Anda di halaman 1dari 209

Forensik, Medikoetikolegal, dan Komunikasi

FEBRUARI 2018

Forensik

Visum et Repertum

Tanatologi

Traumatologi Forensik

Asfiksia

Drowning

Medikoetikolegal

Surat Kematian

Informed Consent

Biomedical Ethics

Medical Record

Luka Tembak

Trauma Panas, Dingin, dan Listrik

Kasus Kejahatan Seksual dan Abortus

Infanticide

Disaster Victim Management and Forensic Identification

Medical Risk and Malpractice

Norma Praktik Kedokteran

Hak dan Kewajiban Dokter-Pasien

DNR & Euthanasia

©Bimbel UKDI MANTAP

Ilmu Kedokteran Forensik

Salah satu cabang spesialistik dari Ilmu Kedokteran, yang mempelajari

pemanfaatan ilmu kedokteran untuk kepentingan penegakan hukum

serta keadilan.

©Bimbel UKDI MANTAP

Surat Kematian

Surat Kematian ©Bimbel UKDI MANTAP

©Bimbel UKDI MANTAP

Kegunaan Surat Kematian

 

Kepentingan pemakaman jenazah

Kepentingan pengurusan asuransi

Kepentingan pengurusan warisan

Pengurusan pensiunan janda/duda

Pengurusan hutang piutang

Kepentingan statistik

Dalam dunia ilmu kedokteran, dengan adanya kewaiban

pengisian formulir surat kematian oleh dokter pada setiap

kasus kematian, maka pada kasus kematian yang tidak wajar (pembunuhan) tidak terlanjur dikubur sebelum delakukan pemeriksaan bedah mayat

©Bimbel UKDI MANTAP

Aplikasi Surat Keterangan Kematian (Wajar)

Alur Tatalaksana Kematian di Dalam Faskes

Alur Tatalaksana Kematian di Dalam Faskes

• Jika orang yang meninggal berada dalam

Jika orang yang meninggal berada dalam

perawatan

seorang dokter, diagnosis

penyakitnya telah diketahui, dan kematiannya diduga karena penyakitnya tersebut

penyakitnya telah diketahui, dan kematiannya diduga karena penyakitnya tersebut

Alur Tatalaksana Kematian di Luar Faskes

Dokter menerima laporan kematian

Pemeriksaan luar terhadap mayat (tanpa

surat permintaan visum et repertum dari polisi) dan verbal autopsy pada keluarga Tidak ada tanda kekerasan atau

keracunan serta kecurigaan lain Memutuskan kematian adalah wajar Menyerahkan jenazah pada keluarga Membuat serta menandatangani surat keterangan kematian (Formulir A)

©Bimbel UKDI MANTAP

Kematian Tidak Wajar

Cara kematian pada kematian tidak wajar meliputi pembunuhan, bunuh diri, dan kecelakaan

 

Kategori kasus yang harus dilaporkan kepada penyidik (Pasal 108 KUHAP)

Kematian

yang

terjadi

di

dalam

tahanan

atau

penjara

Kematian

terjadi

bukan

karena

penyakit

dan

 

bukan karena hukuman mati

 

Adanya penemuan mayat di mana penyebab dan informasi mengenai kematiannya tidak ada

Keadaan kematiannya menunjukkan bahwa kemungkinan kematian akibat perbuatan

 

melanggar hukum

 

Orang tersebut melakukan bunuh diri atau situasi kematiannya mengindikasikan akibat bunuh diri

Kematian yang terjadi tanpa kehadiran dokter

Kematian yang disaksikan dokter tetapi ia tidak dapat memastikan penyebab kematiannya

Alur Tatalaksana

Dokter menerima laporan kematian Pemeriksaan awal dan verbal autopsy pada orang

di sekitar lokasi Mencurigai bahwa kematian

terjadi secara tidak wajar Melaporkan kepada

penyidik berdasarkan pasal 108 KUHAP Penyidik membuat surat permintaan visum et repertum jenazah Meminta izin keluarga

untuk dilakukan autopsy dalam 2x24 jam (jika lebih dari waktu ini keluarga btlum

menyampaikan persetujuan, dokter dapat

langsung memeriksa tanpa izinDokter melakukan pemeriksaan jenazah dan autopsy

Dokter yang melakukan pemeriksaan membuat VeR dan menandatangani surat keterangan kematian (Formulir A) Menyerahkan jenazah

kepada keluarga setelah pemeriksaan selesai

©Bimbel UKDI MANTAP

Definisi Visum et Repertum

Dasar Hukum

Keterangan tertulis yang dibuat oleh dokter atas permintaan tertulis penyidik yang berwenang, mengenai hasil pemeriksaan medis terhadap manusia, baik hidup atau mati ataupun bagian atau diduga bagian tubuh manusia berdasarkan keilmuannya dan dibawah sumpah, untuk kepentingan peradilan

Staatsblad (Lembaran Negara) No 350 Tahun 1937 pasal 1 dan 2 yang menyatakan VeR adalah Suatu Keterangan tertulis yang dibuat oleh dokter atas sumpah atau janji tentang apa yang dilihat pada benda yang diperiksanya yang mempunyai daya bukti dalam perkara pidana” • Pasal 133 KUHAP: “Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik luka, keracunan, ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan tindak pidana, ia berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter dan atau ahli lainnya” • PP No 27 tahun 1983: “Penyidik polri berpangkat serendah-rendahnya Pembantu Letnan Dua, kepangkatan penyidik pembantu adalah bintara serendah-rendahnya adalah Sersan Dua

©Bimbel UKDI MANTAP

Visum et Repertum (VeR) dibuat atas permintaan dari penyidik Polri melalui surat resmi.

Surat permintaan VeR tersebut harus diantar oleh petugas kepolisian dan hasilnya diserahkan langsung kepada

penyidik.

Salinan VeR tidak boleh diserahkan kepada siapapun. Selain penyidik POLRI, Instansi lain yang berwenang meminta

VeR adalah Polisi Militer, hakim, jaksa penyidik dan jaksa penuntut umum.

Sebelum tindakan pemeriksaan untuk pembuatan VeR, perlu dibuatkan informed consent. Apabila korban/keluarga menolak untuk diperiksa maka hendaknya dokter meminta pernyataan tertulis secara singkat penolakan tersebut dari korban/keluarga disertai alasannya atau bila hal itu tidak mungkin dilakukan, agar mencatatnya didalam rekam medis.

Penyidik mencurigai tindak pidana

didalam rekam medis. Penyidik mencurigai tindak pidana Surat Permintaan Visum (Tertulis) Pemeriksaan luka atau

Surat Permintaan Visum (Tertulis)

mencurigai tindak pidana Surat Permintaan Visum (Tertulis) Pemeriksaan luka atau pemeriksaan mayat dan atau

Pemeriksaan luka atau pemeriksaan mayat dan

atau pemeriksaan bedah

mayat

©Bimbel UKDI MANTAP

dan atau pemeriksaan bedah mayat ©Bimbel UKDI MANTAP Mayat yang dikirim diberi label yang memuat identitas

Mayat yang dikirim diberi label yang memuat identitas mayat dengan diberi cap jabatan yang diletakkan pada ibu jari atau bagian lain badan mayat

VeR Jenazah
VeR Jenazah

Pasal 134

(1) Dalam hal sangat diperlukan dimana untuk keperluan pembuktian bedah mayat tidak mungkin lagi dihindari, penyidik wajib memberitahukan terlebih dahulu kepada keluarga korban. (2) Dalam hal keluarga keberatan, penyidik wajib menerangkan dengan sejelas-jelasnya tentang maksud dan tujuan perlu dilakukannya pembedahan tersebut. (3) Apabila dalam waktu dua hari tidak ada tanggapan apapun dari keluarga atau pihak yang diberi tahu tidak diketemukan, penyidik segera melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 133 ayat (3) undang-undang ini. Apabila jenazah dibawa pulang paksa, maka baginya tidak ada surat

keterangan kematian.

©Bimbel UKDI MANTAP

Nilai Visum et Repertum -> sebagai alat bukti surat

KUHAP pasal 184: Alat bukti

yang sah adalah:

1. Keterangan saksi

2. Keterangan ahli

3. Surat

4. Petunjuk

5. Keterangan terdakwa

Keterangan ahli 3. Surat 4. Petunjuk 5. Keterangan terdakwa ©Bimbel UKDI MANTAP Keterangan ahli → tidak
Keterangan ahli 3. Surat 4. Petunjuk 5. Keterangan terdakwa ©Bimbel UKDI MANTAP Keterangan ahli → tidak

©Bimbel UKDI MANTAP

Keterangan ahli tidak hanya terbatas pada apa yang dilihat dan

ditemukan oleh si

pembuat

Visum et Repertum terbatas pada apa yang dilihat dan ditemukan

oleh si pembuat ”,

sehingga dimasukkan ke dalam alat bukti surat

Jenis Visum et Repertum 1 VeR perlukaan (termasuk Deskripsi luka Penyebab luka Derajat luka keracunan)
Jenis Visum et Repertum
1
VeR perlukaan
(termasuk
Deskripsi luka
Penyebab luka
Derajat luka
keracunan)
2
VeR kejahatan
susila
Bukti
Bukti kekerasan
Perkiraan umur
persetubuhan
Pantas tidaknya
korban untuk
dikawin
3
VeR psikiatrik
Penyakit jiwa
Kejahatan
sebagai produk
penyakit jiwa
Psikodinamik
kejahatan
Waktu Sebab Mekanisme 4 VeR jenazah Cara kematian perkiraan kematian kematian kematian 1, 2, 4:
Waktu
Sebab
Mekanisme
4
VeR jenazah
Cara kematian
perkiraan
kematian
kematian
kematian
1, 2, 4: mengenai tubuh atau raga manusia yang berstatus sebagai korban
3: mengenai mental atau jiwa tersangka atau terdakwa atau saksi lain dari suatu tindak pidana

©Bimbel UKDI MANTAP

Visum

hidup

Visum

mati

Visum pada orang hidup

Berdasarkan waktu pemberiannya visum untuk korban hidup dapat dibedakan atas:

1.Visum seketika/definitif adalah visum yang dibuat seketika oleh karena korban tidak

memerlukan tindakan khusus atau perawatan

dengan perkataan lain korban mengalami luka - luka ringan

2. Visum sementara adalah visum yang dibuat untuk sementara berhubung korban memerlukan tindakan khusus atau perawatan. Dalam hal ini

dokter membuat visum tentang apa yang dijumpai

pada waktu itu agar penyidik dapat melakukan penyidikan walaupun visum akhir menyusul kemudian

3.Visum lanjutan adalah visum yang dibuat setelah berakhir masa perawatan dari korban oleh dokter yang merawatnya yang sebelumnya telah dibuat visum sementara untuk awal penyidikan. Visum tersebut dapat lebih dari satu visum tergantung dari dokter atau rumah sakit yang merawat korban. (Idries, 2009)

Contoh Visum Hidup

visum tergantung dari dokter atau rumah sakit yang merawat korban. (Idries, 2009) Contoh Visum Hidup ©Bimbel

©Bimbel UKDI MANTAP

KMK 1226/2009
KMK 1226/2009
KMK 1226/2009 Pemberi layanan kesehatan yang memberi pelayanan kesehatan kepada anak yang diduga menjadi anak korban

Pemberi layanan kesehatan yang memberi pelayanan kesehatan kepada anak yang diduga menjadi anak korban KtA mempunyai

kewajiban:

a. memberikan pertolongan pertama;

b. memberikan konseling awal;

c. menjelaskan kepada orang tua anak tentang keadaan anak dan dugaan

penyebabnya, serta mendiskusikan langkah-langkah ke depan;

Rekam Medis dapat untuk dibuat menjadi Visum et Repertum

Rekam Medis dapat untuk dibuat menjadi Visum et Repertum • d. melakukan rujukan apabila diperlukan; •

d. melakukan rujukan apabila diperlukan;

e. memastikan keselamatan anak;

f. melakukan pencatatan lengkap di dalam rekam medis serta siap untuk membuat Visum et Repertum apabila diminta secara resmi; dan

g. memberikan informasi kepada kepolisian.

©Bimbel UKDI MANTAP

VeR hidup untuk kasus

Visum et repertum psikiatrik perlu dibuat oleh karena adanya pasal 44 (1) KUHP

yang berbunyi Barang siapa melakukan perbuatan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan padanya disebabkan karena jiwanya cacat dalam tumbuhnya atau terganggu karena penyakit, tidak dipidana

psikiatri

Visum ini diperuntukkan bagi tersangka atau terdakwa pelaku tindak pidana,

bukan bagi korban

 

Dalam Keadaan tertentu di mana kesaksian seseorang amat diperlukan sedangkan ia diragukan kondisi kejiwaannya jika ia bersaksi di depan pengadilan maka

kadangkala hakim juga meminta evaluasi kejiwaan saksi tersebut dalam bentuk

visum et repertum psikiatrik

Selain itu visum ini juga menguraikan tentang segi kejiwaan manusia, bukan segi fisik atau raga manusia

©Bimbel UKDI MANTAP

Forensic

Autopsy

• To help identify three elements of the crime: • the cause of death, •
• To help identify three elements of the crime:
• the cause of death,
• the mechanism of death
• the manner of death

Cause

(sebab kematian)

Any injury/disease physiological derangement in death

Example: Stab wound to the chest, adenocarcinoma of the lung

Mechanism

(mekanisme kematian)

How a cause of death produces the physiological derangement in the body

Example: Hemorrhage, asphyxia, embolism, organ damage, vagal reflex

©Bimbel UKDI MANTAP

Manner

(cara kematian)

How the cause of death come to the victim/person

Example: Natural death, accidental death, homicidal deaths, suicidal deaths

Kematian

Mati somatis (mati klinis)

Terhentinya fungsi ketiga sistem penunjang kehidupan, yaitu susunan saraf pusat, system kardiovaskular, dan system pernapasan yang menetap (irreversible)

Mati seluler (mati molekuler)

Kematian organ atau jaringan yang timbul beberapa saat setelah kematian somatis

Mati serebral

Kerusakan kedua hemisfer otak yang irreversible kecuali batang otak dan serebelum, sedangkan kedua system lainnya yaitu system pernapasan dan

kardiovaskular masih berfungsi dengan bantuan alat

Mati otak (mati batang otak)

Kerusakan seluruh otak secara ireversibel, termasuk

batang otak dan serebelum Seseorang secara keseluruhan tidak dapat dinyatakan hidup lagi, sehingga alat bantu dapat dihentikan

©Bimbel UKDI MANTAP

Tanda Kematian

Tanda Kematian Tidak Pasti

Pernafasan berhenti, dinilai selama 10

menit

Terhentinya sirkulasi, dinilai selama 15 menit

Kulit pucat

Tonus otot menghilang dan terjadi

relaksasi primer

Pembuluh darah retina mengalami segmentasi ke arah tepi retina

Pengeringan kornea menimbulkan

kekeruhan

Tanda Pasti Kematian

Lebam mayat (livor mortis)

Kaku mayat (rigor mortis)

Penurunan suhu tubuh (algor mortis)

Pembusukan (decomposition, putrefaction)

Adiposera

Mummifikasi

©Bimbel UKDI MANTAP

Tanda Kematian Pasti

Algor Mortis

Penurunan suhu tubuh setelah kematian karena proses perpindahan panas melalui

cara konduksi, konveksi, evaporasi, dan radiasi

Grafik penurunan suhu tubuh berbentuk sigmoid

Hubungan penurunan suhu dengan lama kematian

Dua jam pertama suhu turun setengah dari perbedaan antara suhu tubuh dan

suhu sekitarnya

Dua jam berikutnya suhu tubuh turun setengah dari nilai pertama

Dua jam selanjutnya suhu tubuh turun setengah dari nilai kedua

Dua jam selanjutnya suhu tubuh turun setengah dari nilai terakhir atau 1/8 dari

nilai awal

©Bimbel UKDI MANTAP

First 1-3 Temperature hours falls slowly
First 1-3
Temperature
hours
falls slowly
Next 6- Temperature 9 hours falls rapidly
Next 6-
Temperature
9 hours
falls rapidly
falls slowly Next 6- Temperature 9 hours falls rapidly ©Bimbel UKDI MANTAP Temperature By 15- approaches

©Bimbel UKDI MANTAP

Temperature By 15- approaches 20 the hours surrounding
Temperature
By 15-
approaches
20
the
hours
surrounding
6- Temperature 9 hours falls rapidly ©Bimbel UKDI MANTAP Temperature By 15- approaches 20 the hours

Livor Mortis

Pewarnaan ungu kemerahan pada kulit di bagian terendah tubuh setelah kematian Sinonim hypostasis, post-mortem staining, post-mortem lividity, suggilation

Cessation of the circulation relaxation of the muscular tone of the vascular bed

gravity pulls down stagnant blood to the lowest accessible areasedimentation of red cells bluish red discoloration Distributed to the lowest area with free compression depend on the body

position after death

20-30 menit pasca mati 30menit - 8 jam pasca mati 8-12 jam pasca mati Hilang
20-30 menit pasca
mati
30menit - 8 jam
pasca mati
8-12 jam pasca mati
Hilang dengan
Menetap atau tidak
hilang dengan
Mulai tampak
penekanan
penekanan
©Bimbel UKDI MANTAP
©Bimbel UKDI MANTAP

Warna Khusus

Cherry pink Carbon Monoxide poisoning Acts in part by tying up hemoglobin (200 times that of oxygen), saturation from 20-30% will appear as cherry-red lividity

Pink around large joints Hypothermia Wet skin allows atmospheric oxygen to pass through, and also at low temperature hemoglobin has a greater affinity for oxygen

Bright red Cyanide poisoning Inhibits cytochrome c oxidase and prevents utilization of oxygen

Reddish Burn and coal

Dark bluish violet Asphyxia

Dark Brown Phosphorous, chlorate, nitrite, aniline poisoning Increases production of methemoglobin

Blackish Opium poisoning Opium poisoning is associated with intense postmortem lividity, almost black, and is better seen in a fair-skinned body

©Bimbel UKDI MANTAP

Bruise

Subcutaneous bleeding

May be anywhere

Thumb pressure (-)

Slightly raised

Livor mortis

Accumulation of red cell by gravity

dependent and

compression-free part of the body

Thumb pressure (+/-)

Flat

The

gravity dependent and compression-free part of the body • Thumb pressure (+/-) • Flat • The

©Bimbel UKDI MANTAP

Rigor Mortis

Temperature-dependent physicochemical change that occurs within muscle cells as a result of lack of oxygen

Periode Relaksasi Primer

Terjadi segera setelah kematian, berlangsung selama 2-3 jam, seluruh otot mengalami relaksasi dan dapat digerakkan ke segala arah

Kaku Mayat (Rigor Mortis)

Setelah terjadi kematian tingkat seluler, karena ketiadaan oksigen, maka asam laktat akan terbentuk dan

ATP tidak dihasilkan lagi

Dalam keadaan ATP rendah dan tingkat keasaman yang tinggi, maka serabut aktin dan myosin akan berikatan dan menimbulkan kekakuan

Kekakuan dimulai dari bagian luar tubuh (otot-otot kecil) ke arah dalam (sentripetal) dan menjalar kraniokaudal

Periode Relaksasi Sekunder

Terjadi relaksasi kembali karena telah terjadi dekomposisi dari serabut aktin dan myosin

10-24 jam pasca 24-36 jam pasca 0-2 jam pasca mati 2 jam pasca mati mati
10-24 jam pasca
24-36 jam pasca
0-2 jam pasca mati
2 jam pasca mati
mati
mati
Terjadi relaksasi
primer
Kaku mayat mulai
tampak
Kaku mayat lengkap
seluruh tubuh
Terjadi relaksasi
sekunder

©Bimbel UKDI MANTAP

Faktor-faktor yang mempengaruhi kaku mayat

Keadaan lingkungan Pada keadaan yang kering dan dingin, kaku mayat lebih lambat

terjadi dan berlangsung lebih lama dibandingkan pada lingkungan yang panas dan lembab

Usia Pada anak-anak dan orang tua, kaku mayat lebih cepat terjadi dan berlangsung tidak lama

Cara kematian Pada pasien dengan penyakit kronis dan sangat kurus, kaku mayat

cepat terjadi dan berlangsung tidak lama

Kondisi otot Semakin berat massa otot (atletis), kaku mayat semakin lambat terjadi

Aktivitas premortal Aktivitas tinggi sebelum kematian, kaku mayat lebih cepat terjadi

Penyakit Wasting disease or any condition that lead to extreme exhaustion rapid

onset of rigor mortis, laaasting for a short duration.

©Bimbel UKDI MANTAP

Rigor Mortis pada Organ Lain

Iris:

• Terpengaruh oleh rigor mortis juga, dan tidak sama pada kedua mata, sehingga ukuran kedua
• Terpengaruh oleh rigor mortis juga, dan tidak sama pada kedua mata,
sehingga ukuran kedua pupil tidak sama. Iris pada pemeriksaan post
mortem tidak bisa jadi acuan untuk penyebab kematian (keracunan atau
keadaan neurologis).

Jantung:

• Rigor mortis menyebabkan ventrikel berkontraksi.
• Rigor mortis menyebabkan ventrikel berkontraksi.

Scrotum:

• Rigor pada m. Dartos dapat menekan testis dan epididimis, sehingga adanya semen pada ujung
• Rigor pada m. Dartos dapat menekan testis dan epididimis,
sehingga adanya semen pada ujung meathus urethra.

Erector pili:

• terpengaruh oleh rigor, sehingga rambut terkesan lebih panjang (goose flesh appearance).
• terpengaruh oleh rigor, sehingga rambut terkesan lebih panjang
(goose flesh appearance).

Kekakuan karena panas (Heat stiffening)

Terjadi jika mayat terpapar pada suhu yang lebih tinggi dari 75 o C, atau jika mayat terkena arus listrik tegangan tinggi terjadi koagulasi protein sehingga otot menjadi kaku

Pada kasus terbakar, keadaan mayat menunjukan postur tertentu yang disebut dengan pugilistic attitude, yaitu suatu

posisi di mana semua sendi

berada dalam keadaan fleksi dan

tangan terkepal

Perbedaan antara kaku mayat dan kaku karena panas adalah adanya tanda bekas terbakar,

otot akan mengalami laserasi bila

dipakasa untuk diregangkan, dan tidak terjadi relaksasi primer maupun sekunder

Diagnosis Banding Kaku Mayat

Kekakuan karena dingin (Cold stiffening)

Pada suhu yang sangat dingin, terjadi pembekuan jaringan lemak dan otot

Bila sendi ditekuk akan terdengar

bunyi pecahnya es dalam rongga sendi

Bila mayat dipindahkan ke tempat dengan suhu lingkungan yang lebih tinggi maka kekakuan akan hilang

©Bimbel UKDI MANTAP

Spasme cadaver (Cadaveric spasm, instantaneous rigor)

Keadaan ini terjadi jika sebelum meninggal, korban melakukan aktivitias tinggi, sehingga lebih cepat mengalami kekakuan setelah meninggal

Pada kekakuan ini tidak mengalami tahapan relaksasi primer dan bentuk kekakuan menunjukkan aktivitas terakhir korban

Pembusukan (decomposition, putrefaction)

Proses degradasi jaringan yang terjadi akibat autolysis dan putrefaksi

Autolisis pelunakan dan pencairan jaringan yang terjadi dalam keadaan steril

oleh kerja enzim digestif yang dilepaskan sel pasca mati Putrefaksi Clostridium welchii melakukan proses pembusukan dengan darah sebagai media pertumbuhan dan menghasilkan gas-gas alkane, H2S, dan HCN, serta asam amino dan lemak Pertama kali tampak pada perut kanan bawah berwarna hijau kekuningan oleh karena terbentuknya sulf-met-hemoglobin Lalat menempatkan telur pada mayat 8-24 jam menetas menjadi belatung 4-5 hari menjadi pupa 4-5 hari kemudian menjadi lalat dewasa

24 jam pasca mati

Pembusukan mulai terjadi

36 jam pasca mati Dekomposisi organ yang cepat membusuk Munculnya belatung Kulit melepuh (blister) (laring,
36 jam pasca mati
Dekomposisi organ
yang cepat membusuk
Munculnya belatung
Kulit melepuh
(blister)
(laring, trakea, otak, GI
tract

©Bimbel UKDI MANTAP

Dekomposisi organ yang lambat membusuk

(uterus non-gravid, prostat)

External Phenomenon

Perubahan warna:

warna kehijauan pada perut kanan bawah (dalam 18-36 jam)

marbling (dalam 36-48 jam)

hitam (dalam 3-4 hari)

Perubahan lain:

Kornea putih dan datar (dalam 12-18 jam)

Sidik jari mengeru dan terkelupas ( dalam

36-48 jam)

Pencairan lemak

Pengenduran ikatan: rambut, kuku, gigi

Timbul komponen gas berbau:

Distensi abdomen (dalam 12-18 jam)

Blister (dalam 36 jam)

Bloating wajah (dalam 2-3 hari)

Perdarahan dari orifisium / luka

Aspirasi makanan

Ekspulsi urine dan feses (dalam 2-3 hari)

Kulit mengelupas

Seluruh tubuh membengkak

Muncul larva dalam 1-2 hari

Internal Phenomenon

Pertimbangan kecepatan organ yang

mengalami pembusukan:

Lembut >> padat

Banyak aliran darah >>sedikit aliran darah

Banyak bakteri >> sedikit bakteri

Banyak jaringan otot dan fibrous tissue akan lebih lama

jaringan otot dan fibrous tissue → akan lebih lama • Urutan pembusukan: 1. Larynx dan trakea

Urutan pembusukan:

1.

Larynx dan trakea (12-24 jam)

2.

Otak anak-anak

3.

Gastrointestinal (24-36 jam)

4.

Limpa (1-3 hari)

5.

Omentum dan mesenteri (1-3 hari)

6.

Hepar ( 12-36 jam)

7.

Otak dewasa

8.

Jantung

9.

Paru-paru

10.

Ginjal

11.

Adrenal

12.

Vesica urinaria (2 hari)

13.

Esophagus

14.

Pancreas

15.

Diafragma

16.

Pembuluh darah

17.

Vesica felea

18.

Kulit, otot, tendon

19.

Prostat dan uterus (non-gravid) soft organ terakhir yang terdekomposisi

20.

Tulang

Faktor-faktor yang mempengaruhi pembusukan

Temperatur temperatur ideal untuk pembusukan adalah 70-100 o F, melambat bila di bawah 70 o F atau di atas 100 o F, dan berhenti di bawah 32 o F atau di atas 212 o F

Udara Pembusukan lebih cepat terjadi di

udara terbuka dibandingkan di dalam air dan di

dalam tanah

Kelembaban Keadaan lembab mempercepat proses pembusukan

Penyebab kematian Bagian tubuh yang

terluka mempercepat pembusukan, dan mayat

penderita yang meninggal karena penyakit kronis lebih cepat membusuk daripada mayat

orang yang sehat

Udara Air CEPAT Hangat Dalam Lembab Tanah
Udara
Air
CEPAT
Hangat
Dalam
Lembab
Tanah

LAMBAT

©Bimbel UKDI MANTAP

Adiposera

Terbentuknya bahan yang berwarna keputihan, lunak atau berminyak berbau tengik akibat hidrolisis lemak yang terjadi di dalam jaringan lunak tubuh pasca mati

Faktor-factor yang mempermudah pembentukan adalah kelembaban tinggi, suhu hangat, dan lemak tubuh yang cukup

Faktor-factor yang menghambat pembentukan adalah kelembaban rendah, suhu dingin, dan adanya air yang mengalir

Proses: early stages of formation (pale, greasy, unpleasant smell hydrolysis progress (more brittle and whiter) fully formed (grey, waxy compound that maintains the shape of the body

Mumifikasi

Proses penguapan cairan atau dehidrasi jaringan yang cukup cepat sehingga terjadi pengeringan jaringan yang selanjutnya dapat menghentikan pembusukan

Jaringan menjadi keras dan kering, berwarna gelap, berkeriput, dan tidak membusuk

Terjadi bila suhu hangat, kelembaban rendah, aliran udara baik, tubuh yang dehidrasi, dan waktu yang lama

©Bimbel UKDI MANTAP

UJI TOKSIKOLOGI

Nama Tes

Senyawa

Cara & hasil

Uji Reinsch

Arsen

10 cc darah + 10 cc HCl pekat dipanaskan hingga terbentuk AsCl3.

Celupkan batang tembaga ke dalam larutan HASIL: akan terbentuk endapan kelabu sampai hitam dari As pada permukaan batang tembaga tersebut

Uji Dilusi Alkali

CO

Siapkan 2 tabung reaksi. Masukkan 1-2 tetes darah korban ke dalam tabung pertama dan 1-2 tetes darah normal ke dalam tabung kedua (sebagai kontrol negatif).

Tambahkan 10 ml air ke dalam masing-masing tabung hingga warna

merah dapat diamati dengan jelas. Darah pada tabung yang mengandung CO akan tampak merah jernih sedang darah kontrol berwarna merah keruh. Tambahkan 5 tetes larutan NaOH 10-20% pada masing-masing tabung kemudian dikocok. HASIL: Darah kontrol akan segera berubah warnanya menjadi merah hijau kecoklatan karena terbentuk hematin alkali.

Nama Tes

Senyawa

Cara & hasil

Uji kertas

Sianida

Kertas saring dicelupkan ke dalam larutan asam pikrat jenuh, biarkan hingga menjadi lembab.

saring

Teteskan satu tetes isi lambung atau darah korban, diamkan sampai agak mengering, kemudian teteskan Na 2 CO 3 10 % 1 tetes HASIL: positif bila warna berubah menjadi ungu

Uji prussian blue

Sianida

Isi lambung/ jaringan didestilasi dengan destilator. 5 ml destilat + 1 ml NaOH 50 % + 3 tetes FeSO 4 10% rp + 3 tetes FeCl 3 5%, Panaskan sampai hampir mendidih, lalu dinginkan dan tambahkan HCl pekat tetes demi tetes sampai terbentuk endapan Fe(OH) 3 , teruskan sampai endapan larut kembali dan terbentuk biru berlin

Uji guajacol

Sianida

Masukkan 50 mg isi lambung/ jaringan ke dalam botol Erlenmeyer. Kertas saring (panjang 3-4

(Schonbein-

cm, lebar 1-2 cm) dicelupkan ke dalam larutan guajacol 10% dalam alkohol, keringkan. Lalu celupkan ke dalam larutan 0,1% CuSO4 dalam air dan kertas saring digantungkan di atas jaringan dalam botol. Bila isi lambung alkalis, tambahkan asam tartrat untuk mengasamkan, agar KCL mudah terurai. Botol tersebut dihangatkan HASIL positif akan terbentuk warna biru-hijau pada kertas saring.

Pagenstecher)

Traumatologi Forensik

Lecet gores

Lecet serut

Lecet tekan

Lecet geser

Lecet gores Lecet serut Lecet tekan Lecet geser Vulnus excoriatum/lecet Tumpul Contusio/memar - Tepi
Lecet gores Lecet serut Lecet tekan Lecet geser Vulnus excoriatum/lecet Tumpul Contusio/memar - Tepi

Vulnus

excoriatum/lecet

Tumpul Contusio/memar - Tepi luka tidak rata - Bisa ditemukan jembatan jaringan Vulnus laseratum/robek
Tumpul
Contusio/memar
- Tepi luka tidak rata
- Bisa ditemukan jembatan
jaringan
Vulnus
laseratum/robek
- Bisa ditemukan jembatan jaringan Vulnus laseratum/robek Trauma Stab/tusuk Vulnus Tajam incisum/iris - Tepi luka

Trauma

Stab/tusuk Vulnus Tajam incisum/iris - Tepi luka rata - Tidak ada jembatan jaringan Chop/bacok
Stab/tusuk
Vulnus
Tajam
incisum/iris
- Tepi luka rata
- Tidak ada jembatan jaringan
Chop/bacok

©Bimbel UKDI MANTAP

Vulnus excoriatum

(luka lecet)

Removal of the superficial epithelial layer of the skin (epidermis) by friction against rough surface/compression

Luka lecet gores → benda runcing (misalnya kuku) mengeser lapisan permukaan kulit (epidermis) dan menyebabkan
Luka lecet gores → benda runcing
(misalnya kuku) mengeser lapisan
permukaan kulit (epidermis) dan
menyebabkan lapisan tersebut
terangkat sehingga dapat
menunjukkan arah kekerasan yang
terjadi
Luka lecet tekan → penjejakan benda tumpul pada kulit sehingga ditemukan kulit yang kaku dan
Luka lecet tekan → penjejakan
benda tumpul pada kulit sehingga
ditemukan kulit yang kaku dan
gelap pada area penekanan akibat
pemadatan jaringan yang tertekan
Luka lecet serut → variasi dari luka lecet gores yang daerah persentuhannya dengan permukaan kulit
Luka lecet serut → variasi dari
luka lecet gores yang daerah
persentuhannya dengan
permukaan kulit yang lebih lebar
Luka lecet geser → tekanan linier pada kulit disertai gerakan bergeser, misalnya pada kasus gantung
Luka lecet geser → tekanan linier
pada kulit disertai gerakan
bergeser, misalnya pada kasus
gantung diri

©Bimbel UKDI MANTAP

Vulnus Excoriatum Tangential Compression (friction/sliding/scrape) (crushing/pressure) Linear (luka lecet gores)
Vulnus Excoriatum
Tangential
Compression
(friction/sliding/scrape)
(crushing/pressure)
Linear (luka lecet gores)
Compression only (luka
lecet tekan)
Brush (luka lecet serut)
Compression and
sliding (luka lecet geser)
Lecet geser Lecet tekan Ex. tyre marks Antemortem Abrasions • Reddish-brown color • Margins are
Lecet geser Lecet tekan Ex. tyre marks Antemortem Abrasions • Reddish-brown color • Margins are

Lecet geser

Lecet geser Lecet tekan Ex. tyre marks Antemortem Abrasions • Reddish-brown color • Margins are blurred

Lecet tekan

Ex. tyre marks

Antemortem Abrasions

Reddish-brown color

Margins are blurred due to

vital reactions

Postmortem Abrasions

Yellowish in color Translucent area Margins are sharply defined Absence of vital reactions

Contusio

luka memar

Contusio luka memar Infiltration or extravasation of blood into the tissue due to rupture of vessels
Contusio luka memar Infiltration or extravasation of blood into the tissue due to rupture of vessels
Contusio luka memar Infiltration or extravasation of blood into the tissue due to rupture of vessels

Infiltration or extravasation of blood into the tissue due to rupture of vessels by the application of blunt force

Terjadi pada subkutan tanpa diskontinuitas kulit

Contusio superfisial akan segera muncul dengan warna

kemerahan, contusion yang lebih dalam akan muncul beberapa

saat kemudian

Haemosiderin (iron pigment), dark brown color to blue color (2-4 Haematoidin (iron-free pigment), green Bilirubin,
Haemosiderin (iron
pigment), dark brown
color to blue color (2-4
Haematoidin
(iron-free
pigment), green
Bilirubin, yellow
Normal color of
color (7-10 days)
skin (15-20 days)
days)
color (5-7 days)

©Bimbel UKDI MANTAP

Vulnus

laceratum

(luka robek)

Luka terbuka akibat trauma benda tumpul yang menyebabkan

kulit teregang ke satu arah dan bila batas elastisitas kulit

terlampaui, maka akan terjadi robekan pada kulit

Bentuk luka tidak beraturan, tepi tidak rata, tampak jembatan jaringan antara kedua tepi luka, dan bentuk dasar luka tidak

beraturan

tidak rata , tampak jembatan jaringan antara kedua tepi luka , dan bentuk dasar luka tidak

©Bimbel UKDI MANTAP

tidak rata , tampak jembatan jaringan antara kedua tepi luka , dan bentuk dasar luka tidak

Stab wound/luka tusuk

Deep wounds produced by the pointed end of a weapon or an object, entering the body

The depth of the wound track in the body is longer than its length on the skin

Sudut luka dapat memperkirakan benda penyebabnya, bila satu sudut luka lancip dan yang lain tumpul, berarti benda tajam bermata satu, bila kedua sudut luka lancip, berarti benda tajam bermata dua

kedua sudut luka lancip, berarti benda tajam bermata dua Luka tusuk pisau mata satu ©Bimbel UKDI

Luka tusuk pisau mata satu

©Bimbel UKDI MANTAP

bermata dua Luka tusuk pisau mata satu ©Bimbel UKDI MANTAP L u k a t u

Luka tusuk pisau mata dua

Vulnus incisum (luka iris)

Produced by sharp cutting instruments (knife, razor, blade) The sharp edge of the instrument is pressed into and drawn along the surface of the skin, producing a wound whose length is greater than its depth Edges are regular, clear cut, retracted and averted, except in neck and scrotum, edges are inverted

Chop (luka bacok)

A chop wound is produced by an heavy instrument with a cutting edge (for example ‘axe’) • It is an incised-like wound but it’s depth is almost same great as its length

wound but it’s depth is almost same great as its length Luka iris: jembatan jaringan (-),

Luka iris:

jembatan jaringan (-), tepi luka rata

its length Luka iris: jembatan jaringan (-), tepi luka rata ©Bimbel UKDI MANTAP Luka bacok: tepi

©Bimbel UKDI MANTAP

Luka bacok:

tepi luka rata, panjang=dalam

Derajat Perlukaan

Luka Ringan

Tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan jabatan atau pekerjaan (KUHP 352)

Umumnya tanpa luka, atau

dengan luka lecet atau memar

kecil di lokasi yang tidak berbahaya/tidak menurunkan fungsi alat tubuh

Luka Sedang

Di antara luka ringan dan luka berat

Mengakibatkan korban tidak dapat melakukan

pekerjaannya karena sakit

(pijn/pain) yang dialami, tetapi

tidak sampai mengakibatkan luka berat

Dapat merupakan hasil dari tindak penganiayaan (KUHP pasal 351 (1) atau 353 (3))

©Bimbel UKDI MANTAP

Luka Berat

Jatuh sakit atau mendapat luka yang tidak memberi harapan akan sembuh sama sekali atau menimbulkan

bahaya maut (KUHP 90)

Tidak mampu terus menerus untuk menjalankan tugas jabatan atau pekerjaan

Kehilangan salah satu panca indra

Cacat berat

Sakit lumpuh

Terganggu daya pikir selama empat minggu lebih

Gugur atau matinya kandungan seorang perempuan

Asfiksia

Definisi

Suatu keadaan yang ditandai dengan terjadinya gangguan pertukaran udara pernapasan, mengakibatkan oksigen darah berkurang (hipoksia) disertai dengan peningkatan karbon dioksida (hiperkapnea)

Etiologi

Penyebab alamiah penyakit yang menyumbat saluran napas seperti laryngitis difteri atau menimbulkan gangguan pergerakan paru seperti fibrosis paru

Trauma mekanik trauma yang mengakibatkan asfiksia mekanik melalui sumbatan atau halangan pada

saluran napas

Keracunan bahan yang menimbulkan depresi pusat pernapasan

Hipoksik-hipoksia Di mana oksigen gagal untuk masuk ke dalam sirkulasi darah

Anemik-hipoksia Darah yang tersedia tidak dapat membawa oksigen yang cukup untuk metabolism dalam jaringan

Stagnan-hipoksia Di mana oleh karena sesuatu terjadi kegagalan sirkulasi

©Bimbel UKDI MANTAP

Histotoksik-hipoksia Di mana oksigen yang terdapat di dalam darah, oleh karena sesuatu hal, tidak dapat dipergunakan oleh jaringan

Fase Asfiksia

Fase Dispnea

Penurunan kadar oksigen dan peningkatan kadar karbon dioksida merangsang respiratory center di medulla oblongata amplitude dan frekuensi pernapasan meningkat sebagai kompensasi terjadi dyspnea

Fase Konvulsi

Peningkatan karbon dioksida lebih lanjut merangsang susunan saraf pusat terjadi konvulsi (kejang) kejang klonik kejang tonik spasme opistotonik

Fase Apnea

Depresi respiratory center pernapasan melemah kesadaran menurun dan relaksassi sfingter

Fase Akhir

Paralisis pusat pernapasan lengkap

©Bimbel UKDI MANTAP

Pemeriksaan Jenazah

Pemeriksaan Luar

Sianosis pada bibir, ujung-ujung jari dan kuku

Warna lebam mayat merah-kebiruan gelap dan terbentuk lebih cepat distribusi lebam lebih luas akibat kadar CO2 yang tinggi dan aktivitas fibrinolisin sehingga sulit membeku dan mudah mengalir Terdapat busa halus pada hidung dan mulut oleh karena peningkatan frekuensi dan amplitude

pernapasan dan sekresi lendir pada fase dyspnea

Pembendungan pada mata berupa pelebaran pembuluh darah konjungtiva bulbi dan palpebral terjadi pada fase konvulsi Muncul Tardieu’s spot peningkatan tekanan vena dengan cepat berakibat pecahnya venula kapiler di

daerah dengan jaringan ikat longgar (konjungtiva bulbi,

pleura, epikardium). Kondisi hipoksia juga berperan melemahkan dinding venula.

Pemeriksaan Dalam

Darah berwarna lebih gelap dan lebih encer

Busa halus di saluran pernapasan Pembendungan sirkulasi sehingga organ menjadi lebih berat, lebih gelap, dan bila diiris mengeluarkan banyak darah Petekie pada mukosa-mukosa organ dalam Edema paru

©Bimbel UKDI MANTAP

©Bimbel UKDI MANTAP
©Bimbel UKDI MANTAP

©Bimbel UKDI MANTAP

©Bimbel UKDI MANTAP

Asfiksia Mekanik

Pembekapan

(Smothering)

Penyumbatan (Gagging dan Choking)

Pencekikan

(Manual

Strangulation)

Penjeratan

Gantung

Tenggelam

(Strangulation)

(Hanging)

(Drowning)

©Bimbel UKDI MANTAP

Pembekapan (Smothering)

Penutupan

menghambat pemasukan udara ke paru-paru Bunuh diri (suicidal smothering) misal pada penderita penyakit jiwa menggunakan bantal untuk menutupi hidung dan mulut Pembunuhan (homicidal smothering) misal pada kasus pembunuhan anak sendiri Kecelakaan (accidental smothering) misal pada bayi bulan-bulan pertama kehidupannya Pemeriksaan luar luka lecet tekan atau geser pada hidung, bibir, dagu, permukaan gusi dan gigi

yang

lubang

hidung

dan

mulut

Penyumbatan (Gagging dan Choking)

 

Gagging sumbatan jalan napas pada orofaring Choking sumbatan jalan napas pada laringofaring

Bunuh diri (suicidal choking) jarang terjadi karena ada reflex batuk dan muntah

Pembunuhan (homicidal choking) umumnya

korban adalah bayi atau orang dengan fisik yang lemah

Kecelakaan

(accidental

choking)

tersedak

makanan saat berbicara atau tertawa (bolus death)

Pemeriksaan

luar

terdapat

benda

asing

pada

mulut, orofaring, atau laringofaring

 
luar → terdapat benda asing pada mulut, orofaring, atau laringofaring   ©Bimbel UKDI MANTAP

©Bimbel UKDI MANTAP

luar → terdapat benda asing pada mulut, orofaring, atau laringofaring   ©Bimbel UKDI MANTAP

Pencekikan (Manual Strangulation)

Penekanan leher dengan tangan, yang menyebabkan dinding saluran napas bagian atas tertekan dan terjadi penyempitan saluran napas sehingga udara pernapasan tidak dapat lewat Pemeriksaan luar

tertekannya

Pembendungan

muka

dan

kepala

akibat

pembuluh vena dan arteri superfisial

lecet

kecil,

dangkal,

akibat

penekanan kuku jari Fraktur tulang lidah (os hyoid) dan kornu superior kartilago thyroid unilateral

Luka

berbentuk bulan

sabit

Penjeratan (Strangulation)

Penekanan benda asing berupa tali, ikat pinggang, rantai, kawat dan sebagainya melingkari atau mengikat leher hingga saluran pernapasan tertutup

Bunuh diri (self strangulation) pengikatan oleh korban sendiri dengan simpul hidup dengan jumlah lilitan lebih dari satu Pembunuhan pengikatan biasanya dengan simpul mati

Kecelakaan misalnya pekerja yang bekerja dengan tali

kemudian terjatuh dan terlilit Pemeriksaan luar Jejas jerat biasanya mendatar, lebih rendah dari jejas jerat pada kasus gantung Pola jejas dapat dilihat dengan menempelkan transparent scotch tape, kemudian dilihat di bawah mikroskop

Terdapat luka lecet tekan di sekitar jejas jerat

, kemudian dilihat di bawah mikroskop • Terdapat luka lecet tekan di sekitar jejas jerat ©Bimbel
, kemudian dilihat di bawah mikroskop • Terdapat luka lecet tekan di sekitar jejas jerat ©Bimbel

©Bimbel UKDI MANTAP

, kemudian dilihat di bawah mikroskop • Terdapat luka lecet tekan di sekitar jejas jerat ©Bimbel

Gantung (Hanging)

Kasus gantung hamper sama dengan kasus penjeratan, namun asal tenaga jerat berasal dari tubuh korban sendiri

Berdasarkan posisi korban

Complete hanging kedua kaki tidak menyentuh lantai

Partial hanging kedua kaki masih menyentuh lantai

Berdasarkan posisi titik gantung

Typical hanging titik gantung terletak di atas daerah oksiput dan tekanan pada arteri karotis paling besar

Atypical hanging titik gantung terdapat di samping, sehingga leher dalam posisi sangat miring (fleksi lateral)

Asfiksia seksual (Auto-erotic hanging)

Deviasi seksual yang menggunakan cara gantung atau jerat untuk mendapatkan kepuasan terlambat mengendurkan tali atau melepaskan diri setelah kehilangan kesadaran

kepuasan → terlambat mengendurkan tali atau melepaskan diri setelah kehilangan kesadaran ©Bimbel UKDI MANTAP
kepuasan → terlambat mengendurkan tali atau melepaskan diri setelah kehilangan kesadaran ©Bimbel UKDI MANTAP

©Bimbel UKDI MANTAP

kepuasan → terlambat mengendurkan tali atau melepaskan diri setelah kehilangan kesadaran ©Bimbel UKDI MANTAP

Definisi

Kematian akibat mati lemas (asfiksia) disebabkan masuknya cairan ke dalam saluran pernapasan

Drowning

Klasifikasi

Immersion airway is above the surface of the liquid

Submersion airway is below the surface of the liquid

Submersion → airway is below the surface of the liquid ©Bimbel UKDI MANTAP Vicious Cycle of

©Bimbel UKDI MANTAP

Vicious Cycle of Drowning

Deep inspiration
Deep
inspiration

Water enters

respiratory

passage

Cycle of Drowning Deep inspiration Water enters respiratory passage Cough reflex Need for air Air driven

Cough reflex

Cycle of Drowning Deep inspiration Water enters respiratory passage Cough reflex Need for air Air driven

Need for air

Cycle of Drowning Deep inspiration Water enters respiratory passage Cough reflex Need for air Air driven

Air driven out of lungs

Air Tawar: Konsentrasi elektrolit lebih rendah Hemodilusi darah, air masuk ke dalam aliran darah sekitar alveoli → Hemolisis Pelepasan ion K⁺→ terjadi perubahan keseimbangan ion K⁺ dan Ca⁺⁺ dalam serabut otot jantung dan mendorong terjadinya fibrilasi ventrikel

otot jantung dan mendorong terjadinya fibrilasi ventrikel Asfiksia (Wet Drowning) Mekanisme Kematian Spasme Laring

Asfiksia (Wet Drowning)

Mekanisme Kematian Spasme Laring (Dry Drowning)
Mekanisme
Kematian
Spasme Laring (Dry
Drowning)
Drowning) Mekanisme Kematian Spasme Laring (Dry Drowning) Air Asin : Konsentrasi elektrolit lebih tinggi → air

Air Asin: Konsentrasi elektrolit lebih tinggi → air akan ditarik dari sirkulasi pulmonal ke dalam jaringan interstitial paru oedem

pulmonal hemokonsentrasi, hipovolemi syok hipovolemik

dan henti jantung

Drowning Types

I Dry Drowning or Immersion Syndrome

IIa Fresh water

IIb Salt water

Refleks Vagal (Immersion Syndrome)

©Bimbel UKDI MANTAP

Pemeriksaan Jenazah pada Kasus Drowning

External Findings

• A “washerwoman” appearance in

the hands and soles (Look white

and wrinkled)

• “Goose flesh” (cutis anserina)

• “Mushroom like appearance” in the nostrils, mouth, and airways

(white foam or hemorrhagic fluid)

Cadaveric spasm

Internal Findings

A white or hemorrhagic foam is found in the trachea and bronchi

Water may be found in the

stomach.

There could be dilatation of the right ventricle

Pulmonary edema

Brain swelling

Congestion

©Bimbel UKDI MANTAP

©Bimbel UKDI MANTAP
©Bimbel UKDI MANTAP
©Bimbel UKDI MANTAP
©Bimbel UKDI MANTAP
©Bimbel UKDI MANTAP

©Bimbel UKDI MANTAP

Pemeriksaan Laboratorium pada Kasus Drowning

Pemeriksaan Diatom

Merupakan alga bersel satu dengan dinding terdiri dari silikat (SiO2) yang tahan panas dan asam kuat

Pemeriksaan Destruksi Asam pada Paru

Jaringan perifer paru diambil sebanyak 100 gram tambahkan asam sulfat pekat diamkan selama kurang lebih setengah hari agar jaringan hancur dipanaskan dalam lemari asam sambil diteteskan asam nitrat

pekat sampai terbentuk cairan yang jernih dinginkan dan lakukan sentrifugasi hingga terbentuk sedimen

lihat di bawah mikroskop

Pemeriksaan diatom positif bila terdapat 4-5 diatom/lpb atau 10-20 per satu sediaan

Pemeriksaan Getah Paru

Paru disiram air bersih iris bagian perifer ambil sedikit cairan perasan dari jaringan perifer taruh pada gelas objek amati di bawah mikroskop

Pemeriksaan Darah Jantung (Getler Chloride Test)

This is analysis of blood in the right and left sides of the heart

In freshwater, the chloride level was high in the right

In saltwater, the chloride level was high in the left

©Bimbel UKDI MANTAP

Luka Tembak

Definition

Gunshot wound is a wound caused by a bullet

with or without any other components coming out of the gun barrel at the time of firing

Components attending the bullet at the time of firing

Smoke

Gunpowder particles

Flame

COMPONENTS ATTENDING THE BULLET

particles • Flame COMPONENTS ATTENDING THE BULLET ©Bimbel UKDI MANTAP SMOKE GUNPOWDER BULLET FLAME BARREL
particles • Flame COMPONENTS ATTENDING THE BULLET ©Bimbel UKDI MANTAP SMOKE GUNPOWDER BULLET FLAME BARREL
particles • Flame COMPONENTS ATTENDING THE BULLET ©Bimbel UKDI MANTAP SMOKE GUNPOWDER BULLET FLAME BARREL
particles • Flame COMPONENTS ATTENDING THE BULLET ©Bimbel UKDI MANTAP SMOKE GUNPOWDER BULLET FLAME BARREL
particles • Flame COMPONENTS ATTENDING THE BULLET ©Bimbel UKDI MANTAP SMOKE GUNPOWDER BULLET FLAME BARREL
particles • Flame COMPONENTS ATTENDING THE BULLET ©Bimbel UKDI MANTAP SMOKE GUNPOWDER BULLET FLAME BARREL
particles • Flame COMPONENTS ATTENDING THE BULLET ©Bimbel UKDI MANTAP SMOKE GUNPOWDER BULLET FLAME BARREL
particles • Flame COMPONENTS ATTENDING THE BULLET ©Bimbel UKDI MANTAP SMOKE GUNPOWDER BULLET FLAME BARREL
particles • Flame COMPONENTS ATTENDING THE BULLET ©Bimbel UKDI MANTAP SMOKE GUNPOWDER BULLET FLAME BARREL
particles • Flame COMPONENTS ATTENDING THE BULLET ©Bimbel UKDI MANTAP SMOKE GUNPOWDER BULLET FLAME BARREL
particles • Flame COMPONENTS ATTENDING THE BULLET ©Bimbel UKDI MANTAP SMOKE GUNPOWDER BULLET FLAME BARREL
particles • Flame COMPONENTS ATTENDING THE BULLET ©Bimbel UKDI MANTAP SMOKE GUNPOWDER BULLET FLAME BARREL
particles • Flame COMPONENTS ATTENDING THE BULLET ©Bimbel UKDI MANTAP SMOKE GUNPOWDER BULLET FLAME BARREL

©Bimbel UKDI MANTAP

SMOKE

GUNPOWDER

BULLET

FLAME

BARREL

Luka Tembak Masuk

Luka Tembak Keluar

The bullet is the most responsible for causing the wound

Principally, a bullet causes an entrance wound, consisting

of two part: a hole surrounded by abrasion zone

Because the form of the wall inside the barrel is spiral groove, the bullet passing it will rotate on its axis

This rotating movement keep the bullet move relatively in a straight line after leaving the barrel

When it touches the skin, its rotating movement scratches the soft tissue causing an abrasion zone

Because the kinetic

energy

of the

bullet is far more

powerful than the elasticity of the skin, the bullet

penetrate the skin easily and causing a bullet hole

penetrate the skin easily and causing a bullet hole Bullet Hole Abrasion Zone Exit Wound •

Bullet Hole

Abrasion Zone

Exit Wound • If the bullet hits the body and the penetrating power strong enough,
Exit Wound
• If the bullet hits the body and the penetrating power
strong enough, it can pass the body and causing an
exit wound on the opposite side of the body
• Beside have no marginal abrasion, exit wounds are
characteristically large and irregular, consisting of
holes and lacerations
• This large and irregular wound
take place when
splintered bone is carried out with the bullet at exit
• Laceration Like
• No Abrasion Zone

©Bimbel UKDI MANTAP

 

Abrasion Zone(kelim lecet) Shape

The shape of abrasion is influenced by coming from where the bullet is

If the bullet perpendicularly hits the target, a bullet

 

hole surrounded by abrasion ring is formed

When it obliquely hits the target the shape of wound will be oval

This oval-shape wound consists of a bullet hole and

 

its abrasion zone that is formed partially on one side

of the hole

©Bimbel UKDI MANTAP

A Bullet Hits the Target Perpendicularly

UKDI MANTAP A Bullet Hits the Target Perpendicularly Bullet Hole Abrasion Zone A Bullet Hits the

Bullet

Hole

Abrasion

Zone

A Bullet Hits the Target Obliquely (Oval-shaped)

Bullet Direction Bullet Hole Abrasion
Bullet Direction
Bullet
Hole
Abrasion

Zone

FAT ZONE

Because the inside of the barrel of a well- maintained gun is always greased, it cause the outside of the bullet become greasy after passing it This greasy bullet gives a blackish dirty abrasion zone called fat zone

A Greasy Bullet Hits The Target Obliquely

called fat zone A Greasy Bullet Hits The Target Obliquely Bullet Hole Blackish-dirty Abrasion Zone (Fat

Bullet Hole

Blackish-dirty Abrasion Zone (Fat Zone)

Wound Shape

A bullet perpendicularly hitting a body part having low density, such as the

stomach, will cause a round-shape bullet

wound When it hits part of the body with higher density, the head, for instance, part of its kinetic energy and the hot gas will be flung back causing irregular laceration on the soft tissue surrounding the bullet hole creating stellar-shape wound

A Bullet Hits the Stomach Perpendicularly

A Bullet Hits the Head

Perpendicularly

Perpendicularly A Bullet Hits the Head Perpendicularly Bullet Hole Abrasion Zone Bullet Hole Laceration ©Bimbel
Perpendicularly A Bullet Hits the Head Perpendicularly Bullet Hole Abrasion Zone Bullet Hole Laceration ©Bimbel

Bullet Hole

Abrasion Zone

Bullet Hole

Laceration

©Bimbel UKDI MANTAP

Gunpowder Particles Effect (Kelim Tatto)

Gunpowder particles effect black spots surrounding the gunshot wound Those gunpowder particles had gone so deep into the flesh that to remove them by rubbing the skin surface was ineffective

Gunpowder particles can reach the target at a

range of 60 cm

Smoke Effects (Kelim Jelaga)

Because of the imperfect burning process, soot will be resulted in The soot is found only on the surface, easily removed by rubbing

Soot is capable of reaching a target at a

range of 20-30 cm

is capable of reaching a target at a range of 20-30 cm Bullet Hole Gunpowder Particles

Bullet Hole

Gunpowder

Particles

Abrasion Zone

of 20-30 cm Bullet Hole Gunpowder Particles Abrasion Zone Bullet Hole Soot Gunpowder Particles Abrasion Zone

Bullet Hole Soot Gunpowder Particles

Abrasion Zone

©Bimbel UKDI MANTAP

Flame Effect (Kelim Api)

Flame/hot gas will burn the skin when the bullet hits the target

Flame can reach a target at a range of

15 cm

Contact Wound (Luka Tembak Tempel)

A muzzle impression occurs when the muzzle of the gun is placed tightly against the surface of the target at the moment of firing. Part of the body with high density, bone area, for example, will receive a clearer muzzle impression Hard pressure of the gun muzzle to the target is called hard contact, whereas soft pressure is called soft contact

Muzzle Mark (Kelim Senjata)

A contact wound is usually round in shape with ring like abrasion Discovered on the outside part of the wound is a muzzle mark The wound will look dirty because of grease and combustion products such as gunpowder particles and soot

and combustion products such as gunpowder particles and soot Bullet Hole Soot Gunpowder Particles Abrasion Zone
and combustion products such as gunpowder particles and soot Bullet Hole Soot Gunpowder Particles Abrasion Zone

Bullet Hole Soot Gunpowder

Particles

Abrasion Zone

Burn

Dirty Bullet Hole

Muzzle Rim Mark

Blackish Abrasion

Zone

©Bimbel UKDI MANTAP

Hard Contact

Hard pressure of the gun muzzle to the target brings about a perfect contact in that the skin forms a seal around the muzzle

So that the flinging back of the

firing power and hot gas will violently pass through the soft tissue, causing irregular lacerations surrounding the wound with a muzzle mark on the outside of the wound

the wound with a muzzle mark on the outside of the wound The abrasion ring, and

The abrasion ring, and a very clear muzzle imprint, are seen in this hard contact range gunshot wound

Soft Contact

Because soft pressure of the gun muzzle to the target produces an imperfect contact, there may be some openings along the contact

area

What follows is that the flinging back of the firing power and combustions products will escape sideways passing these openings, causing blackish and dirty abrasion surrounding the wound with or without a muzzle mark on the outside of the wound

with or without a muzzle mark on the outside of the wound This is a soft

This is a soft contact range gunshot entrance wound with grey-black discoloration from the burned powder

Bila ada kelim api, berarti korban ditembak dari jarak maksimal 15 cm (LUKA TEMBAK JARAK SANGAT DEKAT)

Bila ada kelim jelaga, berarti korban ditembak dari jarak maksimal 30 cm. (LUKA TEMBAK JARAK SANGAT DEKAT)

Bila ada kelim tattoo, berarti korban ditembak dari jarak maksimal 60 cm (LUKA TEMBAK JARAK DEKAT)

Bila hanya ada kelim lecet, cara pengutaraannya adalah sebagai berikut: “ berdasarkan sifat lukanya luka tembak tersebut merupakan LUKA TEMBAK JARAK JAUH“, ini mengandung arti:

1. Memang korban ditembak dari jarak jauh, yang berarti diluar jangkauan atau jarak tempuh butir-butir mesiu yang tidak terbakar atau sebagian terbakar.

2. Korban ditembak dari jarak dekat atau sangat dekat, akan tetapi antara korban dengan moncong senjata ada penghalang; seperti bantal dan lain sebagainya.

©Bimbel UKDI MANTAP

Trauma Panas, Dingin, dan Listrik

Trauma

Burns are caused by the transfer of energy from a physical or chemical source into living tissues, which causes disruption of their normal metabolic processes and commonly leads to irreversible changes that end in tissue death

Panas

Complete epidermal necrosis can occur at 44°C if exposed for 6 hours, while such necrosis occurs within 5 seconds at 60°C and less than 1 second at 70°C

Burn where the heat source is dry

Scalding where the heat source is wet with moist heat from hot water, steam and other hot liquids

Hyperthermia a condition where the core body temperature is greater than 40°C (100°F)

occurs when heat is no longer effectively dissipated, leading to excessive heat retention

External and Internal Findings • Finding of soot in the airways, oesophagus and/or stomach –

External and Internal Findings

Finding of soot in the airways, oesophagus and/or stomach the implication that respiration was required to inhale the soot

Blood samples can be taken for a rapid assessment of carboxyhaemoglobin, as a convenient marker of the inhalation of the combustion products of fire

‘Pugilist attitude’ of the body

Post-mortem splitting of fragile burnt skin

Heat-related ‘extradural haemorrhage’

©Bimbel UKDI MANTAP

©Bimbel UKDI MANTAP
©Bimbel UKDI MANTAP
©Bimbel UKDI MANTAP

©Bimbel UKDI MANTAP

©Bimbel UKDI MANTAP
©Bimbel UKDI MANTAP
Immediate       • Toxic gas inhalation – CO (most common), cyanide, acrolein, nitrogen
Immediate       • Toxic gas inhalation – CO (most common), cyanide, acrolein, nitrogen

Immediate

 
   

Toxic gas inhalation CO (most common), cyanide, acrolein, nitrogen dioxide, hydrochloric acid

-

Often see soot in nose/mouth

May produce edema, mucosal necrosis of upper airway, or bronchospasm

-

-

CO levels usually 30-60% in fire deaths

Neurogenic shock secondary to severe pain

Trauma

 
 

Delayed

 

Delayed hypovolemic shock with renal failure

ARDS

 

Infection (pneumonia, sepsis, cutaneous)

Pulmonary embolus due to immobilization

©Bimbel UKDI MANTAP

Trauma Dingin

Deaths from exposure occur through heat

loss from radiation, convection, conduction,

respiration and evaporation. Environmental temperatures below 10°C are probably sufficient to cause harmful hypothermia in vulnerable individuals.

Hypothermia occurs when a person’s normal

body temperature of around 37°C (98.6°F) drops below 35°C (95°F). It is usually caused by being in a cold environment. It can be triggered by a combination of factors, including prolonged exposure to cold (such

as staying outdoors in cold conditions or in a

poorly heated room for a long time), rain, wind, sweat, inactivity or being in cold water.

time), rain, wind, sweat, inactivity or being in cold water. ©Bimbel UKDI MANTAP Mild hypothermia Core

©Bimbel UKDI MANTAP

Mild hypothermia

Core temperature

3235°C

compared with a normal of 37.5°C

Moderate

hypothermia

Core temperature

(3032°C)

Severe

hypothermia

Core temperature (< 30°C)

External and Internal Findings

Indistinct red or purple skin discoloration “frost erythema” over large joints, such as the elbows, hips or knees (and in areas of skin in which such discoloration cannot be hypostasis)

Haemorrhagic gastric lesions Wischnewsky spots”

Tissue injury that varies in severity from erythema to infarction and necrosis following microvascular injury and thrombosis “frostbite”

Paradoxical undressing is a phenomenon that describes the finding of partially clothed or naked individuals in a setting of lethal hypothermia confusion and abnormal processing of peripheral cutaneous stimuli in a cold environment, leading the individual to perceive warmth and thus to shed clothing

The phenomenon of ‘hide and die syndrome’ describes the finding of a body that appears to be hidden terminal primitive ‘self-protective’ behavior and may be more commonly

to be hidden → terminal primitive ‘self - protective’ behavior and may be more commonly ©Bimbel
to be hidden → terminal primitive ‘self - protective’ behavior and may be more commonly ©Bimbel

©Bimbel UKDI MANTAP

to be hidden → terminal primitive ‘self - protective’ behavior and may be more commonly ©Bimbel

Trauma Listrik

The essential factor in causing harm is the current (i.e. an electron flow) which is measured in milliamperes (mA). This in turn is determined by the resistance of the tissues in ohms and the

voltage of the power supply in volts (V).

Usually, the entry point is a hand that touches an electrical appliance or live conductor, and the exit is to earth (or ‘ground’), often via the other hand or the feet. In either case, the current will cross the thorax, which is the most dangerous area for a shock because of the risks of cardiac arrest or respiratory paralysis.

10 mA

Pain and muscle twitching of the hand

paralysis. 10 mA Pain and muscle twitching of the hand 30 mA ‘Hold - on’ effect

30 mA

‘Hold-on’ effect, the muscles will go into spasm, which cannot be voluntarily released because the flexor muscles are stronger than the extensors

because the flexor muscles are stronger than the extensors 50 mA Fatal ventricular fibrillation is likely

50 mA

Fatal ventricular fibrillation is likely to occur

50 mA Fatal ventricular fibrillation is likely to occur ©Bimbel UKDI MANTAP Internal and External Findings

©Bimbel UKDI MANTAP

Internal and External Findings

The focal electrical lesion is usually a blister

‘electric mark’, which occurs when the conductor is in firm contact with the skin and which usually collapses soon after infliction, forming a raised rim with a concave centre

The skin is pale, often white, and there is an areola of pallor (owing to local vasoconstriction),

sometimes accompanied by a hyperaemic rim

‘Spark burn’, a central nodule of fused keratin, brown or yellow in colour, is surrounded by the typical areola of pale skin ‘Crocodile skin’

Lightning

A lightning strike from cloud to earth high-voltage electricity (10 megavolt) and 100.000 A Some of the lesions caused to those who are struck directly or simply caught close to

the lightning strike are electrical, but other will be from burns and yet others result

from the ‘explosive effects’ of a compression wave of heated air leading to ‘burst eardrums’, pulmonary blast injury and muscle necrosis/myoglobinuria

External and Internal Findings

Partial or complete stripping of clothing from the victim ‘Blast effect’

Magnetization or even fusion of metallic objects in the clothing

‘Metalization’ penempelan partikel konduktor pada kulit

tubuh korban yang dapat diidentifikasi dengan pewarnaan

khusus

‘Fern or branch-like’ or ‘arborescent mark’ patterns on the skin the so-called Lichtenberg figure

©Bimbel UKDI MANTAP

- like’ or ‘arborescent mark’ patterns on the skin – the so-called Lichtenberg figure ©Bimbel UKDI

Kasus Kejahatan Seksual

 

Pengertian

Perkosaan

adalah

pengertian

hukum

bukan

istilah

medis,

sehingga

digunakan

istilah

persetubuhan

Persetubuhan yang merupakan kejahatan seperti yang dimaksudkan oleh undang-undang meliputi

persetubuhan di dalam perkawinan

maupun di luar perkawinan

 
 

Pembuktian

 

Ada tidaknya persetubuhan

 

Ada tidaknya kekerasan

 

Penentuan umur korban

 

Penentuan

sudah

atau

belum

waktunya untuk dikawin

©Bimbel UKDI MANTAP

 

Penentuan Jenis Delik

Perkosaan Kekerasan atau ancaman kekerasan menyetubuhi seorang wanita di luar perkawinan, termasuk

dengan sengaja membuat orang pingsan atau tidak berdaya (pasal 89 KUHP)

Persetubuhan di luar perkawinan

Bila wanita berusia >15 tahun tidak dapat dihukum kecuali jika perbuatan dilakukan dalam keadaan wanita pingsan atau tidak berdaya

Bila wanita berusia 12-15 tahun dihukum karena wanita belum waktunya untuk dikawin, akan tetapi harus ada pengaduan dari korban atau keluarganya (delik aduan)

Bila wanita berusia <12 tahun dihukum karena wanita belum waktunya untuk dikawin dan tidak diperlukan

 

adanya pengaduan dari korban (delik temuan)

Perzinahan Persetubuhan antara pria dan wanita di luar perkawinan, di mana salah satu diantaranya telah kawin dan pasal 27 BW berlaku baginya. Pasal 27 BW adalah mengenai asas monogamy, di mana dalam waktu yang bersamaan seorang laki-laki hanya boleh dengan satu istri, dan seorang perempun hanya noleh dengan satu suami.

Perbuatan cabul Kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seseorang untuk melakukan atau membiarkan perbuatan cabul

Pada kasus homoseksual atau lesbian dimasukkan sebagai kejahatan seksual bila partnernya belum dewasa, dikatakan dewasa bila secara yuridis berumur di atas 21 tahun atau dibawahnya tapi sudah pernah kawin

©Bimbel UKDI MANTAP

Tanda Persetubuhan

Penetrasi Penis

Robekan pada selaput dara

Luka-luka pada bibir kemaluan

dan dinding vagina

Pancaran Air Mani/Sperma (tanda pasti)

Sperma di dalam vagina

Asam Fosfatase, Spermin, Kholin (Air Mani)

Kehamilan

Penyakit Kelamin

GO

Sifilis

Tanda Kekerasan

Luka lecet bekas kuku, gigitan (bitemark), serta luka memar pada tubuh

Pemeriksaan toksikologi obat

atau racun yang dapat membuat pingsan

©Bimbel UKDI MANTAP

Penentuan Layak Dikawin

Pemeriksaan identitas diri (KTP, SIM, dll)

Pemeriksaan erupsi gigi molar II

dan III

Erupsi molar II 12 tahun

Mineralisasi mahkota molar III tanpa pembentukan akar gigi 12-15 tahun

Erupsi molar III 17-21 tahun

Pernah atau belumnya

menstruasi, bila belum pernah menstruasi diobservasi selama 8 minggu di rumah sakit

Robekan Selaput Dara

Jenis robekan

Arah robekan

Kedalaman

Biasanya bentuk tidak beraturan pada perkosaan

Menunjukkan posisi saat melakukan hubungan seksual

Suka sama suka menunjukkan arah robekan pada jam 4,5,7,8 dan terjadi hanya pada satu/dua lokasi tsb.

Pemerkosaan terjadi robekan lebih dari 2 lokasi.

Membuktikan hubungan yang terjadi bersifat

persetubuhan atau hanya pelecehan seksual

Pemeriksaan Laboratorium Korban Kejahatan Seksual

TUJUAN

Menentukan adanya sperma

Menentukan adanya sperma

Menentukan adanya sperma

BAHAN

PEMERIKSAAN

METODE

Cairan vagina

Tanpa pewarnaan, pemeriksaan di bawah mikroskop (500kali)

Cairan vagina

Bercak Pakaian bagian tengah

Pewarnaan Malachite- green pada apusan di gelas objek

Pewarnaan BAECCHI

Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik, Dr. Abdul Mun’im Idries

HASIL

Sperma masih bergerak

Bagian basis kepala sperma berwarna ungu, bagian hidung merah muda

Kepala sperma merah, bagian ekor biru muda, kepala sperma tampak menempel pada serabut benang

Pemeriksaan motilitas sperma dapat

memperkirakan kejadian persetubuhan

Cairan semen masih dapat ditemukan pada :

- Oral

- Anorectal

- Vaginal

- Cervix

6 jam setelah persetubuhan

24 jam setelah persetubuhan

72 jam setelah persetubuhan

>72 jam setelah persetubuhan

Sperma Motil masih dapat ditemukan pada :

- Vagina

- Cervix

6 12 jam setelah persetubuhan

5 hari setelah persetubuhan

©Bimbel UKDI MANTAP

TUJUAN

Menentukan adanya air mani

Menentukan adanya air

mani

Menentukan adanya air

mani

Menentukan adanya air

mani

BAHAN

PEMERIKSAAN

METODE

Cairan vagina

Asam fosfatase

Cairan vagina

Kristal Kolin

Cairan vagina

Kristal spermin/Berberio

Pakaian

1.

Inhibisi as.fosfatase

dengan L(+)as.tartrat

2. Reaksi dengan as.fosfatase

3. Sinar UV;visual;taktil dan penciuman

HASIL

Warna ungu timbul dalam waktu kurang dari 30 detik, berarti

as.fosfatase berasal dari prostat;

warna ungu ≤65 detik, indikasi sedang

Kristal kholin-periodida tampak

bentuk jarum-jarum berwarna

coklat

Kristal spermin pikrat berbentuk

rombik/jarum kompas warna

kuning kehijauan

1. Warna ungu timbul di kerats

saring pertama, dan tidak di

kertas saring kedua

2. Warna ungu pada pakaian

3. 3. Fluoresensi pada pakaian

TUJUAN

Menemukan kuman N.Gonorrhea

BAHAN

PEMERIKSAAN

METODE

Sekret uretra dan sekret serviks uteri

Pewarnaan Gram

HASIL

Kuman

Menentukan adanya kehamilan

Urine

Hemagglutination inhibition test (Pregnosticon) Agglutination inhibition test

Terjadi aglutinasi pada tes kehamilan

Menunjukkan adanya racun

Urine

Toksikologi : TLC, mikrodifusi, dsb

Adanya obat yang menurunkan/menghilangkan kesadaran

Menentukan golongan darah

Cairan vagina yang berisis air mani dan darah

Serologi ABO

Gol.darah dari air mani berbeda dengan gol.darah korban (hanya pada tersangka dengan golongan sekretor)

Sediaan basah Sperma Kristal kolin warna coklat M a l a c h i t

Sediaan basah Sperma

Sediaan basah Sperma Kristal kolin warna coklat M a l a c h i t e

Kristal kolin warna coklat

Sediaan basah Sperma Kristal kolin warna coklat M a l a c h i t e

Malachite-green

warna coklat M a l a c h i t e - g r e e

Kristal spermin seperti jarum

kompas kuning

kehijauan

h i t e - g r e e n Kristal spermin seperti jarum kompas kuning

BAECCHI

h i t e - g r e e n Kristal spermin seperti jarum kompas kuning

Penentuan gol.darah

Pemeriksaan Laboratorium Pelaku Kejahatan Seksual

TUJUAN

Menentukan adanya sel epithel vagina, pada penis

Menentukan adanya kuman N.gonorrhea

BAHAN

PEMERIKSAAN

METODE

Cairan yang masih melekat di korona glandis

Menempelkan gelas objek mengelilingi korona glandis lalu ditetesi lugol

Sekret uretra

Pewarnaan Gram

HASIL

Epitel dinding vagina berbentuk heksagonal warna coklat/coklat kekuningan

Kuman

Epithel vagina dengan pewarnaan lugol Pewarnaan gram DGNI

Epithel vagina dengan pewarnaan lugol

Epithel vagina dengan pewarnaan lugol Pewarnaan gram DGNI

Pewarnaan gram DGNI

Pemeriksaan Bercak Darah

Tes Pendahuluan

• Tes Benzidin • Tes Luminol
• Tes Benzidin
• Tes Luminol

Tes Penentuan

• Tes Teichmann • Tes Takayama
• Tes Teichmann
• Tes Takayama

Tes Penentuan spesies

• Tes Presipitin
• Tes Presipitin

Tes Penentuan gol darah

• Tes absorpsi elusi
• Tes absorpsi elusi

Pemeriksaan Bercak Darah

TUJUAN

Menentukan adanya hemoglobin

Melihat bercak bersinar

Melihat kristal

Melihat kristal

BAHAN

PEMERIKSAAN

METODE

Bercak darah kering

Tes Benzidin

Bercak darah kering

Tes luminol

Bercak darah kering

Tes Teichmann

Bercak darah kering

Tes Takayama

HASIL

Warna hijau-biru (tidak spesifik tapi sangat sensitif > dari

teichmann dan takayama)

Bercak darah bersinar

(Luminescence) tes paling

sensitif

Kristal hemin-HCL bentuk batang coklat (lebih spesifik tapi kurang sensitif dibanding benzidin)

Kristal piridin hemokromogen bentuk bulu warna jingga (lebih spesifik tapi kurang sensitif

dibanding benzidin)

Pemeriksaan Bercak Darah

TUJUAN

Menentukan bercak

darah manusia

Menentukan gol darah

BAHAN

PEMERIKSAAN

METODE

Bercak darah kering

Tes Presipitin

Bercak darah kering

Absorpsi elusi

HASIL

Terbentuk cincin keruh

(presipitat)

Agglutinasi

Tes Benzidin – hijau-biru Tes Luminol - Bersinar Tes Takayama – bulu jingga Tes Teichmann

Tes Benzidin hijau-biru

Tes Benzidin – hijau-biru Tes Luminol - Bersinar Tes Takayama – bulu jingga Tes Teichmann –

Tes Luminol - Bersinar

Tes Benzidin – hijau-biru Tes Luminol - Bersinar Tes Takayama – bulu jingga Tes Teichmann –

Tes Takayama bulu jingga

Tes Benzidin – hijau-biru Tes Luminol - Bersinar Tes Takayama – bulu jingga Tes Teichmann –

Tes Teichmann batang warna coklat

Tanda-Tanda Kekerasan pada Anak

Perilaku Anak

Anak mengatakan dirinya dianiaya

Membalik/menyangkal cerita yang diungkapkan sebelumnya

Takut berlebih terhadap ortu

Agresif/menarik diri berlebih

Sulit berhubungan dengan teman

Terlalu penurut,pasif

Mencederai diri

Kabur dari rumah

Menghindari kontak mata

Gangguan tidur

Kenakalan remaja

Tanda penelantaran : Malnutrisi,

dehidrasi, lusuh, gangguan tumbuh

Pemeriksaan Fisik

Banyak memar dan memar jauh dari

penonjolan tulang. (pada kasus non kekerasan memar sering di penonjolan tulang) Paling sering di kepala dan

leher

Umur memar berbeda-beda

Memar besar, multiple, dan muncul

berkelompok

Memar karena kekerasan pada anak yang immobile biasanya pada jaringan lunak, multiple, berbentuk sama satu dengan yang lainnya.

Kasus tenggelam ada jejak ikatan yang jelas batasnya dan simetris

Kasus luka bakar luka bakar yang simetris dan jelas batasnya

Fraktur tanpa trauma yang jelas, biasanya multiple dengan derajat penyembuhan yang berbeda

Shaken baby syndrome

Kerusakan organ abdomen

Prevensi dan Manajemen

Manajemen tergantung tipe kekerasan

yang dialami anak

Kerjasama dari berbagai pihak : Dokter, RS, polisi, psikolog

Untuk prevensi : Pelatihan dalam menjadi ortu yang baik dan pengenalan tentang tumbuh kembang anak, home

visit dokter/pelayan kesehaatan lain,

program yang meningkatkan kerjasama antar anggota keluarga

KDRT (UU 23 thn 2004)

Kekerasan dalam rumah tangga:

Setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelanntaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan , atau perampasan kemerdekaan secra melawan hukum dalam lingkup rumah tangga.

Termasuk dalam lingkup rumah tangga:

Suami, istri, anak (termasuk anak angkat dan anak tiri

Hubungan keluarga dalam huruf a karena hubungan darah, perkawinan, persusuan, pengasuhan, dan perwalian yang menetap dalam rumah tangga; dan/atau orang yang bekerja membantu rumah tangga dan menetap dalam rumah tangga tersebut.

Orang yang bekerja dipandang keluarga dalam jangka waktu selama berada dalam rumah tangga yang bersangkutan

Abortus

Pengguguran kandungan menurut hukum

Tindakan menghentikan kehamilan atau mematikan janin sebelum waktu kelahiran, tanpa melihat usia kandungannya

Tidak dipersoalkan apakah dengan pengguguran kehamilan tersebut lahir bayi hidup atau mati

Yang dianggap penting adalah kandungan masih hidup sewaktu pengguguran dilakukan

Abortus

Provokatus

masih hidup sewaktu pengguguran dilakukan Abortus Provokatus Indikasi ibu Indikasi anak spontan Abortus Abortus
masih hidup sewaktu pengguguran dilakukan Abortus Provokatus Indikasi ibu Indikasi anak spontan Abortus Abortus

Indikasi ibu masih hidup sewaktu pengguguran dilakukan Abortus Provokatus Indikasi anak spontan Abortus Abortus Terapeutikus

Indikasi anakpengguguran dilakukan Abortus Provokatus Indikasi ibu spontan Abortus Abortus Terapeutikus Kriminalis ©Bimbel

spontandilakukan Abortus Provokatus Indikasi ibu Indikasi anak Abortus Abortus Terapeutikus Kriminalis ©Bimbel UKDI MANTAP

Abortusdilakukan Abortus Provokatus Indikasi ibu Indikasi anak spontan Abortus Terapeutikus Kriminalis ©Bimbel UKDI MANTAP

Abortus

Abortus Provokatus Indikasi ibu Indikasi anak spontan Abortus Abortus Terapeutikus Kriminalis ©Bimbel UKDI MANTAP
Abortus Provokatus Indikasi ibu Indikasi anak spontan Abortus Abortus Terapeutikus Kriminalis ©Bimbel UKDI MANTAP

Terapeutikus dilakukan Abortus Provokatus Indikasi ibu Indikasi anak spontan Abortus Abortus Kriminalis ©Bimbel UKDI MANTAP

Kriminalisdilakukan Abortus Provokatus Indikasi ibu Indikasi anak spontan Abortus Abortus Terapeutikus ©Bimbel UKDI MANTAP

©Bimbel UKDI MANTAP

Pelaku abortus yang terkena pidana

Wanita

yang

sengaja menggugurkan

kandungannya atau menyuruh orang lain

melakukannya (KUHP pasal 346)

Seseorang yang menggugurkan kandungan wanita lain tanpa (KUHP 347) atau dengan seizinnya (KUHP 348) Dokter, bidan atau juru obat yang melakukan kejahatan di atas (KUHP 349)

Orang

yang mempertunjukkan alat/cara

mengugurkan kandungan pada anak dibawah 17 tahun (KUHP 283) Barangsiapa menganjurkan/merawat/memberi obat kepada seseorang wanita dengan memberi harapan agar gugur kandungannya (KUHP 299)