Anda di halaman 1dari 25

EVALUASI KETERSEDIAAN AIR WADUK PONDOK UNTUK

PEMENUHAN KEBUTUHAN AIR IRIGASI DI KECAMATAN


KARANGJATI, KABUPATEN NGAWI

PROPOSAL SKRIPSI

OLEH:
ANGGIT SARWENDAH LARASATI
NIM: 160722614657

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS ILMU SOSIAL
JURUSAN GEOGRAFI
DESEMBER 2019
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kabupaten Ngawi merupakan daerah penghasil padi terbesar ke-4 di
Jawa Timur. Produksi padi setara beras di Jawa Timur menurut
Kabupaten/Kota menyebutkan bahwa Kabupaten Ngawi memiliki luas panen
yaitu 753.199 ha dengan produksi padi sebesar 432.672 ton (Provinsi Jawa
Timur dalam angka Tahun 2019). Hal ini karena sekitar 39% atau sekitar 504,8
km2 wilayah Kabupaten Ngawi berupa lahan sawah.
Produksi hasil pertanian padi yang tinggi tidak terlepas dari peran
irigasi, dimana irigasi merupakan aspek penting dalam meningkatkan
intensifikasi pertanian tanaman pangan. 16% laju kenaikan produksi padi
nasional dari tahun 1972-1988 disumbangkan dari variabel pengairan (Fagi,
1998). Dengan demikian, pengelolaan air irigasi harus dapat dilakukan dengan
optimal agar produksi pertanian pangan tidak menurun bahkan dapat
meningkat. Dalam pemenuhan kebutuhan air pertanian, irigasi dilakukan
dengan memanfaatkan air yang tersedia di sungai-sungai atau sumber air lain
seperti waduk menggunakan jaringan irigasi sebagai sarana pembagi air.
Waduk Pondok yang dibangun di kali Dero, Desa Gandong, Kecamatan
Bringin, Kabupaten Ngawi merupakan salah satu bangunan air untuk
memenuhi kebutuhan air masyarakat setempat. Fungi utama dari Waduk
Pondok ini adalah sebagai penyediaan air irigasi sawah seluas 3.596 Ha di 22
Desa yang ada di Kecamatan Bringin, Kecamatan Padas, dan Kecamatan
Karangjati. Air irigasi ini disalurkan melalui empat bendung, yaitu Bendung
Dero, Bendung Sambiroto, Bendung Plesungan, dan Bendung Padas. Volume
total Waduk Pondok ini sebesar 25.232.857 m3 dengan volume efektif sebesar
22.332.857 m3. (Susilo, 2019)
Beberapa tahun terakhir menunjukkan volume air Waduk Pondok yang
menurun secara signifikan. Pada Tahun 2018 - 2019 penurunan Volume
Waduk Pondok mencapai lebih dari 80% dengan sisa volume sekitar 7,8 m3
pada musim kemarau. Berdasarkan pengamatan dari menara pantau waduk
setempat, pemukaan air telah turun hingga 5 meter lebih. Penurunan volume
waduk yang drastis ini menyebabkan pintu air waduk ditutup karena digunakan
untuk pemeliharaan waduk. Akibatnya, lahan pertanian di sekitarnya tidak lagi
mendapatkan air irigasi dari Waduk Pondok hingga banyak lahan sawah yang
mengalami bero. Beberapa petani memilih untuk mengambil air melalui
pembuatan sumur.
Upaya peningkatan efesiensi penggunaan air irigasi terutama yang
bersumber dari waduk, sengat mendesak diimplementasikan. Penghematan
penggunaan air mulai dari masa tanam musim hujan dapat memperluas areal
tanam musim kemarau atau peningkatan indek penanaman (Fagi, 1998). Maka
sangat penting untuk mengetahui jumlah air untuk irigasi yang tersedia di
Waduk Pondok dan jumlah air yang dibutuhkan bagi tanaman padi. Kemudian
dilakukan evaluasi imbangan air yang tersedia dalam pemenuhan kebutuhan
air irigasi tersebut. Sehingga dapat diambil langkah-langkah untuk
mendapatkan solusi yang tepat dari permasalahan yang terjadi. Dengan
demikian diharapkan produksi pertanian di Kabupaten Ngawi tidak mengalami
penurunan bahkan dapat meningkat.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka penelitian ini
memiliki rumusan masalah sebagai berikut:
a. Bagaimana ketersediaan air irigasi Waduk Pondok di Kecamatan
Karangjati, Kabupaten Ngawi?
b. Bagaimana kebutuhan air irigasi di Kecamatan Karangjati, Kabupaten
Ngawi?
c. Bagaimana evaluasi imbangan air antara ketersediaan air dengan kebutuhan
air irigasi di Kecamatan Karangjati, Kabupaten Ngawi?

1.3 Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah yang telah disebutkan, tujuan dari
penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Mengetahui jumlah ketersediaan air irigasi Waduk Pondok di Kecamatan
Karangjati, Kabupaten Ngawi
b. Mengetahui jumlah kebutuhan air irigasi di Kecamatan Karangjati,
Kabupaten Ngawi
c. Melakukan evaluasi imbangan air antara ketersediaan air dengan kebutuhan
air irigasi di Kecamatan Karangjati, Kabupaten Ngawi

1.4 Manfaat
a. Bagi Penulis
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi sebuah sarana untuk
mengimplementasikan wawasan dan pengetahuan penulis mengenai
ketersediaan air waduk dan kebutuhan air irigasi pada permasalahan di
lapangan.
b. Bagi Pemerintah
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan
pertimbangan untuk perencanaan kebijakan pengelolaan air waduk Pondok
dalam memenuhi kebutuhan air irigasi serta sebagai bahan evaluasi kinerja
pengelolaan air Waduk Pondok untuk dilakukan perbaikan agar lebih efektif
dan efisien.
c. Bagi Masyarakat
Memberikan wawasan dan pengetahuan kepada masyarakat
mengenai ketersediaan air Waduk Pondok untuk memenuhi kebutuhan air
Irigasi di Kecamatan Karangjati, Kabupaten Ngawi.
d. Bagi Ilmu Pengetahuan
Dapat menambah khasanah keilmuan mengenai kebutuhan air untuk
irigasi serta ketersediaan air waduk dan evaluasi imbangan air yang
merupakan bagian dari bidang pengelolaan air.

1.5 Definisi Operasional


a. Ketersediaan Air
Ketersediaan air merupakan volume air yang terdapat dalam siklus
hidrologi di suatu wilayah, yang merupakan gabungan dari air hujan, air
permukaan, dan airtanah. Air hujan yang jatuh ke permukaan bumi akan
mengalami proses evapotranspirasi, sebagian akan masuk ke dalam tanah,
dan sisanya akan mengalir di permukaan bumi sebagai aliran permukaan
menuju lokasi yang lebih rendah (Sosrodarsono dan Takeda, 2002).
b. Kebutuhan Air Irigasi
Kebutuhan air irigasi adalah jumlah volume air yang diperlukan untuk
memenuhi kebutuhan evaporasi, kehilangan air, kebutuhan air untuk
tanaman dengan memperhatikan jumlah air yang diberikan oleh alam
melalui hujan dan kontribusi air tanah (Sosrodarsono dan Takeda, 2003).
c. Waduk
Waduk merupakan badan air tergenang (lentik) yang dibuat dengan
cara membendung sungai, umumnya berbentuk memanjang mengikuti
bentuk awal dasar sungai. Berdasarkan pada tipe sungai yang dibendung dan
fungsinya, dikenal tiga tipe waduk, yaitu waduk irigasi, waduk lapangan dan
waduk serbaguna (Perdana, 2006)
d. Irigasi
Irigasi adalah usaha penyediaan, pengaturan dan pembuangan air
irigasi untuk menunjang pertanian yang jenisnya meliputi irigasi
permukaan, irigasi rawa, irigasi air bawah tanah, irigasi pompa, dan irigasi
tambak (PP No. 20 tahun 2006 tentang Irigasi).
e. Evaluasi
Evaluasi merupakan
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Kajian Empiris
Kajian empiris adalah kajian yang diperoleh dari observasi atau
percobaan. Kajian empiris adalah informasi yang membenarkan suatu
kepercayaan dalam kebenaran atau kebohongan suatu klaim empiris. Tinjauan
empiris merupakan hasil penelitian terdahulu yang mengemukakan beberapa
konsep yang relevan dan terkait dengan sikap dan perilaku konsumen.
Beberapa studi empiris maupun deskriptif yang menjadi acuan penelitian ini
antara lain:
a. Akhmad Faishal (2012), "Evaluasi Ketersediaan dan Kebutuhan Air untuk
Pertanian Daerah Irigasi Boro Kabupaten Purworejo". Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahu jumlah ketersediaan air di Bendung Boro
dengan perhitungan debit Sungai Bogowonto tahun 2001 - 2010 dengan
probabilitas 80%, jumlah kebutuhan air pertanian di Daerah Irigasi Boro
berdasarkan perhitungan CWR, FWR, dan PWR, serta evaluasi imbangan
air dengan membandingkan jumlah ketersediaan air dengan kebutuhan air
irigasi. Hasil penelitian ini adalah ketersediaan air di Bendung Boro tidak
dapat mencukupi seluruh kebutuhan air pertanian sepanjang tahun dimana
terjadi kekurangan air pada Bulan Oktober I sebesar 1.372,59 liter/detik,
Bulan Oktober II sebesar 1.044,12 liter/detik, Bulan Mei II sebesar 969,27
liter/detik, Bulan Juni I sebesar 2.215,11 liter/detik, dan Bulan Juni II
sebesar 465,95 liter/detik.
b. Anton Priyonugroho (2014), "Analisis Kebutuhan Air Irigasi (Studi Kasus
pada Daerah Irigasi Sungai Air Keban Daerah Kabupaten Empat Lawang)".
Penelitian ini bertujuan untuk menghitung kebutuhan air irigasi
menggunakan perhitungan manual (KP-01) dan menggunakan Software
Cropwat Version 8.0. Hasil penelitian ini adalah kebutuhan air irigasi
dengan pola tanam padi-padi dimulai awal pengolahan lahan pada awal
Bulan November maka pada perhitungan manual (konsep KP-01)
kebutuhan air irigasi maksimum didapat sebesar 3,12 m3/dt sedangkan
CROPWAT sebesar 1,67 m3/dt. Untuk minimum pada manual (konsep KP-
01) sebesar 0,26 m3/dt sedangkan CROPWAT sebesar 0,06 m3/dt.
c. Yosehi Mekiuw (2012), "Studi Neraca Air Waduk Lapangan (Long
Storage) di Desa Semangga Jaya Kabupaten Merauke". Penelitian ini
bertujuan untuk menentukan kemampuan waduk lapangan (long storage)
dalam memasok kebutuhan air tanaman dalam bentuk neraca air dan
menentukan pola tanam yang tepat berdasarkan tingkat ketersediaan air
pada waduk lapangan. Ketersediaan air dihitung dengan menghitung Total
aliran masuk (Qi) pada waduk lapangan berasal dari hujan dan limpasan
permukaan sedangkan total aliran keluar (Qo) tergantung pada evaporasi
dan rembesan. Menghitung kebutuhan air irigasi yang kemudian dilakukan
penetapan alternatif pola tanam. Hasil penelitian ini adalah Ketersediaan air
pada waduk lapangan mampu mencukupi kebutuhan air tanaman karena
neraca air dalam kondisi surplus. Total air tersedia pada waduk lapangan
adalah ± 60.056,29 m3, total kebutuhan air tanaman per hektar adalah ±
6.143,29 m3, sisa air ± 53.913,00 m3. Total kebutuhan air pada masing-
masing pola tanam untuk alternatif I (1.666,17 m3/ha), alternatif II
(1.603,82 m3/ha) dan alternatif III (1.641,08 m3/ha).

2.2. Ketersediaan Air


Ketersediaan air adalah merupakan besarnya cadangan air yang tersedia
untuk kebutuhan irigasi (Radjulaini dalam Nuryanto, 2005: 12). Seluruh
keperluan air bagi tanaman dan untuk kelembaban tanahnya dapat dicukupi
oleh ketersediaan air Sumber Daya Air yang berasal dari air permukaan dan air
tanah. Sumber dari air permukaan yaitu sungai, danau, waduk, dan air hujan,
sedangkan sumber dari air tanah adalah air tanah bebas dan air tanah tertekan
(Kartasapoetra, 1991: 7).
Ketersediaan air dapat dibedakan menjadi 2, yaitu:
a. Ketersediaan Air Permukaan
Air permukaan adalah air yang terdapat pada permukaan tanah baik
yang mengalir di permukaan tanah, seperti sungai, air hujan, ataupun yang
menggenang di permukaan tanah, seperti danau atau waduk. Air permukaan
menurut Haryoso (1982: 5) merupakn air hujan yang jatuh di atas
permukaan tanah yang mengalir sebagai aliran permukaan (run off),
kemudian masuk ke dalam sungai dan pada akhirnya mengalir ke laut atau
ke danau, sebagian ditampung di waduk untuk keperluan air irigasi.
b. Air Tanah
Air tanah adalah air yang bergerak di dalam tanah yang terdapat di
dalam ruang antara butir-butir tanah dan di dalam rekahan-rekahan dari
batuan (Suyono dan Takeda, 1985:93). Lapisan tanah yang terletak di
bawah permukaan tanah dinamakan daerah jenuh (saturated zone),
sedangkan daerah yang tidak jenuh biasanya terletak di atas daerah jenuh
sampai ke permukaan tanah, dimana rongga-rongganya berisi air dan udara
(Soemarto, 1995: 16).
Daerah penampungan (reservoir, reservation) air tanah terdapat di
lapisan bagian bawah tanah, tepatnya pada bagian padat atau batuan yang
sarang yang biasanya terbentuk dari bahan-bahan pasir, kerikil, tufa
vulkanis, batu gamping dan beberapa bahan lainnya. Lapisan penampung
air tanah ini selanjutnya dikenal sebagai lapisan pembendung air atau
aquifer, air yang terkumpul disini mudah bergerak dari tempat yang tinggi
ke tempat-tempat yang lebih rendah (Kartasapoetra, 1991: 9).

2.3. Kebutuhan Air Irigasi


Kebutuhan air pertanian/irigasi adalah jumlah volume air yang
diperlukan untuk memenuhi kebutuhan evapontranspirasi, kehilangan air,
kebutuhan air untuk tanaman dengan memperhatikan jumlah air yang diberikan
oleh alam melalui hujan dan kontribusi air tanah (Hadihardjaja dkk,1997).
Menurut Abdurrachim (1974 dalam Utomo 2006) kebutuhan air
dibagikan pertanian dilakukan melalui tiga tahap perhitungan, yaitu kebutuhan
air konsumtif (Crop Water Requirement), kebutuhan air petak sawah (Farm
water Requirement) dan kebutuhan air untuk seluruh pertanian (Project Water
Requirement). Kebutuhan air pada lahan pertanian ditentukan oleh faktor
penyiapan lahan, penggunaan konsumtif, perkolasi dan kehilangan air selama
penyaluran.
a. Kebutuhan Air Konsumtif (Crop Water Requirement)
Kebutuhan air konsumtif atau CropWater Requirement (CWR)
adalah jumlah air yang digunakan untuk penguapan dari permukaan air atau
tanah dan yang digunakan tanaman untuk membangun jaringan tubuhnya
(Blaney, 1962). Kebutuhan air konsumtif dapat dihitung menggunakan
rumus sebagai berikut.
CWR = Eo x Kc (1)

Keterangan:
CWR : Kebutuhan air konsumtif (mm/hari)
Eo : Evaporasi (mm/hari)
Kc : Faktor tanaman
Besarnya faktor tanaman (Kc) dipengaruhi oleh jenis tanaman dan
fase pertumbuhan. Dalam penelitian ini harga Kc untuk menghitung
besarnya kebutuhan air konsumtif menggunakan ketetapan seperti disajikan
pada Tabel berikut:
Tabel 2.1. Nilai Faktor Tanaman
Jenis Masa Pertumbuhan Faktor Kebutuhan
Tanaman Tanaman Air (mm)
Padi a) Garapan untuk bibit dan 200
pemindahan bibit
b) Persemaian 100
c) Pertumbuhan vegetatif 1,1
d) Pertumbuhan generatif 1,35
sampai berbunga
e) Pertumbuhan sampai 0,8
masak
Palawija yang a) Garapan 100
memerlukan b) Pertumbuhan bibit 0,5
air banyak c) Pertumbuhan vegetatif 0,65
d) Pembungaan 0,8
e) Masak 0,4
Palawija yang a) Garapan 75
memerlukan b) Pertumbuhan bibit 0,4
air sedang c) Pertumbuhan vegetatif 0,55
d) Pembungaan 0,7
e) Masak 0,3

Sumber: Abdurrachi, (1974 dalam Utomo, 2006)


Untuk mengetahui besarnya nilai evaporasi digunakan perhitungan
metode Penman (1948 dalam Soemarto, 1987) dengan persamaan sebagai
berikut:
𝐼
(0,94 𝑥 𝐼𝐼 𝑥 𝐼𝐼𝐼−𝐼𝑉 𝑥 𝑉 𝑥 𝑉𝐼)+𝑉𝐼𝐼(𝑉𝐼𝐼𝐼−𝑒2)
59
𝐸𝑜 = (2)
𝐼+0,485

Keterangan:
Eo : evaporasi (mm/hari)
I : kemiringan gafis hubungan antara suhu udara dengan tekanan uap
jenuh pada suhu T (mm Hg/oC)
II : merupakan nilai 0,28 + 0,48 n/N, dimana n: lama penyinaran
matahari dan N: panjang hari
III : radiasi ekstra tertestrial yang datang (Kal/cm2/hari)
IV : nilai dari 118,10-9 (273 + t2)4 merupakan fungsi suhu
V : nilai dari 0,47 – 0,77 √e2 merupakan fungsi tekanan uap pada
ketinggian 2 meter
VI : nilai dari 0,2 + 0,8 n/N merupakan fungsi persentase penyinaran
VII : nilai dari 0,485 x 0,35 (0,5 + 0,54 U2) merupakan fungsi
kecepatan angin pada ketinggian 2 meter
VIII : nilai dari esat (tekanan uap jenuh)
e2 : tekanan uap aktual

b. Kebutuhan Air Petak Sawah (Farm Water Requirement)


Kebutuhan air petak sawah atau Farm Water Requirement (FWR)
adalah jumlah kebutuhan air yang digunakan oleh tanaman berupa besarnya
evapotranspirasi ditambah dengan besarnya laju perkolasi dikurangi dengan
curah hujan efektif. FWR dihitung mengggunakan rumus sebagai berikut:
FWR = (CWR + Pe) – Re (3)

Keterangan:
FWR : kebutuhan air petak sawah (mm/hr)
CWR : kebutuhan air konsumtif (mm/hr)
Pe : perkolasi (mm/hr)
Re : hujan efektif (mm/hr)

Perhitungan besarnya laju perkolasi dilakukan dengan menggunakan


persamaan Van Genuchten (1991 dalam Hunt, 2004). Persamaan ini
didasarkan pada karaktersitik gerakan air dalam tanah yang dipengaruhi
oleh sifat tanah dalam menahan maupun meloloskan air seperti
konduktivitas hidrolik, titik layu, kapasitas lapangan, porositas dan
kelembaban tanah. Rumus yang digunakan untuk menghitung besarnya laju
perkolasi dijabarkan sebagai berikut:

𝑆𝑚−𝑊𝑝 𝑆𝑚−𝑊𝑝 1
𝑃𝑒 = 𝐾𝑠𝑎𝑡 𝑥 ( 𝑃−𝑊𝑝 ) 2 x ( 1 − (1 − ( 𝑃−𝑊𝑝 𝑥 𝐹𝑐 ) 2)) 𝑥 𝐹𝑐 (4)

Keterangan:

Pe : perkolasi (mm/jam)

Ksat : konduktivitas hidrolik jenuh (mm/jam)

Sm : kelembaban tanah (%)

P : porositas (%)

Wp : titik layu (%)

Fc : kapasitas lapangan (%)

Penentuan nilai konduktivitas hidrolik jenuh, kelembaban tanah,


titik layu dan kapasitas lapangan menggunakan pemodelan Soil Water
Characteritic (SWC) yang dikembangkan oleh USDA. SWC merupakan
pemodelan untuk mengukur nilai karakteristik hidraulik air dalam tanah
berdasarkan tekstur tanah.

Tabel 2.2. Nilai Porositas Tanah Berbagai Kelas Tekstur


No Kelas Tekstur Porositas (%)
1 Pasir 43,7
2 Pasir Berglempu 43,7
3 Lempung Berpasir 45,3
4 Lempung 46,3
5 Lempung Berdebu 50,1
6 Lempung Liat Berpasir 39,8
7 Lempung Berliat 46,4
8 Lempung Liar Berdebu 47,1
9 Liat Berpasir 43,0
10 Liat Berdebu 47,9
11 Liat 47,5
Sumber: Rawls (1982)
Jumlah curah hujan efektif dihitung dengan menggunakan metode
Soil Conservation Services (National Engineering Book Part 623, 1993)
yang dikembangkan oleh USDA dengan rumus sebagai berikut:

𝐸𝑅 𝑅2 𝑅2 𝑅
= (−0,001 𝐸𝑇 + 0,025 + 0,0016 𝑅 + 0,6 ) (5)
𝐸𝑇 𝐸𝑇2 𝐸𝑇

Keterangan:
ER : hujan efektif (mm/hr)
ET : evapotranspirasi (mm/hr)
R : curah hujan (mm/hr)

c. Kebutuhan Air Seluruh Pertanian (Project Water Requirement)


Kebutuhan air untuk seluruh pertanian atau Project Water
Requirement (PWR) adalah jumlah kebutuhan air yang diperlukan untuk
seluruh lahan yang dipengaruhi oleh kebutuhan air petak sawah, luas lahan
dan kehilangan air di saluran irigasi. Rumus yang digunakan untuk
menghitung besarnya kebutuhan air untuk seluruh pertanian adalah sebagai
berikut:
𝐹𝑊𝑅
PWR = (6)
𝐸𝑓

Keterangan:
PWR : kebutuhan air untuk seluruh pertanian (mm/hari)
FWR : kebutuhan air petak sawah (mm/hari)
Ef : efisiensi saluran irigasi (%)
Efisiensi saluran irigasi adalah perbandingan antara jumlah air yang
sampai ke areal pertanian dengan jumlah air yang berada di saluran
intake/sumber. Perhitungan efisiensi saluran irigasi menggunakan metode
dari Hansen (1986) dengan rumus sebagai berikut:
𝑄2
Ef = x 100% (7)
𝑄1

Keterangan:
Ef : efisiensi irigasi (%)
Q1 : jumlah air yang keluar dari bangunan sadap/bendung (lt/dt)
Q2 : jumlah air yang sampai di lahan pertanian (lt/dt)

2.4. Cropwatt Version 8.0


CROPWAT adalah decision support system yang dikembangkan oleh
Divisi Land and Water Development FAO berdasarkan metode Penman-
Monteith, untuk merencanakan dan mengatur irigasi. CROPWAT
dimaksudkan sebagai alat yang praktis untuk menghitung laju evapotranspirasi
standar, kebutuhan air tanaman dan pengaturan irigasi tanaman (Marica, 2000).
Dari beberapa studi didapatkan bahwa model Penmann-Monteith memberikan
pendugaan yang akurat sehingga FAO merekomendasikan penggunaannya
untuk pendugaan laju evapotranspirasistandar dalam menduga kebutuhan air
bagi tanaman (Itenfisul.et.al., 2003 ; Berengena dan Gavilan, 2005) (Tumiar,
Bustomi, Agus : 2012). Berikut beberapa penjelasan tentang CROPWAT
version 8.0:
a) Data input yang dibutuhkan untuk software CROPWAT version 8.0
adalah:
1. Data metereologi berupa suhu udara maksimun dan minimun,
kelembaban relatif, lama penyinaran dan kecepatan angin untuk
menentukan nilai evapotranspirasi tanaman potensial (ETo) melalui
persamaan Penman-Monteith.
2. Data curah hujan harian (periode atau bulanan).
3. Data tanaman berupa tanggal penanaman, koefisien tanaman (Kc), fase
pertumbuhan tanaman, kedalaman perakaran tanaman, fraksi deplesi dan
luas areal tanam (0-100% dari luas total area).
b) Untuk penentuan jadwal irigasi (schedulling), dibutuhkan data :
1. Tipe tanah yang meliputi total air tersedia, kedalaman perakaran
maksimum, deplesi lengas tanah awal (% dari kadar lengas total tersedia)
2. Ketebalan pemberian air yang dikehendaki.
c) Data yang dihasilkan dari analisis software CROPWAT version 8.0 berupa
tabel dan grafik. Hasil analisis dapat dilihat dalam bentuk interval harian,
10 harian atau bulanan. Data yang dihasilkan software CROPWAT version
8.0 antara lain :
1. Evapotranspirasi tanaman potensial, ETo (mm/periode)
2. Kc tanaman, nilai rata-rata dari koefisien tanaman untuk setiap periode.
3. Curah hujan efektif (mm/periode), jumlah air yang masuk ke dalam
tanah.
4. Kebutuhan air tanaman, CWR atau ETm (mm/periode)
5. Kebutuhan air irigasi, IWR (mm/periode)
6. Total air tersedia, TAM (mm)
7. Air yang siap digunakan tanaman, RAM (mm)

2.5. Waduk
Waduk didefinisikan sebagai perairan menggenang atau badan air yang
memiliki ceruk, saluran masuk (inlet), saluran pengeluaran (outlet) dan
berhubungan langsung dengan sungai utama yang mengairinya. Waduk
umumnya memiliki kedalaman 16 sampai 23 kaki (5-7 m) (Shaw et al., 2004).
Menurut Perdana (2006) waduk merupakan badan air tergenang (lentik) yang
dibuat dengan cara membendung sungai, umumnya berbentuk memanjang
mengikuti bentuk awal dasar sungai.
Berdasarkan pada tipe sungai yang dibendung dan fungsinya, dikenal
tiga tipe waduk, yaitu waduk irigasi, waduk lapangan dan waduk serbaguna.
Waduk irigasi berasal dari pembendungan sungai yang memiliki luas antara
10–500 ha dan difungsikan untuk kebutuhan irigasi. Waduk lapangan berasal
dari pembendungan sungai episodik dengan luas kurang dari 10 ha, dan
difungsikan untuk kebutuhan sehari-hari masyarakat di sekitar waduk.
Menurut Perdana (2006) berdasarkan fungsinya, waduk diklasifikasikan
menjadi dua jenis yaitu :
1. Waduk eka guna (single purpose)
Waduk eka guna adalah waduk yang dioperasikan untuk memenuhi
satukebutuhan saja, misalnya untuk kebutuhan air irigasi, air baku atau
PLTA. Pengoperasian waduk eka guna lebih mudah dibandingkan dengan
waduk multiguna dikarenakan tidak adanya konflik kepentingan di dalam.
Pada waduk ekaguna pengoperasian yang dilakukan hanya
mempertimbangkan pemenuhan satu kebutuhan.
2. Waduk multi guna (multi purpose)
Waduk multi guna adalah waduk yang berfungsi untuk memenuhi
berbagai kebutuhan, misalnya waduk untuk memenuhi kebutuhan air,
irigasi, air baku dan PLTA. Kombinasi dari berbagai kebutuhan ini
dimaksudkan untuk dapat mengoptimalkan fungsi waduk dan meningkatkan
kelayakan pembangunan suatu waduk.

2.6. Irigasi
Irigasi adalah menyalurkan air yang perlu untuk pertumbuhan tanaman
ke tanah yang diolah dan mendistribusinya secara sistematis (Sosrodarsono dan
Takeda, 2003). Irigasi adalah usaha penyediaan, pengaturan dan pembuangan
air irigasi untuk menunjang pertanian yang jenisnya meliputi
irigasipermukaan, irigasi rawa, irigasi air bawah tanah, irigasi pompa, dan
irigasi tambak (PP No. 20 tahun 2006 tentang Irigasi).
Irigasi dapat dibedakan menjadi dua, yaitu Irigasi teknis dan Irigasi
setengah teknis.
1) Irigasi teknis ialah sistim irigasi yang sudah mempunyai saluran permanen
dan terdapat bangunan-bangunan pembagi air yang baik sehingga air yang
masuk pada saluran dan air yangmasuk kepetak sawah dapat terukur.
2) Irigasi setengah teknis merupakan sistem irigasi yang airnya sudah dapat
di ukur tetapi banyaknya aliran tidak dapat di ukur, berarti ada bangunan
bangun tetap guna mengatur penyaluran air tetapi terdapat bangunan-
bangunan pengukur air, sehingga pembangunan air tidak dapat dilakukan
seksama. Antara (1994)
Dalam suatu daerah irigasi teknis tidak jarang pula dijumpai suatu cara
klasifikasi saluran sebagai berikut :
1. Saluran primer
2. Saluran sekunder
3. Saluran sub-sekunder
4. Saluran tersier
5. Saluran sub-tersier
6. Saluran kwarter
BAB III
METODOLOGI

3.1. Rancangan Penelitian


Penelitian dilakukan di Kecamatan Karangjati, Kabupaten Ngawi.
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode pendekatan
deskriptif. Penelitian kuantitatif pada penelitian ini menggambarkan obyek
penelitian dengan menggunakan pendekatan angka yaitu berupa besarnya
ketersediaan air dan kebutuhan air pada sawah irigasi, sedangkan
pendekatan deskriptif adalah prosedur pemecahan masalah yang diselidiki
dengan menggambarkan atau melukiskan keadaan subyek atau obyek
penelitian (seseorang, lembaga atau masyarakat) berdasarkan fakta-fakta
yang tampak sebagaimana adanya. ( Nawawi, 1983 :63).

3.2. Jenis dan Sumber Data


a. Jenis Data
Data yang digunakam dalam penelitian ini terdapat 2 jenis, yaitu
data primer dan data sekunder sebagai berikut:
1) Data Primer
Data primer adalah Data primer adalah data yang diperoleh
langsung dari subjek penelitian. Data primer yang digunakan dalam
penelitian ini meliputi tekstur tanah, infiltrasi, dan debit intake dan
aliran yang sampai ke petak sawah.
2) Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang telah tersedia dalam
berbagai bentuk. Biasanya sumber data ini lebih banyak sebagai data
statistik atau data yang sudah diolah sedemikian rupa sehingga siap
digunakan dalam statistik biasanya tersedia pada kanto-kantor
pemerintahan, biro jasa data, perusahaan swasta atau badan lain
yang berhubungan dengan pengunaan data. ( Moehar, 2002:113)
Data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini meliputi
data curah hujan setengah bulanan selama 10 tahun terakhir (2008 -
2018), data klimatologi (suhu, tekanan, kelembaban relatif,
kecepatan angin, dan radiasi matahari) tahun 2008 - 2018, data debit
sungai Dero tahun 2017 - 2018, data teknis waduk (luas waduk,
volume maksimum, volume minimum), data luas pertanian, jenis
tanaman pertanian, dan pola tanam.
b. Sumber Data
Sumber Data di dalam penelitian merupakan faktor yang sangat
penting, karena sumber data akan menyangkut kualitas dari hasil
penelitian. Oleh karenanya, sumber data menjadi bahan pertimbangan
dalam penentuan metode pengumpulan data. Sumber data terdiri dari :
sumber dat pimer dan sumber data sekunder. (Purhantara, 2010:79).
1. Data Curah Hujan setengah bulanan tahun 2008 - 2018 dari Dinas
Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Ngawi
2. Data Klimatologi (suhu, tekanan, kelembaban relatif, kecepatan
angin, dan radiasi matahari) tahun 2008 - 2018 dari Dinas Pekerjaan
Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Ngawi.
3. Data Teknis Waduk Pondok dari Dinas Pekerjaan Umum dan
Penataan Ruang Kabupaten Ngawi
4. Data Debit Sungai Dero tahun 2017 - 2018 dari Dinas Pekerjaan
Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Ngawi
5. Data jenis tanaman pertanian, luas pertanian, dan pola tanam di
Kecamatan Karangjati dari Dinas Pertanian Kabupaten Ngawi
6. Data tekstur, infiltrasi, dan debit intake serta debit yang sampai ke
petak sawah dari pengukuran di lapangan

3.3.Teknik Pengumpulan Data


3.4. Teknik Analisis Data
Analisa data bertujuan untuk menyederhanakan data agar mudah dan
diinterpretasikan. Data yang terkumpul kemudian diseleksi, diolah, disusun
dalam bentuk table dan grafik yang kemudian dibuat kesimpulan. Berikut
adalah data yang akan dianalisis dalam penelitian ini, diantaranya:
a. Hujan Rata-rata Wilayah
Cara ini adalah perhitungan rata-rata aljabar curah hujan di dalam dan
di sekitar daerah yang bersangkutan.
R = 1/n (R1, R2, ..., Rn)
Keterangan:
R: Curah Hujan Wilayah (mm)
n: Jumlah titik pos pengamatan
R1, R2, Rn : jumlah curah hujan di tiap titik pengamatan (mm)
b. Hujan Efektif
Curah hujan efektif ditentukan besarnya R80 yang merupakan curah
hujan yang besarnya dapat dilampaui sebanyak 80% atau dengan kata
lain dilampauinya 8 kali kejadian dari 10 kali kejadian. Dengan kata
lain bahwa besarnya curah hujan yang lebih kecil dari R80 mempunyai
kemungkinan hanya 20%.
R80 = m/(n+1); dimana m = R80 x (n+1)
Keterangan:
R80 = Curah hujan sebesar 80%
n = Jumlah data
m = Rangking curah hujan yang dipilih
Perhitungan Curah Hujan Efektif juga dakukan dengan CROPWAT
Version 8.0 dengan cara sebagai berikut:
1. Data hujan yang di input adalah data curah hujan R80 (rata-rata)
dalam periode per bulan.
2. Untuk curah hujan efektif padi, input data R80 per bulan kemudian
klik option-Fixed Percentage(70%)
3. Untuk palawija, curah hujan R80 per bulannya telah dikalikan
dengan 50% kemudian klik option-USDA soil conservation service.
4. Curah hujan efektif (Eff rain) otomatis terkakulasi.
c. Evapotranspirasi
Persamaan-persamaan empiris dalam perhitungan evaporasi
potensial metode Penman modifikasi ini adalah sebagai berikut:
ET0 = C × W Rn 1 W f u ea ed
Keterangan:
ET0 = Evaporasi potensial (mm/hari)
C = Suatu faktor penyesuaian dari kondisi siang dan malam (angka
koreksi).
W = Faktor yang tergantung pada temperatur rata-rata (suhu) dan
ketinggian tempat (elevasi).
Rn = Jumlah radiasi netto (mm/hari) = 0,75 . Rs – Rn1Rs = Jumlah
radiasi gelombang pendek yang sampai kepermukaan bumi
(mm/hari) = Ra x N/n x 0,25 x 0,54
Ra = Radiasi gelombang pendek yang memenuhi batas luar atmosfir
bumi (angka angot), dalam (mm/hari).
n = Rata-rata lamanya matahari sebenarnya (mm/hari)
N = lamanya cahaya matahari yang dimungkinkan secara maksimum
(mm/hari)
Rn1 = Radiasi gelombang panjang netto (mm/hari) = f(t) . f(ed) . f(n/N)
f(t) = fungsi suhu dari tabel hubungan antara suhu (t) dengan nilai
f(t).f(ed)= fungsi tekanan uap = 0,34 0,044 ed
f(n/N) = fungsi kecerahan matahari = N/n x 0,1 x 0,9f(u) = fungsi
kecepatan angin rata-rata siang hari di ketinggian 2 meter (m/detik)
= 0,27 . (1+0,864 . U)
U = kecepatan angin rerata (m/detik)
ea–ed = defisit tekanan uap jenuh dengan tekanan uap sebenarnya pada
suhu udara rata-rata (mbar)
ed = ea × RH
ea = tekanan uap sebenarnya.
RH = Kelembaban relatif (%)
Evapotranspirasi dapat dihitung menggunakan Cropwatt
Version 8.0 dengan cara sebagai berikut:
1. Input data country, negara dimana data klimatologi berasal.
2. Input data station, stasiun klimatologi pencatat.
3. Input data latitude, tinggi tempat stasiun pencatat.
4. Input data longitude,letak lintang (Utara/Selatan)
5. Input data temperatur maksimum dan minimum (oC/oF/oK)
6. Input data kelembapan relatif (%, mm/Hg, kpa, mbar)
7. Input data kecepatan angin (km/hari, km/jam, m/dt, mile/hari,
mile/jam)
8. Input data lama penyinaran matahari (jam atau %)
9. Otomatis ETo terkakulasi dan hasil langsung tampil
d. Ketersediaan Air Waduk
1. Air Masuk ke Waduk (Inflow)
Air yang masuk ke waduk dibedakan menjadi 2, yaitu air
limpasan permukaan dari daerah tangkapan yang diperoleh dari data
debit sungai Dero dan hujan efektif yang langsung jatuh di atas
permukaan waduk.

2. Kehilangan Air pada Waduk

Air yang keluar dari waduk merupakan air yang mengalami


evaporasi. Perhitungan evaporasi telah dijelaskan pada pembahasan
sebelumnya, yaitu menggunakan persamaan perbandingan massa.

3. Ketersediaan Air Waduk

Perhitungan ketersediaan air Waduk Pondok didasarkan pada


konsep perubahan tampungan waduk yang merupakan pengurangan
antara ketersediaan air yang berasal dari aliran limpasan permukaan
dari sungai dan hujan efektif dengan besarnya evaporasi di waduk
Pondok. Kemudian, dari data tersebut dikurangi dengan batas
minimum volume waduk yang ditetapkan, sehingga didapat debit
ketersediaan air Waduk Pondok untuk pertanian. Berikut merupakan
persamaan perubahan daya tampung waduk:

∆S = Q + P – E – I – O

Keterangan:

∆S : perubahan volume tampungan

Q : aliran permukaan yang masuk ke waduk

P : hujan yang masuk di waduk


E : volume evaporasi dari waduk

I : volume infiltrasi dari waduk ke dalam tanah

O : aliran keluar dari waduk

e. Kebutuhan Air Irigasi


Analisis kebutuhan air tanaman padi dan palawija dilakukan
menggunakan metode Abdurrachim dan bantuan Software Cropwatt
8.0. Perhitungan metode Abdurrachim dibagi menjadi tiga tahapan
dalam menghitung kebutuhan air. Berikut tahapan-tahapan perhitungan
kebutuhan air:

1. Kebutuhan air konsumtif (CWR = Consumtive Water Requirement)

2. Kebutuhan air di petak sawah (fwr = Field Water Requirement)

3. Kebutuhan air untuk areal irigasi (PWR = Project Water


Requirement)

Kebutuhan air irigasi dapat dihitung menggunakan Cropwatt


Version 8.0 dengan cara sebagai berikut:

1. Untuk tahap analisis kebutuhan air, selanjutnya input data


koefisien tanaman, awal tanam dan tanah.
2. Data tanaman mengambil dari data base FAO (open-FAO-Rice),
kemudian editing tanggal awal tanam. Data tanaman ini merupakan
data default untuk padi dari FAO. Penulis menggunakan padi (rice)
dari data base FAO, lama dari pengolahan lahan sampai panen 150
hari dengan lama pengolahan lahan 30 hari di awal.
3. Data tanah mengambil dari database FAO (open-FAO-Medium).
Medium diambil karena tanah pada penelitian ini berada pada level
medium.
4. Input data pun selesai kemudian dilanjutkan dengan kalkulasi
perhitungan kebutuhan air irigasi dengan mengklik icon CWR dan
hasilnya adalah tabel kebutuhan air tanaman 15 harian.
f. Imbangan Air
Imbangan air yang dimaksudkan dalam penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui besarnya jumlah ketersediaan air Waduk Pondok
dikurangi dengan jumlah kebutuhan air irigasi di Kecamatan
Karangjati. Hasil perhitungan imbangan air akan menunjukkan apakah
ketersediaan air yang ada defisit atau surplus.

3.5. Matriks Penelitian


Data-data dan teknik analisis yang digunakan dalam penelitian dapat
disederhanakan dalam tabel matriks data penelitian sebagai berikut:
Tabel 3.1. Matriks Data Penelitian

Jenis Data Cara Mengolah Perangkat yang


digunakan

Data Curah Hujan 1. Curah hujan wilayah Ms. Excel


setengaj bulanan
tahun 2008 - 2018 2. Curah hujan efektif Software Cropwatt
(R80) version 8.0

Data klimatologi 1. Evaporasi Ms. Excel


(suhu, tekanan,
kelembaban relatif, 2. Evapotranspirasi Software Cropwatt
kecepatan angin, dan version 8.0
radiasj matahari)
tahun 2008 - 2018

Data debit sungai Debit aliran setengah Ms. Excel


Dero tahun 2017 - bulanan
2018

Data luas pertanian, Kebutuhan air irigasi Software Cropwatt


jenis tanaman, dan version 8.0
pola tanam
Data tekstur tanah Teknik perasaan di -
lapangan

Data Infiltrasi Pengukuran di Infiltrometer


lapangan

3.6. Diagram Alir


Tahapan penelitian yang akan dilakukan dapat dilihat dalam
diagram alir berikut:

Identifikasi Masalah

Studi Literatur

Data Curah Hujan Data Debit Sungai Data Klimatologi Data luas pertanian,
(Suhu, tekanan, kelembaban, jenis tanaman, dan
kecepatan angin, dan radiasi pola tanam
matahari)

Hujan Rata-rata
Wilayah Evaporasi Evapotranspirasi

Curah Hujan Efektif


(R80)

Ketersediaan Air Kebutuhan Air


Waduk Irigasi

Imabangan Air (Defisit/ Surplus)

Alternatif Pola Tanam

Analisis dan Pembahasan

Kesumpulan dan Saran


DAFTAR PUSTAKA