Anda di halaman 1dari 31

LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNIK FINISHING ANILIN


FINISHING ANILIN DRESSED GLOVE

DOSEN PENGAMPU:

Titik Anggraini, S.E., M.M.

Ragil Yuliatmo, S.Pt., M.Sc.

DISUSUN OLEH:

KELOMPOK 2 / TPK A
Nayla Mustika Fauziah (1701014)
Dani Fortuna Alif (1701016)
Fernanda Putri Crismonica (1701038)
Rezal Oktabriandi (1701023)

WORKSHOP PASCA TANNING DAN FINISHING

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PENGOLAHAN KULIT

POLITEKNIK ATK YOGYAKARTA


2019
JOB SHEET I
FINISHING FULL ANILIN KULIT DREESED GLOVE

A. DATA BAHAN BAKU KULIT

Luas Kulit 1 : 4,2 sqft.


Kulit 2 : 5,1 sqft.
Kulit 3 : 3,6 sqft.
Panjang Kulit 1 : 62 cm.
Kulit 2 : 76 cm.
Kulit 3 : 72 cm.
Lebar Kulit 1 : 55 cm.
Kulit 2 : 63 cm.
Kulit 3 : 56 cm.
Tebal (rata-rata) Kulit 1 : 0,58 mm
Kulit 2 : 0,52 mm
Kulit 3 : 0,51 mm
Warna Kulit 1 : Orange.
Kulit 2 : Orange.
Kulit 3 : Orange.
Kondisi kulit Kulit 1 : terdapat lubang pada bagian flank, warna kulit tidak merata
pada seluruh bagian kulit, pegangannya lemas, soft dan run.
Kulit 2 : terdapat lubang dibagian leher, warna kulit tidak merata
terdapat bercak warna pada bagian kulit krupon bawah pegangannya
lemas, soft dan run.
Kulit 3 : warna kulit tidak merata dan terdapat bercak - bercak warna
hampir pada seluruh bagian kulit pegangannya lemas, soft dan run.
Kualitas Kulit 1 : R
Kulit 2 : IV
Kulit 3 : R
B. FORMULASI DAN URUTAN PROSES

BAHAN KIMIA
TAHAPAN
NO KETERANGAN
PROSES NAMA BERAT PERHITUNGAN
PRODUK PATEN FUNGSI
BAHAN (gr) KEBUTUHAN
Mendapatkan hasil sortasi dan
Sortasi dan grading yang telah tercantum dalam
1.
Grading tabel pengamatan sortasi dan grading
kulit awal.

Toggling dilakukan
Saat toggling tidak dilakukan pentang
untuk menambah serta
mati supaya tetap menjaga
2. Toggling mengoptimal-kan luas
fleksibelitas dan sifat run dari artikel
kulit dan agar tidak ada
ini.
bagian yang melipat.

 Hasil drop test kulit 1 = 56


detik, kulit 2 = 42 detik, kulit
3 = 1 metit 20 detik.
Mengetahui / menguji
 Dari data tersebut, diketahui
3 Drop test daya searapan kulit
ketiga kulit yang kami uji
terhadap air.
belum sesui dengan standar
yang telah ditetapkan ( ˂ 15
detik).
4 Clearing 𝐻2 𝑂 Air Membantu melarutkan 975 (62,88 975  Clearing bertujuan meratakan
gr) 𝑋 64,5
chemichal dan 1000 dan mengoptimalkan daya
= 62,88 𝑔𝑟
memudahkan serap kulit terhadap air
chemichal terpenetrasi (drop testnya dibawah 15
kedalam kulit. detik).
Surfactan Hustapol NID Menurunkan tegangan 20 (1,29 20  Proses clearing dilakukan
gr) 𝑋 64,5
non ionic antar muka kulit. 1000 dengan menspray kulit pada
= 1,29 𝑔𝑟
NH4OH Ammonia Menyamakan dan 5 (0,32 gr) seluruh bagian kulit sebanyak
meratakan muatan kulit, 1 cross.
5
membantu 𝑋 64,5  Setelah di clearing kondisi
1000
membersihkan kulit = 0,32 𝑔𝑟 kulit menjadi lembab, maka
dari debu dan kotoran dari itu kulit digantung dan
lainnya, serta diangin - anginkan selama ±
membantu menurunkan 24 jam.
tegangan muka.

 Kulit dilakukan drop test


kembali untuk mengetahui
kemampuan serap kulit
Mengetahui / menguji
terhadap air apakah sudah
5 Drop test daya searapan kulit
maksimal atau belum
terhadap air.
 Hasil drop test kulit 1 = 33
detik, kulit 2 = 30 detik, kulit
3 = 60 detik.
 Dari data tersebut, diketahui
ketiga kulit yang kami uji
belum sesui dengan standar
yang telah ditetapkan ( ˂ 15
detik).
6 Clearing 𝐻2 𝑂 Air Membantu melarutkan 975 (62,88 975  Clearing bertujuan meratakan
gr) 𝑋 64,5
chemichal dan 1000 dan mengoptimalkan daya
= 62,88 𝑔𝑟
memudahkan serap kulit terhadap air
chemichal terpenetrasi (drop testnya dibawah 15
kedalam kulit. detik).
LD Merah Liquid Dyes Untuk menyamakn 11,4 gr 975  Proses clearing dilakukan
𝑋 64,5
warna antar grain dan 1000 dengan menspray kulit pada
= 62,88 𝑔𝑟
flesh seluruh bagian kulit sebanyak
1 cross.
 Setelah di clearing kondisi
kulit menjadi lembab, maka
dari itu kulit digantung dan
diangin - anginkan sampai
kondisi kulit menjadi kering.
 Kulit dilakukan drop test
Mengetahui / menguji kembali untuk mengetahui

7 Drop test daya searapan kulit kemampuan serap kulit


terhadap air. terhadap air apakah sudah
maksimal atau belum
 Hasil drop test kulit 1 = 13
detik, kulit 2 = 8 detik, kulit 3
= 14 detik.
 Dari data tersebut, diketahui
ketiga kulit yang kami uji
telah sesui dengan standar
yang telah ditetapkan ( ˂ 15
detik). Oleh karena itu kulit
dapat dilanjutkan ke tahapan
proses yang berikutnya.
8 Stainning H2O Air Melarutkan chemichal 900 (81,27  Staining bertujuan untuk
gr) 900
dan membantu 𝑋 90,3 meratakan warna kulit,
1000
penetrasi chemichal = 81,27 𝑔𝑟 dimana warna kulit yang
kedalam kulit. sebelumnya belum rata akan
Liquid LD merah + LD Untuk memberi warna 100 (9,03 100 diperbaiki pada proses ini.
gr) 𝑋 90,3
Dyestuff Kuning pada kulit serta 1000  Proses spray bahan stainning
= 9,03 𝑔𝑟
memperindah 3A + 3C = 9,03 gr dilakukan 1 x cross kemudian
3
penampilan kulit. 𝑋 9,03 kulit digantung dan diangin-
6
= 4,51 𝑔𝑟 anginkan smpai kondisi kulit
3
𝑋 9,03 menjadi kering. Untuk hasil
6
= 4,51 𝑔𝑟 kulit pada staining pertama
+ Liquid LD Merah Untuk menyamakan 0,4 gr
warna kulit 1 telah sesuai
Dyestuff warna antar grain
dengan warna kulit bagian
dengan flesh serta
memeberi warna pada flash. Sedangkan untuk dua
kulit agar lebih kulit yang lainnya warnanya
kemerahan. belum sesuai yaitu masih
+ Liquid LD Merah Untuk menyamakan 0,8 gr terlalu terang cenderung
Dyestuff warna antar grain dan menuju orange kekuningan
flesh serta memeberi (kurang kemerahan).
warna pada kulit agar  Maka dari itu, untuk kedua
lebih kemerahan. kulit yang warnanya belum
sesuai ditambahkan warna LD
merah sebanyak 0,4 gram lalu
dispraykan ke kulit sebanyak
1x cross. Lalu digantung dan
diangin- anginkan sampai
kering. Setelah kering ternyata
warna pada kulit masih juga
belum sesuai yaitu masih
keterangan dan kurang
kemerahan.
 Melihat hal diatas kelompok
kami memutuskan untuk
menambahkan LD merah
sebanyak 0,8gr untuk
menspray kedua kulit tersebut
dengan harapan warnanya bisa
sama seperti kulit yang 1.
Spray dilakukan sebanyak 1x
cross lalu dikeringkan. Setelah
kering hasil warnanya sudah
sesuai dengan flashnya dan
sama dengan warna kulit 1.
9 First Coat 𝐻2 𝑂 Air Membantu melarutkan 800 (72,24 800 Pada proses base coat dilakukan
gr) 𝑋 90,3
chemichal dan 1000 dengan cara cross spray 3x yaitu :
= 72,24 𝑔𝑟
membantu penetrasi 1. cross – dry
chemichal kedalam 2. cross – dry
kulit. 3. cross – dry
Wax Wax HK Sebagai perekat lapisan 50 (4,51 Hasil kulit setelah dilakukan first coat
gr) 50
emulsion cat yang terdapat pada 𝑋 90,3 terlihat lebih soft, warna kulit terlihat
1000
proses staining agar = 4,51𝑔𝑟 lebih menyerupai bagian flash dan
merekat pada kulit, warnanya rata dan sedikit lebih
hand modifier dan mengkilap.
memberikan efek plate
release.
Ethyl glycol Ethyl glycol Sebagai penetrator, 25 (2,25 25
gr) 𝑋 90,3
membuat cairan masuk 1000
= 2,25 𝑔𝑟
kedalam kulit dan dapat
membantu menambah
kerataan warna kulit.
Resin acrylic RA 2356 Resin akrilik bersifat 100 ( 9,03
gr) 100
binder. medium soft, sebagai 𝑋 90.3
1000
binder utama = 9,03 𝑔𝑟
Binder Melio top 239 Memberikan efek 25 ( 2,25 25
gr) 𝑋 90,3
protein hardner pada kulit, dan 1000
= 2,25 𝑔𝑟
casein memberikan kesan kulit
terlihat lebih
mengkilap.
10 Second H2O Air Melarutkan chemichal 950 (85,78 950 Pada tahap proses second coat atau
gr) 𝑋 90,3
Cooat dan membantu 1000 yang disebut melapisi kulit (lapisan
= 85,78 𝑔𝑟
chemichal terpenetrasi paling atas) dilakukan dengan cara
kedalam kulit. spay 2x yaitu:
Binder Wax top B Memberikan efek keset 50 (4,51 50 1. coss – dry
gr) 𝑋 90,3
protein wax dan terlihat glossy pada 1000 2. cross – dry
= 4,51 𝑔𝑟
kulit. Hasil akhir kulit setelah dilakukan
second coat menjadi lebih glossy..

11 Trimming Merapihkan kulit, Trimming dilakukan dengan


khususnya bagian menggunakan gunting, setelah
pinggiran kulit agar ditrimming kulit terlihat lebih rapih,
terlihat lebih rapih. khususnya pada bgian pinggiran kulit.
12 Roll ironing Rol ironing bertujuan Proses roll ironing dilakukan di Balai
agar lapisan film yang Kulit Yogyakarta. Suhu yang
terbentuk melekat digunakan pada saat roll ironing
dengan sempurna dan adalah 60°C. Setelah dilakukan roll
juga selain itu untuk ironing kulit terlihat lebih flat dan
menimbulkan efek mengkilap.
glossy.
13 Measuring Untuk mengetahui luas Measuring dilakukan menggunakan
kulit setelah selesai
mesih measuring. Luas kulit kami
proses.
adalah Kulit 1 = 3,9 sqft. Kulit 2 = 4,5
sqft. Kulit 3 = 3,3 sqft.

14 Sortasi Mengetahui kelas dan Data lengkap tentang sortasi dan


grading
kualitas kulit setelah grading akhir telah tertera pada tabel
akhir
diproses. sortasi dan grading akhir.
15 Packaging Melindungi kulit dari Kulit ditumpuk dengan posisi grain -
debu dan kotoran serta grain, flash – flash. Kemudian
gangguan dari digulung dan dimasukan kedalam
mikroorganisme selama plastik.
masa penyimpanan.
C. HASIL DAN PEMBAHASAN
a) Hasil Praktikum

Luas Kulit 1 : 3,9 sqft.


Kulit 2 : 4,5 sqft.
Kulit 3 : 3,3 sqft.
Panjang Kulit 1 : 65 cm.
Kulit 2 : 79 cm.
Kulit 3 : 56 cm.
Lebar Kulit 1 : 51 cm.
Kulit 2 : 58 cm.
Kulit 3 : 48 cm.
Tebal Kulit 1 : Leher = 0,48 mm, Perut = 0,41 mm, Ekor = 0,49 mm, Krupon
= 0,52 mm
Kulit 2 : Leher = 0,58 mm, Perut = 0,47 mm, Ekor = 0,54 mm, Krupon
= 0,58 mm
Kulit 3 : Leher = 0,48 mm, Perut = 0,4 mm, Ekor = 0,56 mm, Krupon
= 0,52 mm
Warna Kulit 1 : Orange Pekat (Teracotta).
Kulit 2 : Orange Pekat (Teracotta).
Kulit 3 : Orange Pekat (Teracotta).
Kondisi kulit Kulit 1 : terdapat lubang pada bagian flank, warna kulit sudah
lumayan rata namun masih ada bercak bercak warna yang terlihat
pada kulit walaupun tipis.
Kulit 2 : terdapat lubang dibagian leher, warna kulit sudah lumayan
rata namun masih ada bercak bercak warna yang terlihat pada kulit
walaupun tipis.
Kulit 3 : warna kulit sudah lumayan rata namun masih ada bercak
bercak warna yang terlihat paa kulit walaupun tipis.
Kualitas Kulit 1 : C
Kulit 2 : C
Kulit 3 : C
b) Pembahasan

Nama Rezal Oktabriandi


NIM 1701023
Kelas TPK A2

Pada praktikum finishing aniline kali ini yaitu finishing aniline dress glove dengan bahan baku kulit
domba crust berwarna merah bata mendapatkan 3 kulit denan total luas 12 squarefeet. Seperti yang tertera
pada tabel formulasi diatas, langkah awal yang dilakukan yaitu Drop test untuk mengetahui daya serap kulit
terhadap air, hal ini dilakukan agar nantinya bahan-bahan finishing mampu meresap kedalam kulit tetapi
tidak sampai jauh kedalam bahan tersebut masuk kedalam kulit dikhawatirkan apabila masuk terlalu dalam
bisa mempengaruhi karakter pegangan kulit finish nantinya. Setelah mengetahui hasil droptest lebih 15
detik maka dilakukan proses clearing.

Proses clearing ini merupakan proses sebelum masuk ke proses base coat. Clearing bertujuan untuk
mengurangi sisa minyak yang masih menempel dan menurunkan tegangan antar permukaan yang tinggi,
karena jika tidak dihilangkan dapat menghambat penetrasi dan serapan yang tidak merata. Proses clearing
ini menggunakan bahan-bahan antara lain Hustapol NID (surfaktan), serta ammonia (berfungsi untuk
meratakan muatan pada kulit). Pada proses clearing ini dilakukan dengan 1 kali cross dan ditunngu sampai
kering. Pada kelompok kami melakukan proses clearing 2 kali dimana yang pertama setelah dilakukan
droptest masih memiliki daya serap yang rendah yaitu sekitar 30 detik. Setelah clearing mendapat daya
serap yang baik maka dilanjutkan pada proses staning

Proses Staining ini bertujuan untuk untuk menyamakan warna yang tidak rata atau tidak sesuai
warna sampel namun tidak sampai menutup dari grain/kenaturalan kulit itu sendiri. Pada proses ini
menggunakan Liquid Dyes merah dan kuning dengan perbandingan 1 : 1, masing-masing dengan berat 4,51.
Dengan 3 kali cross ditunggu sampai kering. Setelah melihat hasil dari staning mendapatkan 1 kulit
memiliki warna yang lebih gelap. Akhirnya keompok kami melakukan matching colour ulang agar 3 kulit
memiliki warna yang seragam dengan menambah sedikit pada Liquid Dyes merah 0,8 gr spray 2 kali cross
pada 2 kulit yang memiliki warna lebih muda dan ditujukan agar warna seragam. setelah restaining ke 3
kulit memiliki warna yang seragam, sehingga dapat dilanjutkan ke proses Base coat (1st coat).

Base coat merupakan lapisan yang paling lunak diantara lapisan yang lainnya, lapisan ini dibuat
sangat lunak untuk mendapatkan elastisitas dan fleksibilitas pada grain karena rajah yang paling besar
mengalami tekanan dan perubahan gerak ketika digunakan. Menrut Purnomo eddy (2017) bahwa Sifat fisik
base coat sangat berhubungan dengan pembentukan lapisan (film forming) dan lapisan ini berpengaruh
besar terhadap fieksibelitas, daya rekat (adhesi) terhadap kulit dan antara lapisan (inter-coat), ketahanan
pecah dingin, ketahanan basah (wet soak resistance), toughness/stiffness cat tutup dan elastisitas. 1st coat
menggunakan bahan-bahan antara lain wax HK (wax+filler), Ethyl Ghycol, RA 2356 (resin acrylic binder),
melio top 239 (Protein casein binder). Semua bahan yang dipakai memiliki karakter yang lembut dan soft.
Dengan teknik spray pada kulit sebanyak 3 kali cross. Selanjutnya yatu Top Coat/2nd coat

Top coat / 2nd coat merupakan Lapisan yang paling atas, paling keras, paling tipis dibuat dengan
tujuan melindungi lapisan warna dan permukaan kulit dari benturan, pukulan, goresan, bahan kimia,
pelarut, temperature tinggi/rendah. Top Coat atau season coat ini sangat mempengaruhi surface wear
(permukaan & ketahanan pakai) dan termasuk sifat abrasion resistance, scuffing/friction, wet and dry crock
dan clean ability (Purnomo, eddy. 2017) lapisan film ini dibuat setipis mungkin agar karakter dari kulit
dengan artikel dress glove tidak berubah /menjadi kaku. Menurut Lanxees (2011), coating (pelapisan)
merupakan tahapan penting pada proses finishing kulit yang berfungsi untuk melindungi permukaan kulit
dari pengaruh luar. Setelah perlakuan coating selanjutnya disempurnakan/dimatangkan pada perlakuan
plating dengan tekanan, suhu dan waktu tertentu. teknik spray yang dilakukan sebanyak 2 kali cross dengan
menggunakan chemical jenis hardener protein casein binder (wax top B) dengan pelarut air. (kasein dan
protein) lapisan atas cukup kuat merekat pada permukaan kulit. Pelapisan atas (top coat) bertujuan untuk
meningkatkan ketahanan gosok dan memberikan efek kilap pada kulit jadinya (Sumarni dkk., 2013).
Biasanya bersifat thermosetting selanjutnya dilakukan rol ironing dengan suhu 60oC betujuan agar lapisan
film yang terbentuk melekat dengan sempurna dan juga selain itu untuk menimbulkan efek glossy
Perlakuan plating membantu meratakan lapisan yang terbentuk dan lapisan yang terbentuk menjadi
kompak dan permanen (Kasmu-djiastuti, 2014),dilanjutkan measuring meliputi luas 11,5 squarefeet, dan
packaging.
Nama Dani Fortuna Alif
NIM 1701016
Kelas TPK A1
Pada praktikum pertama dari mata kuliah aniline finishing adalah memberikan sentuhan akhir pada kulit
artikel dress gloves dari hasil praktikum pada saat semester 4 dengan cara aniline finishing. Kulit
anilin adalah jenis kulit yang dicelup khusus dengan pewarna yang larut. Zat warna mewarnai kulit tanpa
menghasilkan permukaan seragam dari cat mantel atau sealant berpigmen yang tidak larut. Produk yang
dihasilkan mempertahankan permukaan alami kulit. Setiap variasi yang terlihat pada permukaan kulit yang
tidak dilepas seperti pori-pori yang terlihat, bekas luka, atau cacat lain akan tetap terlihat. Karena alasan
ini, hanya kulit berkualitas tinggi yang cocok untuk finishing anilin.
Awalnya, pewarna yang digunakan untuk proses ini disintesis dari anilin melalui reaksi
kimia . Pewarna ini dulu disebut ' pewarna anilin ' atau 'pewarna tar'. Di zaman modern, pewarna yang
digunakan tunduk pada hukum dan peraturan di banyak negara, dan penggunaan senyawa azo tertentu
dilarang di Uni Eropa karena ada alasan untuk menanggung risiko kesehatan.
Kulit anilin dapat disebut "anilin penuh" untuk membedakan antara perawatan pewarna dan
varian. Kulit semi-anilin diproduksi melalui proses yang sangat mirip dengan anilin penuh, tetapi memiliki
lapisan atas pelindung tipis yang ditambahkan untuk melindunginya dari keausan dan pewarnaan. Pull-up
anilin leather memiliki minyak tambahan atau lilin yang diaplikasikan pada kulit untuk memberikan
tampilan yang tertekan.
Hal pertama yang dilakukan adalah melakukan drop test yang bertujuan untuk mengetahui daya
serap kulit terhadap air, karena pada finishing aniline dibutuhkan penyerapan air yang maksimal sekitar 10
– 15 detik air sudah harus menyerap kedalam kulit. Proses setelahnya adalah clearing, proses ini bertujuan
untuk menurunkan tegangan antar kulit dan untuk membantu meratakan muatan pada proses staining nanti.
Bahan yang digunakan adalah air, hustapol NID, Amoniac. Drop test dilakukan lagi untuk mengetahui
apakah kulit sudah lolos penyerapan air nya, dari 3 kulit hanya 1 kulit saja yang lolos lalu untuk 2 kulit
lainnya dilakukan clearing lagi untuk mendapatkan penyerapan yang maksimal.
Proses berikutnya adalah staining, proses ini bertujuan untuk memberikan warna yang tipis pada
permukaan kulit, warna yang diberikan harus sesuai dengan kulit crust yang ada maka dari itu pada staining
dilakukan matching colour. Bahan yang digunakan pada staining meliputi air dan liquid dyes (LD). Staining
dilakukan sebanyak 2X dengan penyemprotan menggunakan spray gun, setiap 1X penyemprotan kulit
diangin-anginkan terlebih dahulu agar warna dari liquid dyes dapat meresap terlebih dahulu.
Tahap berikutnya yaitu first coat/base coat karena ini adalah lapisan dasar yang melapisi hasil
staining. First coat ini bertujuan untuk melapisi grain kulit, dilakukan dengan menggunakan protein dan
campuran casein pada bahan melio top 239. Bahan yang digunakan meliputi air, wax Hk, ethygycol, RA
2356, melio top 239. Fungsi dari masing-masing bahan adalah wax Hk berfungsi sebagai perekat lapisan,
ethygycol berfungsi untuk meratakan larutan, RA 2356 yaitu resin acrylic berfungsi untuk binder utama
pada first coat, melio top 239 berfungsi sebagai harderner. Proses ini dilakukan dengan cara 3X
penyemprotan tipis pada setiap kulit, pada setiap kali penyemprotan dilakukan pengeringan terlebih dahulu
dengan di angin-angin kan di ruangan terbuka.
Proses terakhir yang menggunakan alat spray gun adalah second coat/top coat, tahap ini adalah
tahap memberikan lapisan terakhir pada bagian kulit paling atas artikel dress gloves. Bahan yang digunakan
adalah air dan wax top B, dengan fungsi dari wax top B adalah sebagai pemberi efek glozzy pada kulit agar
nampak sedikit mengkilap. Proses ini dilakukan dengan 2X penyemprotan tipis pada permukaan kulit
dengan setiap 1X penyemprotan kulit kembali di angin-angin kan di ruang terbuka.
Rool ironing adalah tahap berikutnya setelah top coat, tahapan ini mengaharuskan kulit layaknya
disetrika dengan alat roll. Suhu yang diterapkan untuk tahapan ini ± 60°C untuk menghindari kulit rusak
jika terlalu panas. Proses ini dilakukan di luar kampus yaitu di balai karena untuk mendapatkan hasil yang
maksimal dan juga karena di kampus tidak tersedia. Setelah nya adalah proses mekanik dengan toggle agar
kulit mendapat luas yang maksimal. Selanjutnya yaitu di meassuring untuk mengukur luas kulit dengan
mesin.
Nama Fernanda Putri Crismonica
NIM 1701038
Kelas TPK A2

2 Drop Test I Secuku H2O Air Men  Drop test dilakukan dengan cara
geta
hui /
men
guji
daya

Pada praktikum finishing pertama kali ini yaitu finishing Aniline dengan artikel sheep dressed glove
finished dan menggunakan material crust sheep dreesed glove oranye. Finishing Aniline merupakan cara
atau metoda finishing yang menggunakan pewarna anilin atau turunannya seperti metalkompleks, dyestuff,
cationic dyestuff, acid dyestuff. Sifat dari pewarna ini tranparant /mempertahankan permukaan alami
kulit. Setiap variasi yang terlihat pada permukaan kulit yang tidak dilepas seperti pori-pori yang terlihat,
bekas luka, atau cacat lain akan tetap terlihat. Sehingga biasanya digunakan terutama untuk kulit dengan
kualitas prima spt nappa dan kulit novelty seperti buaya, ular, biawak ikan dll yang memang ingin
menonjolkan sifat natural permukaan kulit.
Tahap pertama yang dilakukan adalah mengidentifikasi kulit yang biasa disebut dengan
sortasi&grading. Sortasi&grading selalu dilakukan disetiap kali proses pengolahan kulit dimana hal ini
dilakukan untuk bertujuan mengetahui kualitas kulit, mengetahui kondisi kulit dan untuk mengetahui
ukuran kulit tersebut. Dalam pratikum ini didapatkan 3 kulit dengan material crust sheep dreesed glove
oranye kemerahan. Kulit ke-I memiliki ukuran sebagai berikut: panjang: 62cm, lebar: 55cm, Luas: 4,2sqt,
tebal: 0,58mm dengan kualitas: reject, karena terdapat warna yang tidak merata diseluruh bagian kulit
sehingga menyebabkan bercak pada kulit. Kulit ke-II memiliki ukuran sebagai berikut: panjang: 76cm,
lebar: 56cm, Luas: 3,6sqt, tebal: 0,51mm dan kualitas: reject,karena terdapat lubang di leher serta warna
yang tidak merata dibagian krupon. Kulit ke-III memiliki ukuran sebagai berikut: panjang: 72cm, lebar:
56cm, Luas: 3,6sqt, tebal: 0,51mm dan kualitas: reject,karena hamper bagian kulit memiliki warna yang
tidak merata dan menyebabkan bercak-bercak pada kulit. Dari hasil identifikasi dinyatakan bahwa semua
kulit tidak cocok digunakan untuk artikel sheep dressed glove finished karena hasilnya kualitas kulit buruk
sedangkan yang dibutuhkan artikel aniline yaitu kulit dengan kualitas yang baik.
Proses kedua yaitu mekanik toggling. Toggling dilakukan untuk menambah luas kulit dan
memberikan efek flat pada kulit. Ketiga kulit ditoggling menggunakan penjepit selama semalam namun
tidak dilakukan toggling mati karena untuk menjaga fleksibilitas kulit (run) untuk artikel sheep dressed
glove finished.
Keeseokan harinya dilakukan proses drop test. Drop test bertujuan untuk mengetahui daya serap
kulit terhadap air, karena pada finishing aniline dibutuhkan penyerapan air yang maksimal sekitar 10 – 15
detik air sudah harus menyerap kedalam kulit. Kulit diberi percikan air dan ditunggu kurang lebih 15 detik.
Jika lebih dari 15 detik akan dilakukan clearing. Hasil droptest kulit ke-I: 56 detik, kulit ke-II: 42 detik dan
kulit ke-III: 1 menit. Dari hasil tersebut uji droptest dinyatakan gagal dan dilakukan proses clearing. Proses
clearing, bertujuan untuk menurunkan tegangan antar kulit dan untuk meratakan serapan kedalam kulit.
Bahan yang digunakan adalah air, hustapol NID, Amoniac. Semua bahan dihomogenkan dan disemprotkan
kekulit menggunakan spraygun secara bergantian kemudia di keringkan. Setelah kulit kering dilakukan
droptest untuk mengetahui apakah kulit sudah lolos penyerapan air nya. Hasil droptest waktu masih
melebihi 15 detik sehingga kulit dinyatakan tidal lolos sehingga akan dilakukan proses clearing ulang, agar
pada saat proses staining chemical dapat masuk secara sempurna dan tidak membutuhkan waktu cukup
lama.
Proses re-clearing dilakukan menggunakan bahan yang sama dengan clearing dan metode yang
sama pula. Re-clearing dilakukan karena hasil kulit masih tidak lolos/belum memenuhi standart yang
ditentukan. Ketika re-clearing sudah dilakukan akan dilakukan droptest, droptest yang bertujuan untuk
menguji serapan kulit. Ketika kulit sudah kering dari re-clearing akan dilakukan droptest. Sama halnya
dengan proses droptest sebelum-sebelumnya, droptest ini dilakukan dengan memberikan percikan air di
sudut kulit dan menghitung dengan waktu (timer). Hasil kulit: kulit ke-I: 13detik, kulit ke-II: 8detik dan
kulit ke-III: 14detik. Artinya semua kulit telah dinyatakan lolos uji droptest hal ini dapat dilihat dari reaksi
kulit yang telah diberikan percikan air dimana air diresap sangat cepat dan waktu yang cukup cepat sehingga
dinyatakan lolos uji droptest.
Proses selanjutnya staining. Staining adalah proses pewarnaan permukaan menggunakan pewarna
anilin (dyes) cair atau liquid dyes (LD). Staining bertujuan untuk menyamakan warna yang tidak rata atau
tidak sesuai warna sampel kususnya untuk kulit suede, nubuck yang tidak mengalami pelapisan atau kulit
nappa untuk finishing aniline. Staining umumnya dilakukan untuk kulit yang berwarna hitam atau tua
menggunakan liquid dyestuff (LD) biasanya solvent-base. Untuk kulit kulit yang bersifat water-proof baik
nappa atau suede atau nubuck yang natural looking. Bahan yang digunakan staining ada (air) dan LD (liquid
dyes) warna merah dan kuning. LD menggunakan matching colour warna merah dan kuning dengan
perbandingan yang sama. LD berfungsi untuk memberikan warna terhadap kulit, memperindah kulit namun
tidak menutup keaslian kulit dan meratakan warna kulit. Semua bahan dihomogenkan kemudian
diaplikasikan ke kulit menggunakan spraygun dengan metode satu kali cross spray bisa X atau +. Staining
tidak perlu tebal yang penting warna merata. Dilakukan sebanyak 3x secara bergantian (semprot-dry). Hasil
kulit: terdapat 1 kulit yang sesuai dan 2 kulit yang tidak sesuai karena warnanya masih sedikit muda
sehingga perlu di re-stainning untuk 2 kulit yang belum sesaui tersebut.
Re-stainning dilakukan hanya untuk 2 kulit yang belum sesuai saja. Re-stainning berfungsi untuk
meratakan dan menyamakan hasil warna kulit. Bahan yang digunakan air dan LD warna merah saja karena
warna yang kurang tercapai kurang berwarna merah. Metode yang digunakan sama yaitu dilakukan semprot
sebanyak 3x secara bergantian dengan satu cross . hasil kulit yang didapat: warna kulit sudah sesuai dengan
sampel dan berwarna oranye kemerahan.
Proses berikutnya basecoat. Basecoat merupakan lapisan yang paling lunak, fleksibel dibandingkan
dengan lapisan yang lainnya. Lapisan ini dibuat sangat lunak untuk memperoleh kekenyalan dan elastisitas
pada rajah/grain, karena rajah adalah yang paling besar mengalami tekanan dan perubahan gerak ketika
digunakan. Chemical yang digunakan pada basecoat yaitu Wax HK, Ethyglycol, RA 2356, Melio Top 239
pada masing-masing bahan memiliki fungsi tersendiri, untuk Wax Hk untuk perekat lapisan cat yang
terdapat pada staining agar merekat pada kulit dan dapat membantu menutupi kerusakan pada permukaan
kulit, feel modifier and filler agent, Ethyglycol untuk membantu meratakan warna kulit, RA 2356
merupakan resin akrilik binder yang bersifat medium soft, digunakan untuk kulit full grain, bahan basecoat
terakhir yang digunakana adalah Melio top 239 yaitu protein casein binder dapat memberi efek glossy pada
full grain, buffing dan goat skin leather, melio top sendiri merupakan binder akan tetapi pada artikel kali
ini menggunakan sedikit jumlahnya sehingga dia menjadi harderner, bukan protein. Dari bahan-bahan yang
digunakan merupakan resin yang tergolong lembut atau soft. Setelah dilakukan base coat/1 st coat hasil dari
kulit adalah warnanya menjadi lebih gelap menyerupai bagian flash nya dan warna merata. Base coat dapat
dilakukan beberapa kali jika kulit yang dihasilkan setelah di base coat/1st coat belum cukup, setelah melalui
proses 1st coat kemudian proses 2nd coat .
2nd coat/ Topcoat merupakan lapisan yang paling atas, paling keras, paling tipis dibuat dengan
tujuan melindungi lapisan warna dan permukaan kulit dari benturan, pukulan, goresan, bahan kimia,
pelarut, temperature tinggi/rendah. Top coat ini sangat mempengaruhi surface wear (permukaan &
ketahanan pakai) dan termasuk sifat abrasion resistance, scuffing/friction, wet and dry crock dan clean
ability (Purnomo, eddy. 2017). Chemical yang digunakan pada tahapan proses 2nd coat adalah Wax Top B
(protein casein binder) dan air. Kedua bahan dihomogenkan kemudian diaplikasikan ke kulit selama dua
kali seperti biasa setelah dilakukan spray pada kulit, kulit di hanging. Topcoat bertujuan untuk
meningkatkan ketahanan gosok dan memberikan efek kilap pada kulit jadinya (Sumarni dkk., 2013).
Topcoat bersifat thermosetting.

Proses selanjutnya dilakukan Rool ironing. Rol ironing ini mengaharuskan kulit layaknya disetrika.
Rol ironing bertujuan agar lapisan film yang terbentuk melekat dengan sempurna dan juga selain itu untuk
menimbulkan efek glossy. Suhu yang diterapkan untuk tahapan ini ± 60°C untuk menghindari kulit rusak
jika terlalu panas. Proses ini dilakukan di luar kampus yaitu di Balai Kulit karena untuk mendapatkan hasil
yang maksimal dan di kampus tidak tersedia alatnya. Sehingga tidak tahu secara jelas cara kerja Rol ironing,
namun yang jelas seperti disetrika.
Proses mekanik terakhir yaitu di toggling, measuring dan sorgrad dan packaging. Toggling
dilakukan untuk menambah luas kulit dan membuat kulit lebih flat. Measuring untuk mengetahui luas
masing-masing kulit. Luas kulit I: 3,9sqt, kulit II: 4,5sqt dan kulit III: 3,3sqt. Identifikasi hasil akhir kulit
yang didapat warna sudah merata namun masih terdapat bercak didaerah tepi kulit sehingga kualitas kulit
buruk dan tidak cocok sebagai sheep dressed glove finished. Packaging dilakukan agar kulit tersimpan
dengan baik dan tidak mudah rusak. Kulit dijadikan satu dan dimasukkan kedalam plastik.
Nama Nayla Mustika Fauziah
NIM 1701014
Kelas TPK A1

Kulit merupakan salah satu bagian dari makhluk hidup yang dapat dimanfaatkan. Di zaman yang
sekarang ini kulit hewan banyak dimanfaatkan sebagai produk kerajinan yang memiliki nilai ekonomis
yang tinggi. Produk-produk yang menggunakan bahan kulit diantaranya adalah sepatu, ikat pinggang, tas,
sarung tangan/ glove, dan sebagainya (Purnomo, 2017).

Sangat langka produk kulit seperti tas, sepatu, garmen, sarung tangan, diproduksi dalam keadaan
kondisi “crusting” (setelah proses retanning, peminyakan, pewarnaan, dan pengeringan). Umumnya kulit
telah mengalami tahapan yang disebut finishing atau coating atau pengecatan tutup, walaupun terkadang
dilakukan dengan metoda yang sederhana.

Mengingat sebagian besar bahan baku kulit (70-75%) memiliki kualitas III, IV, V bahkan afkir maka
perlu usaha untuk meningkatkan kualitas dan tampilan akhir supaya meningkatkan daya tarik, daya jual
dengan cara menutup, memperbaiki, mengurangi, dan bila mungkin menghilangkan cacat, baik cacat alami,
selama penyimpanan (luka, bekas penyakit, serangga dll) atau yang terjadi selama proses penyamakan
berlangsung (warna tidak rata, luntur, migrasi, un-matching dengan sampel) dengan proses finishing.
Obyek utama finishing adalah menonjolkan dan mempertahan sifat naturalis (alami) kulit dan memberikan
efek shine (dull, flat, matte, satin, gloss, super gloss) pada permukaan permukaan kulit (rajah/grain).
(Purnomo,2017)

Menurut Eddy Purnomo dalam bukunya yang berjudul Leather Finishing pada tahun 2017 tujuan
finishing adalah :

1) Protecting : Melapisi atau memberikan lapisan tipis (film) pada permukaan kulit untuk melindungi dari
pengaruh bahan-bahan kimia, panas, gosokan, air, benturan yang dapat merusak kulit dll.

2) Upgrading :Untuk memperbaiki (upgrading) cacat, defek – defek pada permukaan kulit sehingga
permukaan (grain) tampak lebih natural.

3) Decorating :Untuk memperindah, menghias (decorating) agar tampak lebih indah dan fashionable.

Finishing diklasifikasikan menjadi beberapa bagian, klasifikasi finishing berdasarkan mesin atau
alatnya finishing yang digunakan yaitu spray finish, roll coating finish, currtain coating finish, padding
finish, glaze finish, plate finish, glaze/plate finish, embossed finish. klasifikasi finishing berdasarkan efek
finishing yang digunakan yaitu corrected grain finish, aniline finish, semi aniline finish, foam finish, opaque
finish, brush of finish, easy care finish, antique finish, fancy finish, matte finish, glossy finish, two or multi
tone finish, infisible finish, craquele finish, waxy finish. Klasifikasi finishing berdasarkan bahan kimia
binder yang digunakan yaitu film transfer finish, polymer binder finish, casein binder finish, nitrocelullose
solution or emulsion finish, CAB finish solvent, patent finish. Klasifikasi finishing berdasarkan warna
digunakan yaitu anilin finish, pigment finish, semi anilin finish. (Purnomo, 2017).

Pada praktikum kali ini yang kami praktikan adalah Finishing Anilin untuk artikel dressed glove.
Sarung tangan dressed glove adalah sarung tangan busana yang dikelompokkan berdasarkan gender pria
atau wanita. Sarung tangan ini umumnya mengalami finishing. Dressed glove sedikit berbeda dengan
sarung tangan kebanyakan. Di samping karena mengalami finishing, sarung tangan ini juga tidak begitu
memerlukan "run" yang baik, lebih menitik beratkan pada ketahanan abrasi, panas, atau aksi bahan kimia
yang lebih baik.

Walaupun demikian, tingkat kelemasan tetap lebih tinggi dibandingkan dengan kulit garment.
Finishing kulit sarung tangan ini harus tahan pecah, tidak marked off sehingga dibuat komposisi dengan
hasil film harus tetap fleksibel dengan daya rekat yang tinggi. Dressed glove termasuk aniline finished
karena harus ditampakkan keutuhan grain dan kenampakan alami kulit. Jika terdapat cacat maka tentunya
diperlukan penambahan pigmen pada finshingnya yang dengan sendirinya penambahan pigmen akan
mengurangi elastisitas cat tutupnya. Penggunaan pigmen harus dibatasi, harus menggunakan polimer
dengan micro molecul (micro binder) 0,08 μm agar penetrasi bahan finishing lebih terpenetrasi dan dapat
menyatu dengan grain. (Purnomo dkk,2019)

tahapan tahapan proses dalam praktikum finishing anilin untuk artikel dressed glove kulit domba
adalah sebagai berikut :

Sortasi dan Grading

Seleksi atau grading merupakan tahapan yang sangat berperan penting dalam penyamakan kulit,
bahkan keberhasilan suatu perusahaan dalam implementasi teknologi prosesnya diawali dengan
keberhasilan seleksi atau grading kulit. Sortasi dan grading kulit harus disesuaikan dengan bahan baku
yang akan digunakan untuk pembuatan artikel tertentu (Purnomo, 2017). Sortasi berasal dari kata sortir
yang berarti memilih atau menyeleksi atau bisa diartikan dengan penyaringan dan pemilihan secara urut
untuk mendapatkan yang terbaik. Grading atau penentuan kualitas adalah batasan atau penetapan tingkat
baik buruknya sesuatu (Purwodarminoto, 1983). Pada saat sortasi dan grading kami mendapatkan kulit
crust domba sebanyak 3 lembar kulit yang dimana pada kulit 1 yang kami dapatkan memiliki luas 4,2 sqft,
tebal 0,58 mm, berwarna orange, dan memiliki kualitas riject karena terdapat defek berupa lubang pada
bagian flank, dan warna kulit yang tidak merata pada seluruh bagian kulit. Untuk kulit 2 yang kami dapatkan
memiliki luas 5,1 sqft, tebal 0,52 mm, berwarna orange, dan memiliki kualitas IV karena terdapat defek
berupa lubang pada bagian leher, dan warna kulit yang tidak merata pada krupon bagian bawah, sedangkan
untuk kulit 3 yang kami dapatkan memiliki luas 3,6 sqft, tebal 0,51 mm, berwarna orange, dan memiliki
kualitas Riject karena terdapat defek berupa warna kulit yang tidak merata dan terdapat bercak – bercak
warna hampir pada seluruh bagian kulit. Ketiga kulit yang kami dapatkan memiliki pegangan kulit yang
lemas, soft, dan run.

Pemilihan bahan kimia juga jangan diabaikan, jumlah dan jenis bahan kimia yang digunakan untuk
dapat menghasilkan finishing kulit yang sesuai dengan baku mutu seperto pemilihan wax, oil, resin tidak
menimbulkan dampak munculnya Cr6+ mengingat minyak/oil tak jenuh menyebabkan outoxidation
menghasilkan peroksida terutama bila dari hewani atau nabati. Umumnya digunakan mineral oil seperti
paraffin pasta/cair dan hard paraffin (lilin), bee wax dll.

Toggle

Toggle kulit adalah suatu perlakuan terhadap kulit dengan mementangkan kulit pada mesin toggle
kemudian dijepit menggunakan alat penjepit toggle selama beberapa jam agar penampang kulit lebih luas
dan flat, serat kulit dapat melebar serta tidak kusut pada permukaan kulit. Toggle yang dilakukan selama 1
malam dan togglenya tidak dipentang mati, dikarenakan demi menjaga fleksibelitas dan sifat run dari artikel
ini.

Kondisi kulit setelah di toggling menjadi lebih flat serta tidak ada bagian yang melipat, pegangan
kulit pun tetap run. Sehingga dapat disimpulkan bahwa proses toggling yang kami lakukan berjalan dengan
baik ditandai dengan artikel yang tidak berubah sifat runnya dan penampakan kulit yang menjadi lebih flat
dan tidak ada bagian yang melipat.

Drop test

Biasanya sebelum dilakukan coating kulit dalam keadaan crust kering, berdebu, mungkin sedikit
berminyak, tegangan permukaan tinggi, sehingga dapat menghambat penetrasi dan serapan kulit yang tidak
merata. Pada tahap awal kulit disiapkan agar serapan permukaan kulit homogen, untuk itu biasanya
dilakukan drop test untuk mengetahui sebesar apa serapan permukaan kulit. Setelah itu lakukan
pembasahan permukaan dengan air, ammonia, dan surfaktan non-ionik untuk menurunkan tegangan muka
(Purnomo,2017).

Berdasarkan pendapat diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa sangat perlu dilakukan drop test dan
clearing sebagai tahapan tahapan mempersiapkan kulit sebelum masuk ke proses coating. Maka dari itu
kelompok kami melakukan tahapan proses persiapan yang berupa pengujian drop test dan clearing sampai
benar – benar berhasil dan sesuai dengan target dan standar yang telah ditetapkan.

Drop test dilakukan sebelum memulai proses finishing yang bertujuan agar untuk mengetahui muatan
pada kulit, biasanya pada kulit crust memiliki muatan anionik serta untuk mengetahui atau menguji daya
serap kulit terhadap air. Semakin banyak air yang diserap oleh kulit maka kulit akan menjadi keras.
Mekanisme drop test pada kulit dress glove yaitu dengan memercikan air pada permukaan kulit, apabila
proses air menyerap ke kulit lebih dari 15 detik maka harus dilakukan clearing terlebih dahulu untuk
meratakan muatan pada kulit. Agar karakteristik dari kulit juga tidak berubah.

Kelompok kami melakukan drop test sebanyak 3 kali percobaan, karena pada percobaan pertama
dan kedua daya serap air masih lebih dari 15 detik sehingga kami harus melakukan clearing dan melakukan
pengecekan drop test secara berulang. Hasil pengujian drop test yang pertama adalah sebagai berikut hasil
droptest kulit ke-1: 56 detik, kulit ke-2: 42 detik dan kulit ke-3: 1 menit 20 detik. Dari hasil tersebut uji
droptest dinyatakan belum berhasil karena uji drop test dari ketiga kulit semuanya melebihi 15 detik artinya
belum sesuai dengan target yang telah ditetapkan. Maka dari itu dilakukan proses clearing. Setelah kulit
selesai di clearing kulit diuji drop test kembali. Dan untuk uji drop test yang kedua hasilnya adalah kulit
ke-1: 33 detik, kulit ke-2: 30 detik dan kulit ke-3: 60 detik. Dari data tersebut uji droptest dinyatakan belum
juga berhasil karena uji drop test dari ketiga kulit semuanya masih melebihi 15 detik artinya belum sesuai
dengan target yang telah ditetapkan.maka dari itu dilakukan prose clearing. Setelah kulit selesai di clearing
kulit diuji drop test kembali untuk yang ketiga kalinya. Dan untuk uji drop test yang ketiga hasilnya adalah
kulit ke-1: 13 detik, kulit ke-2: 8 detik dan kulit ke-3: 14detik. Dari hasil tersebut uji drop test dinyatakan
berhasil karena uji drop test dari ketiga kulit semuanya tidak lebih dari 15 detik artinya sudah sesuai dengan
target yang telah ditetapkan. Karena hal tersebut kulit sudah bisa digunakan untuk tahapan proses yang
selanjutnya.

Menurut analisis kami proses pengujian drop test yang kami lakukan berjalan dengan baik dan
pengujian ini cukup efektif dan sangat mudah untuk dilakukan guna mengetahui kemampuan serapan kulit
terhadap air. Sehingga praktikan dapat memutuskan proses apa yang harus dilakukan selanjutnya melalui
hasil dari pengujian drop test ini.

Clearing

Sebelum membahas proses yang selanjutnya, kami akan membahas dahulu proses clearing yang
berada ditengah tengah pengujian drop test. Proses clearing yang kami lakukan sebanyak dua kali yaitu
setelah pengujian drop test yang pertama dan pengujian drop test yang kedua. Proses clearing bertujuan
meratakan dan mengoptimalkan daya serap kulit terhadap air. Proses clearing dilakukan sebanyak 1x cross
semprotan merata keseluruh bagian kulit. Setelah dilakukan proses clearing kondisi kulit menjadi lembab,
oleh karena itu kulit harus digantung dan diangin – anginkan hingga kering. Bahan bahan yang digunakan
dalam proses clearing ini adalah H2O yang berfungsi melarutkan chemichal dan membantu penetrasi
chemichal kedalam kulit, bahan yang selanjutnya adalah Hustapol NID yang merupakan surfactan non
ionic. Surfactan singkatan dari surface active agent. Bahan kimia yang mampu menurunkan tegangan
permukaan air dengan benda padat, cair. Turunnya tegangan antar muka air dengan kulit akan menyebabkan
penetrasi air kedalam kulit lebih cepat. Selain itu surfaktan juga dapat mennyebabkan rusaknya
hydrophobic interactions, menaikan internal repulsive forces, melepaskan lipatan serat, kesemuanya
menyebabkan serat kendor dan relax sehingga memudahkan penerasi air (Purnomo,2016) . Dari pendapat
diatas dapat disimpulkan bahwa penggunaan Hustapol NID yang merupakan surfaktan non ionik mampu
menurunkan tegangan permukaan air di dalam kulit sehingga serat lebih longgar dan dapat mempercepat
penetrasi air ke dalam kulit . Penambahan surfaktan akan dapat menurunkan tegangan permukaan air dan
tegangan permukaan intervase air atau zat padat sehingga menghasilkan nilai koefisien penyebaran yang
positif.

Selain kedua bahan diatas digunakan pula NH4OH atau yang biasa kita kenal dengan amonnia,
penggunaan amonia disini berfungsi untuk meratakan muatan kulit dan membantu mempercepat turunnya
tegangan muka kulit. Ketiga bahan ini dicampurkan sampai homogen kemudian disaring selanjutnya
dimasukan ke tabung spray gun yang selanjutnya akan disemprotkan ke kulit. Alat yang digunakan untuk
menyemprotkan bahan bahan finishing ke kulit disebut dengan spray gun. Spray gun merupakan alat dasar
utama yang banyak digunakan baik dalam skala kecil atau besar dalam aplikasi pengecatan tutup. Spray
gun atau pistol semprot merupakan alat dalam satu kesatuan dengan compressor sebagai motor pengisi
udara, yang merupakan sumber tenaga untuk menekan cairan dan memancarkan cairan keatas menuju
atomizer pada spray unit ke-permukaan kulit. Proses terjadi pada saat trigger (pelatuk) ditekan terjadi aliran
udara melalui air inlet yang menekan campuran cat yang naik melalui fluid inlet dimana jumlah yang akan
keluar diatur oleh fluid controll melalui mix nozzle dalam bentuk partikel halus (Anggraini, dkk. 2019).

Menurut analisis kami proses clearing yang kami lakukan berjalan dengan baik dan bahan - bahan
yang kami gunakan bekerja dengan maksimal sesuai dengan fungsinya ditandai dengan kondisi kulit yang
kemampuan serapan airnya meningkat jika dilihat dari hasil drop test ke 1, 2, dan 3.

Stainning

Menurut Eddy Purnomo dalam bukunya yang berjudul Leather Finishing tahun 2017 dijelaskan
bahwasanya stainning adalah proses yang dilakukan untuk meratakan warna permukaan kulit dengan
menggunakan perwarna dyestuff, baik yang menggunakan pelarut air atau pelarut polar seperti BA, thinner,
alcohol dll seperti LD. Staining terutama ditujukan apabila warna hasil dyeing tidak sempurna, kurang rata,
warna pucat, kurang tajam, kurang hitam, tidak matching dengan contoh warna sifatnya hanya memperbaiki
warna permukaan agar lebih baik.

Berdasarkan pendapat diatas kelompok kami memutuskan untuk melakukan stainning pada ketiga
kulit kami dikarenakan warna kulit kami belum rata hampir pada seluruh bagian kulit, dan ditambah lagi
kulit kelompok kami belum sama warna antara grain dan flashnya dimana warna grain lebih terang
dibandingkan dengan warna pada bagian flashnya yang berwarna orange pekat hampir seperti warna
teracotta.

Bahan yang digunakan pada proses staining adalah H2O yang berfungsi melarutkan chemichal dan
membantu penetrasi chemichal kedalam kulit. Selain air kami menggunakan Liquid Dyestuff (LD) yaitu
LD merah dan LD kuning. Penentuan jumlah LD yang digunakan menggunakan matching colour LD warna
merah dan kuning dengan perbandingan yang sama yaitu 1 : 1. Liquid Dyestuff ini berfungsi untuk
memberikan warna terhadap kulit, dan memberikan efek memperindah penampilan kulit namun tidak
menutupi keaslian warna kulit dan LD juga dapat membantu meratakan warna kulit. Stainning dilakukan
dengan mencampurkan semua bahan hingga homogen lalu disaring dan dimasukan kedalam tabung spray
gun. Kemudian bahan staining tersebut diaplikasikan ke kulit sampai merata keseluruh bagian kulit
menggunakan spray gun dengan metode 1x cross spray. Pengaplikasiannya dilakukan sebanyak 3 kali pada
masing – masing kulit dengan cara spray-drying berulang sebanyak 3x hal ini dilakukan agar hasil
warnanya lebih maksimal.

Seletah dilakukan staining hasilnya adalah terdapat 1 kulit yang warnanya sudah sesuai, sesuai disini
dalam artian pada bagian permukaan warnanya sudah terlihat rata dan warna grain tidak jauh dari warna
bagian flash kulit, sedangkan untuk dua kulit yang lain warna yang dihasilkan belum sesuai karena warna
yang dihasilkan masih terlalu muda (kurang kemerahan) dibandingkan dengan kulit yang sudah sesuai.
sehingga perlu dilakukan stainning ulang untuk 2 kulit yang belum sesaui tersebut.

Stainning ulang atau staining yang ke dua dilakukan hanya untuk 2 kulit yang belum sesuai saja.
Staining ulang ini secara khusus berfungsi untuk meratakan dan menyamakan hasil warna kulit dengan
kulit pertama yang sudah sesuai diatas. Bahan yang digunakan H2O dan LD warna merah saja karena warna
warna kulit cenderung kurang merah. Maka dilakukan staining ulang denganmetode yang sama seperti
staining yang pertama. Setelah distaining ulang warna kulit belum juga sesuai dengan sampel kulit yang
telah sesuai, warna kulitnya masih sedikit kurang merah. Akhirnya kelompok kami memutuskan untuk
melakukan staining yang ketiga kalinya dengan menggunakan LD merah dan air serta menggunakan
metode yang sama dengan proses – proses staining diatas. Hasil dari proses staining yang ketiga warna 2
kulit yang distaining sudah sesuai dengan sampel dan berwarna orange teracotta serta warna permukaan
kulit juga sudah terlihat rata.

Menurut analisis kami proses staining yang kami lakukan berjalan dengan baik walaupun prosesnya
lama dan membutuhkan ketelitian serta kesabaran tetapi bahan - bahan yang kami gunakan bekerja dengan
maksimal sesuai dengan fungsinya ditandai dengan kondisi kulit yang warnanya telah sesuai dengan flash
dan warna permukaan kulit yang lebih rata dibandingkan sebelumnya.

First Coat

First Coat atau yang biasa disebut dengan base coat adalah lapisan yang mendasari seluruh lapisan
cat dan yang bertanggungjawab terhadap kekuatan adisi cat tutup dengan kulit. Lapisan dasar harus
mempunyai rekatan yang kuat dengan permukaan kulit. Lapisan ini disebut dengan lapisan dasar (Purnomo,
2011). Dalam bukunya yang lain yaitu Leather Finishing 2017 Eddy Purnomo juga menuliskan bahwa base
coat adalah lapisan pertama yang akan mendasari, sebagai pondasi dr lapisan cat tutup secara keseluruhan.
Lapisan ini merupakan lapisan yang paling fleksibel, soft karena menjadi tumpuan semua lapisan dan yang
paling kuat mendapat tekanan (flexing) ketika digunakan. Besarnya sifat fleksibilitas base coat disesuaikan
dengan tingkat kelemasan kulit yang bersifat relative, sehingga base coating untuk garmen akan berbeda
dengan base coating untuk sepatu. Oleh sebab besarnya pengaruh lapisan base coat terhadap sifat/karakter
lapisan cat tutup secara keseluruhan maka dalam pelaksanaannya diharapkan tidak mengalami kesalahan,
sehingga semua faktor yang mempengaruhinya harus dalam control yang benar, termasuk alat dan mesin
yang digunakan.

Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa base coat ini adalah lapisan yang berada di bagian
paling bawah (dasar) yang memiliki sifat lunak dan berfungsi sebagai dasar kekuatan seluruh lapisan coat.

Bahan – bahan yang digunakan pada proses basecoat yaitu H2O, Wax HK, Ethyglycol, RA 2356,
Melio Top 239. Bahan - bahan ini memiliki fungsi yang berbeda – beda, H2O berfungsi untuk melarutkan
chemichal dan membantu penetrasi chemichal kedalam kulit, untuk Wax HK berfungsi sebagai perekat
lapisan cat yang terdapat pada proses staining agar merekat pada kulit, hand modifier, memberikan efek
natural waxy touch, berfungsi untuk softening agent, memberikan hasil polishing yang bagus dan dapat
memberikan efek good plate realese. Untuk ethyglycol berfungsi untuk Sebagai penetrator, membuat
cairan masuk kedalam kulit dan dapat membantu menambah kerataan warna kulit. Untuk RA 2356 yang
merupakan resin akrilik binder yang memiliki sifat medium soft Resin akrilik bersifat medium soft, dan
sebagai binder utama. Untuk Melio top 239 yang merupakan protein casein binder yang berfungsi
memberikan efek hardner pada kulit, dan memberikan kesan kulit terlihat lebih mengkilap. Seluruh bahan
binder dihomogenkan kemudian di spraykan ke kulit dengan metode 1x cross – drying yang diulangi
sebanyak 3 kali. Setelah dilakukan 1 st coat hasil dari kulit adalah warnanya menjadi lebih soft pegangannya,
warnanya menyerupai bagian flash nya, warnanya merata, serta terlihat lebih mengkilap.
Menurut analisis kami proses first coat yang kami lakukan berjalan dengan sangat baik dan bahan
- bahan yang kami gunakan bekerja dengan maksimal sesuai dengan fungsinya ditandai dengan kondisi
kulit yang tidak lengket, warnanya telah sesuai dengan flash dan warna permukaan kulit yang lebih rata,
terlihat lebih soft, sedikit mengkilap.

Second Coat

Second coat atau yang biasa dikenal dengan top coat merupakan lapisan yang terakhir, lapisan yang
paling atas yang berfungsi untuk melindungi lapisan-dibawahnya dari berbagai bahan kimia dan pengaruh
fisik seperti benturan, gosokan, panas, dingin dll. Untuk itu lapisan ini dirancang menjadi lapisan yang
paling keras dibandingkan lapisan dibawahnya (Purnomo, 2017).

Bahan bahan yang digunakan pada tahapan proses 2nd coat adalah H2O yang berfungsi sebagai
pelarut chemichal dan membantu penetrasi chemichal kedalam kulit. Dan Wax Top B (binder protein)
yang berfungsi melindungi kulit dan memberikan efek glossy. Kedua bahan dihomogenkan kemudian dan
disaring, lalu diaplikasikan ke kulit dengan metode 1x cross spray – drying yang diulangi sebanyak 2x.
Topcoat yang dilakukan bersifat thermosetting. Hasil kulit setelah dilakukan top coat menjadi lebih terlihat
glossy.

Menurut analisis kami proses second coat yang kami lakukan berjalan dengan sangat baik dan
bahan - bahan yang kami gunakan bekerja dengan maksimal sesuai dengan fungsinya ditandai dengan
kondisi kulit yang terlihat glossy.

Proses Mekanik (Trimming, Roll Ironing, Sortasi Grading Akhir, Measuring, Packaging)

Proses trimming yaitu proses merapihkan kulit, khususnya bagian pinggiran kulit agar terlihat lebih
rapih. Trimming dilakukan dengan menggunakan gunting, setelah ditrimming kulit terlihat lebih rapih,
khususnya pada bgian pinggiran kulit.

Proses roll ironing membuat kulit berada dalam kondisi disetrika. Rol ironing bertujuan agar lapisan
film yang terbentuk melekat dengan sempurna pada kulit dan juga memberikan efek glossy pada kulit. Suhu
yang diterapkan untuk tahapan ini ± 60°C untuk menghindari kulit rusak jika terlalu panas. Proses ini
dilakukan di Balai Kulit Yogyakarta dan hanya perwakilan kelompok yang ikut kesana sehingga kurang
jelas berapa tekanan dan waktu yang digunakan. Hasil kulit setelah dilakukan roll ironing menjadi lebih
flat dan mengkilap.

Measuring dilakukan dengan alat measuring yang berfungsi untuk mengetahui luas masing-masing
kulit secara otomatis. Luas kulit 1: 3,9sqt, kulit 2: 4,5sqt dan kulit 3: 3,3sqt.

Identifikasi / sortasi dan grading akhir hasil akhir kulit yang didapat semua kulit memiliki kualitas
C, dikarenakan warna sudah merata namun masih terdapat bercak warna yang kelihatan walaupun tipis
khusunya pada bagian krupon bawah dan bagian tepi kulit. Hasil akhir dari kulit kami setelah dilakukan
proses finishing memiliki kualitas yang lebih baik dari kulit crust (awal), karena kulit kami memiliki
pegangan yang soft, run, dan memiliki efek glossy. Selain itu juga cacat-cacat pada kulit cukup rata
tersamarkan karena warna yang dimiliki oleh kulit ini sangat indah, tetapi ada defek yang tidak dapat
tersamarkan yaitu bercak bercak warna yang masih terlihat walaqupun tipis. Hal ini mungkin dikarenakan
proses clearing yang kami anggap sempurna ternyata masih kurang sempurna, akibatnya maka akan
berpengaruh pada proses selanjutnya, yang akan mengakibatkan dyestuff yang di gunakan pada proses
stainning tidak bisa terserap sempurna yang akan mengakibatkan bercak warna pada permukaan kulit
Packaging dilakukan dengan cara kulit ditumpuk dengan posisi grain - grain, flash – flash.
Kemudian digulung dan dimasukan kedalam plastik. Hal ini berfungsi untuk melindungi kulit dari debu
dan kotoran serta gangguan dari mikroorganisme selama masa penyimpanan.
D. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil praktikum finishing aniline artikel dress glove, maka dapat ditarik kesimpulan
bahwa:
- Kulit yang dapat di finish menggunakan finishing aniline yaitu kulit full grain atau kulit yang
mempunyai kualitas tinggi.
- Untuk mengetahui daya serap kulit dapat dilakukan uji droptest.
- Jika pada proses clearing tidak sempurna, maka akan berpengaruh pada proses selanjutnya, yang
akan mengakibatkan dyestuff yang di gunakan pada proses stainning tidak bisa terserap sempurna
yang akan mengakibatkan bercak warna pada permukaan kulit.
- Dalam proses finishing anilin yang sangat memiliki peranan krusial ialah pada saat proses
celaring.
- Proses finishing tidak cukup dengan teori melainkan dibantu dengan kreatifitas dan pembelajar
secara bertahap.
- Perbedaan yang sangat jelas terjadi antara bahan baku awal (kulit crust) dengan yang sudah
difinishing anilin adalah, warna yang tadinya tidak rata menjadi terlihat rata, dan bercak warna
yang tadinya jelas menjadi tersamarkan, ditambah lagi adanya efek glossy dan mengkilap setelah
proses finishing anilin.
E. DAFTAR PUSTAKA
- Rezal Oktabriandi :
Purnomo, eddy. 2017. Leather Finishing. Politeknik ATK Yogyakarta.
Lanxees. (2011). Launch water based transfer coating. Germany: Lanxees.
Sumarni, S., Triatmojo, S., & Nurliyani. (2013). Pengaruh penggunaan binder alami pada
proses finishing kulit cakar ayam tersamak terhadap keuatan sobek dan ketahanan gosok
cat. Buletin Peternakan, 37(1), 41-48.
Kasmudjiastuti, E. (2014). Optimasi proses finishing kulit ikan nila (Oreochromis niloticus)
untuk bagian atas sepatu. Majalah Kulit, Karet, dan Plastik, (30)2, 107-114
- Dani Fortuna Alif :
Purnomo, eddy. 2017. Leather Finishing. Politeknik ATK Yogyakarta.
- Fernanda Putri Crismonica
Purnomo, eddy. 2017. Leather Finishing. Politeknik ATK Yogyakarta.
- Nayla Mustika Fauziah
Purnomo, Eddy. 2011. Teknologi Finishing. Politeknik ATK Yogyakarta.
Purnomo, Eddy. 2017. Leather Finishing. Politeknik ATK Yogyakarta.
Purnomo, Eddy.2017.Bahan Kimia Kulit.Yogyakarta : Politeknik ATK Yogyakarta.
Abdullah, Sofwan Siddiq. 2019. Teknologi Finishing. Politeknik ATK Yogyakarta.
Purnomo, Eddy. 2018. Teknik finishing anilin dan semianilin. Yogyakarta. Politeknik ATK
Yogyakarta
Purnomo, Eddy, dkk. 2019. Teknik finishing anilin. Yogyakarta. Politeknik ATK Yogyakarta.