Anda di halaman 1dari 3

Nama Yunita.

S
NIM 10011181621007
Mata Kuliah Manajemen Kebakaran dan Ledakan (Pilihan)

Review Film Deepwater Horizon


Merupakan kisah pengeboran minyak di lepas pantai Lousiana pada tahun 2010 lalu.
Akibatnya membuat tumpahan minyak di laut lepas Teluk Meksiko. Ini adalah tumpahan
minyak terparah dalam sejarah Amerika dan Dunia. Pada April 2010, Deepwater Horizon
yang mencari lokasi tepat dalam mengebor minyak sudah melewati waktu 40 hari dari
tenggat waktu yang ditentukan. Dimana kebocoran pipa tambang menyebabkan kebakaran
yang berlangsung selama 87 hari dan menelan korban setidaknya 11 orang. Konflik bermula
ketika kapal kilang di Deepwater Horizon dijadwalkan untuk memulai penambangan minyak
di laut perbatasaan US dan Mexico. Kapal kilang ini sebenarnya telah telat 43 hari dari
jadwal yang penambangan yang ditentukan. Namun sayangnya dengan keterlambatan
tersebut masih ada proses yang belum diselesaikan. Yaitu pengecekan bantalan semen pada
pipa tambangan.

Pihak pengelola kapal tambang dengan kliennya, BP pun berselisih , dimana pihak
pengelola kapal memaksa untuk melakukan uji bantalan semen, sedangkan pihak BP
memaksa untuk mulai melakukan penambangan, dikarenakan sudah lewat dari jadwal yang
ditentukan. Setelah melakukan beberapa pengujian, akhirnya penambangan mulai dilakukan.
Tapi sayangnya hal yang ditakutkan oleh pengelola kapal pun akhirnya benar-benar terjadi.

Terjebak di reruntuhan, dengan ledakan gas yang terus berlanjut membuat suasana menjadi
sangat mencekam. Kekacauan yang terjadi membuat para kru kapal tambang menjadi panik
dan saling berebut untuk naik ke atas skoci untuk menyelamatkan diri.

Secara tidak langsung, film ini juga memberikan edukasi tentang pentingnya kontrol
kerja terutama di area pertambangan yang mempunyai resiko sangat tinggi dalam setiap
pengambilan keputusan. Hanya karena satu hal yang dianggap spele, tiba-tiba bisa menjadi
bencana yang sangat mengerikan. Meskipun ini merupakan bencana besar, namun berkat
kerjasama tim saat evakuasi berlangsung, sehingga korban jiwa dapat diminimalisir.
Tragedi Piper Alpha
Piper Alpha merupakan ‘huge’ offshore platform dengan berat 20000 metrik tons di
Laut Utara yang memproduksi natural gas, crude oil, dan liquefied petroleum gas yang
meledak pada tanggal 6 Juli 1988. Kejadian itu menewaskan 167 dari total 225 pekerja dan
tercatat sebagai kecelakaan terburuk sepanjang sejarah pekerjaan offshore. Selain menelan
korban jiwa, kerugian materiil diperkirakan mencapai US$ 3,4 miliar. Hanya dalam tempo
kurang lebih 3 jam, platform yang terletak di Laut Utara, Eropa, dan dioperasikan oleh
Occidental Petroleum (Caledinoa) Ltd. ini terkubur di lautan.
Sebelum kejadian, dilakukan re-sertifikasi PSV pada discharge line dari pompa
transfer kondensat A. Sepengetahuan maintenance, operator menjalankan pompa A. Baik
operator maupun maintenance tidak tahu bahwa tidak ada PSV di keluaran pompa A, dan
hanya berupa slip blind. Setelah pompa A dijalankan, keluarlah kondensat dari slip blind
yang ternyata tidak kuat pemasangan bautnya sehingga meledaklah modul C. Keadaan
diperparah ketika komunikasi terputus, sehingga platform satelit di sekitar lokasi tetap
memompakan minyak/kondensat ke Piper Alpha. Kobaran api pun tak terelakan. Offshore
Installation Manager (OIM) yang memegang komando darurat tidak mampu mengatasi
keadaan. Galley, tempat berkumpul para pekerja, dipenuhi asap. Beberapa orang yang
mengambil inisiatif meninggalakan galley bisa selamat. Pukul 23.20 gas riser meledak
menimbulkan bola api. Pukul 00.45 platform mulai runtuh.
Tim investigasi menemukan defesiensi pada operasi Piper Alpha di antaranya tag atau
lock out procedure tidak diikuti dengan baik, operator tidak mendiskusikan secara aktif
permit yang di-suspend ketika ganti shift, suspended permit tidak diletakkan di ruang control
untuk kemudahan akses, tapi diletakkan di ruang safety officer, surat izin kerja tidak
mengecek adanya cross-reference antar-pekerjaan. Lalu minimnya pelatihan untuk kondisi
darurat juga disebut-sebut menambah jumlah korban jiwa. Menurut cerita saksi mata yang
masih hidup banyak dari mereka, terutama kontraktor yang bekerja di platform, tidak familiar
dengan rute evakuasi, lokasi lifeboat, atau cara mengoperasikan life raft. Occidental
Petroleum menggunakan banyak tenaga kontraktor, sehingga frekuensi kedatangan dan
kepulangan para kontraktor menjadi sering. Menurut tim investigasi, hal itu seharusnya
diikuti oleh safety induction yang ketat dan terarah.
Perbandingan :
Dari film Deepwater Horizon dapat diambil kesimpulan bahwa SOP confined space
tidak berjalan sesuai dengan aturan yang ada, terbukti dari para pemilik modal enggan
menanggapi laporan kepala dan tetap bersikeras untuk melakukan pengeboran. Padahal
kegiatan pengeboran itu mempunyai tahapan dan persyaratan untuk melakukan pengeboran.
Setelah dapat izin, ternyata mereka tidak bisa melakukan pengeboran disana karena tidak
memenuhi syarat, akan tetapi mereka tetap melakukannya, dari peristiwa ini memberikan
edukasi tentang pentingnya kontrol kerja terutama di area pertambangan yang mempunyai
resiko sangat tinggi dalam setiap pengambilan keputusan.
Sedangkan tragedi piper alpha dapat diambil kesimpulan defesiensi pada operasi
Piper Alpha di antaranya tag atau lock out procedure tidak diikuti dengan baik, operator tidak
mendiskusikan secara aktif permit yang di-suspend ketika ganti shift, suspended permit tidak
diletakkan di ruang control untuk kemudahan akses, tapi diletakkan di ruang safety officer,
surat izin kerja tidak mengecek adanya cross-reference antar-pekerjaan. Lalu sebagian besar
pekerja tidak mengerti dan memahami rute evakuasi, lokasi lifeboat, atau pengoperasian life
raft dikarenakan pekerja tidak mengikuti safety induction sebelum memasuki area tempat
kerja sehingga pada saat kejadian banyak menelan korban jiwa.