Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pembelajaran tematik bukanlah pembelajaran yang baru dikenal dalam dunia pendidikan
di Indonesia. Seperti kita ketaui bahwa pembelajaran tematik di Indonesia sudah mulai
diberlakukan pada kurikulum 2006, yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP),
meskipun penerapannya belum maksimal sesuai dengan tujuan pendidikan yang ingin sicapai
sehingga selalu dilakukan revisi terhadap komponen- komponen pembelajaran dan pihak-
pihak yang menjalankan program pendidikan. Pada kurikulum 2006, pembelajaran tematik
hanya diberlakukan pada kelas rendah yaitu kelas satu, dua dan tiga pada jenjang Sekolah
Dasar (SD), berbeda dengan kurikulum 2013 yang memberlakukan pembelajaran tematik dari
kelas rendah hingga kelas tinggi, yakni kelas satu sampai kelas enam SD, meskipun di kelas
tiga dan kelas enam pembelajaran tematik belum sepenuhnya diterapkan.
Pembelajaran tematik yang meaningful dan joyfull dapat diwujudkan dengan mengaitkan
materi pembelajaran dengan dunia terdekat siswa atau biasa dikenal dengan contextual
teaching and learning. Untuk mengkontekstualkan pembelajaran tematik bisa dilakukan
melalui penanaman nilai- nilai kearifan lokal dimana siswa berada. Hal ini bermanfaat untuk
mempertahankan dan melestarikan kebudayaan lokal sekaligus membantu siswa menghadapi
tantangan yang semakin berkembang. Diharapkan pendidikan dapat mencapai pembelajaran
bermakna dengan berprinsip pada think globally, act locally.

B. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari Critical Book Report adalah :

1. Mengulas isi sebuah buku.


2. Mencari dan mengetahui informasi yang ada dalam buku.
3. Melatih diri untuk berfikir kritis dalam mencari sebuah informasi yang dipaparkan di
setiap bab.
4. Mengkritisi satu topik di dalam isi buku.
C. Manfaat
1. Untuk menambah wawasan mengenai pembelajaran tematik.
2. Memahami materi pembelajaran tematik lebih mendalam.

BAB II

1
IDENTITAS BUKU DAN RINGKASAN SETIAP BAB

A. IDENTITAS BUKU

Buku Utama

Judul Buku : Pembelajaran Tematik

No. ISBN : 978-979-769-741-9

Pengarang : Dr. H. Abd. Kadir

Penerbit : PT RAJAGRAFINDO PERSADA

Tahun Terbit : 2014

Edisi :1

Tebal Buku : 210 halaman

Bahasa Teks : Bahasa Indonesia

Buku ini ditulis oleh, Dr. H. Abd. Kadir selaku penulis serta Editor nya yaitu Nita Nur
Muliawati; kemudian yang menjadi Desainer Sampul yaitu Toto Rianto; dan Layout nya yaitu
Roni Sukma Wijaya yang berjudul Pembelajaran Tematik Terpadu. Buku ini diterbitkan oleh,
PT RAJAGRAFINDO PERSADA edisi pertama 2014, buku ini memiliki tebal 210 halaman
dengan warna sampul putih campur kebiruan. Buku ini terdiri atas 10 BAB, masing – masing
tiap bab membahas hal yang berbeda.

2
Adapun isi–isi dari tiap bab buku ini ialah:

BAB I membahas Konsep Dasar Pembelajaran Tematik

BAB II membahas Landasan Pembelajaran Tematik

BAB III membahas Model Pembelajaran Tematik

BAB IV membahas Pemetaan Tema

BAB V membahas Jaringan Tema

BAB VI membahas Rancangan Strategi Pembelajaran Tematik

BAB VII membahas Silabus dalam Pembelajaran Tematik

BAB VIII membahas Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Tematik

BAB IX membahas Jadwal Pembelajaran Tematik

BAB X membahas Pratikum Pembelajaran Tematik Indoor dan Outdoor

B. RINGKASAN SETIAP BAB

BAB I KONSEP DASAR PEMBELAJARAN TEMATIK

3
A. Pendahuluan
Pembelajaran tematik adalah program pembelajaran yang berangkat dari satu tema
atau topic tertentu kemudian dielaborasi dari berbagai aspek atau ditinjau dari berbagai
perspektif mata pelajaran yang biasa diajarkan di sekolah. Pada dasarnya pembelajaran
tematik diimplementasikan pada kelas awal (kelas 1 sampai dengan 3) sekolah dasar.
Implementasi yang demikian mengacu pada pertimbangan bahwa pembelajaran tematik
lebih sesuai dengan perkembangan fisik dan psikis anak.

B. Standar Kompetensi
Mahasiswa dan mahasiswi mampu memahami, merancang, dan melaksanakan
pembelajaran tematik.

C. Kompetensi Dasar
Memahami pembelajaran tematik
D. Indikator
Mahasiswa mampu:
1. Menjelaskan pengertian pembelajaran tematik
2. Menjelaskan tujuan pembelajaran tematik
3. Menjelaskan latar belakang dan kurikulum pembelajaran tematik
4. Menjelaskan ruang lingkup pembelajaran tematik
E. Waktu
2 x 50 = 100 menit

BAB II Landasan Pembelajaran Tematik

A. Pendahuluan
Pembelajaran tematik pada dasarnya berangkat dari satu pemikiran filosofis tertentu,
seperti filsafat pragmatism yang melahirkan filsafat pendidikan progresivisme dan
kontruksivisme. Berdasarkan pemikiran yang mendalam tentang pendidikan maka
lahirloah ilmu pendidikan yang mengakomodasi berbagai teori-teori tentang pendidikan.
1. Pengantar
Pembelajaran tematik berangkat dari pemikiran filosofis tertentu yang menekankan
pada pembentukan kreativitas anak didik dengan pemberian aktivitas yang didapat
dari pengalaman langsung melalui lingkungannya yang natural.
2. Landasan Filosofis
Pembelajaran tematik berdasarkan pada filsafat pendidikan progresivisme bersandar
pada filsafat naturalism, realism dan pragmatism. Di samping itu, pembelajaran
tematik bersandar juga pada filsafat pendidikan kontruksivisme.
Pengetahuan anak didik adalah kumpulann kesan-kesan dan informasi yang
terhimpun dalam pengalaman empiri yang particular dan seharusnya siap untuk
digunakan.

4
3. Landasan Psikologis
Secara teoritik maupun praktik pembelajan tematik berlandaskan pada psikologi
perkembangan dan psikologi bealajar. Psikologi perkembangan diperlukan terutama
dalam menentukan isi materi pembelajaran tematik yang diberikan kepada anak didik
agar tingkat keluasan dan kedalamannya sesuai dengan tahap perkembangan peserta
didik.
4. Landasan Yuridis
Dalam implementasi pembelajaran tematik diperlukan paying hokum sebagai
landasan yuridisnya.
Dalam pembelajaran tematik berkaitan dengan berbagai kebijakan atau peraturan
yang mendukung pelaksanaan pembelajaran tematik di sekolah dasar.
5. Karakteristiak pembelajaran tematik
a. Anak didik sebagai pusat pembelajaran
b. Memberikan pengalaman langsung
c. Menghilangkan batas pemisahan antar mata pelajaran
d. Fleksibel
e. Hasil pembelajaran sesuai dengan minat dan kebutuhan anak didik
f. Menggunakan prinsip PAKEM
g. Holistik
h. Bermakna
6. Rambu-rambu Pembelajaran Tematik
a. Pembelajaran tematik berdasarkan pada satu tema tertentu. Ketika seorang akan
merancang pembelajaran tematik maka ia akan menentukan tema tertentu, seperti
tema tentang lingkungan anak didik.
b. Sehubungan dengan pembelajaran tematik berangkat dari satu tema dengan
pandangan dari berbagai perspektif, maka dimungkinkan terjadi penggabungan
kompetensi dasar dari berbagai kompetensi yang ada dalam silabus baik dari segi
konten.
c. Pencapaian kompetensi dasar dalam suatu pembelajaran tematik tidak harus
dicapai semuanya.
d. Pembelajaran tematik yang biasanya dilaksanakan pada kelas awal.
e. Sesuai dengan prinsip pembelajaran tematik yang menekankan pada pengalaman.
f. Judul maupun jumlah tema yang dipilih atau yang ditentukan oleh masing-masing
sekolah.
g. Kemampuan guru untuk melaksanakan pembelajaran tematik kadang-kadang
sangat terbatas.
h. Diusahakan agar anak didik mengalami sendiri proses pembelajaran dengan
metode eksperimen.
7. Keunggulan pembelajaran tematik
a. Dapat mengurangi overlapping antara berbagai mata pelajaran
b. Menghemat pelaksanaan pembelajaran terutama dari segi waktu
c. Anak didik mampu melihat hubungan-hubungan yang bermakna
d. Pembelajaran menjadi holistic dan menyeluruh akumulasi pengetahuan

5
e. Keterkaitan antara satu mata pelajaran dengan lainnya
8. Kelemahan pembelajaran tematik
a. Pembelajaran menjadi lebih kompleks dan menuntut guru untuk mempersiapkan
diri
b. Persiapan yang harus dilakukan oleh guru lebih lama
c. Menuntut penyediaan alat
9. Implikasi pembelajaran tematik
a. Implikasi guru
1. Tidak seperti pembelajaran biasa, pembelajaran tematik memerlukan
kecekatan guru pengampu kelas untuk melakukan perencana

b. Implikasi bagi siswa

1. Siswa harus siap mengikuti kegiatan pembelajaran yang dalam pelaksanaannya


dimungkinkan untuk bekerja baik secara individual, pasangan, kelompok kecil ataupun
klasikal.

2. Siswa harus siap mengikuti kegiatan pembelajaran yang bervariasi misalnya


melakukan diskusi kelompok, mengadakan penelitian sederhana, dan pemecahan masalah

C. Implikasi terhadap buku ajar

1. Penerapan pembelajaran tematik di sekolah dasar masih dapat menggunakan buku


ajar yang sudah ada saat ini untuk masing-masing mata pelajaran.

2. Dimungkinkan pula untuk menggunakan buku suplemen khusus yang memuat bahan
ajar yang terintegrasi

BAB III Model Pembelajaran Tematik

1. DEFINISI PEMBELAJARAN TEMATIK

“Pembelajaran berbasis kurikulum tematik (pendekatan tematik) adalah pembelajaran terpadu yang
menggunakan tema untuk mengaitkan (mengintegrasikan dan memadukan) beberapa mata pelajaran
sehingga melahirkan pengalaman yang sangat berharga bagi para peserta didik

Pembelajaran tematik menuntut penggunaan pancaindra, melakukan tindakan nyata, dan observasi
faktual dari peserta didik. Hal ini juga memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk bertanya
seputar pelajaran yang telah disampaikan. Penerapan pembelajaran tematik ini mengangkat sisi

6
penasaran dan intelektualitas peserta didik dengan mendorong nalar, bereksperimen, dan
mengkomunikasikan kepada orang lain.

2. KONSEP PEMBELAJARAN TEMATIK

Konsep pembelajaran tematik berusaha untuk memenuhi beberapa hal dalam


mengembangkan pengetahuan peserta didik sebagai berikut.

1) Berpusat pada peserta didik.

2) Memberikan pengalaman langsung.

3) Tidak terjadi pemisahan materi pembelajaran secara jelas.

4) Menyajikan konsep dari berbagai materi pembelajaran.

5) Bersifat fleksibel.

6) Hasil pembelajaran sesuai dengan minat dan kebutuhan peserta didik.

7) Mengembangkan kemampuan metakognisi peserta didik.

8) Lebih menekankan proses dari pada hasil.

Konsep pembelajaran tematik berjangka

Konsep pembelajaran tematik sifatnya berjangka (seminggu, dua minggu, tiga minggu, dan
seterusnya). Konsep ini hampir mirip dengan istilah RPP (Rencana Pelaksanaan
pembelajaran) dalam kurikulum nontematik. Dalam hal ini, guru tidak hanya dituntut
merancang konsep pembelajaran, tapi juga dituntut peka dalam menentukan alokasi waktu
terhadap pembelajaran tema-tema tertentu. Konsep pengetahuan yang diajarkan saling
berhubungan dan merupakan satu kesatuan. Tema-tema yang dirancang dan akan dicapai
harus dibuat berkaitan. Salah satu contoh penentuan tema yang dapat saling berkaitan dan
sebagai pengikat keterpauduan sebagai berikut.

Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, pembelajaran tematik menuntut penjabaran yang


tuntas. Artinya pembelajaran dapat menyeluruh atau menyentuh keseluruhan dari
keterampilan berbahasa. Keterampilan-keterampilan berbahasa tersebut antara lain;
menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Jadi, pembelajaran tematik dilakukan secara
bertahap karena untuk mengaitkan keempatnya membutuhkan waktu yang tidak sedikit.

7
3. JENIS PEMBELAJARAN TEMATIK

a. Model Pembelajaran Jaringan (Networked)

Model networked ini merupakan pemaduan pembelajaran yang mengandaikan


kemungkinan pengubahan konsepsi, bentuk pemecahan masalah, maupun tuntutan bentuk
ketrampilan baru setelah siswa mengadakan studi lapangan dalam situasi, kondisi, maupun
konteksyang berbeda-beda. Belajar disikapi sebagai proses yang berlangsung secara terus
meneruskarena adanya hubungan timbal balik antara pemahaman dan kenyataan yang
dihadapi siswa.

b. Model Pembelajaran Peta Laba-laba atau Model Pembelajaran Jaring Laba-Laba ( Webbed
Model)

Model pembelajaran jaring laba-laba merupakan pembelajaran yang pengembangannya


dimulai dengan menentukan tema sentral yang menjadi pengikat keterkaitan antara satu mata
pelajaran dengan mata pelajaran lainnya. Guru menentukan tema sentral dan memetakan
keterhubungan antar mata pelajaran berdasarkan KD. Langkah persiapan pembelajaran
tematik meliputi pemetaan kompetensi dasar pada tema, menentukan tema sentral, pemetaan
pokok bahasan, penentuan alokasi waktu, perumusan tujuan pembelajaran, penentuan alat
dan media pembelajaran, dan perencanaan evaluasi. Perhatikan contoh berikut. Contoh
terdapat pada gambar berikut.

Kelebihan dari model jaring laba-laba (Webbed) antara lain:


1) penyeleksian tema sesuai minat akan memotivasi anak untuk belajar;
2) memudahkan guru yang belum berpengalaman sebab memudahkan dalamperencanaan;
dan
3) memberikan kemudahan peserta didik dalam mengaitkan kegiatan-kegiatan dan ide-ide
yang berbeda.

BAB IV PEMETAAN TEMA

1. Cara Menentukan Tema

Pemetaan tema dapat dilakukan dengan berbagai cara. Namun demikian, tidak ada cara yang
terbaik untuk menentukan tema tetapi tergantung dari situasi dan kondisi karena pada dasarnya

8
pembelajaran tematik bergantung pada situasi dan kondisi kelas, sekolah, guru, atau lingkungan
sehingga prosedur penentuan tema disesuaikan dengan situasi dan kondisi setempat.Perbedaan antara
cara pertama dengan cara yang kedua terletak pada penentuan tema. Cara yang pertama penentuan
tema dilakukan setelah guru melakukan penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar karena
dalam indikator. Tema ditentukan setelah melihat keterhubungan antara kompetensi satu mata
pelajaran dengan mata pelajaran lainnya. Berikut ini adalah contoh keterhubungan kompetensi dasar
dan indikator dengan tema.

Adapun kegiatan yang dilakukan adalah:

1. Penjabaran Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar ke dalam Indikator

Melakukan kegiatan penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar dari setiap mata pelajaran
ke dalam indikator.

Dalam mengembangkan indikator perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

a. Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik.

b. Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik mata pelajaran.

c. Dirumuskan dalam diamati.

Dalam menentukan tema dapat dilakukan dengan dua cara yakni: pertama. Mempelajari standar
kompetensi dan kompetensi dasar yang terdapat dalam masing-masing mata pelajaran, dilanjutkan
dengan menentukan tema yang sesuai

Kedua. Menetapkan terlebih dahulu tema-tema pengikat keterpaduan, untuk menentukan tema
tersebut, guru dapat bekerjasama dengan peserta didik sehingga sesuai dengan minat dan kebutuhan
anak.

Tema untuk pembelajaran tematik dapat berasal dari beberapa sumber. di antaranya adalah :

1) Isu-isu

2) Masalah-masalah

3) Event-event khusus

4) Minat siswa

5) Literatur

9
Minat siswa-siswi yang pada umumnya dapat menarik untuk dijadikan kriteria penentuan tema,
seperti hari libur. Kegiatan hari libur sangat menyenangkan bagi siswa-siswi. Banyak yang dapat
dilakukan oleh siswa-siswi, seperti memain bola, ke sawah, dan sebagainya.

a. Penentuan tema merupakan hasil ramuan dari berbagai disiplin ilmu.

b. Tema diangkat sebagai sarana untuk mencapai sasaran materi pelajaran dan prosedur
penyampaian.

c. Tema sesuai dengan karakteristik belajar siswa-siswi sehingga perkembangan anak dapat
dimanfaatkan secara maksimal.

d. Tema harus bersifat cukup problematik sehingga kemungkinan luas untuk melaksanakan
kegiatan belajar yang lebih efektif dibanding dengan proses belajar mengajar yang konvensional.

Penentuan tema dapat ditempuh dengan prosedur yang dikemukakan sebagai berikut :

1) Menumbuhkan minat siswa-siswi pada suatu tema.

2) Mempertimbangkan sumber-sumber yang diperlukan. Bila perlu guru mempersiapkan rencana


antisipasi, misalnya karya wisata.

3) Mengidentifikasi apa yang telah diketahui oleh siswa-siswi dan apa saja yang ingin diketahui.

4) Menentukan fokus tema tertentu, pemahaman, nilai-nilai, pengetahuan, atau sikap.

5) Menentukan cara-cara untuk melakukan eksplorasi pertanyaan-pertanyaan, dan


mempertimbangkan ketrampilan-ketrampilan yang harus dimiliki siswa-siswi.

6) Mengumpulkan sumber-sumber belajar.

7) Mengacu pada pertanyaan-pertanyaan fokus.

8) Penilaian yang dilakukan berulang-ulang dan mengkaji hasilnya pada kegiatan akhir.

Ada tiga model penentuan tema, yaitu : pertama, tema ditentukan oleh guru dan dikembangkan dalam
sub-sub tema. Kedua, tema ditentukan bersama-sama antara guru dan siswa-siswi. Keempat, tema
ditentukan oleh siswa-siswi.

3. Prinsip Pengembangan dan Pemilihan Tema

Pertama. Memperhatikan lingkungan yang terdekat dengan siswa-siswi. Tema yang dipilih
sebaiknya tema-tema yang ada dalam kehidupan sehari-hari dan dialami anak Mengangkat realita
sehari-hari dapat menarik minat siswa-siswi dan meningkatkan keterlibatan siswa-siswi dalam

10
pembelajaran. Dalam pembelajaran tematik, anak belajar tentang dunia nyata sehingga pencapaian
kompetensi dikaitkan dengan konteks kehidupan sehari-hari. Pembelajaran lebih bermakna karena
mudah dipahami. Kebermaknaan pembelajaran sangat penting karena dapat memberikan pencerahan
(insight) pada anak, juga membuat anak termotivasi dalam belajar sehingga mereka memiliki minat
tinggi dalam pembelajaran

Kedua. Dari yang termudah menuju yang sulit. Dari yang sederhana menuju yang kompleks.
Pada tahapan usia sekolah dasar, cara anak belajar berkembang secara bertahap mulai dari hal-hal
yang sederhana ke hal-hal yang lebih kompleks. Sehubungan dengan hal tersebut, maka perlu
diperhatikan mengenai urutan logis, keterkaitan antar materi, dan cakupan keluasan serta
kedalaman materi.

Keempat. Dari yang konkrit menuju ke yang abstrak. Anak tidak belajar hal yang abstrak, tetapi
belajar dari fenomena kehidupan dan secara bertahap belajar memecahkan problem kehidupan.
Menurut Sukandi (2003), dunia anak adalah dunia nyata. Tingkat perkembangan mental anak selalu
dimulai dengan tahap berpikir nyata. Anak-anak biasanya melihat peristiwa atau objek yang
didalamnya memuat sejumlah konsep/materi beberapa mata pelajaran. Misalnya, dalam berbelanja di
pasar, anak-anak dihadapkan pada hitung-menghitung (Matematika), aneka ragam makanan sehat
(IPA), dialog tawar menawar (Bahasa Indonesia), penggunaan uang (IPS), tata cara dan etika jual beli
(Agama), dan mata pelajaran lainnya. Anak belajar beranjak dari hal-hal yang konkrit yakni yang
dapat dilihat, didengar, dibaui, diraba, dan diotak-atik, dengan titik penekanan pada pemanfaatan
lingkungan sebagai sumber belajar. Pemanfaatan lingkungan akan menghasilkan proses dari hasil
belajar yang lebih bermakna dan bernilai, sebab siswa-siswi dihadapkan dengan peristiwa dan
keadaan yang sebenarnya, keadaan yang alami, sehingga lebih nyata, lebih faktual, lebih bermakna,
dan kebenarannya lebih dapat dipertanggungjawabkan.

Kelima. Tema yang dipilih harus memungkinkan terjadinya proses berpikir pada diri siswa-siswi dan
membangun pemahaman konsep karena adanya sinergi pemahaman antar konsep yang dikemas dalam
tema.

Ketujuh. Ruang lingkup tema disesuaikan dengan usia dan perkembangan siswa-siswi, termasuk
minat dan kebutuhan. Dalam pembelajaran tematik, berbagai mata pelajaran dihubungkan dengan
tema yang cocok dengan kehidupan sehari-hari anak, bahkan diupayakan yang merupakan
kesenangan anak pada umumnya sehingga siswa-siswi tertarik untuk mengikuti pelajaran.
Ketertarikan siswa-siswi pada "apa" yang dipelajari merupakan "pintu" pertama belajar dan menjadi
"kunci" keberhasilan belajar. Sebaliknya, jika siswa-siswi tidak tertarik belajar bisa menjadi faktor
kegagalan dalam belajar bagi siswa-siswi (Samani, 2007).

11
Tema yang dipilih, menurut Sukandi (2003) dapat mengembangkan tiga ranah sasaran pendidikan
secara bersamaan, yaitu kognitif (seperti gagasan konseptual tentang lingkungan dan alam sekitar),
keterampilan (seperti memanfaatkan informasi, menggunakan alat, dan mengamati gejala alam), dan
sikap (jujur, teliti, tekun, menghargai perbedaan, dan sebagainya).

BAB V JARINGAN TEMA


A. Prinsip Dan Kriteria Jaringan Tema
Dalam menentukan tema perlu memperhatikan beberapa prinsip yaitu:
1. Memperhatikan lingkungan terdekat
2. Dari yang termudah menuju sulit
3. Dari yang konkret menuju abstrak
4. Tema yang dipilih harus mungkin terjadi proses berfikir pada diri anak
5. Ruang lingkup tema disesuaikan dengan usia dan perkembangan siswa termasuk minat
kebutuhan dan kemampuan.

Sebuah jaringan tema dapat dikatakan baik apabila telah memenuhi beberapa kriteria.
Diantaranya kriteria tersebut antara lain :

1.Simpel
Jaringan tema dibuat untuk mempermudah penyusunan perencanaan pembelaran secara
keseluruhan.

2.Sinkron
Jaringan tema terdiri dari dua komponen utama yaitu tema pngikat dan materi-materi yang
terkait dan bisa masuk dalam cakupannya. Untuk menyusun jaringan tema yang baik, maka
hal yang perlu diperhatikan adalah sinkronisasi antara tema antara materi materi yang dijaring
didalamnya.

3. Logis
Keterkaitannya anatara tema dengan materi yang diikat harus logis. Hal ini mengandung

12
penngertian bahwa yang dijaring betul-betul merupakan bagian dari tema. Sehingga tidak
bdibutuhkan tema-tema yang lain untuk menjaring materi-materi tersebut.

4. Mudahdipahami
Jaringan tema yang baik adalah jaringan tema hyang mudah dipahami oleh semua orang.
Dengan demikian, siapapun dapat menyusun dan mengembangkan pembelajaran
pembelajaran tematik dengan berpegangan pada jaringan tema tersebut. Jaringan tema
diuoayakan tidak hanya dipahami oleh pembuatnya saja, akan tetapi harus dapat digunakan
olehsemuaorang.

5. Kemenarikan
Tema hendaknya dipilih yang menarik sesuai dengan minat anak, tingkat perkembangan anak
danbersifatkonkrit.

6. Terpadu.
Tema dan materi-materi diikat oleh kesamaan substansi yang ingin disampaikan kepada
siswa-siswi. Oleh karena itu dalam pembuatan jaringan tema, asas keterpaduan antara tema
dan materi tidak diabaikan. Pembuatan jarinagan tema diharapkan dapat menampilkan
gambaran keterpaduan antara tema dan materi menjadi satu bagian utuh yang akan
dikembangkan menjkadi skenario pembelajaran tematik.

C.Kekurangan Dan Kelebihan Jaringan Tema


Kelebihan jaringan tema yang mengikuti model pembelajaran terpadu milik Webber adalah:
1. Penyelaksian/penentuan tema sesuai minat akan memotivasi siswa-siswi unuk belajar.
2. Lebih mudah dilakukan oleh guru yang belum berpengalaman.
3. Memudahkan perencanaan.
4. Pendekatan tematik dapat memotivasi siswa-siswi.
5. Memberikan kemudahan bagi siswa-siswi dalam melihat kegiatan-kegiatan dan ide-ide
berbeda yang terkait.

Sedangkan kekurangan jaringan tema model pembelajaran terpadu Webber adalah,


1. Sulit dalam menyeleksi tema.
2. Cenderung untuk merumuskan tema yang dangkal.
3. Dalam pembelajaran, guru lebih memusatkan perhatian pada kegiatan daripada

13
pengembangan konsep.

D. Langkah-Langkah Membuat Jaringan Tema


Pembuatan jaringan tema dilakukan dengan cara menggabungkan kompetensi dasar dan
indikator dengan tema pemersatu. Dengan jaringan tema tersebut akan terlihat kaitannya
dengan tema ini dapat dikembangkan sesuai dengan alokasi waktu yang tgersedia untuk
setiap tema.
Langkah langkah membuat jaringan tema:

1. Menentukan tema, dalam penentuan tema bias dilakukan dengan dua cara yaitu:
a. Cara pertama: dengan cara mempelajari setandar kompetensi dan kopetensi dasar yang
terdapat dalam masing masing pelajaran, dilanjutkan dengan menentukan tema yang sesuai.
b. Cara kedua: menetapkan terlebih dahulu tema tema pengikat keterpaduan untuk
menentukan tema tersebut, guru dapat bekerja sama dengan siswa siswi sesuai dengan minat
dan kebutuhan merekan.

2. Menginventarisasi materi materi yang masuk/ sesuai dengan tema yang telah
ditentukan. Langkah ini terlalu rumit karena pada pertemuan sebelumnya telah dilakukan
pemetaan tehadap materi materi yang akan diajadikan bahan pembuatan jaringan tema.

3. Mengelompokkan materi yan telah diinventarisir kedalam rumpun mata pelajarannya


masing masing. Hal ini untuk mempermudah mmencari keterkaitan tema dengan mata
pelajaran-mata pelajaran yang disajikan dengan menggunakan model pembelajaran tematik.

4. Mnghubungkan materi-materi yang telah dikelompokkan dalam rumpun mata pelajaran


dengan tema. Pola hubungan antara tema dengan rumpun materi diilustrasikan dengan sebuah
bagan .

E. Contoh jaringan tema


Tema : Tempat umum
Materi yang di padukan antara lain:
1. Bahasa Indonesia
Ø Mendengarkan: melaksanakan sesuatu sesuai denganperintah atau petunjuk
Ø Berbicara: mendiskripsikan benda-benda disekitar dengan kalimat sederhana

14
Ø Membaca: membaca nyaring kata dengan lafal dan intonasi yg tepat

2. Ips
Ø Menunjukkan sikap hidup rukun dalam kemajemukan di tempat umum, untuk
menjelaskan lingkungan yang sehat dan perilaku dalam menjaga kesehatan ditempat umum

3. Ipa
Ø Mengenal cara menjaga lingkungan umum agar tetap sehat
Ø Membedakan lingkungan sehat dengan lingkungan tidak sehat serta menceritakan
perlunya merawat peliharaan dan lingkumgan sekitar

4. Pkn
Ø Melaksanakan tata tertib di rumah dan di sekolah
Ø Melaksanakan aturan yang berlakudi masyarakat

BAB VI RANCANGAN STRATEGI PEMBELAJARAN TEMATIK

RANCANGAN PELAKSANAAN PEMBELAJARAN TEMATIK


Rancangan pelaksanaan pembelajaran tematik terdapat empat komponen utama, yaitu:
1.Waktu
Menghitung jumlah waktu yang digunakan oleh pengajar, penting artinya bagi pengajar
sendiri dalam mengelola kegiatan pembelajaran. Ia harus dapat membagi waktu untuk setiap
langkah dalam pendahuluan, penyajian, dan penutup.
2.Urutan kegiatan pembelajaran
Urutan kegiatan pembelajaran terdiri atas komponen pendahuluan, inti dan penutup.
Pada pendahuluan terdapat penjelasan singkat tentang isi pembelajaran, penjelasan relevansi
isi pembelajaran baru dengan pengetahuan, dan penjelasan tentang tujuan pembelajaran.
Untuk kegiatan inti atau penyajian terdapat tiga pengertian yaitu penyajian uraian, pemberian
contoh dan latihan. Sedangkan pada kegiatan penutup dilaksanakan dengan langkah
menyimpulkan, tes format (lisan atau tulisan) umpan balik dan tindak lanjut
3. Metode Pembelajaran
Metode pembelajaran berfumgsi sebagai cara dalam menyajikan (menguraikan, member
contoh, memberi latihan) isi pelajaran kepada siswa untuk mencapai tujuan tertentu. Untuk

15
merancang strategi pembelajaran tematik, pengembang harus memilih metode untuk setiap
tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.

4. Media/ bahan Pembelajaran


Media adalah alat yang digunakan untuk menyalurkan pesan atau informasi dari
pengirim ke penerima pesan. Dalam proses pemilihan media pembelajaran, pengembang
dapat mengidentifikasi beberapa media yang sesuai dengan tujuan pembelajaran,
mempertimbangkan biaya yang diperlukan, kesesuaian dengan metode pembelajaran,
kesesuaian dengan karakter siswa, dan pertimbangan praktis.
Sebagai gambaran rancangan strategi pembelajaran tematik, dapat dijelaskan bahwa
strategi pembelajaran berkenaan dengan pendekatan pengajaran dalam mengelola kegiatan
pembelajaran secara sistematik sehingga isi pelajaran dapat dikuasai oleh siswa secara efektif
dan efisien.
BAB VII SILABUS DALAM PEMBELAJARAN TEMATIK

Pengembangan Silabus Pembelajaran Tematik


Pelaksanaan pembelajaran tematik perlu diupayakan adanya penyediaan interaksi
pembelajaran yang dapat meningkatkan proses belajar siswa-siswi secara menyeluruh melalui
kegiatan penghubung gagasan / konsep pada suatu matapelajaran dengan gagasan atau
konsep pada mata pelajaran lainnya. Keberhasilan pelaksanaan pembelajaran tematik ini
sangat ditentukan oleh bagaimana guru mampu menyusun perancang pembelajaran dan
skenario pembelajaran yang tepat dan dikemas dengan memperhatikan karakteristik siswa-
siswi.
Penyusunan perencanaan pembelajaran tematik dapat dimulai dari penetapan mata
pelajaran yang dipadukan, mempelajari kompetensi-kompetensi dasar dalam setiap mata
pelajaran yang dipadukan, mempelajari KD dalam setiap mata pelajaran berikut hasil belajar
dan indikator-indikator pencapaiannya. Selanjutnya mmenetapkan tema yang dapat
digunakan untuk memadukan KD antar mata pelajaran serta membuat bagian/ matriks
keterhubungannya. Guru dapat memulai penyusunan silabus dan satuan pembelajaran
tematik.
silabus dapat didefinisikan sebagai garis besar, ringkasan, ikhtiar, atau pokok-pokok
isi atau materi pelajaran. Istilah silabus digunakan untuk menyebut suatu produk
pengembangan kurikulum berupa penjabaran lebih lanjut dari standar kompetensi dan
kompetensi dasar yang ingin dicapai, dan pokok-pokok serta uraian materi yang perlu

16
dipelajari siswa dan siswi dalam rangka pencapaian standar kompetensi dan kompetensi
dasar. Sedangkan menurut Trianto, silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau
kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi, kompetensi
dasar, materi pokok/pembelajaran, kegiatan, pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi
untuk penilaian, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar.
Beberapa prinsip yang mendasari dalam pengembangan silabus, antara lain: ilmiah,
relevan, sistematis, konsisten, memadai, aktual dan konstektual, fleksibel, dan menyeluruh.
prinsip-prinsip pengembangan silabus pembelajaran tematik adalah sebagai berikut:
1. Disusun berdasarkan prinsip ilmiah, dalam arti materi pembelajran tematik yang disajikan
dalam silabus harus memenuhi kebenaran dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Sehingga untuk mencapai kebenaran ilmiah tersebut, dalam penyususnan silabus selayaknya
dilibatkan para pakar bidang keilmuan masing-masing mata pelajaran. Hal ini dimaksudkan
agar materi pelajaran yang disajikan dalam silabus sahih.
2. Ruang lingkup dan urutan penyajian materi pembelajaran dalam silabus, termasuk kedalaman
dan tingkat kesulitannya, disesuaikan dengan perkembangan dan kebutuhan siswa dan siswi,
serta cukup memadai untuk menunjang tercapainya penguasaan kompetensi dasar.
3. Penyusunan silabus dilakukan secara sistematis, artinya semua komponen yang ada dalam
silabus tersebut harus merupakan satu kesatuan yang saling terkait untuk mencapai
kompetensi dasar yang telah ditetapkan.
4. Silabus disusun berdasarkan bagan/matriks keterhubungan kompetensi dasar dan tema
pemersatu yang telah dikembangkan.
5. Dalam memilih aktivitas belajar siswa, ciptakan berbagai kegiatan yang sesuai dengan
kompetensi dasar dan tema pemersatu, misalnya mengadakan kunjungan ke lahan pertanian,
pasar, kebun binatang, dan lain-lain atau membawa narasumber ke sekolah.
6. Kompetensi dasar setiap matapelajaran yang tidak bisa dikaitkan dalam pembelajaran tematik
disusun dalam silabus tersendiri.

Proses Pengembangan Silabus :


1. Perencanaan, mengumpulkan informasi dan referensi yang dapat dilakukan dengan
memanfaatkan perangkat teknologi dan informasi seperti komputer dan internet. Kemudian
mengidentifikasi dan mengkaji sumber belajar yang diperlukan dalam pengembangn silabus.
2. Pelaksanaan, merumuskan KD dan tujuan pembelajaran serta materi dan indicator. Kemudian
menentukan strategi, metode, dan teknik pembelajaran dan yang terakhir menentukan sarana
dan prasarana.

17
3. Evaluasi / penilaian, tahap ini dilakukan untuk mengetahui apakah silabus yang telah
dikembangkan itu mencapai sasarannya atau sebaliknya. Dari hasil evaluasi ini dapat
diketahui sampai dimana tingkat ketercapaian SK dan KD yang telah ditetapkan. Dengan
demikian, silabus dapat segera diperbaiki dan disempurnakan.
4. Revisi, silabus yang dikembangkan perlu diuji kelayakannya melalui analisis kualitas silabus,
penilaian akhir dan uji lapangan.

B. Penetapan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar


Mengkaji SK dan KD mata pelajaran sebagaimana tercantum dalam standar isi,
dengan memperhatikan :
a. Urutan berdasarkan konsep disiplin ilmu atau tingkat kesulitan materi.
b. Keterkaitan antar SK dan KD dalam mata pelajaran.
c. Keterkaitan SK dan KD antar mata pelajaran.
Kompetensi dasar berisi mengenai pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus
dikuasai siswa dan siswi dalam rangka pencapaian standar kompetensi pada masing-masing
matapelajaran yang akan dipadukan. SK dan KD telah ditetapkan oleh pemerintah yang
dituangkan pada Permendiknas no. 22 tahun 2006 tentang Standar Isi. Dalam penyusunan
silabus guru harus mengidentifikasi SK dan KD dari berbagai mata pelajaran untuk
merumuskan keterpaduan atau keterkaitan antara satu mata pelajaran dengan mata pelajaran
lain.
Setelah mencermati SK dan KD untuk tiap-tiap mata pelajaran, maka kita perlu
megidentifikasi keterhubungan SK dan KD dari tiap-tiap mata pelajaran. Identifikasi ini akan
memberi kemudahan dalam menentukan materi pokok atau indikator pencapaian kompetensi.
Melakukan identifikasi dan analisis untuk setiap SK , KD dan indikator yang cocok untuk
setiap tema sehingga semua SK, KD, dan indikator terbagi habis, akan tetapi jika terdapat
kompetensi yang tidak tercakup pada tema tertentu, tetap diajarkan melalui tema lain ataupun
disajikan secara tersendiri. Artinya untuk SK, KD dan indikator yang tidak dapat dipadukan
dengan mata pelajaran lain disajikan secara tersendiri.

C. Perumusan Indikator Keberhasilan Belajar


Indikator merupakan penjabaran dari KD. Indikator dikembangkan sesuai dengan
karakteristik satuan pendidikan, potensi daerah, dan peserta didik, kemudian dirumuskan
dalam kata kerja operasional (KKO) yang terukur / dapat diobservasi. Indikator digunakan
sebagai dasar untuk menyusun penilaian.

18
D. Identifikasi Materi Pokok
Mengidentifikasi materi pokok yang menunjang pencapaian SK dan KD dengan
mempertimbangkan:
a. Tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosional, social, dan spiritual peserta didik.
b. Manfaatnya bagi peserta didik.
c. Struktur keilmuan.
d. Kedalaman dan keluasan materi.
e. Relevansi dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan lingkungan.
f. Alokasi waktu.
Materi pokok berisi pokok-pokok bahan pembelajaran yang harus dipelajari siswa-
siswi sebagai sarana untuk pencapaian KD yang telah ditetapkan. Guru memilki tugas untuk
menjabarkan materi pokok ke dalam materi pembelajaran tematik dengan mengacu pada
tema yang akan disajikan. Cara penulisannya, jika kompetensi dasar biasanya dirumuskan
dalam bentuk kata kerja, maka materi pembelajaran dirumuskan dalam bentuk kata benda
atau kata kerja yang dibendakan.
Dalam penentuan materi pembelajaran tematik perlu diperhatikan apakah sifatnya
berupa fakta, konsep, prinsip, atau prosedur. Hal ini akan berpengaruh terhadap strategi
pembelajaran, alat, dan media pembelajaran yang akan digunakan. Perlu juga diperhatikan
keluasan cakupan dan kedalaman materi pembelajaran tersebut. Keluasan cakupan materi
berkaitan dengan banyaknya materi yang dimasukkan sebagai materi pembelajaran tematik,
sedangkan kedalaman materi menyangkut seberapa detail konsep-konsep yang terkandung
dalam materi pembelajaran tematik tersebut harus dipelajari atau dikuasai oleh siswa-siswi.

E. Penentuan Pengalaman Belajar


Pengalaman belajar merupakan kegiatan mental dan fisik yang dilakukan siswa-siswi
dalam berinteraksi dengan sumber belajar melalui pendekatan pembelajaran yang bervariasi
dan mengaktifkan siswa-siswa.
Starategi pembelajaran yang dituliskan dalam silabus berupa pengalaman belajar unik
dan spesifik yang sesuai dengan materi pembelajaran dan dapat menunjang penguasaan KD
yang telah ditentukan. Penentuan stategi dalam pembelajaran tematik harus memungkinkan
terjadinya pengalaman belajar dan bermakna bagi siswa-siswi. Untuk itu diperlukan sumber
belajar, baik berupa objek langsung maupun objek tidak langsung.

19
Agar siswa-siswi memilki pengalaman belajar yang bermakna, penentuan starategi
dalam pembelajaran tematik perlu juga dikaitkan dengan hal-hal yang bersifat kontekstual,
karena siswa-siswi akan belajar dengan baik bila apa yang dipelajarinya terkait dengan apa
yang telah diketahuinya dan kegiatan / peristiwa yang terjadi di sekelilingnya. Akan lebih
sempurna lagi jika siswa diberi pengalaman-pengalaman belajar yang diarahkan kepada
pemerolehan kecakapan hidup (life skills) yang sangat diperlukan bagi kehidupan di
lingkungannya.

F. Penentuan Alokasi Waktu


Alokasi waktu perlu diperhatikan pada tahap pengembangan silabus dengan maksud
untuk memperkirakan jumlah jam pelajaran yang diperlukan dalam pelaksanaan
pembelajaran tematik. Guru harus mampu memperkirakan berapa lama siswa-siswi dapat
mempelajari materi pembelajaran yang telah ditentukan. Dalam penentuan alokasi waktu ini,
guru perlu mempertimbangkan tingkat kesulitan, ruang lingkup atau cakupan, serta tingkat
pentingnya materi pembelajaran yang dipelajari.

G. Penentuan Media / Sumber Belajar


Sumber belajar adalah rujukan, objek atau bahan yang digunakan untuk kegiatan
pembelajaran. Sumber belajar dapat berupa media cetak dan elektronik, narasumber, serta
lingkungan fisik, alam, sosial, dan budaya. Sumber belajar didasarkan pada SK dan KD serta
materi pokok, kegiatan pembelajaran dan indikator kegiatan pencapaian kompetensi.

BAB VIII RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN TEMATIK

Pengertian RPP tematik

RPP adalah rencana yang menggambarkan prosedur dan pengorganisasian pembelajaran


untuk mencapai satu kompetensi dasar yang ditetapkan dalam Standar isi dan telah dijabarkan
dalam silabus. Lingkup Rencana pelaksanaan pembelajaran paling luas mencakup 1
kompetemsi dasar yang terdiri atas 1 atau beberapa indikator untuk 1 kali pertemuan atau
lebih.

Sedangkan RPP tematik adalah rencana yang menggambarkan prosedur dan pengorganisasian
pembelajaran untuk mencapai KD dan tujuan pembelajaran dengan menggabungkan
beberapa mata pelajaran ke dalam satu tema.

B. Komponen RPP tematik

20
Untuk memudahkan dalam pengembangan RPP dapat memperhatikan komponen-komponen
RPP tematik sebagai berikut :

1) Identitas mata pelajaran ( nama mata pelajaran yang akan ditematikkan, kelas, semester,
tema, hari, dan waktu / banyaknya jam pertemuan yang dialokasikan )

2) Standar kompetensi merupakan kemampuan peserta didik yang menggambarkan


penguasaan sikap, pengetahuan dan keterampilan yang diharapkan dicapai pada mata
pelajaran

3) Kompetensi dasar dan indikator yang akan dilaksanakan

4) Tujuan pembelajaran yang menggambarkan proses dan hasil belajar yang diharapkan
oleh peserta didik sesuai dengan KD

5) Materi pokok beserta uraiannya yang perlu dipelajari siswa-siswi dalam rangka
mencapai kompetensi dasar dan indikator

6) Alokasi waktu ditentukan sesuai dengan keperluan untuk mencapai KD

7) Metode pembelajaran merupakan strategi kegiatan pembelajaran yang dilakukan


peserta didik untuk mencapai KD

8) Langkah pembelajaran ( kegiatan pembelajaran secara konkret yang harus dilakukan


siswa-siswi dalam berinteraksi dengan materi pembelajaran dan sumber belajar untuk
menguasai kompetensi dasar dan indikator, kegiatan ini terdapat dalam kegiatan pembukaan,
inti, dan penutup )

9) Alat dan media yang digunakan untuk memperlancar pencapaian kompetensi dasar,
serta sumber bahan yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran tematik sesuai dengan
kompetensi dasar yang harus dikuasai

10) Penilaian dan tindak lanjut ( prosedur dan instrumen yang akan digunakan untuk menilai
pencapaian belajar siswa-siswi serta tindak lanjut hasil penilaian )

C. Perbedaan RPP mata pelajaran dan RPP tematik

Pada umumnya RPP mata pelajaran dan RPP tematik itu sama, yang membedakan terdapat
pada identitas mata pelajaran dan yang penting memperlihatkan keterkaitan rumusan
komponen dengan tema yang ditetapkan

D. Menyusun RPP tematik

Menyusun RPP tematik mencakup langkah-langkah sebagai berikut :

1) Menuliskan identitas, meliputi:

a. Tema

b. Kelas/semester

21
c. Jumlah pertemuan/pertemuan ke.....

d. Alokasi waktu

2) Menuliskan SK dan KD dari silabus tematik ( beberapa mata pelajaran ) yang akan
dicapai pada kegiatan pembelajaran tertentu

3) Menuliskan indikator pencapaian kompetensi yang telah dirumuskan dalam silabus

4) Merumuskan tujuan pembelajaran

a. Merumuskan tujuan ang hendak dicapai setelah pelaksanaan pembelajaran dengan


menggunakan kalimat operasional yang dapat diamati dan di ukur

b. Rumusan tujuan terfokus pada pencapaian KD mencakup aspek pengetahuan, sikap,


dan keterampilan yang diharapkan dikuasai siswa setelah melaksanakan kegiatan
pembelajaran

BAB IX JADWAL PEMBELAJARAN TEMATIK

Jadwal Pelajaran Tematik


Keberhasilan pelaksanaan pembelajaran tematik dipengaruhi oleh seberapa jauh
pembelajaran tersebut dirancang sesuai dengan kondisi dan potensi siswa (minat, bakat,
kebutuhan, dan kemampuan). Kompetensi dasar dan indikator yang harus dikuasai siswa
sudah tertulis dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) pada setiap mata
pelajaran yang terpisah satu dengan lainnya. Mengingat kondisinya seperti itu, maka hal
pertama yang perlu mendapat perhatian guru dalam merancang pembelajaran tematik di
sekolah dasar yaitu kejelian dalam mengidentifikasi dan menetapkan kompetensi dasar dan
indikator pada setiap matapelajaran yang akan dipadukan. Guru harus memahami betul
kandungan isi dari masing-masing kompetensi dasar dan indikator tersebut sebelum
dilakukan pemaduan-pemaduan.
Penerapan sistem guru kelas di sekolah dasar, di mana guru memiliki pengalaman
mengajarkan seluruh matapelajaran, guru bisa lebih cepat melihat keterhubungan kompetensi
dasar dan indikator antar-matapelajaran. Dalam merancang pembelajaran tematik di sekolah
dasar bisa dilakukan dengan dua cara. Cara pertama, dimulai dengan menetapkan terlebih
dahulu tema-tema tertentu yang akan diajarkan, dilanjutkan dengan mengidentifikasi dan
memetakan kompetensi dasar pada beberapa mata pelajaran yang diperkirakan relevan
dengan tema-tema tersebut. Tema-tema ditetapkan dengan memperhatikan lingkungan yang

22
terdekat dengan siswa, dimulai dari hal yang termudah menuju yang sulit, dari hal yang
sederhana menuju yang kompleks, dan dari hal yang konkret menuju ke hal yang abstrak.
Cara kedua, dimulai dengan mengidentifikasi kompetensi dasar dari beberapa mata
pelajaran yang memiliki hubungan, dilanjutkan dengan penetapan tema pemersatu. Dengan
demikian, tema-tema pemersatu tersebut ditentukan setelah mempelajari kompetensi dasar
dan indikator yang terdapat dalam masing-masing mata pelajaran. Penetapan tema dapat
dilakukan dengan melihat kemungkinan materi pelajaran pada salah satu mata pelajaran yang
dianggap dapat mempersatukan beberapa kompetensi dasar pada beberapa mata pelajaran
yang akan dipadukan.
Pengaturan Jadwal Pelajaran
1. Merancang Jadwal Pelajaran Tematik Dengan Mata Pelajaran
Model jadwal pelajaran tematik dengan matapelajaran adalah model jadwal yang pada
umumnya dipakai di Sekolah Dasar maupun di Madrasah Ibtidaiyah. Model ini paling mudah
diterapkan dan biasanya dipakai untuk pembelajaran tematik yang masih menonjolkan mata
pelajaran. Sebagian guru menyebutkan model ini dengan “tema masuk dalam matapelajaran”.
Artinya tema-tema yang dipakai dalam pembelajaran tematik tidak nampak dalam jadwal,
tetapi yang tertulis dijadwal adalah nama matapelajaran.

BAB X PRAKTIKUM PEMBELAJARAN TEMATIK INDOOR


DAN OUTDOOR
1.Pengantar
Praktikum pembelajaran tematik merupakan bentuk kegiatan pendidikan dan
pengajaran dalam usaha menyiapkan mahasiswa melalui kegiatan pengajaran, bimbingan dan
latihan secara terprogram dan berkesinambungan guna terciptanya calon guru professional
dan proses kegiatannya melibatkan sejumlah mahasiswa dan dosen pembimbing ditambah
teknisi laboratorium.
2. Tujuan praktikum pembelajaran tematik
Praktikum pembelajaran tematik adalah salah satu bentuk pengintegrasian antara teori dan
praktik mengajar yang dilakukan oleh mahasiswa dengan bimbingan staf pengajar.
a. Membantu dan membentuk pengayaan pengetahuan dalam bidang pengajaran.
b. Membantu mahasiswa membuktikan suatu teori atau hokum
c. Membantu mahasiswa mengatasi kesulitan selama praktik
d. Mahasiswa mampu dan terampil dalam merencanakan pembelajaran

23
3. Penguatan keterampilan dalam praktikum
a. Pre memori kemampuan membuka pelajaran
b. Kemampuan membuka pelajaran
c. Penguasaan materi pembelajaran
d. Kemampuan mendemonstrasikan penguasaan materi pembelajaran
e. Kemampuan mengembangkan pengalaman belajar
f. Pemilihan strategi pembelajaran
g. Penggunaan strategi pembelajaran
h. Mengembangkan daya eksplorasi
i. Mengembangkan daya elaborasi
j. Kemampuan melakukan pengembangan potensi anak didik
k. Mengembangkan daya konfirmasi
l. Kemampuan untuk menjadi fasilitator yang baik
m. Kemampuan menentukan langkah-langkah pembelajaran
n. Kemampuan menentukan media atau alat pembelajaran
o. Kemampuan mendorong keterlibatan anak didik dalam proses pembelajaran
p. Kemampuan komunikasi
q. Kemampuan bertanya
r. Kemampuan mengembangkan sikap dan kecakapan hidup anak didik
s. Memberi penguatan
t. Kemampuan mengorganisasi dan menentukan alokasi waktu
u. performance

24
BAB III

PEMBAHASAN

Setiap buku pasti memiliki kelebihan atau keunggulan yang membuat buku tersebut
menjadi populer dikalangan pembaca, berikut ini akan dijelaskan kelebihan dan kekurangan
dari buku yang berjudul Pembelajaran Tematik Terpadu karangan Dr. H. Abd. Kadir

A. Keunggulan
a) Dari segi keterkaitan antar bab, buku ini memiliki keterkaitan yang sangat relevan
disetiap babnya mulai dari pengertian konsep pembelajaran tematik, landasan
pembelajaran tematik, model pembelajaran tematik, pemetaan tema, jaringan tema,
rancangan strategi pembelajaran tematik, silabus dalam pembelajaran tematik, Rpp
tematik, jadwal pembelajaran tematik dan praktikum pembelajaran tematik indoor dan
outdoor.
b) Dari segi kemutakhiran isi buku, dari segi bahasa cukup jelas sangat mudah dipahami di
setiap bab.
c) Di dalam buku ini juga dilengkapi dengan contoh-contoh setiap materi untuk
mempermudah pembaca dalam memahami materi.
d) Pada bagian akhir buku juga dilengkapi dengan beberapa lampiran- lampiran.

B. Kekurangan

25
a) Pada daftar isi hanya point judul yang berbeda sedangkan selain nya sama untuk
setiap bab.
b) Setiap materi selalu menjelaskan hal yang sama seperti bab lain misalnya
pendahuluan selalu ada di setiap pembahasan

BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari hasil analisis buku di atas dapat disimpulkan:


Pembelajaran tematik adalah pembelajaran yang memadukan antara berbagai mata pelajaran
atau bidang studi dengan menggunakan tema tertentu. Tema tersebut kemudian diulas atau
dielaborasi dari berbagai sudut pandang baik dari pandangan baik dari pandangan ilmu
pengetahuan sosial, ilmu pengetahuan alam, humaniora maupun agama, sehingga
memberikan pengalaman bermakna bagi anak didik. Pelaksanaannya di kelas rendah kelas
1,2 dan 3 sesuai dengan perkembangan fisik maupun psikis anak didik yang lebih berpikir
secara holistic dibandingkan berpikir secara segmentaris. Kaitan konseptual yang dipelajari
dengan isi bidang studi yang relevan akan membentuk skemata, sehingga akan diperoleh
keutuhan dan kebulatan pengetahuan.

Dengan pembelajaran tematik anak didik diharapkan mendapatkan hasil belajar yang
optimal dan maksimal dan menghindari kegagalan pembelajaran yang masih banyak terjadi
dengan model pembelajaran yang lain.

Saran

Untuk pengembangan lebih lanjut maka penulis memberikan saran kepada :

26
1. Bagi dosen untuk mengajarkan cara mereview buku yang baik dan benar serta
memotivasi mahasiswanya untuk berkarya setidaknya walaupun hanya keterampilan
mereview buku.
2. Bagi mahasiswa mereview buku bisa dijadikan sebagai wahana melatih keterampilan
menulis, menuangkan ide dan pesan yang telah disampaikan penulis kepada pembaca
dengan menggunakan bahasa sendiri yang tentunya agar mudah dipahami.
3. Bagi pembaca yaitu mampu meningkatkan motivasi untuk membaca dan menulis.
Sehingga memudahkan mahasiswa dalam menulis. Dan untuk para pendidik mampu
mengerti cara meningkatkan sikap keprofesionalannya pada proses pembelajaran,
manajemen/administrasi dan dalam memberikan pelayanan konseling pada para
peserta didik.

DAFTAR PUSTAKA

Kadir, Abd. 2014. Pembelajaran Tematik. Jakarta. PT RAJAGRAFINDO PERSADA.

27