Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Di dalam industri manufaktur logam, suatu proses pembentukan logam, baik primer
maupun sekunder, seperti pengerolan (rolling), penempaan (forging), ekstursi
(extursion), penarikan (drawing), pekerjaan yang harus dilakukan adalah menentukan
atau memilih kapasitas mesin (energi, gaya, torsi) serta perkakas dan peralatan yang
akan digunakan untuk proses tersebut.

Untuk dapat menentukan kedua hal tersebut, perlu memprediksi berapa beban
eksternal yang diperlukan agar logam dapat mulai mengalir dan terdeformasi plastis
serta bagaimana distribusi tegangan dan regangan pada permukaan benda kerja maupun
perkakas. Dengan kata lain, di dalam mendisain proses pembentukan logam, perlu
melakukan analisis untuk dapat memprediksi beban eksternal yang dibutuhkan.

1.2 Rumusan Masalah


a. Apa itu logam?
b. Bagaimana proses pembuatan logam dari bijih logam menjadi logam?
c. Apa saja teknik proses pembuatan logam?

1.3 Tujuan Penulisan


a. Untuk mengetahui pengertian logam
b. Untuk mengetahui proses pembuatan logam dari bijih logam hingga menjadi logam
c. Untuk mengetahui teknik proses pembuatan logam

1
BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Pengertian Material

Material adalah suatu zat yang banyak digunakan dalam pembuatan suatu produk
yang banyak digunakan oleh manusia. Pemilihannya harus didasarkan pada kriteria-kriteria
tertentu, misalnya harga, sifat-sifat mekanis seperti kekuatan, kekerasan, dan lain-lain serta
sifat-sifat yang lainnya. Dengan sendirinya kriteria tersebut didasarkan pada kondisi kerja
yang dikenakan pada produk tersebut. Material teknik adalah material yang digunakan
untuk menyusun sebuah benda dan digunakan untuk perekayasaan dan perancangan di
bidang teknik.

Material untuk konstruksi tidak sama kriterianya dengan material untuk komponen
mesin, demikian juga dengan material untuk peralatan elektronik, material untuk peralatan
rumah tangga, material untuk pesawat terbang dan lain sebagainya.

Jenis material yang digunakan dalam industri sangat banyak jenisnya, misalnya:
logam dan paduannya, gelas, keramik, kayu, karet, komposit dan masih banyak lagi bahan-
bahan lainnya, seperti bahan yang tahan temperatur tinggi, bahan yang memiliki
superkonduktivitas yang baik, bahan yang sangat keras, bahan yang dapat dibentuk dengan
deformasi yang besar dan sebagainya. Untuk melakukan pemilihan dari logam-logam
tersebut, maka sifat-sifat yang dimiliki oleh masing-masing material tersebut harus
diketahui dengan pasti.

Tujuan utama Proses Manufacturing adalah untuk membuat komponen dengan


mempergunakan material tertentu yang memenuhi persyaratan bentuk dan ukuran, serta
struktur yang mampu melayani kondisi lingkungan tertentu. Melihat faktor-faktor diatas
maka faktor membuat suatu bentuk tertentu merupakan faktor utama. Ada beberapa
metode atau membuat geometri (bentuk dan ukuran) dari suatu bahan yang dikelompokan
menjadi enam kelompok dasar proses pembuatan ( manufacturing proces) yaitu :

2
1. Proses Pengecoran (Casting)
Suatu teknik pembuatan produk dimana logam dicairkan dalam tungku peleburan
kemudian dituangkan kedalam rongga cetakan yang serupa dengan bentuk asli dari
produk cor yang akan dibuat.
2. Proses Pemesinan (Machining)
Proses pemotongan logam disebut sebagai proses pemesinan adalah proses pembuatan
dengan cara membuang material yang tidak diinginkan pada benda kerja sehingga
diperoleh produk akhir dengan bentuk, ukuran, dan surface finish yang diinginkan.
3. Proses Pembentukan Logam (Metal Forming)
Proses metal forming adalah melakukan perubahan bentuk pada benda kerja dengan
cara memberikan gaya luar sehingga terjadi deformasi plastis.
4. Proses Pengelasan (Welding)
Proses penyambungan dua bagian logam dengan jalan pencairan sebagian dari daerah
yang akan disambung. Adanya pencairan dan pembekuan didaerah tersebut akan
menyebabkan terjadinya ikatan sambungan.
5. Proses Perlakuan Panas (Heat Treatment)
Heat treatment adalah proses untuk meningkatkan kekuatan material dengan cara
perlakuan panas.
6. Proses Perlakuan Untuk Mengubah Sifat Karakteristik Logam Pada Bagian Permukaan
Logam (Surface Treatment)
Proses surface treatment adalah proses perlakuan yang diterapkan untuk mengubah
sifat karakteristik logam pada bagian permukaan logam dengan cara proses
thermokimia, metal spraying.

Proses Pemesinan Atau Lebih Spesifik Lagi Proses Pembuangan Material (Material
Removal Proces), memberikan ketelitian yang sangat tinggi dan fleksibilitas (keluwesan)
yang besar. Namun demikian proses ini cenderung menghasilkan sampah dari proses
pembuangan material tersebut secara sia-sia.

Proses Deformasi, memanfaatkan sifat beberapa material yaitu kemampuannya


“mengalir secara plastis “ pada keadaan padat tanpa merusak sifat-sifatnya. Dengan
menggerakkan material secara sederhana ke bentuk yang kita inginkan (sebagai lawan dari
membuang bagian yang tidak diperlukan), maka sedikit atau bahkan tidak ada material
yang terbuang sia-sia. Namun demikian biasanya gaya yang diperlukan cukup tinggi. Di

3
samping itu, mesin-mesin dan perkakas yang diperlukan harganya mahal sehingga jumlah
produksi yang besar merupakan alasan pokok untuk membenarkan pemilihan proses ini.
Kegunaan material logam dalam masyarakat modern ditentukan oleh mudah tidaknya
material tersebut dibentuk (forming) kedalam bentuk yang bermanfaat. Hampir semua
logam mengalami deformasi sampai pada tingkat tertentu selama proses pembuatannya
menjadi produk akhir.

Ingat dalam proses pengecoran, strand dan slabs direduksi ukurannya dan diubah ke
dalam bentuk-bentuk dasar seperti plates, sheet, dan rod. Bentuk-bentuk dasar ini
kemudian mengalami proses deformasi lebih lanjut sehingga diperoleh kawat (wire) dan
myriad (berjenis – jenis) produk akhir yang dihasilkan melalui tempa (forging), ekstrusi,
sheet metal forming dan sebagainya. Deformasi yang diberikan dapat berupa aliran curah
(bulk flow) dalam 3 dimensi, geser sederhana (simple shearing), tekuk sederhana atau
gabungan (simple or compound bending) atau kombinasi dari beberapa jenis proses
tersebut.

Tegangan yang diperlukan untuk mendapatkan deformasi tersebut dapat berupa tarikan
(tension), tekan (compression), geseran (shear) atau kombinasi dari beberapa jenis
tegangan tersebut. Kecepatan, temperature, toleransi, surface finish. Kemampuan untuk
menghasilkan berbagai bentuk dari lembaran logam datar dengan laju produksi yang tinggi
merupakan merupakan kemajuan teknologi yang nyata. Peralihan dari proses pembentukan
dengan tangan ke metode produksi besar – besaran menjadi faktor penting dalam
meningkatan standar kehidupan selama periode tersebut. Pada dasarnya, suatu bentuk
dihasilkan dari bahan lembaran datar dengan cara peregangan dan penyusutan dimensi
elemen volume pada tiga arah utama yang tegak lurus sesamanya. Bentuk yang diperoleh
merupakan hasil penggabungan dari penyusutan dan peregangan lokal elemen volume
tersebut. Usaha telah dilakukan untuk menggolongkan berbagai macam bentuk yang
mungkin pada pembentukan logam menjadi beberapa kelompok tertentu, tergantung pada
kontur produk – produk.
1. Sachs membagi komponen – komponen lembaran logam menjadi 5 katagori.
Komponen lengkungan tunggal.
2. Komponen flens yang diberi kontur, termasuk komponen dengan flens rentang dan
flens susut.
3. Bagian lengkung

4
4. Komponen ceruk dalam, termasuk cawan, kotak-kotak dengan dinding tegak atau
miring
5. Komponen ceruk dangkat, termasuk bentuk pinggan galur (beaded), bentuk-bentuk
timbul dan bentuk-bentuk berkerut.

5
BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Logam
Logam adalah unsur kimia yang mempunyai sifat-sifat kuat, liat, keras, penghantar
listrik, dan panas, serta mempunyai titik cair tinggi. Bijih logam ditemukan dengan
cara pemanbangan yang terdapat dalam keadaan murni atau bercampur. Bijih logam
yang ditemukan dalam keadaaan murni yaitu emas, perak, bismuth, platina, da nada
yang bercampur dengan unsur-unsur seperti karbon, sulfur, fosfor, silicon, serta
kotoran seperti tanah liat, pasir, dan tanah.

Gambar 1 Logam

Bijih logam yang ditemukan dengan cara penambangan terlebih dahulu dilakukan
proses pendahuluan sebelum diolah dalam dapur pengolahan logam dengan cara
dipecah sebesar kepalan tangan, dipilih yang dipilih unsur logam, dicuci dengan air
untuk mengeluarkan kotoran, dan terakhir dikeringkan dengna cara dipanggang untuk
mengeluarkan uap yang mengandung air.

3.2 Proses Pembuatan Logam


Dasar dari Teknologi Mekanik adalah penyelesaian proses logam dan non logam
dari bentuk bijih besi (raw material) menjadi barang yang dapat digunakan. Hampir semua
logam dibuat mula-mula dalam bentuk balok "ingot" (ingot casting) hasil proses pemurnian
logam dari bijihnya, yang kemudian merupakan bahan baku untuk proses selanjutnya.
Proses ini menyangkut penyelesaian suatu bahan yang mula-mula dicetak dalam suatu

6
cetakan kemudian dengan proses lain dibentuk, dipotong, dihaluskan, disambung atau
dirubah sifat phisisnya menjadi produk yang dikehendaki. Pada dasarnya, proses
pembuatan benda kerja logam dapat dikelompokkan menjadi :
1. Proses Pengecoran.
Proses pengecoran adalah suatu proses pembuatan yang pada dasarnya merubah
bentuk logam dengan cara mencairkan logam, kemudian dimasukkan kedalam suatu
cetakan dengan dtuang atau ditekan. Di dalam cetakan ini logam cair akan membeku
dan menyusut. Produk hasil pengecoran dapat langsung dipakai sebagai produk akhir,
akan tetapi kebanyakan masih memerlukan proses lanjut seperti proses pemotongan,
penyambungan, perlakuan phisis atau proses penyelesaian lainnya.
Didasarkan atas jenis bahan pola/model, bahan cetakan dan cara penuangannya, maka
proses pengecoran dapat dibedakan :
1. Proses pengecoran dengan pasir sebagai bahan cetakan (Sand Casting).
2. Proses pengecoran sentrifugal (Centrifugal Casting).
3. Proses pengecoran dengan cetakan permanen (Permanent Mold Casting).
4. Proses pengecoran cetak-tekan (Die Casting)
5. Proses perngecoran dengan pola hilang (Investment Casting).
6. Cara lain yang tidak termasuk diatas.

2. Proses Pembentukan
Proses pembentukan logam adalah suatu proses pembuatan yang pada dasarnya
dilakukan dengan memberikan gaya luar (menekan, memadatkan menarik dsb.) hingga
berubah bentuk secara plastis. Bahan logam sebelumnya dapat dipanaskan terlebih
dahulu sampai mencapai batas tertentu atau logam tetap dingin dalam arti dibawah
batas temperatur tertentu tsb. Kondisi pertama disebut proses pengerjaan panas (Hot
Working Process), sedang yang terakhir disebut proses pengerjaan dingin (Cold
Working Process). Proses pembentukan ini memerlukan mesin-mesin dari jenis ringan
sampai berat, menghasilkan kekuatan tambahan, cocok untuk produksi banyak, tetapi
ketelitian bentuk serta ukuran sulit didapat kecuali dengan teknologi khusus. Dalam
proses pembentukan logam dikenal berbagai proses seperti :
1. Pengerolan (Rolling)
2. Tempa (Forging)
3. Proses tarik (Drawing)

7
4. Ekstrusi (Extrusion)
5. Proses putar tekan (Spinning)
6. Proses potong (Piercing) dan lain lain.

3. Proses Pemotongan
Proses pemotongan logam adalah proses pembuatan yang menggunakan mesin-
mesin perkakas potong untuk mendapatkan bentuk yang digunakan dengan membuang
sebagian material, sedang perkakas potongnya dibuat dari bahan yang lebih keras dari
pada logam yang dipotong. Contoh mesin : perkakas ini antara lain mesin bubut, mesin
sekrap, mesin drill, mesin freis dan lain-lain, sedang perkakas potongnya antara lain
dari jenis HSS, karbida dll. Proses pemotongan ini dapat merupakan proses
penyelesaian dari suatu produk dan dapat juga merupakan. proses yang masih
memerlukan proses pengerjaan lainnya. Dalam proses pemotongan logam dikenal
beberapa proses pemotongan seperti :
1. Proses Sekrap (Shaping, Planing)
2. Proses Bubut (Turning) .
3. Proses Gurdi (Drilling)
4. Proses Freis (Milling)
5. Proses Gerinda (Grinding), dll.
Disamping proses pemotongan diatas yang disebut sebagai proses pemotongan
konvensionil, dibawah ini merupakan proses pemotongan yang berbeda dengan proses-
proses di atas yang disebut sebagai proses pemotongan non konvensionil, antara lain:
1. Proses pemotongan abrasi (Ultra Sonic Machining)
2. Proses pemotongan secara reaksi kimia (Chemical Machining)
3. Proses pemotongan secara erosi kimia-elektris (Electro Chemical Machining)
4. Proses pewotongan secara erosi loncatan listrik (Electro Discharge Machining), dll.
Kelompok proses terakhir ini mempunyai keuntungan, yaitu dapat memotong
logam-logam yang sangat keras yang tidak dapat dipotong secara konvensionil.
Kelemahannya adalah ongkos produksi terutama menyangkut mesinnya, bila diukur
dari kecepatan logam terpotong persatuan waktu, sangat tinggi.

8
4. Proses Penyambungan
Proses ini sering diartikan pengelasan, tetapi sebenarnya pengelasan tersebut
merupakan bagian dari proses penyambungan. Pada dasarnya proses ini dapat
dilakukan tanpa atau dengan mencairkan logam yang disambung, dengan atau tanpa
logam pengisi, dengan atau tanpa tekanan dan dengan perekat atau adhesive.
Contoh proses ini antara lain : pengelasan, solder, pengelingan dan lain-lain.
Proses penyambungan ini dapat dilakukan apabila komponen yang akan disambung
sudah melalui tahapan-tahapan proses yang disyaratkan, misalnya : pembersihan,
persiapan pada ujung yang akan disambung ataupun proses pengerjaan mesin lainnya.

5. Proses Perlakuan Phisis


Proses perlakuan phisis adalah proses pengerjaan dengan jalan merubah sifat-sifat
phisis dari logam tanpa adanya perubahan bentuk fisik, seperti : proses perlakuan panas
(Heat Treatment), benturan peluru (Shot Peening) dan lain-lain.

6. Proses Penyelesaian
Proses ini digunakan untuk memberikan kondisi permukaan tertentu dari benda
jadi (produk), sehingga terjadi perubahan dimensi yang sangat kecil. Secara
keseluruhan, bentuk dan ukuran boleh dikata tidak mengalami perubahan yang berarti.
Kondisi permukaan tertentu yang dimaksud adalah antara lain bewarna mengkilat,
pemeliharaan-pencegahan dari perubahan unsur serta bentuk permukaan, melalui
proses pengecatan, proses anoda, pelapisan permukaan dengan unsur tertentu dan lain-
lain.

3.3 Teknik Pembuatan Logam


A. Rolling

Gambar 2 Teknik Rolling

9
Proses ini sering digunakan sebagai langkah awal dalam mengubah ingot dan
billet menjadi produk setengah jadi/akhir. Prinsip pada proses rolling ini menekan
bahan dasar dengan menggunakan 2 rol atau lebih dengan arah putaran yang
berlawanan sehingga terjadi perubahan dimensi (dimensi penampang) Faktor yang
juga harus diperhatikan dalam proses rolling adalah sudut gigitan.

Gambar 3 Jenis-Jenis Rolling

Proses rolling terbagi menjadi 3, yaitu :


1. Rolling Mill
Rolling Mill ini menggunakan prinsip mengurangi ketebalan bisa dilakukan
dengan pengerjaan panas maupun pengerjaan dingin
2. Rolling Forging
Rolling Forging dikhususkan pada pengerjaan dingin dan mengerjakan bagian
yang besar.
Keuntungannnya :
 Benda kerja memiliki strength tinggi
 Biaya cost produksi lebih rendah
 Laju produksi lebih tinggi dibanding dengan proses cutting.
3. Roll Forming
Proses ini memproduksi lembaran logam untuk pembuatan pipa, plat strip. Roll
forming dikerjakan pada pengerjaan dingin untuk pembuatan lembaran kecil,
lembaran dengan penampang tipis dan material yang lunak, misal aluminium,
tembaga

B. Forging
Forging adalah proses pembentukan logam secara plastis dengan memberikan
gaya tekan pada logam yang akan dibentuk .Gaya tekan yang diberikan bisa secara
10
manual maupun secara mekanis (Hidrolis ataupun Pneumatis). Proses Forging bisa
dikerjakan pada pengerjaan dingin maupun pengerjaan panas.

Gambar 4 Teknik Forging

Ada 3 hal yang perlu diperhatikan dalam proses forging :


 Drawn Out
 Upset
 Squeezed
Proses Forging dapat dikelompokkan:
a) Hammer Forging
Proses ini merupakan forging yang paling sederhana. Pada umumnya landasan
ANVIL dan HAMMER yang dipakai berbentuk datar. Sehingga proses ini
diprioritaskan untuk membuat benda kerja yang sederhana dan skala produksi
kecil.
Prosesnya lama dan hasilnya tergantung dari skill operator. Proses ini merupakan
forging yang paling sederhana. Pada umumnya landasan ANVIL dan HAMMER
yang dipakai berbentuk datar. Sehingga proses ini diprioritaskan untuk membuat
benda kerja yang sederhana dan skala produksi kecil. Prosesnya lama dan hasilnya
tergantung dari skill operator.
b) Drop Forging
Prinsip : Memaksa logam panas yang plastis memenuhi dan mengisi bentuk die
dengan cara penempaan. Proses ini yang diperlengkapi dengan die. Die umumnya

11
dibagi dua bagian dimana satu bagian diletakkan pada hammer, yang lainnya pada
anvil. Syarat die yang digunakan harus kuat dan tangguh terhadap beban
impact,keausan, dan temperatur umumnya terbuat dari campuran baja denga
nkrom, molibdenum dan nickel. Faktor yang penting dan harus diperhatikan
adalah tenaga pneumatis dan tenaga hidrolis sehingga mesin-mesin tipe steam
hammer maupun air hammer mampu bekerja sangat cepat, mudah dikontrol dan
otomatis. Impact forging juga merupakan bagian dari closed die forging hanya saja
gerakan hammernya horisontal dan bisa dikerjakan dalam pengerjaan panas
maupun dingin
c) Press Forging
Pada hammer forging maupun drop forging energi yang diberikan pada saat
penempaan sebagian besar terserap oleh anvil, pondasi mesin dan permukaan luar
benda kerja sedangkan bagian dalam benda kerja belum terdeformasi. karena itu
untuk benda kerja dengan penampang tebal dan besar digunakan press forging.
Prinsip press forging : dilakukan penekanan secara perlahan-lahan pada benda
kerja
sampai menghasilkan aliran logam yang uniform. Press forging biasanya
dikerjakan tanpa die dan hammer maupun anvilnya berbentuk datar.
d) Upset Forging
Proses forging yang dikhususkan untuk pembesaran diameter pada ujung batang
logam ditekan dalam arah memanjang. Pada dasarnya benda kerja yang di-upset
berupa bar bulat, wire ataupun benda kerja berbentuk silindris.
Ada 3 hal yang diperhatikan pada saat melakukan upset forging :
 Panjang benda yang diupset tidak lebih dari 3 kali diameter batang
 Diameter upset tidak lebih dari 1,5 kali diameter batang
 Panjang benda kerja yang tidak ditumpu oleh die tidak lebih dari diameter
batang Swaging
e) Swaging
Swaging adalah proses pengurangan diameter benda kerja yang berbentuk bulat
baik solid meupun berongga dengan cara penempaan berulang kali. Disini die
berfungsi sebagai hammer. Proses swaging juga dapat membentuk bentuk kerucut
dan mengurangi diameter dalam maupun diameter luar penampang
f) Roll forging

12
Proses forging untuk mengurangi ketebalan dari bar yang berbentuk bulat atau
datar sehingga mengalami perpanjangan ke arah sumbu axisnya. Roll forging
biasanya memproduksi poros, batang taper dan pegas daun. Roll forging terdiri
dari dua roll semisilindris dengan bentuk groove sebesar 25-75 % sumbu putaran.

C. PIERCING
Merupakan proses pengerjaan panas untuk membuat pipa tanpa sambungan
(seamless pipe) dengan bahan baku berupa billet (batang bulat dan padat). Dengan
demikian hasil dari proses ini tidak terdapat suatu garis penghubung hasil
sambungan.

Gambar 5 Teknik Piercing

Batang logam padat yang telah dipanasi dengan salah satu ujungnya berlubang
ditengah-tengahnya sebagai penunjuk bagi mandrel, dimasukkan ke dalam roll yang
sumbunya membentuk 6 % terhadap sumbu benda kerja. Roll berputar searah, dan
bentuk roll lebih kecil dibandingkan dengan diameter bahan. Pada saat batang
dimasukkan, batang akan terbawa oleh putaran dari roll dan karena adanya sudut
kemiringan batang seakan-akan ditarik oleh kedua roll.

3.4 Hasil Diskusi Pleno


Setelah kami melaksanakan diskusi pleno pada hari Jum’at tanggal 2 Maret 2018, ada
beberapa peserta yang bertanya
1. Gumelar Ardhi Buana (1709035055)

13
Di alam terdapat logam yang tidak dalam keadaan murni. Dari proses pemurnian
logam yang pernah saya lihat yaitu pemurnian emas menggunakan merkuri.
Apakah hal ini juga dilakukan pada logam-logam lainnya?
2. Ria Febriana (1709035051)
Dalam proses pembuatan logam teknik Forging terdapat pengerjaan panas, contoh
untuk pengerjaan panas itu seperti apa?
3. Sofara Abilia Andini (1709035053)
Apa saja hambatan dari tiga teknik proses pembuatan logam?
4. Dita Anggraeni (17090350054)
Dalam proses pembuatan logam yang disebutkan tadi ada dengan cara manual dan
mekanis. Lebih bagus yang mekanis atau yang manual?
5. Lucia Dwi Humania (1709035034)
Mengapa bahan logam yang sering digunakan untuk membuat alat perkakas dan
lain-lain?

Pada dasarnya semua logam yang ada di bumi memang kotor. Adapun teknik yang
bisa dilakukan untuk pemurnian logam dengan cara berikut: pelelehan (fusion), destilasi,
kristalisasi, elektrolisis, proses Parkes , proses Van Arkel (vapour phase refining), zone-
refining, proses Mond (purification via the volatile carbonyl compound), dan proses
Bassemer (open hearth process).
Pengerjaan panas pada logam merupakan proses deformasi pada logam yang
dilakukan pada kondisi, temperature, dan laju regangan tertentu sehingga proses deformasi
dan proses recovery terjadi secara bersamaan. Deformasi dilakukan diatas temperature
rekristalisasi. Pada temperature ini, pengerasan regangan dan struktur butir yang
terdeformasi akan segera tergantikan dengan struktur baru yang bebas ruangan. Struktur
baru bebas regangan dimungkinkan karena selama proses deformasi selalu diiringi dengan
proses rekristalisasi.
Abil
Gaya tekan yang dilakukan pada proses Forging ada dua yaitu manual dan
mekanis, jika ditanya mana yang lebih baik menurut kami yang lebih baik adalah secara
mekanis. Karena dilihat dari segi waktu apabila kita melakukannya secara manual tentunya
akan memakan waktu yang cukup lama karena harus dikerjakan secara bergantian. Jika

14
dilakukan dengan cara mekanis proses tersebut dapat dilakukan sekaligus, sehingga dapat
menghemat waktu produksi.
Sebagian besar alat perkakas rumah tangga yang menggunakan logam sebagai
bahan dasarnya, namun semua itu menyesuaikan lagi kepada kebutuhan rumah tangga.
Sebagai contoh apabila kita ingin memalu paku, tidak mungkin kita menggunakan
perkakas yang terbuat dari bahan plastik. Kemudian pada alat memamasak, tidak mungkin
menggunakan wajan dari bahan emas karena dilihat dari segi ekonomis emas merupakan
bahan yang digunakan untuk membuat perhiasan disamping itu harganya juga relatif
mahal.

15
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Logam adalah unsur kimia yang mempnyai sifat-sifat kuat, liat, keras, penghantar
listrik, dan panas, serta mempunyai titik cair tinggi. Bijih logam ditemukan dengan
cara pemanbangan yang terdapat dalam keadaan murni atau bercampur. Bijih logam
yang ditemukan dalam keadaaan murni yaitu emas, perak, bismuth, platina, da nada
yang bercampur dengan unsur-unsur seperti karbon, sulfur, fosfor, silikon, serta
kotoran seperti tanah liat, pasir, dan tanah.

Dasar dari Teknologi Mekanik adalah penyelesaian proses logam dan non logam
dari bentuk bijih besi (raw material) menjadi barang yang dapat digunakan. Hampir
semua logam dibuat mula-mula dalam bentuk balok "ingot" (ingot casting) hasil proses
pemurnian logam dari bijihnya, yang kemudian merupakan bahan baku untuk proses
selanjutnya. Proses ini menyangkut penyelesaian suatu bahan yang mula-mula dicetak
dalam suatu cetakan kemudian dengan proses lain dibentuk, dipotong, dihaluskan,
disambung atau dirubah sifat phisisnya menjadi produk yang dikehendaki.

Ada beberapa teknik pembuatan logam yaitu: Rolling, proses ini sering digunakan
sebagai langkah awal dalam mengubah ingot dan billet menjadi produk setengah
jadi/akhir. Forging, proses pembentukan logam secara plastis dengan memberikan
gaya tekan pada logam yang akan dibentuk. Piercing, proses pengerjaan panas untuk
membuat pipa tanpa sambungan (seamless pipe) dengan bahan baku berupa billet
(batang bulat dan padat).

4.2 Saran

Sebaiknya kita sebagai mahasiswa teknik industri harus lebih memperdalam lagi
dan mengikuti mata kuliah material teknik ini dengan baik, karena dapat menambah
wawasan dan pengetahuan mahasiswa tentang logam dan apa saja yang bersangkutan
dengan logam.

16
17