Anda di halaman 1dari 8

Manajemen Strategi

Studi Kasus PT. Telkomsel


Oleh : Fauziah Nur Hutauruk (30118006)
Elsa Monicha (30118005)

1. Profil Perusahaan
Sejak berdiri pada tanggal 26 Mei 1995, Telkomsel secara konsisten melayani
negeri, menghadirkan akses telekomunikasi kepada masyarakat Indonesia yang tersebar
dari Sabang sampai Merauke.
Saat ini Telkomsel adalah operator selular terbesar di Indonesia dengan 178 juta
pelanggan dan untuk melayani pelanggannya yang tersebar di seluruh Indonesia,
termasuk juga di daerah terpencil dan pulau terluar serta daerah perbatasan negara,
Telkomsel menggelar lebih dari 146 ribu BTS.
Telkomsel secara konsisten mengimplementasikan teknologi seluler terkini dan
menjadi yang pertama meluncurkan secara komersial layanan mobile 4G LTE di
Indonesia. Memasuki era digital, Telkomsel terus mengembangkan bisnis digital,
diantaranya Digital Advertising, Digital Lifestyle, Mobile Financial Services, dan
Internet of Things. Untuk melayani kebutuhan pelanggan, Telkomsel menggelar call
center 24 jam dan layanan GraPARI yang tersebar di seluruh Indonesia.
Untuk memberikan layanan yang prima kepada masyarakat di dalam menikmati gaya
hidup digital (digital lifestyle), Telkomsel turut membangun ekosistem digital di tanah
air melalui berbagai upaya pengembangan DNA (Device, Network dan Applications),
yang diharapkan akan mempercepat terbentuknya masyarakat digital Indonesia. Selain
itu Telkomsel juga aktif mendorong generasi muda untuk secara positif menggunakan
teknologi.
Telkomsel akan selalu hadir untuk menginspirasi masyarakat dengan memanfaatkan
teknologi terdepan, produk dan layanan yang kompetitif, serta solusi inovatif. Hal ini
akan mengantarkan Indonesia menuju perekonomian masyarakat berbasis broadband
sesuai roadmap teknologi selular. Kecintaan pada negeri mendorong Telkomsel untuk
terus berkreasi menghadirkan layanan telekomunikasi terbaik bagi masyarakat
Indonesia.
2. Visi, Misi dan Tujuan Perusahaan
Visi
Menjadi penyedia layanan dan solusi gaya hidup digital mobile kelas dunia yang
terpercaya.
Misi
Memberikan layanan dan solusi digital mobile yang melebihi ekspektasi para pengguna,
menciptakan nilai lebih bagi para pemegang saham serta mendukung pertumbuhan
ekonomi bangsa.

Analisa Internal Perusahaan

a. Profil Produk

Telkomsel merupakan operator selular terkemuka di Indonesia yang dimiliki PT


Telkom dengan kepemilikan saham sebesar 65 persen dan SingTel sebesar 35
persen.Telkomsel didirikan pada tahun 1995 sebagai wujud semangat inovasi untuk
mengembangkan telekomunikasi Indonesia yang terdepan. Untuk mencapai visi tersebut,
Telkomsel terus memacu pertumbuhan jaringan telekomunikasi di seluruh penjuru Indonesia
secara pesat sekaligus memberdayakan masyarakat. Telkomsel menjadi pelopor untuk
berbagai teknologi telekomunikasi selular di Indonesia, termasuk yang pertama meluncurkan
layanan roaming internasional dan layanan 3G di Indonesia.
Hingga Juni 2010, Telkomsel dipercaya melayani 88,3 juta pelanggan, menjadikan
Telkomsel sebagai pemimpin pasar di industri telekomunikasi selular dengan pangsa pasar
sekitar 50 persen.
Sebagai operator selular yang memiliki visi “Best and Leading Mobile Lifestyle and
Solutions Provider in the Region”, Telkomsel menyediakan ragam pilihan layanan yang
disesuaikan dengan kebutuhan pelanggan melalui produk paskabayarkartuHALO maupun
prabayar simPATI dan Kartu As.
Komitmen kuat Telkomsel dalam menghadirkan layanan mobile lifestyle yang semakin
berkualitas sangat jelas terlihat dengan secara konsisten
mengimplementasikan roadmap teknologi selular terkini, yakni 3G, HSDPA, HSPA,
HSPA+, serta Long Term Evolution. Tahun ini Telkomsel mengembangkan jaringanmobile
broadband dengan mencanangkan 24 kota besar sebagai broadband city.
Sebagai pemimpin di industri telekomunikasi selular, Telkomsel telah menggelar
34.000 Base Transceiver Station termasuk lebih dari 6.000 Node B yang menjangkau 95
persen wilayah populasi Indonesia. Seiring diselesaikannya programUniversal Service
Obligation yang diamanahkan pemerintah untuk menggelar jaringan di 25.000 desa, maka
layanan Telkomsel menjangkau hampir 100 persen wilayah populasi Indonesia.
Bahkan kenyamanan berkomunikasi pelanggan Telkomsel yang sedang berada di luar
negeri tetap terjamin berkat dukungan 403 mitra operator international roaming dan 300
mitra operator data roaming di lebih dari 200 negara di seluruh belahan dunia.

b. Market Share Produk


Telkomsel merupakan operator telekomunikasi selular dengan market share terbesar di
Indonesia yang kini dipercaya melayani lebih dari 83 juta pelanggan. Pada tahun 2010,
Telkomsel menargetkan penambahan sekitar 18 juta pelanggan baru sehingga secara
keseluruhan Telkomsel akan melayani sekitar 100 juta pelanggan.
Saat ini Telkomsel telah menggelar lebih dari 32.000 Base Transceiver Station (BTS)
termasuk lebih dari 5.000 Node B (BTS 3G) di 150 kota yang menjangkau hampir 100 persen
wilayah populasi Indonesia. Bahkan kenyamanan komunikasi saat berada di luar negeri tetap
terjamin karena Telkomsel juga bekerjasama dengan sekitar 400 operator mitra International
Roaming dan 290 operator mitra data roaming di seluruh dunia.
Dalam upaya memandu perkembangan industri telekomunikasi selular di Indonesia
memasuki era baru mobile broadband, Telkomsel secara konsisten mengimplementasikan
roadmap teknologi selular GSM terkini, mulai dari 3G, HSDPA, HSPA+, serta dalam waktu
dekat melakukan uji coba Long Term Evolution (LTE) yang merupakan teknologi selular
GSM generasi keempat (4G). Diharapkan pada tahun ini total 24 kota besar di seluruh
Indonesia dapat menikmati full coverage layanan mobile broadband Telkomsel.
3. Identifikasi Kekuatan dan Kelemahan Produk

Telkomsel menjadi operator seluler pertama di Asia yang menawarkan layanan pra
bayar GSM. Telkomsel ini mengklaim sebagai operator seluler terbesar di Indonesia, dengan
81.644.000 pelanggan (pada 31 Desember 2007) dan market sharesebesar 51% pada 1
Januari 2007. Telkomsel memiliki tiga produk GSM, yaitu simPATI (prabayar), Kartu AS
(prabayar), serta Kartu HALO (pascabayar).
Pertumbuhan pengguna layanan jejaring sosial dan komunitas di Indonesia sangat
pesat belakangan ini. Tak heran jika kemudian sejumlah operator telekomunikasi berlomba
untuk menjaringnya. Pesatnya pertumbuhan mungkin bisa mengacu pada situs
jejaring Facebook yang kini memiliki pengguna aktif lebih dari 11.000.000 di Indonesia.
Jumlahnya meningkat 13 kali lipat dibanding akhir 2008 lalu yang hanya berkisar 800.000
orang. Untuk membangun kembali situs “one stop destination” tersebut, Telkomsel
kemudian menggandeng PT Access Mobile Indonesia untuk mengembangkan konten yang
bisa dinikmati pelanggan dan komunitas berdasarkan minatnya. MyPulau menawarkan fitur
seperti Social Status Integrator, My Interests, dan My Buys. Melalui fitur tersebut, pengguna
dapat memanfaatkan profil uniknya yang terintegrasi dengan berbagai situs jejaring sosial
untuk menciptakan komunitas pertemanan sendiri, menulis blog, serta bertransaksi dalam
forum jual-beli secara e-commerce. Selain untuk bersilaturahim dengan kawan dan kerabat,
jejaring sosial juga kerap digunakan sebagai media untuk saling berinteraksi dengan
para netter yang memiliki persamaan minat. Maka, terbentuklah beragam komunitas di
Internet yang jumlahnya kian banyak. Potensi ini yang kemudian dibidik sejumlah operator.
Telkomsel adalah contoh paling baru. Operator ini coba mengoptimalkan kembali MyPulau,
situs jejaring sosial dan komunitas yang telah dibangunnya sejak 2007.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa kelebihan produk Telkomsel adalah memiliki video
blog yang bisa digunakan untuk merekam video klip dan dapat dilihat oleh pengguna lain,
jangkauannya lebih luas dibanding dengan operator lain, registernya mudah hanya melalui
SMS, memiliki pelayanan-pelayanan seperti movie, entertainment, infotainment, religion,
music, dan life style.
Kekurangan utama Telkomsel terletak pada mahalnya tarif. Telkomsel secara
keseluruhan merupakan operator dengan presentasi biaya yang paling mahal. Telkomsel
mematok harga yang cukup mahal untuk biaya telepon, pengiriman pesan, akses internet dan
berbagai layanan lainnya. Selain itu, jika dibandingkan dengan nama besarnya yang memiliki
jumlah konsumen paling banyak dengan jaringan yang luas, komunikasi menggunakan kartu
Telkomsel belum berada pada tingkat kecepatan dan akurasi yang baik. Di beberapa wilayah
pelosok, signal Telkomsel juga masih sangat sulit didapat yang artinya jaringan tower mereka
belum memenuhi standar sebagai operator ternama. Padahal seharusnya harga dapat
disesuaikan dengan servisnya.

4. Identifikasi Strategi Produk

Persaingan yang terjadi antar operator, tidak lagi hanya berkaitan dengan adu
kecanggihan teknologi dan keunggulan produk yang mereka miliki tetapi sudah mengarah
''perang harga''. Untuk mengantisipasi persaingan pasar tersebut disamping mengandalkan
kecanggihan teknologi yang dimilikinya, Telkomsel terus mengembangkan kreatifitas dan
inovasi dalam memberikan layanan dan fasilitas (content) yang ditawarkan dari setiap
produk yang dijualnya sehingga tetap bisa memimpin pasar selular. Kartu As yang
diluncurkan pada tahun 2003 sedang memasuki tahap pertumbuhan. Tahap pertumbuhan ini
ditandai dengan peningkatan pesat penjualan. Konsumen awal menyukai produk tersebut, dan
konsumen berikutnya mulai membeli produk itu. Peluncuran kartu As ini merupakan upaya
PT.Telkomsel,Tbk untuk menawarkan produknya yang sesuai kebutuhan pelanggan.
Di saat terjadi perang harga kartu perdana murah dalam industri seluler,
PT.Telkomsel,Tbk meluncurkan Kartu As sebagai fighting brand. Kartu As ditujukan bagi
konsumen kelas menengah ke bawah yang sensitif terhadap harga. Keputusan dilakukan
karena tidak mungkin menurunkan harga simPATI dan Kartu HALO secara drastis karena
jika hal ini dilakukan dikhawatirkan para pelanggan Kartu HALO dan simPATI akan mengira
ada penurunan kualitas dari produk-produk Telkomsel. Dalam menetapkan harga produk
Kartu As, PT.Telkomsel,Tbk menggunakan strategipenetration pricing. Dalam strategi ini,
harga ditetapkan relative rendah pada tahap awal Product Life Cycle (PLC). Tujuannya
adalah agar dapat meraih pangsa pasar yang besar dan sekaligus menghalangi masuknya para
pesaing.
Strategi produk untuk kartu As juga menggunakan strategi diversifikasi tetapi dengan
lebih menekankan pada perluasan produk dan pelayanan. Perluasan produk dilakukan dengan
meluncurkan kartu As edisi Slank, sedangkan peluasan pelayanan dilakukan dengan
melengkapi fitur yang dimiliki kartu As yang pada awalnya hanya memiliki fitur standard
yaitu fitur percakapan dan pengiriman pesan singkat (SMS) menjadi memiliki fitur yang
lengkap sama seperti kartu Telkomsel lainnya.
Adapun Kartu As, perdana Simpati yang memberikan nomor dan kartu secara cuma-
cuma karena harga paket perdanadengan isi pulsanya sama, yaitu Rp 25.000. Dengan
berbagai produk barunya itu, tidakberlebihan jika Telkomsel sampai saat ini masih tetap
dapat memimpin pasar selularIndonesia.

Analisa Lingkungan Industri dan Operasi

a. Analisa Lingkungan Industri

Lingkungan industri adalah tingkatan dari lingkungan eksternal organisasi yang


menghasilkan komponen-komponen yang secara normal memiliki implikasi yang relatif lebih
spesifik dan langsung terhadap operasionalisasi perusahaan.
Menurut Michael Porter dalam bukunya Competitive Strategy, keadaan persaingan dalam
suatu industri tergantung lima kekuatan persaingan pokok, yaitu:
1. Ancaman Masuknya Pendatang Baru
Bisnis pertelekomunikasian merupakan bisnis yang dinamik, menarik, multi
aspek,dan pelopor dalam ekspansi global. Di sisi lain berbagai bukti empirik secara tak
langsung telah membuktikan bahwa sektor telekomunikasi merupakan sektor bisnis yang
paling diminati oleh perusahaan multi nasional dalam kerangka ekspansi dan globalisasinya
Ini terjadi baik dalam rangka swastanisasi maupun dalam konteks aliansi strategis antar
pelaku di negara maju maupun dalam ekspansi ke negara berkembang. Berdasarkan
kebijakan pemerintah struktur pasar jasa telekomunikasi sudah diatur sedemikian rupa
sehingga perusahaan-perusahaan yang akan masuk dalam industri ini akan mengalami
kesulitan.
Modal yang dibutuhkan untuk memasuki industri ini sangat besar, mengingat
mahalnya teknologi yang digunakan dan biaya pembangunan jaringan yang luas. Sehingga
yang dapat masuk ke industri ini adalah pengusaha-pengusaha bermodal besar ataupun
perusahaan-perusahaan raksasa yang telah mapan.
Jadi dengan kondisi tersebut di atas, maka kecil kemungkinannya pendatang baru
untuk dapat memasuki industri ini, karena banyaknya barrier to entry, yang sengaja dibuat
agar tidak meruntuhkan pemain yang sudah ada.

2. Kekuatan tawar-menawar pembeli


Jumlah pelanggan telekomunikasi dari tahun ke tahun mengalami peningkatan,
Pelanggan di Indonesia pada umumnya tidak mempunyai daya tawar yang cukup kuat
terhadap jasa telekomunikasi dasar ataupun jasa sambungan langsung internasional, karena
tidak punya pilihan sarana telekomunikasi. Dan untuk jasa sambungan bergerak, pelanggan
memang cukup banyak pilihan , tetapi hanya terbatas pada pilihan tertentu dan kurang bisa
memuaskan pelayanan atas jasanya.
Jadi melihat hal di atas jelas potensi pasar jasa telekomunikasi cukup besar dan
meningkat dari tahun ke tahun , apalagi di Indonesia banyak potensi pelanggan yang belum
digarap.

3. Kekuatan tawar-menawar pemasok


Industri telekomunikasi banyak memakai kabel serat optik, tidak saja untuk jaringan
darat, tapi juga di laut. Dengan kemajuan teknologi yang sudah sedemikian pesat, jaringan
kabel lama (tembaga) sudah tidak memadai lagi baik untuk mengakomodasi data maupun
informasi. Sebenarnya produsen kabel serat optik dalam negeri telah mampu memasok
kebutuhan nasional. Namun demikian, hampir sekitar 90% kebutuhan kabel serat optik
dalam negeri masih diimpor dari luar negeri, sehingga bergantung pada produsen luar negeri.
Kondisi daya tawar perusahaan telekomunikasi Indonesia tidak terlalu lemah, karena
pemasoknya terdiri dari banyak perusahaan. Akan tetapi jika terjadi fluktuasi dan pelemahan
nilai tukar mata uang dalam negeri, hal ini yang menjadi bumerang terhadap perusahaan.

4. Ancaman dari barang atau jasa pengganti


Telekomunikasi merupakan wahana yang menghubungkan manusia satu dengan
manusia lainnya melalui berbagai media telekomunikasi. Sesuai dengan fungsinya tersebut
maka jika kita identifikasikan ada beberapa jasa pengganti yang dapat mengambil alih fungsi
tersebut dari jasa telekomunikasi, misalnya: jasa transportasi, jasa pos, jasa pers, dan internet.
Dari beberapa macam jasa pengganti, berdasarkan kelebihan dan kelemahannya, maka
kecendrungan pelanggan akan tetap menggunakan jasa telekomunikasi dalam hal kecepatan
dan kemudahan berkomunikasi.

5. Persaingan di antara perusahaan yang ada


Kondisi persaingan industri telekomunikasi Indonesia dipengaruhi oleh aturan
mengenai struktur dan bentuk kerjasama antara perusahaan swasta dan BUMN, sesuai
dengan UU No 3/1989, adalah sebagai berikut: Perusahaan swasta dapat menyelenggarakan
jasa telekomunikasi dasar melalui kerjasama patungan, kerjasama operasi, dan kontrak
manajemen dengan PT Telkom dan PT Indosat.

b. Analisa Lingkungan Operasi

Lingkungan ini meliputi faktor-faktor pada situasi kompetitif yang mempengaruhi


sukses perusahaan dalam mendapatkan sumber daya atau dalam keuntungan pemasaran
barang dan jasa perusahaan.
1. Posisi Kompetitif
Posisi kompetitif Telkomsel cukup kuat, sebagai pemimpin pasar, dan hanya
menghadapi satu pesaing pada bisnis telekomunikasi internasional yaitu Indosat dan satelit
lainnya. Selain itu juga didukung rangkaian produk dan jasa yang luas, kapasitas dan
produktivitas yang memadai, periklanan, dan yang cukup penting citra perusahaan.

2. Profil Pelanggan
Pelanggan dari Telkomsel meliputi rumah tangga dan kalangan bisnis. Dalam hal ini
pemakai utama dari telekomunikasi internasional adalah kalangan bisnis, yang banyak
digunakan untuk keperluan usaha. Terpuruknya perekonomian Indonesia yang banyak
memacetkan sejumlah besar bisnis, mempunyai pengaruh terhadap pertumbuhan volume
pemakaian telekomunikasi internasional.

3. Pemasok
Peralatan-peralatan yang digunakan untuk pengadaan telekomunikasi internasional,
merupakan peralatan yang bermuatan teknologi tinggi. Sehingga, sebagian besar peralatan
tersebut didatangkan melalui pemasok luar negeri. Walaupun posisi daya tawar Telkomsel
cukup kuat, mengingat cukup banyaknya jumlah pemasok, namun penurunan nilai tukar
Rupiah sangat mempengaruhi besarnya dana yang diperlukan untuk mendatangkan peralatan
tersebut. Namun, pendapatan Telkomsel yang sebagian besar dalam bentuk Dollar, seperti
pendapatan incoming call, cukup membantu.

4. Kreditor
Dilihat dari struktur kredit-modal, terlihat bahwa Telkomsel mempunyai struktur yang
berimbang, atau antara modal dan kredit jumlahnya sama. Dalam hal ini, mengingat
kemampuan Telkomsel dalam menghasilkan keuntungan maupun asset yang dimilikinya,
tidaklah terlampau sulit bagi Telkomsel untuk mendapatkan pinjaman dari kreditor pada
jumlah yang memadai.
5. Sumber Daya Manusia
Telkomsel mempunyai SDM yang cukup baik, 70% komposisinya berpendidikan S-1
ke atas. Selain itu didukung dengan program pelatihan berjenjang sesuai posisinya untuk
meningkatkan keahlian.

ANALISA STRATEGI PERUSAHAAN

a. Analisa SWOT
1. Strength:
Kekuatan Telkomsel antara lain memiliki video blog yang bisa digunakan untuk
merekam video klip dan dapat dilihat oleh pengguna lain, jangkauannya lebih luas
dibanding dengan operator lain, registernya mudah hanya melalui SMS, memiliki
pelayanan-pelayanan seperti movie, entertainment, infotainment, religion, music, dan life
style, pengalaman mengelola bisnis telekomunikasi internasional, kekuatan manajemen
dan budaya perusahaan, rangkaian produk dan jasa yang luas, teknologi yang mutakhir
pada peralatannya, kualitas produk dan jasa, serta citra perusahaan yang baik.

2. Weakness:
Kelemahan Telkomsel terletak pada mahalnya tarif. Telkomsel secara keseluruhan
merupakan operator dengan presentasi biaya yang paling mahal. Telkomsel mematok
harga yang cukup mahal untuk biaya telepon, pengiriman pesan, akses internet dan
berbagai layanan lainnya. Selain itu, jika dibandingkan dengan nama besarnya yang
memiliki jumlah konsumen paling banyak dengan jaringan yang luas, komunikasi
menggunakan kartu Telkomsel belum berada pada tingkat kecepatan dan akurasi yang
baik. Di beberapa wilayah pelosok, signal Telkomsel juga masih sangat sulit didapat
yang artinya jaringan tower mereka belum memenuhi standar sebagai operator ternama.
Padahal seharusnya harga dapat disesuaikan dengan servisnya.

3. Oppurtunities:
Peluang bagi Telkomsel antara lain: besarnya pasar domestik yang belum tergarap,
perluasan usaha baru yang melingkupi bisnis inti yang cukup menguntungkan, dan bisnis
telekomunikasi global yang cukup menjanjikan.

4. Threat:
Ancaman bagi Telkomsel antara lain: masuknya pendatang baru dari dalam dan dari luar
negeri, kompetisi global yang memasuki pasar domestik, dan krisis ekonomi yang
melanda Indonesia.

b.Grand Strategy

Adaptasi pada perubahan lingkungan yang cepat dalam telekomunikasi telah menjadi critical
factor bagi Telkomsel. Peningkatan kompetisi, perubahan teknologi, dan aliansi strategi
global , di antara kesemuanya, sedang membentuk pasar telekomunikasi yang akan datang.
Dalam menanggapi tantangan-tantangan baru tersebut Telkomsel telah membangun cetak
biru pertumbuhan, adalah ;
 Jasa Telekomunikasi Internasional Dasar akan tetap menjadi core business Telkomsel
 Peranan regional dan internasional yang telah meningkat
 Jasa selular dan sistem satelit bergerak saat ini sedang diperluas melalui perusahaan
selular lokal dan konsorsium internasional
 Jasa bernilai-tambah yang meliputi telekomunikasi pada saat ini, integrasi sistem dan
informasi multimedia dan hiburan yang melengkapi dan menambah nilai dari jasa
core Telkomsel

c. Growth Strategy
Telkomsel berusaha mempertahankan keberadaannya sebagai pemimpin pasar untuk
jasa telekomunikasi internasional di Indonesia, memposisikan dirinya sebagai perusahaan
telekomunikasi berkelas-dunia, dan menjadi pemain global dalam industri telekomunikasi
dunia.
1. Membangun jasa telekomunikasi internasional melingkupi central core business
Lalu-lintas telekomunikasi internasional Telkomsel di transmisikan melalui satelit
internasional, sistem kabel bawah laut, dan sambungan gelombang mikro, yang
kesemuanya menggunakan teknologi digital mutakhir termasuk protokol multimedia
canggih. Setelah membangun akses ke satelit yang cukup melalui sembilan stasiun bumi
di empat lokasi gerbang melintang Indonesia, Indosat pada saat ini memperluas aksesnya
ke kabel serat optik digital bawah laut dengan bergabung ke konsorsium kabel regional
dan dunia. Ini semua adalah bagian dari program perluasan yang didesain untuk
meningkatkan kapasitas, memperbaiki kualitas, dan menyediakan jasa baru untuk
memenuhi perubahan permintaan konsumen.
2. Partisipasi dalam pembangunan infrastruktur telekomunikasi domestik. Telkomsel
memandang investasinya pada infrastruktur telekomunikasi domestik selain sebagai alat
untuk memperluas pasar jasa telekomunikasi internasional, juga sebagai sumber
pendapatan baru untuk perusahaan.
3. Meningkatkan peranannya dalam telekomunikasi regional dan internasional
Indosat memulai proyek internasional, melibatkan join-ventura dengan mendasarkan
sebagaimana membangun carriers telekomunikasi internasional. Tujuan utamanya
adalah meningkatkan lalu-lintas internasional melalui gerbang perusahaan, memperoleh
pendapatan langsung dari proyek dan mendapatkan tambahan keahlian dari pembukaan
internasional.
4. Mengambil diversifikasi terbatas pada bisnis komplementer. Indosat juga mencoba untuk
mendiversifikasi pada daerah di mana keahlian perusahaan dalam telekomunikasi dapat
dipergunakan untuk mengoptimumkan efek seperti pada jasa bernilai tambah yang
melengkapi bisnis core perusahaan. Jasa –jasa ini tersedia melalui perusahaan anak dan
pada saat ini meliputi beberapa jasa pertukaran data elektronik, bank elektronik,
multimedia , dan internet

d. Analisa Strategi Bisnis Indosat Menghadapi Krisis Ekonomi


Sebagai strategi bisnis dalam menghadapi krisis ekonomi ini, Indosat menerapkan kebijakan,
antara lain:
 Menerapkan kebijakan likuiditas yang berhati-hati. Biaya telekomunikasi dan beban
perawatan meningkat sebagai dampak melemahnya Rupiah. Namun dalam hal ini
pertumbuhan beban operasi diupayakan lebih rendah dari pendapatan operasi, serta
meningkatkan profit margin.
 Melindungi fundamental dasar Telkomsel dari pengaruh kinerja negatif perusahaan,
Untuk menghindari dampak dari kinerja negatif perusahaan, maka dilakukan program
restrukturisasi diversifikasi bisnis, yang akan memperbaiki posisi keuangan
perusahaan dalam jangka pendek dan sesuai dengan strategi jangka panjang.