Anda di halaman 1dari 8

Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 1, No.

4, Agustus 2017: 236 - 243


ISSN 1410 - 5675

SISTEM RELIGI DAN KEPERCAYAAN MASYARAKAT KAMPUNG


ADAT KUTA KECAMATAN TAMBAKSARI KABUPATEN CIAMIS

Eka Kurnia Firmansyah dan Nurina Dyah Putrisari


Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran
E-mail: eka.kurnia@unpad.ac.id

ABSTRAK. Riset ini membahas tentang Bagaimanakah sistem religi dan bentuk ritual kepercayaan di masyarakat Kampung Adat
Kuta, meneliti juga tentang alat, waktu dan jenis apakah yang digunakan untuk melaksanakan ritual kepercayaan yang mereka gunakan,
sehingga dari hasil riset ini dapat dideskripsikan sistem religi dan bentuk ritual kepercayaan di masyarakat Kampung Adat Kuta serta
dapat diketahui alat, waktu dan jenis apakah yang digunakan untuk melaksanakan ritual kepercayaan yang mereka gunakan sehingga
dapat ditemukan nilai-nilai apa sajakah yang terkandung dalam pelaksanan ritual keagamaan atapun kepercayaan yang mereka yakini.
Metode yang digunakan dalam riset ini adalah metode deskriptif analikitik dan wawancara, sehingga dapat ditemukan temuan yang
dapat diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai pengembangan khasanah pengetahuan tentang tradisi religi dan kepercayaan masyarakat
Kampung Adat Kuta, selain itu riset ini diharapkan menjadi tempat bagi peneliti dalam mengaplikasikan ilmu dalam kehidupan
bermasyarakat dan memperkaya wawasan yang bermanfaat untuk pengembangan ilmu pengetahuan peneliti. Manfaat lain dari riset ini
adalah bagi masyarakat dan pemerintah setempat diharapkan dapat memberi masukan informasi dan menjadi salah satu wacana acuan
dalam pelestarian inventarisasi warisan budaya masyarakat terutama Suku Sunda di wilayah Jawa Barat bagian selatan.

Kata kunci: Sistem Religi, Kepercayaan, Kearifan Lokal

ABSTRACT. This research discusses about how the religious system and ritual form of trust in Kampung Adat Kuta community,
examines also about what tools, time and types are used to carry out the ritual of belief that they use, so that the results of this research
can be described religious system and ritual form of belief in Kampung Adat Kuta community and can be known what tool, time and
type used to perform the ritual of belief that they use so that can be found what values are
​​ contained in the implementation of religious
ritual or belief that they believe. The method used in this research is analytical descriptive method and interview, so that can be found
findings that can be expected to be utilized as development of repertoire of knowledge about religious tradition and belief of Kampung
Adat Kuta community, besides this research is expected to be a place for researcher in applying science in life socialize and enrich
useful insights for the development of research scientists. Another benefit of this research is for the community and local government
is expected to provide information input and become one of the reference in the preservation of the inventory of cultural heritage of
the community, especially the Sundanese tribe in the southern part of West Java.

Key words: Religious System, Trust, Local Wisdom

PENDAHULUAN untuk mempertahankan keadaan dan keberadaan suatu


peninggalan generasi masa lampau melalui proses
Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang maje- inventarisasi, dokumentasi, dan revitalisasi. Salah satu
muk. Masyarakatnya terdiri dari berbagai macam suku prioritas dalam pembangunan nasional adalah pelestarian
bangsa yang tersebar di seluruh kawasan nusantara. Setiap (perlindungan, pemanfaatan, pemeliharaan, dan pengem-
suku di setiap daerah memiliki kebudayaan yang dikem- bangan) terhadap warisan budaya sebagai aset bangsa
bangkan secara turun-temurun. Kemajemukan budaya yang memiliki nilai sejarah, ilmu pengetahuan, dan
yang dimiliki setiap suku pada dasarnya merupakan keka- ekonomi.
yaan bangsa Indonesia. Berdasarkan realitas, kekayaan Pelestarian budaya tersebut bermanfaat dalam
budaya yang dimiliki oleh bangsa Indonesia banyak upaya :
yang belum dikembangkan secara proporsional. Arti 1) Untuk mengetahui, memahami, dan menghargai
yang dimaksud adalah kebudayaan belum sepenuhnya prestasi-prestasi atau pencapaian-pencapaian
menyentuh masyarakat sebagai media penumbuhan jati nenek moyang sebuah masyarakat atau bangsa.
diri bangsa dan sebagai sumber potensi diri. 2) Menjadi sumber inspirasi untuk membangun masa
Keragaman budaya sejatinya dapat dijadikan modal depan yang lebih baik tanpa mengulangi kesalahan
untuk memperkuat identitas kebangsaan. Di samping masa lalu, dan
itu, keragaman budaya termasuk kesenian dimung- 3) Menjadikan deposi yang dapat dimanfaatkan
kinkan dapat dijadikan komoditas nasional yang dapat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat
memberikan kontribusi bagi kesejahteraan masyarakat. karena tinggalan budaya merupakan saksi sejarah
Bali misalnya, merupakan salah satu contoh wilayah perjalanan bangsa Indonesia dari jaman ke jaman
yang menjadikan produk budaya masyarakatnya sebagai dengan berbagai kondisi perkembangan dunia.
komoditas yang laku dijual.
Pelestarian budaya secara umum dapat didefinisikan Kebudayaan merupakan salah satu perwujudan
segala perilaku atau tindakan (upaya) yang bertujuan jati diri bangsa yang mempunyai ciri khas dari
Sistem Religi dan Kepercayaan Masyarakat Kampung Adat Kuta Kecamatan Tambaksari Kabupaten Ciamis 237

gambaran kehidupan masyarakat Indonesia dari laku, alam pikiran dan perasaan disamping hal-hal yang
berbagai etnik. Kelangsungan hidup sebuah bentuk menyangkut para penganutnya sendiri.
tradisi kebudayaan khususnya pengobatan tradisional Suatu sistem religi dalam suatu kebudayaan selalu
agar tetap hidup dan berkembang sangat ditentukan mempunyai ciri-ciri untuk sedapat mungkin memelihara
oleh peranan kebijakan pemerintah dan kepedulian emosi keagamaan itu diantara pengikut-pengikutnya.
masyarakat. Dengan demikian emosi keagamaan merupakan unsur
Masing-masing komponen pemerintah, masya- penting dalam suatu religi bersama dengan tiga unsur
rakat, pewaris/ahli waris, kaum agamawan, dan lain, yaitu (i) sistem keyakinan; (ii) sistem upacara
budayawan, mempunyai peranan sendiri-sendiri, namun keagamaan; (iii) suatu umat yang menganut religi itu.
saling terkait dalam upaya pelestarian suatu tinggalan
budaya, termasuk juga mengenai sitem religi dan Kepercayaan
kepercayaan yang terdapat di Kampung Adat Kuta Desa Sistem kepercayaan/ kayakinan secara khusus
Karangpaningal Kecamatan Tambaksari Kabupaten mengandung benyak sub-unsur lagi. Dalam rangka ini
Ciamis. para ahli antroplogi biasanya menaruh perhatian terhadap
konsepsi tentang dewa-dewa yang baik maupun yang
Religi/Agama jahat; sifat-sifat dan tanda-tanda dewa-dewa; konsepsi
Asal-mula religi, para ahli biasanya mengganggap tentang mahluk-mahluk halus lainya seperti roh-roh
religi sebagai sisa-sisa dari bentuk-bentuk religi yang leluhur, roh-roh lain yang baik maupuan yang jahat,
kuno, yang dianut seluruh umat manusia pada zaman hantu dan lain-lain; konsepsi tentang dewa tertinggi
dahulu, juga oleh orang eropa ketika kebudayaan mereka dan pencipta alam; masalah terciptanya dunia dan alam
masih berada pada tingkat yang primitif. Bahan etnografi (kosmologi); masalah mengenai bentuk dan sifat-sifat
mengenai upacara keagamaan dari berbagai suku bangsa dunia dan alam (kosmologi); konsepsi tentang hidup dan
didunia dijadikan pedoman dalam usaha penyusunan mati konsepsi tentang dunia roh dan dunia akhirat lain-
teori-teori tentang asal mula agama. lain.
Prof. Dr. M. Driyarkara, S.J. mengatakan bahwa Adapun sistem kepercayaan dan gagasan,
kata agama kami ganti dengan kata religi, karena pelajaran aturan agama, dongeng suci tentang
kata religi lebih luas, menganai gejala-gejala dalam riwayat-riwayat dewa-dewa (mitologi), biasanya
lingkungan hidup dan prinsip. Istilah religi menurut tercantum dalam suatu himpunan buku-buku yang
kata asalnya berarti ikatan atau pengikatan diri. Oleh biasanya juga dianggap sebagai kesusastraan suci.
sebab itu, religi tidak hanya untuk kini atau nanti Sistem upacara keagaman secara khusus
melainkan untuk selama hidup. Dalam religi manusia mengandung emosi aspek yang menjadi perhatian khusus
melihat dirinya dalam keadaan yang membutuhkan, dari para hali antroplogi ialah:
membutuhkan keselamatan dan membutuhkan secara 1) Tempat upacara keagamaan dilakukan;
menyeluruh. 2) Saat-saat upacara keagmaan dijalankan;
Pengertian agama menurut Islam jauh berbeda 3) Benda-benda dan alat-alat upacara;
dengan definisi yang diberikan oleh para sarjana 4) Orang-orang yang melakukan dan memimpin
Barat seperti tersebut dalam ensiklopedi Prancis yang upacara.
berkisar pada 2 definisi yang dianggap ilmiah, antara
lain sebagai berikut: Aspek yang pertama berhubungan dengan tempat-
1. Agama ialah suatu jalan yang dapat membawa tempat keramat di mana upacara dilakukan, yaitu makam,
manusia dapat berhubungan dengan kekuatan gaib candi, pura, kuil, gereja, langgar, surau, mesjid dan
yang tinggi; sebagainya. Aspek ke-2 adalah aspek yang mengenai
2. Agama ialah sesuatu yang mengandung pengetahuan saat-saat beribadah, hari-hari keramat dan suci dan
dan kekuasaan yang tidak pararel dan tidak sejalan sebagainya. Aspek ke-3 adalah tentang benda-benda
dengan ilmu pengetahuan. ynag dipakai dalam upacara termasuk patung-patung
yang melambngkan dewa-dewa, alat-alat bunyi-bunyian
Namun pada dasarnya religi berasal dari kata seperti lonceng suci, seruling suci, gendering suci dan
religare dan relegare (Latin).  Religare memiliki makna sebagainya. Aspek ke-4 adalah aspek yang mengani para
”suatu perbuatan yang memperhatikan kesungguh- pelaku upacara keagamaan, yaitu pendeta biksu, syaman,
sungguhan dalam melakukannya”. Sedangkan Relegare dukun dan lain-lain. Upacara itu sendiri banyak juga
memiliki makna ”perbuatan bersama dalam ikatan unsurnya, yaitu:
saling mengasihi”. Kedua istilah ini memiliki corak 1) Bersaji,
individual dan sosial dalam suatu perbuatan religius. 2) Berkorban;
Koentjaraningrat (bapak antropologi indonesia) 3) Berdo’a;
mendefinisikan religi yang memuat hal-hal tentang 4) Makan bersama makanan yang telah disucikan
keyakinan, upacara dan peralatannya, sikap dan peri- dengan do’a;
238 Eka Kurnia Firmansyah dan Nurina Dyah Putrisari

5) Menari tarian suci; penghuni gaib lainnya (Koentjarangrat, 1987 : 81). Oleh
6) Menyanyi nyanyian suci; karena itu upacara yang dilaksanakan oleh sekelompok
7) Berpropesi atau berpawai; masyarakat merupakan perwujudan dari tingkah laku
8) Memainkan seni darama suci; atau tindakan masyarakat tersebut dalam upayanya untuk
9) Berpuasa; mendekatkan diri dengan Tuhan-nya.
10) Bertapa; Menurut Durkheim, religi adalah suatu sistem
11) Bersemedi. berkaitan dari keyakinan-keyakinan dan upacara-upacara
yang keramat, artinya terpisah dan pantang, keyakinan-
Diantara unsur-unsur upacara keagamaan tersebut keyakinan dan upacara yang berorientasi kepada suatu
ada yang dianggap penting sekali dalam satu agama, komunitas moral yang disebut umat (Koentjaraningrat,
tetapi tidak dikenal dalam agama lain, dan demikian juga 1987 : 95). Dengan demikian, suatu religi masyarakat
sebaliknya. Kecuali itu suatu acara upacara biasanya berkaitan dengan keyakinan dan upacara yang dilakukan
mengandung suatu rangkaian yang terdiri dari sejumlah oleh anggota masyarakatnya, yang mana upacara ini
unsur tersebut. Dengan demikian dalam suatu upacara adalah pusat sistem religi masyarakat dan dengan
untuk kesuburan tanah misalnya, para pelaku upacara dan melakukan upacara manusia mengira dapat memenuhi
para pemimpin ritual berpawai terlebih dahulu menuju ke kebutuhan-kebutuhan hidupnya serta mencapai tujuan
tempat-tempat bersaji, lalu mengorbankan seekor ayam, hidupnya.
setelah itu menyajikan bunga kepada dewa kesuburan, Dengan demikian, tradisi keagamaan sudah
disusul dengan doa yang diucapkan oleh para pelaku, merupakan kerangka acuan norma dalam kehidupan
kemudian menyanyi bersama berbagai nyanyian suci, dan dan prilaku masyarakat dan tradisi keagamaan sebagai
akhirnya semuanya bersama kenduri makan hidangan pranata primer dari kebudayaan memang sulit berubah,
yang telah disucikan dengan do’a. karena keberadaannya didukung oleh kesadaran bahwa
Ritual dan sistem kepercayaan merupakan salah pranata tersebut menyangkut kehormatan, harga diri,
satu unsur kebudayaan yang bisa dihampiri dalam setiap dan jati diri masyarakat pendukungnya (Jalaluddin,
kelompok masyarakat di dunia. Ritual keagamaan 2005; 198).
merupakan sarana yang menghubungkan manusia
dengan yang keramat, inilah agama dalam praktek (in HASIL DAN BAHASAN
action). Ritual bukan hanya sarana yang memperkuat
ikatan sosial kelompok dan mengurangi ketegangan, Kampung Adat Kuta
tetapi juga suatu cara untuk merayakan peristiwa- Kuta berasal dari kata “Mahkuta” atau “Mahkota”.
peristiwa penting, dan yang menyebabkan krisis seperti Kampung Kuta secara administratif berada di bawah
kematian, tidak begitu mengganggu bagi masyarakat, pemerintahan Desa Karangpaningal Kecamatan Tambak
dan bagi orang-orang yang bersangkutan lebih ringan Sari Kabupaten Ciamis. Kampung Kuta terdiri atas 2
untuk diderita (Soekadijo, 1993; 207). RW dan 4 RT. Kampung ini berbatasan dengan Dusun
Upacara sepanjang masa kehidupan masa Cibodas di sebelah utara, Dusun Margamulya di sebelah
kehidupan (rites de passage) dilaksanakan oleh setiap barat, dan di sebelah selatan dan timur dengan Sungai
masyarakat suku bangsa di dunia, karena upacara ini Cijolang yang sekaligus merupakan perbatasan wilayah
merupakan upacara rangkaian hidup yang penting Jawa Barat dengan Jawa Tengah.
bagi kehidupan seorang individu sebagai anggota Untuk menuju ke kampung tersebut jarak yang
masyarakat. Hal ini sesuai dengan anggapan Van Gennep harus ditempuh dari kota Kabupaten Ciamis sekitar
yang menyatakan bahwa rangkaian ritus dan upacara 34 km menuju ke arah utara dan dapat dicapai dengan
sepanjang tahap-tahap pertumbuhan, atau “Lingkaran menggunakan mobil angkutan umum ke Kecamatan
Hidup” individu (life cycle rites) itu, sebagai rangkaian Rancah. Sedang dari Kecamatan Rancah menggunakan
ritus dalam masyarakat dan kebudayaan manusia motor sewaan atau ojeg, dengan kondisi jalan aspal yang
(Koentjaraningrat, 1987:75). Dengan demikian, upacara berkelok, dan tanjakan yang cukup curam. Jika melalui
lingkaran hidup ini bersifat universal, dimana upacara Kecamatan Tambaksari dapat menggunakan kendaraan
ini ada pada semua kebudayaan di muka bumi. umum atau ojeg dengan kondisi jalan serupa.
Upacara siklus hidup yang dilangsungkan dalam Kampung Adat Kuta memiliki luas wilayah sebesar
suatu masyarakat merupakan bagian dari religi suatu 185,195 hektare yang terdiri dari 44,395 hektare lahan
masyarakat dan sekaligus merupakan unsur kecil sawah dan 140,8 hektare tanah darat. Luas tanah darat
dari suatu kebudayaan yang disebut dengan aktivitas dan lahan sawah tersebut penggunaannya didominasi
kebudayaan. Sistem ritus dan upacara dalam suatu religi oleh perkebunan milik masyarakat Kampung Kuta.
mewujudkan aktivitas dan tindakan manusia dalam Kampung Adat Kuta berada di ujung timur Provinsi Jawa
melaksanakan kebaktiannya terhadap Tuhan, dewa- Barat di mana berbatasan langsung dengan Kabupaten
dewa, roh nenek moyang, atau makhluk halus lain Cilacap di sebelah timurnya yang dibatasi oleh Sungai
dalam usahanya untuk berkomunikasi dengan Tuhan dan Cijolang yang bermuara ke laut selatan Jawa Barat. Batas
Sistem Religi dan Kepercayaan Masyarakat Kampung Adat Kuta Kecamatan Tambaksari Kabupaten Ciamis 239

wilayah Kampung Kuta sebelah selatan, yaitu dengan daerah ternyata daerah tersebut dikelilingi tebing tinggi,
Dusun Pohat, sebelah barat berbatasan dengan Dusun melihat kondisi ini, Prabu Ajar Sukaresi, Beranggapan
Margamulya, dan sebelah utara dengan Dusun Cibodas, bahwa daerah ini, tidak dapat berkembang dang di perluas
Desa Karangpaningal, Kecamatan Tambaksari. karena dibatasi tebing. Dengan terpaksa, persiapan yang
Kampung ini dikategorikan sebagai kampung adat, telah dilaksanakan untuk membangun pusat peme-
karena mempunyai kesamaan dalam bentuk dan bahan rintahan di tinggalkan. Karena letaknya berada di sebuah
fisik bangunan rumah, adanya ketua adat, dan adanya adat lembah yang di kelilingi tebing, maka daerah ini di sebut
istiadat yang mengikat masyarakatnya. Bentuk rumahnya Kampung Kuta.
masih memakai atap jure yang terbuat dari daun kirai. Untuk selanjutnya, karena dilator belakangi
Tiang rumahnya didirikan di atas alas batu yang disebut oleh beberapa alasan, maka Raja Galuh tidak jadi
tatapakan sehingga merupakan bentuk rumah panggung membangunya di kampung kuta, melainkan di Desa
sedang dindingnya terbuat dari bilik atau papan. Karangkamulyan sekarang kecamatan Cijengjing, untuk
Masyarakat Kampung Kuta merupakan masyarakat memelihara Kampung Kuta, Raja Galuh Mempercayai
adat yang masih teguh memegang dan menjalankan Raja Cirebon, dan Raja Solo X untuk mengutus orang
tradisi dengan pengawasan kuncen dan ketua adat. kepercayaannya, yaitu Raksa Bumi dari Cirebon dan
Penduduk Kampung Kuta merupakan pemeluk agama Bata Sela dari Solo.
Islam yang taat, akan tetapi dalam kehidupan sehari- Diantara dua orang yang ditugaskan, yang paling
harinya diwarnai oleh kepercayaan-kepercayaan bersifat cepat dating ke Kampung Kuta Yaitu Traksabumi.
mitos dan animisme. Kepercayaan terhadap tabu dan Kemudian Traksa bumi menetap di Kampung Kuta
adanya mahluk halus atau kekuatan gaib masih tampak dengan Memelihara keutuhan daerah Kampung Kuta
pada pandangan mereka terhadap tempat keramat berupa dengan sambutan Ki Bumi yang di beri gelar Kuncen
hutan keramat. Hutan keramat tersebut sering didatangi (Juru Kunci). Ki Bumi menjaga beberapa peralatan/
oleh orang-orang yang ingin mendapatkan keselamatan perbekalan yang belum sempat dibawa kota Raja
dan kebahagiaan hidup. Hanya saja, di hutan keramat Baru (Karangkamulyan). Untuk selanjutnya Ki Bumi
tersebut tidak boleh meminta sesuatu yang menunjukkan tersebut merupakan leluhur yang menurunkan kuncen
ketamakan seperti kekayaan. Kampung Kuta sampai sekarang.
Untuk memasuki wilayah hutan keramat tersebut Mengenai riset akan dilakukan di Kampung
diberlakukan sejumlah tabu, yakni tabu memanfaatkan Adat Kuta Kecamatan Tambaksari Kabupaten Ciamis,
dan merusak sumber hutan, memakai baju dinas, peneliti menggunakan metode kualitatif. Metode
memakai perhiasan emas, memakai baju hitam-hitam, kualitatif merupAkan kegiatan mengamati dalam
membawa tas, memakai alas kaki, meludah, dan berbuat lingkungan hidupnya, berinteraksi dengan mereka,
gaduh. berusaha memakai bahasa dan tafsiran mereka tentang
Pada umumnya, cerita asal usul kampung Kuta dunia sekitarnya, dengan menggunakan metode ini
terbagi dua bentuk paparan, yaitu kampung kuta pada akan menghasilkan data-data deskriptif berupa kata-
masa kerajaan Galuh dan masa kerajaan Cirebon, namun kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku
keduanya ternyata memiliki kesamaan. Dalam beberapa yang diamati (Nasution, 1992 : 5).
dongeng buhun mereka menganggap dan mengakui Penelitian ini bersifat deskriptif yaitu suatu
sebagai keturunan ratu galuh, dan keberadaannya di penelitian yang bermaksud memberikan gambaran
kampung kuta sebagai penunggu atau penjaga kekayaan suatu gejala sosial tertentu, dimana sudah ada informasi
ratu galuh. Tersebutlah seorang raja bernama Prabu mengenai gejala sosial seperti yang ada dimaksudkan
Sukaresi (Prabu Adimulya Permana Dikusuma th.742- dalam permasalahan penelitian, namun dirasa belum
752 Masehi) mengembara bersama beberapa pengawal memadai. Penelitian ini biasanya untuk menjawab apa
terpilih yang berpengalaman. penjelasan yang lebih terperinci mengenai gejala sosial
Pengembaraan dilakukan untuk mencari daerah seperti yang dimaksudkan dalam suatu permasalahan
yang cocok dijadikan pusat pemerintahan kerajaan, saat penelitian yang bersangkutan (Manase Malo, 1985 : 38)
untuk pusat kerajaan. Prabu Ajar Sukaresi segera meme- Dilihat dari segi tipe penelitian ini termasuk
rintahkan pengawalnya untuk membangun peristirahatan, penelitian etnografi. Sebagaimana yang dikemukakan
dia sendiri akan meneliti dan meninjau secara sesama oleh Suwardi Endaswara (2008) merupakan penelitian
daerah seberang Cijolang tersebut. untuk mendeskripsikan budaya apa adanya. Artinya,
Setelah penelitian, Prabu Ajar Sukaresi mengajak dalam penelitian ini peran peneliti hanya sebagai pencatat
pasukannya untuk memulai persiapan membuka  daerah dan atau pengamat dari sebuah peristiwa yang berlangsung
yang akan dijadikan pusat kerajaan. Bekas tempat tanpa campur tangan peneliti untuk mengarahkan
peristirahatan sementara di tepi sungai cijolang tadi, peristiwa tersebut. Oleh karena itu, penelitian etnografi
sekarang di sebut dodokan artinya bekas tempat peristi- melibatkan aktivitas belajar mengenai dunia orang yang
rahatan raja. telah belajar melihat, mendengar, berbicara, dan bertindak
Pada suatu hari, Prabu Ajar Sukaresi berkeliling dengan cara-cara yang berbeda.
240 Eka Kurnia Firmansyah dan Nurina Dyah Putrisari

Maka dari pada itu, dalam penelitian etnografi 145. Kampung ini berbatasan dengan Dusun Cibodas di
yang membahas penelitian tradisi keagamaan dan sebelah utara, Dusun Margamulya di sebelah barat, dan di
kepercayaan ini peneliti mendeskripsikan bagaimana sebelah selatan dan timur dengan Sungai Cijulang, yang
tradisi itu berlangsung, alat yang digunakan, waktu sekaligus merupakan perbatasan wilayah Jawa Barat
dilaksanakannya dan lain sebagainya, tetapi lain dengan Jawa Tengah. Berikut adalah susunan pengurus
daripada itu peneliti juga mencoba membahas/ adat Kampung Kuta :
menjelaskan makna tradisi religi bagi kehidupan • Ketua Adat : Bpk Warsim
masyarakat Kampung Adat Kuta. • Wakil Ketua Adat : Bpk. Sanmarno
• Sekretaris : Tata
Kearifan Lokal di Kampung Kuta • Bendahara : Cartam
Kearifan lokal yang dipegang oleh masyarakat • Sesepuh : Ki Warja
Kampung Kuta berhasil menjaga keseimbangan alam • Kuncen : Maryono
dan terpeliharanya tatanan hidup bermasyarakat. Salah • Punduh : Sebagian Sesepuh Masyarakat
satu yang menonjol adalah dalam hal pelestarian hutan,
mata air dan pohon aren untuk sumber kehidupan Adapun mengenai tugas dan kewajiban para pengurus
mereka. adat tersebut adalah :
Masyarakat Adat memiliki hutan keramat atau • Ketua Adat: Sebagai pemimpin di wilayah kampung
disebut Leuweung Gede yang sering didatangi oleh Kuta yang Mengatur dan mengurus segala kegiatan
orang-orang yang ingin mendapatkan keselamatan dan baik dari Segi hukum adat dan perilaku. Istilah
kebahagiaan hidup. Namun, sangat dipantang meminta katanya: (ngurus laku meres gawe) Ketua Adat ini
sesuatu yang menunjukkan ketamakan seperti kekayaan. dipilih oleh warga tanpa ada batas masa jabatan,
Untuk memasuki wilayah hutan keramat namun dapat habis masa jabatannya jika ia merasa
diberlakukan sejumlah larangan. Yaitu antara lain: tidak mampu/ kuat dalam memimpin masyarakat
tidak boleh memanfaatkan dan merusak sumber daya misalnya dikarenakan sakit atau sudah tua/ uzur,
hutan, memakai baju dinas, memakai perhiasan emas, setelah itu dapat dipilih kembali oleh masyarakat
memakai baju hitam-hitam, membawa tas, memakai Adat Kuta.
alas kaki, meludah, dan berbuat gaduh.  Bahkan juga • Wakil Ketua Adat: Membantu dan mendampingi
tidak boleh memakai alas kaki. Ketua Adat
Semua larangan-larangan tersebut bertujuan • Sekretaris: Mencatat segala aktifitas kegiatan
untuk menjaga hutan tidak tercemar dan tetap lestari. penting di Kampung Kuta
Maka tidak heran di Leuweung Gede masih terlihat • Bendahara: Mengurus segala hal yang berkaitan
kayu-kayu besar dan tua. Selain itu, sumber air masih dengan Keuangan, baik dari wisatawan atau bantuan
terjaga dengan baik. Di pinggir hutan banyak mata dari Pemerintah
air yang bersih dan sering digunakan untuk mencuci • Sesepuh: Yang mengatur dan memimpin kegiatan
muka. Adat, Orang yang akan menentukan kegiatan adat
Karena ketaatannya dalam menjaga kelestarian seperti Upacara Adat Babarit
lingkungannya, pada Tahun 2002 Kampung Kuta • Kuncen: Pengurus hutan keramat
memperoleh penghargaan Kalpataru untuk kategori • Punduh: Pengurus Tatanen (pertanian)
Penyelamat Lingkungan.
Walaupun terikat aturan-aturan adat, masyarakat Sistem Religi Masyarakat Kampung Adat Kuta
Kampung Kuta mengenal dan menggemari berbagai Ada kalanya pengetahuan, pemahaman, dan daya
kesenian yang digunakan sebagai sarana hiburan.  Baik tahan fisik manusia dalam menguasai dan mengungkap
kesenian tradisional seperti calung, reog, sandiwara rahasia-rahasia alam sangat terbatas. Secara bersamaan,
(drama Sunda), tagoni (terbang), kliningan, jaipongan, muncul keyakinan akan adanya penguasa tertinggi dari
kasidah, ronggeng, sampai kesenian modern dangdut. sistem jagad raya ini, yang juga mengendalikan manusia
Pertunjukan kesenian biasa dilaksanakan pada saat sebagai salah satu bagian jagad raya. Sehubungan dengan
mengadakan selamatan/hajatan terutama perkawinan dan itu, baik secara individual maupun hidup bermasyarakat,
penerimaan tamu kampung. manusia tidak dapat dilepaskan dari religi atau sistem
kepercayaan kepada penguasa alam semesta.
Sistem Kepengurusan Adat Agama dan sistem kepercayaan lainnya seringkali
Di Kampung Adat Kuta terdapat sistem kepeng- terintegrasi dengan kebudayaan. Agama (bahasa Inggris:
urusan adat disamping kepengurusan dibawah pemerintah Religion, yang berasar dari bahasa Latin religare, yang
desa yaitu RT dan RW, Kampung Kuta terdiri atas 2 RW berarti “menambatkan”), adalah sebuah unsur kebu-
dan 4 RT, berdasarkan sensus terbaru 2017 terdapat dayaan yang penting dalam sejarah umat manusia.
111 Kepala Keluarga, 111 Rumah, Jumlah warga 268 Semua masyarakat di kampung Kuta memeluk
dengan rincian laki-laki berjumlah 123 dan perempuan agama Islam. Kepercayaan leluhur dan agama Islam
Sistem Religi dan Kepercayaan Masyarakat Kampung Adat Kuta Kecamatan Tambaksari Kabupaten Ciamis 241

berjalan beriringan. Keduanya sama-sama memerintahkan masih mempertahankan kepercayaaan leluhur seperti
pada kebaikan dan melarang pada kejahatan. Walaupun membakar menyan, memberikan sesajen, upacara-
semua masyarakat beragama Islam, tapi mereka masih upacara adat, memasang tolak bala di pintu, dan
mempertahankan kepercayaaan leluhur seperti membakar kepercayaan leluhur lainnya. Kepercayaan terhadap
menyan, memberikan sesajen, upacara-upacara adat, tabu dan adanya mahluk halus atau kekuatan gaib
memasang tolak bala di pintu, dan kepercayaan leluhur masih tampak pada pandangan mereka terhadap
lainnya. tempat keramat berupa hutan keramat.
Di kampung Kuta terdapat satu Masjid Jami’ Nama Kampung Kuta bisa jadi mengacu pada
yang digunakan untuk berjamaah dan satu Mushala. lokasi kampung di lembah curam sedalam 75 meter
Berdasarkan hasil wawancara dengan Kyai di kampung dan dikelilingi tebing dan perbukitan. Dalam bahasa
adat tersebut menerangkan bahwasannya masyarakat Sunda, hal itu disebut kuta (artinya pagar tembok).
kampung Kuta sangat antusias dalam hal keagamaan Aliran listrik sudah masuk ke kampung ini sejak
baik dalam hal pengajian dan lain sebagainya, hal tersebut 1996 sehingga memungkinkan warganya menikmati
menurut Kyai Udin terbukti dengan banyaknya ibu-ibu peralatan elektronik, seperti televisi, radio, dan
warga kampung adat Kuta yang mengikuti pengajian telepon seluler. Namun, warga Kampung Kuta masih
rutinan setiap Jumat pagi. mempertahankan bentuk rumah tradisional khas
Di kampung Adat tersebut terdapat PAUD sebagai Sunda.
sarana mengaji anak-anak. Kegiatan keagamaan lainnya Masyarakatnya sampai saat ini masih memegang
sama halnya dengan masyarakat Islam disekitar yakni teguh melestarikan adat leluhurnya (karuhun), adapun
Tahlil (jika ada yang meninggal) dan memperingati hari- sistem kepercayaan yang merupakan amanat leluhurnya
hari besar Islam seperti : Rajaban, Muludan, dan lain yang masih dipertahankan antara lain:
sebagainya, bahkan dalam kegiatan-kegiatan tersebut 1) Masyarakat kampung Kuta sangat memegang teguh
mereka mengundang mubaligh atau ustadz untuk kata “pamali”, dimana kalimat tersebut dipercaya dapat
ceramah. menyelamatkan umat baik di dunia maupun akhirat.
Namun, berdasarkan paparan Kyai Udin ada Pamali artinya adalah Poma Ulah Lali Sakumaha
hal yang sangat mengganjal dirinya dalam berdakwah Amanah (ingat jangan pernah lupa amanah).
yaitu ajakan untuk solat baik itu berjamaah dan solat 2) Rumah panggung yang harus beratap rumbia atau injuk
Jumat, beliau mengatakan pada segi ke-Tauhidan (tidak boleh permanen). Dalam membangun rumah
mereka sangat kompak dan menyerukan bahwa agama atau tempat tinggalnya masyarakat kampung Kuta
mereka adalah Islam, dalam hal kerukunan, gotong- berpegang teguh pada Pepatah atau amanah leluhurnya
royong dan kebersamaan sangat baik, apalagi ketika yaitu “Ulah rek di kubur hirup-hirup, ulah ngabangun
menyelenggarakan upacara-upacara adat, namun yang istana jadi astana” dalam bahasa sunda yang artinya,
sangat disayangkan ketika panggilan adzan Jumat hanya Jangan mau dikubur hidup-hidup, jangan membangun
sedikit saja warga yang melaksanakannya bahkan banyak istana (rumah) yang menjadi astana (kuburan), jika
meninggalkannya termasuk para sesepuh adat. kita artikan berdasarkan fenomena yang terjadi saat
Pada situasi seperti ini, tim memberikan masukan ini yaitu gempa bumi, pepatah tersebut menuntun
kepada Kyai Udin dan memberikan motivasi agar tidak khusunya masyarakat kampung Kuta umumnya
mundur dan putus asa dalam berdakwah, bahkan tim kepada kita semua untuk membangun rumah yang
memberikan masukan kepada Ketua Kampung/ Rurah ramah akan gempa, ketaatan tersebut membuahkan
untuk mengajukan proposal studi banding ke kampung- ketika peristiwa gempa bumi tersebut terjadi maka
kampung adat yang ada di Jawa Barat, yang diikuti tak ada satupun bangunan atau rumah kampung Kuta
oleh para sesepuh sebagai bahan perbandingan bahwa yang rusak karena spesifikasi rumah kampung adat
disamping melestarikan adat budaya mereka juga wajib memang merupakan rumah yang ramah akan gempa,
melaksanakan syareat Islam yang diantaranya adalah sekalipun hancur maka dampaknya tidak akan begitu
kepatuhan dalam melaksanakan ibadah solat termasuk parah jika menimpa penghuninya dikarenakan atap
solat Jumat, apalagi mereka menganggap bahwa rumah tersebut dibangun dengan rumbia atau injuk.
kampung Kuta adalah wilayah suci.
Alasan lain bangunan tidak boleh permanen
Sistem Kepercayaan adalah, jika rumah tersebut ambruk maka tidak
Masyarakat Kampung Kuta merupakan masya- menyatu dengan alam sebab semua bahan bangunan
rakat adat yang masih teguh memegang dan men- terbuat dari alam dan lapuk. Selain itu bentuk rumah
jalankan tradisi leluhur dengan pengawasan kuncen di Kampun Kuta pun harus persegi panjang, dengan
dan ketua adat. Penduduk Kampung Kuta merupakan letak antara dapur dan ruangan lain harus sejajar.
pemeluk agama Islam yang taat, akan tetapi dalam Upacara mendirikan rumah atau ngadeugkeun
kehidupan sehari-harinya diwarnai oleh kepercayaan- dan mendiami rumah baru setelah mendapatkan hari
kepercayaan bersifat mitos dan animisme, mereka baik dan harus bertanya dulu kepada sesepuh.
242 Eka Kurnia Firmansyah dan Nurina Dyah Putrisari

3) Masyarakat kampung Kuta memiliki kepercayaan berarti tempat menyimpan beras. Benda itulah
dan adat yang berkaitan dengan hutan keramat. yang konon menjadi asal mula terbentuknya
Hutan keramat dianggap oleh masyarakat sebagai Gunung Padaringan. Masyarakat Kuta percaya
tempat yang suci atau sakral sehingga masyarakat adanya Gunung Padaringan membuat mereka
kampung kuta memberlakukan berbagai aturan adat tidak pernah kekurangan pangan. Bahkan sejak
untuk melindungi hutan keramat tersebut yaitu : dulu, mereka sudah swasembada beras.
• Tidak boleh mengambil hasil hutan seperti “Di sini tidak ada warung yang jual beras, itu artinya
kayu, buah-buahan, hewan, dan lain sebagainya masyarakat sudah menghasilkan beras sendiri,” jelas
yang berada di dalam hutan keramat Ki Warja sambil menyebutkan semua penduduk
• Tidak boleh memakai pakaian serba hitam, dan Kuta bermatapencaharian sebagai petani.
pekaian seragam dinas atau seragam pemerintah. Gunung Padaringan dianggap sebagai tempat beras
• Tidak boleh meludah, buang sampah, buang air sedunia yang menghidupi masyarakat di dunia. Tak
besar atau kecil yang dapat mengotori hutan. jauh dari Gunung Padaringan ada sebuah pohon besar
• Tidak boleh berkata tidak sopan atau istilah dengan lubang di tengahnya. Warga percaya di pohon
sundanya “Sompral” di hutan keramat. itu hidup seekor tokek berukuran besar. “Seperti
• Tidak boleh memakai alas kaki seperti sandal tokek di rumah-rumah yang biasanya diam di dekat
dan sepatu. padaringan untuk menghalau tikus,” jelasnya.
• Tidak boleh masuk ke hutan keramat kecuali d) Batu Goong
hari Senin dan Jumat. Batu Goong awalnya adalah Go’ong (Gong), sebuah
• Tidak boleh memasuki hutan larangan pada alat Kesenian Sunda, yang berukuran besar. Alat
bulan Ramadlan. musik ini juga peninggalan Kerajaan Galuh yang
disebut Go’ong Sadunya. Lokasinya berada di
Selain itu mereka juga mempertahankan tempat- sebelah Timur Laut. Menurut riwayat, Gong aslinya
tempat keramat (tabet-tabet) yaitu Leuwueng Gede, disimpan di Masjid Agung Cirebon.
Gunung Wayang, Pandan Domas, Gunung Barang, e) Ciasihan
Ciasihan, Gunung Goong, dan Panyipuhan. Ciasihan adalah sebuah tempat pemandian yang
Berikut adalah 5 ancepan tempat-tempat keramat konon airnya bisa membuat seseorang dikasihi.
dan beberapa nilai-nilai kepercayaan/ keyakinan Letaknya berada di tengah kampung. Ciasihan berasal
masyarakat Kampung Kuta : dari kata cai (air) dan asih (kasih) yang berarti airnya
a) Leuweung Gede dipercaya bisa menimbulkan kasih sayang. Tempat ini
Hutan yang dianggap keramat itu terjaga kelestariannya sering didatangi orang yang mengharapkan mendapat
dari dahulu hingga kini. Hal itu disebabkan jodoh dengan mandi di sana. Airnya berasal dari
masyarakat sekitar menganggap hutan tersebut dihuni sebuah mata air yang juga menjadi sumber air warga
oleh makhluk gaib. Karena terjaga kelestariannya, setempat.
Leuweung Gede mendapat penghargaan Kalpataru
sebagai penyelamat lingkungan pada 2002. 4) Penduduk yang meninggal harus dimakamkan
Kekeramatan hutan itu sering dimanfaatkan oleh di luar Kampung Kuta. Hal ini dikarenakan
orang-orang yang berniat mendapatkan kesuksesan amanah dari leluhurnya untuk menjaga kesucian
dengan cara melakukan sejumlah ritual. Tapi dilarang tanah Kampung Kuta, berkaitan dengan kesucian
keras memohon kekayaan karena itu menunjukkan tanah Kampung Kuta  mereka juga tidak boleh
ketamakan. membangun tempat MCK (mandi cuci kakus) di
“Kalau ingin lulus ujian, terpilih jadi anggota dalam rumah, hal tersebut untuk menjaga dari
dewan, bisa,” ujar Ki Warja sambil menyebutkan segala bentu penyakit.
cucu seorang tokoh bangsa yang pernah melakukan 5) Masyarakat Memiliki Leuit atau penyimpanan
ritual di Leuweung Gede. gabah atau padi hasil panen. Jika terjadi rawan
b) Gunung Barang pangan atau paceklik, ini mengartikan bahwa
Gunung Barang berada di sebelah Barat Daya kampung Kuta memiliki jiwa sosial yang tinggi
kampung, berupa sebuah gundukan tanah yang konon dan memiliki keinginan untuk menabung.
dulunya adalah barang-barang perlengkapan untuk 6) Memelihara dan melestarikan Pohon Aren sebagai
membangun pusat Kerajaan Galuh. Karena urung, sumber mata pencaharian utama masyarakat
barang-barang tersebut disimpan dan ditimbun di dusun Kuta membuat gula Aren
dalam sebuah gundukan tanah. Menurut Ki Warja, 7) Upacara-upacara Adat Besar/ Tahunan.
tempat ini juga sering dijadikan tempat bersemedi. a) Sidekah Bumi / Hajat Bumi.
c) Gunung Padaringan b) Babarit
Padaringan adalah kata dari Bahasa Sunda yang c) Nyuguh
Sistem Religi dan Kepercayaan Masyarakat Kampung Adat Kuta Kecamatan Tambaksari Kabupaten Ciamis 243

SIMPULAN 4) Penduduk yang meninggal harus dimakamkan


di luar Kampung Kuta. Hal ini dikarenakan
Masyarakat Kampung Kuta merupakan masyarakat adat amanah dari leluhurnya untuk menjaga kesucian
yang masih teguh memegang dan menjalankan tradisi tanah Kampung Kuta, berkaitan dengan kesucian
dengan pengawasan kuncen dan ketua adat. Penduduk tanah Kampung Kuta  mereka juga tidak boleh
Kampung Kuta merupakan pemeluk agama Islam membangun tempat MCK (mandi cuci kakus) di
yang taat, akan tetapi dalam kehidupan sehari-harinya dalam rumah, hal tersebut untuk menjaga dari
diwarnai oleh kepercayaan-kepercayaan bersifat mitos segala bentu penyakit.
dan animisme. Kepercayaan terhadap tabu dan adanya 5) Masyarakat Memiliki Leuit atau penyimpanan
mahluk halus atau kekuatan gaib masih tampak pada gabah atau padi hasil panen. Jika terjadi rawan
pandangan mereka terhadap tempat keramat berupa pangan atau paceklik, ini mengartikan bahwa
hutan keramat. kampung Kuta memiliki jiwa sosial yang tinggi
Masyarakatnya sampai saat ini masih memegang teguh dan memiliki keinginan untuk menabung.
melestarikan adat leluhurnya (karuhun), adapun sistem 6) Memelihara dan melestarikan Pohon Aren sebagai
kepercayaan yang merupakan amanat leluhurnya yang sumber mata pencaharian utama masyarakat
masih dipertahankan antara lain : dusun Kuta membuat gula Aren
1) Masyarakat kampung Kuta sangat memegang 7) Upacara-upacara Adat Besar/ Tahunan.
teguh kata “pamali”, dimana kalimat tersebut d) Sidekah Bumi / Hajat Bumi.
dipercaya dapat menyelamatkan umat baik di e) Babarit
dunia maupun akhirat. f) Nyuguh
Pamali artinya adalah Poma Ulah Lali Sakumaha
Amanah (ingat jangan pernah lupa amanah). DAFTAR PUSTAKA
2) Rumah panggung yang harus beratap rumbia atau
injuk (tidak boleh permanen). Upacara mendirikan Anderson, O’C, Benedict R-Nakamura, Mitsou-
rumah atau ngadeugkeun dan mendiami rumah Slamet, Mohammad. (1996). Religion Social
baru setelah mendapatkan hari baik dan harus Ethos-Agama dan etos sosial di Indonesia
bertanya dulu kepada sesepuh. (terj.), penerbit PT Al-Ma’arif Bandung.
3) Masyarakat kampung Kuta memiliki kepercayaan
dan adat yang berkaitan dengan hutan keramat. Boelaars, Y. (1984). Kepribadian Indonesia Modern,
Hutan keramat dianggap oleh masyarakat sebagai Suatu Peelitian Antropologi Budaya. Jakarta:
tempat yang suci atau sakral sehingga masyarakat PT Gramedia
kampung kuta memberlakukan berbagai aturan adat Geertz, Clifford. (1989). Abangan, Santri, Priyayi
untuk melindungi hutan keramat tersebut yaitu : dalam Masyarakat Jawa. (terj.). Jakarta. PT.
• Tidak boleh mengambil hasil hutan seperti Dunia Puataka Jaya.
kayu, buah-buahan, hewan, dan lain sebagainya
yang berada di dalam hutan keramat Harsoyo. (1999). Pengantar Antropologi; Bandung:
• Tidak boleh memakai pakaian serba hitam, Penerbit Putra A Bardin
dan pekaian seragam dinas atau seragam Koentjaraningrat. (1987). Kebudayaan, Mentalitet
pemerintah. dan Pembangunan, Jakarta: Penerbit PT.
• Tidak boleh meludah, buang sampah, buang air Gramedia.
besar atau kecil yang dapat mengotori hutan.
• Tidak boleh berkata tidak sopan atau istilah Koentjaraningrat. (1986). Pengantar Imu Antropologi.
sundanya “Sompral” di hutan keramat. Jakarta, Aksara Baru.
• Tidak boleh memakai alas kaki seperti sandal https://id.m.wikipedia.org
dan sepatu.
• Tidak boleh masuk ke hutan keramat kecuali m.republika.co.id
hari Senin dan Jumat. alampriangan.com
• Tidak boleh memasuki hutan larangan pada
www.rappler.com
bulan Ramadlan.