Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Setiap individu dalam satu masyarakat selalu berinteraksi antara yang
satu dengan yang lain membentuk satu kesatuan dengan berpedoman kepada
tata aturan yang kuat. Dalam hal ini agama berperan mengatur kehidupan
masyarakat sehingga mereka bisa hidup berdampingan dan saling
membutuhkan. Begitu pula dengan negara yang merupakan suatu organisasi
dalam suatu wilayah memberikan tata aturan kepada masyarakat dengan
membentuk satu tujuan bersama.
Agama dan negara memang tidak bisa dipisahkan dengan masyarakat
karena untuk mewujudkan cita-cita bersama masyarakat perlu memahami
nilai-nilai yang terkandung dalam agama dan negara sehingga menuntut
masyarakat menndalami apa itu agama dan apa itu negara dalam segala peran
dan fungsinya lebih-lebih di zaman yang serba modern ini.

Seperti diketahui, dinamika hubungan agama dan negara telah menjadi


faktor kunci dalam sejarah peradaban umat manusia. Di samping dapat
melahirkan kemajuan besar, hubungan antara keduanya juga telah
menimbulkan malapetaka besar. Tidak ada bedanya, baik ketika negara
bertahta di atas agama (pra abad pertengahan), ketika negara di bawah agama
(di abad pertengahan) atau ketika negara terpisah dari agama (pasca abad
pertengahan, atau di abad modern sekarang ini).

Pola hubungan ronde pertama dan kedua sudah lewat. Bahwa masih ada
sisa sisa masa lalu, dalam urusan apa pun termasuk hubungan negara agama,
bisa terjadi. Tapi, sekurang kurangnya secara teori, kini kita telah merasa
cocok di ronde ketiga, ronde sekular, di mana agama dan negara harus
terpisah, dengan wilayah jurisdiksinya masing masing. Agama untuk urusan
pribadi, negara untuk urusan publik.

Sejauh ini kita beranggapan hubungan sekularistik untuk agama negara


merupakan opsi yang terbaik. Dalam pola hubungan ini, agama tidak lagi bisa

1
memperalat negara untuk melakukan kedzaliman atas nama Tuhan; demikian
pula negara tidak lagi bisa memperalat agama untuk kepentingan penguasa.

Tapi apakah persoalan hubungan agama-negara sesederhana itu? Bahwa


pola hubungan sekularistik pada mulanya merupakan "wisdom" yang didapat
oleh masyarakat Barat dari sejarah panjang hubungan raja dan gereja, kiranya
jelas. Bagi umat Islam sendiri, Barat atau Timur sesungguhnya bukan
merupakan kategori benar salah atau baik buruk. Barat bisa benar, Timur bisa
salah; tapi juga bisa sebaliknya. "Kebaikan bukan soal Barat atau di Timur,
melainkan soal ketakwaan" (Q: Al Baqarah/176).

Tapi memang, sejak gagasan sekularisme ini didakwahkan ke Timur,


umat Islam menjadi terbelah antara yang menerima dan yang menolak. Yang
menolak umumnya karena kecurigaan terhadap apa saja yang datang dari
Barat. Tanpa mencoba mengerti kesulitan masyarakat Barat sendiri selama
berabad-abad dalam menata hubungan agama negara, mereka mencurigai
sekularisme sebagai gagasan untuk memarjinalkan Islam dari kehidupan
nyata.

Sementara itu, kelompok yang menerima berargumen bahwa seperti


umumnya agama, Islam pun terbatas jangkaunnya pada urusan pribadi. Jika ia
ditarik ke ruang publik (negara) akan membawa petaka seperti yang pernah
terjadi di Barat. Sekularisme adalah pilihan terbaik jika kita ingin
membiarkan negara dan agama dalam kewajarannya. Biarlah mereka
mengurus tugasnya masing-masing agama di wilayah privat, negara untuk
wilayah publik.

2
B. Rumusan masalah
Melihat uraian singkat diatas dapat kita tarik beberapa poin pemasalahan
yang perlu kita rumuskan antara lain:
1. Apa pengertian agama?
2. Apa pengertian negara?
3. Bagaimana hubungan antara agama dan negara?

C. Tujuan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah:
1. Untuk mengetahui pengertian agama
2. Untuk mengetahui pengertian negara
3. Untuk mengetahui hubungan antara agama dan negara

D. Manfaat
Adapun manfaat dari penulisan makalah ini adalah untuk menambah
wawasan mahasiswa dalam bidang ilmu kewarganegaraan khususnya
hubungan antara negara dan agama.

3
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Agama
Agama menurut etimologi berasal dari kata bahasa sanskerta dalam kitap
upadeca tentang ajaran-ajaran agama hindu disebutkan bahwa perkataan
agama berasal dari bahasa sanskerta yang tersusun dari kata “A” berarti tidak
dan “gama” berarti pergi dalam bentuk harfiah yang terpadu perkataan agama
berarti tidak pergi tetap ditempat, langgeng, abadi, diwariskan secara terus
menerus dari generasi ke generasi
Pada umumnya perkataan agama diartikan tidak kacau yang secara
analitis di uraikan dengan cara di memisahkan kata demi kata yaitu “A”
berarti tidak dan “gama” berarti kacau maksudnya orang yang memeluk suatu
agama dan mengamalkan ajaran-ajarannya dengan sungguh-sungguh
hidupnya tidak akan kacau.
Agama selalu diterima dan dialami secara subjektif. Oleh karena itu
orang sering mendifinisikan agama sesuai dengan pengalamannya dan
penghayatannya pada agama yang di anutnya. menurut “Mukti Ali”, mantan
menteri agama Indonesia menyatakan bahwa agama adalah percaya akan
adanya tuhan yang esa. Dan hukum-hukum yang di wahyukan kepada
kepercayaan utusan-utusannya untuk kebahagiaan hidup manusia di dunia
dan di akhirat
Sedangkan menurut ”James Martineau” agama adalah kepercayaan
kepada tuhan yang selalu hidup. Yakni kepada jiwa dan kehendak ilahi yang
mengatur alam semesta dan mempunyai hubungan moral dengan umat
manusia
Friedrich Schleiermacer, menegaskan bahwa agama tidak dapat di lacak
dari pengetahuan rasional, juga tidak dari tindakan moral, akan tetapi agama
berasal dari perasaan ketergantungan mutlak kepada yang tak terhingga
(feeling of absolute dependence)
Di samping itu, agama merupakan pedoman hidup atau arahan dalam
menentukan kehidupan, sebagaimana dalam hadist.

4
“kutinggalkan untuk kamu dua perkara tidaklah kamu akan tersesat
selama-lamanya, selama kamu masih berpegang kepada keduanya yaitu
kitabullah dan sunnah rasul”
Secara sosiologis menurut “johnstone”
“Religion can be defined as a system of beliefs and practices by
which a group of people interprets and responds to what they feel is sacred
and usually supernatural swell” lebih lanjut johnstune menyatakan that by
employing this definition weare, for purposes of sociological investigation at
least, adopting the position, of the hardnosed relativist and agnostiec (saya
kira dengan jujur kita harus mengakui masih sangat sulit mencari orang atau
pakar-pakar yang mengkaji atau bergulat dengan agama tertentu di Indonesia,
tetapi sekaligus merupakan relativis dan agnostik.

B. Pengertian Negara
Istilah negara diterjemahkan dari kata-kata asing yaitu staat” (bahasa
belanda dan jerman) “state” (bahasa inggris) “etat” (bahasa prancis) kata
“staat”(state,etat) itu diambil dari kata bahasa latin yaitu “status” atau statum,
yang artinya keadaan yang tegak dan tetap atau suatu yang memiliki sifat
yang tegak dan tetap.
Negara merupakan integrasi dari kekuatan politk, ia adalah organisasi
pokok dari kekuasaan politik negara adalah agency (alat) dari masyarakat
yang mempunyai kekuasaan untuk mengatur hubungan-hubungan manusia
dalam masyarakat dan menertibkan gejala-gejala kekuasaan dalam
masyarakat
Negara adalah organisasi yang dalam suatu wilayah dapat memaksakan
kekuasaannya secara sah terhadap semua golongan kekuasaanlainnya dan
yang dapat menetapkan tujuan-tujuan dari kehidupan bersama itu negara
menetapkan cara-cara dan batas-batas sampai dimana kekuasaan itu dapat
digunakan dalam kehidupan bersama itu, baik oleh individu maupun
golongan atau asosiasi, ataupun juga oleh negara sendiri.

5
C. Hubungan Antara Negara dan Agama
Dikalangan kaum muslimin, terdapat kesepakatan bahwa eksistensi
Negara adalah suatu keniscayaan bagi berlangsungnya kehidupan
bermasyarakat negara dengan otoritasnya mengatur hubungan yang
diperlukan antara masyarakat, sedangkan agama mempunyai otoritas unuk
megatur hubungan manusia dengan tuhannya.
Hubungan antara agama dan negara menimbulkan perdebatan yang terus
berkelanjutan dikalangan para ahli. Pada hakekatnya Negara merupakan suatu
persekutuan hidup bersama sebagai penjelmaan sifat kodrati manusia sebagai
mahluk individu dan makhluk sosial oleh karena itu sifat dasar kodrat
manusia tersebut merupakan sifat dasar negara pula sehingga negara sebagai
manifestasi kodrat manusia secara horizontal dalam hubungan manusia
dengan manusia lain untuk mencapai tujuan bersama. Dengan demikian
negara mempunyai sebab akibat langsung dengan manusia karena manusia
adalah pendiri negara itu sendiri.
Berdasarkan uraian diatas konsep hubungan negara dan agama sangat
ditentukan oleh dasar ontologis manusia masing masing keyakinan manusia
sangat mempengaruhi konsep hubungan agama dan negara dalam kehidupan
manusia berikut di uraikan beberapa perbedaan konsep hubungan agama dan
negara menurut beberapa aliran atau paham antara lain sebagai berikut:

1. Hubungan Negara dan Agama Menurut Paham Teokrasi


Dalam paham teokrasi hubungan agama dan negara digambarkan sebagai
dua hal yang tidak dapat dipisahkan, negara menyatu dengan agama
karena pemerintahan menurut paham ini dijalankan berdasarkan firman-
firman Tuhan segala tata kehidupan masyarakat bangasa dan negara
dilakukan atas titah Tuhan dengan demikian urusan kenegaraan atau
politik dalam paham teokrasi juga diyakinkan sebagai manifestasi Tuhan.
Sistem pemerintahan ini ada 2 yaitu teokrasi langsung dan tidak langsung.
Sistem pemerintahan teokrasi langsung adalah raja atau kepala negara
memerintah sebagai jelmaan Tuhan adanya negara didunia ini adalah atas
kehendak Tuhan dan oleh karena itu yang memerintah Tuhan pula.

6
Sedangkan sistem pemerintahan teokrasi tidak langsung yang memerintah
bukan tuhan sendiri melainkan raja atau kepala negara yang memiliki
otoritas atas nama Tuhan. Raja atau kepala negara memerintah atas
kehendak Tuhan dengan demikian dapat dikatakan bahwa negara menyatu
dengan agama .agama dengan negara tidak dapat dipisahkan.

2. Hubungan Negara dan Agama Menurut Paham Sekuler


Paham sekuler memisahkan dan membedakan antara agama dan negara
dalam negara sekuler tidak ada hubungan antara sistem kenegaraan dengan
agama. Dalam paham ini agama adalah urusan hubungan manusia dengan
manusia lain atau urusan dunia, sedangkan urusan agama adalah hubungan
manusia dengan tuhan dua hal ini menurut paham sekuler tidak dapat
dipersatukan meskipun memisahkan antara agama dan negara lazimnya
Negara sekuler mmbebaskan warga negaranya untuk memeluk agama apa
saja yang mereka yakini tapi negara tidak ikut campur tangan dalam
urusan agama.

3. Hubungan Negara dan Agama Menurut Paham Komunisme


Paham komunisme ini memendang hakekat hubungan agama dan negara
berdasarkan filosofi dialektis dan materialisme histories paham ini
menimbulkan paham Atheis (tak bertuhan) yang dipelopori Karl marx
menurutnya manusia ditentukan oleh dirinya agama dalam hal ini
dianggap suatu kesadaran diri bagi manusia sebelum menemukan dirinya
sendiri.
Manusia adalah dunia manusia sendiri yang kemudian menghasilkan
masyarakat negara sedangkan agama dipandang sebagai realisasi fantastis
mahluk manusia dan agama adalah keluhan mahluk tertindas. Oleh karena
itu agama harus ditekan dan dilarang nilai yang tertinggi dalam negara
adalah materi karena manusia sendiri pada hakikatnya adalah materi.

7
4. Hubungan Negara dan Agama Menurut Islam
Tentang hubungan agama dan negara dalam islam adalah agama yang
paripurna yang mencakup segala-galanya termasuk masalah negara oleh
karena itu agama tidak dapat dipisahkan dari negara dan urusan negara
adalah urusan agama serta sebaliknya aliran kedua mengatakan bahwa
islam tidak ada hubungannya dengan negara karena islam tidak mengatur
kehidupan bernegara atau pemerintahan menurut aliran ini Nabi
Muhammad tidak mempunyai misi untuk mendirikan negara.
Aliran ketiga berpendapat bahwa islam tidak mencakup segala-
galanya tapi mencakup seperangkat prinsip dan tata nilai etika tentang
kehidupan bermasyarakat termasuk bernegara.
Sementara itu “Hussein Mohammad” menyebutkan bahwa dalam
islam ada dua model hubungan agama dan negara.
a) Hubungan integralistik dapat diartikan sebagai hubungan totalitas
dimana agama merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat dipasahkan
keduanya merupakan dua lembaga yang menyatu.
b) Hubungan simbiosis mutualistik bahwa antara agama dan negara
terdapat hubungan yang saling membutuhkan sebab tanpa agama akan
terjadi kekacauan dan amoral dalam negara.
Ibnu taimiyah (tokoh sunni salafi) berpendapat bahwa agama dan
negara benar benar berkelindahan tanpa tanpa kekuasaan negara yang
bersifat memaksa agama berada dalam bahaya sementara itu tanpa disiplin
hukum wahyu pasti menjadi sebuah organisasi yang tiranik.
Selanjutnya al-Ghazali dalam bukunya “Aliqtishad fi
Ali’tiqat” mengatakan bahwa agama dan negara adalah dua anak kembar
agama adalah dasar dan penguasa/kekuasaaan negara adalah penjaga
segala sesuatu yang tidak memiliki dasar akan hancur dan sesuatu yang
tidak memeiliki penjaga akan sia-sia.
Mengingat kompleksitas politis dan historis negara bangsa Indonesia
sejauh menyangkut kehidupan agama dan umat beragama dan juga
political and social repercussions yang bias muncul pada masa sekarang ini
dalam masa masa transisi mendatang maka jelas masih sangat sulit

8
mencari format yang tepat dan accep table bagi banyak pihak dalam
“reposisi”hubungan agama dan negara.
Akan tetapi agaknya satu hal sangat jelas bahwa akan sulit
dibayangkan jika reposisi itu dimaksudkan untuk menyisihkan begitu saja
peran pemerintah dalam mengatur kehidupan warga negara termasuk
dalam kehidupan beragama,khususnya dalam aspek administrasi
keagamaan bukan aspek teologis masing masing agama dan akan lebih
sulit lagi jika reposisi itu dimaksudkan untuk memisahkan agama dan
negara melalui pemisahan kedap air (Waterlight separation)dengan kata
lain mengubah Indonesia menjadi negara sekuler setidaknya sebagian
besar umat islam belum siap untuk menerima perubahan itu.

9
BAB II
PENUTUP

A. Kesimpulan

Hubungan antara agama dan Negara adalah tidak dapat dipisahkan.


Negara menyatu dengan agama, karena pemerintahan dijalankan berdasarkan
firman-firman Tuhan. Segala tata kehidupan dalam masyarakat, bangsa dan
Negara dilakukan atas titah Tuhan.

Agama, secara sederhana, pengertian agama dapat dilihat dari sudut


kebahasaan (etimologi) dan sudut istilah (terminologi) menurutnya dalam
masyarakat indonesia selain dari kata agama, dikenal pula kata din dari
bahasa Arab dan kata religi dalam bahasa Eropa. Menurutnya, agama berasal
dari kata Sanskrit.

Negara, secara literal istilah Negara merupakan terjemahan dari kata-kata


asing, yakni kata staat, state, etat itu diambil dari kata bahasa latin status atau
statum, yang berarti keadaan yang tegak dan tetap atau sesuatu yang memiliki
sifat-sifat yang tegak dan tetap. Secara terminologi, Negara diartikan dengan
organisasi tertinggi di antara satu kelompok masyarakat yang mempunyai
cita-cita untuk bersatu, hidup di dalam daerah tertentu dan mempunyai
pemerintahan yang berdaulat.

B. Saran
Sebagai penganut agama dan warga negara diharapkan kita bisa berpegang
teguh terhadap tata nilai yang ada dalam ajaran agama dan aturan dalam
menjalin hubungan dengan individu yang lain dalam masyarakat mewujudkan
tujuan bersama. Kita tahu bahwa agama dan negara berperan
mengatur masyarakat sehingga semua tingkah laku masyarakat harus
didasarkan kepada aturan tersebut.

10