Anda di halaman 1dari 17

Judul PPT: ISP-PNEUMONIA

Dosen : Pinasti Utami, M.Sc., Apt.

Hari/Tanggal: Kamis/31 Oktober 2019

Editor : Melany Ayu Octavia

ANATOMI SALURAN PERNAPASAN

Infeksi saluran pernafasan dibagi dua yaitu:

1. Infeksi saluran pernafasan atas


2. Infeksi saluran pernafasan bawah/akut

Nah untuk lokasi infeksinya , infeksi saluran atas dimulai dari hidung hingga faring
sedangkan saluran bawah/akut mulai dari hidung hingga alveoli.

Karena Lidah dan Hidung berisi mukosa maka penyebab infeksi/kuman mudah masuk.
Hidung dan Mulut merupakan organ yang terpapar pertama dengan udara luar

Otitis Media:

 Organ telinga yang mengalami sakit otitis media lokasinya di Tuba Eustachia.
 ciri-cirinya keluar kotoran telinga dengan sendirinya, berwarna kuning dan
teksturnya cair, bau tidak sedap.
 Cairan kuning yang keluar disebabka oleh virus.
 Otitis media selain rajin dibersihkan, pengobatannya menggunakan antibiotik
golongan penisilin+amoksisilin/asam flavulamat.
 Antibiotik tunggal lebih disarankan untuk pengobatan otitis media
 Selain itu bisa dengan prednisolon 2x25 mg selama 7 hari
 Dekongestan dan antikortikosteroid tidak disarankan
 Jika penyebabnya alergi maka boleh menggunakan dekongestan+antihistamin
 Penggunaan dekongestan tidak boleh lebih dari 5 hari

Polip: merupakan tumor kecil penyababnya virus. Pengobatannya dengan antibiotik


10-14 hari, jika tidak sembuh diberi antibiotik lagi selama 10-14 hari. Jika selama
sebulan tidak ada perubahan maka dilakukan operasi.

Faringitis: akan sembuh sendiri. Tapi jika akan dilakukan pengobatan, maka
menggunakan antibiotik.

ISPA menggunakan: sefalosporin, antibiotik generasi 1, 2,3 , Cefixim, Antibiotik


kombinasi

PENYEBAB KEMATIAN BALITA (SURVEI MORTALITAS 2005)

Data SEAMIC Health Statistic:

 2001 influenza dan pneumonia merupakan penyebab kematian nomor 6 di


Indonesia, nomor 9 di Brunei, nomor 7 di Malaysia, nomor 3 di Singapura,
nomor 6 di Thailand dan nomor 3 di Vietnam.
MEKANISME PERTAHANAN TUBUH

1. Mekanisme pembersihan di saluran nafas penghantar (nasofaring&orofaringsilia ,


mukus) reflek batuk dan bersin

2. Mekanisme pembersihan di “Respiratory exchange airway” (cairan yang melapisi


alveolar trmsk surfaktan dan igA)

3. Mekanisme pembersihan di saluran udara subglotik (penutupan dan refleks batuk)

4. Mekanisme pembersihan di “Respiratory gas exchange airway” (alveoli dan


bronkiolus)

BRONKITIS

 Batuk selama 6 hari


 Penyebab nya virus. Jika lebih dari 6 hari maka penyebabnya bakteri
staphylococcus pneumoni/ H. Influenza
 Perlu antibiotik 10-14 hari. Antibiotiknya adalah sefalosporin dan amoksisilin
 Jika tidak sembuh juga, maka penyebabnya mikrobakterium pneumoni
 Terapinya dengan azitro, ciprofloxasin. Klorokuinolon

DEFINISI PNEUMONIA

Suatu peradangan paru yang disebabkan oleh

 mikroorganisme (bakteri, virus, jamur, parasit). Mycobacterium tuberculosis tidak


termasuk. Sedangkan peradangan paru yang disebabkan oleh nonmikroorganisme
(bahan kimia, radiasi, aspirasi bahan toksik, obat-obatan dan lain-lain) disebut
pneumonitis.

 Infeksi akut yang mengenai jaringan paru-paru (alveoli).


TIPE PNEUMONIA

1. Community acquired pneumonia (CAP) + (penisilin) & atipical


(makrolida&tetrasiklin)

2. Hospital acquired pneumonia (HAP) - (sefalosporin generasi 3, aminoglikosida,


&quinolon

3. Aspiration pneuomonia an aerob (metronidazol)

4. Pneuomonia in immunocomprised patient

5. Reccurent pneumonia

PATOGENESIS

* Ketdakseimbangan daya tahan tubuh

* Resiko infeksi tergnt kemampuan bakteri merusak permukaan epitel sal nafas

* Rute infeksi:

 1. Inokulasi langsung

 2. Penyebaran melalui pembuluh darah

 3. Inhalasi bahan aerosol

 4. Kolonisasi dipermukaan mukosa

PATOLOGI

 Basil yang masuk bersama sekret bronkus alveoli reaksi radang berupa edema
seluruh alveoli  fagositosis sebelum terbentuknya antibodi.

 Sel-sel PMN mendesak bakteri ke permukaan alveoli dan dengan bantuan leukosit
yang lain melalui psedopodosis sitoplasmik mengelilingi bakteri tersebut kemudian
dimakan.

 Pada waktu terjadi peperangan antara host dan bakteri maka akan tampak 4 zona
pada daerah parasitik terset yaitu :
1. Zona luar : alveoli yang tersisi dengan bakteri dan cairan edema.

2. Zona permulaan konsolidasi : terdiri dari PMN dan beberapa eksudasi sel darah merah.

3. Zona konsolidasi yang luas : daerah tempat terjadi fagositosis yang aktif dengan jumlah
PMN yang banyak.

4. Zona resolusiE : daerah tempat terjadi resolusi dengan banyak bakteri yang mati,
leukosit dan alveolar makrofag.

FAKTOR RESIKO

CAP (Community) Misalnya dari panti Jompo

 Usia tua atau anak-anak

 Merokok

 Adanya penyakit paru yang menyertai ISP disebabkan karena virus

 Lingkungan

 Obat yang digunakan Golongan Makrolida, doksisiklin, klorokuinolon

 Golongan makrolida nya yaitu

 Eritromizin  4x sehari tidak boleh lebih dari 5 hari


 Azitromizin 1x sehari tidak boleh lebih dari 5 hari
 Klaritomizin 2x sehari penggunaannya 10-14 hari

HAP (Hospitality Dari peralatan2 atau lingkungan RS

 Pasien dengan ventilatory support di ICU

 Post Operasi terutama thoraco-abdominal

 Obstruksi bronkial

 Mendapat obat immonusupressive

Selain CAP dan HAP ada beberapa factor resiko nya yaitu:

Pneumoni Aspirasi penyebabnya bakteri anaerob (antibiotik nya khusus)


Immunokompressor  akibat penggunaan kortikosteroid

Kekambuhan Pneumoni (Reccurrent Pneumoni)

TANDA DAN GEJALA

Resiko Penyebab Pneumonia

 Merokok, Kontak dengan penderita, gizi kurang,tidak imunisasi, dan lingkungan tidak
sehat

Gejala

 Batuk, Demam, Nyeri dada, dan nafas pendek

Pemeriksaan

 Sputum
 X-ray
KOMPLIKASI

 Efusi pleura.  penumpkan cairan dalam paru-paru sehingga paru-paru tdk


berkembang

 Butuh toratosintesis (pengambilan cairan dalam dada)

 Empisema.

 Abses Paru.

 Pneumotoraks.

 Gagal napas.

 Sepsis
DIAGNOSIS

 Radiografi

 Pemeriksaan mikroskopis

 Biakan sputum

 Biakan cairan pleura

 Tes serologi

ANTIBIOTIK

Penisilin sensitif Streptococcus pneumonia (PSSP)

 Golongan Penisilin

 TMP-SMZ

 Makrolid

Penisilin resisten Streptococcus pneumoniae (PRSP)

 Betalaktam oral dosis tinggi (untuk rawat jalan)

 Sefotaksim, Seftriakson dosis tinggi

 Marolid baru dosis tinggi

 Fluorokuinolon respirasi

Pseudomonas aeruginosa

 Aminoglikosid

 Seftazidim, Sefoperason, Sefepim

 Tikarsilin, Piperasilin

 Karbapenem : Meropenem, Imipenem


 Siprofloksasin, Levofloksasin

Methicillin resistent Staphylococcus aureus (MRSA)

 Vankomisin

 Teikoplanin

 Linezolid

Hemophilus influenzae

 TMP-SMZ

 Azitromisin

 Sefalosporin gen. 2 atau 3

 Fluorokuinolon respirasi

Legionella

 Makrolid

 Fluorokuinolon

 Rifampisin

Mycoplasma pneumoniae

 Doksisiklin

 Makrolid

 Fluorokuinolon

Chlamydia pneumoniae

 Doksisikin

 Makrolid

 Fluorokuinolon
PENATALAKSANAAN

a. Pemberian oksigen

b. Bronkodilator

c. Fisioterapi dada

d. Nutrisi yang baik dan cukup

e. Hidrasi

f. Antipiretik

g. Terapi empiris dgn antibiotic

Bertujuan agar

a. Mencegah kematian

b. Eradikasi bakteri

c. Sembuh paripurna

REGIMEN DOSIS TERAPI PNEUMONIA

GOLONGAN ANTIBIOTIK PEDIATRIK DEWASA


(MG/KG/HARI) (DOSIS/HARI)
MAKROLIDA Eritromisin 30-50 1-2 g
Claritomisin 15 0,5-1 g
azitromisin 10mg(1hari) 500mg
5mg(4hari) 250 mg
TETRASIKLIN Tetrasiklin 25-50 1-2 g
Oxytetrasiklin 15-25 0.25-0.3 g

AMINOGLIKOSIDA Gentamisin 7,5 3-6 mg/kg


tobramisin 7.5 3-6 mg/kg
PENISILIN Ampisilin 100-200 2-6 g
Amox-clavunalat 40-90 0.75-1 g
Ampi-sulbactam 100-200 4-8 g
Piperacilin- 200-300 12 g
tazobactam

SEFALOSPORIN Ceftriaxone 50-75 1-2 g


Ceftaidime 150 2-6 g
Cefepime 100-150 2-4 g

FUROQUINOLON Gatifloxacin 10-20 0.4 g


Levoflokasasin 10-15 0.5-0.75 g
ciprofloksasin 20-30 0.5-1.5 g

PENILAIAN DERAJAT KEPARAHAN PENYAKIT


PRESENTASE BAKTERI PENYEBAB CAP

 Klebsiella pneumoniae 45,18%

 Streptococcus pneumoniae 14,04%

 Streptococcus viridans 9,21%

 Staphylococcus aureus 9%

 Pseudomonas aeruginosa 8,56%

 Steptococcus hemolyticus 7,89%

 Enterobacter 5,26%

 Pseudomonas spp 0,9%


ALUR TATA LAKSANA CAP
HAP

Pasien Non ICU

 Pilihan 1  sefalosporin gen 3

 Pilihan 2  gentamisin+sefuroksim

 Pilihan 3  4-quinolon + eritromisin

 Aspiration  + metronidazole
Pasien ICU

 Pilihan 1  sefalosporin gen 3 +gentamisin

 Pilihan 2  4-quinolon +carbapenem

 Aspiration +metronidazol

BAKTERI PENYEBAB HAP

 Staphy. Aureus

 Klebsiella

 E-coli

 Proteus

 Pseudomonas

 Legioella Sp

 Strep. pneumonia

EMPIRIS

Jadi, jika belum melakukan tes untuk mengetahui bakteri apa yang menjangkit maka
bisa dilakukan dg empiris yaitu dengan melihat gejala pada si pasien
MONITORING  KAPAN DIKATAKAN STABIL

 Sputum

 Sinar x dada

 Leukosit
 Serologi

 Gas darah

 Suhu tiap 4 jam

 RR < 30 dan HR

 Tekanan darah

Dalam sinusitis antihistamin tidak diperbolehkan karena menyebabkan mukosa menjadi


kental dan tersumbat.

Imunosupressan  menurunkan imunitas tubuh sehingga menginkubasi penyakit didalam


tubuh

Pneumoni pada anak2 bisa karena kurangnya asupan ASI.