Anda di halaman 1dari 2

SOAL PENGGANTI 22 DESEMBER

1. Sanksi IMB
Sanksi apabila tidak mengajukan ijin IMB.
Pemilik rumah dalam hal ini dapat dikenai sanksi administrative dikenakan sanksi
penghentian sementara sampai dengan diperolehnya ijin mendirikan bangunan gedung
(Pasal 115 ayat (1) PP 36/2005). Pemilik bangunan gedung yang tidak memiliki izin
mendirikan bangunan gedung dikenakan sanksi perintah pembongkaran (Pasal 115
ayat (2) PP 36/2005). Selain sanksi administrative, pemilik bangunan juga dapat
dikenakan sanksi berupa denda paling banyak 10% dari nilai bangunan yang sedang
atau telah dibangun (Pasal 45 ayat (2) UUBG). Kemudian, jika bangunan sudah terlanjur
berdiri tetapi belum memiliki IMB? Berdasarkan Pasal 48 ayat (3) UUBG disebutkan
bahwa:
“Bangunan gedung yang telah berdiri, tetapi belum memilki izin mendirikan bangunan
pada saat undang-undang ini diberlakukan, untuk memperoleh izin mendirikan
bangunan harus mendapatkan sertifikat laik fungsi berdasarkan ketentuan undnag-
undang ini”

2. Kewajiban Asuransi oleh Pengembang


Pada prinsipnya, perhimpunan penghuni pada setiap rumah susun diwajibkan untuk
mengasuransikan rumah susun terhadap kebakaran. Hal ini dapat dilihat pada
ketentuan Pasal 70 PP No.4 tahun 1988 Tentang Rumah Susun.
“Perhimpunan Penghuni harus mengasuransikan rumah susun terhadap kebakaran.”

3. Tanah Bersama, Bagian Bersama, Benda Bersama.


Undang-Undang No.20 tahun 2011 tentang Rumah Susun (UU Rusun) mewajibakan
pelaku pembangungan untuk memisahkan rumah susun atas satuan rumah susun
(Sarusun). Bagian bersama, Benda bersama, dan Tanah bersama.
Tanah bersama adalah sebidang tanah hak atau tanah sewa untuk bangunan yang
digunakan atas dasar hak bersama secara tidak terpisah yang diatasnya berdiri rumah
susun dan ditetapkan batasnya dalam persyaratan izin mendirikan bangunan.
Bagian bersama adalah bagian rumah susun yang dimiliki secara tidak terpisah untuk
pemakaian bersama dalam kesatuan fungsi dengan satua-satuan rumah susun. Contoh
rooftop,lift,jaringan listrik,dll.
Benda bersama adalah benda yang bukan merupakan bagian rumah susun melainkan
bagian yang dimiliki bersama secara tidak terpisah untuk pemakaian bersama. Contoh
kolam renang,taman,dll.
Manfaatnya adalah untuk kenyamanan penghuni serta untuk memenuhi standar
sebagaimana orang memiliki hunian.

4. Syarat keterbangunan 20%.


Menurut Undang-Undang No.20 tahun 2011 UU PKP.
(1) Proses jua beli sarusun sebelum pembangunan rumah susun selesai dapat dilakukan
PPJB yang dibuat di hadapan notaris.
(2) PPJB sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan setelah memenuhi persyaratan
kepastian atas:
a. Status kepemilikan tanah;
b. Kepemilikan IMB;
c. Ketersediaan prasarana, sarana, dan utilitas umum;
d. Keterbangunan paling sedikit 20% (dua puluh persen), dan;
e. Hal yang diperjanjikan.

Undang-undang ini akan memberikan proteksi kepada public, dimana 20%


keterbangunan sudah tersedia baru dilakukan penjualan. Dengan aturan itu,
memberikan kesempatan kepada pengembang jika ingin masuk bisnis property maka
harus berkomitmen. Akan tetapi bagi pengembang aturan tersebut akan sedikit
memberatkan.

5. Permenpera No.11 Tahun 1994.


Tentang Pedoman Perikatan Jual Beli Satuan Rumah Susun.
Karena akhir-akhir ini jual beli SRS tidak jarang dilakukan pada saat rumah susun masih
dalam perencanaan. Dengan tujuan untuk mengamankan kepentingan penjual dan calon
pembeli. Maka, dengan diberlakukannya Kepmenpera No.11/1994 tersebut, maka
setiap adanya perikatan jual beli satuan rumah susun wajib mengikuti pedoman yang
ditetapkan dalam kepmenpera No.11/1994.