Anda di halaman 1dari 15

TUGAS MAKALAH SOSIAL BUDAYA DASAR PADA

PASCA PERSALINAN DAN LAKTASI


Dosen Pembimbing : Umi Narsih, S.Si., M.Kes.

Kelompok: 1
1. Faiqotur rahma
2. Devitri
3. DindaPutri F.S

PROGRAM STUDY D3 KEBIDANAN


STIKES HAFSHAWATY PESANTREN ZAINUL
HASAN
PROBOLINGGO
2018
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang
yang memberi kenikmatan yang tiada terkira.
Sehingga kami dapat menyelesaikan makalah “Sosial Budaya Dasar Pada
Pasca Persalinan Dan Laktasi” dengan tepat waktu dan semaksimal mungkin.
Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar besarnya kepada semua
pihak yang telah mendukung, membantu, memfasilitasi penyusunan makalah ini
sehingga berjalan lancar diantaranya kepada:
1. KH.Muhammad Hasan Mutawakkil Alallah SH.MMSelaku pengasuh
pondok pesantren Zainul Hasan Genggong
2. Bapak dr. H.Nur Hamim SKM, S.Kep, Ns, M.kes Selaku ketua stikes
hafshawaty Zainul Hasan Genggong
3. Bapak dan ibu tercinta atas segala doa yang tiada henti diberikan kepada
penulis dan senantiasa memberikan motivasi sehingga mampu memberikan
pencerahan dan pemberitahuan yang berarti.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak kesalahan
dan sangat berharap kritik dan saran yang positif. Semoga makalah ini memberi
manfaat bagi kita semua.

i
DAFTAR ISI

Kata Pengantar……………………………………………………………………………...i
Daftar isi……………………………………………………………………………………1
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakng Masalah……………………………………………………………………2
Rumusan Masalah…………………………………………………………………………2
Tujuan……………………………………………………………………………………..2
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Konsep Budaya……………………………………………………………………….3
2.2 Konsep Budaya Tentang Perawatan Masa Nifas…………………………………..…3
2.2.1 Perawatan Masa nifas masyarakat………………………………….…….................4
2.2.2 Perawatan Masa nifas Masyarakat………………………………………………….6
2.3 Pendekatan Yang Dapat Dilakukan Bidan……………………………………………9
2.4 Konsep Budaya Tentang Perawatan Masa Laktasi……………………………………9
2.4.1 Aspek Sosial Budaya Masa Laktasi Pada Masyarakat Serta Dampaknya………….10
2.5 Pendekatan Yang Dapat Dilakukan Bidan……………………………………………11
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan…………………………………………………………………………..12
3.2 saran………………………………………………………………………………….12
DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………………13

1.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Aspek sosial dan budaya sangat berpengaruh dan sangat mempengaruhi pola
kehidupan manusia. Dalam era globalisasi ini dengan berbagai perubahan yang begitu
ekstrem dan semakin terbuka yang menjadikan yang pada masa ini menuntut semua manusia
harus memperhatikan aspek sosial budaya. Salah satu masalah yang kini banyak merebak di
kalangan masyarakat adalah kematian ataupun kesakitan pada ibu dan anak yang
sesungguhnya tidak terlepas dari faktor-faktor sosial budaya dan lingkungan di dalam
masyarakat dimana mereka berada dalam arti lain masih banyaknya ibu dan anak yang
haknya masih tidak dipenuhi bahkan jauh dari kata terpenuhi khususnya di daerah-daerah
terpencil.
Disadari atau tidak, faktor-faktor kepercayaan dan pengetahuan budaya seperti
konsepsi-konsepsi mengenai berbagai pantangan, hubungan sebab- akibat antara makanan
dan kondisi sehat-sakit, kebiasaan dan ketidaktahuan ini, seringkali membawa dampak baik
positif maupun negatif terhadap kesehatan ibu dan anak walaupun telah kami teliti banyaknya
dampak negative itu lebih banyak dibandingkan dengan dampak positifnya. Pola makan,
misalnya, pada dasarnya adalah merupakan salah satu selera manusia dimana peran
kebudayaan cukup besar. Hal ini terlihat bahwa setiap daerah mempunyai pola makan
tertentu, termasuk pola makan ibu nifas yang disertai dengan kepercayaan akan pantangan-
pantangan yang tabu dan anjuran terhadap beberapa makanan tertentu yang sering kita
sebagai masyarakat modern itu mitos.

1.2 Rumusan Masalah


Bagaiman aspek budaya perawatan masa nifas di masyarakat?
Bagaiman aspek budaya perawatan masa nifas di masyarakat?

1.3 Tujuan
Agar mahasiswa mengetahui aspek budaya perawatan masa nifas di masyarakat
Agar mahasiswa mengetahui aspek budaya perawatan masa laktasi di masyarakat.

2.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Konsep Budaya


Bagi seorang ahli antropogi istilah kebudayaan umumnya mencakup cara berpikir dan
cara berlaku yang telah merupakan ciri khas suatu bangsa atau masyarakat tertua. Syafrudin
(2009), Kebudayaan adalah kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian,
moral, hukum, dan adat istiadat. Semua hasil karya, rasa dan cipta masyarakat yang berfungsi
sebagai tempat berlindung, kebutuhan makan dan minum, pakaian dan perhiasan, serta
mempunyai kepribadian yaitu organisasi faktor-faktor biologis, psikologis dan sosialisasi
yang mendasari perilaku individu. Masyarakat di Indonesia merupakan masyarakat yang
majemuk, beribu-ribu suku bangsa ada di dalamnya dengan latar belakang kebudayaan yang
berbeda-beda Keanekaragaman budaya ini merupakan kekayaan bangsa yang tiada ternilai
tingginya. Kekayaan tersebut harus dipahami terus dari generasi ke generasi.
Dalam konteks penulisan sejarah pendekatan budaya Muarif (2009) membagi 5 aspek
yang masing-masing saling terkait yaitu:
(1) dimensi ruang dan waktu,
(2) konsep manusia sebagai animal rational dan latar belakang sejarah,
(3) setiap bangsa mendiami kawasan tertentu dan memiliki pola pikir, sistem sosial serta
budaya yang mereka warisi dari para pendahulu,
(4) pola hubungan antara budaya dan kekuasaan,
(5) bentuk kebudayaan dan unsur-unsur yang menpengaruhinya.

2.2 Konsep Budaya Tentang Perawatan Masa Nifas


Sistim budaya merupakan komponen dari kebudayaan yang bersifat abstrak dan
terdiri atas pikiran pikiran,gagasan,konsep,serta keyakinan,dengan demikian system
kebudayaan merupakan bagian dari kebudayaan yang dalam bahasa Indonesia lebih lazim
disebut adat istiadat.dalam adat-istiadat terdapat juga system norma dan disitulah salah satu
fungsi system budaya adalah menata serta menetapkan tindakan-tindakan dan tingkah laku
manusia.
Dalam system budaya terbentuk unsur-unsur yang paling berkaitan satu dengan
lainnya, sehingga tercipta tata kelakuan manusia yang terwujud dalam unsur kebudayaan
sebagai satu kesatuan.
Budaya atau kebiasaan merupakan salah satu yang mempengaruhi status kesehatan.
Di antara kebudayaan maupun adat-istiadat dalam masyarakat ada yang menguntungkan, ada
pula yang merugikan.
3.
Banyak sekali pengaruh atau yang menyebabkan berbagai aspek kesehatan di negara
kita, bukan hanya karena pelayanan medik yang tidak memadai atau kurangnya perhatian dari
instansi kesehatan, antara lain masih adanya pengaruh sosial budaya yang turun temurun
masih dianut sampai saat ini. Selain itu ditemukan pula sejumlah pengetahuan dan perilaku
yang tidak sesuai dengan prinsip-prinsip kesehatan.
Masa nifas adalah dimana dimulai beberapa jam sesudah lahirnya plasenta sampai 6
minggu berikutnya ( JHPEIGO,2002). Masa nifas tidak kurang dari 10 hari dan todak lebih
dari 8 hari setelah akhir persalinan dengan pemantauan bidan sesuai kebutuhan ibu dan bayi (
Bennet dan Brown ,1999).
Masa nifas berlangsung selama 6 – 8 minggu. Periode nifas merupakan masa kritis
bagi ibu, diperkirakan bahwa 60% kematian ibu akibat kehamilan terjadi setelah persalinan,
yang mana 50% dari kematian ibu tersebut terjadi dalam 24 jam pertama setelah persalinan.
Selain itu, masa nifas ini juga merupakan masa kritis bagi bayi , sebab dua pertiga kematian
bayi terjadi dalam 4 minggu setelah persalinan dan 60% kematian bayi baru lahir terjadi
dalam waktu 7 hari setelah lahir (Sayfuddin et al, 2002). Untuk itu perawatan selama masa
nifas merupakan hal yang sangat penting untuk diperhatikan.
Perawatan masa nifas mencakup berbagai aspek mulai dari pengaturan dalam
mobilisasi, anjuran untuk kebersihan diri , pengaturan diet, pengaturan miksi dan defekasi,
perawatan payudara (mamma) yang ditujukan terutama untuk kelancaran pemberian air susu
ibu guna pemenuhan nutrisi bayi, dan lain-lain (Rustam Mochtar, 1998 dan Sayfuddin et al,
2002).

2.2.1 Perawatan masa nifas masyarakat


pada masyarakat yang memiliki aturan berupa pantangan meninggalkan rumah selama
44 hari bagi wanita yang baru melahirkan. Anjuran untuk berbaring selama masa nifas,
perawatan nifas dengan pengurutan, penghangatan badan, konsumsi minuman berupa jamu-
jamuan dan pantangan makan-makanan tertentu (Swasono, 1998).
Ada beberapa tahapan (pidie) terhadap wanita yang telah melahirkan, didasarkan pada
fitrah manusiawi:
1. Setelah melahirkan ibu dimandikan. Pada siraman terakhir, disiram dengan ie boh
kruet (jeruk purut) guna menghilangkan bau amis, setelah menganti pakaian diberikan
merah telur dengan madu.
2. Selama tiga hari diberikan ramuan daun-daunan yang terdiri dari daun peugaga, daun
pacar (gaca), un seumpung (urang-aring) daun-daunan ini diremas dengan air lalu
diminum. Hal tersebut berkhasiat untuk membersihkan darah kotor.
3. Selama tujuh hari kemudian diberikan ramuan, dari kunyit, gula merah, asam jawa,
jeura eungkot, boh cuko (kencur), dan lada. Semua bahan ini ditumbuk sampai halus
lalu dicampur dengan air ditambah madu dan kuning telur. Khasiatnya menambah
darah dan membersihkan darah kotor.
4. Jika kesehatan ibu memungkinkan, mulai hari pertama diletakkan batu panas di perut
dan dipeumadeung (disale). Ibu tidur di atas tempat tidur yang terbuat dari bambu
yang dibawahnya dihidupkan api. 4.
5. Kebiasaan tot batee dan sale ini 30 sampai 40 hari. Hal ini bertujuan untuk
membersihkan darah kotor, mengembalikan otot dan merampingkan tubuh.
6. Sejak hari pertama sampai dengan hari ketiga seluruh tubuh ibu diurut. Dalam upaya
membersihkan darah kotor dan melancarkan ASI.
7. Memasuki bulan kedua tidak boleh memakan sembarangan dan setiap pagi minum
segelas saripati kunyit yang berkhasiat untuk ibu dan anak supaya tidak masuk angin,
menguatkan tubuh dan upaya menjarangkan kelahiran.
8. Ibu yang menyusui biasanya diminumkan air sari daun-daunan seperti daun kates,
daun kacang panjang, daun katuk, dan lain – lain. Tujuannya agar air susu lebih
banyak. Selain itu ibu sebaiknya tidak makan makanan yang pedas karena
dikhawatirkan bayi akan sakit perut.
9. Selama dalam masa perawatan, di bagian muka dan badan ibu diberi bedak dingin,
sementara diperut diolesi obat-obatan ramuan dengan dipakaikan bengkung (gurita)
selama 3 bulan. Hal ini berguna untuk menghaluskan muka, tubuh dan mengecilkan
perut.
10. Pada masa nifas, ibu tidak boleh keluar rumah sebelum 40 hari. Hal ini tidak
diperlukan karena pada masa nifas, ibu dan bayi yang baru lahir harus periksa
kesehatan sang bayi sekurang-kurangnya 2 kali dalam bulan pertama yaitu umur 0-7
hari dan 8-30 hari guna pemberian imunisasi bagi si bayi tersebut dan dampak positif
akan pelarangan ini tidak ada.
11. Setelah melahirkan ibu dan bayinya harus dipijat atau diurut, diberi pilis atau lerongan
dan tapel. Dampak positif mengenai anjuran pada ibu yang baru saja melahirkan dan
bayi yang baru dilahirkan ini adalah jika pijatannya benar maka peredaran darah ibu
dan bayi menjadi lancar, namun adapun dampak negative akan anjuran ini bila si ibu
dan bayi dipijat atau diurut ialah apabila pijat salah sangat berbahaya karena dapat
merusak kandungan sedangkan apabila diberi pilis atau lerongan maupun tape, hal ini
dapat merusak kulit bagi yang tidak kuat / menyebabkan alergi pada ibu dan bayi
tersebut.
12. Pada masa nifas, ibu harus minum abu dari dapur yang dicampur dengan air,
kemudian disaring, dicampur garam dan asam lalu diminumkan kepada si ibu supaya
ASI banyak. Abu, garam dan asam merupakan bahan-bahan yang tidak mengandung
zat gizi yang diperlukan oleh ibu menyusui untuk memperbanyak produksi ASI nya,
jadi anjuran ini jelas sangat merugikan dan tidak terdapat dampak positive mengenai
anjuran kepada si ibu untuk mengkonsumsi abu yang dicampur dengan air dan garam.
13. Ibu harus memakai stagen atau udet (centing). Dampak negative akan anjuran ini jelas
tidak ada bahkan apabila di rutinkan akan pemakaian stagen atau centing tersebut
akan memulihkan fisik sang ibu seperti sedia kala sebelum melahirkan.
14. Pada masa nifas, ibu dianjurkan untuk mengkonsumsi jamu. Hal ini jelas berdampak
positif karena dapat mempercepat pemulihan rahim ke kondisi semula dan tidak ada
dampak negative meengenai anjuran untuk mengkonsumsu jamu ini.
15. Jika sang ibu tidur atau duduk harus meluruskan kakinya. Pada ibu yang baru saja
melahirkan atau berada pada masa nifas jelas hal ini sangat mempunyai dampak yang
positive bagi si ibu tersebut, karena jika ibu duduk atau tidur pada posisi miring atau
di tekuk dapat mempengaruhi posisi tulang ibu tersebut karena tulang ibu pada masa
nifas seperti bayi, yang apabila si ibu melakukan gerakan miring pada saat tidur dan
5.
menekuk saat duduk akan berisiko, larangan ini baik untuk ibu karena pada ibu pada
masa nifas mudah terkena varises dan dampak negative akan larangan ini jelas tidak
ada baik bagi si ibu maupun pada bayi yang baru dilahirkan.
16. Ibu pada masa nifas harus mengkonsumsi makanan yang bergizi terlebih sang ibu
dianjurkan untuk mengkonsumsi sayuran. Adapun dampak positive akan anjuran ini,
ibu menjadi lebih sehat dengan mengkonsumsi banyak sayur-sayuran dan danpak
negative yang disebabkan akan anjuran ini pun tidak ada baik untuk ibu maupun
untuk si bayi.
17. Selama dalam masa perawatan, di bagian muka dan badan ibu diberi bedak dingin,
sementara diperut diolesi obat-obatan ramuan dengan dipakaikan bengkung (gurita)
selama 3 bulan. Hal ini berguna untuk menghaluskan muka, tubuh dan mengecilkan
perut.

2.2.2 perawatan masa nifas masyarakat


Masyarakat yang memiliki aneka perawatan selama masa postpartum(nifas). Namun,
tidak semua perawatan yang dilakukan oleh masyarakat suku Jawa tersebut dapat diterima
bila ditinjau dari aspek medis karena ada dampak yang baik dan tidak baiknya bagi ibu
nifas.Oleh sebab itu, informasi tentang perawatan masa nifas pada masyarakat merupakan
salah satu aspek penting diketahui para pelayan kesehatan untuk lebih memudahkan
memberikan pendekatan dalam pelayanan kesehatan

A. Perawatan ari-ari
Ari-ari atau plasenta disebut juga dengan aruman atau embing-embing atau embing
embing. Bagi orang Jawa, ada kepercayaan bahwa ari-ari merupakan saudara bayi tersebut
oleh karena itu ari-ari dirawat dan dijaga sebaik mungkin,misalnya :
1) Tepat di tempat ari-ari dikuburkan diletakkan lampu sebagai penerangan. Artinya, lampu
tersebut merupakan symbol penerangan bagi bayi yang dimaksudkan agar kehidupan bayi
nanti akan terang juga bila di terangi oleh sinar lampu.
Dampak positive : Agar binatang tidak berani mendekat dan memakan ari-ari
tersebut
Dampak negative : Tidak ada
2) Ari-ari bayi dibungkus bersama buku,bunga setaman (bunga mawar, melati, dan
kenanga). Di atasnya dsb ditujukan agar mendo’akan sibayi dalam jalan hidupnya nanti
terang dan kehidupanyapun baik.
Dampak positive : tidak ada
Dampak negative : Tidak ada
3) Pemagaran di sekitar tempat penanaman ari-ari dan menutup bagian atas pagar juga
dilakukan agar tidak kehujanan dan binatang tidak masuk ke tempat itu dan juga kepercayaan
kepada makhluk mistis yang dikhawatirkan akan memakan ari-ari itu bila tidak dipagari.

6.
Dampak positive : Agar ari-ari tidak dibongkar dan dimakan oleh binatang
Dampak negative : Tidak ada

B. Perawatan ibu
Banyak tradisi yang memiliki pantangan-pantangan yang ditujukan terhadap ibu nifas
padahal, banyak juga yang berdampak negative dan merugikan bila ditinjau dari aspek
kesehatan diantaranya yang berdampak negative dan positif yaitu.
1) Masa nifas dilarang makan telur, ikan dan sebagainya yang berbau amis karena
kepercayaan mereka mengatakan bahwa lukanya akan lama sembuh bila mereka memakan
itu.
Dampak positif : Tidak ada
Dampak negative : Merugikan karena masa nifas memerlukan makanan yang
bergizi seimbang agar ibu dan bayi sehat.
2) Setelah melahirkan ibu hanya boleh makan dengan bumbu hanya garam saja juga tanpa
bumbu.
Dampak positif : Tidak ada
Dampak negative : Tidak ada
3) Masa Nifas dilarang tidur siang
Dampak positif : Tidak ada
Dampak negative : Karena masa nifas harus cukup istirahat, kurangi kerja
berat. Karena tenaga yang tersedia sangat bermanfaat untuk kesehatan ibu dan bayi.
4) Masa nifas /saat menyusui setelah waktunya Maghrib harus puasa tidak makan makanan
yang padat.
Dampak positif : Hal ini dibenarkan karena dalam faktanya masa nifas setelah maghrib
dapat menyebabkan badan masa nifas mengalami penimbunan lemak,disamping itu organ-
organ kandungan pada masa nifas belum pulih kembali.
Dampak negative : Ibu menjadi kurang nutrisi sehingga produksi ASI menjadi
berkurang.
5) Masa nifas tidak boleh keluar rumah sebelum 40 hari.
Dampak positif : Tidak ada
Dampak negative : Hal ini tidak perlu karena masa nifas dan bayi baru lahir
(pemberian imunisasi) harus periksa kesehatannya sekurang-kurangnya 2 kali dalam bulan
pertama yaitu umur 0-7 hari dan 8-30 hari dan ibu juga butuh sinar matahari.

7.
6) Ibu setelah melahirkan dan bayinya harus dipijat/ diurut, diberi pilis / lerongan dan tapel
Dampak positif : Jika pijatannya benar maka peredaran darah ibu dan bayi
menjadi lancar.
Dampak negative : Pijatan yang salah sangat berbahaya karena dapat merusak
kandungan. Pilis dan tapel dapat merusak kulit bagi yang tidak
7) Masa nifas tidak diperbolehkan berhubungan intim.
Dampak positif : Dari sisi medis, sanggama memang dilarang selama 40 hari
pertama usai melahirkan. Alasannya, aktivitas yang satu ini akan menghambat proses
penyembuhan jalan lahir maupun involusi rahim, yakni mengecilnya rahim kembali ke
bentuk dan ukuran semula. Contohnya infeksi atau malah pendarahan. Belum lagi libido yang
mungkin memang belum muncul atau pun pengaruh psikologis, semisal kekhawatiran akan
robeknya jahitan maupun ketakutan bakal hamil lagi.
Dampak negative : Tidak ada

C. Perawatan pada bayi


1) Pada dahi bayi diberikan ujung tali bedungan yang telah digigit yang bertujuan untuk
penghilang cegukan.
Dampak positive : Tidak ada
Dampak negative : Tidak ada
2) Pada dahi bayi juga diletakan olesan hitam dari pantat kuali yang bertujuan untuk
mencegah dan menghilangkan cegukan serta sering diberikan pada menjelang sore hari agar
bayi terhindar dari gangguan makhluk mistis.
Dampak positiv : Tidak ada
Dampak negative : Bila kulit bayi sensitive dapat menyebabkan Iritasi karena
pantat kuali/wajan iu bersifat kasar dan mengandung zat kimia karbon
3) Jikalau bayi sering menangis dan diduga diganggu oleh makhluk mitos, didahi bayi
diberikan kunyit(parutan nya).
Dampak positive : Tidak ada
Dampak negative : Tidak ada
4) Sebelum tali pusar lebas atau tercopot maka bayi pun dilarang untuk keluar dari rumah
dikarenakan takut akan gangguan dari makhluk mitos.
Dampak positive : Tidak ada
Dampak negative : Bayi membutuhkan sinar matahari yang baik untuk
perkembanganya dan merugikan bila bayi hanya di ddalam rumah saja dan tidak
mendapatkan vitamin D.
8.
5) Dibawah kasur bayi diletakan daun putri malu dan 7 batang lidi kelapa hijau yang
bertujuan agar si bayi tidak mudah terkejut atau kagetan.
Dampak positive : Tidak ada
Dampak negative : Tidak ada

2.3 pendekatan yang dapat dilakukan bidan


1. KIE (komunikasi informasi dan edukasi) perilaku positif dan negatif.
2. Memberikan penyuluhan tentang pantangan makanan selama nifas dan menyusui
sebenarnya tidak menguntungkan ibu dan bayi karena justru ibu membutuhkan
makanan yang kaya akan nutrisi dan sehat.
3. Memberikan pendidikan tentang perawatan bayi yang baru lahir dengan benar dan
tepat meliputi pemotongan tali pusar, memandikan/membersihkan menyusun dan
menjaga kehangatan.
4. Memberikan penyuluhan pentingnya pemenuhan gizi selama masa pasca persalinan,
bayi dan balita dan keuntungan dan kerugian dari beragam pantangan makan dan
diadopsi masyarakat.
5. Memberikan pengertian dengan menggunakan pendekatan logis bahwa budaya
budaya yang dilakukan semata mata tidak ada hubungannya dengan yang berbau
mistik. Akan tetapi memiliki alasan lain yang lebih logis untuk dijadikan dasar yang
jelas.

2.4 Konsep Budaya Tentang Perawatan Masa Laktasi


Masa laktasi adalah keseluruhan proses menyusui dari ASI diproduksi sampai proses
bayi menghisap dan menelan asi. Masa laktasi mempunyai tujuan meningkatkan pemberian
asi ekslusif anak umur 2 tahun secara baik dan benar serta anak mendapatkan kekebalan
tubuh secara alami.
Setelah persalinan plasenta terlepas. Dengan terlepasnya plasenta maka produksi
hormon esterogen dan progesteron turun drastis sedangkan kadar prolakte tetap tinggi
sehingga mulai terjadi sekresi ASI saat bayi mulai menyusu, rangsangan isapan bayi pada
putting susu menyebabkan prolaktin dikeluarkan dari hipofise sehingga sekresi ASI semakin
lancer.

A. Pada masa laktasi terdapat reflek pada ibu dan bayi. Reflek yang terjadi
pada ibu adalah :
1. Reflek prolaktin
Rangsangan dan isapan bayi melalui serabut syaraf memicu kelenjar hiposife
bagian depan untuk mengeluarkan hormon proaktin kedalam perbedaan darah
yang menyebabkan sel kelenjar mengeluarkan ASI. Semakin sering bayi
menghisap semakin banyak hormon prolaktin dikeluarkan oleh kelenjar hipofise.
Akibatnya makin banyak ASI diproduksi oleh sel kelenjar.

9.
Sebaliknya berkurangnya isapan bayi menyebabkan produksi asi berkurang
mekanisme ini di sebut supply and demand.

2. Reflak oksitosin (let down reflex)


Rangsangan ispan bayi melalui serabut saraf memacu hipofise bagian
belakang untuk mensekresi hormon oksitisin ke dalam darah. Oksitosin ini
menyebabkan sel sel myopytel yang mengelilingi alfeoli dan duktuli berkontraksi,
sehingga ASI mengalir dari alveoli keduktuli menuju sinus dan puting. Dengan
demikian sering menyusu baik dan penting untuk pengosongan payudara agar
tidak terjadi engorgement (membengkakan payudara) tetapi sebaliknya
mempelancar pengeluaran ASI.

B. Sedangkan untuk reflek pada bayi adalah :

1. Reflek bayi mencari puting (rooting reflex)


Bila pipi bayi disentuh maka bayi akan menoleh kea rah sentuhan, membuka
mulutnya dengan berusaha untuk mencari puting untuk menyusu.
2. Reflek menghisap (sucking reflex)
Reflek terjadi karena rangsangan putting susu pada palatum durum bayi bila areola
masuk ke dalam mulut bayi. Gusi bayi menekan areola lidah dan langit langit
sehingga menekan sinus laktiferus yang berada di bawah areola. Kemudian terjadi
gerakan peristaltic yang mengeluarkan ASI dari payudara masuk kedalam mulut bayi.
3. Reflek menelan (swallowing reflex)
ASI dan mulut bayi menyebabkan gerakan otot menelan.

2.4.1 Aspek Sosial Budaya Masa Laktasi Pada Masyarakat Serta


Dampaknya
1. Untuk meningkatkan produksi ASI ibu di berikan sayur bayam dan daun katuk/ kelor.
Dampaknya positif karena hal tersebut sudah benar dilakukan untuk meningkatkan
banyaknya ASI yang keluar.
2. Meminum jamu dari campuran rempah rempah dan beberapa tumbuhan. Dampaknya
positif karena dapat meningkatkan nafsu makan ibu. Adapun dampak negtif karena
beberapa ibu tidak tahan dengan jamu yang di berikan sehingga menyebabkan diare.
3. Ibu harus banyak tidur dan memperbanyak minum air putih. Dampaknya positif
karena banyak istirahat membuat ibu lebih segar dan banyak meminum air putih
membuat ASI menjadi lebih banyak.
4. Mengolesi daerah payudara ibu kecuali puting dengan tumbukan daun kerayap.
Dampaknya negatif karena beberapa ibu mengalami alergi.

10.
.
2.5 Pendekatan Yang Dapat Dilakukan Bidan

1. Membina hubungan/ ikatan yang baik antara ibu dan bayi dengan cara membiarkan
bayi bersama ibunya segera sesudah dilahirkan.
2. Motivasi menyusui dini dalam 30 menit setelah lahir, bayi sudah disusukan ke ibunya.
3. Memberikan bimbingan dalam perawatan payudara.
4. Menganjurkan ibu memberikan ASI sesering mungkin.
5. Hindari penggunaan susu botol / dot.

11.
.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Budaya atau kebiasaan merupakan salah satu yang mempengaruhi status kesehatan. Di antara
kebudayaan maupun adat-istiadat dalam masyarakat ada yang menguntungkan, ada pula yang
merugikan.
Masa nifas adalah dimana dimulai beberapa jam sesudah lahirnya plasenta sampai 6 minggu
berikutnya ( JHPEIGO,2002).
Perawatan masa nifas masyarakat sangat banyak sekali, namun ada yang menguntungkan dan ada
piula yang merugikan. Ini di dasari pada sistem adat yang mereka ikuti.
Pada masyarakat, unsur-unsur kebudayaan yang terkadang ada yang kurang menunjang pencapaian
status kesehatan yang optimal. Unsur-unsur tersebut antara lain; ketidaktahuan, pendidikan yang
minim sehingga sulit menerima informasi-informasi dan tekhnologi baru.

3.2 Saran
Diharapkan mahasiswa mengetahui perawatan masa nifas di berbagai daerah.

12.
DAFTAR PUSTAKA

Effendi,Ridwan.2006.ILMU SOSIAL BUDAYA DASAR.Jakarta: kencana prenadamedia group


Ihromi.2006.Pokok-Pokok Antropologi Budaya. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia
Bahiyatun.2009. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Nifas Normal. Jakarta : EGC
http://rafikadimas.blogspot.com
http://benjaya.blogspot.com
file:///E:/masa%20nifas/budaya-pidie-merawat-masa-nifas-dilihat.html

13.