Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Artritis rheumatoid merupakan suatu penyakit yang tersebar luas serta melibatkan
semua kelompok ras dan etnik di dunia.Penyakit ini merupakan suatu penyakit autoimun yang
ditandai dengan terdapatnya sinovitis erosive simetrik yang walaupun terutama mengenai
jaringan persendian, seringkali juga melibatkan organ tubuh lainya yang disertai nyeri dan
kaku pada sistem otot (musculoskeletal) dan jaringan ikat/ connective tissue (Sudoyo, 2007).
Lebih mudahya artritis rheumatoid diartikan sebagai penyakit yang menyerang sendi,
otot, dan jaringan tubuh (Utami, 2005). Angka kejadian RA di dunia berkisar 40/100.000,
rasio perbandingan antara perempuan dan laki-laki adalah 3:1 (Silman et al, 2009). Faktor
risiko penyakit RA pada dewasa adalah 3,6% untuk perempuan dan 1,7% untuk laki-laki
(Kourilovitch et al, 2013). Di Indonesia sendiri kejadian penyakit ini lebih rendah
dibandingkan dengan negara maju seperti Amerika. Prevalensi kasus rheumatoid arthritis di
Indonesia berkisar 0,1% sampai dengan 0,3% sementara di Amerika mencapai 3%
(Nainggolan, 2009).
Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 prevalensi penyakit RA
berdasarkan diagnosis nakes di Indonesia adalah 11,9% (dari jumlah penduduk 245,4
juta jiwa) dan berdasarkan diagnosis atau gejala adalah 24,7%. Prevalensi berdasarkan
diagnosis nakes tertinggi di Bali (19,3%), diikuti Aceh (18,3%), Jawa Barat (17,5%),
dan Papua (15,4%). Prevalensi Penyakit Rheumatoid Arthritis berdasarkan diagnosis atau
gejala tertinggi di Nusa Tenggara Timur (33,1%), diikuti Jawa Barat (32,1%) dari jumlah
penduduk 446.497.175 juta jiwa dan Bali (30%) (KemenKes, 2013).
Penyebab dari artritis rhematoid belum dapat ditentukan secara pasti, tetapi dapat
dibagi dalam 3 bagian, yaitu: Mekanisme imunitas (antigen antibodi) seperti interaksi IgG dari
imunoglobulin dengan rhematoid factor, faktor metabolic dan nfeksi dengan kecenderungan
virus.
RA merupakan penyakit kronis yang berdampak dari keadaan ini dapat mengancam
jiwa penderitanya atau hanya menimbulkan gangguan kenyamanan, dan masalah yang
disebabkan oleh penyakit rematik tidak hanya berupa keterbatasan yang tampak jelas
pada mobilitas hingga terjadi hal yang paling ditakuti yaitu menimbulkan kecacatan
seperti kelumpuhan dan gangguan aktivitas hidup sehari-hari tetapi juga efek sistemik yang
tidak jelas tetapi dapat menimbulkan kegagalan organ dan kematian atau mengakibatkan
masalah seperti rasa nyeri, keadaan mudah lelah, perubahan citra diri serta resiko tinggi terjadi
cedera (Junaidi, 2012).
Perawat merupakan salah satu profesi yang terlibat dalam memberikan pelayanan
asuhan keperawatan, sehingga perawat ikut terlibat dalam melakukan perawatan pada pasien
RA dengan fokus utama tidak hanya terkait masalah dari aspek fisik tetapi juga dalam aspek
bio-psikososial-spiritual pasien yang dapat meningkatkan status kesehatan. Namun dalam
memberikan pelayanan yang seimbang diperlukan adanya pengetahuan, kemauan dan
ketrampilan serta sikap profesional perawat mulai dari komunikasi, cara kerjasama dengan
pasien, dengan mitra kerjanya sampai cara pengambilan keputusan.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas penulis dapat menyimpulkan rumusan masalah
sebagai berikut antara lain:
1. Bagaimana konsep Artritis rheumatoid?
2. Bagaimana konsep teknik PMR pada pasien Artritis rheumatoid ?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas penulis dapat menyimpulkan tujuan penulisan


sebagai berikut antara lain:

1. Untuk mengetahui bagaimana konsep Artritis rheumatoid.


2. Untuk mengetahui bagaimana konsep teknik PMR pada pasien Artritis
rheumatoid
1.4 Manfaat
Berdasarkan tujuan di atas penulis dapat menyimpulkan manfaat sebagai berikut :
1. Bagi institusi pendidikan, hasil makalah ini dapat dijadikan sebagai bahan bacaan di
bidang kesehatan sebagai bahan informasi.
2. Bagi pembaca dapat mengetahui dan memahami mengenai materi tentang peran dan
pengaruh intervensi keperawatan terhadap pasien dengan rheumatoid arthritis
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Artritis Rheumatoid

A. Pengertian
Penyakit yang tersebar luas serta melibatkan semua kelompok ras dan etnik di
dunia.Penyakit ini merupakan suatu penyakit autoimun yang ditandai dengan terdapatnya
sinovitis erosive simetrik yang walaupun terutama mengenai jaringan persendian, seringkali
juga melibatkan organ tubuh lainya yang disertai nyeri dan kaku pada system otot
(musculoskeletal) dan jaringan ikat/ connective tissue (Sudoyo, 2007).
B. Etiologi Reumatid Athritis
Etiologi RA belum diketahui dengan pasti. Namun, kejadiannya dikorelasikan dengan
interaksi yang kompleks antara faktor genetik dan lingkungan (Suarjana, 2009)
1. Genetik, berupa hubungan dengan gen HLA-DRB1 dan faktor ini memiliki angka
kepekaan dan ekspresi penyakit sebesar 60% (Suarjana, 2009).
2. Hormon Sex, perubahan profil hormon berupa stimulasi dari Placental Corticotraonin
Releasing Hormone yang mensekresi dehidropiandrosteron (DHEA), yang merupakan
substrat penting dalam sintesis estrogen plasenta. Dan stimulasi esterogen dan progesteron
pada respon imun humoral (TH2) dan menghambat respon imun selular (TH1). Pada RA
respon TH1 lebih dominan sehingga estrogen dan progesteron mempunyai efek yang
berlawanan terhadap perkembangan penyakit ini (Suarjana, 2009).
3. Faktor Infeksi, beberapa agen infeksi diduga bisa menginfeksi sel induk semang (host) dan
merubah reaktivitas atau respon sel T sehingga muncul timbulnya penyakit RA (Suarjana,
2009).
4. Heat Shock Protein (HSP), merupakan protein yang diproduksi sebagai respon terhadap
stres. Protein ini mengandung untaian (sequence) asam amino homolog. Diduga terjadi
fenomena kemiripan molekul dimana antibodi dan sel T mengenali epitop HSP pada agen
infeksi dan sel Host. Sehingga bisa menyebabkan terjadinya reaksi silang Limfosit dengan
sel Host sehingga mencetuskan reaksi imunologis (Suarjana, 2009).
5. Faktor Lingkungan, salah satu contohnya adalah merokok (Longo, 2012).
C. Manifestasi Klinis Reumatid Athritis
Adanya beberapa manifestasi klinis yang lazim ditemukan pada penderita Artritis
reumatoid. Gambaran klinis ini tidak harus timbul sekaligus pada saat yang bersamaan
karena penyakit ini memiliki manifestasi klinis yang sangat bervariasi.

1. Gejala-gejala konstitusional, misalnya lelah, anoreksia, berat badan menurun dan demam.
Terkadang dapat terjadi kelelahan yang hebat,mati rasa, dan kesemutan.
2. Poliartritis yang mengakibatkan terjadinya kerusakan pada rawan sendi dan tulang
sekitarnya. Kerusakan ini terutama pada sendi perifer, termasuk sendi-sendi di tangan dan
kaki yang umumnya bersifat simetris,namun biasanya tidak melibatkan sendi-sendi
interfalangs distal. Hampir semua sendi diartrodial dapat terserang.
3. Kekakuan di pagi hari selama lebih dari satu jam, dapat bersifat generalisata tetapi terutama
menyerang sendi-sendi. Kekakuan ini berbeda dengan kekakuan sendi pada osteoartritis,
yang biasanya hanya berlangsung selama beberapa menit dan selalu berulang dari satu jam.
4. Artritis erosive, merupakan ciri khas Artritis reumatoid pada gambaran radiologik.
Peradangan sendi yang kronik melibatkan erosi di tepi tulang dan dapat dilihat pada
radiogram.
5. Deformitas, Kerusakan dari struktur-struktur penunjang sendi dengan perjalanan penyakit.
Dapat terjadi pergeseran urnal atau deviasi jari, subluksasi sendi meta karpo falangenal,
deformitas boutonni dan leher angsa merupakan beberapa deformitas tangan yang sering
dijumpai pada penderita. Pada kaki terdapat protrusi (tonjolan) kaput metatarsal yang
timbul sekunder dari subluksasi matatersal. Sendi-sendi yang sangat besar juga dapat
terserang dan akan mengalami pengurangan kemampuan bergerak terutama dalam
melakukan gerakan ekstensi.
6. Nodul-nodul reumatoid adalah massa subkutan yang ditemukan pada sekitar sepertiga
orang dewasa penderita Artritis reumatoid. Lokasi yang paling sering dari deformitas ini
adalah bursa olekranon (sendi siku) atau disepanjang permukaan ekstensor dari lengan,
walaupun demikian nodul-nodul ini dapat juga timbul pada tempat-tempat lainnya. Adanya
nodul-nodul ini biasanya merupakan suatu petunjuk penyakit yang aktif dan lebih
7. Manifestasi ekstraartikuler, artritis reumatoid juga dapat menyerang juga dapat menyerang
organ-organ lain di luar sendi.
D. Faktor Resiko Reumatid Athritis
Faktor resiko dalam peningkatan terjadinya RA antara lain jenis kelamin perempuan,
ada riwayat keluarga yang menderita RA, umur lebih tua, paparan salisilat dan merokok.
Resiko juga mungkin terjadi akibat konsumsi kopi lebih dari tiga cangkir sehari, khusunya
kopi decaffeinated (Suarjana, 2009). Obesitas juga merupakan faktor resiko (Symmons,
2006).
E. Patofisiologi Reumatid Athritis
Pada Reumatoid arthritis, reaksi autoimun (yang dijelaskan sebelumnya) terutama
terjadi dalam jaringan sinovial. Proses fagositosis menghasilkan enzim-enzim dalam sendi.
Enzim-enzim tersebut akan memecah kolagen sehingga terjadi edema, proliferasi membran
sinovial dan akhirnya pembentukan pannus. Pannus akan menghancurkan tulang rawan dan
menimbulkan erosi tulang. Akibatnya adalah menghilangnya permukaan sendi yang akan
mengganggu gerak sendi. Otot akan turut terkena karena serabut otot akan mengalami
perubahan degeneratif dengan menghilangnya elastisitas otot dan kekuatan kontraksi otot
(Smeltzer & Bare, 2002). Inflamasi mula-mula mengenai sendi-sendi sinovial seperti edema,
kongesti vaskular, eksudat febrin dan infiltrasi selular. Peradangan yang berkelanjutan,
sinovial menjadi menebal, terutama pada sendi artikular kartilago dari sendi. Pada persendian
ini granulasi membentuk pannus, atau penutup yang menutupi kartilago. Pannus masuk ke
tulang sub chondria. Jaringan granulasi menguat karena radang menimbulkan gangguan pada
nutrisi kartilago artikuer. Kartilago menjadi nekrosis. Tingkat erosi dari kartilago
menentukan tingkat ketidakmampuan sendi. Bila kerusakan kartilago sangat luas maka
terjadi adhesi diantara permukaan sendi, karena jaringan fibrosa atau tulang bersatu
(ankilosis). Kerusakan kartilago dan tulang menyebabkan tendon dan ligamen jadi lemah dan
bisa menimbulkan subluksasi atau dislokasi dari persendian. Invasi dari tulang sub chondrial
bisa menyebkan osteoporosis setempat. Lamanya Reumatoid arthritis berbeda pada setiap
orang ditandai dengan adanya masa serangan dan tidak adanya serangan. Sementara ada orang
yang sembuh dari serangan pertama dan selanjutnya tidak terserang lagi. Namun pada
sebagian kecil individu terjadi progresif yang cepat ditandai dengan kerusakan sendi yang
terus menerus dan terjadi vaskulitis yang difus (Long, 1996).
F. Komplikasi Reumatid Athritis
Gangguan pertumbuhan dan perkembangan merupakan komplikasi yang serius pada
RA. Hal ini terjadi karena penutupan epifisis dini yang sering terjadi pada tulang dagu,
metakarpal dan metatarsal. Kelainan tulang dan sendi lain dapat pula terjadi, yang tersering
adalah ankilosis, luksasio, dan fraktur. Komplikasi-komplikasi ini terjadi tergantung berat,
lama penyakit dan akibat pengobatan dengan steroid. Komplikasi yang lain adalah vaskulitis,
ensefalitis. Amiloidosis sekunder dapat terjadi walaupun jarang dan dapat fatal karena gagal
ginjal. RA adalah bukan hanya penyakit kerusakan sendi. Hal ini dapat melibatkan hampir
semua organ. Masalah yang mungkin terjadi meliputi :
1. Nodulus reumatoid ekstrasinovial dapat terbentuk pada katup jantung atau pada paru, mata
atau limpa. Fungsi pernapasan dan jantung dapat terganggu.
2. Anemia karena kegagalan sumsum tulang untuk menghasilkan cukup sel-sel darah merah
baru kerusakan pada jaringan paru (paru artritis).
3. Cedera pada tulang belakang saat tulang leher menjadi tidak stabil sebagai akibat dari RA.
4. Reumatoid vaskulitis (radang pembuluh darah) yang dapat menyebabkan bisul dan infeksi
kulit, pendarahan tukak lambung, dan masalah saraf yang menyebabkan nyeri, mati rasa,
atau kesemutan. Vaskulitas juga dapat mempengaruhi otak, saraf dan jantung, yang dapat
menyebabkan stroke, serangan jantung, atau gagal jantung.
5. Pembengkakan dan peradangan pada lapisan luar jantung atau perikarditis dan dari otot
jantung (miokarditis). Kedua kondisi ini dapat menyebabkan gagal jantung kongestif.
6. Sindrom Sjogren yang merupakan gangguan autoimun di mana kelenjar yang
memproduksi air mata dan ludah yang hancur. Kondisi ini dapat mempengaruhi berbagai
bagian tubuh, termasuk ginjal dan paru.
G. Penataksanaan Reumatid Athritis
Terapi Artritis Reumatoid RA harus ditangani dengan sempurna. Penderita harus
diberi penjelasan bahwa penyakit ini tidak dapat disembuhkan (Sjamsuhidajat, 2010). Terapi
RA harus dimulai sedini mungkin agar menurunkan angka perburukan penyakit. Penderita
harus dirujuk dalam 3 bulan sejak muncul gejala untuk mengonfirmasi diganosis dan inisiasi
terapi DMARD (Disease Modifying Anti-Rheumatic Drugs) (surjana, 2009). Terapi RA
bertujuan untuk :
1. Untuk mengurangi rasa nyeri yang dialami pasien
2. Mempertahakan status fungsionalnya
3. Mengurangi inflamasi
4. Mengendalikan keterlibatan sistemik
5. Proteksi sendi dan struktur ekstraartikular
6. Mengendalikan progresivitas penyakit
7. Menghindari komplikasi yang berhubungan dengan terapi

2.2 Konsep Teknik Relaksasi Otot Progresif


Terapi relaksasi otot progresif adalah salah satu teknik kusus yang di desain untuk
membantu meredakan ketegangan otot yang terjadi ketika sadar pertama ada harus mengetahui
derajat ketegangan tersebut melalui teknik pelepasan ketegangan. PMR berasal dari mekanisme
biologis psiko disebut tekanan muskuloskeletal yang merupakan dasar dari banyak perasaan
emosional yang tidak menyenangkan serta penyakit fisik dan mental. Tujuan dari teknik ini
adalah untuk membuat orang merasa santai melalui kontraksi aktif dan kemudian bersantai
kelompok otot tertentu dalam relaksasi negara progresif dan lengkap akan terasa melalui untuk
sesi relaksasi otot.
Teknik PMR memberikan keseimbangan antara posterior dan anterior kegiatan
hipotalamus; dengan demikian, mencegah efek samping yang tidak diinginkan dari stres dan
kecemasan. Meskipun banyak metode relaksasi menyebabkan kantuk, peningkatan stres dan
kecemasan, dan sulit untuk belajar, mereka dapat belajar setelah kali latihan dan pengulangan.
Sebagai metode yang mudah untuk dipraktekkan di kebanyakan tempat, PMR adalah teknik
sadar di mana pasien tidak tidur.
Indikasi terapi ini adalah lansia yang mengalami gangguan tidur, stres, kecemasan dan
depresi (Setyoadi dalam Siti, 2015). Terapi relaksasi otot progresif ini dapat dilakukan dengan
durasi 40 menit, teknik ini melibatkan ketegangan yang lambat dan kemudian memisahkan
setiap kelompok otot yang dimulai dari otot jari kaki dan berakhir di kepala (Ode, 2018).
Sejalan dengan penelitian Niken (2015) tentang khasiat dan manfaat intervensi relaksasi
otot progresif yang dapat menurunkan frekuensi nadi, tekanan darah dan frekuensi pernapasan,
menurunkan konsumsi oksigen, menurunkan ketegangan otot, menurunkan kecepatan
metabolism, meningkatkan konsentrasi berfikir, dan tidak hanya itu intervensi relaksasi otot
progresif ini juga sangat efektif dalam mengurangi gejala kecemasan dan depresi pada lansia,
karena terapi relaksasi otot progresif ini dapat membuat sesorang menjadi relaks baik mental
maupun fisiknya.
Terapi relaksasi otot progresif ini dapat dapat diasumsikan dengan memusatkan
perhatian pada suatu aktivitas otot, dengan mengidentifikasikan otot yang tegang kemudian
menurunkan ketegangan dengan melakukan teknik relaksasi yang dapat menjadikan perasaan
relaks. Respon relaks ini merupakan bagian dari penurunan umum kognitif, fisiologis, dan
stimulasi prilaku. Relaksasi dapat merangsang munculnya zat beta blocker di saraf tepi yang
dapat menutup simpul-simpul saraf simpitis yang berguna untuk mengurangi ketegangan,
menurukan tekanan darah, juga dapat menurunkan gejala kecemasan maupun depresi.
Penurunan depresi yang begitu signifikan dialami oleh lansia setelah di berikan terapi relaksasi
otot progresif dipengaruhi dengan komunikasi terapeutik yang dilakukan oleh peneliti. Dari
proses komunikasi yaitu fase pra interaksi, fase orientasi, fase kerja, dan fase terminasi yang
dapat membangun komunikasi yang baik, rasa saling percaya antara peneliti dan responden
sehingga responden dapat mengungkapkan perasaannya dan dapat mengatasi depresi.
Langkah Kegiatan
1. Persiapan
a) Membuat kontrak waktu dan tempat dengan klien sesuai dengan kesepakatan.
b) Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan

A. Fase orientasi

a) Salam terapeutik :
1. Salam dari terapis kepada klien
2. Terapis menggunakan papan nama
b) Evaluasi/ validasi
Menanyakan bagaimana perasaan saat ini
c) Kontrak
1. Menjelaskan tujuan pertemuan kedua yaitu klien mampu melakukan tehnik
relaksasi dengan mengencangkan dan mengendorkan otot mata, mulut, tengkuk, bahu,
tangan, punggung, perut, bokong dan kaki, mampu merasakan perubahan sebelum otot‐
otot dikencangkan dan setelah otot-otot dikencangkan.
2. Menjelaskan aturan main dalam pelaksanaa terapi PMR, yaitu2 kali sehari selama 25-
30 menit. Latihan bisa dilakukan pagi dan sore hari, dilakukan 2 jam setelah makan
untuk mencegah rasa mengantuk setelah makan dan klien mengikuti wajib kegiatan
dari awal sampai akhir.

B. Fase kerja

1. Minta klien untuk melepaskan kacamata dan jam tangan serta melonggarkan ikat
pinggang (jika klien menggunakan ikat pinggang)
2. Atur posisi klien pada tempat duduk atau ditempat tidur yang nyaman
3. Anjurkan klien menarik nafas dalam hembuskan secara perlahan (3‐5 kali) dan
katakan rileks (saat menginstruksikan pertahankan nada suara lembut)
4. Terapis mendemonstrasikan gerakan 1 sampai dengan 7 yaitu mulai proses kontraksi
dan relaksasi otot diiringi tarik nafas dan hembuskan secara perlahan meliputi :
1) Gerakan pertama ditujukan untuk melatih otot tangan yang dilakukan dengan
cara menggenggam tangan kiri sambil membuat suatu kepalan. Pasien diminta
membuat kepalan ini semakin kuat sambil merasakan sensasi ketegangan yang
terjadi. Lepaskan kepalan perlahan-lahan, sambil merasakan rileks selama ± 8
detik. Lakukan gerakan 2 kali sehingga klien dapat membedakan perbedaan
antara ketegangan otot dan keadaan rileks yang dialami. Prosedur serupa juga
dilatihkan pada tangan kanan.
2) Gerakan kedua adalah gerakan untuk melatih otot tangan bagian belakang.
Gerakan ini dilakukan dengan cara menekuk kedua lengan ke belakang pada
pergelangan tangan sehingga otot-otot di tangan bagian belakang dan lengan
bawah menegang, jari-jari menghadap ke langit-langit. Lakukan penegangan ±
8 detik, kemudian relaksasikan secara perlahan-lahan dan rasakan perbedaan
antara ketegangan otot dan keadaan rileks yang dialami. Lakukan gerakan ini
2 kali.
3) Gerakan ketiga adalah untuk melatih otot-otot bisep. Gerakan ini diawali dengan
menggenggam kedua tangan sehingga menjadi kepalan kemudian membawa
kedua kepalan ke pundak sehingga otot-otot bisep akan menjadi tegang.
Lakukan penegangan otot ± 8 detik, kemudian relaksasikan secara perlahan-
lahan dan rasakan perbedaan antara ketegangan otot dan keadaan rileks.
Lakukan gerakan ini 2 kali.
4) Gerakan keempat ditujukan untuk melatih otot-otot bahu. Dilakukan dengan
cara mengangkat kedua bahu setinggi- tingginya seakan-akan menyentuh
kedua telinga. Fokus perhatian gerakan ini adalah kontras ketegangan yang
terjadi di bahu, punggung atas, dan leher. Rasakan ketegangan otot-otot tersebut
± 8 detik, kemudian relaksasikan secara perlahan-lahan dan rasakan
perbedaan antara ketegangan otot dan keadaan rileks. Lakukan gerakan ini 2
kali.
5) Gerakan kelima sampai ke delapan adalah gerakan-gerakan yang ditujukan
untuk melemaskan otot-otot di wajah. Otot-otot wajah yang dilatih adalah otot-
otot dahi, mata, rahang, dan mulut. Gerakan untuk dahi dapat dilakukan
dengan cara mengerutkan dahi dan alis sampai otot-ototnya terasa dan kulitnya
keriput, mata dalam keadaan tertutup. Rasakan ketegangan otot-otot dahi selama
± 8 detik, kemudian relaksasikan secara perlahan-lahan dan rasakan
perbedaan antara ketegangan otot dan keadaan rileks. Lakukan gerakan ini 2
kali.
6) Gerakan keenam ditujukan untuk mengendurkan otot-otot mata diawali dengan
menutup keras-keras mata sehingga dapat dirasakan ketegangan di sekitar
mata dan otot-otot yang mengendalikan gerakan mata. Lakukan penegangan
otot ± 8 detik, kemudian relaksasikan secara perlahan-lahan dan rasakan
perbedaan antara ketegangan otot dan keadaan rileks. Lakukan gerakan ini 2
kali.
7) Gerakan ketujuh bertujuan untuk mengendurkan ketegangan yang dialami oleh
otot-otot rahang dengan cara mengatupkan rahang, diikuti dengan menggigit
gigi-gigi sehingga ketegangan di sekitar otot-otot rahang. Rasakan ketegangan
otot-otot tersebut ± 8 detik, kemudian relaksasikan secara perlahan-lahan dan
rasakan perbedaan antara ketegangan otot dan keadaan rileks. Lakukan gerakan
ini 2 kali
a Minta klien meredemonstrasikan kembali gerakan 1 sampai dengan 6
b Terapis memberikan umpan balik dan pujian terhadap kemampuan
yang telah dilakukan klien
c Minta klien untuk mengingat gerakan 1 sampai dengan 6 dalamterapi
PMR ini.
d Terapis mendemonstrasikan gerakan 8 sampai dengan 15 yaitu mulai
proses kontraksi dan relaksasi otot diiringi tarik nafas dan hembuskan
secara perlahan meliputi :
8) Gerakan kedelapan dilakukan untuk mengendurkan otot-otot sekitar mulut.
Bibir dimoncongkan sekuat-kuatnya sehingga akan dirasakan ketegangan di
sekitar mulut. Rasakan ketegangan otot- otot sekitar mulut selama ± 8 detik,
kemudian relaksasikan secara perlahan-lahan dan rasakan perbedaan antara
ketegangan otot dan keadaan rileks. Lakukan gerakan ini 2 kali.
9) Gerakan kesembilan ditujukan untuk merilekskan otot-otot leher bagian
belakang. Pasien dipandu meletakkan kepala sehingga dapat beristirahat,
kemudian diminta untuk menekankan kepala pada permukaan bantalan kursi
sedemikian rupa sehingga pasien dapat merasakan ketegangan di bagian
belakang leher dan punggung atas. Lakukan penegangan otot ± 8 detik,
kemudian relaksasikan secara perlahan-lahan dan rasakan perbedaan antara
ketegangan otot dan keadaan rileks. Lakukan gerakan ini 2 kali.
10) Gerakan kesepuluh bertujuan untuk melatih otot leher bagian depan. Gerakan
ini dilakukan dengan cara membawa kepala ke muka, kemudian pasien diminta
untuk membenamkan dagu ke dadanya. Sehingga dapat merasakan ketegangan
di daerah leher bagian muka. Rasakan ketegangan otot-otot tersebut ± 8 detik,
kemudian relaksasikan secara perlahan-lahan dan rasakan perbedaan antara
ketegangan otot dan keadaan rileks. Lakukan gerakan ini 2 kali.
11) Gerakan kesebelas bertujuan untuk melatih otot-otot punggung. Gerakan ini
dapat dilakukan dengan cara mengangkat tubuh dari sandaran kursi, kemudian
punggung dilengkungkan, lalu busungkan dada. Kondisi tegang dipertahankan
selama ± 8 detik, kemudian rileks. Pada saat rileks, letakkan tubuh kembali
ke kursi, sambil membiarkan otot-otot menjadi lemas. Rasakan ketegangan otot-
otot punggung selama ± 8 detik, kemudian relaksasikan secara perlahan-lahan
dan rasakan perbedaan antara ketegangan otot dan keadaan rileks. Lakukan
gerakan ini 2 kali.
12) Gerakan kedua belas dilakukan untuk melemaskan otot-otot dada. Tarik nafas
panjang untuk mengisi paru-paru dengan udara sebanyak-banyaknya. Tahan
selama beberapa saat, sambil merasakan ketegangan di bagian dada kemudian
turun ke perut. Pada saat ketegangan dilepas, pasien dapat bernafas normal
dengan lega. Lakukan penegangan otot ± 8 detik, kemudianrelaksasikan secara
perlahanlahan dan rasakan perbedaan antara ketegangan otot dan keadaan rileks.
Lakukan gerakan ini 2 kali.
13) Gerakan ketiga belas bertujuan untuk melatih otot-otot perut. Tarik kuat-
kuat perut ke dalam, kemudian tahan sampai perut menjadi kencang dan keras.
Rasakan ketegangan otot-otot tersebut ± 8 detik, kemudian relaksasikan secara
perlahan-lahan dan rasakan perbedaan antara ketegangan otot dan keadaan
rileks. Lakukan gerakan ini 2 kali.
14) Gerakan keempat belas bertujuan untuk melatih otot-otot paha, dilakukan
dengan cara meluruskan kedua belah telapak kaki sehingga otot paha terasa
tegang. Rasakan ketegangan otot-otot paha tersebut selama ± 8 detik, kemudian
relaksasikan secara perlahan-lahan dan rasakan perbedaan antara ketegangan
otot dan keadaan rileks. Lakukan gerakan ini 2 kali.
15) Gerakan kelima belas bertujuan untuk melatih otot-otot betis, luruskan kedua
belah telapak kaki sehingga otot paha terasa tegang. Gerakan ini dilanjutkan
dengan mengunci lutut, lakukan penegangan otot ± 8 detik, kemudian
relaksasikan secara perlahan-lahan dan rasakan perbedaan antara ketegangan
otot dan keadaan rileks. Lakukan gerakan ini 2 kali.
a Minta klien meredemonstrasikan kembali gerakan 8 sampai dengan 15
b Terapis memberikan umpan balik dan memberikan pujian terhadap
kemampuan yang telah dilakukan klien
c Minta klien untuk mengingat gerakan 1 sampai dengan 15 dalam
terapi PMR ini.

C. Fase terminasi

a) Evaluasi

1) Menanyakan perasaan klien setelah melakukan latihan relaksasi otot


2) Mengevaluasi kemampuan klien tentang pemahaman langkah‐langkah dan gerakan
dalam latihan relaksasi otot progresif
3) Mengevaluasi kemampuan klien dalam melakukan latihan Relaksasi

b) Tindak lanjut

1) Menganjurkan klien melakukan kembali latihan relaksasi ototmata, mulut,


leher, bahu, tangan, punggung, perut, bokongdan kaki.
2) Mencatat situasi tersebut kedalam buku kerja

c) Kontrak yang akan dating

1) Menyepakati kegiatan untuk melakukan evaluasi kemampuan


klien melakukan latihan relaksasi progresif
2) Menyepakati waktu dan tempat untuk pertemuan ke 2 dan 3
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
4.2 Saran
1) Bagi Institusi Pendidikan
Sebaiknya pihak yang bersangkutan memberikan pengarahan yang lebih mengenai
Trend dan Isu Jurnal tentang Rematik Sistem Imunologi.
2) Bagi Mahasiswa
Mengenai makalah yang kami buat, bila ada kesalahan maupun ketidak lengkapan
materi mengenai Trend dan Isu Jurnal tentang Rematik Sistem Imunologi. Kami mohon
maaf, kamipun sadar bahwa makalah yang kami buat tidaklah sempurna. Oleh karena
itu kami mengharap kritik dan saran yang membangun.