Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PRAKTIKUM

PEMBIAKAN VEGETATIF

DISUSUN OLEH :
NAMA : RAHMAT HIDAYAT
NIM : D1A016129
KELAS :K
JURUSAN : AGRONOMI

DOSEN PENGAMPU:
Dr. Ir. SARMAN S, M.P.
Prof. Dr. Ir. Hj. ANIS TATIK MARYANI, M.P

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS JAMBI
2019
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah kami panjatkan ke hadirat allah subhanahu wata’ala, karena


atas berkat rahmat dan inayah-nya, sehingga kami dapat menyusun dan
menyelesaikan laporan praktikum ini. Dalam penyusunan laporan praktikum ini
tidak sedikit kami mengalami hambatan dan kesulitan, namun berkat bantuan,
bimbingan, dan dukungan dari berbagai pihak serta kerja keras, alhamdulillah
laporan praktikum ini dapat diselesaikan tepat waktu.

Atas bantuan bimbingan serta dukungannya, kami ucapkan terimakasih


kepada dosen mata kuliah PEMBIAKAN VEGETATIF, dan juga teman-teman
yang selalu memberi semangat, kami juga menyadari penyusunan laporan
praktikum ini masih jauh dari sempurna, baik dalam segi isi, maupun penulisan.
Untuk itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang positif dan bersifat
membangun demi perbaikan dimasa yang akan datang. Dan kami juga berharap
semoga laporan praktikum ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Aamiin..

Jambi, 17 Maret 2019

penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................. i


DAFTAR ISI ........................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................1
1.1Latar Belakang ................................................................................................1
1.2 Tujuan ............................................................................................................2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA..............................................................................3
2.1 Perbanyakan Tanaman ...................................................................................3
2.2 Teknik Stek ....................................................................................................3
2.3 Teknik Penyambungan ...................................................................................4
BAB III METODOLOGI PRAKTIKUM ................................................................5
3.1 Waktu dan Tempat .........................................................................................5
3.2 Alat dan Bahan ...............................................................................................5
3.3 Cara Kerja ......................................................................................................5
3.3.1 Cara Kerja Stek. ......................................................................................5
3.3 1 Cara Kerja Penyambungan Durian..........................................................5
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN .................................................................7
4.1 Hasil ...............................................................................................................7
4.1.1. Stek.............................................................................................................7
4.1.2 Penyambungan (Grafting)...........................................................................9
4.2 Pembahasan ..................................................................................................10
4.2.1 Stek........................................................................................................10
4.2.2 Penyambungan ......................................................................................11
BAB V PENUTUP .................................................................................................12
5.1 Kesimpulan ..................................................................................................12
5.2 Saran .............................................................................................................12
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................13
LAMPIRAN ...........................................................................................................14

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang
Perbanyakan tanaman secara vegetatif merupakan suatu cara-cara
perbanyakan atau perkembangbiakan tanaman dengan menggunakan bagian-
bagian tanaman seperti batang, cabang, ranting, pucuk, daun, umbi dan akar,
untuk menghasilkan tanaman yang baru, yang sama dengan induknya.
Perbanyakan tanaman secara vegetatif tersebut tanpa melalui perkawinan atau
tidak menggunakan biji dari tanaman induk. Prinsipnya adalah merangsang tunas
adventif yang ada dibagian-bagian tersebut agar berkembang menjadi tanaman
sempurna yang memiliki akar, batang, dan daun sekaligus. Perbanyakan tanaman
secara vegetatif sering dipilih oleh para petani karena memiliki beberapa
keuntungan khususnya bagi jenis tanaman yang pertumbuhan dan daya
berbuahnya lebih rendah ketika diperbanyak secara generatif. Di samping itu,
alasan lain dipilihnya perbanyakan secara vegetatif karena hasil
perbanyakan vegetatif relatif sama dengan sifat induknya .
Penyambungan (Grafting) serta Okulasi atau Penempelan Mata Tunas
(Budding) dan stek merupakan teknik perbanyak tanaman yang dilakukan secara
vegetatif. Selain kedua teknik ini masih ada teknik-teknik yang lain seperti
Mencangkok (Air Layering) dan Perundukan Tanaman (Ground Layering). Pada
teknik perbanyakan secara Budding perlu disediakan bagian tanaman sebagai
calon batang atas dan bagian tanaman sebagai calon batang bawah (dari tanaman
sejenis). Umumnya calon batang atas adalah tanaman yang produksinya
diutamakan sedangkan batang bawah adalah batang yang memiliki ketahanan
terhadap faktor lingkungan seperti kekeringan dan lain sebagainya. Untuk
penyambungan, calon batang bawah dipotong berbentuk huruf v sedangkan
batang atasnya dipotong menyerong kiri-kanan agar dapat diselipkan secara tepat
pada batang bawah. Setelah diselipkan secara tepat, sambungan ini lalu di ikat
membentuk satu tanaman utuh. Tanaman sambungan dibiarkan hingga tumbuh
menyatu dan siap untuk ditanam di lapangan.
Bermacam-macam cara pembiakan tanaman secara vegetatif diantaranya
adalah memperbanyak tanaman dengan cara menyetek. Perbanyakan tanaman ini
juga diperoleh tanaman baru yang mempunyai sifat seperti induknya. Antara lain
ketahanan terhadap serangan penyakit, rasa buah, warna dan keindahan bunga dan
sebagainnya.
Menyetek merupakan salah satu cara pembiakan vegetatif buatan yang
memperlakukan beberapa bagian dari tanaman seperti akar, batang, daun dan
tunas dengan maksud agar organ-organ tersebut membentuk akar yang selanjutnya
menjadi tanaman baru yang sempurna. Menyetek bertujuan untuk mendapatkan

1
tanaman yang sempurna dengan akar, batang dan daun dalam waktu relative
singkat serta memiliki sifat yang serupa dengan induknya, serta dipergunakan
untuk mengekalkan klon tanaman unggul dan juga untuk memudahkan serta
mempercepat perbanyakan tanaman. Setiap jenis tanaman mempunyai
kemampuan yang berbeda-beda dalam pembentukan akar meskipun setek dalam
kondisi yang sama.
Stek (cutting) adalah suatu teknik mengusahakan perakaran dan bagian-
bagian tanaman (cabang, daun, pucuk dan akar) yang mengandung mata tunas
dengan memotong dari induknya untuk tanaman, sehingga akan diperoleh
tanaman baru. Menurut bentuknya, setek dapat dibedakan menjadi beberapa
bagian antara lain adalah stek akar, stek daun, stek batang, stek umbi dan stek
pucuk. Perbanyakan secara stek akan diperoleh tanaman yang baru yang sifatnya
seperti induknya. Stek dengan kekuatan sendiri akan menumbuhkan akar dan
daun sampai dapat menjadi tanaman yang sempurna dan menghasilkan bunga dan
buah.
Stek batang adalah stek yang menggunakan bagian dari batang tanaman,
sebagian orang menyebutkan dengan stek cabang. Umumnya tanaman yang
dikembangbiakan dengan stek cabang adalah tanaman berkayu. stek cabang ini
meliputi stek cabang yang telah tua dan cabang yang setengah tua. Batang yang
dipilih untuk stek batang adalah biasanya mempunyai umur kurang lebih satu
tahun. Cabang yang terlalu tua tentunya kurang baik untuk distek karena sulit
untuk membentuk akar sehingga memerlukan waktu lama, sedangkan cabang
terlalu muda (tekstur lunak) proses penguapan sangat cepat sehingga stek menjadi
lemak dan akhirnya mati.
Stek batang banyak digunakan untuk memperbanyak tanaman hias dan
tanaman buah. Syarat multah tanaman yang akan diperbanyak secara stek batang
adalah harus memiliki cambium batang, cabang atau ranting yang ideal untuk
bahan stek harus memenuhi syarat berikut : tidak terlalu tua dan tidak terlalu
muda dengan umur tanaman sekitar 1 tahun dan batangnya berwarna kehijaun,
sehat yaitu bebas dari hama dan penyakit,subur, dan tidak tergantung keadaan
efisiensi atau kekurangan salah satu unsure yang diperoleh tanaman, diameter
bahan stek sekitar 0,5 cm dan bahan stek harus memiliki cukup bakal tunas.

1.2 Tujuan
Praktikum tentang pembiakan dengan stek dan penyambungan mempunyai tujuan:
1. Untuk mengenal dan mempelajari teknik pembiakan vegetatif, macam tanaman
yang dapat dikembangbiakan dengan stek dan penyambungan
2. Untuk mengetahui dan mempelajari pertumbuhan stek yang berasal dari stek
batang tanaman mawar, asoka, jeruk nipis dan kelor
3. Untuk mengetahui dan mempelajari pertumbuhan penyambungan entres durian
musang king dan durian montong.

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Perbanyakan Tanaman


Perbanyakan tanaman secara vegetatif dapat dilakukan secara alamiah
yaitu perbanyakan tanaman tanpa melalui perkawinan atau tidak menggunakan
biji dari tanaman induk yang terjadi secara alami tanpa bantuan campur tangan
manusia. Perbanyakan tanaman secara vegetatif alamiah dapat terjadi melalui
tunas, umbi, rizoma, dan geragih (stolon). Perbanyakan tanaman secara vegetatif
juga dapat dilakukan secara buatan yaitu perbanykan tanaman tanpa melalui
perkawinan atau tidak menggunakan biji dari tanaman induk yang terjadi secara
buatan dengan bantuan campur tangan manusia. Tanaman yang biasa
diperbanyak dengan cara vegetatif buatan adalah tanaman yang memiliki
kambium. Tanaman yang tidak memiliki kambium atau bijinya berkeping satu
(monokotil) umumnya tidak dapat diperbanyak dengan cara vegetatif buatan.
Perbanyakan tanaman secara vegetatif buatan dapat dilakukan dengan cara stek,
cangkok, dan merunduk (layering). Selain itu, perbanyakan tanaman dapat
dilakukan dengan cara okulasi dan sambung (grafting) (Rahman, Maria, dan
Yomi, 2012).

2.2 Teknik Stek


Perbanyakan dengan stek mudah dilakukan dan tidak memerlukan
peralatan khusus dan teknis pelaksanaan yang rumit. Dimana, perbanyakan
tanaman dengan stek ini mempunyai berbagai keunggulan seperti dapat
menghasilkan tanaman yang memiliki sifat yang sama dengan tanaman induknya
dan dengan dilakukan perbanyakan tanaman secara stek lebih cepat berbuah dan
berbunga, dapat menghasilkan tanaman baru dalam jumlah yang banyak walaupun
bahan tanaman yang tersedia terbatas atau sedikit (Effendi. S, 1985). Selain
adanya keunggulan, perbanyakan tanaman secara stek terdapat juga kelemahan
baik secara fisiologis maupun morfologi dalam pertumbuhan tanaman yaitu
perbanyakan tanaman secara stek ini memiliki akar serabut yang dimana akar
serabut pertumbuhan tanamannya rentan yaitu sangant mudah roboh pada keadaan
ikim yang kurang mendukung seperti angin kencang, tanah selalu jenuh, dsb
sehingga perakarannya dangkal, membutuhkan tanaman induk yang lebih besar
dan lebih banyak sehingga membutuhkan biaya yang banyak dan dalam
perbanyakan tanaman secara stek tingkat keberhasilanya sangat rendah (Najiati, S.
1995).
Akar adventif adalah akar yang muncul kerna adanya perlukaan, dimana pada
stek batang berasala dari sekelompok sel yang berbeda-beda untuk setiap jenis
tanaman yang kemudian kelompok sel berkembang menjadi sel merismatik. Pada
kebanyakan tanaman, inisiasi akar dan akar adventif terjadi setelah stek dibuat,

3
yang disebut dengan akar yang diinduksi (induced root) atau akar yang muncul
karena adanya perlukaan. Pembentukan akar adventif dibatasi oleh faktor-faktor
inherent (faktor bawaan dari tanaman) yang tidak ditranslokasikan didalam
jaringan tanaman. Namun, pembentukan akar adventif dapat dikatakan bahwa
interaksi antara faktor-faktor yang tidak bergerak (immobile) yang terletak
didalam sel yang berupa enzim-enzim tertentu dan nutrien serta faktor-faktor
endogen yang mudah ditranslokasikan yang saling berinteraksi untuk menciptakan
kondisi yang favorable untuk perakaran (Winners, 1975).

2.3 Teknik Penyambungan


Penyambungan atau enten (grafting) adalah penggabungan dua bagian
tanaman yang berlainan sedemikian rupa sehingga merupakan satu kesatuan yang
utuh dan tumbuh sebagai satu tanaman setelah terjadi regenerasi jaringan pada
bekas luka sambungan atau tautannya. Bagian bawah (yang mempunyai
perakaran) yang menerima sambungan disebut batang bawah (rootstock atau
understock) atau sering disebut stock. Bagian tanaman yang disambungkan atau
disebut batang atas (scion) dan merupakan sepotong batang yang mempunyai
lebih dari satu mata tunas (entres), baik itu berupa tunas pucuk atau tunas
samping. Penyambungan batang bawah dan batang atas ini biasanya dilakukan
antara dua varietas tanaman yang masih dalam spesies yang sama. Manfaat
sambungan pada tanaman adalah untuk memperbaiki kualitas dan kuantitas hasil
tanaman, dihasilkan gabungan tanaman baru yang mempunyai keunggulan dari
segi perakaran dan produksinya, juga dapat mempercepat waktu berbunga dan
berbuah (tanaman berumur genjah) serta menghasilkan tanaman yang sifat
berbuahnya sama dengan induknya(Adinugraha et al., 2007).
Pembiakan vegetatif dengan grafting memiliki beberapa keuntungan
dibandingkan dengan pembiakan generatif. Anakan yang dihasilkan mempunyai
sifat dan penampakan yang lebih baik dibanding induknya karena merupakan
penggabungan dua atau lebih sifat unggul dari tanaman yang berbeda, pembiakan
vegetatif dengan grafting juga dapat digunakan untuk membangun kebun pangkas
guna mendapatkan bibit yang mempunyai kualitas yang unggul. Selain itu,
metode ini tidak dibatasi oleh waktu, yang berarti pembiakan vegetatif melalui
grafting dapat dilakukan kapan saja. Dengan grafting ini juga, tanaman yang
disambungkan mempunyai potensi memperpendek periode juvenil, sehingga
dapat berbuah dan menghasilkan biji lebih cepat daripada tanaman yang berasal
dari biji. Tanaman hasil sambungan mempunyai sistem perakaran yang dalam,
tanaman lebih kuat karena batang bawahnya tahan terhadap keadaan tanah yang
tidak menguntungkan, temperatur yang rendah, atau gangguan-gangguan lain
yang terdapat di dalam tanah serta tanaman yang dihasilkan merupakan gabungan
dari dua sifat unggul dengan membuang sifat yang tidak diinginkan. (Harimurti,
2008).

4
BAB III

METODOLOGI PRAKTIKUM
3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum pembiakakan vegetatif, pembersihan lahan dilakukan pada
tanggal 16 februari 2019 kemudian dilanjutkan dengan penyetekan pada tanggal
10 maret 2019 dan penyambuangan pada tanggal 16 April 2019 pada pukul
07.15 – 09.00 WIB. Praktikum dilaksanakan di lahan percobaan Fakultas
Pertanian Universitas Jambi.

3.2 Alat dan Bahan


Alat yang digunakan dalam pelaksanaan praktikum ini: cutter,plastik
sungkup ,tali plastik, label dan silet. Sedangkan bahan yang digunakan dalam
praktikum stek menggunakan bunga asoka, bunga mawar, jeruk nipis dan kelor.
Sebagai perlakuan zpt rooton f dan kontrol.Sedangkan penyambungan dari entres
durian musang king dan montong dengan batang bawah durian lokal

3.3 Cara Kerja

3.3.1 Cara Kerja Stek.


1. Menyiapkan media tanam dalam polybag berupa campuran tanah dan pupuk
kompos

2. Menyiapka batang tanaman siap stek yang telah di potong 15 cm dan ujung untuk
ditanam dipotong miring

3. Memberi perlakuan kontrol dan rooton f pada masing-masing tanaman setiap stek

4. Menanam batang tanaman stek pada polybag

5. Memberi plastik sungkup

6. Melakukan pemeliharaan dan pengamatan

3.3 1 Cara Kerja Penyambungan Durian.


1. Menyiapkan bahan tanam yang akan digunakan sebagai batang bawah dan batang
atas serta alat yang diperlukan.
2. Memilih batang atas sebesar batang bawah dan membuat perlakuan sebagai
berikut:
a. Batang bawah daunnya dibuang
b. Batang atas daunnya tidak dibuang dengan menyisakan 2-3daun dan di
buang setengah, bertujuan mengurangi respirasi

5
3. Memotong batang bawah 3-5 cm di atas leher bonggol, kemudian membuat
sayatan celah berbentuk huruf V ke arah bawah sepanjang 1- 1,5 cm.
4. Memotong dan membuat sayatan batang atas berbentuk baji (lancip) sepanjang 1-
1,5 cm.
5. Menyisipkan batang atas (entres) ke dalam celah batang bawah.
6. Membalut sambungan dengan tali plastik mulai dari bawah ke atas.
7. Mengerudungi bidang sambungan dengan kantong plastik transparan dan
meletakkan di tempat teduh sekitar 3 minggu.

6
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Hasil

4.1.1. Stek
Variabel
Minggu Saat
Tanaman Perlakuan Panjang Jumlah
ke - Muncul
Tunas Tunas
Tunas
2 -
3 -
4 -
ZPT 5 - - -
6 -
7 -
8 -
Kelor
2 -
3 -
4 -
Kontrol 5 - - -
6 -
7 -
8 -
2 -
3 T1
4 T2 T1 = 3 cm
ZPT 5 T3 T2 = 15 cm 3
6 - T3 = 49,2 cm
7 -
Mawar
8 -
2 -
3 T1
Kontrol 4 - T1 = 0,5 cm 1
5 -
6 -
7 -
8 -

7
2 -
3 -
4 T1 T2 = 4,2 cm
ZPT 5 T2 & T3 T3 = 1,9 cm 3
6 - T4 = 0,9 cm
7 T4
Asoka 8 -
2 -
3 -
4 T1
Kontrol T1 = 2 cm
5 - 2
T2 = 1 cm
6 -
7 T2
8 -
2 -
3 T1
4
T1 = 3 cm
ZPT 5 - 1
6 -
7 -
8 -
Jeruk Nipis
2 -
3 -
4 -
Kontrol 5 - - -
6 -
7 -
8 -

8
4.1.2 Penyambungan (Grafting)

Hasil Penyambungan
Persentase
Tanaman Model
Batang Batang Keberhasilan
Atas Bawah
1 V Busuk Mati 0%
2 V Busuk Mati 0%
3 V Busuk Baik 0%
4 V Busuk Mati 0%
5 V Busuk Baik 0%
6 V Busuk Baik 0%
7 V Busuk Mati 0%
8 V Busuk Baik 0%
9 V Busuk Baik 0%
10 V Busuk Baik 0%
11 V Busuk Baik 0%
12 V Busuk Mati 0%
13 V Busuk Mati 0%
14 V Busuk Baik 0%
15 V Busuk Mati 0%
16 V Busuk Baik 0%
17 V Busuk Baik 0%
18 V Busuk Mati 0%
18 V Busuk Baik 0%
20 V Busuk Baik 0%
21 V Busuk Mati 0%
22 V Busuk Baik 0%
23 V Busuk Baik 0%
24 V Busuk Mati 0%
25 V Busuk Baik 0%
26 V Busuk Baik 0%
27 V Busuk Baik 0%
28 V Busuk Mati 0%

9
4.2 Pembahasan

4.2.1 Stek
Dari data yang diperoleh dari stek tanaman kelor ternyata tidak tumbuh akar,
dan pada bagian tengah batangnya tidak ditumbuhi tunas pada pengamatan
minggu ke-4 tanaman kelor mati hal ini dikarenakan kemungkinan terdapat bagian
tanaman yang terlalu muda dan yang terlalu tua dan tidak bisa tumbuh dengan
baik. Kegagalan dalam melakukan stek kemungkinan disebabkan karena batang
stek yang masih muda, temperatur yang terlalu tinggi. Pada dasarnya cara
perbanyakam stek akan kurang menguntungkan jika bertemu dengan kondisi
tanaman yang sukar berakar, akar yang baru terbentuk tidak tahan stress
lingkungan.
Dari data yang diperoleh dari stek tanaman mawar ternyata tanaman mawar
pada perlakuan zpt rooton f dan kontrol tumbuh tunas pada minggu ke-3 setelah
tanam. Tunas tersebut tumbuh dengan subur dan segar ini dikarenakan tumbuhan
tersebut disirami secara teratur tiap harinya selain itu sebelum ditanam tanaman
tersebut diberi ZPT terlebih dahulu agar dapat tumbuh lebih cepat. Sedangkan
pada mawar kontrol tidak tumbuh subur dan tumbuh tunas kecil dan tidak
bertambah panjang lagi ini disebabkan karena pada pucuk hanya mengandung
sedikit karbohidrat sehingga tunas sulit tumbuh pada bagian tersebut.
Dari data yang diperoleh dari stek tanaman mawar ternyata tanaman asoka
pada perlakuan zpt rooton f dan kontrol terlihat perbedaan yang sangat
singnifikan.
Dari data yang diperoleh dari stek tanaman jeruk pada perlakuan zpt rooton f,
setek dapat hidup sedangkan pada tanaman jeruk nipis yang tidak menggunakan
perlakuan atau kontrol tanaman mati.
Pada Rootone-F sangat aktif mempercepat dan memperbanyak keluarnya akar
sehingga penyerapan air dan unsur hara tanaman akan banyak dan dapat
mengimbangi penguapan air pada bagian tanaman yang berada di atas tanah dan
secara ekonomis penggunaan Rootone-F dapat menghemat tenaga, waktu, dan
biaya.
Keberhasilan perbanyakan dengan cara setek ditandai oleh terjadinya
regenerasi akar dan pucuk pada bahan setek sehingga menjadi tanaman baru yang
true to name dan true to type. Regenerasi akar dan pucuk dipengaruhi oleh faktor
intern yaitu tanaman itu sendiri dan faktor ekstern atau lingkungan. Salah satu
faktor intern yang mempengaruhi regenerasi akar dan pucuk adalah fitohormon
yang berfungsi sebagai zat pengatur tumbuh. Faktor intern yang paling penting
dalam mempengaruhi regenerasi akar dan pucuk pada setek adalah faktor genetik.
Jenis tanaman yang berbeda mempunyai kemampuan regenerasi akar dan pucuk
yang berbeda pula. Untuk menunjang keberhasilan perbanyakan tanaman dengan
cara setek, tanaman sumber seharusnya mempunyai sifat-sifat unggul serta tidak
terserang hama dan atau penyakit. Selain itu, manipulasi terhadap kondisi

10
lingkungan dan status fisiologi tanaman sumber juga penting dilakukan agar
tingkat keberhasilan setek tinggi.
Penyetekan dapat didefinisikan sebagai suatu perlakuan pemisahan,
pemotongan beberapa bagian dari tanaman seperti akar, batang, daun dan tunas
dengan maksud agar bagian-bagian tersebut membentuk akar. Stek dapat
dibedakan berdasarkan pada bagian dari tanaman yang dijadikan bahan stek, yaitu
stek akar, stek batang, stek pucuk, stek daun, stek umbi dan sebagainya. Stek yang
dilakukan pada bagian atas tanaman seperti stek pucuk, stek batang dan lain-lain,
bertujuan untuk mengoptimalkan pembentukan sistem perakaran baru. Sementara
stek yang dilakukan pada bagian bawah tanaman seperti stek akar bertujuan untuk
mengoptimalkan pembentukan sistem bagian atas tanaman. Sementara stek daun
bertujuan untuk pembentukan sistem perakaran dan batang tanaman. Keuntungan
pembiakan melaui stek adalah murah, dapat dilakukan dengan cepat, sederhana
dan tidak memerlukan tenaga terlatih. Selain itu pembiakan vegetatif melalui stek
dapat menghasilkan tanaman yang sempurna dengan akar, daun dan batang dalam
waktu relatif singkat serta bersifat serupa dengan induknya.

4.2.2 Penyambungan
Praktikum pembiakan vegetatif yang telah dilaksanakan yaitu tentang
sambung (grafting), tanaman yang disambung adalah durian. Dari praktikum yang
telah dilaksanakan hasilnya adalah dari 28 tanaman yang disambung 28 tanaman
yang mati. Hal ini dikarenakan beberapa faktor teknis dalam prosedur kerja teknik
sambung (grafting). Faktor terbesar yang mempengaruhi berhasilnya tanaman
sambung adalah kecocokan antara batang atas dan batang bawah, jika batang atas
dan batang bawah cocok maka dalam proses pengikatan dengan plastik transparan
akan tertutup sempurna sehingga air tidak masuk pada bagian yang disambung
sehingga tidak busuk ataupun berjamur. Syarat Tanaman yang dapat di Sambung
diantaranya adalah batang atas dan batang bawah harus kompatibel artinya harus
memiliki kecocokan jika disambungkan, jaringan kambium kedua tanaman harus
bersinggungan agar dapat melekat sempurna dan menghasilkan sambungan yang
layak tanam, penyambungan harus segera dilakukan sesudah entris diambil dari
pohon induk agar entris tidak terkontaminasi dengan mikroba penghambat
tumbuh, tunas yang tumbuh pada batang bawah (wiwilan) harus dibuang setelah
penyambungan selesai agar tidak menyaingi pertumbuhan tunas batang atas. Bila
sambungan tidak berhasil biasanya ditandai dengan adanya kering batang.

11
BAB V

PENUTUP
5.1 Kesimpulan
1. Pebanyakan tanaman secara vegetatif dengan menggunakan metode stek
(memanfaatkan bagian-bagian tanaman seperti batang, cabang, ranting, pucuk,
daun, umbi, dan akar) untuk menghasilkan tanaman yang baru yang sifatnya sama
dengan tanaman induknya didalam pelaksanaannya tidak memerlukan teknis yang
khusus karena pada umumnya stek ini mudah dilakukan.
2. Pemberian ZPT (zat pengatur tumbuh) dalam pertumbuhan tanaman stek yaitu
dapat membantu pembentukan kalus dan terjadi pembentukan akar.
3. Tanaman yang berhasil pada praktikum pembiakan dengan stek adalah mawar dan
sedangkan tanaman yang tidak berhasil dalam pembiakan dengan stek adalah
kelor.
1. Dari praktikum penyambungan yang telah dilaksanakan hasilnya adalah dari 5
tanaman yang disambung 4 tanaman yang mati dan hanya 1 yang berhasil
walaupun penyambungan ini sudah saya ulangi berkali-kali tetap saja hasilnya
gagal
2. Faktor terbesar yang mempengaruhi berhasilnya tanaman sambung adalah
kecocokan antara batang atas dan batang bawah, jika batang atas dan batang
bawah cocok maka dalam proses pengikatan dengan plastik transparan akan
tertutup sempurna sehingga air tidak masuk pada bagian yang disambung
sehingga tidak busuk ataupun berjamur.

5.2 Saran
Perbanyakan tanaman secara vegetatif sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor
di antaranya yaitu faktor lingkungan dan faktor keterampilan. Oleh karena itu,
sebaiknya praktikan dibekali dengan materi yang benar-benar matang mengenai
teknik perbanyakan yang akan dilakukan. Dengan demikian, diharapkan dapat
meminimalisir kegagalan dalam pelaksanaan praktikum.

12
DAFTAR PUSTAKA

Ikbal, 2011. Pembiakan Vegetatif Secara Stek. Google Search. Di web : https://
ikbalujna.wordpress.com/ 2011 /10/15/ pembiakan-vegetatif-secara-stek/
Noordi, 2015. Laporan Perbanyakan Tanaman Secara Stek. Google Search. Di web :
http://noordi14.blogspot.co.id/2015/06/laporan-perbanyakan-tanaman-secara.html
Di akses pada hari Jumat 10 mei 2019
Rivan, 2011. Laporan Resmi Praktikum Dasar-dasar Agronomi I Perbanyakan Vegetatif.
Google Search. Di web : https:// rivandipputra. wordpress.com /2011 /03/30
/laporan-resmi-praktikum-dasar-dasar-agronomi- acara-i-perbanyakan-vegetatif /
Di akses pada hari Jumat 10 Mei 2019

13
LAMPIRAN

Jeruk nipis rooton f


Asoka rooton f

Asoka kontrol Mawar rooton f

Stek kelor mati Mawar kontrol

14
Area stek

Proses penyambungan

Hasil penyambungan

Batang bawah lokal

15

Anda mungkin juga menyukai