Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN

PRAKTEK LAPANGAN KELUARGA SEHAT

PUSKESMAS MALANU : PUSKESMAS DARATAN ISIM :


Esterlina M.Pasaribu Dr. Frank Runtuboi
Dr. Nurliah Stomi Sasoloa
Ernawati,Amd.Keb La Ode A.Maulana
Makdalena D. Saribu,Amd.Keb Yenni Pasatti
Grace V. Asmuruf,SE Suriany R.Tondok

Di -

DESA/ KELURAHAN : SANGGENG

KECAMATAN : MANOKWARI BARAT

KABUPATEN : MANOKWARI
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Untuk mensukseskan program indonesia sehat melalui pendekatan
keluarga, Puskesmas melakukan pendekatan keluarga diwilayah kerjanya
melalui kunjungan rumah sehingga setiap anggota rumah tanga dapat terpantau
kondisi kesehatannya. Pendekatan keluarga merupakan strategi pendekatan
pelayana terintegrasu antara upaya kesehatan perorangan dan upaya kesehtan
masyarakat yang didasari oleh data dan informasi profil kesehatan keluarga.
Pendekatan keluarga sehat melalui kunjungan rumah oleh petugas
kesehatan, tidak hanya sekedar mengumpulkan data kesehtan keluarga, tetapi
juga diharapkan agar keluarga mampu mengenali masalah kesehatannya, upaya
mengatasinya serta memotivasi agar keluarga diwilayah kerja Puskesmas
tersebut mampu melakukan upaya pencegahan serta peningkatan status
kesehtan keluarganya dengan mengoptimalkan potensi dan kemampuannya.
Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat, masalah
kesehatan yang dialami oleh keluarga-keluarga disatu wilayah administrasi, akan
menjadi masalah kesehatan masyarakat. Hal ini harus dipahami oleh kepala
Puskesmas dan jajarannya tentang pentingnya upaya memberdayakan keluarga
untuk hidup sehat, melalui pendataan keluarga sehat. Mengingat penting dan
strategisnya program keluarga sehat tersebut, maka diperlukan penguatan
kompetensi tenaga kesehatan melalui pelatihan.
Salah satu rangkaian dalam proses pembelajaran pelatihan
keluarga sehat adalah praktik lapangan (PL), dimana kegiatan PL ini adalah
sebagai bentuk penerapan materi pembelajaran peserta yang diperoleh didalam
kelas, terutama untuk materi komunikasi dan materi manajemen pendekatan
keluarga.

B. Tujuan
Pelaksanaan praktik lapangan (PL) pada pelatihan ini tidak semata untu
pengumpulan data dalam rangka mempraktikkan cara pengumpulan data untuk
pengisian Prokesga. Data yang dikumpulkan saat pelaksanaan praktik dapat
dimanfaatkan Puskesmas sebagai data dasar (baseline data) untuk mendapat
informasi indeks keluarga sehat diwilayah yang digunakan sebagai fokul praktek
lapangan (PL)
1. Tujuan khusus
Setelah selesai melakukan praktik lapangan (PL) peserta mampu melakukan
manajemen pendekatan keluarga dengan kunjungan rumah.
2. Tujuan umum
Setelah selesai praktik lapangan, peserta dapat :
a. Melakukan komunikasi efektif pada saat melakukan pendataan keluarga
b. Melakukan manajemen pendekatan keluarga dengan :
1. Pendataan keluarga dengan menggunakan instrumen keluarga sehat
manual.
2. Intervensi : penyampaian pesan kepada individu dan keluarga yang
dikunjungi
3. Pengecekan hasil pengumpulan data (cleaning data)
4. Pengentrian data hasil pendataan keluarga dengan bantuan aplikasi
keluarga sehat
5. Analisis perhitungan indeks keluarga sehat (IKS) untuk mengidentifikasi
masalah
6. Membuat laporan dan mempresentasikan hasil PL.
C. Sasaran
Sasaran praktek lapangan adalah 10 keluarga di Desa Sanggeng, Kecamatan
Manokwari Barat, Kabupaten Manokwari.
D. Waktu dan tempat
Praktek lapagan dilakukan pada tanggal 2 Agustus 2018 di Desa Sanggeng,
Kecamatan Manokwari Barat, Kabupaten Manokwari.
BAB II
PROSES KEGIATAN PRAKTEK LAPANGAN

1. PERSIAPAN
Dilakukan dengan membekali peserta/Pembina Keluarga Sehat dengan
substansi materi terkait Keluarga Sehat yaitu :
a. Materi Dasar :
 Kebijakan program Indonesia Sehat dengan pendekatan keluarga
b. Materi Inti :
 Pelayanan gizi keluarga
 Pelayanan KIA dikeluarga
 Pelayanan penyakit menular di keluarga
 Pelayanan PTM dikeluarga
 Sanitasi Lingkungan dikeluarga
 Komunikasi Efektif
 Manajemen Pendekatan keluarga
c. Materi Penunjang

2. PELAKSANAAN KEGIATAN
 Peserta terdiri dari 1 kelompok beranggotakan 10 orang.
 Setiap orang berkewajiban melakukan kunjungan pada 1 keluarga.
 Saat kunjungan dilakukan peserta dilengkapi dengan kuesioner yang
berisikan panduan pertanyaan dan hal-hal yang harus dilakukan di
setiap keluarga.
 Peserta harus mengisi lengkap pertanyaan yang ada di kuesioner
 Memanfaatkan PIN KESGA sebagai media penyuluhan dan motivasi
bagi keluarga disaat ditemukan masalah kesehatan terkait 12
indikator keluarga sehat

3. PENYUSUNAN HASIL PKL


 Hasil PKL disusun secara bertahap dan didiskusikan oleh kelompok,
yang kemudian dibuat laporan hasilnya.
4. PRESENTASI HASIL
 Hasil kegiatan lapangan di presentasikan oleh setiap kelompok dan
kemudian ditanggapi oleh seluruh fasilitator/pendamping kelompok.
BAB III

HASIL KEGITAN PRAKTEK LAPANGAN

A. Melakukan komunikasi efektif


Materi komunikasi efektif yang didapatkan dikelas telah berusaha
dimanfaatkan semaksimal mungkin saat pengambilan data dilapangan
melalui wawancara dengan responden. Yaitu metoda SAJI yaitu : Sapa, Ajak
bicara, Jelaskan dan Ingatkan

B. Manajemen pendekatan keluarga


Pada manajemen pendekatan keluarga hal-hal yang dilakukan adalah :
1. Pendataan/pengisian kuesioner
2. Memasukkan hasil pendataan ke dalam aplikasi yang tersedia
Dari 10 kepala keluarga yang dientri didapatkan 8 kepala keluarga yang
IKSnya keluar dan 2 keluarga yang tidak keluar IKSnya karena pendataan
yang dilakukan belum selesai.
3. Melakukan analisa
Setelah dilakukan pendataan dilanjutkan dengan celaning dan dilakukan
entry kedalam aplikasi keluarga sehat, sejumlah 58 KK. Analisa memang
belum dapat dilakukan karena kuesioner belum terisi dengan lengkap.
Adapun hasil akhir yang seharusnya didapat
CAKUPAN INDIKATOR KELUARGA SEHAT

ANALISIS IKS DI RW 004 :


a. Nilai IKS => 0,80 (kategori sehat) sebanyak 0 KK
b. Nilai IKS = 0,50 – 0,80 (kategori Pra sehat) sebanyak 6 KK
c. Nilai IKS =< 0,50 (kategori tidak sehat) sebanyak 4 KK

4. Selanjutnya melakukan rencana intervensi, namun rencana intervensi


belum bisa dilakukan karena data yang tersedia belum lengkap
disebabkan oleh saat kunjungan dilakukan anggota keluarga yang ada di
rumah tidak lengkap/sedang keluar rumah.
 Masalah/Indikator yang paling tertinggal, yaitu: ?????
– TB (0%)  masih ada sekitar 100% Penderita TB paru yang belum
berobat sesuai standar
– Hipertensi (0%)  masih ada sekitas 100% Penderita hipertensi yang
belum berobat teratur
– Jamban (40%)  masih ada sekitar 60 % Keluarga Belum
menggunakan jamban keluarga
 7 indikator kesga lainnya harus tetap diintervensi di lingkungan desa
Sanggeng.
BAB IV

PEMBAHASAN

A. Hal – hal yang positif


1. Keluarga di kelurahan Sanggeng menyambut petugas PIS_PK dengan ramah
dan senang.
2. Komunikasi saat PKL berjalan dengan lancar karena hampir keseluruhan
anggota keluarga menggunakan bahasa yang dapat dimengerti dan
dipahami oleh petugas.

B. Hambatan/permasalahan serta upaya mengatasinya


1. Anggota keluarga yang berada di rumah saat kunjungan dilakukan tidak
lengkap, sehingga kuesioner tidak dapat diisi dengan lengkap yang
mengakibatkan analisa tidak dapat dilakukan dengan sempurna untuk hasii
IKS yang dapat digunakan untuk intervensi
Upaya mengatasi : dilakukan kunjungan ulang yang tentunya akan
dilanjutkan oleh teman-teman Puskesmas
BAB V
SIMPULAN DAN REKOMENDASI
A. Simpulan :
1. Komunikasi Efektif terlaksana dengan baik
2. Manajemen pendekatan keluarga yang dilakukan meliputi
pendataan/pengisian kuesioner untuk 10 keluarga telah dapat dilakukan
dengan baik.
3. Masalah kesehatan yang ditemui adalah sebagai berikut :
a. TB (0%)  masih ada sekitar 100% Penderita TB paru yang belum
berobat sesuai standar
b. Hipertensi (0%)  masih ada sekitas 100% Penderita hipertensi yang
belum berobat teratur
c. Jamban (40%)  masih ada sekitar 60 % Keluarga Belum
menggunakan jamban keluarga

B. Rekomendasi
1. Petugas puskesmas Sanggeng sebaiknya melanjutkan kunjungan pada 10
keluarga untuk:
a. Melanjutkan wawancara pada anggota keluarga yang belum sempat
diwawancara karena tidak berada di rumah saat kunjungan pertama
dilakukan.
b. Kemudian melakukan analisa dan dilanjutkan dengan membuat
perencanaan intervensi sesuai masalah yang ditemukan
c. Melaksanaan intervensi dan keberlanjutan kegiatan