Anda di halaman 1dari 112

PENGARUH SWEDISH MASSAGE TERHADAP PENURUNAN

TEKANAN DARAH PADA PASIEN HIPERTENSI


DI PUSKESMAS JATI RANGGON
TAHUN 2013

TESIS

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan


Program Strata Dua (S-2) Magister Keperawatan

Oleh

RTS RATIH PUSPITA


2011980015

PROGRAM STUDI MAGISTER KEPERAWATAN


SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
2013
PENGARUH SWEDISH MASSAGE TERHADAP PENURUNAN
TEKANAN DARAH PADA PASIEN HIPERTENSI
DI PUSKESMAS JATI RANGGON
TAHUN 2013

TESIS

Oleh

RTS RATIH PUSPITA


2011980015

PROGRAM STUDI MAGISTER KEPERAWATAN


SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
2013
PENGARUH SWEDISH MASSAGE TERHADAP PENURUNAN
TEKANAN DARAH PADA PASIEN HIPERTENSI
DI PUSKESMAS JATI RANGGON
TAHUN 2013

TESIS

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan


Program Strata Dua (S-2) Magister Keperawatan

Oleh

RTS RATIH PUSPITA


2011980015

PROGRAM STUDI MAGISTER KEPERAWATAN


SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
2013
LEMBAR PERNYATAAN

Saya yang bertanda tangan dibawah ini :

Nama : Ratumas Ratih Puspita

NIM : 2011980015

Dengan ini menyatakan bahwa Tesis ini adalah hasil karya sendiri yang merupakan hasil

penelitian, pengolahan dan analisa saya sendiri, serta bukan merupakan replika maupun

saduran dari hasil penelitian orang lain.

Apabila terbukti tesis ini merupakan plagiat atau replika maka saya bersedia menerima sangsi

yang berlaku di Universitas Muhammadiyah Jakarta.

Demikian pernyataan ini dibuat, dengan segala akibat yang timbul kemudian menjadi

tanggung jawab saya.

Jakarta, Oktober 2013

Ratumas Ratih Puspita


PROGRAM MAGISTER KEPERAWATAN
SEKOLAH PASCA SARJANA
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA

Tesis, 19 September 2013

Ratumas Ratih Puspita

Judul

Pengaruh Swedish Massage Terhadap Penurunan Tekanan Darah Pada Pasien Hipertensi di
Puskesmas Jati Ranggon Pondok Gede

xv + 88 halaman + 9 tabel + 3 skema + 7 lampiran

ABSTRAK

Hipertensi terjadi karena adanya peningkatan kecepatan denyut jantung dan volume sekuncup
akibat susunan saraf simpati sehingga terjadi peningkatan kontraktilitas serat-serat otot
jantung dengan cara vasokontriksi selektif pada organ perifer. Salah satu intervensi
keperawatan untuk menurunkan tekanan darah adalah Swedish Massage. Tujuan dari
penelitian ini adalah menganalisis pengaruh Swedish Massage terhadap perubahan tekanan
darah penderita hipertensi di Puskesmas Jati Ranggon, Pondok Gede Kota Bekasi. Desain
penelitian ini yaitu Pra-Experiment. Populasinya penderita hipertensi non farmakologis.
Besar sampel adalah 16 respon dan dengan menggunakan teknik Purposive sampling.
Variabel penelitian adalah tekanan darah. Data dikumpulkan dengan menggunakan
sphygmonameter air raksa. Hasil penelitian menunjukkan tekanan darah mengalami
penurunan yang signifikan setelah dilakukan Swedish Massage, dengan nilai maksimal rata-
rata penurunan sistolik dan diastolik pada post massage IV yaitu sebesar 10.00 mmHg dan
5.00 mmHg. Ada hubungan variabel confounding usia dan jenis kelamin dengan penurunan
tekanan darah diastolik. Kesimpulan dari penelitian ini, ada pengaruh signifikan Swedish
Massage terhadap penurunan tekanan darah penderita hipertensi.

Kata Kunci : Hipertensi, Swedish massage, penurunan tekanan darah.

Pustaka : 40 (1991-2012)
MASTER PROGRAM
POST-GRADUATE SCHOOL OF NURSING
UNIVERSITY OF MUHAMMADIYAH JAKARTA

Thesis,

Ratumas Ratih Puspita

October 19th 2013

Title

The Influence of Swedish Massage to Decrease Blood Pressure of Hypertensive Patients in


Puskesmas Jati Ranggon Pondok Gede

xv + 88 pages + 9 tables + 3 schemes + 7 attachments

ABSTRACT

Hypertension occurs due to the increase of heartbeat and bud volume as a result of
sympathetic nerves that increased the contractility of fiber cardiac muscle by selective
vasoconstriction in peripheral organs. The purpose of this research is to analyze Swedish
Massage’s influence toward blood pressure alternation of hypertensive patients in Puskesmas
Jati Ranggon, Pondok Gede Kota Bekasi. The design of this research is Pre-Experiment. The
population of this research are hypertensive patients non pharmacologic. The numbers of
samples are 16 respondents by using purposive sampling technic. The variable of this
research is blood pressure. The data is collected by using sphygmonameter mercury. The
result of this research shows that after Swedish Massage had been done, blood pressure
decreased significantly at the decrease of maximum average value systolic and diastolic
toward post massage IV 10.00 mmHg and 5.mmHg. There is relation between variable
confounding age and sex with decrease of diastolic blood pressure. The conclusion of this
research is existing significant influence of Swedish Massage to decrease blood pressure of
hypertensive patients.

Password: Hypertensi, Swedish massage, decrease blood.

Source : 40 (1991-2012)
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb

Alhamdulillah, puji dan syukur peneliti panjatkan kehadirat Allah SWT, atas rahmat

dan karunia_Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian yang berjudul “

Pengaruh Swedish Massage Terhadap Penurunan Tekanan Darah pada Pasien

Hipertensi di Puskesmas Jati Ranggon tahun 2013 “.

Dalam penyusunan penelitian ini, peneliti menemukan beberapa kesulitan karena

berbagai hal, namun berkat ridho Allah SWT dan berbagai pihak, akhirnya peneliti

dapat menyelesaikan penelitian ini. Untuk itu pada kesempatan ini peneliti

mengucapkan terima kasih kepada :

1. Hj Tri Kurniati, S.Kp.,M.Kep selaku Ketua program Studi Magister

Keperawatan Universitas Muhamadiyah Jakarta.

2. Yani Sofiani, M.Kep.,Sp.KMB selaku Sekretaris Jurusan program Studi

Magister Keperawatan Universitas Muhamadiyah Jakarta sekaligus sebagai

pembimbing I, yang telah banyak memberikan pengarahan dan bimbingan

kepada peneliti dalam proses penyusunan proposal tesis ini.

3. DR. Rohadi Haryanto, MSc selaku pembimbing II, dengan kesabarannya telah

membantu peneliti dalam penyusunan metodologi penelitian dalam tesis.

4. Mama tercinta dan keluarga besarku yang tidak bisa disebutkan satu persatu,

karena kalian semua saya bisa menjalankan ini semua.

5. Seseorang yang teristimewa, sumber motivator yang luar biasa yang tidak

henti-hentinya memberikan dukungan dan motivasi dalam penyelesaian tesis.


6. Teman-teman di angkatan I/2011 Program Magister Keperawatan Fakultas Ilmu

Keperawatan Universitas Muhamadiyah Jakarta, yang selalu memberikan

support.

Peneliti menyadari dalam penyusunan tesis ini masih banyak kekurangan, oleh sebab

itu peneliti berharap kritik dan saran untuk perbaikan. Semoga tesis ini dapat

bermanfaat bagi kita semua. Amin

Wassalamu’alaikum Wr. Wb

Penyusun

Ratumas Ratih Puspita


DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ............................................................................................ i

LEMBAR PERSETUJUAN ................................................................................. ii

KATA PENGANTAR ......................................................................................... iii

DAFTAR ISI ........................................................................................................ iv

DAFTAR TABEL ................................................................................................ vii

DAFTAR SKEMA ............................................................................................... viii

BAB I : PENDAHULUAN .................................................................................. 1

A. .Latar Belakang ........................................................................................ 1


B. Perumusan Masalah ................................................................................. 3
C. Tujuan Penelitian ..................................................................................... 4

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA ........................................................................ 6

A. Tekanan Darah ......................................................................................... 6


1. Defenisi tekanan darah ........................................................................ 6
2. Pengukuran tekanan darah ................................................................... 7
3. Mekanisme pemeliharaan tekanan darah ............................................. 8
4. Gangguan tekanan darah ..................................................................... 10
B. Hipertensi ................................................................................................. 11
1. Defenisi hipertensi ............................................................................... 11
2. Faktor resiko ........................................................................................ 12
3. Klasifikasi hipertensi ........................................................................... 15
4. Respon penderita hipertensi ................................................................ 16
5. Bahaya hipertensi ................................................................................ 17
6. Penatalaksanaan hipertensi .................................................................. 19
C. Swedish Massage ..................................................................................... 24
1. Defenisi swedish massage ................................................................... 24
2. Sejarah swedish massage ..................................................................... 25
3. Gerakan ................................................................................................ 26
4. Mekanisme massage terhadap tekanan darah ...................................... 29
5. Kontra indikasi .................................................................................... 32

BAB III : KERANGKA KONSEP, HIPOTESIS DAN DEFENISI

OPERASIONAL ................................................................................. 34

1. Kerangka konsep ................................................................................. 34


2. Hipotesis penelitian ............................................................................. 35
3. Definisi operasional ............................................................................. 35

BAB IV : METODOLOGI PENELITIAN .......................................................... 37

1. Rancangan penelitian ........................................................................... 37


2. Populasi dan sampel ............................................................................ 38
3. Tempat penelitian ................................................................................ 40
4. Waktu penelitian .................................................................................. 40
5. Etika penelitian .................................................................................... 41
6. Alat pengumpulan data ........................................................................ 43
7. Validitas dan realibilitas ...................................................................... 44
8. Prosedur pengambilan data .................................................................. 45
9. Analisa data ......................................................................................... 49

BAB V : HASIL PENELITIAN .......................................................................... 52

1. Analisis Univariat ..................................................................................... 52


2. Analisis Bivariat ....................................................................................... 60

BAB VI : PEMBAHASAN .................................................................................. 73

1. Interprestasi dan Diskusi Hasil ................................................................. 73


2. Keterbatasan Penelitian ............................................................................ 87
3. Implikasi Penelitian .................................................................................. 88

BAB VII : KESIMPULAN DAN SARAN .......................................................... 90

1. Kesimpulan .............................................................................................. 90
2. Saran ......................................................................................................... 90

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR TABEL

Tabel 2.1. pengelompokan TD dan HT ................................................................ 15


Table 2.2. klasifikasi TD pada dewasa ............................................................... 16
Tabel 3.1. Definisi Operasional ........................................................................... 35
Tabel 5.1 Distribusi Usia dan Durasi Hipertensi Responden Pasien Hipertensi
Penerima Swedish Massage Di Puskesmas Jati Ranggon
2013 ..................................................................................................... 52
Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi Jenis kelamin dan Pengendalian Diri Hipertensi
Non Farmakologis Responden Pasien Hipertensi Penerima Swedish
Massage Di Puskesmas Jati Ranggon 2013 ......................................... 53
Tabel 5.3 Hasil Pengukuran Tekanan Darah Sistolik dan Diastolik Rata – Rata
Pasien Hipertensi Penerima Swedish Massage I – IV Di Puskesmas
Jati Ranggon 2013 ................................................................................. 55
Tabel 5.4 PerbedaanRata-Rata Tekanan Darah Sistolik antara Pre dan
Post Massage Pasien Hipertensi Penerima Swedish Massage
Di Puskesmas Jati Ranggon 2013 ........................................................ 60
Tabel 5.5 Distribusi Rata-Rata Tekanan Darah Diastolik antara Pre dan
Post Massage Pasien Hipertensi Penerima Swedish Massage
Di Puskesmas Jati Ranggon 2013 ......................................................... 63
Tabel 5.6 Analisa Perbedaan Rata-rata Penurunan Tekanan Darah
Sistolik Pre Massage 1 dan Post Massage 4 Menurut Usia Pasien
Hipertensi Penerima Swedish Massage Di Puskesmas Pondok
Ranggon 2013 ..................................................................................... 66
Tabel 5.7 Analisa Perbedaan Rata-rata Penurunan Tekanan Darah
Sistolik Pre Massage 1 dan Post Massage 4 Menurut Durasi
Hipertensi Pasien Hipertensi Penerima Swedish Massage
Di Puskesmas Pondok Ranggon 2013 ................................................. 67
Tabel 5.8 Analisa Perbedaan Rata-rata Penurunan Tekanan Darah Sistolik
Pre Massage 1 dan Post Massage 4 Menurut Jenis Kelamin
Pasien Hipertensi Penerima Swedish Massage Di Puskesmas
Pondok Ranggon 2013 ......................................................................... 68
Tabel 5.9 Analisa Perbedaan Rata-rata Penurunan Tekanan Darah Sistolik
Pre Massage 1 dan Post Massage 4 Menurut Pengendalian Diri
Hipertensi Non Farmakologis Pasien Hipertensi Penerima Swedish
Massage Di Puskesmas Pondok Ranggon 2013 .................................. 70
DAFTAR SKEMA

Skema 3.1. Kerangka konsep ........................................................................ 34

Skema 4.1. Rancangan peneliti .................................................................... 37

Skema 4.2. pemelihan responden .................................................................. 48


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Hipertensi dapat didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana tekanan

sistoliknya diatas 140 mmHg dan tekanan diastolik diatas 90 mmHg (Brunner

dan Suddarth, 2010).

Berdasarkan data Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperlihatkan yang

menderita hipertensi mencapai 50% sedangkan yang diketahui dan

mendapatkan pengobatan hanya 25% dan 12,5% yang terobati dengan baik.

Prevalensi hipertensi di Indonesia tercatat mencapai 31,7% dari populasi pada

usia 18 tahun keatas dan dari jumlah tersebut 60% penderita hipertensi akan

menderita stroke (Riskesdas, 2008).

Data Dinas Kesehatan Jawa Barat, jumlah penderita hipertensi mencapai 31,7

persen, stroke (8,3 persen), penyakit jantung (7,2 persen), penyakit sendi (30,3

persen), asma (3,5 persen), diabetes mellitus (5,7 persen), tumor (4,3 persen),

dan cedera akibat kecelakaan lalu lintas darat (4,0 persen). Data yang diperoleh

peneliti dari Puskesmas Jati Ranggon Wilayah Kerja Pondok Gede pada

Januari sampai dengan April 2013 didapatkan jumlah penderita hipertensi yang

berobat sejumlah 40 pasien. Data tersebut memperlihatkan bahwa begitu besar

1
2

prevalensi pasien hipertensi yang masih memerlukan penatalaksanaan yang

tepat.

Hipertensi terjadi karena adanya peningkatan kecepatan denyut jantung dan

volume sekuncup akibat susunan saraf simpati sehingga terjadi peningkatan

kontraktilitas serat-serat otot jantung dengan cara vasokontriksi selektif pada

organ perifer. Jika hal ini terjadi secara terus menerus otot jantung akan

menebal (hipertropi) dan mengakibatkan fungsi jantung sebagai pompa

menjadi terganggu (Muttaqin, 2009).

Hipertensi dapat berakibat fatal apabila tidak mendapatkan penatalaksanaan

yang tepat. Penatalaksanaan hipertensi tidak selalu menggunakan obat- obatan.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pendekatan nonfarmakologis dapat

dilakukan pada pasien hipertensi yaitu meliputi : teknik-teknik penurunan berat

badan, pembatasan alkohol, natrium, dan tembakau, olahraga atau latihan yang

berefek meningkatkan lipoprotein berdensitas tinggi, relaksasi yang merupakan

intervensi wajib yang harus dilakukan pada setiap terapi hipertensi dan

massage (Muttaqin, 2009).

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Olney (2005) mendapatkan hasil bahwa

massage dapat menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik pada pasien

hipertensi. Salah satu massage yang bisa dilakukan adalah Swedish massage

yaitu massage dengan bentuk klasik tehnik pijat barat dengan metode

melakukan manipulasi jaringan lunak dengan lima gerakan antaralain

effleurage, petrisage, friction, tapotement dan vibration (Mc Millan, 1921,

dalam Tappan & Benjamin). Penelitian Koq (2010) yang menggunakan


3

Swedish massage dengan tekanan ringan hingga sedang dan dilakukan 4 kali

selama seminggu dihasilkan rata-rata tekanan darah menurun setelah dilakukan

massage. Swedish massage sebagai bentuk terapi modalitas sering digunakan

orang-orang dengan penyakit kronis, oleh karena itu dapat digunakan perawat

dalam kerangka perawatan tersier (Kaptchuk & Eisenberg, 2001; Haber, 2003;

Junker et al., 2004; Wellman et al.,2001., dalam Willison, 2006) dalam

mencapai yang holistik, Holistic America Nurse Association mengintegrasikan

terapi komplementer seperti massage dalam intervensi keperawatan agar

bermanfaat bagi pasien (Willison,2006).

Puskesmas Jati Ranggon merupakan Puskesmas Wilayah Kerja Pondok Gede,

Bekasi. Dari hasil pengamatan dan wawancara tidak terstruktur terhadap

petugas puskesmas dan masyarakat, didapatkan bahwa pasien hipertensi

diwilayah ini pada tahun 2012 sebanyak 112 orang tetapi didapatkan data 60%

tidak rutin berobat. Melihat fenomena ini maka peneliti tertarik untuk

menggunakan penatalaksanaan nonfarmakologis yaitu terapi relaksasi Swedish

Massage untuk menurunkan tekanan darah pada pasien hipertensi, dikarenakan

terapi relaksasi tersebut merupakan cara yang mudah, sederhana dan murah.

Teknik ini dapat dilakukan oleh perawat dan dapat diajarkan kepada keluarga

pasien.

B. Rumusan Masalah

Swedish massage merupakan suatu tehnik massage yang berfokus pada

relaksasi dan meningkatkan sirkulasi darah dengan melibatkan otot. Menurut


4

Bush (2001, dalam Willison, 2006) penggunaan massage oleh perawat

memiliki potensi secara signifikan meningkatkan status kesehatan.

Berdasarkan hal tersebut maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah

belum diketahuinya efek Swedish massage terhadap tekanan darah sistolik dan

tekanan darah diastolik pada pasien hipertensi di puskesmas Jati Ranggon,

Pondok gede.

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Mengetahui pengaruh Swedish massage terhadap penurunan tekanan

darah pada pasien hipertensi

2. Tujuan Khusus

Penelitian ini memiliki tujuan khusus untuk mengetahui :

a. Karakteristik responden pasien hipertensi meliputi usia, jenis

kelamin, durasi hipertensi, pengendalian diri terhadap hipertensi.

b. Pengaruh Swedish massage terhadap penurunan tekanan darah

sistolik dan diastolik pada pasien hipertensi sebelum dilakukan

tindakan intervensi.

c. Pengaruh Swedish massage terhadap penurunan tekanan darah

sistolik dan diastolik pada pasien hipertensi setelah dilakukan

tindakan intervensi

d. Seberapa jauh faktor counfonding berpengaruh terhadap penurunan

tekanan darah sistolik dan diastolik pada pasien hipertensi setelah

dilakukan tindakan intervensi.


5

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi Pelayanan keperawatan

Penelitian ini dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan

pemberian asuhan keperawatan pada pasien hipertensi yang dirawat di

rumah sakit ataupun dalam perawatan keluarga dan masyarakat, yang

berfokus mengurangi gejala, mencegah kecacatan dan meningkatan

kualitas hidup. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan rujukan

bagi perawatan hipertensi melalui pemberian Swedish massage.

2. Bagi Perkembangan Ilmu Keperawatan

Hasil penelitian ini dapat menambah wawasan keilmuan keperawatan

yang dapat dijadikan dasar dalam mengembangkan intervensi

keperawatan sehingga terjadi penurunan tekanan darah, mengurangi

dampak lanjut hipertensi dan kualitas hidup pasien mengalami perbaikan

yang sangat berarti selama dan sesudah perawatan.

3. Bagi Penelitian Selanjutnya

Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai data dasar dalam

melakukan penelitian lain baik yang berkaitan dengan hipertensi dan

Swedish massage.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Sebagai landasan melaksanakan dan mencapai tujuan penelitian, dalam bab ini akan

diuraikan beberapa teori dan konsep yang berkaitan dengan tekanan darah, hipertensi

dan Swedish massage.

A. Tekanan Darah

1. Pengertian Tekanan Darah

Tekanan darah adalah tekanan yang di timbulkan pada dinding arteri.

Tekanan darah seseorang dinyatakan sebagai tekanan darah sistolik /

diastolik. Tekanan darah normal lebih rendah dari 120/80 mm Hg. Tekanan

darah di atas 130 / 80 mmHg dipertimbangkan tinggi (Muhammadun, 2010).

Tekanan darah adalah tekanan dari aliran darah dalam pembuluh darah nadi

(arteri). Tekanan darah paling tinggi terjadi ketika jantung berdetak

memompa darah, ini disebut tekanan sistolik. Tekanan darah menurun saat

jantung relaksasi di antara dua denyut nadi, ini disebut tekanan diastolik.

Tekanan darah ditulis sebagai tekanan sistolik per tekanan diastolik seperti

120/80mmHg (Kowalski 2010).

6
7

2. Pengukuran Tekanan Darah

Dalam mengontrol tekanan darah perlu dilakukan pengukuran tekanan darah

secara rutin. Pengukuran tekanan darah dapat dilakukan secara metode

langsung yaitu kateter arteri dimasukkan ke dalam arteri, tetapi metode

pengukuran ini sangat berbahaya dan dapat menimbulkan masalah kesehatan

lain. Pengukuran tidak langsung dapat dilakukan dengan menggunakan

sphygmomanometer dan stetoskop (Brunner & Suddarth, 2001).

Sphygmomanometer tersusun atas manset yang dapat dikembangkan dan

alat pengukur tekanan yang berhubungan dengan rongga dalam manset. Alat

pengukuran tekanan darah dikalibrasi sehingga tekanan yang terbaca pada

manometer sesuai dengan tekanan dalam millimeter air raksa yang

dihantarkan oleh arteri brakialis (Brunner & Suddarth, 2001).

Cara mengukur tekanan darah dimulai dengan membalutkan manset dengan

kencang dan lembut pada lengan atas dan dikembangkan dengan pompa.

Tekanan dalam manset dinaikkan sampai denyut radial atau brakial

menghilang. Hilangnya denyutan menunjukkan bahwa tekanan sistolik

darah telah dilampaui dan arteri brakialis telah tertutup. Manset

dikembangkan lagi sebesar 20 mmHg sampai 30 mmHg diatas titik

hilangnya denyutan radial. Kemudian manset dikempiskan perlahan, dan

dilakukan pembacaan secara auskultasi maupun palpasi. Dengan palpasi

hanya dapat mengukur tekanan sistolik. Sedangkan dengan auskultasi kita


8

dapat mengukur tekanan sistolik dan diastolik dengan lebih akurat (Brunner

& Suddarth, 2001).

Untuk mengauskultasi tekanan darah, ujung stetoskop yang berbentuk

corong atau diafragma diletakkan pada arteri brakialis, tepat di bawah

lipatan siku (rongga antekubital), yang merupakan titik dimana arteri

brakialis muncul di antara kedua kaput otot biseps. Manset dikempiskan

dengan kecepatan 2 sampai 3 mmHg per detik, sementara kita

mendengarkan awitan bunyi berdetak, yang menunjukkan tekanan darah

sistolik. Bunyi tersebut dikenal sebagai bunyi Korotkoff yang terjadi

bersamaan dengan detak jantung, dan akan terus terdengar dari arteri

brakialis sampai tekanan dalam manset turun di bawah tekanan diastolik dan

pada titik tersebut, bunyi akan menghilang (Brunner & Suddarth, 2001).

B. Hipertensi

1. Defenisi

Hipertensi didefinisikan sebagai tekanan sistolik 160 mmHg dan tekanan

diastolik 90 mmHg (Brunner & Suddarth, 2001).

Hipertensi didefenisikan sebagai tekanan darah persisten dimana tekanan

sistoliknya diatas 140 mmHg dan tekanan diastoliknya diatas 90 mmHg

(Sheps, 2005).
9

Menurut WHO, Hipertensi merupakan gangguan sistem peredaran darah

yang bisa menyebabkan kenaikan tekanan darah diatas nilai normal (140 /

90 mmHg).

2. Faktor resiko hipertensi

a. Ras

Menurut Sheps (2005), diantara orang berusia 18 tahun ke atas,

perbandingan jumlah pasien hipertensinya adalah 32,4% berkulit

hitam dan 23,3% berkulit putih. Di Amerika Serikat, angka tertinggi

untuk penyakit hipertensi adalah pada orang berkulit hitam yang

tinggal di negara-negara bagian sebelah tenggara. Pada golongan ini,

hipertensi biasanya timbul pada usia lebih muda dibandingkan dengan

orang berkulit putih, bahkan perkembangannya cenderung lebih cepat

dan menonjol (Sheps, 2005).

b. Usia

Hipertensi terjadi pada umur lebih dari 65 tahun. Sebelum umur 55

tahun tekanan darah pada laki – laki lebih tinggi daripada perempuan.

Setelah umur 65 tekanan darah pada perempuan lebih tinggi daripada

laki-laki. Dengan demikian, risiko hipertensi bertambah dengan

semakin bertambahnya umur (Gray, et al. 2005)

c. Riwayat Keluarga

Hipertensi cenderung merupakan penyakit keturunan. Jika salah satu

dari orang tua menderita penyakit hipertensi maka sepanjang hidup

anaknya akan mempunyai 25% kemungkinan menderita hipertensi.


10

Jika kedua orang tua menderita penyakit hipertensi maka

kemungkinan anaknya menderita penyakit hipertensi menjadi 60%.

Penelitian terhadap penderita hipertensi pada orang yang kembar dan

anggota keluarga yang sama menunjukkan bahwa kasus-kasus tertentu

ada komponen keturunan yang berperan (Sheps, 2005).

d. Jenis Kelamin

Hipertensi banyak diderita pada jenis kelamin laki-laki baik pada

dewasa awal maupun dewasa tengah. Namun, setelah usia 55 tahun

ketika wanita mengalami menopause, hipertensi menjadi lebih lazim

dijumpai pada wanita. Diantara penduduk Amerika yang berusia 18

tahun keatas, 34% pria dan 31% wanita berkulit hitam menderita

penyakit hipertensi (sheps, 2005)

e. Konsumsi garam yang tinggi.

Dari data statistik ternyata dapat diketahui bahwa hipertensi jarang

diderita oleh suku bangsa atau penduduk dengan konsumsi garam

yang rendah. Dunia kedokteran juga telah membuktikan bahwa

pembatasan konsumsi garam dapat menurunkan tekanan darah; dan

pengeluaran garam (natrium) oleh obat diuretik (pelancar kencing)

akan menurunkan tekanan darah lebih lanjut (Sani, 2008). Menurut

para ahli WHO Expert Committe on Prevention of Cardiovasculer

Disease, sebaiknya mengkonsumsi garam tidak lebih dari 6 gram per

hari yang setara dengan 110 mmol natrium per 2400 miligram per hari.
11

f. Kegemukan atau makan berlebihan.

Pada beberapa penelitian terbukti ada hubungan antara kegemukan

dengan hipertensi. Dalam hal ini belum diketahui secara pasti

bagaimana kegemukan dapat menyebabkan hipertensi (sani 2008).

3. Klasifikasi Hipertensi.

Komite Nasional mengenai Tekanan Darah dan Hipertensi, sebuah cabang

dari National Institutes of Health di Amerika Serikat, mengangkat topik ini

pada 2003. Tujuh panduan dalam klasifikasi dan jenis terapi hipertensi

(dikenal sebagai pedoman JNC7) (Kowalsky, 2010).

Tabel 2.1
Pengelompokan tekanan darah dan hipertensi berdasarkan JNC7
(Kowalski, 2010)
Kategori Sistolik (mmHg) Diastolik (mmHg)
Optimal 115 atau kurang 75 atau kurang
Normal Kurang dari 120 Kurang dari 80
Prehipertensi 120-139 80-89
Hipertensi tahap 1 140-159 90-99
Hipertensi tahap 2 Lebih dari 160 Lebih dari 100
12

Tabel 2.2
Klasifikasi tekanan darah pada dewasa (Muhammadun, 2010)
Kategori Tekanan Darah Tekanan Darah
Sistolik (mmHg) Diastolik (mmHg)
Normal Di bawah 130 Di bawah 85
Normal tinggi 130-139 85-89
Stadium 1 140-159 90-99
(Hipertensi ringan)

Stadium 2 160-179 100-109


(Hipertensi sedang)
Stadium 3 180-209 110-119
(Hipertensi berat)
Stadium 4 210 atau lebih 120 atau lebih
(Hipertensi maligna)

4. Bahaya Hipertensi

Menurut Kaplan (2006), pada jantung, hipertensi adalah faktor resiko

pendukung terbesar di seluruh dunia terhadap kejadian penyakit pembuluh

darah jantung. Penyakit kardiovaskular merupakan penyebab kematian

terbesar yang disebabkan oleh hipertensi. Selain itu hipertensi merupakan

faktor resiko ganda kejadian penyakit koroner, termasuk miocard infark,

kematian tiba-tiba dan faktor resiko ketiga pada gagal jantung koroner

(Kannel, 1996 dalam Kaplan, 2006).

Pada otak, hipertensi merupakan penyebab terbesar penyakit stroke yaitu

kira-kira 50% kasus (Gorelick, 2002 dalam Kaplan, 2006). Pada organ yang

lain yaitu ginjal. Bidani & Griffin (2004 dalam Kaplan, 2006) mengatakan

bahwa hipertensi mempunyai peran penting terhadap gangguan ginjal,


13

dimana terlihat gejala proteinuria, menurunkan Glomerulus Filtrat Rate

(GFR) hingga menyebabkan penyakit gagal ginjal.

5. Penatalaksanaan Hipertensi.

Penatalaksanaan untuk menurunkan tekanan darah pada pasien hipertensi

dapat dilakukan dengan dua jenis yaitu penatalaksanaan farmakologis atau

penatalaksanaan dengan menggunakan obat-obatan kimiawi dan

penatalaksanaan non farmakologis atau penatalaksaan tanpa menggunakan

obat-obatan kimiawi.

a. Penatalaksanaan Farmakologis

Menurut Sheps (2005), penatalaksanaan farmakologis adalah

penatalaksanaan hipertensi dengan menggunakan obat-obatan

kimiawi, seperti jenis obat anti hipertensi. Ada berbagai macam jenis

obat anti hipertensi pada penatalaksanaan farmakologis, yaitu:

1) Diuretik

Diuretik sering disamakan dengan “obat kencing”. Obat jenis ini

bekerja dengan cara mengeluarkan cairan tubuh (melalui urine).

Dengan demikian, volume cairan dalam tubuh berkurang

sehingga daya pompa jantung lebih ringan.

2) Penghambat Adrenergik (β-blocker)

Beta blocker menurunkan tekanan darah dengan menghambat

kerja hormon epinefrin, yang menyebabkan jantung berdenyut

lebih cepat dan menyempitnya pembuluh darah. Kerja beta

blocker adalah memperlambat denyut jantung dan menurunkan


14

kekuatan denyutnya, sehingga membantu menurunkan tekanan

darah.

3) Vasolidator

Kerja obat vasolidator berlangsung pada pembuluh darah dengan

relaksasi otot polos pembuluh darah. Contoh yang termasuk obat

jenis ini yaitu prasonin dan hidralasin.

4) Penghambat Enzim Konversi Angiotensin (penghambat ACE)

Cara kerja obat ini adalah menghambat pembentukan zat

angiotensin II (zat yang dapat menyebabkan peningkatan

tekanan darah). Contoh obat yang termasuk golongan ini yaitu

captopril.

5) Antagonis Kalsium

Golongan obat ini menurunkan daya pompa jantung dengan cara

menghambat kontraksi jantung (kontraktilitas), namun obat ini

memilki efek samping yang mungkin muncul adalah batuk

kering, pusing, sakit kepala dan lemas.

b. Penatalaksanaan Non Farmakologis

Penatalaksanaan hipertensi dengan nonfarmakologis terdiri dari

berbagai macam cara modifikasi gaya hidup untuk menurunkan

tekanan darah yaitu:

1) Mempertahankan berat badan ideal


15

Mempertahankan berat badan ideal sesuai Body Mass Index

(BMI) dengan rentang 18,5-24,9 kg/m2 (Kaplan, 2006). BMI

dapat diketahui dengan membagi berat badan anda dengan tinggi

badan anda yang telah dikuadratkan dalam satuan meter. Dekker

(1996 seperti dikutip oleh Af’Idah, 2008) ) mengatakan bahwa

hal ini dapat dilakukan dengan cara jangan makan terlalu

banyak, karena berat badan yang berlebihan juga menambah

jumlah keseluruhan darah. Mengatasi obesitas (kegemukan) juga

dapat dilakukan dengan melakukan diet rendah kolesterol namun

kaya dengan serat dan protein, dan jika berhasil menurunkan

berat badan 2,5-5 kg maka tekanan darah diastolik dapat

diturunkan sebanyak 5 mmHg (Radmarssy, 2007).

2) Kurangi asupan natrium (sodium)

Mengurangi asupan natrium dapat dilakukan dengan cara diet

rendah garam yaitu tidak lebih dari 100 mmol/hari (kira-kira 6 gr

NaCl atau 2,4 gr garam/hari) (Kaplan, 2006). Jumlah yang lain

dengan mengurangi asupan garam sampai kurang dari 2300 mg

(1 sendok teh) setiap hari. Pengurangan konsumsi garam

menjadi 1/2 sendok teh/hari, dapat menurunkan tekanan sistolik

sebanyak 5 mmHg dan tekanan diastolik sekitar 2,5 mmHg

(Radmarssy, 2007). Selain itu bisa juga dengan hitungan

mengurangi makan garam menjadi < 2,3 gr natrium atau < 6 gr

NaCl sehari (Af’Idah, 2008).


16

3) Batasi konsumsi alkohol

Dalam hal ini membatasi konsumsi alkohol hingga tidak lebih

dari 1 oz (30 ml) dari etanol ( contoh, 24 oz (720 ml) bir, 10 oz

(300 ml) anggur, 2 oz (60 ml) 100 proof wiski)/hari pada pria

dan tidak lebih dari 0,5 oz (15 ml) etanol/hari pada wanita dan

tergantung berat badan setiap orang (Kaplan, 2006). Radmarssy

(2007) mengatakan bahwa konsumsi alkohol harus dibatasi

karena konsumsi alkohol berlebihan dapat meningkatkan

tekanan darah. Para peminum berat mempunyai resiko

mengalami hipertensi empat kali lebih besar dari pada mereka

yang tidak minum minuman beralkohol.

4) Makan kalium dan kalsium yang cukup dari diet

Menurut rekomandasi dari JNC V diet tinggi kalium (mencukupi

pemeliharaan serum K normal, asupan sebaiknya ≥ 60 mEq/hari)

diperlukan oleh pasien hipertensi namun sebaiknya tidak

direkomendasikan kepada pasien dengan hiperkalemik sebelum

terapi. Asupan diet potassium (>90 mmol (3500 mg)/hari)

dengan cara konsumsi diet tinggi buah dan sayur dan diet rendah

lemak dengan cara mengurangi asupan lemak jenuh dan lemak

total (Kaplan, 2006). Kalium dapat menurunkan tekanan darah

dengan meningkatkan jumlah natrium yang terbuang bersama air

kencing. Dengan setidaknya mengonsumsi buah-buahan

sebanyak 3-5 kali dalam sehari, seseorang bisa mencapai asupan


17

potassium yang cukup (Radmarssy, 2007). Diet kalsium yang

lebih tinggi hal ini sangat baik terutama pasien hipertensi yang

juga mempunyai resiko osteoporosis namun harus diperhatikan

pada pasien yang memiliki penyakit batu ginjal kalsium (Sobel,

1998).

5) Menghindari merokok

Pada pasien hipertensi dianjurkan untuk menghentikan

kebiasaan merokok. Nikotin dalam tembakau membuat jantung

bekerja lebih keras karena menyempitkan pembuluh darah dan

meningkatkan frekuensi denyut jantung serta tekanan darah

(Sheps, 2005).

6) Penurunan stress

Stress memang tidak menyebabkan hipertensi yang menetap

namun jika episode stress sering terjadi dapat menyebabkan

kenaikan sementara yang sangat tinggi. Stres dapat

meningkatkan hormon stres yang dapat mengganggu irama

tubuh seperti gangguan jantung dan pembuluh darah, gangguan

metabolism tubuh serta menurukan kekebalan tubuh (Sheps,

2005).

Menghindari stress dengan menciptakan suasana yang

menyenangkan bagi pasien hipertensi dan memperkenalkan

berbagai metode relaksasi seperti yoga atau meditasi yang dapat


18

mengontrol sistem saraf yang akhirnya dapat menurunkan

tekanan darah (Af’Idah, 2008).

7) Massage

Massage telah diketahui memberikan efek terhadap tubuh, pikiran

dan emosi (Tappan & Benjamin, 1998). Model teori mekanisme

efek massage melibatkan biomekanis, fisiologis, neurologis, dan

psikologis. Biomekanis melibatkan bagaimana mekanisme

tekanan yang diberikan pada jaringan, efek fisiologis akan terlihat

pada perubahan jaringan atau organ, efek neurologis terhadap

stimulasi reflek sedangkan efek psikologis terhadap peningkatan

hubungan antara tubuh dan pikiran (Braveman & Schulman,

1999; Bell, 1964 dalam Weerapong, Hume & Kolt, 2005).

Secara fisiologis,massage mempengaruhi sistem saraf

parasimpatis yang dapat menimbulkan respon relaksasi. Ketika

tubuh relaksasi, menandai penurunan hormon kortisol yang

berperan terhadap stres serta berpengaruh terhadap sirkulasi darah

(Braun & Simonson, 2008).

C. Swedish Massage

1. Definisi

Swedish massage adalah bentuk klasik teknik pijat barat dengan metode

melakukan manipulasi jaringan lunak meliputi lima gerakan yaitu

effleurage, petrissage, friction, tapotement dan vibration (Mc Millan ,1921,


19

dalam Tappan & Benjamin, 1998). Swedish massage merupakan teknik

pijatan lembut dan superfisial dari tekanan ringan hingga kuat berfokus

menjaga kesehatan serta relaksasi (Braun & Simonson, 2008). Sedangkan

Field & Breunner (2002, dalam Sajedi, Kashaninia, Hoseinzadeh &

Abedinipoor, 2011) mengartikan Swedish massage sebagai teknik pijat

berfokus relaksasi dan meningkatkan sirkulasi darah dengan melibatkan

otot.

2. Sejarah Swedish massage

Sejarah Swedish massage dimulai pada abad 19 dan 20 diawali oleh Pehr

Henrik Ling (1776-1839) yang berasal dari Swedia dan Johann Mezger yang

berasal dari Amsterdam. Ling dan Mezger memberikan dasar dimana

massage berdasarkan pengetahuan. Pehr Hendrik Ling mempercayai bahwa

gerakan yang dilakukan pada tubuh dapat mempengaruhi kesehatan. Atas

dasar kepercayaan ini Ling mengembangkan dalam bentuk gerakan pasif

dan aktif dalam dunia kesehatan olah raga senam yang kemudian dikenal

sebagai gerakan Swedish massage (Tappan & Benjamin, 1998). Gerakan

pasif meliputi shaking, pressing, storking, pinching, squeezing, kneading,

calpping, vibrations, dan rolling (Benjamin, 2005 dalam Olney, 2007).

Mezger sebagai dokter dari Amsterdam mempercayai bahwa gerakan pasif

berpengaruh pada penyembuhan.Gerakan pasif yang dikategorikan oleh

Mezger untuk manipulasi jaringan lunak seperti effleurage (storking),


20

petrissage (kneading), fiction (rubbing) dan tapotement (tapping). Pada

pertengahan abad 19 gerakan Swedish massage diperkenalkan di Amerika

Serikat oleh George Taylor dan Charles Taylor dalam jurnal kedokteran.

Sehingga mengakibatkan massage yang menggunakan gerakan Swedish

dikenal sebagai Swedish massage pada tahun 1920-1950 dan pada awal abad

20 didirikan sekolah Swedish massage di Chicago (Tappan & Benjamin,

1998).

3. Gerakan

Dalam melakukan pijatan Swedish massage terdapat teknik dasar meliputi

effleurage, petrissage, friction, tapotement, dan vibration (Tappan &

Benjamin, 1998).

a. Effleurage

Effleurage adalah gerakan meluncur secara lembut baik menggunakan

tekanan ringan sampai sedang (Tappan & Benjamin, 1988).

Berdasarkan tekanan menurut Braun & Simonson (2008) terdapat dua

jenis gerakan effleurage yaitu superficial effleurage atau deep

effluerage. Superficial effleurage atau effleurage ringan merupakan

gerakan seperti menggosok tubuh secara lembut dan pelan dengan

menggunakan ibu jari, jari-jari, telapak tangan. Sedangkan deep

effleurage merupakan gosokan dalam menggunakan ibu jari, buku-

buku jari, pangkal tangan, dan lengan bagian bawah. Gerakan ini

digunakan untuk meratakan pelumas, memberikan rasa hangat,


21

relaksasi, meningkatkan sirkulasi darah dan limfe, serta menurunkan

ketegangan otot dan nyeri (Braun & Simonson, 2008). Gerakan

meluncur dilakukan minimal sejauh 10-20 inch. Saat kembali kepada

titik awal gerakan dilakukan seolah-olah tangan terapis tidak

meninggalkan pasien dan terputus, karena merupakan bagian dari

menciptakan relaksasi. (Harisson, 1986; Hofkosh, 1985; Tappan, 1988

dalam Golia, 1991).

Ketika gerakan effleurage dilakukan menuju jantung, hal ini akan

memberikan efek terhadap sirkulasi vena dan pembuluh limfe. Apabila

dilakukan dengan memberikan kompresi akan meningkatkan sirkulasi

arteri dan metabolisme sel termasuk glikolisis. Effleurage dapat pula

mencegah terjadinya iskemik serta menurunkan nyeri akibat

kekurangan suplai darah ke sel (Braun & Simonson, 2008).

b. Petrisage

Petrisage merupakan teknik mengangkat dan meremas jaringan lunak,

menekan atau menggulung jaringan guna membuang sampah produk

metabolik sel, meningkatkan sirkulasi setempat, membantu aliran

balik vena, serta memberikan relaksasi pada otot (Tappan & Benjamin,

1998). Braun & Simonson (2008) memaparkan petrisage merupakan

teknik beritme kombinasi antara menekan, menggenggam, dan

mengangkat jaringan lunak dari tulang.Petrisage sering pula disebut

kneading, gerakan dilakukan lebih dalam dan lebih kuat dari pada
22

teknik effleurage (Harisson, 1986, Hofkosh, 1985, Tappan, 1988,

dalam Golia, 1991).

Petrisage memberikan efek fisiologis terhadap peningkatan sirkulasi

darah dan limfe, stimulasi kelenjar sabasea, memberikan kehangatan

pada jaringan, menurunkan ketegangan otot, menurunkan rasa nyeri

serta memberikan rasa relaksasi. Petrisage yang dilakukan lebih dalam

dapat meningkatkan sirkulasi dan metabolisme seluruh sel otot

termasuk pembuluh darah, pembuluh limfe, serta sel saraf. Penelitian

menunjukan gerakan ini dapat meningkatkan elastisitas dari otot,

definisi otot lebih jelas, perbaikan sensitifitas impuls saraf untuk

berkontraksi atua kontraktilitas (Braun & Benjamin, 2008).

c. Friction

Friction adalah gerakan berupa gesekan antara kulit dengan jaringan

dibawahnya. Bila gesekan diberikan di bagian superfisial, maka terjadi

gesekan antara kulit dengan tangan terapis. Namun bila gesekan

dilakukan secara dalam maka terjadi gosokan pada jaringan lunak

(Braun & Simonson, 2008).

Efek fisiologi dari friction superfisial adalah rasa hangat disebabkan

aliran darah dan limfe dari vasodilatasi kulit, bersifat setempat

sehingga terdapat hyperemia setempat. Friction dalam dapat

meningkatkan sirkulasi pada jaringan otot dan fasia dalam, serta dapat
23

mengakibatkan relaksasi pada jaringan otot dari kontraksi pasif (Braun

& Simonson, 2008).

d. Tapotement

Tapotement adalah teknik perkusi secara bergantian, beritme, ringan

dan cepat. Variasi teknik gerakan tapotement meliputi hacking,

rapping, cupping, clapping, slapping, tapping dan piecement (Tappan

& Benjamin, 1998). Tapotement oleh Braun & Simonson (2008)

digambarkan sebagai teknik dimana seperti memukul drum dengan

ritme. Gerakan tapotement apabila diberikan secara ringan akan

menstimulasi sistem saraf simpatis dan vasokontriksi superfisial.

Sedangkan tapotement berat akan menyebabkan vasodilitasi

superfisial, menurunkan nyeri dan relaksasi (Braun & Simonson,

2008).

e. Vibration

Vibration adalah teknik dengan cara menggoyangkan atau

menggetarkan tangan atau jari-jari (Tappan & Benjamin, 1998).

Vibration dapat menstimulus saraf, otot, dan organ, meningkatkan

sirkulasi dan tempertatur pada jaringan lokal, penurunan ketegangan

otot, menurunkan nyeri (Braun & Simonson, 2008).

4. Mekanisme Swedish massage terhadap tekanan darah

Massage telah diketahui memberikan efek terhadap tubuh, pikiran dan emosi

(Tappan & Benjamin, 1998). Model teori mekanisme efek massage


24

melibatkan biomekanis, fisiologis, neurologis, dan psikologis. Biomekanis

melibatkan bagaimana mekanisme tekanan yang diberikan pada jaringan,

efek fisiologis akan terlihat pada perubahan jaringan atau organ, efek

neurologis terhadap stimulasi reflek sedangkan efek psikologis terhadap

peningkatan hubungan antara tubuh dan pikiran (Braveman & Schulman,

1999; Bell, 1964 dalam Weerapong, Hume & Kolt, 2005).

Secara fisiologis, massage mempengaruhi sistem saraf parasimpatis yang

dapat menimbulkan respon relaksasi. Ketika tubuh relaksasi, menandai

penurunan hormon kortisol yang berperan terhadap stres serta berpengaruh

terhadap sirkulasi darah (Braun & Simonson, 2008). Menurut Robbins,

Powers & Burgess (1994, dalam Tappan dan Benjamin, 1998) relaksasi

memberikan manfaat mengurangi tingkat metabolisme dan oksigen

berlebihan, menurunkan tekanan darah pada hipertensi dan mengurangi

irama jantung.

Menurut Wood & Becker (1981, dalam Tappan & Benjamin, 1988) Swedish

massage dapat memberikan efek terhadap sirkulasi darah setempat dan

seluruh tubuh. Efek seluruh tubuh dapat terjadi dari respon relaksasi dan

kontrol stres yang dapat menurunkan tekanan darah sehingga berpengaruh

terhadap sistem sirkulasi dan meningkatkan sirkulasi secara keseluruhan

(Tappan & Benjamin, 1998). Efek tersebut mengakibatkan peningkatan

pengiriman oksigen, nutrisi, dan produk metabolik dan sel sehingga


25

mengurangi kejadian iskemik (Braun & Simonson, 2008). Efek setempat

dikarenakan dilatasi pembuluh darah kapiler dan peningkatan sirkulasi darah

pada area setempat yang dapat terjadi dengan pemberian tekanan ringan

(Tappan &Benjamin, 1998). Efek Swedish massage terhadap sirkulasi

dipengaruhi bagaimana gerakan dan tekanan yang diberikan. Tekanan

tersebut mengakibatkan vasodilatasi pembuluh darah sehingga terjadi

peningkatan aliran darah dan memberikan pasokan oksigen serta nutrisi pada

jaringan lokal (Braun & Simonson, 2008). Gerakan effleurage dalam dapat

mengakibatkan peningkatan aliran darah vena ekstremitas yang

menyebabkan penurunan tekanan vena serta dapat meningkatkan sirkulasi

arteri. Gerakan kneading memberi bantuan dalam aliran balik vena

sedangkan kompresi dapat meningkatkan sirkulasi pembuluh darah lokal

dan kapiler (Tappan & Benjamin, 1998).

Berbagai penelitian dilakukan untuk menguji efek massage terhadap

sirkulasi darah terutama dalam hal tekanan darah didapatkan perbedaan.

Beberapa studi menemukan bahwa massage dapat menurunkan secara

signifikan untuk tekanan darah (Aourell, Skoog & Carleson, 2005; Cady &

Jones, 1997; Delancy, Leong, Watkins 7 Brodie, 2002, dalam Moraska,

Pollini, Boulanger, Brooks & Teitbaum, 2010). Namun penelitian lain

menemukan tidak terdapat efek signifikan terhadap tekanan darah setelah

dilakukan massage (Hernandez-reif, Field, Krasnegor, Theakston, Hossain

& Burnam, 2000; Ahles, Tope, Pinkson, Walch S, Hann & Wedon et al,
26

1999; Goodfelow, 2003, dalam Moraska, Pollini, Boulanger, Brooks,

&Teitbaum, 2010). Sedangkan terdapat studi yang mengungkapkan dimana

massage dapat menurunkan tekanan darah selama pemberian namum tidak

setelahnya (Hayes & Cox, 2000, dalam Moraska, Pollini, Boulanger,

Brooks, & Treitbaum, 2010).

5. Kontraindikasi

Terapi Swedish massage memberikan manfaat dan keuntungan, namun perlu

diperhatikan kontraindikasi serta endangerment site. Endangerment site

merupakan bagian tubuh yang memiliki struktur dengan perlindungan

kurang dan dapat terjadi kerusakan ketika dilakukan massage (Gabar 2.2)

(Tappan & Benjamin, 1998).

Menurut Tappan (1985, dalam Tappan & Benjamin, 1988) terdapat beberapa

kontra indikasi pasien tidak dapat diberikan massage seperti dalam kondisi

demam, nyeri hebat dan mengalami cedera berat. Namun beberapa kondisi

juga perlu diperhatikan dan menjadi pertimbangan meliputi adanya luka,

penyakit kulit, ekimosis, pembengkakan, osteoporosis, penyakit persendian.

Pada kondisi berhubungan dengan sistem sirkulasi maka diperlukan

perhatian sebagai contoh pasien dengan cardiac aritmia perlu dihindari untuk

melakukan massage pada leher bagian lateral dan anterior. Kondisi phlebitis

atau tromboplebitis serta varises vena perlu dihindari untuk melakukan

massage pada area tersabut. Sedangkan pada kondisi aterosklerosis berat,


27

massage hanya boleh dilakukan pada bagian superfisial (Tappan &

Benjamin, 1998).
BAB III

KERANGKA KONSEP, HIPOTESIS DAN DEFENISI

OPERASIONAL

Suatu penelitian dapat dengan mudah dimengerti oleh orang lain apabila dalam

pelaksanaan penelitian tersebut berdasarkan alur dan arah yang jelas. Dalam hal

mencapai tujuan tersebut, maka bab ini dibahas mengenai kerangka konsep,

Hipotesis dan defenisi operasional penelitian.

A. Kerangka Konsep

Kerangka konsep merupakan penggambaran hubungan diantara konsep-konsep

yang merupakan asumsi teoritis dan digunakan dalam penelitian. Kerangka

konsep menjelaskan variabel-variabel yang diteliti dan hubungan antar variable

(Dharma, 2011).

Variabel Independen Variabel Dependen Variabel Independen

Pengukuran Pemberian Pengukuran


tekanan Swedish tekanan
darah massage darah
sebelum sesudah
tindakan tindakan

Variabel Confounding
Usia
Jenis kelamin
Durasi hipertensi
Pengendalian dirihipertensi
non farmakologis

28
29

B. Hipotesis

Terdapat pengaruh yang berarti dari pemberian Swedish massage dalam hal

penurunan tekanan darah pasien hipertensi untuk yang pertama dan juga untuk

pemberian Swedish massage tahap – tahap berikutnya.

C. Defenisi Operasional

Tabel 3.1 Defenisi Operasional Penelitian

Variabel Defenisi operasional Alat dan Hasil ukur skala


cara ukur
Independent
Swedish Swedish massage adalah Lembar Telah di Interval
massage bentuk klasik tehnik pijat observasi ikuti proses
berat dengan metode pemijatan
melakukan manipulasi dalam
jaringan lunak yang waktu dan
dilakukan pada frekuensi yg
punggung 10 menit dan ditetapkan.
ekstremitas bawah
belakang 10 menit,
Ekteremitas bawah depan
10 menit 30 menit total),
4 kali tiap 2 hari.
Lubrikan yang digunakan
adalah minyak zaitun
Dependent
Tekanan Tekanan darah adalah Alat: tensi Frekuensi Ordinal
darah pre tekanan yang dihasilkan meter air perubahan
massage oleh dinding pembuluh raksa, tekanan
darah arteri yang terdiri lembar darah dalam
dari tekanan sistolik dan observasi mmHg
tekanan diastolik
sebelum dilakukan
massage.

Tekanan Tekanan darah adalah Alat: tensi Frekuensi Ordinal


darah post tekanan yang dihasilkan meter air perubahan
massage oleh dinding pembuluh raksa, tekanan
darah arteri yang terdiri lembar darah dalam
dari tekanan sistolik dan observasi mmHg
tekanan diastolik setelah
dilakukan massage.
30

Variabel Defenisi operasional Alat dan Hasil ukur skala


cara ukur
Variabel
confounding
Usia Lamanya hidup Kuesioner, Usia dalam Interval
responden dihitung mulai wawancara tahun
dari lahir hingga
sekarang berdasarkan
ulang tahun terakhir pada
tanggal lahir sesuai kartu
tanda penduduk
Jenis kelamin Jenis kelamin dibagi Kuesioner 1: laki-laki Nominal
menjadi laki-laki dan wawancara 2: perempuan
perempuan
Durasi Lamanya responden Kuesioner, Durasi Interval
hipertensi mengetahui dirinya Wawancara dalam tahun
memiliki hipertensi
hingga sekerang

Pengendalian Usaha yang dilakukan Kuesioner 0-25% = Nominal


diri hipertensi responden dalam dengan sangat
non mengendalikan hipertensi skala beresiko
farmakologis tanpa menggunakan Guttman: 26-50% =
obat-obatan, meliputi Tidak = 0 beresiko
pengaturan pola dan jenis Ya = 1 51-75% =
makanan, mengurangi tidak
alcohol dan kafein, beresiko
aktivitas olahraga dan 76-100% =
manajemen stress sangat tidak
beresiko
BAB IV

METODE PENELITIAN

A. Rancangan Penelitian

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian pre eksperiment dalam kelompok

eksperimen berupa percobaan/ perlakuan/ trial yang bertujuan untuk mengetahui

suatu gejala atau pengaruh yang timbul, sebagai akibat dari adanya perlakuan

tertentu terhadap suatu subjek yang mendapat perlakuan. Dari perlakuan tersebut

diharapkan terjadi perubahan atau pengaruh terhadap kondisi atau dari subjek yang

diamati (variabel) (Notoatmodjo, 2002). Desain penelitiannya adalah One Group

pretest-posttest tanpa kelompok pembanding (kontrol).

Skema 4.1.Rancangan Penelitian

O2 O4 O6

Intervensi X0 X-1 X-2 X-3 x-4

hasil pengukuran O0 O1 O3 O5 O7

Keterangan

Oo : hasil pengukuran tekanan darah sebelum mendapat terapi Swedish

massage pertama kali

31
32

O1 : hasil pengukuran tekanan darah setelah dilakukan terapi Swedish

massage pertama kali

O2 : hasil pengukuran tekanan darah sebelum dilakukan terapi Swedish

massage kedua kali

O3 : hasil pengukuran tekanan darah setelah dilakukan terapi Swedish

Massage keduakali

O4 : hasil pengukuran tekanan darah sebelum dilakukan terapi Swedish

Massage ketiga kali

O5 : hasil pengukuran tekanan darah setelah dilakukan terapi Swedish

massage ketiga kali

O6 : hasil pengukuran tekanan darah sebelum dilakukan terapi Swedish

Massage keempat kali

O7 : hasil pengukuran tekanan darah setelah dilakukan terapi Swedish

Massage keempat kali

Xo : Subjek sebelum mendapat tindakan Swedish massage

X-1 : tindakan Swedish massage pertama kali

X-2 : tindakan Swedish massage kedua kali

X-3 : tindakan Swedish massage ketiga kali

X-4 : tindakan Swedish massage terakhir kali (ke-4)

B. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Populasi adalah merupakan keseluruhan objek atau subjek yang berada pada

suatu wilayah yang memenuhi syarat-syarat tertentu berkaitan dengan


33

masalah penelitian, mereka adalah keseluruhan unit atau individu dalam

ruang lingkup yang akan diteliti (Suryabrata,2012). Dalam hal ini populasi

pasien hipertensi di Puskesmas Jati RanggonWilayah Kerja Pondok Gede,

Bekasi yang pernah berkunjung dalam bulan Januari sampaidengan April

2013 yang secara keseluruhan berjumlah 40 orang. Tetapi dalam penelitian

ini yang menjadi subyek penelitian adalah pasien hipertensi yang tidak

pernah melakukan kunjungan ulang sampai dengan bulan Mei tercatat 17

orang.

2. Sampel

Dari 17 orang dihitung jumlah minimal dengan menggunakan rumus

minimal sampel size menurut Lemeshow (1997) diperoleh :

n= N . Z² . p.q
d(N-1)+Z.p.q

= 17 (1,96)².0,5.0,5
(0,1)²(17-1)+(1,96)².0,5.0,5

= 16 pasien

Dari daftar pasien yang tidak pernah melakukan kunjungan ulang didatangi

kerumah sebagai subjek penelitian dan sebelum diverifikasi dengan kriteria

inklusi sebagai berikut :

a. Pasien hipertensi tanpa obat dilihat / dipelajari dari catatan rekam

medis

b. Mampu mobilisasi supine dan prone

c. Bertempat tinggal di wilayah Pondok Gede Bekasi selama penelitian


34

d. Bersedia bekerjasama selama tindakan penelitian

Kriteria eklusi sebagai berikut :

a. Kondisi sesak nafas, demam atau nyeri sangat berkepanjangan

b. Klien yang memiliki riwayat osteoporosis, fraktur pada area leher,

dada, punggung dan ekstremitas atas

c. Klien yang memiliki penyakit kulit menular pada area ektremitas

bawah dan punggung

d. Klien memiliki luka dan trauma pada area punggung, dada, abdomen

dan ektremitas bawah

e. Klien yang dalam kondisi pemulihan dari serangan jantung, penyakit

ginjal akut dan kronis maupun gangguan pernafasan

f. Klien memiliki riwayat pembedahan dalam waktu satu bulan terakhir

C. Tempat Penelitian

Penelitian dilaksanakan di Puskesmas Jati Ranggon wilayah kerja Pondok Gede,

Bekasi. Puskesmas tersebut dibawah kepemilikan Pemerintah Daerah Kotamadya

Bekasi, JawaBarat.

D. Tahap – Tahap dan Waktu Penelitian

Rincian proses penelitian sebagai berikut :

1. Persiapan penelitian, dimulai dari bulan Maret sampai dengan minggu

pertama di bulan Juni 2013

2. Pelaksanaan penelitian dimulai minggu ke 3 di bulan Agustus 2013


35

3. Pengolahan data di minggu ke 4 bulan Agustus 2013

4. Penyusunan Laporan di minggu ke 1 bulan September 2013

5. Sidang hasil di minggu ke 4 bulan September 2013

6. Perbaikan di minggu ke 4 bulan September 2013

7. Sidang akhir di minggu 2 bulan Oktober 2013

E. Etika Penelitian

Peneliti dalam melaksanakan penelitian harus melindungi hak responden sebagai

manusia yang meliputi self determination, privacy and dignity, anonymity and

confidentiality, fair treatment, protection from discomfort and harm (Haber, 2006)

1. Self determination

Responden adalah manusia sebagai individu yang memiliki hak otonom

terhadap dirinya sendiri. Sehingga dalam penelitian ini peneliti memberikan

kebebasan responden terlibat dalam penelitian ini atau tidak setelah

diberikan informasi tujuan, manfaat, prosedur, efek dari terapi Swedish

massage yang diberikan dalam kondisi sadar dan tanpa paksaan. Responden

juga diberikan hak untuk memutuskan berhenti berpartisipasi selama

penelitian atau sewaktu-waktu tanpa sanksi apapun.

2. Privacy and dignity

Responden adalah manusia yang memiliki hak terhadap privasi dan martabat

dimana responden memiliki kebebasan untuk memberikan informasi yang

bersifat privasi dan mempengaruhi derajat responden tersebut. Selain itu

informasi yang telah diberikan kepada peneliti harus dijamin kerahasian dan
36

menjaga martabat responden. Dalam penelitian ini, peneliti menjamin

informasi yang diberikan hanya digunakan untuk penelitian. Demikian juga

dalam pemberian tindakan massage, peneliti menjamin privasi responden

dan hanya melakukan massage pada daerah punggung sesuai prosedur.

Responden dijamin dalam penelitian ini tidak ada unsur eksploitasi terhadap

responden dimana responden merupakan sumber mendapatkan data yang

dibutuhkan dalam penelitian seperti pengukuran tekanan darah serta

pertanyaan sesuai kuesioner seperti umur, lamanya hipertensi, riwayat

hipertensi dan pengobatan hipertensi.

3. Anonymity and confidentiality

Dalam rangka menghargai hak responden, peneliti melakukan anonymity dan

confidentiality dengan cara memberikan penjelasan bahwa identitas

responden pada semua catatan dan data responden hanya diberikan kode dan

tidak mencantumkan nama responden. Data disimpan sebagai dokumen

penelitian dan dimusnahkan setelah penelitian selesai.

4. Fair treatment

Berdasarkan prinsip justice maka setiap manusia memiliki hak untuk terlibat

dalam penelitian. Dalam menjaga fair treatment, setelah peneliti

mendapatkan hasil penelitian maka seluruh responden di informasikan hasil

penelitian dan langkah massage dalam bentuk leaflet.


37

5. Protection from discomfort and harm

Berdasarkan prinsip beneficence untuk menghindari ketidaknyamanan maka

terapis memberikan tindakan setelah memiliki sertifikat Swedish massage.

Peneliti menyampaikan manfaat penelitian kepada responden dimana

penelitian tersebut untuk mengetahui pengaruh pijat terhadap kesehatan

sistem kardiovaskuler dan responden memiliki peranan penting sebagai

subyek langsung dalam penelitian ini. Peneliti sudah memilih responden

sesuai kriteria inklusi atas dasar yang tidak memiliki kontraindikasi untuk

dilakukan massage.

Dalam hal melindungi dan menjaga hak asasi manusia pada responden maka

responden diberikan lembar persetujuan (informed consent). Informed

consent merupakan prinsip legal dimana menyatakan individu tersebut

menerima atau menolak tindakan yang menjadi acuan dalam melakukan

penelitian. Dalam penelitian ini, informed consent diberikan kepada

responden setelah dijelaskan tentang tujuan, prosedur, kemungkinan dan

jaminan terhadap kerahasiaan data dan identitas responden.

F. Alat Pengumpulan Data

Alat pengumpulan data yang dibutuhkan dalam penelitian ini meliputi:

1. Sphygnomanometer

Sphygmomanometer tersusun atas manset yang dapat dikembangkan dan

alat pengukur tekanan yang berhubungan dengan rongga dalam manset. Alat
38

ini dikalibrasi sedemikian rupa sehingga tekanan yang terbaca pada

manometer sesuai dengan tekanan dalam millimeter air raksa yang

dihantarkan oleh arteri brakialis (Brunner & Suddarth, 2001).

2. Stetoskop

Alat ini digunakan untuk mendengarkan adanya aliran darah pada pembuluh

arteri saat mengukur tekanan darah pasien.

3. Lembar Kuisioner dan Lembar Observasi

Lembar kuisioner digunakan untuk mencatat karakteristik responden yaitu

nomor responden, usia, jenis kelamin dan pengendalian diri hipertensi non

farmakologis. Lembar observasi digunakan untuk mencatat pengukuran

tekanan darah sebelum dan sesudah intervensi.

G. Validitas dan Reliabilitas

Validitas merupakan suatu cara untuk mendapatkan ketepatan hasil pengukuran

dengan menggunakan instrument atau alat pengumpulan data yang dapat

dipertanggung jawabkan hasilnya. Sedangkan relibilitas merupakan cara

pengukuran yang menghasilkan tingkat konsistensi dari suatu pengukuran ke

pengukuran berikutnya dalam penelitian (Dharma,2011).

Dalam penelitian ini untuk mengurangi kesalahan dalam pengukuran dan

meningkatkan keandalan hasil pengukuran digunakan strategi yaitu ; standarisasi

cara pengukuran, penyempurnaan alat atau instrumen, dan mengulang pelaksanaan

pengukuran jika dirasakan ada keraguan.


39

Oleh karena itu untuk mendapatkan validitas data dalam penelitian ini dilakukan

pengukuran tekanan darah diukur menggunakan spignomanometer dan stetoskop

yang diproduksi oleh ABN. Sphygnomanometer sebelum digunakan dilakukan

kalibrasi. Untuk mendapatkan data yang reliable setiap pengukuran selalu

diterapkan pemakaian spignomanometer, stetoskop, dengan cara dan alat yang

sama dengan cara yang konsisten sesuai SOP pengukuran tekanan darah.

H. Prosedur Pengumpulan Data

Prosedur pengumpulan data serta pemberian tindakan Swedish massage dilakukan

oleh peneliti. Adapun prosedur pengumpulan data yang dilakukan oleh meliputi

tahap administrasi, tahap persiapan dan rekrutmen responden dan tahap

pelaksanaan.

1. Tahap Administrasi

Tahapan administrasi dilakukan oleh peneliti sebagai berikut :

a. Mengajukan surat ijin penelitian kepada Ketua Studi Program Magister

Keperawatan Fakultas Kedokteran Kesehatan Universitas

Muhamadiyah Jakarta.

b. Setelah surat ijin penelitian dari ketua program Studi Program

Magister Keperawatan Fakultas Kedokteran Kesehatan Universitas

Muhamadiyah Jakarta didapatkan, peneliti mengajukan ijin penelitian

di Puskesmas Jati Ranggon wilayah kerja Pondok Gede, Bekasi.

c. Setelah ijin didapatkan dari Puskesmas Jati Ranggon wilayah kerja

Pondok Gede, Bekasi, peneliti melakukan pengambilan data dengan

mendatangi subjek penelitian.


40

2. Tahap Persiapan

Tahap persiapan dan rekrutmen responden dilakukan oleh peneliti

sebagai berikut :

a. Setelah didapatkan ijin dari Puskesmas tanggal 13 Agustus 2013,

peneliti berkoordinasi dengan pihak terkait di Puskesmas terutama

Kepala Puskesmas untuk meminta ijin menghubungi ketua RW/RT

serta mendatangi calon responden dan meminta data calon responden

untuk dilakukan pemilihan berdasarkan kriteria inklusi.

b. Setelah diberikan surat pengantar ke masing-masing RW/RT untuk

mempekenalkan diri, memaparkan serta menjelaskan tentang

penelitian yang akan dilakukan serta meminta ijin.

c. Tahap selanjutnya pada tanggal 13 Agustus 2013 peneliti mendatangi

calon responden yang terpilih dari data puskesmas bersama perawat

puskesmas. Peneliti memperkenalkan diri, menjelaskan tentang tujuan

dari pertemuan, prosedur, keuntungan dan kerugian penelitian tersebut

kepada calon responden dan keluarga. Responden yang tidak

memenuhi syarat dan terpilih diberikan kode pada masing–masing

responden. Apabila calon responden setuju sebagai responden dan

terlibat dalam penelitian maka diminta responden menandatangani

lembar persetujuan menjadi responden.

d. Setelah responden menadatangani lembar persetujuan menjadi

responden maka peneliti melakukan wawancara tentang pengendalian

diri hipertensi non farmakologis. Kemudian peneliti melakukan

tindakan sesuai dengan prosedur yang sudah disiapkan


41

3. Tahap pelaksanaan

Tahapan pelaksanaan dilakukan oleh peneliti sebagai berikut :

a. Setelah responden menyetujui lembar persetujuan maka peneliti dan

responden membuat kesepakatan hari dan waktu melakukan tindakan.

b. Sebelum dilakukan terapi 5 menit sebelumnya peneliti mengukur

tekanan darah responden.

c. Setelah pengukuran tekanan darah peneliti melakukan tindakan

Swedish massage sesuai prosedur yang dilakukan 30 menit.

d. Pijatan dimulai dari kaki dan punggung. Setelah 10 menit dari

pemberian massage selesai, peneliti mulai melakukan pengukuran

tekanan darah akhir.

e. Tindakan Swedish massage dan pengukuran tekanan darah dilakukan 4

kali dengan jarak antar massage selama 2 hari.


42

Skema 4.2 Pemilihan responden dan Pelaksanaan

Calon responden di Puskesmas Jati Ranggon


adalah pasien hipertensi Januari s/d April
yang tidak melakukan kunjungan ulang s/d
bulan Mei 2013

Pasien yang tidak melakukan kunjungan Not


ulang dikunjungi untuk pengecekan included
kriteria inklusi dan diambil sebagai
responden

responden
responden

Informed Consent

Pengumpulan data kuesioner dan pengukuran tekanan darah awal

Intervensi

1. konfirmasi ulang pemakaian jenis obat antihipertensi


2. pemberian intervensi Swedish massage selama 30 menitselama 4 kali
setiap 2 hari.
3. pengukuran tekanan darah pada pre intervensi pertemuan pertama dan
post intervensi ke empat

Rekapitulasi hasil pengumpulan data


43

I. Analisa Data

1. Pengolahan Data

Data yang sudah dikumpulkan kemudian dilakukan pengolahan data.

Pengolahan data dilakukan dalam empat tahapan untuk mendapatkan analisa

yang benar. Tahapan pengolahan data meliputi (Harson,2007):

a. Editing

Editing, yaitu untuk melakukan pengecekan pengisian kuesioner

apakah jawaban yang ada dalam kuesioner lengkap, jelas, relevan, dan

konsisten.

Peneliti melakukan pengecekan terhadap data karakteristik responden

serta hasil pengukuran tekanan darah sehingga data lengkap.

b. Coding

Coding, yaitu merubah data berbentuk huruf menjadi data berbentuk

angka atau bilangan.

Peneliti memberikan kode dari data yang sudah didapatkan untuk

karakteristik responden seperti untuk jenis kelamin laki-laki = 1,

sedangkan perempuan diberi koding = 2, dan juga untuk data lainnya.

c. Processing

Processing, yaitu pemrosesan data yang dilakukan dengan cara

mengerti data dari kuesioner ke paket program komputer.

Peneliti melakukan proses data menggunakan software statistik SPSS

versi 17.0. Untuk mendapatkan data variabel penelitian meliputi

karakteristik demografi, tekanan darah pre dan post massage pada tiap

tahap.
44

d. Cleaning

Cleaning, yaitu membersihkan data yang merupakan kegiatan

pengecekan kembali data yang sudah di entri apakah ada kesalahan

atau tidak.

Peneliti melakukan pengecekan kembali terhadap data yang telah

dimasukan untuk menghindari terjadinya kesalahan pemasukan data.

2. Analisa Data

Data yang sudah dikumpulkan dan diolah kemudian dianalisis meliputi :

a. Analisis Univariat

Anilisis univariat merupakan analisa data terhadap variabel penelitian

yang menghasilkan distribusi dan presentase (Notoatmojo, 2002). Pada

penelitian ini untuk data karakteristik responden berupa kategorik

seperti jenis kelamin, dan pengendalian diri hipertensi non

farmakologis maka dianalisa mencakup jumlah (n) dan presentase (%).

Sedangkan untuk data numerik seperti usia, durasi hipertensi, nilai

tekanan darah sistolik dan diastolik dilakukan pengukuran pemusatan

(mean, median) dan pengukuran penyebaran mencakup standar

deviasi, nilai minimum dan maksimum (Dahlan, 2009).

b. Analisa Bivariat

Analisa bivariat merupakan analisa data terhadap dua variabel

penelitian yang diduga memiliki hubungan (Notoatmojo, 2002).

Analisa bivariat untuk skala pengukuran numerik (tekanan darah pre


45

dan post test) dilakukan pada kelompok dengan menggunakan uji t-test

(Dahlan, 2009). Tujuan analisis bivariat adalah untuk mengetahui

pengaruh tindakan Swedish massage terhadap penurunan tekanan

darah sebelum dan sesudah intervensi.

Untuk membuktikan hipotesis bahwa ada atau tidaknya pengaruh dari

swedish massage terhadap tekanan darah, maka akan dilakukan uji

statistik terhadap rata-rata perbedaan tekanan darah antara sebelum dan

sesudah swedish massage dari tahap pertama dan tahap-tahap

berikutnya dengan menggunakan uji paired sample t test. Untuk

mengetahui hubungan variabel confounding dengan penurunan

tekanan darah sistolik dan diastolik yaitu usia dan durasi hipertensi,

jenis kelamin dan pengendalian diri hipertensi non farmakologis

dengan uji t test independen.


BAB V

HASIL PENELITIAN

A. Analisis Univariat

Dalam analisis ini dijelaskan secara deskriptif mengenai karakteristik

responden sesuai hasil pengumpulan data berdasarkan variabel penelitian.

Data-data tersebut disajikan dalam bentuk distribusi rata-rata dan distribusi

frekuensi sebagai berikut.

1. Karakteristik Responden
a. Usia dan Durasi Hipertensi
Tabel 5.1
Distribusi Usia dan Durasi Hipertensi Responden
Pasien Hipertensi Penerima Swedish Massage
Di Puskesmas Jati Ranggon
2013

Karakteristik N Minimum Maksimum Mean Standar


Deviasi
Usia 16 45 58 51.88 3.862
- Laki-laki 4 50 58 54.50 3.416
- Perempuan 12 45 56 51.00 3.717
Durasi Hipertensi 16 2 8 3.88 1.784
- Laki-laki 4 2 7 4.00 2.160
- Perempuan 12 2 8 3.83 1.749

Dari tabel 5.1 data diatas dapat dilihat rata-rata usia responden

pasien hipertensi yang tidak melakukan kunjungan ulang penerima

Swedish Massage di Puskesmas Jati Ranggon adalah 51.88 tahun

46
47

dengan usia termuda 45 tahun dan tertua 58 tahun. Berdasarkan

jenis kelamin didapatkan bahwa rata-rata usia laki-laki (54.50

tahun) lebih tinggi dari rata-rata usia perempuan (51.00 tahun).

Dari tabel 5.1 data diatas dapat dilihat rata-rata durasi hipertensi

responden pasien hipertensi yang tidak melakukan kunjungan ulang

penerima Swedish Massage di Puskesmas Jati Ranggon adalah 3.88

tahun dengan durasi hipertensi paling rendah 2 tahun dan terlama

8 tahun. Berdasarkan jenis kelamin didapatkan bahwa rata-rata

durasi hipertensi laki-laki (4.00 tahun) lebih tinggi dari rata-rata

durasi hipertensi perempuan (3.83 tahun).

b. Jenis Kelamin dan Pengendalian Diri Hipertensi Non


Farmakologis
Tabel 5.2
Distribusi Frekuensi Jenis kelamin dan Pengendalian Diri Hipertensi Non
Farmakologis Responden
Pasien Hipertensi Penerima Swedish Massage
Di Puskesmas Jati Ranggon
2013

Karakteristik Kategori Jumlah Persen


(orang) (%)
Jenis Kelamin Laki-laki 4 25 %
Perempuan 12 75 %
Pengendalian Hipertensi Tidak Beresiko 8 50 %
Non Farmakologis Sangat Tidak Beresiko 8 50 %
48

Dari tabel 5.2 diatas dapat dilihat jenis kelamin responden pasien

hipertensi yang tidak melakukan kunjungan ulang penerima

Swedish Massage di Puskesmas Jati Ranggon adalah laki-laki

sebanyak 4 orang (25%), dan perempuan sebanyak 12 orang (75%).

Hal ini menunjukkan bahwa jenis kelamin responden pasien

hipertensi yang tidak melakukan kunjungan ulang penerima

Swedish Massage di Puskesmas Jati Ranggon tahun 2013 terbanyak

adalah perempuan yaitu 75 %.

Dari tabel 5.2 diatas dapat dilihat responden pasien hipertensi yang

tidak melakukan kunjungan ulang penerima Swedish Massage di

Puskesmas Jati Ranggon dalam pengendalian diri hipertensi non

farmakologis yaitu tidak beresiko sebanyak 8 orang (50 %) dan

sangat tidak beresiko sebanyak 8 orang (50%). Hal ini

menunjukkan bahwa dalam pengendalian diri hipertensi non

farmakologis pada responden pasien hipertensi yang tidak

melakukan kunjungan ulang penerima Swedish Massage di

Puskesmas Jati Ranggon pada tahun 2013 sama banyaknya antara

yang tidak beresiko dan sangat tidak beresiko yaitu sebesar 50 %.


49

2. Pengukuran Tekanan Darah

Tabel 5.3
Hasil Pengukuran Tekanan Darah Sistolik dan Diastolik Rata - Rata
Pasien Hipertensi Penerima Swedish Massage I - IV
Di Puskesmas Jati Ranggon
2013

Jenis & Tahapan N Minimum Maksimum Mean Standar


Pengukuran Tekanan Deviasi
Darah
Sistolik Pre Massage I 16 140 200 155.00 17.889
Sistolik Post Massage I 16 130 200 146.56 20.874
Sistolik Pre Massage II 16 130 180 152.50 12.383
Sistolik Post Massage II 16 130 180 145.00 15.492
Sistolik Pre Massage III 16 130 180 147.50 16.533
Sistolik Post Massage III 16 130 180 142.50 14.832
Sistolik Pre Massage IV 16 140 190 149.38 14.818
Sistolik Post Massage IV 16 130 180 139.37 13.889
Diastolik Pre Massage I 16 70 100 91.88 8.342
Diastolik Post Massage I 16 80 100 87.50 7.746
Diastolik Pre Massage II 16 80 110 91.88 7.500
Diastolik Post Massage II 16 80 100 87.50 8.563
Diastolik Pre Massage III 16 70 100 90.00 8.165
Diastolik Post Massage III 16 80 100 86.87 6.021
Diastolik Pre Massage IV 16 80 110 91.25 6.191
Diastolik Post Massage IV 16 80 90 86.25 5.000

a. Tekanan Darah Sistolik Massage I

Dari data diatas dapat dilihat pengukuran tekanan darah sistolik

pada pre massage I pada 16 responden pasien hipertensi yang tidak

melakukan kunjungan ulang penerima Swedish Massage di

Puskesmas Jati Ranggon mempunyai nilai rata-rata (mean) yaitu

sebesar 155.00 mmHg dengan nilai terendah sebesar 140 mmHg

dan terbesar 200 mmHg. Pada post massage I didapat nilai rata-rata

(mean) sebesar 146.56 mmHg dengan nilai terendah 130 mmHg


50

dan terbesar 200 mmHg. Terjadi penurunan rata-rata tekanan darah

sistolik pre massage dan post massage I sebesar 8.5 mmHg.

b. Tekanan Darah Sistolik Massage II

Dari data diatas dapat dilihat pengukuran tekanan darah sistolik

pada pre massage II pada 16 responden pasien hipertensi yang

tidak melakukan kunjungan ulang penerima Swedish Massage di

Puskesmas Jati Ranggon mempunyai nilai rata-rata (mean) yaitu

sebesar 152.50 mmHg dengan nilai terendah sebesar 130 mmHg

dan terbesar 180 mmHg. Pada post massage II didapat nilai rata-

rata (mean) sebesar 145.00 mmHg dengan nilai terendah 130

mmHg dan terbesar 180 mmHg. Terjadi penurunan rata-rata

tekanan darah sistolik pre massage dan post massage II sebesar 7.5

mmHg.

c. Tekanan Darah Sistolik Massage III

Dari data diatas dapat dilihat pengukuran tekanan darah sistolik

pada pre massage III pada 16 responden pasien hipertensi yang

tidak melakukan kunjungan ulang penerima Swedish Massage di

Puskesmas Jati Ranggon mempunyai nilai rata-rata (mean) yaitu

sebesar 147.50 mmHg dengan nilai terendah sebesar 130 mmHg

dan terbesar 180 mmHg. Pada post massage III didapat nilai rata-

rata (mean) sebesar 142.50 mmHg dengan nilai terendah 130

mmHg dan terbesar 180 mmHg. Terjadi penurunan rata-rata


51

tekanan darah sistolik pre massage dan post massage III sebesar 5

mmHg.

d. Tekanan Darah Sistolik Massage IV

Dari data diatas dapat dilihat pengukuran tekanan darah sistolik

pada pre massage IV pada 16 responden pasien hipertensi yang

tidak melakukan kunjungan ulang penerima Swedish Massage di

Puskesmas Jati Ranggon mempunyai nilai rata-rata (mean) yaitu

sebesar 149.38 mmHg dengan nilai terendah sebesar 140 mmHg

dan terbesar 190 mmHg. Pada post massage IV didapat nilai rata-

rata (mean) sebesar 139.38 mmHg dengan nilai terendah 130

mmHg dan terbesar 180 mmHg. Terjadi penurunan rata-rata

tekanan darah sistolik pre massage dan post massage IV sebesar 10

mmHg.

e. Tekanan Darah Diastolik Massage I

Dari data diatas dapat dilihat pengukuran tekanan darah diastolik

pada pre massage I pada 16 responden pasien hipertensi yang tidak

melakukan kunjungan ulang penerima Swedish Massage di

Puskesmas Jati Ranggon mempunyai nilai rata-rata (mean) yaitu

sebesar 91.88 mmHg dengan nilai terendah sebesar 70 mmHg dan

terbesar 100 mmHg. Pada post massage I didapat nilai rata-rata

(mean) sebesar 87.50 mmHg dengan nilai terendah 80 mmHg dan

terbesar 100 mmHg. Terjadi penurunan rata-rata tekanan darah

diastolik pre massage dan post massage sebesar 4.33 mmHg.


52

f. Tekanan Darah Diastolik Massage II

Dari data diatas dapat dilihat pengukuran tekanan darah diastolik

pada pre massage II pada 16 responden pasien hipertensi yang

tidak melakukan kunjungan ulang penerima Swedish Massage di

Puskesmas Jati Ranggon mempunyai nilai rata-rata (mean) yaitu

sebesar 91.88 mmHg dengan nilai terendah sebesar 80 mmHg dan

terbesar 110 mmHg. Pada post massage II didapat nilai rata-rata

(mean) sebesar 87.50 mmHg dengan nilai terendah 80 mmHg dan

terbesar 100 mmHg. Terjadi penurunan rata-rata tekanan darah

diastolik pre massage dan post massage II sebesar 4.33 mmHg.

g. Tekanan Darah Diastolik Massage III

Dari data diatas dapat dilihat pengukuran tekanan darah diastolik

pada pre massage III pada 16 responden pasien hipertensi yang

tidak melakukan kunjungan ulang penerima Swedish Massage di

Puskesmas Jati Ranggon mempunyai nilai rata-rata (mean) yaitu

sebesar 90.00 mmHg dengan nilai terendah sebesar 70 mmHg dan

terbesar 100 mmHg. Pada post massage III didapat nilai rata-rata

(mean) sebesar 86.87 mmHg dengan nilai terendah 80 mmHg dan

terbesar 100 mmHg. Terjadi penurunan rata-rata tekanan darah

diastolik pre massage dan post massage III sebesar 3.13 mmHg

h. Tekanan Darah Diastolik Massage IV

Dari data diatas dapat dilihat pengukuran tekanan darah diastolik

pada pre massage IV pada 16 responden pasien hipertensi yang


53

tidak melakukan kunjungan ulang penerima Swedish Massage di

Puskesmas Jati Ranggon mempunyai nilai rata-rata (mean) yaitu

sebesar 91.25 mmHg dengan nilai terendah sebesar 80 mmHg dan

terbesar 110 mmHg. Pada post massage IV didapat nilai rata-rata

(mean) sebesar 86.25 mmHg dengan nilai terendah 80 mmHg dan

terbesar 90 mmHg. Terjadi penurunan rata-rata tekanan darah

diastolik pre massage dan post massage IV sebesar 5 mmHg.


54

B. AnalisisBivariat

Analisa bivariat dilakukan untuk melihat hubungan antara variabel Tekanan

Darah sebelum dilakukan massage dengan variabel Tekanan Darah setelah

dilakukan massage menggunakan uji t test.

1. Rata – Rata Tekanan Darah Sistolik antara Pre dan Post Massage

Tabel 5.4
Perbedaan Rata-Rata Tekanan Darah Sistolik antara Pre dan Post
Massage
Pasien Hipertensi Penerima Swedish Massage
Di Puskesmas Jati Ranggon
2013
Pengukuran Tekanan N Mean Standar P
Darah Sistolik Deviasi Value
Pre Massage I 16 155.00 17.889 0.001
Post Massage I 16 146.56 20.874
Pre Massage II 16 152.50 12.383 0.003
Post Massage II 16 145.00 15.492
Pre Massage III 16 147.50 16.533 0.006
Post Massage III 16 142.50 14.832
Pre Massage IV 16 149.38 14.818 0.000
Post Massage IV 16 139.38 13.889

a. Pengukuran Tekanan Darah Sistolik Pre dan Post Massage I

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa dari pengukuran terhadap 16

orang responden pasien hipertensi yang tidak melakukan

kunjungan ulang penerima Swedish Massage di Puskesmas Jati

Ranggon didapatkan hasil bahwa rata-rata tekanan darah sistolik

pre massage I sebesar 155.00 mmHg dan rata-rata tekanan darah

sistolik post massage I lebih rendah yaitu sebesar 146.56 mmHg.


55

Dari hasil uji statistik dapat dilihat bahwa terdapat perbedaan yang

bermakna antara rata-rata tekanan darah sistolik pre massage I

dibandingkan dengan post massage I (nilai p= 0.001) atau secara

statistik rata-rata tekanan darah sistolik pre massage I lebih tinggi

dari rata-rata tekanan darah sistolik post massage I. Jadi

disimpulkan bahwa ada pengaruh Swedish massage I terhadap

penurunan tekanan darah sistolik pre dan post Swedish massage.

b. Pengukuran Tekanan Darah Sistolik Pre dan Post Massage I

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa dari pengukuran terhadap 16

orang responden pasien hipertensi yang tidak melakukan

kunjungan ulang penerima Swedish Massage di Puskesmas Jati

Ranggon didapatkan hasil bahwa rata-rata tekanan darah sistolik

pre massage II sebesar 152.50 mmHg dan rata-rata tekanan darah

sistolik post massage II lebih rendah yaitu sebesar 145.00 mmHg.

Dari hasil uji statistik dapat dilihat bahwa terdapat perbedaan yang

bermakna antara rata-rata tekanan darah sistolik pre massage II

dibandingkan dengan post massage II (nilai p= 0.003) atau secara

statistik rata-rata tekanan darah sistolik pre massage II lebih tinggi

dari rata-rata tekanan darah sistolik post massage II. Jadi

disimpulkan bahwa ada pengaruh Swedish massage II terhadap

penurunan tekanan darah sistolik pre dan post Swedish massage.


56

c. Pengukuran Tekanan Darah Sistolik Pre dan Post Massage III

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa dari pengukuran terhadap 16

orang responden pasien hipertensi yang tidak melakukan

kunjungan ulang penerima Swedish Massage di Puskesmas Jati

Ranggon didapatkan hasil bahwa rata-rata tekanan darah sistolik

pre massage III sebesar 147.50 mmHg dan rata-rata tekanan darah

sistolik post massage III lebih rendah yaitu sebesar 142.50 mmHg.

Dari hasil uji statistik dapat dilihat bahwa terdapat perbedaan yang

bermakna antara rata-rata tekanan darah sistolik pre massage III

dibandingkan dengan post massage III (nilai p= 0.0016) atau secara

statistik rata-rata tekanan darah sistolik pre massage III lebih tinggi

dari rata-rata tekanan darah sistolik post massage III. Jadi

disimpulkan bahwa ada pengaruh Swedish massage III terhadap

penurunan tekanan darah sistolik pre dan post Swedish massage

d. Pengukuran Tekanan Darah Sistolik Pre dan Post Massage IV

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa dari pengukuran terhadap 16

orang responden pasien hipertensi yang tidak melakukan

kunjungan ulang penerima Swedish Massage di Puskesmas Jati

Ranggon didapatkan hasil bahwa rata-rata tekanan darah sistolik

pre massage IV sebesar 149.38 mmHg dan rata-rata tekanan darah

sistolik post massage I lebih rendah yaitu sebesar 139.38 mmHg.

Dari hasil uji statistik dapat dilihat bahwa terdapat perbedaan yang

bermakna antara rata-rata tekanan darah sistolik pre massage IV

dibandingkan dengan post massage IV (nilai p= 0.000) atau secara


57

statistik rata-rata tekanan darah sistolik pre massage IV lebih tinggi

dari rata-rata tekanan darah sistolik post massage IV. Jadi

disimpulkan bahwa ada pengaruh Swedish massage IV terhadap

penurunan tekanan darah sistolik pre dan post Swedish massage.

2. Rata-Rata Tekanan Darah Diastolik antara Pre dan Post Massage

Tabel 5.5
Distribusi Rata-Rata Tekanan Darah Diastolik antara Pre dan Post
Massage
Pasien Hipertensi Penerima Swedish Massage
Di Puskesmas Jati Ranggon
2013
Pengukuran Tekanan N Mean Standar P
Darah Diastolik Deviasi Value
Pre Massage I 16 91.88 8.342 0.029
Post Massage I 16 87.50 7.746
Pre Massage II 16 91.88 7.500 0.004
Post Massage II 16 87.50 8.563
Pre Massage III 16 90.00 8.165 0.055
Post Massage III 16 86.87 6.021
Pre Massage IV 16 91.25 6.191 0.006
Post Massage IV 16 86.25 5.000

a. Pengukuran Tekanan Darah Diastolik Pre dan Post Massage I

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa dari pengukuran terhadap 16

orang responden pasien hipertensi yang tidak melakukan

kunjungan ulang penerima Swedish Massage di Puskesmas Jati

Ranggon didapatkan hasil bahwa rata-rata tekanan darah diastolik

pre massage I sebesar 91.88 mmHg dan rata-rata tekanan darah

diastolik post massage I lebih rendah yaitu sebesar 87.50 mmHg.

Dari hasil uji statistik dapat dilihat bahwa terdapat perbedaan yang

bermakna antara rata-rata tekanan darah diastolik pre massage I

dibandingkan dengan post massage I (nilai p= 0.000) atau secara


58

statistik rata-rata tekanan darah diastolik pre massage I lebih tinggi

dari rata-rata tekanan darah diastolik post massage I. Jadi

disimpulkan bahwa ada pengaruh Swedish massage I terhadap

penurunan tekanan darah diastolik pre dan post Swedish massage.

b. Pengukuran Tekanan Darah Diastolik Pre dan Post Massage II

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa dari pengukuran terhadap 16

orang responden pasien hipertensi yang tidak melakukan

kunjungan ulang penerima Swedish Massage di Puskesmas Jati

Ranggon didapatkan hasil bahwa rata-rata tekanan darah diastolik

pre massage II sebesar 91.88 mmHg dan rata-rata tekanan darah

diastolik post massage II lebih rendah yaitu sebesar 87.50 mmHg.

Dari hasil uji statistik dapat dilihat bahwa terdapat perbedaan yang

bermakna antara rata-rata tekanan darah diastolik pre massage II

dibandingkan dengan post massage II (nilai p= 0.004) atau secara

statistik rata-rata tekanan darah diastolik pre massage II lebih

tinggi dari rata-rata tekanan darah diastolik post massage II. Jadi

disimpulkan bahwa ada pengaruh Swedish massage II terhadap

penurunan tekanan darah diastolik pre dan post Swedish massage.

c. Pengukuran Tekanan Darah Diastolik Pre dan Post Massage III

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa dari pengukuran terhadap 16

orang responden pasien hipertensi yang tidak melakukan

kunjungan ulang penerima Swedish Massage di Puskesmas Jati

Ranggon didapatkan hasil bahwa rata-rata tekanan darah diastolik


59

pre massage III sebesar 90.00 mmHg dan rata-rata tekanan darah

diastolik post massage III lebih rendah yaitu sebesar 86.88 mmHg.

Dari hasil uji statistik dapat dilihat bahwa tidak terdapat perbedaan

yang bermakna antara rata-rata tekanan darah diastolik pre massage

III dibandingkan dengan post massage III (nilai p= 0.055) atau

secara statistik rata-rata tekanan darah diastolik pre massage III

lebih tinggi dari rata-rata tekanan darah diastolik post massage III.

Jadi disimpulkan bahwa ada pengaruh Swedish massage III

terhadap penurunan tekanan darah diastolik pre dan post Swedish

massage.

d. Pengukuran Tekanan Darah Diastolik Pre dan Post Massage IV

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa dari pengukuran terhadap 16

orang responden pasien hipertensi yang tidak melakukan

kunjungan ulang penerima Swedish Massage di Puskesmas Jati

Ranggon didapatkan hasil bahwa rata-rata tekanan darah diastolik

pre massage IV sebesar 91.25 mmHg dan rata-rata tekanan darah

diastolik post massage IV lebih rendah yaitu sebesar 86.25 mmHg.

Dari hasil uji statistik dapat dilihat bahwa terdapat perbedaan yang

bermakna antara rata-rata tekanan darah diastolik pre massage IV

dibandingkan dengan post massage IV (nilai p= 0.006) atau secara

statistik rata-rata tekanan darah diastolik pre massage IV lebih

tinggi dari rata-rata tekanan darah diastolik post massage IV. Jadi

disimpulkan bahwa ada pengaruh Swedish massage IV terhadap

penurunan tekanan darah diastolik pre dan post Swedish massage


60

3. Hubungan Variabel Counfonding dengan Rata-rata Penurunan

tekanan Darah Sistolik dan Diastolik Pre Swedish Massage 1 dan

Post Swedish Massage IV

Sebelum dilakukan analisa hubungan variabel confounding dengan


penurunan tekanan darah sistolik dan diastolik, maka dicari terlebih
dahulu rata-rata penurunan tekanan darah sistolik dan diastolik sebelum
dilakukan Swedish massage (dalam hal ini adalah pengukuran pertama
yaitu pre massage 1) dan setelah dilakukan Swedish massage (dalam hal
ini adalah pengukuran terakhir yaitu post massage ke 4).

a. Usia dan Durasi Hipertensi


Analisa hubungan variabel usia dan durasi hipertensi dengan
penurunan tekanan darah sistolik dan diastolik pre massage 1 dan
post massage ke 4 dilakukan dengan uji T-test
Tabel 5.6
Analisa Perbedaan Rata-rata Penurunan Tekanan Darah Sistolik Pre
Massage 1 dan Post Massage 4 Menurut Usia
Pasien Hipertensi Penerima Swedish Massage
Di Puskesmas Pondok Ranggon
2013
Variabel N Mean Standar T P
Deviasi (t-test) Value
Usia (45-55
tahun) - 12 33.67 16.913 6.895 0.000
Penurunan
Tekanan Darah
Sistolik
Usia (45-55
tahun)- 12 46.167 7.930 20.168 0.000
Penurunan
Tekanan Darah
Diastolik

Dari tabel 5.6 dapat dilihat bahwa dari pengukuran terhadap pasien

hipertensi yang tidak melakukan kunjungan ulang penerima Swedish


61

Massage di Puskesmas Jati Ranggon didapatkan hasil bahwa t-test

antara penurunan tekanan darah sistolik pre massage 1 dan post

massage ke 4 dengan usia (45-55 tahun) adalah 6.895, bermakna

secara statistik dengan nilai p = 0.000. Jadi dapat disimpulkan

bahwa ada hubungan yang bermakna antara usia (45-55 tahun)

dengan penurunan tekanan darah sistolik pre massage 1 dan post

massage ke 4.

Sedangkan hasil t-test antara penurunan tekanan darah diastolik pre

massage 1 dan post massage ke 4 dengan usia (45-55 tahun) adalah

20.168 nilai statistik ini bermakna dengan nilai p= 0.000. Jadi dapat

disimpulkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara usia (45-55

tahun) dengan penurunan tekanan darah diastolik pre massage 1 dan

post massage ke 4.

Tabel 5.7
Analisa Perbedaan Rata-rata Penurunan Tekanan Darah Sistolik Pre
Massage 1 dan Post Massage 4 Menurut Usia
Pasien Hipertensi Penerima Swedish Massage
Di Puskesmas Pondok Ranggon
2013
Variabel N Mean Standar T P
Deviasi (t-test) Value
Usia (56-66
tahun) - 4 36.500 8.226 8.874 0.003
Penurunan
Tekanan Darah
Sistolik
Usia (56-66
tahun)- 4 46.500 1.000 93.00 0.000
Penurunan
Tekanan Darah
Diastolik
62

Dari tabel 5.7 dapat dilihat bahwa dari pengukuran terhadap pasien

hipertensi yang tidak melakukan kunjungan ulang penerima Swedish

Massage di Puskesmas Jati Ranggon didapatkan hasil bahwa t-test

antara penurunan tekanan darah sistolik pre massage 1 dan post

massage ke 4 dengan usia (56-66 tahun) adalah 8.874, bermakna

secara statistik dengan nilai p = 0.003. Jadi dapat disimpulkan

bahwa ada hubungan yang bermakna antara usia (56-66 tahun)

dengan penurunan tekanan darah sistolik pre massage 1 dan post

massage ke 4.

Sedangkan hasil t-test antara penurunan tekanan darah diastolik pre

massage 1 dan post massage ke 4 dengan usia (56-66 tahun) adalah

93.000 nilai statistik ini bermakna dengan nilai p= 0.000. Jadi dapat

disimpulkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara usia (56-66

tahun) dengan penurunan tekanan darah diastolik pre massage 1 dan

post massage ke 4.
63

Tabel 5.8
Analisa Perbedaan Rata-rata Penurunan Tekanan Darah Sistolik Pre
Massage 1 dan Post Massage 4 Menurut Durasi Hipertensi
Pasien Hipertensi Penerima Swedish Massage
Di Puskesmas Pondok Ranggon
2013
Variabel N Mean Standar T P
Deviasi (t-test) Value
Durasi
Hipertensi (<5 14 -11,643 13.351 -3.263 0.006
thn) -
Penurunan
Tekanan Darah
Sistolik
Durasi
Hipertensi (<5 12 -1.643 8.581 -0.716 0.486
thn) -
Penurunan
Tekanan Darah
Diastolik

Dari tabel 5.8 dapat dilihat bahwa dari pengukuran terhadap pasien

hipertensi yang tidak melakukan kunjungan ulang penerima Swedish

Massage di Puskesmas Jati Ranggon didapatkan hasil bahwa t-test

antara penurunan tekanan darah sistolik pre massage 1 dan post

massage ke 4 dengan durasi hipertensi adalah -3.263, bermakna

secara statistik dengan nilai p = 0.006. Jadi dapat disimpulkan

bahwa ada hubungan yang bermakna antara durasi hipertensi dengan

penurunan tekanan darah sistolik pre massage 1 dan post massage ke

4.

Sedangkan hasil t-test antara penurunan tekanan darah diastolik pre

massage 1 dan post massage ke 4 dengan durasi hipertensi adalah -

0.716 nilai statistik ini tidak bermakna dengan nilai p= 0.486. Jadi
64

dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara

durasi hipertensi dengan penurunan tekanan darah diastolik pre

massage 1 dan post massage ke 4.

Tabel 5.9
Analisa Perbedaan Rata-rata Penurunan Tekanan Darah Sistolik Pre
Massage 1 dan Post Massage 4 Menurut Durasi Hipertensi
Pasien Hipertensi Penerima Swedish Massage
Di Puskesmas Pondok Ranggon
2013
Variabel N Mean Standar T P
Deviasi (t-test) Value
Durasi
Hipertensi (>5 4 36.500 8.226 8.874 0.003
thn) -
Penurunan
Tekanan Darah
Sistolik
Durasi
Hipertensi (>5 4 46.500 1.000 93.000 0.000
thn) -
Penurunan
Tekanan Darah
Diastolik

Dari tabel 5.9 dapat dilihat bahwa dari pengukuran terhadap pasien

hipertensi yang tidak melakukan kunjungan ulang penerima Swedish

Massage di Puskesmas Jati Ranggon didapatkan hasil bahwat test

dilihat antara durasi (>5thn) dengan penurunan tekanan darah

sistolik pre massage 1 dan post massage ke 4 dengan durasi

hipertensi adalah 0.211 dan ini tidak bermakna secara statistik

dengan nilai p= 0.590. Jadi dapat disimpulkan bahwa tidak ada

hubungan yang bermakna antara durasi hipertensi dengan


65

penurunan tekanan darah sistolik pre massage 1 dan post massage

ke 4.

Sedangkan durasi dengan penurunan tekanan darah diastolik pre

massage 1 dan post massage ke 4 dengan durasi hipertensi adalah

0.018 hasil ini bermakna secara statistik dengan nilai p= 0.482. Jadi

dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara

durasi hipertensi dengan penurunan tekanan darah diastolik pre

massage 1 dan post massage ke 4.

b. Jenis kelamin dan Pengendalian Diri Hipertensi Non Farmakologis


Analisa hubungan variabel jenis kelamin dan pengendalian diri
hipertensi non farmakologis dengan penurunan tekanan darah
sistolik dan diastolik pre massage 1 dan post massage ke 4
dilakukan dengan uji Independen T-test.

Tabel 5.9
Analisa Perbedaan Rata-rata Penurunan Tekanan Darah Sistolik Pre
Massage 1 dan Post Massage 4 Menurut Jenis KelaminPasien
Hipertensi Penerima Swedish Massage
Di Puskesmas Pondok Ranggon
2013
Variabel Kategori N Mean Standar T P
Deviasi (t-test) Value
Penurunan Laki-laki 4 20.00 8.165 0.757 0.461
Tekanan Darah Perempuan 12 14.17 14.434
Sistolik
Penurunan Laki-laki 4 12.50 5.000 2.181 0.047
Tekanan Darah Perempuan 12 3.33 7.785
Diastolik

Dari tabel 5.9 dapat dilihat bahwa ada 4 orang responden yang

berjenis kelamin laki-laki dan mempunyai penurunan tekanan darah


66

sistolik pre massage 1 dan post massage ke 4 sebesar 20.00 mmHg.

Sedangkan 12 orang responden yang berjenis kelamin perempuan

mempunyai rata-rata penurunan tekanan darah sistolik pre massage

1 dan post massage ke 4 sebesar 14.17 mmHg. Dari hasil uji statistik

dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang bermakna

antara rata-rata penurunan tekanan darah sistolik pre massage 1 dan

post massage ke 4 pada responden laki-laki dibandingkan dengan

perempuan (nilai p = 0.461) atau secara statistik rata-rata penurunan

tekanan darah sistolik pre massage 1 dan post massage ke 4 pada

responden laki-laki (yaitu 20.00 mmHg) lebih besar dibandingkan

perempuan (14.17 mmHg). Jadi tidak ada hubungan antara jenis

kelamin dengan rata-rata penurunan tekanan darah sistolik pre

massage 1 dan post massage ke 4.

Dari tabel 5.9 dapat dilihat bahwa ada 4 orang responden yang

berjenis kelamin laki-laki dan mempunyai penurunan tekanan darah

diastolik pre massage 1 dan post massage ke 4 sebesar 12.50 mmHg.

Sedangkan 12 orang responden yang berjenis kelamin perempuan

mempunyai rata-rata penurunan tekanan darah diastolik pre

massage 1 dan post massage ke 4 sebesar 3.33 mmHg. Dari hasil uji

statistik dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang

bermakna antara rata-rata penurunan tekanan darah diastolik pre

massage 1 dan post massage ke 4 pada responden laki-laki

dibandingkan dengan perempuan (nilai p = 0.047) atau secara

statistik rata-rata penurunan tekanan darah diastolik pre massage 1


67

dan post massage ke 4 pada responden laki-laki (yaitu 12.50 mmHg)

lebih besar dibandingkan perempuan (3.33 mmHg). Jadi ada

hubungan antara jenis kelamin dengan rata-rata penurunan tekanan

darah diastolik pre massage 1 dan post massage ke 4.

Tabel 5.9
Analisa Perbedaan Rata-rata Penurunan Tekanan Darah Sistolik Pre
Massage 1 dan Post Massage 4 Menurut Pengendalian Diri Hipertensi
Non Farmakologis
Pasien Hipertensi Penerima Swedish Massage
Di Puskesmas Pondok Ranggon
2013
Variabel Kategori N Mean Standar T P
Deviasi (t-test) Value
Penurunan Tidak Beresiko 8 15.00 7.559 -0.184 0.857
Tekanan Darah Sangat Tidak 8 16.25 17.678
Sistolik Beresiko
Penurunan Tidak Beresiko 8 3.75 9.161 -0.917 0.375
Tekanan Darah Sangat Tidak 8 7.50 7.071
Diastolik Beresiko

Dari tabel 5.9 dapat dilihat bahwa ada 8 orang responden yang

tidak beresiko dalam pengendalian diri hipertensi non farmakologis

dan mempunyai rata-rata penurunan tekanan darah sistolik pre

massage 1 dan post massage ke 4 sebesar 15.00 mmHg. Sedangkan

8 orang responden yang sangat tidak beresiko dalam pengendalian

diri hipertensi non farmakologis mempunyai rata-rata penurunan

tekanan darah sistolik pre massage 1 dan post massage ke 4 sebesar

16.2 mmHg. Dari hasil uji statistik dapat disimpulkan bahwa tidak

terdapat perbedaan yang bermakna antara rata-rata penurunan


68

tekanan darah sistolik pre massage 1 dan post massage ke 4 pada

responden yang tidak beresiko dalam pengendalian diri hipertensi

non farmakologis dibandingkan dengan responden yang sangat

tidak beresiko dalam pengendalian diri hipertensi non farmakologis

(nilai p = 0.857) atau secara statistik rata-rata penurunan tekanan

darah sistolik pre massage 1 dan post massage ke 4 pada responden

yang tidak beresiko dalam pengendalian diri hipertensi non

farmakologis (yaitu 15.00) lebih rendah dari responden yang sangat

tidak beresiko dalam pengendalian diri hipertensi non farmakologis

(yaitu 16.25 mmHg). Jadi tidak ada hubungan antara pengendalian

diri hipertensi non farmakologis terhadap rata-rata penurunan

tekanan darah sistolik pre massage 1 dan post massage ke 4.

Dari tabel 5.9 dapat dilihat bahwa ada 8 orang responden yang

tidak beresiko dalam pengendalian diri hipertensi non farmakologis

dan mempunyai rata-rata penurunan tekanan darah diastolik pre

massage 1 dan post massage ke 4 sebesar 3.75 mmHg. Sedangkan

8 orang responden yang sangat tidak beresiko dalam pengendalian

diri hipertensi non farmakologis mempunyai rata-rata penurunan

tekanan darah diastolik pre massage 1 dan post massage ke 4

sebesar 7.50 mmHg. Dari hasil uji statistik dapat disimpulkan

bahwa tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara rata-rata

penurunan tekanan darah diastolik pre massage 1 dan post massage

ke 4 pada responden yang tidak beresiko dalam pengendalian diri

hipertensi non farmakologis dibandingkan dengan responden yang


69

sangat tidak beresiko dalam pengendalian diri hipertensi non

farmakologis (nilai p = 0.375) atau secara statistik rata-rata

penurunan tekanan darah diastolik pre massage 1 dan post massage

ke 4 pada responden yang tidak beresiko dalam pengendalian diri

hipertensi non farmakologis (yaitu 3.75mmHg) lebih rendah dari

responden yang sangat tidak beresiko dalam pengendalian diri

hipertensi non farmakologis (yaitu 7.50 mmHg). Jadi tidak ada

hubungan antara pengendalian diri hipertensi non farmakologis

terhadap rata-rata penurunan tekanan darah diastolik pre massage 1

dan post massage ke 4.


BAB VI

PEMBAHASAN

Pada bab ini akan diuraikan pembahasan interprestasi dan diskusi hasil penelitian

berdasarkan literatur dan hasil-hasil penelitian sebelumnya. Selain itu disampaikan

keterbatasan dan implikasi hasil penelitian ini untuk keperawatan.

A. Interprestasi dan Diskusi Hasil

1. Karakteristik Responden

a. Usia

Usia adalah satuan waktu yang mengukur waktu keberadaan suatu

benda atau makhluk, baik yang hidup maupun yang mati. Hasil

penelitian menunjukan rata-rata usia responden pasien hipertensi

yang tidak melakukan kunjungan ulang penerima Swedish Massage

di Puskesmas Jati Ranggon adalah 51.88 tahun dengan usia

termuda 45 tahun dan tertua 58 tahun. Berdasarkan jenis kelamin

didapatkan bahwa rata-rata usia laki-laki (54.50 tahun) lebih tinggi

dari rata-rata usia perempuan (51.00 tahun).

Berdasarkan data Riskesdas (2007) menemukan usia kasus

hipertensi di mulai pada usia 18 tahun. Namun menurut Sheps

(2005) hipertensi di mulai pada usia 35 tahun. Hal ini sesuai teori

yaitu peningkatan tekanan darah sesuai dengan pertambahan usia

dan hal ini merupakan fisiologis tubuh. Peningkatan tekanan darah

70
71

ini disebabkan oleh perubahan fisiologis pada jantung, pembuluh

darah, dan hormon (Sheps, 2005).

b. Jenis Kelamin

Hasil penelitian ini didapatkan responden sebagian besar berjenis

kelamin perempuan yaitu sebanyak 12 responden (75%).

Responden yang mempunyai tekanan darah tinggi paling besar

berjenis kelamin perempuan. Hal ini sesuai dengan pendapat Sheps

(2005) bahwa faktor hipertensi dipengaruhi oleh jenis kelamin

karena perempuan setelah usia 50 mengalami menopause,

hipertensi menjadi lebih lazim dijumpai pada perempuan.

Hasil penelitian Syukraini Irza menunjukkan bahwa risiko untuk

menderita hipertensi bagi wanita 5 kali lebih besar dibandingkan

pria, sedangkan menurut Arif Mansjoer, dkk, pria dan wanita

menapouse mempunyai pengaruh yang sama untuk terjadinya

hipertensi.

Pada dasarnya prevalensi terjadinya hipertensi pada pria sama

dengan wanita. Namun sebelum mengalami menopause, wanita

terlindungi dari penyakit kardiovaskular karena aktivitas hormon

estrogen yang berperan dalam meningkatkan kadar High Density

Lipoprotein (HDL). Kadar kolesterol HDL yang tinggi merupakan

factor pelindung dalam mencegah terjadinya proses aterosklerosis.

Pada premenopause wanita mulai kehilangan sedikit demi sedikit

hormon estrogen yang selama ini melindungi darah dari kerusakan.

Proses ini terus berlanjut di mana jumlah hormon estrogen tersebut


72

makin berkurang secara alami seiring dengan meningkatnya usia,

yang umumnya mulai terjadi pada wanita umur 45-55 tahun.

Perempuan yang tidak bekerja atau hanya sebagai ibu rumah

tangga berisiko lebih tinggi menderita hipertensi dibandingkan

dengan perempuan yang bekerja. Hal ini kemungkinan disebabkan

oleh kurangnya aktivitas yang dilakukan ibu rumah tangga, dimana

kebanyakan hanya berdiam diri dirumah dengan rutinitas yang

membuat suntuk. Berbeda dengan ibu yang bekerja, justru lebih

banyak aktivitasnya dan menyempatkan waktu untuk melakukan

olahraga. Selain itu, biasanya ibu yang bekerja lebih aktif dari pada

ibu yang tidak bekerja atau hanya sebagai ibu rumah tangga.

Individu yang aktivitasnya rendah berisiko terkena hipertensi 30-

50% dari individu yang aktif (Waren, 2008).

c. Durasi Hipertensi

Lama hipertensi merupakan pernyataan responden tentang lamanya

memiliki hipertensi dimulai diketahuinya hipertensi.

Hasil penelitian ini didapatkan rata-rata durasi hipertensi responden

pasien hipertensi yang tidak melakukan kunjungan ulang penerima

Swedish Massage di Puskesmas Jati Ranggon adalah 3.88 tahun

dengan durasi hipertensi paling rendah 2 tahun dan terlama 8 tahun.

Berdasarkan jenis kelamin didapatkan bahwa rata-rata durasi

hipertensi laki-laki (4.00 tahun) lebih tinggi dari rata-rata durasi

hipertensi perempuan (3.83 tahun).


73

Dalam penelitian Koq (2010) menunjukan ada hubungan secara

signifikan antara lamanya hipertensi dengan tingginya tekanan

darah.

d. Pengendalian diri hipertensi non farmakologis

Hasil penelitian ini didapatkan responden sebagian besar

mempunyai pengendalian diri hipertensi non farmakologis sama

banyaknya antara yang tidak beresiko dan sangat tidak beresiko

yaitu sebesar 50 %.

Pengendalian diri hipertensi non farmakologis terdiri dari

pengaturan pola makan, mengurangi alkohol dan kafein,

pengaturan aktivitas dan olahraga serta manajemen stress.

Pola makan merupakan jenis dan jumlah pangan yang di konsumsi

seseorang pada waktu tertentu (Santosa, 2004). Meningkatnya

jumlah pasien hipertensi ternyata berhubungan dengan berubahnya

rasio natrium : kalium dalam makanan yang di konsumsi. Hasil

penelitian menunjukan bahwa pasien hipertensi setelah sering

mengkonsumsi makanan yang mengandung kalium ternyata

tekanan darahnya kembali normal (Muhtadi, 2007 dalam Istiqomah

2010). Berbeda dengan natrium, kalium merupakan ion utama di

dalam cairan intraseluler. Cara kerja kalium kebalikan dari natrium.

Banyak mengkonsumsi kalium akan meningkatkan konsentrasi di

dalam cairan intraseluler sehingga cenderung menaikkan cairan

dibagian ekstra seluler dan menurunkan tekanan darah (Puspitorini,

2008 dalam Istiqomah, 2010).


74

Radmarssy (2007) mengatakan bahwa konsumsi alkohol dan

kafein harus dibatasi karena konsumsi alkohol dan kafein

berlebihan dapat meningkatkan tekanan darah. Para peminum berat

mempunyai resiko mengalami hipertensi empat kali lebih besar dari

pada mereka yang tidak minum minuman beralkohol. Sedangkan

hasil penelitian sebelumnya oleh Arissugiharto, yang menyatakan

pada analisis multivariat kebiasaan sering mengkonsumsi minuman

beralkohol tidak terbukti sebagai faktor risiko hipertensi. Hanya

satu sampel dari keseluruhan pasien hipertensi yang biasa minum

alkohol sehingga belum dapat dikategori kebiasaan minum alkohol

sebagai faktor risiko hipertensi.

Olahraga merupakan kegiatan yang melibatkan tubuh seperti

berjalan, berlari, senam, bersepeda. Menurut Ronal et al (2004),

dalam Biswas, 2006) olahraga merupakan gerakan tubuh yang

dihasilkan dari otot rangka dan membutuhkan pengeluaran energi

yang melebihi pengeluaran energi ketika istirahat. Sesuai dengan

penelitian Krika (2003) insiden hipertensi dapat ditemukan dengan

rendahnya aktivitas fisik atau olahraga. Menurut Hernelahti M,

Kujala UM, Kaprio J, et.al dalam Aris (2007). Mereka menyatakan

bahwa tidak teratur melakukan olahraga akan meningkatkan risiko

terkena hipertensi sebesar 2,33 kali dibanding dengan yang teratur

berolahraga.

Stress adalah suatu kondisi yang menekan keadaan psikis seseorang

dalam mencapai suatu kesempatan dimana untuk mencapai

kesempatan tersebut terdapat batasan atau penghalang (Robbins,


75

2001). Manajemen stress adalah kemampuan penggunaan sumber

daya (manusia) secara efektif untuk mengatasi gangguan atau

kekacauan mental dan emosional yang muncul karena tanggapan

(respon) (Robbins, 2001). Stress memang tidak menyebabkan

hipertensi yang menetap namun jika episode stress sering terjadi

dapat menyebabkan kenaikan sementara yang sangat tinggi (Sheps,

2005). Menghindari stress dengan menciptakan suasana yang

menyenangkan bagi penderita hipertensi dan memperkenalkan

berbagai metode relaksasi yang dapat mengontrol sistem saraf

yang akhirnya dapat menurunkan tekanan darah (Af’Idah, 2008).

2. Pengaruh swedish massage terhadap tekanan darah pada pasien

hipertensi

Tekanan darah sistolik adalah Tekanan sistolik disebut juga tekanan atas,

menunjukkan tekanan darah maksimum yang terjadi saat jantung sedang

berkontraksi (berdenyut) memompa darah. Tekanan diastolik disebut

juga tekanan bawah adalah tekanan darah minimum yang terjadi saat jeda

antara satu kali kontraksi jantung dengan kontraksi jantung berikutnya

(Brunner and Suddarth, 2001).

Dari hasil penelitian ini dapat diketahui bahwa rata-rata tekanan darah

sistolik pre massage I sebesar 155.00 mmHg, lalu pre massage II

menurun menjadi 152.50 mmHg, lalu pre massage III menurun menjadi

147.50 mmHg, lalu pre massage IV naik menjadi 149.38 mmHg.

Sedangkan rata-rata tekanan darah diastolik pre massage I sebesar 91.88


76

mmHg, lalu pre massage II menurun menjadi 91.88 mmHg, lalu pre

massage III menurun menjadi 90.00 mmHg, lalu pre massage IV naik

menjadi 91.25 mmHg. Kenaikan rata-rata tekanan darah sistolik dan

diastolik pada pre massage 4 dimungkinkan karena ada pengaruh dari

variabel confounding yang tidak bisa dikontrol dalam penelitian ini.

Berdasarkan wawancara tidak terstruktur dari responden, didapatkan

bahwa ada responden yang mempunyai masalah yang dipikirkan

sehingga menjadi sulit tidur. Hal ini mungkin dapat berpengaruh

terhadap kenaikan tekanan darah responden.

Selain itu dari penelitian ini didapatkan hasil bahwa terdapat perbedaan

yang signifikan dari pemberian massage terhadap perubahan tekanan

darah sistolik. Penurunan rata-rata tekanan darah sistolik didapatkan

setelah dilakukan massage I, II, III dan IV, dimana rata-rata penurunan

darah terbesar adalah pada post massage IV sebesar 10.00 mmHg. Dan

juga terdapat perbedaan yang signifikan dari pemberian massage

terhadap perubahan tekanan darah diastolik. Penurunan rata-rata tekanan

darah diastolik didapatkan setelah dilakukan massage I, II, III dan IV,

dimana rata-rata penurunan darah diastolik terbesar adalah pada post

massage IV sebesar 5.00 mmHg. Hal ini dimungkinkan karena

pemberian massage selama 4 kali sudah dapat memberikan efek yang

maksimal terhadap penurunan tekanan darah sistolik dan diastolik dari

responden.

Penelitian ini didukung oleh penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh

Yaslilarda, Bulguvar ve, dan Etkisi (2009) dihasilkan adanya penurunan

tekanan darah sistolik setelah dilakukan pijatan pada punggung pada


77

orang usia lanjut. Penelitian serupa dilakukan oleh Bilhult (2007) yang

memberikan massage pada punggung, ektremitas, kening dan kepala

selama 45 menit dapat secara signifikan menurunkan tekanan sistolik.

Penelitian dan literatur yang ada menyebutkan perubahan tekanan darah,

merupakan hasil dari proses relaksasi yang disebabkan dari pemberian

pijat. Golia (1991) dan Moyer, et al (2004, dalam Cowen, 2005)

menyatakan bahwa pijatan dapat menyebabkan vasodilatasi pembuluh

darah dikarenakan adanya penurunan sistem kerja saraf simpatis dan

meningkatkan kerja saraf parasimpatis sehingga pijatan dapat

menurunkan vasokontriksi pembuluh darah. Selain itu pijatan akan

menstimulasi untuk pelepasan histamin dimana berperan dalam

vasodilatasi pembuluh darah (Wakim, 1985, dalam Golia 1991). Hal ini

didukung oleh sifat pembuluh darah yang memiliki kemampuan

meregang dan mempengaruhi tekanan sistolik dan diastolik (Sherwood,

2011).

Dari penelitian ini juga dibuktikan penggunaan tehnik effleurage dalam

rangkaian massage dapat meningkatkan sirkulasi darah. Hal ini didukung

oleh penelitian Koq (2010) yang menggunakan tekanan ringan hingga

sedang pada ektremitas dan punggung selama 30 menit dan dilakukan 4

kali selama seminggu dihasilkan rata-rata tekanan darah menurun setelah

dilakukan massage. Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Billhult

(2007) didapatkan penggunaan effleurage pada ektremitas, punggung,

kening dan kepala selama 45 menit dapat menurunkan tekanan darah.

Goat (1994) membuktikan bahwa tehnik effleurage dalam massage dapat

meningkatkan aliran darah dibandingkan penggunaan shortwave


78

diathermy dan terapi ultrasound. Hal ini diakibatkan oleh gerakan

effleuarage pada Swedish massage dilakukan mengarah pada jantung

sehingga dapat meningkatkan aliran balik vena dan meningkatkan stroke

volume jantung.

Pada penelitian ini pengukuran tekanan darah dilakukan 10 menit setelah

massage. Hal ini didasari pada penelitian Koq (2010) yang melakukan

pengukuran tekanan darah 10 menit setelah dilakukan massage. Namun

Bell (1964, dalam Tappan & Benyamin, 1998) melaporkan waktu

pembuluh darah meningkatkan sirkulasi darah pada tubuh yaitu 20 menit

dan efek berlangsung selama 40 menit. Hal ini menjelaskan bahwa untuk

melihat efek pemberian massage terhadap aliran darah dilakukan antara

10 – 20 menit setelah massage.

3. Hubungan Variabel Counfonding dengan Rata-rata Penurunan

tekanan Darah Sistolik dan Diastolik Pre Swedish Massage 1 dan

Post Swedish Massage IV

a. Usia

Dari hasil penelitian didapatkan bahwa ada hubungan yang

bermakna antara usia (45-55 tahun) dengan penurunan tekanan

darah sistolik pre massage 1 dan post massage ke 4 (p=0.000) dan

bahwa ada hubungan yang bermakna antara usia (55-56 tahun)

dengan penurunan tekanan darah sistolik pre massage 1 dan post

massage ke 4 (p=0.003). Didapatkan juga bahwa ada hubungan

yang bermakna antara usia (45-55 tahun) dengan penurunan

tekanan darah diastolik pre massage 1 dan post massage ke 4


79

(p=0.000) dan bahwa ada hubungan yang bermakna antara usia

(55-56 tahun) dengan penurunan tekanan darah diastolik pre

massage 1 dan post massage ke 4 (p=0.000).

Adanya hubungan usia dengan penurunan tekanan darah sistolik ini

mungkin disebabkan oleh rata-rata usia responden sudah berusia 50

tahun keatas. Dengan usia yang sudah lanjut menyebabkan

kehilangan elastisitas arteri karena proses menua. Kekakuan aorta

akan meningkatkan tekanan darah (Suhardjono, 2006). Hal ini

sesuai dengan pendapat Sugiharto dkk (2003) yang menyatakan

bahwa kejadian hipertensi berbanding lurus dengan peningkatan

usia. Pembuluh darah arteri kehilangan elastisitas atau kelenturan

seiring bertambahnya usia, kebanyakan orang tekanan darahnya

meningkat ketika usia 50-60 tahun keatas. Secara teoritis, lansia

memang cenderung mengalami peningkatan tekanan darah seiring

dengan bertambahnya usia. Peningkatan tekanan darah pada lansia

umumnya terjadi akibat penurunan fungsi organ pada sistem

kardiovaskular. Katup jantung menebal dan menjadi kaku, serta

terjadi penurunan elastisitas dari aorta dan arteri-arteri besar

lainnya (Ismayadi, 2004). Selain itu, terjadi peningkatan resistensi

pembuluh darah perifer ketika ventrikel kiri memompa, sehingga

tekanan sistolik dan afterload meningkat (Gunawan, 2009).

Perubahan struktural dan fungsional pada sistem pembuluh perifer

bertanggung jawab pada perubahan tekanan darah yang terjadi pada

usia lanjut. Perubahan tersebut meliputi aterosklerosis, hilangnya

elastisitas jaringan ikat, dan penurunan dalam relaksasi otot polos


80

pembuluh darah, yang pada gilirannya menurunkan kemampuan

distensi dan daya regang pembuluh darah. Konsekuensinya, aorta

dan arteri besar berkurang kemampuannya dalam mengakomodasi

volume darah yang dipompa oleh jantung (volume sekuncup),

mengakibatkan penurunan curah jantung dan peningkatan tahanan

perifer (Smeltzer & Bare, 2002).

Tekanan darah sistolik maupun tekanan darah diastolik meningkat

sesuai dengan meningkatnya umur (Rigaud, 2001). Menurut

penelitian yang dilakukan oleh Singh dkk (2012), ditemukan bahwa

tekanan darah meningkat sekitar 1,7 hingga 11,6 mmHg dalam

kurun waktu sepuluh tahun.

b. Jenis kelamin

Dari hasil penelitian didapatkan bahwa tidak ada hubungan yang

bermakna antara jenis kelamin dengan penurunan tekanan darah

sistolik pre massage 1 dan post massage ke 4 (p=0.461). tidak

adanya hubungan antara jenis kelamin dengan penurunan tekanan

darah sisstolik ini dimungkinkan karena adanya faktor hormonal

yang lebih besar terdapat didalam tubuh perempuan dibandingkan

dengan laki-laki. Faktor hormonal inilah yang menyebabkan

peningkatan lemak dalam tubuh atau obesitas. Selain faktor

hormonal yang menyebabkan timbulnya obesitas pada perempuan,

obesitas juga disebabkan karena kurangnya aktifitas pada kaum

perempuan dan lebih sering menghabiskan waktu untuk bersantai

dirumah. (Junaidi, 2010).


81

Pada penelitian ini laki-laki memiliki rata-rata penurunan tekanan

darah sistolik dan diastolik yang lebih besar dibandingkan

perempuan. Hal ini dimungkinkan karena sebagian besar responden

adalah perempuan dan kebanyakan adalah ibu rumah tangga.

Kehidupan modern membuat orang jadi malas bergerak, waktu

dihabiskan dengan menonton TV atau bekerja dimeja makan.

Begitu juga dengan penderita hipertensi yang ibu rumah tangga,

karena sibuk dengan pekerjaan rumah tangga membuat ibu menjadi

malas. Setelah pekerjaan selesai ibu lebih banyak berdiam dirumah

dengan menonton TV, memakan makanan (mengemil) tidak sesuai

diet, tidur siang yang terlalu lama, dan jarang melakukan olahraga

sehingga pelaksanaan diet hipertensi tidak berjalan dengan

semestinya.

Selain itu, dilihat dari usia responden perempuan dengan rata-rata

usia 51.00 tahun menunjukkan bahwa responden berada pada usia

menopause yang artinya wanita sudah tidak terlindung dari

penyakit kardiovaskuler karena hormon estrogen yang sudah

berkurang (Cortas et all, 2008). Menurut Kalavathy et al (2000),

dalam Kodim (2004), pengaruh jenis kelamin terhadap hipertensi

antara lain terjadi melalui kadar hormon estrogen yang bervariasi

menurut umur. Pada masa remaja, tekanan darah pria cenderung

lebih tinggi daripada wanita. Perbedaan ini terlihat paling jelas

pada usia dewasa muda dan usia pertengahan. Semakin tua,

perbedaan tersebut makin menyempit bahkan cenderung menjadi

terbalik.
82

Pada penelitian ini juga didapatkan bahwa ada hubungan yang

bermakna antara jenis kelamin dengan penurunan tekanan darah

diastolik pre massage 1 dan post massage ke 4 (p= 0.047). Hal ini

dikaitkan dengan usia responden perempuan yang berada pada

rentang usia 45-56 tahun dan rata-rata usia 51.00 tahun. Tekanan

darah diastolik akan megalami kecenderungan menetap atau

menurun setelah mencapai usia 50-60 tahun (Rigaud, 2001).

c. Durasi Hipertensi

Dari hasil penelitian didapatkan bahwa ada hubungan yang

bermakna antara durasi hipertensi < 5 tahun dengan penurunan

tekanan darah sistolik pre massage 1 dan post massage ke 4

(p=0.006) dan bahwa ada hubungan yang bermakna antara durasi

hipertensi > 5 tahun dengan penurunan tekanan darah sistolik pre

massage 1 dan post massage ke 4 (p=0.003). Didapatkan bahwa

tidak ada hubungan yang bermakna antara durasi hipertensi < 5

tahun dengan penurunan tekanan darah diastolik pre massage 1 dan

post massage ke 4 (p=0.486) dan bahwa ada hubungan yang

bermakna antara durasi hipertensi > 5 tahun dengan penurunan

tekanan darah diastolik pre massage 1 dan post massage ke 4

(p=0.000).

Hal ini mungkin dikarenakan responden yang telah lama menderita

hipertensi tidak menunjukkan penurunan tekanan darah sistolik dan

diastolik yang signifikan. Durasi hipertensi terkait dengan

terjadinya kekakuan pada aorta yang disebabkan oleh berkurangnya


83

elastisitas pembuluh darah. Akibat kekakuan aorta ini maka akan

meningkatkan tekanan darah (Suhardjono, 2006).

d. Pengendalian Diri Hipertensi Non Farmakologis

Dari hasil penelitian didapatkan bahwa tidak ada hubungan yang

bermakna antara pengendalian diri hipertensi non farmakologis

dengan penurunan tekanan darah sistolik pre massage 1 dan post

massage ke 4 (p=0.857) dan penurunan tekanan darah diastolik pre

massage 1 dan post massage ke 4 (p=0.0375).

Tidak adanya hubungan antara pengendalian diri hipertensi non

farmakologis dengan penurunan tekanan darah sistolik dan

diastolik ini dimungkinkan karena semua responden termasuk

dalam kategori pengendalian diri hipertensi non farmakologis yang

baik (tidak beresiko dan sangat tidak beresiko) dan tidak

menunjukkan perbedaan rata-rata penurunan tekanan darah yang

signifikan antara keduanya.

Pendapat Ridwan amiruddin ( 2007) yang menyatakan bahwa

penatalaksanaan non farmakologis dengan modifikasi gaya hidup

sangat penting dalam mencegah tekanan darah tinggi dan

merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam mengobati

tekanan darah tinggi (Ridwan amiruddin, 2007). Palmer (2007)

juga menyebutkan bahwa terdapat faktor-faktor yang dapat

menyebabkan terjadinya tekanan darah tinggi yaitu kelebihan berat

badan yang diikuti dengan kurangnya berolahraga, serta

mengonsumsi makanan yang berlemak dan berkadar garam tinggi

(Palmer, 2007). Makanan yang dimakan secara langsung atau tidak


84

langsung berpengaruh terhadap kestabilan tekanan darah.

Kandungan zat gizi seperti lemak dan sodium memiliki kaitan yang

erat dengan munculnya hipertensi. Pelaksaanaan diet yang teratur

dapat menormalkan hipertensi, yaitu dengan mengurangi makanan

dengan tinggi garam, makanan yang berlemak, mengonsumsi

makanan yang tinggi serat dan melakukan aktivitas olahraga

(Julianti, 2005).

B. Keterbatasan Penelitian

Peneliti menyadari bahwa penelitian ini masih jauh dari sempurna dan memiliki

banyak keterbatasan. Hal ini mungkin disebabkan karena:

1. Desain penelitian yang sederhana yaitu menggunakan quasi ekperiment

tanpa kontrol, dimana tidak ada kelompok kontrol yang dijadiikan

pembanding.

2. Peneliti tidak menemukan banyak literatur yang memuat secara khusus

tentang hubungan swedish massage terhadap penurunan tekanan darah

pada pasien hipertensi sehingga peneliti hanya mengkombinasikan dari

berbagai literatur yang terkait dengan penelitian ini.

3. Belum adanya instrumen penelitian yang baku untuk mengukur hubungan

swedish massage terhadap penurunan tekanan darah pada pasien

hipertensi sehingga peneliti mencoba menyusun sendiri instrumen yang

diharapkan dapat mewakili apa yang peneliti ingin dapatkan dalam

penelitian ini.

4. Waktu penelitian yang singkat dan terbatas untuk mengumpulkan data

kuisioner, pelaksanaan swedish massage dan observasi tekanan darah.


85

5. Area penelitian yang dilakukan sangat terbatas yaitu hanya di Puskesmas

Jati Ranggon sehingga belum cukup untuk menggeneralisasikan hasil

penelitian ini.

C. Implikasi Penelitian

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada pengaruh swedish massage

terhadap penurunan tekanan darah sistolik dan diastolik pada pasien hipertensi.

1. Implikasi bagi Institusi Pelayanan Keperawatan

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada pengaruh swedish massage

terhadap penurunan tekanan darah sistolik dan diastolik pada pasien

hipertensi. Puskesmas dan Rumah Sakit sebagai institusi pelayanan

kesehatan pada umumnya dan institusi pelayanan keperawatan pada

khususnya dapat mengembangkan pelayanan dengan memodifikasi terapi

non farmakologis melalui pemberian tindakan swedish massage dalam

upaya mengontrol hipertensi.

2. Implikasi bagi Institusi Pendidikan Keperawatan

Institusi pendidikan dapat memanfaatkan hasil penelitian ini sebagai

salah satu kajian yang bermanfaat bagi peserta didik serta dapat

mengembangkan asuhan keperawatan pada pasien hipertensi dengan

memperhatikan dan meningkatkan penggunaan terapi non farmakologis

melalui pemberian tindakan swedish massage dalam upaya mengontrol

hipertensi.

3. Implikasi bagi Organisasi Profesi

Hasil penelitian yang menunjukkan adanya pengaruh swedish massage

terhadap penurunan tekanan darah pada pasien hipertensi. Hal ini


86

merupakan salah satu evidence base yang secara ilmiah dapat menjadi

pertimbangan bagi organisasi profesi untuk meningkatkan pengetahuan

dan kompetensi yang harus selalu dikembangkan oleh anggota profesi

dalam memberikan asuhan keperawatan yang bermutu pada pasien

hipertensi.

4. Implikasi bagi Peneliti Lain

Penelitian ini menghasilkan sejumlah data yang dapat dijadikan rujukan

bagi peneliti lain dalam mengembangkan dan melakukan penelitian lebih

lanjut tentang hipertensi dengan desain yang berbeda baik secara

kuantitatif maupun kualitatif.


BAB VII

KESIMPULAN DAN SARAN

Pada bab ini diuraikan kesimpulan dan saran berdasarkan hasil analisis dan

pembahasan yang telah dilakukan.

A. Kesimpulan

Hasil penelitian didapatkan bahwa karakteristik responden yaitu rata-rata usia

51.88 tahun, jenis kelamin terbanyak perempuan, rata-rata durasi hipertensi

3.88 tahun, pengendalian diri hipertensi non farmakologis sama banyak antara

tidak beresiko dan sangat tidak beresiko. Terdapat perbedaan secara signifikan

tekanan darah sistolik dan diastolik sebelum dan sesudah diberikan swedish

massage I, II dan IV, dan tidak terdapat perbedaan tekanan darah diastolik pada

massage III. Terdapat hubungan antara usia dan jenis kelamin penurunan

tekanan darah sistolik pre massage 1 dan post massage ke 4.

B. Saran

1. Institusi Pelayanan Keperawatan

Puskesmas dan Rumah Sakit sebagai institusi pelayanan kesehatan pada

umumnya dan institusi pelayanan keperawatan pada khususnya dapat

mengembangkan pelayanan dengan memodifikasi terapi non

farmakologis melalui pemberian tindakan swedish massage dalam upaya

mengontrol hipertensi dengan cara memberikan pengetahuan dan

87
88

mengajarkan keterampilan Swedish massage yang telah dimodifikasi

tehnik dan langkah-langkahnya menjadi lebih sederhana untuk dilakukan.

2. Institusi Pendidikan Keperawatan

Institusi pendidikan dapat memanfaatkan hasil penelitian ini sebagai salah

satu kajian yang bermanfaat bagi peserta didik serta dapat

mengembangkan asuhan keperawatan pada pasien hipertensi dengan

memperhatikan dan meningkatkan penggunaan terapi non farmakologis

melalui pemberian tindakan swedish massage dalam upaya mengontrol

hipertensi.

3. Penelitian Lain

Penelitian ini menghasilkan sejumlah data yang dapat dijadikan rujukan

bagi peneliti lain dalam mengembangkan dan melakukan penelitian lebih

lanjut tentang hipertensi dengan desain yang berbeda baik secara

kuantitatif maupun kualitatif.


DAFTAR PUSTAKA

American College of Cardiology Foundation & American Heart Association. (2011).


Management of patient with peripheral artery disease. Elseiver. Dipetik 10 13,
2012, dari http”//www.cardiosource.org

Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. (2008). Laporan hasil riset kesehatan
dasar. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Billhult, A. (2007). The effect of massage for women with breast cancer. Thesis,
Sahlgrenska Academy at Goteborg University, Physiotherapy, Sweden.

Braun, M. B., & Simonson, S. J. (2008). Introduction to massage therapy (2nded).


Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins.

Bulecheck, G. M., Butcher, H. K., & Dochtermn, J. M. (2008). Nursing intervention


classification (NIC) (5 ed). St. Louis: Mosby Elseivier.

Cambell, N. R., Gilbert, R. E., Leiter, L., Larochelle, P., Tobe, S., Chockalingam, A., . . .
Harris, S. B. (2011). Hypertesion in people with type 2 diabetes. Canadian
Family Physician, 57, 997-1002

Cowen, V. S. (2005). A comparative studyof Thai Massage and Swedish Massage.


Arizona State University, Philosophy. Arizona: Proquest.

Dahlan,M. S. (2009). Statistikuntuk Kedokteran Kesehatan. Jakarta: Salemba Medika.

Dalimartha, S. (2008).Care yourself, hipertensi. Jakarta: Penebar Plus+.

Dharma, K. K. (2011). Metodologi penelitian keperawatan: pedoman melaksanakan dan


menerapakan hasil penelitian. Jakarta: CV. Trans Info Media.

Goats, G. C. (1994). Massage the scientific basis of an ancient art: part 2. Physiological
and therauptic affects. Br J sports Med, 28, 153-156.

Golia, T.J. (1991). The effects of back massage on blood pressure and heart rate.
proQuest Disertation & These.

Guyton, A. C., & Hall, J. E. (2006). Buku ajar fisiologi kedokteran. (L. Y. Rachman, F.
Indriyani, F. Dany, I. Nuryanto, S. S. Rianti,. . . Y. J. Suyono, Penerj.) jakarta:
RGC.

Hastono, S. P. (2007). Analisa data kesehatan. Depok: Fakutas Kesehatan Masyarakat


Universitas Indonesia.
Hymel, G. M. (2006). Research methods for massage and holistic therapies. St Louis,
Missouri, Unites States of America: Elseiver Mosby.

Junaidi, I., 2010., Hipertensi: Pengenalan, Pencegahan, dan Pengobatan, PT Bhuana


Ilmu Populer, Jakarta

Koq, H. (2010). The effects of classical massage on blood pressure, oxygen saturation,
respiratory and resting heart rates in blind men. Wordls Appied Sciences Journal,
10(7), 839-846.

Kowalsky, Robert E. (2010). TerapiHipertensi. Bandung: Qanita.

LeMone, P., & Burke, K. (2008). Medical-surgical nursing: critical thinking in client
care (4 ed.) New Jersey: Pearson Prentice Hall.

Moraska, A., Pollini, R. A., Boulanger, K., Brooks. M. Z., & Teitlebaum, L. (2010).
Physyological sdjustmens to stress measures following massage therapy: a
review of the literature eCAM, 7(4), 409-418. Doi:10.1093/ecam/nen09.

Muhammadun. A. S. (2010). HidupBersamaHipertensi. Yogyakarta: iN-Books

Murti, B. (2011). Validitas dan reliabilitas pengukur. Surakarta, Jawa Tengah,


indonesia. Dipetik desember 2012, dari fk.uns.ac.id

Nedley, N. (2009). Riset menakjubkan: bukti nyata dalam memerangi penyakit dan
kesehatan optimal melalui makanan dan pola hidup. (H. Sinaga, penerj.)
Bandung: Indonesia publishing House

Noto, Y., Kitajima, M., Kudo, M., Okudera, K., &hirota, K. (2010). Leg Massage
therapy proomotes psychological relaxation and reinforces the first-line host
defense in cancer patients. J Anesth, 24, 827-831. Doi:10.1007/s00540-010-
1028-9

Nursalam. 2002. Manajemen Keperawatan, Aplikasi Dalam Praktik Keperawtan


Profesional. Jakarta: Salemba Medika

________., 2008, Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan,


Salemba medika, Jakarta

Notoatmojo, S. (2002). Metodologi penelitian kesehatan. Jakarta: PT RINEKACIPTA.

Olney, C. M. (2007). Back Massage: long term effects and dosage determination for
persons with pre hypertension and hypertension. University of South Florida,
Philosophy. Florida: Universtity of South Florida.
Palmer, A & Williams, B. Simple Guide., 2007, Tekanan Darah Tinggi. (Yasmine,
Penerjemah), Erlangga: Jakarta

Pradono, J. (2010). Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya hipertensi di daerah


perkotaan (analisis data riskesdas 2007). Gizi Indon, 33(1), 59-66.

Rigaud, F.B. 2001. Hypertension in Older Adults. J Gerontol 2001; 56A:M217-5.

Robertson, A., Watt, J. M., & Galloway, S.d. (2004). Effects of leg massage on recovery
from hight intensity cycling exercise. Br. J Sports Med, 173-176.
Doi:10.1136/bjsm.2002.00386

Ruffin, P. T. (2011). Massage in nursing: from routine care to complimentary therapy


1873-2011. University of Virginia. Charlottesville: ProQuest Disertation &
Theses.

Selton, J. M., Yarar, C., Pasco, D. D., & Berry, J. W. (2010). Theraupetic massage of the
neck and shoulders produces changes in peripheral blood flow when assessed
with dynamic infrared thermography. The Journal of Alternative and
Complementary Medicine, 16(7), 723-732. Doi:10.1089/acm.2009.0441

Sherwood, L. (2011). Fisiologi manusia dari sel ke sistem. (N. Yesdelita, Penyunt., & B.
U. Pendit, Penerj.) Jakarta: EGC

Sheps, S. G. (2005). Mayo clinic Hipertensi; MengatasiTekananDarahTinggi. Jakarta:


IntisariMediatama
Smeltzer, S. C., Bare B. G., Hinkle, J.L., & Cheever, K. H. (2010). Brunner &
suddarth’s textbook of medical-surgical nursing (12 ed., Vol. 2). Philadelphia:
Lippincott Williams & Wilkins.

Sugiharto, A, dkk., 2003, Faktor-Faktor Resiko Hipertensi Grade II Pada Masyarakat


(Studi Kasus di Kabupaten Karang Anyar). Diakses Pada Juni 2011, dari
http/www.eprints.undip.ac.id

Suhardjono. Hipertensi pada usia lanjut. Dalam: Aru W. Sudoyo,dkk, editor.


Buku ajar ilmu penyakit dalam. Ed4. Jakarta: Balai Penerbit FK UI; 2006.
p.1461.

Tappan, F. M., & benjamin, P. J. (1998). Tappan’s handbook healing massage


techniques : classic, holostic and emerging methold (3rd ed). Stamford:
Appleton & Lange.

Weerapong, P., hume, p. A., & kolt, G. S. (2005). The mechanisms of massage and
effects on performance, muscle recovery and injury prevention. Sports Med,
36(3), 235-236
Willison, K. D. (2006). Integrating swedish massage therapy with primary health care
initiatives as part of a holostic nursing approch. Complemetary Therapies in
Medicine, 14, 254-260. Doi:10.1016/j.ctim.2005.11.001

Yaslilarda, H. Y., Bulguvar ve, S. Y., & Etkisi, A. D. (2009). The effects of back
massage on the vital signs and anixiety level of elderly staying in a rest home.
Saglik Bilimleri Fakutesi Hemselerik Dergisi, 14-21.
INFORMED CONSENT / PENJELASAN PENELITIAN

Pengaruh pijat terhadap penurunan tekanan darah pada Pasien Hipertensi

di Puskesmas Jati Ranggon Wilayah Kerja Pondokgede

Saya diminta untuk berpartisipasi dalam penelitian.Penelitian ini bertujuan untuk

mengetahui pengaruh pijat terhadap penurunan tekanan darah pada Pasien Hipertensi

di Puskesmas Jati Ranggon Wilayah Kerja Pondokgede.Peneliti memberikan lembar

persetujuan ini dan menjelaskan bahwa keterlibatan saya dalam penelitian ini atas

dasar sukarela.

Nama peneliti adalah Ratumas Ratih Puspita.Peneliti adalah pengajar di Akademi

Keperawatan Antariksa Jakarta, dan sekarang sedang melanjutkan studi S2 di

Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Muhamadiyah Jakarta,yang beralamat di

Universitas Muhamadiyah Jakarta jalan cempaka putih tengah I E, Jakarta Pusat.

Penelitian ini merupakan bagian dari persyaratan untuk Program Pendidikan

Magister peneliti di Universitas Muhamadiyah Jakarta.Pembimbing peneliti adalah

Yani Sofiani,S.Kp.,M.Kep dan DR. Rohadi Haryanto, Msc dari Fakultas Ilmu

Keperawatan Universitas Muhamadiyah Jakarta.

Penelitian ini melibatkan pasien hipertensi tanpa obat antihipertensi, luka atau trauma

pada kaki dan punggung. Dan apabila saya memutuskan berpartisipasi, saya bebas

untuk mengundurkan diri dari penelitian sewaktu-waktu tanpa sanksi apapun.

Sekitar pasien hipertensi tanpa menggnakan obat antihipertensi akan terlibat dalam

penelitian ini dari Puskesmas Jati Ranggon.


Peneliti akan memberikan kuesioner singkat yang harus diisi meliputi umur, jenis

kelamin, lamanya menyandang hipertensi,riwayat hipertensi, mengindari stress, tidak

mengkonsumsi garam, alcohol, kafein, melakukan olahraga. Peneliti akan melakukan

pengukuran tekanan darah sebelum dan sesudah tindakan pada pertama dan tindakan

terakhir. Selama penelitian ini, peneliti tidak melakukan pijat. Namun setelah

penelitian ini selesai dan diketahui hasilnya maka peneliti akan melakukan pijat

sesuai prosedur selama 30 menit, peneliti juga akan mengajarkan kepada salah satu

anggota keluarga saya dan peneliti juga akan memberikan leaflet tentang hasil

penelitian dan langkah prosedur pijat.

Peneliti akan menjaga kerahasian saya dan keterlibatan saya dalam penelitian

ini.Nama saya hanya akan diketahui oleh peneliti.Kuesioner hanya akan diberikan

inisial dan nomor kode yang tidak bisa digunakan untuk mengidentifikasi identitas

saya. Apabila hasil penelitian ini dipublikasikan,tidak ada satu identifikasi yang

berkaitan dengan saya akan ditampilkan dalam publikasi tersebut. Siapapun yang

bertanya tentang keterlibatan saya dan apa yang saya jawab dipenelitian ini, saya

berhak untuk tidak menjawabnya.namun, jika diperlukan catatan penelitian ini dapat

dijadikan barang bukti apabila pengadilan memintanya.keterlibatan saya dalam

penelitian ini, sejauh yang peneliti ketahui tidak menyebabkan resiko apapun yang

lebih besar dari resiko yang biasa saya hadapai sehari-hari.

Hasil penelitian ini dapat bermanfaat untuk mengetahui pengaruh pijat terhadap

penurunan tekanan darah pada pasien hipertensi. Setelah penelitian ini selesai,saya

akan diberikan hasil penelitian dalam bentuk leaflet dan saya akan mendapatkan pijat

selama 30 menit di area pungung dan kaki dan akan diajarkan pada salah satu

keluarga saya.
Apabila setelah terlibat penelitian ini saya masih memiliki pertanyaan, saya dapat

menghubungi peneliti di nomor telepon 085888120619.

Setelah membaca informasi diatas dan memahami tentang tujuan penelitian dan

peran yang diharapkan dari saya didalam penelitian ini, saya setuju untuk

berpartisipasi dalam penelitian ini.

Jakarta………………,………………2013

Responden

(……………………………….)