Anda di halaman 1dari 2

IDENTIFIKASI MIKROSKOPIK FOLIUM DAN CORTEX

TUJUAN
Mahasiswa mampu mengidentifikasi serbuk simplisia yang berasal dari daun (folium) secara
makroskopik dan mikroskopik.

4.1 Uji Organoleptis Cinnamomi Cortex


Hasil yang didapat setelah dilakukan identifikasi secara organoleptis berupa bau
serbuk khas aromatik, rasa agak manis, agak pedas dan kelat serta warna coklat muda.
4.2 Uji Makroskopis Cinnamomi Cortex
Potongan kulit : bentuk gelondong, agak menggulung membujur, agak pipih atau
berupa berkas yang terdiri dari tumpukan beberapa potong kulit yang tergulung membujur;
panjang sampai 1m, tebal kulit 1mm sampai 3mm atau lebih. Permukaan luar: yang tidak
bergabus berwarna coklat kekuningan atau coklat sampai coklat kemerahan, bergaris-garis
pucat bergelombang memanjang dan bergaris-garis pendek melintang yang menonjol atau
agak berlekuk; yang bergabus berwarna hijau kehitaman atau coklat kehijauan, kadang-
kadang terdapat terdapat bercak-bercak lumut kerak berwarna agak putih atau coklat
muda. Permukaan dalam: berwarna coklat kemerahan tua sampai coklat kehitaman. Bekas
patahan tidak rata.
4.3 Uji Mikroskopis Cinnamomi Cortex
Secara mikroskopik, fragmen yang ditemukan berupa fragmen pengenal dari simplisia
Cinnamomi Cortex adalah parenkim cortex dengan sel minyak dan sel batu, fragmen sel
batu, serabut sklerenkim dan hablur kalsium oksalat bentuk prisma.
Pada kulit yang lapisan luarnya belum dibuang akan tampak: lapisan epidermis
dengan kutikula berwarna kuning ; lapisan gabus terdiri beberapa sel berwarna coklat,
dinding tangensial dan dinding radial lebih tebal dan berlignin, kambium gabus jernih
tanpa penebalan dinding. Korteks : terdiri dari beberapa lapis sel parenkim dengan dinding
berwarna coklat diantaranya terdapat kelompok sel batu, sel lendir dan sel minyak. Sel
parenkim : Didalamnya benyak terdapat butir pati atau hablur kalsium oksalat berbentuk
prisma. Lapisan sklerenkim : terdapat dibawah parenkim korteks, hampir tidak terputus-
putus. Terdiri dari 3 atau lebih lapisan sklereida, diantaranya terdapat sejumlah kelompok
kecil serabut perisikel. Sklereida : berbentuk isodiametrik, kadang-kadang agak terentang
tangensial, penebalan dinding berbentuk huruf U dengan dinding dalam dan dinding radial
lebih tebal dari dinding luar, berlapis-lapis, warna kekuningan, bernoktah, berlignin tebal,
lumen agak lebar, kadang-kadang berisi butir pati. Serabut perisikel : Berdinding sangan
tebal, agak jernih, berlignin, lumen sempit, garis tengah serabut lebih kecil dari garis
tengah sel batu. Floem sekunder : terdiri dari jalur-jalur tangensial jaringan tapis, berseling
dengan parenkim floem ; diantara parenkim terdapat sel minyak dan sel lendir seperti pada
korteks; parenkim mengandung butir pati dan hablur seperti pada korteks. Serabut floem
sekunder : umumnya tunggal atau dalam kelompok kecil berderet kearah tangensial,
dinding serabut sangat tebal, jernih, agak berlignin, garis tengah serabut sampai 3,5 µm,
lumen sempit. Jari-jari empulur : terdiri dari 1 sel sampai 2 sel, mengandung butir pati atau
hablur kalsium oksalat bentuk prisma kecil; hablur di jari-jari empulur lebih banyak dari
pada hablur di parenkim floem.
Serbuk : warna coklat kekuningan. Fragmen pengenal adalah sklereida dengan
penebalan dinding tidak rata; serabut perisikel dan serabut floem; butir-butir pati dan
hablur kalsium oksalat bentuk prisma, lepas atau dalam parenkim; jaringan parenkim
dengan sel lendir atau sel minyak: sel gabus dan serabut sklerenkim.

Anda mungkin juga menyukai