Anda di halaman 1dari 86

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Prevalensi gangguan kesehatan jiwa di Indonesia adalah 18,5 % ,yang
berarti dari 1000 penduduk terdapat 185 penduduk dengan gangguan
kesehatan jiwa. Jika hasil studi ini dijadikan dasar, maka tidak dapat
dipungkiri bahwa telah terjadi peningkatan angka gangguan kesehatan jiwa
atau gangguan emosional yang semula berkisar antara 20-60 per 1000
penduduk seperti yang tercantum pada sistem kesehatan nasional.
Khusus untuk anak dan remaja, masalah kesehatan jiwa perlu menjadi
fokus utama tiap upaya peningkatan sumber daya manusia, mengingat anak
dan remaja merupakan generasi yang perlu disiapkan sebagai kekuatan
bangsa Indonesia. jika ditinjau dari proporsi, 40% dari total
populasi penduduk Indonesia yang terdiri dari anak dan remaja berusia 0-16
tahun, ternyata 7-14% dari jumlah tersebut mengalami gangguan kesehatan
jiwa, termasuk antara lain anak dengan tuna grahita, gangguan perilaku,
kesulitan belajar, dan hiperaktif.
Masa remaja merupakan suatu fase perkembangan antara masa kanak dan
masa dewasa, berlangsung antara usia 10 sampai 19 tahun. Masa remaja
terdiri dari masa remaja awal ( 10-14 tahun ), masa remaja penengahan ( 14-
17 tahun ) dan masa remaja akhir ( 17-19 tahun ).
Pada masa remaja, banyak terjadi perubahan baik biologis, psikologis
maupun social. Tetapi umumnya proses pematangan fisik terjadi lebih cepat
dari proses pematangan kejiwaan (psikolososial). Seorang remaja tidak lagi
dapat disebut sebagai anak kecil, tetapi belum juga dianggap sebagai orang
dewasa, di satu sisi ia ingin bebas dan mandiri, lepas dari pengaruh orang tua,
di sisi lain pada dasarnya ia tetap membutuhkan bantuan dukungan orang
tuanya. Orang tua tidak mengetahui atau memahami perubahan yang terjadi
sehingga tidak menyadari bahwa anak mereka telah tumbuh menjadi seorang
remaja.Orang tua menjadi bingung menghadapi labilitas emosi dan perilaku
remaja, sehingga tidak jarang terjadi konflik diantara keduanya.

1
Gangguan kesehatan jiwa anak dan remaja akan cenderung meningkat
sejalan dengan permasalahan kehidupan dan kemasyarakatan yang semakin
kompleks. Oleh karena itu memerlukan pelayanan kesehatan jiwa yang
memadai sehingga memungkinkan anak dan remaja untuk medapatkan
kesempatan tumbuh kembang semaksimal mungkin.
Keperawatan termasuk bagian integral dari sistem kesehatan Indonesia
turut menentukan penanggulangan masalah kesehatan anak dan
remaja. Perawat merupakan kelompok mayoritas tenaga kesehatan dan
mempunyai kesempatan 24 jam untuk menjaga dan melayani pasien atau
kliennya.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud dengan gangguan jiwa pada anak-anak dan remaja?
2. Bagaimana permasalahan kesehatan jiwa anak dan remaja di Indonesia ?
3. Apa saja jenis gangguan jiwa pada anak-anak dan remaja?
4. Apa saja etiologi gangguan jiwa pada anak-anak dan remaja?
5. Bagaimana penatalaksanaan gangguan jiwa pada anak-anak dan remaja?
6. Bagaimana Asuhan keperawatan pada gangguan jiwa pada anak-anak
dan remaja?

1.3 Tujuan
1) Tujuan umum : Meningkatkan pengetahuan mahasiswa tentang kesehatan
jiwa remaja sehingga dapat menciptakan lingkuangan yang kondusif
untuk perkembangan anak.
2) Tujuan khusus :
a. Memberikan pembekalan kepada tenaga kesehatan untuk dapat
menyampaikan informasi kepada masyarakat mengenai kesehatan
jiwa remaja.
b. Meningkatkan peran serta mahasiswa dalam menangani remaja
bermasalah dan upaya pencegahannya.
c. Meningkatkan pelayanan kesehatan jiwa remaja.

2
1.4 Manfaat
1. Bagi Pembaca
Memberikan gambaran umum kepada mahasiswa keperawatan mengenai
konsep asuhan keperawatan jiwa pada anak dan remaja.
2. Bagi Penulis
Dapat melatih kemampuan diri dalam bidang menulis secara sistematis.
3. Bagi Pengajar
Sebagai referensi dan wujud nyata dari evaluasi atau materi yang
diberikan.

3
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi
Gangguan jiwa pada anak-anak merupakan hal yang banyak terjadi, yang
umumnya tidak terdiagnosis dan pengobatannya kurang adekuat. Masalah
kesehatn jiwa terjadi pada 15-22% anak –anak dan remaja, namun yang
mendapatkan pengobatan jumlahnya kurang dari 20% (Keys, 1998)
Diagnosis gangguan jiwa pada anak-anak dan remaja adalah perilaku yang
tidak sesuai dengan dengan tinglay usianya, menyimpang bila dibandingkan
dengan norma budaya, yang mengakibatkab kurangnya atau terganggunya
fungsi adaptasi (Towsend, 1999). Dasar untuk memahami gangguan yang
terjadi pada bayi, anak-anak, dan remaja adalah dengan menggunakan teori
perkembangan.Penyimpangan dari norma-norma perkembangan merupakan
tanda adanya suatu masalah.

2.2 Sudut Pandang Gangguan Jiwa Pada Anak Dan Remaja


Berdasarkan pertumbuhan dan perkembangan, remaja adalah usia yang
rentan, konsep dirinya belum matang, masih terlalu mudah meniru perilaku
dari idolanya, kemampuan analisisnya masih rendah dan kemampuan
kontrol emosi juga masih rendah.Berikut ini sifat umum dari anak dan
remaja, di antaranya :
A. Spontanitas
Mereka secara spontan melakukan suatu kegiatan tanpa
pertimbangan rasional dan analisa berpikir.Ketika salah seorang teman
mereka merokok dan terlihat "Gentleman" di mata mereka maka secara
mencuri - curi mereka akhirnya merokok.
Petualang, mereka senang sekali bereksplorasi dengan berbagai
situasi dan keadaan, Ketika sedang hangat-hangatnya jejaring social
‘facebook’ mereka mulai menggunakan ‘facebook.Kini ketika
demam ‘twitter’melanda, makamereka berganti membuat
account ‘twitter’.

4
B. Kebebasan
Mereka menuntut kebebasan dari orangtuanya untuk melakukan
apa yang ingin mereka lakukan, jika kebebasan ini terfasilitasi maka
mereka akan menjadi generasi kreatif yang mampu mengharumkan
nama bangsa.
Tetapi tentu saja mereka memiliki beberapa kelemahan :
a. Tawuran.
Ketika melihat film–film berbau kekerasanmaka mereka
berkeinginan menjadi jagoan, kemudian mereka
mengumpulkan teman-teman mereka dan akhirnya menyerang
kelompok remaja lain untuk menunjukkan eksistensinya.
b. Sex bebas.
Kurangnya kontrol orang tua dan terlalu mudahnya akses
ke situs – situs porno membuat mereka memiliki keinginan
untuk mencoba, percobaan pertama menjadi pengalaman
menyenangkan dan akhirnya kecanduan menjadi sebuah
pengalaman yang berulang.
c. Penyalahgunaan obat.
Masa remaja adalah masa transisi, mereka membutuhkan
sebuah pembentukan identitas sehingga ketika ada masalah
yang menekan psikologis mereka, kemudian mereka tidak
menemukan seseorang yang mau membantu mereduksi tekanan
psikologis mereka akhirnya mereka melarikan diri ke obat -
obatan terlarang, minuman keras bahkan narkotika.
d. Terlibat kegiatan kriminal ringan.
Karena mereka masih labil dan masih mudah dibujuk, maka
bujukan untuk melakukan sebuah perbuatan kriminal bisa
menjadi ajang pembuktian siapa mereka, akibatnya mereka
harus berurusan dengan aparat akibat kesalahan mereka
tersebut.

5
2.3 Jenis Gangguan Jiwa Anak-anak dan Remaja
1. Gangguan perkembangan pervasif.
Ditandai dengan masalah awal pada tiga area perkembangan utama,
perilaku, interaksi sosial, dan komunikasi:
a. Retardasi mental
1. Definisi
Anak retardasi mental memiliki fungsi intelektual
dibawah rata-rata yang disertai dengan gangguan adaptasi
yang muncul sebelum usia 18 tahun (Muhith, 2015).
Ketergantungan anak retardasi mental akan menjadi stressor
bagi keluarga yang dapat mempengaruhi kemampuan
keluarga dalam memberikan perawatan, sehingga diperlukan
pengetahuan yang baik dalam keluarga
Muncul sebelum usia 18 tahun dan dicirikan dengan
keterbatasan substandar dalam berfungsi, yang
dimanifestasikan dengan fungsi intelektual secara signifikan
berada dibawah rata-rata (mis. IQ di bawah 70) dan
keterbatasan terkait dalam dua bidang ketrampilan adaptasi
atau lebih (mis. komunikasi, perawatan diri, aktivitas hidup
sehari-hari, ketrampilan sosial, fungsi dalam masyarakat,
pengarahan diri, kesehatan dan keselamatan, fungsi
akademis, dan bekerja.
Ada 3 hal penting yang merupakan kata kunci dalam
definisi ini yaitupenurunan fungsi intelektual, adaptasi sosial,
dan masaperkembangan. Penurunan fungsi intelektual
secaraumum menurut definisi Rick Heber diukur
berdasarkantes intelegensia standar paling sedikit satudeviasi
standar (1 SD) di bawah rata-rata. Periodeperkembangan
mental menurut definisi ini adalahmulai dari lahir sampai
umur 16 tahun. Gangguanadaptasi sosial dalam definisi ini
dihubungkan denganadanya penurunan fungsi intelektual.
Menurut definisiini tidak ada kriteria bahwa retardasi mental

6
tidak dapatdiperbaiki seperti definisi retardasi mental
sebelumnya.

Menurut definisi ini penurunanfungsi intelektual yang bermakna


berartipada pengukuran uji intelegensia berada pada duadeviasi standar di
bawah rata-rata. Berdasarkankriteria ini ternyata kurang dari 3% populasi
yangdapat digolongkan sebagai retardasi mental. Periodeperkembangan
menurut definisi ini adalah mulaidari lahir sampai umur 18 tahun.
Gangguan adaptasisosial menurut definisi ini secara langsung
disebabkanoleh penurunan fungsi intelektual.Grossman merevisi definisi
Heber tersebut. Menurut Grossman retardasi mental adalahpenurunan
fungs intelektual yang menyeluruhsecara bermakna dan secara langsung
menyebabkan gangguan adaptasi sosial, dan bermanifestasi selama masa
perkembangan. Menurut definisi ini penurunan fungsi intelektual yang
bermakna berarti pada pengukuran uji intelegensia berada pada dua deviasi
standar di bawah rata-rata. Berdasarkan kriteria ini ternyata kurang dari
3% populasi yang dapat digolongkan sebagai retardasi mental. Periode
perkembangan menurut definisi ini adalah mulai dari lahir sampai umur 18
tahun. Gangguan adaptasi sosial menurut definisi ini secara langsung
disebabkan oleh penurunan fungsi intelektual

2. Etiologi
Terjadinya retardasi mental tidak dapat dipisahkan dari tumbuh
kembang seorang anak. Seperti diketahui faktor penentu tumbuh kembang
seorang anak pada garis besarnya adalah3,4,5 faktor
genetik/heredokonstitusional yang menentukan sifat bawaan anak tersebut
dan faktor lingkungan. Dalam hal ini lingkungan berfungsi sebagai
penyedia kebutuhan dasar anak untuk tumbuh kembang. Kebutuhan dasar
anak untuk tumbuh kembang ini secara garis besar dapat digolongkan
menjadi 3 golongan, yaitu:

7
a. Kebutuhan fisis-biomedis (asuh)
1) Pangan (gizi, merupakan kebutuhan paling penting)
2) Perawatan kesehatan dasar (Imunisasi, ASI, penimbangan bayi
secara teratur, pengobatan sederhana, dan lain lain)
3) Papan (pemukiman yang layak)
4) Higiene, sanitasi
5) Sandang
6) Kesegaran jasmani, rekreasi
b. Kebutuhan emosi/kasih sayang (asih). Pada tahuntahunpertama
kehidupan hubungan yang erat,mesra dan selaras antara ibu dan anak
merupakansyarat mutlak untuk menjamin suatu proses tumbuh kembang
yang selaras, baik fisis, mental maupun sosial.
c. Kebutuhan akan stimulasi mental (asah). Merupakan cikal bakal proses
pembelajaran (pendidikan dan pelatihan) pada anak. Stimulasi mental ini
membantu perkembangan mental psikososial (kecerdasan, ketrampilan,
kemandirian, kreativitas, kepribadian, moral-etika dan sebagainya).
Perkembangan ini pada usia balita disebut sebagai perkembangan
psikomotor. Kelainan/penyimpangan tumbuh kembang pada anak terjadi
akibat gangguan pada interaksi antara anak dan lingkungan tersebut,
sehingga kebutuhan dasar anak tidak terpenuhi. Keadaan ini dapat
menyebabkan morbiditas anak, bahkan dapat berakhir dengan kematian.
Kalaupun kematian dapat diatasi, sebagian besar anak yang telah berhasil
tetap hidup ini mengalami akibat menetap dari penyimpangan tersebut
yang dikategorikan sebagai kecacatan, termasuk retardasi mental.
Jelaslah bahwa dalam aspek pencegahan terjadinya retardasi mental
praktek pengasuhan anak dan peran orangtua sangat penting.
Etiologi retardasi mental dapat terjadi mulai dari fase pranatal,
perinatal dan postnatal. Beberapa penulis secara terpisah menyebutkan
lebih dari 1000 macam penyebab terjadinya retardasi mental, dan banyak
diantaranya yang dapat dicegah.
Ditinjau dari penyebab secara langsung dapat digolongkan atas
penyebab biologis dan psikososial.

8
Penyebab biologis atau sering disebut retardasi mental tipe klinis
mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
a. Pada umumnya merupakan retardasi mental sedang sampai
sangat berat
b. Tampak sejak lahir atau usia dini
c. Secara fisis tampak berkelainan/aneh
d. Mempunyai latar belakang biomedis baik pranatal, perinatal
maupun postnatal
e. Tidak berhubungan dengan kelas sosial
Penyebab psikososial atau sering disebut tipe sosiokultural mempunyai
ciri-ciri sebagai berikut :

a. Biasanya merupakan retardasi mental ringan


b. Diketahui pada usia sekolah
c. Tidak terdapat kelainan fisis maupun laboratorium
d. Mempunyai latar belakang kekurangan stimulasi mental (asah)
e. Ada hubungan dengan kelas sosial
Melihat struktur masyarakat Indonesia, golongan sosio ekonomi
rendah masih merupakan bagian yang besar dari penduduk, dapat
diperkirakan bahwa retardasi mental di Indonesia yang terbanyak adalah
tipe sosio-kultural.

d. Etiologi retardasi mental tipe klinis atau biologikal dapat dibagi dalam
1. Penyebab pranatal
a. Kelainan kromosom
b. Kelainan genetik /herediter
c. Gangguan metabolik
d. Sindrom dismorfik
e. Infeksi intrauterin
f. Intoksikasi
2. Penyebab perinatal
a. Prematuritas
b. Asfiksia

9
c. Kernikterus
d. Hipoglikemia
e. Meningitis
f. Hidrosefalus
g. Perdarahan intraventrikular
3. Penyebab postnatal
a. Infeksi (meningitis, ensefalitis)
b. Trauma
c. Kejang lama
d. Intoksikasi (timah hitam, merkuri)
4. Penyebab Pranatal
a. Kelainan kromosom
Kelainan kromosom penyebab retardasi mental yangterbanyak
adalah sindrom Down. Disebut demikiankarena Langdon Down pada
tahun 1866 untukpertama kali menulis tentang gangguan ini, yaitu
bayiyang mempunyai penampilan seperti mongol danmenunjukkan
keterbelakangan mental seperti idiot.Hal ini tidak sepenuhnya benar,
karena sebagian besardari golongan ini termasuk retardasi mental
sedang.Sindrom Down merupakan 10-32% dari penderitaretardasi
mental. Diperkirakan insidens dari sindromDown antara 1-1,7 per 1000
kelahiran hidup pertahun. Risiko timbulnya sindrom Down
berkaitandengan umur ibu saat melahirkan. Ibu yang berumur20-25 tahun
saat melahirkan mempunyai risiko1:2000, sedangkan ibu yang berumur
45 tahunmempunyai risiko 1:30 untuk timbulnya sindromDown. Analisis
kromosom pada sindrom Down 95%menunjukkan trisomi –21,
sedangkan 5% sisanyamerupakan mosaik dan translokasi.Kelainan
kromosom lain yang bermanifestasi sebagairetardasi mental adalah
trisomi-18 atau sindrom Edward,dan trisomi-13 atau sindrom Patau,
sindrom chat, sindrom Klinefelter, dan sindrom Turner.Berdasarkan
pengamatan ternyata kromatin seks, yangmerupakan kelebihan
kromosom -X pada laki-laki lebihbanyak ditemukan di antara penderita
retardasi mentaldibandingkan laki-laki normal. Diperkirakan

10
kelebihankromosom-X pada laki-laki memberi pengaruh tidakbaik pada
kesehatan jiwa, termasuk timbulnya psikosis,gangguan tingkah laku dan
kriminalitas. Kelainan kromosom-X yang cukup sering
menimbulkanretardasi mental adalah Fragile-X syndrome,
yangmerupakan kelainan kromosom-X pada band q27.Kelainan ini
merupakan X-linked, dibawa oleh ibu.Penampilan klinis yang khas pada
kelainan ini adalahdahi yang tinggi, rahang bawah yang besar,
telingapanjang, dan pembesaran testis. Diperkirakan prevalensretardasi
mental yang disebabkan fragile-X syndromepada populasi anak usia
sekolah adalah 1 : 2610 padalaki-laki, dan 1: 4221 pada perempuan.3,12
b. Kelainan metabolik
Kelainan metabolik yang sering menimbulkan retardasimental
adalah Phenylketonuria (PKU), yaitu suatugangguan metabolik dimana
tubuh tidak mampumengubah asam amino fenilalanin menjadi
tirosinkarena defisiensi enzim hidroksilase. Penderita laki-lakitenyata
lebih besar dibandingkan perempuan denganperbandingan 2:1. Kelainan
ini diturunkan secaraautosom resesif. Diperkirakan insidens PKU
adalah1:12 000-15 000 kelahiran hidup. Penderita retardasimental pada
PKU 66,7% tergolong retardasi mentalberat dan 33,3% retardasi mental
sedang.1,3,4Galaktosemia adalah suatu gangguan
metabolismekarbohidrat disebabkan karena tubuh tidak
mampumenggunakan galaktosa yang dimakan. Dengan dietbebas
galaktosa bayi akan bertambah berat badannyadan fungsi hati akan
membaik, tetapi menurutbeberapa penulis perkembangan mental
tidakmengalami perubahan.Penyakit Tay-Sachs atauinfantile amaurotic
idiocy adalah suatu gangguanmetabolisme lemak, dimana tubuh tidak
bisamengubah zat-zat pralipid menjadi lipid yangdiperlukan oleh sel-sel
otak. Manifestasi klinis adalahnistagmus, atrofi nervus optikus, kebutaan,
danretardasi mental sangat berat. Hipotiroid kongenitaladalah defisiensi
hormon tiroid bawaan yangdisebabkan oleh berbagai faktor (agenesis
kelenjartiroid, defek pada sekresi TSH atau TRH, defek padaproduksi
hormon tiroid). Kadang-kadang gejala klinistidak begitu jelas dan baru

11
terdeteksi setelah 6-12minggu kemudian, padahal diagnosis dini
sangatpenting untuk mencegah timbulnya retardasi mentalatau paling
tidak meringankan derajat retardasi mental.Gejala klasik hipotiroid
kongenital pada minggupertama setelah lahir adalah miksedema, lidah
yang tebal dan menonjol, suara tangis yang serak karena edema pita
suara, hipotoni, konstipasi, bradikardi, hernia umbilikalis. Prevalens
hipotiroid kongenital berkisar 1:4000 neonatus di seluruh
dunia.Defisiensi yodium secara bermakna dapat menyebabkan retardasi
mental baik di negara sedangberkembang maupun di negara maju.
Diperkirakan 600 juta sampai 1 milyar penduduk dunia mempunyai
risiko defisiensi yodium, terutama di negara sedang berkembang.
Penelitian WHO1 mendapatkan 710 juta penduduk Asia, 227 juta Afrika,
60 juta Amerika Latin, dan 20-30 juta Eropa mempunyai risiko defisiensi
yodium. Akibat defisiensi yodium pada masa perkembangan otak karena
asupan yodium yang kurang pada ibu hamil meyebabkan retardasi mental
pada bayi yang dilahirkan. Kelainan ini timbul bila asupan yodium ibu
hamil kurang dari 20 ug ( normal 80-150 ug) per hari. Dalam bentuk
yang berat kelainan ini disebut juga kretinisme, dengan manisfestasi
klinis adalah miksedema, kelemahan otot, letargi, gangguan neurologis,
dan retardasi mental berat. Di daerah endemis, 1 dari 10 neonatus
mengalami retardasi mental karena defisiensi yodium.
c. Infeksi
Infeksi rubela pada ibu hamil triwulan pertama dapat menimbulkan
anomali pada janin yang dikandungnya. Risiko timbulnya kelainan pada
janin berkurang bila infeksi timbul pada triwulan kedua dan ketiga.
Manifestasi klinis rubela kongenital adalah berat lahir rendah, katarak,
penyakit jantung bawaan, mikrosefali, dan retardasi mental. Infeksi
cytomegalovirus tidak menimbulkan gejala pada ibu hamil tetapi dapat
memberi dampak serius pada janin yang dikandungnya. Manifestasi
klinis antara lain hidrosefalus, kalsifikasi serebral, gangguan motorik,
dan retardasi mental.

12
d. Intoksikasi
Fetal alcohol syndrome (FAS) merupakan suatusindrom yang
diakibatkan intoksikasi alkohol padajanin karena ibu hamil yang minum
minuman yangmengandung alkohol, terutama pada triwulanpertama. Di
negara Amerika Serikat FAS merupakan penyebab tersering dari retardasi
mental setelahsindrom Down. Insidens FAS berkisar antara 1-3 kasus per
1000 kelahiran hidup. Pada populasi wanita peminum minuman keras
insidens FAS sangat meningkat yaitu 21-83 kasus per 1000
kelahiranhidup, padahal di Eropa dan Amerika 8% wanita merupakan
peminum minuman keras.
5. Penyebab Perinatal
Koch menulis bahwa 15-20% dari anak retardasi mental disebabkan
karena prematuritas. Penelitian dengan 455 bayi dengan berat lahir 1250 g
atau kurang menunjukkan bahwa 85% dapat mempelihatkan
perkembangan fisis rata-rata, dan 90% memperlihatkan perkembangan
mental rata rata. Penelitian pada 73 bayi prematur dengan berat lahir 1000
g atau kurang menunjukkan IQ yang bervariasi antara 59-142, dengan IQ
rata-rata 94. Keadaan fisis anak-anak tersebut baik, kecuali beberapa yang
mempunyai kelainan neurologis, dan gangguan mata. Penulis-penulis lain
berpendapat bahwa semakin rendah berat lahirnya, semakin banyak
kelainan yang dialami baik fisis maupun mental. Asfiksia, hipoglikemia,
perdarahan intraventrikular, kernikterus, meningitis dapat menimbulkan
kerusakan otak yang ireversibel, dan merupakan penyebab timbulnya
retardasi mental.
6. Penyebab Postnatal
Faktor-faktor postnatal seperti infeksi, trauma,malnutrisi, intoksikasi,
kejang dapat menyebabkankerusakan otak yang pada akhirnya
menimbulkanretardasi mental.

7. Etiologi pada Kelompok Sosio–Kultural


Proses psikososial dalam keluarga dapat merupakan salahsatu penyebab
retardasi mental. Sebenarnya bermacam-macamsebab dapat bersatu untuk
menimbulkanretardasi mental. Proses psikososial ini merupakan

13
faktorpenting bagi retardasi mental tipe sosio-kultural, yangmerupakan
retardasi mental ringan

2.3 Klasifikasi
1. Retardasi mental ringan
Retardasi mental ringan dikategorikan sebagairetardasi mental
dapat dididik (educable). Anakmengalami gangguan berbahasa tetapi
masih mampumenguasainya untuk keperluan bicara sehari-hari danuntuk
wawancara klinik. Umumnya mereka jugamampu mengurus diri sendiri
secara independen(makan, mencuci, memakai baju, mengontrol
salurancerna dan kandung kemih), meskipun tingkatperkembangannya
sedikit lebih lambat dari ukurannormal. Kesulitan utama biasanya terlihat
padapekerjaan akademik sekolah, dan banyak yangbermasalah dalam
membaca dan menulis. Dalamkonteks sosiokultural yang memerlukan
sedikitkemampuan akademik, mereka tidak ada masalah. Tetapi jika
ternyata timbul masalah emosional dan sosial, akan terlihat bahwa
mereka mengalami gangguan, misal tidak mampu menguasai masalah
perkawinan atau mengasuh anak, atau kesulitan menyesuaikan diri
dengan tradisi budaya.
2. Retardasi mental sedang
Retardasi mental sedang dikategorikan sebagai retardasimental
dapat dilatih (trainable). Pada kelompok inianak mengalami
keterlambatan perkembanganpemahaman dan penggunaan bahasa, serta
pencapaianakhirnya terbatas. Pencapaian kemampuan mengurusdiri
sendiri dan ketrampilan motor juga mengalamiketerlambatan, dan
beberapa diantaranya membutuhkanpengawasan sepanjang hidupnya.
Kemajuandi sekolah terbatas, sebagian masih bisa belajar
dasardasarmembaca, menulis dan berhitung.
3. Retardasi mental berat
Kelompok retardasi mental berat ini hampir samadengan retardasi
mental sedang dalam hal gambaranklinis, penyebab organik, dan
keadaan-keadaan yangterkait. Perbedaan utama adalah pada retardasi

14
mentalberat ini biasanya mengalami kerusakan motor yangbermakna atau
adanya defisit neurologis.
4. Retardasi mental sangat berat
Retardasi mental sangat berat berarti secara praktis anaksangat
terbataskemampuannya dalam mengerti danmenuruti permintaan atau
instruksi. Umumnya anaksangat terbatas dalam hal mobilitas, dan hanya
mampupada bentuk komunikasi nonverbal yang sangatelementer.
1) Terapi dan Pengobatan Retardasi Mental
a. Pencegahan Primer
Dapat dilakukan dengan pendidikan kesehatan pada masyarakat,
perbaikan keadaan sosio ekonomi, konseling genetik dan tindakan
kedokteran (misal : pertolongan persalinan yang baik, pengurangan
kehamilan pada wanita di atas 40 tahun tahun dan pencegahan
peradangan otak pada anak.
b. Pencegahan Sekunder
Meliputi diagosa dan pengobatan dini peradangan otak, perdarahan
subdural, kraniostenosis (sutura tngkorak menutup terlalu cepat)
c. Pencegahan tersier
Merupakan pendidikan penderita atau latihan khusus sebaiknya di
sekolah luar biasa. Dapat diberi neuroleptika kepada yang gelisah,
hiperaktif atau destruktif. Konseling kepada orang tua dilakukan
secara fleksibel dan pragmatis dengan tujuan antara lain membantu
mereka dalam mengatasi frustasi oleh karena mempunyai anak dengan
retardasi mental.
b. Autisme
1. Definisi
Autisme adalah gangguan perkembangan pervasif pada anak
yang ditandai dengan adanya gangguan dan keterlambatan dalam
bidang kognitif, bahasa, perilaku, komunikasi dan interaksi sosial.
Autism hingga saat ini masih belum jelas penyebabnya. Dari
berbagai penelitian klinis hingga saat ini masih belum terungkap
dengan pasti penyebab autisme. Secara ilmiah telah dibuktikan

15
bahwa Autisme adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh
muktifaktorial dengan banyak ditemukan kelainan pada tubuh
penderita. Beberapa ahli menyebutkan autisme disebabkan karena
terdapat gangguan biokimia, ahli lain berpendapat bahwa autisme
disebabkan oleh gangguan psikiatri/jiwa. Terdapat juga pendapat
seorang ahli bahwa autisme disebabkan oleh karena kombinasi
makanan yang salah atau lingkungan yang terkontaminasi zat-zat
beracun yang mengakibatkan kerusakan pada usus besar yang
mengakibatkan masalah dalam tingkah laku dan fisik termasuk
autisme.
Tetapi beberapa penelitian menunjukkan keluhan autism
dipengaruhi dan diperberat oleh banyak hal, salah satunya karena
manifestasi alergi. Renzoni A dkk tahun 1995 melaporkan
autism berkaitan erat dengan alergi. Menage P tahun 1992
mengemukakan bahwa didapatkan kaitan IgE dengan penderita
Autism.

Obanion dkk 1987 melaporkan setelah melakukan eliminasi


makanan beberapa gfejala autisme tampak membaik secara
bermakna. Hal ini dapat juga dibuktikan dalam beberapa penelitian
yang menunjukkan adanya perbaikan gejala pada anak autism yang
menderita alergi, setelah dilakukan penanganan elimnasi diet
alergi. Beberapa laporan lain mengatakan bahwa gejala autism
semakin buruk bila manifestasi alergi itu timbul.

Dicirikan dengan gangguan yang nyata dalam interaksi sosial


dan komunikasi, serta aktivitas dan minat yang terbatas (Johnson,
1997). Gejala-gejalanya meliputi kurangnya responsivitas terhadap
orang lain, menarik diri dan berhubungan sosial, kerusakan yang
menonjol dalam komunikasi, dan respon yang aneh terhadap
lingkungan (mis., tergantung pada benda mati dan gerakan tubuh
yang berulang-ulang seperti mengepakkan tangan, bergoyang-
goyang, dan memukul-mukul kepala).

16
2. Etiologi
Penyebab kelainan ini masih belum diketahui secara pasti dan
masih dalam tahap penelitian, tetapi dalam beberapa asumsi
menyatakan bahwa penyebab dan faktor pencetus autisme dapat
berasal, dari (Dr. Melly Budhiman, 2002) :

a. Lingkungan yang terpapar oleh organisme atau bahan beracun


seperti virus, jamur, rubella, herpes toxoplasma dalam vaksin
imunisasi MMR (Mums, Measles, Rubella), zat aditif yaitu MSG,
pewarna, ethil mercury (Thimerosal) dalam pengawetmakanan, serta
beberapa logam berat seperti Arsen (As), Cadmium (Cd), Raksa (Hg),
Timbal (Pb), alergi berat, obat-obatan, jamu peluntur, muntah hebat,
perdarahan berat.

b. Adanya gangguan pencernaan dan radang dinding usus karena


alergi sehingga terjadi ketidak sempurnaan pencernaan kasein dan
gluten.

c. Kelainan otak organik, hal ini dimungkinkan karena adanya


kelainan SSP yaitu jumlah serat Purkinje Cerebellum yang diikuti oleh
dampak menurunnya jumlah serotonin sehingga jumlah rangsang
informasi antar otak menurun. Pada struktur sistem limbik otak yang
mengatur emosi juga mengalami kelainan.

d. Faktor genesis atau keturunan (yang diperkirakan menjadi


penyebab utama) dan kelainan gen yang dapat menyebabkan
gangguan proses sekresi logam berat dari tubuh yang dapat
berdampak pada keracunan otak. Hal ini dapat menjadi pencetus
autisme jika ada faktor pemicu lain yang ikut berperan.

Faktor pemicu lain yang berperan dalam

3. Terapi dan Penatalaksanan

Terapi dan stimulasi mana yang diperlukan? Kita kembali kepada


kenyataan bahwa terapi bersifat individual dan harus disesuaikan dengan

17
umur, fase perkembangan dan gejala yang ditemukan. Tidak ada metode
yang 100% paling baik untuk semua anak. Para terapis yang menggunakan
berbagai metode berlainan harus bekerjasama dengan baik. Bila kasus
tidak mengalami kemajuan dengan satu metode terapi, harus dilakukan
terapi kombinasi atau dicari cara terapi yang lain.

Apakah peran obat-obatan? Karena penyebab belum diketahui


dengan pasti, obat biasanya hanya ditujukan untuk menghilangkan gejala
yang sangat mengganggu. Contoh paling klasik adalah perilaku self-
injurious yang sangat berbahaya karena anak mencoba melakukan hal
yang menyakiti atau merusak diri sendiri misalnya membenturkan kepala
ke tembok atau lantai, memukul kepala dengan sangat keras, atau
menggigit anggota tubuhnya. Dua puluh persen penyandang autisme
mengalami kejang atau epilepsi. Hal ini juga harus mendapat obat yang
tepat. Ini berarti bahwa terapi obat untuk penyandang autisme bersifat
sangat individual. Bila dokter menganggap bahwa anak memerlukan
pengobatan khusus, sebaiknya hal tersebut didiskusikan dengan orang tua.
Orang tua harus mendapat penjelasan mengapa perlu diberikan, bagaimana
cara mengkonsumsi obat, efek samping yang mungkin terjadi dan lain-
lain. Dokter juga harus menghargai pendapat orang tua bila mereka tidak
menginginkan terapi obat-obatan

c. Gangguan perkembangan spesifik


Dicirikan dengan keterlambatan perkembangan yang mengarah
pada kerusakan fungsional pada bidang-bidang, seperti membaca,
aritmatika, bahasa, dan artikulasi verbal.

2. Defisit perhatian dan gangguan perilaku disrutif


Perilaku mengganggu atau disruptivebehavior, seperti halnya
agresi,pembangkangan, dan amarah, adalahbeberapa masalah yang
paling umum terlihatpada anak-anak.(Strassberg, Kees, &Drabick,
2002). Perilaku mengganggu dapatdiartikan sebagai serangkaian
tingkah lakutidak pantas (inappropriate) yang beragammeliputi,

18
merengek atau menangisberlebihan, menuntut perhatian, tidak
patuh,menantang, tindakan agresif yangmembahayakan diri sendiri atau
orang lain, pencurian, berbohong, pengrusakan barang,dan delikuensi
(Mudhar, 2018).
a. Attention Deficit-Hyperactivity Disorder (ADHD)
1) Definisi
ADHD adalah gangguan perkembangan saraf di mana
seorang anak menampilkan masalah yangsignifikan karena
kurangnya perhatian atau hiperaktif-impulsif. ADHD dapat
mengganggumasa perkembangan anak dalam hal kognitif,
perilaku, sosialisasi maupun komunikasi (Amalia, Rizki,
2018)
Menurut Khotijah (2014) yang dimaksud anak ADHD yaitu
anak yang mengalami gangguan konsentrasi untuk menerima
pelajaran dari gurunya, terutama ketidakmampuan untuk
memfokuskan dan menjaga perhatiannya pada satu hal.
Beberapa perilaku yang nampak seperti; cenderung bertindak
ceroboh, mudah tersinggung, lupa pelajaran sekolah dan tugas
rumah, kesulitan mengerjakan tugas disekolah maupun
dirumah, kesulitan dalam menyimak, kesulitan dalam
menjalankan beberapa perintah, melamun, sering keceplosan
dalam berbicara, tidak memiliki kesabaran yang tinggi, sering
membuat gaduh, berbelit-belit dalam berbicara, dan suka
memotong serta ikut campur pembicaraan orang lain adalah
bentuk perilaku umum lainnya yang menjadi ciri khas ADHD.
Selain itu mereka juga cenderung bergerak terus secara
konstan dan tidak bias tenang (Amalia, Rizki, 2018)
ADHD Dicirikan dengan tingkat gangguan perhatian,
impulsivitas, dan hiperaktivitas yang tidak sesuai dengan
tahap perkembangan. Menurut DSM IV, ADHD pasti terjadi
di sekitanya dua tempat (mis., di sekolah dan di rumah) dan
terjadi sebelum usia 7 tahun (DSM IV, 1994).

19
2) Etiologi
Menurut Ridwan, 2013 menyatakan bahwa banyak
penelitian yang masih belum dapat menjelaskan secara tepat
penyebab dari terjadinya ADHD secara pasti. Namun, ada
dua hal yang pasti yang dapat dikategorikan sebagai
penyebab dari timbulnya masalah gangguan psikologi ADHD
yaitu diturunkan (hereditary) dan gangguan dari perbedaan
irama otak. Berikut penjabaran terkait dengan penyebab dari
gengguan ADHD pada anak:

1. Kondisi Diturunkan (hereditary)


Pada umumnya orang tua yang mengalami gengguan
psikologi ADHD cenderung akan menurunkan sifat
genetiknya kepada anaknya, dimana anak dengan orang
tua ADHD akan lebih berisiko mengalami gangguan
ADHD.
2. Kesulitan menemukan irama yang tepat pada otak
Pada penyebab kesulitan menemukan irama pada otak
dengan tepat dapat dbagi atau disebabkan oleh 3 faktor
yaitu:
a. Neuropsikologi
Impulsifitas yang dialami sebagai tanda dan gejala
anak dengan gangguan ADHD menunjukkan adanya
disfungsi pada otak area lobus frontal. Anak-anak
dengan ADHD ini akan mengalami kesulitan dalam
memberikan atensi atau perhatian terhadap sesuatu
kondisi atau keadaan sehinggan impulsivitas akan
terjadi dan dilakukan oleh anak tersebut.
b. Pengukuran aktivitas
Seperti yang diketahui bersama, bahwa anak deng
ADHD dari segi aktivitasnya dia sangat over
aktif.Dimana kondisi yang seharusnya diam mereka

20
justru sangat aktif dan tidak bisa diam. Kondisi ini
terjadi bukan karena mereka over aktivitas dalam
kesehariannya, tetapi mereka tidak mampu
melakukan self monitoring atau mengendalikan diri
mereka untuk bergerak dan beraktivitas.
c. Ketidakseimbangan kimia otak
Penyebab ini lebih pada masalah gangguan pada
sistem anatomis dan kimiawi dari sistem saraf pusat
yaitu otak.Dimana keseimbangan hormon dan zat
kimia lainnya seperti contoh hormon adrenalin dan
dopamin yang tidak seimbang membuat mereka
selalu terstimulus untuk melakukan suatu bentuk
aktivitas.
3. Faktor perinatal dan prenatal
Anak lahir dengan riwayat BBLR kemungkinan terjadi
perlambatan pertumbuhan dan kematangan fungsi otak
juga sangat besar sehingga kemungkinan untuk terjadi
ADHD sangat besar.
4. Lingkungan
Keracunan zat-zat kimia yang berasal dari lingkungan
yang mengkontaminasi anak juga berpotensi besar
merusak sel sistem saraf pusat sehingga organ saraf
mengalami gangguan yang berdampak pada
ketidakseimbangan fungsi secara normal.
5. Dinamika Keluarga
Teori ini menunjukkan bahwa perilaku yang merusak ini
dipelajari anak sebagai cara untuk mendapatkan
perhatian orang dewasa.kemungkinan iritabilitas
impulsive ditemukan atau tidak terlihat pada individu
ADHD dari saat lahir reaksi orang tua cenderung
menguat dan karenanya mempertahankan atau
meningkatkan intensitas gangguan. Ansietas berasal dari

21
disfungsi system keluarga masalah perkawinan dan lain
sebagainya, dapat juga member kontribusi pada gejala
gangguan ini orang tua frustasi terhadap buruk anak
terhadap keadaan tertentu.orang tua mungkin menjadi
terlalu sensitif atau menjadi putus asa dan tidak member
struktur eksternal
Faktor genetik (riwayat orang tua atau keluarga
dengan ADHD) dan riwayat BBLR meningkatkan risiko
kejadian ADHD pada anak ( Adiputra, I Made Sudarma
dkk, 2015).

3) Terapi
Belum ada satupun terapi yang ditemukan efektif untuk
ADHD, yang meniimbulkan banyak pendekatan yang
berbeda seperti diet pengontrol gula dan terapi
megavitamin.Orang tua perlu mengetahui bahwa setiap terapi
yang dinyatakan sebagai pengobatan ADHD mungkin terlalu
baik untuk menjadi kenyataan (McCracken, 2000a).ADHD
adalah gangguan kronis dan tujuan terapi adalah mengatasi
gejala, mengurangi hiperaktifitas, impulsifitas, dan
meningkatkan perhatian anak sehingg anak dapat tumbuh dan
berkembang secara normal.Terapi yang paling efektif adalah
kombinasi farmakoterapi dan intervensi perilaku, psikososial,
dan pendidikan (Glod, 1997).
a. Psikofarmakologi
Obat obatan sering kali efektif dalam mengurangi
hiperaktivitas dan perilaku impulsive serta meningkatkan
perhatian anak, yang menyebabkan anak mampu
berpartisipasi dalam kegiatan sekolah dan kehidupan
keluarga. Obat yang paling sering digunakan adalah
metifenidat (Ritalin) (Ludwikowski & Devalk, 1998) ;
(McCracken,2000a). metilfenidat efektif pada 70%

22
hingga 80% anak yang mengalami ADHD; obat ini
mengurangi hiperaktivitas, dan kelabilan mood serta
membantu anak memberikan perhatian secara lebih tepat
(Julien, 1998). Dekstroafetamin (Dexedrine), amfetamin
(Adderall), dan pemolin (cylelt) adalah stimulant yang
digunakan untuk mengobati ADHD. Efek samping obat
tersebut yang paling sering terjadi adalah insomnia,
kehilangan nafsu makan, dan penuunan berat badan atau
gagal menaikkan berat badan.Karena pemolin dapat
menyebabkan kerusakan hati, obat ini adalah obat
terakhir yang diresepkan.
Memberikan stimulant pada siang hari biasanya efektif
dalam mengatasi insomnia. Mkan sarapan yang lebih
baikdengan dosis obat pagi dan makan kudapan yang
bergizi dan banyak pada sore hari dan menjelang tidur
akan membantu anak mempertahankan diet yang
adekuat. Saat obat stimulant tidak efektif atau efek
sampingnya tidak dapat ditoleransi, pilihan kedua untuk
terapi ADHD adalah antidepresan.
b. Strategi untuk dirumah dan disekolah
Obat obatan tidak secara otomatis meningkatkan
penampilan akademk anak atau memastikan bahwa ia
mendapatkan teman. Strategi perilaku diperlukan untuk
membantu anak yang menguasai perilaku yang tepat, dan
strategi lingkungan disekolah dan dirumah membantu anak
berhasil dilingkungan tersebut.Memberi penyuluhan kepada
orang tua dan membantu mereka dengan strategi
pengasuhan adalah komponen penting terapi ADHD yang
efektif.Pendekatan yang efektif termasuk memberikan
penghargaan dan konsekuensi yang konsissten atau
perilaku, memberikan pujian yang konsisten menggunakan
time out dan memberikan teguran secara verbal. Strategi

23
tambahan adalah memberikan kartu laporan harian untuk
perilaku dan menggunakan system poin untuk perilaku
yang posistif dan negative (Mc Cracken, 2000a).
Dalam bermain terapiutik, teknik bermain
digunakan untuk memahami pikiran dan perasaan anak
serta meningkatkan komunikasi.Hal ini tidak boleh
dikelirukan dengan terapi bermain, suatu teknik
psikoanalitis yang digunakan oleh psikiater. Bermain drama
adalah melakonkan situasi yang menimbulkan ansietas,
seperti mengizinkan anak untuk menjadi dokter,
menggunakan stetoskop, atau peralatan lain untuk merawat
pasien (Boneka). Teknik bermain untuk menggunakan
energy dapat termasuk memukul mukul pasak mainan,
berlari, atau bermain dengan tanah liat.Tehnik bermain
kreatif dapat membantu anak mengekspresikan diri mereka,
misalnya dengan menggambar diri mereka, keluarga, atau
teman.Teknik tersebut sangat bermanfaat ketika anak tidak
mampu atau tidak mau mengungkapkan diri mereka secara
verbal.
c. Intervensi menurut jurnal
1. Penggunaan obat ADHD dalam jangka waktu panjang
maka nantinya akan berdampak pada anak-anak,
sehingga alternatif lainnya untuk menangani anak
ADHD dengan menggunakan pendekatan konseling
yaitu pendekatan behavior kognitif perilaku dan
kognitif perilaku dan Adlerian Play Therapy. Adlerian
Play Therapy pendekatan baik akan mencakup
kombinasi dari komponen yang diperlukan untuk lebih
efektif mengobati ADHD dan berbagai keterampilan
kognitif menambah kemampuan, dunia luar
menemukan unsur-unsur dan stimulus dari
lingkungannya, belajar peran dan memahami peran

24
orang lain, mengidentifikasi budaya, bahasa, nilai-nilai
anak ADHD (Amalia, Rizki, 2018)
2. Dalam kasus ADHD, psikologi pendidikan Islam
kontemporer menawarkanbeberapa solusi diantaranya
adalah:
a) terapi desensititasi melalui proses membayangkan
atau relaksasi;
b) terapi sholat secara khusu’ (meditasi);
c) terapi auto-sugesti melaui do’a dalam sholat dengan
memberikan sugestiterhadap diri untuk berbuat baik
(hypnosis theory);
d) terapi aspek kebersamaan melalui sholat berjamaah
e) Terapi murottal yang bersifat menenangkan
penderita ADHD (Wahidah, Evita Yuliatul, 2018).
d. Gangguan perilaku
1) Definisi
Gangguan tingkah laku adalah perilaku antisosial yang
persisten pada anak dan remaja yang secara signifikan
mengganggu kemampuan mereka untuk melakukan fungsi
dibidang sosial, akademik, atau pekerjaan. Gejalanya
dikelompokkan ke dalam empat area : agresi terhadap orang
dan binatang perusak barang-barang, kecurangan dan
pencurian dan pelanggaran peraturan yang serius (Steiner,
2000). Individu yang mengalami gangguan tingkah laku
mempunyai sedikit rasa empati terhadap orang lain; mereka
mempunyai harga diri rendah, toleransi frustasi yang buruk,
dan marah yang meledak-ledak. Gangguan tingkah laku sering
kali dihubungkan dengan awitan dini perilaku seksual, minum
alkohol, merokok, menggunakan zat terlarang, dan perilaku
ceroboh atau perilaku berisiko lainnya. Gangguan ini terjadi
tiga kalli lebih sering pada anak laki-laki daripada anak
perempuan,dan sebanyak 30% hinga 50% anak-anak tersebut

25
didiagnosis mengalami gangguan kepribadian antisosial saat
dewasa.
Gangguan tinglah laku dicirikan dengan perilaku berulang,
disuptif, dan kesengajaan untuk tidak patuh, termasuk
melanggar norma dan peraturan sosial. Sebagian besar anak-
anak dengan gangguan ini mengalami penyalahgunaan zat
atau gangguan kepribadian antisosial setelah berusia 18 tahun.
Contoh perilaku pada anak-anak dengan gangguan ini
meliputi: mencuri, berbohong, menggertak, melarikan diri,
membolos, menyalahgunakan zat, melakukan pembakaan,
bentuk vandalisme yang lain, jahat terhadap binatang, dan
serangan fisik terhadap orang lain.
2) Etiologi

Fungsi keluarga yang buruk, ketidakharmonisan


perkawinan, pengasuh yang buruk, dan riwayat
penyalahgunaan zat pada keluarga serta masalah psikiatri
berhubungan denga perkembangan gangguan tingkah laku.
Penganiayaan anak adalah faktor risiko yang sangat
penting.Pola pengasuhan spesifik yang dianggap tidak efektif
adalah respon orang tua yang tidak komitmen terhadap
permintaan anak, dan memberikan sesuai permintaan ketika
perilaku anak berlebihan. Pajanan terhadap kekerasan di
media dan di masyarakat adalah faktor yang berkonstribusi
pada anak yang berisiko didaerah lain. Ketidakberuntungan
pada bidang sosioekonomi seperti tempat tinggal yang tidak
adekuat, kondisi penuh sesak, dan kemiskinan juga
meningkatkan kemungkinan gangguan tingkah laku pada anak
yang berisiko (Steiner,2000).
Prestasi akademik yang rendah, ketidakmampuan
belajar,heperaktivitas, dan masalah dengan rentang perhatian
berhubungan dengan gangguan tingkah laku. Anak yang

26
mengalami gangguan tingkah laku sulit melakukan fungsi
dalam situasi sosial. Mereka kurang mampu berespons
terhadap orang lain secara tepat atau mengatasi konflik, dan
mereka kehilangan kemmapuan untuk mengendalikan diri saat
tertekan secara emosional. Mereka sering kali hanya diterima
oleh teman sebaya yang mengalami masalah yang sama
(Steiner,2000).
A. Klasifikasi
Dua subtipe gangguan tingkah laku didasarkan pada usia
saat awitan. Tipe awitan masa kanak-kanak mencakup gejala-
gejala yang terjadi sebelum usia 10 tahun.
Gangguan tingkah laku dapat diklasifikasikan menjadi
ringan,sedang atau berat (DSM-IV-TR, 2000):
Ringan : individu mengalami sedikit masalah tingkah laku
yang menybabkan bahaya terhadap orang lain yang relati
ringan, seperti berbihing, bolos sekolah aau keluar rumah
tanpa izin.
Sedang : jumblaj masalah tingka laku meningkat seperti
halnya jumblah bahaya terhaap orang lain, seperti vandalisme
atau pencurian.
Berat : ada banyak masalah tingkah laku dan ada bahaya
yang besar terhadap orang lain, seperti seks yang dipaksa,
kekejaman terhadap binatang, penggunaan senjata, pencurian,
atau perampokan.
B. Terapi
Berbagai macam terapi telah dilakuakn untuk gangguan
tingkah laku dengan ketidakefektifan yang terbatas.
Intervensi dini lebih efektif, dan pencegahan lebih efektif
daripada terapi intervensi yang dramantis seperti “latihan
militer” atau inkarserasi tidak terbukti efektif dan bahkan
dapat memperburuksituasi (Steiner,2000). Terapi harus
disesuaikan dengan usia perkembangan klien; tidak ada satu

27
pun tipe terapi yang cocok untuk segala usia. Program taman
kanak-kanak seperti Head Start menghasilkan angka perilaku
jahat gangguan tingkah laku yang lebih rendah melalui
pemberian penyuluhan kepada orang tuan tentang pertumbuha
dan perkembangan yang normal, simulasi untuk anak, dan
dukungan orang tua selama kirisis.
Anak , keluarga, dan lingkungan sekolah adalah fokus
terapi untuk anak usia sekolah yang mengalami gangguan
tingkah laku. Penyuluhan tentang pengasuhan, pelatihan
keterampilan sosial untuk memperbaiki hubungan dengan
teman sebaya, dan upaya memperbaiki penanpilan akademik
dan meningkatkan kemampuan anak untuk memenuhi
permintaan dan figur yang berwenang termasuk dalam fokus
terapi. Terapi keluarga dianggap penting untuk anak pada
kelompok usia ini (Steiner,2000).
Remaja kurang mengandalkan orang tua mereka dan
lebih percaya pada teman sebaya sehingga terapi untuk
kelompok usia ini adalah terapi individu. Banyak klien pada
kelompok usia ini mempunyai keterlibatan dengan sistem
hukum karena perilaku kriminal, dan sebagai , akibatnya
kebebasan mereka mungkin dibatasi. Penggunaan alkohol dan
obat-obatan lainnya memainkan peran yang sangat penting
untuk kelompok usia ini dan harus dimasukkan dalam setiap
rencana terapi.
Obat-obatan tanpa disertai tindakan lain mempunyai
sedikit pengaruh, tetapi mungkin digunakan bersama dengan
terapi untuk gejala-gejala yang spesifik. Misalnya, klien yang
mengalami mood yang labil dapat memperoleh manfaat dari
litium atau penstabil mood lainnya, seperti karbmazepi (
Tagretol) atau asam valporat (Depakote) (Steiner,2000).

28
e. Gangguan penyimpangan oposisi
Gangguan ini merupakan bentuk gangguan perilaku yang
lebih ringan, meliputi perilaku yang kurang ekstrem. Perilaku
dalam gangguan ini tidak melanggar hak-hak orang lain sampai
tingkat yang terlihat dalam gangguan perilaku. Perilaku dalam
gangguan ini menujukkan sikap menentang, seperti
berargumentasi, kasar, marah, toleransi yang rendah erhadap
frustasi, dan menggunakan minuman keras, zat terlarang, atau
keduanya.
Gangguan perilakumenentang atau perilaku melawan atau
oposisi dalam istilah psikologi klinisdisebut dengan Oppositional
DefiantDisorder, termasuk kelompok darigangguan disruptive
behavior yangsering dirujuk kepada ahli klinis.Gangguan ini
merupakan gangguanyang biasanya paling banyak ditemuipada
masa anak-anak bahkan pada masadewasa.APA menjelaskan
bahwagangguan perilaku menentang(Oppositional Deviant
Disorders)ditandai dengan adanya perilakumenentang dan
melanggar aturan.
Biasanya muncul dalam bentuk perilakumenolak mengikuti
aturan dan otoritasdari orang dewasa seperti orang tua,guru,
ataupun orang dewasa lainnya(Hairina, 2013).
Gangguan perilakumenentang biasanya akan semakin
parahapabila tidak segera diberikanpenanganan yang tepat (Lohey
dalamHairina, 2013). Walaupun ada kesulitanyang dihadapi
dalam proses assesmengangguan perilaku pada anak,
tapiberdasarkan penelitian secara umumgangguan perilaku
menentangkhususnya (dari sampel non klinis)berkisar antara 6%
sampai 10%. Sejalandengan hal tersebut penelitian lain(Yanti
dalam Hairina, 2013) jugamenyimpulkan bahwa
perilakumenentang adalah sebuah masalahkesehatan masyarakat
yang sangat besarberkisar antara 5% sampai 10% dialamianak-
anak yang berusia antara 8 sampai16 tahun. Masalah yang sama,

29
ternyatajuga di temukan di Australia (Yantidalam Hairina, 2013)
yang melaporkanbahwa dari tahun 1999-2003 anak-anakyang
berusia 1 sampai 14 tahundilaporkan mengalami
gangguanperilaku menentang, namun untuk diIndonesia masih
belum ada data spesifikmengenai jumlah presentase
ataupunjumlah dari gangguan perilakumenentang khususnya yang
di alamianak-anak. Contoh dari perilaku inimisalkan kenakalan
remaja, penggunaanobat-obatan terlarang, perilakumembolos
sekolah, perilaku pergaulanbebas, melarikan diri, vandalisme,
dansebagainya.Sebenarnya, perilakuperilaku ini juga bisa
dikategorikanperilaku yang tidak bisa membedakanbenar dan
salah.
3. Gangguan ansietas
a. Gangguan obsesif kompulsif
1) Definisi
setiap individu megalami perilaku berulang dalam
hidupnya, menyenandungkan lagu yang sama berulang kali
selama ber jam jam atau mencuci tangan berulang-ulang
ketika merawat anak yang sakit. seseorang bahkan mungkin
dengan gugup memutuskan untuk mengepel lantai dapur
yang bersih pada malam hari ketika ia belajar sebelum
ujian.tindakan ini d ilakukan untuk memperoleh rasa
nyaman dan aman yang membantu individu merasa
memiliki kendali dan mengurangi rasa cemasnya.akan
tetapi,perlaku obsesif kompulsif merupakan perilaku ritual
berulang yang muncul akibat yang tidak realistis dan
mengganggu aktivitas kehidupan yang normal.
obsesi adalah pikiran, ide,visualisasi, atau impuls
berulng yang Tidak tepat,mengganggu dan menimbulkan
ansietas serta mengganggu fungsi interpersonal,sosial atau
okpasional individu. individu mengetahui Pikiran-pikiran

30
ini berlebih atau tida masuk akal,tetapi yakin bahwadirinya
tidak memiliki kendali terhadap pikiran tersebut.
kompulsif adalah perilaku atau ritual yang secara
kontinu dilakukan untuk menghilangkan pikiran obsesif dan
mengurangi ansietas. beberapa kompulsi yang umum
meliputi:
a. ritual memeriksa (berulang kembali memastikan pintu
terkunci atau teko kopi sudah dimatikan
b. ritual menghitung (setiap langkah yang diambil,jumlah
plafon,balok beton, meja tuiis di kelas)
c. mencuci tangan berulang ulang sampai kulit terkelupas.
d. mengulangi kata atau lagu yang sama (perseverasi)
e. ritual menyentuh (merasakan tekstur setiap bahan di
toko pakaian ,menyentuh orang ,pintu dinding atau diri
sendiri)
f. ritual simetri (menyusun menyusun ulang barang
barang,di meja, rak, atau berabot dengan rapi,
membersihkan tumpukan karpet dalm satu arah0
g. ritual penampilan yang kaku (berpakaian dengan model
yang tidak bervariasi)
h. kebersihan (mengepel lantai dapur setiap hari)
i. keluhan somatik (berulang kali memberitahukan bahwa
ia menderita penyakit tertentu, bersikeras pada dokter
bahwa nyeri ringan yang dialaminya adalah kanker)
j. ritual seksual (pikiran atau imajinasi seksual intrusif
yang disertai kebutuhan untuk meingakuiya )
k. impuls agresif (misalnya, melempar seorang anak
kedinding)
perilaku obsesifkompulsif dianggap sebagai sebagai
gangguan hanya jika individu dirusak oleh
pkiran,imajinas,dan impuls ini dan terdorong untk
melakukan perilaku mengurangi kecemasan sampai pada

31
batas perilaku tersebut mengganggu fugsi personal
,sosial,dan okupasional. contoh perilaku obsesif kompulsif
yaitu seorang pria yang tidak lagi dapat bekerja karena ia
meluangkan sebagian besar waktunya menyusun dan
meyusun kembali semuabarang di dalam apartemennya,
atau wanita yang merasa terdorang untuk mencuci
tangannya setelah menyentuh suatu objek atau orang.
OCD dapat terlihat dalam berbagai macam erilaku,
yang semuanya dilakukan berulang ulang,tidak bermakna,
dan sulit di atasi. individu memahami bahwa ritual ini tidak
lazim dan tidak masuk akal,tetapi merasa dipaksa
meakukannya untuk menghilangkan ansietas. walaupun
individu yang mengalami OCD bahkan membuat lelucon
tentang perilaku tersebut,sebenarnya hal itu adalah sumber
stres dan rasa malu, penderita sering kali menarik diri dan
asosial untuk menyembunyikan perilaku tersebut.
2) Etiologi
a) Biologi
Secara umum diterima bahwa kerentanan genetik, kesulitan
di lingkungan, dan faktor-faktor seperti koping yang buruk
saling memengaruhi untuk menyebabkan gangguan. Aktor
risiko mencakup pengasuhan yang buruk, prestasiakademik
yang rendah, hubungan lemah sebaya yang buruk, dan
harga diri rendah; faktor pelindung mencakup
ketabahan,dukungan keluarga, hubungan teman sebaya
yang positif da kesehatan yang baik (Steiner, 2000).
Terdapat risiko genetik untuk gangguan tingkah laku
meskipun tidak ada penanda gen spesifik yang
teridentifikasi (Steiner, 2000). Gangguan ini lebih sering
terjadi pada anak yang mempunyai saudara kandung dan
gangguan tingkah laku atau orang tua yang mengalami

32
gangguan kepribadian antisosial, penyalahgunaan zat,
gangguan mood, atau ADHD (DSM-IV-T,2000).
Kurangnya reaktivitas sistem saraf otonom ditemukan
pada anak yang mengalami gangguan tingkah laku, sama
dengan orang dewasa yang mengalami gangguan
kepribadian antisosial. Abnormalitas ini dapat
menyebabkan lebih banyak agresi pada hubungan sosial
sebagai akibat berkurangnya sikap menghindar yang
normal atau inhibis sosial. Riset tantang peran
neirotransmiter adalah bidang yang menjanjikan
(Steiner,2000).
b) Psikodinamik
Individu yang mengalami OCD diduga
menggunakan 4 tipe mekanisme pertahanan; regresi,
isolasi, formasi reaksi, dan undoing.Individu penderita
OCD diyakini mengalami regresi dan menjadi terfiksasi
pada tahap anal menurut Freud.Mereka yang mengalami
tipe kompulsi rapi dan teratur dikatakan berada pada tahap
anal-retentif; tipe berantakan atau agresif dikatakan pada
tahap anal eksplosif. Misalnya, klien yang ingin merawat
orang tuanya yang sakit, tetapi menyadari bahwa hal
tersebut tidak dapat diterima secara social, mengalami
regresi ketingkat perkembangan sebelumnya (Anal
retentive) dan melakukan ritual yang memberi rasa
nyaman misalnya mencuci atau mengupayakan segala
sesuatu menjadi teratur; mengisolasi peristiwa tersebut
dari emosi dan tidak nyaman dengan emosi (Ansietas);
menggunakan reaksi formasi reaksi untuk menyingkirkan
pikiran tidak mau merawat orang tuanya; dan menjadi
seorang “Anak-super, ”merawat orangtuanya dengan baik
dan menjaga kebersihan lingkungan sehingga

33
menggagalkan (undoing) impuls awal yang tidak dapat
diterima untuk mrngabaikan .
Persamaan menarik yang mengaitkan OCD dengan
regresi iyalah observasi jika ritual OCD indvidu
terganggu, ia harus memulai lagi dari awal. Hal ini serupa
dengan orang tua yang ingin mendapatkan pokok cerita
kemudian memotong cerita anaknya yang berusia 4 tahun
hanya untuk menemukan bahwa anak tersebut harus
memulai kembali cerita tersebut dari awal.Pada akhirnya,
cerita tersebut memakan waktu 2x lebih lama.
b. Gangguan ansietas akibat perpisahan
1) definisi
Gangguan ansietas akibat perpisahan ditanda
dengan ansietas yang berlebihan saat meninggalkan rumah
atau perpisahan dari mereka yang dekat dengan
anak,dengan ansietas yang melebihi apa yang diperkirakan
pada tingkat perkembangan anak (DSM -1V,TR 2000).
Saat berpisah dari figur yang dekat dengannya,anak sangat
ingin tahu dimana figur tersebut berada dan mungkin perlu
melakukan kontak yang sering dengan mereka,seperti
menelpon. anak tersebut menderita saat jauh dari rumah
dan mungkin takut tidak dapat melihat lagi ke rumah
mereka atau orang yang dicintai. anak yang mengalami
ansiietas akibat perpisahan sering kali mengikuti orang
tuanya seperti bayangan, tidak akan berada dikamar
sendirian, da tidak dapat tidur pada malam hari kecuali jika
ada seseorang yang menemaninya. ketakutan
akanperpisahan dapat menimbulkan perilaku menghindar ,
seperti menolak untuk masuk sekolah atau pergi untuk
suatu keperluan. angguan ansietas akibat perpisahan sering
disertai dengan mimpi buruk dan bnayak keluhan fisik
seperti sakit kepala,mual,muntah, dan pusing.

34
gangguan ansietas akibat perpisahan diduga
disebabkan oleh interaksi antara temperamin dan perilaku
pengasuhan. sifat temperamen bawaan, seperti
pasif,menghindar, takut, atau malu pada situasi yang
baru,bersama denga perilaku menghindar sebagai cara
untuk menghadapi situasi yang tidak dikenal atau asing
diduga menyebabkan ansietas pada anak (sylvester,20000
anan dapat mengalami kesulitan akademik dan
menarik diri dari pergaulan jika perilaku menghindari
mencegah mereka untuk sekolah atau berhubungan dengan
orang lain,bergantung pad keparahan gangguan. anak dapat
digambarkan sebagai anak yang banyk
menuntut,mengganggu dan membutuhakn perhatian yang
terus menerus, atau mereka mungkin patuh dan sangat ingin
menyanangkan orang lain. ketika dewasa,mereka mungkin
terlambat untuk meninggalkan rumah keluarga, mereka
mungkin terlalu khawatir dan melindungi pasangan dan
anak-anak mereka ,dan mereka merasa terus tidak nyaman
saat jauh dari rumah atau keluarga. penyuluhan kepada
orang tua dan erapi keluarga adalah komponen penting
dalam terapi,dan 80% anak mengalami remisi setelah 4
tahun (sylvester,2000)
banyak korban trauma kepala atau infeksi yang
mengenai sistem saraf pusat kemudian mengalami OCD.
pemindai tomografi emisi positron yang mengkaji
metabolisme glukosa pada nukleus kaudatus dan girus
orbital pada ganglia basal otak memperihatkan perbedaan
pada individu yang mengalami OCD dan yang tidak .
struktur ini memengaruhi perintah otak terhadapan
gerakan, perilaku yang dipelajari ,serta pola menghadapi
stimulus yang berulang ,seringkali setelah kerusakan pada
struktur ini,gejala OCD berkembang atau berkurang (comer

35
,1992). pemindaian emisi positron juga digunakan untuk
menunjukkan peningkatan kecepatan metabolisme pada
korteks prefontal (baxter et al,. 1987).serotonin
neurotransmiter dapat berperan dalam OCD karna anti
depresen yang secara spesifik memengaruhi serotonin
,seperti klomipramin dan flufoksmin ,mengurangi gangguan
gejala ini. pada individu kembar terutama kembar
indentik,insiden OCD lebih tinggi dari pada populasi
umum. OCD juga diwariskan kepada keluarga yang kerabat
tingkat pertamanya mengalami OCD ,sindrom tourette,
atau trikotilomania (menarik-narik rambut sampai putus).
2) Terapi menurut jurnal
Terapi permainan menurut Wong (2010), yang sesuai
dengan anak usia pasekolah antara lain: bermain menyusun
puzzle, bermain game sederhana, bermain musik dan peran,
mendengarkan cerita, melihatbuku-buku menggambar,
menggambar dan mewarnai gambar.Mewarnai gambar
merupakan terapi permainan yang kreatif untukmengurangi
stress dan kecemasanserta meningkatkan komunikasi
padaanak. Menggambar atau mewarnaisuatu permainan
yang memberikankesempatan anak untuk
bebasberekspresidan sebagai permainanpenyembuh.
Mengekspresikanperasaan dengan menggambar
ataumewarnai gambar berartimemberikan pada anak suatu
carauntuk berkomunikasi (Whalley &Wong, 2008).
4. Skizofrenia
a. Skizofrenia anak-anak jarang terjadi dan sulit didiagnosis. Gejala-
gejalanya dapat meneyerupaigangguan pervasive, seperti autisme.
walaupun penelitian tentang skizofrenia anak-anak sangat sedikit,
namun telah dijumpai perilaku yang khas (Antai-Otong, 1995b),
seperti beberapa gangguan kognitif dan perilaku, menarik diri
secara sosial, komunikasi. Kesulitan mendiagnosis psikosis pada

36
anak dan remaja merupakan suatu tantangan yang besar karna
anak sering tidak dapat menceritakan gangguan yang dialami
pada orang lain. Orang tua juga sering menyangkal dan tidak
mempercayai gangguan psikotik yang terjadi pada anak, di
tambah dngan profsinonal kesehatan yang tidak dapat
menemukan gejala psikotik yang mendasari perubahan perilaku.
Beberapa alat bantu diagnosis yang dapat di gunakan dalam
membantu diagnosis adalah menggambar, bermain dan
menceritakan mimpi. Menggambar dapat merupakan indikasi
yang baik untuk mengnali tingkat intelegensi, kratifitas dan bakat
seni pada anak dan juga dapat menunjukkan neuropsikologi.
Bermain dapat di pergunakan untuk mengtahui REALITY TEST
pada anak dan mengnali proses berfikir. Menceritakan mimpi
dapat menjadi suatu perantara untuk dapat mengtahui pemahaman
terhadap dunia anak.

Untuk mengakkan diagnosis skizofrnia pada anak dengan


retardasi mental sangat sulit karna adanya hambatan dalam bahasa
dan kognitif. Di butuhkan integrasi informasi dari berbagai
sumber yang relavan dan dapat di percaya terutama untuk menilai
adanya gangguan proses berfikir, sehingga perlu berhati-hati
dalam membuat Diagnosis. gejala negatif mungkin sangat
membingungkan karna bertumpang tindih dengan perilaku yang
terdapat pada anak dengan retardasi mental yang tidak psikotik.
Dalam mewancarai anak dengan defisit kognitif, pemeriksa harus
menggunakan bahasa yang sederhana, nyata, dan menggunakan
banyak perkataan untuk suatu gagasan.

b. Skizofrenia pada remaja merupakan hal yang umum dan


insidensinya selama masa remaja akhir sangat tinggi. Gejala-
gejalanya mirip dengan skizofrenia dewasa. Gejala awalnya
meliputi perubahan ekstrim dalam perilaku sehari-hari, isolasi

37
sosial, sikap yang aneh, penurunan nilai-nilai akademik, dan
mengekspresikan perilaku yang tidak disadarinya.
1) Definisi
Skizofrenia berasal dari kata Yunani yang bermakna schizo
artinya terbagi, terpecah dan phrenia artinya pikiran.Jadi
pikirannya terbagi atau terpecah.(Rudyanto, 2007).
Skizofrenia berasal dari kata mula-mula digunakan oleh
Eugene Bleuler, seorang psikiater berkebangsaaan
Swiss.Bleuler mengemukakan manifestasi primer skizofrenia
ialah gangguan pikiran, emosi menumpul dan terganggu.Ia
menganggap bahwa gangguan pikiran dan menumpulnya
emosi sebagai gejala utama daripada skizofrenia dan adanya
halusinasi atau delusi (waham) merupakan gejala sekunder
atau tambahan terhadap ini.Skizorfenia adalah suatu penyakit
yang mempengaruhi otak dan menyebabkan timbulnya
pikiran, persepsi, emosi, gerakan dan perilaku yang aneh dan
terganggu. Skizorfenia tidak dapat didefinisikan sebagai
penyakit tersendiri, melainkan diduga sebagai suatu sindrom
atau proses penyakit yang mencangkup banyak jenis dengan
berbagai gejala seperti jenis kanker (Lumbantobing, 2007).
Skizofrnia merupakan penyakit mental kronis yang
menyebabkan gangguan proses berfikir. Orang dengan
gangguan skizofrnia tidak bisa membedakan mana khayalan
dan kenyataan. Penyakit ini juga menyebabkan pengidapnya
tidak mmiliki kemampuan untuk brfikir, mengingat, ataupun
memahami masalah tertentu. Gejala paling khas dari
skizofrnia adalah delusi (waham) dan halusianasi, itulah
sebabnya orang dengan gangguan skizofrnia cendrung
mendngar suara-suara di dalam pikiran mereka dan melihat
sesuatu yang tidak nyata.

38
2) Etiologi
Terdapat beberapa pendekatan yang dominan dalam
menganalisa penyebab skizofrenia, antara lain :
a. Faktor Genetik
Menurut Maramis (1995), faktor keturunan juga
menentukan timbulnya skizofrenia. Hal ini telah dibuktikan
dengan penelitian tentang keluarga-keluarga penderita
skizofrenia terutama anak-anak kembar satu telur. Angka
kesakitan bagi saudara tiri ialah 0,9 - 1,8%; bagi saudara
kandung 7 – 15%; bagi anak dengan salah satu orangtua
yang menderita skizofrenia 7 – 16%; bila kedua orangtua
menderita skizofrenia 40 – 68%; bagi kembar dua telur
(heterozigot) 2 -15%; bagi kembar satu telur (monozigot)
61 – 86%. Skizofrenia melibatkan lebih dari satu gen,
sebuah fenomena yang disebut quantitative trait loci.
Skizofrenia yang paling sering kita lihat mungkin
disebabkan oleh beberapa gen yang berlokasi di tempat-
tempat yang berbeda di seluruh kromosom. Ini juga
mengklarifikasikan mengapa ada gradasi tingkat keparahan
pada orang-orang yang mengalami gangguan ini (dari
ringan sampai berat) dan mengapa risiko untuk mengalami
skizofrenia semakin tinggi dengan semakin banyaknya
jumlah anggota keluarga yang memiliki penyakit ini
(Durand & Barlow, 2007).
b. Faktor Biokimia
Skizofrenia mungkin berasal dari ketidakseimbangan
kimiawi otak yang disebut neurotransmitter, yaitu kimiawi
otak yang memungkinkan neuron-neuron berkomunikasi
satu sama lain. Beberapa ahli mengatakan bahwa
skizofrenia berasal dari aktivitas neurotransmitter dopamine
yang berlebihan di bagian-bagian tertentu otak atau
dikarenakan sensitivitas yang abnormal terhadap

39
dopamine.Banyak ahli yang berpendapat bahwa aktivitas
dopamine yang berlebihan saja tidak cukup untuk
skizofrenia. Beberapa neurotransmitter lain seperti
serotonin dan norepinephrine tampaknya juga memainkan
peranan (Durand, 2007).
c. Faktor Psikologis dan Sosial
Faktor psikososial meliputi adanya kerawanan herediter
yang semakin lama semakin kuat, adanya trauma yang
bersifat kejiwaan, adanya hubungan orang tua-anak yang
patogenik, serta interaksi yang patogenik dalam keluarga
(Wiraminaradja & Sutardjo, 2005).Banyak penelitian yang
mempelajari bagaimana interaksi dalam keluarga
mempengaruhi penderita skizofrenia. Sebagai contoh,
istilah schizophregenic mother kadang-kadang digunakan
untuk mendeskripsikan tentang ibu yang memiliki sifat
dingin, dominan, dan penolak, yang diperkirakan menjadi
penyebab skizofrenia pada anak-anaknya (Durand &
Barlow, 2007). Menurut Coleman dan Maramis (1994
dalam Baihaqi et al, 2005), keluarga pada masa kanak-
kanak memegang peranan penting dalam pembentukan
kepribadian.Orangtua terkadang bertindak terlalu banyak
untuk anak dan tidak memberi kesempatan anak untuk
berkembang, ada kalanya orangtua bertindak terlalu sedikit
dan tidak merangsang anak, atau tidak memberi bimbingan
dan anjuran yang dibutuhkannya.
3) Terapi
a. Medis
Obat-obatan yang digunakan untuk mengobati Skizofrenia
disebut antipsikotik.Antipsikotik bekerja mengontrol
halusinasi, delusi dan perubahan pola fikir yang terjadi
pada Skizofrenia.Pasien mungkin dapat mencoba beberapa
jenis antipsikotik sebelum mendapatkan obat atau

40
kombinasi obat antipsikotik yang benar-benar cocok bagi
pasien.Antipsikotik pertama diperkenalkan 50 tahun yang
lalu dan merupakan terapi obat-obatan pertama yang
efekitif untuk mngobati Skizofrenia.Terdapat 3 kategori
obat antipsikotik yang dikenal saat ini, yaitu antipsikotik
konvensional, newer atypical antipsycotics, dan Clozaril
(Clozapine) (Baihaqi, 2007).
b. Keperawatan
Seperti memberi berbagai terapi, antara lain:
a. Terapi Psikososial
Terapi psikososial dimaksudkan penderita agar
mampu kembali beradaptasi dengan lingkungan
sosial sekitarnya dan mampu merawat diri, mampu
mandiri tidak tergantung pada orang lain sehingga
tidak menjadi beban bagi keluarga dan masyarakat.
Penderita selama ini menjalani terapi psikososial ini
hendaknya masih tetap mengkonsumsi obat
psikofarmaka sebagaimana juga halnya waktu
menjalani psikoterapi.Kepada penderita diupayakan
untuk tidak menyendiri, tidak melamun, banyak
kegiatan dan kesibukan, banyak bergaul (Kaplan
and Sadock, 2010).
b. Terapi Perilaku
Teknik perilaku menggunakan hadiah ekonomi dan
latihan keterampilan sosial untuk meningkatkan
kemampuan sosial, latihan praktis dan komunikasi
interpersonal. Jenis-jenis psikoterapi perilaku adalah
latihan ketrampilan perilaku melibatkan penggunaan
kaset video orang lain dan pasien, permainan
simulasi (role playing) dalam terapi dan pekerjaan
rumah tentang ketrampilan yang dilakukan (Kaplan
and Sadock, 2010).

41
c. Terapi berorientasi keluarga
Terapi ini sangat berguna karena pasien skizofrenia
seringkali dipulangkan dalam keadaan remisi
parsial, keluraga dimana pasien skizofrenia kembali
seringkali mendapatkan manfaat dari terapi keluarga
yang singkat namun intensif (setiap hari). Setelah
periode pemulangan segera, topik penting yang
dibahas didalam terapi keluarga adalah proses
pemulihan, khususnya lama dan kecepatannya.
Seringkali, anggota keluarga, didalam cara yang
jelas mendorong sanak saudaranya yang terkena
skizofrenia untuk melakukan aktivitas teratur terlalu
cepat. Rencana yang terlalu optimistik tersebut
berasal dari ketidaktahuan tentang sifat
skizofreniadan dari penyangkalan tentang keparahan
penyakitnya (Kaplan and Sadock, 2010).
d. Terapi kelompok
Terapi kelompok bagi skizofrenia biasanya
memusatkan pada rencana, masalah, dan hubungan
dalam kehidupan nyata.Kelompok mungkin
terorientasi secara perilaku, terorientasi secara
psikodinamika atau tilikan, atau suportif.Terapi
kelompok efektif dalam menurunkan isolasi sosial,
meningkatkan rasa persatuan, dan meningkatkan tes
realitas bagi pasien skizofrenia. Kelompok yang
memimpin dengan cara suportif, bukannya dalam
cara interpretatif, tampaknya paling membantu bagi
pasien skizofrenia (Kaplan and Sadock, 2010).
e. Psikoterapi individual
Hubungan antara dokter dan pasien adalah berbeda
dari yang ditemukan di dalam pengobpasien non-
psikotik.Menegakkan hubungan seringkali sulit

42
dilakukan; pasien skizofrenia seringkali kesepian
dan menolak terhadap keakraban dan kepercayaan
dan kemungkinan sikap curiga, cemas, bermusuhan,
atau teregresi jika seseorang mendekati.
Pengamatan yang cermat dari jauh dan rahasia,
perintah sederhana, kesabaran, ketulusan hati, dan
kepekaan terhadap kaidah sosial adalah lebih
disukai daripada informalitas yang prematur dan
penggunaan nama pertama yang merendahkan diri.
Kehangatan atau profesi persahabatan yang
berlebihan adalah tidak tepat dan kemungkinan
dirasakan sebagai usaha untuk suapan, manipulasi,
atau eksploitasi (Kaplan and Sadock, 2010).

4) Intervensi menurut jurnal


a. Selft efficacy keluarga
Selft efficacy keluarga penting untuk meningkatkan
fungsi keluarga dan menurunkan beban keluarga.Sebagian
besar menyebutkan bahwa dari berbagai intervensi yang
dilakukan secara signifikan mampu menigkatkan selft
efficacy keluarga.Keluarga dengan self efficacy tinggi,
percaya bahwa akan mampu melakukan sesuatu untuk
mengubah kejadian-kejadian di sekitarnya, sedangkan
dengan self efficacy rendah merasa tidak mampu
mengerjakan segala sesuatu yang ada di sekitarnya. Dalam
situasi yang sulit, orang dengan self efficacy rendah
cenderung mudah menyerah, sedangkan orang dengan self
efficacy tinggi akan berusaha lebih keras untuk mengatasi
tantangan yang ada.
b. Terapi music
Menurut penelitian Gold mengenai efektifitas terapi
musik sebagai terapi tambahan pada pasien skizofrenia.

43
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terapi musik
yang diberikan sebagai terapi tambahan pada perawatan
standar dapat membantu meningkatkan kondisi mental
pasien skizofrenia.(Gold, 2005) Penelitian lain juga
telah dilakukan oleh Ulrich,dkk (2007) yaitu
menggunakan terapi musik untuk kelompok pasien
skizofrenia, didapatkan hasil bahwa terapi musik dapat
mengurangi gejala negatif dan meningkatkan kontak
interpersonal serta meningkatkan kemampuan pasien
untuk beradaptasi dengan lingkungan sosial di
masyarakat.
5. Gangguan mood
Gangguan mood pada anak-anak semakin dikenali dan menjadi
fokus perhatikan selama beberapa dekade karena selain menjadi salah
satu penyebab sakit terbanyak di negara maju, angka kejadian gangguan
mood pada kelompok usia muda mengalami peningkatan dari tahun ke
tahun.1,2Gangguan mood yang terjadi pada anak dapat mengakibatkan
gangguan fungsi kognitiv, emosional, dan perkembangan sosial seorang
anak sehingga secara tidak langsung mengganggu aktivitas akademik
seorang anak.3
Yang termasuk dalam gangguan mood pada anak menurut Kaplan
ialah gangguan depresi berat, gangguan distimik dan gangguan bipolar.
Gangguan depresi berat merupakan gangguan mood yang paling
banyak terjadi pada kelompok usia muda yakni anak-anak dan remaja.4
Sekitar 8-10% gangguan depresi terjadi pada anak-anak sedangkan
untuk gangguan mood bipolar lebih banyak terdapat pada kelompok
usia remaja5.
Gangguan mood pada anak dan remaja semakin dikenali sehingga
insiden depresi meningkat secara dramatis dalam 40 sampai 50 tahun
terakhir ini.
Depresi pada anak dan remaja jarang dikenal di Amerika Utara
sebelum 1970, karena anak dianggap terlalu muda untuk mengalami

44
gangguan mood atau depresi, rasa bersalah, dan percaya diri yang
rendah.
Di Amerika, penyakit ini dilaporkan telah mengenai beribu-ribu
anak di bawah usia 18 tahun.6 Remaja diharapkan dapat melalui
periode ketegangan dan badai kehidupan (storm andstress) yang
ditandai dengan perubahan gangguan mood sebagai bagian dari
perkembangan normal.
Gangguan depresi merupakan gangguan mood depresi yang
berlangsung selama sekuarang-kurangnya dua minggu.Untuk
menegakkan diagnosis memerlukan empat simptom tambahan, seperti
gangguan tidur atau nafsu makan, kehilangan energi, perasaan tidak
berarti, pikiran untuk bunuh diri, dan sulit berkonsentrasi. Sehingga ia
kehilangan minat dan hampir disemua aspek kehidupannya.
Menurut (DSM IV) , gangguan depresi terbagi dalam 3 kategori, yaitu :

1. Gangguan depresi berat (mayor depressive disorder).Kriteria


diagnostik : didapatkan lima atau lebih simtom depresi selama dua
minggu. Kriteria terebut adalah suasana perasaan depresif hampir
sepanjang hari yang diakui sendiri oleh subjek ataupun observasi
orang lain (pada anak-anak dan remaja perilaku yang biasa muncul
adalah mudah terpancing amarahnya), kehilangan minat atau
perasaan senang yang sangat signifikan dalam menjalani sebagian
besar aktivitas sehari-hari, berat badan turun secara siginifkan
tanpa ada program diet atau justru ada kenaikan berat badan yang
drastis, insomnia atau hipersomnia berkelanjutan, agitasi atau
retadasi psikomotorik, letih atau kehilangan energi, perasaan tak
berharga atau perasaan bersalah yang eksesif, kemampuan berpikir
atau konsentrasi yang menurun, pikiran-pikiran mengenai mati,
bunuh diri, atau usaha bunuh diri yang muncul berulang kali,
distres dan hendaya yang signifikan secara klinis, tidak
berhubugan dengan belasungkawa karena kehilangan seseorang.

45
2. Gangguan distimik (dysthymic disorder)
Gangguan distimik adalah suatu bentuk depresi yang lebih
kronis tanpa ada bukti suatu episode depresi berat (dahulu disebut
depresi neurosis). Kriteria DSM IV untuk distemik: perasaan
depresi selama beberapa hari, paling sedikit dua tahun (atau satu
tahun pada anak-anak dan remaja); selama depresi, paling tidak
ada dua hal berikut yang hadir, yakni : tidak adanya nafsu makan
atau makan berlebihan, imsomnia atau hipersomnia, lemah atau
keletihan, percaya diri rendah, daya konsentrasi rendah, atau sulit
membuat keputusan, perasaan putus asa; selama dua tahun atau
lebih mengalami gangguan, tanpa adanya gejala-gejala selama dua
bulan; tidak ada episode manik yang terjadi dan kriteria gangguan
siklotimia tidak diketemukan; gejalagejala ini tidak disebabkan
oleh efek psikologis langsung dari kondisi obat atau medis;
signifikansi klinis distress (hendaya) atau ketidaksempurnaan
dalam fungsi.
3. Gangguan afektif bipolar atau siklomitik (bipolaraffective
illness or cyclothynic disorder).
Kriteria : kemunculan (atau memiliki riwayat pernah
menga-lami) sebuah episode depresi berat atau lebih; kemunculan
(atau memiliki riwayat pernah mengalami) paling tidak satu atau
episode hipomania; tidak ada riwayat episode manik penuh atau
episode campuran; gejala-gejala suasana perasaan bukan karena
skizofrenia atau menjadi gejala yang menutupi gangguan lain
seperti skizofrenia; gejalagejalanya tidak disebabkan oleh efek-
efek fisiologis dari substansi tertentu atau kondisi medis secara
umum; distress atau hendaya dalam funsi yang signifikan secara
klinis.
Sedangkan menurut Carlson, depresi pada remaja terbagi 2
tipe yakni tipe primer dan tipe sekunder. Tipe primer : bila tidak
ada gangguan psikiatrik sebelumnya, dan tipe sekunder : bila
gangguan yang sekarang mempunyai hubu-ngan dengan gangguan

46
psikiatrik sebelumnya. Pada gang-guan depresi yang sekunder
biasanya lebih kacau, lebih agresif, mempunyai lebih banyak
keluhan somatik, dan lebih sering terlihat mudah tersinggung,
putus asa, mempunyai ide bunuh diri, problem tidur, penurunan
prestasi sekolah, percaya diri yang rendah, dan tidak patuh
1) Gangguan Mood Pada Anak – Anak
a) Definisi
Gangguan mood merupakan suatu kondisi dimana emosi
yang muncul telah terdistorsi sehingga terlihat tidak sesuai
dengan situasi dan kondisi sekitarnya.Gangguan mood terdapat
pada anak di semua usia, terdiri atas pola gangguan mood yang
menetap; berkurangnya antusiase di dalam aktivitas permainan,
olah raga, pertemanan atau sekolah dan perasaan tidak berharga
menyeluruh.
Ekspresi mood yang terganggu beragam di antara anak-
anak sesuai dengan usianya. Pada anak usia < 6 tahun terdapat
kesulitan dalam mengutarakan perasaan mereka secara verbal,
sehingga saat mengalami keadaan depresi gejala yang biasanya
ditunjukkan adalah tampak lemah, kurangnya pancaran bahagia
dari mata, kesulitan dalam menaikan berat badan, serta
perkembangan yang terhambat.9 Anak usia 6-12 tahun yang
mengalami gangguan mood biasanya akan sulit berkonsentrasi
sehingga mengalami penurunan nilai akademis di sekolah,
mudah marah, menangis, dan terkadang terdapat ide-ide bunuh
diri yang tidak disadari oleh orangtua.
b) Epidemilogi
Gangguan mood meningkat seiring dengan meningkatnya
usia. Di Amerika Serikat, gangguan mood menempati urutan
kedua untuk jenis gangguan mental yang sering dialami anak
usia 10-14 tahun.10
Gangguan mood yang paling banyak terjadi pada anak
adalah gangguan depresi dan distimik. Angka gangguan

47
depresif berat pada anak-anak usia prasekolah diperkirakan
adalah sekitar 0,3% dalam masyarakat. Di antara anak-anak usia
sekolah dalam masyarakat, kira-kira 0,5-2% memiliki gangguan
depresi berat, dengan persentasi pada anak laki-laki dan
perempuan ialah sama, namun pada remaja angka kejadian
depresi berat lebih tinggi pada anak perempuan.5,11 Diantara
anak-anak dan remaja yang dirawat di rumah sakit, 20%
mengalami gangguan depresi berat, angka ini jauh lebih tinggi
dibandingkan dengan yang ditemukan di masyarakat.9 Sebuah
penelitian epidemiologi di India menunjukan prevalensi depresi
yang lebih tinggi pada anak-anak yaitu diantara 1,2% sampai
5,9%.
Di Amerika Serikat ganguan distimik lebih sering
dibandingkan dengan gangguan depresi berat pada anak usia
sekolah, prevalensinya berkisar antara 0,6-4,6%. Angka
kejadian gangguan distimik pada anak usia sekolah di Amerika
Serikat ialah 1,9%, sedangkan sebuah penemuan lain
mengemukakan angka gangguan distimik pada anak mencapai
2,5%. Anak usia sekolah dengan gangguan distimik
diperkirakan memiliki kemungkinan tinggi untuk berkembang
menjadi gangguan depresi berat setelah periode satu tahun.
Angka kejadian gangguan bipolar sangat rendah pada anak-
anak yaitu 1% dari populasi. Hal ini berbeda dengan angka
prevalensi gangguan bipolar pada remaja yang ternyata lebih
tinggi, yaitu sebanyak 2,5% remaja mengalami gangguan
bipolar I dan II dan 1,7% hanya mengalami gangguan manik.
Namun diantara remaja yang mengalami gangguan bipolar, 0,3
sampai 0,5% diantaranya melaporkan adanya episode gangguan
bipolar pada masa kanan.2 Sebuah penelitian retrospektif yang
dilakukan pada orang dewasa yang menderita gangguan bipolar
juga melaporkan bahwa 20% penderita mengalami onset gejala
bipolar pada usia < 10 tahun.14 Rendahnya prevalensi gangguan

48
bipolar pada anak mungkin disebabkan karena terdapat
kesulitan dalam membuat diagnosis. Diperlukan waktu
beberapa tahun untuk mendiagnosis bipolar karena mania
biasanya terlihat untuk pertama kalinya pada masa remaja.
c) Etilogi
I. Factor genetik
Gangguan mood pada anak, remaja dan dewasa
cenderung berkumpul di dalam keluarga yang sama.
Peningkatan insidensi gangguan mood biasanya
ditemukan pada anak-anak dari orangtua dengan
gangguan mood.Sebuah penelitian mengungkapkan,
memiliki satu orang tua yang mengalami gangguan
depresi meningkatkan resiko dua kali bagi anak-
anaknya untuk mengalami gangguan mood. Sedangkan
jika kedua orang tua mengalami gangguan depresi
resiko bagi anak-anaknya untuk mengalami gangguan
mood sebelum usia 18 tahun meningkat menjadi empat
kali lipat. Hal tersebut juga telah dibuktikan oleh
Wender yang melakukan penelitian terhadap 71 anak
adopsi dengan gangguan depresi berat, ia menemukan
bahwa orangtua dari anak-anak tersebut memiliki
riwayat gangguan depresi berat. Peningkatan insiden
gangguan mood juga ditemukan pada anak dengan
saudara kembar yang memiliki gangguan mood.
Seorang anak kembar dengan saudara yang memiliki
gangguan depresi berat yang terlahir dari satu sel telur
(monozygot) mempunyai resiko 64% untuk memiliki
gangguan depresi mayor sedangkan jika kembar dari
dua sel telur (dizygot) mempunyai resiko 24% untuk
mengalami gangguan depresi berat. Untuk gangguan
mood bipolar resikonya ialah 79% untuk kembar
monozygot dan 19% untuk kembar dizygot.

49
Belum ada penelitian yang mengidentifikasi gen
spesifik yang menyebabkan gangguan mood. Namun
diduga peran gen yang mengatur neurotransmitter
serotonin dan dopamine berhubungan dengan gangguan
mood pada anak.

II. Factor neurologis


Peran neorobiologis dalam gangguan mood
berfokus pada kerja neurotansmitter dopaminergic,
adrenergic dan serotoniergic.Kajian mengenai hubungan
gangguan mood dan ketiga neurotransmitter ini lebih
banyak dibahas secara farmakologis.Salah satu hipotesis
yang dipakai untuk menjelaskan pengaruh
neurotransmitter ini adalah “monoamine
hypothesis”.Dikatakan bahwa depresi merupakan
dampak dari berkurangnya level monoamine (domapin
dan serotonin) dalam otak sedangkan manik merupakan
dampak dari meningkatnya aktivitas kedua
neurotransmitter tersebut.
Penelitian lain mengungkapkan bahwa anak-anak
prapubertas yang berada dalam episode gangguan mood
secara signifikan menyekresikan lebih banyak hormon
pertumbuhan saat tidur dibandingkan anak normal dan
mereka dengan gangguan jiwa bukan depresi. Hormon
pertumbuhan yang disekresikan lebih banyak saat tidur
menyebabkan penurunan serotonin pada axsis
hypothalamus.
Studi baru-baru ini mengevaluasi pemindaian
magnetic resonance imaging (MRI) pada lebih dari 100
anak yang dirawat di rumah sakit psikiatri dengan
gangguan mood, menunjukkan penurunan volume lobus
frontalis dan meningkatnya volume ventrikel. Hasil ini

50
sesuai dengan temuan MRI pada orang dewasa dengan
depresi berat.
Beberapa teori neurobiologi dan neurokimiawi
tentang mekanisme gangguan mood memberikan
gambaran bahwa gangguan mood mempengaruhi
berbagai aspek yaitu kognitf, emosional, somatik, dan
pola tidur.
III. Factor social
Bukti dari penelitian epidemiologi mengindikasikan
bahwa faktor lingkungan seperti paparan terhadap
situasi yang penuh tekanan dapat memicu terjadinya
gangguan mood terutama gangguan depresi berat.
Faktor keluarga dan lingkungan merupakan faktor
psikososial yang paling mempengaruhi gangguan mood
pada anak terutama gangguan depresi. Faktor keluarga
yang dapat menyebabkan depresi pada anak antara lain
kekerasan dalam rumah tangga, penolakan dan
rendahnya interaksi dalam keluarga, kehilangan atau
kematian salah satu anggota keluarga, perceraian orang
tua, serta orang tua yang mengalami depresi.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan tingginya
kekerasan dalam rumah tangga, seperti kemiskinan dan
penyalahgunaan zat oleh orangtua.Kedua faktor ini sulit
untuk ditanggulangi dan mempunyai efek yang
berkelanjutan sehingga anak yang berada dalam kondisi
rumah tangga seperti ini, lebih rentan mengalami
kondisi traumatik. Faktor lingkungan seperti banyaknya
tantangan dalam menjalani aktfitas keseharian,
pengalaman hidup yang menyebabkan trauma atau
tekanan, kurangnya dukungan sosial dan kurangnya
relasi dengan teman merupakan faktor yang berperan
dalam munculnya gangguan mood pada anak.

51
1. Gangguan depresi berat
a. Definisi
Gangguan Depresi Mayor atau MDD
dikarakteristikkan dengan kemunculan satu atau lebih dari
episode depresi tersebut yang masing – masing berlangsung
selama 2 minggu. Gangguan depresi berat pada anak-anak
didiagnosis lebih paling mudah ketika ganggan ini bersifat
akut. Awalnya mungkin akan sulit menentukan apakah
anak mengalami episode depresi tunggal atau episode rutin
karena gejala cenderung fluktuatif.
Ketika episode depresi berakhir harus ada waktu
dua bulan dimana anak tidak mengalami gejala apapun.
Meskipun kriteria yang sama digunakan untuk
mendiagnosa gangguan depresi mayor pada segala usia,
DSM V menyebutkan bahwa tidak seperti orang dewasa,
anak-anak dan remaja terlihat cenderung lebih cepat marah
daripada depresi. Anak-anak usia muda yang mengalami
depresi dan belum mampu mengungkapkan perasaan
mereka secara verbal sering terlihat sedih, lebih mudah
cemas, mudah marah dan sering mengeluhkan keluhan fisik
seperti pusing dan sakit perut.
Selain melihat tanda-tanda depresi dari kriteria
DSM, dokter juga dapat melakukan screening depresi
dengan menggunakan kuisioner “Center for Epidemiologic
Studies Depression Scale Modified for Children (CES-
DC)”.CES-DC berisi 20 pertanyaan mengenai gejala
depresi yang terjadi sejak seminggu sebelum pasien
datang.Hasil skor 16-23 mengindikasikan adanya depresi
ringan, skoe 24-30 mengindikasikan adanya depresi sedang
dan skor lebih dari 30 mengindikasikan adanya depresi
berat.Hasil skor positif depresi baik itu ringan merupakan

52
sebuah tanda diperlukannya evaluasi lebih lanjut oleh
pskiater.
Ganggunan fungsional yang berhubungan dengan
gangguan depresi pada masa anak-anak secara praktis
meliputi semua bidang dalam dunia psikososial anak,
prestasi sekolah dan perilaku, hubungan dengan teman
sebaya.Prestasi sekolah biasanya menurun karena sulitnya
konsentrasi, pikiran yang lambat, tidak adanya minat dan
motivasi, kelelahan, mengantuk, dan renungan
depresif.Depresi pada seorang anak mungkin keliru
didiagnosis sebagai suatu gangguan belajar. Masalah
belajar sekunder karena depresi, walaupun berlangsung
lama, akan membaik sendirinya setelah anak pulih dari
episode depresif.
Perlu diketahui juga bahwa gangguan depresi yang
dialami anak biasanya tidak berdiri sendiri. Gangguan
depresi biasanya berkomorbid dengan beberapa gangguan
lain. Beberapa anak dengan depresi biasanya memiliki
gangguan cemas menyeluruh (55%), fobia (45%) dan
gangguan panik karena perpisahan (9%).Gangguan panik
nyatanya merupakan faktor resiko terjadinya gangguan
depresi pada anak.Sebuah penelitian meta-analisis
menemukan bahwa anak dengan gangguan depresi berat
biasanya berkomorbid dengan gangguan cemas, gangguan
perilaku, serta gangguan hiperaktif dan pemusatan
perhatian (ADHD).
b. Phatofisiologi
Timbulnya depresi dihubungkan dengan peran
beberapa neurotransmitter aminergik.Neurotransmitter
yang paling banyak diteliti ialah serotonin. Pada depresi
telah diidentifikasi 2 sub tipe reseptor utama serotonin yaitu
reseptor 5HTIA dan 5HT2A. kedua reseptor inilah yang

53
terlibat dalam mekanisme biokimiawi depresi dan
memberikan respon pada semua golongan anti depresan.
Pada penelitian dibuktikan bahwa terjadinya depresi
disebabkan karena menurunnya pelepasan dan transmisi
serotonin (menurunnya kemampuan neurotransmisi
serotogenik).
Beberapa peneliti menemukan bahwa selain
serotonin terdapat pula sejumlah neurotransmitter lain yang
berperan pada timbulnya depresi yaitu norepinefrin,
asetilkolin dan dopamine. Sehingga depresi terjadi jika
terdapat defisiensi relatif satu atau beberapa
neurotransmitter aminergik pada sinaps neuron di otak,
terutama pada sistem limbik. Teori yang klasik tentang
patofisiologi depresi ialah menurunnya neurotransmisi
akibat kekurangan neurotransmitter di celah sinaps.Hal ini
didukung oleh bukti-bukti klinis yang menampilkan adanya
perbaikan depresi pada pemberian obat-obat golongan
SSRI yang mnghambat re-uptake dari neurotransmitter.
Selain itu beberapa pengobatan yang menurunkan kadar
dopamine seperti Respirin, dan penyakit dimana
konsentrasi dopamine menurun seperti parkinson
menunjukkan adanya gangguan depresi.
Gejala dan gangguan pada anak dengan depresi
Gejala depresi pada anak dan remaja dapat bervariasi.
Orangtua, pengasuh, guru dan orang-orang dekat lainnya
dalam kehidupan anak harus lebih waspada jika mendapati
anak mereka memiliki gejala-gejala depresi seperti dibawah
ini :
Tanda dan gejala :
1. Kesedihan dan keputusasaan yang menetap.
2. Mudah marah dan mengamuk.
3. Perubahan dalam pola makan dan tidur.

54
4. Penarikan diri dari pertemanan dan kegiatan
yang disukai.
5. Berkurangnya antusias, minat atau motivasi.
6. Berjalan atau berbicara sangat lamban atau
sangat gelisah.
7. Kesulitan membuat keputusan, sulit
berkonsentrasi atau mudah lupa.
8. Kurangnya penghargaan terhadap diri dan
perasaan bersalah.
9. Pikiran atau ungkapan ingin bunuh diri.
Gangguan
1. Sensitif yang berlebihan terhadap kritikan
atau penolakan.
2. Keluhan fisik yang sering ( sakit kepala dan
sakit perut).
3. Penyalahgunaan obat dan atau alkohol.
4. Bolos sekolah
5. Masalah dengan figur otoritas
6. Sulit bergaul dengan orang lain
2. Gangguan Distimia
a. Definisi
Distimia disebut juga dengan depresi tingkat rendah karena
penderitanya mengalami gejala yang tidak lebih parah namun
distimia terhitung lebih kronis dibadingkan MDD. Juga,
fluktuasi antara periode depresi dan remisi tidak begitu terlihat
sehingga menyulitkan untuk menentukan kapan periode-
periode itu dimulai dan berakhir. Gangguan harus berlangsung
minimal satu tahun tanpa ada peningkatan lebih dari dua bulan
pada saat itu. Dengan kata lain, kebanyakan anak-anak dengan
distimia memiliki gejala yang lebih rendah dari MDD yang
sedang berada dalam episode depresi. Namun demikian,

55
mereka bisa berbulan-bulan tanpa ada peningkatan yang
signifikan dengan moodnya.
DSM V TR menyebutkan bahwa anak dan remaja mood
yang mudah tersinggung dapat menggantikan kriteria mood
terdepresi untuk orang dewasa.Disamping itu untuk kriteria
durasi gangguan distimia pada anak adalah 1 tahun dan bukan
2 tahun seperti pada orang dewasa.Selama 2 tahun gejala
gangguan distimia tidak pernah menghilang selama lebih dari 2
bulan untuk sekali waktu dan tidak ada episode depresi berat
yang ditemukan selama 1 tahun. Disamping gangguan mood,
disebutkan dalam DSM sekurang-kurangnya 3 dari gejala
berikut harus menyertai mood yang terdepresi atau mudah
tersinggung: keyakinan diri yang buruk, pesimisme atau putus
asa, hilangnya minat, menarik diri dari lingkungan sosial,
kelelahan kronis, perasaan bersalah atau sedih tentang masa
lalu, mudah tersinggung atau marah yang berlebihan,
penurunan aktivitas atau produktivitas dan konsentrasi atau
daya ingat yang buruk.. Dalam jangka waktu yang lama hal ini
tentu saja dapat mengganggu fungsi keseharian.Dan karena
berlangsung kronis, gejala-gejala ini dapat saja terlihat seperti
sebuah kepribadian dibandingkan dengan gangguan psikologis.
b. Pathofisiologi
Patofisiologi gangguan distimia hampir sama pada
gangguan depresi. Penurunan neurotransmitter dopamin,
serotonin, asetilkolin dan norepinefrin merupakan penyebab
munculnya gangguan ini. Adanya riwayat gangguan distimik
dan depresi berat pada keluarga merupakan faktor resiko yang
tinggi munculnya gangguan distimik pada anak.
c. Kriteria diagnostic
 DSM V
o Mood depresi hampir sepanjang hari, untuk
beberapa hari lalu tidak, diindikasikan dengan

56
subjektif atau dilihat oleh orang lain, paling tidak
selama 2 tahun. Catatan : pada anak dan
remaja, mood sangat iritabel dan durasinya
minimal 1 tahun
1) Kondisi saat depresi, dua atau lebih :
1. Nafsu makan yang buruk atau berlebihan
2. Insomnia atau hipersomnia
3. Sedikit tenaga atau kelelahan
4. Harga diri yang rendah
5. Sulit berkonsentrasi atau kesulitan dalam membuat
suatu keputusan
6. Putus asa
2) Selama 2 tahun (1 tahun untuk anak) terdapat
gangguan, tidak pernah tanpa gejala-gejala pada kriteria
A dan B lebih dari 2 bulan pada satu waktu
3) Kriteria dari gangguan depresi mayor bisa muncul terus-
menerus selama 2 tahun.
4) Tidak pernah ada episode mania, episode campuran, atau
hipomania, dan tidak termasuk dalam gangguan
siklotimik.
5) Gangguan tidak terjadi saat terdapatnya gangguan
psikotik kronis, seperti skizofrenia atau gangguan
waham.
6) Gejala bukan karena efek fisiologis dari suatu zat
(penyalahgunaan obat-obatan terlarang, obat) atau
kondisi medis umum (hipertiroid).
7) Gejala menunjukkan dengan jelas distress dan gangguan
pada kehidupan sosial, pekerjaan, atau fungsi penting
lainnya.

57
3. Gangguan Bipolar I
a. Definisi
Perubahan mood pada gangguan bipolar umumnya disertai
oleh peningkatan energi dan level aktivitas; penurunan
kebutuhan untuk tidur, dan racing thoughts.Pressuredspeech
merupakan tanda eksternal dari racing thoughts, atau dalam
klinis disebut denganflight of ideas.Mood pada anak dan
remaja dengan bipolar basanya lebih tidak stabil dibandingkan
dengan orang dewasa dan menunjukan prognosis yang lebih
buruk. Dengan gaya perilaku seperti ini, anak dengan mania
akan sering terlibat dalam aktivitas menyenangkan yang
beresoko tinggi seperti penggunaan obat-obatan dan seks
bebas, sehingga mungkin mereka butuh dirawat di rumah sakit
untuk perlindungan diri mereka.
Bipolar I ditandai dengan adanya periode manik yang
biasanya didahului oleh suatu episode depresi berat. Menurut
DSM V, kriteria diagnostik untuk episode manik pada anak
dan remaja sama orang dewasa. Episode manik sering disertai
oleh perasaan berlebihanataukebesarandiriyang tidak
memilikidasar dalam kenyataan.Contohnya, seorang
remajadengannilai yang buruk dengan percaya diri
mengumumkan bahwadia akanmenjadi seorang pengacara atau
ketika gagaltes, dia mengatakan bahwa guru mengajar secara
tidak benar.
Episode manikatipikal kadang-kadang terlihat pada anak-
anak dengan riwayat keluarga adanya gangguan bipolar I
klasik.Episode manik atipikal teridiri dari variabilitas mood
yang ekstrim, perilaku agresif yang siklik, tingkat
distraktibilitas yang tinggi, dan rentang atensi yang buruk.
Anak dengangangguan bipolarakanbergantian
antaraperiode manikdansuasana hatiyang depresi. Manik
adalah keadaan suasana hati (mood) yang abnormal yang

58
memiliki dampak beresiko bagi anak-anak atau remaja yang
terkena, karena emosi mereka tidak sesuai dengan apa yang
terjadi dalam hidup mereka. Sehingga akan memisahkan
mereka dari orang yang mereka cintai atau bertindak
berbahaya.
b. Phatofisilogi
Penyebab gangguan Bipolar multifaktor. Mencakup aspek
bio-psikososial.Secara biologis dikaitkan dengan faktor genetik
dan gangguan neurotransmitter di otak.Secara psikososial
dikaitkan dengan pola asuh masa kana-kanak, stres yang
menyakitkan, stres kehidupan yang berat dan berkepanjangan,
dan faktor lainnya.
Sejak ditemukannya beberapa obat yang berhasil
meringankan gejala bipolar, peneliti mulai menduga adanya
hubungan neurotransmiter dengan gangguan bipolar.
Neurotransmiter tersebut adalah dopamine, serotonin , dan
noradrenalin. Gen-gen yang berhubungan dengan
neurotransmiter tersebut pun mulai diteliti seperti gen yang
mengkode monoamine oksidase A (MAOA), tirosin
hidroksilase, catechol-O-metiltransferase (COMT), dan
serotonin transporter (5HTT).
Kelainan pada otak juga dianggap dapat menjadi penyebab
gangguan bipolar.Terdapat perbedaan gambaran otak antara
kelompok sehat dengan penderita bipolar.Blumberg dkk pun
menemukan volume yang kecil pada amygdala dan
hipokampus.Korteks prefrontal, amygdala dan hipokampus
merupakan bagian dari otak yang terlibat dalam respon emosi
(mood dan afek).
c. Kriteria Diagnostik Bipolar I DSM V
1) Gangguan Bipolar I:
a) Kriteria memenuhi setidaknya satu episode manik
(kriteria A-D dalam “Episode Manik”)

59
b) Terjadinya episode manik dan episode depresi mayor
tidak dapat dijelaskan dengan gangguan skizoafektif,
skizofrenia, gangguan skizofreniform, gangguan
waham, atau spektrum skizofrenia spesifik atau tidak
spesifik lainnya, dan dengan gangguan psikotik
lainnya.Spesifikasi: dengan kecemasan, dengan
gambaran campuran, dengan siklus cepat, dengan
gambaran melankolis, dengan gambaran atipikal,
dengan gambaran psikotik, dengan katatonik, dengan
awitan pasca persalinan, dengan pola musiman.
2) Episode Manik DSM V
a) Mood elasi, ekspansif atau iritabel dan meningkatnya
aktivitas atau energi yang abnormal dan menetap,
berlangsung paling sedikit satu minggu dan muncul
hampir sepanjang hari, hampir setiap hari (atau
waktunya bisa kurang dari satu minggu bila dirawat
inap).
b) Selama periode gangguan mood dan peningkatan energi
atau aktivitas, tiga (atau lebih) dari gejala berikut ini
(empat jika mood hanya iritabel) menetap dengan
derajat yang signifikan dan menggambarkan perubahan
yang nyata dari perilaku biasanya :
1. Grandiositas atau meningkatnya kepercayaan diri
2. Berkurangnya kebutuhan tidur (merasa segar
dengan hanya tidur tiga jam)
3. Bicara lebih banyak dari biasanya atau adanya
desakan untuk tetap bicara
4. Loncatan gagasan atau pengalaman subjektif
adanya pikiran yang berlomba
5. Distraktibilitas (perhatian mudah teralih kepada
stimulus eksternal yang tidak relevan atau tidak
penting)

60
6. Meningkatnya aktivitas yang diarahkan ketujuan
(sosial, pekerjaan, sekolah, seksual) atau agitasu
psikomtor
7. Keterlibatan yang berlebihan dalam aktivitas yang
menyenangkan yang berpotensi merugikan
(misalnya, investasi bisnis yang kurang
perhitungan, hubungan seksual yang tidak aman,
sembrono di jalan raya, atau terlalu boros)
3) Gangguan mood sangat berat sehingga menyebabkan
hendaya yang jelas dalam fungsi pekerjaan, aktivitas
sosial yang biasa dilakukan, hubungan dengan orang
lain, atau memerlukan perawatan untuk menghindari
melukai diri sendiri atau orang lain, atau dengan
gambaran psikotik.
4) Gejala-gejala tidak disebabkan oleh efek fisiologik
langsung penggunaan zat (misalnya, penyalahgunaan
zat obat, atau terapi lainnya) atau kondisi medik
umum.
Catatan : Sebuah episode manik yang muncul selama
pengobatan antidepresan (misalnya obat-obatan atau terapi
elektrokonvulsif) tetapi tetap pada level gejala yang penuh
diluar efek fisiologis dari pengobatan adalah cukup
membuktikan untuk episode manik dan maka dari itu,
gangguan bipolar I dapat didiagnosis.
Catatan : Kriteria A-D merupakan episode manik.
Setidaknya satu episode manik seumur hidup harus
didiagnosis gangguan bipolar I.

 Episode Depresi Mayor DSM V


A. Lima (atau lebih) gejala berikut telah ditemukan selama
periode dua minggu yang sama dan mewakili perubahan
dari fungsi sebelumnya; sekurangnya satu dari gejala

61
adalah salah satu dari (1) mood terdepresi atau (2)
hilangnya minat atau kesenangan.
1. Mood terdepresi, hampir sepanjang hari, seperti
yang ditunjukkan oleh laporan subjektif (misalnya,
merasa sedih atau kosong) atau pengamatan yang
dilakukan oleh orang lain (misalnya, tampak
sedih). Catatan: pada anak-anak dan remaja,
berupa mood yang mudah tersinggung.
2. Hilangnya minat atau kesenangan secara jelas
dalam semua, atau hampir semua, aktivitas
sepanjang hari, hampir setiap hari (seoerti yang
ditunjukkan oleh keterangan subjektif atau
pengamatan yang dilakukan orang lain)
3. Penurunan berat makan yang bermakna jika tidak
melakukan diet atau penambahan berat badan
(misalnya, perubahan berat badan lebih dari 5%
dalam satu bulan), atau penurunan atau
peningkatan nafsu makan hampir setiap hari.
Catatan: pada anak-anak, pertimbangkan
kegagalan untuk mencapai pertambahan berat
badan yang diharapkan.
4. Insomnia atau hipersomnia hampir setiap hari
5. Agitasi atau retardasi psikomotor hampir setiap
hari (dapat dilihat oleh orang lain, tidak semata-
mata perasaan subjektif adanya kegelisahan atau
menjadi lamban)
6. Kelelahan atau hilangnya energi hampir setiap hari
7. Perasaan tidak berharga atau rasa bersalah yang
berlebihan atau tidak tepat (mungkin bersifat
waham) hampir setiap hari (tidak semata-mata
mencela diri sendiri atau menyalahkan karena
sakit)

62
8. Hilangnya kemampuan untuk berpikir atau
memusatkan perhatian, atau tidak dapat mengambil
keputusan, hampir setiap hari (baik oleh
keterangan subjektif atau seperti yang dilihat oleh
orang lain)
9. Pikiran akan kematian yang rekuren (bukan hanya
takut mati), ide bunuh diri yang rekuren tanpa
rencana spesifik, atau usaha bunuh diri atau
rencana khusus untuk melakukan bunuh diri.
B. Gejala menyebabkan penderitaan yang bermakna secara
klinis atau gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan atau
fungsi penting lain.
C. Gejala bukan karena efek fisiologis langsung dari suatu zat
atau suatu kondisi medis umum.

4. Tatalaksana Gangguan Mood pada Anak


1. Terapi Nonfarmakologi
Terdapat beberapa terapi nonfarmakologi yang
dapat dilakukan untuk mengatasi gangguan
mood pada anak, antara lain :
a. Cognitve Behavioral Therapy ( CBT )
Cognitive behavior therapy adalah usaha
yang dilakukan untuk mengubah perilaku yang tidak
pantas dengan memodifikasi pikiran atau kognisi
tentang suatu hal.Secara tidak langsung pendekatan
terapi ini adalah mengubah kepercayaan yang salah
agar dapat mempengaruhi perilaku yang lebih
positif. Dalam prakteknya pendekatan ini
mengandalkan pada sesi modeling dan role playing
atau melalui tugas mingguan berupa praktek yang
dilakukan oleh anak atau orang dewasa yang telah
mereka pelajari secara kognitif.

63
b. Interpersonal Therapy ( IPT )
Peran dari interpersonal therapy (IPT)
adalah untuk membantu anak yang tertekan dan
menarik diri agar mendapatkan sumber kekuatan
yang positif dalam rangka memerangi gangguan
mood.
Terapi ini terdiri dari 3 fase yaitu, fase
initial, middle, dan termination. Fase initial berfokus
untuk mendiagnosis gangguan pada pasien,
menggali hubungan pasien dengan keluarga atau
kelompok terdekatnya, dan mengidentifikasi
masalah yang akan menjadi focus utama terapi. Fase
middle terapis mengedukasi pasien tentang
hubungan antara mood dan masalah yang muncul.
Pasien juga belajar untuk menyelesaikan masalah
dan membangun relasi dengan sesama. Pada fase
termination pasien akan diajarkan tentang tanda dan
gejala bahaya yang dapat terjadi pada episode
depresi selanjutnya dan menjari strategi bagaimana
mengendalikan gejala-gejala tersebut.
c. Terapi Keluarga
Terapi keluarga ini sangat penting
mengingat gangguan mood yang terjadi pada anak
biasanya dipengaruhi oleh faktor salah satu atau
kedua orang tua yang juga mengalami gangguan
mood. Dalam terapi ini orangtua atau keluarga yang
bertindak sebagai keyperson dari anak akan diberi
edukasi bahwa gangguan mood merupakan
gangguan yang dapat diatasi dengan dukungan
positif dari keluarga.

64
2. Terapi Farmakologi
d. Antidepresan
Terapi line pertama untuk anak dengan
gangguan depresi sedang dan berat ialah terapi
farmakoterapi. Hingga saat ini satu-satunya
antidepresan yang sudah di akui oleh Food and Drug
Administration (FDA) untuk mengobati gangguan
depresi berat pada anak-anak diatas 7 tahun adalah
antidepresan golongan SSRI Fluoxetin dan
Escitalopram untuk anak-anak diatas 12 tahun.
Obat antidepresan lain yang biasanya digunakan di
klinik pada kelompok anak dan remaja adalah
Setraline dan Fluvoxamine. Sebuah penelitian
menemukan bahwa kombinasi terapi fluoxiten dan
CBT memberikan dampak perbaikan klinis yang
baik pada anak dengan gangguan depresi berat.
Pada tahun 2004, FDA mengeluarkan
sebuah label peringatan “Black Box”, untuk obat-
obat antridepresan yang dapat meningkatkan
keinginan atau ide atau tindakan bunuh diri pada
anak dan remaja dengan gangguan depresi berat atau
gangguan cemas. Beberapa obat antidepresan yang
termasuk dalam daftar black box antara lain
venlafaxine, mirtazepine dan nefazodone. Maka
dari itu monitoring penggunaan antidepresan pada
anak dan remaja sangatlah penting.
penelitian mengemukakan, obat
antidepresan selain golongan SSRI, yaitu Trisiklik
(imipramin, amitriptyline, dan nortriptilin) kurang
efektif dalam mengatasi gangguan depresi berat
pada anak dan remaja dan dapat menyebabkan efek
samping yang fatal pada anak berupa kematian

65
jantung mendadak. Selain itu antidepresan golongan
trisiklik mempunyai resiko kematian tinggi apabila
digunakan melebihi dosis anjuran.
Untuk gangguan distimia, terapi farmakologi
yang digunakan sama dengan terapi pada gangguan
depresi. Karena distimia bersifat lebih kronis, terapi
farmakologi yang diberikan akan lebih lama
dibandingkan gangguan depresi lainnya. Terdapat
beberapa kriteria penggunaan antidepresan untuk
gangguan distimia pada anak, diantaranya adanya
penurunan fungsi psikososial yang berat, adanya
kemunculan dari episode depresi berat, tidak
berespon terhadap psikoterapi, adanya komorbiditas
dan adanya stressor psikososial.
Gangguan ini jarang terjadi pada masa anak-anak dan
remaja dibanding pada orang dewasa (Kelter, 1999).Prevalensi
pada anak-anak dan remaja berkisar antara 1% sampai 5% untuk
gangguan depresi.Eksistensi gangguan bipolar (jenis manik) pada
anak-anak masih kontroversial.Prevalensi penyakit bipolar pada
remaja diperkirakan 1%. Gejala depresi pada anak-anak sama
dengan yang diobservasi pada orang dewasa.
Bunuh diri.Adanya gangguan mood merupakan faktor yang
serius untuk bunuh diri.Bunuh diri adalah penyebab kematian
utama ketiga pada individu berusia 15 sampai 24 tahun. Tanda-
tanda bahaya bunuh diri pada remaja meliputi menarik diri secara
tiba-tiba, berperilaku keras atau sangat memberontak,
menyalahgunakan obat atau alkohol, secara tidak biasanya
mengabaikan penampilan diri, kualitas tugas-tugas sekolah
menurun, membolos, keletihan berlebihan dan keluhan somatic,
respon yang buruk terhadap pujian, ancaman bunuh diri yang
terang-terangan secara verbal, dan membuang benda-benda yang
didapat sebagai hadiah ( Newman, 1999)

66
2) Gangguan Mood Pada Remaja
a) Definisi
Gangguan mood merupakan suatu masalah psikiatri yang
muncul dari adanya gangguan depresi. Depresi adalah suatu
gangguan keadaan tonus perasaan yang secara umum ditandai oleh
rasa kesedihan, apatis, pesimis, dan kesepian. Keadaan ini sering
disebutkan dengan istilah kesedihan (sadness), murung (blue), dan
kesengsaraan dalam ketentuan Diagnostik and statistical manual of
mental disorder (DSM IV), gangguan mood adalah depresi mayor,
gangguan distemik, dan gangguan bipolar.

Kasus gejala depresi pada masa remaja merupakan prediksi


yang kuat untuk timbulnya depresi pada masa dewasa kemudian
hari. Jumlah penderita anak laki-laki dan perempuan hampir sama.
Usia rerata serangan awal semakin menurun. Pada usia remaja,
perempuan lebih sering berulang dan kejadiannya dua kali lipat
dibanding dengan anak laki-laki, serta lebih dari separohnya
dilaporkan pernah berulang dalam kurun waktu tujuh tahun.
Insiden anak prapubertas diperkirakan 1.5%-2.5% dan menjadi
4%-5% pada masa remaja. Dalton dan Forman melaporkan insiden
gangguan depresi berat pada anak prapubertas 1.8%, remaja 3.5%-
5%, dan anak perempuan lebih banyak dari laki-laki. Gangguan
mood pada anak dan remaja semakin dikenali sehingga insiden
depresi meningkat secara dramatis dalam 40 sampai 50 tahun
terakhir ini. Depresi pada anak dan remaja jarang dikenal di
Amerika Utara sebelum 1970, karena anak dianggap terlalu muda
untuk mengalami gangguan mood atau depresi, rasa bersalah, dan
percaya diri yang rendah. Di Amerika, penyakit ini dilaporkan
telah mengenai beribu-ribu anak di bawah usia 18 tahun.6 Remaja
diharapkan dapat melalui periode ketegangan dan badai kehidupan
(storm and stress) yang ditandai dengan perubahan gangguan
mood sebagai bagian dari perkembangan normal.

67
b) Etiologi
Depresi merupakan sekolompok penyakit gangguan mood dengan
dasar yang sama. Beberapa faktor yang diduga berpengaruh
terhadap etiologi depresi, khususnya pada anak dan remaja adalah :
1. Faktor genetic
Meskipun penyebab depresi secara pasti tidak dapat
ditentukan, faktor genetik mempunyai peran terbesar.
Gangguan mood cenderung terdapat dalam suatu keluarga
tertentu. Bila suatu keluarga salah satu orang tuanya menderita
depresi, maka anaknya berisiko dua kali lipat dan apabila
kedua orang tuanya menderita depresi maka risiko untuk
mendapat gangguan mood sebelum usia 18 tahun menjadi
empat kali lipat.
2. Faktor social
Hasil penelitian menunjukkan bahwa status perkawinan
orang tua, jumlah sanak saudara, status sosial keluarga,
perpisahan orangtua, perceraian, fungsi perkawinan, atau
struktur keluarga banyak berperan dalam terjadinya gangguan
depresi pada anak. Ibu yang menderita depresi lebih besar
pengaruhnya terhadap kemungkinan gangguan psikopatologi
anak dibandingkan ayah yang mengalami depresi. Pada tahun
1998, levitan dkk dan tahun 1999, weiss dkk melaporkan
adanya hubungan yang signifikan antara riwayat penganiayaan
fisik atau seksual dengan depresi, tetapi mekanismenya belum
diketahui secara pasti.
3. Faktor biologis lainnya
Dua hipotesis yang menonjol mengenai mekanisme
gangguan mood terfokus pada terganggunya regulator sistem
monoamine-neurotransmiter, termasuk noreepinefrin dan
serotonin (5-hidroxytriptamine).

Hipotesis lain mengatakan bahwa depresi yang terjadi


erat hubungannnya dengan perubahan keseimbangan adre-

68
nergic-asetilkolin yang ditandai dengan meningkatnya
kolinergik, sementara dopamin secara fungsional menu-run.

c) Epidemilogi

Gangguan afektif kurang umum pada anak prepubertas dari


pada remaja. Pada prepubertas, prevalensi titik gangguan depresi berat
berkisar 1.8%-2.5%, gangguan distimik 2.5% dan gangguan bipolar
0.2%-0.4%. Pada remaja, prevalensi titik gangguan depresi berat
diperkirakan 2.9-4.7%, gangguan distimik 1.6%-8.0%, dan gangguan
bipolar 1%. Kejadian pada jenis kelamin, tidak adanya perbedaan
perempuan dan laki-laki pada prepubertas, tapi perempuan lebih
sering dibanding laki-laki pada remaja. Rasio remaja perempuan
dibandingkan laki-laki adalah 2:1. Kejadian gangguan depresi pada
remaja bervariasi tergantung dari kelompok umur. Kejadian depresi
makin meningkat dengan bertambahnya umur anak.

Di Amerika didapatkan gejala depresi pada remaja umur 11-13


tahun (remaja awal) lebih ringan secara bermakna dibandingkan
dengan gejala depresi pada umur 14-16 tahun (remaja menengah) dan
17-18 tahun (remaja akhir). Prevalensi gangguan depresi pada remaja
dengan depresi berat 0.4%-6.4%, gangguan distimik 1.6%-8% dan
gangguan bipolar 1%. Sekitar 40%-70% komorbiditas dengan
gangguan jiwa lain (penyimpangan pemusatan perhatian dan
hiperaktif, anxietas, anoreksia nervosa, problem sekolah). 50%
populasi memiliki dua atau lebih dari dua gangguan jiwa lain.

d) Gejala Klinis
Gambaran klinis yang tampak dipengaruhi oleh usia dan
pengalaman psikologis anak.8 Perbedaan gejala klinis pada anak dan
remaja menurut Ryan dkk (1987) bahwa gambaran depresi pada anak
dengan keluhan somatik, agitasi psikomotor, cemas perpisahan, dan
fobia, sedangkan pada remaja dengan keluhan anhedonia, hipersomnia,
putus asa, perubahan berat badan, dan penyalahgunaan obat.

69
Gejala klinis depresi
a. Mood dismorfik (labil dan mudah tersinggung).
Gejolak mood pada remaja adalah normal, tetapi ada
kondisi depresi menjadi lebih nyata. Mood yang dismorfik dan
sedih lebih sering tampak. Kecenderungan untuk marah-marah dan
perubahan mood meningkat.
b. Pubertas.
Depresi kronis yang dialami sejak masa remaja awal,
kemungkinan akan mengalami kelambatan pubertas, terutama pada
depresi yang disertai dengan kehilangan berat badan dan anoreksia.
Remaja yang mengalami depresi lebih sulit menerima atau
memahami tanda-tanda pubertas yang muncul.
c. Perkembangan kognitif.
Disorganisasi funsi kognitif pada remaja yang bersifat
sementara, menjadi lebih nyata pada kondisi depresi. Pada remaja
awal yang mengalami depresi, terdapat keterlambatan
perkembangan proses pikir abstrak yang biasanya muncul usia
sekitar 12 tahun.
d. Harga diri.
Pada remaja, kondisi depresi memperkuat perasaan rendah diri.
Rasa putus asa dan rasa tidak ada yang menolong dirinya makin
merendahkan harga diri. Pada suatu saat remaja depresi mencoba
untuk melawan perasaan rendah dirinya dengan penyangkalan,
fantasi, atau menghindari kenyataan realitas dengan menggunakan
NAPZA (Narko-tika, psikotropika, dan zat adiktif) lainnya.
e. Berat badan.
Penurunan berat badan yang cepat dapat merupakan indi-
kasi adanya depresi. Harga diri yang rendah dan kurangnya
perhatian pada perawatan dirinya, atau makan yang berle-bihan
dapat menyebabkan obesitas, merupakan tanda dari depresi.
f. Perilaku antisosial.

70
Membolos, mencuri, berkelahi, sering mengalami kecela-
kaan, yang terjadi terutama pada remaja yang sebelumnya
mempunyai riwayat perilaku yang baik, mungkin merupakan
indikasi adanya depresi.
g. Perilaku sosial.
Secara umum remaja yang mengalami depresi tidak
menunjukkan minat untuk berkencan atau mengadakan interaksi
heteroseksual.
h. Kesehatan fisik.
Remaja yang mengalami depresi, tampak pucat, lelah dan
tidak memancarkan kegembiraan dan kebugaran. Perilaku bunuh
diri. Remaja yang mengalami depresi mempunyai kerentanan
tinggi terhadap bunuh diri. Penelitian di Kentucky (Amerika
Serikat), menyebutkan sekitar 30% dari mahasiswa tingkat
persiapan dan pelajar sekolah menengah atas pernah berpikir serius
tentang percobaan bunuh diri dalam satutahun terakhir.
e) Pemeriksaan penunjang
Diagnosis depresi pada remaja tidak sejelas seperti penyakit lain.
Tidak ada tes khusus yang dapat membantu menentukan bahwa
seseorang individu menderita depresi, dan sangat sedikit yang dapat
ditentukan penyebabnya Faktor neuroendokrin dapat mempengaruhi
kejadian depresi, sehingga dapat mempengaruhi kejadian depresi,
sehingga dapat dilakukan deksametason suppression test (DST) berupa
sekresi berlebihan kortisol, kadar hormon pertumbuhan menurun jika
diberi insulin-induced hypoglicemia, kadar tiroksin total lebih rendah,
peningkatan sekresi kortisolpada malam hari.
f) Terapi
Perawatan di rumah sakit perlu dipertimbangkan sesuai dengan
indikasi, misalnya penderita cenderung mau bunuh diri, atau adanya
penyalahgunaan atau ketergantungan obat.

Pada umumnya, penderita berhasil ditangani dengan rawat jalan :

71
1. Gangguan depresi berat (mayor depressive disorder ). Psikoterapi
dan farmakoterapi yang efektif dalam mengobati depresi di masa
kecil dan remaja. Psikoterapi ini terutama penting untuk pasien
dengan diagnosis ganda atau precipitants terkait dengan gangguan
keluarga atau konflik, meskipun anak-anak ini cenderung memiliki
penyakit refraktori. Terapi perilaku-kognitif (12-16 minggu) efektif
sekitar 40%-50% kasus depresi remaja. Kombinasi terapi dengan
hasil terapi fluoxetine dan kognitif-perilaku pada perbaikan klinis
yang signifikan dalam 71% pada remaja. Tingkat perbaikan melebihi
dari pendekatan lain, seperti pengobatan dengan fluoxetine tunggal
(61%) atau terapi perilaku-kognitif tunggal (43%). Pencegahan
adalah awal dalam penatalaksanaan depresi. Gangguan mood
(depresi dan gangguan bipolar) berhubungan dengan
penyalahgunaan obat . Dokter anak harusmemberitahu kepada
keluarga tentang hubungan antara gangguan mood dengan
penyalahgunaan obat dan tampilan remaja yang memiliki satu
atau lebih episode depresi untuk penyalahgunaan obat pada setiap
kunjungan. Ada juga bukti bahwa keluarga adalah awal untuk
diintervensi sebagai pencegahan timbulnya depresi pada faktor
keturunan dari orang tua. Dokter anak secara rutin harus melihat
tampilan untuk depresi peripartum. Ketika dokter anak
mengidentifikasi depresi orangtu atau riwayat keluarga termasuk
depresi pada salah satu saudara , diintervensi untuk pencegahan.

72
Tabel 2.1 Farmakoterapi untuk Anak dan Remaja dengan Gangguan Depresi
berat

Nama Nama Sediaan Dosis Efek Samping


Generik Dagang (mg) target(mg)
Selective Serotonine Reuptake Inhibitor (SSRI)
Fluoxetin Prozac 10, 20, 40 20-60 Gejala gastrointestinal, kegelisahan,
pusing, penurunan / peningkatan
nafsu makan, perubahan pola tidur,
penurunan libido
Sertraline Zoloft 25, 50, 100 50-200 Sama seperti fluoxetin

Escitalopram Lexapro 5, 10, 20 10-20 Sama seperti fluoxetin


Fluvoxamine Luvox 25, 50, 100 50-300 Sama seperti fluoxetin
Citalopram Celexa 10, 20, 40 20-40 Sama seperti fluoxetin, ditambah
gejala flu, rhinitis, mual, sakit perut,
kelelahan, diare, sakit punggung.
Paroxetein Paxil 10, 20, 30, 20-50 Sama seperti fluoxetin, ditambah
40 mual, sakit kepala, mulut kering,
somnolen.
Tricylic Antidepresant (TCIAs)
Amitriptylin Elavil 10, 25, 50, 100 Perubahan berat badan, konstipasi,
75, 100, kembung, penurunan nafsu makan,
150 mulut kering, pusing, kelelahan,
somnolen, penglihatan kabur
Imipramie Tofranil 10, 25, 50 200 Sama seperti amitriptylin

2. Gangguan distimik (dysthymic disorder)


Farmakoterapi antidepresan berguna dalam pengobatan pasien
gangguan distemik. Antidepresan sangat membantu dengan kondisi gejala
depresi vegetatife. Apabila gejala gangguan distemik berhubungan dengan
gejala seperti anoreksia, gangguan somatis, gangguan penyalahgunaan

73
obat, dan penyakit fisik lain. Kondisi ini memerlukan intervensi. Sehingga
diperlukan gabungan yang dinamis antara psikoterapi dan farmakoterapi.

3. Gangguan afektif bipolar atau siklotimik


Psikoterapi lebih diperlukan pada gangguan bipolar diban-dingkan
farmakoterapi sebagai terapi kedua. Pada gatakan pemberian litium karbonat
efektif sebagai pengobatan gangguan bipolar dan manik. Dosis awal yang
diberikan secara oral 1.0-1.2 mEq/L, dan dilan-jutkan dosis pemeliharaan 0.5-
0.8 mEq/L. Sebelum diberikan terapi ini diwajibkan pemeriksaan fungsi ginjal
dan kadar tiroid dalam darah. Asam valproat (anti epilepsi) juga dapat
digunakan sebagai pengobatan gangguan bipolar. Kebanyakan dokter anak
menggunakan asam valproat sebagai pengobatan farmakoterapi pada pasien
gangguan bipolar, walaupun berpotensi berbahaya bagi faal hati dalam darah.
Sehingga diperlukan pemeriksaan faal hati sebelum pemberian obat asam
valproat.

Prognosis

Kegagalan pengobatan depresi berat dan terus berlangsung dalam


kurun waktu 7-12 bulan akan berdampak recurent atau menjadi episode
depresi berulang dengan gangguan sosial yang persisten antara dua
episode. Usaha bunuh diri (suicide attempt) dan bunuh diri (suicide)
merapukan komplikasi yang sering timbul. Semakin muda usia mulainya
depresi, semakin jelek prognosisnya, tetapi erat hubungannya dengan
faktor genetik. Anak yang mengalami depresi berat cenderung untuk
menderita dpresi berat berulang dan gangguan bipolar. Kebanyakan yang
sembuh dalam beberapa bulan, kembali relaps 1-2 tahun kemudian.36

6. Gangguan penyalahgunaan zat


a. Gangguan ini banyak terjadi ; diperkirakan 32% remaja menderita
gangguan penyalahgunaan zat (Johnson, 1997). Angka
penggunaan alcohol atau zat terlarang lebih tinggi pada anak laki-
laki dibanding perempuan. Risiko terbesar mengalami gangguan
ini terjadi pada mereka yang berusia antara 15 sampai 24 tahun.

74
Pada remaja, perubahan penggunaan zat dapat berkembang
menjadi ketergantungan zat dalam waktu 2 tahun sedangkan pada
orang dewasa membutuhkan waktu antara 15 sampai 20 tahun.
b. Komorbiditas dengan gangguan psikiatrik lainya merupakan hal
yang banyak terjadi, termasuk gangguan mood, gangguan
ansietas, dan gangguan perilaku disruptif.
c. Tanda bahaya penyalahgunaan zat pada remaja, diantaranya
adalah penurunan fungsi sosial dan akademik, perubahan dari
fungsi sebelumnya, seperti perilaku menjadi agresif atau menarik
diri dari interaksi keluarga, perubahan kepribadian dan toleransi
yang rendah terhadap frustasi, berhubungan dengan remaja lain
yang juga menggunakan zat, menyembunyikan atau berbohong
tentang penggunaan zat.

Tabel 2.2 Farmakoterapi untuk Aak dan Remaja dengan Gangguan Bipolar

Nama Generik Nama Dagang Dosis Target (mg) Efek Samping


Lithium Serum level of 1,8 – 1,2 Abnormal EEG, diare,
meq/L mual/muntah, kelemahan otot,
tremor, mengantuk, scotoma,
albuminuria, polyuria, glycosuria,
jerwat, hypotiroid.
Valproate Serum level of 80-120 Alopecia, trombocitopenia,
µg/mL toksisitas hati, pancreatitis.
Kejang pada dosis tinggi
CLozapine 200-400 Peningkatan berat badan/sindrom
metabolik, agranulotosis,
cardiactoxicity
Olanzapine 10-20 Peningkatan berat badan/sindrom
metabolik
Quetiapine 400-600 Peningkatan berat badan/sindrom
metabolic, sedasi, hipotensi
ortostatik

75
Risperidone 1-2 Peningkatan berat badan/sindrom
metabolik, sindrom extrapiramidal
pada dosis tinggi

2.4 Etiologi Gangguan Psikiatrik Pada Anak-Anak Dan Remaja


Tidak ada penyebab tunggal dalam gangguan mental pada anak-anak dan
remaja.Berbagai situasi, termasuk faktor psikobiologik, dinamika keluarga,
dan faktor lingkungan berkombinasi secara kompleks.
1. Faktor-Faktor Psikobiologik
a. Riwayat genetika keluarga
Seperti retardasi mental, autisme, skizofrenia kanak-kanak,
gangguan perilaku, gangguan bipolar, dan gangguan ansietas.

b. Abnormalitas struktur otak


c. Penelitian menemukan adanya abnormalitas struktur otak dan
perubahan neurotransmitter pada pasien yang menderita autisme,
skizofrenia kanak-kanak, dan ADHD.
d. Pengaruh prenatal
Seperti infeksi maternal, kurangnya perawatan pranatal, dan ibu
yang menyalahgunakan zat, semuanya dapat menyebabkan
abnormalitas perkembangan saraf yang berkaitan dengan gangguan
jiwa.Trauma kelahiran yang berhubungan dengan berkurangnya
suplai oksigen pada janin sangat signifikan dalam terjadinya
retardasi mental dan gangguan perkembangan saraf lainnya.
e. Penyakit kronis atau kecacatan dapat menyebabkan kesulitan
koping bagi anak.
2. Dinamika keluarga
a. Penganiayaan anak.
Anak yang terus-menerus dianiaya pada masa kanak-kanak
awal, perkembangan otaknya kurang adekuat (terutama otak

76
kiri).Penganiayaan dan efeknya pada perkembangan otak berkaitan
dengan berbagai masalah psikologis, seperti depresi, masalah
memori, kesulitan belajar, impulsivitas, dan kesulitan dalam
membina hubungan (Glod, 1998).
b. Disfungsi sistem keluarga
Mis.kurangnya sifat pengasuhan, komunikasi yang buruk,
kurangnya batasan antar generasi, dan perasaan terjebak disertai
dengan keterampilan koping yang tidak adekuat antar anggota
keluarga dan model peran yang buruk dari orang tua.
3. Faktor lingkungan
a. Kemiskinan
Perawatan pranatal yang tidak adekuat, nutrisi yang buruk,
dan kurang terpenuhinya kebutuhan akibat pendapatan yang tidak
mencukupi dapat memberi pengaruh buruk pada pertumbuhan dan
perkembangan normal anak.
b. Tunawisma
Anak-anak tunawisma memiliki berbagai kebutuhan
kesehatan yang memengaruhi perkembangan emosi dan psikologi
mereka.Berbagai penelitian menunjukkan adanya peningkatan
angka penyakit ringan kanak-kanak, keterlambatan perkembangan
dan masalah psikologis diantara anak tunawisma ini bila
dibandingkan dengan sampel kontrol (Townsend, 1999).
c. Budaya keluarga.
Perilaku orang tua yang secara dramatis berbeda dengan
budaya sekitar dapat mengakibatkan kurang diterimanya anak-anak
oleh teman sebaya dan masalah psikologik.
2.5 Penatalaksanaan Gangguan Psikitri pada Anak-anak dan remaja
1. Perawatan berbasis komunitas
a. Pencegahan primer melalui berbagai program social yang
ditujukan untuk menciptakan lingkungan yang meningkatkan
kesehatan anak.Contohnya adalah perawatan pranatal awal,
program intervensi dini bagi orang tua dengan faktor resiko yang

77
sudah diketahui dalam membesarkan anak, dan mengidentifikasi
anak-anak yang berisiko untuk memberikan dukungan dan
pendidikan kepada orang tua dari anak-anak ini.
b. Pencegahan sekunder dengan menemukan kasus secara dini pada
anak-anak yang mengalami kesulitan disekolah sehingga tindakan
yang tepat dapat segera dilakukan.Dukungan terapeutik bagi
anak-anak. Diberikan melalui psikoterapi individu, terapi
bermain, dan program pendidikan khusus untuk anak-anak yang
tidak mampu berpartisipasi dalam sistem sekolah yang normal.
Metode pengobatan perilaku pada umumnya digunakan untuk
membantu anak dalam mengembangkan metode koping yang
lebih adaptif.

c. Dukungan terapiutik bagi anakanak diberikan melalui psikoterapi


individu, terapi bermain, dan program pendidikan khusus untuk
anak-anak yang tidak mampu berpartisipasi dalam system sekolah
yang normal.
d. Terapi keluarga dan penyuluhan keluarga penting untuk
membantu keluarga mendapatkan keterampilan dan bantuan yang
diperlukan guna membuat perubahan yang dapat meningkatkan
fungsi semua anggota keluarga.
2. Pengobatan berbasis rumah sakit
a. Unit khusus untuk mengobati anak-anak dan remaja, terdapat di
rumah sakit jiwa. Pengobatan di unit-unit ini biasanya diberikan
untuk klien yang tidak sembuh dengan metode alternatif yang
kurang restriktif, atau bagi klien yang beresiko tinggi melakukan
kekerasan terhadap dirinya sendiri ataupun orang lain.
b. Program hospitalisasi parsial juga tersedia, memberikan program
sekolah di tempat (on-site) yang ditujukan untuk memenuhi
kebutuhan khusus anak yang menderita penyakit jiwa.
c. Seklusi dan restrain untuk mengendalikan perilaku disruptif
masih menjadi kontroversi. Penelitian menunjukkan bahwa

78
metode ini dapat bersifat traumatik pada anak-anak dan tidak
efektif untuk pembelajaran respon adaptif. Tindakan yang kurang
restriktif meliputi istirahat (time-out), penahanan terapeutik,
menghindari adu kekuatan, dan intervensi dini untuk mencegah
memburuknya perilaku.
3. Farmakoterapi
Medikasi digunakan sebagai satu metode pengobatan.Medikasi
psikotropik digunakan dengan hati hati pada klien anak-anak dan
remaja Karen amemiliki efek samping yang beragam.
a. Perbedaan fisiologi anak-anak dan remaja memengaruhi jumlah
dosis, respon klinis, dan efek samping dari medikasi psikotropik.
b. Perbedaan perkembangan neurotransmiter pada anak-anak dapat
memengaruhi hasil pengobatan psikotropik, mengakibatkan hasil
yang tidak konsisten, terutama dengan antidepresan trisiklik.

79
ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN JIWA
PADA ANAK DAN REMAJA

A. Pengkajian
1. Kaji kembali riwayat klien untuk adanya hal-hal yang mencetuskan
stressor atau data yang signifikan, antara lain riwayat keluarga,
peristiwaperistiwa hidup yang menimbulkan stress, hasil pemeriksaan
kesehatan jiwa, riwayat masalah fisik, dan psikologis, serta
pengobatannya.
2. Catat pola pertumbuhan dan perkembangan anak, lalu bandingkan
dengan alat standard, seperti the developmental screening test dan
versi yang sudah direfisi.
3. Lakukan pemeriksaan fisik pada anak dan remaja.
4. Kaji respon perilaku yang dapat mengindikasikan gangguan pada
anak-anak atau remaja. Pastikan untuk mengkaji interkasi langsung,
observasi permainan, serta interaksi dengan keluarga dan teman
sebaya.

B. Diagnosis
1. Gangguan pertumbuhan dan perkembangan berhubungan dengan
kelainan fungsi kognitif
2. Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan kelainan kognitif.
3. Gangguan interaksi social berhubungan dengan menarik diri atau
kesulitan bicara
4. Perubahan koping keluarga berhubungan dengan komunikasi inefektif
sekunder terhadap anak retardasi mental.
5. Resiko mencederai diri dan orang lain berhubungan dengan
hiperaktivitas anak atau perubahan persepsi
6. Deficit perawatan diri berhubungan dengan ketidakmampuan untuk
mandiri atau koping individu inefektif.

80
C. Perencanaan dan identifikasi hasil
1. Bekerjasama dengan klien dan keluarga dalam menetapkan tujuan
yang realistis.
2. Tetapkan kriteria hasil yang diinginkan untuk likien, keluarga, atau
keduanya.
D. Implementasi
1. Implementasi Umum
a. Bina hubungan saling percaya
b. Dengarkan secara aktif, tunjukkan perhatian dan dukungan.
c. Tingkatkan komunilasi yang jelas, jujur, dan langsung
d. Dukung kelebihan klien dan keluarga.
e. Gunakan model kognitif untuk menjelaskan hubungan antara
pikiran, perasaan, dan perilaku.
f. Berpartisipasi dalam terapi bermain, biarkan anak
mengekspresikan dirinya melalui permainan imajinatif.
g. Anjurkan digunakannya kelompok pendukung masyarakat bagi
klien dan keluarga.
h. Anjurkan pada keluarga tentang cara menjaga kesehatan emosi
anak melalui penyuluhan klien dan keluarga.
i. Ciptakan lingkunga yang aman.
j. Bantu orang tua mengurangi perasaan bersalah dan menyalahkan
atas apa yang meraka alami.
k. Alihkan perhatian anak bila ansietasnya meningkat dan
perilakunya memburuk.
l. Berikan benda-benda yang dikenal anak.
2. Untuk anak atau remaja dengan ADHD
a. Bantu keluarga untuk menggunakan manipulasi lingkunga untuk
mengurangi stimulus guna mengendalikan perilaku.
b. Bantu keluarga menyusun jadwal yang tetap untuk makan, tidur,
bermain, dan mengerjakan tugas seolah.
c. Bekerjasama dengan sekolah, keluarga, dan tim kesehatn jiwa
untuk memastikan penempatan ruang kelas yang sesuai.

81
E. Evaluasi hasil
Perawat menggunakan kreiteria hasil berikut ini untuk menentukan
efektifitas intervensi keperawatan yang dilakukan.
1. Klien dan keluarganya menunjukkan perbaikan keterampilan
koping.
2. Klien mengendalikan perilaku impulsifnya.
3. Klien menunjukkan stabilitas mood yang normal.
4. Lien berpartisipasi dalam program penyuluhan sesuai kemampuan
5. Klien dan keluarganya berpartisipasi dalam program pengobatan
dan menerima rujukan komunitas.
6. Klien berinteraksi secara social dengan kelompok teman sebaya.
Rencana tindak lanjut dapat berupa :
a. Rencana diteruskan jika masalah tidak berubah.
b. Rencana dimodifikasi jika masalah tetap ada dan semua rencana
tindakan sudah dilakukan tetapi hasil belum memuaskan.
c. Rencana dan diagnosa keperawatan dibatalkan jika ditemukan
masalah baru dan bertolak belakang dengan masalah yang ada.
d. Rencana atau diagnosa selesai jika tujuan sudah tercapai dan yang
diperlukan adalah memelihara dan mempertahankan kondisi yang
baru

82
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Gangguan obsesif-kompulsif merupakan suatu kondisi yang ditandai
dengan adanya pengulangan pikiran obsesif atau kompulsif, dimana
membutuhkan banyak waktu (lebih dari satu jam perhari) dan dapat
menyebabkan penderitaan (distress).Untuk menegakkan diagnosis pasti,
gejala-gejala obsesif atau tindakan komplusif, atau kedua-duanya, harus ada
hampir setiap hari selama sedikitnya 2 minggu berturut-turut.
Ada beberapa terapi yang bisa dilakukan untuk penatalaksanaan gangguan
obsesif-kompulsif antara lain terapi farmakologi (farmakoterapi) dan terapi
tingkah laku. Prognosis pasien dinyatakan beik apabila kehidupan sosial dan
pekerjaan baik, adanya stressor dan gejala yang bersifat periodik.
Di Amerika Serikat, gangguan mood menempati urutan kedua untuk jenis
gangguan mental yang sering dialami anak usia 10-14 tahun. Di antara anak-anak
usia sekolah dalam masyarakat, kira-kira 0,5-2% memiliki gangguan depresi berat,
0,6-4,6% memiliki gangguan distimik dan 1% memiliki gangguan bilopar I.
Gangguan mood meningkat seiring dengan meningkatnya usia dan peningkatan
insidensi gangguan mood biasanya ditemukan pada anak-anak dari orangtua
dengan gangguan mood.

Faktor genetik, neurobiologis dan sosial mempengaruhi kejadian gangguan


mood pada anak. Memiliki kedua orang tua dengan gangguan depresi
meningkatkan resiko empat kali lipat bagi anak-anaknya untuk mengalami
gangguan mood sebelum usia 18 tahun. Selain itu kekerasan dalam rumah tangga,
penolakan dan rendahnya interaksi dalam keluarga, perceraian kehilangan atau
kematian salah satu anggota keluarga juga mempunyai efek yang berkelanjutan
sehingga anak yang berada dalam lingkungan keluarga seperti itu lebih rentan
mengalami gangguan mood. Peran neorobiologis dalam gangguan mood berfokus
pada kerja neurotansmitter dopaminergic, adrenergic dan serotoniergic. Pada
episode depresi level monoamine (dopamine dan serotonin) dalam otak berkurang
sedangkan pada episode manik merupakan dampak dari meningkatnya aktivitas
kedua neurotransmitter tersebut.

83
Kriteria gangguan mood yang terdapat dalam DSM V dapat membantu
para klinisi untuk menjaring dan mendiagnosis secara tepat anak-anak dengan
gangguan mood. DSM V menyebutkan bahwa tidak seperti orang dewasa, anak-
anak dan remaja dengan gangguan mood depresi terlihat cenderung lebih cepat
marah dan mudah tersinggung. Anak-anak usia muda yang mengalami depresi dan
belum mampu mengungkapkan perasaan mereka secara verbal sering terlihat sedih,
lebih mudah cemas, dan sering mengeluhkan keluhan fisik seperti pusing dan sakit
perut. Sebaliknya anak dan remaja dengan gangguan manik sering memiliki
perasaan berlebihan atau kebesaran diri yang tidak memiliki dasar dalam kenyataan
dan terlibat dalam aktivitas menyenangkan yang beresoko tinggi seperti
penggunaan obat-obatan dan seks bebas.

Terapi gangguan mood pada anak tidak jauh berbeda dengan terapi yang
diberikan untuk orang dewasa. Terdapat dua pilihan terapi yang dapat diberikan
yaitu terapi non farmakologi dan terapi farmakologi. Terapi non farmakologi yang
dapat digunakan ialah cognitive behavioral therapy ( CBT ), interpersonal therapy (
IPT ) dan terapi keluarga. Ketiga terapi ini berguna untuk mengubah dan
memodifikasi kepercayaan, pikiran dan kognisi yang salah agar anak lebih berpikir
positif serta membantu anak yang tertekan dan menarik diri agar mendapatkan
sumber kekuatan yang positif dalam rangka memerangi gangguan mood.

Meskipun obat-obatan yang digunakan untuk mengatasi gangguan mood


pada anak sama dengan orang dewasa, dalam penggunaannya diperlukan evaluasi
awal yang tepat dan monitoring penggunaan obat yang ketat. Beberapa obat yang
terdaftar dalam Black Box sebaiknya tidak digunakan untuk mengatasi gangguan
depresi pada anak karena efek sampingnya yang cukup berat yaitu meningkatkan
keinginan dan ide bunuh diri pada anak dengan gangguan mood. Untuk
memaksimalkan tatalaksana gangguan mood pada anak, terapi farmakologi
sebaiknya juga dipadukan dengan terapi nonfarmakologi.

Gangguan mood merupakan suatu masalah psikiatri yang muncul


dari adanya gangguan depresi. Depresi adalah suatu gangguan keadaan
tonus perasaan yang secara umum ditandai oleh rasa kesedihan, apatis,
pesimisme, dan kesepian. Gambaran klinis yang tampak dipengaruhi oleh
usia dan pengalaman psikologis anak.

84
Tidak adanya tes khusus yang dapat membantu menentukan bahwa
seseorang individu menderita depresi, dan sangat sedikit yang dapat
ditentukan penyebabnya. Faktor keluaga sangat berperan dalam awal
mendeteksi adanya gejala gangguan mood.

Deteksi dini pada saat anak dan remaja dengan adanya riwayat
keluaga dan tanpa adanya gejala gangguan mood dapat diintervensi secara
dini terhadap penatalaksanaan psikoterapi. Komplikasi dari keterlambatan
deteksi dini dan farmakologi yang tidak adekuat berdampak menjadi
gangguan mood yang berulang disaat dewasa nantinya.

3.2 Saran
Diharapkan mahasiswa mampu melakukan asuhan keperawatan jiwa
sebagai bekal ketika praktek belajar lapangan jiwa (PBL Jiwa) di rumah
sakit jiwa, dan mampu melakukannya secara komperhensif dan sesuai teori.

85
DAFTAR PUSTAKA

Kusumawati, Farida dan Yudi Hartono.2010. Buku Ajar Keperawatan Jiwa.


Jakarta: Salemba Medika

Videbeck, Sheila.L. 2008. Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC

Des Infrando, Sri Sofyani, Widiastuty Departemen Ilmu Kesehatan Anak


Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara/ Rumah Sakit Umum Pusat H.
Adam Malik, Medan.

Sadock BJ, Sadock VA. Gangguan mood dan bunuh diri pada anak-anak dan remaja.
Dalam: Husny M, Retna NS, editor. Buku Ajar Psikiatri Klinis. Edisi 2. EGC. Jakarta.
2010. hal.630-634

Kusumawati, Farida dan Yudi Hartono.2010. Buku Ajar Keperawatan Jiwa.


Jakarta: Salemba Medika

Videbeck, Sheila.L. 2008. Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC

Wahidah, Evita Yuliatul. 2018. Identifikasi dan Psikoterapi terhadap ADHD


(Attention Deficit Hyperactivity Disorder). Millah Jurnal.17 (2) 297-318

Mudhar. 2018. Peran Orang Tua dalam Meminimalkan Perilaku Distruptif.


Wahana. 70 (1) 39-45

Amalia, Rizki. 2018. Intervensi terhadap Anak Usia Dini yang Mengalami
Gangguan ADHD Melalui Pendekatan Kognitif Perilaku dan Alderian Play
Therapy. Jurnal Obsesi. 2 (1) 27-33

86