yang dapat memerangi respon stres sehingga dapat
menurunkan kerja jantung dan dapat menurunkan tekanan darah (Smeltzer & Bare,
2002).

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Setelah dilakukan penyuluhan, peserta diharapkan mampu mempraktekan
teknik relaksasi otot progresif.
2. Tujuan Khusus
Setelah mengikuti penyuluhan, peserta mampu:
a. Menyebutkan pengertian teknik relaksasi otot progresif
b. Menyebutkan manfaat dari teknik relaksasi otot progresif
c. Menyebutkan tujuan dari teknik relaksasi otot progresif
d. Mengetahui langkah-langkah dari teknik relaksasi otot progresif

C. Sasaran
Sasaran dari penyuluhan teknik relaksasi otot progresif ini adalah lansia
hipertensi yang memiliki tekanan darah tinggi diatas 140/90 mmHg dan tidak
memiliki hambatan dalam melakukan kegiatan.
D. Metode
1. Ceramah
2. Diskusi
3. Demonstrasi
4. Tanya jawab

E. Media dan alat


a. Laptop
b. Proyektor
c. Power point
d. Leaflet

F. Waktu dan tempat


Hari/tanggal :
Pukul :
Tempat:

G. Pengorganisasian
 Moderator :
 Leader :
 Co leader :
 Fasilitator :
 Observer :
 Dokumentator :

H. Uraian tugas
1. Leader
Bertanggung jawab memberikan penyuluhan tentang pengertian, tujuan dan
manfaat teknik relaksasi otot progresif.
2. Co leader
Memeragakan langkah-langkah teknik relaksasi otot progresif.
3. Moderator
 Membuka acara
 Memerkenalkan mahasiswa dan dosen pembimbing
 Menjelaskan tujuan dan topik
 Menjelaskan kontrak waktu
 Menyerahkan jalannya penyuluhan kepada pemateri
 Mengarahkan alur diskusi
 Memimpin jalannya diskusi
 Menutup acara
4. Fasilitator
 Memotivasi peserta agar berperan aktif
 Membuat absensi penyuluhan
 Mengantisipasi suasana yang dapat mengganggu kegiatan penyuluhan
5. Observer
 Mengawasi proses pelaksanaan kegiatan dari awal sampai akhir
 Membuat laporan penyuluhan yang telah dilaksanakan
I. Setting tempat
Keterangan:
L = Lansia
P = Leader atau Penyuluh
L

M = Moderator
F = Fasilitator
O = Observer
Pb = Pembimbing
D = Dokumentator
J. Materi (terlampir)
K. Kegiatan penyuluhan

5 menit

Pb P M

O
F F L F

L F L F L

D
penyuluhan
2 Pelaksanaan 40
 Pemateri mengkaji pengetahuan  Mengemukakan pendapat menit
audiens tentang teknik relaksasi
otot progresif
 Memberi pujian positif  Mendengarkan
 Meluruskan konsep tentang  Mendengarkan dan
pengertian teknik relaksasi otot memerhatikan
progresif
 Mengkaji pengetahuan audiens  Mengemukakan pendapat
tentang tujuan teknik relaksasi
otot progresif
 Memberi pujian positif  Mendengarkan
 Menjelaskan tujuan teknik  Mendengarkan dan
relaksasi otot progresif memerhatikan
 Mengkaji pengetahuan audiens  Mengemukakan pendapat
tentang manfaat teknik relaksasi
otot progresif
 Memberi pujian positif  Mendengarkan
 Menjelaskan tentang manfaat  Mendengarkan dan
teknik relaksasi otot progresif memerhatikan
 Menjelaskan langkah-langkah  Mengemukakan pendapat
teknik relaksasi otot progresif
 Memberi kesempatan audiens  Mengajukan pertanyaan
untuk bertanya
 Memberi pujian positif  Mendengarkan
 Menjawab pertanyaan  Mendengarkan
3 Penutup
 Meminta audiens mengulang  Mengemukakan pendapat
beberapa informasi yang telah
diberikan
 Memberikan pujian positif  Mendengarkan dan
memerhatikan
 Bersama audiens  Mengemukakan pendapat
menyimpulkan materi
 Menutup dengan salam  Menjawab salam

L. Evaluasi
1. Evaluasi struktur
 75% atau lebih audiens menghadiri acara
 Alat dan media sesuai dengan rencana
 Perang dan fungsi masing-masing sesuai dengan yang direncanakan
2. Evaluasi proses
 Pelaksanaan kegiatan sesuai dengan waktu yang direncanakan
 Peserta penyuluhan mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir
 Peserta berperan aktif dalam jalannya diskusi
3. Evaluasi hasil
Setelah diberikan penyuluhan diharapkan 75% peserta mampu:
 Menyebutkan pengertian dari hipertensi
 Menyebutkan penyebab hipertensi
 Menyebutkan tanda dan gejala hipertensi
 Menyebutkan pengertian teknik relaksasi otot progresif
 Menyebutkan tujuan dari teknik relaksasi otot progresif
 Menyebutkan manfaat teknik relaksasi otot progresif
 Menyebutkan langkah-langkah back exercise
LAMPIRAN
LATIHAN RELAKSASI OTOT PROGRESIF

A. Pengertian
Teknik relaksasi otot progresif merupakan teknik relaksasi yang berfokus
pada tegangan otot dan kerileksan otot.

B. Tujuan
Relaksasi otot progresif bertujuan untuk mengenali apa yang terjadi pada
tubuh, sehingga dapat mengurangi ketegangan dan dapat melanjutkan kegiatan.

C. Manfaat
Manfaat dari relaksasi otot progresif ini adalah untuk mengatasi berbagai
macam masalah, yaitu:
 Stres
 Kecemasan
 Insomnia
 Hipertensi (tekanan darah tinggi)
 Membangun emosi positif dari emosi negatif

D. Cara melakukan terapi relaksasi otot progresif

RELAKSASI OTOT PROGRESIF

KEPERAWATAN
UNIVERSITAS
JENDERAL
SOEDIRMAN
PROSEDUR TETAP NO. NO. HALAMAN
DOKUMEN REVISI
TANGGAL DITETAPKAN OLEH:
TERBIT
1 INDIKASI 1. Klien yang mengalami insomnia
. 2. Klien yang mengalami stres dan kecemasan
3. Klien yang mengalami nyeri
4. Klien yang mengalami ketegangan otot
5. Klien dengan hipertensi (tekanan darah tinggi)
2 KONTRAINDIKASI 1. Klien cidera akut atau gangguan
. musculoskeletal seperti cedera jaringan lunak,
fraktur, osteoartritis, neoplasma dan patologi
sistem muskuloskeletal lainnya
2. Hipotensi
3. Gangguan jantung akut/kronis
3 PERSIAPANKLIEN 1. Pastikan identitas klien
. 2. Kaji kondisi klien
3. Posisikan klien senyaman mungkin
(berbaring atau duduk)
4. Beritahu dan jelaskan pada klien tindakan
yang dilakukan
5. Minta klien untuk mengenakan training atau
celana
PERSIAPAN ALAT 1. Alas duduk
2. Bantal
5 CARA KERJA 1. Beritahu klien bahwa tindakan akan segera
. dimulai
2. Posisikan klien senyaman mungkin
3. Gerakan 1: ditunjukkan untuk melatih otot
tangan.
a. Genggam tangan kiri sambil membuat
suatu kepalan.
b. Buat kepalan semakin kuat sambil
merasakan sensasi ketegangan yang
terjadi.
c. Pada saat kepalan dilepaskan, rasakan
relaksasi selama 10 detik.
d. Gerakan pada tangan kiri ini dilakukan
dua kali sehingga dapat membedakan
perbedaan antara ketegangan otot dan
relaks yang dialami.
e. Lakukan gerakan yang sama pada tangan
kanan.

4. Gerakan 2: ditunjukkan untuk melatih otot


tangan bagian belakang.
a. Tekuk kedua lengan ke belakang pada
pergelangan tangan sehingga otot di
tangan bagian belakang dan lengan
bawah menegang.
b. Tahan selama 10 detik kemudian
lepaskan untuk merasakan sensasi
relaks.
c. Ulangi kembali gerakan tersebut.

5. Gerakan 3: ditujukan untukmelatih otot


biseps (otot besar pada bagian atas pangkal
lengan).
a. Genggam kedua tangan sehingga
menjadi kepalan.
b. Kemudian membawa kedua kepalan ke
pundak sehingga otot biseps akan
menjadi tegang.
c. Tahan selama 10 detik, kemudian
lepaskan secara perlahan-lahan.
d. Ulangi kembali gerakan tersebut.

6. Gerakan 4: ditujukan untuk melatih otot


bahu supaya mengendur.
a. Angkat kedua bahu setinggi-tingginya
seakan-akan hingga menyentuh kedua
telinga.
b. Tahan selama 10 detik kemudian
lepaskan secara perlahan.
c. Ulangi kembali gerakan tersebut.

7. Gerakan 5 dan 6: ditujukan untuk


melemaskan otot-otot wajah (seperti dahi,
mata, rahang dan mulut).
a. Gerakan otot dahi dengan cara
mengerutkan dahi dan alis sampai otot
terasa kulitnya keriput.
b. Tutup keras-keras mata sehingga dapat
dirasakan ketegangan di sekitar mata
dan otot-otot yang mengendalikan
gerakan mata.
c. Tahan selama 10 detik kemudian
lepaskan secara perlahan.
d. Ulangi sekali lagi gerakan tersebut.

8. Gerakan 7: ditujukan untuk mengendurkan


ketegangan yang dialami oleh otot-otot
rahang. Katupkan rahang, diikuti dengan
menggigit gigi sehinga terjadi ketegangan
di sekitar otot rahang. Tahan selama 10
detik kemudian lepaskan secara perlahan
dan rasakan sensasi relaks. Ulangi sekali
lagi gerakan tersebut.

9. Gerakan 8: ditujukan untuk mengendurkan


otot-otot di sekitar mulut. Bibir
dimoncongkan sekuat-kuatnya sehingga
akan dirasakan ketegangan di sekitar
mulut. Tahan selama 10 detik kemudian
lepaskan dan rasakan sensasi relaks.
Ulangi sekali lagi gerakan tersebut.

10. Gerakan 9: ditujukan untuk merilekskan


otot leher bagian depan maupun belakang.
a. Gerakan diawali dengan otot leher
bagian belakang baru kemudian otot
leher bagian depan.
b. Letakkan kepala sehingga dapat
beristirahat.
c. Tekan kepala pada permukaan bantalan
kursi sedemikian rupa sehingga dapat
merasakan keteganagn di bagian
belakang leher dan punggun atas.
d. Tahan selama 10 detik kemudian
rasakan sensasi relaks.
e. Ulangi sekali lagi gerakan tersebut.
11. Gerakan 10: ditujukan untuk melatih otot
leher bagian depan.
a. Gerakan kepala menunduk sampai
dagu menyentuh dada.
b. Rasakan ketegangan di daerah leher
baguan depan.
c. Tahan selama 10 detik kemudian
lepaskan secara perlahan-lahan
d. Ulangi lagi gerakan tersebut.

12. Gerakan 11: ditujukan untuk melatih otot


punggung.
a. Punggung dilengkungkan
b. Busungkan dada, tahan kondisi tegang
selama 10 detik, kemudian relaks.
c. Saat relaks, letakkan tubuh kembali ke
posisi semula.
d. Ulangi kembali gerakan tersebut.
13. Gerakan 12: ditujukan untuk melemaskan
otot dada.
a. Tarik napas panjang untuk mengisi
paru-paru dengan uadar sebanyak-
banyaknya.
b. Ditahan selama beberapa saat, sambil
merasakan ketegangan di bagian dada
sampai turun ke perut, kemudian
dilepaskan.
c. Saat tegangan dilepas, lakukan napas
normal dengan lega.
d. Ulangi sekali lagi sehingga dapat
dirasakan perbedaan antara kondisi
tegang dan relaks.

14. Gerakan 13 bertujuan untuk melatih otot-


otot perut.
a. Kempiskan perut dengan kuat sampai
kencang.
b. Tahan sampai kencang dan keras
selama 10 detik, lalu dilepaskan.
c. Ulangi kembali seperti gerakan awal
untuk perut.
15. Gerakan 14: ditujukan untuk melatih otot-
otot kaki (otot paha dan betis).
a. Luruskan kedua telapak kaki sehingga
otot paha terasa tegang.
b. Lanjutkan dengan mengunci lutut
sedemikian rupa sehingga ketegangan
pindah ke otot betis.
c. Tahan posisi tegang selama 10 detik,
lalu dilepas.
d. Ulangi setiap gerakan masing-masing
dua kali.

16. Gerakan 15:


a. Tumit ditekan pada lantai
b. Kemudian jari-jari kaki dibuka lebar-
lebar dan ditarik keatas.
c. Otot-otot paha ditegangkan.
d. Tahan posisi tegang selama 10 detik,
lalu dilepas.
e. Ulangi sekali lagi gerakan yang serupa.

6 HASIL 1. Evaluasi respon klien


. 2. Berikan reinforcement positif
3. Lakukan kontrak untuk kegiatan
selanjutnya.
4. Mengakhiri kegiatan dengan baik.
7 DOKUMENTASI 1. Catat tindakan yang telah dilakukan,
. tanggal dan jam pelaksanaan
2. Catat hasil tindakan

E. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam melakukan terapi relaksasi otot


progresif
a. Jangan terlalu menegangkan otot berlebihan karena dapat melukai diri sendiri
b. Untuk merilekskan otot-otot membutuhkan waktu sekitar 20-50 detik
c. Posisi tubuh, lebih nyaman dengan mata tertutup, jangan dengan berdiri
d. Menegangkan kelompok otot dua kali tegangan
e. Melakukan pada bagian kanan tubuh dua kali, kemudian bagian kiri dua kali
f. Memeriksa apakah klien benar-benar rileks
g. Terus-menerus memberikan instruksi dan tidak terlalu cepat, dan tidak terlalu
lambat
DAFTAR PUSTAKA

Fatmawati, S., H. Muliyati, dan Sukrang. 2017. Pengaruh pemberian pisang ambon
(musa paradisiaca s) terhadap penurunan tekanan darah pada lansia penderita
hipertensi. Jurnal Keperawatan Muhammadiyah. 2(2):1–8.
Notoatmodjo, S. 2007. Promosi Kesehatan Dan Ilmu Perilaku. Jakarta: Rineka Cipta.
Smeltzer, S. C & Bare, B.G. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner
and Sudarth, vol. I (edisi 8). Alih Bahasa: Monica Ester, Ellen Panggabean.
Jakarta: EGC.
LAMPIRAN