Anda di halaman 1dari 57

BAB IV

HASIL KEGIATAN AKTUALISASI – HABITUASI

Aktualisasi sebagai asisten apoteker dilaksanakan di UPTD


Puskesmas Tirtomoyo 1 dimulai saat off campus mulai tanggal 17
Oktober sampai dengan 24 November 2019. Terdapat 8 Kegiatan yang
telah dirancang dan 1 kegiatan tambahan yang dilakukan, namun
jadwal kegiatan mengalami perubahan dikarenakan kondisi lapangan
yang tidak terduga. Adapun 8 kegiatan tersebut diantaranya :
1. Pembuatan Standar Operasional Prosedur (SOP) terbaru tentang
penyimpanan dan pendistribusian sediaan farmasi dan bahan medis
habis pakai;
2. Pembuatan label nama sediaan farmasi dan bahan medis habis
pakai;
3. Penyusunan dan penyimpanan sediaan farmasi dan bahan medis
habis pakai berdasarkan bentuk sediaan dan secara alfabetis;
4. Pembuatan daftar sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai
yang tergolong LASA dan High Alert Medication (HAM), kemudian di
tempelkan ditiap unit-unit pelayanan;
5. Pembuatan stiker LASA dan High Alert Medication (HAM) untuk
sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai yang tergolong LASA
dan HAM;
6. Penyusunan dan Penyimpanan sediaan farmasi dan bahan medis
habis pakai yang tergolong LASA dan High Alert Medication (HAM);
7. Pemberian stiker penandaan sediaan farmasi dan bahan medis
habis pakai yang mendekati ED pada rak obat, dengan sistem FEFO
FIFO;
8. Pembuatan form pendistribusian sediaan farmasi dan bahan medis
habis pakai ditiap unit pelayanan terkait (BP, Poli Gigi, KIA , KB,
MTBS,IGD).
9. Pendistribusian sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai

79
A. Pelaksanaan Kegiatan Aktualisasi dan Habituasi Nilai-nilai Dasar ANEKA.
Hasil kegiatan dan tahapan-tahapan kegiatan yang telah dilakukan, manfaat kegiatan, penguatan nilai organisasi,
dan dukungan bukti-bukti kegiatan dijabarkan sebagai berikut:

1. Pembuatan Standar Operasional Prosedur (SOP) Terbaru tentang Penyimpanan dan Pendistribusian Sediaan
Farmasi dan Bahan Medis Habis Pakai
Kegiatan pembuatan SOP terbaru tentang penyimpanan dan pendistribusian sediaan farmasi dan bahan medis
habis pakai adalah pembuatan dokumen berkaitan dengan prosedur yang dilakukan secara kronologis untuk
menyelesaikan suatu pekerjaan yang bertujuan untuk memperoleh hasil kerja yang paling efektif, dalam hal ini adalah
tentang penyimpanan dan pendistribusian sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai. Uraian kegiatan secara
terperinci tercantum pada tabel 4.1 berikut.
Table 4.1 Pelaksanaan Kegiatan 1
Rincian Kegiatan Pelaksanaan Kegiatan/Hasil
Nama Kegiatan Pembuatan Standar Operasional Prosedur (SOP) terbaru tentang penyimpanan dan
pendistribusian sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai
Tanggal 18-22 Oktober 2019
Pelaksanaan
Tahapan Kegiatan 1. Konsultasi Kepada Kepala Puskesmas mengenai pembuatan SOP penyimpanan dan
pendistribusian sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai terbaru

80
2. Mencari referensi SOP penyimpanan dan pendistribusian sediaan farmasi dan bahan medis
habis pakai yang terkini
3. Berkoordinasi dengan tenaga kesehatan lainya (PJ UKP) mengenai pembuatan SOP
penyimpanan dan pendistribusian sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai
4. Finalisasi SOP

Habituasi Nilai Dasar Habituasi Nilai Dasar ANEKA


Aneka 1. Akuntabilitas (kejelasan, bertanggung jawab)
Saya melakukan kegiatan pembuatan SOP terbaru penyimpanan dan pendistribusian diawali
dengan konsul kepada Kepala Puskesmas menyampaikan dengan kejelasan maksud dan
tujuan dari kegiatan saya ini. Dalam mencari referensi SOP terbaru dan finalisasi SOP saya
melakukannya dengan bertanggung jawab penuh untuk menyelesaikan SOP yang dibuat.
2. Nasionalisme (sila ke-4 musyawarah, dan sila ke-3 menggunakan bahasa indonesia yang
baik)
Kegiatan konsultasi kepada Kepaka Puskesmas dan berkoordinasi dengan PJ UKP merupakan
bentuk dari musyawarah untuk mencapai kesepakatan bersama, adanya arahan dari Kepala
Puskemas dan PJ UKP adalah salah satu bentuk ada nya musyawarah. Penyampaian maksud
dan tujuan kegaitan dilakukan dengan menggunakan bahasa indonesia yang baik sehingga
akan lebih mudah dipahami

81
3. Etika Publik (menghormati komunikasi, sopan, santun).
Saya melakukan konsultasi dengan kepala puskesmas dan berkoordinasi dengan PJ UKP
menghormati komunikasi yang terjalin dan mengedepankan sikap sopan serta santun
4. Komitmen Mutu (berorientasi mutu, inovatif)
Orientasi mutu saat mencari referensi dan finallisasi SOP adalah tujuan dari dilakukannya
kegiatan pembuatan SOP terbaru penyimpanan dan pendistribusian sediaan farmasi dan bahan
medis habis pakai untuk memperbaiki kualitas mutu pengelolaan yang berorientasi pada
kepuasan pasien. Selain itu ini merupakan bentuk inovastif untuk memperbaiki mutu pelayanan
dan melakukan perubahan kearah yang lebih baik.
5. Anti Korupsi (Mandiri)
Dalam mencari referensi SOP penyimpanan dan pendistribusian sediaan farmasi dan bahan
medis habis pakai saya melakukan secara mandiri, hal ini membentuk karakter diri saya untuk
tidak mudah bergantung kepada pihak lain. Pribadi yang mandiri tidak akan menjalin hubungan
dengan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab demi mencapai keuntungan sesaat. Selain
itu saya bekerja keras dalam melakukan finalisasi SOP sehingga saya dapat menyelesaikan
SOP lebih cepat dari yang direncanakan.

Dampak Jika Nilai Aneka Tidak Diimplementasikan


1. Jika maksud dan tujuan kegiatan pembuatan SOP terbaru tentang penyimpanan dan

82
pendistribusian sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai tidak disampaikan dengan penuh
kejelasan pada saat konsultasi dengan Kepala Puskesmas, maka akan terjadi
kesalahpahaman antara atasan dan bawahan, tidak disetujuinya kegiatan pembuatan SOP.
Selain itu jika dalam mencari referensi dan melakukan finalisasi SOP tanpa adanya rasa
bertanggung jawab maka kegiatan ini tidak dapat terselaikan dengan baik.
2. Jika tidak dilakukan musyawarah dengan menggunakan bahasa indonesia yang baik dalam
pelaksanaan kosultasi dan berkoordinasi dengan PJ UKP tidak mendapatkan arahan serta
masukan untuk melengkapi apabila ada yang kurang dengan SOP yang dibuat
3. Jika dalam pelaksanaan konsultasi dan berkoordinasi dengan PJ UKP tidak menghormati
adanya komunikasi, berbicara tidak sopan dan santun, maka dapat menciptakan hubungan
kerja yang tidak harmonis baik antara atasan dan bawahan, serta antar petugas medis.
Akibatnya tidak tercapainya tujuan kegiatan.
4. Jika pelaksanaan mencari referensi dan finalisasi SOP tidak dilandasi orientasi mutu, maka
kualitas mutu pengelolaan yang berorientasi pada kepuasan pasien tidak dapat tercapai. Selain
itu dengan tidak adanya landasan inovatif untuk memperbaiki mutu pelayanan, maka tidak ada
perubahan kearah yang lebih baik.
5. Jika pelaksanaan mencari referensi SOP tidak dilandasi dengan rasa mandiri, maka tidak dapat
membentuk karakter diri saya sebagai seorang yang mandiri, sehingga akan mudah bergantung
dengan orang lain dan dapat dimanfaatkan untuk keuntungan sesaat. Selain itu jika tidak

83
dilandasi dengan sikap bekerja keras pembuatan SOP tidak dapat terselesaikan.
Kontribusi / manfaat Kegiatan ini memberikan kemanfaatan kepada petugas yang lain yakni sebagai acuan untuk
bagi pihak lain melaksanakan penyimpanan dan pendistribusian sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai
yang berguna agar menjamin kwalitas barang yang disimpan terjaga dengan baik dan tidak rusak,
serta barang yang distribusikan jelas jumlah barangnya.
Kontribusi terhadap Kegiatan ini mendukung misi UPTD Puskesmas Tirtomoyo 1 :
Pencapaian Visi-Misi
 Meningkatkan kapabilitas personal sesuai dengan kompetensi masing-masing melalui proses
Organisasi
pembelajaran yang terus menerus
 Meningkatkan komitmen perseonal dalam organisasi
 Berorientasi pada kepuasan pelanggan
 Membudayakan manajemen berbasis kinerja

Penguatan Nilai - Kegiatan ini menguatkan nilai organisasi UPTD Puskesmas Tirtomoyo 1 yaitu kedisiplinan
Nilai Organisasi

Kendala  Membutuhkan banyak referensi


 Membutuhkan banyak kertas

Strategi Mengatasi  Mencari dan mengumpulkan referensi terbaru

84
Masalah  Menggunakan kertas bekas tak terpakai

Lampiran Kegiatan 1 1. Hasil konsultasi dengan Kepala Puskesmas


2. Foto Kegiatan
3. Video Kegiatan

2. Pembuatan label nama sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai berdasarkan alfabetis
Kegiatan pembuatan label nama sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai berdasarkan alfabetis adalah
suatu kegiatan pembuatan label nama yang akan di tempelkan di rak obat yang dapat dilihat dan dibaca dengan jelas,
bertujuan untuk membedakan sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai yang satu dengan yang lain, sehingga
memudahkan petugas dalam menyiapkan sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai serta meminimalisir adanya
kesalahan. Uraian kegiatan secara terperinci tercantum pada tabel 4.2 berikut.
Table 4.2 Pelaksanaan Kegiatan 2
Rincian Kegiatan Pelaksanaan Kegiatan/Hasil
Nama Kegiatan Pembuatan Label Nama Sediaan Farmasi Dan Bahan Medis Habis Pakai Berdasarkan Alfabetis
Tanggal 22 Oktober – 26 Oktober 2019
Pelaksanaan
Tahapan Kegiatan 1. Membuat daftar sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai berdasarkan alfabetis sesuai
kondisi di UPTD Puskesmas Tirtomoyo 1

85
2. Membuat desaign label nama sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai
3. Konsultasi Kepada Kepala Puskesmas tentang pembuatan label nama sediaan farmasi dan
bahan medis habis pakai berdasarkan alfabetis
4. Mencetak label nama sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai berdasarkan alfabetis

Habituasi Nilai Habituasi Nilai Dasar ANEKA


Dasar Aneka 1. Akuntabilitas (kejelasan, bertanggung jawab)
Saya melakukan pembuatan daftar sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai secara
alfabetis, dan mendesaign label nama, didasari dengan gambaran yang jelas akan maksud dan
tujuan saya melakukan kegiatan. Selain itu konsul kepada Kepala Puskesmas menyampaikan
dengan kejelasan maksud dan tujuan dari kegiatan saya ini. Dalam mencetak label nama saya
melakukannya dengan bertanggung jawab penuh untuk menyelesaikan lebel nama yang dibuat
agar segera dapat ditempelkan pada rak obat.
2. Nasionalisme (sila ke-4 musyawarah, dan sila ke-3 menggunakan bahasa indonesia yang
baik)
Kegiatan konsultasi kepada Kepala Puskesmas merupakan bentuk dari musyawarah untuk
mencapai kesepakatan bersama, adanya arahan dan masukan terkait design label nama yang
saya buat apakah ada yang kurang dan perlu dikoreksi dari Kepala Puskemas adalah salah satu
bentuk ada nya musyawarah. Penyampaian maksud dan tujuan kegiatan, serta desaign label

86
nama dilakukan dengan menggunakan bahasa indonesia yang baik sehingga akan lebih
mudah dipahami.
3. Etika Publik (hormat, sopan, santun).
Saya melakukan konsulasi dengan kepala puskesmas dengan hormat dan mengedepankan
sikap sopan serta santun, sehingga dapat menjadi hubungan kerja yang harmonis.
4. Komitmen Mutu (berorientasi mutu, inovatif)
Orientasi mutu saat membuat daftar sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai untuk
memperbaiki mutu pelayanan kearah yang lebih baik. Selain itu saya membuat desain label nama
dan mencetaknya dengan dasar inovatif untuk melakukan perubahan agar tidak terjadi kesalahan
dalam pengambilan dan penyiapan obat.
5. Anti Korupsi (Mandiri, Jujur)
Dalam membuat daftar sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai dan desaign label nama
saya melakukan secara mandiri, hal ini membentuk karakter diri saya untuk tidak mudah
bergantung kepada pihak lain. Pribadi yang mandiri tidak akan menjalin hubungan dengan pihak-
pihak yang tidak bertanggung jawab demi mencapai keuntungan sesaat. Selain itu dalam
mencetak label nama sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai saya melakukan dengan
jujur menggunakan dana yang jelas dan transparan tanpa adanya kecurangan.

Dampak Jika Nilai Aneka Tidak Diimplementasikan

87
1. Jika maksud dan tujuan kegiatan pembuatan label nama sediaan farmasi dan bahan medis habis
pakai berdasarkan alfabetis tidak didasari dengan gambaran yang jelas akan maksud dan
tujuannya sehingga dalam pembuatan daftar dan desaign label nama tidak dapat diselesaikan
dengan baik. Selain itu jika tidak disampaikan dengan penuh kejelasan pada saat konsultasi
dengan Kepala Puskesmas, maka akan terjadi kesalahpahaman antara atasan dan bawahan,
tidak disetujuinya kegiatan pembuatan label nama. Selain itu jika dalam mencetak label nama
tanpa adanya rasa bertanggung jawab maka kegiatan ini tidak dapat diselesaikan dengan baik,
sehingga label nama tidak dapat ditempel di rak obat.
2. Jika tidak dilakukan musyawarah dengan menggunakan bahasa indonesia yang baik dalam
pelaksanaan kosultasi dengan kepala puskemas tidak mendapatkan arahan serta masukan untuk
melengkapi apabila ada yang kurang dengan desaign label nama yang dibuat
3. Jika dalam pelaksanaan konsultasi dengan kepala puskesmas tidak hormat, berbicara tidak
sopan dan santun, maka dapat menciptakan hubungan kerja yang tidak harmonis antara atasan
dan bawahan. Akibatnya tidak tercapainya tujuan kegiatan.
4. Jika pelaksanaan membuat daftar sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai tidak dilandasi
orientasi mutu, maka kualitas mutu pelayanan tidak akan ada perubahan kearah yang lebih baik.
Selain itu dengan tidak adanya dasar inovatif pada saat membuat desaign lebel nama dan
mencetaknya maka tidak akan adanya perubahan yang baik dan dapat terjadi kesalahan dalam
pengambilan dan penyiapan obat.

88
5. Jika pelaksanaan membuat daftar sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai serta desaign
label nama tidak dilandasi dengan rasa mandiri, maka tidak dapat membentuk karakter diri saya
sebagai seorang yang mandiri, sehingga akan mudah bergantung dengan orang lain dan dapat
dimanfaatkan untuk keuntungan sesaat. Selain itu jika dalam mencetak label nama tidak
dilakukan dengan jujur menggunakan dana yang jelas dan transparan, maka akan menyebabkan
rawan tindakan kecurangan atau korupsi.
Kontribusi / manfaat Kegiatan ini memberikan kemanfaatan kepada petugas yang lain yang ikut membantu penyiapan di
bagi pihak lain farmasi yakni untuk memudahkan petugas dalam menyiapkan dan meminimalkan terjadinya
kesalahan dalam pengambilan serta penyiapan sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai
Kontribusi terhadap Kegiatan ini mendukung misi UPTD Puskesmas Tirtomoyo 1 :
Pencapaian Visi-
 Meningkatkan kapabilitas personal sesuai dengan kompetensi masing-masing melalui proses
Misi Organisasi
pembelajaran yang terus menerus
 Meningkatkan komitmen perseonal dalam organisasi
 Berorientasi pada kepuasan pelanggan
Penguatan Nilai - Kegiatan ini menguatkan nilai organisasi UPTD Puskesmas Tirtomoyo 1 yaitu keikhlasan
Nilai Organisasi

Kendala  Sulit menemukan percetakan stiker di Tirtomoyo


 Stiker mudah rusak dan tidak lengket

89
Strategi Mengatasi  Mengumpulkan informasi dari teman kerja dan lingkungan di Puskesmas
Masalah  Membuat stiker dengan kualitas terbaik dengan harga yang terjangkau

Lampiran Kegiatan 1. Hasil konsultasi dengan Kepala Puskesmas


2 2. Foto Kegiatan
3. Video Kegiatan

3. Penyusunan Dan Penyimpanan Sediaan Farmasi Dan Bahan Medis Habis Pakai Berdasarkan Bentuk Sediaan
Dan Secara Alfabetis
Kegiatan penyusunan dan penyimpanan sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai berdasarkan bentuk
sediaan dan secara alfabetis adalah suatu kegiatan penyusunan dan penyimpanan di rak obat yang disusun berdarkan
bentuk sediaan dan secara alfabetisnya, bertujuan untuk mengelompokan sediaan dan memudahkan petugas dalam
menyiapkan sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai serta meminimalisir adanya kesalahan. Uraian kegiatan
secara terperinci tercantum pada tabel 4.3 berikut.
Table 4.3 Pelaksanaan Kegiatan 3
Rincian Kegiatan Pelaksanaan Kegiatan/Hasil
Nama Kegiatan Penyusunan Dan Penyimpanan Sediaan Farmasi Dan Bahan Medis Habis Pakai Berdasarkan
Bentuk Sediaan Dan Secara Alfabetis
Tanggal 30- 31 Oktober 2019
Pelaksanaan

90
Tahapan Kegiatan 1. Konsultasi Kepada Kepala Puskesmas tentang kegiatan penyusunan sediaan farmasi dan bahan
medis habis pakai berdasarkan bentuk sediaan dan secara alfabetis
2. Berkoordinasi dengan tenaga kesehatan yang bertanggung jawab di farmasi sebelumnya dalam
melakukan penempelan label nama sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai rak obat
3. Menyusun dan menyimpan sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai berdasarkan bentuk
sediaan dan secara alfabetis

Habituasi Nilai Habituasi Nilai Dasar ANEKA


Dasar Aneka 1. Akuntabilitas (kejelasan, bertanggung jawab)
Saya melakukan konsul kepada Kepala Puskesmas menyampaikan dengan kejelasan maksud
dan tujuan dari kegiatan penyusunan dan penyimpanan sediaan farmasi dan bahan medis habis
pakai. Dalam menyusun dan menyimpan saya melakukannya dengan bertanggung jawab
penuh untuk menyelesaikan penyusunan dan penyimpanan sediaan farmasi dan bahan medis
habis pakai.
2. Nasionalisme (sila ke-4 musyawarah, dan sila ke-3 menggunakan bahasa indonesia yang
baik)
Kegiatan konsultasi kepada Kepala Puskesmas merupakan bentuk dari musyawarah untuk
mencapai kesepakatan bersama, adanya arahan dan masukan terkait proses penyusunan dan
penyimpanan sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai yang akan saya lakukan, hak ini

91
merupakan salah satu bentuk ada nya musyawarah. Penyampaian maksud dan tujuan kegiatan,
penyusunan dan penyimpanan dilakukan dengan menggunakan bahasa indonesia yang baik
sehingga akan lebih mudah dipahami.
3. Etika Publik (menghargai komunikasi, sopan, santun).
Saya melakukan konsulasi dengan kepala puskesmas dan berkordinasi dengan tenaga kesehatan
yang bertanggung jawab sebelumnya dengan menghargai komunikasi dan mengedepankan
sikap sopan serta santun, sehingga dapat menjadi hubungan kerja yang harmonis.
4. Komitmen Mutu (berorientasi mutu)
Orientasi mutu, saya melakukan penyusunan dan penyimpanan sediaan farmasi dan bahan
medis habis pakai berdasarkan bentuk sediaan dan secara alfabetis untuk memperbaiki mutu
pelayanan kearah yang lebih baik.
5. Anti Korupsi (Bekerja Keras)
Dalam melakukan penyusunan dan penyimpanan sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai
berdasarkan bentuk sediaan dan secara alfabetis saya melakukan dengan bekerja keras,
berupaya meningkatkan kualitas pengelolaan, agar sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai
dapat tersusun dengan baik, dapat diselesaikan tanpa melakukan korupsi waktu.

Dampak Jika Nilai Aneka Tidak Diimplementasikan


1. Jika maksud dan tujuan kegiatan penyusunan dan penyimpanan sediaan farmasi dan bahan

92
medis habis pakai berdasarkan bentuk sediaan dan secara alfabetis tidak disampaikan dengan
penuh kejelasan pada saat konsultasi dengan Kepala Puskesmas, maka akan terjadi
kesalahpahaman antara atasan dan bawahan, tidak disetujuinya kegiatan penyusunan dan
penyimpanan. Selain itu jika dalam penyusunan dan penyimpanan tanpa adanya rasa
bertanggung jawab maka penyusunan dan penyimpanannya menjadi tidak benar, hal ini dapat
menyebabkan terjadinya kesalahan pengambilan sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai.
2. Jika tidak dilakukan musyawarah dengan menggunakan bahasa indonesia yang baik dalam
pelaksanaan kosultasi dengan kepala puskemas tidak mendapatkan arahan serta masukan untuk
melengkapi apabila ada yang kurang dengan melakukan kegiatan penyusunan dan penyimpanan.
3. Jika dalam pelaksanaan konsultasi dengan kepala puskesmas dan berkoordinasi dengan tenaga
kesehatan sebelumnya di farmasi tidak ada sikap menghargai komunikasi, berbicara tidak
sopan dan santun, maka dapat menciptakan hubungan kerja yang tidak harmonis antara atasan
dan bawahan, serta antar rekan kerja. Akibatnya tidak tercapainya tujuan kegiatan.
4. Jika pelaksanaan penyusunan dan penyimpanan sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai
berdasarkan bentuk sediaan dan secara alfabetis tidak dilandasi orientasi mutu, maka kualitas
mutu pelayanan tidak akan ada perubahan kearah yang lebih baik.
5. Jika pelaksanaan penyusunan dan penyimpanan sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai
berdasarkan bentuk sediaan dan secara alfabetis tidak dilakukan dengan sikap bekerja keras,
maka kegiatan ini tidak dapat terselesaikan sesui rencana.

93
Kontribusi / manfaat Kegiatan ini memberikan kemanfaatan kepada petugas yang lain yang ikut membantu penyiapan di
bagi pihak lain farmasi yakni untuk memudahkan petugas dalam menyiapkan dan meminimalkan terjadinya
kesalahan dalam pengambilan serta penyiapan sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai
Kontribusi terhadap Kegiatan ini mendukung misi UPTD Puskesmas Tirtomoyo 1 :
Pencapaian Visi-
 Meningkatkan kapabilitas personal sesuai dengan kompetensi masing-masing melalui proses
Misi Organisasi
pembelajaran yang terus menerus
 Meningkatkan komitmen perseonal dalam organisasi
 Berorientasi pada kepuasan pelanggan
 Membudayakan manajemen berbasis kinerja
Penguatan Nilai - Kegiatan ini menguatkan nilai organisasi UPTD Puskesmas Tirtomoyo 1 yaitu kebersamaan
Nilai Organisasi

Kendala  Terbatasnya waktu dan tenaga di Puskesmas

Strategi Mengatasi  Meminta bantuan ke tenaga kesehatan lainnya, dan melakukan di luar jam kerja di puskemas.
Masalah

Lampiran Kegiatan 1. Hasil konsultasi dengan Kepala Puskesmas


3 2. Foto Kegiatan

94
3. Video Kegiatan

4. Pembuatan Daftar Sediaan Farmasi Dan Bahan Medis Habis Pakai Yang Tergolong LASA Dan High Alert
Medication (HAM), Kemudian Ditempelkan Ditiap Unit-Unit Pelayanan
Kegiatan pembuatan daftar sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai yang tergolong LASA dan High Alert
Medication (HAM), kemudian ditempelkan ditiap unit-unit pelayanan adalah suatu kegiatan pembuatan daftar sediaan
farmasi yang tergolong LASA yakni sediaan yang memiliki pengucapan mirip dan rupa mirip serta High Alert Medication
(HAM) yakni obat-obat yang memerlukan pengawasan dan kewaspadaan khusus, bertujuan memudahkan petugas
dalam mengidentifikasi secara cepat obat-obat yang tergolong LASA dan HAM. Uraian kegiatan secara terperinci
tercantum pada tabel 4.4 berikut.
Table 4.4 Pelaksanaan Kegiatan 4
Rincian Kegiatan Pelaksanaan Kegiatan/Hasil
Nama Kegiatan Pembuatan Daftar Sediaan Farmasi Dan Bahan Medis Habis Pakai Yang Tergolong LASA dan High
Alert Medication (HAM), Kemudian Ditempelkan Ditiap Unit-Unit Pelayanan
Tanggal 28 Oktober – 2 November 2019
Pelaksanaan
Tahapan Kegiatan 1. Mencari literatur sebagai acuan dalam membuat daftar sediaan farmasi dan bahan medis habis
pakai yang tergolong LASA dan High Alert Medication (HAM)
2. Konsultasi Kepada Kepala Puskesmas mengenai draft daftar sedian farmasi dan bahan medis

95
habis pakai yang tergolong LASA dan HAM sesui kondisi di UPTD Puskesmas Tirtomoyo 1
3. Finalisasi daftar sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai yang tergolong LASA dan HAM
sesuai kondisi di UPTD Puskesmas Tirtomoyo 1
4. Menempelkan daftar sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai yang tergolong LASA dan
HAM sesui kondisi di UPTD Puskesmas Tirtomoyo 1 ditiap unit-unit pelayanan.

Habituasi Nilai Habituasi Nilai Dasar ANEKA


Dasar Aneka 1. Akuntabilitas (kejelasan, bertanggung jawab, keadilan)
Saya mencari literatur daftar LASA dan HAM, didasari dengan gambaran akan kejelasan maksud
dan tujuan saya melakukan kegiatan. Selain itu konsul kepada Kepala Puskesmas saya mampu
menyampaikan dengan jelas mengenai draft daftar LASA dan HAM. Dalam mencetak daftar
LASA dan HAM saya melakukannya dengan bertanggung jawab penuh agar dapat segera
terselesaikan sehingga dapat segera ditempelkan di setiap unit pelayanan. Selain itu saya
melakukan penempelan daftar LASA dan HAM dengan penuh keadilan ditempelkan di setiap unit
pelayanan.
2. Nasionalisme (sila ke-4 musyawarah, dan sila ke-3 menggunakan bahasa indonesia yang
baik)
Kegiatan konsultasi kepada Kepala Puskesmas merupakan bentuk dari musyawarah untuk
mencapai kesepakatan bersama, adanya arahan dan masukan terkait draft daftar LASA dan HAM

96
yang saya buat apakah ada yang kurang dan perlu dikoreksi dari Kepala Puskemas adalah salah
satu bentuk ada nya musyawarah. Penyampaian maksud dan tujuan kegiatan, serta draft daftar
LASA dan HAM dilakukan dengan menggunakan bahasa indonesia yang baik sehingga akan
lebih mudah dipahami.
3. Etika Publik (hormat, sopan, santun).
Saya melakukan konsulasi dengan kepala puskesmas dengan hormat dan mengedepankan
sikap sopan serta santun, sehingga dapat menjalini hubungan kerja yang harmonis.
4. Komitmen Mutu (berorientasi mutu, inovatif)
Orientasi mutu, saya saat mencari literatur daftar LASA dan HAM untuk memperbaiki mutu
pengelolaan kearah lebih baik yang berorientasi pada kepuasan pasien. Selain itu saya
mencetaknya dan menempelkan daftar LASA dan HAM dengan dasar inovatif untuk melakukan
perubahan akan pemahaman sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai yang tergolong LASA
dan HAM agar menghindari adanya kesalahan pemberian obat LASA dan HAM.
5. Anti Korupsi (Kejujuran, Mandiri)
Dalam mencetak daftar LASA dan HAM saya melakukan dengan kejujuran menggunakan dana
yang jelas dan transparan tanpa adanya kecurangan. Dalam menempelkan daftar LASA dan HAM
disetiap unit pelayanan saya melakukan secara mandiri, hal ini membentuk karakter diri saya
untuk tidak mudah bergantung kepada pihak lain. Pribadi yang mandiri tidak akan menjalin

97
hubungan dengan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab demi mencapai keuntungan sesaat.

Dampak Jika Nilai Aneka Tidak Diimplementasikan


1. Jika kegiatan pembuatan daftar sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai tidak didasari
dengan gambaran yang jelas akan maksud dan tujuannya akibatnya dalam pembuatan daftar
LASA dan HAM tidak dapat diselesaikan dengan baik. Selain itu jika tidak disampaikan dengan
penuh kejelasan pada saat konsultasi dengan Kepala Puskesmas, maka akan terjadi
kesalahpahaman antara atasan dan bawahan, tidak disetujuinya kegiatan pembuatan daftar LASA
dan HAM. Jika tidak ada rasa bertanggung jawab maka daftar LASA dan HAM tidak tercetak
dengan baik dan tidak tertempel disetiap unit pelayanan. Tidak tertempelnya daftar LASA dan
HAM sehingga kurang pemahaman petugas akan sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai
yang tergolong LASA dan HAM karena tidak adanya keadilan dalam menempelkan daftar LASA
dan HAM
2. Jika tidak dilakukan musyawarah dengan menggunakan bahasa indonesia yang baik dalam
pelaksanaan kosultasi dengan kepala puskemas tidak mendapatkan arahan serta masukan untuk
melengkapi apabila ada yang kurang draft daftar LASA dan HAM yang dibuat
3. Jika dalam pelaksanaan konsultasi dengan kepala puskesmas tidak hormat, berbicara tidak
sopan dan santun, maka dapat menciptakan hubungan kerja yang tidak harmonis antara atasan
dan bawahan. Akibatnya tidak tercapainya tujuan kegiatan.

98
4. Jika pelaksanaan membuat daftar sediaan farmasi dan bahan medis habis paka yang tergolong
LASA dan HAM tidak dilandasi orientasi mutu, maka kualitas mutu pengelolaan tidak akan ada
perubahan kearah yang lebih baik. Selain itu dengan tidak adanya dasar inovatif pada saat
mencetaknya dan menempelkan daftar LASA dan HAM maka tidak akan adanya perubahan yang
baik dan dapat terjadi kesalahan dalam pengambilan dan penyiapan obat.
5. Jika dalam mencetak daftar LASA dan HAM tidak adanya kejujuran dalam menggunakan dana
yang jelas dan transparan, maka akan menyebabkan rawan tindakan kecurangan atau korupsi.
Jika menempelkan daftar LASA dan HAM tidak dilandasi dengan rasa mandiri, maka tidak dapat
membentuk karakter diri saya sebagai seorang yang mandiri, sehingga akan mudah bergantung
dengan orang lain dan dapat dimanfaatkan untuk keuntungan sesaat.
Kontribusi / manfaat Kegiatan ini memberikan kemanfaatan kepada petugas yang lain yang ikut membantu penyiapan di
bagi pihak lain farmasi yakni untuk memudahkan petugas mengidentifikasi secara cepat obat-obat yang tergolong
LASA dan HAM.
Kontribusi terhadap Kegiatan ini mendukung misi UPTD Puskesmas Tirtomoyo 1 :
Pencapaian Visi-  Meningkatkan kapabilitas personal sesuai dengan kompetensi masing-masing melalui proses
Misi Organisasi pembelajaran yang terus menerus
 Meningkatkan komitmen perseonal dalam organisasi
 Berorientasi pada kepuasan pelanggan

99
Penguatan Nilai - Kegiatan ini menguatkan nilai organisasi UPTD Puskesmas Tirtomoyo 1 yaitu keterbukaan dan
Nilai Organisasi kejujuran

Kendala  Sulit menemukan percetakan untuk mencetak daftar di Puskesmas Tirtomoyo 1


 Terbatasnya waktu dan tenaga di Puskesmas
Strategi Mengatasi  Mengumpulkan informasi dari teman kerja dan lingkungan di Puskesmas
Masalah  Meminta bantuan ke tenaga kesehatan lainnya.

Lampiran Kegiatan 4. Hasil konsultasi dengan Kepala Puskesmas


4 5. Foto Kegiatan
6. Video Kegiatan

5. Pembuatan Stiker LASA dan High Alert Medication (HAM) untuk Sediaan Farmasi dan Bahan Medis Habis Pakai
yang tergolong LASA dan HAM
Kegiatan pembuatan stiker LASA dan High Alert Medication (HAM) untuk sediaan farmasi dan bahan medis
habis pakai yang tergolong LASA dan HAM adalah suatu kegiatan pembuatan stiker penandaan LASA dan HAM,
bertujuan untuk memudahkan petugas dalam mengidentifikasi secara cepat obat-obat yang tergolong LASA dan HAM
dan sebagai penandaan khusus untuk membedakan sediaan farmasi yang tergolong LASA dan HAM dengan yang
bukan . Uraian kegiatan secara terperinci tercantum pada tabel 4.5 berikut.
Table 4.5 Pelaksanaan Kegiatan 5

100
Rincian Kegiatan Pelaksanaan Kegiatan/Hasil
Nama Kegiatan Pembuatan Stiker LASA Dan High Alert Medication (HAM) Untuk Sediaan Farmasi Dan Bahan
Medis Habis Pakai Yang Tergolong LASA Dan HAM
Tanggal 28 Oktober – 2 November 2019
Pelaksanaan
Tahapan Kegiatan 1. Mencari referensi stiker LASA dan HAM
2. Konsultasi Kepada Kepala Puskesmas mengenai desaign stiker LASA dan HAM
3. Mencetak stiker LASA dan HAM

Habituasi Nilai Habituasi Nilai Dasar ANEKA


Dasar Aneka 1. Akuntabilitas (kejelasan, bertanggung jawab)
Saya mencari referensi stiker LASA dan HAM dasari dengan gambaran yang jelas akan maksud
dan tujuan saya melakukan kegiatan. Selain itu konsul kepada Kepala Puskesmas
menyampaikan dengan kejelasan mengenai desaign stiker LASA dan HAM. Dalam mencetak
stiker LASA dan HAM saya melakukannya dengan bertanggung jawab penuh untuk
menyelesaikan stiker LASA dan HAM yang dibuat agar segera dapat ditempelkan pada rak obat.
2. Nasionalisme (sila ke-4 musyawarah, dan sila ke-3 menggunakan bahasa indonesia yang
baik)
Kegiatan konsultasi kepada Kepala Puskesmas merupakan bentuk dari musyawarah untuk

101
mencapai kesepakatan bersama, adanya arahan dan masukan terkait design stiker LASA dan
HAM yang saya buat apakah ada yang kurang dan perlu dikoreksi dari Kepala Puskemas,hal ini
adalah salah satu bentuk ada nya musyawarah. Penyampaian maksud dan tujuan kegiatan, serta
desaign stiker LASA dan HAM dilakukan dengan menggunakan bahasa indonesia yang baik
sehingga akan lebih mudah dipahami.
3. Etika Publik (menghargai komunikasi, sopan, santun).
Saya melakukan konsulasi dengan kepala puskesmas dengan menghargai komunikasi yang
terjadi dan mengedepankan sikap sopan serta santun, sehingga dapat menjalin hubungan kerja
yang harmonis.
4. Komitmen Mutu (berorientasi mutu, inovatif)
Orientasi mutu saat mencari referensi stiker LASA dan HAM, serta membuat desaign stiker
LASA dan HAM untuk memperbaiki mutu pengelolaa kearah yang lebih baik dan beorientasi pada
kepuasan pasien. Selain itu saya mencetak stiker LASA dan HAM dengan dasar inovatif untuk
melakukan perubahan akan cara pengidentifikasi secara cepat sediaan farmasi yang tergolong
LASA dan HAM agar tidak terjadi kesalahan dalam pengambilan dan penyiapan obat.
5. Anti Korupsi (Mandiri, Jujur)
Dalam pembuatan stiker LASA dan HAM saya mencari referensi stiker LASA dan HAM secara
mandiri, hal ini membentuk karakter diri saya untuk tidak mudah bergantung kepada pihak lain.
Pribadi yang mandiri tidak akan menjalin hubungan dengan pihak-pihak yang tidak bertanggung

102
jawab demi mencapai keuntungan sesaat. Selain itu dalam mencetak label nama sediaan farmasi
dan bahan medis habis pakai saya melakukan dengan jujur menggunakan dana yang jelas dan
transparan tanpa adanya kecurangan.

Dampak Jika Nilai Aneka Tidak Diimplementasikan


1. Jika maksud dan tujuan kegiatan pembuatan stiker LASA dan HAM tidak didasari dengan
gambaran yang jelas akan maksud dan tujuannya sehingga dalam pembuatan desaign stiker
LASA dan HAM tidak dapat diselesaikan dengan baik. Selain itu jika tidak disampaikan dengan
penuh kejelasan pada saat konsultasi dengan Kepala Puskesmas, maka akan terjadi
kesalahpahaman antara atasan dan bawahan, tidak disetujuinya kegiatan pembuatan stiker LASA
dan HAM. Dalam mencetak stiker LASA dan HAM tanpa adanya rasa bertanggung jawab maka
kegiatan ini tidak dapat diselesaikan dengan baik, sehingga label nama tidak dapat ditempel di rak
obat.
2. Jika tidak dilakukan musyawarah dengan menggunakan bahasa indonesia yang baik dalam
pelaksanaan kosultasi dengan kepala puskemas tidak mendapatkan arahan serta masukan untuk
melengkapi apabila ada yang kurang dengan stiker LASA dan HAM yang dibuat, serta maksud
tujuan dan desaign stiker LASA dan HAM tidak tersampaikan.
3. Jika tidak menghargai komunikasi dalam pelaksanaan konsultasi dengan kepala puskesmas
berbicara tidak sopan dan santun, maka dapat menciptakan hubungan kerja yang tidak harmonis

103
antara atasan dan bawahan. Akibatnya tidak tercapainya tujuan kegiatan.
4. Jika pelaksanaan pembuatan stiker LASA dan HAM tidak dilandasi orientasi mutu, maka kualitas
mutu pengelolaan tidak akan ada perubahan kearah yang lebih baik. Selain itu dengan tidak
adanya dasar inovatif mendesaign dan mencetak stiker LASA dan HAM maka tidak akan adanya
perubahan yang baik dan dapat terjadi kesalahan dalam pengambilan dan penyiapan obat.
5. Jika pembuatan stiker LASA dan HAM tidak dilakukan dengan mandiri, maka tidak dapat
membentuk karakter diri saya sebagai seorang yang mandiri, sehingga akan mudah bergantung
dengan orang lain dan dapat dimanfaatkan untuk keuntungan sesaat. Selain itu jika dalam
mencetak stiker LASA dan HAM tidak adanya kejujuran menggunakan dana yang jelas dan
transparan, maka akan menyebabkan rawan tindakan kecurangan atau korupsi.
Kontribusi / manfaat Kegiatan ini memberikan kemanfaatan kepada petugas yang lain yang ikut membantu penyiapan di
bagi pihak lain farmasi yakni untuk memudahkan petugas mengidentifikasi secara cepat obat-obat yang tergolong
LASA dan HAM.
Kontribusi terhadap Kegiatan ini mendukung misi UPTD Puskesmas Tirtomoyo 1 :
Pencapaian Visi-  Meningkatkan kapabilitas personal sesuai dengan kompetensi masing-masing melalui proses
Misi Organisasi pembelajaran yang terus menerus
 Meningkatkan komitmen perseonal dalam organisasi
 Berorientasi pada kepuasan pelanggan

104
Penguatan Nilai - Kegiatan ini menguatkan nilai organisasi UPTD Puskesmas Tirtomoyo 1 yaitu keikhlasan
Nilai Organisasi

Kendala  Sulit menemukan percetakan stiker di Tirtomoyo I


 Stiker LASA dan Hight Alert mudah rusak dan luntur
Strategi Mengatasi  Mengumpulkan informasi dari teman kerja dan lingkungan di Puskesmas
Masalah  Membuat stiker LASA dan Hight Alert dengan kualitas terbaik dengan harga yang terjangkau

Lampiran Kegiatan 1. Hasil konsultasi dengan Kepala Puskesmas


5 2. Foto Kegiatan
3. Video Kegiatan

6. Penyusunan dan Penyimpanan Sediaan Farmasi dan Bahan Medis Habis Pakai yang Tergolong LASA dan High
Alert Medication (HAM)
Kegiatan penyusunan dan penyimpanan sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai yang tergolong LASA
dan High Alert Medication (HAM) adalah suatu kegiatan penyusunan dan penyimpanan dirak obat yang dengan cara
menata sediaan farmasi yang tergolong LASA berselang seling dengan yang bukan LASA nya dan untuk sediaan
farmasi yang tergolong HAM ditempatkan terpisah dengan dengan sediaan farmasi lainnya, hal ini bertujuan untuk
memudahkan petugas dalam mengidentifikasi secara cepat obat-obat yang tergolong LASA dan HAM sehingga
meminimalisir terjadinya kesalahan . Uraian kegiatan secara terperinci tercantum pada tabel 4.6 berikut.

105
Table 4.6 Pelaksanaan Kegiatan 6
Rincian Kegiatan Pelaksanaan Kegiatan/Hasil
Nama Kegiatan Penyusunan dan Penyimpanan Sediaan Farmasi Dan Bahan Medis Habis Pakai Yang Tergolong
LASA Dan High Alert Medication (HAM)
Tanggal 5 November 2019
Pelaksanaan
Tahapan Kegiatan 1. Konsultasi Kepada Kepala Puskesmas tentang kegiatan penyusunan dan penyimpanan sediaan
farmasi dan bahan medis habis pakai yang tergolong LASA dan HAM
2. Berkoordinasi dengan tenaga kesehatan yang bertanggung jawab di farmasi sebelumnya dalam
melakukan penyusunan dan penyimpanan sediaan farmasi dan dan bahan medis habis pakai
LASA dan HAM,
3. Mengelompokkan dan menempelkan stiker LASA dan HAM pada rak obat sediaan farmasi dan
bahan medis habis pakai sesuai dengan daftar LASA dan HAM yang telah dibuat sebelumnya
4. Menyusun dan menyimpan sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai yang tergolong LASA
dan HAM

Habituasi Nilai Habituasi Nilai Dasar ANEKA


Dasar Aneka 1. Akuntabilitas (kejelasan, bertanggung jawab)
Saya melakukan konsul kepada Kepala Puskesmas menyampaikan dengan kejelasan maksud

106
dan tujuan dari kegiatan penyusunan dan penyimpanan sediaan farmasi dan bahan medis habis
pakai yang tergolong LASA dan HAM. Dalam melakukan pengelompokan dan penempelan stiker
LASA dan HAM serta penyusunannya saya bertanggung jawab penuh untuk menyelesaikan
kegiatan penyusunan dan penyimpanan sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai yang
tergolong LASA dan HAM.
2. Nasionalisme (sila ke-4 musyawarah, dan sila ke-3 menggunakan bahasa indonesia yang
baik)
Sebelum melakukan penyusunan dan penyimpanan sediaan farmasi dan bahan medis habis
pakai yang tergolong LASA dan HAM saya melakukan konsultasi kepada Kepala Puskesmas dan
berkoordinasi dengan tenaga kesehatan yang bertanggung jawab difarmasi sebelumnya, hal ini
merupakan bentuk dari musyawarah untuk mencapai kesepakatan bersama, adanya arahan dan
masukan terkait penyusunan dan penyimpanan sediaan farmasi dan bahan medis yang tergolong
LASA dan HAM adalah salah satu bentuk ada nya musyawarah. Penyampaian maksud dan
tujuan kegiatan penyusunan dan penyimpanan sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai
yang tergolong LASA dan HAM dilakukan dengan menggunakan bahasa indonesia yang baik
sehingga akan lebih mudah dipahami.
3. Etika Publik (menghargai komunikasi, sopan, santun).
Saya melakukan konsultasi dengan kepala puskesmas dan berkoordinasi dengan tenaga
kesehatan sebelumnya dengan menghargai komunikasi yang terjadi dan mengedepankan sikap

107
sopan serta santun, sehingga dapat menjalin hubungan kerja yang harmonis.

4. Komitmen Mutu (berorientasi mutu, inovatif)


Saya menyusun dan menyimpan sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai yang tergolong
LASA dan HAM berorintasi mutu dan inovatif untuk memperbaiki mutu pengelolaan kearah
yang lebih baik yang berorientasi pada kepuasan pasien.
5. Anti Korupsi (bekerja keras)
Saya bekerja keras dalam mengelompokan, menempelkan, menyusun , dan menyimpan sediaan
farmasi dan bahan medis habis pakai yang tergolong LASA dan HAM, sehingga kegiatan
penyusunan dan penyimpanan dapat berjalan dengan baik, serta dapat diselesaikan lebih cepat
dari yang direncanakan

Dampak Jika Nilai Aneka Tidak Diimplementasikan


1. Jika tidak disampaikan dengan penuh kejelasan pada saat konsultasi dengan Kepala Puskesmas
dan maka akan terjadi kesalahpahaman antara atasan dan bawahan, tidak disetujuinya kegiatan
penyusunan dan penyimpanan sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai yang tergolong
LASA dan HAM. Selain itu jika dalam mencetak label nama tanpa adanya rasa bertanggung
jawab maka kegiatan ini tidak dapat diselesaikan dengan baik.
2. Jika tidak dilakukan musyawarah dengan menggunakan bahasa indonesia yang baik dalam

108
pelaksanaan kosultasi dengan kepala puskemas dan berkoordinasi dengan tenaga kesehatan
yang bertanggung jawab sebelumnya maka tidak mendapatkan arahan serta masukan untuk
melengkapi apabila ada kekurangan dalam penyusunan dan penyimpanan sediaan farmasi dan
bahan medis habis pakai yang tergolong LASA dan HAM.
3. Jika dalam pelaksanaan konsultasi dengan kepala puskesmas dan berkoordinasi dengan tenaga
kesehatan sebelumnya tidak adanya sikap menghargai komunikasi, berbicara tidak sopan dan
santun, maka dapat menciptakan hubungan kerja yang tidak harmonis antara atasan dan
bawahan serta antar rekan kerja. Akibatnya tidak tercapainya tujuan kegiatan.
4. Jika pelaksanaan penyusunan dan penyimpanan sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai
tidak dilandasi orientasi mutu, maka kualitas mutu pengelolaan tidak akan ada perubahan
kearah yang lebih baik, tidak tercapainya kepuasan pasien, dan tidak terjaminnya keselamatan
pasien
5. Jika pelaksanaan penyusunan dan penyimpanan sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai
tidak ada sikap kerja keras maka kegiatan tersebut akan terselesaikan melebihi waktu yang
terlah direncakan, dan tidak terlaksananya kegiatan penyusunan dan penyimpanan sediaan
farmasi dan bahan medis habis pakai
Kontribusi / manfaat Kegiatan ini memberikan kemanfaatan kepada petugas yang lain yang ikut membantu penyiapan di
bagi pihak lain farmasi yakni untuk memudahkan petugas mengidentifikasi secara cepat obat-obat yang tergolong
LASA dan HAM.

109
Kontribusi terhadap Kegiatan ini mendukung misi UPTD Puskesmas Tirtomoyo 1 :
Pencapaian Visi-  Meningkatkan kapabilitas personal sesuai dengan kompetensi masing-masing melalui proses
Misi Organisasi pembelajaran yang terus menerus
 Meningkatkan komitmen perseonal dalam organisasi
 Berorientasi pada kepuasan pelanggan
 Membudayakan manajemen berbasis kinerja
Penguatan Nilai - Kegiatan ini menguatkan nilai organisasi UPTD Puskesmas Tirtomoyo 1 yaitu kebersamaan
Nilai Organisasi

Kendala  Terbatasnya waktu dan tenaga di Puskesmas

Strategi Mengatasi  Meminta bantuan ke tenaga kesehatan lainnya, melakukan di luar jam kerja di puskemas.
Masalah

Lampiran Kegiatan 1. Hasil konsultasi dengan Kepala Puskesmas


6 2. Foto Kegiatan
3. Video Kegiatan

7. Pemberian Stiker Penandaan Sediaan Farmasi dan Bahan Medis Habis Pakai yang Mendekati ED pada rak obat
dengan sistem FEFO FIFO

110
Kegiatan pemberian stiker penandaan sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai yang mendekati ED pada
rak obat dengan sistem FEFO FIFO adalah suatu kegiatan pemberiaan stiker warna hijau (masa ed lebih dari 1 tahun),
kuning (masa ed antara 6 bulan sampai 1 tahun), merah (masa ed kurang dari 1 tahun) pada rak obat, hal ini bertujuan
untuk memudahkan petugas dalam mengidentifikasi secara cepat sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai mana
saja yang memiliki ed yang pendek sehingga harus dikeluarkan terlebih dahulu untuk menjaga agar pasien tetap aman.
Uraian kegiatan secara terperinci tercantum pada tabel 4.7 berikut.
Table 4.7 Pelaksanaan Kegiatan 7
Rincian Kegiatan Pelaksanaan Kegiatan/Hasil
Nama Kegiatan Kegiatan Pemberian Stiker Penandaan Sediaan Farmasi Dan Bahan Medis Habis Pakai Yang
Mendekati ED Pada Rak Obat Dengan Sistem FEFO FIFO
Tanggal 4 November – 8 November 2019
Pelaksanaan
Tahapan Kegiatan 1. Berkoordinasi dengan tenaga kesehatan yang bertanggung jawab di farmasi sebelumnya dan PJ
UKP dalam melakukan penandaan sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai yang mendekati
ED
2. Membuat daftar sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai yang mendekati ED
3. Konsultasi Kepada Kepala Puskesmas tentang pemberian striker penandaan sediaan farmasi dan
bahan medis habis pakai yang mendekati ED
4. Pemberian stiker penandaan sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai yang mendekati Ed

111
dengan menuliskan tanggal kadaluarsa dan menempelkan pada rak obat sesuai metode FEFO
FIFO

Habituasi Nilai Habituasi Nilai Dasar ANEKA


Dasar Aneka 1. Akuntabilitas (kejelasan, bertanggung jawab)
Saya berkoordinasi dengan tenaga kesehatan yang bertanggung jawab di farmasi sebelumnya
dan PJ UKP, saya mampu menyampaikan pendapat dengan kejelasan mengenai kegiatan
pemberian stiker penandaan sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai yang mendekati ED
pada rak obat dengan sistim FEFO dan FIFO. Dalam pembuatan daftar sediaan farmasi dan
bahan medis habis pakai yang mendekati ED saya memiliki gambaran yang jelas tentang apa
yang menjadi tujuan kegiatan saya. Selain itu saat melakukan konsultasi dengan kepala
puskesmas, saya mampu menjelaskan maksud dan tujuan dari kegiatan saya ini. Dalam
pemberian stiker penandaan mendekati ED saya melakukannya dengan bertanggung jawab
penuh untuk segera menyelesaikannya.
2. Nasionalisme (sila ke-4 musyawarah, dan sila ke-3 menggunakan bahasa indonesia yang
baik)
Berkoordinasi dengan tenaga kesehatan sebelumnya yang bertanggung jawab difarmasi dan PJ
UKP serta berkonsultasi kepada Kepala Puskesmas merupakan bentuk dari musyawarah untuk
mencapai kesepakatan bersama, adanya arahan dan masukan terkait kegiatan pemberian stiker

112
penandaan mendekati ED dengan sistim FEFO dan FIFO apakah ada yang kurang dan perlu
dikoreksi, hal ini adalah salah satu bentuk ada nya musyawarah. Penyampaian maksud dan
tujuan kegiatan, dilakukan dengan menggunakan bahasa indonesia yang baik sehingga akan
lebih mudah dipahami.
3. Etika Publik (menghargai komunikasi, sopan, santun).
Saya melakukan koordinasi dengan tenaga kesehatan yang bertanggung jawab di farmasi
sebelumnya dan PJ UKP serta melakukan konsultasi dengan kepala puskesmas dengan
menghargai komunikasi yang terjadi dan mengedepankan sikap sopan serta santun, sehingga
dapat menjalin hubungan kerja yang harmonis.
4. Komitmen Mutu (berorientasi mutu, inovatif)
Orientasi mutu saat membuat daftar sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai yang
mendekati ED untuk memperbaiki mutu pengelolaan kearah yang lebih baik, dan berorientasi
pada kepuasan pasien. Selain itu saya saya memberikan stiker penandaan mendekati ED dengan
dasar inovatif untuk melakukan perubahan kearah yang lebih baik, agar tidak terjadi kesalahan
pemberian obat ED.
5. Anti Korupsi (mandiri)
Dalam membuat daftar sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai yang mendekati ED saya
melakukan secara mandiri, hal ini membentuk karakter diri saya untuk tidak mudah bergantung
kepada pihak lain. Pribadi yang mandiri tidak akan menjalin hubungan dengan pihak-pihak yang

113
tidak bertanggung jawab demi mencapai keuntungan sesaat.

Dampak Jika Nilai Aneka Tidak Diimplementasikan


1. Jika saya tidak mampu menyampaikan pendapat secara jelas saat berkoordinasi maka akan
terjadi kesalahpahaman antara saya dengan tenaga kesehatan yang bertanggung jawab difarmasi
sebelumnya dan PJ UKP. Jika tidak didasari dengan gambaran yang jelas akan maksud dan
tujuannya dalam melakukan pembuatan daftar sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai
yang mendekati ED maka kegiatan ini tidak dapat diselesaikan dengan baik. Selain itu jika dalam
menyampaikan maksud dan tujuan tidak disampaikan dengan penuh kejelasan pada saat
konsultasi dengan Kepala Puskesmas, maka akan terjadi kesalahpahaman antara atasan dan
bawahan, tidak disetujuinya kegiatan pemberian stiker penandaan mendekati ED. Selain itu jika
dalam melakukan pemberian stiker penandaan tanpa adanya rasa bertanggung jawab maka
kegiatan ini tidak dapat diselesaikan dengan baik, tidak adanya stiker penandaan mendekati ED
yang tertempel di rak obat
2. Jika tidak dilakukan musyawarah dengan menggunakan bahasa indonesia yang baik dalam
pelaksanaan koordinasi dengan tenaga kesehatan yang bertanggung jawab di farmasi
sebelumnya dan PJ UKP serta pelaksanaan kosultasi dengan kepala puskemas tidak
mendapatkan arahan dan masukan untuk melengkapi apabila ada yang kurang serta tidak
adanyanya kesepakatan, sehingga kegiatan pemberian stiker penandaan mendekati ED menjadi

114
tidak terselesaikan dengan baik.
3. Jika dalam pelaksanaan koordinasi dengan tenaga kesehatan yang bertanggung jawab di farmasi
sebelumnya dan PJ UKP, serta pelaksanaan konsultasi dengan kepala puskesmas tidak
menghargai komunikasi yang terjadi, berbicara tidak sopan dan santun, maka dapat
menciptakan hubungan kerja yang tidak harmonis antar rekan kerja serta antara atasan dan
bawahan. Akibatnya tidak tercapainya tujuan kegiatan.
4. Jika pelaksanaan membuat daftar sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai yang mendekati
ED tidak dilandasi orientasi mutu, maka kualitas mutu pengelolaan tidak akan ada perubahan
kearah yang lebih baik. Selain itu dengan tidak adanya dasar inovatif pada saat pemberian stiker
penandaan ED maka tidak akan adanya perubahan yang baik dan dapat terjadi kesalahan
pemberian obat ED kepada pasien.
5. Jika pelaksanaan membuat daftar sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai yang mendekati
ED tidak dilandasi dengan rasa mandiri, maka tidak dapat membentuk karakter diri saya sebagai
seorang yang mandiri, sehingga akan mudah bergantung dengan orang lain dan dapat
dimanfaatkan untuk keuntungan sesaat.
Kontribusi / manfaat Kegiatan ini memberikan kemanfaatan kepada petugas yang lain yang ikut membantu penyiapan di
bagi pihak lain farmasi yakni untuk memudahkan petugas mengidentifikasi secara cepat sediaan farmasi dan
bahan medis habis pakai yang memiliki ed pendek untuk dikeluarkan terlebih dahulu agar pasien
tetap aman.

115
Kontribusi terhadap Kegiatan ini mendukung misi UPTD Puskesmas Tirtomoyo 1 :
Pencapaian Visi-  Meningkatkan kapabilitas personal sesuai dengan kompetensi masing-masing melalui proses
Misi Organisasi pembelajaran yang terus menerus
 Meningkatkan komitmen perseonal dalam organisasi
 Berorientasi pada kepuasan pelanggan
 Membudayakan manajemen berbasis kinerja
Penguatan Nilai - Kegiatan ini menguatkan nilai organisasi UPTD Puskesmas Tirtomoyo 1 yaitu kebersamaan
Nilai Organisasi

Kendala  Terbatasnya waktu dan tenaga di Puskesmas

Strategi Mengatasi  Meminta bantuan ke tenaga kesehatan lainnya, melakukan di luar jam kerja di puskemas.
Masalah

Lampiran Kegiatan 1. Hasil konsultasi dengan Kepala Puskesmas


7 2. Foto Kegiatan
3. Video Kegiatan

8. Pembuatan Form Pendistribusian Sediaan Farmasi dan Bahan Medis Habis Pakai di Tiap Unit Pelayanan (BP
Umum, Poli Gigi, KIA, KB, MTBS, IGD)

116
Kegiatan pembuatan form pendistribusian sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai di tiap unit pelayanan
(BP umum, Poli Gigi, KIA, KB, MTBS, IGD) adalah suatu kegiatan pembuatan alat bantu sebagai bukti melakukan
pendistribusian sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai yang berupa form pendistribusian, hal ini bertujuan untuk
menjamin ketersediaan sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai di unit pelayanan dan menjaga agar stok di
gudang obat tetap terkendali. Uraian kegiatan secara terperinci tercantum pada tabel 4.8 berikut.
Table 4.8 Pelaksanaan Kegiatan 8
Rincian Kegiatan Pelaksanaan Kegiatan/Hasil
Nama Kegiatan Pembuatan Form Pendistribusian Sediaan Farmasi Dan Bahan Medis Habis Pakai Di Tiap Unit
Pelayanan (BP Umum, Poli Gigi, KIA, KB, MTBS, IGD)
Tanggal 30 Oktober 2019
Pelaksanaan
Tahapan Kegiatan 1. Berkoordinasi dengan tenaga kesehatan yang bertanggung jawab di farmasi sebelumnya dan PJ
UKP dalam mendesaign form pendistribusian.
2. Membuat desaign Form pendistribusian sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai
3. Konsultasi Kepada Kepala Puskesmas mengenai desaign form pendistribusian sediaan farmasi
dan bahan medis habis pakai
4. Finalisasi Form Pendistribusian sediaan Farmasi dan bahan medis habis pakai dengan mencetak
Form pendistribusian
5. Melakukan sosialisasi kepada rekan kerja yang lainnya tentang cara penggunaan form

117
pendistribusian sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai yang sesuai dengan SOP nya

Habituasi Nilai Habituasi Nilai Dasar ANEKA


Dasar Aneka 1. Akuntabilitas (kejelasan, bertanggung jawab)
Saya menyampaikan pendapat saya secara jelas dalam melakukan koordinasi dengan tenaga
kesehatan yang bertanggung jawab difarmasi sebelumnya dan PJ UKP dalam mendesaign form
pendistribusian. Berkonsultasi dengan kepala puskesmas saya menyampaikan dengan kejelasan
mengenai desaign form pendistribusian dan menyampaikan maksud serta tujuan. Dalam
pembuatan desaign form pendistribusian saya bertanggung jawab penuh untuk menyelesaikan
desaign form. Dalam menyampaikan sosialisasi saya menyampaikan secara jelas cara
penggunaan form pendistribusian sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai kepada petugas
medis lainnya.
2. Nasionalisme (sila ke-4 musyawarah, dan sila ke-3 menggunakan bahasa indonesia yang
baik)
Koordinasi dengan tenaga kesehatan yang bertanggung jawab di farmasi sebelumnya dan PJ
UKP serta melakukan konsultasi kepada Kepala Puskesmas merupakan bentuk dari
musyawarah untuk mencapai kesepakatan bersama, adanya arahan dan masukan terkait design
form pendistribusian yang dibuat apakah ada yang kurang dan perlu dikoreksi adalah salah satu
bentuk ada nya musyawarah. Penyampaian maksud dan tujuan kegiatan, serta desaign form

118
pendistribusian saat berkoordinasi dan berkonsultasi dilakukan dengan menggunakan bahasa
indonesia yang baik sehingga akan lebih mudah dipahami. Selain itu saat menyampaikan
sosialisasi cara penggunaan form pendistribusian dengan menggunakan bahasa indonesia
yang baik, sehingga akan lebih mudah dipahami
3. Etika Publik (hormat, sopan, santun).
Saya melakukan koordinassi dengan tenaga kesehatan yang bertanggung jawab di farmasi
sebelumnya dan PJ UKP serta melakukan konsultasi dengan kepala puskesmas dengan hormat
dan mengedepankan sikap sopan serta santun, sehingga dapat menjalin hubungan kerja yang
harmonis.

4. Komitmen Mutu (inovatif)


Saya membuat desain form pendistribusian dan mencetaknya dengan dasar inovatif untuk
melakukan perubahan perbaikan pengelolaan sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai
menjadi lebih baik, sehingga menjamin ketersediaan sediaan farmasi dan bahan medis habis
pakai di tiap unit terkait, stok di gudang obat menjadi lebih terkontrol dan ada bukti tertulisnya.
5. Anti Korupsi (kerja keras, mandiri)
Dalam membuat desaign form pendistribusian saya melakukan dengan kerja keras sehingga
dapat selesai lebih cepat dari jadwal yang direncanakan, tidak korupsi waktu adalah bentuk dari
kerja keras. Secara mandiri saya membuat desaign form pendistribusian, hal ini membentuk

119
karakter diri saya untuk tidak mudah bergantung kepada pihak lain. Pribadi yang mandiri tidak
akan menjalin hubungan dengan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab demi mencapai
keuntungan sesaat. Selain itu saya bekerja keras menyampaikan maksud dan tujuan saya dan
mensosialisasikan cara penggunaan form pendistribusian kepada petugas medis lainnya,
sehingga dapat dilaksanakan dengan baik.

Dampak Jika Nilai Aneka Tidak Diimplementasikan


1. Jika saya tidak dapat menyampaikan pendapat saya dengan jelas mengenai desaign form
pendistribusian dengan baik saat berkoordinasi dengan tenaga kesehatan yang bertanggung
jawab difarmasi sebelumnya dan PJ UKP maka tidak akan mendapatkan masukan dan arahan
serta kesepakatan bersama, sehingga kegiatan ini tidak dapat terlaksana dengan baik. Selain itu
jika saya tidak dapat menjelaskan maksud, tujuan serta desaign form pendistribusian kepada
kepala puskesmas maka akan ada kesalahpahaman antara atasan dan bawahan dan tidak
disetujuinya kegiatan. Dalam pembuatan desaign jika tidak dilandasi dengan sikap bertanggung
jawab maka kegiatan ini tidak dapat diselesaikan dengan baik. Dalam melakukan sosialisasi jika
tidak disampaikan dengan penuh kejelasan cara penggunaan form pendistribusian maka petugas
medis lainnya tidak memahami cara penggunaan form.
2. Jika tidak dilakukan musyawarah dengan menggunakan bahasa indonesia yang baik dalam
pelaksanaan koordinasi dengan tenaga kesehatan yang bertangung jawab di farmasi sebelumnya

120
dan saat melakukan kosultasi dengan kepala puskemas maka tidak mendapatkan arahan serta
masukan untuk melengkapi apabila ada yang kurang dengan desaign form pendistribusian yang
dibuat. Selain itu saat melakukan sosialisasi jika tidak menggunakan bahasa indonesia yang
baik maka petugas medis lain kurang memahami maksud, tujuan, serta cara penggunaan form
pendistribusian.
3. Jika dalam pelaksanaan koordinasi dengan tenaga kesehatan yang bertangggung jawab difarmasi
sebelumny dan PJ UKP serta melakukan konsultasi dengan kepala puskesmas tidak hormat,
berbicara tidak sopan dan santun, maka dapat menciptakan hubungan kerja yang tidak harmonis
antara atasan dan bawahan. Akibatnya tidak tercapainya tujuan kegiatan.
4. Tidak adanya dasar inovatif pada saat membuat desaign form pendistribusian dan mencetaknya
maka tidak akan adanya perubahan pengelolan kearah yang baik dan tidak terjaminnya
ketersediaan sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai di unit terkait, selalin itu tidak ada
bukti tertulis tentang pendistribusian sehingga stok di gudang obat menjadi tidak terkendali.
5. Jika pelaksanaan medesaign form pendistribusian tidak dilandasi dengan kerja keras dan
mandiri, maka tidak dapat terselesaikannya kegiatan dan tidak dapat membentuk karakter diri
saya sebagai seorang yang mandiri, sehingga akan mudah bergantung dengan orang lain dan
dapat dimanfaatkan untuk keuntungan sesaat. Selain itu jika dalam mencetak label nama tidak
dilakukan menggunakan dana yang jelas dan transparan, maka akan menyebabkan rawan
tindakan kecurangan atau korupsi. Selain itu jika tidak ada sikap kerja keras dalam

121
mensosialisasikan cara penggunaan form pendistribusian maka petugas medis lainnya menjadi
tidak paham cara penggunaannya, tidak terjaminnya ketersediaan sediaan farmasi dan bahan
medis habis pakai di unit terkait, dan stok di gudang obat menjadi tidak terkendali.
Kontribusi / manfaat Kegiatan ini memberikan kemanfaatan kepada petugas yang lain untuk tetap menjamin
bagi pihak lain ketersediaan sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai di unitnya masing masing, sehingga
petugas dapat segera memberikan tindakkan apabila terjadi keadaan darurat
Kontribusi terhadap Kegiatan ini mendukung misi UPTD Puskesmas Tirtomoyo 1 :
Pencapaian Visi-  Meningkatkan kapabilitas personal sesuai dengan kompetensi masing-masing melalui proses
Misi Organisasi pembelajaran yang terus menerus
 Meningkatkan komitmen perseonal dalam organisasi
 Berorientasi pada kepuasan pelanggan
 Membudayakan manajemen berbasis kinerja
Penguatan Nilai - Kegiatan ini menguatkan nilai organisasi UPTD Puskesmas Tirtomoyo 1 yaitu saling menghormati
Nilai Organisasi

Kendala  Desain tidak menarik dan kurang sesuai

Strategi Mengatasi  Koordinasi dengan tenaga kesehatan lain, Kepala puskesmas, dan PJ UKP.
Masalah

122
Lampiran Kegiatan 1. Hasil konsultasi dengan Kepala Puskesmas
1 2. Foto Kegiatan
3. Video Kegiatan

9. Pendistribusian Sediaan Farmasi dan Bahan Medis Habis Pakai


Kegiatan pendistribusian sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai adalah suatu kegiatan pemberian
sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai di gudang obat sesui dengan permintaan tiap unit terkait, hal ini bertujuan
untuk menjamin ketersediaan sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai di unit pelayanan dan menjaga agar stok di
gudang obat tetap terkendali. Uraian kegiatan secara terperinci tercantum pada tabel 4.9 berikut.
Table 4.9 Pelaksanaan Kegiatan 9
Rincian Kegiatan Pelaksanaan Kegiatan/Hasil
Nama Kegiatan Pendistribusian Sediaan Farmasi Dan Bahan Medis Habis Pakai
Tanggal 11 November – 16 November 2019
Pelaksanaan
Tahapan Kegiatan 1. Konsultasi kepada kepala puskesmas mengenai kegiatan pendistribusian sediaan farmasi dan
bahan medis habis pakai
2. Memperbanyak form pendistribusian sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai
3. Membagikan form kepada petugas medis pada unit yang terkait

123
4. Melakukan pendistribusian sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai

Habituasi Nilai Habituasi Nilai Dasar ANEKA


Dasar Aneka 1. Akuntabilitas (kejelasan, bertanggung jawab, keadilan)
Saya melakukan konsultasi kepada kepala puskesmas tentang kegiatan pendistribusian,
menyampaikan dengan kejelasan maksud dan tujuan dari kegiatan saya ini. Memperbanyak form
pendisribusian saya melakukannya dengan bertanggung jawab penuh untuk menyelesaikan
memperbanyak form agar dapat segera digunakan di tiap unit pelayanan. Selain itu saya
membagikan form pendistribusian dan melakukan pendistibusian sediaan farmasi dan bahan
medis habis pakai dengan penuh keadilan kepada petugas medis pada unit yang terkait.
2. Nasionalisme (sila ke-4 musyawarah, dan sila ke-3 menggunakan bahasa indonesia yang
baik)
Kegiatan konsultasi tentang pendistribusian sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai kepada
Kepala Puskesmas merupakan bentuk dari musyawarah untuk mencapai kesepakatan bersama,
adanya arahan dan masukan terkait kegiatan pendistribusian yang akan dilakukan adalah salah
satu bentuk ada nya musyawarah. Penyampaian maksud dan tujuan kegiatan pendistribusian
dilakukan dengan menggunakan bahasa indonesia yang baik sehingga akan lebih mudah
dipahami.
3. Etika Publik (menghargai komunikasi, sopan, santun).

124
Saya melakukan konsulasi dengan kepala puskesmas dengan menghargai komunikasi dan
mengedepankan sikap sopan serta santun, sehingga dapat menjalin hubungan kerja yang
harmonis.
4. Komitmen Mutu (berorientasi mutu, inovatif)
Orientasi mutu saat memperbanyak form pendistribusian dan saat melakukan pendistribusian
sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai untuk memperbaiki mutu pengelolaan kearah yang
lebih baik. Selain itu dengan dasar inovatif untuk melakukan perubahan agar terjaminnya
ketersediaan sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai di unit pelayanan yang terkait serta
memastikan stok sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai di gudang obat tetap terkontrol.
5. Anti Korupsi (Mandiri, Jujur)
Dalam memperbanyak, membagikan form pendistribusian dan melakukan pendistribusian sediaan
farmasi dan bahan medis habis pakai saya melakukan secara mandiri, hal ini membentuk
karakter diri saya untuk tidak mudah bergantung kepada pihak lain. Pribadi yang mandiri tidak
akan menjalin hubungan dengan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab demi mencapai
keuntungan sesaat. Selain itu saya melakukan pendistribusian sediaan farmasi dan bahan medis
habis pakai dilandasi dengan kejujuran memberikan barang sesuai dengan permintaan petugas
medis pada unit terkait secara transparan dan tidak adanya kecurangan.

Dampak Jika Nilai Aneka Tidak Diimplementasikan

125
1. Jika maksud dan tujuan kegiatana pendistribusian tidak disampaikan dengan penuh kejelasan
pada saat konsultasi dengan Kepala Puskesmas, maka akan terjadi kesalahpahaman antara
atasan dan bawahan, tidak disetujuinya kegiatan pendistribusian. Selain itu jika dalam
memperbanyak form pendistribusian sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai tanpa adanya
rasa bertanggung jawab maka kegiatan ini tidak dapat diselesaikan dengan baik, form tidak
tersedia. Dalam membagikan form pendistribusian dan melakukan pendistribusian sediaan
farmasi dan bahan medis habis pakai tidak dilandasi dengan sikap keadilan, maka form serta
sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai tidak tersedia secara merata di tiap unit terkait.
2. Jika tidak dilakukan musyawarah dengan menggunakan bahasa indonesia yang baik dalam
pelaksanaan kosultasi dengan kepala puskemas tidak mendapatkan arahan serta masukan untuk
melengkapi apabila ada yang kurang tentang kegiatan pendistribusian sediaan farmasi dan bahan
medis habis pakai.
3. Jika dalam pelaksanaan konsultasi dengan kepala puskesmas tidak menghargai adanya
komunikasi, berbicara tidak sopan dan santun, maka dapat menciptakan hubungan kerja yang
tidak harmonis antara atasan dan bawahan. Akibatnya tidak tercapainya tujuan kegiatan.
4. Jika pelaksanaan memperbanyak form dan melakukan pendistribusian tidak dilandasi orientasi
mutu, maka kualitas mutu pengelolaan tidak akan ada perubahan kearah yang lebih baik. Selain
itu dengan tidak adanya dasar inovatif tidak terjaminnya ketersediaan sediaan farmasi dan bahan
medis habis pakai di unit pelayanan yang terkait serta stok sediaan farmasi dan bahan medis

126
habis pakai di gudang obat tidak terkontrol
5. Jika pelaksanaan memperbanyak, membagian form, dan melakukan pendistribusian sediaan
farmasi dan bahan medis habis tidak dilandasi dengan rasa mandiri, maka tidak dapat
membentuk karakter diri saya sebagai seorang yang mandiri, sehingga akan mudah bergantung
dengan orang lain dan dapat dimanfaatkan untuk keuntungan sesaat. Selain itu jika dalam
melakukan pendistribusian sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai tidak dilandasi
kejujuran dan secara transparan, tidak memberikan sediaan farmasi dan bahan medis habis
pakai sesui permintaan, maka dapat menimbulkan adanya kecurangan.
Kontribusi / manfaat Kegiatan ini memberikan kemanfaatan kepada petugas yang lain untuk tetap menjamin
bagi pihak lain ketersediaan sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai di unitnya masing masing, sehingga
petugas dapat segera memberikan tindakkan apabila terjadi keadaan darurat

Kontribusi terhadap Kegiatan ini mendukung misi UPTD Puskesmas Tirtomoyo 1 :


Pencapaian Visi-  Meningkatkan kapabilitas personal sesuai dengan kompetensi masing-masing melalui proses
Misi Organisasi pembelajaran yang terus menerus
 Meningkatkan komitmen perseonal dalam organisasi
 Berorientasi pada kepuasan pelanggan
 Membudayakan manajemen berbasis kinerja

127
Penguatan Nilai - Kegiatan ini menguatkan nilai organisasi UPTD Puskesmas Tirtomoyo 1 yaitu kebersamaan
Nilai Organisasi

Kendala  Masih terjadinya pendistribusian barang di tengah tengah adanya tindakan darurat

Strategi Mengatasi  Mengingat kan petugas pada saat apel pagi untuk mengecek stok yang menipis, agar dapat
Masalah melakukan permintaan.

Lampiran Kegiatan 1. Hasil konsultasi dengan Kepala Puskesmas


9 2. Foto Kegiatan
3. Video Kegiatan

128
B. Matriks Rekapitulasi Aktualisasi dan Habituasi Nilai–Nilai ANEKA

Tabel 4.10 Matriks Rekapitulasi Aktualisasi dan Habituasi Nilai–Nilai ANEKA

Proporsi Aktualisasi Nilai Nilai Dasar ASN

No Kegiatan A N E K A Jumlah

1 Penbuatan SOP terbaru Kejelasan Sila ke-4 Menghormati Berorientasi Mandiri (1) 10
tentang penyimpanan musyawarah komunikasi Mutu
Tanggung
dan pendistribusian
Jawab (2) Sila ke-3 Sopan Inovatif (2)
sediaan farmasi dan
menggunakan
bahan medis habis Santun (3)

129
pakai bahasa
indonesia
yang baik (2)

2. Pembuatan label nama Kejelasan Sila ke-4 Menghormati Berorientasi Mandiri 11


sediaan farmasi dan musyawarah komunikasi Mutu
Tanggung Jujur (2)
bahan medis habis
Jawab (2) Sila ke-3 Sopan Inovatif (2)
pakai
menggunakan
Santun (3)
bahasa
indonesia
yang baik (2)

3 Penyususunan dan Kejelasan Sila ke-4 Menghormati Berorientasi Bekerja 10


penyimpanan sediaan musyawarah komunikasi Mutu keras (1)
Tanggung
farmasi dan bahan
Jawab (2) Sila ke-3 Sopan Inovatif (2)
medis habis pakai
menggunakan
berdasarkan bentuk Santun (3)
bahasa
sediaan dan secara
indonesia
alfabetis
yang baik (2)

130
4 Pembuatan Daftar Kejelasan Sila ke-4 hormat Berorientasi Kejujuran 12
sediaan farmasi dan musyawarah Mutu Mandiri (2)
Tanggung Sopan
bahan medis habis
Jawab Sila ke-3 Inovatif (2)
pakai yang tergolong Santun (3)
menggunakan
LASA dan HAM, Keadilan
bahasa
kemudian ditempel di (3)
indonesia
tiap unit-unit pelayanan
yang baik (2)

5. Pembuatan Stiker LASA Kejelasan Sila ke-4 Menghargai Berorientasi Mandiri, 11


dan HAM untuk sediaan musyawarah komunikasi Mutu Kejujuran
Tanggung
farmasi dan bahan (2)
Jawab (2) Sila ke-3 Sopan Inovatif (2)
medis habis pakai yang
menggunakan
tergolong LASA dan Santun (3)
bahasa
HAM
indonesia
yang baik (2)

6 Penyusunan dan Kejelasan Sila ke-4 Menghargai Berorientasi Bekerja 10


penyimpanan sediaan musyawarah komunikasi Mutu keras (1)
Tanggung
farmasi dan bahan
Sila ke-3

131
medis habis pakai yang Jawab (2) menggunakan Sopan Inovatif (2)
tergolong LASA dan bahasa
Santun (3)
HAM indonesia
yang baik (2)

7 Pemberian stiker Kejelasan Sila ke-4 Menghargai Berorientasi Mandiri (1) 10


penandaan sediaan musyawarah komunikasi Mutu
Tanggung
farmasi dan bahan
Jawab (2) Sila ke-3 Sopan Inovatif (2)
medis habis pakai yang
menggunakan
mendekati ED pada rak Santun (3)
bahasa
obat, dengan sistem
indonesia
FEFO FIFO
yang baik (2)

8. Pembuatan form Kejelasan Sila ke-4 Hormat Inovatif (1) Kerja keras 10
pendistribusian sediaan musyawarah Mandiri (2)
Tanggung Sopan
farmasi dan bahan
Jawab (2) Sila ke-3
medis habis pakai ditiap Santun (3)
menggunakan
unit pelayanan
bahasa
indonesia

132
yang baik (2)

9. Pendistribusian sediaan Kejelasan Sila ke-4 Menghargai Berorientasi Mandiri, 12


farmasi dan bahan musyawarah komunikasi Mutu Kejujuran
Tanggung
medis habis pakai (2)
Jawab Sila ke-3 Sopan Inovatif (2)
menggunakan
Keadilan Santun (3)
bahasa
(3)
indonesia
yang baik (2)

Jumlah 20 18 27 17 14 96

Prosentase 20/96 18/96 *100% = 27/96 *100% 17/96 *100% 14/96 96/96*
*100% = 18.7% = 28,1% = 17,7% *100% = 100% =
20,8% 14,5% 100%

133
Persentase penerapan nilai-nilai dasar ASN (ANEKA) dalam
pelaksanaan kegiatan Aktualisasi dan Habituasi direkapitulasi sebagai
berikut:
1. Akuntabilitas sebesar 20,8%. Nilai dasar akuntabilitas diterapkan
disemua kegiatan untuk memecahkan isu yang diprioritaskan. Nilai
akuntabilitas yang paling banyak diterapkan adalah kejelasan,
tanggung jawab dan keadilan . Melalui penerapan nilai akuntabilitas
diharapkan seluruh kegiatan yang dilaksanakan di UPTD
Puskesmas Tirtomoyo I penuh dengan kejelasan, tanggung jawab
dan keadilan.
2. Nasionalisme sebesar 18,7%. Nilai dasar nasionalisme diterapkan
disemua kegiatan untuk memecahkan isu yang diprioritaskan. Nilai
nasionalisme yang paling banyak diterapkan adalah musyawarah
sesuai dengan Pancaila Sila ke IV dan menggunakan bahasa
indonesia yang baik sesuai dengan Pancasila Sila Ke-III. Karena
setiap kegiatan yang dilaksanakan di UPTD Puskesmas Tirtomoyo I
Kabupaten Wonogiri diawali dengan musyawarah dan
menggunakan bahasa indonesia yang baik agar maksud dan tujuan
setiap kegiatan dapat tersampaikan.
3. Etika Publik sebesar 28,1%. Nilai dasar etika publik diterapkan
disemua kegiatan untuk memecahkan isu yang diprioritaskan. Nilai
etika publik yang paling banyak diterapkan adalah menghormati
komunikasi,sopan dan santun karena dengan sopan santun dalam
berkomunikasi dan dalam melaksanakan kegiatan, pihak terkait
merasa nyaman, dihargai dan dihormati.
4. Komitmen Mutu sebesar 17,7%. Nilai dasar komitmen mutu
diterapkan dalam semua kegiatan yang ada untuk memecahkan isu
yang diprioritaskan. Nilai yang paling sering digunakan adalah
berorientasi mutu dan inovatif, hal ini sebagai upaya meningkatkan
mutu pelayanan dan melakukan perubahan kearah yang lebih baik.
5. Anti Korupsi sebesar 14,5%. Nilai dasar anti korupsi diterapkan
dalam semua kegiatan yang ada sebagai upaya meningkatkan

134
pelayanan prima dan paripurna. Nilai yang diterapkan antara lain
adalah mandiri dan jujur, dan kerja keras

Kontribusi aktualisasi dan habituasi nilai-nilai dasar ASN (ANEKA)


tersebut dilaksanakan untuk mendukung penyelesaian isu. Karakter ideal
seorang ASN harus ditumbuhakan dan didasari oleh nilai-nilai ANEKA.
Penerapan nilai-nilai dasar ASN (ANEKA) tidak hanya dilakukan selama
kegiatan aktualisasi dan habitusi akan tetapi harus berlanjut secara terus
menerus. Penulis senantiasa akan melakukan internalisasi nilai-nilai
ANEKA dalam menjalankan pekerjaan sebagai seorang asisten apoteker.

135