Anda di halaman 1dari 5

LUKA BAKAR

A. DEFENISI
Luka bakar adalah luka yang disebabkan oleh kontak dengan suhu tinggi seperti api, air panas,
bahan kimia, radiasi, juga oleh karena kontak dengan suhu yang rendah (Mansjoer, 2000).
Luka bakar adalah luka yang disebabkan oleh trauma panas yang memberikan gejala yang
tergantung luas, kedalaman, dan lokasi luka (Team Bedah FKUI, 1999).

B. ETIOLOGI
1. Luka bakar termal; panas, agen pencedera dapat berupa: Api (kontak dengan objek
yang panas), air panas/ minyak panas, lapisan metal.
2. Luka bakar kimia seperti asam kuat/ keras/ kronik, basa kuat
3. Luka bakar listrik : Terjadi dari voltage yang menghasilkan proporsi panas untuk
tekanan dan mengirimkan sedikit tekanan (voltage tinggi atau rendah).
4. Luka bakar radiasi :Oleh karena pancaran nuklir atau sinar x.

C. PATOFISIOLOGI
Luka bakar mengakibatkan peningkatan permebilitas pembuluh darah sehingga air, klorida dan
protein tubuh akan keluar dari dalam sel dan menyebabkan edema yang dapat berlanjut pada
keadaan hipovolemia dan hemokonsentrasi. Burn shock ( shock Hipovolemik ) merupakan
komplikasi yang sering terjadi, manifestasi sistemik tubuh terhadap kondisi ini adalah:
1. Respon kardiovaskuler
Perpindahan cairan dari intravaskuler ke ekstravaskuler melalui kebocoran kapiler
mengakibatkan kehilangan Na, air dan protein plasma serta edema jaringan yang diikuti
dengan penurunan curah jantung, hemokonsentrasi sel darah merah, penurunan perfusi
pada organ mayor edema menyeluruh.
2. Respon renalis
Dengan menurunnya volume intravaskuler maka aliran keginjal dan GFR menurun
mengakibatkan pengeluaran urin menurun dan bisa berakibat gagal ginjal.
3. Respon gastrointestinal
Respon umum pada luka bakar > 20 % adalah penurunan aktivitas gastrointestinal. Hal
ini disebabkan oleh kombinasi efek respon hipovolemik dan neurologik serta respon
endokrin terhadap adanya perlukan luas. Pemasangan NGT mencegah terjadinya distensi
abdomen muntah dan aspirasi.
4. Respon imunologis
Sebagian basis mekanik, kulit sebagai mekanisme pertahanan dari organisme yang
masuk. Terjadinya gangguan integritas kulit akan memungkinkan mikroorganisme masuk
kedalam luka.

D. KLASIFIKASI LUKA BAKAR


1). Berdasarkan penyebab
a. Luka bakar karena api
b. Luka bakar karena air panas
c. Luka bakar karena bahan kimia
d. Laka bakar karena listrik
e. Luka bakar karena radiasi
f. Luka bakar karena suhu rendah (frost bite).
2). Berdasarkan kedalaman luka bakar.
a) Luka bakar derajat I
- Kerusakan terjadi pada lapisan epidermis
- Kulit kering, hiperemi berupa eritema
- Tidak dijumpai bulae
- Nyeri karena ujung-ujung saraf sensorik teriritasi
- Penyembuhan terjadi spontan dalam waktu 5-10 hari
b) Luka bakar derajat II
o Kerusakan meliputi epidermis dan sebagian dermis, berupa reaksi inflamasi
disertai proses eksudasi.
o Dijumpai bulae.
o Nyeri karena ujung-ujung saraf teriritasi.
o Dasar luka berwarna merah atau pucat, sering terletak lebih tinggi diatas
kulit normal.
Luka bakar derajat II ini dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu :
(1). Derajat II dangkal (superficial)
- Kerusakan mengenai bagian superfisial dari dermis.
- Organ-organ kulit seperti folikel rambut, kelenjar keringat, kelenjar sebasea
masih utuh.
- Penyembuhan terjadi spontan dalam waktu 10-14 hari.
(2). Derajat II dalam (deep)
- Kerusakan mengenai hampir seluruh bagian dermis.
- Organ-organ kulit seperti folikel rambut, kelenjar keringat, kelenjar sebasea
sebagian besar masih utuh.
- Penyembuhan terjadi lebih lama, tergantung epitel yang tersisa. Biasanya
penyembuhan terjadi lebih dari sebulan.

3). Luka bakar derajat III


- Kerusakan meliputi seluruh lapisan dermis dan lapisan yang lebih dalam.
- Organ-organ kulit seperti folikel rambut, kelenjar keringat, kelenjar sebasea
mengalami kerusakan.
- Tidak dijumpai bulae.
- Kulit yang terbakar berwarna abu-abu dan pucat. Karena kering letaknya lebih
rendah dibanding kulit sekitar.
- Terjadi koagulasi protein pada epidermis dan dermis yang dikenal sebagai eskar.
- Tidak dijumpai rasa nyeri dan hilang sensasi, oleh karena ujung-ujung saraf
sensorik mengalami kerusakan/kematian.
- Penyembuhan terjadi lama karena tidak terjadi proses epitelisasi spontan dari dasar
luka.

4). Berdasarkan tingkat keseriusan luka


American Burn Association menggolongkan luka bakar menjadi tiga kategori, yaitu:
1). Luka bakar mayor
- Luka bakar dengan luas lebih dari 25% pada orang dewasa dan lebih dari
20% pada anak-anak.
- Luka bakar fullthickness lebih dari 20%.
- Terdapat luka bakar pada tangan, muka, mata, telinga, kaki, dan perineum.
- Terdapat trauma inhalasi dan multiple injuri tanpa memperhitungkan derajat
dan luasnya luka.
- Terdapat luka bakar listrik bertegangan tinggi.
2). Luka bakar moderat
- Luka bakar dengan luas 15-25% pada orang dewasa dan 10-20% pada anak-
anak.
- Luka bakar fullthickness kurang dari 10%.
- Tidak terdapat luka bakar pada tangan, muka, mata, telinga, kaki, dan
perineum
3). Luka bakar minor
Luka bakar minor seperti yang didefinisikan oleh Trofino (1991) dan Griglak (1992)
adalah :
o Luka bakar dengan luas kurang dari 15% pada orang dewasa dan kurang
dari 10 % pada anak-anak.
o Luka bakar fullthickness kurang dari 2%.
o Tidak terdapat luka bakar di daerah wajah, tangan, dan kaki.
o Luka tidak sirkumfer.
o Tidak terdapat trauma inhalasi, elektrik, fraktur.

E. KOMPLIKASI LANJUT LUKA BAKAR


a. Hipertropi jaringan
b. Kontraktur

F. PENATALAKSANAAN
1. Penanggulangan terhadap syok dan pemberian Oksigen untuk intoksikasi
KarbonMonoksida
2. Mengatasi gangguan keseimbangan cairan
Protokol pemberian cairan menggunakan rumus Brooke yang sudah dimodifikasi :
a. 24 jam pertama
- ½ bagian diberikan dalam 8 jam pertama (dihitung mulai dari jam kecelakaan)
- ½ bagian lain diberikan dalam 16 jam berikutnya

b. 24 jam kedua
- Cairan Dextrose 5% in water 24 (25+ % LBB) X BSA cc
- Albumin sebanyak yang diperlukan (0,3 -0,5 cc/kg/%).
Rumus konsensus
-Cairan Ringer Laktat dengan takaran 2 ml - 4 ml/ kg BB/ % luka bakar, separuh dari
jumlah total yang telah dihitung harus diberikan dalam 8 jam pertama pasca luka bakar
dan separuhnya lagi diberikan dalam 16 jam berikutnya. Kecepatan dan volume cairan
infus harus diatur menurut respon pasien.
3. Lakukan kateterisasi untuk mengetahui intake dan output cairan
4. Memberikan antibiotika dan analgetik
5. Eksisi eskhar dan skin graft
6. Pemberian nutrisi yang adekut
7. Rehabilitasi
8. Melakukan perawatan luka dengan tekhnik steril untuk mencegah terjadinya infeksi

G. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pemeriksaan laboratorium :
Hb, Ht, Leucosit, Thrombosit, Gula darah, Elektrolit, Ureum, Kreatinin, Protein, Albumin,
Hapusan luka, Urine lengkap, Analisa gas darah (bila diperlukan), dan lain – lain.
2. Rontgen : Foto Thorax, dan lain-lain.
3. EKG
4. CVP : Untuk mengetahui tekanan vena sentral, diperlukan pada luka bakar lebih
dari 30 % dewasa dan lebih dari 20 % pada anak.
5. Dan lain-lain.

H. ASUHAN KEPRAWATAN
1. Pengkajian
Nutrisi : Nafsu makan, mual, muntah, pemasukan, IFVD
Abdomen : Hidrasi (turgor kulit), adanya eksudat, membran mukosa
Kardiovaskular : Nadi, irama, tekanan darah dan clubbing finger
Respirasi dan sirkulasi : Pernapasan, suara pernapasan, irama, jenis pernapasan.
Aktifitas/ istirahat : Tingkat aktifitas, penurunan kekatan/ tahanan
Integritas kulit : keutuhan, warna kulit, cyanosis, suhu, area , area luka bakar
Neri/ ketidaknyamanan : Skala nyeri, lokasi dan karakteristik
Eliminasi : BAB, BAK, bisning usus dan diuresis.
2. Diagnosa keperawatan
a. Kerusakan pertukaran gas b/d keracunan Karbon Monokdisa
b. Bersihan jalan napas tidak efektif b/d edema, dan efe inhalasi asap
c. Kurang volue cairan b/d peningkatan permeabilitas kapiler dan kehilangan cairan
akibat evaporasi dari daerah lukabakar
d. Hipotermia b/d dengan gangguan mikrosirkulasi kulit dan luka yang terbuka
e. Gangguan rasa nyaman : nyeri b/d cedera jaringan syaraf dan dampak emosional
Dari luka bakar
f. Kerusakan mobilitas fisik b/d penurunan kekuatan, nyeri dan gangguan
neuromuskular
g. Gangguan integritas kulit b/d kerusakan permukaan kulit karena luka
bakar
h. Gangguan citra tubuh b/d kejadian traumatik, krisis situasi, kecacatan dan nyeri
i. Kurang pengetahuan b/d kurang terpajan pada informasi tentang kondisi,
prognosis dan kebutuhan pengobatan
j. Risiko infkesi b/d luka terbuka, intake nutrisi yang tidak adekuat
DAFTAR PUSTAKA

Behrman. E. Richard, Kliegman. M. Robert, Arvin. M. Ann. (1999). Ilmu kesehatan anak nelson
volume 2. Jakarta: EGC

Brunner & Suddart (2002). Buku ajar keperawatan medikal-bedah Volume 2, Jakarta: EGC

Doenges, M. E., Moorhouse, M. F. & Geissler, A. C. (2000). Rencana asuhan keperawatan,


Jakarta : EGC.

Putz, R. 2000. Atlas anatomi manusia sobotta. Jakarta. EGC

Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Universitas Indonesia. (1986). Buku kuliah ilmu
kesehatan anak 2. Jakarta: Infomedika Jakarta

Sherwood, L. 2001. Fisiologi manusia. Jakarta. EGC