Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Zakat merupakan salah satu ibadah pokok dalam Islam yang dapat menjadi pilar utama
dan tool untuk menegakkan keadilan dalam kehidupan sosial serta dapat meningkatkan
kesejahteraan umat. Menurut pernyataan standar akuntansi keuangan PSAK No. 109, Zakat
adalah harta yang wajib dikeluarkan oleh muzakki sesuai dengan ketentuan syariah untuk
diberikan kepada yang berhak menerimanya (mustahiq). Pengelolaan Zakat menurut Undang-
Undang No. 23 Tahun 2011 adalah suatu kegiatan perencanaan, pelaksanaan dan
pengorganisasian dalam pengumpulan, pendistribusian dan pendayagunaan zakat. Di
Indonesia, lembaga yang berwenang melakukan kegiatan itu adalah lembaga pengelola zakat
yang formal dan berbadan hukum yaitu Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) yang dibentuk
oleh pemerintah dan Lembaga Amil Zakat (LAZ) yang dibentuk oleh masyarakat dan
dikukuhkan pemerintah.

Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) sebagai organisasi profesi akuntan di Indonesia


berupaya memberikan kontribusi dalam rangka mewujudkan sistem akuntansi yang baik dari
suatu OPZ. Selanjutnya IAI menerbitkan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No.
109. PSAK ini bertujuan untuk mengatur tentang akuntansi zakat, infaq dan shadaqah yakni
mengatur pengakuan, pengukuran, penyajian dan pengungkapan transaksi zakat dan
infak/sedekah yang berlaku bagi Organisasi Pengelola Zakat yang berkewajiban menghimpun
dan menyalurkan zakat dan infak/sedekah. PSAK tersebut diterbitkan sebagai pedoman
standardisasi dalam pencatatan transaksi dan penyusunan laporan keuangan yang dibuat oleh
Organisasi Pengelola Zakat. Dengan adanya standardisasi tersebut maka akan terjadi
keseragaman (uniformity) dan keterbandingan (comparability) dalam pencatatan dan
pelaporan keuangan yang dibuat oleh Organisasi Pengelola Zakat yang ada di Indonesia, hal
ini juga dapat membantu memudahkan akuntan publik dalam melakukan audit atas laporan
keuangan OPZ.
B. Rumusan Masalah
1. Apa Pengertian Akuntansi Zakat?
2. Bagaimana Akuntansi Zakat dan Infak/Sedekah Berdasarkan PSAK No.
109?

1
3. Bagaimana Bentuk Laporan Keuangan Amil Zakat, Infak dan Sedekah?
4. Bagaimana Langkah-langkah Membuat Laporan Keuangan Lembaga Amil
Zakat?
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk Mengetahui Apa Pengertian Akuntansi Zakat.
2. Untuk Mengetahui Bagaimana Akuntansi Zakat dan Infak/Sedekah
Berdasarkan PSAK No. 109.
3. Untuk Mengetahui Bagaimana Bentuk Laporan Keuangan Amil Zakat,
Infak dan Sedekah.
4. Untuk Mengetahui Bagaimana Langkah-langkah Membuat Laporan
Keuangan Lembaga Amil Zakat.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Akuntansi Zakat

Akuntansi dapat didefinisikan sebagai proses pencatatan, penggolongan, peringkasan,


pelaporan dan penganalisaan data keuangan suatu organisasi.1 Akuntansi juga diartikan,
sebagai bahasa bisnis yang memberikan informasi tentang kondisi ekonomi suatu perusahaan
atau organisasi dan hasil usaha pada waktu atau periode tertentu, sebagai pertanggungjawaban
manajemen serta untuk pengambilan keputusan. Dari pengertian definisi akuntansi diatas,
menurut Husein Sahatah (1997) akuntansi zakat mal dianggap sebagai salah satu cabang ilmu
akuntansi yang dikhususkan untuk menentukan dan menilai aset wajib Zakat, menimbang
kadarnya (volume), dan mendistribusikan hasilnya kepada para mustahiq dengan berdasarkan
kepada kaidah-kaidah syariat Islam.

Berdasarkan pengertian tersebut maka yang menjadi tujuan dari akuntansi adalah:
pertangungjawaban, menjalankan fungsi manajemen (planniang, organizing, actuating,
controlling), pengawasan, sarana untuk pengambilan keputusan. Tujuan lainnya dari akuntansi
Zakat Menurut AAS-IFI (Accounting & Auditing Standard for Islamic Financial Institution)
adalah menyajikan informasi mengenai ketaatan organisasi terhadap ketentuan syariah Islam,
termasuk informasi mengenai penerimaan dan pengeluaran yang tidak diperbolehkan oleh
syariah, bila terjadi, serta bagaimana penyalurannya. Berdasarkan tujuan tersebut maka
memperlihatkan betapa pentingnya peran Dewan Syariah (mengeluarkan opini syariah).

Standar akuntansi zakat sesungguhnya mempunyai aturan tersendiri dengan melihat


sifat zakat ini, standar akuntansi akan mengikuti bagaimana harta dinilai dan diukur. Secara
umum standar akuntansi zakat akan dijelaskan sebagai berikut: penilaian dengan harga pasar
sekarang, aturan satu tahun, kekayaan/aset, aktiva tetap tidak kena zakat, nisab (batas jumlah).
Transaksi Zakat adalah transaksi Zakat, Infaq dan Shadaqah. Akuntabilitas organisasi
pengelola zakat ditunjukkan dalam laporan keuangan tersebut, untuk bisa disahkan sebagai
organisasi resmi, lembaga zakat harus menggunakan sistem pembukuan yang benar dan siap
diaudit akuntan publik. Ini artinya standar akuntansi zakat mutlak diperlukan. Karena dalam

1
Al haryono Jusup, Dasar-Dasar Akuntansi, jilid I, Yogyakarta: YKPN, 2001, hlm. 5

3
PSAK No. 109, akuntansi zakat bertujuan untuk mengatur pengakuan, pengukuran, penyajian
dan pengungkapan transaksi zakat, infak/shadaqah.2

B. Akuntansi Zakat dan Infak/Sedekah Berdasarkan PSAK No. 109

Standar akuntansi ZIS yang berlaku saat ini dan digunakan oleh OPZ sebagai pedoman
dalam pembukuan dan pelaporan keuangannya adalah PSAK No. 109 yang dikeluarkan oleh
Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) pada tahun 2010. Penerbitan PSAK ini telah mengalami proses
yang cukup lama kurang lebih empat tahun dari waktu penyusunannya, dimulai dengan
disusunnya Eksposure Draft-nya (ED) yang diterbitkan sejak tahun 2008. Namun, saat ini
tidak semua OPZ yang ada di Indonesia dapat menerapkan PSAK no. 109. Hal tersebut karena
sebagian OPZ mengalami beberapa kendala dalam penerapannya. Salah satu faktor kendalanya
adalah adanya kesulitan dalam sumber daya manusia yang dimiliki OPZ.

Akuntansi zakat yang ada dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No.
109 bertujuan untuk mengatur pengakuan, pengukuran, penyajian dan pengungkapan transaksi
zakat dan infak/sedekah. PSAK ini berlaku untuk amil yakni suatu organisasi/entitas pengelola
zakat yang pembentukannya dan pengukuhannya diatur berdasarkan peraturan perundang-
undangan yang dimaksudkan untuk mengumpulkan dan menyalurkan zakat dan infak/sedekah,
bukan untuk entitas syariah yang menerima dan menyalurkan ZIS tetapi bukan kegiatan
utamanya. Untuk entitas tersebut mengacu ke PSAK 101 mengenai Penyajian Laporan
Keuangan Syariah. Amil yang tidak mendapatkan izin juga dapat menerapakan PSAK No. 109.
PSAK ini merujuk kepada beberapa fatwa MUI (Washilah dan Nurhayati : 2013) yaitu: 1)
Fatwa MUI no. 8/2011 tentang amil zakat, 2) Fatwa MUI No. 13/2011 tentang Hukum Zakat
atas Harta Haram, 3) Fatwa MUI No. 14/2011 tantang Penyaluran Harta Zakat dalam bentuk
Aset Kelolaan. 4) Fatwa MUI No.15/2011 tentang penarikan, pemeliharaan dan penyaluran
harta zakat.3

Pengakuan dan Pengukuran (PSAK 109)

2
Mufraini, M Arif, Akuntansi dan Manajemen Zakat, Jakarta: Kencana, 2006, hlm. 28
3
Taufikur Rahman, AKUNTANSI ZAKAT, INFAK DAN SEDEKAH (PSAK 109): Upaya Peningkatan
Transparansi dan Akuntabilitas Organisasi Pengelola Zakat (OPZ), Jurnal Muqtasid Volume 6, Nomor 1, Juni
2015

4
1 . Akuntansi Untuk Zakat
a. Penerimaan zakat diakui pada saat kas atau aset nonkas diterima dan diakui sebagai
penambah dana zakat. Jika diterima dalam bentuk kas, diakui sebesar jumlah yang diterima
tetapi jika dalam bentuk non kas sebesar nilai wajar aset. Penentuan nilai wajar aset nonkas
yang diterima menggunakan harga pasar. Jika harga pasar tidak tersedia, maka dapat
menggunakan metode penentuan nilai wajar lainnya sesuai dengan PSAK yang relevan.
b. Jika muzakki menentukan mustahik yang harus menerima penyaluran zakat melalui amil,
maka aset zakat yang diterima seluruhnya diakui sebagai dana zakat dan tidak ada bagian amil
atas zakat yang diterima dan amil dapat menerima ujrah atas kegiatan penyaluran zakat. Jika
atas jasa tersebut amil mendapatkan ujrah/fee, maka diakui sebagai penambah dana amil.
c. Penurunan nilai aset zakat diakui sebagai 1. Pengurang dana zakat, jika terjadi tidak
disebabkan oleh kelalaian amil; 2. Kerugian dan pengurang dana amil, jika disebabkan oleh
kelalaian amil.
d. Zakat yang disalurkan kepada mustahik, diakui sebagai pengurang dana zakat dengan
keterangan sesuai dengan kelompok mustahik termasuk jika disalurkan kepada Amil, sebesar:
1. Jumlah yang diserahkan, jika pemberian dilakukan dalam bentuk kas, jurnal, 2. Jumlah
tercatat, jika pemberian dilakukan dalam bentuk aset nonkas, jurnal:
e. Amil berhak mengambil bagian dari zakat untuk menutup biaya operasional dalam
menjalankan fungsinya.
f. Beban penghimpunan dan penyaluran zakat harus diambil dari porsi amil.
g. Zakat dikatakan telah disalurkan kepada mustahik-non-amil hanya bila telah diterima oleh
mustahik-non-amil tersebut. Apabila zakat disalurkan melalui amil lain, maka diakui sebagai
piutang penyaluran dan bagi amil yang menerima diakui sebagai liabilitas (utang) penyaluran.
Piutang dan liabilitas berkurang ketika zakat disalurkan. Amil lain tidak berhak mengambil
bagian dari dana zakat, namun dapat memperoleh ujrah dari amil sebelumnya.
h. Dana zakat yang disalurkan dalam bentuk perolehan asset tetap (asset kelolaan) diakui
sebagai: 1. Penyaluran zakat seluruhnya, jika asset tetap tersebut diserahkan untuk dikelola
kepada pihak lain yang tidak dikendalikan amil. 2. Penyaluran secara bertahap diukur sebesar
penyusutan asset tetap tersebut sesuai dengan pola pemanfaatannya, jika asset tetap tersebut
masih dalam pengendalian amil atau pihak lain yang dikendalikan amil.
i. Amil harus mengungkapkan hal-hal berikut terkait dengan transaksi zakat, tetapi tidak
terbatas pada: 1. Kebijakan penyaluran zakat, seperti penentuan skala prioritas penyaluran
zakat dan mustahik nonamil; 2. Kebijakan penyaluran zakat untuk amil dan mustahiq nonamil,

5
seperti persentase pembagian, alasan, dan konsistensi kebijakan; 3. Metode penentuan nilai
wajar yang digunakan untuk penerimaan zakat berupa asset nonkas.

2 . Akuntansi untuk Infak/Sedekah


a. Penerimaan Infaq/Sedekah diakui pada saat kas atau aset nonkas diterima dan diakui sebagai
penambah dana infaq/sedekah terikat atau tidak terikat sesuai dengan tujuan pemberiannya.
Jika diterima dalam bentuk kas, diakui sebesar jumlah yang diterima tetapi jika dalam bentuk
nonkas sebesar nilai wajar aset. Untuk penerimaan aset nonkas dapat dikelompokkan menjadi
aset lancar dan aset tidak lancar. Aset lancar adalah aset yang harus segera disalurkan, dan
dapat berupa bahan habis pakai seperti bahan makan; atau barang yang memiliki manfaat
jangka panjang misalnya mobil untuk ambulan. Aset nonkas lancar dinilai sebesar nilai
perolehan.
b. Aset tidak lancar yang diterima oleh amil dan diamanahkan untuk dikelola dinilai sebesar
nilai wajar saat penerimaannya dan diakui sebagai aset tidak lancar infak/sedekah. Penyusutan
dari aset tersebut diperlakukan sebagai pengurang dana infak/sedekah terikat apabila
penggunaan atau pengelolaan aset tersebut sudah ditentukan oleh pemberi.
c. Penurunan nilai aset infak/sedekah diakui sebagai: 1. pengurang dana infaq/sedekah, jika
terjadi tidak disebabkan oleh kelalaian amil. 2.Kerugian dan pengurang dana amil, jika
disebabkan oleh kelalaian amil.
d. Dana infak/sedekah sebelum disalurkan dapat dikelola dalam jangka waktu sementara untuk
mendapatkan hasil yang optimal. Hasil dana pengelolaan diakui sebagai penambah dana
infak/sedekah.
e. Penyaluran dana infak/sedekah diakui sebagai pengurang dana infak/sedekah sebesar: (a)
jumlah yang diserahkan, jika dalam bentuk kas. (b) nilai tercatat aset yang diserahkan, jika
dalam bentuk aset nonkas.
f. Penyaluran infak/sedekah oleh amil kepada amil lain merupakan penyaluran yang
mengurangi dana infak/ sedekah sepanjang amil tidak akan menerima kembali aset
infak/sedekah yang disalurkan tersebut.
g. Penyaluran infak/sedekah kepada penerima akhir dalam skema dana bergulir dicatat sebagai
piutang infak/sedekah bergulir dan tidak mengurangi dana infak/sedekah.
h. Amil harus mengungkapkan hal-hal berikut terkait dengan transaksi infak/sedekah, tetapi
tidak terbatas pada:
1) Kebijakan penyaluran infak/sedekah, seperti penentuan skala prioritas penyaluran, dan
penerima;

6
2) Kebijakan pembagian antara dana amil dan dana nonamil atas penerimaan infak/sedekah
seperti persentase pembagian, alasan dan konsistensi kebijakan;
3) Metode penentuan nilai wajar yang digunakan untuk penerimaan infak/sedekah berupa asset
nonkas;
4) Keberadaan dana infak/sedekah yang tidak langsung disalurkan tetapi dikelola terlebih
dahulu, jika ada, maka harus diungkapkan jumlah dan persentase dari seluruh penerimaan
infak/sedekah selama periode pelporan serta alasannya.
5) Hasil yang diperoleh dari pengelolaan yang dimaksud di angka (4) diungkapkan secara
terpisah
6) Penggunaan dana infak/sedekah menjadi asset kelolaan yang diperuntukkan bagi yang
berhak, jika ada, jumlah dan persentas terhadap seluruh penggunaan dana infak/sedekah serta
alasannya;
7) Rincian dana infak/sedekah berdasarkan peruntukannya, terikat dan tidak terikat
8) Hubungan pihak-pihak berelasi antara amil dengan penerima infak/sedekah yang meliputi:
Sifat hubungan istimewa; Jumlah dan jenis asset yang disalurkan; dan Persentase dari asset
yang disalurkan tersebut dari total penyaluran selama periode
9) Keberadaan dana nonhalal, jika ada, diungkapkan mengenai kebijakan atas penerimaan dan
penyaluran dana, alasan dan jumlahnya;dan
10)`Kinerja amil atas penerimaan dan penyaluran dana zakat dan dana infak/sedekah.

3 . Dana Nonhalal
a) Penerimaan nonhalal adalah semua penerimaan dari kegiatan yang tidak sesuai dengan
prinsip syariah, antara lain penerimaan jasa giro atau bunga yang berasal dari bank
konvensional. Penerimaan nonhalal pada umumnya terjadi dalam kondisi darurat atau kondisi
yang tidak diinginkan oleh entitas syariah karena secara prinsip dilarang.
b) Penerimaan nonhalal diakui sebagai dana nonhalal, yang terpisah dari dana zakat, dana
infak/ sedekah dan dana amil. Aset nonhalal disalurkan sesuai dengan syariah.4

4
Ibid. lihat juga Ikatan Akuntansi Indonesia, PSAK NO.109, Dewan Standar Akuntansi Keuangan Ikatan
Akuntan Indonesia , 2008

7
C. Laporan Keuangan Amil Zakat, Infak dan Sedekah

Laporan keuangan dapat dikatakan sebagai hasil akhir dari suatu proses akuntansi.
Tujuan utama dari laporan keuangan adalah menyediakan informasi yang relevan untuk pihak-
pihak yang berkepentingan baik pihak internal maupun eksternal misalnya muzakki,
pemerintah, pihak lain yang menyediakan sumber daya bagi OPZ dan juga masyarakat. Para
pihak tersebut memiliki kepentingan yang berbeda-beda dari informasi yang ada dalam suatu
laporan keuangan berkaitan dengan pengambilan suatu keputusan. Laporan keuangan juga
merupakan bentuk laporan pertanggungjawaban dari manajemen/pengelola atas aktivitas
pengelolaan sumberdaya yang telah diamanatkan kepadanya.5

Laporan keuangan amil zakat dapat menjadi media komunikasi antara lembaga amil
dengan pihak lainnya, karena laporan keuangan ZIS merupakan bentuk pertanggungjawaban
operasional dari suatu lembaga amil yaitu kegiatan pengumpulan dan penyaluran dana zakat,
infak dan sedekah (ZIS). Supaya laporan keuangan itu transparan dan akuntabel maka harus
ada standar akuntansi yang mengatur tentang hal tersebut. Sistem akuntansi dan pelaporan
dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu, untuk dana yang terbatas (restricted funds) yaitu zakat
dan infaq dan untuk dana yang tidak terbatas (unrestricted funds) yaitu dana shadaqah,
meskipun demikian, sebagai satu kesatuan, organisasi ZIS harus menyiapkan satu laporan
keuangan komprehensif (menyeluruh) yang menggabungkan aktivitas dan laporan keuangan
kedua dana tersebut.6 Penyusunan laporan keuangan lembaga amil ZIS mengacu kepada PSAK
No. 109, dan apabila ada hal-hal yang tidak diatur dalam PSAK 109 maka dapat menggunakan
PSAK terait sepanjang tidak bertentangan dengan prinsip syariah Islam. Komponen laporan
keuangan dalam PSAK 109 terdiri dari laporan posisi keuangan (Neraca), Laporan Perubahan
Dana, Laporan Perubahan Aset Kelolaan, Laporan Arus Kas dan Catatan Atas Laporan
Keuangan. Dalam penyajian laporan keuangan, lembaga Amil menyajikan dana zakat, dana
infak/sedekah, dana amil dan dana nonhalal secara terpisah dalam neraca (laporan posisi
keuangan). Bentuk laporan keuangan untuk amil atau OPZ berdasarkan PSAK No. 109 di

5
Taufikur Rahman, AKUNTANSI ZAKAT, INFAK DAN SEDEKAH (PSAK 109): Upaya Peningkatan
Transparansi dan Akuntabilitas Organisasi Pengelola Zakat (OPZ), Jurnal Muqtasid Volume 6, Nomor 1, Juni
2015
6
Dahlia Heryani, Studi Penerapan Akuntansi Zakat Studi Kasus pada LAZ PT. Semen Padang dan LAZIS UII,
Universitas Islam Indonesia,Yogyakarta: 2005

8
antaranya adalah sebagai berikut:

1. Laporan Neraca (laporan posisi keuangan);


Neraca (Laporan Posisi Keuangan)
BAZ “XXX”
Per 31 Desember 2XX2

Keterangan Rp Keterangan Rp
Aset Kewajiban
Aset lancar Kewajiban jangka pendek
Kas dan setara kas xxx Biaya yang masih harus dibayar xxx
Instrumen keuangan xxx
Piutang Kewajiban jangka panjang
xxx
Imbalan kerja jangka panjang

Aset tidak lancar Jumlah kewajiban xxx

Aset tetap xxx Saldo Dana


Akumulasi penyusutan xxx Dana zakat xxx
Dana infak/sedekah xxx
Dana amil xxx
Dana non halal xxx
Jumlah dana xxx
Jumlah Aset xxx Jumlah Kewajiban dan Saldo Dana xxx

2. Laporan Perubahan Dana


Laporan Perubahan Dana
BAZ “XXX”
Untuk periode yang berakhir 31 Desember 2XX2

Keterangan Rp
DANA ZAKAT
Penerimaan
Penerimaan dari muzakki xxx
muzakki entitas xxx
muzakki individual xxx
Hasil penempatan xxx
Jumlah penerimaan dana zakat xxx
Bagian amil atas penerimaan dana zakat xxx
Jumlah penerimaan dana zakat setelah bagian amil xxx

Penyaluran
Fakir-Miskin (xxx)
Riqab (xxx)
Gharim (xxx)

9
Muallaf (xxx)
Sabilillah (xxx)
Ibnu sabil (xxx)
Jumlah penyaluran dana zakat (xxx)
Surplus (defisit) xxx
Saldo awal xxx
Saldo akhir xxx
DANA INFAK/SEDEKAH
Penerimaan
Infak/sedekah terikat atau muqayyadah xxx
Infak/sedekah tidak terikat atau mutlaqah xxx
Bagian amil atas penerimaan dana infak/sedekah (xxx)
Hasil pengelolaan xxx
Jumlah penerimaan dana infak/sedekah 𝑥𝑥𝑥

Penyaluran
Infak/sedekah terikat atau muqayyadah (xxx)
Infak/sedekah tidak terikat atau mutlaqah (xxx)
Alokasi pemanfaatan aset kelolaan (xxx)
(misalnya beban penyusutan dan penyisihan) _____
Jumlah penyaluran dana infak/sedekah (xxx)
Surplus (defisit) xxx
Saldo awal xxx
Saldo akhir xxx
DANA AMIL
Penerimaan
Bagian amil dari dana zakat xxx
Bagian amil dari dana infak/sedekah xxx
Penerimaan lainnya xxx
Jumlah penerimaan dana amil xxx

Penggunaan
Beban pegawai (xxx)
Beban penyusutan (xxx)
Beban umum dan administrasi lainnya (xxx)
Jumlah penggunaan dana amil (xxx)
Surplus (defisit) xxx
Saldo awal xxx
Saldo akhir xxx
DANA NONHALAL
Penerimaan
Bunga bank xxx
Jasa giro xxx
Penerimaan nonhalal lainnya xxx
Jumlah penerimaan dana nonhalal xxx

Penggunaan
Jumlah penggunaan dana nonhalal (xxx)
Surplus (defisit) xxx
Saldo awal xxx
Saldo akhir xxx
Jumlah saldo dana zakat, dana infak/sedekah, Xxx
dana amil dan dana nonhalal

10
3. Laporan Perubahan Aset Kelolaan
Laporan Perubahan Aset Kelolaan
BAZ “XXX”
Untuk periode yang berakhir 31 Desember 2XX2
Saldo Penambahan Pengurangan Akumulasi Saldo Akhir
awal Penyusutan
Dana infak/ sedekah –
aset kelolaan lancar
xxx xxx (xxx) (xxx) xxx
(misal piutang bergulir)
Dana infak/ sedekah –
aset kelolaan tidak lancar
xxx xxx (xxx) (xxx) xxx
(misal rumah sakit atau
sekolah)

4. Laporan arus kas


Entitas menyajikan laporan arus kas sesuai dengan PSAK 2: Laporan arus kas dan PSAK yang
relevan.
5. Catatan atas laporan keuangan
Amil menyajikan catatan atas laporan keuangan sesuai dengan PSAK 101: Penyajian Laporan
Keuangan Syariah dan PSAK yang relevan.7

D. Langkah-Langkah Membuat Laporan Keuangan Lembaga Amil Zakat (Study


Kasus)8

Untuk memudahkan dalam memahami proses membuat laporan keuangan lembaga


amil zakat / badan amil zakat / amil zakat / lembaga amil, berikut akan disajikan proses
membuat laporan keuangan. Anggap saja sebagai contoh soal akuntansi dan penyelesaian,
khususnya membuat laporan keuangan.
Misalnya Lembaga Amil Zakat Nusantara Jaya, selama bulan Agustus 2018 melakukan
transaksi-transaksi keuangan sebagai berikut:
01 Agustus 2018: Menerima zakat maal dari Pak Hans melalui bank syariah Rp 15.000.000

7
Ikatan Akuntansi Indonesia, PSAK NO.109, Dewan Standar Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntan Indonesia ,
2008
8
https://siklusakuntansi.com/akuntansi-zakat-untuk-badan-amil-zakat/

11
02 Agustus 2018: Menerima infaq dari orang yang tidak mau disebutkan namanya Rp
3.000.000 tunai
03 Agustus 2018: Membeli laptop second senilai Rp 1.800.000, pembayaran ditransfer
melalui bank syariah
04 Agustus 2018: Menerima zakat fitrah tunai senilai Rp 700.000
05 Agustus 2018: Menerima zakat maal perusahaan melalui bank konvensional Rp
50.000.000
06 Agustus 2018: Membayar biaya marketing Rp 900.000
07 Agustus 2018: Menerima infaq terikat tunai Rp 500.000
08 Agustus 2018: Menerima infaq tidak terikat Rp 20.000.000 melalui bank syariah
09 Agustus 2018: Menarik dana zakat bergilir untuk program ekonomi mandiri Rp 5.000.000
melalui bank syariah
10 Agustus 2018: Menerima dana fidyah Rp 100.000
11 Agustus 2018: Menyalurkan zakat fitrah tunai dan barang senilai Rp 800.000
12 Agustus 2018: Mengeluarkan biaya transportasi Rp 300.000
13 Agustus 2018: Menerima dana zakat profesi Rp 12.000.000 melalui bank syariah
14 Agustus 2018: Menetapkan dana bagian amil dari zakat sebesar Rp 9.000.000
15 Agustus 2018: Menetapkan dana bagian amil dari infaq sebesar Rp 5.000.000
16 Agustus 2018: Membayar gaji dan honor karyawan Rp 3.000.000 melalui transfer bank
syariah
17 Agustus 2018: Membayar listrik air dan telepon Rp 400.000, pembayaran ditransfer
melalui bank konvensional
18 Agustus 2018: Bagi hasil bank syariah Rp 75.000
19 Agustus 2018: Bunga bank konvensional Rp 55.000
20 Agustus 2018: Biaya administrasi bank konvensional Rp 35.000
21 Agustus 2018: Menyalurkan dana untuk fakir miskin dari dana zakat senilai Rp16.000.000
dari bank konvensional
22 Agustus 2018: Menyalurkan dana untuk fi sabilillah dari dana zakat senilai Rp 8.000.000
melalui bank konvensional
23 Agustus 2018: Menyalurkan dana untuk mualllaf Rp 5.500.000 melalui bank syariah
24 Agustus 2018: Menyalurkan dana untuk gharimin Rp 5.000.000 melalui bankkonvensional

12
25 Agustus 2018: Menarik dana tunai dari bank konvensional Rp 4.000.000
26 Agustus 2018: Menyalurkan dana untuk ibnu sabil tunai Rp 3.500.000

27 Agustus 2018: Menerima tunai hasil dari dana zakat program bergilir ekonomi mandiri Rp
50.000
28 Agustus 2018: Menyalurkan dana tunai infaq terikat Rp 500.000
29 Agustus 2018: Menerima dana melalui bank syariah pengembalian program dana bergilir
zakat ekonomi mandiri Rp 2.000.000
30 Agustus 2018: Penilaian penyusutan laptop senilai 1 bulan
31 Agustus 2018: Penilaian alokasi pemanfaatan aset kelolaan senilai dari piutang, investasi
dan aktiva tetap bersih
31 Agustus 2018: Menyalurkan tunai dana infaq tidak terikat Rp 1.250.000
Dari transaksi-transaksi tersebut, sekarang kita susun laporan keuangannya dengan
langkah-langkah sebagai berikut:
1. Membuat Nomor Akun
Untuk memudahkan dalam mengklasifikasikan transaksi, maka dibuat nomor akun berdasar
pada format laporan keuangan yang sesuai standar akuntansi keuangan (SAK).
Nomor akun yang dibuat untuk Badan Amil Zakat Nusantara Jaya adalah sebagai berikut:
1000 Kas di Tangan 4240 Sabilillah
1010 Kas di Bank Syariah 4250 Ibnu sabil
1020 Kas di Bank konvensional 4260 Bagian amil atas penerimaan dana zakat
1100 Piutang 4270 Penyaluran zakat fitrah dan fidyah
1200 Investasi 5100 Infak/sedekah terikat (muqayyadah)
1300 Peralatan Elektronik 5110 Infak/sedekah tidak terikat (mutlaqah)
1310 Akumulasi Penyusutan Peralatan 5120 Bagian amil atas penerimaan dana
Elektronik infak/sedekah
1400 Peralatan Furniture 5130 Hasil pengelolaan
1410 Akumulasi Penyusutan Peralatan Furniture 5200 Penyaluran Infak/sedekah terikat
1500 Kendaraan (muqayyadah)
1510 Akumulasi Penyusutan Kendaraan 5210 Penyaluran Infak/sedekah tidak terikat
1600 Bangunan (mutlaqah)
1610 Akumulasi Penyusutan Bangunan 5220 Alokasi pemanfaatan aset kelolaan
1700 Tanah 6000 Penerimaan hibah
2100 Hutang 6100 Penerimaan bagi hasil bank
3100 Dana zakat 6200 Penerimaan Lain
3200 Dana infak/sedekah 6900 Penjualan aktiva tetap
3300 Dana amil 7000 Gaji dan honor
3400 Dana nonhalal 7010 Sekretariat dan Rumah tangga
3500 Penyaluran terakumulasi dalam aktiva 7020 Pemasaran
4100 Zakat maal (muzakki entitas) 7030 Pemberian hibah
4110 Zakat maal (muzakki individu) 7040 Operasional lainnya
4120 Zakat profesi 7100 Penerimaan Bunga Bank
4130 Zakat fitrah 7110 Penerimaan Jasa Giro
4140 Fidyah 7120 Penerimaan non halal lain
4150 Hasil Penempatan zakat 7200 Penggunaan dana non halal

13
4200 Fakir – Miskin 7210 Administrasi bank
4210 Riqab
4220 Gharim
4230 Muallaf
2. Mencatat Jurnal Umum dan Khusus
Setelah membuat nomor akun, selanjutnya kita mencatat semua transaksi ke dalam
Jurnal Umum Akuntansi sesuai dengan nomor akun.
Dan atas transaksi-transaksi yang terjadi di Badan Amil Zakat Nusantara Jaya dalam bulan
Agustus 2018 dicatat ke dalam jurnal sebagai berikut:
Badan Amil Zakat Nusantara Jaya
Jurnal Umum
Periode 01-31 Agustus 2018
Tanggal No. Akun Nama Akun Debit Kredit
01/08/18 1010 Kas di Bank Syariah 15.000.000
4110 Zakat maal (muzakki 15.000.000
Individu)
02/08/18 1000 Kas di Tangan 3.000.000
5110 Infak/sedekah tidak terikat 3.000.000
03/08/18 1300 Peralatan elektronik 1.800.000
1010 Kas di Bank Syariah 1.800.000
04/08/18 1000 Kas di Tangan 700.000
4130 Zakat fitrah 700.000
05/08/18 1020 Kas di Bank Konvensional 50.000.000
4100 Zakat maal (muzakki entitas) 50.000.000
06/08/18 7020 Pemasaran 900.000
1000 Kas di Tangan 900.000
07/08/18 1000 Kas di Tangan 500.000
5100 Infak/sedekah terikat 500.000
08/08/18 1010 Kas di Bank Syariah 20.000.000
5110 Infak/sedekah tidak terikat 20.000.000
09/08/18 1100 Piutang 5.000.000
1010 Kas di Bank Syariah 5.000.000
10/08/18 1000 Kas di Tangan 100.000
4140 Fidyah 100.000
11/08/18 4270 Penyaluran zakat fitrah dan 800.000
fidyah
1000 Kas di Tangan 800.000
12/08/18 7010 Sekertariat dan rumah tangga 300.000
1000 Kas di Tangan 300.000
13/08/18 1010 Kas di Bank Syariah 12.000.000
4120 Zakat profesi 12.000.000
14/08/18 4260 Bagian amil atas penerimaan 9.000.000
dana zakat
3100 Dana zakat 9.000.000
15/08/18 5120 Bagian amil atas penerimaan 5.000.000
dana infak/sedekah

14
3200 Dana infak/sedekah 5.000.000
16/08/18 7000 Gaji dan honor 3.000.000
1010 Kas di Bank Syariah 3.000.000
17/08/18 7010 Sekertariat dan rumah tangga 400.000
1020 Kas di Bank Konvensional 400.000
18/08/18 1010 Kas di Bank Syariah 75.000
6100 Penerimaan bagi hasil bank 75.000
19/08/18 1020 Kas di Bank Konvensional 55.000
7100 Penerimaan Bunga Bank 55.000
20/08/18 7210 Administrasi bank 35.000
1020 Kas di Bank Konvensional 35.000
21/08/18 4200 Fakir-Miskin 16.000.000
1020 Kas di Bank Konvensional 16.000.000
22/08/18 4240 Sabilillah 8.000.000
1020 Kas di Bank Konvensional 8.000.000
23/08/18 4230 Muallaf 5.500.000
1010 Kas di Bank Syariah 5.500.000
24/08/18 4220 Gharim 5.000.000
1020 Kas di Bank Konvensional 5.000.000
25/08/18 1000 Kas di Tangan 4.000.000
1020 Kas di Bank Konvensional 4.000.000
26/08/18 4250 Ibnu sabil 3.500.000
1000 Kas di Tangan 3.500.000
27/08/18 1000 Kas di Tangan 50.000
4150 Hasil penempatan zakat 50.000
28/08/18 5200 Penyaluran infak/sedekah 500.000
terikat
1000 Kas di Tangan 500.000
29/08/18 1010 Kas di Bank Syariah 2.000.000
1100 Piutang 2.000.000
30/08/18 5220 Alokasi pemanfaatan aset 37.500
kelolaan
1310 Akumulasi penyusutan 37.500
peralatan elektronik
31/08/18 5220 Alokasi pemanfaatan aset 4.762.500
kelolaan
3500 Penyaluran terakumulasi 4.762.500
dalam aktiva
31/08/18 5210 Penyaluran infak/sedekah 1.250.000
tidak terkait
1000 Kas di Tangan 1.250.000

3. Membuat Buku Besar


Setelah semua transaksi dicatat dalam jurnal, langkah berikutnya adalah membuat buku
besar. Jadi, cara membuat buku besar dengan meringkas saldo per akun dalam jurnal.
Perhatikan contohnya!

15
Badan Amil Zakat Nusantara Jaya
Buku Besar
Periode 01-31 Agustus 2018

No. Akun : 1000 Saldo awal


Nama Akun: Kas di Tangan Saldo akhir 1.100.000

Tanggal No. Uraian Transaksi Debet Kredit Saldo


Bukti
01/08/18 Saldo awal - - -
02/08/18 Diterima infak/sedekah tidak 3.000.000 3.000.000
terikat
04/08/18 Diterima zakat fitrah 700.000 3.700.000
06/08/18 Dikeluarkan beban pemasaran 900.000 2.800.000
07/08/18 Diterima infak/sedekah terikat 500.000 3.300.000
10/08/18 Ditermia fidyah 100.000 3.400.000
11/08/18 Disalurkan zakat fitrah tunai dan 800.000 2.600.000
barang
12/08/18 Transportasi 300.000 2.300.000
25/08/18 Ambil tunai dari bank 4.000.000 6.300.000
konvensional
26/08/18 Disalurkan kepada ibnu sabil 3.500.000 2.800.000
27/08/18 Diterima tunai hasil dana zakat 500.000 3.200.000
bergilir ekonomi mandiri
28/08/18 Disalurkan tunai infak terikat 500.000 2.800.000
31/08/18 Disalurkan tunai infak tidak terikat 1.250.000 1.100.000

4. Membuat Laporan Keuangan


Utuk membuat laporan keuangan Badan Amil Zakat, kita mengambil saldo akun-akun
yang sebelumnya sudah dibuat.
a. Laporan Neraca
Badan Amil Zakat Nusantara Jaya
NERACA
Periode 01-31 Agustus 2018
AKTIVA PASIVA
Aset Kewajiban
Aset Lancar
Kas di Tangan 1.100.000 Hutang -
Kas di Bank Syariah 33.775.000
Kas di Bank Konvensional 16.620.000
Piutang 3.000.000

Jumlah Aset Lancar 54.495.000 Jumlah kewajiban -

Aset Tetap Saldo Dana


Peralatan Elektonik 1.800.000 Dana zakat 30.050.000
Akumulasi penyusutan peralatan (37.500) Dana infak/sedekah 11.950.000
elektronik Dana amil 9.475.000
Jumlah Aset Tetap 1.762.500 Dana non halal 20.000

16
Penyaluran terakumulasi dalam aset 4.762.500

Jumlah dana 56.257.500


Jumlah Aset 56.257.500 Jumlah Kewajiban dan Saldo Dana 56.257.500

b. Laporan Perubahan Dana


Badan Amil Zakat Nusantara Jaya
LAPORAN PERUBAHAN DANA
Periode 01-31 Agustus 2018
Keterangan Rp
DANA ZAKAT
Penerimaan
Zakat maal (muzakki entitas) 50.000.000
Zakat maal (muzakki individu) 15.000.000
Zakat profesi 12.000.000
Zakat fitrah 700.000
fidyah 100.000
Hasil penempatan zakat 50.000
Jumlah penerimaan dana zakat 77.850.000
Bagian amil atas penerimaan dana zakat (9.000.000)
Jumlah penerimaan dana zakat setelah bagian amil 68.850.000

Penyaluran
Fakir-Miskin (16.000.000)
Riqab -
Gharim (5.000.000)
Muallaf (8.000.000)
Sabilillah (3.500.000)
Ibnu sabil (800.000)
Jumlah penyaluran dana zakat (38.800.000)
Surplus (defisit) 30.050.000
Saldo awal -
Saldo akhir 30.050.000
DANA INFAK/SEDEKAH
Penerimaan
Infak/sedekah terikat (muqayyadah) 500.000
Infak/sedekah tidak terikat (mutlaqah) 23.000.000
Bagian amil atas penerimaan dana infak/sedekah (5.000.000)
Hasil pengelolaan -
Jumlah penerimaan dana infak/sedekah 18.500.000

Penyaluran
Infak/sedekah terikat (muqayyadah) (500.000)
Infak/sedekah tidak terikat (mutlaqah) (1.250.000)
Alokasi pemanfaatan aset kelolaan (4.800.000)
Jumlah penyaluran dana infak/sedekah (6.550.000)
Surplus (defisit) 11.950.000
Saldo awal -
Saldo akhir 11.950.000
DANA AMIL
Penerimaan
Bagian amil dari dana zakat 9.000.000
Bagian amil dari dana infak/sedekah 5.000.000
Penerimaan hibah -

17
Penerimaan bagi hasil bank 75.000
Penerimaan lainnya -
Penjualan aset tetap -
Jumlah penerimaan dana amil 14.750.000

Penggunaan
Gaji dan honor (3.000.000)
Sekertariat dan rumah tangga (700.000)
Pemasaran (900.000)
Pemberian hibah -
Operasional lainnya -
Jumlah penggunaan dana amil (4.600.000)
Surplus (defisit) 9.475.000
Saldo awal -
Saldo akhir 9.475.000
DANA NONHALAL
Penerimaan
Penerimaan Bunga bank 55.000
Penerimaan Jasa giro -
Penerimaan nonhalal lainnya -
Jumlah penerimaan dana nonhalal 55.000

Penggunaan
Penggunaan dana non halal -
Administrasi bank (35.000)
Jumlah penggunaan dana nonhalal (35.000)
Surplus (defisit) 20.000
Saldo awal -
Saldo akhir 20.000
Jumlah saldo dana zakat, dana infak/sedekah, 51.495.000
dana amil dan dana nonhalal

c. Laporan Arus Kas


Badan Amil Zakat Nusantara Jaya
LAPORAN ARUS KAS
Periode 01-31 Agustus 2018
Keterangan Rp
Kas dan Setara Kas dari Aktivitas Operasi

Pemasukan:
Zakat maal (muzakki entitas) 50.000.000
Zakat maal (muzakki individu) 15.000.000
Zakat profesi 12.000.000
Zakat fitrah 700.000
fidyah 100.000
Hasil penempatan zakat 50.000
Infak/sedekah terikat (muqayyadah) 500.000
Infak/sedekah tidak terikat (mutlaqah) 23.000.000
Hasil pengelolaan -
Penerimaan hibah -
Penerimaan bagi hasil bank 75.000
Penerimaan lain -
Penerimaan bugan bank 55.000
Penerimaan jasa giro -
Penerimaan non halal lain -

18
Pengembalian piutang 2.000.000
Pengembalian investasi -
Penerimaan hutang -

Pengeluaran:
Fakir-Miskin (16.000.000)
Riqab -
Gharim (5.000.000)
Muallaf (8.000.000)
Sabilillah (3.500.000)
Ibnu sabil (800.000)
Penyaluran Infak/sedekah terikat (muqayyadah) (500.000)
Penyaluran Infak/sedekah tidak terikat (mutlaqah) (1.250.000)
Alokasi pemanfaatan aset kelolaan -
Gaji dan honor (3.000.000)
Sekertariat dan rumah tangga (700.000)
Pemasaran (900.000)
Pemberian hibah -
Operasional lainnya -
Penggunaan dana nonhalal -
Admisitrasi bank (35.000)
Pemberian piutang (5.000.000)
Investasi -
Pembayaran hutang -

Saldo Kas dari Aktivitas Operasi 53.295.000


Kas dan Setara Kas dari Aktivitas Investasi

Pembelian Aset Tetap:


Peralatan elektronik (1.800.000)
Peralatan furniture -
Kendaraan -
Gedung -
Tanah -

Penjualan Aset tetap:


Penjualan aset tetap -
Saldo Kas dari Aktivitas Investasi (1.800.000)
Kenaikan (Penurunan) Kas dan Setara Kas 51.495.000
Kas dan Setara Kas Awal Periode -
Kas dan Setara Kas Akhir Periode 51.495.000

Kas di Tangan 1.100.000


Kas di Bank Syariah 33.775.000
Kas di Bank Konvensional 16.620.000

19
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Dalam proses membuat laporan keuangan lembaga amil zakat harus menggunakan
standar akuntansi zakat dengan sistem pembukuan yang benar dan transparan seperti dalam
PSAK No. 109 yang menjadi standar akuntansi zakat dalam membuat laporan keuangan.
Adapun proses penyusunan laporan keuangan ini tidak lepas dari proses pengumpulan bukti
seperti bukti pembayaran, bukti penerimaan dan yang lainnya kemudian bukti tersebut dicatat
didalam jurnal, buku besar dan dibuat laporan keuangan untuk masing-masing jenis dana.
Karena laporan itu merupakan laporan gabungan dari keseluruhan jenis laporan keuangan
untuk mengetahui laporan keuangan secara keseluruhan.

20
DAFTAR PUSTAKA

Buku, Jurnal
Heryani, Dahlia. (2005). Studi Penerapan Akuntansi Zakat Studi Kasus pada LAZ PT. Semen
Padang dan LAZIS UII. Yogyakarta: Universitas Islam Indonesia.

Ikatan Akuntansi Indonesia. (2008). PSAK NO.109, Dewan Standar Akuntansi Keuangan
Ikatan Akuntan Indonesia.
Jusuf, Al haryono. (2001). Dasar-Dasar Akuntansi. jilid I. Yogyakarta: YKPN.
Mufraini, M Arif. (2006) Akuntansi dan Manajemen Zakat. Jakarta: Kencana.

Rahman, Taufikur. (2015). AKUNTANSI ZAKAT, INFAK DAN SEDEKAH (PSAK 109): Upaya
Peningkatan Transparansi dan Akuntabilitas Organisasi Pengelola Zakat (OPZ).
Jurnal Muqtasid Volume 6, Nomor 1, Juni 2015

Web
Langkah-langkah membuat laporan keuangan lembaga amil zakat (study kasus). (online).
https://siklusakuntansi.com/akuntansi-zakat-untuk-badan-amil-zakat/. (Diakses pada
tanggal 24 Oktober 2019)

21