Anda di halaman 1dari 6

Studi Kasus - Leadership

Pengembangan Diri – Studi Kasus Followership dan Leadership

Modal dasar untuk berhasil tentu sangat penting, misalnya tingkat kecerdasan atau

pendidikan formal maupun non formal yang pernah diikuti. Namun demikian ada tahap

berikutnya yang sangat menentukan keberhasilan seseorang yaitu kemauan dan

kesempatan untuk mengembangkan diri.

Jangan abaikan perkembangan bidang keahlian Anda

Contoh Kasus 1

Roy Sasongko adalah seorang ahli teknologi chip processor yang masih berusia belia,

penuh bakat, punya intelektualitas memadai dan bermasa depan cerah. Roy bekerja

pada perusahaan yang bernama PT. Fast Manufacturing Processor, suatu perusahaan

multinasional berbasis IT yang cukup disegani. Sebagai lulusan dari sebuah institut

teknologi terkemuka , Roy masuk ke perusahaan dengan langsung mendapatkan

promosi dan posisi yang cukup tinggi, mengingat IPnya yang mencapai 3,25. Namun

dalam 6 tahun berikutnya, ia memutuskan meninggalkan perusahaan dengan kondisi

yang mengecewakan. Apakah yang terjadi sebenarnya?

Setiap hari bekerja, Roy melakukan kegiatan di ruang lingkup pekerjaannya dengan

cukup baik. Awal mulanya pengetahuannya yang didapat di bangku kuliah dan hasil

observasi yang cukup mendalam pada waktu magang di perusahaan lain sangat

bermanfaat. Rutinitas pekerjaan tiap-tiap hari dijalaninya. Namun sayangnya, Roy

sangat terpaku pada pekerjaan yang dilakukannya dan mengabaikan penambahan


pengetahuan dan informasi. Ia berencana berlangganan majalah IT sesuai bidang

keahliannya, edisi awal ia baca dan pelajari dengan baik, namun edisi-edisi berikutnya

hanya menumpuk sebagai pajangan saja hingga akhirnya ia memutuskan berhenti

berlangganan majalah tersebut.

Sempat terpikir juga untuk mengambil kuliah pasca sarjana, namun angan-angan

tersebut hanya menjadi impian saja karena sehabis bekerja, Roy segera pulang ke

rumahnya, mengendarai mobil yang membutuhkan waktu 1 jam 30 menit perjalanan, ia

terlalu lelah dan menghabiskan waktunya dengan menonton televisi selama beberapa

jam, bersandar di kursi empuk kesayangannya sebelum tidur.

Rencana untuk mengambil kursus tambahan, hanya sampai di keinginan saja.Suatu

ketika perusahaan bermaksud mengirimkan Roy mengikuti program magister keluar

negri selama 1 tahun penuh, dengan biaya kantor agar ia dapat memperdalam ilmu

chip prosesornya. Namun setelah mempertimbangkan banyak hal: keluarganya,

kejemuan bersekolah, kehilangan teman, ia meminta agar hal tersebut ditunda dahulu.

Pernah perusahaan bermaksud mengirimkannya ke training bagi para manager secara

intensif selama 3 minggu full yang diselenggarakan lembaga V Consulting, lembaga

pengembangan diri terkemuka – di luar kota, lagi-lagi Roy menolaknya, mengingat pada

waktu itu adalah masa liburan sekolah anaknya dan istrinya sedang hamil, sehingga

kehadirannya sangat dibutuhkan

Roy juga kurang membangun jaringan dengan para ahli di bidangnya, kehidupannya

bekisar antara pekerjaan dan keluarga. Ada beberapa temannya yang mengajaknya

untuk bergabung dalam Himpunan Profesional Insinyur ICT Indonesia, yang senantiasa
mengadakan pertemuan rutin seminggu sekali untuk membahas kemajuan serta

perkembangan terbaru ilmu pengetahuan IT maupun profesi mereka. Dalam prakteknya

keanggotaannya adalah keanggotaan tidak aktif, karena ia lebih suka menghabiskan

waktu berjalan-jalan, bermain game komputer dan menonton televisi di rumahnya.

Dapat dikatakan bahwa Roy praktis tidak pernah lagi menambah pengetahuan apapun,

kecuali ilmu yang diperolehnya di bangku kuliah dan pekerjaan rutin yang dilakukannya.

Pihak perusahaan pun mulai menyadari hal ini dan melihat bahwa kontribusi Roy ke

perusahaan tidak kunjung mengalami peningkatan berarti. Kesempatan

mengembangkan diri juga senantiasa ditolaknya.

Tahun-tahun berikutnya Roy merasakan bahwa perusahaan bertindak kurang adil

kepadanya karena dalam proses penilaian ia selalu gagal dipromosikan, ia merasa

kecewa dan frustasi mengingat ia merupakan seorang lulusan universtias terkemuka

dengan Indeks Prestasi yang cukup tinggi. Ia menganggap bahwa pekerjaan yang

dilakukannya sudah cukup baik. Akhirnya ia memutuskan untuk keluar.

Contoh Kasus 2

Sementara itu, Elok Hestiningrum, masuk ke sebuah Bank Swasta nasional terkemuka

dari level “clerk”, ia hanya seorang dengan kemampuan biasa, IPnya hanya 2,6 dari

skala 4 dari sebuah universitas swasta baru dan berlokasi agak di pinggir kota Jakarta.

Ia melamar sebagai Teller dan harus membagi waktu antara kuliah dan memberikan les

privat kepada murid SMA untuk membiayai kuliahnya. Bagaimana masa depannya?
Seperti kebanyakan orang dengan kemampuan tidak istimewa, orang-orang melihat

masa depan Elok biasa-biasa saja.

Pekerjaannya dilakukan dengan tekun dan perhatian, bukan hanya hal teknis namun

juga hubungan dengan customer ia tekuni. Di sela-sela kesibukan bekerja ia mengambil

kursus mengenai operasional perbankan dan ilmu service mengenai cara melayani

pelanggan. Jarah tempuh dari rumah ke kantor yang memakan waktu 4 jam tiap-tiap

hari, ia manfaatkan waktu di bus dengan membaca buku-buku yang memperdalam

pengetahuannya. Setahun menjabat sebagai Teller, mengingat kecakapannya dalam

bersosialisasi ia dipindahkan ke bagian Customer Service. Ia melakukan tugasnya

dengan prima dan berpengaruh kepada hasil yang dicapai oleh cabang tersebut.

Selang 4 tahun bekerja Elok dipromosikan untuk menduduki kepala cabang yang

bertanggung jawab atas operasional, marketing dan kredit. Elok cukup mengetahui

dasar-dasar marketing, namun mengenai kredit ia masih buta. Ia segera mengambil training

tentang kredit serta menambah pengetahuannya di bidang pemasaran. Tidak lupa ia juga

menjalin relasi dengan rekan-rekan kuliahnya dan kolega-kolega di bidang marketing, kredit

maupun operasional.

Suatu ketika perusahaan menwarkan Elok untuk mengikuti training Leadership selama 2

minggu penuh di luar kota. Kesempatan tersebut tidak disia-siakan. Saat rekan-rekannya

mengangap training ini sebagai refreshing, ia menganggap sebagai kesempatan untuk

mendapatkan hal-hal baru untuk dipraktekkan dalam pekerjaan sehari-hari. Prinsip-prinsip

leadership yang didapat waktu training ia jalankan pada saat kembali ke pekerjaannya

dengan konsisten dan disiplin.


Pada tahun ke 5 di Bank tersebut, Elok telah berkemban pesat, menguasai pekerjaan,

mempunyai kemampuan operasional dan marketing yang mencukupi, serta memiliki

kemampuan memimpin yang cukup menonjol dan jaringan yang cukup luas.Akhirnya ia

ditarik ke kantor wilayah dan dipromosikan kembali pada tahun ke 6 untuk menjadi

pemimpin wilayah Jakarta Selatan.

Pengembangan dirinya tidak berhenti sampai disitu, Elok menyempatkan diri untuk

mengambil kuliah pasca sarjana pada tahun ke 7 dengan biaya sendiri. Keinginannya yang

kuat untuk terus berkembang, ketekunannya dalam melakukan pekerjaan, membuat

wawasannya juga semakin luas, tidak heran pada tahun ke 10 ia diangkat menjadi Kepala

Divisi Retail Business di Bank tersebut. Sampai dengan saat ini, Elok masih tetap aktif

belajar, mengisi waktu luangnya dengan hal-hal yang berguna sambil menikmati

pekerjaannya.

Pertanyaan

1. Menurut anda, apa yang terjadi pada kasus 1? Apa yang terjadi pada kasus 2?

2. Apa yang anda dapatkan setelah membaca tulisan diatas?

3. Apa yang dimaksud dengan „mengembangkan diri‟?

4. Menurut anda, mengapa setiap orang seyogyanya memiliki keinginan dan

kewajiban untuk mengembangkan diri?

5. Bagaimana dengan anda? Apakah anda sudah mengembangkan diri secara

maksimal? Jika sudah, apa yang sudah anda lakukan? Jika belum, mengapa?

6. Menurut anda, apa yang akan didapatkan oleh seseorang yang memiliki keinginan

dan kemauan untuk mengembangkan diri secara maksimal?


Jawaban :

1. Pada kasus pertama, Roy tidak mau mengembangkan diri dalam hal

apapun. Roy hanya focus pada pekerjaannya saja tanpa peduli dengan hal

baru yang bisa dia dapatkan di lingkungan Perusahaan tempatnya bekerja.

Padahal Roy adalah orang yang pintar.

Pada kasus kedua, Elok tipikal orang yang mau mengembangkan diri dalam

berbagai hal. Elok mau mengembangkan diri dengan mempelajari semua

yang terkait dengan pekerjaannya dan perusahaan tempatnya bekerja.

2. Yang didapat setelah membaca tulisan diatas adalah pengembangan diri,

dimana seseorang yang mau berkembang, pasti mau belajar dan mengenal

hal – hal baru, tanpa harus terikat pada satu bidang saja.

3. Mengembangkan diri adalah proses pembentukan dan perwujudan dari yang

kebiasaannya jelek menjadi kebiasaan yang lebih baik, dimana proses yang

dilakukan mewujudkan dirinya menjadi yang terbaik berdasarkan potensi

kemampuan di semua bidang sehingga berdampak manfaat buat banyak

orang.

4. Karena dengan kita mengembangkan diri, kita akan menjadi orang tahu akan

segala hal yang tidak pernah kita pelajari.

5. Sudah. Yang sudah saya lakukan adalah mengenal lebih dalam mengenai

divisi collection dan operation.

6. Pengetahuan