Anda di halaman 1dari 50

1

PENUNTUN KETERAMPILAN KLINIK

BLOK GANGGUAN SISTEM SARAF DAN


PSIKIATRI

SEMESTER VI

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BATAM


2016
2

PEMERIKSAAN NEUROLOGI

TUJUAN PEMBELAJARAN

Mahasiswa mampu melakukan:


1. Pemeriksaan fungsi sensorik: sensasi taktil dan nyeri superfisial
2. Pemeriksaan refleks fisiologis: refleks bisep, trisep, brachiradialis, patela, dan achilles.

SASARAN PEMBELAJARAN
Setelah melakukan latihan keterampilan ini, mahasiswa mampu:
1. Mempersiapkan pasien untuk pemeriksaan motorik;
2. Melakukan pemeriksaan motorik secara benar;
3. Mempersiapkan alat dan pasien untuk pemeriksaan sensasi taktil;
4. Melaksanakan pemeriksaan sensasi taktil secara benar;
5. Mempersiapkan alat dan pasien untuk pemeriksaan sensasi superfisial;
6. Melaksanakan pemeriksaan sensasi superfisial secara benar;
7. Mempersiapkan alat dan pasien untuk pemeriksaan refleks biseps, refleks trisep;
brakhioradialis, refleks patela dan refleks achiles;
8. Melakukan pemeriksaan refleks biseps;
9. Melakukan pemeriksaan refleks triseps;
10. Melakukan pemeriksaan refleks brakhioradialis;
11. Melakukan pemeriksaan refleks patela; dan
12. Melakukan pemeriksaan refleks achilles.

PERSIAPAN ALAT
- Tabung berisi air dingin
- air mengalir - Tabung berisi air panas
- sabun cair - Jarum tumpul
- lap tangan atau tissue - Peniti
- Kuas halus - Baskom berisi larutan chlorin
- Kapas 0,5%
- Bulu - Garpu Tala Frekwensi 128 Hz
3

- Tissue - Garpu Tala Frekwensi 256 HZ


- Hammer

ACUAN KETERAMPILAN NEUROLOGI

Baca juga Diktat Acuan Pemeriksaan Neurologi

PENILAIAN KEKUATAN OTOT


Kekuatan otot dinilai dalam derajat :
DERAJAT PENILAIAN
5 Kekuatan normal Seluruh gerakan dapat dilakukan berulang-ulang
tanpa terlihat adanya kelelahan
4 Seluruh gerakan otot dapat dilakukan dengan benar dan dapat
melawan tahan ringan dan sedang dari pemeriksa
3 Dapat mengadakan gerakan melawan gaya berat
2 Di dapatkan gerakan tetapi gerakan ini tidak mampu melawan gaya
berat (gravitasi)
1 Kontaksi minimal dapat terasa atau teraba pada otot yang
bersangkutan tanpa mengakibatkan gerakan
0 Tidak ada kontraksi sama sekali. Paralisis total.

PENILAIAN TONUS OTOT


Tonus dapat meninggi disebut hipertoni/spastik, dapat menurun disebut hipotoni/flaksid, dan
dapat rigid.
Penilaian tonus otot dilakukan dengan melihat cara jatuh anggota gerak dinilai (keadaan
hipotoni menyebabkan anggota gerak jatuh berat)

PEMERIKSAAN N. KRANIALIS
1. Pemriksaan fungsi penciuman penderita:
- Syarat pemeriksaan ini : tidak boleh ada penyakit intranasal.
- mengenal zat dengan baik disebut normosmia,
- bila daya cium berkurang : hiposmia
- Bila tidak dapat mencium sama sekali : anosmia
2. Syarat Pemeriksaan ketajaman penglihatan: Tidak ada kelainan organic pada bola mata,
tidak ada fotofobia.
3. Syarat pemeriksaan tes komfrontasi : penglihatan pemeriksaa harus normal.
4. Normal : ketajaman penglihatan 3/60 (60 adalah jarak orang normal dapat menghitung
jari).
4

5. Bila penderita hanya mampu menghitung jari dengan jarak kurang dari 3 meter maka
ketajaman penglihatan (visus) menurun
6. Dengan Gerakan tangan : Orang normal membedakan gerak tangan pada jarak 300
meter.
7. Dengan senter : bila penderita hanya dapat membedakan gelap dan terang, maka
ketajaman penglihatan adalah 1/tak terhingga. Ketajaman penglihatan nol (0) bila tidak
dapat melihat cahaya.
8. Penilaian Tes Weber:
- Normal : bunyi terdengar sama pada telinga kiri dan kanan
- Tuli saraf/sensorineural : bunyi lebih keras terdengar pada telinga normal
- Tuli konduktif : bunyi lebih keras terdengar pada telinga tuli
9. Syarat Tes Schwabah : Pendengaran pemeriksa harus normal.
10. Refleks pupil dengan cahaya langsung:
- pupil yang kena cahaya senter akan kontriksi pada keadaan normal (refleks cahaya
langsung positif).
- Bila tidak terjadi konstriksi, refleks cahaya langsung negatif
11. Refleks pupil terhadap cahaya tidak langsung:
- Normal, pupil kontralateral ikut berkontriksi (refleks cahaya tidak langsung/refleks
konsensual positif).
- Bila tidak terjadi konstriksi pupil kontralateral, refleks cahaya tidak langsung/refleks
konsensual negatif

DESKRIPSI KEGIATAN

Kegiatan Waktu Deskripsi


# 1. Pengantar 2 menit Pengantar
# 2. Bermain Peran Tanya 30 menit 1. Mengatur posisi duduk mahasiswa
& Jawab 2. Dua orang dosen memberikan contoh
bagaimana cara melakukan pemerik-
saan neurologis. Mahasiswa menyi-
mak/mengamati peragaan dengan
menggunakan Penuntun Belajar.
3. Memberikan kesempatan kepada
mahasiswa untuk bertanya dan dosen
memberikan penjelasan tentang
aspek-aspek yang penting
# 3. Praktek bermain peran 100 menit 1. Mahasiswa dibagi menjadi pasang-
dengan Umpan Balik an-pasangan. Diperlukan minimal
seorang Instruktur untuk menga-
mati setiap langkah yang dilakukan
oleh paling banyak 4 pasangan.
2. Setiap pasangan berpraktek melaku-
kan langkah-langkah pemeriksaan
neurologis secara serentak
3. Instruktur berkeliling diantara ma-
hasiswa dan melakukan supervisi
menggunakan ceklis
5

4. Instruktur memberikan pertanyaan


dan umpan balik kepada setiap
pasangan
# 4. Curah Pendapat/ 15 menit 1. Curah Pendapat/Diskusi : Apa yang
Diskusi dirasakan mudah? Apa yang sulit?
Menanyakan bagaimana perasaan
mahasiswa yang pada saat
melakukan pemeriksaan Apa yang
dapat dilakukan oleh dokter agar
pasien merasa lebih nyaman?
2. Instruktur membuat kesimpulan
dengan menjawab pertanyaan terakhir
dan memperjelas hal-hal yang masih
belum dimengerti
Total waktu 150 menit
6

PENUNTUN PEMBELAJARAN
KETERAMPILAN PEMERIKSAAN NEUROLOGIK
( Digunakan oleh Peserta)

Beri nilai untuk setiap langkah klinik dengan menggunakan kriteria sebagai berikut :
1. Perlu perbaikan: langkah-langkah yang tidak dilakukan dengan benar dan atau
tidak sesuai urutannya, atau ada langkah yang tidak dilakukan.

2. Mampu: Langkah-langkah dilakukan dengan benar dan sesuai urutannya, tetapi


tidak efisien.

3. Mahir: Langkah-langkah dilakukan dengan benar, sesuai dengan urutan dan


efisien.

TS Tidak Sesuai: Langkah tidak perlu dilakukan karena tidak sesuai dengan keadaan.

NO. LANGKAH / KEGIATAN KASUS


A. MENYIAPKAN PENDERITA 1 2 3
1. Sapalah klien atau keluarganya dengan ramah dan perkenalkan diri
anda, serta tanyakan keadaannya.
2. Berikanlah informasi umum pada klien atau keluarganya tentang
pemeriksaan neurologist yang akan dilakukan, tujuan dan manfaat
untuk keadaan klien.
3. Berikanlah jaminan pada klien atau keluarganya tentang keamanan
dari tindakan yang anda lakukan
4. Berikanlah jaminan pada klien atau keluarganya tentang
kerahasiaan yang diperlukan klien
5. Jelaskanlah pada klien tentang hak-hak klien atau keluarganya,
misalnya tentang hak untuk menolak tindakan pemeriksaaan
neurologist yang akan dilakukan, tanpa mengurangi haknya akan
pelayanan kesehatan..
6. Mintalah kesediaan klien untuk pengambilan darah
7. Persilahkan klien untuk naik daan tidur di tempat tidur
B. CUCI TANGAN BIASA (RUTIN) 1 2 3
8. Lepaskanlah cincin, arloji, gelang dan lain-lain perhiasan di
pergelangan tangan dan jari. Simpan ditempat yang aman.
9. Gulunglah lengan baju sampai sebatas siku.
10. Basahilah tangan dengan air mengalir, lalu kecilkan aliran air.
11. Tuangkanlah kira-kira 3 ml sabun cair, dan ratakanlah diseluruh
tangan.
12. Gosokkanlah kedua telapak tangan
13. Gosokkanlah telapak tangan kanan pada punggung tangan kiri
dan sebaliknya silih berganti
14. Gosoklah jari-jari, dengan memasukkan jari-jari tangan kanan
disela-sela jari-jari tangan kiri sambil menggosok. Lakukanlah
7

sebaliknya secara silih berganti..


15. Gosoklah kedua ibu jari dan area sekitarnya.
16. Bersihkanlah dan gosokkanlah ujung jari dan kuku jari kedua
tangan dengan menggosokkan pada telapak tangan yang
sebelahnya. Lakukanlah pada tangan yang lain..
17. Gosoklah kedua pergelangan tangan silih ber-ganti.
18. Bilaslah kedua tangan dengan air mengalir.
19. Tutuplah keran tanpa menyentuh dengan tangan yang sudah
dicuci, yaitu dengan menggunakan siku, kertas tissue atau lap
bersih.
20. Keringkanlah tangan dengan lap bersih atau tissue
C. BENTUK OTOT 1 2 3
21. Lakukanlah observasi pada semua otot,
22. Periksalah perubahan bentuk otot (normal, hipertrofi, hipotrofi )
23. Carilah ada atau tidaknya fasikulasi otot
D. TONUS OTOT 1 2 3
24. Mintalah klien berbaring dengan santai.
25. Alihkanlah perhatian klien dengan mengajaknya berbicara.
26. Angkatlah lengan klien dalam posisi fleksi pada siku dan tangan
secara pasif, kemudian jatuhkanlah lengan tersebut
27. Fleksikanlah tungkai bawah dalam posisi 90 derajat pada sendi
panggul secara pasif dan jatuhkanlah.
28. Lakukanlah pemeriksaan pada anggota gerak kanan dan kiri,
Cara pemeriksaan lain:
Lakukan fleksi dan ekstensi pada sendi siku, lutut, pergelangan
tangan dan kaki.
D. KEKUATAN OTOT 1 2 3
29. Cara 1 :
Suruhlah klien melakukan fleksi lengan bawahnya dan pemeriksa
menghalangi (menahan usaha ini). Dengan demikian, dapat dinilai
kekuatan otot biseps
30. Cara 2
Ekstensikanlah lengan bawah klien dan suruhlah ia menahan
usaha ini. Dengan demikian, dapat dinilai kekuatan otot biseps
31. Lakukan cuci tangan rutin
8

PENUNTUN PEMBELAJARANKETERAMPILAN
MELAKUKAN PEMERIKSAAN SENSORIK
( Digunakan oleh Peserta)

Beri nilai untuk setiap langkah klinik dengan menggunakan kriteria sebagai berikut :
1. Perlu perbaikan: langkah-langkah yang tidak dilakukan dengan benar dan atau
tidak sesuai urutannya, atau ada langkah yang tidak dilakukan.

2. Mampu: Langkah-langkah dilakukan dengan benar dan sesuai urutannya, tetapi


tidak efisien.

3. Mahir: Langkah-langkah dilakukan dengan benar, sesuai dengan urutan dan


efisien.

TS Tidak Sesuai: Langkah tidak perlu dilakukan karena tidak sesuai dengan keadaan.

NO. LANGKAH / KEGIATAN KASUS


A. MELAKUKAN PERSIAPAN 1 2 3
1. Terangkanlah cara dan tujuan pemeriksaan
2. Pilihlah dengan benar alat yang akan digunakan
B. PEMERIKSAAN SENSASI TAKTIL 1 2 3
3. Berikankanlah rangsangan secara ringan tanpa memberi
tekanan jaringan subkutan
4. Mintalah klien untuk menyatakan “YA” atau “TIDAK” pada
setiap perangsangan
5. Mintalah klien untuk menyebutkan daerah yang dirangsang
6. Mintalah klien untuk membedakan dua titik yang dirangsang
B. SENSASI NYERI SUPERFISIAL 1 2 3
7. Mintalah klien untuk menutup mata
8. Cobalah terlebih dahulu jarum yang akan digunakan pada
diri sendiri.
9. Buatlah tekanan terhadap kulit klien seminim mungkin,
jangan sampai menimbulkan perlukaan.
10. Janganlah menayakan pada klien: apakah Anda merasakan
ini atau apakah ini runcing?
11. Gunakanlah ujung jarum untuk membuat rangsangan
terhadap kulit dan kepala jarum secara bergantian, sementara
itu mintalah klien untuk menyatakan sensasinya sesuai
dengan pendapatnya.
12. Mintalah juga klien untuk menyatakan apakah terdapat
9

perbedaan intensitas ketajaman rangsangan di daerah yang


berlainan.
13. Apabila dicurigai ada daerah yang sensasinya menurun maka
mulailah rangsangan dari daerah tadi menuju ke arah yang
normal.
C. PEMERIKSAAN SENSASI SUHU 1 2 3
14. Mintalah klien untuk berbatring (pemeriksaan lebih baik
dilakukan dalam posisi berbaring).
15. Mintalah klien untum menutup mata
16. Cobalah terlebih dahulu tabung dingin/panas pada kulitmu.
Tempelkanlah tabung pada kulit klien, dan mintalah klien
untuk menyatakan apakah terasa dingin atau panas.
17. Sebagai variasi, penderita dapat diminta untuk menyatakan
adanya rasa hangat.
18. Tentukanlah apakah sensasi klein normal atau tidak. (Pada
orang normal, adanya perbedaan suhu 2-5 oC sudah mampu
untuk mengenalinya).
D. PEMERIKSAAN SENSASI GERAK DAN POSISI 1 2 3
19. Mintalah klien menutup mata.
(Pemeriksaan bisa dilakukan pada klisen yang duduk atau
berbaring).
20. Mintalah klien benar-benar merelaksasikan jari-jarinya
Gerakkanlah jari-jari klien secara pasif dengan sentuhan
seringan mungkin sehingga dihindari adanya tekanan
terhadap jari-jari tadi.
21. Jari yang diperiksa harus ’’dipisahkan’’ dari jari–jari di
sebelah kiri/ kanannya sehingga tidak bersentuhan, sementara
itu jari yang diperiksa tidak boleh melakukan gerakan aktif
seringan apapun.
22. Mintalah klien untuk menyatakan apakah ada perubahan
posisi jari ataupun apakah ada gerakan pada jarinya.
23. Apabila diperoleh kesan adanya gangguan sensasi gerak dan
posisi, maka dianjurkan untuk memeriksa bagian tubuh lain
yang ukurannya lebih besar, misalnya tungkai bawah atau
lengan bawah.
24. Cara lain ialah dengan menempatkan jari-jari salah satu
tangan penderita pada posisi tertentu, sementara itu, mata
penderita tetap tertutup; kemudian penderita diminta untuk
menjelaskan posisi jari-jari tadi ataupun menirukan posisi
tadi pada tangan yang satunya lagi.

E. PEMERIKSAAN SENSASI GETAR / VIBRASI 1 2 3


10

7. Getarkan garpu tala terlebih dahulu, dengan jalan ujung


garpu tala dipukulkan pada benda padat/keras yang lain.
8. Kemudian pangkal garpu tala segera ditempelkan pada
bagian tubuh tertentu.
9. Yang dicatat ialah tentang intensitas dan lamanya vibrasi.
10. Kedua hal tersebut bergantung pada kekuatan penggetaran
garpu tala dan interval antara penggetaran garpu tala tadi
dengan saat peletakan garpu tala pada bagian tubuh yang
diperiksa.
F. PEMERIKSAAN SENSASI TEKAN 1 2 3
11. Penderita dalam posisi terbaring dan mata tertutup.
12. Ujung jari atau benda tumpul ditekankan atau disentuhkan
lebih kuat terhadap kulit.
13. Di samping itu, dapat diperiksa dengan menekankan struktur
subkutan, misalnya massa otot, tendo, dan saraf itu sendiri,
baik dengan benda tumpul atau dengan ’’cubitan’’ dengan
skala yang lebih besar.
14. Penderita diminta untuk menyatakan apakah ada tekanan dan
sekaligus diminta untuk mengatakan daerah mana yang
ditekan tadi.
G. PEMERIKSAAN SENSASI NYERI DALAM ATAU 1 2 3
NYERI TEKAN
15. Massa otot, tendo atau saraf yang dekat permukaan ditekan
dengan ujung jari atau dengan “mencubit” (menekan di
antara jari telunjuk dan ibu jari). Penderita diminta untuk
menyatakan apakah ada perasaan nyeri atau tidak; pernyataan
ini dicocokkan dengan intensitas tekanan atau cubitan.
11

PENUNTUN PEMBELAJARAN
KETERAMPILAN MEMERIKSAAN REFLEKS
FISIOLOGIS
( Digunakan oleh Peserta)

Beri nilai untuk setiap langkah klinik dengan menggunakan kriteria sebagai berikut :
1. Perlu perbaikan: langkah-langkah yang tidak dilakukan dengan benar dan
atau tidak sesuai urutannya, atau ada langkah yang tidak dilakukan.

2. Mampu: Langkah-langkah dilakukan dengan benar dan sesuai urutannya,


tetapi tidak efisien.

3. Mahir: Langkah-langkah dilakukan dengan benar, sesuai dengan urutan dan


efisien.

TS Tidak Sesuai: Langkah tidak perlu dilakukan karena tidak sesuai dengan
keadaan.

KETERAMPILAN MEMERIKSAAN REFLEKS FISIOLOGIS


NO. LANGKAH / KEGIATAN KASUS
A. PEMERIKSAAN REFLEK BISEPS 1 2 3
1. Mintalah penderita duduk dengan santai
2. Fleksikanlah lengan penderita dan lengan bawah dalam posisi
antara fleksi dan ekstensi serta sedikit pronasi
3. Letakkanlah siku penderita pada tangan pemeriksa
4. Letakkanlah ibu jari pemeriksa pada tendo biseps penderita
lalu pukullah tendo tersebut dengan refleks hammer
B. PEMERIKSAAN REFLEKS TRISEPS 1 2 3
5. Mintalah penderita duduk dengan santai
6. Tempatkanlah lengan bawah penderita dalam posisi antara
fleksi dan ekstensi serta sedikit pronasi
7. Mintalah penderita merelaksikan lengan bawahnya
sepenuhnya
8. Pukullah tendo otot triseps pada fosa olekrani
C. PEMERIKSAAN REFLEKS BRAKHIORADIALIS 1 2 3
9. Mintalah penderita duduk dengan santai
10. Tempatkanlah lengan bawah penderita dalam posisi antara
fleksi dan ekstensi serta sedikit pronasi
11. Letakkanlah lengan bawah penderita di atas lengan bawah
pemeriksa
12. Mintalah penderita untuk merelaksasikan lengan bawahnya
sepenuhnya
12

13. Pukullah tendo brakhioradialis pada radius bagian distal


dengan memakai refleks hammer yang datar
D. PEMERIKSAAN REFLEKS PATELA 1 2 3
14. Mintalah penderita duduk dengan tungkai menjuntai
15. Palpasilah daerah kanan-kiri tendo patela untuk menetapkan
daerah yang tepat
16. Peganglah paha bagian distal dengan satu tangan dan dengan 1 2 3
tangan yang lain pukullah tendo patela dengan cepat
menggunakan hammer.
E. PEMERIKSAAN REFLEKS ACHILLES
17. Mintalah penderita duduk menjuntai, berbaring, atau berlutut
dengan sebagian tungkai bawah terjulur
18. Regangkanlah tendo achilles dengan menahan ujung kaki ke
arah dorsofleksi
19 Pukullah tendo achilles dengan ringan tapi cepat
13

PENUNTUN PEMBELAJARAN
KETERAMPILAN MEMERIKSAAN REFLEKS
PATOLOGIS
( Digunakan oleh Peserta)

Beri nilai untuk setiap langkah klinik dengan menggunakan kriteria sebagai berikut :
1. Perlu perbaikan: langkah-langkah yang tidak dilakukan dengan benar dan atau
tidak sesuai urutannya, atau ada langkah yang tidak dilakukan.
2. Mampu: Langkah-langkah dilakukan dengan benar dan sesuai urutannya, tetapi
tidak efisien.
3. Mahir: Langkah-langkah dilakukan dengan benar, sesuai dengan urutan dan
efisien.

TS Tidak Sesuai: Langkah tidak perlu dilakukan karena tidak sesuai dengan keadaan.

KETERAMPILAN MEMERIKSAAN REFLEKS PATOLOGIS


NO. LANGKAH / KEGIATAN KASUS
PEMERIKSAAN REFLEKS BABINSKI
1. Meminta penderita berbaring dan istirahat dengan
tungkai di luruskan.
2. Pegang pergelangan kaki supaya kaki tetap pada
tempatnya
3. Dengan sebuah benda yang berujung agak runcing,
telapak kaki digores dari tumit menyusur bagian
lateral menuju pangkal ibu jari
PEMERIKSAAN REFLEKS OPPEN HEIM
1. Meminta penderita berbaring dan istirahat dengan
tungkai di luruskan.
2. Mengurut dengan kuat tulang tibialis anterior ke arah
distal dengan ibu jari, jari telunjuk dan jari tengah .
PEMERIKSAAN REFLEKS HOFFMAN-TROMMER
1. Mintalah penderita berbaring atau duduk
2. Peganglah pergelangan tangan penderita dengan jari-
jari difleksikan.
3. Gunakalah ibu jari untuk menggores dengan kuat
ujung jari tengah penderita (Snap)
14

PENUNTUN PEMBELAJARAN
KETERAMPILAN MEMERIKSAAN NERVUS
KRANIALIS
( Digunakan oleh Peserta)

Beri nilai untuk setiap langkah klinik dengan menggunakan kriteria sebagai berikut :
1. Perlu perbaikan: langkah-langkah yang tidak dilakukan dengan benar dan
atau tidak sesuai urutannya, atau ada langkah yang tidak dilakukan.

2. Mampu: Langkah-langkah dilakukan dengan benar dan sesuai urutannya,


tetapi tidak efisien.

3. Mahir: Langkah-langkah dilakukan dengan benar, sesuai dengan urutan dan


efisien.

TS Tidak Sesuai: Langkah tidak perlu dilakukan karena tidak sesuai dengan
keadaan.

PENUNTUN PEMBELAJARAN
KETERAMPILAN MEMERIKSAAN N.
KRANIALIS
NO. LANGKAH KLINIK KASUS
A. PEMERIKSAAN NERVUS OFTALMIKUS (Nn.Cr. I) 1 2 3
Persiapan Penderita
1. Jelaskanlah secara umum tentang tujuan dan manfaat
pemeriksaan kepada penderit.
2. Jelaskanlah cara pemeriksaan yang akan dilakukan .
3. Berikanlah jaminan keamanan tindakan yang akan dilakukan.
4, T anyakanlah pada pasien ada tidaknya ada penyakit
intranasal
5. Mintalah pasien untuk duduk atau berbaring, sambil menutup
matanya
Melakukan Pemeriksaan
1. Taruhlah satu bahan/zat di depan salah satu lubang hidung
pasien sementara lubang hidung yang lain ditutup
2. Mintalah pasien mencium bahan/ zat yang dikenalnya :
3. Nilailah hasil penciuman pasien dengan melihat penilaian pada
Acua di bagian depan buku ini.
15

B. PEMERIKSAAN NERVUS OPTIKU (Nn.Cr. II) 1 2 3


a. Ketajaman penglihatan
1. Tanyakanlah apakah pasien mempunyai keluhan penglihatan.
(fotofobia dll)
2. Mintalah pasien duduk atau berdiri dengan jarak 3 meter
dari anda
3. Mintalah pasien menghitung jari dari jarak tersebut.
4. Nilailah ketajaman penglihatan pasien dengan menggunakan
acuan di bagian depan buku ini.
Cara lain :
1. Suruhlah pasien berdiri dengan jarak 300 meter dari anda, dan
lambaikanlah tangan anda. Nilailah hasilnya.
2. Pemeriksaan senter : bila penderita hanya dapat
membedakan gelap dan terang, maka ketajaman penglihatan
adalah 1/tak terhingga. Ketajaman penglihatan nol (0) bila
tidak dapat melihat cahaya.
b. lapangan penglihatan
Tes konfrontasi
1. Mintalah pasien duduk atau berdiri menghadap anda dengan
jarak 60-100 cm ( duduk atau berdiri berhadapan).
2. Dusuk atau berdirilah sedemuikian rupa sehingga mata kiri
pasien yang akan diperiksa berhadapan dengan mata kanan
anda, pada ketinggian yang sama, ataus ebaliknya. Tutuplah
mata yang lain dengan jari atau penutup lain.
3. Gerakkanlah jari/polpen anda dari kuadran perifer menuju ke
arah sentral sampai pasien melihat obyek. Obyek digerakkan
dari segala jurusan.
4. Mintalah pasien memberikan respon jika mulai melihat
gerakan jari dan hal ini dibandingkan dengan penglihatan
anda apakah juga sudah melihat obbyek.
Bila ada gangguan lapangan penglihatan maka pemeriksa
akan lebih dahulu melihat gerakan obyek tersebut.

C. PEMERIKSAAN NERVI CRANIALIS III, IV, VI 1 2 3


1. Perhatikanlah celah mata apsien untuk menilai apakah
terdapat ptosis : kelopak mata terjatuh, mata tertutup dan tidak
dapat dibuka.
2. Perhatikanlah posisi mata pasien, untuk menilai apakah
terdapat exopthalmus, enopthalmus, strabismus (divergen dan
konvergen) atau salah satu mata dalam posisi melihat ke atas
atau bawah (skew deviation).
Refleks Cahaya Langsung
1. Perhatikanlah pupil pasien dan catatlah: bentuk
(bundar/lonjong), ukuran (mm), sama besar (isokor)
2. Mintalah psien melihat jauh (fiksasi pada benda yang jauh
letaknya), senterlah pupil penderita dari arah luar ke sentral.
16

3. Lakukanlah penilaian reflek pupil dengan cahaya langsung


(Lihat acuan di depan)
Refleks Cahaya Tidak Langsung
1. Mintalah pasien melihat jauh (fiksasi pada benda yang jauh
letaknya), senter pupil penderita dari arah luar ke sentral, dan
lihat pupil sebelah kontralateral.
2. Lakukanlah penilaian refleks pupil terhadap cahaya yang tidak
langsung (Lihat acuan di depan).
Gerakan Bola Mata
1. Mintalah pasien tidur terlentang
2. Tempatkanlah sebuah pen pada posisi vertikal sejauh 50 cm
dari mata apsien dalam arah penglihatan sentral.
3. Peganglah kelopak mata atau dagu pasien dengan tangan yang
lain untuk fiksasi kepala.
4. Gerakkanlah pen secara perlahan ke arah lateral, medial, atas,
bawah, dan ke arah yang miring yaitu atas-lateral, bawah-
medial, atas-medial dan bawah-lateral.
5. Perhatikanlah apakah mata penderita dapat mengikuti gerakan
itu dan tanyakanlah apakah penderita melihat ganda (diplopia)
atau tidak.
D. PEMERIKSAAN NERVUS TRIGEMINUS (Nn.Cr. V) 1 2 3
Motorik
1. Mintalah pasien merapatkan giginya sekuat mungkin.
2. Rabalah m. masseter, dan m. temporalis. Perhatikan besarnya,
tonus, serta konturnya (bentuknya)
3. Mintalah pasien membuka mulut dan perhatikan apakah ada
deviasi rahang bawah.
4. Mintalah pasien menggigit suatu benda misalnya tong spatel,
kemudian tariklah m tong spatel tersebut.
5. Nilailah kekuatan gigitannya
Refleks kornea
1. Mintalah pasien melirik kearah lateral atas (kanan)
2. Sentuhlah kornea dari arah berlawanan dengan kapas yang
ujungnya dibentuk runcing
3. Jagalah agar datangnya kapas ke mata tidak dilihat oleh
pasien
Sensibilitas (Lihat pemeriksaan sensorik)
E. PEMERIKSAAN NERVUS FASIALIS (Nn.Cr. VII) 1 2 3
1. Perhatikanlah wajah pasien: simetris atau tidak. Perhatikan
kerutan dahi, pejaman mata, sulcus nasolabialis, dan sudut
mulut.
2. Mintalah pasien mengangkat alis dan mengerutkan dahi.
Perhatikanlah apakah simetris atau tidak.
17

3. Mintalah penderita memejamkan mata dan kemudian cobalah


membuka mata pasien.
4. Mintalah pasien menyeringai atau menunjukkan gigi,
mencucurkan bibir atau bersiul, dan mengembungkan pipi.
5. Bedakanlah kelumpuhan nervus VII tipe UMN dan tipe LMN.
6. Jelaskanlah pada pasien tentang pemeriksaan fungsi
pengecapan.
7. Tuliskanlah pada sehelai kertas beberapa rasa larutan yang
disediakan, misalnya pahit, manis, kecut.
8. Mintalah pasien menjulurkan lidah.
9. Keringkanlah lidah pasien dengan tissue.
10. Mintalah pasien menutup mata dan teteskanlah larutan yang
telah disediakan pada permukaan lidah pasien.
11. Minta pasien membuka mata, sambil tetap menjulurkan lidah,
dan mintalah apsien menunjuk rasa larutan yang tertulis pada
kertas yang telah disiapkan
F. PEM5ERIKSAAN NERVUS AKUSTIKUS (Nn.Cr.VIII) 1 2 3
Saraf koklearis (ketajaman pendengaran )
Tes Weber
1. Letakkanlah garpu tala yang telah dibunyikan/diketukkan di
tengah dahi pasien atau diletakkan di verteks.
2. Mintalah pasien untuk mendengarkan bunyi garpu tala tadi,
dan mintalah ia menentukan pada telinga mana bunyi
terdengar lebih keras.
3. Lakukanlah penilaian hasil Tes Weber (Lihat Acuan di
depan).
Tes Schwabah
1. Letakkanlah garpu tala yang telah dibunyikan/diketukkan di
depan telinga penderita
2. Pindahkanlah garpu tala di depan telinga pemeriksa, setelah
penderita tidak mendengarkan bunyi lagi,
Bila masih terdengar bunyi oleh pemeriksa dikatakan
Scwabah memendek ( konduksi udara)
3. Ketukkanlah lagi garpu tala lalu tempelkanlah pada tulang
mastoid pasien dan meminta pasien mendengarnya.
4. Tempatkan garpu tala pada tulang mastoid pemeriksa. Bila
penderita tidak mendengar suara lagi
Bila pemeriksa masih mendengar bunyi maka dikatakan
Schwabah (untuk konduksi tulang) memendek
Tes Rinne
1. Mengetukkan garpu tala kemudian meletakkan pada tulang
mastoid sambil meminta penderita mendengarkan bunyinya.
2. Jika masih terdengar bunyi, maka konduksi udara lebih baik
dari pada konduksi tulang : Rinne Positif (normal)
18

3. Mengetukkan lagi garpu tala kemudian menenpelkan pada


tulang mastoid penderita dan meminta penderita
mendengarnya
4. Bila bunyi tidak terdengar lagi oleh penderita , pindahkan
segera garpu tala ke dekat telinga penderita.
Bila bunyi tidak terdengar lagi dikatakan Rinne negatif
(konduksi tulang lebih baik dari konduksi udara).

5. Cara pemeriksaan lain :


Membisikkan kata-kata yang terdiri dari dua suku kata dari
jarak 1-3 kaki) dari kedua telinga penderita.
G. PEMERIKSAAN N. GLOSOFARINGEUS (Nn.Cranialis IX) 1 2 3
1. Meminta penderita membuka mulut dengan lebar sampai
terlihat dinding posterior faring.
2. Menyentuh dengan spatel dinding posterior farings.
Normal bila timbul refleks muntah
H. PEMERIKSAAN NERVUS VAGUS (Nn. Cr. X) 1 2 3
1. Penderita diminta membuka mulut dengan lebar sampai
terlihat dinding posterior faring.
2. Meminta penderita menyebut “ah” .
Normal : uvula terangkat lurus dan tetap berada di median
Lesi unilateral : deviasi uvula ke sisi yang sehat, arkus faring
lebih rendah dari sisi yang sehat.
Lesi bilateral : terjadi disfagi dan regurgitasi
I. PEMERIKSAAN NERVUS AKSESORIUS (Nn. Cr. XI) 1 2 3
1. Untuk m. sternocleidomastoideus
Meminta penderita menengok ke salah satu sisi, misalnya ke
kanan
2. Menahan gerakan ini dengan menempatkan tangan pada dagu
sebelah kiri.
3. Palpasi otot sternokleidomastoideus kiri serta menilai
kekuatannya
4. Melakukan hal yang sama pada otot sternokleidomastoideus
kanan dan minta penderita menengok ke salah satu sisi,
misalnya ke kanan
5. Menahan gerakan ini dengan menempatkan tangan pada dagu
sebelah kiri.
J. PEMERIKSAAN N. CRANIALIS GLOSOFARINGEUM XII 1 2 3
1. Penderita disuruh membuka mulut dan perhatikan lidah dalam
keadaan istirahat : besar lidah, kesamaan bagian kiri dan
kanan, atrofi, berkerut, dan fasikulasi.
2. Penderita disuruh menjulurkan lidah untuk memeriksa adanya
parese :
- Perhatikan apakah ada tremor dan fasikulasi
- Perhatikan apakah ada deviasi lidah ke satu sisi.
Sebagai patokan dapat dipakai garis diantara kedua seri
(incisivus). Bila ada parese satu sisi, lidah berdeviasi ke
sisi parese.
19

- Meminta penderita menyentuhkan lidah ke pipi kiri dan


kanan. Saat bersamaan, tangan pemeriksa ditempatkan
di pipi sisi luar untuk merasakan kekuatan sentuhan
lidah penderita.
3. Meminta penderita mengucapkan huruf R atau kata-kata yang
mengandung huruf R, misalnya ular lari lurus. Pemeriksaan ini
untuk menilai apakah ada disartria (cadel atau pelo).
K. SETELAH SELESAI PEMERIKSAAN 1 2 3
1. Jelaskanlah pada pasien apa yang anda dapatkan pada semua
pemeriksaan yang telah dilakukan.
2. Ucapkanlah kata perpisahan dengan pasien dan usahakanlah
membesarkan hati pasien dengan harapan-harapan.
3. Lakukanlah cuci tangan rutin.
20

PEMERIKSAAN PSIKIATRIK

I. WAWANCARA
PENGETAHUAN SIKAP

Genetika
Temperamen Keprihatinan
Biologis Empati Kepercayaan agar
Perkembangan Rasa hormat pasien bicara jujur
Sosial Rapport
Psikologi

ANANAMNESA STATUS MENTAL DIAGNOSA PROBLEMA TERAPI

TEHNIK WAWANCARA DARI NANCY ANDERSON & DONALD BLACK

1. Membina rapport seawal mungkin pada wawancara


2. Tentukan keluhan utama pasien
3. Gunakan keluhan utama untuk mengembangkan diagnosis banding dan diagnosis
sementara
4. Singkirkan atau masukan berbagai kemungkinan diagnosis dengan menggunakan
pertanyaan terpusat dan terinci
5. Ikuti jawaban yang samar-samar atau tak jelas dengan gigih untuk menentukan
akurasi jawaban pertanyaan.
6. Biarkan pasien berbicara dengan cukup bebas untuk mengamati bagaimana kuatnya
pikiran berkaitan
7. Gunakan campuran pertanyaan terbuka dan tertutup.
8. Jangan takut menanyakan tentang topik yang anda anggap pasien rasakan sulit atau
memalukan
9. Tanyakan tentang pikiran bunuh diri
10. Berikan pasien kesempatan untuk mengajukan pertanyaan pada akhir wawancara.
11. Simpulkan hasil wawancara awal dengan mendapatkan rasa percaya dan jika
mungkin harapan

Lamanya wawancara atau konsultasi biasanya ½ - 1 jam, Sedangkan “The American Board of
Psychiatry and Neurology” menetapkan lamanya 30 menit.
- Pasien cemas datang lebih awal cari alasannya.
- Pasien datang terlambat menunjukkan keengganan untuk bertemu dokter
- Pada wawancara awal dokter membuat catatan informasi yang penting mengenai
riwayat, peristiwa penting dalam kehidupan pasien, medikasi, mimpi-mimpi.
- Pada wawancara selanjutnya, tanyakan apa yang terpikir tantang wawancara pertama
dan catat tiap reaksi terhadap pengalaman tsb.
- Pada pasien depresi tanyakan gejala-gejala yang berhubungan dengan deresi seperti : ide
- ide bunuh diri.

Ada dua macam wawancara :


1. Auto-anamnesa adalah wawancara yang dilakukan terhadap pasien
21

2. Allo-anamnesa yaitu wawancara yang dilakukan terhadap keluarga, teman, tetangga pasien
atau orang lain yang mengetahui tentang aktivitas dari pasien.

Wawancara Khusus
1. Wawancara dengan pasien ancaman bunuh diri :
- Tanyakan adakah rencana untuk mengakhiri hidup.
- Tanyakan dan catat adanya rencana bunuh diri sebelumnya
- Tanyakan adanya riwayat bunuh diri dalam keluarga.
2. Wawancara dengan pasien kasar :
- Nyatakan bahwa dokter mampu menangani hal-hal yang menyenagkan maupun -
yang tidak menyenangkan dan tidak menyenangkan.
- Tentukan perlu tidaknya kontak verbal dengan pasien tsb.
- Pada pasien kasar dengan pengekangan :
- Jika pasien tenang kendurkan pengekangannya.
- Jika pasien agitasi pengekangan dipertahankan
- Hindari konfrontasi dengan pasien tsb.
3. Pasien dengan “Waham :
- Waham pasien tidak beoleh ditantang langsung karena akan meningkatkan
kecemasan pasien akan mati atau mempertahankannya.
- Tiadak boleh pura-pura mempercayai waham pasien
- Pendekatan yang sangat membantu adalah menyatakan bahwa dokter mengerti
(keyakinan pasien akan waham adalah benar tetapi dokter tidak mempunyai
keyakinan yang sama.
Metode penggalian Waham :
1. Waham Kejar (sedang diikuti, rumahnya dipasangi alat perekam, diamati
pemerintah
Pertanyaan :
- Apakah anda mengalami kesulitan dalam bersam-sama orang lain ?
- Apakah anda merasa ada orang-orang yang bersekongkol untuk menentang
atau membahayakan anda ?
2. Waham Cemburu (merasa pasangan punya hubungan gelap)
Pertanyaan :
- Apakah anda takut pasangan anda tidak jujur? Bukti apa yang anda miliki
3. Waham Dosa atau Bersalah ( merasa telah melakukan dosa, merasa bertanggung
jawab atas tndakan yang tidak dapat dimaafkan, merasa patut dihukum)
Pertanyaan :
- Apakah anda merasa bahwa anda telah melakukan hal-hal yang menakutkan ?
- Apakah ada yang mengganggu kesadaran anda ? Apakah itu ?
4. Waham Kebesaran (Merasa memiliki kekuatan,kemampuan, identitas khusus).
Pertanyaan :
- Apakah anda memiliki kekuatan, bakat, atau kemampuan khusus ?
- Apakah anda merasa bahwa anda akan mencapai hal-hal yang besar ?

5. Waham Somatik (Merasa yakin tubuhnya menderita penyakit, abnormal atau berubah)
Pertanyaan :
- Apakah anda merasa ada gangguan dalam tubuh anda ?
- Adakah ada melihat adanya perubahan pada tubuh anda ?
6. Gagasan atau Waham yang menyangkut diri sendiri (Ideas and dellusion of
Reference).
22

- Adakah bila anda berjalan kedalam suatu ruangan, anda berpikir orang lain
membicarakan atau menertawakan anda?
- Apakah anda melihat dimajalah atau di TV menyebut diri anda atau memiliki arti
khusus.
- Apakah anda mmenerima pesan khusus dengan suatu cara ?

7. Siar Pikiran, Penyisipan pikiran, dan penarikan pikiran


Pertanyaan :
- Apakah anda mendengar pikiran anda berbicara seakan-akan ada suara dari
luar kepala anda ?
- Apakah anda merasa, bahwa pikiran anda disiarkan sehingga orang lain
mendengarnya
- Apakah anda merasa bahwa ada pikiran yang dimasukkan kedalam kepala
anda oleh orang-orang atau sumber-sumber dari luar,
- Apakah anda merasa bahwa pikiran anda telah diambil oleh sumber atau orang-
diluar.

4. Wawancara dengan Pasien Berhalusinasi :


- Ditanyakan apa dia pernah mengalami sesuatu yang luar biasa seperti dapat
mendengar yang orang lain tak mendengar, melihat sesuatu yang tidak terlihat
oleh orang lain atau merasakan sesuatu yang aneh menjalar ditubuhnya ?

I. RIWAYAT PSIKIATRI

Riwayat psikiatri adalah catatan kehidupan pasien yang memungkinkan dokter


psikiatrik untuk mengerti siapa pasien, dari mana pasien berasal dan apa yang dialaminya.

Garis besar dari riwayat psikiatri terdiri dari :


1. Identifikasi
- Data demografik ringkas nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, status
perkawinan dsb.
- Informasi tempat dan situasi dimana wawancara dilakukan
2. Keluhan Utama :
- Dengan kata-kata pasien sendiri yang menyatakan mengapa ia datang atau dibawa
untuk mendapatkan bantuan
- Jika pasien tak mampu bicara catat tentang gambaran orang yang memberikan
informasi
3. Riwayat Penyakit Sekarang :
- Gambaran lengkap dan kronologis tentang peristiwa yang menyebabkan pasien
datang berobat, dimulai dari awal (onset), faktor pencetus, dan perkembangan
gejalanya sampai saat ia datang meminta pertolongan.
- Juga jelaskan pengaruh gangguan yang dialami terhadap aktivitas kehidupannya,
serta sifat disfungsi dan keparahannya.

4. Riwayat Penyakit Dahulu/Sebelumnya :


- Menjelaskan penyakit psikiatri, medis, dan penyalah gunaan zat/obat yang pernah
dialami sebelumnya.
- Bagaimana gejalanya, keparahannya, jenis pengobatan, perawatannya dan dimana ia
dirawat.
5. Riwayat Pribadi :
23

1) Riwayat Prenatal & Natal :


- Situasi tempat pasien dilahirkan dan apakah pasien anak yang direncanakan
atau diinginkan kelahirannya.
- Adakah masalah kehamilan, persalinan, cedera atau kecacatan kelahiran ?
- Apakah ada masalah kesehatan dengan ibu pasien selama kehamilan ?
- Apakah ibu pasien menggunakan alkohol dan atau zat/obat adiktif atau merokok
selama hamil ?
2) Riwayat Masa Kanak-kanak awal (1 - 3 tahun)
- Bagaimana kualitas interaksi ibu dan anak selama pemberian makanan dan toilet
training?
- Adakah penyakit psikiatrik atau medis pada orang tua yang mempengaruhi
interaksi keduanya ?
- Bagaimana hubungan dengan saudara kandung atau anggota keluarga yang lain ?
- Bagaimana sifatnya apakah pemalu, hiperaktif, takut-takut, menarik diri atau
senang menyendiri ?
- Bagaimana kebiasaan makan ?
- Bagaimana perkembangan motorik dan perkembangan psikologis ?
- Adakah masalah perilaku seperti mengisap jari, pemarah, ngompol dsb.
3) Riwayat Masa Kanak-kanak Pertengahan (3 - 11 tahun)
- Adakah gangguan identifikasi jenis kelamin ?
- Bagaimana pengalaman awal masuk sekolah ?
- Data persahabatan dan hubungan pribadi, jumlah teman dan keakraban, dan
perannya dalam dalam aktivitas kelompok sebagai pimpinan ataukah sebagai
pengikut ?
- Riwayat gangguan belajar dan perilaku sosial.
4) Riwayat Masa Kanak-kanak Akhir/Pubertas/Remaja (11 - 18 tahun)
- Hubungan sosial.
- Riwayat sekolah
- Perkembangan kognitif
- Masalah emosional dan fisik
- Seksualitas.
5) Riwayat Masa Dewasa :
a. Riwayat Pekerjaan
b. Riwayat Pendidikan
c. Riwayat Perkawinan
d. Aktivitas Sosial
e. Riwayat Militer

6) Riwayat Keluarga
- Riwayat gangguan psikiatrik dalam keluarga
- Bagamana sikap pasien terhadap orangtua dan saudara-saudaranya ?
- Mimpi-mimpi, fantasi dan sistim nilai sosial serta moral pasien

7) Situasi Hidup Saat Sekarang


- Keadaan lingkungan perumahan atau tempat tinggal
- Keadaan sosial ekonomi
- Pekerjaan
24

II. STATUS MENTAL.

1. Deskripsi umum :
1) Penampilan :
Adalah gambaran tentang penamilan dan kesan fisik secara keseluruhan yang
tercermin dari postur, ketenangan, pakaian dan dandanan seperti :
tampak sehat/sakit, kelihatan tua/muda, kusut, seperti anak-anak dan kacau.
2) Kesadaran :
- Menilai tingkat kesadaran : berkabut, berubah, fugue, somnolent, stupor, koma ,
letargi dsb.
- Kesadaran berkabut : adalah penurunan kewaspadaan terhadap lingkungan secara
menyeluruh.

3) Perilaku psikomotorik :
- Termasuk didalamnya aspek kwalitatif dan kwantitatif dari perilaku pasien -
Termasuk didalamnya adalah : mannerisme, stereotifik, hiperaktif, hipoaktif,
agitasi dan kedutan.
4) Bicara : menggambarkan karakteristik fisik dari bicara dalam bentuk kwantitas,
kecepatan produksi bicara, dan kualitasnya. Misalnya : cepat / lambat, ragu-ragu,
emosional, keras, berbisik-bisik, dramatik,
5) Sikap terhadap pemeriksa :
- Digambarkan sebagai : Kooperatif, bersahabat, bermusuhan, seduktif, main-main

2. Mood dan Afek


1) Afek / mood : adalah emosi yang meresap dan terus menerus mewarnai persepsi
seseorang tentang dunianya.
- Perasaan ini dapat diutarakan langsung oleh pasien atau diminta pasien
mengatakannya
- Perasaan ini digambarkan dengan kata sifat seperti : depresi, kecewa, cemas,
gembira, euforia, meluap-luap.
2) Expresi Afektif : adalah respons emosional pasien yang tampak pada wajah dan
perilaku pasien :
- Digambarkan dalam rentang : Normal, terbatas, tumpul, dan datar.
- Afek Normal : terdapat variasi dalam expresi wajah, irama suara, gerak tubuh
- Afek Terbatas : Terdapat penurunan yang jelas dalam rentang & intensitas
expresi
- Afek Tumpul : Expresi emosional yang menurun lebih jauh.
- Afek Datar : Tidak tampak tanda-tanda expresi afektif, suara monoton, wajah
tidak bergerak (immobil).
3) Keserasian : adalah kesesuaian respons emosional pasien dengan masalah subjektif
yang didiskusikan. Dilukiskan sebagai serasi dan tidak serasi.

4) Empati : penghayatan dan pemahaman terhadap pasien apakah dapat dimengerti (dapat
dirabarasakan) atau tidak (tidak dapat dirabarasakan).

3. Gangguan Persepsi :
1) Halusinasi :
- Apakah pernah mengalami suatu hal yang luar biasa, ganjil, dan aneh seperti :
mendengar suara yang tidak didengar orang lain, merasakan sensasi aneh pada tubuh,
melihat sesuatu yang tidak dapat dilihat orang lain.
25

2) Ilusi : kesalahan interpretasi / persepsi panca-indra terhadap rangsangan external..


3) Depersonalisasi : perasaan aneh terhadap diri sendiri atau merasa bahwa pribadi
tidak seperti biasanya atau berubah.
4) Derealisasi : perasaan aneh tentang lingkungannya yang tidak sesuai dengan
kenyataan.

4. Pikiran : gagasan, simbol, atau asosiasi yang diarahkan oleh tujuan yang dimulai oleh
suatu masalah atau tugas dan mengarah kepada kenyataan.
- Gangguan Pikiran dibedakan dalam 3 hal :
1) Gangguan bentuk pikiran terdiri dari :
a. Dereisme : proses pikir yang tidak mengikuti kenyataan, logika, dan
pengalaman.
b. Autistik : hidup dalam alamnya sendiri tanpa mempedulikan sekitarnya.
c. Pikiran tidak realistik : pikiran yang tidak berdasarkan kenyataan.

2) Gangguan Arus pikiran :


a. Perseverasi : Berulan-ulang menceritakan suatu ide, pikiran atau tema secara
berlebih-lebihan.
b. Assosiasi Longgar : mengatakan sesuatu yang tidak saling berhubungan satu
sama lain.
c. Inkoherensi : gangguan dalam bentuk bicara dimana dalam suatu kalimat
sukar atau tidak dapat ditangkap atau diikuti maksudnya.
d. Benturan (Blocking) : Jalan pikiran yang tiba-tiba berhenti ditengah kalimat,dan
pasien tak dapat menerangkan apa sebabnya.
d. Logorrhoe : banyak bicara, kata-kata yang dikeluarkan banyak tanpa dapat
dikontrol, mungkin koheren atau inkoherent.
e. Lompat gagasan / ide (Flight of ideas) : perubahan yang mendadak dan cepat
dalam pembicaraan sehingga suatu ide yang belum selesai diceriterakan sudah
disusul oleh ide yang lain.
f. Neologisme : membentuk kata-kata baru yang tidak dipahami umum.
g. Pikiran Berputar-putar (Sirkumstansial): pembicaraan yang tidak langsung pada
pokoknya dengan menambah banyak hal yang menjemukan dan tidak relevan

3) Gangguan Isi Pikiran :


a. Fantasi (Hayalan) : isi pikiran tentang suatu keadaan atau kejadian yang
diharapkan atau diinginkan tetapi dikenal sebagai bukan kenyataan.
b. Fobia : rasa takut yang irasional terhadap suatu benda atau keadaan yang tidak
dapat dihilangkan atau ditekan oleh pasien, meskipun hal itu diketahui tidak
rasional.
c. Preokupasi : Pemusatan isi pikiran pada ide tertentu.
d. Waham : keyakinan yang salah / palsu, yang tidak dapat dikoreksi dengan
alasan apapun
e. Obsesi : perasaan atau pikiran yang tidak rasional dan tidak dapat ditentang serta
tidak dapat dihilangkan dari kesadaran oleh usaha logika, dan bila dilawan atau
ditentang akan menimbulkan kecemasan.
26

5. Fungsi Kognitif :

a. Orientasi : Kesadaran akan lingkungan yang terdiri dari orientasi waktu, tempat dan
orang
b. Daya ingat : terbagi dalam kategori :
- Daya ingat jangka panjang (Remote Memory) : dengan bertanya tentang informasi
masa kanak-kanak yang selanjutnya diperjelas.
- Daya ingat masa lalu yang belum lama (Recent Past Memory) dengan meminta pasien
mengingat peristiwa-peristiwa
- Daya ingat segera (Recent Memory) dengan mengulangi enam angka maju kemudian
mundur.
c. Konsentrasi dan perhatian : untuk mengujinya dengan mengurangi 7 dari 100
secara berurut tiga kali, jika tidak dengan mengurangi 3 secara berurut atau 4 X
9,Untuk menguji perhatian dengan kemampuan berhitung atau mengeja kata
secara mundur. atau penderita diminta untuk bereaksi secara cepat
terhadap apa yang telah dibaca atau ditulisnya
Biasanya konsentrasi dan perhatian dilukiskan sebagai konsentrasi tak dapat
dipusatkan atau perhatian mudah dialihkan atau sukar dipertahankan.
d. Berpikir Abstrak : adalah kemampuan pasien berhadapan dengan konsep
(mengkonsepsualisasikan atau menangani suatu gagasan) dengan menjelaskan
kemiripan, peribahasa dsb)
e. Intelegensi : berhubungan dengan tingkat pengetahuan, pendidikan dan
perbendaharaan kata. Untuk mengujinya diminta untuk menghitung kembalian
dari Rp 1000,- yang telah dibelanjakan Rp 650,-.

6. Pengendalian Impuls : Kemampuan untuk mengendalikan dorongan agresi dan


seksual.

7. Tilikan (Insight) : adalah derajat kemampuan pasien untuk mengerti penyebab


sebenarnya dan arti dari suatu situ asi atau keadaan (seperti sekumpulan gejala),
atau derajat kesadaran dan pengertian bahwa dirinya sakit.
Tingkatan tilikan :
1) Penyangkalan penyakit sama sekali
2) Agak menyadari bahwa dirinya sakit dan butuh bantuan, tapi dalam waktu
yang bersamaan dia juga menyangkali penyakitnya
3) Sadar bahwa dirinya sakit, tetapi melemparkan kesalahan pada orang lain,
pada faktor external, atau faktor organik.
4) Sadar bahwa penyakitnya disebabkan oleh sesuatu yang tidak diketahui pada
dirinya.
5) Tilikan Intelektual : Mengerti kenyataan objektif tentang suatu situasi atau
keadaan tanpa kemampuan untuk menerapkan pengetahuan itu dalam usaha
untuk mengatasi situasi atau keadaan itu.
6) Tilikan Emosional : Mengerti kenyataan objektif tentang suatu situasi
disertai daya pendorong (impetus) motivasi dan emosional untuk mengatasi
situasi tsb.

8. Pertimbangan (Judgment) : adalah kemampuan untuk menilai situasi secara benar dan
untuk bertindak secara tepat dalam situasi tersebut.
27

9. Kepercayaan (Reliabilitas) : adalah kesan dokter terhadap pasien apakah dapat dipercaya
atau tidak dan kemampuan pasien untuk melaporkan situasinya dengan akurat dan juga
dimasukkan perkiraan kesan dokter akan kebenaran dan kejujuran pasien.

III. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK LANJUTAN :

1. Pemeriksaan Fisik Umum


2. Pemeriksaan Neurologis
3. Wawancara psikiatrik lanjutan
4. Tes Psikologik
5. Pemeriksaan penunjang lainya : Laboratorium, Radiologi, EEG, EKG dsb.

IV. IKHTISAR BERMAKNA :


Ikhtisar penemuan bermakna adalah ringkasan dari apa yang data riwayat, status
mental, temuan medis, laboratorium, tes psikologis, dan neurologis.

V. FORMULASI PSIKODINAMIKA :
Formulasi Psikodinamika adalah suatu ringkasan dari :
- pengaruh psikologis yang menyebabkan gangguan pada pasien
- pengaruh-pengaruh kehidupan pasien yang berperan dalam penyakitnya sekarang -
- faktor lingkungan dan kepribadian yang relevan dalam menentukan gejala-gejala
pasien dan
- bagaimana pengaruh-pengaruh tsb berinteraksi dengan susunan genetika,
temperamen, biologis pasien untuk tujuan primer dan sekunder.
- Garis besar tentang mekanisme perubahan mekanisme pertahanan utama yang
digunakan.

V. DIAGNOSTIK MULTIAKSIAL :
Aksis I : Semua sindroma klinik (Gangguan Mood, Skizofrenia, cemas dsb)
Aksis II : Ciri atau Gangguan kepribadian dan Retardasi Mental.
Aksis III : Setiap Penyakit Medis yang ada (Epilepsi, Penyakit
Kardiovaskuler)
Aksis IV : Masalah Psikologis lingkungan yang relevan dengan penyakit
Aksis V : Penilaian Fungsi Global yang ditunjukkan selama wawancara

VI. PROBLEM :
1. Organobiologik : Masalah yang terkait dengan gangguan/ keluahan fisik
2. Psikologik : Masalah yang terkait dengan gangguan psikologik seperti
perasaan, pikiran dan perilaku.
3. Sosial : Masalah yang terkait dengan aktivitas sosial dan pekerjaan
VII. RENCANA TERAPI :
- Susun rencana pengobatan sesuai dengan gejala yang menjadi sasaran
pengobatan.
- Tentukan jenis pengobatan dan kombinasi yang harus diterima pasien
- Tempatkan pasien dalam lingkungan pengobatan yang sesuai.
- Tentukan lama pengobatan dan jenis psikoterapi (individu, kelompok,
keluarga).
- Jika pasien dirawat inapkan tentukan :
28

1) Alasannya
2) Jenis perawatan yang indikasikan
3) Kemungkinan lamanya dirawat
4) Urgensi perawatan.
Jenis Pengobatan yang diberikan :
1. Psikofarmaka : Anti psikotik, anti depresan, anti mania, anti ansietas
2. Psikoterapi : psikoanalisa, kognitif, behavior, supportif, kelompok,
keluarga.
3. Terapi Sosial : terapi kerja, terapi seni, rehabilitasi.

VIII. PROGNOSIS :
Prognosis adalah pendapat tentang perjalanan penyakit segera dan dimasa
datang, tingkat dan akibat gangguan
Tentukan faktor yang mmendukung kearah baik dan kearah buruk.

Prognosis skizofrenia yang baik berkaitan dengan :


1) Onset akut dengan faktor presipitasi yang jelas.
2) Riwayat premorbid sosial dan pekerjaan baik
3) Ada gejala gangguan mood (khususnya depresi)
4) Subtipe Paranoid
5) Kemungkinan sub tipe Katatonik yang berhubungan dengan
gangguan mood.
6) Status menikah
7) Riwayat keluarga dengan gangguan mood.
8) Gejala positif menonjol (predominance)
9) Kebingungan
10) Tegang, cemas dan bermusuhan.

Prognosis yang buruk berkaitan dengan :


1) Onset yang perlahan (insidious) dengan faktor presipitasi yang tidak
jelas
2) Riwayat premorbid sosial dan pekerjaan buruk
3) Menarik diri dan tingkah laku autistik.
4) Subtipe Hebifrenik dan Tak Terinci (Undifferentiated)
5) Tidak menikah
6) Riwayat keluarga Skizofrenia
7) Riwayat Kesukaran melahirkan
8) Terdapat gejala dan tanda-tanda neurologik
9) Gejala Negatif menonjol (predominance).
10) Tidak ada gejala-gejala gangguan mood/gangguan aktifitas yang
berlebihan.
29

ROLE PLAY

TUJUAN PEMBELAJARAN

Tujuan Pembelajaran Umum(TIU)

Setelah mahasiswa selesai bermain peran, mahasiswa diharapkan telah mampu melakukan
anamnesis baik oto-anamenesis maupun halo-anamnesis.

Tujuan Pembelajaran Khusus (TIK)


Setelah selesai bermain peran, diharapkan mahasiswa telah mampu:
A. melakukan oto-anamenesis
1. mampu melakukan sambung rasa dengan pasien
2. mampu menggali data pribadi pasien
3. mampu menggali riwayat penyakit sekarang
4. mampu menggali riwayat lingkungan yang ada hubungannya dengan keadaan
pasien sekarang.
5. mampu menggali riwayat penyakit serupa dimasa lalu
6. mampu menggali riwayat pengobatan yang pernah diterima oleh pasien.
B. melakukan halo-anamensis
1. mampu melakukan sambung rasa keluarga atau yang mengantar pasien
2. mampu menggali data pribadi pasien dari keluarga atau yang mengantar pasien
3. mampu menggali riwayat penyakit pasien sekarang dari keluarga atau yang
mengantar pasien
4. mampu menggali riwayat lingkungan dari keluarga atau yang mengantar pasien,
yang ada hubungannya dengan keadaan pasien sekarang.
5. mampu menggali dari keluarga atau yang mengantar pasien, riwayat penyakit
pasien yang serupa dimasa lalu
6. mampu menggali dari keluarga atau yang mengantar pasien, riwayat pengobatan
yang pernah diterima oleh pasien.
30

DESKRIPSI KEGIATAN

Kegiatan Waktu Deskripsi


# 1. Pengantar 2 menit Pengantar
# 2. Penjelasan tentang 30 menit 4. Mengatur posisi duduk mahasiswa
Role Play 5. Instruktur menjelaskan scenario role
play
6. Instruktur memberikan kesempatan
kepada mahasiswa untuk bertanya
dan dosen memberikan penjelasan
tentang aspek-aspek yang penting
# 3. Praktek bermain peran 100 menit 5. Mahasiswa dibagi menjadi kelompok
dengan Umpan Balik yang terdiri dari 3 orang. Satu yang
akan jadi dokter, satu jadi pasien dan
satu menajdi keluarga/pengantar..
Diperlukan minimal seorang
Instruktur untuk menga-mati setiap
langkah yang dilakukan oleh paling
banyak 4 kelompok..
6. Setiap kelompok berpraktek mela-
kukan langkah-langkah anamnese
secara serentak
7. Instruktur berkeliling diantara ma-
hasiswa dan melakukan supervisi
menggunakan ceklis
8. Instruktur memberikan pertanyaan
dan umpan balik kepada setiap
pasangan
# 4. Curah Pendapat/ 15 menit 3. Curah Pendapat/Diskusi : Apa yang
Diskusi dirasakan mudah? Apa yang sulit?
Menanyakan bagaimana perasaan
mahasiswa yang pada saat
bertanya.pada pasien atau
keluarganya. Apa yang dapat
dilakukan oleh dokter agar pasien
merasa lebih nyaman?
4. Instruktur membuat kesimpulan
dengan menjawab pertanyaan terakhir
dan memperjelas hal-hal yang masih
belum dimengerti
Total waktu 150 menit

SKENARIO 1: MEMILIH OPSI

Saut, laki-laki, 23 tahun, mahasiswa drop-out. Sudah mengenal “drug” sejak umur 16 tahun.
Meulai dari rokok, ganja, alkohol, acid, ubas, XTC dan sampai sekarang putauw. Kedua orang tuanya
31

berlainan agama, sering bertengkarmengenai hal-hal sepele. Ayahnya seorang dari suku tapanuli,
penssiunan pejabat Deperindag, cukup keras mendidik keluarganya. Ibunya berasal dari Jawa ,
sangat submisif dan dalam pertengkaran selalu membela anak-anaknya. Saut mempunyai seorang
kakakwanita yang telah menikah, tanpa mendapat restu ayahnya. Setelah selesai SMA, Saut dikirim
orangtuanya sekolah ke New Zaeland dan selama 2 tahun ia “clran”, hanya sekali-kali alkohol. Setiap
6 bulan sekali ia pulang ke Jakartadan bila di Jakartala menggunakan kembali putauw . Dua tahun
yang lalu Saut masuk program rehabilitasi atas inisiatif ayahnya. Saut terlibat mengeroyok seorang
residen dipanti rehabillitasi tsb sampai meninggal dan Saut dihukum penjara selama 1 tahun. Selama
dalam penjara ia tetap menggunakan putauw secara rutin. Lima hari setelah ia menyelesaikan
hukumannya ia ditangkap polisi lagi karena terlibat transaksi putauw dan dihukum selama 5 bulan.
Selama dipenjara ia mengaku tidak menggunakan “drugs”. Setelah seminggu keluar penjara ia mulai
lagi menggunakan putauw terutama karena jengkel melihat ayahnya yang “resek”. Ia mencintai
seorang wanita, asal Betawi, dan sangat ingin bertunangan dengannya. Namun orangtua kurang
menyetujuinya, karena ia menganggur dan masih menggunakan putauw.
Saut telah berkali-kali dibawa ke dokter untuk mendapatkan terapi detoksifikasi. Dan saat ini
Saut datang berkonsultasi ke Anda dibawa ibunya karena sebelum bertunangan ia dituntut harus “
bersih”.
Pemeriksaan medik menunjukkan HCV positif, sedang HIV negatif. Pada lengan dan
punggung tangan terdapat bekas cicatric bekas suntikan. Saut mengakuia menggunakan putauw 5 jam
yang lalu.

SETTING
Tempat praktek dokter, dokter sedang melakukan wawancara terhadap pasien yang
datang bersama ibunya. Ayah turut mengantar, tetapi hanya menunggu diluar. Pasien tampak “agak
arogan”, acuh .

TUGAS ANDA
PERAN DOKTER : Melakukan wawancara dan mengumpulkan sejumlah informasi dari
pasien untuk mempertimbangkan terpai apa yang akurat dan sesuai dengan pasiennya. Dokter
diberikesempatan untuk menerangkan dan menawarkan opsi-opsi terapi dan program terapi
apa yang direncanakan untuk Saut dan keluarganya.

PERAN PASIEN SAUT : Tampak ”agak arogan”, “acuh tak acuh” terhadap terapi yang
ditawarkan dokter. Ia menjawab pertanyaan dokter seadanya dan tampak kurang berminat
dan bersikap sinis terhadap ibunya.
32

PERAN IBU PASIEN: Tampak depresi dan sekali-kali memegang bahu Saut dalam
wawancara

SKENARIO 2 : PSIKOTIK

Pasien seorang laki-laki berusia 30 tahun. perawakan kurus, pakaian Dibalik


rambutnya yang hitam tampak wajah yang ganteng sangat gelap tertutupi oleh jenggotnya Ia
datang diantar oleh ibunya yang merasa terganggu dengan perilaku pasien yang selalu
berguman pada diri sendiri seperti menjawab seseorang,.Saat diwawancarai ia berbicara
halus dan agak lambat dengan wajah tanpa ekspresi, suaranya datar tanpa penekanan. Ia
menceritakan bahwa ia sering diikuti oleh seorang wanita yang menginginkan menjadi
suami. Menurut ibunya pasien terkena guna-guna.

SETTING
Tempat disebuah klinik jiwa, dimana tampak seorang dokter yang sedang melakukan
wawAncara terhadap pasien yang datang bersama ibunya

PERAN DOKTER : melakukan wawancara dan mengumpulkan informasi sebanyak


mungkin dari pasien dan ibunya untuk membuat suatu diagnosa dan menyusun rencana terapi

PERAN PASIEN : Tampak lebih banyak diam dan berbicara sedikit bila ditanya dengan
wajah tanpa ekspresi.. Serta kadang-kadang berguman sendiri seperti berbicara kepada
seseorang disamping kirinya.

PERAN IBU PASIEN : Tampak bersemangat menceritakan segala hal yang dialami
anaknya dengan ekspresi agak tegang. .

SKENARIO 3 : GANGGUAN TIDUR

Seorang wanita berumur 30 tahun datang ke tempat praktek dokter dengan keluhan
sudah tiga hari tidak dapat tidur nyenyak. Ia sering terbangun dan sulit tertidur kembali.
Selain itu ia juga merasa cepat lelah dan tidak bertenaga, nyeri punggung, sakit kepala.. Hal
33

ini menyebabkannya tidak dapat menyelesaikan pekerjaaannya sehari-hari sebagai ibu rumah
tangga. Saat diwawancarai tampak berbicara perlahan dan nyaris tidak terdengar sehingga
dokter seringkali harus mengulangi apa yang dikatakan pasien. Ia sering tertunduk tidak
berani menatap pemeriksa.

SETTING :
Dokter melakukan wawancara dengan pasiennya.

TUGAS ANDA
Tugas Dokter: melakukan wawancara guna :
1. Menyusun riwayat psikiatri
2. Menegakkan diagnosis sementara
3. Menyusun rencana terapi
4. Memotivasi pasien untuk kesembuhannya

Pasien memberikan informasi yang sebenarnya dengan lengkap


34

DAFTAR TILIK
KETERAMPILAN MEMERIKSAAN FUNGSI MOTORIK
Petunjuk : Berilah tanda (√) pada kotak yang sesuai.
Nilai : 0 bila tidak dilakukan
1 bila dilakukan tapi belum memuaskan
2 bila memuaskan

NO. ASPEK YANG DINILAI NI LAI


A. PERSIAPAN PENDERITA 0 1 2
Melakukan sambung rasa antara pemeriksa dan pasien dengan
baik
Melakukan informed concent dengan baik
B. BENTUK OTOT 0 1 2
Melakukan observasi pada semua otot
Memeriksa perubahan bentuk otot (normal, hipertrofi,
hipotrofi )
Mencari ada atau tidaknya fasikulasi otot
C. TONUS OTOT 0 1 2
Membaringkan pasien dan membuat pasien rileks
Memeriksa tonus otot lengan kanan dengan benar
Memeriksa tonus otot lengan kiri dengan benar
Memeriksa tonus otot tungkai bawah kanandengan benar.
Memeriksa tonus otot tungkai bawah kiri dengan benar
Melakukan penilaian tonus otot dengan benar
D. KEKUATAN OTOT 0 1 2
Memeriksa kekuatan otot bisep kanan dengan benar
Memeriksa kekuatan otot bisep kiri dengan benar
E. MENGAHIRI PEMERIKSAAN 0 1 2
Dapat menjelaskan hasil pemeriksaan pada pasien
Berpisah dengan pasien dengan baik
Melakukan cuci tangan rutin
35

DAFTAR TILIK
KETERAMPILAN MEMERIKSAAN FUNGSI SENSORIK
Petunjuk : Berilah tanda (√) pada kotak yang sesuai.
Nilai : 0 bila tidak dilakukan
1 bila dilakukan tapi belum memuaskan
2 bila memuaskan

NO. ASPEK YANG DINILAI NI LAI


A. PERSIAPAN 0 1 2
Melakukan sambung rasa dengan penderita
Melakukan inform concent dengan benar
Memilih dan menyiapkan alat yang akan diguna-kan dengan
benar
Melakukan cuci tangan rutin
B. PEMERIKSAAN SENSASI TAKTIL 0 1 2
Memberikan rangsangan secara ringan tanpa memberi
tekanan jaringan subkutan
Dapat meminta pasien untuk membantu pemeriksaan
C. PEMERIKSAAN SENSASI NYERI SUPERFISIAL 0 1 2
Memilih dengan benar alat yang akan dipakai
Melakukan rangsangan dengan intensitas minimal tanpa
menimbulkan luka/perdarahan
Meminta pasien untuk membantu pada pemeriksaan.
E. MENGAHIRI PEMERIKSAAN 0 1 2
Dapat menjelaskan hasil pemeriksaan pada pasien
Berpisah dengan pasien dengan baik
Melakukan cuci tangan rutin
36

DAFTAR TILIK
PEMERIKSAAN REFLEKS FISIOLOGIS

Petunjuk : Berilah tanda (√) pada kotak yang sesuai.


Nilai : 0 bila tidak dilakukan
1 bila dilakukan tapi belum memuaskan
2 bila memuaskan
NO. ASPEK YANG DINILAI NI LAI
A. PERSIAPAN 0 1 2
Melakukan sambung rasa dengan penderita
Melakukan inform concent dengan benar
Memilih dan menyiapkan alat yang akan digunakan dengan
benar
Membuat penderita duduk relaks
Melakukan cuci tangan rutin
B. PEMERIKSAAN REFLEK BISEPS 0 1 2
Memfleksikan lengan penderita dan lengan bawah dalam
posisi antara fleksi dan ekstensi serta sedikit pronasi
Meletakkan siku penderita pada tangan pemeriksa
Meletakkan ibu jari pemeriksa pada tendo biseps
Memukul ibu jari dengan refleks hammer
C. PEMERIKSAAN REFLEKS TRISEPS 0 1 2
Meletakkan lengan penderita di atas lengan/tangan
pemeriksa
Menempatkan lengan bawah penderita dalam posisi antara
fleksi dan ekstensi serta sedikit pronasi
Memukul tendo otot triseps yang terletak pada pada fosa
olekrani dengan hammer
D. PEMERIKSAAN REFLEKS BRAKHIORADIALIS 0 1 2
Menempatkan lengan bawah penderita dalam posisi antara
fleksi dan ekstensi serta sedikit pronasi
Meletakkan lengan bawah penderita di atas lengan bawah
pemeriksa
Memukul tendo brakhioradialis pada radius bagian distal
dengan memakai refleks hammer yang datar
E. PEMERIKSAAN REFLEKS PATELA 0 1 2
Dengan satu tangan memegang paha bagian distal tangan yang
lain memukul tendo patela dengan cepat
Menetapkan daerah tendo patella yang tepat dengan palpasi
Memukul tendo patela dengan benar.
F. PEMERIKSAAN REFLEKS ACHILLES 0 1 2
Meregangkan tendo achilles dengan menahan ujung kaki ke
arah dorsofleksi
Memukul tendo achilles dengan ringan tapi cepat
E. MENGAHIRI PEMERIKSAAN 0 1 2
Dapat menjelaskan hasil pemeriksaan pada pasien
Berpisah dengan pasien dengan baik
Melakukan cuci tangan rutin
37

DAFTAR TILIK
KETERAMPILAN MEMERIKSAAN REFLEKS PATOLOGIS

Petunjuk : Berilah tanda (√ ) pada kotak yang sesuai,


Nilai 0 = tidak dilakukan, 1 = dilakukan tapi tidak memuaskan, 2 = memuaskan

NO. ASPEK YANG DINILAI NI LAI


A. PERSIAPAN 0 1 2
Melakukan sambung rasa dengan penderita
Melakukan inform concent dengan benar
Membuat penderita duduk relaks
Melakukan cuci tangan rutin
PEMERIKSAAN REFLEKS BABINSKI
Menyiapkan pasien untuk pemeriksaan
Melakukan pemeriksaan refleks Babinski dengan benar
PEMERIKSAAN REFLEKS OPPEN HEIM
Menyiapkan pasien untuk pemeriksaan
Melakukan pemeriksaan refleks Openheim dengan benar
PEMERIKSAAN REFLEKS HOFFMAN-TROMMER
Menyiapkan pasien untuk pemeriksaan
Melakukan pemeriksaan refleks Hoffman-Trommer dengan
benar
MENGAHIRI PEMERIKSAAN
Memberi penjelasan tentang hasil pemeriksaan
38

DAFTAR TILIK
KETERAMPILAN MEMERIKSAAN FUNGSI MOTORIK
Petunjuk : Berilah tanda (√) pada kotak yang sesuai.
Nilai : 0 bila tidak dilakukan
1 bila dilakukan tapi belum memuaskan
2 bila memuaskan

NO. ASPEK YANG DINILAI NI LAI


B. PERSIAPAN PENDERITA 0 1 2
Melakukan sambung rasa antara pemeriksa dan pasien dengan
baik
Melakukan informed concent dengan baik
B. BENTUK OTOT 0 1 2
Melakukan observasi pada semua otot
Memeriksa perubahan bentuk otot (normal, hipertrofi,
hipotrofi )
Mencari ada atau tidaknya fasikulasi otot
C. TONUS OTOT 0 1 2
Membaringkan pasien dan membuat pasien rileks
Memeriksa tonus otot lengan kanan dengan benar
Memeriksa tonus otot lengan kiri dengan benar
Memeriksa tonus otot tungkai bawah kanandengan benar.
Memeriksa tonus otot tungkai bawah kiri dengan benar
Melakukan penilaian tonus otot dengan benar
D. KEKUATAN OTOT 0 1 2
Memeriksa kekuatan otot bisep kanan dengan benar
Memeriksa kekuatan otot bisep kiri dengan benar
E. MENGAHIRI PEMERIKSAAN 0 1 2
Dapat menjelaskan hasil pemeriksaan pada pasien
Berpisah dengan pasien dengan baik
Melakukan cuci tangan rutin

Komentar / Ringkasan : Tandatangan Koordinator/Instruktur ………………..

Rekomendasi : Tanggal : …………….

Nama Mahasiswa: ........................... No. Urut


39

DAFTAR TILIK
KETERAMPILAN MEMERIKSAAN FUNGSI SENSORIK
Petunjuk : Berilah tanda (√) pada kotak yang sesuai.
Nilai : 0 bila tidak dilakukan
1 bila dilakukan tapi belum memuaskan
2 bila memuaskan

NO. ASPEK YANG DINILAI NI LAI


A. PERSIAPAN 0 1 2
Melakukan sambung rasa dengan penderita
Melakukan inform concent dengan benar
Memilih dan menyiapkan alat yang akan diguna-kan dengan
benar
Melakukan cuci tangan rutin
B. PEMERIKSAAN SENSASI TAKTIL 0 1 2
Memberikan rangsangan secara ringan tanpa memberi
tekanan jaringan subkutan
Dapat meminta pasien untuk membantu pemeriksaan
C. PEMERIKSAAN SENSASI NYERI SUPERFISIAL 0 1 2
Memilih dengan benar alat yang akan dipakai
Melakukan rangsangan dengan intensitas minimal tanpa
menimbulkan luka/perdarahan
Meminta pasien untuk membantu pada pemeriksaan.
E. MENGAHIRI PEMERIKSAAN 0 1 2
Dapat menjelaskan hasil pemeriksaan pada pasien
Berpisah dengan pasien dengan baik
Melakukan cuci tangan rutin

Komentar / Ringkasan : Tandatangan Koordinator/Instruktur


………………..

Rekomendasi : Tanggal : …………….

Nama Mahasiswa: ........................... No. Urut


40

DAFTAR TILIK
PEMERIKSAAN REFLEKS FISIOLOGIS
Petunjuk : Berilah tanda (√) pada kotak yang sesuai.
Nilai : 0 bila tidak dilakukan
1 bila dilakukan tapi belum memuaskan
2 bila memuaskan

NO. ASPEK YANG DINILAI NI LAI


A. PERSIAPAN 0 1 2
Melakukan sambung rasa dengan penderita
Melakukan inform concent dengan benar
Memilih dan menyiapkan alat yang akan digunakan dengan
benar
Membuat penderita duduk relaks
Melakukan cuci tangan rutin
B. PEMERIKSAAN REFLEK BISEPS 0 1 2
Memfleksikan lengan penderita dan lengan bawah dalam posisi
antara fleksi dan ekstensi serta sedikit pronasi
Meletakkan siku penderita pada tangan pemeriksa
Meletakkan ibu jari pemeriksa pada tendo biseps
Memukul ibu jari dengan refleks hammer
C. PEMERIKSAAN REFLEKS TRISEPS 0 1 2
Meletakkan lengan penderita di atas lengan/tangan pemeriksa
Menempatkan lengan bawah penderita dalam posisi antara fleksi
dan ekstensi serta sedikit pronasi
Memukul tendo otot triseps yang terletak pada pada fosa olekrani
dengan hammer
D. PEMERIKSAAN REFLEKS BRAKHIORADIALIS 0 1 2
Menempatkan lengan bawah penderita dalam posisi antara fleksi
dan ekstensi serta sedikit pronasi
Meletakkan lengan bawah penderita di atas lengan bawah
pemeriksa
Memukul tendo brakhioradialis pada radius bagian distal dengan
memakai refleks hammer yang datar
E. PEMERIKSAAN REFLEKS PATELA 0 1 2
Dengan satu tangan memegang paha bagian distal tangan yang
lain memukul tendo patela dengan cepat
Menetapkan daerah tendo patella yang tepat dengan palpasi
Memukul tendo patela dengan benar.
F. PEMERIKSAAN REFLEKS ACHILLES 0 1 2
Meregangkan tendo achilles dengan menahan ujung kaki ke arah
dorsofleksi
Memukul tendo achilles dengan ringan tapi cepat

E. MENGAHIRI PEMERIKSAAN 0 1 2
Dapat menjelaskan hasil pemeriksaan pada pasien
Berpisah dengan pasien dengan baik
41

Melakukan cuci tangan rutin

Komentar / Ringkasan : Tandatangan Koordinator/Instruktur


………………..
Rekomendasi : Tanggal : …………….

Nama Mahasiswa: ........................... No. Urut

DAFTAR TILIK
KETERAMPILAN MEMERIKSAAN REFLEKS
PATOLOGIS
Petunjuk : Berilah tanda (√ ) pada kotak yang sesuai,
Nilai 0 = tidak dilakukan, 1 = dilakukan tapi tidak memuaskan, 2 = memuaskan

NO. ASPEK YANG DINILAI NI LAI


A. PERSIAPAN 0 1 2
Melakukan sambung rasa dengan penderita
Melakukan inform concent dengan benar
Membuat penderita duduk relaks
Melakukan cuci tangan rutin
PEMERIKSAAN REFLEKS BABINSKI
Menyiapkan pasien untuk pemeriksaan
Melakukan pemeriksaan refleks Babinski dengan benar
PEMERIKSAAN REFLEKS OPPEN HEIM
Menyiapkan pasien untuk pemeriksaan
Melakukan pemeriksaan refleks Openheim dengan benar
PEMERIKSAAN REFLEKS HOFFMAN-TROMMER
Menyiapkan pasien untuk pemeriksaan
Melakukan pemeriksaan refleks Hoffman-Trommer dengan
benar
MENGAHIRI PEMERIKSAAN
Memberi penjelasan tentang hasil pemeriksaan

Komentar / Ringkasan : Tandatangan Koordinator/Instruktur


………………..

Rekomendasi : Tanggal : …………….

Nama Mahasiswa: ........................... No. Urut


42

DAFTAR TILIK
KETERAMPILAN TEHNIK WAWANCARA
Petunjuk : Berilah tanda (√ ) pada kotak yang sesuai,
Nilai 0 = tidak dilakukan, 1 = dilakukan tapi tidak memuaskan, 2 = memuaskan

NO. ASPEK YANG DINILAI NILAI


ASPEK KETRAMPILAN KOMUNIKASI 0 1 2
A. Ketrampilan Membina hubungan
1. Memperlihatkan sikap menerima
2. Mempersilahkan klien duduk
3. Menyebut nama pasien pada awal anamnesis
B. Ketrampilan Mengumpulkan Informasi 0 1 2
4. Kemampuan melakukan cross-check
5. Kemampuan menggunakan bahasa verbal yang dipahami dan
nonverbal
6. Kemampuan menunjukkan sikap empati
7. Kemampuan mencatat/mengutarakan kembali secara runtut
C. Ketrampilan mempertahankan proses anamnesis 0 1 2
8. Mampu menjadi pendengar yang baik
9. Berpenampilan baik dan ramah
D. keterampilan memperoleh informasi medis pasien 0 1 2
10. Kemampuan menanyakan data pribadi klien
11. Kemampuan menanyakan keluhan utama
12. Kemampuan menggali riwayat penyakit sekarang
13. Kemampuan menggali riwayat penyakit dahulu
14. Kemampuan menggali riwayat penyakit keluarga dan
keadaan lingkungan
15. Kemampuan menggali penyakit-penyakit organik klien
16. Kemampuan membuat diagnosis & menetukan tindakan
43

E. Mengahiri wawancara
17. Melakukan perpisahan dengan pasien

Komentar / Ringkasan : Tandatangan Koordinator/Instruktur


………………..

Rekomendasi Tanggal : …………….

Nama Mahasiswa: ........................... No. Urut:

DAFTAR TILIK ROLE PLAY


KETERAMPILAN MENGAMBIL
OTO- DAN HALO-ANAMNESIS
Petunjuk : Berilah tanda (√ ) pada kotak yang sesuai,
Nilai 0 = tidak dilakukan, 1 = dilakukan tapi tidak memuaskan, 2 = memuaskan

NO. ASPEK YANG DINILAI NILAI


KETERAMPILAN OTO-ANAMNESIS 0 1 2
A. Ketrampilan Membina hubungan dengan pasien
1. Mampu melakukan sambung rasa dengan pasien
B. Ketrampilan Mengumpulkan Informasi 0 1 2
2. Kemampuan melakukan cross-check
3. Kemampuan menggunakan bahasa verbal dan nonverbal yang
dipahami
4. Kemampuan menunjukkan sikap empati
5. Kemampuan mencatat/mengutarakan kembali secara runtut
C. Ketrampilan mempertahankan proses anamnesis 0 1 2
6. Mampu menjadi pendengar yang baik
7. Berpenampilan baik dan ramah
D. Keterampilan mengumpulkan informasi tentang riwayat 0 1 2
penyakit
8. Kemampuan menanyakan data pribadi klien
9. Kemampuan menanyakan keluhan utama
10. Kemampuan menggali riwayat penyakit sekarang
11. Kemampuan menggali riwayat penyakit dahulu
12. Kemampuan menggali riwayat penyakit keluarga dan
keadaan lingkungan
13. Kemampuan menggali penyakit-penyakit organik klien
14. Kemampuan membuat diagnosis & menetukan tindakan

KETERAMPILAN HALO-ANAMNESIS
44

A. Periapan
1. Mampu melakukan sambung rasa dengankeluarga pasien
2. Mampu meberikan inform concent pada keluarga pasien
B. Ketrampilan Mengumpulkan Informasi
3. Mampu melakukan cross-check semmua informasi yang
sudah didapat dari pasien .
4. Mampu menumpulkan informasi tentang riwayat penyakit
pasien
5. Mampu menumpulkan informasi tentang riwayat kesehatan
keluarga
6. Mampu menumpulkan informasi keadaan lingkungan
7. Mampu menumpulkan informasi tentang riwayat
perkembangan apsien
C. Mengahiri wawancara
8. Melakukan perpisahan dengan pasien dan keluarganya
dengan baik

Komentar / Ringkasan : Tandatangan Koordinator/Instruktur


………………..

Rekomendasi : Tanggal : …………….

Nama Mahasiswa: No. Urut:


...........................
45

PEMERIKSAAN NEUROLOGIK

PENDAHULUAN
Pada Keterampilan Fisik Pemeriksaan Neurologik ini diharapkan mahasiswa mampu
melaksanakan tujuan instruksional Umum dan Tujuan Instruksional Khusus sebagai berikut :
Mahasiswa mampu melakukan
1. Pemeriksaan tanda rangsangan meningeal

1. PEMERIKSAAN TANDA RANGSANGAN MENINGEAL

Tujuan Instruksional Umum :


Mahasiswa mampu melakukan pemeriksaan tanda rangsangan meningeal

Tujuan Isntruksional Khusus :


- Mahasiswa mampu menjelaskan maksud dan cara pemeriksaan
- Mahasiswa mampu melakukan pemeriksaan kaku kuduk
- Mahasiswa mampu melakukan pemeriksaan brudzinski I dan II
- Mahasiswa mampu melakukan pemeriksaan Kernig
- Mahasiswa mampu menjelaskan kemungkinan penyebab kelainan pada pasien
- Mahasiswa mampu menyebutkan kasus dengan tanda rangsang meningeal (+)

Pemeriksaan Tanda Rangsangan Meningeal


a. Kaku kuduk:
Cara : Pasien tidur telentang tanpa bantal.
Tangan pemeriksa ditempatkan dibawah kepala pasien yang sedang berbaring,
kemudian kepala ditekukan ( fleksi) dan diusahakan agar dagu mencapai dada. Selama
penekukan diperhatikan adanya tahanan. Bila terdapat kaku kuduk kita dapatkan
tahanan dan dagu tidak dapat mencapai dada. Kaku kuduk dapat bersifat ringan atau
berat.
46

Hasil pemeriksaan:
Leher dapat bergerak dengan mudah, dagu dapat menyentuh sternum, atau fleksi
leher  normal
Adanya rigiditas leher dan keterbatasan gerakan fleksi leher  kaku kuduk

A.Sewaktu mengangkat kepala, badan ikut


terangkat.

B.Gerakan leher ke kanan atau kiri tidak


ada gangguan.

C.Gerakan dorsofleksi tidak ada tahanan

b. Brudzinski I:
Cara : Pasien berbaring dalam sikap terlentang, dengan tangan yang ditempatkan
dibawah kepala pasien yang sedang berbaring , tangan pemeriksa yang satu lagi
sebaiknya ditempatkan didada pasien untuk mencegah diangkatnya badan kemudian
kepala pasien difleksikan sehingga dagu menyentuh dada.
Hasil Pemeriksaan :
Test ini adalah positif bila gerakan fleksi kepala disusul dengan gerakan fleksi di sendi
lutut dan panggul kedua tungkai secara reflektorik.
47

c. Kernig :
Pada pemeriksaan ini , pasien yang sedang berbaring difleksikan pahanya pada
persendian panggul sampai membuat sudut 90 derajat. Setelah itu tungkai bawah
diekstensikan pada persendian lutut sampai membentuk sudut lebih dari 135 derajat
terhadap paha. Bila teradapat tahanan dan rasa nyeri sebelum atau kurang dari sudut
135 derajat, maka dikatakan kernig sign positif.
1

d. Brudzinski II:
Cara : Pasien berbaring terlentang. Tungkai yang akan dirangsang difleksika
n pada
sendi lutut, kemudian tungkai atas diekstensikan pada sendi panggul.
Hasil Pemeriksaan :
Bila timbul gerakan secara reflektorik berupa fleksi tungkai kontralateral pad
a sendi
lutut dan panggul ini menandakan test ini postif.

KETERAMPILAN PEMERIKSAAN
TANDA RANGSANG SELAPUT OTAK
NO. LANGKAH KLINIK PEMERIKSAAN KASUS
TANDA RANGSANG SELAPUT OTAK
KAKU KUDUK
1. Pasien berbaring telentang
2 Tempatkan tangan di bawah kepala pasien yang sedang
berbaring.
3. Rotasikan kepala ke kiri dan ke kanan untuk menilai
adanya tahanan.
4. Kemudian tekukkan (fleksikan) kepala dan usahakan agar
dagu mencapai dada.
Kaku kuduk positif bila terdapat tahanan dan dagu tidak
mencapai dada
KERNIG SIGN
1. Pasien berbaring telentang
2. Fleksikan paha penderita pada persendian panggul sampai
membuat sudut 90 derajat
3. Tungkai bawah diekstensikan pada persendian lutut sampai
sudut 135 derajat
4. Bila nyeri dan terdapat tahanan di bawah sudut 135
derajata dikatakan tanda kernig positif
BRUDZINSKI I
1. Pasien berbaring telentang
2. Tangan diletakkan di bawah kepala pasien sejauh mungkin
sampai dagu mencapai dada.
3. Tangan yang satunya lagi ditempatkan di dada pasien untuk
mencegah di angkatnya badan
4. Tanda ini positif bila kedua tungkai mengalami fleksi
involunter
BRUDZINSKI II
1. Pasien berbaring telentang
2. Satu tungkai difleksikan pada persendian panggul,
sedangkan tungkai yang satu berada dalam kedaan
ekstensi (lurus).
Bila tungkai yang satu ikut pula fleksi, maka dikatakan
tanda Brudzinski II positif
BRUDZINSKI III
1. Pasien berbaring telentang
2

2. Tekan os zygomatikus
3. Terjadi fleksi involunter pada kedua ekstremitas superior
( Brudzinski III positif )

BRUDZINSKI IV
1. Pasien berbaring telentang
2. Tekan os sympisis os pubis
3. Terjadi fleksi involunter pada kedua ekstremitas inferior
(Brudzinski IV positif)

PENUNTUN PEMBELAJARAN
KETERAMPILAN KLINIK FUNGSI KESADARAN

Beri nilai untuk setiap langkah klinik dengan menggunakan kriteria sebagai berikut :
1. Perlu perbaikan: langkah-langkah yang tidak dilakukan dengan benar dan atau tidak
sesuai urutannya, atau ada langkah yang tidak dilakukan.

2. Mampu: Langkah-langkah dilakukan dengan benar dan sesuai urutannya, tetapi tidak
efisien.

3. Mahir: Langkah-langkah dilakukan dengan benar, sesuai dengan urutan dan efisien.

TS Tidak Sesuai: Langkah tidak perlu dilakukan karena tidak sesuai dengan keadaan.

NO LANGKAH KLINIK PEMERIKSAAN KESADARAN DENGAN KASUS


GLASGOW KOMA SCALE
A EYE RESPONSE SCORE
1. Spontan
4
2. Terhadap suara : Meminta pasien membuka mata
3
3. Terhadap rangsang nyeri : tekan pada saraf supraorbital
2
atau kuku jari
4. Tidak ada reaksi : dengan rangsang nyeri pasien
1
tidak membuka mata
B VERBAL RESPONSE

1 Berorientasi baik
5
Menanyakan diamana ia berada, tahu waktu, hari, bulan
2. Bingung (confused). Menanyakan dimana ia berada,
4
kapan opname di Rumah sakit (dapat mengucapkan
kalimat, namun ada disorientasi waktu dan tempat )
3. Tidak tepat
3

PEMEMRIKSAAN NEUROLOGIS
3

Dapat mengucapkan katak-kata, namun


Tidak berupa kalimat dan tidak tepat
4 Mengerang (mengeluarkan suara yang tidak punya arti)
2
Tidak mengucapkan kata, hanya suara mengerang
5. Tidak ada jawaban (suara tidak ada) 1
C MOTORIC RESPONSE

1. Menurut perintah . 6
Menyuruh pasien angkat tangan
2. Mengetahui lokasi nyeri. 5
Berikan rangsang nyeri dengan menekan jari pada supra
Orbita.Bila pasien mengangkat tangan sampai melwati dagu
untuk menepis rangsang nyeri tersebut berarti dapat
mengetahui lokasi nyeri
3. Reaksi menghindar .Menolak rangsangan nyeri pada 4
anggota gerak

4. Reaksi fleksi (dekortikasi)


3
Berikan rangsang nyeri misal menekan dengan objek
seperti ballpoint pada jari kuku . Bila terdapat reaksi
fleksi berarti ingin menjauhi rangsang nyeri
5 Extensi spontan
2
Memberikan rangsang nyeri yang cukup adekuat
Terjadi ekstensi pada siku

6 Tidak ada gerakan/reaksi


1
Rangsang yang diberikan harus cukup adekuat

PEMEMRIKSAAN NEUROLOGIS