Anda di halaman 1dari 64

LAPORAN PRAKTIKUM

ANALISA MAKANAN DAN MINUMAN


(AMAMI)

DISUSUN OLEH :

Chaerul Arham : NIM.G1C217261


Jumratul Hada : NIM.G1C217018
Agus Salim : NIM.G1C217210

PROGRAM STUDI D IV ANALIS KESEHATAN


FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG
2018
LAPORAN PRAKTIKUM 1

KESADAHAN DENGAN METODE TITRASI KOMPLEKSOMETRI

A. Hari/Tanggal : Kamis, 5 April 2018

B. Judul : Penetapan Kadar Kesadahan total dan kesadahan Ca

C. Tujuan :
1) Mengetahui Molaritas Na2EDTA pada standarisasi Na2EDTA.
2) Mengetahui kadar kesadahan jumlah (total).
3) Mengetahui kadar kesadahan Ca (kalsium).
D. Metode : Kompleksometri

E. Reaksi :

Ca2+ + EBT → Ca EBT dan Mg2+ + EBT → Mg EBT → warna ungu


Ca EBT + EDTA → Ca EDTA + EBT dan Mg EBT + EDTA → Mg EDTA + EBT
→ biru
F. Prinsip :

Jika EDTA ditambahkan ke dalam suatu larutan dari kation logam tertentu, maka
akan terbentuk kompleks khelat yang mudah larut. Bila sejumlah kecil zat warna seperti
EBT ditambahkan pada larutan menjadi warna merah anggur. Apabila EDTA
ditambahkan pada larutan tersebut, kalsium dan magnesium akan dikomplekskan maka
larutan berubah menjadi biru dan merah anggur yang menandakan titik akhir titrasi.
G. Dasar Teori :
Air adalah pelarut yang baik, sehingga dapat melarutkan zat-zat dari batu-batuan
yang berkontak dengannya. Bahan-bahan mineral yang dapat terkandung dalam air
karena kontaknya dengan batu-batuan tersebut antara lain: CaCO3, MgCO3, CaSO4,
MgSO4, NaCl, Na2SO4, SiO2 dan sebagainya. Dimana air yang banyak mengandung ion-
ion kalsium dan magnesium dikenal sebagai air sadah. Air sadah adalah air yang di
dalamnya terlarut garam-garam kalsium dan magnesium air sadah tidak baik untuk
mencuci karena ion-ion Ca2+ dan Mg2+ akan berikatan dengan sisa asam karbohidrat
pada sabun dan membentuk endapan sehingga sabun tidak berbuih. Senyawa-senyawa
kalsium dan magnesium ini relatif sukar larut dalam air, sehingga senyawa-senyawa ini
cenderung untuk memisah dari larutan dalam bentuk endapan atau precipitation yang
kemudian melekat pada logam (wadah) dan menjadi keras sehingga mengakibatkan
timbulnya kerak (Bintoro, 2008).
Kesadahan air ditentukan dari jumlah ion logam terlarut di dalam air. Jenis anion
yang menjadi pasangan dari ion logam terlarut akan menentukan jenis kesadahan yang
timbul: garam-garam dari ion klorida, sulfat, dan nitrat menyebabkan kesadahan tetap
sementara ion bikarbonat menyebabkan kesadahan sementara (Anonim, 2014).
Kesadahan air dapat ditentukan dengan metode titrasi kompleks, yaitu titrasi yang
menggunakan reaksi antara logam dan ligan (Harvey, 2000).

Penentuan kesadahan sampel air dengan metode kompleksometri dilakukandenga


nmenggunakan larutan EDTA sebagai pentitrasi (titran). Titran yang digunakanuntuk
penentuan kadar kesadahan haruslah larutan baku primer. Karena larutan
EDTAmerupakan larutan baku sekunder, maka sebelum digunakan sebagai titran,
dilakukanstandarisasilarutan baku EDTA dengan larutan baku primer CaCo3 0,01 M dan
diperoleh konsentrasilarutan baku primer EDTA hasil standarisasi yaitu 0,074 M
.&ebelum penambahan indikator,larutan CaCO3 0,01 M dan sampel air dien'erkan
dengan aquades bertujuan untuk mencegah pengendapan CaCO3. Apabila kadar Ca2+
terlalu tinggi, endapan dapat muncul dalam waktu 5 menit, hal tersebut harus dicegah
karena akan mengurangi kadar kesadahan terlarut.semakin banyak ion Ca2+yang
terendapkan menyebabkan semakin sedikit ion Ca2+ yang berikatan dengan
EDTA,sehingga kadar kesadahan yang diperoleh menjadi lebih sedikit(tidak sesuai
kenyataan).

Pada standarisasi EDTA dan penentuan kesadahan total sampel air,dilakukan


penambahan buffer Ph 10 untuk menjaga keseimbangan ph (agar tidak terjadi perubahan
ph) sehingga dapat menghindari terjadinya pengendapan CaCO3 pada ph rendah,sebab
logam -logam alkali tanah seperti kalsium dan magnesium membentuk kompleks yang
tidak stabil dengan EDTA pada ph rendah dan mudah mengendap.indikator yang
digunakan berbentuk serbuk sebab indikator tersebut tidak stabil bila dalam bentuk
larutan.indikator EBT yang ditambahkan pada sampel air, akan membentuk kompleks
berwarna merah anggur dengan sejumlah kecil ion Ca2+.
H. Alat :

1) Erlenmeyer
2) Beaker Glass
3) Pipet Tetes
4) Pipet Volume 10 dan 100 mL
5) Burret
6) Statif Pengapit
7) Corong
8) Botol Semprot
9) Stand Buret
10)Ball piller ( Karet Penghisap )
I. Reagen :

1) ZnSO4 0,0100 M
2) Buffer pH 10
3) Na2EDTA 0,0100 M
4) Indikator Eriochrome Black T (EBT)
5) NaOH 1 N
6) Murexid
7) Aquades

J. Prosedur Kerja :

1) Standarisari Na2EDTA
a. Memipet 10,0 mL ZnSO4 0,0100 M, dimasukkan ke dalam erlemeyer.
b. Ditambahkan 2 mL Buffer pH 10 dan sedikit indikator EBT.
c. Dititrasi dengan Na2EDTA (merah anggur biru).
2) Kesadahan Jumlah (Total)
a. Memipet 50,0 mL sampel ke dalam erlemeyer.
b. Ditambahkan 1 mL Buffer pH 10 dan sedikit indikator EBT.
c. Dititrasi dengan Na2EDTA (merah anggur biru).
3) Kesadahan Ca (Kalsium)
a. Memipet 50,0 mL sampel ke dalam erlemeyer.
b. Ditambahkan 2 mL NaOH 1 N dan sedikit Murexid pH 12.
c. Dititrasi dengan Na2EDTA (merah muda ungu).
K. Hasil :
Perhitungan
1) Standarisasi Na2EDTA
Vol. ZnSO4 0,0100 M (mL) Vol. Titrasi Na2EDTA (mL)
10,0 0,00 ml – 10,00 ml
10,0 0,00 ml – 11,00 ml
Vol.rata – rata 10,0 0,00 ml – 10,50 ml

Molaritas Na2EDTA sebenarnya :

V1 x M1 = V2 x M2
10,50 x M1 = 10,0 x 0,01
10,0 X 0,01
M1 = 10,50

M Na2EDTA = 0, 0095 M

2) Kesadahan Jumlah
Vol. ZnSO4 0,0100 M (mL) Vol.Titrasi Na2EDTA 0,0095 M (ml)
50,0 0,00 ml – 12,60 ml
50,0 0,00 ml – 12,40 ml
Vol. rata-rata 50,0 0,00 ml – 12,50 ml

Kadar kesadahan jumlah sampel adalah :


1000
Sp1 = x (V x M) Na2EDTA x BM CaCO3 (100)
Vsp
1000
= x (12,60 x 0.0095 M) mL x 100
50 mL

= 239,40 mg/L

1000
Sp2 = x (V x M) Na2EDTA x 100
Vsp
1000
= x (12,40 x 0.0095 M) mL x 100
50 mL

= 235,60 mg/L
Kadar kesadahan jumlah rata-rata sampel sebesar
VSp1 +VSp2 239,40 mg/L +235,60 mg/L
= = = 237,50 mg/L
2 2

3) Kesadahan Ca
Vol. ZnSO4 0,0100 M (mL) Vol.Titrasi Na2EDTA 0,0095 M (ml)
50,0 7,85
50,0 7,61
V rata-rata 50,0 7,73

Kadar kesadahan Ca adalah :


1000
Sp1 = x (V x M) Na2EDTA x BM Ca (40)
Vsp
1000
= 50 mL
x (7,85 x 0.0095 M) mL x 40

= 59,66 mg/L

1000
Sp2 = x (V x M) Na2EDTA x BM Ca (40)
Vsp
1000
= x (7,61 x 0.0095 M) mL x 40
50 mL

= 57,83 mg/L

Kadar kesadahan jumlah rata-rata pada sampel sebesar:


VSp1 +VSp2 59,66 mg/L + 57,83 mg/L
V = = = 58,74 mg/L
2 2

L. Pembahasan :
Titrasi kompleksometri yaitu titrasi berdasarkan pembentukan persenyawaan
kompleks (ion kompleks atau garam yang sukar mengion). Pada praktikum ini, diperoleh
volume rata-rata titrasi pada standarisasi Na2EDTA dengan ZnSO4 0,0100 M adalah
10,50 ml. Pada penentuan kesadahan total diperoleh pH sampel 10 dengan volume titrasi
rata-rata 12,50 ml. kesadahan total yang diperoleh adalah 237,50 mg/L. Sedangkan
kesadahan Ca sebesar 58,74 mg/L. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia Nomor: 492/Menkes/Per/IV/2010 tentang pengawasan dan syarat-syarat
kualitas air menyatakan bahwa kesadahan air maksimum yang diperbolehkan adalah 500
mg/L. Ini berarti sampel air yang digunakan ketika praktikum masih layak digunakan.
pH yang digunakan diusahakan 10, karena apabila pH kurang dari 10 akan susah
membentuk warna biru keunguan atau timbul warna biru keunguan sangat lambat.
Sebaliknya, bila pH lebih dari 10, maka akan menimbulkan endapan.
Air dengan kesadahan tinggi tidak baik digunakan karena busa tidak akan terbentuk
jika ditambahkan sabun sehingga fungsi sabun tidak maksimal. Selain itu juga
membentuk endapan scum atau kerak pada ketel saat pemanasan. Kesadahan dapat
hilang dengan beberapa cara. Yang paling baik adalah dengan menggunakan reverse
osmosis (RO) atau deionizer (DI). Buruknya, metode ini tergolong mahal. Hasil reverse
osmosis akan memiliki menurunkan tingkat kesadahan menjadi 0(nol). Selain itu, resin
pelunak air komersial dapat digunakan dalam skala kecil, meskipun tidak efektif. Selain
itu teknik ini juga tidak efektif untuk skala besar. Pengenceran dengan menggunakan air
destilasi dapat pula dilakukan untuk menurunkan kesadahan.

M. Kesimpulan :
Berdasarkan pembahasan, diperoleh kesimpulan kesadahan total yang diperoleh
adalah 237,50 mg/L, sedangkan kesadahan Ca sebesar 58,74 mg/L dan sampel ini masih
layak digunakan. Normalitas standarisasi Na2EDTA dengan ZnSO4 0,0100 M adalah
0,0095 M

N. Daftar Pustaka :

Hermanysah, W., 2010, Analisis Kesadahan Air. UGM. Yogyakarta.


https://anasunni.wordpress.com/2012/12/12/laporan-resmi-praktikum-kimia-dasar-
analisis-kesadahan-air/ diakses tanggal 10 Mei 2018.
Lestari, M. A., 2013, Analisis Kesadahan Air Drngan Metode Titrasi Kompleksomerti.
Batu
http://ariiarie08.blogspot.co.id/2013/09/analisa-kesadahan-air-dengan-metode.html
diakses tanggal 10 Mei 2018.

Harvey, D. 2000. Modern Analytical Chemistry. Boston: The McGraw-Hill Companies,


314-316.
Bintoro, 2008, Penentuan Kesadahan Sementara dan Kesadahan
Permanen, http://aabin.blogsome.com
https://id.scribd.com/doc/267909799/Penentuan-Kesadahan-Sampel-Air-Dengan-
Metode-Kompleksometri-Dilakukan-Denganmenggunakan-Larutan-EDTA-Sebagai-
Pentitrasi

O. Lampiran gambar :

Gambar 1 : Hasil Akhir Titrasi kesadahan Total

Gambar 2 : Hasil Akhir Titrasi Kesadahan Ca


LAPORAN PRAKTIKUM 2

KLORIDA DENGAN METODE ARGENTROMETRI MOHR

A. Hari/Tanggal : Kamis, 5 April 2018

B. Judul : Penetapan Kadar Klorida (Cl-)

C. Tujuan :

1. Penetapan konsentrasi larutan AgNO3 dengan larutan NaCl 0,1N.


2. Penetapan kadar Cl dalam sampel dengan metode mohr.
D. Metode : Argentrometri Mohr

E. Reaksi :

1. Reaksi Pembakuan
AgNO3(aq) + NaCl(aq)→ AgCl(s) ↓ putih + NaNO3(aq)
2AgNO3(aq) + K2CrO4(aq) → Ag2CrO4(s)↓merah bata + 2KNO3(aq)
2. Reaksi sampel
AgNO3 (aq) + Cl- (aq) → AgCl (s) ↓ (putih) + NO3- (aq)
K2CrO4 (aq) + 2AgCl (aq) → Ag2CrO4 (s) ↓ (endapan merah bata) + 2KCl (aq)

F. Prinsip :

Sejumlah tertentu sampel yang mengandung ion Cl- diendapkan dengan


penambahan larutan AgNO3 0,01 N dalam keadaan netral atau basa lemah. Kemudian
dititrasi menggunakan indikator MgO dengan titik akhir titrasi dicapai pada saat larutan
berubah dari warna kuning sampai berubah atau terbentuk warna merah bata.

G. Dasar teori :
Khlorida terdapat dalam setiap air minum dan selokan. Pada umumnya sebagai
garam netalik. Apabila dalam air minum terdapat natrium dan konsentrasi khlorida
sebesar 200 mg/L, maka akan menyebabkan rasa air menjadi pahit. Khlorida sangat
bermanfaat dalam makanan. Khlorida masuk melalui sistem pencernaan tanpa
mengalami perubahan. Penggunaan zeolit (zat penurun kesadahan air) didalam sabun
dapat menyebabkan khlorida dalam jumlah besar didalam air limbah.
Khlorida didalam air ada dalam bentuk terikat atau bebas sebagai ion Cl-. Penetapan
khlorida sangat penting untuk penetapan zat organik selain itu kandungan khlorida yang
tinggi didalam air dapat menyebabkan rasa asin dan endapan korosif pada peralatan
masak dan dapat merusak pipa-pipa air juga dapat mematikan tanaman. Pada umumnya
air buangan mengandung khlorida lebih tinggi dibandingkan dengan air tanah karena
sudah terkontaminasi, konsentrasi khlorida maksimum menurut SNI 06-6989.22-2004
adalah 300 mg/L ppm. Ketetapan ini hanyalah untuk mencegah perubahan rasa air dan
bukan sebagai pencegah bahaya fisik.
Air mineral adalah air yang bebas dari mikroorganisme dan logam-logam berat yang
layak untuk dikonsumsi. Air mineral biasanya diproduksi untuk dipasarkan sehingga
kualitasnya harus memenuhi persyaratan untuk memenuhi persyaratan Standar Nasional
Indonesia.

H. Alat :
1) Erlenmeyer
2) Beaker Glass
3) Pipet Tetes
4) Pipet Volume 10 dan 100 mL
5) Burret
6) Klem Pengapit
7) Stand buret
8) Corong
9) Botol Semprot
10) Ball piler ( Karet Penghisap )

I. Reagen :
1) AgNO3 0,02 N
2) NaCl 0,0200 N
3) K2CrO4 5%
4) MgO
J. Prosedur Kerja :
1) Standarisari AgNO3 0,02 N
a. Memipet 10,0 mL NaCl 0,0200 N, dimasukkan ke dalam erlemeyer.
b. Ditambahkan 1 mL K2CrO4 5% dan seujung sendok serbuk MgO.
c. Dititrasi dengan AgNO3 (kuning endapan merah bata).
2) PK Klorida
a. Memipet 50,0 mL sampel ke dalam erlemeyer.
b. Ditambahkan 1 mL K2CrO4 5% dan seujung sendok serbuk MgO.
c. Dititrasi dengan AgNO3 (kuning endapan merah bata).
K. Hasil :
1) Standarisasi AgNO3
Vol. NaCl 0,0200 N (mL) Vol.Titrasi AgNO3 (mL)
10,0 0,00 ml – 19,30 ml
10,0 0,00 ml – 19,40 ml
Vol.rata – rata 10,0 0,00 ml – 19,35 ml

Normalitas Na2EDTA sebenarnya :

V1 x N1 = V2 x N2
8,80 x N1= 10,0 x 0,0200
10,0 X 0,0200
N1 = 19,35

N Na2EDTA = 0,0103 N

2) PK Klorida
Vol. sampel (mL) Vol.Titrasi AgNO3 0,0103 N (mL)
50,0 0,00 ml – 4,60 ml
50,0 0,00 ml – 4,40 ml
Vol.rata – rata 50,0 0,00 ml – 4,50 ml
Kadar Klorida pada sampel adalah:

1000
VSp1 = x (V x M) AgNO3 x BE (Cl- ) 35,3
Vsp
1000
= x (4,60 x 0,0103) mL x 35,3
50 mL

= 33,63 mg/L
1000
VSp2 = x (V x M) AgNO3 x 35,3
Vsp
1000
= x (4,40 x 0,0103) mL x 35,3
50 mL

= 32,17 mg/L

Kadar kesadahan jumlah pada sampel sebesar:


VSp1 +VSp2 33,63 mg/L + 32,17 mg/L
V = = = 32,90 mg/L
2 2

L. Pembahasan :
Apabila dalam air minum terdapat natrium dan konsentrasi khlorida sebesar 200
mg/L, maka akan menyebabkan rasa air menjadi pahit. Khlorida sangat bermanfaat bagi
tubuh. Khlorida masuk melalui sistem pencernaan tanpa mengalami perubahan. Klorida
juga menjadi bagian penting dalam asam lambung yang berupa asam klorida (HCl),
dimana asam lambung ini merupakan salah satu bagian utama dalam sistem pencernaan
manusia.
Tingkat keasaman tubuh juga selalu dijaga dengan baik oleh kadar klorida. Ginjal
akan menentukan apakah perlu membuang klorida, yang berupa sodium klorida yang
masuk melalui sistem pencernaan, atau menyimpannya demi menyeimbangkan
keasaman tubuh. Diduga klorida juga membantu hati memproses pembuangan zat-zat
yang tidak dibutuhkan oleh tubuh.
Selain itu, klorida juga membantu tubuh dalam membuang zat karbondioksida yang
bersifat merusak kesehatan. Proses ini sendiri sangatlah kompleks dimana klorida
mengubah karbondioksida menjadi substansi bernama karbonat yang lebih mudah luruh
ke dalam darah. Oksigen dan karbondioksida adalah contoh bentuk unsur atau senyawa
yang tidak mudah diluruhkan ke dalam cairan darah manusia.
Untuk menghitung kadar khlorida dalam sampel air kolam ikan digunakan metode
Mohr dengan titrasi argentometri. Hal ini didasarkan pada peralatan dan reagen kimia
yang digunakan untuk analisa memadai. Selain itu metode ini dipilih karena biaya dan
pengalaman analisa yang mampu memperkecil %eror analisa. Dalam titrasi argentometri
digunakan larutan natrium klorida (NaCl) sebagai larutan baku primer dan larutan
AgNO3 sebagai larutan baku sekundernya. Titrasi ini didasarkan pada pengendapan yang
terbentuk antara ion Cl- dengan Ag+, sehingga menghasilkan perubahan warna dari
warna kuning menjadi merah bata.
Hal penting yang harus diperhatikan selama analisa adalah penimbangan dan
pengenceran yang teliti sangat diperlukan untuk menghasilkan data yang akurat. Hal lain
yang harus diperhatikan ialah pH larutan selama titrasi harus berada antara 6,5 – 9. Jika
larutan bersifat asam, maka akan terjadi reaksi:
2CrO42– + 2H+ ⇔ 2HCrO4– ⇔ Cr2O72– + H2O
Reaksi ini menyebabkan berkurangnya CrO4–, dan mungkin Ksp Ag2CrO4 tidak akan
terlampaui. Jika larutan bersifat basa akan terbentuk endapan AgOH. Untuk menetralkan
larutan yang asam dapat ditambahkan CaCO3 atau NaHCO3. sedangkan untuk larutan
yang basa dapat diatur pHnya dengan menambahkan asam asetat, lalu ditambahkan
CaCO3 yang agak berlebih. Dipilih indikator K2CrO4 karena suasana indikator
cenderung netral. Kalium kromat hanya bisa digunakan dalam suasana netral. Jika
kalium kromat pada reaksi dengan suasana asam, maka ion kromat menjadi ion bikromat.
Kandungan khlorida dalam air kolam ikan hasil analisa adalah 32,90 ppm sehingga
kandungan khlorida pada air ini berada dibawah ketentuan SNI yang sudah ditentukan,
yaitu memiliki batas maksimal khlorida dalam kolam ikan sebesar 300 mg/L (ppm)
berdasarkan SNI 06-6989.22-2004. Hal tersebut memungkinkan kualitas yang baik dari
air kolam untuk ikan.

M. Kesimpulan :
Dari hasil analisis penetapan kadar khlorida (Cl-) pada sampel, kami dapat
menjelaskan kandungan khlorida dalam sampel sebesar 32,90 mg/L.

N. Daftar Pustaka :
Kristalini, W., 2014.Laporan Titrasi Pengendapan – Argentometri
http://wangikristalini.blogspot.co.id/2014/01/laporan-titrasi-pengendapan-
argentometri.html diakses tanggal 10 Mei 2018
Fakhru, A., 2016. Penentuan Kadar Klorida (Cl-) Dalam Sampel Air
http://fawinas.blogspot.co.id/2016/03/penentuan-kadar-klorida-cl-dalam-sampel.html
diakses tanggal 10 Mei 2018
Gracia W.,2015, Penentuan Kadar Klorida Secara Mohr, univesitas lampung, Bandar
lampung.
http://anotherwayangracias.blogspot.co.id/2016/01/laporan-praktikum-penentuan-
kadar.html diakses tanggal 10 Mei 2018

O. Lampiran Gambar

Gambar 3 : Warna Sebelum Titrasi kadar Klorida

Gambar 4 : Warna Setelah Titrasi Kadar Klorida


LAPORAN PRAKTIKUM 3

PEMERIKSAAN Cr

A. Hari/Tanggal : Kamis, 19 April 2018

B. Tujuan : Untuk mengetahui kadar Cr pada sampel

C. Metode : Spektrofotometer

D. Prinsip :

Ion Cr dalam susasan asam bereaksi dengan difenilkarbazid menghasilkan senyawa


berwarna merah ungu dan warna yang dihasilkan diukur dengan spektrfotometer UV-Vis
pada panjang gelombang 540 nm.

E. Dasar Teori :
Logam Cr yang memiliki efek toksisitas yang sangat tinggi adalah Cr(VI). Untuk
menganalisis Cr(VI) dapat dilakukan dengan menggunakan spektrfotometer UV-Vis
yaitu dengan penambahan senyawa pengompeks difenilkarbazid. Difenilkarbazid
berperan sebagai igan yang bersifat bidentat yang akan menyumbangkan dua atom donor
dalam pembentukan ikatan. Mekanisme pembentukan kompeks antara Cr(VI) dan difenil
karbazid juga melalui reaksi oksidasi dan reduksi.
Krom sebagai salah satu logam berat berpotensi sebagai pencemar akibat kegiatan
pewarnaan kain pada industri tekstil, cat, penyamakan kulit, pelapisan logam, baterai
atau industri krom. Krom melalui rantai makanan dapat terdeposit dalam bagian tubuh
makhluk hidup dan pada ukuran tertentu dapat menyebabkan racun. Umumnya krom di
alam berada pada tingkat oksidasi 3 (Cr3+) dan 6 (Cr6+) 5.
F. Alat :
1) Labu 50ml
2) Labu 100ml
3) Buret
4) Gelas ukur
5) Ball pipet
6) Pipet volume 10ml
7) Pipet ukur 10ml
8) Pipet tetes
9) Beaker glass
10) Cuvet
G. Bahan :
1) Aquadest
2) Larutan Baku Cr 10 ppm
3) Pereaksi difenil karbazid

H. Prosedur
1. Blangko
Aquades hingga 45ml (sebelum tanda batas)
2. Baku :
 Membuat baku 10 ppm 100ml dari baku 100 ppm
V1 x ppm1 = V2 x ppm2
100 ml x 10 ppm = V2 x 100 ppm
100 X 10
V2 = 100

V2 = 10,0 ml
 Pipet 10,0 ml Masukan dalam labu ukur 100 ml, addkan aquades sampai tanda
batas,
 Buat baku 0,1-0,5 ppm (50ml) dari baku 10 ppm
Ppm 0,1 0,2 0,3 0,4 0,5
V (ml) 0,5 1,0 1,5 2,0 2,5
 Tambahkan aquades hingga volumenya setinggi blangko 45ml
3. Sampel
 10,0 ml sampel, masukkan kedalam labu 50ml
 Tambahkan aquades hingga volume sama seperti blangko
4. Blangko, baku, sampel
 Tambahkan dengan reagen difenilkarbazid 2,5 ml – ungu
 Tepatkan aquades sampai tanda batas, homogenkan
 Tuang pada kuvet, dibaca pada panjang gelombang 540 nm.
I. Hasil dan Perhitungan

Baku Cr Absorbance
Blanko 0,0000
Baku 0,1 ppm 0,290
Baku 0,2 ppm 0,439
Baku 0,3 ppm 0,576
Baku 0,4 ppm 0,677
Baku 0,5 ppm 0,799
Sampel 1 0,445
Sampel 2 0,381

Perhitungan :
Pengenceran = 50/10 = 5x
Konsentrasi baku yang mendekati sampel baku 0,439 – 0,2 ppm.
Sampel 1
𝑎𝑏𝑠 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙
Kadar Sp Cr (1) = x Konsentrasi baku x Pengenceran
𝑎𝑏𝑠 𝑏𝑎𝑘𝑢
0,445
= 0,439 x 0,2 x 5

= 1,01 ppm

Sampel 2
𝑎𝑏𝑠 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙
Kadar Sp Cr (2) = 𝑎𝑏𝑠 𝑏𝑎𝑘𝑢
x Konsentrasi Baku x Pengenceran
0,381
= 0,439 x 0,2 x 5

= 0,88 ppm

𝑘𝑎𝑑𝑎𝑟 𝑠𝑝 𝐶𝑟 (1)+ 𝑘𝑎𝑑𝑎𝑟 𝑠𝑝 𝐶𝑟 (2)


Rata-rata = 2
1,01+ 0,88
= 2

= 0,94 ppm
J. Pembahasan
Prinsip kerja spektrofotometer Uv-Vis adalah interaksi yang terjadi antara energi
yang berupa sinar monokromatis dari sumber sinar dengan materi yang berupa molekul.
Besar energi yang diserap tertentu dan menyebabkan elektron tereksitasi dari ground
state ke keadaan tereksitasi yang memiliki energi lebih tinggi. Serapan tidak terjadi
seketika pada daerah ultraviolet-visible untuk semua struktur elektronik tetapi hanya
pada sistem-sistem terkonjugasi, struktur elektronik dengan adanya ikatan dan non
bonding eektron. Untuk ebih singkatnya adalah interaksi panjang gelombang dengan
materi yang berupa senyawa berwarna atau senyawa kompeks.
Kromium merupakan saah satu ogam berat unsur transisi golongan 6B, mempunyai
nomor atom 24, massa atom 51,996 g/mol, massa jenis 7,9 g/cm3, titk didih 2658 derajat
C, dan titik leleh 1875 derajat C. kromium dapat membentuk tiga macam senyawa yang
berasa dari proses oksidasi kromium heksavalen (+6). Kromium heksavaen adalah
Cr)42- dan Cr2O72-, sedangkan bentuk kromium trivaen adaah Cr3+,[Cr(OH)]2+,
[Cr(OH)2]+ dan [Cr(OH)4]-.
Kromium trivaen termasuk ogam esensial yang dalam dosis 20-50 mikrogram per
100 gram bobot badan berperan dalam proses metabolisme karbohidrat, lipid, asam
nukleat, pengaturan kadar gukosa, dan sistesis protein. Sebaliknya kromium heksavalen
bersifat sangat toksik yang dapat menyebabkan kerusakan hati, ginjal, pendarahan dalam
tubuh, dermatitis, sauran pernafasan, dan kanker paru-paru.
Metode umum yang dignakan untuk pengukuran kadar kromium total dan
heksavalen adalah spektrofotometer UV-Vis. Metode ini didasarkan pada pengukuran
serapan larutan berwarna ungu kemerahan yang menunjukkan terbentuknya kompleks
antara difeni karbazid (C6H5NHNH)2CO dan kromium heksavaen. Reaksi kromium
dengan difeni karbazid sangat sensitif pada panjang geombang 540 nm. Reaksinya
adalah sebagai berikut:

Menurut Menteri Negara Lingkungan Hidup nomor tahun 2010 tentang Baku Mutu
Limbah Cair bagi kegiatan industri batas maksimal krom heksavalen (Cr6) yang
diperboehkan dibuang ke lingkungan adalah 0,5 ppm. Oleh karena itu logam kromium
yang termasuk logam berat dan termasuk dalam golongan B3 (Bahan Berbahaya dan
Beracun) harus dioah terebih dahuu hingga konsentrasinya di bawah batas yang diijinkan
sebelum dibuang ke lingkungan. Kadar yang didapat pada hasil analisisi kali ini adaah
0,94 ppm, jadi sudah tidak layak, oleh sebab itu sebaiknya diolah lagi agar menjaga
lingkungan ini tetap sehat dan aman.

K. Kesimpulan
Dari praktikum yang dilakukan untuk penentuan kadar Cr pada sampel Cr didapatkan
kadar Cr 0,94 ppm dan didapatkan R2 : 0,9613 .

L. Daftar Pustaka :
Sunardi. 2007. Petunjuk Praktikum Analisis Pengolahan Limbah. Surakarta : Jurusan D-
III Analis Kimia Fakultas Teknik Universitas Setia Budi.
Santoso joko,Nucahyo heru, dan Riyanta aldi. 2016. Analisis Kandungan Krom Yang
Terdapat Pada Sungai Kelurahan Pasurungan Kidul. Politekhnik harapan,Tegal.
M. Lampiran Gambar

Gambar 5 : Larutan Baku Seri Cr (Krom)

KURVA BAKU SERI Cr


0.9
y = 1.5123x + 0.0854
0.8 R² = 0.9613
0.7
0.6
0.5
y
0.4
Linear (y)
0.3
0.2
0.1
0
0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6

Gambar 6 : Kurva Baku Seri Cr (Krom)


LAPORAN PRAKTIKUM 4
PENETAPAN KADAR NO2

A. Hari/tanggal : Kamis, 19 April 2018


B. Tujuan : Untuk mengetahui kadar NO2 dalam sampel air
C. Metode : Spektrofotometer
D. Prinsip :
Penetapan kadar nitrit melalui pembentukan warna senyawa azo yang
berwarna ungu kemerah-merahan pada pH 2,0-2,5 melalui penggabungan senyawa
asam sulfanilat dengan N - (1-naftil) - etilen diamin dihidroklorida. Warna yang
dihasilkan diukur dengan spektrofotometer pada  520 nm.
E. Reaksi :

F. Dasar teori :
Nitrit merupakan bentuk Nitrogen yang teroksidasi, dengan tingkat oksidasi +3.
Nitrit biasanya tidak bertahan lama dan merupakan keadaan sementara proses oksidasi
antara amoniak dan nitrat, yang dapat terjadi pada instalasi pengolahan air buangan, air
sungai, dan system drainase. Pada air minum nitrit berasal dari bahan inhibitor korosi
pada pabrik dengan system distribusi PAM.
Nitrit membahayakan kesehatan karena bereaksi dengan hemoglobin dalam darah,
sehingga darah tidak dapat mengangkut oksigen lagi. Pada air buangan tertentu
menimbulkan nitrosamine yang menyebabkan kanker. Nitrit ( NO2 ) merupakan salah
satu bentuk senyawa Nitrogen, dalam hal ini nitrit adalah derivat senyawa nitrogen. Nitrit
dalam bentuk senyawa ionik di simbolkan dengan NO2- yang merupakan hasil oksidasi
senyawa ammonia (NH3 dan NH4+ ). Proses oksidasi ini berlangsung dengan bantuan
bakteri nitrifikasi yaitu bakteri nitrosomonas. Jika oksidasinya berlanjut maka akan
menghasilkan nitrat. Proses reduksi nitrit ( NO2 ) akan menghasilkan nitrogen bebas (
N2 ) di udara. Proses oksidasi pada ammonia menjadi nitrit memerlukan oksigen bebas
dalam air. Reaksi terjadi dalam satu tahap saja, yaitu :
Nitrosomonas
2 NH4+ + 3 O2 2 NO2- + 4 H+ + 2 H2O
Nitrosomonas
NH3 + oksigen NO2- + energy
Adanya nitrit ( NO2 ) dalam air minum / air bersih dapat di deteksi dan di analisa.
Dalam hal ini nitrit di tentukan dengan alat spektrofotometer.
Spektrofotometri UV-VIS adalah pengukuran serapan cahaya di daerah
ultraviolet(200 – 350 nm) dan sinar tampak (350 – 800 nm) oleh suatu senyawa. Serapan
cahaya UV atau VIS (cahaya tampak) mengakibatkan transisi elektronik, yaitu promosi
elektron-elektron dari orbital keadaan dasar yang berenergi rendah ke orbital keadaan
tereksitasi berenergi lebih tinggi.
Prinsip dari spektrofotometri UV-VIS senyawa yang menyerap cahaya dalamdaerah
tampak (senyawa berwarna) mempunyai elektron yang lebih mudah dipromosikandari
pada senyawa yang menyerap pada panjang gelombang lebih pendek. Jika radiasi
elektromagnetik dilewatkan pada suatu media yang homogen, maka sebagian radiasi
ituada yang dipantulkan, diabsorpsi, dan ada yang transmisikan. Radiasi yang
dipantulkandapat diabaikan, sedangkan radiasi yang dilewatkan sebagian diabsorpsi dan
sebagian lagi ditransmisikan. Nitrat dibentuk dari Asam Nitrit yang berasal dari ammonia
melalui proses oksidasi katalitik.Nitrat adalah bentuk senyawa yang stabil dan
keberadaannya berasaldari buangan pertanian,pupuk, kotoran hewan dan manusia dan
sebagainya. Nitrat dalam air dengan suasana asam (dengan penambahan dan asam
sulfanilat) membentuk senyawa kompleks yang berwarna kuning. Warna kuning yang
terjadi diukur intensitasnya dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 520 nm.

G. Alat dan Bahan :


1) Labu 50ml
2) Labu 100ml
3) Buret + statif
4) Gelas ukur
5) Ball pipet
6) Pipet volume 10ml
7) Pipet ukur 10ml
8) Pipet tetes
9) Beaker glass
10) Cuvet
11) Reagen Griees
12) Sampel NO2

H. Prosedur Kerja :
1. Blangko : masukkan aquades sampai 45ml dibawah tanda batas
2. Baku :
 Membuat baku 10 ppm dalam labu ukur 100ml dari baku 100 ppm
V1 x ppm1 = V2 x ppm2
100 ml x 10 ppm = V2 x 100 ppm
100 X 10
V2 = 100

V2 = 10,0 ml
 Pipet 10,0 ml lalu Masukkan kedalam labu 100ml, addkan aquades sampai tanda
batas.
 Buat baku 0,1-0,5 ppm (50ml) dari baku 10 ppm
ppm 0,1 0,2 0,3 0,4 0,5
V (ml) 0,5 1,0 1.5 2,0 2,5
 Tambahkan aquades hingga volumenya setinggi blangko 45ml
3. Sampel
 10,0 ml sampel, masukkan kedalam labu 50ml
 Tambahkan aquades hingga volume sama seperti blangko 45 ml
4. Blangko, baku, sampel
 Tambahkan dengan reagen griees
 Tepatkan aquades sampai tanda batas, homogenkan
 Tuang pada kuvet, dibaca pada panjang gelombang 520 nm.
I. Hasil dan Perhitungan :

Baku No2 Absorbance


Blanko 0,0000
Baku 0,1 ppm 0,091
Baku 0,2 ppm 0,179
Baku 0,3 ppm 0,297
Baku 0,4 ppm 0,397
Baku 0,5 ppm 0,499
Sampel 1 0,222
Sampel 2 0,225

 Perhitungan
50
Pengenceran = 10 = 5x

Konsentrasi baku yang mendekati sampel baku 0,179 – 0,2 ppm.


Sampel 1
𝑎𝑏𝑠 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙
Kadar Sp NO2 (1) = x Konsentrasi Baku x Pengenceran
𝑎𝑏𝑠 𝑏𝑎𝑘𝑢
0,222
= 0,179 x 0,2 x 5

= 1,2402 ppm
Sampel 2
𝑎𝑏𝑠 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙
Kadar Sp NO2 (2) = x Konsentrasi Baku x Pengenceran
𝑎𝑏𝑠 𝑏𝑎𝑘𝑢
0,225
= 0,179 x 0,2 x 5

= 1,2569 ppm

𝑘𝑎𝑑𝑎𝑟 𝑠𝑝 𝑁𝑂2 (1)+ 𝑘𝑎𝑑𝑎𝑟 𝑠𝑝 𝑁𝑂2 (2)


Rata-rata = 2
1,2402+ 1,2569
= 2

= 1,2485 ppm
J. Pembahasan :
Praktikum ini bertujuan untuk menentukan konsentrasi nitrit dalam air pada sampel .
Nitrit ( NO2 ) merupakan salah satu bentuk senyawa Nitrogen, dalam hal ini nitrit adalah
derivat senyawa nitrogen. Proses oksidasi pada ammonia menjadi nitrit memerlukan
oksigen bebas dalam air. Reaksi terjadi dalam satu tahap saja. Adanya nitrit ( NO2 )
dalam air minum / air bersih dapat di deteksi dan di analisa. Dalam hal ini nitrit di
tentukan dengan alat spektrofotometer. Sampel air ini ditentukan konsentrasi nitrit
dengan menggunakan spektrofotometri.
Percobaan yang dilakukan pertama kali adalah memipet sampel air (1,0 ml; 2,0 ml;
5,0 ml;10,0 ml) dimasukkan dalam labu takar 50 ml setelah itu menambahkan reagen
grees, kemudian menambahkan aquadest sampai garis 50 ml, lalu membuat standard
dengan memipet larutan standar nitrit dan diperlakukan seperti sampel (prosedur 1-
3),setelah itu membuat blanko sampel diganti dengan aquadest, selanjutnya diukur
absorbansinya pada panjang gelombang 520 nm.
Sampel setelah diukur absorbansi sebesar 0,222 dan 0,225 sehingga nilai rata-rata
kadar Nitrit yang diperoleh setelah perhitungan sebesar 1,2485 ppm.

K. Kesimpulan :
Berdasarkan praktikum Penentuan Kadar Nitrit Secara Spektrofotometri yang sudah
dilakukan, dapat disimpulkan bahwa pada sampel kadar nitrit sebesar 1,2485 ppm dan
didapatkan R2 : 0,9983 .

L. Daftar Pustaka :
Sunardi. 2007. Petunjuk Praktikum Analisis Pengolahan Limbah. Surakarta : Jurusan D-
III Analis Kimia Fakultas Teknik Universitas Setia Budi.
M. Lampiran Gambar

Gambar 7 : Larutan Baku Seri No3 (Nitrit)

KURVA BAKU SERI NITRIT


0.6
y = 1.0089x - 0.0084
0.5 R² = 0.9983

0.4

0.3 y

0.2 Linear (y)

0.1

0
0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6
-0.1

Gambar 8 : Kurva Baku Seri No3 (Nitrit)


LAPORAN PRAKTIKUM AMAMI
PENENTUAN KADAR Cu

A. Hari/Tanggal : Kamis, 19 April 2018

B. Tujuan : Untuk mengetahui kadar Cu dalam air

C. Metode : Spektrofotometri

D. Prinsip :

Ion tembaga dalam suasana basa dengan Na dietil ditiokarbamat membentuk

senyawa kompleks koloid coklat kekuningan, tetapi bila kadar Cu tingai koloid akan

terjadi kekeruhan. Intensitas warna diukur pada  480 m.

E. Reaksi :

F. Dasar teori :
Keberadaan logam berat di perairan dapat berasal dari berbagai sumber, antara
lain dari kegiatan pertambangan, rumah tangga limbah pertanian dan limbah industri.
Pencemaran yang dihasilkan dari logam berat sangat berbahaya karena bersifat toksik,
logam berat juga akan terakumulasi dalam sedimen dan biota melalui proses gravitasi.
Salah satu logam berat yang termasuk bahan beracun dan berbahaya adalah tembaga
(Cu), yaitu salah satu logam berat yang banyak dimanfaatkan dalam industri, terutama
dalam industri elektroplating, tekstil dan industri logam. Ion Cu dapat terakumulasi di
otak, jaringan kulit, hati, pankreas dan miokardium.
Tembaga dengan nama kimia cupprum dilambangkan dengan Cu. Unsur
logam ini berbentuk kristal dengan warna kemerahan. Tembaga menempati posisi
dengan nomor atom (NA) 29 dalam tabel periodik unsur-unsur kimia dan mempunyai
bobot atau berat atom (BA) 63,546 g/mol (Palar, 2004). Keberadaan logam Cu di alam
dapat ditemukan dalam bentuk logam bebas, akan tetapi lebih banyak ditemukan dalam
bentuk persenyawaan. Tembaga merupakan unsur logam esensial yang dibutuhkan agar
eritrosit dapat berkembang secara tepat. Tembaga mempermudah penyerapan Fe dalam
sintesis hemoglobin. Oleh karena itu, kekurangan Cu akan menyebabkan anemia. Pada
konsentrasi 0,01 ppm fitoplankton akan mati karena Cu menghambat aktivitas enzim
dalam pembelahan sel fitoplankton. Konsentrasi Cu dalam kisaran 2,5-3,0 ppm dalam
badan perairan akan membunuh ikan-ikan.

G. Alat dan Bahan :


1) Labu 50ml
2) Labu 100ml
3) Buret + statif
4) Gelas ukur
5) Ball pipet
6) Pipet volume 10ml
7) Pipet ukur 10ml
8) Pipet tetes
9) Beaker glass
10) Cuvet
11) Reagen NH4OH 5%
12) Na Dietil ditiokarbonat
13) Sampel Cu

H. Prosedur Kerja :
1. Blangko : masukkan aquades sampai 35ml dibawah tanda batas labu 50ml
2. Baku :
 Membuat baku 10 ppm dalam labu ukur 100ml dari baku 100 ppm
V1 x ppm1 = V2 x ppm2
100 ml x 10 ppm = V2 x 100 ppm
100 X 10
V2 = 100

V2 = 10,0 ml
 Pipet 10,0 ml lalu Masukkan kedalam labu 100ml, addkan aquades sampai tanda
batas.
 Buat baku 1-5 ppm (50ml) dari baku 10 ppm
Ppm 1 2 3 4 5
V (ml) 5 10 15 20 25
 Tambahkan aquades hingga volumenya setinggi blangko 35ml
3. Sampel
 10,0 ml sampel, masukkan kedalam labu 50ml
 Tambahkan aquades hingga volume sama seperti blangko

4. Blangko, baku, sampel


 Tambahkan dengan 5 ml NH4OH dan 5,0 ml Na dietil ditiokarbonat.
 Tepatkan aquades sampai tanda batas, homogenkan
 Tuang pada kuvet, dibaca pada panjang gelombang 480 nm.

I. Hasil dan Perhitungan :


Baku Cu Absorbance
Blanko 0,0000
Baku 1 ppm 0,241
Baku 2 ppm 0,263
Baku 3 ppm 0,391
Baku 4 ppm 0,522
Baku 5 ppm 0,557
Sampel 1 0,269
Sampel 2 0,304

 Perhitungan
Pengenceran = 50/10 = 5x
Konsentrasi baku yang mendekati sampel baku 0,263 – 2 ppm.
Sampel 1
𝑎𝑏𝑠 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙
Kadar Sp Cu (1) = x Konsentrasi Baku x Pengenceran
𝑎𝑏𝑠 𝑏𝑎𝑘𝑢
0,269
= 0,263 x 2 x 5

= 10,2281 ppm
Sampel 2
𝑎𝑏𝑠 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙
Kadar Sp Cu (2) = x Konsentrasi Baku x Pengenceran
𝑎𝑏𝑠 𝑏𝑎𝑘𝑢
0,304
= 0,263 x 2 x 5

= 11,5589 ppm

𝑘𝑎𝑑𝑎𝑟 𝑠𝑝 𝐶𝑢 (1)+ 𝑘𝑎𝑑𝑎𝑟 𝑠𝑝 𝐶𝑢 (2)


Rata-rata = 2
10,2281 + 11,5589
= 2

= 10,8935 ppm

J. Pembahasan :
Keberadaan Cu di lingkungan perlu mendapat perhatian mengingat kecilnya batas
konsentrasi yang diijinkan. Berdasarkan keputusan menteri negara KLH Kep. 02/ Men-
KLH/1998 tentang Pedoman Penetapan Baku Mutu Lingkungan, keberadaan Cu dalam
lingkungan diharapkan nihil, sedangkan batas maksimal yang diperbolehkan adalah 1
ppm. Mengingat kecilnya batas konsentrasi yang diperbolehkan dan pengaruh dari
toksisitas logam berat Cu, maka diperlukan adanya metode analisis yang memiliki
ketelitian dan ketepatan tinggi. Metode analisis kuantitatif yang dapat dilakukan adalah
sensor kimia berbasis reagen kering yang dideteksi secara spektrofotometri.
Dalam praktikum yang dilakukan pada penentuan kadar Cu dengan spektrofotometri
dilakukan dua kali pengulangan sampel atau duplo yang diperoleh hasil dari Cu sampel 1
adalah 10,2281 ppm dan Cu sampel 2 adalah 11,5589 ppm.
K. Kesimpulan :
Dari hasil praktikum, dapat disimpulkan kadar Cu sampel rata rata adalah 10,8935 ppm
dan didapatkan R2 : 0,9443 .

L. Daftar Pustaka :
Rochyatun, E., Taufik, M. K. dan Abdul, R. (2006). Distribusi Logam Berat dalam Air
dan Sedimen di Perairan Muara Sungai Cisadane. Jurnal Makala Sains, Vol 35-40.
10, No 1, Hal 35-40
M. Lampiran Gambar

Gambar 9 : Larutan Baku Seri Cu

KURVA BAKU SERI Cu


0.7 y = 0.1073x + 0.0607
R² = 0.9443
0.6

0.5

0.4
Y
0.3
Linear (Y)
0.2

0.1

0
0 1 2 3 4 5 6

Gambar 10 : Kurva Baku Seri Cu (Tembaga)


LAPORAN PRAKTIKUM 6

IDENTIFIKASI NAPZA

A. Hari/Tanggal : Kamis, 26 April 2018

B. Tujuan :
1) Mendeteksi ada tidaknya kandungan Diazepam pada sampel.
2) Mendeteksi ada tidaknya kandungan Phenobarbital pada sampel.
C. Metode : Kromatografi Lapis Tipis
D. Prinsip :
Memisahkan sampel berdasarkan perbedaan kepolaran antara sampel dengan
pelarut yang digunakan. Tekhnik ini menggunakan fase diam dari bentuk plat silika dan
fase geraknya disesuaikan dengan jenis sampel yang ingin dipisahkan. Larutan atau
campuran yang akan digunakan yaitu eluen semakin dekat kepolaran antara sampel
dengan eluen maka sampel akan semakin terbawa oleh fase gerak tersebut.

E. Dasar Teori :
Narkoba adalah singkatan dari Narkotika, Psikotropika dan Bahan Adiktif berbahaya
lainnya yang merupakan bahan/zat yang jika dimasukan dalam tubuh manusia, baik
secara oral/diminum, dihirup, maupun disuntikan, dapat mengubah pikiran, suasana hati
atau perasaan, dan perilaku seseorang. Narkoba dapat menimbulkan ketergantungan
(adiksi) fisik dan psikologis.
Pemeriksaan konfirmasi adalah suatu pemeriksaan lanjutan yang lebih akurat karena
hasil yang dikeluarkan sudah definitive menunjukkan jenis zat narkotika/psikotropika
yang terkandung dalam sampel. Uji konfirmasi senyawa golongan narkotika atau
psikotropika pada urin pecandu narkoba dapat dilakukan dengan metode KLT.
Kromatografi lapis tipis (KLT) merupakan salah satu teknik yang sering digunakan
dalam mengidentifikasi suatu senyawa dalam analisis toksikologi dan digunakan secara
luas dalam pemisahan dan identifikasi obat karena teknik ini cepat, menghasilkan hasil
dengan sensitivitas yang tinggi serta memerlukan sedikit biaya.
Kromatografi Lapis Tipis (KLT) merupakan salah satu analisis kualitatif dari suatu
sampel yang ingin dideteksi dengan memisahkan komponen-komponen sampel
berdasarkan perbedaan kepolaran. Adapun prinsip kerjanya yaitu memisahkan sampel
berdasarkan perbedaan kepolaran antara sampel dengan pelarut yang digunakan. Teknik
ini biasanya menggunakan fase diam dari bentuk plat silika dan fase geraknya
disesuaikan dengan jenis sampel yang ingin dipisahkan. Larutan atau campuran larutan
yang digunakan dinamakan eluen. Semakin dekat kepolaran antara sampel dengan eluen
maka sampel akan semakin terbawa oleh fase gerak tersebut.
Pemeriksaan konfirmasi adalah suatu pemeriksaan lanjutan yang lebih akurat karena
hasil yang dikeluarkan sudah definitif menunjukkan jenis zat narkotika psikotropika yang
terkandung di dalam sampel tersebut. Pemeriksaan dilakukan apabila hasil pemeriksaan
pendahuluan (Screening Test) memberi hasil positif (Anonim, 2008).
Pada uji konfirmasi dengan KLT, setiap senyawa yang terlarut dalam fase gerak
memiliki hambatan yang berbeda saat bergerak pada fase diam. Besar hambatan ini dapat
dinyatakan dengan nilai Rf atau hRf (hRf = 100 Rf) (Sherma and Fried, 1996). Harga Rf
dapat dihitung dengan persamaan berikut :
Jarak yang ditempuh masing - masing senyawa
Rf 
jarak yang ditempuh fase gerak
Uji konfirmasi dilakukan dengan membandingkan nilai hRf analit dengan data
senyawa standar dan pustaka. Pada prakteknya, nilai hRf bervariasi karena pengaruh
faktor lingkungan seperti kejenuhan bejana kromatografi (chamber), pH medium, suhu
penguapan fase gerak pada plat, kadar analit yang ditotolkan (Sherma and Fried, 1996 ;
Flanagan et al., 2007).
Dalam uji konfirmasi ini, noda yang dihasilkan pada plat dari proses pemisahan
yang terjadi pada KLT nantinya akan dibaca pada sinar UV.

F. Alat :
1) Beaker Glass
2) Pipet Tetes
3) Pipet Volume 10 mL dan 1 mL
4) Kotak Sinar UV
5) Chamber
6) Cawan Petri
7) Tip Kuning
8) Botol Semprot
Reagen :
1) Akuades
2) Metanol
3) Etanol
4) Amonia Pekat
5) Etil Asetat
Sampel : Diazepam dan Phenobarbital

G. Prosedur Kerja :
1) Identifikasi Diazepam
a. Diambil bubuk yang diduga Diazepam sebagai sampel.
b. Dimasukkan dalam cawan porselin dan ditambah metanol 10 tetes.
c. Diisi Chamber dengan eluen = Kloroform : Metanol
9 : 1
d. Diletakkan kertas saring dalam Chamber sebagai penanda eluen telah jenuh.
e. Diambil baku yang sudah dilarutkan.
f. Ditotolkan baku dan sampel pada Kromatografi Lapis Tipis (KLT) baku
sebanyak 3X dan sampel sebanyak 5X.
g. Dimasukkan ke dalam Chamber yang berisi eluen. Kemudian diangkat saat
serapan eluen telah mencapai batas atas KLT. Didiamkan hingga kering.
h. Dibaca menggunakan sinar UV.

2) Identifikasi Phenobarbital
a. Diambil bubuk yang diduga Phenobarbital sebagai sampel.
b. Dimasukkan dalam cawan porselin dan ditambah etanol 10 tetes.
c. Diisi Chamber dengan = Etil Asetat : Etanol : Amonia pekat
8,5 : 1 : 0,5
d. Diletakkan kertas saring dalam Chamber sebagai penanda eluen telah jenuh.
e. Diambil baku yang sudah dilarutkan.
f. Ditotolkan baku dan sampel pada Kromatografi Lapis Tipis (KLT) baku sebanyak
3X dan sampel sebanyak 5X.
g. Dimasukkan ke dalam Chamber yang berisi eluen. Kemudian diangkat saat
serapan eluen telah mencapai batas atas KLT. Didiamkan hingga kering.
h. Dibaca menggunakan sinar UV
H. Hasil dan Perhitungan : :
1) Identifikasi Diazepam
Diketahui Jarak noda baku : 6,0 cm
Jarak noda sampel : 6,0 cm
Jarak eluasi : 7 cm

Jarak noda baku 6,0


Rf baku = = = 0,85 cm
Jarak eluasi 7

Jarak noda sampel 6,0


Rf sampel = = = 0,85 cm
Jarak eluasi 7

Selisih = Rf baku – Rf sampel


= 0,85 – 0,85
= 0 cm

2) Identifikasi Phenobarbital
Diketahui Jarak noda baku : 4,0 cm
Jarak noda sampel : 3,7 cm
Jarak eluasi : 7 cm

Jarak noda baku 4,0


Rf baku = = = 0,57 cm
Jarak eluasi 7

Jarak noda sampel 3,7


Rf sampel = = = 0,52 cm
Jarak eluasi 7

Selisih = Rf baku – Rf sampel


= 0,57 – 0,52
= 0,05 cm
I. Pembahasan :
Pemeriksaan konfirmasi adalah suatu pemeriksaan lanjutan yang lebih akurat karena
hasil yang dikeluarkan sudah definitif menunjukkan jenis zat narkotika psikotropika yang
terkandung di dalam sampel tersebut. Pemeriksaan dilakukan apabila hasil pemeriksaan
pendahuluan (screening test) memberi hasil positif. Pemeriksaan konfirmatif bertujuan
untuk memastikan identitas atau golongan analit dan menetapkan kadarnya.
Pada praktikum kali ini dilakukan preparasi baku dan sampel. Diambil bubuk yang
diduga Diazepam dan Phenobarbital sebagai sampel. Dimasukkan dalam cawan porselin
dan ditambah etanol 10 tetes untuk Phenobarbital, lalu kemudian dimasukkan dalam
cawan porselin dan ditambah metanol 10 tetes untuk Diazepam. Kemudian dibuat larutan
baku, dimana senyawa pembanding dibuat dengan tujuan untuk memastikan jenis
senyawa yang terdapat dalam sampel dengan membandingkan nilai hRFnya standar
pembanding pada pustaka.
Proses tahapan terakhir persiapan kerja adalah penjenuhan chamber/benjana
kromatografi. Proses penjenuhan chamber sebaiknya dilakukan hampir bersamaan
dengan proses penotolan dimana untuk mencegah terjadinya kejenuhan chamber terlebih
dahulu namun proses penotolan belum diselesaikan. Meletakkan kertas saring dalam
Chamber sebagai penanda eluen telah jenuh. Proses penjenuhan dilakukan hingga
mencapai jarak rambat 10 cm. Hal ini bertujuan untuk menyamakan tekanan dalam
chamber sehingga proses pengembangan fase gerak dapat berlangsung dengan efektif.
Penjenuhan chamber dilakukan dengan menambahkan untuk Phenobarbital dengan Etil
Asetat (8,5) : Etanol (1) Amonia pekat (0,5) dan isi Chamber untuk Diazepam
Kloroform (9) : Metanol (1). Penambahan kertas tissue/kertas saring berfungsi agar
penguapan yang terjadi dalam chamber dapat diketahui merata sehingga udara di dalam
chamber tetap jenuh pelarut. Namun indicator kejenuhan dengan kertas tissue relative
akan menghasilkan kejenuhan yang sama disetiap prosesnya maka sebaiknya digunakan
indicator waktu untuk penjenuhan yang sudah dibuktikan melalui suatu penelitian yaitu
selama 30 menit. Kondisi jenuh dalam chamber dengan uap pelarut mencegah penguapan
pelarut (Clark, 2007). Waktu penjenuhan chamber harus diperhatikan agar chamber tidak
lewat jenuh yang dapat memperlambat proses elusi dan menghasilkan pemisahan yang
kurang baik. Kemudian Chamber ditutup dengan baik dan dijaga agar tidak mengalami
pergeseran sehingga larutan eluen di dalamnya tidak menguap dan tidak mengganggu
jalannya proses penjenuhan chamber.Proses penotolan baku dan sampel pada
Kromatografi Lapis Tipis (KLT), baku dilakukan sebanyak 3X dan sampel sebanyak 5X.
KLT yang telah ditotolkan kemudian dielusi pada chamber yang telah dijenuhkan.
Chamber ditutup rapat dan volume fase gerak dibuat sedikit mungkin namun dapat
mengelusi lempeng sampai pada batas jarak pengembangan. Hal ini bertujuan agar tidak
terjadi kontaminasi dari kontaminan selama proses elusi.Kemudian diangkat saat serapan
eluen telah mencapai batas atas KLT. Didiamkan hingga kering. Dalam proses
pengeringan harus diperhatikan titik uap pelarut dan titik uap senyawa agar senyawa
yang akan dideteksi tidak rusak serta agar pelarut dapat dipisahkan dari senyawa dengan
baik. Kemudian akan dibaca menggunakan sinar UV.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam proses pengelusian ini,diantaranya:
a. Chamber diletakkan pada tempat yang datar dan bebas dari getaran agar kejenuhan
chamber stabil.
b. Proses pemasukan plat KLT ke dalam chamber dilakukan secara cepat karena untuk
mempertahankan kejenuhan chamber.
Dipastikan posisi plat KLT pada saat didalam chmaber dalam keadaan datar dan
sedikit dimiringkan sehingga hanya ujungnya yang tersandar pada dinding chamber hal
ini dilakukan dengan tujuan agar memudahkan dalam proses pengambilan plat setelah
proses elusi selesai dan agar meminimalkan plat jatuh saat proses elusi.
Berdasarkan hasil praktikum didapatkan hasil bahwa pada sampel Diazepam
didapatkan selisih 0 cm yang menandakan bahwa sampel positif mengandung Diazepam
karena selisih larutan baku < 0,2 cm. Sedangkan pada sampel Phenobarbital didapatkan
selisih 0,05 cm yang menandakan sampel mengandung Phenobarbital karena selisih
larutan baku < 0,2 cm.

J. Kesimpulan :
Berdasarkan hasil praktikum didapatkan hasil bahwa pada sampel Diazepam
didapatkan selisih 0 cm yang menandakan bahwa sampel positif mengandung Diazepam,
Sedangkan pada sampel Phenobarbital didapatkan selisih 0,05 cm yang menandakan
sampel mengandung Phenobarbital.

K. Daftar Pustaka
Aufia, Wafa. 2016. Laporan Praktikum.Kromatografi : Analisis Paracetamol Pada Obat
Analgesik Dengan Kromatografi Lapis Tipis. Universitas Darusallam Gomtor Ngawi.
L. Lampiran Gambar

Gambar 11 : Gambar Kromatografi Lapis Tipis Tanpa paparan Sinar Ultraviolet

Gambar 12 : Gambar Kromatografi Lapis Tipis dengan paparan Sinar Ultraviolet


PRAKTIKUM PRAKTIKUM 7
GULA SEBELUM INVERSI DENGAN METODE TITRIMETRI

A. Hari / Tanggal : Kamis, 3 Mei 2018

B. Judul : Penetapan Kadar Gula Sebelum Inversi

C. Tujuan : Untuk mengetahui kadar gula sebelum inversi

D. Metode : Titrimetri

E. Prinsip :

Gula inversi dalam contoh direaksikan dengan larutan Luff Schrol berlebihan,

kelebihan larutan luff schrol dititrasi dengan larutan baku Na Thiosulfat. Kadar gula

inversi dalam contoh di hitung dengan menggunakan daftar kadar sukrosa dihitung dari

selisih kadar gula setelan inversi dan sebelum inversi.

F. Dasar Teori :
Gula adalah suatu istilah umum yang sering diartikan bagi setiap karbohidrat yang
digunakan sebagai pemanis, tetapi dalam industri pangan biasanya digunakan untuk
menyatakan sukrosa (gula pasir), gula yang diperoleh dari bit atau tebu. Gula merupakan
karbohidrat dalam bentuk monosakarida dan disakarida.
Gula invert adalah Sebuah campuran bagian yang sama dari glukosa dan fruktosa
yang dihasilkan dari hidrolisis sukrosa. Hal ini ditemukan secara alami dalam buah-
buahan dan madu dan diproduksi secara buatan untuk digunakan dalam industri
makanan. Dibandingkan dengan prekursor, sukrosa, gula invert lebih manis dan produk-
produknya cenderung tetap lembab dan kurang rentan terhadap kristalisasi. Oleh karena
itu dipakai oleh tukang roti , yang mengacu pada sirup sebagai atau sirup invert
trimoline.
Gula invert dibuat dengan menggabungkan suatu sirup gula dengan sedikit asam
(seperti cream of tartar atau jus lemon) dan pemanasan. Ini membalik, atau rusak, maka
sukrosa menjadi dua komponen, glukosa dan fruktosa , sehingga mengurangi ukuran
kristal gula. Karena struktur kristal halus, gula inversi menghasilkan produk yang lebih
halus dan digunakan dalam membuat permen seperti fondant , dan beberapa
sirup. Proses pembuatan selai dan jeli otomatis menghasilkan invert gula dengan
menggabungkan asam alami dalam buah dengan gula pasir dan pemanasan campuran.
G. Alat :
1. Buret
2. Stop Erlenmayer
3. Pendingin tegak
4. Pipet Ukur
5. Labu Ukur
6. Pipet Volume
7. Hot Plate
8. Pipet Tetes
9. Karet Penghisap
10. Beaker Glass
11. Neraca Analitik

H. Reagen :
1. Na2S2O3 0,1 N
2. KIO3 0,1000 N
3. H2SO4 2N & 6N
4. Luff Schroll
5. KI 5%& 20%

I. Prosedur :
 Standarisasi Na2S2O3 0,1N
- 10,0 ml KIO3 0,1000 N masukkan dalam Stop Erlenmayer.
- Tambahkan 5 ml H2SO4 2N dan 5 ml KI 5%.
- Titrasi dengan Na2S2O3 dengan indikator amylum.
 Penetapan Kadar Gula Sebelum Inversi
- Timbang 2-3 gr sampel dalam labu 100,0 ml tepatkan dengan aquadest.
- Pipet 10,0 ml masukkan dalam Stop Erlenmayer.
- Tambahkan 25,0 ml Luff Schroll.
- Hubungkan dengan pendingin tegak, panaskan hingga 10 menit setelah
mendidih, dinginkan.
- Tambahkan 25 ml H2SO4 6N dan 25 ml KI 20%.
- Titrasi dengan Na2S2O3 dengan indikator amylum.
J. Hasil Perhitungan :
 Standarisasi
Vol.Titrasi Na2S2O3
V KIO3 0,1000 N (ml)
(ml)
10 0,00 ml - 10,45 ml
10 0,00 ml - 10,75 ml
V rata-rata 0,00 ml - 10,60 ml

V1 x N1 = V2 x N2
10 ml x 0,1000 N = 10,60 ml x N2
1
N2 = 10,60

N2 = 0,0943 N
 Data Sampel
Berat Sampel gr Vol.Titrasi Na2S2O3 (mL)
1,0125 gr (Blanko) 0,00 ml – 24,50 ml
1,0098 gr (Sampel) 0,00 ml – 21,50 ml

Volume selisih Na2S2O3 blanko dan sampel


N (Na2 S2 O3 )
= (V titrasi blanko − V titrasi Sampel) ×
0,1
0,0943
= (24,50 − 21,50) × = 3 × 0,943 = 2,829 %
0,1

Tabel Keseteraan :
2 4,8
0,83
1 2,83 ? 2,4
0,17

3 7,2

selisih atas selisih bawah


0,83 0,17
= 4,8 + ( ) x 2,4 = 7,2 - ( ) x 2,4
1 1
= 4,8 + 1,992 = 7,2 –0,408
= 6,792 mg = 6,792 mg
Kadar glukosa gula
f×P
Rumus = x 100 %
B × 1000

6,792 × 10
= x 100 % = 6,7260 %
1009,8 × 1000

K. Pembahasan :
Gula invert adalah Sebuah campuran bagian yang sama dari glukosa dan fruktosa
yang dihasilkan dari hidrolisis sukrosa. Hal ini ditemukan secara alami dalam buah-
buahan dan madu dan diproduksi secara buatan untuk digunakan dalam industri
makanan. Dibandingkan dengan prekursor, sukrosa, gula invert lebih manis dan produk-
produknya cenderung tetap lembab dan kurang rentan terhadap kristalisasi. Oleh karena
itu dipakai oleh tukang roti , yang mengacu pada sirup sebagai atau sirup invert
trimoline.
Dari hasil praktikum didapatkan hasil volume titrasi blanko 24,50 ml dan hasil
volume titrasi sampel 21,50 ml. Sehingga didapatkan Volume selisih Na2S2O3 blanko
dan sampel yaitu 2,829 % dengan selisih Atas 6,792 mg dan selisih bawah 6,792 mg.

L. Kesimpulan :
Dari hasil pembahasan di atas dapat disimpulkan kadar gula sebelum inversi pada
sirup adalah 6,7260 %

M. Daftar Pustaka :
http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/105/jtptunimus-gdl-sriresmiya-5250-3-bab3.pdf
https://kopikimia.blogspot.co.id/2014/03/laporan-penetapan-karbohidrat-metode.html
http://derryintarti.blogspot.co.id/2015/01/laporan-praktikum-analisa-sakarosa-gula.html
http://organiksmakma3c16.blogspot.co.id/2013/03/gula-sebelum-dan-sesudah-
reduksi.html
N. Lampiran Gambar

Gambar 13 : Warna Sebelum Titrasi Penetapan Kadar Gula Sebelum Inversi

Gambar 14 : Warna Sebelum Titrasi Penetapan Kadar Gula Sebelum Inversi


PRAKTIKUM PRAKTIKUM 8
KIO3 PADA GARAM DENGAN METODE IODOMETRI

A. Hari / Tanggal : Kamis, 3 Mei 2018

B. Judul : Penetapan Kadar KIO3 pada Garam

C. Tujuan : Untuk mengetahui kadar KIO3 pada Garam

D. Metode : Iodometri

E. Prinsip :

Kadar kalium iodat ditetapkan dengan cara iodometri yaitu dengan penambahan

asam sulfat dan kalium iodida kemudian dititrasi dengan larutan baku natrium thiosulfat

dengan penamabahan indikator Amilum.

F. Dasar Teori :
Garam adalah salah satu kebutuhan pokok manusia yang dalam kehidupan sehari-
hari banyak digunakan sebagai bahan tambahan bumbu pada makanan, sebagai pengawet
makanan seperti ikan asin, sawi asin, asinan buah-buahan, dan dasar pembuatan senyawa
kimia (NaOH, Na2SO4, NaHCO3, Na2CO3). Setiap manusia pada umumnya
mengkonsumsi garam dengan jumlahnya berbeda-beda tergantung kebiasaan masing-
masing individu. Oleh karena itu, penambahan iodium pada produk garam merupakan
cara yang sangat efektif dalam menutupi kekurangan tubuh manusia akan kebutuhan
iodium. Untuk menunjang program pemerintah dibidang kesehatan masyarakat, setiap
produsen garam diwajibkan menambahkan iodium pada produk garamnya.Menurut
penelitian yang dilakukan oleh para ahli kesehatan, orang yang kekurangan iodium
dalam konsumsi makanannya dapat mengalami penyakit gondok. Sedangkan pada anak-
anak dapat menyebabkan pertumbuhan yang terhambat.
Oleh karena itu kekurangan iodium pada masyarakat diharapkan tidak ada lagi bila
semua garam yang diproduksi sudah mengandung iodium. Garam beriodium merupakan
istilah yang biasa digunakan untuk garam yang telah difortifikasi (ditambah) dengan
iodium. Di Indonesia, iodium ditambahkan dalam garam sebagai zat aditif atau suplemen
dalam bentuk kalium iodat (KIO3).
G. Alat :
1. Buret
2. Stop Erlenmayer
3. Pipet Ukur
4. Pipet Volume
5. Pipet Tetes
6. Karet Penghisap
7. Beaker Glass
8. Neraca Analitik

H. Reagen :
1. Na2S2O3
2. KIO3 0,1000 N
3. H3PO4
4. Serbuk KI

I. Prosedur :
 Standarisasi Na2S2O3 0,0050 N
- 10,0 ml KIO3 0,1000 N masukkan dalam Stop Erlenmayer.
- Tambahkan 2 ml H3PO4 (p) dan serbuk KI.
- Titrasi dengan Na2S2O3.

 Penetapan Kadar KIO3 pada Garam


- Timbang 25 gr sampel, masukkan dalam Stop Erlenmayer.
- Larutkan dengan aquadest.
- Tambahkan 2 ml H3PO4 (p) dan serbuk KI.
- Titrasi dengan Na2S2O3.
J. Hasil Perhitungan :
 Standarisasi Larutan Na2S2O3
V KIO3 0,0050 N (ml) Vol.Titrasi Na2S2O3 (ml)
10 0,00 ml – 8,00 ml
10 0,00 ml – 7,60 ml
V rata-rata 0,00 ml – 7,80 ml
V1 x N1 = V2 x N2
10 ml x 0,0050 N = 7,80 ml x N2
0,05
N2 = 7,80

N2 = 0,0064 N

 Penetapan Kadar KIO3 dalam garam


Berat Sampel gr Vol.Titrasi Na2S2O3 0,0064 N (mL)
25,0087 gr 0,00 ml – 4,50 ml
25,0143 gr 0,00 ml – 4,80 ml

Sampel I
V × N (Na2 S2 O3)
× 0,1784 × 1000
0,0050
=
gr Sampel
4,50 × 0,0064
× 0,1784 × 1000
0,0050
=
25,0087
0,0288
× 0,1784 × 1000
0,005
=
25,0087
= 0,2054 ppm

Sampel II
V × N (Na2 S2 O3)
× 0,1784 × 1000
0,0050
=
gr Sampel
4,80 × 0,0064
× 0,1784 × 1000
0,0050
=
25,0087
0,3072
× 0,1784 × 1000
0,005
=
25,0143
= 2,1909 ppm
𝑘𝑎𝑑𝑎𝑟 𝑠𝑝 𝐾𝐼𝑂3 (1)+ 𝑘𝑎𝑑𝑎𝑟 𝑠𝑝 𝐾𝐼𝑂3 (2)
Rata-rata =
2
0,2054 + 2,1909
= 2

= 1,1981 ppm

K. Pembahasan :
Iodium adalah jenis elemen mineral mikro kedua sesudah besi yang dianggap
penting bagi kesehatan manusia walaupun jumlah kebutuhan tidak sebanyak zat-zat gizi
lainnya. Djokomoeldjanto (1993) menyatakan bahwa manusia tidak dapat membuat
iodium dalam tubuhnya seperti membuat protein atau gula, tetapi harus mendapatkannya
dari luar tubuh (secara alamiah) melalui serapan iodium yang terkandung dalam
makanan serta minuman. Iodium merupakan zat gizi yang penting bagi kehidupan
manusia, terutama untuk pertumbuhan dan kecerdasan (Prastyono 2009). Iodium
merupakan mineral yang termasuk unsur gizi esensial walaupun jumlahnya sangat sedikit
di dalam tubuh, yaitu hanya 0,00004% dari berat tubuh atau sekitar 15-23 mg. Itulah
sebabnya iodium sering disebut sebagai mineral mikro atau trace element (Siswono
2003).
Percobaan kali ini dilakukan pengujian kadar iodium yang terkandung dalam sampel
berupa garam-garaman. Pengujian dilakukan dengan menggunakan metode titrimetri.
Iodium diperlukan tubuh terutama untuk sintesis hormon tiroksin, yaitu suatu hormon
yang dihasilkan oleh kelenjar tiroid yang sangat dibutuhkan untuk proses pertumbuhan,
perkembangan, dan kecerdasan. Jika kebutuhan tersebut tidak terpenuhi dalam waktu
lama, kelenjar tiroid akan membesar untuk menangkap iodium, yang lebih banyak dari
darah. Pembesaran kelenjar tiroid tersebutlah yang sehari-hari kita kenal sebagai
penyakit gondok (Siswono 2003).
Pada percobaan penentuan kadar KIO3 didapatkan hasil rata-rata kadar KIO3 pada
garam yaitu 1,1981 ppm. Berdasarkan SNI 01-3556-2000 kandungan kalium iodat
minimal 30-80 ppm (mgKIO3/kg garam). Hasil ini menandakan bahwa kandungan
garam masih sesuai dengan ketetapan SNI 01-3556-2000.
L. Kesimpulan :
Dari hasil pembahasan dapat disimpulkan bahwa kadar KIO3 dalam garam pada
sampel pertama yaitu 0,2054 ppm dan sampel ke dua yaitu 2,1909 ppm dengan hasil
rata- rata kadar KIO3 dalam garam adalah 1,1981 ppm, hasil kandungan
garam masih sesuai dengan ketetapan SNI 01-3556-2000.

M. Daftar Pustaka :
- http://eulisnani.blogspot.co.id/2013/01/penentuan-kadar-kio3-dalam-garam-
dapur.html
- http://bluishcaramelpillow.blogspot.co.id/2011/03/penetapan-kadar-iodium-m-
titrimetri.html
- http://www.atlm.web.id/2016/11/laporan-praktikum-analisa-kadar-kalium.html

N. Lampiran Gambar

A B
Gambar 15 : A . Warna Sebelum Titrasi pada Penetapan Kadar KIO3 pada Garam
B. Warna Setelah Titrasi pada Penetapan Kadar KIO3 pada Garam
PRAKTIKUM PRAKTIKUM 9
NaCl PADA MARGARIN DENGAN METODE ARGENTOMETRI MOHR

A. Hari / Tanggal : Kamis, 3 Mei 2018

B. Judul : Penetapan Kadar NaCl pada Margarin

C. Tujuan : Untuk mengetahui kadar NaCl pada Margarin

D. Metode : Argentometri Mohr

E. Prinsip :

Dalam susasana netral ,AgNo3 akan bereaksi dengan NaCl dalam margarin

membentuk endapan AgCl berwarna putih. Indikator yang digunakan adalah

K2CrO4.Ketika seluruh ion Cl- sudah mengendap sabagai AgCl, Maka kelebihan setetes

Ag+ akan bereaksi dengan K2CrO4 membentuk endapan Ag2CrO4 yang berwarna merah

bata yang menandakan tercapainnya titik Akhir.

F. Dasar Teori :
Kadar NaCl adalah penentuan kadar garam dalam margarin dengan cara titrasi
pengendapan yaitu merupakan titrasi yang melibatkan pembentukan endapan dari garam
yang tidak mudah larut antara titrant dan analit. Hal dasar yang diperlukan dari titrasi
jenis ini adalah pencapaian keseimbangan pembentukan yang cepat setiap kali titran
ditambahkan pada analit, tidak adanya interferensi yang menggangu titrasi, dan titik
akhir titrasi yang mudah diamati. Dimana ion Ag+ dari titran akan bereaksi dengan ion
Cl- dari analit membentuk garam yang tidak mudah larut AgCl.
Kadar H2O adalah kadar air dimana dalam margarin terdapat garam yang
memerlukan air dalam melarutkannya agar garam tersebut tidak terlalu pekat maka kadar
air tersebut harus sesuai dengan kadar garam yang diperlukan. Kadar air berkaitan
dengan kadar garam dalam hal ini konsentrasi garam yang tinggi akan mengakibatkan
kadar air semakin tinggi pula.
G. Alat :
1. Buret
2. Erlenmayer
3. Pipet Ukur
4. Pipet Volume
5. Pipet Tetes
6. Karet Penghisap
7. Beaker Glass
8. Neraca Analitik

H. Reagen :
1. AgNO3 0,1N
2. K2CrO4 5%
3. MgO
4. NaCl

I. Prosedur :
 Standarisasi AgNO3 0,1N
- 10,0 ml NaCl masukkan dalam Erlenmayer.
- Tambahkan 1 ml K2CrO4 5% dan MgO.
- Titrasi dengan AgNO3 hingga terbentuk endapan merah bata.
 Penetapan Kadar NaCl pada Margarin
- Timbang 2-3 gr sampel, masukkan dalam Erlenmayer.
- Larutkan dengan aquadest panas.
- Tambahkan 1 ml K2CrO4 5%, dan MgO.
- Titrasi dengan AgNO3.
J. Hasil Perhitungan :
 Standarisasi
Vol. NaCl 0,1000 N (ml) Vol.Titrasi AgNO3 (ml)
10 0,00 ml – 10,60 ml

10 0,00 ml – 10,50 ml

V rata-rata 0,00 ml – 10,55 ml

V1 x N1 ( AgNO3 ) = V2 x N2 ( NaCl )
10,55 ml x N1= 10,0 ml x 0,1000
1
N2 = 10,55

N2 = 0,0947 N

 Penetapan Kadar NaCl dalam Margarin


Berat Sampel (gr) Vol.Titrasi AgNO3 0,0947 N (ml)
2,1837 0,00 ml – 9,20 ml

2,1857 0,00 ml – 10,20 ml

Sampel I
( V × N )𝐴𝑔𝑁𝑜3 × 0,585
=
0,1 × gr Sampel

( 9,20 × 0,0947 ) × 0,585


=
0,1 × 2,1837

0,5096
=
0,2183

= 2,3344 %
Sampel II
( 𝑉 × 𝑁 ) 𝐴𝑔𝑁𝑜3 × 0,585
=
0,1 × gr Sampel

10,20 × 0,0947 × 0,585


=
0,1 × 2,1857

0,5650
=
0,2185

= 2,5858 %
𝑘𝑎𝑑𝑎𝑟 𝑠𝑝 𝑁𝑎𝐶𝑙 (1)+ 𝑘𝑎𝑑𝑎𝑟 𝑠𝑝 𝑁𝑎𝐶𝑙 (2)
Rata-rata =
2
2,3344 + 2,5858
= 2

= 1,1981 ppm
= 4,9202 %
K. Pembahasan :
Penambahan garam NaCl kedalam margarin dapat berfungsi untuk meningkatkan
cita rasa dari produk itu sendiri. Kebutuhan garam sebagai pemantap cita rasa adalah
sebanyak 2 – 5% dari total bahan bakunya. Garam juga berperan sebagai penghambat
selektif pada mikroorganisme pencemar tertentu. Seperti halnya pada mentega yang
banyak mengandung mineral seperti besi, kalium dan fosfor, margarin juga kaya mineral
tersebut, bahkan nilainya relatif lebih banyak daripada yang terdapat pada mentega.
Garam NaCl juga berguna untuk menjaga keseimbangan asam dan basa di dalam tubuh
serta terlibat dalam permeabilitas sel.
Pada percobaan penentuan kadar NaCl dalam margarine metode yang digunakan
adalah metode argentometri mohr. Pada metode mohr margarin yang dilarutkan dengan
aquades panas dititrsi dengan AgNo3 standar dengan penambahan K2CrO4 sebagai
indikator. Margarin harus dilarutkan dengan aquades panas untuk melarutkan lemak
yang ada dalam margarin tersebut sehingga margarin larut secara sempurna.Larutan
berubah warna kuning lalu dititrasi dengan larutan standar hingga muncul endapan warna
merah bata hasil reaksi Ag+ dengan CrO4. Titrasi metode Argentometri Mohr harus
dilakukan pada dalam susasan netral agar indikator tidak teroksidasi ketika suasana
asam.Dari hasil percobaan diperoleh kadar NaCl pada Margarin adalah 4,9202 %
L. Kesimpulan :
Dari hasil praktikum yang dilakukan diperoleh kadar NaCl pada sampel I adalah
2,3344 % dan sampel II adalah 2,5858 % Dan didapatkan hasil rata-rata kadar NaCl
dalam Margarin adalah 4,9202 %.

M. Daftar Pustaka :
Rani, A. (2012). Penentuan Kadar NaCI Dan H2O Dalam Margarin Dengan Metode
Titrasi Argentometri.Medan : Universitas Sumatra Utara.
https://id.scribd.com/doc/179622741/Penetapan-kadar-NaCl-dalam-Ikan-Asin-dan-
mentega-penetapan-kadar-abu-dalam-ikan-asin
http://www.academia.edu/32536156/PRAKTIKUM_KIMIA_ANALITIK_PENETAPA
N_KADAR_Cl_AIR_LEDENG_dan_NaCl_MARGARIN

N. Lampiran Gambar

A B
Gambar 16 : A . Warna Sebelum Titrasi pada Penetapan Kadar NaCl pada Margarin
B. Warna Setelah Titrasi pada Penetapan Kadar NaCl pada Margarin
LAPORAN PRAKTIKUM 10
PEMANIS, PENGAWET DAN PEWARNA

A. Hari/tanggal : Kamis, 3 Mei 2018

B. Judul :
1. Identifikasi Pemanis
2. Identifikasi Pengawet
3. Identifikasi pewarna

C. Tujuan :
1. Untuk mengetahui jenis pemanis yang ada pada sampel
2. Untuk mengetahui jenis pengawet yang ada pada sampel
3. Untuk mengetahi jenis perwarna yang ada pada sampel

D. Metode : Kromatografi Lapis Tipis dan Kromatografi Kertas

E. Prinsip :
Memisahkan sampel berdasarkan perbedaan kepolaran antara sampel dengan pelarut
yang digunakan. Tekhnik ini menggunakan fase diam dari bentuk plat silika dan fase
geraknya disesuaikan dengan jenis sampel yang ingin dipisahkan. Larutan atau campuran
yang akan digunakan yaitu eluen semakin dekat kepolaran antara sampel dengan eluen
maka sampel akan semakin terbawa oleh fase gerak tersebut.

F. Dasar teori :
Semua bahan yang dicampurkan pada saat anda memasak makanan selama proses
pengolahannya, proses penyimpanannya, dan proses pengepakannya bisa disebut sebagai
zat aditif makanan.
Jika dilihat dari penggunaan bahan tambahan yang ditambahkan ke dalam makanan
sangat berbeda antara zaman dahulu dan zaman sekarang. Zaman dahulu manusia
menggunakan bahan alami, sedangkan zaman sekarang manusia banyak menggunakan
bahan sintesis yang dibuat oleh pabrik.
Berdasarkan dengan fungsi pada zat aditif makanan bisa dikategorikan beberapa
jenis, meliputi pewarna, pengawet, pemanis, antioksidan, penyedap, pemutih, penambah
gizi, perenyah dan pengisi, pengering, pemantap, pencegah buih, pengkilap, dan
pencegah lengket.
Dalam penggunaan zat aditif seperti halnya sintesis wajib melalui tahap pengujian di
laboratorium dan mendapat pengawasan yang sangat ketat, sehingga dipakai sesuai kadar
yang dibutuhkan dan yang menjadi poin penting yakni tidak mempunyai dampak yang
buruk bagi tingkat kesehatan manusia sebagai pengguna sekaligus pengonsumsinya.
Tujuan dari penambahan bahan pangan adalah Mempertahankan nilai gizi,
Konsumsi golongan orang tertentu yang memerlukan makanan diet, Mempertahankan
mutu/kestabilan, memperbaiki sifat-sifat organoleptisnya hingga tidak menyimpang dari
sifat alamiahnya, dan Untuk keperluan pembuatan, pengolahan, pembungkusan dsb,
tetapi bukan untuk menyembunyikan cara pengolahan yang tidak baik.
Pengawet yang dilarang Berdasarkan Permenkes RI No.235/Menkes/Per/VI/79
1. Asam salisilat : penyebab tukak lambung
2. Boraks : digunakan sebagai pengawet dan pengenyal penyebab kanker,
anemia, kerusakan ginjal
3. Formalin : digunakan untuk mengawetkan mayat. Dapat menyebabkan: depresi
susunan syaraf, kegagalan peredaran darah.
Pewarna yang dilarang Menurut Permenkes RI No. 239/85:
• Merah: Rhodamin B, Ponceau 3R, Ponceau SX
• Kuning: auramin, butter yellow
• Ungu: magenta
• Orange: orange 6, orange CCN
Menurut Permenkes RI No.208/Menkes/Per/IV/1985 tentang pemanis buatan yang
diijinkan, sbb:
1. Sakarin: digunakan untuk permen karet, es krim, permen, jam, jeli, yogurt.
Kadar pemanis: 300-400 kali kemanisan sukrosa, menimbulkan rasa pahit
getir, merangsang terjadinya tumor kandung kemih
2. Siklamat: digunakan untuk permen karet, es krim, permen, jam, jeli, yogurt.
Kadar pemanis: 200 kali kemanisan sukrosa, bersifat karsinogenik
3. Aspartam: kadar pemanis 100-200 kali kemanisan sukrosa, bersifat kurang
stabil pada penyimpanan dan pemanasan, menyebabkan kerusakan otak
4. Sorbitol :digunakan untuk kismis, jam, jeli,roti
G. Alat :
1. Chamber
2. Corong pisah
3. Beaker glass
4. Pipet tetes
5. Cawan porselin
6. Kertas kromatografi
7. Kromatografi Lapis Tipis
8. Standar corong pisah

H. Reagen :
1. Asam Sulfat 50%
2. Eter
3. NaOH 5%
4. Etil Asetat
5. Buffer Ph 4
6. Na2SO4 anhidrat
7. Asam Asetat
8. NH4OH 12,5 %
9. NH4OH pekat
10. Aquadest
11. Trinatrium citrate
12. N Butanol
13. Etanol
14. Heksan

I. Sampel
1. Pemanis
2. Pengawet
3. Pewarna
4. Bulu domba
J. Prosedure
1. Identifikasi pemanis
a. 50 ml sampel masukkan ke dalam corong pisah.
b. Tambah 10 ml H2SO4 50% DAN 25 ml eter, ekstraksi.
c. Buang lapisan eter, lapisan sampel ditambah dengan 5 ml NaOH 5% dan 25 ml
etil asetat, ekstraksi kembali.
d. Lapisan etil asetat ditampung dalam cawan porselin diupkan hingga pekat.
e. Totolkan sampel tersebut 3X dan baku pada kertas kromatografi yang sudah
disedikan, keringkan.
f. Lakukan proses eluasi.
Eluen = n butanol : Etanol : NH4OH : Aquadest
40 : 4 : 1 : 9

2. Identifikasi pengawet
a. 50 ml sampel masukkan ke dalam corong pisah
b. Tambah 20 ml buffer pH 4 dan 25 ml eter, ekstraksi
c. Buang lapisan eter, lapisan sampel ditambah dengan 5 ml NaOH 5% dan 25 ml
eter, ekstrak kembali.
d. Lapisan etil asetat ditampung dalam cawan porselin diupkan hingga pekat.
e. Totolkan sampel 3X dan baku pada kertas kromatografi yang terdisediakan.
f. Lakukan proses eluasi.
Eluan = Heksan : Asam asetat
96 : 4

3. Identifikasi pewarna
a. Dipipet 50 ml sampel kedalam beaker gelas
b. Ditambahkan asam asetat hingga asam, lalu masukan bulu domba
c. Dipanaskan hingga warna sampai luntur, terserap diulu domba
d. Pindahkan bulu domba ke cawan porselen dan tambahkan NH4OH 12,5% hingga
bulu terendam panaskan lagi hingga warna dibulu domba luntur
e. Buang bulu domba lanjutkan pemanasan hingga pekat eluasikan
f. Totolkan sampel dan baku sebanyak 3x pada ketas kromatografi
g. Lakukan proses eluasi
Eluen = 5ml NH4OH + 95ml aquadest + 2 gr trinatrium sitrat
K. Hasil
Perhitungan :
a) Pemanis
Jarak eluasi = 7 cm
Baku = 4,0 cm
Sampel = 3,7 cm
𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑛𝑜𝑑𝑎
 Rf baku pemanis= 𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑒𝑙𝑢𝑎𝑠𝑖
4,0
Rf baku pemanis = 0,57 cm
7
𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑛𝑜𝑑𝑎
 Rf sampel= 𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑒𝑙𝑢𝑎𝑠𝑖
3,7
Rf Sampel= = 0,52 cm
7

Selisih = Rf baku – Rf sampel


= 0,57 – 0,52
= 0,05 cm

b) Pengawet
Jarak eluasi = 7 cm
Baku = 1,5 cm
Sampel = 1,0 cm
𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑛𝑜𝑑𝑎
 Rf baku pengawet =
𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑒𝑙𝑢𝑎𝑠𝑖
1,5
Rf baku pengawet = = 0,21 cm
7
𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑛𝑜𝑑𝑎
 Rf sampel pengawet= 𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑒𝑙𝑢𝑎𝑠𝑖
1,0
Rf sampel pengawet = = 0,14 cm
7

Selisih = Rf baku – Rf sampel


= 0,21 – 0,14
= 0,07 cm
c) Pewarna
a. Briliant blue
Jarak eluasi = 12 cm
Baku = 9,7 cm
Sampel = 9,5 cm
𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑛𝑜𝑑𝑎
 Rf baku = 𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑒𝑙𝑢𝑎𝑠𝑖
9,7
Rf baku = = 0,80 cm
12
𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑛𝑜𝑑𝑎
 Rf sampel = 𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑒𝑙𝑢𝑎𝑠𝑖
9,5
Rf sampel = = 0,79 cm
12

Selisih = Rf baku – Rf sampel


= 0,80 – 0,79
= 0,01 cm

b. Karmoisin
Jarak eluasi = 12 cm
Baku = 2,2 cm
Sampel = 1 cm
𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑛𝑜𝑑𝑎
 Rf baku = 𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑒𝑙𝑢𝑎𝑠𝑖
2,2
Rf baku = = 0,18 cm
12
𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑛𝑜𝑑𝑎
 Rf sampel = 𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑒𝑙𝑢𝑎𝑠𝑖
1
Rf sampel = 12 = 0,08 cm

Selisih = Rf baku – Rf sampel


= 0,18 – 0,08
= 0,1 cm
c. Tartrazin
Jarak eluasi = 12 cm
Baku = 8,1 cm
Sampel = 7,0 cm
𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑛𝑜𝑑𝑎
 Rf baku = 𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑒𝑙𝑢𝑎𝑠𝑖
8,1
Rf baku = = 0,67 cm
12
𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑛𝑜𝑑𝑎
 Rf sampel = 𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑒𝑙𝑢𝑎𝑠𝑖
7,0
Rf sampel = = 0,58 cm
12

Selisih = Rf baku – Rf sampel


= 0,67 – 0,58
= 0,09 cm

d. Ponceau
Jarak eluasi = 12 cm
Baku = 4,4 cm
Sampel = 1,5 cm
𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑛𝑜𝑑𝑎
 Rf baku = 𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑒𝑙𝑢𝑎𝑠𝑖
4,4
Rf baku = = 0,36 cm
12
𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑛𝑜𝑑𝑎
 Rf sampel = 𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑒𝑙𝑢𝑎𝑠𝑖
1,5
Rf sampel = = 0,12 cm
12

Selisih = Rf baku – Rf sampel


= 0,36 – 0,12
= 0,24 cm
e. Amaran
Jarak eluasi : 12 cm
Baku : 2,5 cm
Sampel : 5,0 cm
𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑛𝑜𝑑𝑎
 Rf baku = 𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑒𝑙𝑢𝑎𝑠𝑖
2,5
Rf baku = = 0,20 cm
12
𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑛𝑜𝑑𝑎
 Rf sampel = 𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑒𝑙𝑢𝑎𝑠𝑖
5,0
Rf sampel = = 0,41 cm
12

Selisih = Rf baku – Rf sampel


= 0,20 – 0,41
= 0,21 cm

L. Pembahasan :
1. Zat pemanis sintetis sakarin dan siklamat merupakan jenis zat pemanis yang
sebetulnya khusus ditujukan bagi penderita diabetes atau konsumen dengan diet
rendah. Namun ada beberapa produsen makanan dan minuman yang menggunakan
sakarin dan siklamat karena memiliki tingkat kemanisan yang sangat tinggi
dibandingkan dengan gula. Dari praktikum ini dapat hasil sampel Sakarin dengan
selisih antara Rf baku pemanis dengan Rf sampel yaitu 0,05 cm artinya mengadung
bahan pemanis karena < 0,2
2. Benzoat: banyak digunakan untuk pengawet sirup, selai, minuman ringan, saus tomat,
margarin, anggur buah dan ekstrak kopi. Aktif pada pH 2,5 – 4 dan efektif untuk
mencegah pertumbuhan khamir dan bakteri. Dari praktikum ini dapatkan hasil sampel
Benzoat dengan selisih antara Rf baku pengawet dengan Rf sampel yaitu 0,07 cm
artinya mengandung bahan pengawet karena < 0,2
3. Pewarna sintetik: pewarna yang diperoleh dari produk sitetis. Pewarna sintetis yang
diijinkan sesuai Permenkes RI No. 235/79 :
 Merah: amaran(CI.No16185), eritrosin, karmoisin, Ponceau 4R
 Hijau: hijau FCF, Green S
 Biru: brilliant blue, indogotin
 Kuning: tartrazin, quinolin
 Coklat: Brown HT
 Dari praktikum ini dapatkan hasil :
1. Jadi Rf baku briliant blue dengan Rf sampel yaitu 0,01 cm artinya sampel tersebut
mengandung pewarna Briliant blue kerena jarak selisihnya < 0,2.
2. Jadi selisih antara Rf baku karmoisin dengan Rf sampel yaitu 0,1 cm artinya
sampel tersebut mengandung pewarna karmoisin karena jarak selisihnya < 0,2
3. Jadi selisih antara Rf baku Tartrazin dengan Rf sampel yaitu 0,09 cm yang artinya
sampel mengandung pewarna Tertrazin karena jarak selisihnya < 0,2.
4. Jadi Rf baku Ponceau dengan Rf sampel yaitu 0,24 cm yang artinya smpel tidak
mengandung pewarna Ponceau karena jarak selisihnya > 0,2.
5. Jadi Rf baku Amaran dengan Rf sampel yaitu 0,21 cm yang artinya sampel tidak
mengandung pewarna Amaran karena > 0,2.

M. Kesimpulan :
 Dari praktikum ini dapat disimpulkan bahwa sampel Sakarin dengan selisih antara Rf
baku pemanis dengan Rf sampel yaitu 0,05 cm artinya mengadung bahan pemanis
karena < 0,2
 Dari praktikum ini dapat disimpulkan bahwa sampel Benzoat dengan selisih antara Rf
baku pengawet dengan Rf sampel yaitu 0,07 cm artinya mengandung bahan pengawet
karena < 0,2
 Dari praktikum ini dapat disimpulkan bahwa:
1. Jadi Rf baku briliant blue dengan Rf sampel yaitu 0,01 cm artinya sampel tersebut
mengandung pewarna Briliant blue kerena jarak selisihnya < 0,2.
2. Jadi selisih antara Rf baku karmoisin dengan Rf sampel yaitu 0,1 cm artinya sampel
tersebut mengandung pewarna karmoisin karena jarak selisihnya < 0,2
3. Jadi selisih antara Rf baku Tertrazin dengan Rf sampel yaitu 0,09 cm yang artinya
sampel mengandung pewarna Tertrazin karena jarak selisihnya < 0,2.
4. Jadi Rf baku Ponceau dengan Rf sampel yaitu 0,24 cm yang artinya smpel tidak
mengandung pewarna Ponceau karena jarak selisihnya > 0,2.
5. Jadi Rf baku Amaran dengan Rf sampel yaitu 0,21 cm yang artinya sampel tidak
mengandung pewarna Amaran karena > 0,2.
N. Daftar Pustaka
Agustina N, 2016, Identifikasi Pewarna Makanan
https://www.sainspedia.science/2016/09/identifikasi-pewarna-makanan-laporan.html
Diakses pada tanggal 11 Maret 2018
Aprilia L., 2013, Pewarna Pemanis Pengawet Penyedap
http://liaaprilia16.blogspot.co.id/2013/05/pewarna-pemanis-pengawet-penyedap.html
Diakses tanggal 11 maret 2018

O. Lampiran Gambar

 Pemanis

A B

Gambar 17 : A . Gambar Kromatografi Lapis Tipis Tanpa paparan Sinar Ultraviolet


pada sampel sakarin
B. Gambar Kromatografi Lapis Tipis dengan paparan Sinar Ultraviolet
Pada sampel sakarin
 Pengawet

A B

Gambar 18 : A . Gambar Kromatografi Lapis Tipis Tanpa paparan Sinar Ultraviolet


pada sampel Benzoat
B. Gambar Kromatografi Lapis Tipis dengan paparan Sinar Ultraviolet
Pada sampel Benzoat

 Pewarna

Gambar 19 : Gambar Hasil Kromatografi Kertas pada sampel pewarna Briliant Blue,
Karmoisin, Tartrazin, Ponceau, dan Amaran.