Anda di halaman 1dari 3

PEILAKU PARENTAL

Pada kebanyakan spesies mamalia, perilaku reproduksi berlangssung tak hanya


saat keturunan dibuat, melainkan juga setelah keturunan dilahirkan. Bagian ini mengkaji
peran hormone-hormon dalam inisiasi dan penjagaan perilaku maternal dan peran
sirkuit-sirkuit neuron yang bertanggung jawab atas ekspresi perilaku tersebut. (Neil R.
Carlson, 2015)

PERILAKU MATERNAL HEWAN PENGERAT

Seperti proses seleksi alam mengunggulkan hewan-hewan yang kompeten


bereproduksi, seleksi alam pun mengunggulkan hewan-hewan yang merikan cukup
perewatan bagi anak-anak mereka, bila memang anak-anak mereka membutuhkan
perawatan. Anak tikus dan mecit jelas membutuhkannya, mereka tidak dapat sintas
tanpa induk betina yang memenuhi segala kebutuhan mereka.. pada kondisi normal,
salah satu stimulus yang memicu tikus betina mulai merawat bayinya adalah parturisi.
Hewan pengerat betina normalnya mulai merawat bayi-bayinya segera mungkin begitu
mereka lahir. Sebagian efek ini disebabkan oleh hormone-hormon prenatal, tetapi
lewatnya bayi melalui saluran peranakan juga menstimuli perlaku maternal. (Neil R.
Carlson, 2015)

KONTROL HORMON ATAS PERILAKU MATERNAL

Banyak aspek perilaku maternal yang difasilitasi oleh hormone. Perilaku


membangun sarang difasilitasi oleh progesterone, hormone utama dalam kehamilah.
Setelah parturisi, induk betina terus merawat sarang, dan bahkan membangun sarang
baru bila diperlukan, meskipun kadar progeteron dalam darah mereka sangat rendah
saat itu. (Neil R. Carlson, 2015)
Hormone-hormon yang memengaruhi kereponsifan hewan pengerat betina
terhadap anak-anaknya adalah hormone-hormon yang hadir tak lama sebelum parnutris
selain prgesteron adalah prolaktin. Hormone yang dihasilkan oleh kelenjar pituitary
anterior ini bertnggung jawab atas produki air susu/ASI dan juga beberapa aspek
perilaku maternal, misalnya mengembalikan anak yang keluar dari sarangnnya.(J.W.
Kalat, 2010)

Pembentukan ikatan antara induk dan anak-anaknya difasilitasi oleh horomon


oksitosin. Pada tikus, pemberian oksitosin memfasilitasi pemantapan perilaku maternal.
(J.W. Kalat, 2010)

KONTROL NEURON ATAS PERILAKU MATERNAL

Area praoptik medial, wilayah otak depan yang memainkan peran paling penting
dalam perilaku seksual jantan, tampaknya memainkan peran serupa dalam perilaku
maternal. Dengan demikian, stimulus dan hormone yang memfasilitasi perawatan bayi
mengaktivasi MPA.. sambungan-sambungan antara MPA dan amgdala medial
bertanggung jawab atas penekanan efek-efek menghindari bau bayi dan sebuah irkuit
berbeda yang dimulai di MPA terlibat dalam memantapkan efek penguatan bayi dan
meningkatkan motivasi untuk merawat bayi. Oksitoin, yang menfasilitasi pembentukan
ikatan paangan pada hewan pengerat betina, juga terlibat dalam pembentukan ikatan
antara induk betina dan bayi-bayinya. Sebuah penelitian fMRI menggunakan tikus
menujukkan aktivasi mekanisme-mekanisme penguatan di otak kerika ibu dierahi bayi-
bayinya. Wanita yang melihat foto-foto bayinya menunjukkan peningkatan aktivitas di
wilayah-wilayah otak serupa. (Neil R. Carlson, 2015)

KONTROL NEURON ATAS PERILAKU PATERNAL

Bayi yang baru lahir dari kebayakan spesiess mamalia hanya dirawat oleh induk
betina, dan tentu saja betina-lah yang memberi mereka makan. Akan tetapi, jantan
beberapa spesies hewan pengerat berbagi tuga merawat anak bersama induk betina
dan otak induk jantan yang merawat bayi ini menujukkan ejumlah perbedaan menarik
bila dibandingkan dengan otak induk jantan non-paternal dari spesie lain. Misalnya
tikuss lading prairie jantan yang monogamu membentuk ikatan pasangan dengan
betina mereka dan membantu merawat anak-anak mereka, ementara tiku lading bunga
jantan yang poligamu meninggalkan betinanya setelah kawin. Proes ini difasilitasi oleh
vasopressin, proses pembentukan ikatan. Ukuran MPA, yang berperan esensial dalam
perilaku maternal, menunjukkan lebih sedikit dimorfime seksual pada tikus lading
monogamus daripada tikus ladang promiskus. Dengan demikian MPA tampaknya
mamainkan peran serupa dalam perilaku parental pada laki-laki maupun perempuan
(Neil R. Carlson, 2015)