Anda di halaman 1dari 8

BAB 9

ANALISIS BIAYA-VOLUME-LABA

OLEH
NAMA : DEWI NURTIKA
NIM : 105731111817
AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS MUUHAMMADIYAH MAKASSAR
2019
A. PENGERTIAN ANALISIS BIAYA-VOLUME-LABA
Analisis biaya-volume-laba ( analisis BVL) merupakan alat yang berguna
untuk perencanaan dan pembuatan keputusan.Analisis BVL menekankan pada
hubungan antara biaya,volume(kuantitas penjualan),dan harga jual.Analisis BVL
juga merupakan alat yang berguna untuk mengidentifikasi permasalahan yang
berhubungan dengan perencanaan penjualan dan membantu perusahaan dalam
memecahkan permasalahan tersebut.
Analisis BVL juga dapat digunakan untuk membantu memecahkan masalah
penting lainnya,misalnya tentang perencanaanjumalh unit produksi yang
seharisnya dijual agar perusahaan mencapai titik impas (break-even
point),perhitungan dampak penurunan biaya tetap terhadap titik impas dan
perhitungan dampak kenaikan harga jual terhadap laba.Selain itu,analisis BVL
juuga memungkinkan bagi manajer perusahaan untuk melakukan analisis
sensitivitas pengujian tentang dampak berbagai tingkat harga jual tau biaya
terhadap laba.
B. TITIK IMPAS DALAM UNIT
Titik Impas (break-even point) adalah keadaan yang menunjukkan bahwa
jumlah pendapatan yang diterima perusahaan (pendapatan total) samadengan
jumlah biaya yang dikeluarkan perusahaan (biaya total).Titik impas dapat
dirumuskan melalui dua pendekatan,yaitu titik impas dalam jumlah unit
penjualan dan titik impas dalam jumlah rupiah penjualan.Titik impas dalam
jumalah unit penjualan dihitung dengan cara membagi biaya tetap total dengan
margin kontribusi per unit.Titik impas dalam jumlah rupiah penjualan dihitung
dengan cara membagi biaya tetap total dengan rasio margin kontibusi.
a. Pendekatan Laba Operasi. Laporan laba rugi dengan pendekatan variable
costing dapat dinyatakan dalam bentuk persamaan sebagai berikut .

Laba operasi = pendapatan penjualan-biaya variabel-biaya tetap

Perhitunngan unit impas dapat dilakukan dengan cara memusatkan


perhatian pada laba operasi atau disebut dengan pendekatan laba operasi
(operating income approach).Penggunaan istilah laba oprasi menunjukkan
jumlah laba sebelum pajak.Selain itu,laba operasi hanya meliputi pendapatan
dan biaya yang berasal dari aktivitas operasi normal perusahaan.Aktivitas
operasi Normal adalah aktivitas yang dilakukan perusahaan dilaur aktivitas
investasi dan aktivitas keuangan.Untuk selanjutnya akan digunakan isitilah laba
bersih (net income) yang menunjukkan laba operasi setelah dikurangi dengan
pajak.

Laba operasi = (Harga jual per unit x Jumlah unit penjualan) - (Biaya variabel
per unit x jumlah unit penjualan) - Biaya tetap total

b. Pendekatan Margin Kontribusi.Perhitungan unit impas dapat dilakukan lebih


cepat dengan cara memusatkan perhatian pada margin kontribusi atau disebut
dengan pendekatan margin kontibusi.Margin kontribusi merupakan pendapatan
penjualan dikurangi dengan biaya variable total.Pada titik impas,besarnya
margin kontribusi sama dengan besarnya biaya tetap
Jumlah unit = Biaya tetap
Harga jual per unit - Biaya variabel per unit

Jumlah unit = Biaya tetap total


Margin Kontribusi per unit

Unit penjualan untuk mencapai laba yang ditargetkan


Titik impas merupakan informasi yang sangat bermanfaat bagi perusahaan sebagai
dasar untuk merencanakan perolehan laba.Analisis BVL memberi cara untuk
menentukan jumlah unit produk yang harus dijual agar perusahaan mampu
memperoleh laba yang ditargetkan.Laba operasi yang ditargetkan dapat ditunjukkan
sebagai jumlah rupiah,misalnya sebesar Rp. 20.000.000 atau sebagai persentase dari
pendapatan penjualan,misalnya 15% dari pendapatan penjualan.
Target Laba Setelah Pajak
Pajak penghasilan tidak berperan dalam perhitungan titik impas karena perusahaan
tidak akan dipungut pajak apabila laba yang diperoleh perusahaan sebesar
Rp.0.Namun,apabila perusahaan ingin mengetahui jumlah unit yang harus dijual
dalam rangka untuk memperoleh laba bersih,maka diperlukan beberapa
pertimbangan tambahan.
Pada umumnya pajak dihitung sebagai persentase dari laba.Laba setelah pajak
dihitung dengan cara mengurangkan pajak dari laba operasi sebelum pajak seperti
berikut ini.

Laba bersih = Laba operasi- pajak


= Laba operasi-(tarif pajak x laba operasi) atau Laba operasi= Laba bersih
=Laba operasi ( 1-tarif pajak) 1- tarif pajak

C. TITIK IMPAS DALAM RUPIAH PENJUALAN


Untuk menghitung titik impas dalam rupiah pennjualan,biaya variabel perlu
dinyatakan dalam persentase dari penjualan bukan dalam jumlah per unit
penjualan.
a. Target Laba dan Pendapatan Penjualan
Pada umumnya dengan asumsi bahwa biaya tetap tidak berubah,raso
margin kontribusi dapat digunakan untuk menghitung dampak perubahan
pendapatan penjualan terhadap laba.Untuk menghitung perubahan laba total
sebagai akibat dari perubahan pendapatan,secara sederhana dapat dilakukan
dengan cara mengalikan rasio margin kontribusi dengan penjualan.
b. Perbandingan Kedua Pendekatan
Alasan mengapa digunakan rumus terpisah untuk pendekatan pendapatan
penjualan yaitu; (1) rumus pendapatan penjualan memungkinkan perusahaan
untuk secara langsung mencari pendapatan penjualan apabila hal tersebut
memang dikehendaki.(2) Pendekatan pendapatan penjualan jauh lebih mudah
digunakan dalam situasi multiproduk.

D. ANALISIS MULTIPRODUK
a. Pendekatan Titik Impas dalam Unit
Dalam kasus perusahaan yang memproduksi lebih dari satu jenis produk
(multiproduk) perusahaan ingin mengetahui berapa unit masing-masing produk
yang harus dijual pada titik impas.Adapun caranya yaitu, biaya tetap total dibagi
dengan margin kontribusi.Jika perusahaan menghasilkan dua produk,maka akan
terdapat dua margin kontibusi sehingga perhitungannya dihitung masing-masing
produk
a.1 Penentuan Bauran Penjualan.Bauran penjualan dapat diukur dalam unit
penjualan atau dalam proporsi pendapatan.Sebagai contoh,PT Gemah Ripah
merencanakan penjualan 1.200 unit mesin motor A dan 800 unit mesin motor
B,maka bauran penjualan dalam unit adalah sebesar 1.200:800. Biasanya bauran
penjualan diturunkan sampai angka terkecil dan tidak dalam bentuk
pecahan.Oleh karena itu,bauran penjualan relatif 1.200:800 dapat
disederhanakan menjadi 3:2 akan dikuti dengan penjualan 2 unt mesin motor B.
b.2 Buaran Penjualan dan Analisis BVL.Penetapan suatu bauran
penjualan tertentu memungkinkan untuk mengkonversi masalah multiproduk ke
dalam format BVL untuk produk tunggal.Apabiala PT Gemah Ripah
mengharapkan untuk menjual 3mesin motor A untuk setiap penjualan 2 mesin
motor B,maka permasalah tersebut dapat dikonversi seolah-olah menjadi
penjualan produk tunggal dalam bentuk suatu paket penjualan yang terdiri atas
3 mesin motor A dan 2 mesin motor B.Selama menggunakan pendekatan titik
impas dalam unit,harga jual paket dsn biaya variabel per paket harus diketahui
dahulu.
b. Pendekatan Titik Impas dalam Rupiah Penjualan
Untuk mengilustrasikan titik impas dalam rupiah penjualan ,berikuti ini akan
digunakan informasi yang sama dengan yang digunakan dalam pendekatan
sebelumnya.Namun,hanya informasi tertentu saja dari informasi secara
keseluruhan yang terdapat pada laporan laba rugi yang diperlukan.
Titik impas dalam pendapatan penjualanjuga didasarkan atas ekspektasi
bauran penjualan.Seperti halnya dalam pendekatan unit penjualan,bauran
penjualan yang berbeda akan menghasilkan hasil yang berbeda.

E. PENYAJIAN HUBUNGAN BVL DALAM BENTUK GRAFIK


a. Grafik Volume-Laba
Grafik volume-laba menunjukkan hubungan antara laba dan volume
penjualan.Grafik volume-laba merupakan grafik tentang persamaan laba operasi
{Laba operasi =( Harga jual per unit x jumlah unit) - (Biaya variable per unit x
jumlah unit) - Biaya tetap}.Dalam grafik ini,laba operasi merupakan variabel
dependen dan jumlah unit penjualan merupakan variabel
independen.Biasanya,nilai variabel indpenden diukur disepanjang sumbu
horizontal dan nilai variable dependen diukur disepanjang sumbu vertikal.
b. Grafik Biaya-Volume-Laba
Grafik biaya-volume-laba menunjukkan hubungan antara biaya,volume dan
laba.Untuk memperoleh hubungan yang lebih terperinci,perlu dibuat grafik dua
grafik terpisah yaitu garis pendapatan total dan garis biaya total.Kedua garis
tersebut ditunjukkan melalui 2 persamaan berikut ini.
Pendapatan = Harga jual per unit x Jumlah unit
Biaya Total = Biaya variabel per unit x jumlah unit+ biaya tetap total
Asumsi -asumsi dalam analisis BVL
1. Analisis mengasumsikan bahwa fungsi pendekatan danfungsi biaya
bersifat linear
2. Analisis mengasumsikan bahwa harga,biaya tetap total,dan biaya
variabel per unit dapat diidentifikasi secara akurat dan akan selalu konstan
selama dalam kisaran relevan
3. Analisis mengasumsikan bahwa jumlah yang diproduksi sama dengan
jumlah dijual
4. Pada analisis multiprosuk,nauram penjualan diasmsikan telah diketahui
sebelumnya
5. Harga jual dan biaya diasumsikan telah diketahui dengan pasti.

F. PERUBAHAN DALAM VARIABEL BVL


Oleh karena perusahaan beroperasi dalam dunia yang dinamis,maka
perusahaan harus memerhatikan berbagai kemungkinan terjadinya perubahan
harga,biaya variebl,dan biaya tetap.Perusahaan juga harus memerhatikan dampak
berbagai kemungkinan risiko dan ketidakpastian.Perhatian terutama ditujukan
kepada dampak oerubahan harga,margin kontribusi per unit,dan biaya tetap
terhadap titik impas.

G. RISIKO DAN KETIDAKPASTIAN


a. Margin of Safety adalah unit penjualan atau yang diharapkan dapat dijual di
atas volume impas.Selain itu,margin of safety juga dapat didefiniskan sebagai
pendapatan yang diperoleh atau pendapatan yang diharapkan akan diperoleh
perusahaan diatas volume impas.
b. Operating Leverage berhubungan dengan bauran relatif biaya tetap dan
biaya variabel dalam suatu organisasi.Kadang-kadang dalam situasi tertentu
terjadi memungkinkan kondisi yang saling berlawanan antara biaya teta[ dan
biaya variabel.Apabilabiaya variabel turun, margin kontribusi per unit akan
naik dan selanjutnya akan mengakibatkan kontribusi masing-masing unit yang
dijual akan semakin besar.
c. Analisis Sensitivitas dan BVL. Analisis sensitivitas adalah teknik “bagaimana
jika “ yang menguji dampak perubahan asumsi yang mendasarinya terhadap
suatu jawaban.Analisis ini mudah digunakan dengan hanya memasukkan data
mengenai harga,biaya variabel,biaya tetap, dan bauran penjualan, serta
meyiapakan rumus untuk menghitung titik impas dan laba yang
diharapkan.Selanjutnya data dapat divariasi sedemikian rupa sesuai yang
diinginkan untuk megetahui dampak perubahan terhadap laba yang diharapkan.

H. ANALISIS BVL DAN PERHITUNGAN BIAYA BERBASIS AKTIVITAS


Analisis BVL konvensional mengasumsikan bahwa semua biaya perusahaan
dapat dikelompokkan ke dalam dua kategori,yaitu:biaya yang berubah sejalan
dengan volume penjualan (biaya variabel), dan biaya yang tidak berubah ( biaya
tetap).Selanjutnya,biaya diasumsikan sebagai fungsi lineardari volume
penjualan.
a. Perbandingan Analisis Konvensional dan ABC
Jumlah unit yang harus dijual adalah sama menurut kedua
pendekatan.Alasannya sederhana.Kelompok total biaya tetap menurut
perhitungan biaya konvensional terdiri atas biaya variabel berbasis nonunit
ditsmbsh biaya yang dianggap tetap tanpa memerhatikan pemicu
aktivitas.Sistem ABC memilah-milaj berbagai biaya variabel berdasarkan
nonunit.
b. Implikasi Strategis: Analisis BVL Konvensional versus Analisis ABC
Diasumsikan bahwa setelah dilakukan analisis BVL
konveensional,departemen pemasaran menyatakan penjualan 12.000 unit tidak
mungkin dapat dicapai.Pada kenyataannya biaya 10.000 unit yang mungkin
dapat dijual.Informasi yang diberikan oleh persamaan konvensional para
insinyur menekankan bahwa setiap pengurangan total biya tenaga kerja tidak
memengaruhi bahan atau overhead variabel-akan mengurangi total biaya
karena perubahan tingkat aktivitas tenaga kerja tidak memengaruhi biaya
tetap.Namun persamaan ABC menunjukkan bahwa pengursgan input tenaga
kerja yang secara berlawanan memengarui aktivitassetup atau dukungan teknik
mungkin tidak diiginka.
c. Analisis BVL dan JIT
Apabila suatu perusahaan mengadopsi sistem JIT, maka biaya variabel per
unit yang dijual akan berkurang dan biaya tetap akan naik.Sebagai
contoh,tenaga kerja langsung sekarang dianggap sebagai tetap dan bukan
vairabel.Bahan baku,di lain pihak masih dianggap sebagai biaya variabel
berdasarkan unit.Sebenarnya,penekanan pada kualitas total dan pembelian
jangka panjang membuat asumsi bahwa biaya bahan baku benar-benar
proporsional dengan unit yang diproduksi menjadi semakim terbukti.