Anda di halaman 1dari 17

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta

karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan Makalah ini yang

alhamdulillah tepat pada waktunya yang berjudul “Terapi Bermain Bongkar pasang pada
Anak Usia Preschool di Rumah Sakit “ makalah ini berisikan tentang preplaining terapi

bermain yang akan diberikan oleh kelompok kepada anak usia perschool di rumah sakit.

Diharapkan Makalah ini dapat memberikan informasi kepada kita semua tentang

bagaimana cara melakukan terapi bermain, salah satunya terapi bermain mewarnai. Kami

menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari
semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah

ini.
Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta

dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa

meridhai segala usaha kita. Amin.

Samarinda, 5 Februari 2019

Kelompok 7
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Aktivitas bermain merupakan salah satu stimulasi bagi perkembangan anak

secara optimal. Dalam kondisi sakit atau anak dirawat di rumah sakit, aktivitas bermain
ini tetap dilaksanakan, namun harus disesuaikan dengan kondisi anak. Pada saat

dirawat di rumah sakit, anak akan mengalami berbagai perasaan yang sangat tidak

menyenangkan, seperti marah, takut, cemas, sedih, dan nyeri. Perasaan tersebut

merupakan dampak dari hospitalisasi yang dialami anak karena menghadapi beberapa

stressor yang ada dilingkungan rumah sakit. Untuk itu, dengan melakukan permainan
anak akan terlepas dari ketegangan dan stress yang dialaminya karena dengan

melakukan permainan anak akan dapat mengalihkan rasa sakitnya pada permainannya
(distraksi) dan relaksasi melalui kesenangannya melakukan permainan. Tujuan bermain

di rumah sakit pada prinsipnya adalah agar dapat melanjutkan fase pertumbuhan dan

perkembangan secara optimal, mengembangkan kreatifitas anak, dan dapat

beradaptasi lebih efektif terhadap stress. Bermain sangat penting bagi mental,

emosional, dan kesejahteraan anak seperti kebutuhan perkembangan dan kebutuhan

bermain tidak juga terhenti pada saat anak sakit atau anak di rumah sakit (Wong, 2009).
Puzzle game merupakan permainan yang tidak hanya berfungsi sebagai hiburan,

tetapi juga dapat melatih kemampuan otak. Berdasarkan penelitian seorang ahli saraf
bernamaIan Robertson, puzzel dapat meningkatkan kemampuan mental. Selain itu,

permainan ini juga dapat mencegah penyakit Alzheimer dan hilang ingatan(Baras,
2010). Berdasarkan pengamatan kami dirumah sakit M. Djamil Padang diruangan anak

kronis dan akut didapatkan jumlah anak usia toddler (3-5 tahun) sebanyak 15
oranganak. Anak-anak pada dapat memainkan sesuatu dengan tangannya yaitu

dengan bongkar pasang yang bisa melatih kecerdasan otak anak dan berpikir secara

logis untuk menyelesaikan gambar yang bisa menjadi sesuatu yang menarik seperi
binatang atau orang. Bermain ini menggunakan objek yang dapat melatih kemampuan
keterampilan anak yang diharapkan mampu untuk berkreatif dan terampil dalam

sebagai hal. Sifat permainan ini adalah sifat aktif dimana anak selalu ingin mencoba

kemampuan dalam keterampilan tertentu seperti bermain dalam puzzel gambar, disni
anak selalu dipacu untuk selalu terampil dalam meletakkan gambar yang telahdi
bongkar.

B. Tujuan

1. Tujuan Umum
Anak diharapkan dapat melanjutkan tumbuh kembangnya, mengembangkan

aktifitas dan kreatifitas melalui pengalaman bermain dan beradaptasi efektif

terhadap stress karena penyakit dan dirawat.

2. Tujuan Khusus

Setelah mengikuti permainan selama 30 menit anak akan mampu :


a. Mengembangkan kreativitas dan daya pikirnya

b. Mengekspresikan perasaannya selam menjalani perawat.


c. Mengekspresikan rasa senangnya terhadap permainan

d. Beradaptasi dengan lingkungan

e. Mempererat hubungan antara perawat dan anak


BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A. Pengertian Bermain puzzel

Bermain merupakan suatu aktivitas dimana anak dapat melakukan atau


mempraktikkan keterampilan, memberikan ekspresi terhadap pemikiran, menjadi

kreatif, mempersiapkan diri untuk berperan dan berpilaku dewasa. (aziz alimul, 2009).

Bermain adalah suatu kegiatan yang dilakukan dengan atau tanpa mempergunakan

alat yang menghasilkan atau memberikan informasi, memberi kesenangan maupun

mengembangkan imajinasi anak (Anggani Sudono, 2000).


Menurut Patmonodewo (Misbach, Muzamil, 2010) kata puzzle berasal dari

bahasa Inggris yang berarti teka-teki atau bongkar pasang, media puzzle merupakan
media sederhana yang dimainkan dengan bongkar pasang. Berdasarkan pengertian

tentang media puzzle, maka dapat disimpulkan bahwa media puzzle merupakan alat

permainan edukatif yang dapat merangsang kemampuan matematika anak, yang

dimainkan dengan cara membongkar pasang kepingan puzzle berdasarkan

pasangannya.

B. Tujuan Bermain Puzzle pada Anak Hospitalisasi

Tujuan bermain pada anak yaitu mengembangkan kreativitas dan daya pikiran,
mengekspresikan perasaannya selama menjalani perawatan, mengekspresikan rasa

senangnya terhadap permainan saat menjalani perawatan, beradaptasi dengan


lingkungan sekitar, mempererat hubungan antara perawat dan anak, dan memberikan

kesenangan maupun mengembangkan imajinsi anak. Sebagai suatu aktifitas yang


memberikan stimulus dalam kemampuan keterampilan, kognitif, dan afektif sehingga

anak akan selau mengenal dunia, maupun mengembangkan kematangan fisik,

emosional, dan mental sehingga akan membuat anak tumbuh menjadi anak yang
kreatif, cerdas dan penuh inovatif.
C. Fungsi Bermain Puzzle
Fungsi utama bermain adalah merangsang perkembangan sensoris-motorik,

perkembangan intelektual, perkembangan social, perkembangan kreativitas,

perkembangan kesadaran diri, perkembangan moral dan bermain sebagai terapi.

1. Perkembangan Sensoris-Motorik
Pada saat melakukan permainan, aktivitas sensoris-motorik merupakan

komponen terbesar yang digunakan anak dan bermain aktif sangat penting untuk

perkembangan fungsi otot. Misalnya, alat permainan yang digunakan untuk bayi

yang mengembangkan kemampuan sensoris-motorik dan alat permainan untuk

anak usia toddler dan prasekolah yang banyak membantu perkembangan aktivitas
motorik baik kasar maupun halus.

2. Perkembangan Intelektual
Pada saat bermain, anak melakukan eksplorasi dan manipulasi terhadap

segala sesuatu yang ada di lingkungan sekitarnya, terutama mengenal warna,

bentuk, ukuran, tekstur dan membedakan objek. Pada saat bermain pula anak akan

melatih diri untuk memecahkan masalah. Pada saat anak bermain mobil-mobilan,

kemudian bannya terlepas dan anak dapat memperbaikinya maka ia telah belajar

memecahkan masalahnya melalui eksplorasi alat mainannya dan untuk mencapai


kemampuan ini, anak menggunakan daya pikir dan imajinasinya semaksimal

mungkin. Semakin sering anak melakukan eksplorasi seperti ini akan semakin
terlatih kemampuan intelektualnya.

3. Perkembangan Sosial
Perkembangan social ditandai dengan kemampuan berinteraksi dengan

lingkungannya. Melalui kegiatan bermain, anak akan belajar memberi dan


menerima. Bermain dengan orang lain akan membantu anak untuk

mengembangkan hubungan social dan belajar memecahkan masalah dari

hubungan tersebut. Pada saat melakukan aktivitas bermain, anak belajar


berinteraksi dengan teman, memahami bahasa lawan bicara, dan belajar tentang
nilai social yang ada pada kelompoknya. Hal ini terjadi terutama pada anak usia

sekolah dan remaja. Meskipun demikian, anak usia toddler dan prasekolah adalah

tahapan awal bagi anak untuk meluaskan aktivitas sosialnya dilingkungan keluarga.
4. Perkembangan Kreativitas
Berkreasi adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu dan

mewujudkannya kedalam bentuk objek dan/atau kegiatan yang dilakukannya.

Melalui kegiatan bermain, anak akan belajar dan mencoba untuk merealisasikan

ide-idenya. Misalnya, dengan membongkar dan memasang satu alat permainan


akan merangsang kreativitasnya untuk semakin berkembang.

5. Perkembangan Kesadaran Diri

Melalui bermain, anak mengembangkan kemampuannya dalam mengatur

mengatur tingkah laku. Anak juga akan belajar mengenal kemampuannya dan

membandingkannya dengan orang lain dan menguji kemampuannya dengan


mencoba peran-peran baru dan mengetahui dampak tingkah lakunya terhadap

orang lain. Misalnya, jika anak mengambil mainan temannya sehingga temannya
menangis, anak akan belajar mengembangkan diri bahwa perilakunya menyakiti

teman. Dalam hal ini penting peran orang tua untuk menanamkan nilai moral dan

etika, terutama dalam kaitannya dengan kemampuan untuk memahami dampak

positif dan negatif dari perilakunya terhadap orang lain

6. Perkembangan Moral

Anak mempelajari nilai benar dan salah dari lingkungannya, terutama dari
orang tua dan guru. Dengan melakukan aktivitas bermain, anak akan mendapatkan

kesempatan untuk menerapkan nilai-nilai tersebut sehingga dapat diterima di


lingkungannya dan dapat menyesuaikan diri dengan aturan-aturan kelompok yang

ada dalam lingkungannya. Melalui kegiatan bermain anak juga akan belajar nilai
moral dan etika, belajar membedakan mana yang benar dan mana yang salah, serta

belajar bertanggung-jawab atas segala tindakan yang telah dilakukannya. Misalnya,


merebut mainan teman merupakan perbuatan yang tidak baik dan membereskan

alat permainan sesudah bermain adalah membelajarkan anak untuk bertanggung-

jawab terhadap tindakan serta barang yang dimilikinya. Sesuai dengan kemampuan
kognitifnya, bagi anak usia toddler dan prasekolah, permainan adalah media yang
efektif untuk mengembangkan nilai moral dibandingkan dengan memberikan

nasihat. Oleh karena itu, penting peran orang tua untuk mengawasi anak saat anak
melakukan aktivitas bermain dan mengajarkan nilai moral, seperti baik/buruk atau
benar/salah.

D. Katagori Bermain

Bermain harus seimbang, artinya harus ada keseimbangan antara bermain aktif
dan yang pasif yang biasanya disebut hiburan. Dalam bermain aktif kesenangan

diperoleh dari apa yang diperbuat oleh mereka sendiri, sedangkan bermain pasif

kesenangan didapatkan dari orang lain.

1. Bermain aktif

Bermain mengamati /menyelidiki (Exploratory play). Perhatikan pertama anak pada


alat bermain adalah memeriksa alat permainan tersebut. Anak memperhatikan alat

permainan, mengocok-ngocok apakah ada bunyi mencuim, meraba, menekan, dan


kadang-kadang berusaha membongkar.

a. Bermain konstruksi (construction play)

Pada anak umur 3 tahun, misalnya dengan menyusun balok-balok menjadi

rumah-rumahan. Dll.

b. Bermain drama (dramatik play)

Misalnya main sandiwara boneka, main rumah-rumahan dengan saudara-


saudaranya atau dengan teman-temanny

c. Bermain bola, tali, dan sebagainya


2. Bermain pasif

Dalam hal ini anak berperan pasif, antara lain dengan melihat dan mendengar.
Bermain pasif ini adalah ideal, apabila anak sudah lelah bermain aktif dan

membutuhkan sesuatu untuk mengatasi kebosanan dan keletihannya. Contohnya :


a. Melihat gambar- gambar dibuku- buku/ majalah

b. Mendengarkan cerita atau musik

c. Menonton televisi, dll

E. Hal-hal yang Harus Diperhatikan

1. Bermain/alat bermain harus sesuai dengan taraf perkembangan anak.

2. Permainan disesuaikan dengan kemampuan dan minat anak.


3. Ulangi suatu cara bermain sehingga anak terampil, sebelum meningkat pada
keterampilan yang lebih majemuk.

4. Jangan memaksa anak bermain, bila anak sedang tidak ingin bermain. Jangan

memberikan alat permainan terlalu banyak atau sedikit.

F. Bentuk-bentuk Permainan Menurut Usia

1. Usia 0 – 12 bulan

Tujuannya adalah :

a. Melatih reflek-reflek (untuk anak bermur 1 bulan), misalnya mengisap,

menggenggam.
b. Melatih kerjasama mata dan tangan.

c. Melatih kerjasama mata dan telinga.


d. Melatih mencari obyek yang ada tetapi tidak kelihatan.

e. Melatih mengenal sumber asal suara.

f. Melatih kepekaan perabaan.

g. Melatih keterampilan dengan gerakan yang berulang-ulang.

Alat permainan yang dianjurkan :

a. Benda-benda yang aman untuk dimasukkan mulut atau dipegang.


b. Alat permainan yang berupa gambar atau bentuk muka.

c. Alat permainan lunak berupa boneka orang atau binatang.


d. Alat permainan yang dapat digoyangkan dan keluar suara.

e. Alat permainan berupa selimut dan boneka.


2. Usia 13 – 24 bulan

Tujuannya adalah :
a. Mencari sumber suara/mengikuti sumber suara.

b. Memperkenalkan sumber suara.

c. Melatih anak melakukan gerakan mendorong dan menarik.


d. Melatih imajinasinya.
e. Melatih anak melakukan kegiatan sehari-hari semuanya dalam bentuk kegiatan

yang menarik
Alat permainan yang dianjurkan :
a. Genderang, bola dengan giring-giring didalamnya.

b. Alat permainan yang dapat didorong dan ditarik.

c. Alat permainan yang terdiri dari: alat rumah tangga(misal: cangkir yang tidak

mudah pecah, sendok botol plastik, ember, waskom, air), balok-balok besar,
kardus-kardus besar, buku bergambar, kertas untuk dicoret-coret,

krayon/pensil berwarna.

3. Usia 25 – 36 bulan

Tujuannya adalah :

a. Menyalurkan emosi atau perasaan anak.


b. Mengembangkan keterampilan berbahasa.

c. Melatih motorik halus dan kasar.


d. Mengembangkan kecerdasan (memasangkan, menghitung, mengenal dan

membedakan warna).

e. Melatih kerjasama mata dan tangan.

f. Melatih daya imajinansi.

g. Kemampuan membedakan permukaan dan warna benda.

Alat permainan yang dianjurkan :


a. Alat-alat untuk menggambar.

b. Lilin yang dapat dibentuk


c. Pasel (puzzel) sederhana.

d. Manik-manik ukuran besar.


e. Berbagai benda yang mempunyai permukaan dan warna yang berbeda.

f. Bola.
4. Usia 32 – 72 bulan

Tujuannya adalah :

a. Mengembangkan kemampuan menyamakan dan membedakan.


b. Mengembangkan kemampuan berbahasa.
c. Mengembangkan pengertian tentang berhitung, menambah, mengurangi.

d. Merangsang daya imajinansi dsengan berbagai cara bermain pura-pura

(sandiwara).
e. Membedakan benda dengan permukaan.
f. Menumbuhkan sportivitas.

g. Mengembangkan kepercayaan diri.

h. Mengembangkan kreativitas.

i. Mengembangkan koordinasi motorik (melompat, memanjat, lari, dll).


j. Mengembangkan kemampuan mengontrol emosi, motorik halus dan kasar.

k. Mengembangkan sosialisasi atau bergaul dengan anak dan orang diluar

rumahnya.

l. Memperkenalkan pengertian yang bersifat ilmu pengetahuan, misal :

pengertian mengenai terapung dan tenggelam.


m. Memperkenalkan suasana kompetisi dan gotong royong.

Alat permainan yang dianjurkan :


a. Berbagai benda dari sekitar rumah, buku bergambar, majalah anak-anak, alat

gambar & tulis, kertas untuk belajar melipat, gunting, air, dll.

b. Teman-teman bermain : anak sebaya, orang tua, orang lain diluar rumah.

G. Faktor Yang Mempengaruhi Aktivitas Bermain

1. Tahap perkembangan, tiap tahap mempunyai potensi / keterbatasan


2. Status kesehatan, anak sakit, anakperkembangan psikomotor kognitif terganggu

3. Jenis kelamin
4. Lingkungan anak, lokasi, negara, kultur

5. Alat permainan anak senang dapat menggunakan


6. Intelegensia dan status sosial ekonomi

H. Tahap Perkembangan Bermain

1. Tahap eksplorasi

Merupakan tahapan menggali dengan melihat cara bermain


2. Tahap permainan
Setelah tahu cara bermain, anak mulai masuk dalam tahap permainan

3. Tahap bermain sungguhan

Anak sudah ikut dalam permainan


4. Tahap melamun
Merupakan tahapan terakhir anak membayangkan permainan berikutnya.

I. Prinsip Bermain Di Rumah Sakit

1. Tidak banyak energi, singkat dan sederhana


2. Tidak mengganggu jadwal kegiatan keperawatan dan medis

3. Tidak ada kontra indikasi dengan kondisi penyakit pasien

4. Permainan harus sesuai dengan tahap tumbuh kembang pasien

5. Jenis permainan disesuaikan dengan kesenangan anak

6. Permainan melibatkan orang tua untuk melancarkan proses kegiatan

J. Hambatan Yang Mungkin Muncul


1. Usia antar pasien tidak dalam satu kelompok usia

2. Pasien tidak kooperatif atau tidak antusias terhadap permainan

3. Adanya jadwal kegiatan pemeriksaan terhadap pasien pada waktu yang bersamaan.

K. Antisipasi hambatan

1. Mencari pasien dengan kelompok usia yang sama


2. Libatkan orang tua dalam proses terapi bermain

3. Jika anak tidak kooperatif, ajak anak bermain secara perlahan-lahan


4. Perawat lebih aktif dalam memfokuskan pasien terhadap permainan

5. Kolaborasi jadwal kegiatan pemeriksaan pasien dengan tenaga kesehatan lainnya.

L. Cara Bermain Puzzel


1. Sediakan kertas puzzel bergambar

2. Bongkar kertas pazzel tersebut

3. Pasang kembali kertas pazzel sesuai pasangannya masing


4. Di anjurkan lebih baik pada bagian ujung kertas terlebih dahulu
5. Setelah itu bagian samping dengan sesuai pasangannya

6. Kerjakan sampai selesai sesuai dengan gambar seperti semula sebelm kertas puzzel

di bongkar
BAB III
SAP TERAPI BERMAIN

Pokok Bahasan : Terapi Bermain Puzzle Pada Anak Di Rumah Sakit

Sub Pokok Bahasan : Terapi Barmain Anak Usia 1-3 tahun (Toddler)
Tujuan : Mengoptimalkan Tingkat Perkembangan Anak

(kognitif,sosial,motoric,bahasa

Tanggal / Jam : Hari / Tanggal : Jum’at, 8 Februari 2019

Jam / Durasi : 13.00 wita / 30 menit

Tempat Bermain : Ruang Melati, RSUD AWS Samarinda

1. Peserta : Untuk kegiatan ini peserta yang dipilih adalah pasien di Ruang anak non
infeksius yang memenuhi kriteria :

a. Anak usia 1-3 tahun

b. Tidak mempunyai keterbatasan fisik

c. Dapat berinteraksi dengan perawat dan keluarga

d. Pasien kooperatif

e. Keluarga pasien bersedia


f. Peserta terdiri dari :

g. Anak usia pra sekolah dan sekolah sebanyak 4 orang didampingi keluarga
2. Target : 4 orang

3. Sarana dan Media


a. Sarana :

 Ruangan tempat bermain


 Tikar untuk duduk

b. Media:

 Gambar yang belum disusun / balok susun


Pengorganisasian
Jumlah leader 1 orang, co leader 1 orang, fasilitator 3 orang dan 1 orang observer dengan

susunan sebagai berikut:

Leader : Zainal Muttaqin


Co leader : Yunnie Indriani P
Observer : Didik Cahyo N

Fasilitator : Anggraini Setyowati

Hayani

Indri Sulastri
Pembagian Tugas :

7. Peran Leader
 Katalisator, yaitu mempermudah komunikasi dan interaksi dengan jalan

menciptakan situasi dan suasana yang memungkinkan klien termotivasi untuk

mengekspresikan perasaannya
 Auxilery Ego, sebagai penopang bagi anggota yang terlalu lemah atau

mendominasi
 Koordinator, yaitu mengarahkan proses kegiatan kearah pencapaian tujuan

dengan cara memberi motivasi kepada anggota untuk terlibat dalam kegiatan

8. Peran Co Leader
 Mengidentifikasi issue penting dalam proses

 Mengidentifikasi strategi yang digunakan Leader

 Mencatat modifikasi strategi untuk kelompok pada sesion atau kelompok yang
akan dating

 Memprediksi respon anggota kelompok pada sesion berikutnya


9. Peran Fasilitator
 Mempertahankan kehadiran peserta
 Mempertahankan dan meningkatkan motivasi peserta

 Mencegah gangguan atau hambatan terhadap kelompok baik dari luar maupun
dari dalam kelompok

10. Peran Observer


 Mengamati keamanan jalannya kegiatan play therapy
 Memperhatikan tingkah laku peserta selama kegiatan
 Memperhatikan ketepatan waktu jalannya kegiatan play therapy

 Menilai performa dari setiap tim terapis dalam memberikan terapi


Setting Tempat

Keterangan

= Pembimbing = Peserta = orang tua

= Observer = Fasilitator

= Co Leader = Leader

Susunan Kegiatan

No Waktu Terapy Anak Ket

1 2 menit Pembukaan :
1. Co-Leader membuka dan Menjawab salam

mengucapkan salam Mendengarkan

2. Memperkenalkan diri terap Mendengarkan

3. Memperkenalkan pembimbing Mendengarkan dan saling


4. Memperkenalkan anak satu persatu berkenalan

dan anak saling berkenalan dengan Mendengarkan

temannya Mendengarkan
5. Kontrak waktu dengan anak
6. Mempersilahkan Leader

2 25 menit Kegiatan bermain :

1. Leader menjelaskan cara permainan Mendengarkan

2. Menanyakan pada anak, anak mau Menjawabpertanyaan


bermain atau tidak
3. Menbagikan permainan Menerima permainan

4. Leader ,co-leader, dan Fasilitator Bermain


memotivasi anak Bermain
5. Fasilitator mengobservasi anak Mengungkapkan perasaan

6. Menanyakan perasaan anak

3 3 menit Penutup :
1. Leader Menghentikan permainan Selesai bermain

2. Menanyakan perasaan anak Mengungkapkan perasaan


3. Menyampaikan hasil permainan Mendengarkan
4. Memberikan hadiah pada anak yang Senang

cepat menyelesaikan gambarnya dan Senang

bagus

5. Membagikan souvenir/kenang- Mengungkapkan perasaan


kenangan pada semua anak yang Mendengarkan

bermain Menjawab salam

6. Menanyakan perasaan anak

7. Co-leader menutup acara


8. Mengucapkan salam

Evaluasi
1. Evaluasi struktur yang diharapkan

 Alat-alat yang digunakan lengkap


 Kegiatan yang direncanakan dapat terlaksana

2. Evaluasi proses yang diharapkan


 Terapi dapat berjalan dengan lancar

 Anak dapat mengikuti terapi bermain dengan baik


 Tidak adanya hambatan saat melakukan terapi

 Semua anggota kelompok dapat bekerja sama dan bekerja sesuai tugasnya

3. Evaluasi hasil yang diharapkan


 Anak dapat mengembangkan motorik halus dengan menghasilkan satu gambar yang
diwarnai, kemudian digantung

 Anak dapat mengikuti kegiatan dengan baik

 Anak merasa senang


 Anak tidak takut lagi dengan perawat
 Orang tua dapat mendampingi kegiatan anak sampai selesai

 Orang tua mengungkapkan manfaat yang dirasakan dengan aktifitas bermain


DAFTAR PUSTAKA

Alfiyanti, N. (2010). Upaya meningkatkan daya pikir anak melalui permainan edukatif.

http://etd.eprints.ums.ac.id/9837/1/A520085042.pdf diperoleh tanggal 15-04-2011

Barokah A., dkk, (2012). Pengaruh Terapi Bermain Puzzle Terhadap Perilaku Kooperatif Anak

Usia Prasekolah Selama Hospitalisasi di RSUD Tugurejo


Herdman H. T., (2009-2011). Diagnosa keperawatan definisi dan klasifikasi. Penerjemah

Monika Ester, S.Kp, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

Hermiati, Dilfera dan Marita, Zadam. (2013). Pengaruh terapi bermain terhadap kecemasan

pada anak usia 3-5 tahun yang dirawat diruang edelwis RSUD Dr. M Yunus Bengkulu.

http://stikesdehasen.ac.id/downlot.php?file=16%20dilfera.docx.diperoleh tanggal 16-

04-2014.