Anda di halaman 1dari 26

1

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Sektor kesehatan di Indonesia merupakan salah satu sektor yang saat ini
penting untuk mendapat perhatian lebih. Indonesia sebagai negara berkembang
memiliki indeks kesehatan yang masing sangat rendah yaitu menempati urutan ke-
101 dari 149 negara dalam indeks kesehatan global 2017 (Balitbang 2017). Hal ini
berkaitan dengan kurang maksimalnya upaya pencegahan dan pengobatan
penyakit yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia. Pentingnya pencegahan dan
pengobatan penyakit untuk mewujudkan kesehatan masyarakat ini melibatkan
peran berbagai pihak diantaranya pemerintah dan tenaga medis, termasuk dokter
hewan.
Salah satu peran dokter hewan adalah dalam bidang teknik biomedis yang
menghasilkan berbagai produk biomedis untuk manusia. Teknik biomedis
merupakan suatu bidang yang menerapkan berbagai metode rekayasa, sains, dan
teknologi dalam menyelesaikan permasalahan dalam bidang kedokteran dengan
maksud untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat (Bakrie
2011).
PT Bio Farma (Persero) merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN)
yang bergerak dalam bidang biomedis di Indonesia. PT Bio Farma (Persero)
memproduksi produk biomedis berupa vaksin dan antisera untuk manusia. Vaksin
dan antisera yang diproduksi PT Bio Farma (Persero) berasal dari bahan asal
hewan. Bahan asal hewan diambil dari hewan yang secara khusus dipelihara untuk
tujuan produksi produk biomedis. Kesehatan dan kesejahteraan hewan yang
digunakan tersebut perlu diperhatikan, oleh karena itu peran dokter hewan juga
dibutuhkan.
Produk biomedis yang dihasilkan juga memerlukan berbagai pengujian
sebelum produk tersebut didistribusikan atau dipasarkan kepada konsumen. Hal
ini bertujuan untuk memastikan produk yang dipasarkan adalah produk yang
aman untuk manusia. Pengujian dilakukan pada hewan uji seperti kelinci, mencit,
tikus, cavia, dan monyet. Dokter hewan berperan dalam pelaksanaan berbagai uji
tersebut baik uji potensi, toksisitas, pirogen, maupun uji keamanan dari sediaan
yang siap dipakai konsumen. Selain itu, dokter hewan juga berperan dalam
manajemen perawatan, kesehatan, serta pembiakan hewan uji tersebut.

Tujuan

Kegiatan praktik lapang di PT Bio Farma (Persero) diharapkan dapat


meningkatkan pengetahuan mahasiswa PPDH mengenai pembuatan produk
biomedis yang mencakup manajemen kesehatan dan pemeliharaan kuda donor,
pembiakan hewan laboratorium, proses produksi serta pengujian vaksin dan
antisera.
2

PELAKSANAAN KEGIATAN

Waktu Kegiatan

Kegiatan praktik lapang berlangsung pada tanggal 25 Juni 2018 – 20 Juli


2018. Kegiatan Bagian Hewan Donor dilakukan pada tanggal 25 Juni 2018 – 9
Juli 2018 dan kegiatan Bagian Pembiakan Hewan Laboratorium dilakukan pada
tanggal 10 Juli 2018 – 20 Juli 2018 di Cisarua, Lembang. Kegiatan pada Bagian
Uji Hewan dilaksanakan di PT Bio Farma (Persero) Pasteur secara bergantian
setiap minggu yang diwakili oleh 4 orang mahasiswa PPDH.

Metode Pelaksanaan Kegiatan

Kegiatan yang dilakukan meliputi observasi, praktik, diskusi, dan


pemberian materi melalui perkuliahan. Kegiatan dilakukan pada Bagian Hewan
Donor (BHD), Bagian Pembiakan Hewan Laboratorium (BPH), dan Bagian Uji
Hewan (BUH). Pelaksanaan kegiatan di BHD meliputi pemeliharaan hewan
donor, imunisasi, dan medikasi. Kegiatan di BPH berupa pemeliharaan,
pembiakan, sexing, penyapihan, dan handling hewan Laboratorium (mencit dan
kelinci). Kegiatan-kegiatan di BUH, yaitu penerimaan monyet ekor panjang
(Macaca fascicularis), conditioning hewan, uji pirogen, dan observasi uji potensi.

PROFIL PT BIO FARMA (PERSERO)

Sejarah

PT Bio Farma (Persero) merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN)


yang telah berdiri sejak 128 tahun yang lalu. Saham dari PT Bio Farma (Persero)
sepenuhnya dimiliki oleh pemerintah. Berdasarkan Surat Keputusan Gubernur
Hindia Belanda Nomor 14 tahun 1890 di Rumah Sakit Militer Weltevreden, PT
Bio Farma (Persero) resmi berdiri dengan nama “Parc Vaccinogene” pada tanggal
6 Agustus 1890. PT Bio Farma (Persero) merupakan produsen vaksin untuk
manusia yang selama ini telah mendedikasikan seluruh sumber daya yang
dimilikinya untuk memproduksi vaksin dan antisera berkualitas internasional. Hal
ini merupakan bentuk turut serta dalam mendukung program imunisasi nasional
untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang memiliki kualitas derajat
kesehatan yang lebih baik. Tahun 1895, Bio Farma mengalami pergantian nama
menjadi “Parc Vaccinogene en Instituut Pasteur” yang digunakan sampai tahun
1901. Setahun setelahnya perusahaan tersebut kembali mengalami pergantian
nama menjadi “Landskoepoek Inrichting en Instituut Pasteur” dan pada tahun
1923 Bio Farma mulai menempati lokasi di Jalan Pasteur No. 28 Bandung yang
dipimpin oleh L. Otten. Tahun 1942–1945 saat penjajahan Jepang, Bio Farma
kemudian berganti nama menjadi “Bandung Boeki Kenkyushoo” yang dipimpin
3

oleh Kikuo Kurauchi. Setelah Indonesia merdeka, yaitu pada tahun 1945,
perusahaan berganti nama menajadi “Gedung Cacar dan Lembaga Pasteur” yang
dipimpin oleh R. M. Sardjito. Saat kepemimpinan R. M. Sardjito, lokasi
perusahaan sempat dipindahkan ke daerah Klaten. Tahun 1946–1949 pada masa
agresi militer, Bandung mulai kembali diduduki oleh Belanda. Perusahaan
merubah namanya menjadi “Landskoepoek Inrichting en Instituut Pasteur”.
Tahun 1950–1954, “Gedung Cacar dan Lembaga Pasteur” di Bandung
kembali menjadi tempat kegiatan produksi vaksin dan sera. Seiring dengan
terjadinya nasionalisasi berbagai perusahaan Belanda, pemerintah Indonesia pada
saat itu mengubah “Landskoepok Inrichting en Instituut Pasteur” menjadi
Perusahaan Negara Pasteur. Perusahaan Negara Pasteur berubah menjadi
Perusahaan Negara Bio Farma berdasarkan Peraturan Pemerintah no. 80 tahun
1961 (Lembaran Negara Tahun 1961 No. 101). Setelah melalui penelitian dan
penilaian bentuk badan usaha, Bio Farma resmi menjadi Perusahaan Umum Bio
Farma dengan Peraturan Pemerintah RI No. 26 Tahun 1978. Periode tersebut
merupakan awal upaya transfer teknologi produksi Vaksin Polio dan Campak oleh
Prof Dr Konosuke Fukai. Perusahaan berubah menjadi Perseroan Terbatas (PT)
berdasarkan Peraturan Pemerintah No. I tahun 1997.

Visi dan Misi

PT Bio Farma (Persero) sebagai perusahaan yang menghasilkan produk


berkualitas internasional memiliki visi dan misi. Visi dari PT Bio Farma (Persero)
ini adalah menjadi perusahaan Life Science kelas dunia yang berdaya saing global.
Misi dari perusahaan ini adalah menyediakan dan mengembangkan produk Life
Science berstandar internasional untuk meningkatkan kualitas hidup. Adapun
nilai-nilai yang diterapkan dalam bekerja di perusahaan ini adalah profesional,
integritas, team work, inovasi, dan customer oriented.

Topografi

PT Bio Farma (Persero) yang berada di Jalan Pasteur No.28, Bandung


digunakan untuk fasilitas produksi, penelitian dan pengembangan, pemasaran,
serta administrasi. BPH dan BHD berlokasi di Jalan Kolonel Masturi, Kecamatan
Cisarua, Kabupaten Bandung Barat.

Sarana dan Prasarana

PT Bio Farma (Persero) memiliki dua lokasi, yaitu di Jalan Pasteur No.28,
Bandung 40161, dan di Jalan Kolonel Masturi, Desa Kertawangi, Kecamatan
Cisarua, Kabupaten Bandung Barat 40551. Bagian Uji Hewan dan Bagian Hewan
SPF berada di Jalan Pasteur, sedangkan Bagian Pembiakan Hewan berada di Jalan
Kolonel Masturi. PT Bio Farma (Persero) yang berada di Cisarua memiliki lahan
seluas 28.2 hektar yang terdiri dari istal kuda, tempat pembiakan hewan model
(kelinci, mencit, dan cavia), kandang domba, unggas, lapangan exercise kuda,
4

serta gudang pakan. Fasilitas yang terdapat di PT Bio Farma (Persero) Cisarua
bagian pembiakan hewan antara lain kantor, lapangan olah raga seperti lapangan
basket dan lapangan bola, masjid, pos jaga istal kuda, pos jaga satpam, dan kantin.

Struktur Organisasi

PT Bio Farma (Persero) memiliki lima direktorat. Salah satunya adalah


Direktorat Perencanaan dan Pengembangan yang terdiri atas enam divisi. Divisi
yang dimaksud diantaranya adalah Divisi Surveilans dan Uji Klinis, Divisi
Pengawasan Mutu, Divisi Perencanaan dan Pengendalian Produksi, Divisi Hewan
Laboratorium, Divisi Riset, serta Divisi Pengembangan Produk. Divisi Hewan
Laboratorium terdiri atas 4 bagian, yaitu Bagian Pembiakan Hewan, Bagian
Hewan Donor, Bagian Uji Hewan, dan Bagian Ayam SPF. Setiap bagian-bagian
tersebut memiliki beberapa seksi yang dapat dilihat pada Gambar 1.
5

Divisi Hewan Laboratorium

Bagian Bagian Bagian Uji Bagian


Pembiakan Hewan Hewan Ayam SPF
Hewan Lab Donor

Seksi Seksi
Seksi Seksi Seksi Zooteknik 1
Pemeliharaan Produksi
Hewan Produksi
Hewan Darah dan
Model Telur Seksi Zooteknik 2
Donor Plasma
Seksi Zooteknik 3

Seksi Bioteknik

Gambar 1 Struktur Organisasi PT Bio Farma (Persero) Divisi Hewan laboratorium


6

HASIL DAN PEMBAHASAN

Divisi Hewan Laboratorium

Bagian Pembiakan Hewan Laboratorium


Menurut UU No 18 tahun 2009, hewan laboratorium adalah hewan yang
dipelihara khusus sebagai hewan percobaan, penelitian, pengujian, pengajaran,
dan penghasil bahan biomedis ataupun dikembangkan menjadi hewan model
untuk penyakit manusia. Beberapa alasan mengapa hewan percobaan tetap
diperlukan dalam penelitian khususnya di bidang kesehatan, pangan dan gizi
antara lain, keragaman dari subjek penelitian dapat diminimalisasi, variabel
penelitian lebih mudah dikontrol, daur hidup relatif pendek sehingga dapat
dilakukan penelitian yang bersifat multigenerasi, pemilihan jenis hewan dapat
disesuaikan dengan kepekaan hewan terhadap materi penelitian yang dilakukan,
biaya relatif murah, dapat dilakukan pada penelitian yang berisiko tinggi, dan
dapat digunakan untuk uji keamanan, diagnostik dan toksisitas (Ridwan 2013).
Bagian Pembiakan Hewan Laboratorium yang ada di PT Bio Farma
(Persero) bertujuan untuk memenuhi permintaan hewan laboratorium yang akan
digunakan untuk pengujian produk biologis PT Bio Farma (Persero). Hewan
laboratorium yang dibiakkan antara lain mencit (Mus muscullus), marmut (Cavia
Porcellus), dan kelinci (Oryctolagus cunnicullus). Strain mencit yang dibiakkan
adalah strain A (Australia), strain DDY (Deutschland, Denken, dan Yoken), dan
strain BALB/C. Kelinci yang terdapat di PT Bio Farma (Persero) adalah kelinci
dengan strain New Zealand White (NZW). Sistem manajemen pemeliharaan
hewan laboratorium PT Bio Farma (Persero) terbagi menjadi dua jenis, yaitu
makroklimat dan mikroklimat. Makroklimat meliputi gedung pemeliharaan,
sistem barrier, suhu (T), kelembaban (RH), kebisingan (db), tekanan (mmHg),
pencahayaan (lux), dan densitas dalam populasi. Mikroklimat meliputi bedding,
pakan dan minum, densitas, sistem perkawinan, pemeriksaan kesehatan, sanitasi
dan desinfeksi, serta manajemen pengolahan air limbah.

a. Makroklimat (Lingkungan Makro)


Gedung di bagian BPH menerapkan sistem Bio Safety yang terdiri dari
beberapa sistem barrier, diantaranya menggunakan sistem dua koridor yaitu
koridor bersih dan koridor kotor, pemisah antar ruangan (Pass Room), dan Step
Over Bench. Gedung BPH termasuk dalam level status gedung Clean
Conventional karena di gedung ini tidak dilakukan pengujian. Penerapan sistem
Bio Safety ini mengharuskan para pekerja menggunakan Alat Pelindung Diri
(APD). Penyediaan insecttrap berperan sebagai salah satu sistem barrier terhadap
masuknya serangga seperti lalat dan nyamuk dalam gedung.
Suhu normal ruangan untuk mencit berkisar antara 20–26 C, sedangkan
kelembaban normal lingkungan mencit yaitu 30–70 %. Suhu optimum ruangan
kelinci berkisar antara 16–22 C (NRC 2011). Suhu ruangan pemeliharaan di
BPH berkisar antara 20–26 C dengan kelembaban berkisar antara 40–80 %. Hal
ini menunjukkan keadaan kandang masih dalam kisaran suhu dan kelembaban
normal. Kelembaban yang tidak sesuai dapat mengakibatkan kenaikan mortalitas
pada anak mencit. Selain itu, kelembaban yang rendah dan diikuti dengan suhu
7

yang ekstrim dapat menyebabkan ringtail, maupun nekrosa iskemik pada ekor dan
jari kaki. Fisher et al. (2015) menyatakan mencit merupakan hewan nokturnal.
Pengaturan cahaya di ruangan pembiakan menggunakan sistem 12 jam lampu
menyala dan 12 jam lampu mati. Setiap ruangan mencit dan kelinci memiliki 8
hingga 9 lampu yang menjadi sumber cahaya. Intensitas cahaya yang baik untuk
hewan laboratorium berkisar antara 325–400 lux. Cahaya dapat mempengaruhi
fisiologi, morfologi, dan perilaku berbagai hewan. Hal lain yang harus
diperhatikan adalah kebisingan dalam pemeliharan, karena kebisingan dapat
memicu stres pada hewan. NRC (2011) menyatakan tingkat kebisingan yang
disarankan di kandang hewan laboratorium tidak lebih dari 85 dB. Paparan yang
lebih keras dari 85 dB dapat membuat timbulnya gangguan non–auditory seperti
stres pada hewan.
Area pembiakan hewan mencit terdiri dari enam ruangan, yaitu M1, M2,
M3, M4, M5, dan M6. M1 merupakan ruangan yang digunakan untuk
penimbangan, ruang stocking sapihan, dan sexing. Selain itu, pada M1 terdapat
pembiakkan mencit strain BALB/C. Ruang M2, M3, dan M4 merupakan ruang
pembiakan mencit strain DDY (Dutschland, Denken, and Yoken), sedangkan M5
merupakan ruang pembiakan mencit strain A (Australia) dan M6 untuk mencit
strain DDY SLC.
Ruangan yang digunakan untuk pembiakan memiliki luas kurang lebih 52
m2 (8.7×6 m). Setiap ruangan terdiri dari 12 rak yang terbuat dari stainless steel.
Satu rak berisi kandang untuk bakal indukan dan 11 rak lainnya berisi kandang
untuk breeding. Satu rak terdiri dari empat tingkat, setiap tingkatnya terdiri dari
14 cage. Cage memiliki ukuran kurang lebih 30×20×10 cm dilengkapi dengan
penutup cage (Lid) yang terbuat dari kawat yang sekaligus berfungsi sebagai
tempat pakan dan tempat menaruh botol minum. Populasi mencit yang ada dalam
tiap ruangan + 2500 ekor mencit dewasa dengan asumsi 1 cage berisi 1 ekor jantan
dan 3 ekor betina (Sistem Harem).
Area pembiakan kelinci terdiri dari empat ruangan. Empat ruangan tersebut
memiliki fungsi berbeda, yaitu ruangan pertama sebagai ruang sapihan, ruang
kedua hingga keempat sebagai ruang produksi. Ruang kedua berisi 36 ekor kelinci
jantan dan 36 ekor kelinci betina. Ruang ketiga dan keempat masing-masing berisi
72 ekor kelinci betina. Kandang kelinci memiliki luas kurang lebih 3.6 m2 yang
terbuat dari alumunium. Kandang dilengkapi dengan botol air minum dan wadah
pakan.

b. Mikroklimat (Lingkungan Mikro)


 Bedding
Alas yang digunakan untuk pemeliharaan mencit dan kelinci adalah
bedding yang terbuat dari serutan kayu kering dan jerami. Bedding sebagai
alas digunakan untuk tempat tidur, bermain, membuang kotoran, dan tempat
melahirkan. Bedding yang akan digunakan terlebih dahulu disterilisasi
dengan autoclave dengan suhu 121 C. Bedding yang sudah mengalami
proses sterilisasi selanjutnya diperiksa dengan acuan indikator autoclave
tape dengan cara menempelkan autoclave tape ke tempat bedding sebelum
proses sterilisasi dilakukan. Apabila terbentuk garis hitam pada autoclave
tape menandakan bedding sudah steril. Bedding yang terdapat dalam setiap
cage harus tersedia dengan cukup sebagai bentuk penerapan animal welfare.
8

Ketinggian bedding idealnya cukup untuk mencit dapat menggali atau


bersembunyi di bawah bedding untuk dapat berperilaku sesuai alamiahnya.
Penggantian bedding dilakukan satu kali dalam seminggu, diawali
dengan membersihkan tutup cage dengan cara dilap dengan kain basah.
Mencit dipindahkan pada cage yang sudah diberi bedding yang steril. Rak-
rak dibersihkan dengan cara disapu dan dilap dengan kain bersih.
Penggantian bedding juga diikuti dengan proses replacement, penyapihan
dan pengafkiran mencit yang tidak produktif, cacat, serta tua.
Nesting digunakan pada cage kelinci ketika kelinci akan melahirkan
yaitu pada umur kebuntingan 29 hari. Cage kelinci dibersihkan setiap hari
dengan membersihkan bak penampungan kotoran, sedangkan rak kelinci
diganti sekali dalam sebulan.

 Pakan
Pakan yang diberikan pada mencit dan kelinci dilakukan secara ad
libitum. Pemberian pakan dilakukan setiap pagi hari. Pakan mencit yang
diberikan berbentuk pelet. Pakan tersebut berasal dari PT Citra Ina Feedmill
dengan kandungan nutrisi pakan mencit dan kelinci disajikan pada Tabel 1
dan Tabel 2.

Tabel 1 Kandungan nutrisi pada pakan mencit (Rat Bio ®)


Kandungan Persentase (%)
Air 12 (maks)
Protein 20 (min)
Lemak 4 (maks)
Serat kasar 4 (maks)
Kalsium 1.2
Phospor 0.7

Tabel 2 Kandungan nutrisi pada pakan kelinci (Citra Feed®)


Kandungan Persentase (%)
Moisture 12 (maks)
Protein 15 (min)
Lemak 5 (maks)
Serat kasar 16 (maks)
Kalsium 1.35
Phospor 0.7

 Air minum
Air minum yang diberikan pada hewan mencit dan kelinci merupakan
air minum yang telah mengalami pengolahan terlebih dahulu atau disebut
dengan Pre-Treatment Water (PTW). Air minum diberikan secara ad
libitum menggunakan botol dan diganti dua kali seminggu bersamaan
dengan pemberian pakan. Air yang diberikan sudah dalam kondisi steril dan
bebas dari kontaminasi mikroba. Alur pengolahan air PWT disajikan pada
Gambar 2.
9

Raw Water

Tank
Product

Gambar 2 Proses pengolahan Pretreatment Water

 Sistem perkawinan
Sistem perkawinan mencit yang dilakukan adalah sistem perkawinan
harem. Sistem perkawinan harem merupakan sistem perkawinan satu jantan
dengan lebih dari satu betina. Mencit jantan dan betina yang akan
dikawinkan berada dalam satu cage dengan perbandingan 1:3. Mencit yang
dikawinkan berasal dari strain yang sama, namun rak atau ruangan yang
berbeda. Mencit betina yang akan dikawinkan berumur lima minggu,
sedangkan mencit jantan setidaknya berumur enam minggu. Umur
kebuntingan mencit selama 21 hari, dengan jumlah anak yang dilahirkan
dalam satu kali kebuntingan yaitu berjumlah 8–15 ekor. Penyapihan anak
mencit dilakukan pada umur 21 hari yang dilakukan pada saat penggantian
bedding di ruang breeding. Bakalan indukan dan jantan yang digunakan
untuk breeding berasal dari mencit pada ruang stocking yang melebihi
spesifikasi bobot badan yang diinginkan. Mencit betina diambil dari
ruangan breeding yang sama, sedangkan mencit jantan berasal dari ruangan
breeding yang beda, namun memiliki strain yang sama. Sistem perkawinan
harem pada mencit disajikan pada Tabel 3.

Tabel 3 Sistem perkawinan Harem pada Mencit


Ruang Strain Sistem Kawin
M2 DDY Antar ruang satu strain (M2  M3)
M3 DDY Antar ruang satu strain (M3  M4)
M4 DDY Antar ruang satu strain (M4  M2)
M5 A* Antar rak (rak A  rak B)
M6 DDY (SLC) Antar rak (rak A  rak B)
Keterangan : M = Mencit ; DDY= Dutschland, Denken, and Yoken; A*= Australia
10

Sistem perkawinan kelinci yang dilakukan adalah sistem harem


dengan cara kawin sodor. Kelinci betina yang akan dikawinkan berumur 5–
7 bulan. Kelinci dikawinkan dengan memegang kelinci betina dan membuka
bagian vulvanya untuk memudahkan penis kelinci jantan untuk masuk.
Palpasi dilakukan pada umur kebuntingan 11 hari setelah terjadi
perkawinan. Betina kelinci yang tidak bunting setelah dua kali dikawinkan
akan diafkir karena dianggap tidak mampu bereproduksi dengan baik.
Kegiatan penyapihan kelinci dilakukan setiap 1 kali seminggu yaitu pada
hari Jumat. Kelinci yang diseleksi pada proses penyapihan berumur sekitar
5–7 minggu sesuai dengan kebutuhan dan permintaan user.

 Pemeriksaan Kesehatan
Pemeriksaan kesehatan dilakukan untuk melakukan kontrol terhadap
organisme yang ada di dalam tubuh hewan laboratorium, baik berupa virus,
bakteri, maupun parasit. Pemeriksaan kesehatan dilakukan setiap 3 bulan
sekali. Hewan sebanyak 10 ekor akan dikirim ke QC (Bagian Patologi)
untuk setiap spesies hewan laboratorium. Penanganan pada hewan
laboratorium dilakukan setelah ada justifikasi dari bagian QC, jika terdapat
satu atau lebih hewan laboratorium yang terinfeksi maka penanganan
dilakukan menyeluruh dalam satu populasi. Sebagai contoh, jika
teridentifikasi terdapat cacing maka satu populasi akan diberikan
penanganan obat cacing (Piperazine). Pemberian Piperazine juga dilakukan
berkala setiap 3 bulan sekali.

 Sanitasi dan Desinfeksi


Sanitasi dilakukan setiap hari dengan cara menjaga kebersihan
kandang. Pembersihan kandang dilakukan dengan menggunakan air bersih
yang dicampur dengan desinfektan (Pinocid, Biocid, dan Bromoquad).
Penggunaan desinfektan tersebut harus diganti secara berkala (4 bulan
sekali). Hal ini dilakukan untuk menghindari resistensi terhadap satu jenis
bahan aktif dari desinfektan.
Animal caretaker harus menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) agar
terhindar dari penyakit. Kegiatan desinfeksi biasanya dilakukan satu minggu
sekali.

 Ekspedisi dan distribusi


Ekspedisi adalah proses transportasi mencit yang disapih dan telah
memenuhi syarat sesuai dengan permintaan perusahaan. Ekspedisi dan
jumlah mencit yang dibutuhkan tergantung permintaan dari divisi Quality
Control (QC) PT Bio Farma (Persero) Pasteur untuk pengujian di Bagian
Uji Hewan. Bagian QC PT Bio Farma (Persero) Pasteur membuat
permintaan menggunakan surat tertulis kepada Bagian Uji Hewan (BUH),
yang kemudian diteruskan ke Bagian Pembiakan Hewan Laboratorium
(BPH) di PT Bio Farma (Persero) Cisarua. BPH akan menyiapkan dan
menimbang hewan laboratorium sesuai bobot badan yang diminta oleh
BUH. Pihak BUH mengajukan permintaan hewan laboratorium dengan
bobot badan yang telah diturunkan, dikarenakan di BUH hewan
laboratorium yang datang akan mengalami proses conditioning.
11

Mencit yang sudah ditimbang dimasukkan ke dalam kandang yang


telah disiapkan dan dimasukkan ke dalam truk pengantar. Pemeriksaan
kesesuaian jumlah dan spesifikasi hewan laboratorium dilakukan pada saat
datangnya mencit di Bagian Uji Hewan.
Menurut DPI (2004), mobil pengantar harus memiliki ventilasi yang
memadai, bebas hama, escape-proof, tahan lama, luas, dan disertai dengan
alas tidur yang sesuai. Selain itu kandang harus diberi label yang jelas.
Ekspedisi mencit harus dilakukan tidak lebih dari 24 jam, terlindungi dari
suhu ekstrim, serta tersedia pakan dan minum.

Bagian Hewan Donor


Hewan donor yang digunakan di PT Bio Farma (Persero) adalah kuda
(Equus caballus). Kuda donor adalah kuda resipien hiperimunisasi untuk produksi
antibodi dalam bentuk plasma sebagai bahan baku produksi antiserum. Kuda
melalui masa karantina selama 6 – 8 minggu untuk dilakukan pemeriksaan klinis
sebelum dijadikan hewan donor. Kuda yang dijadikan hewan donor memiliki
spesifikasi tertentu. Kuda harus berstatus klinis sehat, tidak memiliki kelainan dan
tidak cacat. Kuda harus memiliki bobot badan ≥200 kg dengan tinggi badan
≥130 cm dengan umur ≥2.5 tahun. Status mikrobiologi juga penting dilakukan
pada hewan donor. Status mikrobiologi harus menunjukkan hasil negatif pada
Equine Infectious Anemia Virus, Strangles (Streptococcus equi), Surra
(Trypanosoma evansi), dan Equine Piroplasmosis (Babesia equi).

a. Manajemen Kandang
Bagian pemeliharaan kuda di PT Bio Farma (Persero) memiliki 12 kandang
kuda (istal). Istal yaitu sebuah bangunan atau gedung yang digunakan sebagai
tempat untuk pemeliharaan kuda. Setiap istal terdiri dari 20 unit kecil yang
disebut pen. Masing - masing istal memiliki ukuran pen yang berbeda. Setiap pen
diberi alas (bedding) yang terbuat dari serbuk gergaji atau serutan kayu.
Penggunaan bedding bertujuan untuk penyerapan urin kuda, menjaga kondisi
kandang tetap hangat, dan sebagai alas untuk istirahat kuda. Setiap kuda yang
terdapat dalam pen memiliki informasi yang tercatat dibagian pintu pen. Informasi
yang tercantum berupa identitas kuda (nomor kuda), jenis kelamin, jenis
penggunaan kuda, dan status (produksi, imunisasi atau istirahat). Jenis
penggunaan kuda meliputi hewa donor untuk pembuatan anti tetanus serum
(ATS), anti difteri serum (ADS), serta anti bisa ular (ABU) untuk spesies
Agkistrodon rhodostoma, Bungarus fasciatus, dan Naja sputrarix.
Setiap pen memiliki wadah pakan dan minum yang mudah dibersihkan.
Wadah tersebut dibersihkan pada pagi hari agar pakan dan air minum tetap bersih,
selain itu lantai istal juga dibersihkan dari bedding yang basah dan kotor
kemudian diganti dengan bedding yang baru. Penggantian bedding secara
menyeluruh akan dilakukan satu minggu sekali atau ketika kondisi bedding sudah
basah.

b. Manajemen Pakan
Pakan kuda yang diberikan dibagi menjadi dua yaitu hijauan dan konsentrat
yang berbentuk pelet. Pakan rumput diberikan tiga kali sehari dan konsentrat
diberikan dua kali sehari yaitu pagi dan sore dalam wadah pakan yang tersedia di
12

dalam kandang. Pakan hijauan merupakan pakan yang paling banyak dikonsumsi
kuda. Pakan hijauan yang digunakan yaitu rumput gajah (Pennisetum purpureum)
yang dicacah menjadi ukuran yang lebih kecil.
Pakan konsentrat merupakan pakan tambahan yang dapat memberikan
keseimbangan energi bagi kuda. Konsentrat yang diberikan merupakan campuran
dari dari jagung, bran, kacang hijau, dedak, tepung tulang sapi, vitamin, gabah,
dan garam. Konsentrat yang digunakan di PT Bio Farma yaitu konsentrat Haras
dengan bentuk pelet. Komposisi konsentrat haras yang digunakan dapat dilihat
pada Tabel 4 dan Tabel 5.

Tabel 4 Komposisi konsentrat Haras® sebagai tambahan pakan kuda di PT Bio


Farma (Persero)
No Bahan Konsentrat Jumlah Kandungan
1 Metabolisme Energi 2.720 Kcal
2 Protein 16 %
3 Lemak 3%
4 Abu 8%
5 Serat Kasar 12.5 %
6 Kelembaban 11.5 %
7 Pati 23 %
8 Sodium 0.5 %
9 Magnesium 3g
10 Lysin 6g
11 Methionin + Cystin 5.6 g
12 Threonin 5.2 g
13 Kalsium 14 g
14 Phospor 7g

Tabel 5 Komposisi vitamin pada konsentrat Haras® sebagai tambahan pakan kuda
di PT Bio Farma (Persero)
No Vitamin Jumlah Kandungan
1 Vitamin A 11000 IU
2 Vitamin D3 1700 IU
3 Vitamin E 110 IU
4 Vitamin B1 5.5 mg
5 Vitamin B2 5.5 mg
6 Vitamin B6 5.5 mg
7 Vitamin B12 0.066 mg
8 Vitamin PP (Niasin) 22 mg
9 Vitamin B3 11 mg
10 Vitamin B9 (Asam Folik) 4.1 mg
11 Vitamin C 160 mg
12 Biotin 4.1 mg
13 Cholin 220 mg
13

c. Manajemen Perawatan
Kegiatan perawatan kuda donor berupa pemotongan kuku dilakukan ketika
kuku kuda sudah panjang. Kuku kuda yang panjang dapat mengganggu
kenyamanan kuda saat menumpu. Kuda donor yang dipelihara di PT Bio Farma
(Persero) tidak menggunakan ladam, hal ini menyebabkan kuku kuda tumbuh
lebih cepat dan memerlukan pemotongan kuku yang rutin. Selain itu, tujuan
pemotongan kuku adalah untuk menghindari adanya pertumbuhan
mikroorganisme yang dapat menyebabkan penyakit.
Kegiatan grooming dilakukan dengan menggunakan roskam dan sikat.
Rambut di permukaan tubuh kuda digosok menggunakan roskam, selanjutnya
disikat untuk membuang rambut – rambut yang sudah mati. Perawatan lain yang
juga dilakukan adalah pencukuran suri kuda jika suri sudah panjang. Hal ini
dilakukan karena suri yang panjang dapat menjadi sumber kontaminan dan dapat
mengganggu pada saat proses pengambilan darah.
Setiap pagi dilakukan monitoring untuk melihat adanya kelainan pada kuda.
Monitoring yang dilakukan berupa pemeriksaan defekasi, urinasi, sisa pakan, dan
minum. Pengamatan juga dilakukan terhadap perilaku kuda yang lemas atau
kesakitan, serta memperhatikan ada tidaknya luka pada permukaan kulit kuda.
Kuda yang sakit selanjutnya akan mendapat tindakan pengobatan.

d. Manajemen Kesehatan
Pelaksanaan manajemen kesehatan kuda di PT Bio Farma (Persero)
merupakan tanggung jawab tenaga medik veteriner yaitu dokter hewan dan
paramedis veteriner. Paramedis bertugas melakukan monitoring atau pengecekkan
kondisi kesehatan kuda yang dilakukan secara rutin setiap harinya di pagi hari.
Monitoring kesehatan kuda dilakukan dengan inspeksi, pengamatan gejala klinis,
memperhatikan nafsu makan kuda, serta memperhatikan tingkah laku dan habitus
kuda yang menunjukkan ada tidaknya kelainan. Tindakan medis selanjutnya dapat
dilakukan oleh dokter hewan yang dibantu dengan paramedis berdasarkan adanya
laporan dari animal caretaker maupun dari hasil monitoring yang dilakukan di
pagi hari. Tindakan medis dapat berupa pencegahan penyakit dengan pemberian
vitamin dan obat anti parasit. Pemberian obat anti parasit dilakukan secara rutin
setiap 6 bulan sekali dan memperhatikan withdrawl time, sehingga tidak
mempengaruhi proses produksi. Tindakan medis lainnya berupa pengobatan
dilakukan sesuai dengan hasil pemeriksaan klinis oleh dokter hewan. Pemeriksaan
lanjutan seperti pemeriksaan hematologi di laboratorium dapat pula dilakukan
untuk meneguhkan diagnosa dari dokter hewan. Health monitoring dilakukan
secara rutin setiap 6 bulan sekali yaitu dengan pengambilan darah kuda dan akan
diperiksa untuk memastikan status mikrobiologis kuda negatif dari Equine
Infectious Anemia Virus, Strangles (Streptococcus equi), Surra (Trypanosoma
evansi), dan Equine Piroplasmosis (Babesia caballi dan Theileria equi). Kasus
yang ditemukan di bagian hewan donor selama melaksanakan magang sebagai
berikut:

 Kasus 1
Tanggal 25 Juni 2018, seekor kuda betina dari istal 7 mengalami sakit
kulit di bagian kepala dan leher. Pada kasus ini tidak dilakukan pemeriksaan
lanjutan berupa kerokan kulit, sehingga tidak dapat diketahui secara pasti
14

diagnosa dari penyakit ini. Penanganan yang dilakukan adalah dengan


membersihkan seluruh rambut serta keropeng yang berada pada bagian
tersebut menggunakan gunting dan blade. Tindakan selanjutnya adalah
membersihkan keseluruhan bagian yang sudah dicukur menggunakan
rivanol, serta selanjutnya diberi povidone iodin (Betadine®). Rivanol
mengandung etakridin laktat 0.1% yang berperan sebagai antiseptik untuk
membersihkan luka dan mencegah terjadinya infeksi. Betadine ®
mengandung povidone iodin 10% yang juga berperan sebagai antiseptik.

 Kasus 2
Tanggal 25 Juni 2018, seekor kuda betina dari istal 3 dengan status
reproduksi 5 hari pasca melahirkan diberikan tindakan medis berupa
pemberian antibiotika Penstrep® dengan dosis 1ml/20 kg BB dan vitamin
Biodin® sebanyak 10 ml. Tujuan pemberian Penstrep® yang merupakan
antibiotika berspektrum luas adalah mencegah terjadinya infeksi, sedangkan
tujuan pemberian Biodin adalah sebagai penguat otot dan meningkatkan
daya tahan tubuh karena biodin memiliki kandungan adenosina trifosfat
(ATP), Mg, Na, K, dan Vitamin B12. Tenaga medis tidak memberikan
penanganan khusus terhadap kuda yang melahirkan dikarenakan Bagian
Hewan Donor tidak diperuntukkan untuk tujuan breeding kuda.

 Kasus 3
Tanggal 2 Juli 2018, seekor kuda betina ditemukan lemas, tubuhnya
berkeringat dan dingin, nafsu makan berkurang, serta diare berdarah.
Pemeriksaan selanjutnya dilakukan oleh dokter hewan yaitu dengan
melakukan physical examination dan pengambilan darah untuk pemeriksaan
hematologi. Hasil physical examination menunjukkan suhu tubuh kuda
sangat rendah dan kuda mengalami dehidrasi, sedangkan hasil pemeriksaan
hematologi menunjukkan kuda mengalami polisitemia dan dehidrasi.
Penanganan yang dilakukan berupa pemberian infus Ringer Laktat (RL),
injeksi Flunixin, Vitamin K, Biodin, Pen-strep dan Hematodin. Pritchard et
al. (2008) menyatakan tanda dehidrasi pada kuda adalah tidak adanya urin
yang dikeluarkan, ekstrimitas, telinga, dan hidung terasa dingin,
peningkatan capillary refill time (CRT) > 2 detik, serta peningkatan detak
jantung. Flunixin yang diberikan berperan sebagai analgesik dengan
aktivitas anti inflamasi dan anti piretik untuk membantu mengurangi rasa
sakit pada kuda. Hematodin berperan sebagai stimulan secara umum, serta
sebagai anti toksin dan anti infeksi. Vitamin K berperan sebagai
antihemoragikum yang dapat membantu proses pembekuan darah salah
satunya dalam kasus gastroenteritis yang dialami oleh kuda ini. Pengobatan
dilakukan dari pagi hari hingga sore hari, namun pada pukul 17.09 WIB
kuda mati.

 Kasus 4
Tanggal 2 Juli 2018, seekor kuda dari Istal 8 dan seekor kuda dari Istal
9 menunjukkan penurunan nafsu makan dan lemas sehingga diberi vitamin
Biodin, keesokan harinya dilakukan monitoring kembali. Pemberian Biodin
akan membantu pemulihan energi kuda karena adanya kandungan ATP,
15

serta membantu memperbaiki proses metabolisme. Hasil monitoring


menunjukkan nafsu makan kuda sudah kembali dan hasil physical
examination menunjukkan kuda sudah sehat.
 Kasus 5
Tanggal 4 Juli 2018, seekor kuda betina mengalami trauma di bagian
kelopak matanya, mengalami kebengkakkan sehingga mata tidak dapat
terbuka sempurna. Pengobatan yang dilakukan adalah pemberian salep
Genoint® dan diberi Betadine®, serta diberi injeksi Biodin® sebanyak 10 ml.
Betadine diberikan sebagai antiseptik, sedangkan Genoint ® yang memiliki
kandungan berupa gentamisin berperan sebagai antibiotik topikal yang akan
membunuh dan mencegah pertumbuhan bakteri penyebab infeksi. Keesokan
harinya dilakukan pengecekkan kembali dan kebengkakkan sudah mulai
berkurang, mata kuda sudah bisa terbuka. Tindakan medis selanjutnya
adalah pemberian injeksi Biodin dan luka diberi Genoint® serta bagian yang
bengkak diberi salep Thrombophop®. Thrombophob® gel mengandung
Heparin sodium 20.000 IU yang dapat mencegah pembekuan darah dan
membantu proses fibrinolisa, serta dapat berperan sebagai anti-radang
dengan melancarkan peredaran darah.

e. Imunisasi pada kuda


Imunisasi merupakan proses menginduksi imunitas secara buatan baik
dengan proses memasukkan antigen ke dalam tubuh (vaksinasi/imunisasi aktif)
maupun dengan pemberian antibodi (imunisasi pasif) agar tubuh memiliki
kekebalan terhadap suatu penyakit. PT Bio Farma (Persero) menggunakan
imunisasi aktif berupa hiperimunisasi untuk menghasilkan respon antibodi yang
ditimbulkan kemudian dijadikan produk berupa anti serum yang digunakan untuk
imunisasi pasif pada manusia. Sistem hiperimunisasi adalah pemasukan antigen
tertentu secara berulang-ulang dengan dosis tertentu untuk mendapatkan level
antibodi yang tinggi. Antigen yang digunakan adalah toksoid tetanus, toksoid
difteri, anavenom Agkistrodon, anavenom Bungarus, anavenom Naja sera
anavenom ketiganya (polivalen). Antigen tersebut dimasukkan ke hewan kuda
agar diperoleh antibodinya dan menghasilkan plasma sebagai bahan baku.
Kuda yang akan digunakan untuk produksi, sebelumnya harus melewati
proses karantina. Karantina dilakukan selama 6 minggu. Kriteria kuda yang dapat
digunakan sebagai hewan produksi adalah sehat fisik dan tidak cacat, umur 4–5
tahun, tinggi badan >160 cm, bobot ≥ 200 kg, bebas parasit darah, bebas penyakit
viral dan bakteri, dapat dikendalikan dan beradaptasi dengan baik. Tindakan
medis yang dilakukan selama karantina diantaranya pemberian obat cacing,
pemeriksaan darah (parasit darah, hematologi, keberadaan equine infectious
anemia virus), pemeriksaan feses (helmintiasis), dan pengobatan terhadap luka
lecet pada kulit. Kuda karantina yang tidak memenuhi standar, maka tidak dapat
dilanjutkan untuk digunakan sebagai hewan produksi (ditolak).
Teknik penyuntikan sebaiknya di tubuh bagian dorsal untuk menghindari
luka dan kerusakan akibat gesekan dengan peralatan kandang yang dapat
menyebabkan peradangan yang parah. Sebelum penyuntikan sebaiknya dilakukan
pemijatan pada daerah penyuntikan agar kuda tidak kaget. Pemijatan juga
dilakukan sesudah penyuntikkan agar material vaksin dapat menyebar sehingga
penyerapan lebih optimal (WHO 2012). Lokasi imunisasi perlu diperhatikan
16

karena dapat mempengaruhi respon antibodi yang akan dihasilkan. Area


penyuntikan imunisasi sebaiknya dilakukan di dekat limfonodus utama yaitu
disekitar punggung dan panggul kuda. Berikut ilustrasi area lokasi (warna merah)
penyuntikan vaksin pada tubuh kuda yang ideal.

Gambar 3 Daerah penyuntikan imunisasi kuda (WHO 2012)

Tahap imunisasi pada kuda dilakukan melalui tiga tahap yaitu, priming
(Basis ke-1 rute SC), priming II (Basis ke-2 rute IM atau SC) dan booster
(Produksi ke-n, n ≥ 1 rute SC). Imunisasi yang diberikan sebagai booster juga
disertai dengan pemberian adjuvant yang telah tercampur dengan anavenom atau
toksoid yang digunakan untuk imunisasi.

 Pengawasan pasca imunisasi


Berdasarkan WHO (2012), perlu dilakukan pengawasan pasca
imunisasi oleh dokter hewan yang berwenang. Pengawasan ini bertujuan
untuk mengetahui respon setiap individu kuda terhadap imunisasi. Pada
umumnya terjadi reaksi pasca imunisasi akibat penggunaan adjuvant
tertentu. Adjuvant yang digunakan di PT Bio Farma (Persero) adalah
freund’s complete (FCA) dan incomplete adjuvant (FIA) untuk vaksinasi
ATS, sedangkan untuk vaksinasi ABN adalah alumunium salts (hiroksida
dan fosfat). Freud’s incomplete adjuvant (FIA) mengandung mineral oil dan
emulsifier, sedangkan Freud’s complete adjuvant (FCA) mengandung
mineral oil, emulsifier, dan inaktif mycobacterium tuberkulosis. Penggunaan
adjuvant FCA lebih potensial dibandingkan FIA, namun pemberian FCA
lebih berisiko menghasilkan abses pascaimunisasi, untuk mengurangi efek
samping dari pemberian adjuvant tersebut, penyuntikan saat imunisasi
dilakukan di daerah dorsal tubuh hewan donor (WHO 2012).
Beberapa kuda pasca imunisasi menghasilkan respon terbentuknya
abses didaerah penyuntikan yaitu daerah sekitar leher dan punggung. Abses
yang terjadi pada kuda produksi anti sera tersebut dapat terjadi akibat
adanya reaksi lokal dari proses imunisasi yang menggunakan adjuvant.
Terapi yang dilakukan pada kasus abses tersebut adalah pembersihan pus
dan luka dengan iodine tincture 3%.
17

Hewan yang sudah diimunisasi selanjutnya akan dilakukan proses


plasmapheresis. Syarat sebelum dilakukannya plasmapheresis adalah
dengan melakukan pemeriksaan titer antibodi hewan donor yang akan
digunakan sebagai hewan produksi plasma. Pemeriksaan ini biasa dilakukan
1–2 hari sebelum produksi dengan pengambilan darah melalui vena
jugularis sebanyak 10–20 ml. Kuda dinyatakan layak untuk produksi jika
hasil pengujian titer antibodi kuda mencapai ambang batas yang telah
ditentukan. Ambang batas titer antibodi yang dibutuhkan untuk produksi
adalah ≥500 Lf/mL untuk ATS, ≥350 Lf/mL untuk ADS, dan ≥10 LD50/mL
untuk ABU. Jika titer antibodi kuda tidak mencapai ambang batas yang
telah ditentukan, maka kuda tersebut tidak dapat digunakan untu produksi,
dan kemudian dikategorikan dalam masa istirahat, sehingga perlu diberikan
booster ulang. Kuda yang dinyatakan memiliki titer tinggi dan layak
digunakan untuk diproduksi harus memiliki kondisi kesehatan yang baik.
Jika terdapat kuda yang mengalami gangguan kesehatan, maka kuda
tersebut tidak dapat digukan untuk produksi.

f. Plasmapheresis
Plasmapheresis merupakan serangkaian prosedur dalam produksi plasma
hewan yang telah diimunisasi dengan serum tertentu untuk mendapatkan antibodi
yang diinginkan. Tahapan dalam plasmapheresis meliputi pengambilan darah dari
donor (aftaaf), pemisahan plasma darah dari bagian seluler (separasi), filtrasi atau
sentrifugasi hingga pengembalian sel darah merah pada donor (rekonstitusi dan
transfusi) (WHO 2012).
Sebelum memulai produksi, terdapat beberapa hal yang harus disiapkan
antara lain botol penampung darah, syringe 25 mL, jarum 18 G, agrave, tang
arteri anatomis, kapas, alkohol 70%, iodin tincture, vitamin B kompleks, vitamin
B12 (cyanocobalamin), shaker orbital, meja dan kandang jepit. Botol penampung
darah telah disterilkan dan diisi antikoagulan. Botol tersebut juga dilengkapi
dengan selang-selang yang menunjang proses produksi, jarum berukuran 8, dan
label yang menunjukkan tanggal pembuatan dan tanggal kadaluarsa antikoagulan
serta kode hewan donor. Antikoagulan yang digunakan adalah buffer citrate.
Antikoagulan yang diberikan disesuaikan dengan jumlah darah yang akan
ditampung. Perbandingan buffer citrate dan darah adalah 1:9 (WHO 2012).
Tahapan plasmapheresis sebagai berikut:
1. Pengambilan Darah (Aftaaf)
Pengambilan darah utuh (panen darah) harus dilakukan secara aseptis.
Tahap ini dimulai dari menempatkan hewan donor (yang telah memenuhi
syarat titer dan sehat) di dalam kandang jepit yang bersih untuk membatasi
gerakan hewan. Hewan donor yang digunakan adalah kuda. Sebelum
dilakukan pengambilan darah, terlebih dahulu ditimbang bobotnya untuk
menentukan berapa volume darah yang dapat diambil untuk produksi
plasma. Pengambilan darah dilakukan menggunakan jarum berukuran 8
melalui vena jugularis. Area pengambilan darah harus diusapkan dengan
kapas yang telah dibasahi dengan alkohol 70%. Menurut WHO (2012),
darah yang diambil adalah sebanyak 13–15 mL /kgBB hewan donor.
Selama pengambilan darah, botol penampung darah diletakkan di dalam
shaker orbital dengan kecepatan 1000 rpm. Setelah darah diambil dalam
18

jumlah yang dibutuhkan, area pengambilan darah diberikan iodin tincture.


Apabila terjadi pendarahan setelah pengambilan darah, perlu dipasang
agrave pada pembuluh darah untuk menghambat darah keluar. Kuda
selanjutnya diberikan vitamin B kompleks dan B12 secara intramuskular.
Botol penampung darah yang telah dijepit di bagian selang aftaaf kemudian
dibawa ke dalam ruangan berkelas D untuk memisahkan plasma darah.
Ruangan berkelas D adalah ruangan yang diklasifikasikan berdasarkan
pedoman cara pembuatan obat yang baik (CPOB) sebagai ruangan yang
memiliki persyaratan jumlah partikel, jumlah mikroba, tekanan, kelembaban
udara, dan air change rate tersendiri. Ruangan berkelas D digunakan untuk
pembuatan produk steril.

2. Pemisahan Plasma dan Preservasi Plasma (Separasi)


Proses separasi adalah pemisahan komponen plasma darah dari
komponen padatan darah (eritrosit, leukosit, dan trombosit). Separasi yang
dilakukan adalah dengan teknik pengendapan. Pengendapan dilakukan pada
suhu ruang yang berkisar antara 20 sampai dengan 25 °C selama 5–7 jam.
Pemanenan plasma dilakukan dengan mengambil cairan plasma dan
ditampung ke dalam botol yang telah steril dalam Laminar Air Flow (LAF)
yang memiliki sistem aliran udara satu arah. Proses ini melibatkan
penggunaan pompa vakum dan kompresi. Plasma dicampurkan dengan
bahan preservatif berupa cresol eter. Perbandingan yang digunakan antara
cresol eter adalah 1:1 ke dalam botol pool plasma, kemudian dilakukan
homogenisasi dengan gerakan memutar botol pool plasma secara perlahan
dan searah jarum jam yang bertumpu pada bagian dasar botol tersebut.
Plasma selanjutnya disimpan pada refrigerator dengan suhu 2–8 °C
maksimal selama 24 jam dan kemudian diekspedisikan ke bagian Filling
Formulasi Vaksin dan Sera (FPVS).

3. Rekonstitusi dan Transfusi


Rekonstitusi darah merupakan tahap mencampurkan NaCl fisiologis
0.85 % ke dalam botol penampung darah yang berisi sel darah. Tahap ini
bertujuan untuk mengembalikan darah ke hewan donor sesuai jumlah darah
yang telah diambil untuk produksi plasma. Jumlah NaCl fisiologis 0.85 %
ditambahkan sama dengan jumlah plasma yang diambil. Suhu NaCl
fisiologis terlebih dahulu disesuaikan dengan suhu tubuh kuda dengan
menggunakan water bath. Suhu NaCl fisologis yang ditambahkan sebesar
32–37 ºC, kemudian dilanjutkan dengan pencampuran bersama darah.
Pengembalian darah ke hewan donor (transfusi darah) dilakukan secara
aseptis melalui vena jugularis. Pengembalian darah harus dilakukan dalam
waktu 24 jam setelah pengambilan darah. Pengembalian darah bertujuan
untuk mencegah terjadinya anemia dan hipovolemik pada hewan donor
(WHO 2012).

Bagian Uji Hewan


a. Penerimaan dan conditioning hewan
Hewan yang akan digunakan sebagai hewan model atau hewan laboratorium
di PT Bio Farma (Persero) harus melewati proses conditioning. Proses
19

conditioning ini merupakan suatu upaya penyesuaian fisiologis atau adaptasi


hewan dalam lingkungan yang baru. Proses tersebut berlangsung dalam waktu
yang bervariasi tergantung dari jenis hewan dan perbedaan kondisi habitat/tempat
asal dengan lingkungan baru yang akan dihadapi. Penerimaan mencit, marmut,
kelinci, dan tikus dilakukan di seksi zooteknik 1 dan 2, sedangkan penerimaan
monyet dilakukan di seksi zooteknik 3. Hewan laboratorium akan dipindahkan
dari kandang transportasi ke kandang conditioning. Hewan akan ditimbang
terlebih dahulu bobot badannya, lalu dilakukan pemeriksaan kesesuaian jumlah
dan spesifikasi hewan laboratorium. Tujuan dari conditioning ini adalah untuk
menjamin bahwa status kesehatan hewan yang akan dipergunakan adalah hewan
yang sehat dan hewan dapat beradaptasi terlebih dahulu dengan lingkungan
barunya. Rekomendasi masa conditioning adalah 4–7 hari untuk monyet, 4–5 hari
untuk marmut, 6–7 hari untuk kelinci, serta 1–3 hari untuk mencit dan tikus.
Selama masa conditioning, perlakuan terhadap hewan laboratorium berupa
penimbangan bobot badan dan pemeriksaan klinis.

b. Pengujian di Bagian Uji Hewan


 Uji Pirogen
Pirogen merupakan agen biokimiawi endogen dan/atau eksogen yang
dapat menimbulkan reaksi demam pada hewan dan/atau manusia. Pirogen
terbagi menjadi dua, yaitu pirogen eksogen dan pirogen endogen. Pirogen
eksogen adalah pirogen yang berasal dari luar tubuh. Contoh dari pirogen
eksogen adalah produk mikroorganisme seperti toksin atau mikroorganisme.
Salah satu pirogen eksogen klasik adalah endotoksin lipopolisakarida yang
dihasilkan oleh bakteri gram negatif. Pirogen endogen berasal dari dalam
tubuh. Contoh dari pirogen endogen antara lain IL-1, IL-6, TNF-α, dan IFN.
Sumber dari pirogen endogen ini pada umumnya adalah monosit, neutrofil,
dan limfosit walaupun sel lain juga dapat mengeluarkan pirogen endogen
jika terstimulasi (Dinarello dan Gelfand 2005).
PT Bio Farma (Persero) menggunakan kelinci sebagai hewan model
pada uji pirogen. Penggunaan kelinci disebabkan oleh sensitivitas yang
dimiliki kelinci terhadap substansi pirogenik mirip dengan manusia,
sehingga uji pirogen terhadap kelinci dapat menggambarkan seluruh respon
farmakologis terhadap pirogen dan relevan dengan respon pada manusia
(Vipond et al. 2016). Hewan yang digunakan dalam uji pirogen adalah
kelinci New Zealand White yang sehat/lulus karantina, bobot badan 1500–
3500 gram dengan syarat tidak menunjukkan penurunan berat badan dalam
satu minggu sebelum pengujian, perbedaan suhu ruang uji dan ruang
pemeliharaan kelinci tidak lebih dari 3 oC, kelinci tidak diberi pakan 1
malam hingga pengujian selesai dan tidak diberi minum selama masa
pengujian. Uji ini dilakukan dengan cara mengukur respon suhu badan
kelinci sebelum dan sesudah injeksi larutan bahan uji secara intravena
dengan dosis tertentu. Respon yang diukur berupa perbedaan suhu
maksimum dan suhu minimum pada masa tenang atau perbedaan suhu
maksimum dan suhu inisial pada masa uji dalam suatu uji pirogen.
Uji pirogen terbagi menjadi dua yaitu uji pendahuluan dan uji utama.
Uji pendahuluan terdiri dari masa tenang dan masa uji. Uji pendahuluan
20

dilakukan 1 sampai 3 hari sebelum uji utama dengan menyuntikkan NaCl


0.85 % yang steril dan bebas pirogen 10ml/kg BB melalui vena auricularis
kelinci dan pengukuran suhu tiap 15 menit selama 3 jam. Kelinci dinyatakan
lulus masa tenang untuk masa uji dan/atau untuk uji utama bila rekaman
suhu 30 menit terakhir pada masa tenang bukan berupa ‘Error’. Rekaman
‘Error’ menunjukkan bahwa respon per ekor lebih dari 0.2 oC, jumlah
respon kelinci di dalam satu kelompok uji lebih dari 1.0 oC dan suhu tubuh
kelinci tidak berada pada kisaran normal (38.0 oC–39.8 oC) atau jika respon
suhu per ekor tidak lebih dari 0.6 oC. Uji utama dilakukan terhadap semua
kelinci yang lulus uji pendahuluan dengan penyuntikkan bahan uji melalui
vena auricularis. Bahan uji (ATS/ADS/ABU) diencerkan terlebih dahulu
dengan NaCl fisiologis dengan perbandingan 1:9. Persyaratan diterimanya
suatu bahan uji berdasarkan jumlah responnya disajikan pada Tabel 6.

Tabel 6 Respon kelompok kelinci pada uji pirogen


Sediaan Memenuhi Syarat Bila Sediaan Tidak Memenuhi
Jumlah
Jumlah Respon Tidak Lebih Syarat Bila Jumlah Respon
kelinci
Dari (oC) Lebih Dari ( oC)
3 1.2 2.7
6 2.8 4.3
9 4.5 6.0
12 6.6 6.6
Sumber: Bagian Uji Hewan PT Biofarma (Persero)

 Uji potensi
Uji Potensi Anti Diphteria Serum (ADS)
Anti- Diphteria Serum adalah sediaan yang mengandung globulin anti
toksin yang memiliki kemampuan spesifik menetralisasi toksin yang
dibentuk oleh Corynebacterium diphteria (WHO 2017). Kementerian
Kesehatan (2014) menyatakan difteria merupakan penyakit infeksi akut
yang banyak menyerang anak pada usia 5–7 tahun, yang disebabkan oleh
bakteri Corynebacterium diphteria. Pembuatan serum anti difteri berasal
plasma darah kuda yang telah diimunisasi dengan toksoid difteri. Kuda
donor yang digunakan untuk produksi adalah kuda yang sehat dan harus
memenuhi spefisikasi tertentu. Pengujian potensi dapat dilakukan terhadap
bahan uji yang mengandung serum anti difteria, dapat berupa produk belum
jadi, final bulk, maupun final produk serum anti difteri.
Hewan uji yang digunakan adalah cavia strain Dunkin Hartley Albino
(DHA) dengan berat badan 250–350 gram pada saat penyuntikan bahan uji.
Hewan harus dipastikan sehat dan belum pernah digunakan untuk uji
sebelumnya, serta lulus masa conditioning. Prosedur kerja dimulai dengan
melakukan pengenceran terhadap bahan uji dan bahan baku pembanding,
selanjutnya dibuat dalam beberapa pengenceran di tabung dan ditambahkan
dengan toksin, sehingga terbentuk campuran toksin-antitoksin yang siap
diinjeksikan kepada hewan uji. Pengenceran dan persiapan bahan yang akan
digunakan untuk injeksi dipersiapkan oleh divisi Quality Control (QC),
sedangkan proses selanjutnya dan proses karantina hewan dilakukan oleh
21

bagian Uji Hewan. Proses selanjutnya adalah penyuntikkan pada hewan uji
dengan setiap pengenceran disuntikkan kepada 3 ekor cavia. Observasi
selanjutnya dilakukan terhadap jumlah cavia yang mampu bertahan hidup
dengan periode observasi selama 5 hari. Perhitungan selanjutnya dilakukan
dengan metode probit analisis/ Spearman & Karber yang akan dinyatakan
ke dalam International Unit (IU) per mililiter. Final bulk dan produk akhir
serum anti difteri dinyatakan memenuhi spesifikasi apabila nilai potensinya
tidak kurang dari 90 % dari yang tertera pada label, sedangkan bulk murni
jika nilai potensi tidak kurang dari 1250 IU/mL (WHO 2017).

Uji Potensi Anti Tetanus Serum (ATS)


Anti Tetanus Serum (ATS) adalah sediaan yang mengandung globulin
anti toksin yang memiliki kemampuan spesifik menetralisasi toksin yang
dibentuk oleh Clostridium tetani (WHO 2017). Pengujian potensi ATS
menggunakan hewan uji mencit Strain DDY dengan berat badan 15 – 17
gram, selain itu hewan juga harus sehat, belum pernah digunakan untuk uji
sebelumnya, serta lulus masa karantina. Pengujian dimulai dengan
melakukan pengenceran bahan uji dan serum baku dalam beberapa
pengenceran untuk kemudian diinjeksikan pada mencit, setiap pengenceran
disuntikkan pada 6 ekor mencit. Observasi selanjutnya dilakukan selama 5
hari terhadap mencit yang mampu bertahan hidup. Perhitungan selanjutnya
dilakukan dengan metode probit analisis/ Spearman & Karber yang akan
dinyatakan ke dalam International Unit (IU) per mililiter. Final bulk dan
produk akhir serum anti tetanus dinyatakan memenuhi spesifikasi apabila
nilai potensinya tidak kurang dari 90 % dari yang tertera pada label,
sedangkan bulk murni jika nilai potensi tidak kurang dari 1500 IU/mL.

Uji Potensi Anti Bisa Ular (ABU)


Serum yang diproduksi merupakan serum yang mengandung antibodi
terhadap venom Agkistrodon rhodostoma (A), Bungarus fasciatus (B), dan
Naja sputrarix (N). Hewan percobaan yang digunakan untuk uji potensi
ABU adalah mencit strain A dengan berat badan 15–17 gram. Semua mencit
harus dalam kondisi sehat, belum pernah digunakan untuk uji apapun
sebelumnya, serta lulus karantina. Bahan uji yang akan diuji potensi berupa
plasma yang berasal dari kuda yang telah diimunisasi dengan anavenom.
Seluruh pekerjaan uji potensi harus dilakukan secara aseptis di laminar air
flow. Bahan uji kemudian diencerkan dengan NaCl fisiologis dan
ditambahkan dengan venom baku A/B/N yang sudah standar dengan jumlah
bervariasi pada masing-masing tabung reaksi (pengenceran bertingkat),
sehingga terbentuk campuran serum (antibodi), venom (antigen), dan NaCl.
Campuran kemudian diinjeksikan dengan masing-masing pengenceran
kepada 3 ekor mencit secara intravena pada vena ekor. Pengamatan
selanjutnya dilakukan 24 jam setelah penyuntikkan terhadap mencit yang
mampu bertahan hidup dan yang mati. Nilai potensi bahan uji ABU dihitung
dengan metode Spearman & Karber berdasarkan jumlah mencit yang masih
hidup pada akhir pengamatan dan dinyatakan dalam nilai LD50 venom
A/B/N dan dalam satuan berat (µg) venom A/B/N yang dapat dinetralisasi
oleh 1 mL sampel bahan uji. Prinsip dari pengujian ini adalah uji netralisasi
22

yaitu uji yang mampu melihat kemampuan netralisasi antibodi terhadap


antigen. Netralisasi pada antigen merupakan tanda gagalnya infeksi antigen
secara in vitro akibat adanya antibodi yang mengikat antigen sehingga
antigen target tidak mampu menempel pada reseptor sel (Magnus 2013).
Netralisasi sempurna menandakan keseluruhan antigen dapat dilawan oleh
antibodi yang berada dalam bahan uji yang diinjeksikan. Kriteria
penerimaan potensi produk ABU terhadap komponen venom Agkistrodon
rhodostoma adalah ≥10 LD50, Bungarus fasciatus ≥25 LD50, serta Naja
sputatrix ≥25 LD50. Kriteria penerimaan potensi ABU dalam satuan berat
(µg) venom yang dapat dinetralisasi oleh 1 ml produk ABU adalah venom
Agkistrodon rhodostoma ≥1330 µg/mL, Bungarus fasciatus ≥200 µg/mL,
dan Naja sputatrix ≥200 µg/mL.

Divisi Pengawasan Mutu

Bagian Patologi dan Toksikologi


a. Neurovirulence Test (NVT)
Neurovirulence Test (NVT) adalah uji berstandar internasional yang
digunakan untuk menguji keamanan vaksin polio pada monyet. Metode pengujian
ini dapat digunakan untuk mengontrol kualitas dan efektivitas dari oral
poliomyelitis vaccine (OPV), yellow fever (YF) vaccines, serta uji potensi difteri,
tetanus, dan pertusis (DPT) (WHO 2017). Menurut WHO (2012), uji NVT adalah
uji yang mampu medeteksi kemungkinan adanya kontaminasi virus polio yang
bersifat neutropic.
Uji NVT yang dilakukan pada PT Bio Farma (Persero) menggunakan
monyet Macaca fascicularis. Monyet yang akan dijadikan hewan uji harus
memenuhi spesifikasi monyet sehat. Monyet yang digunakan harus bebas dari
virus polio dan tuberkulosis (TB). Bobot badan tidak kurang dari 1.5 kg. Monyet
yang telah melalui masa karantina dan conditioning, selanjutnya diinokulasikan
dengan virus polio secara intraspinal pada lumbal ke-2. Monyet yang telah
diinokulasi dimasukkan ke dalam kandang pemeliharaan dan dilakukan observasi.
Observasi yang dilakukan untuk melihat adanya indikasi dari gejala klinis
poliomyelitis. Gejala klinis yang timbul dapat berupa gejala-gejala ringan atau
asimptomatis pada hari ke 3–5 pasca inokulasi. Gejala klinis yang berat dapat
dilihat dari terjadinya kelemahan atau kelumpuhan otot. Masa inkubasi dari virus
polio ini berlangsung 7–14 hari, namun dapat juga dalam rentang waktu 2–35 hari
(Suryawidjaja 2005; WHO 2005). Observasi dilakukan selama 17–22 hari.
Setelah dilakukan observasi, monyet yang sudah mati atau masih hidup dilakukan
nekropsi. Monyet yang masih hidup dilakukan pembiusan. Setelah monyet
terbius, dilakukan fiksasi untuk mempermudah proses nekropsi. Rongga dada
monyet selanjutnya dibuka dan darah dikeluarkan. Darah yang keluar tersebut
digantikan dengan NaCl fisiologis. Tahap selanjutnya, formalin dimasukkan
hingga terpompa ke seluruh jaringan tubuh. Bagian yang dipanen dari monyet
adalah otak dan sumsum tulang. Bagian yang dipanen tersebut dibuat preparat
histologi untuk dilakukan pemeriksaan histopatologi.

b. Randomized Controlled Trial (RCT)


23

Randomized Controlled Trial (RCT) adalah metode yang digunakan untuk


melihat perkembangan virus yang baik pada berbagai suhu yang berbeda. Metode
ini menggunakan tiga suhu yang berbeda, yaitu 37 ºC, 39 ºC, dan 41 ºC. Metode
ini menggunakan ginjal monyet Macaca fascicularis. Monyet yang akan
digunakan dalam RCT ini harus memenuhi beberapa persyaratan, seperti
dilengkapi surat jalan dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA)
dan hewan harus memenuhi spesifikasi monyet sehat. Monyet harus melewati
masa karantina selama minimal 6 minggu. Berat badan monyet berkisar 1.5–3.2
kg. Umur monyet sekitar 2–3.5 tahun yang biasanya ditandai dengan tumbuhnya
gigi molar 2 (M2). Kondisi umum monyet aktif, rambut tidak kusam, mata
bersinar, dan ekstremitas lengkap. Monyet juga belum pernah digunakan untuk
tujuan eksperimen dan tidak cacat secara fisik. Selain itu, monyet tersebut
menunjukkan hasil tes negatif terhadap virus polio tipe 1 dan 3 dan hasil negatif
terhadap tuberkulosis (TB) untuk 3 kali pengujian berturut-turut.
Setelah syarat-syarat tersebut terpenuhi, monyet yang datang akan dibius
dengan xylazine secara intramuskular dan dilakukan penimbangan berat badan,
pemeriksaan umur, pemeriksaan kebuntingan, serta pemeriksaan fisik. Monyet
kemudian dimasukkan ke dalam kandang pemeliharaan selama masa
conditioning. Monyet yang telah melalui masa conditioning akan dibius dan
disembelih. Monyet yang telah mati akan dilakukan pengambilan ginjal
(nefrectomy). Ginjal akan digunakan untuk media pembiakan virus. Ginjal yang
telah diambil akan digerus menjadi bubur ginjal untuk dijadikan media pembiakan
virus polio. Virus polio selanjutnya akan diinokulasikan ke bubur ginjal tersebut
dan diinkubasi pada suhu 37 ºC, 39 ºC, dan 41 ºC untuk melihat pada suhu berapa
virus dapat tumbuh dengan baik.

Pengolahan Limbah

Pengolahan limbah pada PT Bio Farma (Persero) Cisurua berupa


pengolahan limbah padat dan cair. Limbah padat yang dihasilkan dapat berupa
kadaver, feses, dan bedding. Limbah kadaver yang telah dikumpulkan
dimasukkan ke dalam insinerator yang memiliki 3 burner utama. Suhu dari setiap
burner berkisar 700 °C. Kadaver yang dimaksud antara lain mencit, cavia, tikus,
dan kelinci, sedangkan untuk kadaver hewan besar tidak dibakar. Kadaver hewan
besar seperti kuda dilakukan pemotongan beberapa bagian yang selanjutnya
bagian-bagian tersebut dikubur. Limbah padat lainnya seperti bedding dan feses di
olah oleh pihak ketiga untuk dijadikan pupuk. Limbah lainnya yang juga perlu
diolah adalah limbah cair.
Pengolahan limbah cair bertujuan untuk memperbaiki kualitas air agar
sesuai dengan syarat baku mutu supaya dapat digunakan kembali. Air yang
dihasilkan dari hasil pengolaha limbah biasa disebut dengan air proses. Air proses
dari hasil pengolahan limbah cair PT Bio Farma (Persero) biasanya digunakan
untuk keperluan irigasi pertanian masyarakat sekitar. Pengolahan terhadap limbah
cair berlandaskan pada Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 5 Tahun 2014
yang membahas tentang baku mutu air limbah dan Peraturan Menteri Lingkungan
Hidup No. 01 Tahun 2010 yang membahas mengenai tata laksana pengendalian
pengenceran air.
24

Proses pengolahan limbah cair dimulai dari pengaliran air limbah dari
semua istal dan ruangan pemeliharaan masuk ke dalam grit chamber. Air limbah
di dalam grit chamber, akan dipisahkan antara limbah cair (air sisa pencucian dan
urin) dengan limbah padat (sisa pakan dan bedding). Limbah padat akan
diendapkan dan limbah cair akan terus mengalir ke control chamber I. Limbah
cair akan terus mengalir melewati control chamber I menuju flow equalization.
Flow equalization berfungsi untuk mengaduk air dengan gerakan vertikal dan
pemberian udara (O2). Hal ini bertujuan agar limbah cair tidak bersifat
septik/anaerobik. Limbah cair selanjutnya dialirkan menuju bak anaerob untuk
disimpan selama beberapa jam agar bakteri anaerob dapat tumbuh. Tahap
selanjutnya limbah dialirkan menuju control chamber II untuk kembali
diendapkan. Limbah cair kemudian akan dialirkan menuju bak aerob. Limbah
yang sudah diproses dan masuk ke dalam bak aerob sudah tidak mengeluarkan
aroma yang tidak sedap. Pengendapan terakhir dilakukan di bak aerob dan akan
dialirkan menuju fishpool yang berisi ikan koi. Indikator air limbah yang sudah
diproses dan dapat dilepaskan ke lingkungan dengan melihat ikan koi yang masih
bisa bertahan hidup. Batas buang limbah cair tidak boleh lebih dari 56 m3 per hari
yang dapat dilihat melalui flow meter. Bahan kimia yang digunakan sebagai
desinfeksi untuk pengolahan air limbah adalah klorin. Pengolahan air limbah di
PT Bio Farma (Persero) Pasteur bagian Uji Hewan, limbah cair harus di
masukkan ke killing tank terlebih dahulu untuk dilakukan sterilisasi karena limbah
mengandung berbagai agen patogen. Limbah kemudian disalurkan ke Instalasi
Pengolahan Air Limbah (IPAL) untuk menjalankan proses pengolahan limbah
cair. Diagram pengolahan air limbah disajikan pada Gambar 4.

II

Gambar 4 Proses pengolahan limbah cair di PT Bio Farma (Persero)


25

SIMPULAN

Proses produksi bahan biologis berupa vaksin dan antisera di PT Bio


Farma (Persero) dilakukan melalui prosedur baku yang jelas. Prosedur dimulai
dari pemeliharaan hewan laboratorium dan hewan donor, imunisasi pada hewan
donor, plasmapheresis, serta pengujian potensi dan keamanan dari produk yang
dihasilkan. Dokter hewan memiliki peran penting dalam setiap tahapan produksi
bahan biologis yang dihasilkan.

DAFTAR PUSTAKA

Bakrie A. 2011. Teknik Biomedis. Bandung (ID): ITB Pr.


Dinarello CA, Gelfand JA. 2005. Fever and Hyperthermia. Di dalam: Kasper DL
et al. Editor. Harrison’s Principles of Internal Medicine. Ed ke-16.
Singapore (SG): The McGraw-Hill Company. hlm 04-108.
[DPI] Department of Primary Industry. 2004. Code of Practice for the Housing
and Care of Laboratory Mice, Rats, Guinea Pigs and Rabbits. [Internet].
[Diunduh 2018 Juli 13]. Tersedia pada: https://www.deakin.edu.au/data/
assets/pdf_file/0003/536628/620codeofpracticehousing-and-care.pdf.
[Kemenkes] Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2014. Perkembangan
Kasus Difteri dan Distribusi Kasus Difteri di Kabupaten/Kota Tahun 2010–
2014. Jakarta (ID): Kemenkes RI.
[Kementan] Kementrian Pertanian. 2009. Undang-undang Republik Indonesia
Nomor 18 tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan. Jakarta
(ID): Kementrian Pertanian RI.
[Litbang] Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kesehatan RI. 2017.
Riset Kesehatan Dasar dalam Angka Tahun 2017. Jakarta (ID):
Balitbangkes.
Magnus C. Virus neutralisation: new insights from kinetic neutralisation curves.
PLoS Comput Biol. 9(2): e1002900.
Pritchard JC, Burn CC, Barr ARS, Whay HR. 2008. Validity of indicators of
dehydration in working horses: A longitudinal study of changes in skin tent
duration, mucous membrane dryness and drinking behaviour. Equine Vet J.
40 (6): 558–564.
Ridwan E. 2013. Etika pemanfaatan hewan percobaan dalam penelitian kesehatan.
J Indo Med Assoc. 63(3):114.
Suryawidjaja JE. 2005. Resurgensi poliomyelitis: status terkini dari infeksi
poliovirus di Indonesia. Univ Med. 24(2): 92–102.
Vipond C, Findlay L, Feavers I dan Care R. 2016. Limitation of the Rabbit
Pyrogen Test for Assessing Meningococcal OMV Based Vaccine. ALTEX.
33(1).
[WHO] World Health Organization. 2005. Poliomyelitis outbreak escalates in the
Sudan. Wkly Epidemiol Rec. 80: 2-3.
[WHO] World Health Organization. 2012. Expert Comittee on Biological
Standarization. 964.
26

[WHO] World Health Organization. 2012. WHO Technical Report Series No.
964: WHO Expert Comittee on Biological Standarization. Genewa (SW):
World Health Organization.
[WHO] World Health Organization. 2017. WHO Technical Report Series 1004 :
WHO Expert Committee on Biological Standardization. Genewa (SW):
World Health Organization.