Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH ILMU NUTRISI TERNAK RUMINANSIA

“Proses Pencernaan Fermentatif pada Rumen”


Oleh :
Kelas A
Kelompok 5

Christian Alexander Gurning 200110130238


Nabila Nuzul 200110130245
Nadia Nurjannah 200110130248
Genta Prima Dewantara 200110130257
Uus Usman 200110130272

FAKULTAS PETERNAKAN

UNIVERSITAS PADJADJARAN

SUMEDANG

2015
I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Ternak ruminansia adalah suatu ternak yang mempunyai lambung lebih
dari satu (poligastrik) dan proses pencernaannya mengalami ruminasi. Salah satu
keunggulan ternak ruminansia adalah mapu memamfaatkan Nitrogen yang bukan
berasal dari protein untuk membentuk protein seperti Non Protein Nitrogen
(NPN). Saluran pencernaan ternak ruminansia terdiri dari ; mulut, esophagus,
lambung, usus halus, usus besar (colon ) dan rectum.
Ruminansia mempunyai kemampuan yang unik yakni mampu
mengkonversi pakan dengan nilai gizi rendah menjadi pangan berkualitas tinggi.
Proses konversi ini disebabkan oleh adanya proses Microbial fermentation atau
fermentasi microbial yang terjadi dalam rumen. Proses ini mengekstraksi zat
makanan dari pakan menjadi pangan tersebut melalui berbagai proses
metabolisme yang dilakukan oleh mikroorganisme. Populasi mikroba yang terdiri
atas bacteria, protozoa, fungi dan kapang melakukan fermentasi yang dikenal
dengan enzymatic transformation of organic substances, karena mikroba tersebut
menghasilkan berbagai enzim.
Mirkrobial rumen ini juga dapat menguntungkan dan merugikan, selain itu
terdapat buffer saliva untuk memudahkan dalam pencernaan pakan. Kegunaan
dari saliva dan mikroba rumen sangat menunjang pertumbuhan dari ternak
ruminansia itu sendiri. Maka dari itu sangat penting untuk mempelajari proses
pencernaan fermentatif pada rumen untuk dapat memaksimalkan proses
fermentatif dalam rumen tersebut.
1.2. Identifikasi Masalah
 Apa saja faktor yang mempengaruhi pencernaan fermentatif dalam rumen
 Bagaimana laju aliran digesta yang berhubungan dengan ukuran partikel
digesta
 Apa saja keuntungan dan kerugian adanya proses pencernaan fermentatif
dalam rumen
 Bagaimana sistem buffering dari saliva yang terjadi

1.3. Maksud dan Tujuan


 Untuk mengetahui factor apa saja yang mempengaruhi pencernaan
fermentatif dalam rumen
 Untuk mengetahui laju aliran digesta yang berhubungan dengan ukuran
partikel digesta
 Untuk mengetahui keuntungan dan kerugian adanya proses pencernaan
fermentatif dalam rumen
 Untuk mengetahui sistem buffering dari saliva yang terjadi
II

PEMBAHASAN

2.1. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pencernaan Fermentatif Pada


Rumen
Pencernaan fermentatif merupakan proses yang dapat meningkatkan
pencernaan bahan makanan dalam rumen, karena pada ternak ruminansia
pencemaan makanan sangat tergantung pada aktifitas mikroorganisme. Aktifitas
mikroorganisme rumen dipengaruhi oleh kandungan zat-zat makanan dalam
ransum (Oh dkk., 1969).
Menurut (Aurora, 1989), rumen merupakan tabung besar dengan berbagai
kantong yang menyimpan dan mencampur ingesta bagi fermentasi mikroba. Isi
rumen pada ternak ruminansia berkisar antara 10-15% dari berat badan ternak
tersebut. Kondisi dalam rumen adalah anaerobik dan mikroorganisme yang paling
sesuai dan dapat hidup serta ditemukan di dalamnya. Tekanan osmosis pada
rumen mirip dengan tekanan aliran darah. Temperatur dalam rumen adalah 32-
42°C, pH dalam rumen kurang lebih tetap yaitu sekitar 6,8 dan adanya absorbsi
asam lemak dan amonia berfungsi untuk mempertahankan pH. Proses pencernaan
dalam rumen ini sangat bergantung pada species-species bakteri dan protozoa
yang berbeda dan saling berinteraksi melalui hubungan simbiosis.
Adanya mikroba dan aktifitas fermentasi di dalam rumen merupakan salah
satu karakteristik yang membedakan sistem pencernaan ternak ruminansia dengan
ternak lain. Mikroba tersebut sangat berperan dalam mendegradasi pakan yang
masuk ke dalam rumen menjadi produk-produk sederhana yang dapat
dimanfaatkan oleh mikroba maupun induk semang dimana aktifitas mikroba
tersebut sangat tergantung pada ketersediaan nitrogen dan energi (Yan Offer dan
Robert 1996).
Mikroba rumen membantu ternak ruminansia dalam mencerna pakan yang
mengandung serat tinggi menjadi asam lemak terbang (Volatile Fatty Acids =
VFA’s) yaitu asam asetat, asam propionat, asam butirat, asam valerat serta asam
isobutirat dan asam isovalerat. VFA’s diserap melalui dinding rumen dan
dimanfaatkan sebagai sumber energi oleh ternak. Sedangkan produk metabolis
yang tidak dimanfaatkan oleh ternak yang pada umumnya berupa gas akan
dikeluarkan dari rumen melalui proses eruktasi (Barry, Thomson, dan Amstrong.
1977). Namun yang lebih penting ialah mikroba rumen itu sendiri, karena biomas
mikroba yang meninggalkan rumen merupakan pasokan protein bagi ternak
ruminansia. 2/3 – 3/4 bagian dari protein yang diabsorbsi oleh ternak ruminansia
berasal dari protein mikroba. Produk akhir fermentasi protein akan digunakan
untuk pertumbuhan mikroba itu sendiri dan digunakan untuk mensintesis protein
sel mikroba rumen sebagai pasok utama protein bagi ternak ruminansia.
Rumen merupakan ekosistem yang mengandung komponen biotic dan
abiotik. Komponen Biotik adalah mikroba rumen dengan populasi berkisar antara
1010 sampai 1012 sel/ml cairan rumen. Mikroba Rumen sangat diperlukan dalam
proses pencernaan. Rumen mempunyai kondisi lingkungan yang baik untuk
kehidupan mikroba.Temperatur di dalam rumen berkisar antara 38O –
42O sedangkan pH rata – ratanya 6.8 atau berkisar antara 6 – 7. Mikroba yang ada
di dalam rumen terdapat pada partikel makanan, dalam cairan rumen dan
menempel pada dinding rumen.
Penurunan konsentrasi amonia dalam rumen dapat dilihat dari penurunan
konsumsi pakan akibat menurunnya proses perombakan komponen pakan oleh
mikroba. Konsentrasi amonia untuk degradasi optimum pakan berserat harus di
atas 200 mg/liter cairan rumen. Pemberian urea dalam air minum hanya dapat
dilakukan jika konsentrasi amonia cairan rumen sangat rendah (<50 mg/liter) dan
amonia diasumsikan sebagai faktor pembatas utama penurunan pertumbuhan dan
aktivitas mikroba. Pemanfaatan amonia sangat tergantung pada ketersediaan
faktor lain seperti kerangka karbon yang berasal dari karbohidrat mudah
terfermentasi.
Kelompok utama mikroba yang berperan dalam pencernaan tersebut terdiri
dari bakteri, protozoa dan jamur yang jumlah dan komposisinya bervariasi
tergantung pada pakan yang dikonsumsi ternak (Preston dan Leng 1987).
2.1.1. Bakteri
Bakteri memiliki populasi terbanyak antara 109-1010 sel/mil cairan rumen
ukurannya berkisar antara 0.3-50 µm. Bakteri tersebut berbentuk spiral
(Streptococcus) dan yang berbentuk batang (Eubakterium) dan bakteri yang
berbentuk bulat.Bakteri bentuk batang dan spiral hidup secara anaerob sedangkan
bentuk coccus gram negative ada yang hidup aerob. Selain itu ada juga bakteri
fakultatif yaitu bakteri yang dapat hidup pada kondisi sedikit oksigen misalnya
streptococcus. Jenis-jenis bakteri pada rumen dibedakan berdasarkan substrat
yang didegradasi. Yaitu bakteri Selulolitik, bakteri Hemiselulolitik, bakteri
amilolitik, bakteri proteolitik, bakteri lipolitik, bakteri methanogenik,bakteri
ureolitik, Sugar Untilizer Bacteria (bakteri pemakai gula),danAcid Utilizer
Bacteria (Bakteri Pemakai Asam).
2.1.2. Protozoa Rumen
Berdasarkan fungsinya terdapat beberapa kelompok protozoa yaitu
kelompok protozoa pencerna protein (misal Ophryoscolex caudatus), pencerna
selulosa, hemiselulosa dan pati (antara lain Diplodonium ostracodinium).
Kelompok protozoa pencerna selulosa, glukosa, pati dan sukrosa antara lain
diplodinium polyplastron.
Kelompok protozoa pencerna gula, glukosa, pati dan pectin antara lain
isotricha intestinalis. Kelompok protozoa pencerna maltosa, glukosa,
selobiose antara lain dasytricha ruminantrium. Kelompok protozoa pencerna
maltosa, pati dan sukrosa antara lain Entodinnium caudatum.
Protozoa hidup anaerob oleh karena itu apabila kadar oksigen dalam
oksigen tinggi maka protozoa akan mati karena tidak dapat membuat ciestee.
Populasi protozoa tertinggi apabila makanan yang dikonsumsi ternak mengandung
banyak gula terlarut yaitu mencapai 4x106 sel/ml cairan rumen. Apabila
kekurangan gula terlarut popolasi akan mencapai titik terendah yaitu 10 5 sel/ml
(Preston dan Leng, 1987) oleh karena itu total biomassa protozoa hampir sama
dengan total biomasa bakteri.
Populasi yang terbanyak adalah ciliate yaitu berkisar antara 105 –
106 sel/ml (pada kondisi ternak sehat), sedangkan populasi flagelata berkisar
antara 102-104 sel/ml, dengan ukuran berkisar antara 4,0 sampai 15,0 µm.
Protozoa dibagi berdasarkan morfologinya, yaitu :
 Holotricha yang mempunyai silia hampir diseluruh tubuhnya dan
mencerna karbohidrat yang fermentabel.
 Oligotrichs yang mempunyai silia sekitar mulut umumnya merombak
karbohidrat yang lebih sulit dicerna.
2.1.3. Fungi
Fungi rumen bersifat anaerob yang terdapat dalam rumen sebagian besar
mencerna serat kasar. Populasinya berjumlah 103-105 sel/ml cairan rumen.
Meskipun populasinya sedikit, namun sangat berperan dalam mencerna serat
kasar. Fungi Rumen sangat efektif mdalam melonggarkan ikatan jaringan tanaman
dan diperkirakan menjadi mikroba rumen pertama yang mencerna struktur
tanaman.
Fungi akan memecah ikatan hemiselulosa-lignin dan melarutkan
pelindung lignin, tapi tidak mendegradasi lignin. Komponen tanaman dari
berbagai hijauan menyebabkan peningkatan yang besar populasi fungi.Secara in
vitro, perkembangan aktivitas fungi rumen dihambat oleh bakteri rumen karena
pemanfaatan N dan asam laktat oleh bakteri.
Fungi terdiri dari Yeast (ragi) seperti Saccharomyces dan Mould (Jamur).
Untuk hidupnya, jamur seperti Neocallimastix frontalis, Piramonas communis,
dan Sphaeromonas communis, membutuhkan kondisi anaerob.

2.1.4 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Populasi Mikroba Rumen


Beberapa faktor telah diketahui sebagai kendala terhadap populasi
mikroba rumen. Faktor-faktor tersebut antara lain: suhu, komposisi gas, pengaruh
osmotik dan ionik, keasaman, tersedianya nutrisi dan keluarnya cairan atau
masuknya aliran ke rumen. Lambung ruminansia secara umum dapat dipandang
sebagai wahana yang idealbagi pertumbuhan mikroorganisme karena adanya
faktor:
 Besar ukuran lambung
 Tersedianya substrat secara kontinyu
 Percampuran makanan selalu terjadi
 Kontrol terhadap keasaman (pH) lambung dapat dilakukan dengan melalui
buffering action dari saliva serta dinding rumen
 Terjadinya pembuangan zat-zat terlarut yang dapat menghambat proses
metabolisme dan adanya pembuangan bahan padat ke bagian saluran
pencernaan lainnya.
Hewan yang bersangkutan hanya dapat mengatur aktivitas mikroba rumen
dalam keterbatasan kemampuan yang dimiliki seperti disebutkan diatas. Oleh
karena itu factor factor lainnya ditentukan oleh kondisi fisiologis pertumbuhan
serta adanya interaksi antara mikroba rumen seperti: sinergisme, penghambatan
dan kompetisi diantara spesies atau dengan mikroorganisme lainnya.
Pada awal perkembangannya komposisi mikroba di dalam rumen pada
hewan yang baru lahir sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor yang komplek dan
tergantung pada lingkungan mikro kimia yang dipengaruhi oleh jenis pakan yang
dikonsumsi. Segera setelah terbentuk maka komposisi mikroba rumen akan sangat
stabil kecuali terjadi perubahan komposisi pakan.
2.1.4.1 Suhu
Temperatur rumen dikatakan normal apabila berada pada kisaran antara
39–41oC. Segera setelah makan, temperatur rumen biasanya akan meningkat
sampai dengan 41oC, terutama selama proses fermentasi terjadi didalam rumen.
Sebaliknya temperatur akan menurun sampai dibawah suhu normal bila ternak
minum air dingin. Kondisi ini akan dapat mempengaruhi populasi mikroba rumen
terutama pada spesiesspesiestertentu yang sangat peka yang tidak dapat bertahan
hidup pada suhu diatas 40oC (Hungate, 1966). Demikian pula penurunan suhu
rumen dibawah suhu normal setelah hewan minum air dingin akan mempengaruhi
aktivitas mikroba ini.
2.1.4.2 Keasaman (pH)
Dalam kondisi anaerobik serta suhu diantara 39-40oC, keasaman
rumenberkisar antara 5,5-7,0. Keasaman lambung atau rumen dapat dipengaruhi
oleh beberapa faktor seperti macam pakan serta waktu setelah makan. Macam
pakan akan mempengaruhi hasil akhir fermentasi, yaitu asam lemak terbang
(VFA) serta konsentrasi bikarbonat dan fosfat yang disekresikan oleh hewan yang
bersangkutan dalam bentuk saliva. Konsentrasi VFA pada umumnya menurun
dengan menignkatnya keasaman rumen. Untuk menjaga agar pH rumen tidak
menurun atau meningkat secara drastis maka perlu adanya hijauan didalam
ransum dalam proporsi yang memadai (± 40 persen dari total ransum atau dengan
kadar serat kasar sekitar 20 persen) dimana 70 persen dari serat kasar ini harus
dalam bentuk polisakarida berstruktur untuk dapat merangsang produksi saliva
selama proses ruminasi.Akibat terjadinya perubahan keasaman rumen, komposisi
mikroba akan berubah.
Apabila pH rumen mendekati 6, jumlah bakteri asam laktat (misalnya
gram positif batang) akan meningkat sehingga konsentrasi asam laktat didalam
rumen akan meningkat.
2.1.4.3 Komposisi gas
Komposisi gas didalam rumen kurang lebih terdiri dari 63-63,35 persen
CO2; 26,76-27 persen CH4; 7 persen N2 dan sedikit H2S, H2 dan O2. Karena
kondisi anaerob didalam rumen merupakan faktor yang sangat penting maka
produksi CO2 pada proses fermentasi sangat menentukan terciptanya kondisi
anaerob.
Mekipun O2 juga dijumpai didalam rumen terutama pada bagian saccus
dorsalis, tekanan O2 pada digesta rumen sangat kecil. Oksigen yang masuk
kedalam rumen melalui proses menelan akan segera digunakan oleh bakteri-
bakteri fakultatif anaerobic seperti Sterptococcus bovis. Salah satu akibat dari
proses ini adalah redox potensial (EH) didalam rumen akan selalu konstan dan
rendah yaitu berkisar antara -250 mV sampai dengan -450 mV. Peranan hidrogen
dalam proses produksi methana adalah sebagai sumber elektron, sehingga
rendahnya kadar H2 didalam rumen merupakan petunjuk adanyaaktivitas
menggunakan H2 untuk mengurangi CO2menjadi CH. Disamping itu, karena
untuk membentuk 1 mol CH4 diperlukan 4 mol H2, maka laju penggunaan H2
adalah empat kali laju produksi methana, sehingga H2 didalam rumen tidak pernah
terakumulir.
2.1.4.4 Nutrisi
Komposisi pakan sangat menentukan terhadap hasil akhir fermentasi serta
laju pengenceran (dilution rate) isi rumen. Jika ransum basal mengandung serat
kasar tinggi maka bakteri selulolitik akan dominan karena kehadirannya
menentukan terjadinya proses fermentasi selulosa. Sebaliknya protozoa akan
berkurang jumlahnya. Jamurrumen karena sifatnya adalah selulolitik akan
meningkat jumlahnya pada kondisi ini. Keadaan yang sebaliknya akan terjadi jika
proporsi konsentrat meningkat dalam pakan.Dengan meningkatnya frekuensi
makan (karena bertambahnya frekuensi suplai makan) fluktuasi pH rumen akan
berkurang. Hal ini akan meningkatkan populasi mikroba. Peningkatan populasi
protozoa dari 1,15 x 106 menjadi 3,14 x 106 telah dilaporkan jika frekuensi
pemberian pakan ditingkatkan dari satu kali menjadi empat kali sehari. Konsumsi
sukarela (voluntary intake) ransum dapat ditingkatkan tiga sampai empat kali
kebutuhan hidup pokok apabila konsentrat diberikan dalam ransum. Dengan
meningkatnya konsumsi, volume rumen dan sekresi saliva ke rumen serta laju
pengeluaran digesta dari rumen akan meningkat.
2.1.4.5 Faktor-Faktor Lain
Pemberian antibiotika dalam ransum akan menurunkan populasi bakteri.
Demikian pula pemberian bahan detergent akan dapat mematikan protozoa. Bahan
detergent seperti Manoxol OT, Aerosol OT dan Alkanate lazim digunakan sebagai
bahan untuk defaunasi. Bahan anti jamur seperti Actidions juga telah dilaporkan
dapat mematikan jamur rumen, meskipun penelitian lain gagal menggunakan
Actidions untuk menghilangkan jamur dari dalam rumen.
Tiap individu mempunyai variasi jenis dan jumlah mikroba yang berbeda.
Hal ini mungkin disebabkan karena adanya perbedaan dalam hal tingkah laku
makan dan minum atau adanya perbedaan dalam hal volume rumen serta laju
pengeluaran isi rumen ke alat pencernaan lainnya.
Seperti dijelaskan dimuka bahwa mikroba rumen membutuhkan zat-zat
essensial tertentu untuk pertumbuhan. Penggunaan polisakarida oleh protozoa
akan berakibat pengurangan substrat bagi bakteri sehingga populasi bakteri
pemakai polisakarida akan menurun bila kondisi ini terjadi di dalam rumen.
Beberapa faktor telah diketahui sebagai kendala terhadap populasi
mikroba rumen. Faktor-faktor tersebut antara lain: suhu, komposisi gas, pengaruh
osmotik dan ionik, keasaman, tersedianya nutrisi dan keluarnya cairan atau
masuknya aliran ke rumen.
a) Suhu
Temperatur rumen dikatakan normal apabila berada pada kisaran antara
39-41˚C. Segera setelah makan, temperatur rumen biasanya akan meningkat
sampai dengan 41˚C, terutama selam proses fermentasi terjadi didalam rumen.
Sebaliknyatemperatur akan menurun sampai dibawah suhu normal bila ternak
minum air dingin.
b) Keasaman (pH)
Dalam kondisi anaerobik serta suhu diantara 39-40˚C, keasaman
rumen berkisar antara 5,5-7,0. Keasaman lambung atau rumen dapat dipengaruhi
oleh beberapa faktor seperti macam pakan serta waktu setelah makan. Untuk
menjaga agar pH rumen tidak menurun atau meningkat secara drastis maka perlu
adanya hijauan di dalam ransum dalam proporsi yang memadai (± 40 persen dari
total ransum atau dengan kadar serat kasar sekitar 20 persen) dimana 70 persen
dari serat kasar ini harus dalam bentuk polisakarida berstruktur untuk dapat
merangsang produksi saliva selama proses ruminasi.
c) Pengaruh osmotik dan ionic
Pada umumnya tekanan osmotik isi rumen adalah hipotonik terhadap
tekanan osmosis darah, akan tetapi akan terjadi fluktuasi sebagai akibat
mengkonsumsi pakan. Osmolalitas isi rumen akan cenderung menjadi
hipertonik pada saat beberapa jam setelah makan, sebaliknya akan menjadi
hipotonik setelah minum. Pada umumnya tekanan osmotik isi rumen adalah
hipotonik terhadap tekanan osmosis darah, akan tetapi akan terjadi fluktuasi
sebagai akibat mengkonsumsi pakan. Osmolalitas isi rumen akan cenderung
menjadi hipertonik pada saat beberapa jam setelah makan, sebaliknya akan
menjadi hipotonik setelah minum.
d) Komposisi Gas
Komposisi gas di dalam rumen kurang lebih terdiri dari 63-63,35
%CO2;26,76-2% CH4; 7% N2 dan sedikit H2S, H2 dan O2. Karena kondisi
anaerob di dalam rumen merupakan faktor yang sangat penting maka produksi
CO2 pada proses fermentasi sangat menentukan terciptanya kondisi anaerob.
e) Tekanan Permukaan
Tekanan permukaan cairan rumen biasanya diantara 45-59 dynes/cm.
Belum banyak informasi yang diperoleh tentang pengaruh tekanan permukaan
terhadap perubahan populasi mikroba rumen. Namun demikian kasus terjadinya
kembung (bloat) adalah erat kaitannya dengan perubahan tekanan permukaan.
f). Variasi Harian
Konsentrasi mikroba rumen akan berfluktuasi sepanjang hari. Beberapa
faktor penyebabnya antara lain : makanan, kelaparan (starvation) dan pengenceran
(dilutionrate) cairan rumen. Fluktuasi protozoa mungkin erat kaitannya dengan
perubahan pH rumen disamping faktor lainnya.
g) Nutrisi
Enersi yang diperlukan mikroba diperoleh dari proses fermentasi
polimertanamanterutama selulosa dan pati dengan menghasilkan VFA, CH4 dan
CO2. Sedangkan untuk proses biosintesis diperoleh dari protein yaitu dari unsur-
unsur C, H, O, N dan S.

2.2. Hubungan Laju Alir Digesta dengan Ukuran Partikel Digesta


Uji ukuran partikel merupakan proses penentuan nilai tengah atau nilai

rata-rata ukuran partikel dari sejumlah pakan atau komposisi sampel (McEllhiney,

1994). Ukuran partikel dapat ditentukan dengan menggunakan metode tyler sieve

(Henderson dan Perry, 1976) dan median particle size (Giger-Reverdin, 2000).

Ukuran partikel mempengaruhi luas permukaan yang tersedia bagi penempatan

dan multiplikasi mikro-organisme rumen (Giger-Reverdin, 2000) Weston (2002)

menambahkan bahwa partikel yang lolos dari saringan 1200 µm memiliki laju
pengosongan rumen dengan kecepatan yang berbanding terbalik dengan ukuran

partikel, contohnya partikel yang lolos dari saringan 150 µm ternyata

meninggalkan rumen sekitar 14 kali lebih cepat dibandingkan partikel yang

tertahan pada saringan dengan ukuran 1200 µm - 600 µm. Ukuran partikel dan

tekstur biskuit pakan yang halus menyebabkan laju aliran digesta rumen menjadi

lebih cepat, sehingga domba dapat mengkonsumsi pakan lebih banyak. Menurut

Arora (1989), ukuran partikel pakan yang lebih kecil akan meningkatkan laju

aliran cairan dan laju aliran digesta rumen, sehingga konsumsi pakan akan

meningkat demikian juga pengosongan lambung lebih cepat.

Grinding dan pelleting biasanya mendukung peningkatan jumlah

konsumsi dan membantu dalam pencernaan selulosa dan protein yang kompleks,

akan tetapi terkadang grinding menurunkan nilai kecernaan pakan yang

selanjutnya memunculkan ide untuk mengukur seberapa halus suatu pakan

digiling, yang ditetapkan dalam ukuran kehalusan atau modulus of fineness

(Schneider dan William, 1975). Uji ukuran kehalusan adalah proses pengayakan

atau penyaringan sejumlah sampel pakan untuk menentukan bagian yang halus

(McEllhiney, 1994).

Prosedur penanganan pakan rutin seperti grinding dan pelleting mengubah

ukuran partikel pakan, oleh sebab itu kecernaannya juga berubah, dengan

mengabaikan efeknya terhadap komposisi kimia bahan pakan jika ada.

Pengurangan ukuran partikel pakan dapat meningkatkan nilai kecernaan, yang

disebabkan oleh peningkatan luas permukaan untuk aktifitas enzimatik;

menurunkan kecernaan dengan berkurangnya waktu retensi dan meminimalkan

luas daerah terbuka ke enzim pencernaan; atau tidak mempunyai pengaruh yang

dapat dideteksi sama sekali (Kitessa et al, 1999). Banyak penelitian yang

menunjukkan bahwa semakin kecil ukuran partikel mengakibatkan penurunan


aktivitas mengunyah dan kandungan lemak. Pengurangan ukuran partikel hijauan

meningkatkan konsumsi bahan kering dan sintesis protein mikroba yang

disebabkan oleh peningkatan laju pengosongan rumen.

Bahan kering hay alfalfa giling memiliki nilai kecernaan 2,2% lebih

rendah dibanding hay yang dipotong kasar. Laju kecernaan residu pakan yang

digiling halus pada steer lebih baik jika dibandingkan dengan pakan kasar, dan

kecernaan serat kasar cenderung menurun saat laju aliran digesta semakin

meningkat. Tingkat ruminasi berkurang saat ternak diberi pakan hay halus.

Sebuah studi terhadap hay yang digiling dengan empat tingkat kehalusan yaitu

kasar, agak halus, dan sangat halus, nilai kecernaan bahan keringnya masing-

masing turun 3,2%, 7,6% dan 15,1% jika dibandingkan dengan hay yang

diberikan dalam bentuk panjang (utuh). Kandungan nutrien tercerna pada hay

menurun seiring dengan semakin kecil ukuran partikel. Tidak ada perbedaan yang

konsisten antara nutrien hay alfalfa giling dalam derajat kehalusan yang berbeda.

Proses grinding yang menghasilkan partikel halus tidak selalu menekan nilai

kecernaan bahan kering. Domba mengunyah makanan dengan sangat efektif

sehingga kemungkinan tidak terdapat keuntungan dari penggilingan biji-bijian

bagi domba kecuali untuk biji-bijian yang sangat kecil dan keras (Schneider dan

William, 1975).

Ukuran kehalusan atau yang sering disebut dengan modulus of fineness

(MF) adalah pengukuran kekasaran atau kehalusan agregat tertentu. Pemakaian

nilai ukuran hasil penggilingan dengan metode sieving atau yang biasa disebut

ukuran partikel sebagai suatu bahan pengukur kehalusan partikel kemudian

dipetimbangkan kembali hingga dibuat suatu pemanfaatan ukuran kehalusan dan

ukuran keseragaman atau modulus of uniformity (MU) yang baik dalam

menginterpretasikan percobaan dan menemukan bahwa kerapatan, ukuran


kehalusan dan ukuran keseragaman berhubungan signifikan dengan koefisien

cerna, ketika ukuran partikel tidak berhubungan (Schneider dan William, 1975).

Sintesis Protein Mikroba

Pertumbuhan mikroba rumen yang maksimal dan dengan produksi

mikrobial protein yang tinggi membutuhkan kondisi lingkungan rumen optimal

serta didukung pasokan makro dan mikro nutrien yang cukup dan seimbang.

Mikroba rumen membutuhkan kondisi rumen dengan temperatur + 39oC, laju alir

digesta optimal, pH 6,0 - 6,9 sampai 7,2.

Arora (1995) mengungkapkan pertumbuhan mikroba rumen khususnya

sintesis protein mikroba rumen tergantung pada kecepatan pemecahan nitrogen

pakan, kecepatan absorbsi amonia dan asam-asam amino, laju alir pakan keluar

rumen, kebutuhan mikroba akan asam amino dan jenis fermentasi rumen

berdasarkan jenis pakan yang dikonsumsi. Sedangkan sintesis protein mikroba

rumen dipengaruhi beberapa faktor yaitu; ketersediaan energi mudah

terfermentasi, ketersediaan nitrogen (protein) dalam rumen, kondisi lingkungan

rumen, laju alir digesta rumen, serta konsentrasi mineral dan vitamin. Produksi

mikrobial protein juga sangat terkait dengan populasi mikroba rumen, khususnya

bakteri, protozoa dan fungi. Hal ini mengingat bakteri merupakan penyumbang

utama massa protein mikrobial rumen, yaitu 60 – 90%, sedangkan protozoa dan

fungi masing-masing menyumbangkan 10 – 40% dan 5 – 10% (Van Soest, 1994),

sehingga peningkatan populasi mikroba rumen akan meningkatkan produksi

mikrobial protein dalam rumen. Disamping itu, peningkatan populasi mikroba

rumen juga mempengaruhi laju alir digesta dan proses degradasi pakan dalam

rumen sehingga pasokan nutrien baik untuk mikroba rumen maupun induk

semang akan meningkat.


Degradasi pakan oleh enzim mikrobia menggambarkan waktu tinggal

pakan di dalam rumen. Keadaan ini sangat erat hubungannya dengan konsumsi

pakan, Tomaszewska et al. (1993). Reksohadiprodjo (1995) menyatakan bahwa,

pada ruminansia konsumsi pakan rendah berkaitan dengan rendahnya nilai

kecernaan karena lambannya perombakan ukuran partikel menjadi ukuran yang

dapat meninggalkan rumen. Hal tersebut menyebabkan rendahnya kecepatan laju

alir, pengembangan rumen dan rendahnya konsumsi pakan. Kecernaan pakan

yang tinggi akan membuat waktu tinggal lebih singkat dibandingkan dengan

pakan yang mempunyai nilai kecernaan rendah.

Chuzaemi (1994) menyatakan bahwa kecernaan dan konsumsi bebas

jerami sangat ditentukan oleh kecepatan pengunyahan atau mastikasi (chewing),

laju degradasi pakan dan laju alir partikel dari rumen. Hubungan ketiga faktor itu

saling berlawanan, karena makin tinggi mastikasi, laju alir makin rendah dan laju

degradasi akan menurun. Interaksi dari ketiga faktor tersebut, proses mastikasi

akan meningkatkan tersedianya partikel pakan untuk mikroba rumen. Pada

akhirnya dalam penilaian nilai nutrisi suatu bahan pakan berserat jumlah pakan

yang dikonsumsi ternak merupakan tolak ukur yang paling penting (Djajanegara,

1983). Prediksi laju alir partikel pakan keluar rumen dapat dilakukan dengan

metode pengukuran waktu transit partikel pakan yang telah diberi indicator,

penanda atau marka. dengan beberapa interval waktu yang telah ditentukan.

Estimasi transit partikel di dalam rumen dilakukan dengan marka (penanda)

spesifik yang diintroduksi pada ternak lewat fistula rumen dan diikuti perubahan

konsentrasi marka dalam feses.


2.3. Keuntungan dan Kerugian Adanya Pencernaan Fermentatif Pada

Ruminansia

Keuntungan Pencernaan Fermentatif :


• Dapat makan cepat dan menampung pakan banyak
• Dapat mencerna pakan kasar : sumber energi (VFA)
• Dapat menggunakan NPN : sumber protein
• Produk fermentasi dapat disajikan dalam bentuk yang lebih mudah diserap
dalam usus
• Mampu menampung lebih banyak makanan
• Dapat mencerna makanan yang mengandung serat kasar yang tidak dapat
dicerna oleh induk semang
• Dapat memanfaatkan non protein nitrogen untuk membentuk nitrogen
protein
• Dapat meningkatkan nilai hayati protein

Kerugian Pencernaan Fermentatif :


• Banyak energi terbuang sebagai gas metan
• Protein nilai hayati tinggi didegradasi : amonia
• Adanya proses degradasi bahan bernilai tinggi oleh mikroorganisme
• Jumlah zat makanan yang dapat dimanfaatkan menurun
• Komposisinya jadi berubah dan menyusut
• Membutuhkan energi tinggi yang sering tidak efisien
• Banyak energi terbuang dalam bentuk metan

2.4. Sistem Buffering dari Saliva


Buffer adalah sistem cairan yang cenderung mempertahankan perubahan
pH jika penambahan sedikit asam maupun sedikit basa. Buffer dibuat dari asam
lemah dengan garam dari basa konjugasinya atau basa lemah dengan garam dari
asam konjugasinya. Kebutuhan buffer kadang menyulitkan karena hampir setiap
analisa membutuhkan kondisi pH tertentu yang relatif stabil. Dalam memilih
buffer yang harus diperhatikan adalah pH optimum serta sifat-sifat biologisnya.
Banyak jenis buffer yang mempunyai impact terhadap sistem biologis, aktivitas
enzim, substrate, atau kofaktor (Riyadi, 2009).
Larutan penyangga ada dua yaitu larutan penyangga yang bersifat asam
dan larutan penyangga pada kondisi basa. Buffer asam adalah larutan yang
mempertahankan pH pada daerah asam yakni pH<7. Jika larutan mengandung
konsentrasi molar yang sebanding antara asam dan garam, maka campuran
tersebut akan memiliki pH 4,76. Contohnya adalah campuran asam etanoat dan
natrium etanoat dalam larutan. Sedangkan buffer basa adalah larutan yang dapat
mempertahankan pH pada kondisi basa yakni pH>7. Jika keduanya dalam
keadaan perbandingan molar yang sebanding, larutan akan memiliki pH 9,25.
Contohnya adalah campuran larutan amonia dan larutan amonium klorida. (Clark,
2007).

Larutan buffer adalah larutan yang mengandung asam lemah atau basa
lemah dan garamnya. Larutan buffer mempunyai kemampuan dalam
mempertahankan pH bila sedikit asam atau basa kuat ditambahkan kedalam
larutan tersebut.
Buffer terbagi menjadi dua yaitu buffer asam dan buffer basa. Buffer asam
contohnya cairan rumen sedangkan buffer basa adalah buffer posphat. Buffer pada
hewan ternak sangat penting karena proses metabolisme terjadi pada pH tertentu.
Perubahan pH akan mempengaruhi metabolisme nutrien didalam sel yang pada
akhirnya dapat mempengaruhi pertumbuhan, nafsu makan, metabolisme asam
amino dan energi, penggunaan mineral, metabolisme vitamin, dan penyerapan zat
makanan (Rohimah, 2010).
III

KESIMPULAN

 Faktor-faktor yang mempengaruhi pencernaan fermentatif pada rumen


yaitu banyaknya aktifitas mikroorganisme yang terjadi dalam rumen, hal
ini juga dipengaruhi dengan jumlah bakteri, protozoa, dan fungi.
 Hubungan laju alir digesta dengan ukuran partikel digesta yaitu : ukuran
partikel pakan yang lebih kecil akan meningkatkan laju aliran cairan dan
laju aliran digesta rumen, sehingga konsumsi pakan akan meningkat
demikian juga pengosongan lambung lebih cepat (Arora, 1989).
 Keuntungan pencernaan fermentatif : dapat makan cepat dan menampung
banyak pakan, dapat mencerna pakan kasar sumber energi (VFA), dapat
menggunakan NPN sumber protein, serta produk fermentasi dapat
disajikan dalam bentuk yang lebih mudah diserap dalam usus. Sedangkan
kerugian pencernaan fermentatif : banyak energi terbuang sebagai gas
metan, protein nilai hayati tinggi didegradasi menjadi amonia, dan adanya
proses degradasi bahan bernilai tinggi oleh mikroorganisme
 Sistem buffering pada saliva terbagi menjadi dua yaitu buffer asam dan
buffer basa. Buffer asam contohnya cairan rumen sedangkan buffer basa
adalah buffer posphat.
DAFTAR PUSTAKA

Arora, S. P dalam Marpaung Corry A. 2011. Pencernaan Mikroba pada


Ruminansia. Terjemahan: Retno Muwarni. Universitas Gadjah Mada
Press, Yogyakarta
Aurora, S.P. 1989. Pencernaan Mikroba Pada Ruminansia. Srigondo, B(ed),
Gajah Mada University Press.
Chuzaemi, S dalam Usman Yunasari 2015. Potensi Jerami Padi sebagai pakan
ternak ditinjau dari kenetika degradasi dan restensi jerami di dalam
rumen. Disertasi S-3. Fakultas Peternakan, UGM, Yogyakarta.
Clark, Jim. 2007. Larutan Penyangga. www.chem-is-try.org (diakses tanggal 1
Maret 2016)
OH.H.K. Longhurst, W.M. and Jones, M.B. 1969. Reaction Nitrogen intake to
Rumen Microba Activity and Consumption Quality Roughoge by sheep.
Animal Sci, 28 : 272.
Kitessa, S., P. C. Flinn & G. G. Irish dalam Marpaung Corry A. 2011.
Comparison of methods used to predict the in vivo digestibility of feeds in
ruminants. Aus. J. Agr. 50: 825-841.
Giger-Reverdin, S dalam Marpaung Corry A. 2011. Characterisation of
feedstuffs for ruminants using some physical parameters. Anim. Feed Sci.
Technol. 86: 53-69.
Henderson, S. M. & R. L. Perry dalam Marpaung Corry A. 2011. Agricultural
Process and Engineering, Terjemahan: M. Pratomo. Direktorat Jendral
Perguruan Tinggi, Departemen P dan K, Jakarta.
Kitessa, S., P. C. Flinn & G. G. Irish dalam Marpaung Corry A. 2011.
Comparison of methods used to predict the in vivo digestibility of feeds in
ruminants. Aus. J. Agr. 50: 825-841.
McEllhiney. R. R dalam Marpaung Corry A. 2011. Feed Manufacturing
Technology IV. American Feed Industry Assocition, Arlington.
OH.H.K. Longhurst, W.M. and Jones, M.B. 1969. Reaction Nitrogen intake to
Rumen Microba Activity and Consumption Quality Roughoge by sheep.
Animal Sci, 28 : 272.
Preston dan Leng. 1987. Management and Feeding of Buffalo. VikasPubl House
put. New Delhi.
Reksohadiprodjo, S dalam Usman Yunasari 2015. Serat dan sifat menciri
fisiokimia hijauan pakan. Dalam: Kursus Singkat Teknik Evaluasi Pakan
Ruminansia. Fakultas Peternakan, UGM, Yogyakarta.
Riyadi, Wahyu. 2009. Berbagai Larutan Buffer. Sciencebiotech.net (diakses
tanggal 1 Maret 2016).
Rohimah, 2010. Buffer. http://www.scribd.com (diakses tanggal 1 Maret 2016)
Schneider, B. H & William. P. F dalam Marpaung Corry A. 2011. The Evaluation
of Feeds Through Digestibility Experiments. The University of Georgia
Press, Athens.
Tomaszewska, M.V., Mastika, I.M., Djajanegara, A., Susan Gardier., dan Tantan,
R.W dalam Usman Yunasari. 2015. Produksi Kambing dan Domba di
Indonesia. Editor. Sebelas Maret University Press, Dirjen P.T. Australian
International Development Assistance Bureau and Small Ruminant
Collaborative Research Support Program, Surakarta.
Van Soest, P. J dalam Marpaung Corry A. 2011. Nutritional Ecology of the
Ruminant. 2nd ed. Cornell University Press, Ithaca, New York