Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH

“STERILISASI, INISIASI DAN AKLIMATISASI TANAMAN


PISANG (Musa paradisiaca L.)”
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas praktikum matakuliah Kultur Jaringan yang diampu oleh
dosen praktikum Syantiara Jasmine, SP.

Disusun oleh
Kelompok 3 :

Hana Fitriani 1157060032


Khairul Razaq 1157060044
Mia Aprilia 1157060049
Ririn Suryani 1157060069

JURUSAN AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2018 M/1439 H
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah dzat yang menegakkan langit,


membentangkan bumi dan mengurusi seluruh makhluk. Tak lupa shalawat serta
salam selalu tercurahkan kepada sosok yang paling utama diantara seluruh makhluk
yakni Nabi Muhammad Sallahu’alaihimwasallam. Rahmat dan keselamatan Allah
semoga selalu dilimpahkan kepada seluruh Nabi dan Rasul, kepada keluarga, sahabat,
dan para shalihin. Sehingga kami sebagai mahasiswa Jurusan Agroteknologi UIN
Sunan Gunung Djati Bandung dapat menyelesaikan tugas makalah ini tepat pada
waktunya.
Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas matakuliah Prakikum
Kultur Jaringan, yang membahas tentang “STERILISASI, INISIASI DAN
AKLIMATISASI TANAMAN PISANG (Musa paradisiaca L.)”. Kami selaku
penulis menyimpulkan bahwa tugas makalah ini masih belum sempurna. Akhir kata,
kami berharap semoga makalah ini dapat memberikan motivasi bagi siapa saja yang
membaca dan memanfaatkannya.

Bandung, 04 Mei 2018

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................................... i

DAFTAR ISI ................................................................................................................. ii

BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................. 1

1.1 Latar Belakang .................................................................................................... 1

1.2 Rumusan Masalah ............................................................................................... 2

BAB 2 PEMBAHASAN ............................................................................................... 3

2.1 Sterilisasi ............................................................................................................. 3

2.2 Inisiasi Tanaman Pisang ..................................................................................... 5

2.3 Aklimatisasi ......................................................................................................... 7

BAB 3 PENUTUP ...................................................................................................... 11

3.1 Kesimpulan ........................................................................................................ 11

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................. 12

ii
BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tanaman pisang tersebar luas di seluruh Indonesia. Umumnya pusat
pengembangan budidaya pisang tersebar di daerah Palembang, Banyuwangi, dan
beberapa daerah di Jawa Barat. Setiap kultivar pisang memiliki respons yang
berbeda dengan kultivar lainnya sehingga untuk menentukan metode kultur yang
tepat masih merupakan tantangan yang besar. Multiplikasi tanaman dengan kultur
in vitro menghasilkan tanaman yang seragam, dapat memproduksi banyak bibit,
menghasilkan tanaman bebas virus karena kondisi kultur aseptik, dan dapat
diperbanyak dalam waktu yang relatif singkat Teknik kultur in vitro memerlukan
bahan eksplan. Bahan eksplan dapat berupa bagian-bagian tanaman karena
tanaman memiliki sifat totipoten. Totipotensi merupakan kemampuan sel
tumbuhan bukan embrionik yang berdiferensiasi menjadi sel embrionik,
kemudian berkembang menjadi tumbuhan baru yang lengkap. Bahan eksplan
yang paling baik digunakan adalah yang memiliki sifat meristematik. Bahan
tanaman pisang yang dijadikan eksplan dapat berupa jantung pisang, meristem
tunas, dan kuncup kuncup samping yang berada di bonggol pisang. Maka dari itu
perbanyakan pisang dengan kultur in vitro, memerlukan beberapa tahapan yang
perlu diperhatikan diantaranya tahap sterilisasi, inisiasi dan aklimatisasi.
Klasifikasi Tanaman Pisang :
Kingdom : Plantae
Divisi : Liliopsida
Kelas : Commelinidae
Ordo : Zingiberales
Family : Musaceae
Genus : Musa
Species : Musa paradisiaca

1
2

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana metode sterilisasi eksplan tanaman pisang ?
2. Bagaimana metode inisisasi eksplan tanaman pisang ?
3. Bagaimana metode aklimatisasi planlet tanaman pisang ?

1.3 Tujuan

1. Untuk mengetahui metode sterilisasi eksplan tanaman pisang.


2. Untuk mengetahui metode inisisasi eksplan tanaman pisang.
3. Untuk mengetahui metode aklimatisasi planlet tanaman pisang.
BAB 2 PEMBAHASAN

2.1 Sterilisasi
Sterilisasi eksplan merupakan tahap terpenting dalam kultur jaringan tanaman.
Tanaman yang akan dijadikan eksplan harus dalam keadaan steril, dan setiap tanaman
mempunyai respons spesifik terhadap metode-metode sterilisasi. Sterilisasi eksplan
bertujuan menghilangkan kontaminasi bakteri dan cendawan yang berada di
permukaan. Sumber kontaminan berupa mikroorganisme pada eksplan umumnya
berasal dari media tanam yang digunakan akibat proses sterilisasi tidak sempurna,
lingkungan kerja (laboratorium) yang kurang steril, proses penanaman eksplan yang
kurang aseptik, serta kontaminan yang berasal dari dalam jaringan tanaman itu sendiri
dan yang berasal dari permukaan eksplan. Dosis sterilan dan waktu perendaman
eksplan bergantung pada dua hal, yaitu ukuran eksplan dan jenis tanaman. Semakin
besar ukuran eksplan, maka akan semakin besar peluang terkontaminasi baik secara
internal maupun eksternal, tetapi kemungkinan keberhasilan proliferasi semakin
besar. Sebaliknya jika eksplan berukuran kecil maka peluang terkontaminasi semakin
rendah dan peluang untuk hidup akan semakin rendah (George dan Sherrington
1984).

a. Menyiapkan Eksplan
Eksplan adalah organ penting atau sepotong jaringan dari tanaman yang
digunakan dalam kultur jaringan. Eksplan yang baik adalah bagian jaringan
yang belum banyak mengalami perubahan bentuk dan kekhusuan fungsi, atau
dipilih bagian-bagian yang bersifat meristematik. Tanaman yang akan di
jadikan eksplan sebaiknya diisolasi terlebih dahulu didalam green house
dengan perawatan khusus yaitu :
- Melakukan pengendalian hama secara intensif.
- Perlakuan dengan temperatur tertentu.
- Perlakuan dengan pemupukan dan memberikan zpt.

3
4

Eksplan adalah bagian dari suatu organisme tanaman yang digunakan


dalam kultur jaringan. Biasanya eksplan berasal dari organ yang masih utuh.
Eksplan yang akan ditanam hendaknya disemprot dengan menggunakan
fungisida atau insektisida terlebih dahulu agar tanaman induk bebas dari
hama dan penyakit. Bahan eksplan yang steril didapatkan dengan cara
melakukan sterilisasi melalui berbagai tahap perendaman dalam bahan
sterilan misalnya: Bayclin, larutan bakterisida, larutan fungisida, dan
antibiotik. Bahan sterilan bersifat racun bagi jaringan tanaman, oleh karena
itu diperlukan pembilasan dengan akuades steril untuk menghilangkan sisa-
sisa racun yang menempel di permukaan eksplan. Sterilisasi bahan eksplan
bertujuan menghilangkan kontaminasi berupa bakteri dan cendawan yang
berada di permukaan eksplan. Bahan eksplan beserta kontaminannya
merupakan makhluk hidup. Kontaminan harus dimatikan agar tidak tumbuh
dalam media.

b. Bahan bahan yang diperlukan untuk sterilisasi eksplan pisang


Bahan sterilisasi eksplan yang digunakan berupa larutan fungisida (Dithane
M-45), larutan bakterisida (Agrept), alkohol 70%, larutan Bayclin 5%, 15%,
20%, dan 30% serta akuades steril sebagai bahan pembilas.
c. Metode Sterilisasi
Pada penelitian Khaerunnisa Eva (2014) dilakukan 2 metode sterilisasi mata
tunas apikal pada bonggol pisang kepok merah yaitu :
Metode 1
Bahan eksplan berupa mata tunas apikal dari bonggol pisang dipotong
sebesar 1 x 5 cm. Bahan tersebut dicuci dengan air mengalir, kemudian
dimasukkan ke dalam botol yang berisi campuran 100 mL akuades steril dan
3 tetes Tween 80 selama 1 jam. Setelah itu, eksplan direndam dalam larutan
fungisida (Dithane M-45) 0.2 mg/100 mL selama 1 jam, kemudian direndam
dalam larutan bakterisida (Agrept) 0.2 mg/mL selama 1 jam. Selanjutnya
eksplan direndam dalam larutan alkohol 70% selama 1 menit di dalam
5

LAFC, dilanjutkan perendaman dalam larutan Bayclin 30% selama 30 menit


dan Bayclin 20% selama 20 menit. Masing-masing tahap di luar dan di dalam
LAFC dibilas 3 kali dengan akuades steril. Bahan eksplan dikupas sampai
tampak jaringan berwarna putih dan dibelah menjadi dua bagian, kemudian
ditanam dengan posisi bagian yang terluka menghadap media.
Metode 2
Bahan eksplan direndam di dalam larutan deterjen selama 1 jam dan dibilas
dengan air mengalir selama 10-15 menit. Selanjutnya eksplan disterilisasi
secara berurutan menggunakan alkohol 70% selama 2 menit, Bayclin 15%
selama 15 menit, dan Bayclin 5% selama 5 menit sambil dikocok, kemudian
dibilas menggunakan akuades steril. Eksplan yang telah disterilisasi lalu
dikupas dan dibelah menjadi dua bagian seperti pada metode sterilisasi 1.
Semua tahap tersebut dilakukan di dalam LAFC.
Hasil penelitian menunjukkan berdasarkan dosis dan waktu
perendaman eksplan, metode sterilisasi 1 lebih baik karena menghasilkan
kontaminasi yang rendah (8.33%), jika dibandingkan dengan metode
sterilisasi 2 yang menghasilkan kontaminasi tinggi (41.67%).

2.2 Inisiasi Tanaman Pisang


Inisiasi adalah tahap pengambilan eksplan dari tanaman induk yang akan
diperbanyak secara kultur jaringan. Sebelum melakukan inisiasi sebaiknya terlebih
dahulu melakukan sterilisasi. Umumnya bagian tanaman yang digunakan sebagai
eksplan adalah jaringan muda yang sedang tumbuh aktif karena jaringan tanaman
yang masih muda mempunyai daya regenerasi yang tinggi, sel-selnya masih aktif
membelah diri, dan relatif bersih (mengandung lebih sedikit kontaminan). Pemilihan
eksplan didasarkan oleh beberapa faktor, yaitu organ yang digunakan, waktu
pengambilan eksplan, ukuran eksplan, kualitas tanaman asal eksplan, dan, serta
kualitas fisiologi tanaman sumber eksplan. Sumber eksplan sebagai bahan tanam
harus jelas jenis dan varietasnya, serta harus sehat dan bebas dari hama penyakit.
Potongan daun, potongan akar, hipokotil, potongan batang berbuku, meristem, dan
6

lain-lain dapat digunakan sebagai sumber eksplan. Eksplan untuk inisiasi kultur
pisang eksplan yang digunakan berupa mata tunas aktif dan mata tunas yang berada
pada bonggol. Pada hasil penelitian Ernawati Andri (2005) inisiasi yang bersumber
dari eksplan jantung menghasilkan jumlah tunas lebih banyak daripada eksplan
anakan. Hal ini dikarenakan eksplan pisang yang berasal dari anakan sangat sulit
untuk disterilkan karena kontaminasi bakteri internal dari dalam tanah, sehingga
memerlukan jumlah eksplan yang sangat banyak, selain biaya untuk media dan
tenaga kerja yang juga sangat banyak. Sedangkan, eksplan pisang yang berasal dari
jantung relatif mudah disterilkan karena tidak terkena kontaminasi dari tanah
sehingga jumlah yang diperlukan lebih sedikit dan lebih efisien dari segi biaya. Selain
itu, sumber asal eksplan dari anakan adalah berupa mata tunas yang akan tumbuh
menjadi tanaman sempurna dalam waktu singkat, sehingga kecepatan multiplikasinya
rendah karena cenderung tumbuh membesar dan memanjang. Sumber eksplan
jantung, meristemnya tidak tumbuh menjadi tanaman baru, karena itu meristemnya
relatif lebih mudah diinduksi untuk memperbanyak diri atau bermultiplikasi sehingga
menjadi banyak sekali dibandingkan dengan anakan.
Masalah yang sering dihadapi pada kultur tahap ini adalah terjadinya
pencoklatan atau penghitaman bagian eksplan. Pada waktu jaringan terkena sters
mekanik, seperti perlukaan pada waktu proses isolasi eksplan dari tanaman induk atau
proses sterilisasi eksplan, metabolisme senyawa berfenol ini sering bersifat toksik,
menghambat pertumbuhan, atau bahkan mematikan jaringan eksplan. Untuk
mengatasi pencoklatan di bagian eksplan, pengondisian tanaman induk di lingkungan
yang bersih (sehat) pada tahap ini sangat membantu. Untuk mengatasi atau
mengurangi pencoklatan atau penghitaman jaringan pada eksplan yang ditanam,
George dan Sherrington (1984) menyarankan beberapa tindakan yang dapat
dilakukan, yaitu sebagai berikut:

a. mengurangi dan menyerap senyawa fenol yang dihasilkan dengan perlakuan


arang aktif atau PVP(polyvinylpyrrolidone)
7

b. memodifikasi potensial redoks dengan merendam atau menambahkan


antioksidan atau agen pereduksi ke dalam media. zat yang bisa digunakan di
antaranya campuran antara asam sitrat dan asam askorbat.
c. Menghambat aktivitas enzim fenolase dengan agen pengelat sepeeti EDTA
(ethylene diamine tetraacetic acid), DIECA (sodium diethyl dithiocarbamate),
8-HQ (8- hydroxyquinoline) dan phenylthiourea.
d. Mengurangi aktivitas fenolase dan ketersediaan substratnya dengan cara
perlakuan pH rendah dan inkubasi pada ruang gelap
e. menggunakan media tanpa Cu2+ dan Fe3+ pada tahap awal pengulturan
eksplan, karena kedua ion ini berperan awal dalam oksidasi fenol. Jika
pencoklatan sudah teratasi, eksplan dapat dipindahkan ke media normal yang
dilengkapi dengan kedua ion tadi.

2.3 Aklimatisasi
Aklimatisasi adalah pemindahan planlet atau tunas mikro dari dalam botol ke
lingkungan luar atau rumah kaca. Tahap ini merupakan tahap kritis karena kondisi
iklim dan hara tunas mikro lingkungan luar berbeda dengan kondisi di dalam botol.
Planlet harus menyesuaikan diri dari kondisi heterotrop menjadi autotrop. Keadaan
lingkungan aklimatisasi yang harus dihadapi planlet adalah kelembaban yang
berkurang, temperatur yang tinggi, intensitas cahaya yang lebih tinggi, perlu
mengadakan proses fotosintesis, suplai hara yang berkurang dan adanya serangan
hama dan penyakit. Temperatur aklimatisasi sebaiknya antara 25 – 280 C.
Temperatur 300C atau lebih dapat menyebabkan kematian planlet. Pengaturan
temperatur dapat dilakukan dengan penyiraman air secara berkala di atas sungkup
plastik sedangkan untuk intensitas cahaya yang diperlukan sekitar 40 – 50%.
Mencapai kondisi kelembapan, suhu dan cahaya tersebut dapat dilakukan dengan
beberapa cara. Cara paling sederhana adalah menggunakan pot atau polybag kecil
yang masing – masing ditutup dengan botol kultur atau plastik. Cara lain, planlet
ditanam dalam bak-bak plastik berisi media tumbuh, lalu disungkup plastik
transparan atau dikondisikan dalam suatu mish-bench yaitu meja dengan bagian
8

kondisi tertutup yang secara berkala disemprot air dengan butiran yang kecil.
Kelembapan sedikit demi sedikit dikurangi dengan cara membuka plastik penutup
secara bertahap. Selama aklimatisasi, kondisi planlet harus selalu diperhatikan. Jika
planlet mulai layu, bak atau pot harus disungkup lagi.

Terdapat beberapa macam media yang digunakan dalam aklimatisasi planlet


pisang diantaranya :

a. Campuran topsoil + pasir + kompos


Kompos adalah hasil penguraian parsial/tidak lengkap dari campuran bahan-
bahan organik yang dapat dipercepat secara artifisial oleh populasi berbagai
macam mikroba dalam kondisi lingkungan yang hangat, lembap, dan aerobik
atau anaerobik. Dekomposisi bahan organik akan menghasilkan humus yang
warnanya coklat tua sampai hitam yang mempunyai sifat dapat mengikat air
empat sampai enam kali beratnya sendiri sehingga dapat mempertinggi
kemampuan tanah memegang air. Terikatnya air oleh humus berarti
mengurangi air perkolasi sehingga pencucian unsur hara oleh air dapat
berkurang. Selain itu koloid yang bermuatan negatif dapat mengabsorbsi
kation sehingga dapat menekan pencucian unsur hara dalam tanah. Komponen
kompos yang paling berpengaruh terhadap sifat kimia tanah adalah kandungan
humusnya, humus akan menjadi asam humat yang dapat melarutkan zat besi
(Fe) dan aluminium (Al), senyawa fosfat akan lepas dan menjadi tersedia
yang dapat diserap tanaman. Maka dari itu kompos merupakan salah satu
bahan yang dapat dicampurkan kedalam media untuk aklimatisasi planlet
pisang. Kompos yang digunakan adalah kompos yang berasal dari seresah
daun. Kemudian campurkan tanah, pasir dan kompos dengan perbandingan 1 :
1 : 1 . Sebelum digunakan media tanam terlebih dahulu disteril dengan
menggunakan autoklaf selama 15 menit dalam temperature 1210 C. Kemudian
di masukkan ke dalam pot kecil / gelas air mineral bekas yang sudah
disediakan. Pada penelitian Enjelina Ewis (2013) campuran
topsoil+pasir+kompos memberikan pertambahan tinggi tanaman terbaik dan
9

jumlah daun terbanyak dibandingkan media dengan campuran bahan


topsoil+pasir+pupuk kandang.
b. Campuran kompos+tanah (3:1)
c. Arang sekam + pasir + kompos
Sekam adalah kulit biji padi (Oryza sativa) yang sudah digiling. Sekam padi
yang biasa digunakan bisa berupa sekam bakar atau sekam mentah (tidak
dibakar). Sekam bakar dan sekam mentah memiliki tingkat porositas yang
sama. Sebagai media tanam, keduanya berperan penting dalam perbaikan
struktur tanah sehingga sistem aerasi dan drainase di media tanam menjadi
lebih baik. Pasir sering digunakan sebagai media tanam alternatif untuk
menggantikan fungsi tanah. Sejauh ini, pasir dianggap memadai dan sesuai
jika digunakan sebagai media untuk penyemaian benih, pertumbuhan bibit
tanaman, dan perakaran setek batang tanaman. Pasir sifatnya yang cepat
kering akan memudahkan proses pengangkatan bibit tanaman yang dianggap
sudah cukup umur untuk dipindahkan
ke media lain. Sementara bobot pasir yang cukup berat akan mempermudah
tegaknya batang. Selain itu, keunggulan media tanam pasir adalah kemudahan
dalam penggunaan dan dapat meningkatkan sistem aerasi serta drainase media
tanam. Pasir memiliki pori-pori berukuran besar (pori-pori makro) maka pasir
menjadi mudah basah dan cepat kering oleh proses penguapan. Kohesi dan
konsistensi pasir sangat kecil sehingga mudah terkikis oleh air. Dengan
demikian media pasir lebih membutuhkan pengairan dan pemupukan yang
lebih intensif. Hal tersebut yang menyebabkan pasir jarang digunakan sebagai
media tanam secara tunggal. Pada hasil penelitian Ismaryati (2010),
keberhasilan aklimatisasi planlet pisang Tanduk dan pisang Ambon Kuning
pada media tanam campuran arang sekam, pasir malang dan kompos umur 4
minggu dan 12 minggu setelah ditanam dengan menggunakan media tanah
(top soil) yang dicampur dengan media bahan organik juga sangat tinggi yaitu
100 %.
10

Tahapan tahapan dalam aklimatisasi planlet :


1. Persiapakan media yang akan digunakan dengan mempertimbangkan
kandungan nutrisi, porositas media, dan hal lainnya. Sebelumnya lakukan
sterilisasi media aklimatisai dalam autoklaf dengan temperature 1210C.
Media tanam yang berasal dari kompos ini terlebih dahulu disterilisasi
untuk menghilangkan infeksi bakteri atau jamur Menurut Boxus (1987)
dalam George (1996),mengatakan bahwa pada campuran media tanam
yang digunakan harus steril karena infeksi jamur sering ditemukan
tumbuh diatas permukaan media tanam.
2. Planlet kultur jaringan pisang dikeluarkan dari dalam botol secara hati-hati
sehingga tidak menyebabkan kerusakan bagian tanaman terutama akar,
dengan menggunakan pinset panjang. Agar-agar yang menempel pada
bagian akar dibersihkan dengan air mengalir.
3. Biasanya planlet direndam terlebih dahulu pada sebuah larutan, misalnya
dengan dithane M-45 konsentrasi 5 g/l selama 20 menit. Selanjutnya
dikeringanginkan di atas selembar koran.
4. Tanam planlet dalam media tanam yang telah dipersiapkan. Satu pot berisi
satu tanaman. Kemudian disungkup dengan menggunakan plastik
transparan dan diikat dengan tali rapia.
BAB 3 PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Metode kultur jaringan dari tanaman pisang dilakukan setiap kultivar pisang
memiliki respons yang berbeda dengan kultivar lainnya sehingga untuk menentukan
metode kultur yang tepat masih merupakan tantangan yang besar. Hasil penelitian
menunjukkan berdasarkan dosis dan waktu perendaman eksplan, metode sterilisasi 1
lebih baik. Pemilihan eksplan didasarkan oleh beberapa faktor, yaitu organ yang
digunakan, waktu pengambilan eksplan, ukuran eksplan, kualitas tanaman asal
eksplan, dan, serta kualitas fisiologi tanaman sumber eksplan. Ada 3 macam media
yang digunakan dalam aklimatisasi planlet pisang dan ada 4 tahap dalam aklimatisasi
planlet pisang.

11
DAFTAR PUSTAKA

Ernawati Andri.2005. Perbanyakan Tunas Mikro Pisang Rajabul (Musa AAB Group)
dengan Eksplan Anakan dan Jantung. Staf Pengajar Departemen Budidaya
Pertanian Fakultas

Pertanian IPB. Bul. Agron. (33) (2) 31 – 38

Ewis.2013. Aklimatisasi Planlet Pisang (Musa Paradisiaca L.)Dengan Media Tanam


Yang Sesuai.Karya Ilmiah. Program Studi Budidaya Tanaman Perkebunan
jurusan Manajemen Pertanian politeknik Pertanian Negeri Samarinda.

George, F. P. dan Sherrington P. D. 1984. Plant Propagation by Tissue Culture.


Eversley: Hand Book and Directory of Commercial Laboratories Exigetic
Limited.

Ismaryati, T. 2010. Studi Multiplikasi Tunas, Pengakaran dan Aklimatisasi pada


Perbanyakan in vitro Tanaman Pisang Raja Bulu, Tanduk, dan Ambon
Kuning. Tesis Pascasarjana.

Magister Agronomi. Universitas Lampung.

Khaerunnisa Eva.2014. Multiplikasi In Vitro Tanaman Pisang Kepok Merah (Musa


Paradisiaca Cv. Kepok Merah). Departemen Biologi Fakultas Matematika
Dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Pertanian Bogor : Bogor.

12