Anda di halaman 1dari 13

Contoh Kasus Pelanggaran Etika Bisnis Pada Albothyl oleh Perusahaan PT

PHAROS

Pendahuluan
Berita-berita mengenai pelanggaran etika bisnis mendorong ketertarikan untuk menelusuri lebih
lanjut faktor-faktor yang mendorong dan dampak yang diakibatkan. Etika bisnis merupakan
aspek moral dalam menjalankan bisnis. Masih banyak fenomena-fenomena dimana beberapa
bisnis masih mengabaikan aspek moral. Banyak perusahaan yang hanya memikirkan
keuntungan, menghindari kerugian, dan kekuatan bersaing sebagai satu-satunya tujuan dalam
menjalankan bisnis sehingga faktor moral atau etika tidak lagi menjadi pertimbangan.
Dalam satu bulan terakhir ini sudah ada 3 produk yang izin edarnya ditarik oleh BPOM karena
tidak sesuai ketentuan. Dimulai dari Viostin dan Enzyplex tanggal 5 Februari lalu karena
terbukti mengandung DNA babi, kini Albothyl pun dibatalkan izin edarnya per tanggal 15
Februari setelah ada 38 laporan kasus terkait efek samping serius yang timbul akibat penggunaan
Albothyl, oleh profesional kesehatan dalam dua tahun terakhir ini.
Perlu diketahui bahwa kualitas dan keamanan setiap produk obat maupun makanan yang beredar
di Indonesia dikontrol oleh BPOM atau disebut juga post-market surveillance. Post-market
surveillance ini biasanya dilakukan dengan cara sampling (mengambil contoh produk langsung
dari pasaran untuk diuji di laboratorium). Dan cara samplingini bisa dilakukan secara rutin
(misalnya menjelang akhir tahun atau Idul Fitri) maupun secara mendadak jika diduga ada yang
tidak sesuai ketentuan.
Etika bisnis adalah aturan-aturan yang menegaskan suatu bisnis boleh bertindak dan tidak boleh
bertindak, aturan-aturan tersebut bersumber dari aturan tertulis maupun tidak tertulis (Fahmi,
2013:3). Jadi etika bisnis menyangkut baik atau buruknya perilakuperilaku manusia dalam
menjalankan bisnisnya. Bisnis yang beretika harus dilihat dari tiga sudut pandang yaitu ekonomi,
hukum, dan moral (Bertens, 2013: 25).

1. Dari sudut pandang ekonomi, bisnis yang baik adalah bisnis yang menghasilkan
keuntungan tanpa merugikan orang lain.

2. Dari sudut pandang hukum, bisnis yang baik adalah bisnis yang tidak melanggar aturan-
aturan hukum.

3. Dari sudut pandang moral, bisnis yang baik adalah bisnis yang sesuai dengan ukuran-
ukuran moralitas.

Keraf dalam Haurisa&Praptiningsih (2014: 1) mengemukakan lima prinsip dalam etika bisnis
yaitu:

1. Prinsip otonomi: kemampuan seseorang bertindak berdasarkan kesadaran dirinya sendiri


tanpa pengaruh dari pihak lain.

2. Prinsip kejujuran: sifat terbuka dan memenuhi syarat-syarat bisnis.


3. Prinsip keadilan: bersikap sama secara objektif, rasional, dan dapat
dipertanggungjawabkan.

4. Prinsip saling menguntungkan: tidak ada pihak yang dirugikan dalam bisnis.

5. Prinsip integritas moral: memenuhi standar moralitas.

Prinsip-prinsip tersebut dapat menjadi indikator untuk perusahaan yang melakukan usahanya
sesuai etika bisnis. Salah satu prinsip yang tidak terpenuhi mengindikasikan adanya pelanggaran
etika bisnis. Bertens (2013: 25) mengemukakan tiga ukuran moralitas dalam bisnis yang dapat
digunakan untuk mengukur sudut pandang moral dan prinsip integritas moral, yaitu:

1. Hati nurani; Setiap keputusan yang diambil menurut hati nurani adalah baik. Orang yang
mengambil keputusan dengan mengingkari hati nuraninya, secara tidak langsung dia juga
menghancurkan integritas pribadinya

2. Kaidah emas; Kaidah emas berbunyi “hendaklah memperlakukan orang lain sebagaimana
anda sendiri ingin diperlakukan” hal ini berarti, jika seseorang tidak ingin mendapat
perlakuan buruk, maka jangan sampai memperlakukan orang lain dengan buruk.

3. Penilaian umum; Perilaku bisnis yang oleh masyarakat umum dinilai baik, berarti bisnis
tersebut etis. Namun, jika masyarakat umum menilai bisnis tersebut tidak baik, berarti
bisnis tersebut tidak etis. Hal ini disebut juga audit sosial. Teori etika membantu dalam
menentukan penilaian etis atau tidaknya suatu perilaku. Alasan benar atau tidaknya
perilaku yang dilakukan seseorang dapat didukung dengan teori etika.

Ada 4 (empat) teori etika yang paling penting menurut Bertens (2013, 63) yaitu:

1. Utilitarianisme; Menurut teori ini, perbuatan yang etis adalah perbuatan yang memberi
manfaat untuk banyak orang. Kriteria untuk teori ini adalah the greatest happiness of the
greatest number atau kebahagiaan terbesar yang dirasakan jumlah orang terbesar.

2. Deontologi; Menurut teori ini, perbuatan yang baik bukan dinilai dari akibat atau
tujuannya, namun karena perbuatan itu adalah kewajiban yang harus dilaksanakan.
Dengan kata lain, perbuatan yang baik adalah perbuatan yang dilakukan karena
kewajiban dan perbuatan yang buruk adalah perbuatan yang dilarang untuk dilakukan

3. Teori hak; Menurut teori ini, perbuatan yang etis adalah perbuatan yang tidak menyalahi
atau melanggar hak-hak orang lain. Setiap orang memiliki hak untuk diperlakukan
dengan baik, sehingga perbuatan yang etis harus memperlakukan orang lain dengan baik,
tidak boleh ada hak-hak yang dilanggar.

4. Teori keutamaan; Teori ini mengesampingkan tindakan mana yang etis dan tidak etis.
Jika seseorang menganut paham egoisme, maka tindakan yang etis adalah tindakan yang
bisa memenuhi keinginannya, jika tidak bisa memenuhi keinginannya maka tindakan
yang dilakukan belum etis. Jadi menurut teori ini, etis atau tidaknya suatu perilaku adalah
jawaban dari hati nuraninya sendiri.

Menurut Fahmi, (2013:9) permasalahan permasalahan umum yang terjadi dalam etika bisnis
antara lain:

1. Pelanggaran etika bisnis dilakukan oleh pihak-pihak yang mengerti etika bisnis.
Dilakukan dengan sengaja karena faktor ingin mengejar keuntungan dan menghindari
kewajiban-kewajiban yang selayaknya harus dipatuhi.

2. Keputusan bisnis sering diambil dengan mengesampingkan norma norma atau aturan-
aturan yang berlaku, misalnya Undang-Undang perlindungan Konsumen. Keputusan
bisnis sering mengedepankan materi atau mengejar target perolehan keuntungan jangka
pendek semata.

3. Keputusan bisnis sering dibuat secara sepihak tanpa memperhatikan atau bahkan tanpa
mengerti ketentuan etik yang disahkan oleh lembaga yang berkompeten seperti Kode Etik
Perhimpunan Auditor Internal Indonesia (PAAI), Peraturan Menteri Keuangan Nomor
17/PMK.01/2008/ tentang Jasa Akuntan Publik, Peraturan Badan Pemeriksa Keuangan
Nomor 2 Tahun 2007 tentang Kode Etik BPK-RI, Kode Etik PsikologiIndonesia, Kode
Etik Advokat Indonesia, dan lain sebagainya.

4. Kontrol dari pihak berwenang dalam menegakkan etika bisnis masih dianggap lemah.
Sehingga kondisi ini dimanfaatkan untuk mencapai keuntungan pribadi atau kelompok.
KASUS

Dalam satu bulan terakhir ini sudah ada 3 produk yang izin edarnya ditarik oleh BPOM
karena tidak sesuai ketentuan. Dimulai dari Viostin dan Enzyplex tanggal 5 Februari lalu
karena terbukti mengandung DNA babi, kini Albothyl pun dibatalkan izin edarnya per
tanggal 15 Februari setelah ada 38 laporan kasus terkait efek samping serius yang timbul
akibat penggunaan Albothyl, oleh profesional kesehatan dalam dua tahun terakhir ini.

Pada kasus Viostin dan Enzyplex, boleh dikatakan levelnya tidak sampai membahayakan
pasien. Hanya tidak sesuai dengan ketentuan pelabelan produk, mengingat Indonesia
adalah negara mayoritas Muslim sehingga produk yang mengandung babi harus
mengikuti ketentuan khusus, seperti yang pernah saya jelaskan dalam artikel saya
sebelumnya.

Tapi untuk kasus Albothyl kali ini, tentunya dianggap sangat serius karena berkaitan
dengan keselamatan pasien. Dalam 38 laporan kasus tersebut menunjukkan bahwa
adanya efek samping Albothyl yang malah memperparah sariawan yang diderita pasien
dan menyebabkan infeksi (noma like lession).

Kejadian ini sedikit banyak menimbulkan pertanyaan dari masyarakat dan kalangan
profesi kesehatan. Siapa yang salah? Produsen yang dianggap tidak serius dengan
keamanan produknya atau regulator yang dianggap tidak cermat dalam mengevaluasi
produk sebelum memberikan Nomor Izin Edar.

Perlu diketahui bahwa kualitas dan keamanan setiap produk obat maupun makanan yang
beredar di Indonesia dikontrol oleh BPOM atau disebut juga post-market
surveillance. Post-market surveillance ini biasanya dilakukan dengan
cara sampling (mengambil contoh produk langsung dari pasaran untuk diuji di
laboratorium). Dan cara samplingini bisa dilakukan secara rutin (misalnya menjelang
akhir tahun atau Idul Fitri) maupun secara mendadak jika diduga ada yang tidak sesuai
ketentuan.

Namun tentunya, kontrol tidak hanya dilakukan oleh pihak regulator (dalam hal ini
BPOM dan BBPOM) karena bisa dibayangkan bagaimana repotnya mereka mengontrol
seluruh produk yang beredar di Indonesia beserta seluruh fasilitas produksinya. Oleh
sebab itu, peran industri farmasi, profesional kesehatan di lapangan dan masyarakat
awam juga diperlukan. Caranya? Ya dengan melaporkan kejadian tidak diinginkan (baik
yang serius maupun tidak serius) yang timbul akibat penggunaan suatu obat atau yang
dikenal dengan istilah Farmakovigilans. Apa lagi tuh?

Farmakovigilans adalah seluruh kegiatan tentang pendeteksian, penilaian, pemahaman


dan pencegahan efek samping atau masalah lainnya terkait dengan penggunaan obat.
Pelaporan ini sifatnya bisa berupa Pelaporan spontan, Pelaporan Berkala Pasca
Pemasaran (Periodic Safety Update Report), Pelaporan studi keamanan pasca pemasaran,
Pelaporan publikasi/literatur ilmiah, Pelaporan tindak lanjut regulatori Badan Otoritas
negara lain, pelaporan tindak lanjut pemegang izin edar di negara lain, dan/atau
Pelaporan dari perencanaan Manajemen Resiko.

Analisis
Dari kasus Albothyl ini, kita tentunya sangat prihatin atas banyaknya pasien yang telah
dirugikan. Tapi kita tidak perlu juga saling menyalahkan dan mempertanyakan
kompetensi pihak-pihak yang terlibat di dalamnya. Berkaca dari kasus Thalidomide,
penarikan produk obat karena efek samping yang muncul meskipun produk tersebut
sudah lama beredar di pasaran sangat mungkin terjadi.
Hal ini tentunya dipengaruhi faktor sensitivitas dan reaksi setiap orang yang berbeda
terhadap suatu obat. Farmakovigilans boleh dibilang tidak hanya dilakukan selama
beberapa tahun terhadap suatu obat setelah disetujui izin edarnya, melainkan selama
produk tersebut beredar di pasaran.
Dari kasus diatas terlihat bahwa perusahaan melakukan pelanggaran etika bisnis dilihat
dari sudut pandang ekonomi yaitu perusahaan di untungkan tetapi banyak orang yang di
rugikan dan perusahaan tidak memenuhi dari prinsip dari etika bisnis yaiu prinsip
kejujuran. Perusahaan tidak terbuka dan memenuhi syarat-syarat bisnis dan
Mengenyampingkan aspek kesehatan konsumen dan membiarkan penggunaan zat
berbahaya dalam produknya. Albothyl yang beredar di pasaran saat ini mengandung zat
bernama Policresulen dengan konsentrasi 36%. Policresulen adalah senyawa asam
organik (polymolecular organic acid) yang diperoleh dari proses kondensasi formalin
(formaldehyde) dan senyawa meta-cresolsulfonic acid. Policresulen yang diaplikasikan
pada sariawan akan menyebabkan jaringan pada sariawan menjadi mati. Itulah alasan
kenapa saat albothyl digunakan pada sariawan akan terasa sangat perih, namun kemudian
rasa perih hilang dan sakit pada sariawan pun tidak lagi terasa. Bagi Anda yang
pengalaman memakai obat ini mungkin akan menyaksikan sendiri sesaat setelah albothyl
digunakan sariawan akan menjadi berwarna putih dan kering. Jadi sebenarnya
policresulen ini tidak mengobati sariawan melainkan mematikan jaringan yang sakit atau
rusak tersebut. Ketika jaringan sariawan sudah mati, maka tubuh akan melakukan
regenerasi sel-sel baru sehingga sariawan menjadi sembuh.

Kesimpulan
Banyaknya kasus pelanggaran di dalam etika berbisnis membuat kita sadar bahwa masih
banyak nya produsen produsen nakal yang hanya memikirkan materi tanpa memikirkan
dampak apa yang telah diperbuat, pemerintah seharusnya lebih teliti terhadap
pengawasan peredaran barang barang yang beredar dan harus lolos uji seleksi. Dan untuk
masyarakat kita mengajak untuk selalu peduli terhadap apa yang di nilai kurang baik.
Farmakovigilans tidak hanya dilaksanakan oleh industri farmasi tetapi juga didukung
oleh masyarakat awam dan profesional kesehatan di lapangan. Bagi masyarakat awam,
jika menemukan atau mengalami kejadian yang tidak diinginkan setelah mengkonsumsi
suatu obat, bisa menghubungi produsen dan melaporkan kejadian yang dialami (kecuali
kejadian serius yang memerlukan penanganan segera ke klinik atau rumah sakit).
Biasanya produsen memiliki nomor kontak layanan keluhan konsumen. Keluhan-keluhan
ini akan ditindaklanjuti oleh bagian Farmakovigilans di setiap perusahaan atau produsen.
Bagi profesional kesehatan lain, pelaporan ini bisa dilakukan dengan mengisi Form
Kuning (Formulir Pelaporan Efek Samping Obat) pada website e-meso.pom.go.id. Untuk
kemudian dikirimkan ke Pusat Farmakovigilans / MESO (Monitoring Efek Samping
Obat) Nasional, Direktorat Pengawasan Distribusi Produk Terapetik dan PKRT Badan
POM RI.
MESO yang dilakukan di Indonesia, bekerja sama dengan WHO-Uppsala Monitoring
Center (Collaborating Center for International Drug Monitoring) yang bertujuan untuk
memantau semua efek samping obat yang dijumpai pada penggunaan obat. Hasil semua
evaluasi yang terkumpul akan digunakan sebagai materi untuk melakukan re-evaluasi
atau penilaian kembali pada obat yang telah beredar untuk selanjutnya menerapkan
tindakan pengamanan yang diperlukan.

sumber :
Bertens, K . 2013. Pengantar Etika Bisnis. Yogyakarta : Kanisius .
Fahmi, I . 2013. Etika Bisnis: Teori, Kasus, dan Solusi. Bandung: Alfabeta.
Haurissa, L.J.,dan Praptiningsih, M. 2014. Analisis Penerapan Etika Bisnis pada PT
Maju Jaya di Pare Jawa Timur. Agora Vol. 2, No. 2.
http://caramanjur.com/alasan-bpom-larang-albothyl-efek-samping-bahaya-kandungan.
https://www.kompasiana.com/irmina.gultom/5a87b8a616835f50501363e3/kasus-
albothyl-bukti- berjalannya-farmakovigilans-di-indonesia.
Meilina, R. (2016). FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PELANGGARAN ETIKA
BISNIS Restin Meilina Universitas Nusantara PGRI Kediri Pendahuluan, 14(2), 119–
126.
https://muhammadmaulanablog.wordpress.com/

Pelanggaran etika bisnis pada albothyl oleh perusahaan PT. PHAROS

Dalam satu bulan terakhir ini sudah ada 3 produk yang izin edarnya ditarik oleh BPOM karena tidak
sesuai ketentuan. Dimulai dari Viostin dan Enzyplex tanggal 5 Februari lalu karena terbukti mengandung
DNA babi, kini Albothyl pun dibatalkan izin edarnya per tanggal 15 Februari setelah ada 38 laporan kasus
terkait efek samping serius yang timbul akibat penggunaan Albothyl, oleh profesional kesehatan dalam
dua tahun terakhir ini.

Pada kasus Viostin dan Enzyplex, boleh dikatakan levelnya tidak sampai membahayakan pasien. Hanya
tidak sesuai dengan ketentuan pelabelan produk, mengingat Indonesia adalah negara mayoritas Muslim
sehingga produk yang mengandung babi harus mengikuti ketentuan khusus, seperti yang pernah saya
jelaskan dalam artikel saya sebelumnya.

Tapi untuk kasus Albothyl kali ini, tentunya dianggap sangat serius karena berkaitan dengan keselamatan
pasien. Dalam 38 laporan kasus tersebut menunjukkan bahwa adanya efek samping Albothyl yang malah
memperparah sariawan yang diderita pasien dan menyebabkan infeksi (noma like lession).

Kejadian ini sedikit banyak menimbulkan pertanyaan dari masyarakat dan kalangan profesi kesehatan.
Siapa yang salah? Produsen yang dianggap tidak serius dengan keamanan produknya atau regulator yang
dianggap tidak cermat dalam mengevaluasi produk sebelum memberikan Nomor Izin Edar.

Perlu diketahui bahwa kualitas dan keamanan setiap produk obat maupun makanan yang beredar di
Indonesia dikontrol oleh BPOM atau disebut juga post-market surveillance. Post-market surveillance ini
biasanya dilakukan dengan cara sampling (mengambil contoh produk langsung dari pasaran untuk diuji
di laboratorium). Dan cara samplingini bisa dilakukan secara rutin (misalnya menjelang akhir tahun atau
Idul Fitri) maupun secara mendadak jika diduga ada yang tidak sesuai ketentuan.
Namun tentunya, kontrol tidak hanya dilakukan oleh pihak regulator (dalam hal ini BPOM dan BBPOM)
karena bisa dibayangkan bagaimana repotnya mereka mengontrol seluruh produk yang beredar di
Indonesia beserta seluruh fasilitas produksinya. Oleh sebab itu, peran industri farmasi, profesional
kesehatan di lapangan dan masyarakat awam juga diperlukan. Caranya? Ya dengan melaporkan kejadian
tidak diinginkan (baik yang serius maupun tidak serius) yang timbul akibat penggunaan suatu obat atau
yang dikenal dengan istilah Farmakovigilans. Apa lagi tuh?

Farmakovigilans adalah seluruh kegiatan tentang pendeteksian, penilaian, pemahaman dan pencegahan
efek samping atau masalah lainnya terkait dengan penggunaan obat. Pelaporan ini sifatnya bisa berupa
Pelaporan spontan, Pelaporan Berkala Pasca Pemasaran (Periodic Safety Update Report), Pelaporan studi
keamanan pasca pemasaran, Pelaporan publikasi/literatur ilmiah, Pelaporan tindak lanjut regulatori
Badan Otoritas negara lain, pelaporan tindak lanjut pemegang izin edar di negara lain, dan/atau
Pelaporan dari perencanaan Manajemen Resiko.

Analisis

Dari kasus Albothyl ini, kita tentunya sangat prihatin atas banyaknya pasien yang telah dirugikan. Tapi
kita tidak perlu juga saling menyalahkan dan mempertanyakan kompetensi pihak-pihak yang terlibat di
dalamnya. Berkaca dari kasus Thalidomide, penarikan produk obat karena efek samping yang muncul
meskipun produk tersebut sudah lama beredar di pasaran sangat mungkin terjadi.

Hal ini tentunya dipengaruhi faktor sensitivitas dan reaksi setiap orang yang berbeda terhadap suatu
obat. Farmakovigilans boleh dibilang tidak hanya dilakukan selama beberapa tahun terhadap suatu obat
setelah disetujui izin edarnya, melainkan selama produk tersebut beredar di pasaran.

Dari kasus diatas terlihat bahwa perusahaan melakukan pelanggaran etika bisnis dilihat dari sudut
pandang ekonomi yaitu perusahaan di untungkan tetapi banyak orang yang di rugikan dan perusahaan
tidak memenuhi dari prinsip dari etika bisnis yaiu prinsip kejujuran. Perusahaan tidak terbuka dan
memenuhi syarat-syarat bisnis dan Mengenyampingkan aspek kesehatan konsumen dan membiarkan
penggunaan zat berbahaya dalam produknya. Albothyl yang beredar di pasaran saat ini mengandung zat
bernama Policresulen dengan konsentrasi 36%. Policresulen adalah senyawa asam organik
(polymolecular organic acid) yang diperoleh dari proses kondensasi formalin (formaldehyde) dan
senyawa meta-cresolsulfonic acid. Policresulen yang diaplikasikan pada sariawan akan menyebabkan
jaringan pada sariawan menjadi mati. Itulah alasan kenapa saat albothyl digunakan pada sariawan akan
terasa sangat perih, namun kemudian rasa perih hilang dan sakit pada sariawan pun tidak lagi terasa.
Bagi Anda yang pengalaman memakai obat ini mungkin akan menyaksikan sendiri sesaat setelah albothyl
digunakan sariawan akan menjadi berwarna putih dan kering. Jadi sebenarnya policresulen ini tidak
mengobati sariawan melainkan mematikan jaringan yang sakit atau rusak tersebut. Ketika jaringan
sariawan sudah mati, maka tubuh akan melakukan regenerasi sel-sel baru sehingga sariawan menjadi
sembuh.
Kesimpulan

Banyaknya kasus pelanggaran di dalam etika berbisnis membuat kita sadar bahwa masih banyak nya
produsen produsen nakal yang hanya memikirkan materi tanpa memikirkan dampak apa yang telah
diperbuat, pemerintah seharusnya lebih teliti terhadap pengawasan peredaran barang barang yang
beredar dan harus lolos uji seleksi. Dan untuk masyarakat kita mengajak untuk selalu peduli terhadap
apa yang di nilai kurang baik. Farmakovigilans tidak hanya dilaksanakan oleh industri farmasi tetapi juga
didukung oleh masyarakat awam dan profesional kesehatan di lapangan. Bagi masyarakat awam, jika
menemukan atau mengalami kejadian yang tidak diinginkan setelah mengkonsumsi suatu obat, bisa
menghubungi produsen dan melaporkan kejadian yang dialami (kecuali kejadian serius yang
memerlukan penanganan segera ke klinik atau rumah sakit). Biasanya produsen memiliki nomor kontak
layanan keluhan konsumen. Keluhan-keluhan ini akan ditindaklanjuti oleh bagian Farmakovigilans di
setiap perusahaan atau produsen.

Bagi profesional kesehatan lain, pelaporan ini bisa dilakukan dengan mengisi Form Kuning (Formulir
Pelaporan Efek Samping Obat) pada website e-meso.pom.go.id. Untuk kemudian dikirimkan ke Pusat
Farmakovigilans / MESO (Monitoring Efek Samping Obat) Nasional, Direktorat Pengawasan Distribusi
Produk Terapetik dan PKRT Badan POM RI.

MESO yang dilakukan di Indonesia, bekerja sama dengan WHO-Uppsala Monitoring


Center (Collaborating Center for International Drug Monitoring) yang bertujuan untuk memantau semua
efek samping obat yang dijumpai pada penggunaan obat. Hasil semua evaluasi yang terkumpul akan
digunakan sebagai materi untuk melakukan re-evaluasi atau penilaian kembali pada obat yang telah
beredar untuk selanjutnya menerapkan tindakan pengamanan yang diperlukan.

Sumber : https://muhammadmaulanablog.wordpress.com/2018/03/05/contoh-kasus-dalam-etika-
bisnis/

Diposting oleh Tika Siti Shopiah di 11.22

Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest


Kasus Pelanggaran Etika Bisnis Albothyl “PT Pharos”

Nama : Riska Astuti

Kelas : 3EA31

NPM : 16216472

JUDUL : Kasus Pelanggaran Etika Bisnis Albothyl “PT Pharos”

A. PENDAHULUAN

Bisnis adalah suatu kegiatan yang dilakukan secara terus-menerus mulai dari pengadaan bahan
baku, produksi, pemasaran dan distribusi sampai pada konsumen dalam bentuk barang maupun jasa
dengan tujuan mendapatkan keuntungan dan kemanfaatan. Adanya bisnis tidak bisa terlepas dari adanya
dua unsur yaitu, subjek dan objek. Subjek bisnis adalah pelaku bisnis itu sendiri meliputi
pemerintah,pemilik perusahaan,pemegang saham, manajer, karyawan, produsen, pemasok, distributor,
masyarakat, dan konsumen. Sedangkan objek bisnis adalah barang dan jasa yang menjadi objek dari
pelaku bisnis.Selain itu dalam bisnis juga diperlukan beberapa hal penting bagiberjalannya bisnis itu
sendiri,yaitu keuangan, manajerial, dan etika.
Dalam dunia bisnis etika memiliki peran penting bagi perjalanan organisasi bisnis. Bisnis
merupakan aktivitas yang memerlukan tanggung jawab moral dalam pelaksanaannya, sehingga etika
dalam praktik bisnis memiliki hubungan yang erat. Bisnis tanpa etika akan membuat praktik bisnis
menjadi tidak terkendali dan justru merugikan tujuan utama dari bisnis itu sendiri.Etika dilaksanakan
sesuai dengan tuntutan kebutuhan dunia bisnis. Etika menuntut agar seseorang melakukan ajaran moral
tertentu karena ia sadar bahwa hal itu memang bermanfaat dan baik bagi dirinya dan orang lain
(Keraf,1998).

Etika bisnis adalah perwujudan dari nilai-nilai moral. Hal ini disadari oleh sebagian besar pelaku
usaha, karena mereka akan berhasil dalam usaha bisnisnya jika menjalankan prinsip-prinsip etika bisnis.
Jadi penegakan etika bisnis penting artinya dalam menegakkan persaingan usaha sehat yang kondusif.

Berita-berita mengenai pelanggaran etika bisnis mendorong ketertarikan untuk menelusuri lebih
lanjut faktor-faktor yang mendorong dan dampak yang diakibatkan. Masih banyak fenomena-fenomena
dimana beberapa bisnis masih mengabaikan aspek moral. Banyak perusahaan yang hanya memikirkan
keuntungan, menghindari kerugian, dan kekuatan bersaing sebagai satu-satunya tujuan dalam
menjalankan bisnis sehingga faktor moral atau etika tidak lagi menjadi pertimbangan.

Keraf dalam Haurisa&Praptiningsih (2014) mengemukakan lima prinsip dalam etika bisnis yaitu:

1. Prinsip otonomi: kemampuan seseorang bertindak berdasarkan kesadaran dirinya sendiri tanpa
pengaruh dari pihak lain.

2. Prinsip kejujuran: sifat terbuka dan memenuhi syarat-syarat bisnis.

3. Prinsip keadilan: bersikap sama secara objektif, rasional, dan dapat dipertanggungjawabkan.

4. Prinsip saling menguntungkan: tidak ada pihak yang dirugikan dalam bisnis.

5. Prinsip integritas moral: memenuhi standar moralitas.

Prinsip-prinsip tersebut dapat menjadi indikator untuk perusahaan yang melakukan usahanya sesuai
etika bisnis. Salah satu prinsip yang tidak terpenuhi mengindikasikan adanya pelanggaran etika bisnis.
Bertens (2013) mengemukakan tiga ukuran moralitas dalam bisnis yang dapat digunakan untuk
mengukur sudut pandang moral dan prinsip integritas moral, yaitu:
1. Hati nurani; Setiap keputusan yang diambil menurut hati nurani adalah baik. Orang yang mengambil
keputusan dengan mengingkari hati nuraninya, secara tidak langsung dia juga menghancurkan integritas
pribadinya

2. Kaidah emas; Kaidah emas berbunyi “hendaklah memperlakukan orang lain sebagaimana anda sendiri
ingin diperlakukan” hal ini berarti, jika seseorang tidak ingin mendapat perlakuan buruk, maka jangan
sampai memperlakukan orang lain dengan buruk.

3. Penilaian umum; Perilaku bisnis yang oleh masyarakat umum dinilai baik, berarti bisnis tersebut etis.
Namun, jika masyarakat umum menilai bisnis tersebut tidak baik, berarti bisnis tersebut tidak etis. Hal ini
disebut juga audit sosial. Teori etika membantu dalam menentukan penilaian etis atau tidaknya suatu
perilaku. Alasan benar atau tidaknya perilaku yang dilakukan seseorang dapat didukung dengan teori
etika.

B. TOPIK

Pada tanggal 15 Februari 2018 , BPOM telah membatalkan izin edar Albothyl setelah ada 38 laporan
kasus terkait efek samping serius yang timbul akibat penggunaan Albothyl, oleh profesional kesehatan.
Kasus ini tentunya dianggap sangat serius karena berkaitan dengan keselamatan pasien. Dalam 38
laporan kasus tersebut menunjukkan bahwa adanya efek samping Albothyl yang malah memperparah
sariawan yang diderita pasien dan menyebabkan infeksi (noma like lession).

Perlu diketahui bahwa kualitas dan keamanan setiap produk obat maupun makanan yang beredar di
Indonesia dikontrol oleh BPOM atau disebut juga post-market surveillance. Post-market surveillance ini
biasanya dilakukan dengan cara sampling (mengambil contoh produk langsung dari pasaran untuk diuji
di laboratorium). Dan cara samplingini bisa dilakukan secara rutin (misalnya menjelang akhir tahun atau
Idul Fitri) maupun secara mendadak jika diduga ada yang tidak sesuai ketentuan.

Namun tentunya, kontrol tidak hanya dilakukan oleh pihak regulator (dalam hal ini BPOM dan BBPOM)
karena bisa dibayangkan bagaimana repotnya mereka mengontrol seluruh produk yang beredar di
Indonesia beserta seluruh fasilitas produksinya. Oleh sebab itu, peran industri farmasi, profesional
kesehatan di lapangan dan masyarakat awam juga diperlukan. Caranya? Ya dengan melaporkan kejadian
tidak diinginkan (baik yang serius maupun tidak serius) yang timbul akibat penggunaan suatu obat atau
yang dikenal dengan istilah Farmakovigilans. Apa lagi tuh?
Farmakovigilans adalah seluruh kegiatan tentang pendeteksian, penilaian, pemahaman dan pencegahan
efek samping atau masalah lainnya terkait dengan penggunaan obat. Pelaporan ini sifatnya bisa berupa
Pelaporan spontan, Pelaporan Berkala Pasca Pemasaran (Periodic Safety Update Report), Pelaporan studi
keamanan pasca pemasaran, Pelaporan publikasi/literatur ilmiah, Pelaporan tindak lanjut regulatori
Badan Otoritas negara lain, pelaporan tindak lanjut pemegang izin edar di negara lain, dan/atau
Pelaporan dari perencanaan Manajemen Resiko.

C. ANALISIS

Dari kasus diatas terlihat bahwa perusahaan melakukan pelanggaran etika bisnis dilihat dari sudut
pandang ekonomi yaitu perusahaan di untungkan tetapi banyak orang yang di rugikan dan perusahaan
tidak memenuhi dari prinsip dari etika bisnis yaiu prinsip kejujuran. Perusahaan tidak terbuka dan
memenuhi syarat-syarat bisnis dan Mengenyampingkan aspek kesehatan konsumen dan membiarkan
penggunaan zat berbahaya dalam produknya. Albothyl yang beredar di pasaran saat ini mengandung zat
bernama Policresulen dengan konsentrasi 36%. Policresulen adalah senyawa asam organik
(polymolecular organic acid) yang diperoleh dari proses kondensasi formalin (formaldehyde) dan
senyawa meta-cresolsulfonic acid. Policresulen yang diaplikasikan pada sariawan akan menyebabkan
jaringan pada sariawan menjadi mati. Itulah alasan kenapa saat albothyl digunakan pada sariawan akan
terasa sangat perih, namun kemudian rasa perih hilang dan sakit pada sariawan pun tidak lagi terasa.
Bagi Anda yang pengalaman memakai obat ini mungkin akan menyaksikan sendiri sesaat setelah albothyl
digunakan sariawan akan menjadi berwarna putih dan kering. Jadi sebenarnya policresulen ini tidak
mengobati sariawan melainkan mematikan jaringan yang sakit atau rusak tersebut. Ketika jaringan
sariawan sudah mati, maka tubuh akan melakukan regenerasi sel-sel baru sehingga sariawan menjadi
sembuh.

Referensi :

https://mojok.co/alx/esai/yang-harus-dipahami-dalam-kasus-penarikan-albothyl/

http://scholar.unand.ac.id/21652/2/BAB%20I%20PDF.pdf
https://www.kompasiana.com/irmina.gultom/5a87b8a616835f50501363e3/kasus-albothyl-bukti-
berjalannya-farmakovigilans-di-indonesia

Anda mungkin juga menyukai