Anda di halaman 1dari 9

NAMA : ADJIE SATRIO

NIM : 122017002

PROGRAM STUDI TEKNIK KIMIA

TUGAS FASILITAS MINYAK DAN GAS BUMI

Buat flow diagram proses perpisahan NGL dari natural gas NGL (Natural Gas
Liquid) dengan cara :

- Refrigerasi
- Absorbs
- Dan uraikan prosesnya

Jawab :

Liquefied Natural Gas (LNG)

Liquefied Natural Gas (LNG) adalah cairan yang jernih, tidak berbau dan
tidak berwarna, dimana cairan ini mewakili senyawa utama yaitu metana yang
menyatu dengan senyawa-senyawa hidrokarbon lainnya. Sifat penting dari LNG
ialah nilai kalor dan density yang berfariasi tergantung dari proporsi komponen di
dalamnya. Sifat fisik LNG bila hanya metana yang dicairkan maka pada dasarnya
seperti pada dasarnya seperti pada table di bawah.

Calorific value atau heating value merupakan karateristik utama pada gas
alam. Alasannya tidak lain karena karateristik tersebut yang memiliki nilai jual,
khususnya terhadap LNG. Lantas, apa yang dimaksud heating value? Heating
value ialah panas yang dilepaskan atau diberikan saat satu unit fuel dibakar
dengan O2 pada kondisi tertentu/ditentukan. Pembakaran tersebut dilakukan untuk
menghasilkan panas yang berfungsi sebagai sumber tenaga/energy untuk
menggerakan mesin-mesin. Umumnya, pada tekanan 14,7 psia pada temperatur
15 oC, metana memiliki heating value sebesar 37,613 kj/m3 (1009,7 btu/cf) bila
dibakar dengan udara.
Heating value ditentukan dengan cara mendinginkan hasil pembakaran
hingga 15 oC (60 oF) dengan catatan :

1. Apabila air tetap tertinggal sebagai uap, energi yang diperoleh ialah Net
Heating Value (NHT).
2. Sementara bila terjadi kondensasi, maka energi yang dihasilkan dinyatakan
sebagai Gross Heating Value (GHV).

Dari segi penggunaanya, LNG umumnya dimanfaatkan sebagai sumber


energi/sumber tenaga dalam bentuk aircraft fuel, automatic fuel, standby fuel,
generator fuel dan sebagainya.

Natural Gas Liquid

Natural Gas Liquid (NGL) merupakan campuran senyawa hidrokarbon


yang terdiri dari etana, propana, butana dan pentana. Senyawa ini dapat diekstrak
melalui proses pendinginan dan pemberian tekanan menggunakan separator gas.
Terminologi NGL sendiri merujuk pada pengertian bahwa terdapat senyawa-
senyawa hidrokarbon dalam "wet" gas dan dapat dipisahkan melalui proses di
lapangan. Umumnya, pengambilan NGL dalam jumlah sedikit bertujuan untuk
meminimalisir terjadinya aliran 2 fasa di dalam pipa. Namun disisi lain,
pengambilan/pemisahan NGL dari wet gas merupakan penetapan dari segi
ekonomis karena harga gas jika dinilai dari nilai kalor maka akan jauh lebih tinggi
bila cairan tidak dipisahkan.

Setelah NGL telah melalui tahap ekstraksi, cairan yang diperoleh memiliki
titik didih yang rendah sehingga sangat cocok di-blending dengan gasoline. Dalam
tahap fraksinasi, NGL akan distabilkan di bawah tekanan sehingga senyawa etana,
propana dan beberapa senyawa butana dapat keluar di bagian atas fractionating
column (kolom fraksinasi). Senyawa yang keluar dari kolom fraksinasi tadi
selanjutnya akan dipisahkan sehinga dihasilkan fraksi etana dan fraksi LPG.

Sementara itu, cairan yang keluar pada bagian bawah kolom fraksinasi
(seperti pentana, heksana dan pentana) biasanya akan digunakan untuk blending
dengan fraksi gasoline sehingga dihasilkan produk yang disebut "natural
gasoline".

Penggunaan etana biasana sebagai bahan baku untuk pabrik-pabrik


petrikimia penghasil etilen, normal butana juga dimanfaatkan untuk bahan baku
petrokimia maupun untuk keperluan blending gasoline. Sementara iso-butana
dapat digunakan untuk menigkatkan oktan pada gasoline dengan metode alkilasi.
Proses perpisahan NGL natural gas dengan cara Refrigerasi

Proses pencairan gas alam di kilang LNG badak menggunakan sistem


pendingin multi komponen dari APCI. Secara umum, pemrosesan LNG adalah
sebagai berikut :

1. Gas alam mentah dari lading dilewatkan melalui drum knock out untuk
memisahkan kondensat cair sebelum memasuki kilang LNG.
2. Karbon dioksida dihilangkan oleh penyerapan kimia oleh proses anime.
3. Air dihilangkan dengan ayakan molekuler.
4. Konten propana, butana dan kondensat dipisahkan dari umpan LNG dalam
kolom fraksinasi.
5. Pakan LNG didinginkan dengan pendinginan propane.
6. Pendinginan akhir dan pencairan LNG dilakukan dalam Heat Exchanger
kriogenik utama dengan menggunakan pendingin multi-komponen sebagai
media pendingin.

LNG Proses Diagram

Plant 1 (gas Purification)

Proses yang dilakukan pada plant 1 adalah permurnian gas dengan


memisahkan kandungan CO2 dari kandungan gas alam yang berasal dari sumur.
Adanya kandungan gas CO2 dapat mengakibatkan penyumbatan pada tube-tube di
main heat exchanger pada proses liquefaction di plant 5 karena CO2 memiliki titik
beku -600C sedangkan pencairan LNG membutuhkan temperatur hingga -1600C.
Batas kandungan CO2 yang diperbolehkan agar seluruh proses berjalan dengan
baik adalah 50 ppm. Proses penyerapan CO2 menggunakan Methyl De Ethanol
Amine (MDEA). Secara kimiawi, amine akan bereaksi cepat dengan CO2 pada
suhu atmosfer dan kandungan CO2 tersebut dapat dikeluarkan dari larutan pada
temperatur yang tinggi.

Plant 2 (H2O dan Hg Removal)

Kandungan H2O yang terdapat pada feed gas dapat menyebabkan


penyumbatan pada proses pencairan di main heat exchanger karena H2O memiliki
titik beku sebesar 0 oC sedangkan proses pencairan feed gas dilakukan pada
temperatur -1560C. Kandungan Hg yang terdapat pada feed gas dapat
menyebabkan amalgam apabila terkena peralatan alumunium, khususnya main
heat exchanger. Kandungan H2O pada feed gas yang diperbolehkan untuk
menjalani proses selanjutnya adalah 0,5 ppm, sedangkan kandungan Hg sebesar
0,1 ppb. Oleh karena itu, H2O pada gas dikeringkan pada drier (2C-2A/B/C)
dengan media molecular sieve dan Hg dihilangkan pada mercury removal vessel
(2C-4) dengan media sulfur impregnated activated charcoal.

Plant 3 (Fraksinasi)

Sebelum gas diolah menjadi LNG, feed gas dipisah menjadi metana, etana,
propana, butana, dan hydrocarbon berat berdasarkan fraksinya. Metana akan
dialirkan menuju cryogenic exchanger (5E-1), sebagian etana akan diinjeksikan
menuju feed gas untuk menaikkan HHV dari LNG dan bagian etana lainnya akan
disimpan untuk cadangan make-up multi component refrigerant (MCR),
sedangkan propana dan butana akan diolah menjadi LPG dan sebagian untuk
cadangan make-up MCR.

Plant 4 (Refrigerasi)

Terdapat dua macam sistem refrigerasi pada plant 4, yaitu sistem


pendinginan propana dan sistem pendinginan multi component refrigerant (MCR).
Pada sistem pendinginan propana, dilakukan pendinginan feed gas melalui proses
pemurnian dan fraksinasi hingga mencapai titik embunnya. Sedangkan sistem
pendinginan MCR merupakan sistem refrigerasi yang digunakan untuk
mendinginkan feed gas sampai menjadi LNG di main heat exchanger (MHE).
Plant 5 (Liquefaction)

Pada Plant 5 dilakukan pendinginan dan pencairan gas alam setelah gas
alam mengalami pemurnian dari CO2, pengeringan dari kandungan H2O,
pemisahan Hg serta pemisahan dari fraksi beratnya dan pendinginan bertahap oleh
propane.Gas alam menjadi cair setelah keluar dari main heat exchanger (5E-1)
dan peralatan lainnya selanjutnya ditransfer ke storage tank.

Proses perpisahan NGL natural gas dengan cara Absorbsi

 Absorbsi
Absorbsi adalah proses pemisahan bahan dari suatu campuran gas dengan
cara pengikatan bahan tersebut pada permukaan absorben cair yang diikuti dengan
pelarutan. Kelarutan gas yang akan diserap dapat disebabkan hanya oleh gaya-
gaya fisik (pada absorpsi fisik) atau selain gaya tersebut juga oleh ikatan kimia
(pada absorbsi kimia). Komponen gas yang dapat mengadakan ikatan kimia akan
dilarutkan lebih dahulu dan juga dengan kecepatan yang lebih tinggi. Karena itu
absorbsi kimia mengungguli absorpsi fisik. Fungsi Absorbsi dalam industri adalah
untuk meningkatkan nilai guna dari suatu zat dengan cara merubah
fasenya,contohnya pada proses pembuatan formalin yang berfase cair yang
berasal dari formaldehid yang berfase gas dapat dihasilkan melalui proses
absorbsi. Di dalam proses absorbsi terdapat istilah absorben yang merupakan
cairan yang dapat melarutkan bahan yang akan diabsorpsi pada permukaannya,
baik secara fisik maupun secara reaksi kimia.Absorben sering juga disebut sebagai
cairan pencuci. Adapun persyaratan absorben antara lain :
1. Memiliki daya melarutkan bahan yang akan diabsorpsi yang sebesar
mungkin (kebutuhan akan cairan lebih sedikit, volume alat lebih kecil).

2. Selektif

3. Memiliki tekanan uap yang rendah

4. Tidak korosif.

5. Mempunyai viskositas yang rendah

6. Stabil secara termis.

7. Murah

Jenis-jenis bahan yang dapat digunakan sebagai absorben adalah :


1. Air ( H2O ) yang dapat digunakan untuk gas-gas yang dapat larut, atau
untuk pemisahan partikel debu dan tetesan cairan.
2. Natrium hidroksida ( NaOH ) yang dapat digunakan untuk gas-gas yang
dapat bereaksi seperti asam.
3. Asam sulfat ( H2SO4 ) yang dapat digunakan untuk gas-gas yang dapat
bereaksi seperti basa.

 Kolom Absorbsi
Kolom absorbsi adalah suatu kolom atau tabung tempat terjadinya proses
pengabsorbsi (penyerapan/penggumpalan) dari zat yang dilewatkan di
kolom/tabung tersebut. Proses ini dilakukan dengan melewatkan zat yang
terkontaminasi oleh komponen lain dan zat tersebut dilewatkan ke kolom ini
dimana terdapat fase cair dari komponen tersebut.

 Absorber dan Striper


Absorber dan stripper adalah alat yang digunakan untuk memisahkan satu
komponen atau lebih dari campurannya menggunakan prinsip perbedaan
kelarutan. Solut adalah komponen yang dipisahkan dari campurannya sedangkan
pelarut (solvent ; sebagai separating agent) adalah cairan atau gas yang
melarutkan solut. Karena perbedaan kelarutan inilah, transfer massa Absorber
digunakan untuk memisahkan suatu solut dari arus gas. Stripper digunakan untuk
memisahkan solut dari cairan sehingga diperoleh gas dengan kandungan solute
lebih pekat. Hubungan absorber dan stripper ditunjukkan dalam gambar 1.
Struktur dalam absorber adalah :
1. Bagian atas : Spray untuk mengubah gas input menjadi fase cair.

2. Bagian tengah : Packed tower untuk memperluas permukaan sentuh


sehingga mudah untuk diabsorbsi.

3. Bagian bawah : Input gas sebagai tempat masuknya gas ke dalam


absorber.

Proses dan reaksi yang terjadi di Absorber adalah sebagai berikut :


Proses penyerapan CO2 dalam syn gas oleh amine dilakukan dalam kolom
Absorber. Proses absorbsi tersebut terjadi secara fisik ( karena adanya driving
force antara konsentrasi CO2 dalam fasa gas dan CO2 dalam amine) dan kimia
(adanya reaksi asam-basa) dimana CO2 dalam air bersifat asam lemah dan MDEA
bersifat basa lemah. Adapun reaksi yang terjadi di Absorber adalah sebagai
berikut :

CO2 + H2O + MDEA → MDEAH+ + HCO3-

Proses ini berjalan reversible, artinya kita bisa membalik reaksinya


menjadi pelepasan CO2 dari amine dengan merubah kondisi operasi. Dalam
absorber, syn gas yang kaya akan CO2 dikontakkan dengan lean amine. Proses
absorbsi disukai terjadi pada pressure tinggi dan temperature rendah. Karena
itulah lean amine dipompa dengan tekanan tinggi lewat bagian atas absorber untuk
dikontakkan dengan raw gas yang masih bertekanan tinggi dari bagian bawah.
Agar penyerapan berjalan efektif maka dipasanglah bed packing atau tray pada
bagian tengah absorber untuk memperluas permukaan kontak gas dan liquid.
Amine yang telah menyerap CO2 disebut rich amine dan akan menjalani proses
flashing (penurunan tekanan) untuk melepas hidrokarbon yang terabsorbi dan
proses regenerasi di kolom stripper untuk melepaskan CO2 dari amine. Kondisi
operasi Stripper adalah kebalikan dari Absorber, dimana proses pelepasan CO2
dari rich amine disukai terjadi pada pressure rendah dan temperature tinggi. hal ini
bisa terjadi karena proses absorbsi tadi adalah reversible. Karena itulah dipasang
reboiler pada bagian bawah stripper untuk menaikkan temperature. CO2 yang
terlepas biasanya dibuang ke lingkungan atau menjalani proses pembakaran
sebelum dibuang. Sedangkan amine yang sudah tidak mengandung CO2 dipompa
kembali ke Absorber, tentunya ditambah make-up karena adanya loss amine
dalam sistem tersebut. Amine yang digunakan dicampur dengan air pada
konsentrasi tertentu. Semakin tinggi konsentrasi amine, semakin tinggi
kemampuan menyerap CO2, namun larutan menjadi korosif. Begitu juga
sebaliknya, jika kadar amine berkurang, kemampuan menyerap CO2 menurun,
namun larutan tidak terlalu korosif.

Sistem Persiapan Umpan Baku


Gas alam dari PT. Arun NGL. Co dengan tekanan 32 kg/cm2G dan suhu
26 oC dialirkan ke dalam fuel and feed gas knock out drum (51-116-F) untuk
memisahkan senyawa hidrokarbon berat. Dari ko drum sebagian gas alam
digunakan sebagai bahan bakar dan sebagian lagi sebagai bahan baku proses.
Sistem persiapan gas umpan baku terdiri dari beberapa tahapan proses,
yaitu:

1. Desulfurizer
Gas alam sebagai bahan baku proses dialirkan ke dalam
desulfurizer (51-102-DA/DB) yang berisikan sponge iron, yaitu potongan-
potongan kayu yang telah di impregnasi dengan Fe2O3. Sponge iron
berfungsi menyerap sulfur yang ada dalam gas alam. Masing-masing
desulfurizer mempunyai volume 49,1 m3. Umur operasinya diperkirakan
90 hari untuk kandungan H2S di dalam gas alam maksimum 80 ppm dan
keluar dari desulfurizer dengan kandungan H2S < 5 ppm. Desulfurizer
beroperasi pada tekanan 27 Kg/cm2G dan suhu 26,7 °C.
Reaksi yang terjadi adalah :
Fe2O3 + 3 H2S → Fe2S3 + 3 H2O

2. Mercury Guard Chamber (51 – 109 – D)


Gas yang dikeluarkan dari desulfurizer mengalir ke mercury guard
chamber (51 – 109 – D) yang berfungsi untuk memisahkan Hg yang
terdapat dalam gas alam. Mercury yang ada di dalam gas dirubah menjadi
senyawa mercury sulfida dan kemudian diserap pada permukaan karbon
aktif.
Reaksi yang terjadi adalah :
Hg + S → HgS
Mercury guard chamber beroperasi pada tekanan 26,4 Kg/cm2G
dan suhu 27°C. Diharapkan gas yang keluar dari mercury guard chamber
ini memiliki kandungan < 160 ppb.

3. CO2 Pretreatment Unit (CPU)


CO2 Pretreatment Unit (CPU) merupakan unit tambahan di pabrik
ammonia yang berfungsi untuk menurunkan kandungan CO2 pada aliran
gas umpan. Gas CO2 dihilangkan dengan cara penyerapan dengan
menggunakan absorber dan melepaskan dengan menggunakan stripper.
CPU yang ada di PT. Pupuk Iskandar Muda adalah benfield lo-heat
design, menggunakan sebuah absorber satu tingkat dan sebuah regenerator
satu tingkat (stripper) dengan satu lean solution flash tank. Masukan CPU
adalah sebagian dari aliran gas umpan dari mercury guard chamber,
sedangkan keluarannya bergabung dengan keluaran mercury guard
chamber yang di by-pass menuju hydrotreater.

4. Hydrotreater (51 – 101 – D)


Fungsi alat ini adalah untuk mengubah sulfur organik menjadi
anorganik (H2S). Katalis yang digunakan adalah Cobalt Molybdenum
(CoMo) sebanyak 28,3 m2. Dengan adanya katalis CoMo dan penambahan
H2 yang berasal dari keluaran synthesis gas compressor (51 – 103 – J),
diharapkan sulfur organik dapat terurai menjadi sulfur anorganik (H2S).
Hidrotreater beroperasi pada tekanan 42,4 Kg/cm2G dan suhu 371 °C.
Reaksi yang terjadi adalah :
RSH + H2 → RH + H2S

5. ZnO Guard Chamber (51- 108 – D)


H2S yang terbentuk pada Hydrotreater (51-101-D) diserap di ZnO
Guard Chamber (51-108-D) yang berisi oksidasi seng. Disini H2S di ubah
menjad i ZnS, pada suhu 343 °C dan tekanan 42,3 Kg/cm2G.
Reaksi yang terjadi adalah :
H2S + ZnO → ZnS + H2O
Umur ZnO lebih kurang 5 tahun dengan batas kandungan H2S < 5
ppm pada aliran masuk dan 0,1- 0,2 ppm pada aliran keluar.