Anda di halaman 1dari 25

‘‘KARAKTERISTIK PELAYANAN BK”

Dosen Pembina:
Marjohan, M.Pd., Kons

Oleh:
Kelompok 12

1. Jihan salsabila
2. Nurmia fitri
3. Nur ayni hidayah
4. nurfazila

Jurusan Bimbingan dan Konseling


Fakultas Ilmu Pendidikan
Universitas Negeri Padang

2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan
makalah ini yang alhamdulillah tepat pada waktunya yang berjudul
“KARAKTERISTIK PELAYANAN BK“.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena
itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami
harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata, kami sampaikan terimakasih kepada semua pihak yang telah
berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga
Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita. Amin

Padang,21 -11-2019

penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.....................................................................................2
DAFTAR ISI...................................................................................................3
BAB I PENDAHULUAN ..............................................................................4
A. Latar Belakang Masalah…………………………………………...5
B. Rumusan Masalah..................................................................................5
C. Tujuan......................................................................................................5

BAB II PEMBAHASAN................................................................................6
A. Objek Praktis Spesifik GurBK/Konselor.............................................6
B Ojek Praktis Spesifik Pelajaran……………………………………...17

BAB III PENUTUP.......................................................................................23


A. Kesimpulan................................................................................................23
B. Saran ……………………………………………………………...……24
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................25
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Tugas-tugas pendidik untuk mengembangkan peserta didik secara utuh


dan optimal sesungguhnya merupakan tugas bersama yang harus dilaksanakan
oleh guru, konselor, dan tenaga pendidik lainnya sebagai mitra kerja. Sementara
itu, masing-masing pihak tetap memiliki wilayah pelayanan khusus dalam
mendukung realisasi diri dan pencapaian kompetensi peserta didik. Dalam
hubungan fungsional kemitraan antara konselor dengan guru, antara lain dapat
dilakukan melalui kegiatan rujukan (referal)

Profesi pendidik merupakan suatu bidang yang memerlukan


profesionalisme dalam menjalankannya. Untuk memperbaiki dan meningkatkan
mutu pendidikan diperlukan para pendidik yang profesional yang ditopang dengan
pengelola kependidikan yang profesional pula dan perlu kebersamaan dalam
menjalankannya.
Memperhatikan ciri-ciri mendasar tentang profesi dan arah pengembangan
profesi serta pembinaan tenaga profesional, dikonsepsikan adanya komponen-
komponen pokok yang membentuk profesi itu dalam konsep/teori, praksis dan
praktiknya. Ada tiga komponen profesi yang membentuk trilogi profesi pada
umumnya, yaitu: dasar keilmuan, substansi profesi, dan praktek profesi.

Masalah-masalah perkembangan peserta didik yang dihadapi guru pada


saat pembelajaran dirujuk kepada konselor untuk penanganannya.Demikian pula,
masalah-masalah peserta didik yang ditangani konselor terkait dengan proses
pembelajaran bidang studi dirujuk kepada guru untuk menindaklanjutinya.
Masalah kesulitan belajar peserta didik sesungguhnya akan lebih banyak
bersumber dari proses pembelajaran itu sendiri. Hal ini berarti dalam
pengembangan dan proses pembelajaran fungsi-fungsi bimbingan dan konseling
perlu mendapat perhatian guru. Sebaliknya, fungsi-fungsi pembelajaranbidang
studi perlu mendapat perhatian konselor.

B. Rumusan Masalah

1. Apakah Objek Praktis Spesifik Guru Mata Pelajaran


2. Apakah Objek Praktis Spesifik Guru BK/Konselor

C. Tujuan Pembahasan
1. Untuk Mengetahui Objek Praktis Spesifik Guru Mata Pelajaran
2. Untuk Mengetahui Objek Praktis Guru BK/Konselor
BAB II
PEMBAHASAN

A. Objek Praktis Spesifik Guru Mata Pelajaran

Peran guru kelas maupun guru mata pelajaran dalam pelaksanaan kegiatan
bimbingan dan konseling sangatlah penting. Keberhasilan penyelenggaraan
bimbingan dan konseling di sekolah akan sulit dicapai tanpa peran serta guru
kelas ataupun guru mata pelajaran di sekolah yang bersangkutan. Sehubungan
dengan hal tersebut Sardiman (2001:142) mengemukakan sembilan peran guru
yang terkait dengan penyelenggaraan kegiatan bimbingan dan konseling di
sekolah, yaitu:
1. Sebagai Informator, guru diharapkan sebagai pelaksana cara mengajar
informatif, laboratorium, studi lapangan, dan sumber informasi kegiatan
akademik maupun umum.
2. Sebagai Organisator, guru sebagai pengelola kegiatan akademik,
silabus, jadwal pelajaran dan lain-lain.
3. Sebagai Motivator, guru harus mampu merangsang dan memberikan
dorongan serta reinforcement untuk mendinamisasikan potensi siswa,
menumbuhkan swadaya (aktivitas) dan daya cipta (kreativitas) sehingga akan
terjadi dinamika di dalam proses belajar dan pembelajaran.
4. Sebagai Director, guru harus dapat membimbing dan mengarahkan
kegiatan belajar siswa sesuai dengan tujuan yang dicita-citakan.
5. Sebagai Inisiator, guru sebagai pencetus ide dalam proses belajar-
mengajar.
6. Sebagai Transmitor, guru bertindak selaku penyebar kebijaksanaan
dalam pendidikan dan pengetahuan.
7. Sebagai Fasilitator, guru akan memberikan fasilitas atau kemudahan
dalam proses belajar-mengajar.
8. Sebagai Mediator, guru sebagai penengah dalam kegiatan belajar siswa.
9. Sebagai Evaluator, guru mempunyai otoritas untuk menilai prestasi anak
didik dalam bidang akademik maupun tingkah laku sosialnya, sehingga dapat
menentukan bagaimana anak didiknya berhasil atau tidak.

Sembilan peran guru sebagaimana telah dikemukakan terkait erat dengan


penyelenggaraan kegiatan bimbingan dan konseling di sekolah. Kesulitan-
kesulitan atau permasalahan yang timbul dalam implementasi kesembilan
peran tersebut pada dasarnya juga merupakan permasalahan yang berada
dalam wilayah penyelenggaraan kegiatan bimbingan dan konseling. Dalam hal
ini, guru kelas maupun guru mata pelajaran membutuhkan kehadiran guru
bimbingan dan konseling, sebaliknya guru bimbingan dan konseling juga
membutuhkan informasi, bantuan, dan kerja sama dengan guru kelas dan guru
mata pelajaran untuk melaksanakan tugas-tugas kepembibingannya.
Tugas utama seorang guru adalah dengan segala macam cara yang dapat
dilalukannya membantu murid agar ia dapat menguasai bahan pelajaran yang
dibeikan menurut kulikulum. Bagaimanapun juga, pendidikan tidak bertujuan
unuk menghasilkan orang tolol yang bijaksana atau penjahat yang terdidik;
dan juga tidak untuk menghasilkan individu yang tidak bertanggung jawab.
Melainkan tujuan pendidikan ialah memungkinkan setiap anak
mengembangkan dirinya menjadi orang yang yakin akan harga dirinya dalam
masyarakat, dan bersedia memikul tanggungjawab sebagai anggota
masyarakat.
Tetapi terlepas dari contoh tingkah laku dan nilai-nilai yang
diperlhatkannnya, guru juga bisa mengamati setiap anak. Di sekolah dasar,
dimana masing-masing kelas seperti berdiri sendiri, guru mempunyai
kesempatan untuk mengamati murid-muridnya dari dekat. Mungkin guru
adalah orang pertama yang melihat kesukaran-kesukaran yang dihadapi oleh
anak tentang pelajarannya atau lingkungannya. Mungkin juga guru adalah
orang yang pertama mendapatkan kepercayaan dari anak didik mengenai
persoalan-persoalan dan pertanyaan-prtanya yang bersifat pribadi.
Guru perlu menyadari bahwa setiap anak mempunyai kepribadian, kelebihan
dan kelemahannya sendiri. Anak tidak dilahirkan dengan anda-tanda ”senang
matematika”, mampu “menjawab tantangan”, “tidak berhasil dengan baik bila
ditekan”, “memerlukan waktu yang cukup untuk mengerjakan pekerjaan” dan
sebagainya. Supaya guru dapat berhasil dalam usahanya membuat kurikulum
sekolah menjadi berarti bagi anak didik, dan dapat menciptakan pengalaman
yang bermakna serta memuaskan bagi anak, ia harus dapat
menemukan/melihat perbedaan perbedaan yang ada di antara murid muridnya.
Bimbingan konseling tidak hanya terbatas pada hal hal krisis yang besar saja.
Selanjutnya aktivitas membimbing dapat diwujudkan: melalui kata kata,
melalui informasi, melalui pengalaman. Maka murid dapat dibantu dalam
menghadapi masalah-masalahnya dengan: (a) Sikap yang simpatik, (b)
Kesediaan untuk mendengarkan, (c) perhatian yang sunggh-sungguh, (d) Atau
pengakuan terhadap murids sebagai manusia.
Namun juga ada anak-anak yang membutuhkan waktu dan perhatian lebih
dari yang dapat diberikan oleh guru. Anak-anak itu seharusnya dikirim kepada
pembimbing atau kepada ahli lainm. Bila tidak ada ahli lain guru wajib
meberikan bantuan menuut kemampuannya.
Peran dan kontribusi guru mata pelajaran tetap sangat diharapkan untuk
kepentingan efektifitas dan efesiensi pelayanan bimbingan dan konseling
sekolah. Bahkan batas-batas tertentu, guru pun dapat bertindak sebagai
konselopr bagi peserta didiknya. Peran yang dijalankan guru yaitu sebagai
pembimbing. Untuk menjadi pembimbing yang baik, guru harus memiliki
pemahaman tentang anak didik yang dibimbingnya. Sementara itu berkenaan
dengan peran guru mata pelajaran dalam bimbingan dan konseling, guru-guru
mata pelajaran dalam melalukan pendekatan kepada anak didik harus bersifat
manusia-religius, bersahabat, ramah, mendorong, konkret, jujur, dan asli,
memahami dan menghargai tanpa syarat.
Rincian peran, tugas, dan tanggung jawab guru-guru mata pelajaran dalam
bimbingan dan konseling adalah sebagai berikut :
(a) Membantu memasyarakatkan pelayanan bimbingan dan konseling kepada
anak didik,
(b) Membantu mengembangkan suasana kelas, hubungan guru-anak didik dan
hubungan antar anak didik yang menunjang pelaksanaan pelayanan
bimbingan dan konseling,
(c) Memberikan kesempatan dan kemudahan kepada anak didik yang
memerlukan layanan/kegiatan bimbingan dan konseling untuk mengikuti
/menjalani layanan/kegiatan yang dimaksudkan,
(d) Berpartisipasi dalam kegiatan khusus penanganan masalah siswa, seperti
konferensi kasus,
(e) Membantu pengumpulan informasi yang diperlukan dalam rangka
penilaian pelayanan bmbingan dan konseling serta upaya tindak selanjutnya.
(Anas solahudin, 2010: 179-125)
Oemar Hamalik, (1990: 52-71) menyatakan bahwa dalam sistem dan
proses pendidikan mana pun, guru tetap memegang peranan terpenting. para
siswa tidak mungkin belajar sendiri tanpa bimbingan guru yang mampu
mengemban tugas dengan baik. Kendati dewasa ini konsep CBSA telah
banyak dilaksanankan dalam proses belajar mengajar disekolah, guru tetap
menempati kedudukan tersendiri. Pada hakikatnya, para siswa hanya mungkin
belajar dengan baik jika guru telah mempersiapkan lingkungan positif bagi
mereka unuk belajar.
Peranan guru yang begitu besar dapat ditinjau dalam arti luasdan dalam
arti sempit.
Dalam arti luas, guru mengemban peranan-peranan sebagai ukuran
kognitif, sebagai agen moral, inovator, dan kooperatif. (a) Guru sebagai ukuran
kognitif. Tugas guuru umumnya adalah mewariskan pengetahuan dan berbagai
keterampilan kepada siswa, (b) Guru sebagai agen moral dan politik. Guru
bertindak sebagai agen moral masyarakat karena fungsinya mendidik warga
masyarakat agar melek huruf, pandai berhitung, dan memiliki berbagai kognitif
lainnya, (c) Guru sebagai inovator. Berkat kemajuan ilmu pengetahuan dan
teknoogi masyarakat senantiasa berubah dan berkembang dalam semua aspek
perubahasn da perkembangan itu menuntut terjadinya inovasi pendidikan yang
menimbulkan perubahan yang baru dan kualitatif berbeda dengan hal yang
sebelumnya, (d) Guru memegang peranan kooperatif, dalam melaksanakan
tugasnya, guru tidak mungkin bekerja sendiri dan mengandalkan kemampuannya
secara individual. Maka dari itu guru harus bekerja sama dengan sesama guru.
Dalam proses pengajaran disekolah (dikelas), peranan guru lebih spesifik
sifatnya dalam pengertian sempit, yakni dalam hubungan proses belajar
mengajar. Peranan guru adalah dalam pengorganisasian lingkungan belajar
dan fasilitator belajar. itu Hikmawati (2010:21) menjelaskan ada beberapa
peranan yang dilakukan oleh seorang guru mata pelajaran ketika diminta
mengambil bagian dalam penyelenggaraan program bimbingan konseling
di sekolah, diantaranya adalah (1)Guru sebagai informatory, (2)Guru sebagai
fasilitator, (3)Guru sebagai mediator, dan (4)Guru sebagai kolaborator.
Oleh karena itu, guru harus dapat menerapkan fungsi bimbingan dalam
kegiatan belajar – mengajar. Beberapa hal yang perlu diperhatikan guru
dalam proses belajar mengajar sesuai dengan fungsinya sebagai guru dan
pembimbing, yaitu: (a) Mengarahkan siswa agar lebih mandiri, (b) Sikap yang
positif dan wajar terhadap siswa, (c) Perlakuan terhadap siswa secara hangat,
ramah, rendah hati, menyenangkan, (d) Pemahaman siswa secara empatik,
(e) Penghargaan terhadap martabat siswa sebagai individu, (f) Penampilan diri
secara asli (genuine) tidak pura-pura, di depan siswa, (g) Kekonkretan dalam
menyatakan diri, (h) Penerimaan siswa secara apa adanya, (i) Perlakuan
terhadap siswa secara permissive.

PERANAN GURU DALAM BIMBINGAN KONSELING

Peran guru dalam bimbingan konseling, meliputi :

1. Peran guru kelas/mata pelajaran

Di sekolah, tugas dan tanggung jawab utama guru adalah melaksanakan kegiatan
pembelajaran siswa. Kendati demikian, bukan berarti dia sama sekali lepas
dengan kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling. Peran dan konstribusi guru
mata pelajaran tetap sangat diharapkan guna kepentingan efektivitas dan efisien
pelayanan Bimbingan dan Konseling di sekolah. Bahkan dalam batas-batas
tertentu guru pun dapat bertindak sebagai konselor bagi siswanya. Wina Senjaya
(2006) menyebutkan salah satu peran yang dijalankan oleh guru yaitu sebagai
pembimbing dan untuk menjadi pembimbing baik guru harus memiliki
pemahaman tentang anak yang sedang dibimbingnya. Sementara itu, berkenaan
peran guru mata pelajaran dalam bimbingan dan konseling, Sofyan S. Willis
(2005) mengemukakan bahwa guru-guru mata pelajaran dalam melakukan
pendekatan kepada siswa harus manusiawi-religius, bersahabat, ramah,
mendorong, konkret, jujur dan asli, memahami dan menghargai tanpa syarat.
Prayitno (2003) memerinci peran, tugas dan tanggung jawab guru-guru mata
pelajaran dalam bimbingan dan konseling adalah :

1. Membantu memasyarakatkan pelayanan bimbingan dan konseling kepada


siswa
2. Membantu guru pembimbing/konselor mengidentifikasi siswa-siswa yang
memerlukan layanan bimbingan dan konseling, serta pengumpulan data
tentang siswa-siswa tersebut.
3. Mengalih tangankan siswa yang memerlukan pelayanan bimbingan dan
konseling kepada guru pembimbing/konselor
4. Menerima siswa alih tangan dari guru pembimbing/konselor, yaitu siswa
yang menuntut guru pembimbing/konselor memerlukan pelayanan
pengajar /latihan khusus (seperti pengajaran/ latihan perbaikan, program
pengayaan).
5. Membantu mengembangkan suasana kelas, hubungan guru-siswa dan
hubungan siswa-siswa yang menunjang pelaksanaan pelayanan
pembimbingan dan konseling.
6. Memberikan kesempatan dan kemudahan kepada siswa yang memerlukan
layanan/kegiatan bimbingan dan konseling untuk mengikuti /menjalani
layanan/kegiatan yang dimaksudkan itu.
Berpartisipasi dalam kegiatan khusus penanganan masalah siswa, seperti
konferensi kasus.

7. Membantu pengumpulan informasi yang diperlukan dalam rangka


penilaian pelayanan bimbingan dan konseling serta upaya tindak lanjutnya.

Implementasi kegiatan BK dalam pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi


sangat menentukan keberhasilan proses belajar-mengajar. Oleh karena itu peranan
guru kelas dalam pelaksanaan kegiatan BK sangat penting dalam rangka
mengefektifkan pencapaian tujuan pembelajaran yang dirumuskan.

Sardiman (2001:142) menyatakan bahwa ada sembilan peran guru dalam kegiatan
BK, yaitu:

1. Informator, guru diharapkan sebagai pelaksana cara mengajar informatif,


laboratorium, studi lapangan, dan sumber informasi kegiatan akademik
maupun umum.
2. Organisator, guru sebagai pengelola kegiatan akademik, silabus, jadwal
pelajaran dan lain-lain.
3. Motivator, guru harus mampu merangsang dan memberikan dorongan
serta reinforcement untuk mendinamisasikan potensi siswa, menumbuhkan
swadaya (aktivitas) dan daya cipta (kreativitas) sehingga akan terjadi
dinamika di dalam proses belajar-mengajar.
4. Director, guru harus dapat membimbing dan mengarahkan kegiatan belajar
siswa sesuai dengan tujuan yang dicita-citakan.
5. Inisiator, guru sebagai pencetus ide dalam proses belajar-mengajar.
6. Transmitter, guru bertindak selaku penyebar kebijaksanaan dalam
pendidikan dan pengetahuan.
7. Fasilitator, guru akan memberikan fasilitas atau kemudahan dalam proses
belajar-mengajar.
8. Mediator, guru sebagai penengah dalam kegiatan belajar siswa.
9. Evaluator, guru mempunyai otoritas untuk menilai prestasi anak didik
dalam bidang akademik maupun tingkah laku sosialnya, sehingga dapat
menentukan bagaimana anak didiknya berhasil atau tidak.

Sedangkan dalam pengertian pendidikan yang terbatas, Abin Syamsuddin


dengan mengutip pemikiran Gage dan Berliner, mengemukakan peran guru dalam
proses pembelajaran peserta didik, yang mencakup :

1. Guru sebagai perencana (planner) yang harus mempersiapkan apa yang


akan dilakukan di dalam proses belajar mengajar (pre-teaching problems).;
2. Guru sebagai pelaksana (organizer), yang harus dapat menciptakan situasi,
memimpin, merangsang, menggerakkan, dan mengarahkan kegiatan
belajar mengajar sesuai dengan rencana, di mana ia bertindak sebagai
orang sumber (resource person), konsultan kepemimpinan yang bijaksana
dalam arti demokratik & humanistik (manusiawi) selama proses
berlangsung (during teaching problems).
3. Guru sebagai penilai (evaluator) yang harus mengumpulkan, menganalisa,
menafsirkan dan akhirnya harus memberikan pertimbangan (judgement),
atas tingkat keberhasilan proses pembelajaran, berdasarkan kriteria yang
ditetapkan, baik mengenai aspek keefektifan prosesnya maupun kualifikasi
produknya.

Selanjutnya, dalam konteks proses belajar mengajar di Indonesia, Abin


Syamsuddin menambahkan satu peran lagi yaitu sebagai pembimbing (teacher
counsel), di mana guru dituntut untuk mampu mengidentifikasi peserta didik yang
diduga mengalami kesulitan dalam belajar, melakukan diagnosa, prognosa, dan
kalau masih dalam batas kewenangannya, harus membantu pemecahannya
(remedial teaching).

Di lain pihak, Moh. Surya (1997) mengemukakan tentang peranan guru di


sekolah, keluarga dan masyarakat. Di sekolah, guru berperan sebagai perancang
pembelajaran, pengelola pembelajaran, penilai hasil pembelajaran peserta didik,
pengarah pembelajaran dan pembimbing peserta didik. Sedangkan dalam
keluarga, guru berperan sebagai pendidik dalam keluarga (family educator).
Sementara itu di masyarakat, guru berperan sebagai pembina masyarakat (social
developer), penemu masyarakat (social inovator), dan agen masyarakat (social
agent).

Lebih jauh, dikemukakan pula tentang peranan guru yang berhubungan


dengan aktivitas pengajaran dan administrasi pendidikan, diri pribadi (self
oriented), dan dari sudut pandang psikologis.

Dalam hubungannya dengan aktivitas pembelajaran dan administrasi pendidikan,


guru berperan sebagai :

1. Pengambil inisiatif, pengarah, dan penilai pendidikan;


2. Wakil masyarakat di sekolah, artinya guru berperan sebagai pembawa
suara dan kepentingan masyarakat dalam pendidikan;
3. Seorang pakar dalam bidangnya, yaitu menguasai bahan yang harus
diajarkannya;
4. Penegak disiplin, yaitu guru harus menjaga agar para peserta didik
melaksanakan disiplin;
5. Pelaksana administrasi pendidikan, yaitu guru bertanggung jawab agar
pendidikan dapat berlangsung dengan baik;
6. Pemimpin generasi muda, artinya guru bertanggung jawab untuk
mengarahkan perkembangan peserta didik sebagai generasi muda yang
akan menjadi pewaris masa depan; dan
7. Penterjemah kepada masyarakat, yaitu guru berperan untuk
menyampaikan berbagai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi
kepada masyarakat.
Di pandang dari segi diri-pribadinya (self oriented), seorang guru berperan
sebagai :

1. Pekerja sosial (social worker), yaitu seorang yang harus memberikan


pelayanan kepada masyarakat;
2. Pelajar dan ilmuwan, yaitu seorang yang harus senantiasa belajar secara
terus menerus untuk mengembangkan penguasaan keilmuannya;
3. Orang tua, artinya guru adalah wakil orang tua peserta didik bagi setiap
peserta didik di sekolah;
4. model keteladanan, artinya guru adalah model perilaku yang harus
dicontoh oleh mpara peserta didik; dan
5. Pemberi keselamatan bagi setiap peserta didik. Peserta didik diharapkan
akan merasa aman berada dalam didikan gurunya.

Dari sudut pandang secara psikologis, guru berperan sebagai :

1. Pakar psikologi pendidikan, artinya guru merupakan seorang yang


memahami psikologi pendidikan dan mampu mengamalkannya dalam
melaksanakan tugasnya sebagai pendidik;
2. seniman dalam hubungan antar manusia (artist in human relations),
artinya guru adalah orang yang memiliki kemampuan menciptakan
suasana hubungan antar manusia, khususnya dengan para peserta didik
sehingga dapat mencapai tujuan pendidikan;
3. Pembentuk kelompok (group builder), yaitu mampu mambentuk
menciptakan kelompok dan aktivitasnya sebagai cara untuk mencapai
tujuan pendidikan;
4. Catalyc agent atau inovator, yaitu guru merupakan orang yang yang
mampu menciptakan suatu pembaharuan bagi membuat suatu hal yang
baik; dan
5. Petugas kesehatan mental (mental hygiene worker), artinya guru
bertanggung jawab bagi terciptanya kesehatan mental para peserta didik.
Sementara itu, Doyle sebagaimana dikutip oleh Sudarwan Danim (2002)
mengemukan dua peran utama guru dalam pembelajaran yaitu menciptakan
keteraturan (establishing order) dan memfasilitasi proses belajar (facilitating
learning). Yang dimaksud keteraturan di sini mencakup hal-hal yang terkait
langsung atau tidak langsung dengan proses pembelajaran, seperti : tata letak
tempat duduk, disiplin peserta didik di kelas, interaksi peserta didik dengan
sesamanya, interaksi peserta didik dengan guru, jam masuk dan keluar untuk
setiap sesi mata pelajaran, pengelolaan sumber belajar, pengelolaan bahan belajar,
prosedur dan sistem yang mendukung proses pembelajaran, lingkungan belajar,
dan lain-lain.

Sejalan dengan tantangan kehidupan global, peran dan tanggung jawab guru
pada masa mendatang akan semakin kompleks, sehingga menuntut guru untuk
senantiasa melakukan berbagai peningkatan dan penyesuaian kemampuan
profesionalnya. Guru harus lebih dinamis dan kreatif dalam mengembangkan
proses pembelajaran peserta didik. Guru di masa mendatang tidak lagi menjadi
satu-satunya orang yang paling well informed terhadap berbagai informasi dan
pengetahuan yang sedang tumbuh, berkembang, berinteraksi dengan manusia di
jagat raya ini. Di masa depan, guru bukan satu-satunya orang yang lebih pandai di
tengah-tengah peserta didiknya.

Jika guru tidak memahami mekanisme dan pola penyebaran informasi yang
demikian cepat, ia akan terpuruk secara profesional. Kalau hal ini terjadi, ia akan
kehilangan kepercayaan baik dari peserta didik, orang tua maupun masyarakat.
Untuk menghadapi tantangan profesionalitas tersebut, guru perlu berfikir secara
antisipatif dan proaktif. Artinya, guru harus melakukan pembaruan ilmu dan
pengetahuan yang dimilikinya secara terus menerus. Disamping itu, guru masa
depan harus paham penelitian guna mendukung terhadap efektivitas pengajaran
yang dilaksanakannya, sehingga dengan dukungan hasil penelitiaan guru tidak
terjebak pada praktek pengajaran yang menurut asumsi mereka sudah efektif,
namum kenyataannya justru mematikan kreativitas para peserta didiknya. Begitu
juga, dengan dukungan hasil penelitian yang mutakhir memungkinkan guru untuk
melakukan pengajaran yang bervariasi dari tahun ke tahun, disesuaikan dengan
konteks perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sedang berlangsung.

B. Objek Praktis Spesifik Guru BK/Konselor

Kehadiran guru bimbingan dan konseling (guru BK) di Indonesia masih relatif
baru. Pada awal 1970-an, profesi ini baru diperkenalkan di negeri ini.

Di negeri Paman Sam tempat dilahirkannya profesi ini; guru BK dikenal


dengan istilah scholl counselor (konselor sekolah). Di Indonesia, pada awalnya
dikenal dengan sebutan guru BP (bimbingan penyuluhan). Karena dalam konteks
tugas istilah “konseling” lebih sesuai daripada “penyuluhan”, pada tahap
selanjutnya sebutan guru BP berubah menjadi guru BK (bimbingan konseling).

Pada beberapa daerah ada pula guru BP yang disebut dengan istilah guru
pembimbing. Akhir-akhir ini, penggunaan sebutan “konselor” lebih dianjurkan.

Dalam UU Nomor 20 tahun 2003 Pasal 1 Ayat (6) disebut istilah “konselor”
untuk profesi pendidik ini. Lebih lanjut dalam buku Rambu-Rambu
Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal yang
dikeluarkan Dirjen PMPTK Depdiknas tahun 2007, dijelaskan pendidikan
minimal konselor adalah sarjana (S1) program studi bimbingan dan konseling.
Diharapkan setelah lulus pendidikan akademik dan memperoleh gelar sarjana
pendidikan (S.Pd) jurusan bimbingan dan konseling, lulusan dapat melanjutkan
pendidikan profesi konselor (PPK).

Dasar pemikiran penyelenggaraan bimbingan dan konseling di


Sekolah/Madrasah, bukan semata-mata terletak pada ada atau tidak adanya
landasan hukum (perundang-undangan) atau ketentuan dari atas, namun yang
lebih penting adalah menyangkut upaya memfasilitasi peserta didik yang
selanjutnya disebut konseli, agar mampu mengembangkan potensi dirinya atau
mencapai tugas-tugas perkembangannya (menyangkut aspek fisik, emosi,
intelektual, sosial, dan moral-spiritual).
Konseli sebagai seorang individu yang sedang berada dalam proses
berkembang atau menjadi (on becoming), yaitu berkembang ke arah kematangan
atau kemandirian. Untuk mencapai kematangan tersebut, konseli memerlukan
bimbingan karena mereka masih kurang memiliki pemahaman atau wawasan
tentang dirinya dan lingkungannya, juga pengalaman dalam menentukan arah
kehidupannya. Disamping itu terdapat suatu keniscayaan bahwa proses
perkembangan konseli tidak selalu berlangsung secara mulus, atau bebas dari
masalah. Dengan kata lain, proses perkembangan itu tidak selalu berjalan dalam
alur linier, lurus, atau searah dengan potensi, harapan dan nilai-nilai yang dianut.

Perkembangan konseli tidak lepas dari pengaruh lingkungan, baik fisik, psikis
maupun sosial. Sifat yang melekat pada lingkungan adalah perubahan. Perubahan
yang terjadi dalam lingkungan dapat mempengaruhi gaya hidup (life style) warga
masyarakat.

Apabila perubahan yang terjadi itu sulit diprediksi, atau di luar jangkauan
kemampuan, maka akan melahirkan kesenjangan perkembangan perilaku konseli,
seperti terjadinya stagnasi (kemandegan) perkembangan, masalah-masalah pribadi
atau penyimpangan perilaku. Perubahan lingkungan yang diduga mempengaruhi
gaya hidup, dan kesenjangan perkembangan tersebut, di antaranya: pertumbuhan
jumlah penduduk yang cepat, pertumbuhan kota-kota, kesenjangan tingkat sosial
ekonomi masyarakat, revolusi teknologi informasi, pergeseran fungsi atau struktur
keluarga, dan perubahan struktur masyarakat dari agraris ke industry.

Saat sekarang kehadiran bimbingan konseling pada lembaga pendidikan


tidak diragukan lagi karena secara yuridis formal pemerintah telah memberikan
legalitas terhadap keberadaan bimbingan konseling di sekolah. Sebagaimana
dinyataka UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang sisdiknas bab 1 pasal 1 Ayat 6 :
pendidikan adalah tenaga pendidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen,
guru bimbingan konseling (konselor), pamong belajar, widyaiswara, tulor,
instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya serta
berpartsipasi dalam penyelenggaraan pendidikan.
Dengan demikian dalam UU RI No. 20 tahun 2003 pasal 1 ayat 6
menjelaskan bahwa guru BK adalah konselor, konselor adalah pendidik, karena
itu konselor harus berkompetensi sebagai pendidik.

Lebih lanjut menurut Winkel (2006: 172) “Guru bimbingan dan


konseling/konselor sekolah adalah tenaga professional, yang mencurahkan seluruh
waktunya pada pelayanan bimbingan (full-time guidance counselor).” Membantu
siswa dalam proses pengambilan keputusan diri, memahami diri, menerima diri,
mengarahkan diri, mengenal lingkungan dunia dan masa depannya,
merealisasikan keputusannya secara bertanggung jawab serta membantu siswa
mengambil keputusan arah studi lanjutan yang tepat dengannya dan
mengembangkan potensi yang dimiliki juga merupakan pelayanan bimbingan
konseling

Oleh karena itu keberadaan Guru Bimbingan dan Konseling sangat penting
dalam mendukung dan meningkatkan mutu pendidikan di sekolah. Menurut
Achmad Juntika Nurihsan (2009:30) bahwa “guru BK adalah guru yang memiliki
kemampuan dan kualitas kepribadian yang baik, memiliki pengetahuan dan
keahlian profesional tentang pelayanan bimbingan dan konseling, serta pendidikan
psikologi yang sesuai dengan tugas dan profesinya.”

Dengan memperhatikan penjelasan di atas, jelas bahwa Guru Bimbingan dan


Konseling adalah pendidik yang merupakan bagian dari pendidikan yang memiliki
kemampuan dan kualitas untuk membantu siswa memahami diri, menyesuaikan
diri, memecahkan masalah, membuat pilihan dan merealisasikan dirinya dalam
kehidupan nyata serta mengembangkan potensi yang dimilikinya untuk mencapai
perkembangan optimal.
 Tugas dan Fungsi Guru Bimbingan dan Konseling

Guru pembimbing tidak lepas dari tugasnya guna terciptanya layanan yang
maksimal. Tugas-tugas guru BK dimaksudkan agar guru BK mengetahui
mengenai perannya dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling. Karena Menurut
Fenti Hikmawati, (2011: 43) “Guru BK pendidikan adalah guru BK yang bertugas
dan bertanggung jawab dalam memberikan layanan bimbingan dan konseling
kepada peserta didik di satuan pendidikan.” Guru BK haruslah melaksanakan
layanan bimbingan dan konseling yaitu mendidik, membimbing, dan
mengembangkan kemampuan peserta didik (siswa) dalam memecahkan
permasalahan yang dialami dan segala potensi melalui layanan bimbingan dan
konseling yang sesuai dengan peran dan tugas sebagai guru bimbmbingan dan
konseling.
Adapun tugas dan beban Guru BK menurut Peraturan Pemerintah
Republik Indonesia Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru Pasal 54 butir 6
disebutkan bahwa “Beban kerja guru bimbingan dan konseling atau konselor yang
memperoleh tunjangan profesi dan maslahat tambahan adalah mengampu paling
sedikit 150 (seratus lima puluh) peserta didik per tahun pada satu atau lebih satuan
pendidikan “. Kemudian dijelaskan lebih lanjut dalam Penjelasan Peraturan
Pemerintah Republik Indonesia Nomor 74 Tahun 2008 Tentang Guru Pasal 54
butir 6 bahwa:

Yang dimaksud dengan “mengampu layanan bimbingan dan konseling”


adalah pemberian perhatian, pengarahan, pengendalian, dan pengawasan kepada
sekurang-kurangnya 150 (seratus lima puluh) peserta didik, yang dapat
dilaksanakan dalam bentuk pelayanan tatap muka terjadwal di kelas dan layanan
perseorangan atau kelompok bagi yang perlu dan yang memerlukan.

Dengan demikian Guru bimbingan dan konseling/konselor memiliki


tugas, tanggungjawab, wewenang dalam pelaksanaan pelayanan bimbingan dan
konseling terhadap peserta didik. Sesuai dalam Permendiknas No. 22/2006
tentang standar isi dan satuan pendidikan dasar dan menengah mengemukakan
lebih lanjut tentang tugas guru BK dalam pelayanan konseling yaitu :

1) Memberiakan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan


dan mengekspresikan diri sesuai dengan kemampuan, bakat dan minat.
2) Masalah pribadi, kehidupan sosial belajar dan pengembangan karir.
3) Di fasilitasi/dilaksanakan oleh konselor.

Oleh karena itu, Guru bimbingan dan konseling juga memiliki tugas untuk
merancang program kegiatannya untuk secara aktif berpartisipasi dalam
penumbuhan perilaku baik dan pengembangan diri siswa. Kegiatan tersebut dapat
dilakukan secara mandiri yang terancang dalam program bimbingan dan
konseling, dan juga bersama-sama dengan pendidik lain (guru bidang studi
misalnya) yang terancang dalam program sekolah yang dilakukan secara sinergis
dari beberapa pihak.

Abu Bakar M. Luddin (2010:59) menjelaskan mengenai tugas bimbingan


konseling yang berhubungan dengan pengelolahan bimbingan konseling yaitu
sebagai berikut:

“Tugas guru pembimbing/konselor adalah: memasyarakatkan kegiatan bimbingan


dan konseling, merencanakan program bimbingan dan konseling, melaksanakan
layanan bimbingan dan konseling terhadap sejumlah siswa yang menjadi
tanggung jawabnya minimal sebanyak 150 siswa, melaksanakan kegiatan
penunjang bimbingan dan konseling, menilai proses dan hasil kegiatan layanan
bimbingan dan konseling, menganalisis hasil penilaian, melaksanakan tindak
lanjut berdasarkan hasil analisis penilaian, mengadministrasikan kegiatan
bimbingan dan konseling, mempertanggungjawabkan tugas dan kegiatan kepada
koordinator guru pembimbing.”

Terkait dengan tugas guru bimbingan dan konseling untuk perkembangan


peserta didik dilakukan pada beberapa bidang khusus, antara lain :
 Membantu mengembangkan kehidupan pribadi yaitu suatu pelayanan
yang membantu peserta didik memhami akan diri sendiri, terkait bakat,
minat, potensi, dan sebagainya.
 Membantu mengembangkan kehidupan sosial yaitu pelayanan yang
membantu peserta didik memahami, menilai, serta mengembangkan
keadaan sosial mereka. Hal ini dilakukan terutama kepada peserta didik
yang terkesan sulit untuk bersosial dengan lingkungan mereka sendiri.
 Membantu mengembangkan kemampuan belajar, pelayanan yang
dilakukan oleh seorang guru bimbingan dan konseling atau konselor
membantu menjadikan peserta didik mandiri dalam belajar terutama
dalam mengikuti pembelajaran di sekolah.
 Membantu mengembangkan karir, pelayanan ini adalah pelayanan yang
tidak bisa dimulai tanpa dilakukan pengembangan-pengembangan yang
lain. Pengambangan dalam karir adalah suatu titik dimana seorang peseta
didik telah mampu memahami bahkan mengembangkan diri, kemudian
seorang konselor membantu untuk mengarahkan langkah yang harus
dilakukan agar minat, bakat, dan potensi diri menjadi suatu karir terhadap
mereka.
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Dari ciri-ciri mendasar tentang profesi dan arah pengembangan profesi
serta pembinaan tenaga profesional, dikonsepsikan adanya komponen-komponen
pokok yang membentuk profesi itu dalam konsep/teori, praksis dan praktiknya.
Ada tiga komponen profesi yang membentuk trilogi profesi pada umumnya, yaitu:
dasar keilmuan, substansi profesi, dan praktek profesi.
Berdasarkan pembahasan yang di atas dapat disimpulkan bahwa peranan
guru dalam proses bimbingan dan konseling sangat penting. Peranan guru adalah
dalam pengorganisasian lingkungan belajar dan fasilitator belajar. Selain itu
Hikmawati (2010:21) menjelaskan ada beberapa peranan yang dilakukan oleh
seorang guru mata pelajaran ketika diminta mengambil bagian dalam
penyelenggaraan program bimbingan konseling di sekolah, diantaranya adalah
(1) Guru sebagai informatory, (2) Guru sebagai fasilitator, (3) Guru sebagai
mediator, dan (4) Guru sebagai kolaborator. Beberapa hal yang perlu
diperhatikan guru dalam proses belajar mengajar sesuai dengan fungsinya
sebagai guru dan pembimbing, yaitu: (1) Mengarahkan siswa agar lebih mandiri
(2) Sikap yang positif dan wajar terhadap siswa. (3) Perlakuan terhadap siswa
secara hangat, ramah, rendah hati, menyenangkan.

Terkait dengan tugas guru bimbingan dan konseling untuk perkembangan peserta
didik dilakukan pada beberapa bidang khusus, antara lain :

 Membantu mengembangkan kehidupan pribadi yaitu suatu pelayanan


yang membantu peserta didik memhami akan diri sendiri, terkait bakat,
minat, potensi, dan sebagainya.
 Membantu mengembangkan kehidupan sosial yaitu pelayanan yang
membantu peserta didik memahami, menilai, serta mengembangkan
keadaan sosial mereka. Hal ini dilakukan terutama kepada peserta didik
yang terkesan sulit untuk bersosial dengan lingkungan mereka sendiri.
 Membantu mengembangkan kemampuan belajar, pelayanan yang
dilakukan oleh seorang guru bimbingan dan konseling atau konselor
membantu menjadikan peserta didik mandiri dalam belajar terutama
dalam mengikuti pembelajaran di sekolah.
 Membantu mengembangkan karir, pelayanan ini adalah pelayanan yang
tidak bisa dimulai tanpa dilakukan pengembangan-pengembangan yang
lain. Pengambangan dalam karir adalah suatu titik dimana seorang peseta
didik telah mampu memahami bahkan mengembangkan diri, kemudian
seorang konselor membantu untuk mengarahkan langkah yang harus
dilakukan agar minat, bakat, dan potensi diri menjadi suatu karir terhadap
mereka.

B.SARAN

Menyadari bahwa penulis masih jauh dari kata sempurna, kedepannya penulis
akan lebih fokus dan details dalam menjelaskan tentang makalah di atas dengan
sumber - sumber yang lebih banyak yang tentunga dapat di pertanggung jawabkan
Untuk saran bisa berisi kritik atau saran terhadap penulisan juga bisa untuk
menanggapi terhadap kesimpulan dari bahasan makalah yang telah di jelaskan.
Untuk bagian terakhir dari makalah adalah daftar pustaka. Pada kesempatan lain
akan saya jelaskan tentang daftar pustaka makalah.
DAFTAR PUSTAKA

Hamalik, Oemar. (2004). Pendidikan Guru Berdasarkan Pendekatan


Kompetensi. Jakarta : Bumi Aksara.
Mulyasa, E. (2006). Menjadi Guru Profesional Menciptakan
Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan. Bandung : Remaja Rosdakarya.
Mulyasa, E. (2007). Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru. Bandung :
Remaja Rosdakarya.
Supriadi, Dedi. (1998). Mengangkat Citra dan Martabat Guru.
Yogyakarta : Adicita Karya Nusa.
Surya, Mohamad. (2003). Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran.
Bandung : Yayasan Bhakti Winaya.