Anda di halaman 1dari 12

LANDASAN ILMU PENDIDIKAN

MASYARAKAT DAN STRUKTUR SOSIAL

OLEH :

KELOMPOK I
ANDRIANI DOTIMINELI
DESRI WATI
HIDAYATI KARDENA
HAFIZATUL BAHRI
ILHAM

DOSEN PEMBIMBING:
Prof. Dr. ELIZAR, M.Pd
Dr. YERIMADESI, S.Pd, M.Si

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA


PROGRAM PASCA SARJANA
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2019

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
berkat rahmat-Nya lah dan hidayah-Nya jualah penulisan makalah ini dapat
selesai dengan tepat waktu. Makalah ini disusun untuk dijadikan referensi yang
lengkap dan menyeluruh tentang “Masyarakat dan Struktur Sosial”.
Makalah ini disusun secara khusus dan sistemika untuk memenuhi tugas dari
Mata Kuliah “Landasan Ilmu Pendidikan” dan penyusunannya dilakukan secara
kelompok. Substansi yang terdapat dalam makalah ini berasal dari beberapa
referensi buku dan literatur-literatur lain, ditambah pula dari sumber-sumber lain
yang berasal dari media elektronik melalui pengambilan bahan dari internet.
Sistematika penyusunan makalah ini terbentuk melalui kerangka yang
berdasarkan acuan atau sumber dari buku maupun literatur-literatur lainnya.
Makalah yang berjudul “Masyarakat dan Struktur Sosial” ini dapat dijadikan
sebagai bahan pembelajaran bagi mahasiswa, dosen atau masyarakat umum dan
juga sebagai bahan pembanding dengan makalah lain yang secara substansial
mempunyai kesamaan. Tentunya dari konstruksi yang ada dalam makalah ini yang
merupakan tugas mata kuliah “Landasan Ilmu Pendidikan” banyak terdapat
kekurangan. Oleh karena itu, penulis berharap diberikan kritikan yang
membangun kepada para pembaca.

Padang, November 2019

Penyusun

2i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................... Error! Bookmark not defined.


DAFTAR ISI ............................................................................................................2
BAB I PENDAHULUAN ...................................... Error! Bookmark not defined.
A. Latar Belakang ............................................ Error! Bookmark not defined.
B. Rumusan Masalah .........................................................................................1
C. Tujuan Penulisan ...........................................................................................1
BAB II PEMBAHASAN ....................................... Error! Bookmark not defined.
A. Hakikat Manusia dalam Kehidupan ............ Error! Bookmark not defined.
B. Aspek-aspek hakikat manusia .......................................................................4
C. Wujud sikap hakikat manusia .....................................................................12
BAB III PENUTUP ............................................. Error! Bookmark not defined.6
A. Kesimpulan ............................................... Error! Bookmark not defined.6
KEPUSTAKAAN ................................................ Error! Bookmark not defined.7

ii3
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Struktur sosial dipahami sebagai suatu bangunan sosial yang terdiri dari
berbagai unsur pembentuk masyarakat. Unsur-unsur tersebut saling
berhubungan satu dengan yang lain dan fungsional. Artinya kalau terjadi
perubahan salah satu unsur, unsur yang lain akan mengalami perubahan juga.
Unsur pembentuk masyarakat dapat berupa manusia atau individu yang ada
sebagai anggota masyarakat, tempat tinggal atau suatu lingkungan kawasan
yang menjadi tempat dimana masyarakat itu berada dan juga kebudayaan
serta nilai dan norma yang mengatur kehidupan bersama tersebut.
Struktur sosial suatu masyarakat sesungguhnya merupakan proses sosial
dan alamiah yang berlangsung dalam waktu yang sangat panjang.jadi,
struktur sosial dalam suatu masyarakat sebenarnya akan memiliki beberapa
fungsi. Struktur sosial merupakan instrumen masyarakat yang
menyelenggarakan tata kehidupan secara menyeluruh dalam segala aspek
kehidupan. struktur sosial merupakan karakteristik yang khas dan dimiliki
suatu masyarakat sehingga dapat memberikan warna yang berbeda dari
masyarakat lainnya struktur sosial berfungsi sebagai rantai sistem dalam
penyelenggaraan setiap aspek kehidupan sehingga menjadi teratur dan
harmonis.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana susunan dalam struktur masyarakat?
2. Bagaimana struktur sosial dalam kehidupan?
C. Tujuan
1. Mengetahui susunan dalam struktur masyarakat.
2. Mengetahui struktur sosial dalam kehidupan

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Masyarakat
Masyarakat dalam bahasa Inggris dipakai istilah society yang berasal
dari bahasa Latin socius, yang berarti “kawan”. Istilah masyarakat sendiri
berasal dari akar kata Arab syaraka yang berarti “ikut serta” atau
berpartisipasi (Koentjoroningrat, 2000 : 143-144)
Seorang ahli antropologi dalam bukunya yang berjudul The Studi of
Man mengemukakan, masyarakat adalah setiap kelompok manusia yang
telah cukup lama hidup dan bekerjasama sehingga mereka dapat
mengorganisasikan dirinya dan berfikir tentang dirinya sebagai satu
kesatuan sosial dengan batas-batas tertentu (Warsito, 2015 : 115-116).
Jadi masyarakat timbul dari kumpulan individu yang telah cukup
lama hidup dan bekerja sama. Menurut Linton, ada satu faktor yang penting
dalam pembentukan masyarakat dari kelompok individu itu, yaitu faktor
waktu. Sebab waktu inilah yang memberikan kesempatan kepada individu
untuk bekerja sama dan mengemukakan pola-pola tingkah laku dan sikap
yang bersifat timbal balik, dan menemukan teknik-teknik hidup bersama.
Dalam sebuah masyarakat terdapat sosial control yang berfungsi mengatur
masyarakat dan sistem serta prosedur yang mengatur kegiatan dan tindakan
anggota masyarakat. Seluruh sistem berfungsi sebagai pengawas sosial.
Pengawas sosial meliputi sistem ilmu pengetahuan, ilmu teknik empiris
yang digunakan oleh manusia untuk mengelola lingkungannya, dan
pengetahuan non empiris yang mengatur sikap dan kelakuan magis atau
keagamaan, termasuk pula etika, sistem hukum, moralitas, ritual, dan
mitologi (Beni, 2012 : 137).
Lama-kelamaan wadah yang disebut sebagai masyarakat, dinamakan
sistem sosial. Istilah masyarakat lebih banyak dipergunakan sebagai
sinonim dari negara atau bahkan peradaban (civilization). Di dalam sejarah
perkembangan sosiologi sebagai sesuatu ilmu pengetahuan, para sosiolog

2
senantiasa berusaha untuk mengadakan klarifikasi terhadap masyarakat-
masyarakat yang ada. Para sosiolog pada abad ke19 mengadakan klarifikasi
yang tajam antara masyarakat yang sederhana dengan masyarakat modern
yang kompleks. Dari uraian tersebut Durkheim membedakan antara
masyarakat dengan struktur “ segmental “ dengan yang mempunyai struktur
“organic”. Yang pertama adalah masyarakat yang terdiri dari bagian-bagian
yang hampir-hampir merupakan replika dari masing-masing. Yang kedua
merupakan masyarakat yang mempunyai diferensiasi yang kompleks,
dimana terjadi hubungan organis antara bagian-bagian dari masyarakat
tersebut (Soekanto, 1983 : 105-106)
Masyarakat menurut Durkheim adalah realitas suigeneris- yakni
masyarakat memiliki eksistensinya sendiri.5Maurice Duverger juga
memberikan pengertian tentang masyarakat yaitu, masyarakat tidak
dipandang sebagai suatu kelompok individu atau sebagai penjumlahan dari
individu-individu semata-mata. Masyarakat merupakan suatu pergaulan
hidup, oleh karena manusia itu hidup bersama. Masyarakat merupakan suatu
sistem yang terbentuk karena hubungan dari anggotanya. Dengan kata lain,
masyarakat adalah suatu sistem yang terwujud dari kehidupan bersama
manusia yang lazim disebut dengan sistem kemasyarakatan (Jones, 2010 :
45)
Selain itu ada beberapa unsur yang bisa mengikat satu kesatuan
manusia menjadi suatu masyarakat yaitu, pola tingkah laku yang khas
mengenai semua faktor kehidupannya dalam batas kesatuan itu, adat-
istiadat, norma-norma, hukum, dan aturan-aturan yang khas meliputi sektor
kehidupan serta suatu kontinuitas dalam waktu, serta adanya suatu rasa
identitas di antara para warga atau anggotanya, bahwa mereka memang
merupakan suatu kesatuan khusus yang berbeda dari kesatuan-kesatuan
manusia lainnya. Dari uraian di atas maka dapat ditarik suatu definisi
masyarakat secara khusus : masyarakat adalah kesatuan hidup manusia yang
berinteraksi menurut suatu sistem adat-istiadat tertentu yang bersifat
kontinu, dan yang terikat oleh suatu rasa identitas bersama

3
(Koentjoroningrat, 2000 : 145-146)
Biasa bagaimanapun juga penggunaan istilah masyarakat tak akan
mungkin dilepaskan dari nilai-nilai, norm-norma, tradisi, kepentingan-
kepentingan dan lain sebagainya. Oleh karena itu, maka pengertian
masyarakat tak mungkin dipisahkan dari kebudayaan dan kepribadian.
Sebenarnya suatu masyarakat merupakan suatu bentuk kehidupan bersama
manusia, yang mempunyai ciri-ciri pokok, sebagai berikut:
a. Manusia yang hidup beragama secara teoritis, maka jumlah
manusia yang hidup berjumlah lebih dari dua orang. Di dalam
ilmu-ilmu sosial, khususnya sosiologi, tidak ada suatu ukuran yang
mutlak ataupun angka yang pasti untuk menentukan berapa jumlah
manusia yang ada.
b. Bergaul selama jangka waktu yang cukup lama.
c. Adanya kesadaran, bahwa setiap manusia merupakan bagian dari
suatu kesatuan.
d. Adanya nilai-nilai dan norma-norma yang menjadi patokan bagi
perilaku yang dianggap pantas.
e. Menghasilkan kebudayaan dan mengembangkan kebudayaan
tersebut (Soekanto, 1983 : 107)
B. Struktur Masyarakat
Struktur sebarang ihwal yang kita jadikan unit objek (entity)- suatu
atom, molekul, kristal, organisme, masyarakat- mengacu pada hubungan
antar bagian yang kurang-lebih tetap bertahan, demikianlah istilah “struktur
sosial” (Jones, 2010 : 44)
Struktur Sosial atau yang biasa disebut dengan struktur masyarakat,
dalam antropologi konsep struktur sosial berkembang dalam pendekatan
struktur-fungsional dari antropologi sosial di Inggris (Beni, 2012 : 142).
Struktur sosial merupakan pedoman bagi tingkah laku manusia. Konsep
struktur sosial mengandung arti, di dalam konsepsi mengenai struktur sosial
terkandung relasi sosial yang berlaku sebagai kenyataan, atau relasi sosial
yang konkret, dan meliputi role expectations, yaitu tingkah laku yang

4
diharapkan secara timbal balik, ideal patterns, yaitu yang sifatnya relatif
konstan dan bersifat menetap.
Bagi Durkheim, pencapaian kehidupan sosial manusia dan eksistensi
keteraturan sosial dalam masyarakat, yang ia sebut solidaritas sosial, di
mantapkan oleh sosialisasi yang melalui proses tersebut manusia secara
kolektif belajar standar-standar atau aturan-aturan perilaku. Istilah Durkheim
untuk hal ini adalah “fakta sosial”. Maka fakta sosial ini hanya bisa dilihat
melalui konformitas individu-individu kepadanya, fakta sosial itu menurut
Durkheim berada “eksternal” dan “ mengendalikan” individu-individu ini
(Jones, 2010 : 44). Konsepsinya tentang struktur sosial itulah yang
mendorong Durkheim mendukung penggunaan ilmu pengetahuan (sains)
untuk menjelaskan kehidupan sosial. Metode ilmiah yang dikembangkannya
dikenal sebagai positvisme. Prinsip pemandu bagi positivisme adalah jika
sesuatu terjadi dalam alam, ini disebabkan oleh sesuatu yang lain dalam alam.
Bagi Durkheim, struktur sosial sama objektifnya dengan alam itu
sendiri. Menurutnya, sifat struktur diberikan kepada warga masyarakat sejak
mereka lahir, sama seperti yang diberikan alam kepada fenomena alam, yang
hidup maupun tidak. Kita tidak memilih untuk meyakini sesuatu yang kini
kita yakini atau memilih tindakan yang kita ambil sekarang. Kita belajar
untuk berfikir atau melakukan semua itu. Aturan-aturan kebudayaan yang
sudah ada menentukan gagasan dan perilaku kita melalui sosialisasi
C. Struktur Sosial
Struktur sosial berasal dari kata structum yang berarti menyusun,
membangun untuk sebuah gedung dan lebih umum dipakai istilah konstruksi
yang berarti kerangka. Kata konstruksi memang tidak lazim untuk bangunan
masyarakat, sebagai istilah ilmiah dipakai kata struktur sosial. Dalam
antropologi sosial, konsep struktur sosial seringkali dipergunakan sebagai
sinonim dari organisasi sosial dan terutama dipergunakan dalam analisis
terhadap masalah kekerabatan, lembaga politik dan lembaga hukum dari
masyarakat sederhana. Namun menurut Firth, organisasi sosial berkaitan
dengan pilihan dan keputusan dalam hubungan-hubungan sosial aktual.

5
Struktur sosial mengacu pada hubungan-hubungan sosial yang fundamental
yang memberikan bentuk dasar masyarakat, yang memberikan batas-batas
pada aksi-aksi yang mungkin dilakukan secara organisatoris. Fortes
berpendapat bahwa konsep struktur sosial diterapkan pada setiap totalitas
yang terbit seperti lembaga-lembaga, kelompok, situasi, proses dan posisi
sosial (Soekanto, 1984 : 107)
Radcliffe-Brown membedakan kebudayaan suatu masyarakat dari
system sosial dan struktur sosial. Dia menganggap kebudayaan kebudayaan
masyarakat mencakup pola perilaku, pola berfikir dan perasaan, sedangkan
struktur sosial mencakup semua hubungan sosial antara individu-individu
pada saat tertentu. Oleh karena itu struktur sosial merupakan aspek non-
prosesual dari sistem sosial yang bersangkutan. Radcliffe – Brown kemudian
menyatakan bahwa suatu kebudayaan hanya dapat dipelajari secara ilmiah,
melalui struktur social.
Dalam sosiologi struktur sosial diartikan sebagai hubungan timbal balik
antara posisi-posisi sosial dan antara peranan-peranan. Interaksi dalam system
sosial dikonsepkan secara lebih terperinci dengan menjabarkan manusia yang
menempati posisi-posisi dan melaksanakan peranannya. Menurut Parsons,
system sosial merupakan konsep yan lebih luas dari struktur sosial dan
mencakup aspek fungsional dari system, konsekuensi-konsekuensi positif dan
negatif dan sub-kebudayaan terhadap keseluruhan system sebagai tambahan
terhadap aspek strukturalnya. Pandangan Parsons tentang hubungan antara
struktur dengan proses, secara esensiil adalah sama dengan pandangan dari
Radcliffe-Brown.
Dari definisi tersebut diatas disimpulkan bahwa struktur sosial
merupakan tatanan sosial dalam kehidupan masyarakat, yang di dalamnya
terkandung hubungan timbal balik antara status dan peranan yang mengacu
pada suatu keteraturan perilaku di dalam masyarakat. Dalam struktur sosial
tersebut juga terdapat unsur-unsur sosial yang pokok dalam masyarakat yang
mencakup :

6
1) Kelompok social
Kelompok sosial “social group” adalah himpunan atau
kesatuan- kesatuan manusia yang hidup bersama, oleh karena
adanya hubungan antara mereka.Kelompok sosial terbentuk
karena anggota-anggotanya mempunyai motif yang sama.
Motif yang sama ini merupakan pengikat, sehingga setiap
anggota kelompok tidak bekerja sendiri- sendiri, tetapi bekerja
sama untuk mencapai tujuan bersama.
2) Kebudayaan
Kebudayaan menurut Koentjaraningrat ialah suatu keseluruhan
hasil kelakuan manusia yang teratur dari tata kelakuan yang
harus dipeoleh dengan belajar dan yang tersusun dalam
kehidupan masyarakat.
3) Lembaga sosial (lembaga kemasyarakatan)
Lembaga kemasyarakatan merupakan himpunan norma-norma
segala tingkatan yang berkisar pada suatu kebutuhan pokok di
dalam kehidupan masyarakat. Lembaga sosial ini adalah tempat
yang dikelilingi rintangan-rintangan persepsi tertentu dan
didalamnya terjadi kegiatan khusus.
4) Stratifikasi social
Stratifikasi sosial menurut Patirim A Sorokin adalah
pembedaan sesuatu masyarakat (populasi) ke dalam kelas-kelas
secara hierarki (bertingkat) (Gunawan, 2000 : 38)
5) Kekuasaan dan wewenang
Kekuasaan merupakan setiap kemampuan untuk mempengaruhi
pihak lain sedangkan wewenang adalah kekuasaan yang ada
pada seseorang atau sekelompok orang yang mempunyai
dukungan atau mendapat pengakuan dari masyarakat
(Soekanto, 2005 : 266)

7
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

8
KEPUSTAKAAN

Beni, Ahmad Sabeni. 2012. Pengantar Antropologi. Bandung : PUSTAKA


SETIA

Gunawan, Ary H. 2000. Sisiologi pendidikan; Suatu Analisis Sosiologi tentang


Pelbagai Problem Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

Koentjoroningrat. 2000. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta

Pip Jones, alih bahasa oleh Achmad Fedyani Saefuddin. 2010. Pegantar Teori-
Teori Sosial Dari Teori Fungsionalisme hingga PostModernisme,.
Jakarta : Yayasan Pustaka Obor Indonesia

Soerjono Soekanto. 1983. Beberapa Teori Sosiologi Tentang Struktur


Masyarakat. Jakarta : CV. Rajawali

Soerjono Soekanto. 2005. Sosiologi: Suatu Pengantar. Jakarta: Raja Grafindo


Persada

Warsito. 2015. Antropologi Budaya. Yogyakarta: Ombak