Anda di halaman 1dari 34

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Dalam pelayanan kesehatan tenaga kesahatan melakukan


pemberdayaaan masyarakat dan keluarga yang menghasilkan pemberdayaan
kesehatan untuk menciptakan masyarakat sehat, bersih dan jauh dari penyakit.

Dalam sistem kesehatan nasional menyebutkan bahwa cara masyarakat


berperan serta dapat dalam bentuk mengikuti penelaahan,perencanaan dan
pelaksanaan pemecahan masalah kesehatan, SKN dalam dasar-dasar
pembangunan kesehatan nasional menyebutkan bahwa pemerintah dan
masyarakat bertanggung jawab dalam memelihara dan mempertinggi derajat
kesehan masyarakat.

Peran serta masyarakat (PSM)merupakan keikut sertaan


individu,keluarga dan kelompok masyarakat dalam setiap menggerakan upaya
kesehatan yang juga merupakan tanggung jawab sendiri,keluarga dan
masyarakatnya.peran serta masyrakat adalah proses ketika individu dan
keluarga dan serta lembaga swadaya masyarakat,termasuk swasta
bertanggung jawab atas kta kesejahteraan kesehatan diri sendiri,keluaga dan
masyarakat.

1.2 Tujuan
Untuk memenuhi tugas pada mata kuliah IKM
Untuk mengetahui apa yang dimaksud peran serta masyrakat.
Untuk mengetahui tujuan,tahap,tingkat serta bentuk dari PSM.
BAB II
ISI
2.1 Pengertian PSM
Pergerakan dan Pemberdayaan Masyarakat adalah segala upaya yang bersifat
persuasif dan tidak memerintah yang bertujuan untuk meningkatkan
pengetahuan, sikap, perilaku dan kemampuan masyarakat dalam menemukan,
merencanakan danmemecahkan masalah menggunakan sumber daya/potensi
yang mereka miliki termasuk partisipasi dan dukungan tokoh-tokoh masyarakat
serta LSM yang ada dan hidup di masyarakat.

Peran serta masyarakat adalah suatu bentuk bantuan masyarakat dalam hal
pelaksanaan upaya kesehatan preventif, promotif, kuratif dan rehabilitattif dalam
bentuk bantuan tenaga, dana, sarana, prasarana serta bantuan moralitas sehingga
tercapai tingkat kesehatan yang optimal.

Peran serta masyarakat memiliki makna yang amat luas. Semua ahli
mengatakan bahwa partisipasi atau peran serta masyarakat pada hakekatnya
bertitik tolak dari sikap dan perilaku namun batasannya tidak jelas, akan tetapi
mudah dirasakan, dihayati dan diamalkan namun sulit untuk dirumuskan.
Peran serta masyarakat dalam bidang kesehatan adalah keadaan dimana individu,
keluarga maupun masyarakat umum ikut serta bertanggung jawab terhadap
kesehatan diri, keluarga, ataupun kesehatan masyarakat lingkungannya ( Dep
Kes RI, 1997, hal 5 )

2.2 Tujuan PSM


Tujuan program peran serta masyarakat adalah meningkatkan peran dan
kemandirian, dan kerjasama dengan lembaga-lembaga non pemerintah yang
memiliki visi sesuai; meningkatkan kuantitas dan kualitas jejaring kelembagaan
dan organisasi non pemerintah dan masyarakat; memperkuat peran aktif
masyarakat dalam setiap tahap dan proses pembangunan melalui peningkatan
jaringan kemitraan dengan masyarakat.(www.syakira-blog.blogspot.com.)

Tujuan PSM terbagi 2:


A. Tujuan umum
Meningkatkan kemandirian masyarakat dan keluarga dalam bidang kesehatan
sehingga masyarakat dapat memberikan andil dalam meningkatkan derajat
kesehatannya.
B. tujuan khusus
1. Meningkatkan pengetahuan masyarakat dalam bidang kesehatan
2. Meningkatkan kemampuan masyarakat dalam pemeliharaan dan
peningkatan derajat kesehatannya sendiri
3. Meningkatkan pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan oleh
masyarakat
4. Terwujudnya pelembagaan upaya kesehatan masyarakat di tingkat
lapangan

2.3 Tahap PSM


a. Pertemuan / Pendekatan Tingkat DesaA
b. Survey Mawas Diri ( Community Self Survey / CSS )
c. Musyawarah Masyarakat Desa
d. Pelatihan Kader
e. Pelaksanaan Upaya Kesehatan Oleh Masyarakat
f. Pembinaan Pelestarian Kegiatan
g. Pengenalan Sosio – Budaya Masyarakat Setempat
2.4 Tingkat PSM
a. PSM karena Imbalan
Adanya peranserta karena adanya imbalan tertentu yang diberikan baik
dalam bentuk imbalan materi atau imbalan kedudukan
b. PSM karena Paksaan / Perintah
Masyarakat berperan serta karena adanya ancaman atau sanksi
c. PSM karena Identifikasi atau rasa ingin memiliki
d. PSM karena Tuntutan Hak Asasi & Tanggung Jawab
e. PSM yang Disertai Kreasi dan daya Cipta.
f. PSM karena kesadaran
Peran serta atas dasar kesadaran tanpa adanya paksaan atau harapan dapat
imbalan.

2.5 Bentuk PSM


A. Polindes
1. Definisi
Pondok bersalin Desa (POLINDES) adalah salah satu bentuk peran serta
masyarakat dalam menyediakan tempat pertolongan persalinan dan
pelayanan kesehatan ibu dan anak termasukKB didesa (Depkes RI,
1999) polindes dirintis dan dikelola oleh pamong desa setempat.

2. Tujuan Polindes
Umum : memperluas jangkauan peningkatan mutu dan mendekatkan
pelayanan KIA/KB oleh Bidan.
Khusus : * Sebagai tempat pemeriksaan kehamilan
* Sebagai tempat pertolongan persalinan
* Sebagai tempat pelayanan kesehatan lain
* Sebagai tempat untuk konsultasi/pendidikan kesehatan
3. Fungsi Polindes
 Ada tenaga bidan yang bekerja penuh sebagai pengelola polindes
 Tersedianya sarana untuk melaksanakan tugas dan fungsi bidan

 Bidan kit
 IUD kit
 Sarana imunisasi dasar dan imunisasi ibu hamil
 Timbangan berat badan ibu dan pengukur tinggi badan
 Infus set dan cairan dextrose 5%, nacl 0,9%
 Obat-obatan sederhana dan uterotonika
 Buku-buku pedoman kia, kb, dan pedoman kesehatan lainnya
 Inkubator sederhana
 Infuse set
 Memenuhi persyaratan rumah sehat, antara lain:
 Penyediaan air bersih
 b. Ventilasi cukup
 c. Penerangan cukup
 d. Tersedia sarana pembuangan air limbah
 e. Lingkungan pekarangan bersih
 Ukuran minimal 3x4 meter persegi
 Lokasi dapat dicapai dengan mudah oleh penduduk sekitarnya dan
mudah dijangkau oleh kendaraan roda empat.
 Ada tempat untuk melakukan pertolongan persalinan dan perawatan
post partum(minimal satu tempat tidur)

4. Kegiatan di Polindes
 Memeriksa kehamilan, termasuk memberikan imunisasi TT pada ibu
hamil dan mendeteksi dini resiko tinggi kehamilan.Menolong
persalinan normal dan persalinan dengan resiko sedang.
 Memberikan pelayanan kesehatan ibu nifas dan ibu menyusui.
 Memberikan pelayanan kesehatan neonatal,bayi,anak balita dan anak
prasekolah serta imunisasi dasar pada bayi.
 Memberikan pelayanan KB.Mendeteksi dan memberikan
pertolongan pertama pada kehamilan dan persalinan yang berisiko
tinggi baik ibu maupun bayinya.
 Menampung rujukan dari dukun bayi dan dari kader.
 Merujuk kelainan kefasilitas kesehatan yang lebih mampu.
 Melatih dan membina dukun bayi maupun kader.
 Memberikan penyuluhan kesehatan tentang gizi ibu hamil dan anak
serta peningkatan penggunaan ASI dan KB.
 Mencatat serta melaporkan kegiatan yang dilaksanakan kepada
puskesmas setempat.
B. Pos Obat Desa
1. Pengertian
 Pos Obat Desa adalah salah satu bentuk peran serta masyarakat
berupa upaya pengobatan sederhana bersumber daya masyarakat.
 Pos obat desa merupakan wujud peran serta masyarakat dalam
hal pengobatan sederhana. Kegiatan ini dapat dipandang sebagai
perluasan kuratif sederhana.
2. Tujuan
Umum :
meningkatkan kemampuan masyarakat untuk menolong sendiri
dibidang kesehatan melalui penyediaan obat obatan dan pengobatan
sendiri sebagai pertolongan pertama secara aman dan tepat.
Khusus:
 Meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang obat dan upaya
pengobatan sederhana terhadap penyakit ringan didaerah
setempat, terutama di daerah yang jauh dari pusat kesehatan
 Meningkatkan kemampuan masyarakat untuk menolong dirinya
sendiri di bidang kesehatan, melalui penyediaan obat dan
pengobatan sendiri sebagai pertolongan peratama secara aman
dan tepat.
 Tersedianya obat yang bermutu dengan harga terjangkau bagi
masyarakat.
C. Dana upaya kesehatan masyarakat (DUKM)
1. Pengertian
Merupakan upaya dari, oleh, dan untuk masyarakat yang
diselenggarakan berdasarkan azas gotong royong dan bertujuan untuk
meningkatkan taraf kesehatan mereka melalui perhimpunan dana
secara pra upaya guna menjamin terselenggaranya pemeliharaan
kesehatan yang meliputi upaaya promotif, preventif, kuratif dan
rehabiltatif.
Pada dasarnya mencakup 3 hal pokok :
 adanya kesepakatan untuk mengumpulkan dan adengan
prinsip gotong royong.
 Adanya upaya pengembangan bukti pemeliharaan kesehatan
 Adanya system pengolahan dana
2. Tujuan
Umum :
Meningkatkan derajat jesehatan melalui supaya pemeliharaan
kesehatan perorang, keluarga dan masyarakat yang bersifat paripurna
dan terjamin, kesunambungan dan mutunya.
Khusus :
 Terselenggaranya pelayanan kesehatan yang paripurna, berhasil
guna dan berdaya guna bagi individu, keluarga dan masyarakat.
 Tersedianya pembiayaan pra upaya yang dihimpun atas azas
gotong royong
 Pengelolaan dana dan penyelenggaraan pemeliharaan kesehatan
dikelola oleh organisasi atau badan hokum yang ditunjuk oleh
masyarakat
3. Komponen Dana Sehat
 Ada pserta dana sehat
 Ada pelaksana pemeliharaan kesehatan
 Ada organisasi atau badan hokum yang menyekenggarakan
program dana sehat
 Ada vembina dana sehat yang terdiri dari unsure petugas
vemerintah tokoh masyarakat dan wakil anggota
4. Kebijakan operasional
 Tumbuhkan dulu kesadaran bahwa kesehatan itu perlu biaya yang
berkesinambungan
 Dimulai dari kelompok kecil
 Lahir dari aktifitas setempat
 Paket pelayanan yang disesuaikan
 Pengembangan yang bertahap
D. Tabulin
Tabungan ini sifatnya insidensial, keberadaannya terutama pada saat
mulainya kehamilan dan dapat berakhir pada saat seorang ibu sudah
melahirkan. Tabungan ini akan sangat membantu terutama bagi ibu hamil
dan keluarganya pada saat menghadapi persalinan terutama masalah
kendala biaya sudah dapat teratasi.
Secara psikologis ibu akan merasa tenang menghadapi saat persalinan
dan karena pengelolaan. Tabulin ini biasanya oleh tokoh masyarakat atau
petugas kesehatan, maka akan menjamin akses ibu kepada petugas
kesehatan. Perlindungan pembiayaan kesehatan sendiri seharusnya
dimiliki setiap orang pada setiap fase kehidupannya.
Tujuan
 Menurunkan angka kematian ibu dan bayi di Indonesia
 Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat terutama ibu hamil
 Memotivasi masyarakat terutama ibu hamil, menyisihkan
sebagian dananya untuk ditabung sebagai persiapan persalinan

Keberhasilan pemberdayaan perempuan di sektor kesehatan juga


terlihat pada indikator persalinan yang ditolong medis. Intervensi yang
dilakukan adalah menggiatkan penyuluhan ke tengah masyarakat,
khususnya di pedesaan dan menyediakan lebih banyak lagi pusat
“Pelayanan Kesehatan Masyarakat”, bersama tenaga medisnya.
Pemberdayaan perempuan di sektor kesehatan telah berhasil
meningkatkan usia harapan hidup perempuan.

Salah satu kegiatan isi adalah membuat tabungan ibu bersalin


(Tabulin), Tabulin adalah salah satu Program Kesehatan yang dinilai
sangat positif langsung menyentuh masyarakat. Tabungan yang bersifat
sosial ini sangat membantu warga, terutama mereka yang berekonomi
lemah. Program ini sangat tepat dan efektif dalam upaya meningkatkan
kesehatan masyarakat. Warga tidak akan merasa terbebani dalam
mendukung program tersebut karena penggalangan dana tabungan
dilakukan melalui pola jimpitan (sejenis iuran sukarela)

Melalui Tabulin, bumil diharapkan bisa menabung sehingga saat


melahirkan tidak mengalami kesulitan biaya persalinan karena sudah ada
dana tabungan tersebut. Tabulin merupakan upaya yang sangat baik
untuk menurunkan angka kematian ibu. Meskipun demikian, cara ini
belum 100 % menjamin ibu hamil selamat dari maut.

Tabungan Bersalin (Tabulin) sudah dimulai sebelum ada desa Siaga.


Kita menerangkan ke Ibu Hamil dan keluarganya tentang kegunaan
Tabulin, meskipun orang kaya. Justru orang kaya tersebut harus
memberikan contoh kepada orang-orang yang tidak mampu menabung,
dan ibu hamil tersebut diberikan buku yang dibawa setiap pemeriksaan.
Tabungan itu dibentuk berdasarkan RW atau Posyandu. Bila Posyandu di
suatu tempat ada empat, maka tabungannya ada empat di desa tersebut.
Kita juga harus menentukan jumlah tabungan ibu hamil setiap minggunya
dan memberi penjelasan kepada ibu hamil betapa pentingnya manfaat
Tabulin sehingga ibu hamil mempunyai kesadaran untuk membayar
Tabulin. Banyak sekali hal yang sebenarnya kelihatan kecil atau sepele,
seperti menyiapkan tabungan, kemudian menyiapkan tetangga yang bisa
mengantar pada saat terjadinya persalinan secara tiba-tiba. Hal ini bisa
menginspirasi banyak masyarakat agar di masa mendatang Tabulin dapat
tersosialiasai dengan baik di masyarakat.

E. Dasolin
Dasolin adalah untuk masyarakat yang pasangan usia subur, juga ibu
yang mempunyai balita dianjurkan menabung yang kegunaan untuk
membantu ibu tersebut saat hamil lagi. Sedangkan Tabulin hanya untuk
ibu hamil saja. Tapi kalau misalkan Tabulinnya sedikit, bisa dibantu
dengan Dasolin tersebut.
Dasolin merupakan suatu upaya pemeliharaan kesehatan diri, oleh, dan
untuk masyarakat yang diselenggarakan berdasarkan azas usaha bersama
dan kekeluargaan dengan pembiayaan secara pra upaya dan bertujuan
untuk meningkatkan taraf kesehatan masyarakat terutama ibu hamil.
Ciri khas Dasolin adalah dana yang berasal dari masyarakat dalam bentuk
uang atau modal dan benda yang dikelola oleh masyarakat untuk
kepentingan dan kesehatan masyarakat terutama ibu hamil.

Tujuan Dasolin :
 Menurunkan angka kematian ibu dan bayi
 Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat terutama ibu hamil
 Memotivasi masyarakat, untuk menyisihkan sebagian dananya
untuk ditabung, yang kegunaannya untuk membantu ibu tersebut
saat hamil lagi.
 Terselenggaranya pemeliharaan kesehatan yang bermutu, berhasil
guna dan berdaya guna.
 Tersedianya dana yang dihimpun secara pra upaya atu azas
gotong royong
 Terwujudnya pengelolaan yang efisien dan efektif oleh lembaga
organisasi masyarakat yang melindungi kepentingan peserta

Dasolin tidak hanya semata membiayai pemeliharaan kesehatan,


melainkan juga berusaha meningkatkan kemampuan hidup sehat anggota
masyarakat terutama ibu hamil.
Dasolin merupakan salah satu bentuk peran serta dan kemandirian
masyarakat dalam bidang kesehatan. Penyelenggaraan dipelihara melalui
kelompok masyarakat yang terorganisasi seperti RT/RW. LKMD/PKK,
Paguyuban, Pengajian, Koperasi dan lain-lain.

Ciri penyelenggaraan :
 Secara gotong royong
Penyelenggaraan Dasolin dilaksanakan usaha bersama, azas
kekeluargaan diantara peserta.
 Secara musyawarah mufakat
Setiap putusan penyelenggaraan Dasolin didasarkan atas musyawarah
anggotanya.
 Secara manajemen terbuka
Karena Dasolin adalah upaya masyarakat secara gotong royong, maka
manajemen dilakukan adalah secara terbuka.
 Dasolin dalam kegiatan ekonomi
Penyelenggaraan Dasolin akan lestari bila dikaitkan dengan upaya
ekonomi misalnya keterkaitan usaha koperasi.
Penyelenggaraan Dasolin dapat dilakukan untuk pemeliharaan
kesehatan ibu dan anak. Pemeliharaan kesehatan melalui dana sehat
dapat dilakukan kepada ibu hamil.
Konstribusi dana dapat berasal dari keluarga atau ibu rumah tangga.
sebagai peserta Dasolin disini ibu dan keluarga. Sebagai pelaksana
pelayanan adalah tenaga kesehatan terutama bidan, dokter dan
perawat.
F. Dana Sehat
 Dana Sehat sudah lama dikembangkan di Indonesia jauh sebelum
program JPKM dicanangkan. Sejak pendekatan PKMD (Pembangunan
Kesehatan Masyarakat Desa) digunakan pada tahun 1974, Dana Sehat
telah mulai marak, meskipun masih dalam bentuk yang sederhana.
 Bersamaan dengan keberhasilan pembangunan ekonomi Indonesia,
“demand” masyarakat terhadap kesehatan masyarakat makin
meningkat. Sejalan dengan itu terjadi perkembangan yang menarik,
yakni meluasnya keinginan membentuk Dana Sehat dan membesarnya
liputan wilayah Dana Sehat. Bila dulu Dana Sehat hanya terbatas pada
desa, kini sudah mulai merambah ketingkat kecamatan bahkan
kabupaten. Institusi penyelenggara Dana Sehat juga mulai beragam,
ada pola PKMD, pola UKS, pola Koperasi, pola UKK, pola Pondok
Pesantren, pola PKK, pola LSM, kelompok agama, pola perusahaan
swasta, dan lain-lain.
 Jenis intervensi Pada Tiap Kategori Dana Sehat
 Dana Sehat pratama I, II, III, jenis intervensi yang bisa dilakukan
adalah meningkatkan frekuensi dan intensitas KIE (Komunikasi,
Informasi dan Edukasi) dari petugas pembina kepada para
pengurus Dana Sehat.
 Dana Sehat madya, jenis intervensinya adalah pelatihan
manajemen operasional Dana Sehat. Pelatihan ini berkaitan dengan
pengelolaan Dana Sehat secara keseluruhan, termasuk manajemen
keuangannya.
 Dana Sehat purnama, jenis intervensinya adalah pelatihan JPKM,
sebagai persiapan Dana Sehat tersebut untuk bergabung atau
meningkatkan statusnya menjadi JPKM.
G. Poskestren
1. Pengertian
Poskestren adalah Pesantren yang memiliki kesiapan dan kemampuan
serta kemauan untuk mencegah dan mengatasi masalah- masalah
kesehatan, secara mandiri sesuai dengan kemampuannya.

2. Tujuan
Tujuan Umum
Terwujudnya pesantren yang sehat, serta peduli dan tanggap terhadap
permasalahan kesehatan diwilayah pesantrennya.

Tujuan Khusus
 Meningkatnya pengetahuan dan kesadaran santri dan guru tentang
pentingnya kesehatan.
 Meningkatnya santri dan guru yang melaksanakan perilaku hidup
bersih dan sehat.
 Meningkatnya kesehatan lingkungan di pesantren.
 Meningkatnya kemampuan dan kemauan santri untuk menolong
diri sendiri dibidang kesehatan
3. Sasaran Pengembangan Poskestren
Untuk mempermudah strategi intervensi, sasaran pengembangan
Poskestren dibedakan menjadi tiga jenis sasaran, yaitu :
 Semua individu santri, guru serta pengurus pesentren serta
keluarganya yang tinggal di lingkungan pesantren, yang
diharapkan mampu melaksanakan hidup sehat, serta peduli dan
tanggap terhadap permasalahan kesehatan di lingkungan
pesantren.
 Pihak-pihak yang mempunyai pengaruh terhadap perubahan
perilaku individu dan keluarga atau dapat menciptakan iklim yang
kondusif bagi perubahan perilaku tersebut, seperti pimpinan
pesantren, pengurus yayasan serta petugas kesehatan.
 Pihak-pihak yang diharapkan memberikan dukungan kebijakan,
peraturan, dana, tenaga, sarana dan lain-lain, Camat, para pejabat
terkait, swasta, para donatur dan pemangku kepentingan lainnya.

2.6 Pengembangan PSM


Dalam mengembangkan dan membina peran serta masyarakat di bidang
kesehatan di Indonesia, perlu diterapkan pendekatan edukatif dengan strategi dua
tahap, yaitu pengembangan provider dan pengembangan masyarakat.
Kunci pada pengembangan provider adalah keterbukaan dan
pengembangan komunikasi timbal balik yang horisontal maupun vertikal,
sedangkan kunci pada pengembangan masyarakat adalah mengembangkan
persepsi antara masyarakat dan provider agar masyarakat mampu mengenal
masalah dan potensinya dalam memecahkan masalah.
Dengan demikian, mengembangkan peran serta masyarakat yang baik
adalah upaya memicu dan menghidupkan proses pemecahan masalah, haruslah
selalu diusahakan agar sumberdaya untuk pemecahan masalah selalu merupakan
sumberdaya setempat yang ada setempat atau yang terjangkau oleh masyarakat.
Untuk penyelenggaraan pelayanan dalam mengembangkan dan membina
peran serta masyarakat, beberapa hal yang dapat diperankan adalah sebagai
berikut :
 Membina dan memelihara hubungan baik
 Bertindak sebagai katalisator
 Penasehat teknis
 Membantu langsung atau membantu masyarakat menggali sumur
 Memberikan dorongan (reinforcement)
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Peran serta masyarakat (PSM)merupakan keikut sertaan individu,keluarga dan
kelompok masyarakat dalam setiap menggerakan upaya kesehatan yang juga
merupakan tanggung jawab sendiri,keluarga dan masyarakatnya.
Dalam world Healt Assembly 1997,peran masyarakat adalah proses untuk
mewujudkan kerja sama kemitraan antara pemerintah dan masyarakat setempat
dalam merencakan ,melaksanakan dan memanfaatkan kegiatan kesehatan
sehingga diperoleh manfaat berupa peningkatan kemampuan swadaya
masyarakatmasyarakat berperan dalam menentukan prasarana dan pemeliharaan
teknologi tepat guna dalam pelayanan kesehatan
Tujuan dari PSM adalh meningkatka angka kematian ibi(AKI)dan angka
kematian bayi(AKB).

3.2 Saran
Semoga makalah ini bermamfaat dan menambah pengetahuan pembaca
khususnya bagi para bidan dalam menjalani tugas dan tanggung
jawabnya.Sehubungan dengan masalah yang terkait diatas,penulias juga
mengharapkan kritik dan saran dari pembaca demi kesemournaan makalah ini.
DAFTAR PUSTAKA

Effendy,nasrul. 1998. Keperawatan Kesehatan Masyarakat. Jakarta:EGC


Ilmu kesehatan masyarakat oleh Syafrudin, SKM, M.Kes; Theresia EVK, SST, SKM;
Dra. Jomima, M.Kes
http://duniakebidanan-dinireal.blogspot.com/2012/03/bentuk-bentuk-peran-serta-
masyarakat.html diakses 19 April 2014
http://galuhsesika.blogspot.com/p/pengembangan-psm.html diakses 19 April 2014
http://materi-paksyaf.blogspot.com/2012/07/tabulin-dan-dasolin.html
UPAYA POKOK KESEHATAN MATAPenyusun :Fenny Wulandari (
030.03. ) Vera Liza Effriani (030.06.268)BAB I PENDAHULUANIndera
penglihatan merupakan salah satu alat tubuh manusia yang
mempunyai fungsi sangat penting untuk memungkinkan manusia
menerima informasi dari lingkungan kehidupan sekitarnya sehingga
mampu beradaptasi dan mempertahankan hidup dalam
lingkungannya dan menghindarkan diri dari berbagai ancaman yang
mungkin terjadi. Dengan demikian kesehatan indera penglihatan
merupakan salah satu unsur terpenting dalam upaya meningkatkan
kualitas SDM agar terwujud manusia Indonesia yang cerdas,
produktif serta mampu berperan dalam berbagai bidang
pembangunan.1,4Undang-undang No. 36 tahun 2009
mengamanatkan bahwa pemerintah harus menyediakan pelayanan
kesehatang yang bermutu,aman,efisien,terjangkau dan merata.
Sebagai unit pelaksana tehnis Dinas kesehatan (UPTD), Puskesmas
mempunyai 4 fungsi yaitu sebagai pusat pemberdayaan
masyarakat,sebagai pusat pelayanan kesehatan masyarakat,sebagai
pusat pelayanan kesehatan perorangan primer dan sebagai pusat
rujukan kesehatan primer yang bertanggung jawab atas wilayah yang
telah ditetapkan. Pelayanan kesehatan masyarakat sektor
Pemerintah di Kabupaten/Kota terdiri atas pelayanan kesehatan
dasar dan rujukan.Puskesmas dengan kegiatan Upaya Kesehatan
Masyarakatnya menyebabkan puskesmas mempunyai peran penting
dalam meningkatkan daya ungkit yang besar dalam pembangunan
kesehatan di Indonesia karena Puskesmas menrupakan ujung
tombak pembangunan kesehatan.1,4Untuk mewujudkan drajat
kesehatan mata yang optimal telah ditetapkan visi, yaitu gambaran
prediksi atau keadaanmasyarakat indonesia pada masa yang akan
datang berupa Mata Sehat 2020/Vision 2020 The Right to Sight
(pemenuhan hak untuk melihat dengan optimal bagi setiap individu).
Untuk itu di tetapkan misi mewujutkan mata sehat melalui : promosi
kesehatan dalam rangka pemberdayaan masyarakat tentang mata
sehat ; menanggulangi gangguan penglihatan dan kebutuhan di
masyarakat ; memfasilitasi pemerataan pelayanan kesehatan mata
yang bermutu dan terjangkau, menggalang kemitraan dengan
masyarakat dan pihak-pihak terkait di dalam dan di luar negri untuk
mewujutkan mata sehat 2020.2,5WHO memperkirakan terdapat 45
juta penderita kebutaan di dunia, di mana sepertiganya berada di
Asia Tenggara. Survei kesehatan indera penglihatan dan
pendengaran tahun 1993-1996, menunjukkan angka kebutaan 1,5%.
Penyebab utama kebutaan adalah katarak (0,78%), glaukoma
(0,20%), kelainan refraksi (0,14%), danpenyakit-penyakit lain yang
berhubungan dengan lanjut usia (0,38 %). Besarnya jumlah penderita
katarak di Indonesia saat ini berbanding lurus dengan jumlah
penduduk usia lanjut yang pada tahun 2000 diperkirakan sebesar
15,3 juta (7,4% dari total penduduk). Jumlah dimaksud cenderung
akan bertambah besar karena berdasarkan laporan Biro Pusat
Statistik tahun 1993 , jumlah penduduk usia lanjut di Indonesia pada
tahun 2025 akan mengalami peningkatan sebesar 414%
dibandingkan dengan keadaan pada tahun 1990. 1Berdasarkan
laporan hasil Riskesdas/ Riset Kesehatan Dasar Nasional tahun 2007,
prevalensi nasional Kebutaan adalah 0,9% (berdasarkan hasil
pengukuran, visus < 3/60). Sebanyak 11 provinsi mempunyai
prevalensi Kebutaan diatas prevalensi nasional, yaitu Nangroe Aceh
Darussalam, Bengkulu, Lampung, Kepulauan Riau, Jawa Barat, Jawa
Tengah, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi
Selatan, Gorontalo. Prevalensi nasional penderita Katarak sendiri
pada penduduk umur >30 tahun adalah 1,8%.2Kebutaan bukan
hanya mengganggu produktivitas dan mobilitas penderitanya, tetapi
juga menimbulkan dampak sosial ekonomi bagi lingkungan, keluarga,
masyarakat dan negara lebih-lebih dalam menghadapi pasar bebas.
Menurut Konsultan WHO, Dr. Konyama, kebutaan akan menjadi
masalah kesehatan masyarakat bila prevalensinya 0,5%1%. Bila
prevalensi kebutaan > 1% maka kebutaan telah menjadi masalah
sosial. Sebaliknya bila angka kebutaan < 0,5 % maka kebutaan hanya
menjadi masalah klinik (medik). 1Upaya Kesehatan
Mata/Pencegahan Kebutaan (UKM/PK) merupakan bentuk dari
pengembangan program RENSTRANAS (Rencana Strategis Nasional)
Penanggulangan Gangguan Penglihatan dan Kebutaan untuk
mencapai Vision 2020. Pelayanan Kesehatan Mata di Puskesmas,
Primary Eye Care (P.E.C) ,telah dimulai sejak tahun 1979/1980.
Primary Eye Care merupakan unit terdepan yang merupakan bagian
integral dari Puskesmas, yang meliputi usaha-usaha peningkatan,
pencegahan, dan pengobatan terhadap individu atau masyarakat. 1
Tujuan P.E.C melalui kegiatan pelayanan kesehatan mata yang
diintegrasikan di Puskesmas yangmerupakan pintugerbang utama
yang berhubungan langsungdenganmasyarakat sehingga angka
kesakitan mata dapatditekan dan angka kebutaan serta kemunduran
fungsipenglihatan dapat dihilangkan. Dengan kebijaksaan untuk
penduduk yang berpenghasilan rendah baik yangtinggal dikota dan di
desa mendapat prioritas. Melalui program ini diharapkan dapat
menurunkan angka kebutaan di Indonesia menjadi 1% pada tahun
2004 dan 0,5% pada tahun 2020.1Dari masalah kesehatan mata dan
kebutaan tersebut mengisyaratkan bahwa upaya kesehatan
mata/pencegahan kebutaan dasar sebagai salah satu kegiatan pokok
di Puskesmas akan melengkapi fungsi Puskesmas dalam
memecahkan masalah kesehatan masyarakat khususnya berupa
angka kesakitan mata dan kebutaan, sehingga tidak lagi menjadi
masalah kesehatan masyarakat.BAB II PENGERTIANUpaya Kesehatan
Mata / Pencegahan Kebutaan (UKM / PK) Dasar adalah upaya
kesehatan dasar dibidang UKM / PK yang dilaksanakan di tingkat
Puskesmas, diselenggarakan secara khusus ataupun terpadu dengan
kegiatan pokok Puskesmas lainnya, di dalam ataupun di luar gedung
oleh tenaga kesehatan Puskesmas dengan didukung oleh peran serta
aktif masyarakat dan ditujukan kepada individu, keluarga,
masyarakat di wilayah kerja Puskesmas.3Yang dimaksud dengan
kegiatan di dalam gedung dalam UKM / PK adalah kegiatan yang
terpadu dengan kegiatan pokok Puskesmas lain atau secara khusus,
meliputi pemeriksaan diagnostik kelainan mata, seperti pemeriksaan
retraksi, tonometri, funduskopi, tes buta warna dan lapang pandang
3Sedangkan yang dimaksud dengan kegiatan di luar gedung dalam
UKM / PK adalah kegiatan yang terpadu dengan kegiatan pokok
Puskesmas lainnya ataupun secara khusus meliputi skrining mata,
penanggulangan kebutaan katarak, glaucoma dan lain-lain.3Tenaga
professional mencakup tenaga profesional umum dan khusus.
Tenaga profesional umum yaitu dokter dan perawat, dokter gigi,
analis (tenaga Laboratorium), asisten apoteker, dan sebagainya.
Tenaga profesional khusus yaitu tenaga kesehatan dengan
pendidikan khusus atau tambahan di bidang kesehatan mata, seperti
perawat mahir mata. Selain itu terdapat pula tenaga non
professional yaitu kader/ tenaga relawan seperti pemuka
masyarakat, dokter kecil, dan sebagainya3Peran serta masyarakat
adalah peran serta aktif masyarakat baik sebagai pemberi maupun
penerima pelayanan dengan memobilisasi sumber daya yang
tersedia dalam pemecahan masalah kesehata mata masyarakat
setempat melalui perencanaan, pelaksanaan, penilaian, pembinaan,
dan pengembangan UKM/PK setempat 3Kebutaan adalah
pengelihatan kedua mata dengan koreksi maksimal kurang dari 5 %
pengelihatan normal.BAB III TUJUAN A. Tujuan UmumMeningkatnya
kesehatan mata dalam rangka meningkatkan kualitas sumberdaya
masyarakat.B. Tujuan Khusus1. Menurunnya prevalensi kesehatan
mata dan kebutaan sehingga tidak lagi menjadi masalah kesehatan
masyarakat. 2. Meningkatnya kesadaran, sikap dan perilaku
masyarakat pemeriksaan dirinya dibidang kesehatan mata dan
pencegahan kebutaan. 3. Meningkatnya jangkauan pelayanan
refraksi sehingga masyarakat yang mengalami gangguan fungsi
penglihatan dapat terlayani.BAB IV KEGIATAN DAN SASARANTujuan
Upaya Kesehatan Mata/ Pencegahan Kebutaan Melakukan
pemeriksaan kesehatan mata dasar dan semi spesialis / spesialis
(khusus untuk Puskesmas Pembina) untuk semua kasus mata, baik
yang dirawat jalan ataupun rawat inap.Sasaran Upaya Kesehatan
Mata/ Pencegahan Kebutaan Semua golongan umur dengan prioritas
pada masyarakat berpenghasilan rendah, khususunya kelompok yang
rentan.Kegiatan Pelayanan Upaya Kesehatan Mata / Pencegahan
Kebutaan 1. Prinsip Kerja Pelayanan diberikan secara cepat, tepat
dan nyaman dengan sikap yang ramah dan bertanggung jawab.2.
Kegiatan a) Melakukan penyuluhan kesehatan mata termasuk
pemasaran sosial di dalam maupun di luar gedung, baik individu
maupun kelompok. b) Melakukan rujukan ke Laboratorium untuk
swab vagina bagi ibu hamil dengan keluhan fluor albus atau untuk
swab sekret mat pada bayi baru lahir dengan conjungtivitis c)
Melakukan tindakan crede pada bayi baru lahir d) Pemberian capsul
vitamin A dosis tinggi pada Balita setiap 6 bulan e) Melakukan
skrining mata di masyarakat f) Memberikan pengobatan g)
Melakukan pemeriksaan visus/refraksi dan mata luar h) Melakukan
pemeriksaan tekanan intraokular i) Malkukan tes buta warna j)
Melakukan tes anel k) Melakukan pemeriksaan funduskopi l)
Melakukan pemeriksaan lapang pandang m) Melakukan pemeriksaan
laboratorium pada kasus-kasus tertentu n) Memberikan resep kaca
mata o) Melakukan operasi katarak p) Mengobati glaukoma akutq)
Melakukan rujukan untuk kasus-kasus yang tidak bisa ditangani r)
Memotivasi masyarakat dalam UKM/PK s) Melakukan pencatatan
dan pelaporan3. Waktu Pelayanan Setiap Hari a) Untuk rawat jalan
mulai dari pukul 08.00-12.00 b) Untuk rawat inap mulai pukul 07.30-
08.30 Kecuali untuk kasus Gawat Darurat setiap hari.4. Tenaga:
Untuk Puskesmas Pembina: a) Dokter umum terlatih 1 orang b)
Dokter spesialis mata 1 orang c) Paramedis terlatih 1 orang d)
Perkarya 1 orang Untuk di lapangan : Kader, Pemuka Masyakarat,
Dokter Kecil, dan lain sebagainya.5. Kelengkapan Administrasi a)
Formulir Register Harian b) Formulir Rekapitulasi Bulanan Sesuai
SP2TP dan program6. Peralatan Kerja: Sesuai standard yang sudah
ditetapkan untuk Puskesmas Pembina dan Puskesmas pada
umumnya.7. Prosedur Tetap: a) Puskesmas Petugas Loket Mendaftar
dan membuat/mencari buku status Menerima pembayaran sesuai
Peraturan Daerah Membawa Status ke Balai Pengobatan Mengambil
status yang telah diperiksa dari Balai Pengobatan Mencatat di Buku
RegisterPerawat Menerima buku status pasien Melakukan
anamnesaMelakukan pemeriksaan keperawatan (tensi, nadi R/R,
suhu) Mencatat hasil pemeriksaan di buku status Membantu/asisten
dokter sewaktu melakukan pemeriksaanDokter Umum Melengkapi
anamnesa bilamana perlu Melakukan pemeriksaan umum dan mata
khusus Melakukan penyuluhan individu Memberikan
pengobatan/rujukan dan atau resep kaca matab) Puskesmas
Pembina Petugas loket o Mendaftar dan membuat / mencari buku
status o Menerima pembayaran sesuai dengan Peraturan Daerah o
Membawa status ke poli mata o Mendaftar dan membuat / mencari
status o Menerima pembayaran sesuai dengan Peraturan Daerah o
Membawa status ke balai pengobatan o Mengambil status yang telah
diperiksa dari Balai pengobatan o Mencatat di buku register. Perawat
o Menerima buku status pasien o Melakukan Anamnesa o
Melakukan pemeriksaan keperawatan (tensi, nadi, pernafasan, suhu)
o Mencatat hasil pemeriksaan di status o Membantu atau asisten
dokter sewaktu melakukan pemeriksaan o Mempersiapkan pasien
operasi katarak o Asisten operasi Dokter Umum terlatih dan atau
dokter spesialis mata o Melengkapi anamnesa bilamana perlu o
Melakukan pemeriksaan umum dan mata khusus o Melakukan
penyuluhan individu o Memberikan pengobatan/rujukan dan atau
resep kacamata Khusus untuk Dokter spesialis mata o Mekakukan
operasi yang diperlukanSasaran Upaya Kesehatan Mata/Pencegahan
Kebutaan diprioritaskan pada masyarakat berpenghasilan rendah
khususnya kelompok rawan tanpa mengabaikan kelompok lainnya
dengan menggunakan teknologi tepat guna yang disesuaikan dengan
kondisi dan kebutuhan di tingkat Puskesmas.Keterpaduan Upaya
Kesehatan Mata/Pencegahan Kebutaan Dasar dengan Kegiatan
Pokok Puskesmas LainnyaKegiatan Pokok 1. KIA Sasaran Prakonsepsi
Tugas Promotif Preventif Perincian Kegiatan Penyuluhan
individu/kelompok di bidang kesehatan mata Tenaga Tenaga
perawatan, dokter, kader, dukun bersalin Alat Poster, leaflet,
demonstrasi makanan sehat (gizi)HamilPromotif Preventif Case
finding o Kelainan mata luar o Gangguan pengelihatan
RujukanPenyuluhan individu/kelompok di bidang kesehatan mata
Anamnesa keluhan mataTenaga perawatan, dokter, kader, dukun
bersalinPersalinanPromotif Preventif Case finding Rujukan ke
pengobatanRujuk ke laboratorium, swab vagina (bila ada keluhan
fluor albus untuk pencegahan infeksi gonokokus pada bayi yang
dilahirkan) Rujuk ke pengobatan bila ada keluhan/kelainan mata
Penyuluhan kesehatan mataPoster, leaflet, demonstrasi makanan
sehat (gizi) Pen light Kapas lidi Steril Piringan biak agar-agar
ThayerMartin atau piringan coklatTenaga perawatan, dokter, dukun
bersalinPoster, leaflet, demonstrasi makanan sehat (gizi) Pen
LightAnamnesa keluhan mata Pemeriksaan mata Bila ada
keluhan/kelainanNifasPromotif Preventif Case findingPenyuluhan
kesehatan mata Anamnesa mata keluhanTenaga perawatan, dokter,
kader, dukun bersalinPoster, leaflet, demonstrasi makanan sehat
(gizi) Pen LightPemeriksaan mata Rujukan Oftalmoskop Rujuk ke lab :
swab vagina (bila ada fluor albus) Rujukan ke pengobatan bila ada
keluhan/kelainanBayiPromotif PreventifCrede pada bayi baru
lahirSanitarian Tenaga perawatanPoster, leaflet, demonstrasi
makanan sehat (gizi) AgNO3 1 % tetes mata atau tetrasiklin salep
mata Alat-alat (lihat hamil) lab ibuAnamnesa Case finding o
Pemeriksaan mata Kelainan matadokterRujukanRujuk ke lab : bila
ada secret pada konjungtiva Rujuk ke pengobatan bila ada
keluhan/kelainanBalitaPromotifPenyuluhan individu/kelompok
Pembagian kapsul vit. A dosis tinggi tiap 6 bulan Anamnesa mata
keluhanTenaga perawatan Dokter KaderPreventifPoster, leaflet,
demonstrasi makanan sehat (gizi) Kapsul Vit. A 200.000 IUCase
finding o o o Kelainan refraksi Kelainan mata luar Kelainan bawaan
(katarak, juling, dll)Pemeriksaan mataPen LightRujukan Rujuk ke lab
Rujuk ke pengobatan bila ada kelainan 2. KB W.U.S (Wanita Usia
Subur) Promotif Preventif Individu Kelompok Case finding o Fluor
albus Pemeriksaan mata bila ada keluhan fluor albus Penyuluhan
kesehatan mata Tenaga perawatan, dokter Poster, leaflet, alat lab
(lihat ibu hamil)RujukanRujuk sediaan ke lab Rujuk ke
pengobatan3.GiziBalitaPromotifPenyuluhan kesehatan mataTenaga
gizi, perawatan, dokter, kaderPoster, leaflet, demonstrasi makanan
sehatIndividu Kelompok(gizi)Kapsul Vit. A 200.000 IU Preventif
Pembagian caps. vit. A dosis tinggi tiap 6 bulan Penyuluhan
kesehatan mata Individu kelompok 4. Kesehat an lingkung an
Kelompok masyarakat dan lingkungannya Perusahaan (pabrik) 5.
P2M Kelompok masyarakat Keluarga Case holding Individu o o o
Pemeriksaan mata Penyakit luar Buta senja Gangguan pengelihatan
mata Pengobatan sederhana (sama dengan prokesa) Promotif
Preventif Penyuluhan kesehatan mata Juru imunisasi, petugas
malaria desa, tenaga perawatan, dokter Promotif Preventif
Penyuluhan kesehatan mata Sanitarian, tenaga perawatan, dokter
Poster, leaflet, alat-alat pelindung mata (lintas sektoral) Poster,
leaflet Senter Poster, leaflet, demonstrasi makanan sehat (gizi)Ibu
hamil/menyusuiPromotif PreventifRujukan 6. PKM Kelompok
masyarakat Keluarga Individu Promotif Preventif Nasehat
perkawinan (penyakit keturunan) Penyuluhan kesehatan mata
Tenaga penyuluh kesehatan, perawatan, dokter, kader Poster,
peraga alatCase findingBila ada dirujukkeluhanKader UKS kecil(Guru
dokter7.Pengoba tanIndividuPengobatanPengobatan terhadap :
Konjungtivitis Pterigium dan Pinguekula Defisiensi vitamin A
Trakhoma tanpa Trikhiasis Blefaritis Hordeolum GlaukomaDokter,
perawat mataEpilator Loupe Senter Speculum mata Obat-obat mata
nonsteroid, DiamoxTindakan sederhana : Insisi hordeolum,tarsotomi,
ekstraksi, corpus alienum ekstraokuler, pterigium ekstirpasi
Pertolongan pertama gawat mata Glaukoma akut Trauma kimia,
tumpul, tajam Merujuk kasus yang tak dapat diatasi ke RS atau
BKMM.Alat insisi Corpus alienum spoed Pantocain Rujukan 8. P.H.N
Keluarga Instansi Individu Promotif Preventif Case finding Kuratif
Rehabilitatif Diagnostik 10 penyakit utama mata Koreksi refraksi
sederhana s/d visus 5/10 Pengobatan Rujukan ke pengobatan 9. UKS
Anak sekolah Promotif Preventif Anamnesa Pemeriksaan : o o o o
Kelainan refraksi Kelainan mata luar Tes buta warna Defisiensi vit. A
Penyuluhan kesehatan mata Tenaga perawatan (petugas UKS),
dokter, kader Penyuluhan kesehatan mata Tenaga perawatan, kader
Kesehatan Non kesehatanFormulir rujukan Idem 7UKS kit Buku
IshiharaPengobatan Rujuk ke Puskesmas untuk mendapat
pengobatan 10. Gigi/Mu lut Individu Anak sekolah Kelompok
masyarakat Promotif Preventif Penyuluhan gigi yang berkaitan
dengan kesehatan mata Penyuluhan hubungan kelainan gigi sebagai
fokal infeksi mata Dokter perawat kader gigi, gigi,11. Kesehat an
JiwaIndividu KeluargaPromotif PreventifPenyuluhan kesehatan jiwa
yang berkaitan dengan kesehatan mataTenaga perawatan, dokter,
kaderPoster, leaflet SenterCase findingDeteksi kelainan mata pada
penderita kelainan jiwa Pengobatan mataRujukanPengobatan
Puskesmas, saran rujukan Pemeriksaan laboratorium pada specimen
yang berkaitan dengan kesehatan mata Penyuluhan Deteksi kelainan
mata akibat olah raga Peningkatan fungsi pengelihatan dikaitkan
dengan olah raga Petugas lab Alat-alat lab12. LabIndividuCase
finding13. Kesehat an Olah RagaIndividuPromotif Preventif Case
findingDokter, perawat, kaderPengobatan/rujukanPengobatan pada
kelainan/kecelakaan akibat olah raga Penyuluhan Dokter, perawat,
kader14. Kesehat an KerjaIndividu Kelompok masyarakatPromotif
Preventif Case findingDeteksi dini kelainan mata akibat kerja
Peningkatan fungsi pengelihatan dikaitkan dengan kesehatan kerja
Pengobatan pada kelainan mata akibat kesehatan
kerjaPengobatan/rujukanRujukan kasus-kasus yang tidak dapat
diatasi Penyuluhan Pelayanan usila kesehatan Dokter, perawat,
kader15. UsilaIndividu Keluarga Kelompok masyarakatPromotif
Preventif Kuratif/rujukan RehabilitatifRujukan kasus yang tak dapat
diatasiPeningkatan Peran Serta MasyarakatKegiatannya dalam
bentuk penyuluhan kesehatan, serta melibatkan masyarakat dalam
perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian UKM/PK Dasar dalam
rangka menciptakan kemandirian masyarakat dalam memelihara
kesehatan mata mereka.Pengembangan Kesehatan Mata
MasyarakatKegiatan dalam bentuk penampilan berbagai inovasi baru
yang ditujukan pada pemecahan masalah sesuai dengan
perkembangan kebutuhan dan ketersediaan sumber daya setempat
dalam rangka menciptakan derajat kesehatan mata masyarakat yang
optimal.Pencatatan dan PelaporanBerbagai hal yang berkaitan
dengan masukan, proses, dan keluaran upaya kesehatan
mata/pencegahan kebutaan dasar direkam secara terpadu dalam
SP2TP.BAB V PELAKSANAAN KEGIATANPELAKSANAAN KEGIATAN DI
PUSKESMAS KECAMATAN CILANDAKNo.KegiatanSasaranTempat dan
WaktuPelaksana1Pemeriksaan penyakit MataSemua pasien yang
berkunjung ke Poliklinik MataPoli Mata Senin Jumat 08.00 -
12.00Dokter Umum Perawat Pelaksana Paramedis2Pengobatan
Penyakit MataSemua pasien yang berkunjung ke Poliklinik MataPoli
Mata Senin Jumat 08.00 - 12.00 Poli Mata Senin dan Kamis 08.00 -
12.00Dokter umum3Pemeriksaan oleh SpesialisSemua pasien yang
berkunjung ke Poliklinik Mata dan memerlukan pemeriksaan oleh
ahliDokter Spesialis Mata4Pemeriksaan Khusus Mata : Pemeriksaan
Visus Tonometri Pemeriksaan Khusus Mata : FunduskopiSemua
pasien yang berkunjung ke Poliklinik Mata Semua pasien yang
berkunjung ke Poliklinik MataPoli Mata Senin Jumat 08.00 - 12.00
Poli Mata Senin Jumat 08.00 - 12.00Dokter UmumDokter Spesialis
Mata Dokter Umum5Penyuluhan individuSemua pasien yang
berkunjung kePoli Mata Senin Jumat 08.30 - 12.00Dokter Spesialis
Mata Dokter UmumPoliklinik MataPerawat Pelaksana6Penyuluhan
Kelompok : Retinopati DabetikumPenderita DM pada KhususnyaAula
PKM Cilandak Satu Kali perbulan 08.00 12.00Dokter Umum yang
ditunjuk7Penjaringan Kasus KatarakKhusus pasien KatarakPoli Mata
Senin Jumat 08.00 - 12.00Dokter Spesialis Mata Dokter Umum
Perawat Pelaksana8Rujukan KatarakKhusus pasien KatarakPoli Mata
Senin Jumat 08.00 - 12.00Dokter Spesialis Mata Dokter Umum
Bekerja sama dengan RSCM9Memberikan Resep KacamataSemua
pasien yang telah dilakukan pemeriksaan visus dan memerlukan
kacamataPoli Mata Senin Jumat 08.00 - 12.00Dokter Spesialis Mata
Dokter Umum10Operasi : Hordeolum Pterigium Corpus
AlienumSemua pasien dengan keluhan yang memerlukan tindakan
bedah minorPoli Mata Senin dan Kamis 08.00 - 12.00Dokter Spesialis
Mata Perawat Pelaksana Terlatih11Melakukan pencatatan dan
pelaporanDokumen PKM kecamatan Pasar MingguPoli Mata Senin
Jumat 08.00 - 12.00Perawat PelaksanaPENILAIAN HASIL KERJA
DOKTER SPESIALIS MATA BULAN JUNI 2011 PUSKESMAS KECAMATAN
PASAR MINGGUA. KASUSN 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 0Penyakit Glaukoma
Katarak Kelainan Refraksi Kelainan Kornea Konjungtivitis Trauma
Corpus Alienum Pterygium Hordeolum Penyakit Mata LainJumlah 2
Kasus 30 kasus 70 kasus 5 kasus 18 kasus 3 kasus 2 kasus 2 kasus 23
kasus 80 kasusB. TINDAKAN N 1 2 3 4 5 6 7 Tindakan Pemeriksaan
Visus Resep Kacamata Funduskopi Angkat Corpus Alienum Insisi
Hordeolum Avulsi Pterygium Haecting Off Jumlah 70 Kasus 65 Kasus
8 Kasus 2 Kasus 2 Kasus 1 Kasus 2 KasusC. RUJUKAN N 1 2 3 4
Penyakit Glaukoma Katarak Kelainan Refraksi Penyakit Mata Lain
Jumlah 2 Kasus 8 Kasus 5 Kasus 5 KasusBAB VI KESIMPULAN DAN
SARANA. KESIMPULAN Upaya Kesehatan Mata/ Pencegahan
Kebutaan di Puskesmas merupakan unit terdepan yang meliputi
usaha-usaha peningkatan, pencegahan dan pengobatan mata
terhadap semua golongan umur dengan prioritas pada masyarakat
berpenghasilan rendah, khususunya kelompok yang rawan. Kegiatan
ini bertujuan melayani pemeriksaan kesehatan mata dasar dan semi
spesialis / spesialis (khusus untuk Puskesmas Pembina) untuk semua
kasus mata, baik yang dirawat jalan ataupun rawat inap.Kegiatannya
mencakup melakukan penyuluhan kesehatan mata, pemeriksaan
mata khusus, rujukan ke Laboratorium untuk swab vagina bagi ibu
hamil dengan keluhan fluor albus atau untuk swab sekret mat pada
bayi baru lahir dengan conjungtivitis, tindakan crede pada bayi baru
lahir, pemberian capsul vitamin A dosis tinggi pada Balita setiap 6
bulan, skrining mata di masyarakat, pengobatan, pemeriksaan
refraksi dan mata luar, pemeriksaan tekanan intraokular, tes buta
warna, tes anel, pemeriksaan funduskopi, pemeriksaan lapang
pandang, pemeriksaan laboratorium pada kasus-kasus tertentu,
memberikan resep kaca mata , melakukan operasi katarak,
mengobati glaukoma akut, memotivasi masyarakat dalam UKM/PK
serta melakukan pencatatan dan pelaporan.Diharapkan dengan
dilaksanakan pelbagai kegiatan ini masalah Kesehatan Indera
Penglihatan di Indonesia tidak lagi menjadi masalah Kesehatan
Masyarakat.B. SARAN 1. Meningkatkan sarana dan prasarana
pemeriksaan kesehatan mata di Puskesmas. 2. Meningkatkan tenaga
medis yang ahli di bidang kesehatan mata. 3. Mengadakan program
anjuran pemeriksaan mata pada hari tertentu yang ditujukan pada
pasien yang datang ke puskemas baik yang mempunyai gejala
penyakit mata maupun tidak. 4. Meningkatkan peran serta setiap
keluarga dalam ikut membantu memelihara kesehatan mata seluruh
anggota keluarga.DAFTAR PUSTAKA1. Departemen Ilmu Kesehatan
Mata FK USU. Pelayanan Kesehatan Mata Melalui Puskesmas.
Available: http://ebookbrowse.com/sss155-slide-pelayanan-
kesehatanmata-melalui-puskesmas-pdf-d68637011 2. Badan
Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan RI.
Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar Nasional 2007. 3. Pemerintah
Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Standarisasi Pelayanan Kesehatan
Puskesmas di DKI Jakarta. 4.
http://pustaka.unpad.ac.id/wpcontent/uploads/2009/09/penanggul
angan_kebutaan_katarak_terpadu.pdf5. Prof. Dr. Azrul Azwar, MPH.
Kebijakan Pelayanan Kesehatan mata. Available at
:http://www.ditplb.or.id/profile.php?id=74