Anda di halaman 1dari 15

BAB II

2. 1 Konsep Dasar Balita


2. 1.1 Definisi Balita
Balita Balita merupakan anak yang usianya berumur antara satu
sampai lima tahun. (Profil Kesehatan, 2013). Menurut Price dan
Gwin, 2014 seorang anak usia satu sampai tiga tahun disebut batita
atau toddler dan anak usia tiga sampai lima tahun disebut dengan usia
pra sekolah atau preschool child.
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2011 menjelaskan
bahwa balita merupakan usia dimana anak mengalami masa
pertumbuhan dan perkembangan yang pesat. Proses pertumbuhan dan
perkembangan setiap individu berbeda-beda, bisa cepat maupun
lambat tergantung dari beberapa faktor diantaranya herediter,
lingkungan, budaya dalam lingkungan, sosial ekonomi, iklim atau
cuaca, nutrisi dan lain-lain. (Nurjannah, 2013).
Menurut Sutomo, dkk 2010, balita adalah istilah umum bagi anak
usia 1-3 tahun (batita) dan anak pra sekolah (3-5 tahun). Saat usia
batita, anak masih tergantung penuh kepada orang tua untuk
melakukan kegiatan penting seperti, mandi, buang air, dan makan.

2. 2.1 Karakteristik Balita


Anak usia 1 sampai 3 tahun akan mengalami pertumbuhan
fiisik yang relatif melambat, namun perkembangan motoriknya akan
meningkat cepat (Hatfield, 2008). Anak mulai mengeksplorasi
lingkungan secara intensif seperti anak akan mulai mencoba mencari
tahu bagaimana suatu hal dapat bekerja atau terjadi, mengenal arti
kata “tidak”, peningkatan pada amarahnya, sikap yang negatif dan
keras kepala (Hockenberry, 2016).
Pertumbuhan dan perkembangan seorang anak memiliki
karakteristik yang berbeda-beda di setiap tahapannya. Karakteristik
perkembangan pada balita secara umum dibagi menjadi 4 yaitu
negativism, ritualism, temper tantrum, dan egocentric. Negativism
adalah anak cenderung memberikan respon yang negatif dengan
mengatakan kata “tidak”. Ritualism adalah anak akan membuat tugas
yang sederhana untuk melindungi diri dan meningkatkan rasa aman.
Balita akan melakukan hal secara leluasa jika ada seseorang seperti
anggota keluarga berada disampingnya karena mereka merasa aman
ada yang melindungi ketika terdapat ancaman.
Karakteristik selanjutnya adalah Temper tantrum. Temper
tantrum adalah sikap dimana anak memiliki emosi yang cepat sekali
berubah. Anak akan menjadi cepat marah jika dia tidak dapat
melakukan sesuatu yang tidak bisa dia lakukan. Erikson tahun 1963
menyatakan Egocentric merupakan fase di perkembangan psikososial
anak. Ego anak akan menjadi bertambah pada masa balita.
Berkembangnya ego ini akan membuat anak menjadi lebih percaya
diri, dapat membedakan dirinya dengan orang lain, mulai
mengembangkan kemauan dan mencapai dengan cara yang tersendiri
serta anak juga menyadari kegagalan dalam mencapai sesuatu (Price
dan Gwin, 2014; Hockenberry, 2016).
Perkembangan selanjutnya pada anak usia 3 tahun adalah
anak mulai bisa menggunakan sepeda beroda tiga, berdiri dengan satu
kaki dalam beberapa detik, melompat luas, dapat membangun atau
menyusun menara dengan menggunakan 9 sampai 10 kubus,
melepaskan pakaian dan mengenakan baju sendiri. Usia 4 tahun, anak
dapat melompat dengan satu kaki, dapat menyalin gambar persegi,
mengetahui lagu yang mudah, eksplorasi seksual dan rasa ingin tahu
yang ditunjukkan dengan bermain seperti menjadi dokter atau
perawat. Anak usia 5 tahun dapat melempar dan menangkap bola
dengan baik, menyebutkan empat atau lebih warna, bicara mudah
dimengerti, dan sebagainya (Hockenberry et.al., 2016).
2. 3.1 Tumbuh Kembang Balita
Secara umum tumbuh kembang setiap anak berbeda-beda,
namun prosesnya senantiasa melalui tiga pola yang sama, yakni
(Hartono, 2008):
2.3.1.1 Pertumbuhan dimulai dari tubuh bagian atas menuju bagian
bawah (sefalokaudal). Pertumbuhannya dimulai dari kepala
hingga ke ujung kaki, anak akan berusaha menegakkan
tubuhnya, lalu dilanjutkan belajar menggunakan kakinya.
2.3.1.2 Perkembangan dimulai dari batang tubuh ke arah luar.
Contohnya adalah anak akan lebih dulu menguasai
penggunaan telapak tangan untuk menggenggam, sebelum ia
mampu meraih benda dengan jemarinya.
2.3.1.3 Setelah dua pola di atas dikuasai, barulah anak mulai belajar
mengeksplorasi keterampilan lain, Seperti melempar,
menendang, berlari dan lain-lain.

Pertumbuhan pada bayi dan balita merupakan gejala


kuantitatif. Pada konteks ini, berlangsung perubahan ukuran dan
jumlah sel, serta jaringan intraseluler pada tubuh anak. Dengan kata
lain, berlangsung proses multiplikasi organ tubuh anak, disertai
penambahan ukuran-ukuran tubuhnya. Hal ini ditandai oleh (Hartono,
2008) :

2.3.2.1 Meningkatnya berat badan dan tinggi badan.


2.3.2.2 Bertambahnya ukuran lingkar kepala.
2.3.2.3 Muncul dan bertambahnya gigi dan geraham.
2.3.2.4 Menguatnya tulang dan membesarnya otot-otot.
2.3.2.5 Bertambahnya organ-organ tubuh lainnya, seperti rambut,
kuku, dan sebagainya.

Perkembangan pada masa balita merupakan gejala


kualitatif, artinya pada diri balita berlangsung proses peningkatan dan
pematangan (maturasi) kemampuan personal dan kemampuan sosial
(Hartoyo dkk, 2003).
2.3.3.1 Kemampuan personal ditandai pendayagunaan segenap
fungsi alat-alat pengindraan dan sistem organ tubuh lain yang
dimilikinya. Kemampuan fungsi pengindraan meliputi ;
1. Penglihatan, misalnya melihat, melirik, menonton,
membaca dan lain-lain.
2. Pendengaran, misalnya reaksi mendengarkan bunyi atau
suara, menyimak pembicaraan dan lain-lain.
3. Penciuman, misalnya mencium dan membau sesuatu.
4. Peraba, misalnya reaksi saat menyentuh atau disentuh,
meraba benda, dan lain-lain.
5. Pengecap, misalnya menghisap ASI, mengetahui rasa
makanan dan minuman.

2.3.3.2 Kemampuan sosial.


Kemampuan sosial (sosialisasi), sebenarnya efek
dari kemampuan personal yang makin meningkat. Dari situ
lalu dihadapkan dengan beragam aspek lingkungan sekitar,
yang membuatnya secara sadar berinterkasi dengan
lingkungan itu. Sebagai contoh pada anak yang telah berusia
satu tahun dan mampu berjalan, dia akan senang jika diajak
bermain dengan anak-anak lainnya, meskipun ia belum
pandai dalam berbicara, ia akan merasa senang berkumpul
dengan anak-anak tersebut. Dari sinilah dunia sosialisasi pada
ligkungan yang lebih luas sedang dipupuk, dengan berusaha
mengenal teman-temanya itu (Ilham, 2009).

2. 4.1 Proses Tumbuh Kembang Anak


Dalam proses tumbuh kembang, anak memiliki kebutuhan
yang harus terpenuhi, kebutuhan tersebut yakni (Evelin dan
Djamaludin. N. 2010) :
2.4.1.1 Pemenuhan kebutuhan gizi (asuh).
Usia balita adalah periode penting dalam proses
tubuh kembang anak yang merupakan masa pertumbuhan
dasar anak. Pada usia ini, perkembangan kemampuan
berbahasa, berkreativitas, kesadaran sosial, emosional dan
inteligensi anak berjalan sangat cepat. Pemenuhan kebutuhan
gizi dalam rangka menopang tumbuh kembang fisik dan
biologis balita perlu diberikan secara tepat dan berimbang.
Tepat berarti makanan yang diberikan mengandung zat-zat
gizi yang sesuai kebutuhannya, berdasarkan tingkat usia.
Berimbang berarti komposisi zat-zat gizinya menunjang
proses tumbuh kembang sesuai usianya. Dengan
terpenuhinya kebutuhan gizi secara baik, perkembangan
otaknya akan berlangsung optimal. Keterampilan fisiknya
pun akan berkembang sebagai dampak perkembangan bagian
otak yang mengatur sistem sensorik dan motoriknya.
Pemenuhan kebutuhan fisik atau biologis yang baik, akan
berdampak pada sistem imunitas tubuhnya sehingga daya
tahan tubuhnya akan terjaga dengan baik dan tidak mudah
terserang penyakit (Sulistyoningsih, 2011).

2.4.1.2 Pemenuhan kebutuhan emosi dan kasih sayang (asih).


Kebutuhan ini meliputi upaya orang tua
mengekspresikan perhatian dan kasih sayang, serta
perlindungan yang aman dan nyaman kepada si anak. Orang
tua perlu menghargai segala keunikan dan potensi yang ada
pada anak. Pemenuhan yang tepat atas kebutuhan emosi atau
kasih sayang akan menjadikan anak tumbuh cerdas secara
emosi, terutama dalam kemampuannya membina hubungan
yang hangat dengan orang lain. Orang tua harus
menempatkan diri sebagai teladan yang baik bagi anak-
anaknya. Melalui keteladanan tersebut anak lebih mudah
meniru unsur- unsur positif, jauhi kebiasaan memberi
hukuman pada anak sepanjang hal tersebut dapat diarahkan
melalui metode pendekatan berlandaskan kasih sayang
(Almatsier, 2005).

2.4.1.3 Pemenuhan kebutuhan stimulasi dini (asah).


Stimulasi dini merupakan kegiatan orangtua
memberikan rangsangan tertentu pada anak sedini mungkin.
Bahkan hal ini dianjurkan ketika anak masih dalam
kandungan dengan tujuan agar tumbuh kembang anak dapat
berjalan dengan optimal. Stimulasi dini meliputi kegiatan
merangsang melalui sentuhan-sentuhan lembut secara
bervariasi dan berkelanjutan, kegiatan mengajari anak
berkomunikasi, mengenal objek warna, mengenal huruf dan
angka. Selain itu, stimulasi dini dapat mendorong munculnya
pikiran dan emosi positif, kemandirian, kreativitas dan lain-
lain. Pemenuhan kebutuhan stimulasi dini secara baik dan
benar dapat merangsang kecerdasan majemuk (multiple
intelligences) anak. Kecerdasan majemuk ini meliputi,
kecerdasan linguistic, kecerdasan logis-matematis,
kecerdasan spasial, kecerdasan kinestetik, kecerdasan
musical, kecerdasan intrapribadi (intrapersonal), kecerdasan
interpersonal, dan kecerdasan naturalis (Sulistyoningsih,
2011).

2. 5.1 Resiko Masalah Kesehatan Pada Balita


Kesehatan anak sangat penting untuk masa pertumbuhan,
sehingga orang tua harus memperhatikan makanan, lingkungan dan
kesehatan anak dari lahir hingga anak dapat mengontrol dirinya
sendiri. Balita sangat rentan terhadap berbagai penyakit mulai dari
lahir hingga usia 4 tahun, penyakit yang sering terjadi pada anak yaitu
Hyperbilirubinemia, Tetanus Neonatorum, Asma, Anemia, Kejang
Demam, Konjungtivitis, MEP (Malnutrisi Energi Protein), Diare,
Hirschsprung, Anus Imperforate, Hepatitis, Leukemia, Tuberkulosis,
Bronkopnemonia, Bronkitis, Meningitis, HIV/AIDS, Sindrom
Nefrotik, Morbili, Dhf, Typhus Abdominalis Dan Penyakit Alergi
(Hidayat, 2008).

2. 2 Konsep Dasar ASI Eksklusif

2. 3 Konsep Dasar Campak


2.3.1 Definisi Campak
Campak merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus
myxovirus viridae measles yang ditularkan melalui udara dari
percikan atau batuk penderita. (Kemenkes RI, 2014).
Campak adalah suatu penyakit akut yang sangat menular yang
disebabkan oleh virus. Campak disebut juga rubeola, morbilli, atau
measles. Penyakit ini ditandai dengan gejala awal demam, batuk,
pilek, dan konjungtivitis dan diikuti dengan bercak kemerahan pada
kulit (rash). Campak biasanya menyerang anak-anak dengan derajat
ringan sampai sedang. Penyakit ini dapat meninggalkan gejala sisa
kerusakan neurologis akibat peradangan otak (ensefalitis). (Irianto,
2018).
Morbilli adalah penyakit infeksi virus akut, menular yang
ditandai dengan 3 stadium, yaitu stadium kataral, stadium erupsi, dan
stadium konvalesensi. Penularan terjadi secara droplet dan kontak
langsung dengan pasien. Nama lain penyakit ini adalah campak,
measles, atau rubeola. (Kapita Selekta Kedokteran, Jilid 2, 2000).

2.3.2 Etiologi
Penyakit ini disebabkan oleh virus campak yang termasuk
dalam golongan paramyxovirus, genus Morbillivirus. Virus ini adalah
virus RNA yang dikenal hanya mempunyai satu antigen struktur virus
ini mirip dengan virus penyebab parotitits epidemis dan parainfluenza.
Setelah timbulnya ruam kulit, virus aktif dapat ditemukan pada sekret
nasofaring, darah, dan air kencing dalam waktu sekitar 34 jam pada
suhu kamar.
Virus campak dapat bertahan selama beberapa hari pada
temperatur 0C dan selama 15 minggu pada sediaan beku. Diluar
tubuh manusia virus ini mudah mati. Pada suhu kamar sekalipun, virus
ini akan kehilangan infektifitasnya sekitar 60% selama 3-5 hari. Virus
ini mudah hancur oleh sinar ultraviolet. (Irianto, 2018).

2.3.3 Anatomi Fisiologi


2.3.4 Patofisiologi

2.3.5 Manifestasi Klinis


Sekitar 10 hari setelah infeksi akan muncul demam yang
biasanya tinggi, diikuti dengan koriza, batuk, dan peradangan pada
mata. Gejala penyakit campak dikategorikan dalam tiga stadium
(Irianto, 2018) :
2.3.5.1 Stadium masa inkubasi, berlangsung 10-12 hari
2.3.5.2 Stadium masa prodormal, yaitu munculnya demam ringan
sampai sedang, batuk yang makin berat, kiza, peradangan
mata, dan munculnya enantema atau bercak koplik yang khas
pada campak yaitu bercak putih pada mukosa pipi.
2.3.5.3 Stadium akhir, ditandai dengan demam tinggi dan timulnya
ruan-ruan kulit kemerahan yang dimulai dari belakang telinga
dan kemudian menyebar keleher, muka, tubuh, dan anggota
gerak.

2.3.6 Komplikasi
Komplikasi terjadi pada 30% penderita berupa otitis media,
konjungtivitis berat, enteritis dan pneumonia. Komplikasi ini sering
dijumpai pada penderita campak dengan gizi kurang. Case fatality rate
3,5% dan dapat mencapai 40% pada penderita dengan gizi buruk.
(Chandra, 2002).
2.3.7 Penatalaksanaan
Pasien diisolasi untuk mencegah penularan. Perawatan yang
baik diperlukan terutama kebersihan kulit, mulut dan mata.
Pengobatan yang diberikan simptomatik, yaitu antipirateik bila suhu
tinggi, sedatif, obat antitusif, dan memperbaiki keadaan umum dengan
memperhatikan asupan cairan dan kalori serta pengobatan terhadap
komplikasi. (Kapita Selekta Kedokteran, Jilid 2, 2000).

2.3.8 Pemeriksaan Penunjang


2.3.8.1 Pemriksaan darah tepi hanya ditemukan adanya leukopeni
2.3.8.2 Dalam sputum, sekresi nasal, sedimen urine dapat ditemukan
adanya multicleated giant sel yang khas.
2.3.8.3 Pada pemeriksaan serologi dengan cara hemoglutination
inhibition test dan complement fiksatior test akan ditemukan
adanya antibody yang spesifik dalam 1-3 hari setelah
timbulnya ras dan mencapai puncaknya pada 2-4 minggu
kemudian.

2.3.9 Faktor Resiko yang berhubungan dengan terjadinya Campak


2.3.9.1 Faktor Host/Penjamu
a. Status Imunisasi
Pengaruh imunisasi terhadap laporan kasus
penyakit, yang berkaitan langsung dengan cakupan
imunisasi. Pemberian imunisasi akan meransang
terjadinya kekebalan humoral atau kekebalan seluler.
Antibodi yang ditimbulkan akibat imunisasi serupa dengan
antibodi yang berasal dari infeksi campak secara alami.
Pada awalanya terjadi peningkatan IgG, kemudian IgG
yang dihasilkan dari perlakuan imunisasi terinduksi oleh
infeksi campak yang berada di sekitarnya. Seseorang yang
pernah mendapat stimulan antigen vaksin campak maupun
infeksi alami, umumnya akan terpapar infeksi campak
secara berulang (Sugiyanto, 1999 dalam Budi, 2012).

b. Status Vitamin A
Dalam kaitannya dengan vitamin A dan fungsi
kekebalan ditemukan bahwa ada hubungan antara
kekurangan vitamin A dan penyakit campak. Defisiensi
vitamin A bisa meningkatkan terkena komplikasi campak.
Dari sebuah studi dinyatakan bahwa elemen nutrisi utama
yang menyebabkan kegawatan campak bukan protein dan
kalori tetapi vitamin A. Ketika terjadi defisiensi vitamin
A, kematian atau kebutaan menyertai penyakit campak.
Apapun urutan kejadiannya, kematian yang berhubungan
dengan penyakit campak mencapai tingkat yang tinggi,
biasanya lebih dari 10% terjadi pada keadaan malnutrisi.
Defisiensi vitamin A dapat menyebabkan fungsi
kekebalan tubuh menurun, sehingga mudah terserang
infeksi. Kekurangan vitamin A menyebabkan lapisan sel
yang menutupi paru-paru tidak mengeluarkan lendir,
sehingga mudah dimasuki mikroorganisme, bakteri, dan
virus yang dapat menyebabkan infeksi. Defisiensi vitamin
A pada anak-anak menyebabkan komplikasi pada campak
yang berakhir dengan kematian. Karena itu, vitamin A
disebut vitamin anti infeksi. Hubungan yang terjadi
dengan campak bisa terkomplikasi oleh infeksi kedua dan
lebih buruk lagi karena kekurangan vitamin A yang
mengakibatkan pembusukan kornea mata dan kebutaan.

c. Umur saat imunisasi


Pada usia 9 bulan maka kemungkinan sakit campak
Balita tersebut sebesar 9,492 kali dan berdasarkan
perhitungan nilai PAR menunjukkan ketika kejadian
campak dapat diturunkan sebesar 68,5% ketika seluruh
balita dalam populasi diimunisasi pada usia 9 bulan. Hal
ini juga didukung dengan nilai hasil uji peluang yang
menggambarkan Balita yang diimunisasi campak tepat
waktu kemudian dikombinasikan dengan faktor lain yang
berhubungan maka Balita yang diimunisasi tepat waktu (9
bulan) memiliki peluang sakit campak lebih kecil daripada
balita yang diimunisasi campak tidak tepat waktu. Pada
sebagian besar masyarakat, maternal antibodi akan
melindungi bayi terhadap campak selama 6 bulan dan
penyakit tersebut akan dimodifikasi oleh tingkat maternal
antibodi yang tersisa sampai bagian pertama dari tahun
kedua kehidupan.
Umur terkena campak lebih tergantung oleh
kebiasaan individu daripada sifat alamiah virus. Sebelum
imunisasi disosialisasiksan secara luas, kebanyakan kasus
campak di negara industri terjadi pada anak usia 4-6 tahun
ataupun usia sekolah dasar dan pada anak dengan usia
yang lebih muda di negara berkembang.

d. Pemberian Asi Eksklusif


ASI mengandung antibodi terhadap berbagai jenis
virus, dan telah terbuk bahwa ASI menghambat
pertumbuhan virus. Kolostrum mampu menetralisasi
Respiratory Syncytial Virus (RSV). ASI memberikan
perlindungan pada bayi melalui bebrapa mekanisme,
antara lain memperbaiki mikroorganisme nonpatogen,
mengurangi mikroorganisme patogen saluran cerna,
merangkang perkembangan barier mukosa saluran cerna
dan napas, faktor spesifik (IgA sekretori, sel kekebalan)
dan sebagai perangsang kekebalan. Infeksi yang terjadi
setelah persalinan melalui orang yang merawatnya
(misalnya orangtua, saudara, pengunjung, petugas
kesehatan) atau lingkungan (alat kedokteran, muntahan).
Paparan pada bayi umumnya terjadi sebelum penyakit
pada ibu terdiagnosis (misalnya campak) atau sebelum ibu
tampak sakit (cacar air, hepatitis). Oleh karena itu,
menghentikan ASI tidak akan mencegah infeksi pada bayi,
bahkan akan mengurangi efek ASI untuk membatasi
penyakit pada bayi (IDAI, 2016). Kondisi bayi yang
sangat lemah menyebabkan tidak semua makanan baik
untuk bayi, karena itu untuk menjaga kesehatan dan
pertumbuhannya ASI sangat cocok untuk bayi yang
berusia 0-6 bulan pertama (Hizka, 2015).
ASI mengandung kolostrum yang kaya antibodi
karena mengandung protein untuk daya tahan tubuh dan
membunuh kuman dalam jumlah tinggi sehingga
pemberian ASI Eksklusif dapat mengurangi risiko
kesakitan pada bayi, karena terserang infeksi seperti
penyakit campak. Selain mengandung zat-zat makanan,
ASI mengandung zat berupa makanan, ASI juga
mengandung zat penyerap berupa enzim tersendiri yang
tidak akan mengganggu enzim di usus, sedangkan susu
formula tidak mengandung sehingga penyerapan makanan
tergantung pada enzim yang terdapat pada usus bayi
(Kemenkes RI, 2014).
Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomer 33
Tahun 2012 adalah ASI eksklusif adalah pemberian ASI
saja selama enam bulan yang diberikan kepada bayi sejak
dilahirkan hingga usia 6 bulan tanpa menambahkan dan
atau mengganti dengan makanan dan minuman lain
kecuali obat vitamin (Kemenkes RI, 2014).
Air susu ibu bukan merupakan tempat penularan
dari sebagian besar infeksi virus pada ibu, oleh karena itu
meneruskan menyusui merupakan tindakan terbaik bagi
ibu dan bayi. Virus CMV, HIV, dan HTLV-1 merupakan
virus yang sering dilaporkan sebagai penyebab infeksi
pada bayi akibat penularan dari ASI. Infeksi bakteri pada
ibu jarang mengakibatkan penularan infeksi melalui ASI
kepada bayi. Pada sebagian kasus ibu menyusui dengan
tersangka infeksi, menghentikan menyusui hanya akan
mengurangi masukan nutrisi dan manfaat kekebalan dari
ASI. (IDAI, 2016).

2.3.9.2 Faktor Lingkungan


Salah satu faktor yang berkontribusi untuk
terjadinya campak pada anak-anak yaitu: kepadatan hunian
merupakan luas lantai dalam rumah dibagi dengan jumlah
anggota keluarga, kebutuhan ruangan untuk tempat tinggal
tergantung pada kondisi keluarga yang bersangkutan.
Bagunan yang sempit dan tidak sesuai dengan jumlah
banyaknya penghuni akan memberi dampak seperti
kurangnya oksigen dalam ruangan sehingga daya tahan tubuh
penghuninya menurun, ruangan yang sempit akan membuat
para penghuninya sesak nafas dan mudah tertular penyakit
oleh anggota keluarga yang lain. Riwayat kontak merupakan
kejadian dimana penderita pernah terpapar langsung dengan
penderita campak lain. Penderita bisa tertular melalui udara
dengan penyebaran droplet dari orang-orang yang terinfeksi
dan kontak langsung. Penularan campak sangat cepat apalagi
seseorang yang tidak memiliki kekebalan (Irianto, 2014).
Sebagian besar balita terkena campak disebabkan
karena tertular teman bermainnya di sekolah. Hal ini
disebabkan karena kebanyakan orang tua balita belum
mengetahui gejala awal dari penyakit campak sehingga masih
banyak anak bersekolah diawal gejala campak seperti suhu
badan meningkat, batuk, pilek dikira sakit demam biasa.
Sebagian juga ada yang tertular teman tetangganya bahkan
penderita campak yang tinggal serumah namun hanya sedikit
dibandingkan di sekolah. Hal ini menunjukkan bahwa saat
berada di sekolah atau di rumah anak mereka tanpa sengaja
kontak dengan penderita campak. (Ramadhani, 2016).
Cara untuk mencegah agar tidak tertular oleh
penderita campak lain dengan cara menggunakan alat
pelindung diri seperti masker. Hal ini disebabkan karena
penularan penyakit campak melalui penularan melalui udara
(airborne disease). Penderita campak sebaiknya diisolasi atau
tidak boleh keluar rumah atau bermain/bergaul dengan orang
lain sampai sembuh agar tidak menularkan ke orang lain.

2.3.9.3 Faktor Perilaku


Perilaku dalam pandangan biologis merupakan
suatu aktivitas organisme yang bersangkutan. Perilaku
manusia pada hakikatnya adalah suatu aktivitas dari manusia
itu sendiri. Perilaku manusia mempunyai ruang lingkup yang
sangat luas, seperti : berjalan, berbicara, bereaksi dan bahkan
kegiatan internal seperti berfikir, persepsi dan emosi juga
merupakan perilaku manusia (Notoatmojo, 2005 dalam Budi
2012).
a. Karakteristik Ibu/Orang tua
Pengetahuan atau kognitif merupakan merupakan
domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan
seseorang (overt behavior). Menurut WHO, pengetahuan
diproleh dari pegalaman sendiri atau pengalaman orang
lain. Hasil penelitian di Jakarta Selatan, ibu yang
mempunyai pendidikan rendah, anaknya mempunyai
risiko untuk menderita campak sebesar 2,1 kali
dibandingkan pendidikan tinggi (Purnomo, 1996 dalam
Budi, 2012).
b. Sosial Ekonomi
Faktor ekonomi keluarga memegang peranan besar
dalam memilih prioritas, sehingga mempengaruhi tingkat
kesehatan. Salma P (2000) menyatakan bahwa
pendapatan keluarga kurang mempunyai risiko 1,54 kali
untuk terjadinya campak pada anaknya dibanding anak
dengan keluarga yang memiliki pendapatan cukup.
(Muhammad, 1988 dalam Budi, 2012)