Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH

PERAWATAN PULPA PADA GIGI SULUNG

Disusun oleh :

Adiani Fauzana Kaafi

Dokter gigi muda 2019

Nim:1931111320028

UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

PROGRAM STUDI PROFESI KEDOKTERAN GIGI

BANJARMASIN

Desember,2019

I. PENDAHULUAN
Masalah kesehatan gigi dan mulut yang paling sering dialami anak usia sekolah
adalah karies gigi. Karies gigi terjadi akibat adanya kerusakan jaringan keras gigi yang
meliputi enamel, dentin, dan sementum. Anak dengan usia 6–14 tahun merupakan usia
yang rawan dan kritis yang dapat terkena karies gigi dan pada usia tersebut mempunyai
sifat khusus yaitu masa di mana terjadi peralihan dari gigi susu ke gigi permanen serta
gigi sulung memiliki email yang lebih tipis dibandingkan gigi dewasa, sehingga
perjalanan karies dari email menuju dentin dan pulpa menjadi lebih cepat (Hermien,
2019; Welburry dkk, 2012). Kerusakan gigi yang meluas hingga ke pulpa dan pada
akhirnya menyebabkan kematian gigi sulung sebelum erupsi gigi penggantinya. Jika hal
ini terjadi, gigi sebaiknya jangan diekstraksi, namun harus dipertahankan. Karena gigi
sulung merupakan pembawa jalan untuk erupsi gigi penggantinya dan sangat berfungsi
dalam mempertahakan lengkung rahang. Cara mempertahankannya adalah dengan
melakukan perawatan saluran akar. Perawatan saluran akar pada bisa dilakukan dengan
menggunakan pulpotomi, pulpektomi dan pulp capping (Badrinatheswar, 2012).

II. TINJAUAN PUSTAKA


II.1. Pulpotomi

a. Definisi Pulpotomi
Pulpotomi merupakan perawatan pengambilan jaringan pulpa dari kamar pulpa
yang mengalami infeksi dengan meninggalkan jaringan pulpa pada saluran akar dalam
keadaan sehat dan vital, kemudian diikuti oleh penempatan medikamen diatas orifice
yang akan menstimulasi perbaikan atau memfiksasi sisa jaringan pulpa pada saluran
akar. Tujuan perawatan pulpotomi adalah menghilangkan semua jaringan pulpa yang
terinfeksi. (Badrinatheswar 2012)
b. Indikasi dan Kontraindikasi

Indikasi Pulpotomi
1. Lesi karies besar dengan kehilangan substansi marginal ridge satu pertiga atau
lebih.
2. Gigi bebas dari pulpitis akar, ini terdiri dari:
a. Riwayat rasa sakit spontan yang berimplikasi pada pulpitis irreversible
yang meluas ke jaringan akar.
b. Pendarahan yang ekstensif dan persisten yang berimplikasi pada
peradangan jaringan akar.
3. Masih ada dua pertiga panjang akar dari gigi sulung.
4. Tidak ada abses atau fistula.
5. Tidak ada inter-radikular bone loss.
6. Tidak ada resorpsi internal dari ruang pulpa atau saluran pulpa (Marwah, 2014)
Kontraindikasi Pulpotomi
1. Gigi yang tidak dapat direstorasi
2. Keterlibatan bifurkasi atau trifurkasi atau adanya abses
3. Kurang dari dua pertigapanjang akar yang tersisa (Marwah, 2014)
c. Klasifikasi Pulpotomi
Pulpotomi Vital
Pulpotomi vital adalah perawatan pengambilan jaringan pulpa bagian korona gigi
namun tetap meninggalkan jaringan pulpa di saluran akar tetap vital (Welbury, 2012).
Indikasi
 Gigi decidui dan gigi dewasa muda vital, tidak ada tanda keradangan
dalam kamar pulpa
 Terbukanya pulpa saat ekskavasi jaringan karies yang berlebih
 Gigi yang masih dapat dipertahankan dan minimal didukung lebih dari
2/3 panjang akar gigi
 Tidak ada rasa sakit spontan maupun terus menerus
 Tidak ada kelainan patologis pulpa klinis meupun netrologis(Welbury,
2012).
Kontraindikasi
 Rasa sakit spontan.
 Rasa sakit terutama bila diperkusi maupun dipalpasi.
 Ada mobiliti yang patologik.
 Gambaran radiografi tampak radiolusen pada daerah periapikal,
kalsifikasi pulpa, resrobsi akar interna maupun eksterna(Welbury,
2012).

Tahapan Pulpotomi Vital


 Persiapan pasien (pengaturan posisi kerja) –
 Persiapan operator (baju klinik, sarung tangan, masker) –
 Melakukan tindakan asepsis pada daerah kerja dengan mengulasi
povidone iodine –
 Melakukan anestesi infiltrasi pada daerah kerja / regio gigi yang akan
dilakukan pembukaan akses pulpotomi vital
 Pembukaan akses menggunakan round bur untuk membuka dan
menghilangkan atap pulpa sesuai dengan root map serta
menghilangkan jaringan karies pada ruang pulpa
 Melakukan irigasi dengan H2O2 3% dan aquadest steril
 Melakukan kontrol perdarahan pulpa dengan aplikasi cotton pellet di
kamar pulpa sampai mencapai hemostasis (Asnani, 2010).
Pulpotomi Devital
Pulpotomi devital adalah pengambilan jaringan pulpa yang terdapat dalam kamar
pulpa yang sebelumnya telah didevitalisasi, kemudian dengan pemberian pasta
antiseptik, jaringan dalam saluran akar ditinggalkan dalam keadaan aseptic
(Badrinatheswar, 2012.
Indikasi
 Pada pasien yang tidak dapat dilakukan anastesi
 Pada pasien yang memiliki perdarahan abnormal seperti hemofili
 Pada waktu perawatan pulpotomi vital 1 kali kunjungan sukar
dilakukan karena kurangnya waktu dan pasien tidak kooperatif
Kontraindikasi
 Kerusakan gigi bagian koronal yang besar sehingga restorasi dilakukan
 Infeksi periapikal, apeks masih terbuka
 Adanya kelainan patologis pulpa secara klinis maupun rontgenologis
(Badrinatheswar, 2012).

Tahapan Pulpotomi Devital


Kunjungan I
 Persiapan pasien (pengaturan posisi kerja)
 Persiapan operator (baju klinik, sarung tangan, masker)
 Isolasi daerah kerja
 Pembukaan akses menggunakan round bur untuk membuka dan
menghilangkan atap pulpa sesuai dengan root map serta
menghilangkan jaringan karies pada ruang pulpa
 Melakukan irigasi dengan H2O2 3% dan aquadest steril dan keringkan
 Meletakkan pasta devitalisasi yaitu pasta formaldehid diatas pulpa
yang terbuka menggunakan cotton pelet
 Tutup kavitas dengan tumpatan sementara
 Instruksi pasien untuk kembali 1 minggu lagi. (Badrinatheswar, 2012
Kunjungan II
 Isolasi daerah kerja
 Membuka tambalan sementara, lihat apakah pulpa masih vital atau
sudah non vital. Bila masih vital maka lakukan lagi perawatan seperti
kunjungan pertama, bila pulpa sudah non vital lakukan perawatan
selanjutnya
 Jaringan pulpa di kamar pulpa dibuang dan dibersihkan
 Melakukan isolasi ulang daerah kerja menggunakan cotton roll
 Sterilisasi I menggunakan ChKM / cresophen
 Kavitas ditutup dengan tumpatan sementara . (Badrinatheswar, 2012)
Kunjungan III
 Isolasi daerah kerja dan membuka tambalan sementara
 Sterilisasi II menggunakan ChKM / cresophen
 Kavitas ditutup dengan tumpatan sementara Kunjungan IV
 Isolasi daerah kerja dan membuka tambalan sementara
 Pengisian ruang pulpa dengan pasta zinc oxide eugenol dan tumpatan
sementara
 Foto pengisian pulpotom
 Jika pengisian sudah memenuhi ruang pulpa, tumpatan sementara
dilepas dan diaplikasikan basis zinc fosfat cement dan restorasi
permanen GIC (Badrinatheswar, 2012).
Pulpotomi Nonvital
Pulpotomi nonvital adalah pengambilan jaringan pulpa nekrotik yang terdapat
dalam kamar pulpa kemudian dengan pemberian pasta antiseptik, jaringan dalam
saluran akar ditinggalkan dalam keadaan aseptic (Asnani, 2010).
Indikasi
 Gigi decidui non vital akibat karies atau trauma.
 Gigi decidui yang telah mengalami resorpsi lebih dari 1/3 akar tetapi masih
diperlukan sebagai space maintainer.
 Gigi decidui patologik karena abses akut, sebelumnya abses harus dirawat
dahulu (Asnani, 2010)..
Kontraindikasi
 Kerusakan gigi bagian koronal yang besar sehingga restorasi dilakukan
 Infeksi periapikal, apeks masih terbuka
 Adanya kelainan patologis pulpa secara klinis maupun rontgenologis (Asnani,
2010).

Tahapan Pulpotomi Nonvital


Kunjungan I
 Persiapan pasien (pengaturan posisi kerja)
 Persiapan operator (baju klinik, sarung tangan, masker)
 Isolasi daerah kerja
 Pembukaan akses menggunakan round bur untuk membuka dan
menghilangkan atap pulpa sesuai dengan root map serta
menghilangkan jaringan karies pada ruang pulpa
 Melakukan irigasi dengan H2O2 3% dan aquadest steril dan keringkan
 Tutup kavitas dengan tumpatan sementara
 Instruksi pasien untuk kembali 1 minggu lagi (Asnani, 2010)..
Kunjungan II
 Isolasi daerah kerja
 Membuka tambalan sementara, lihat apakah pulpa masih vital atau
sudah non vital. Bila masih vital maka lakukan lagi perawatan seperti
kunjungan pertama, bila pulpa sudah non vital lakukan perawatan
selanjutnya
 Jaringan pulpa di kamar pulpa dibuang dan dibersihkan
 Melakukan isolasi ulang daerah kerja menggunakan cotton roll
 Sterilisasi I menggunakan ChKM / cresophen
 Kavitas ditutup dengan tumpatan sementara (Asnani, 2010).
Kunjungan III
 Isolasi daerah kerja dan membuka tambalan sementara
 Sterilisasi II menggunakan ChKM / cresophen
 Kavitas ditutup dengan tumpatan sementara Kunjungan IV
 Isolasi daerah kerja dan membuka tambalan sementara
 Pengisian ruang pulpa dengan pasta zinc oxide eugenol dan tumpatan
sementara
 Foto pengisian pulpotom
 Jika pengisian sudah memenuhi ruang pulpa, tumpatan sementara
dilepas dan diaplikasikan basis zinc fosfat cement dan restorasi
permanen GIC (Asnani, 2010).
II.2.Pulpektomi

a. Definisi Pulpektomi
Pulpektomi merupakan perawatan pengambilan jaringan pulpa dari kamar
pulpa dan saluran akar yang mengalami infeksi (Marwah, 2014).
b. Indikasi dan kontraindikasi Pulpektomi
Indikasi
 Nekrosis pulpa dan pulpitis irreversibel
 Panjang akar >2/3
 Terdapat rasa sakit spontan
 Kelanjutan dari perawatan pulpotomi yang gagal
Kontraindikasi
 Gigi tidak dapat direstorasi secara klinis
 Resorpsi akar internal atau eksternal
 Terdapat mobilitas pada gigi luas
 Panjang kurang dari 2/3. (Marwah, 2014).

c. Klasifikasi Pulpektomi
Pulpektomi Vital
Pulpektomi vital adalah pengambilan seluruh jaringan dalam ruang pulpa dan
saluran akar secara vital. (Marwah, 2014).
Indikasi Pulpektomi Vital
 Gigi sulung dengan infeksi melebihi kamar pulpa pada gigi vital atau
non vital
 Pasien mengeluhkan nyeri spontan
 Resorpsi akar kurang dari sepertiga apical
 Tidak ada granuloma pada gigi-geligi sulung. (Badrinatheswar, 2012).

Prosedur Pulpektomi Vital


 Persiapan pasien (pengaturan posisi kerja)
 Persiapan operator (baju klinik, sarung tangan, masker)
 Melakukan tindakan asepsis pada daerah kerja dengan mengulasi
povidone iodine Melakukan anestesi infiltrasi pada daerah kerja / regio
gigi yang akan dilakukan pembukaan akses pulpotomi vital
 Pembukaan akses menggunakan round bur untuk membuka dan
menghilangkan atap pulpa sesuai dengan root map serta
menghilangkan jaringan karies pada ruang pulpa
 Melakukan kontrol perdarahan pulpa dengan aplikasi cotton pellet di
kamar pulpa sampai mencapai hemostasis
 Fiksasi jaringan menggunakan cotton pellet dan formocresol (cotton
pellet tidak boleh terlalu basah) pada pulpa selama 3-5 menit
 Pengukuran panjang kerja saluran akar dan foto DWP
 Melakukan preparasi saluran akar dengan mengangkat jaringan pulpa
di saluran akar menggunakan jarum file 28 endodonti dimulai dari
jarum file nomor terkecil sesuai panjang kerja saluran akar
 Melakukan irigasi dengan H2O2 3% dan aquadest steril
 Melakukan isolasi ulang daerah kerja menggunakan cotton roll
 Pengisian saluran akar dengan pasta zinc oxide eugenol hingga kamar
pulpa menggunakan jarum lentulo, dilanjutkan tumpat sementara
 Foto pengisian pulpektomi
 Jika pengisian sudah memenuhi kamar pulpa dan saluran akar,
tumpatan sementara dilepas dan diaplikasikan basis zinc fosfat cement
dan restorasi permanen GIC (Badrinatheswar, 2012).
Pulpektomi devital
Pulpektomi devital adalah pengambilan jaringan pulpa yang terdapat dalam
kamar pulpa dan saluran akar yang sebelumnya telah didevitalisasi
(Badrinatheswar, 2012)..
Indikasi
 Gigi sulung dengan infeksi melebihi kamar pulpa pada gigi vital atau
non vital
 Pasien mengeluhkan nyeri spontan
 Resorpsi akar kurang dari sepertiga apical
 Tidak ada granuloma pada gigi-geligi sulung (Badrinatheswar, 2012).
Prosedur Pulpektomi devital
Kunjungan I
 Persiapan pasien (pengaturan posisi kerja)
 Persiapan operator (baju klinik, sarung tangan, masker)
 Isolasi daerah kerja
 Pembukaan akses menggunakan round bur untuk membuka dan
menghilangkan atap pulpa sesuai dengan root map serta
menghilangkan jaringan karies pada ruang pulpa
 Melakukan irigasi dengan H2O2 3% dan aquadest steril dan keringkan
 Meletakkan pasta devitalisasi yaitu pasta formaldehid diatas pulpa
yang terbuka menggunakan cotton pelet 29
 Tutup kavitas dengan tumpatan sementara
 Instruksi pasien untuk kembali 1 minggu lagi (Badrinatheswar, 2012).
Kunjungan II
 Isolasi daerah kerja
 Membuka tambalan sementara, lihat apakah pulpa masih vital atau
sudah non vital. Bila masih vital maka lakukan lagi perawatan seperti
kunjungan pertama, bila pulpa sudah non vital lakukan perawatan
selanjutnya
 Jaringan pulpa di kamar pulpa dibuang dan dibersihkan
 Pengukuran panjang kerja saluran akar dan foto DWP
 Melakukan preparasi saluran akar dengan mengangkat jaringan pulpa
di saluran akar menggunakan jarum file endodonti dimulai dari jarum
file nomor terkecil sesuai panjang kerja saluran akar
 Melakukan irigasi dengan H2O2 3% dan aquadest steril
 Melakukan isolasi ulang daerah kerja menggunakan cotton roll
 Sterilisasi I menggunakan paper point, kapas dan ChKM / cresophen
 Kavitas ditutup dengan tumpatan sementara (Badrinatheswar, 2012).
Kunjungan III
 Isolasi daerah kerja dan membuka tambalan sementara
 Sterilisasi II menggunakan paper point, kapas dan ChKM /
cresophen
 Kavitas ditutup dengan tumpatan sementara (Badrinatheswar,
2012).
Kunjungan IV
 Isolasi daerah kerja dan membuka tambalan sementara
 Pengisian saluran akar dengan pasta zinc oxide eugenol dan tumpatan
sementara
 Foto pengisian pulpotomi
 Jika pengisian sudah memenuhi saluran akar, tumpatan sementara
dilepas dan diaplikasikan basis zinc fosfat cement dan restorasi
permanen GIC (Badrinatheswar, 2012).

Pulpektomi Nonvital
Pulpektomi non vital. Pulpektomi non vital adalah pengambilan jaringan
pulpa yang terdapat dalam kamar pulpa dan saluran akar pada gigi yang
mengalami nekrosis pulpa / kematian pulpa (Marwah, 2014).
Indikasi Pulpektomi Nonvital
 Gigi sulung dengan nekrosis pulpa
 Gigi tidak goyang dan periodontal normal
 Tidak adanya fistel
 Rontgen foto: resorpsi akar tidak lebih dari 1/3 apikal, tidak ada
granuloma pada gigi geligi sulung (Marwah, 2014).

Prosedur Pulpektomi nonvital


Kunjungan I
 Persiapan pasien (pengaturan posisi kerja)
 Persiapan operator (baju klinik, sarung tangan, masker)
 Isolasi daerah kerja
 Pembukaan akses menggunakan round bur untuk membuka dan
menghilangkan atap pulpa sesuai dengan root map serta
menghilangkan jaringan karies pada ruang pulpa
 Jaringan pulpa di kamar pulpa dibuang dan dibersihkan
 Pengukuran panjang kerja saluran akar dan foto DWP
 Melakukan preparasi saluran akar dengan mengangkat jaringan pulpa
di saluran akar menggunakan jarum file endodonti dimulai dari jarum
file nomor terkecil sesuai panjang kerja saluran akar
 Melakukan irigasi dengan H2O2 3% dan aquadest steril
 Melakukan isolasi ulang daerah kerja menggunakan cotton roll
 Sterilisasi I menggunakan paper point, kapas dan ChKM / cresophen
 Kavitas ditutup dengan tumpatan sementara (Marwah, 2014).
Kunjungan II
 Isolasi daerah kerja dan membuka tambalan sementara
 Sterilisasi II menggunakan paper point, kapas dan ChKM /
cresophen
 Kavitas ditutup dengan tumpatan sementara (Marwah, 2014).
Kunjungan III
 Isolasi daerah kerja dan membuka tambalan sementara
 Pengisian saluran akar dengan pasta zinc oxide eugenol dan tumpatan
sementara
 Foto pengisian pulpotomi
 Jika pengisian sudah memenuhi saluran akar, tumpatan sementara
dilepas dan diaplikasikan basis zinc fosfat cement dan restorasi
permanen GIC (Marwah, 2014).

C. Pulp Capping

Pulp capping merupakan suatu aplikasi selapis atau lebih material pelindung atau
bahan untuk perawatan di atas pulpa yang terbuka, misalnya hidroksida kalsium, yang
akan merangsang pembentukan dentin reparative, serta pulp capping adalah tindakan
perlindungan terhadap pulpa vital dengan cara memberikan selapis tipis material proteksi
pada pulpa yang hampir terbuka (masih tertutup selapis tipis dentin) [2,4,6]. Bahan Obat
yang digunakan adalah Ca(OH)2 yang berfungsi merangsang pembentukan odontoblas
untuk membentuk dentin sekunder. Teknik perawatan pulp capping dapat dilakukan
dengan 2 cara yaitu secara tidak langsung dan secara langsung (Marwah, 2014).
Indikasi pulp capping adalah pulpa terbuka kurang dari 1 mm., dentin sekitar pulpa
sehat, tidak ada kelainan pulpa, tidak ada peradangan pada periapikal., belum ada keluhan
spontan, fraktur sebagian mahkot, sehingga salah 1 tanduk pulpa terbuka. Kontra
indikasi pulp capping adalah peka terhadap perkusi, terdapat kelainan pulpa, resorbsi
akar, adanya pembengkakkan, terdapat kegoyangan gigi patologis, pernah didapati sakit
yang spontan, terdapat gambaran radiolution pada periapikal, terdapat pendarahan gingiva
(Marwah, 2014).
Pulp Capping Indirek. Adalah Pemberian bahan terapitik pada dentin yang terinfeksi
di atas pulpa pada kavitas yang dalam, dimana pulpa belum terbuka. Indikasi Pulp
capping indirek adalah: Karies yang dalam, dimana lapisan dentin di atas pulpa sudah
sedemikian tipis, Tanpa adanya gejala inflamasi. Kontra Indikasi pulp capping adalah
adanya rasa sakit spontan, adanya tanda – tanda kondisi patologi klinis maupun
radiografis, rasa sakit spontan dan berdenyut.,rasa sakit karena rangsangan, resorpsi
interna, kalsifikasi pada pulpa. radiolusen di daerah furkasi atau periapikal, penebalan
periodontal membrane di daerah apikal. resorpsi akar pada gigi sulung mencapai 2/3 akar
atau lebih, perubahan jaringan periodonsium yang berhubungan dengan pulpa,
kegoyangan gigi., perdarahan gingiva (Marwah, 2014).

Teknik pulp capping indirek :

1) Rontgen foto untuk mengetahui kedalaman karies.

2) Isolasi daerah kerja.

3) Gunakan bur fisur untuk membuka daerah karies.

4) Gunakan bur kecepatan rendah (carbide bor) untuk mengangkat dentin karies,
kemudian irigasi dengan aquadest steril.

5) Keringkan kavitas setelah dibersihkan.

6) Tempatkan basis kalsium hidroksida Ca(OH)2 di atas selapis tipis dentin yang
tinggal (tersisa 1 mm) kemudian tutup dengan semen fosfat sebagai basis tumpatan

7) Lakukan restorasi amalgam / mahkota stainless steel (Badrinatheswar, 2012).


Pulp capping direk adalah Pemberian bahan terapitik / medikamen pada daerah pulpa
yang terbuka untuk merangsang terbentuknya barrier atau dentin reparatif yaitu dentin
barrier atau calcific barrier. Indikasi pulp capping direk adalah Pulpa vital terbuka kecil
(pin point) seujung jarum karena kesalahan waktu preparasi kavitas atau ekskavasi
jaringan dentin lunak., Terbukanya pulpa kecil (pin point) dengan diameter kurang dari 1
mm, Untuk gigi tetap muda pembentukan akar dan apeks belum sempurna. adanya rasa
sakit spontan, adanya tanda – tanda kondisi patologi klinis maupun radiografis, rasa sakit
spontan dan berdenyut.,rasa sakit karena rangsangan, resorpsi interna, kalsifikasi pada
pulpa. radiolusen di daerah furkasi atau periapikal, penebalan periodontal membrane di
daerah apikal. resorpsi akar pada gigi sulung mencapai 2/3 akar atau lebih, perubahan
jaringan periodonsium yang berhubungan dengan pulpa, kegoyangan gigi., perdarahan
gingiva (Badrinatheswar, 2012).

Teknik pulp capping direk :

1) Rontgen foto untuk mengetahui kedalaman karies.

2) Isolasi daerah kerja.

3) Perdarahan yang terjadi akibat perforasi dihentikan.

4) Irigasi kavitas dengan aquadest untuk mengeluarkan kotoran dari dalam kavitas,
kemudian dikeringkan kavitas tersebut

. 5) Letakkan bahan kalsium hidroksid pada daerah pulpa yang terbuka dan biarkan
sampai kering

6) Kemudian beri semen fosfat dan tambalan sementara.

7) Setelah 6 minggu, bila reaksi pulpa terhadap panas dan dingin normal dapat
dilakukan restorasi tetap. (Badrinatheswar, 2012;Asnani, 2010).
KESIMPULAN

Terdapat tiga macam perawatan pulpa pada anak yaitu pulpotomi, pulpektomi, pulp
capping. Pulpotomi adalah perawatan pengambilan jaringan pulpa dari kamar pulpa yang
mengalami infeksi dengan meninggalkan jaringan pulpa pada saluran akar dalam keadaan
sehat dan vital, kemudian diikuti oleh penempatan medikamen diatas orifice yang akan
menstimulasi perbaikan atau memfiksasi sisa jaringan pulpa pada saluran akar.
Pulpektomi merupakan perawatan pengambilan jaringan pulpa dari kamar pulpa dan
saluran akar yang mengalami infeksi. pulp capping adalah tindakan perlindungan
terhadap pulpa vital dengan cara memberikan selapis tipis material proteksi pada pulpa
yang hampir terbuka. Tindakan perawatan endodontic ini bertujuan untuk
mempertahankan gigi sulung sampai waktu tanggal nya
DAFTAR PUSTAKA
1. Asnani, K.H., Essentials of Pediatric Dentistry, ed 1., Jaypee Brothers Medical;
London, 2010
2. Badrinatheswar gv. Pedodontics Practice and Management: Jaypee Brothers Medical
Publishers; India. 2012
3. Hermien Nugraheni , Sadimin, Sukini. Determinan Perilaku Pencegahan Karies Gigi
Siswa Sekolah Dasar Di Kota Semarang. Jurnal Kesehatan Gigi. 2019. 6(1): 26-34
4. Marwah, N. Pediatric of Dentistry. Ed. 3. Jaypee Brothers Medical Publishers; New
Delhi, London. 2014.
Welburry RR,Duggal M, Hosey MT. Paediatric Dentistry 4th edition : Oxford
University Press; Newyork. 2012
5. Welburry, R. R. 2012. Paediatric Dentistry. 10nd edition. New York : Oxford
UniversityPress.

Disetujui tanggal :

Instrukur klinik :

Tanda tangan :