Anda di halaman 1dari 12

Laporan Praktikum Bioteknologi Tanaman Obat

STERILISASI EKSPLAN DAN INISIASI

Disusun untuk memenuhi


tugas praktikum endokrinologi

Oleh :
M. Aidiel Fitra
1608104010036

Asisten Meja : Agustia Maulina

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SYIAH KUALA
DARUSSALAM, BANDA ACEH
2019
BAB I
PENDAHULUAN

1. 1. Latar Belakang
Kultur jaringan tanaman merupakan suatu teknik untuk mengisolasi bagian
tanaman (sel, jaringan, dan organ tanaman), untuk ditumbuhkan pada media
dengan kondisi aseptik agar bagian tanaman tersebut dapat memperbanyak diri
dan membentuk tanaman yang sempurna (Wattimena et al., 1992; Gunawan 1992;
Caponetti et al., 2000; Ahloowalia et al., 2004). Kultur jaringan disebut juga
kultur in vitro yang berarti kultur di dalam wadah gelas (Wattimena et al., 1992).
Konsep yang mendasari kultur jaringan adalah teori totipotensi dan plastisitas
tanaman (Wetherell, 1982).
Kultur jaringan telah banyak diterapkan pada ragam tumbuhan, salah
satunya adalah Tanaman Mentha sp. Tanaman ini termasuk ke dalam Kingdom
Plantae dengan Divisi Spermatophyta. Sub divisi Angiospermae, Kelas
Dicotyledonae, Famili Solanales, Ordo Labialae, dan Genus Mentha. Tanaman ini
lebih dikenal dengan nama Peppermint atau Mint. Daun Mint mengandung
saponin, flavonida,dan polifenol di samping minyak atsiri. Selain tergolong dalam
tanaman obat dan aromatik, tanaman ini dapat menjadi gulma atau invasif
(Kurniawati, 2004).
Teknik kultur in vitro memerlukan bahan eksplan. Bahan eksplan dapat
berupa bagian-bagian tanaman karena tanaman memiliki sifat totipoten.
Totipotensi merupakan kemampuan sel tumbuhan bukan embrionik yang
berdiferensiasi menjadi sel embrionik, kemudian berkembang menjadi tumbuhan
baru yang lengkap (Wetherell, 1982). Secara teoritis, semua sel hidup dalam
tanaman berasal dari satu sel zigot dalam ovari. Dengan demikian meskipun sel
tersebut berdiferensiasi menjadi batang, daun, akar, dan bunga, mereka tetap
mempunyai informasi genetik yang sama dengan induknya (Wattimena et al.,
1992). Bahan eksplan yang paling baik digunakan adalah yang memiliki sifat
meristematik. Bahan tanaman mint yang dijadikan eksplan dapat berupa jantung
mint, meristem tunas, dan kuncup kuncup samping yang berada di bonggol mint.
Maka dari itu perbanyakan mint dengan kultur in vitro, memerlukan beberapa
tahapan yang perlu diperhatikan diantaranya tahap sterilisasi, inisiasi dan
aklimatisasi.
1. 2. Tujuan Percobaan
Praktikum bertujuan agar mahasiswa mengetahui cara sterilisasi eksplan
dan proses inisiasi pada kultur tanaman.
BAB II
METODE KERJA

2. 1. Alat dan Bahan


Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah Laminar Air Flow
(LAF), autoklaf, oven, timbangan analitik, spatula, panci, rak kultur, sprayer,
botol kultur, gunting, scalpel, blade, bunsen, Eksplan (Mentha sp.), beaker glass,
pinset, bunsen dan cawan Petri.
Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah Tumbuhan Mint
(Mentha sp.), media Murashige and Skoog (MS), zat pengatur tumbuh (ZPT),
alkohol 70% dan alkohol 95%, aquades, korek api, plastik, plastik wrap, clorox,
spidol, tisu, sarung tangan, masker, gula, agar. Tween-80, Bayclin dan Air Steril

2. 2. Cara Kerja
2.2.1. Sterilisasi Eksplan
Tanaman mint dibersihkan dari debu dan kotoran yang menempel
kemudian dipilih eksplan yang unggul dan bebas penyakit. Eksplan yang akan
ditanam dicuci dengan air mengalir. Selanjutnya disiapkan larutan detergen dan
larutan fungisida untuk merendam eksplan selama 15 menit ke larutan detergen
dan 15 menit ke dalam larutan fungisida. Terakhir eksplan dibilas dengan air
steril.

2.2.2. Inisiasi

LAF disterilkan mengunakan alkohol 70% dengan cara disemprotkan dan


diseka menggunakan tisu. Peralatan seperti bunsen, alat scalpel dan cawan petri
diatur tata letaknya untuk mempermudah pengerjaan. Selanjutnya disiapkan
eksplan untuk direndam ke dalam larutan bayclin yang telah ditambah 5 tetes
tween-80 dan dicuci dengan air steril. Slanjutnya eksplan dipotong-potong dan
dipisahkan bagian yang akan ditanam menggunakan peralatan yang telah
disterikan dengan api bunsen secara berulang. Terakhir tanam eksplan yang telah
dipotong ke dalam media agar dan dipanaskan mulut botol sebelum ditutup rapat.
BAB III
DATA HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

3. 1. Data Hasil Pengamatan


Tabel 4.1. Sterilisasi Eksplan dan Inisiasi.
NO Nama Alat Gambar Fungsi

Botol Kultur Sebagai tempat untuk


menkulturkan atau
menanam eksplan

Cawan Petridish sebagai media


perkembangan
mikroorganisme

Laminar Air untuk menanam eksplan ke


Flow dalam botol dalam kondisi
steril atau melakukan sub
kultur yang dilengkapi
dengan blower dan lampu
UV

Autoclave untuk mensterilkan media,


baik media agar atau pun
media cair. Juga dapat
digunakan untuk sterilisasi
tanah atau kompos yang
akan digunakan untuk
media tanaman.
Hot Plane untuk homogen dan juga
untuk pemanas. Hot plate
juga merupakan alat untuk
mencampur dan memasak
media kultur.Hot plate
digunakan untuk memasak
segala macam bahan nutrisi
dengan melibatkan
pengaduk dan pemanas.

Shacker mesin pengguncang, yang


digunakan dalam proses
perbanyakan sel atau
pertumbuhan PLB
(Protocrm Likes Body)
dalam kegiatan kultur
jaringan, setelah dilakukan
inokulasi eksplan.
Kulkas Sebagai tempat
penyimpanan larutan kimia
dan bagian tanaman yang
akan dikulturkan agar tahan
lama.

Rak botol kultur Sebagai tempat


penyimpanan botol kultur
yang telah ditanam.

Lemari larutan Sebagai tempat


kimia penyimpanan berbagai
macam larutan kimia.

Keranjang botol Sebagai tepat penyimpana


kultur botol kultur yang telah
disterilisasi.

Timbangan Berfungsi untuk


analitik menimbang nutrisi yang
akan diberikan pada media.
PH meter digital Berfungsi untuk mengukur
ph secara akurat.

3. 2. Pembahasan
Berdasarkan Praktikum yang telah dilakukan, terdapat beberapa alat dan
bahan yang telah didemonstrasi diantaranya adalah Laminar Air Flow (LAF),
oven, botol kultur, scalpel, blade dan syringe filter, Tumbuhan Mint (Mentha sp.),
media Murashige and Skoog (MS), zat pengatur tumbuh (ZPT), alkohol dan
aquades. Praktikum juga memfokuskan terhadap pengenalan tata ruang
laboratorium serta penggunaan ruang.
Papermint adalah tanaman herba penghasil menthol. Perbanyakan
konvensional Papermint mengurangi hasil panen sekaligus mengakumulasikan
patogen terutama virus. Salah satu solusi perbanyakan Papermint adalah
penyediaan bibit melalui kultur jaringan. Praktikum ini bertujuan untuk
mempelajari bagaimana cara sterilisasi eksplan Papermint yang baik dan benar
serta mempelajari proses inisiasi eksplan agar berhasil untuk dilakukan kultur
jaringan dari tanaman Papermint.
Menurut Badan Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik (1986) Papermint
tumbuh tegak dengan tinggi 30-90 cm dan bentuk batang segi empat berwarna
ungu. Daun tanaman ini berbentuk bulat telur dengan panjang 2,5-10 cm, bentuk
pangkal daun runcing atau tumpul, tepi daun bergerigi kasar, helaian daun bagian
atas halus dengan warna hijau gelap, sedang bagian bawah berwarna pucat dan
sedikit berbulu. Bunga berwarna ungu, tersusun dalam karangan bunga majemuk
semu. Karangan bunga ini tumbuh pada ujung batang atau cabang (bunga
terminal).
Terdapat beberapa aspek yang menjadi penentu keberhasilan kultur
jaringan. Aspek tersebut diantaranya adalah pada saat inisiasi dan sterilisasi.
Inisiasi adalah tahap pengambilan eksplan dari tanaman induk yang akan
diperbanyak secara kultur jaringan. Inisiasi eksplan sangat dipengaruhi oleh
pemilihan eksplan yang tepat serta media yang digunakan. Eksplan merupakan
bahan untuk inisiasi kultur yang diambil dari bagian suatu tanaman (Gunawan,
1992). Keberhasilan morfogenesis suatu kultur in vitro sangat dipengaruhi oleh
eksplan yang dikulturkan. Eksplan menyangkut jenis eksplan, umur, ukuran, dan
cara mengkulturkannya. Umur eksplan akan berpengaruh terhadap inisiasi, dan
kemampuan morfogenesis langsung atau tidak langsung. Bagian tanaman yang
masih muda (juvenile) merupakan bagian tanaman yang paling baik untuk
eksplan, hampir pada semua tanaman. Hal yang sama juga terjadi pada eksplan
yang berasal dari planlet in vitro. Potensial morfogenetik kalus meningkat hanya
dalam waktu singkat (satu atau dua kali subkultur) yang diikuti dengan
kemampuan regenerasi yang tinggi, setelah itu morfogenesisnya menurun. Setiap
jenis tanaman maupun organ memiliki ukuran optimum untuk dikulturkan.
Eksplan yang terlampau kecil akan kurang daya tahannya jika dikulturkan,
sementara bila terlalu besar akan sulit mendapatkan eksplan yang steril.
Pertumbuhan atau morfogenesis eksplan dapat juga dipengaruhi oleh cara
penempatan eksplan dalam medium. Faktor ini erat kaitannya dengan transportasi
hara dan zat pengatur tumbuh ke dalam eksplan (Wattimena et al. , 1992).
Eksplan yang digunakan pada praktikum ini adalah mata tunas anggrek, biji
anggrek, mata tunas pisang dan krisan. Menurut Ahloowalia et al. (2004), semua
bagian dari tanaman dapat menjadi sumber eksplan. Bagian tanaman yang biasa
digunakan sebagai eksplan adalah meristem pucuk, tunas, tunas aksilar, pucuk,
bagian kecil batang, nuselus, dan embrio zygotik . Bagian tanaman seperti
meristem, anther, polen, ovule, dan mikrospora sering dikulturkan untuk inisiasi
kalus.
Sterilisasi eksplan merupakan tahap terpenting dalam kultur jaringan
tanaman. Tanaman yang akan dijadikan eksplan harus dalam keadaan steril, dan
setiap tanaman mempunyai respons spesifik terhadap metode-metode sterilisasi.
Sterilisasi eksplan bertujuan menghilangkan kontaminasi bakteri dan cendawan
yang berada di permukaan. Sumber kontaminan berupa mikroorganisme pada
eksplan umumnya berasal dari media tanam yang digunakan akibat proses
sterilisasi tidak sempurna, lingkungan kerja (laboratorium) yang kurang steril,
proses penanaman eksplan yang kurang aseptik, serta kontaminan yang berasal
dari dalam jaringan tanaman itu sendiri dan yang berasal dari permukaan eksplan.
Dosis sterilan dan waktu perendaman eksplan bergantung pada dua hal, yaitu
ukuran eksplan dan jenis tanaman. Semakin besar ukuran eksplan, maka akan
semakin besar peluang terkontaminasi baik secara internal maupun eksternal,
tetapi kemungkinan keberhasilan proliferasi semakin besar. Sebaliknya jika
eksplan berukuran kecil maka peluang terkontaminasi semakin rendah dan
peluang untuk hidup akan semakin rendah (George dan Sherrington 1984).
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, eksplan yang akan ditanam
direndam dalam larutan fungisida atau insektisida terlebih dahulu agar tanaman
induk bebas dari hama dan penyakit. Bahan eksplan yang steril didapatkan dengan
cara melakukan sterilisasi melalui berbagai tahap perendaman dalam bahan
sterilan misalnya pembersih, larutan bakterisida, larutan fungisida, dan antibiotik,
(Gunawan, 1992), namun pada praktikum yang telah dilakukan cukup merendam
menggunakan larutan deterjen, fungisida dan dilanjutkan dengan perendaman
dalam bayclean yang ditambah 5 tetes tween-80. Tween-80 digunakan untuk
memperluas permukaan (perenggangan) pada jaringan tanaman sehingga proses
penetrasi bayclean merata diseluruh jaringan. Bahan sterilan bersifat racun bagi
jaringan tanaman, oleh karena itu diperlukan pembilasan dengan akuades steril
untuk menghilangkan sisa-sisa racun yang menempel di permukaan eksplan.
Sterilisasi bahan eksplan bertujuan menghilangkan kontaminasi berupa bakteri
dan cendawan yang berada di permukaan eksplan. Bahan eksplan beserta
kontaminannya merupakan makhluk hidup. Kontaminan harus dimatikan agar
tidak tumbuh dalam media.
Eksplan yang mengandung atau terinfeksi virus, bakteri atau jamur akan
menyebabkan kontaminasi pada tahap pertumbuhan. Selain itu, factor sterilitas
ruangan juga sangat menentukan terhadap kontaminasi. Pengambilan meristem
sebagai eksplan harus dilakukan dalam ruang steril agar tidak terkontaminasi
(Sunarjono, 2002).

3. 3. Kesimpulan
Kesimpulan dapat diperoleh dalam Sterilisasi Eksplan dan Inisiasi adalah
sebagai berikut :
1. Pemilihan eksplan didasarkan oleh beberapa faktor, yaitu organ yang
digunakan, waktu pengambilan eksplan, ukuran eksplan, kualitas tanaman
asal eksplan, dan, serta kualitas fisiologi tanaman sumber eksplan
2. Tahapan Inisiasi sangat dipengaruhi oleh sterilisasi eksplan
3. Tahapan sterilisasi eksplan berfungsi untuk menghilangkan kontaminan
berupa jamur dan bakteri
DAFTAR KEPUSTAKAAN

Ahloowalia, B.S., J. Prakash, V.A. Savangikar, and C. Savangikar. 2004. Plant


Tissue Culture. Proceedings of a Technical Meeting. FAO/IAEA Division
of Nuclear Techniques in Food and Agriculture. Viena. 1-30.

Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik. 1986. Kemungkinan


Pembudidayaan Tanaman Penghasil Minyak Atsiri Potensial, Panili, dan
Lidah Buaya. Departemen Pertanian. Bogor

Caponetti J.D., D.J. Gray, and R.N. Trigiano. 2000. History of plant tissue and
cell culture, p. 11-17. In Robert N. Trigiano and Dennis J. Gray (Eds.).
Plant Tissue Culture Concept and Laboratory Exercise Second Edition.
CRC Press. New York

George, E.F., and P.D. Sherrington. 1984. Plant Propagation by Tissue Culture.
Eastern Press. London. 709 p.

Gunawan, L.W. 1988. Pengenalan Teknik in Vitro. Pusat Antar Universitas


Bioteknologi Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Kurniawati, M. 2004. Pengaruh 2,4 D, BAP, dan Kinetin untuk Induksi Kalus dan
Tunas Mentha arvensis Var. Tempaku. Skripsi. FMIPA IPB. Bogor

Sunarjono, H. 2002. Budidaya Pisang Dengan Bibit Kultur Jaringan. Penebar


Swadaya. Bogor.

Wattimena, G.A. 1988. Zat Pengatur Tumbuh Tanaman. Pusat Antar Universitas
Bioteknologi Institut Pertanian Bogor. Bogor. 93 hal.

Wetherelll, D. F. 1976. Introduction To In Vitro Propagation. Avery Publishing


Group Inc. Wayne, New Jersey.