Anda di halaman 1dari 247

GEOMETRI

ANALITIK
BAB I Sistem Koordinat Cartesius

1 S i s te m K o o r d i n a t C a r t e s i u s

1.1. Geometri Analitik

Geometri analitik adalah suatu cabang ilmu matematika yang merupakan

kombinasi antara aljabar dan geometri. Dengan membuat korespondensi antara

persamaan matematika secara aljabar dengan tempat kedudukan secara geometrik

diperoleh suatu metoda pemecahan masalah geometri yang lebih sistematik dan lebih

tegas. Masalah-masalah geometri akan diselesaikan secara aljabar (atau secara

analitik). Sebaliknya gambar geometri sering memberikan pemahaman yang lebih

jelas pada pengertian hasil secara aljabar. Dalam hal ini juga memungkinkan

menyelesaikan masalah aljabar secara geometri, tetapi model bentuk geometri jauh

lebih penting daripada sekedar penyelesaian, khususnya jika bilangan dikaitkan

dengan konsep pokok geometri. Sebagai contoh, panjang suatu segmen garis atau

sudut antara dua garis. Jika garis dan titik secara geometrik diketahui, maka bilangan

yang menyatakan panjang atau besar sudut antara dua garis pada hakekatnya

hanyalah nilai pendekatan dari suatu pengukuran. Tetapi metoda aljabar memandang

bilangan itu sebagai perhitungan yang eksak (bukan pendekatan).

2/2/!Hfpnfusj!Bobmjujl!!!!–!!1!!
BAB I Sistem Koordinat Cartesius

1.2. Garis Bilangan

Persekutuan antara aljabar dan geometri adalah membuat pengaitan antara

bilangan dalam aljabar dengan titik dalam geometri. Misalkan kita perhatikan

pengaitan bilangan dengan titik pada sebuah garis yang tidak terbatas pada kedua

arahnya. Pertama-tama, kita pilih pasangan titik O dan P pada garis seperti terlihat pada

gambar 1.1.

O P
–2 0 1 3
1442443 1442443

berjarak 2
1442443
panjang satuan

berjarak 3

Gambar 1.1

Titik O disebut pusat, yaitu dikaitkan dengan bilangan nol, dan titik P yang

terletak di sebelah kanan O dikaitkan dengan bilangan satuan. Dengan menggunakan

OP sebagai panjang satuan, kita kaitkan bilangan-bilangan lain dengan semua titik

pada garis dengan cara berikut; Titik Q yang terletak satu sisi dengan P terhadap titik

pusat O dikaitkan dengan bilangan positif x jika dan hanya jika jarak dari titik pusat

adalah x, yaitu OQ = x OP . Titik R yang terletak berlawanan sisi dari titik pusat

dikaitkan dengan bilangan negatif – x jika dan hanya jika jarak dari titik pusat adalah x.

2/3/!Hbsjt!Cjmbohbo!!–!!2!
BAB I Sistem Koordinat Cartesius

Dengan cara ini setiap titik pada garis dikaitkan dengan satu bilangan real, dan untuk

setiap bilangan real berkorespondensi dengan sebuah titik pada garis.

Suatu garis yang titik-titiknya dikaitkan dengan bilangan-bilangan real disebut

garis bilangan. Skala yang dijelaskan pada garis bilangan disebut koordinat garis.

Bilangan yang menyatakan suatu titik yang diberikan disebut koordinat titik tersebut,

dan titik itu disebut grafik dari bilangan.

1.3. Koordinat Cartesius

Titik-titik pada sebuah garis (pada ruang dimensi satu) dinyatakan dengan

bilangan tunggal. Sedangkan titik-titik pada sebuah bidang (ruang dimensi dua) dapat

dinyatakan dengan pasangan suatu bilangan. Lebih lanjut untuk titik-titik di ruang

dimensi tiga dapat dinyatakan dengan tripel suatu bilangan.

Untuk merepresentasikan titik pada sebuah bidang dengan pasangan bilangan,

kita tentukan dua garis bilangan bersilangan OX dan OY, dan tentukan skala pada

masing-masing garis, seperti pada gambar 1.2. Titik potong kedua garis itu digunakan

sebagai titik pusat. Bilangan positif ditempatkan pada sebelah kanan titik O garis

mendatar OX dan sebelah atas titik O garis ke vertikal OY. Sedangkan bilangan

negatif ditempatkan pada sebelah kiri titik O garis mendatar OX dan sebelah bawah

titik O garis ke vertikal OY. Biasanya arah positif ditandai dengan tanda panah pada

garis bilangan. Garis OX disebut sumbu-x dan garis OY disebut sumbu-y. Dua garis

yang bersilangan itu disebut sumbu koordinat.

2/4/!Lppsejobu!Dbsuftjvt!!–!!3!
BAB I Sistem Koordinat Cartesius

Py P(a, b)

X
a Px

Gambar 1.2

Misalkan diberikan sebuah titik P pada bidang yang diberi sumbu koordinat,

maka terdapat korespondensi dengan titik Px pada sumbu x. Ini adalah titik potong

antara sumbu x dengan garis yang sejajar sumbu y yang memuat titik P (jika P berada

pada sumbu y maka garis ini berimpit dengan sumbu y). Dengan cara yang sama

terdapat titik Py pada sumbu y, yang merupakan titik potong sumbu y dengan garis

yang melalui titik P dan sejajar (atau sama) dengan sumbu x. Koordinat kedua titik

pada sumbu disebut koordinat titik P. Jika a adalah koordinat Px pada sumbu-x dan b

adalah koordinat Py pada sumbu-y maka P direpresentasikan dengan (a, b) atau

P(a, b). Dalam contoh ini, a disebut koordinat x, atau absis dari P, dan b disebut

koordinat y, atau ordinat dari P. Pada saat sebuah titik tertentu diberikan, meskipun

nilai numerik dari komponen koordinatnya tidak diketahui, maka koordinat itu

biasanya dinyatakan dengan notasi x dan y yang berindeks atau dengan huruf-huruf

awal dari alpabet. Sebagai contoh P1(x1,y1) atau P(a, b).

2/4/!Lppsejobu!Dbsuftjvt!!–!!4!
BAB I Sistem Koordinat Cartesius

Pada bidang koordinat, biasanya disepakati aturan sebagai berikut:

(1) sumbu-sumbu koordinat diambil yang tegak lurus satu sama lain;

(2) sumbu x adalah garis mendatar (horisontal) dengan koordinat positif arah kanan

dari titik pusat, dan sumbu y adalah garis vertikal dengan koordinat positif ke arah

atas dari titik pusat koordinat;

(3) digunakan skala yang sama pada kedua sumbu koordinat.

Kesepakatan ini tentu saja, tidak harus diikuti semuanya jika ada pilihan yang

lebih menguntungkan. Kita harus sering meninjau kesepakatan ketiga yaitu apabila

akan menentukan gambar akan sangat sulit membuat sketsa grafik jika kita tetap

menggunakan skala yang sama pada kedua sumbu. Pada kasus seperti ini, kita harus

merasa bebas menggunakan skala yang berbeda, mengingat penyimpangan gambar

yang terjadi dalam proses. Kecuali tetap memegang kesepakatan atau dinyatakan

dalam keadaan tertentu, atau jelas dinyatakan dalam konteks, biasanya kita selalu

mengikuti dua kesepakatan pertama.

Sumbu-sumbu koordinat memisahkan bidang ke dalam empat daerah, yang

disebut kuadran. Biasanya kuadran diidentifikasi dengan angka romawi sebagaimana

ditunjukkan dalam gambar 1.3. Titik-titik pada sumbu-sumbu koordinat tidak masuk

pada sembarang kuadran. Urutan tanda dari absis dan ordinat (x, y) ditunjukkan

dalam gambar 1.3.

2/4/!Lppsejobu!Dbsuftjvt!!–!!5!
BAB I Sistem Koordinat Cartesius

Kuadran II Kuadran I
(–, +) (+, +)

x
O
Kuadran III Kuadran IV
(–, –) (+, –)

Gambar 1.3.

Dalam sistem koordinat tegaklurus setiap pasangan berurutan dari bilangan

real dinyatakan dengan satu dan hanya satu titik pada bidang koordinat, dan setiap

titik pada bidang koordinat berkorespondensi satu dan hanya satu pasangan berurutan

dari bilangan real.

Koordinat titik-titik yang ditentukan dengan cara ini, seringkali dikenal

sebagai koordinat Cartesius, sebagai penghormatan terhadap matematikawan dan

filosof asal Perancis yang bernama René Descartes yang hidup dari 1596 sampai

1650. Satu hal yang perlu dicatat adalah dua garis sumbu koordinat tidak perlu harus

berpotongan secara tegak lurus. Namun demikian jika kedua sumbu berpotongan

miring, hasil-hasil secara aljabar menjadi lebih rumit.

1.4. Plotting

Proses lokalisasi dan pemberian tanda sebuah titik yang koordinatnya

diberikan disebut plotting titik. Untuk melakukan plotting telah banyak disediakan

2/5/!Qmpuujoh!!–!!6!
BAB I Sistem Koordinat Cartesius

kertas grafik yang berupa kertas berpetak persegi kecil-kecil. Gambar 1.4.

menyatakan plotting beberapa titik pada bidang.

Sekarang kita dapat mengidentifikasi koordinat dari titik-titik dalam gambar

1.4. Perhatikan bahwa semua titik pada sumbu x mempunyai ordinat nol, dan juga

titik-titik pada sumbu y mempunyai absis nol sebab keduanya berada pada sumbu

koordinat.

(0, 3)

(–1, 2) (2, 2)
(0, 1) (3, 1)
(–3, 0) (0, 0) (2, 0)

(–3, –2) (0, –2)


(–2, –3) (2, –3)

Gambar 1.4.

Latihan 1 A

1. Plot masing-masing titik berikut pada bidang koordinat.

(a). (5, 2), (b). (5, –2), (c). (–5, 2) (d). (–5, –2),

(e). (2, 5), (f). (2, –5), (g). (–2, 5) (h). (–2, –5),

(i). (3, 0), (j). (0, 3), (k). (–3, 0) (l). (0, –3),

(m). (0, 0), (n). (6, 6), (o). (–6, –6) (p). (1½, –3),

Mbujibo!2!B!!–!!7!
BAB I Sistem Koordinat Cartesius

(q). (–2.5, 0.5) (r). ( 2 , –4) (s). (–π, 5) (t). (1+ 2 , 1 – 2)

(u). (3 2 , 2 + 3)

2. Sebuah persegi mempunyai panjang sisi 10 unit. Apa koordinat titik-titik sudut

persegi tersebut jika :

(a). satu titik sudutnya berada di titik pusat, dua sisinya berada pada sumbu

koordinat dan satu titik lain di kuadran II

(b). pusat persegi berapa pada pusat koordinat dan sisi-sisinya sejajar dengan

sumbu koordinat.

(c). diagonal-diagonalnya berada pada sumbu-sumbu koordinat.

3. Seperti soal no 2, tetapi panjang sisi persegi adalah a unit.

4. Alas suatu segitiga sama kaki mempunyai panjang 6 unit dan masing-masing sisi

yang sama mempunyai panjang 5 unit. Alas segitiga tersebut berada pada sumbu-x

dan dibagi dua oleh titik pusat. Tentukan kordinat titik-titik sudut segitiga tersebut

kemudian gambar pada bidang koordinat (ada dua jawaban).

5. Titik-titik (0, 0), (10, 0), (2, 5) adalah titik-titik sudut suatu jajaran genjang.

Tentukan titik yang keempat dari jajaran genjang tersebut (ada tiga jawaban).

Mbujibo!2!B!!–!!8!
BAB I Sistem Koordinat Cartesius

6. Alas suatu trapesium sama kaki adalah 20 dan 10 unit, dan panjang sisi yang sama

adalah 13 unit. Alas yang lebih panjang berada sepanjang sumbu-y dan dibagi

sama panjang oleh titik pusat koordinat. Jika alas yang lebih pendek terletak di

sebelah kanan, tentukan koordinat masing-masing titik sudut trapesium tersebut.

7. Hexagon (segi 8) beraturan dengan panjang sisi 8 unit diletakkan pada bidang

sehingga pusatnya berimpit dengan pusat koordinat. Tentukan koordinat titik-titik

sudutnya.

8. Suatu segitiga sama sisi mempunyai titik sudut dengan koordinat (–1, 3) dan titik

(7, 3). Apa koordinat titik yang ketiga ? (ada dua jawaban).

9. Panjang sisi segitiga sama kaki adalah 16, 17, 17. Titik-titik kaki segitiga terletak

pada sumbu-sumbu koordinat, sedangkan titik yang lain berada di kuadran I dan

terletak pada garis bagi kuadran. Tentukan koordinat ketiga titik sudut tersebut.

10. Panjang sisi segitiga siku-siku adalah 3 dan 4 unit. Sisi miring berada sepanjang

sumbu-x, salah satu titik yang lain berada pada titik pusat koordinat. Tentukan

koordinat titik-titik sudut yang lain jika titik sikunya berada pada kuadran I (ada

dua jawaban).

1.5. Jarak antara Dua Titik

Telah kita kaitkan titik-titik dengan koordinat. Sekarang akan kita pergunakan

untuk menyelesaikan masalah geometri. Kita mulai dengan konsep jarak antara dua

2/6/!Kbsbl!Boubsb!3!Ujujl!!–!!9!
BAB I Sistem Koordinat Cartesius

titik. Misalkan kita pandang jarak dua titik pada koordinat garis. Misalkan P1 dan P2

dua titik pada garis, dan misalkan mempunyai koordinat x1 dan x2. Jika P1 dan P2

keduanya berada di sebelah kanan pusat, dengan P2 lebih kanan daripada P1 (seperti

pada gambar 1.5 (a)).

x1 x2
O P1 P2
(a)

x1 x2
P1 P2 O
(b)

x1 x2
P1 O P2
(c)

Gambar 1.5

Maka

P1 P2 = OP2 – OP1 = x2 – x1

Pernyataan jarak antara dua titik akan lebih rumit jika titik pusat berada di kanan

salah satu atau kedua titik. Dalam gambar 1.5 (b) berlaku

P1 P2 = P1O – P2 O = –x1 – (–x2) = x2 – x1

dan dalam gambar 1.5 (c)

P1 P2 = P1O + OP2 = –x1 + x2 = x2 – x1.

2/6/!Kbsbl!Boubsb!3!Ujujl!!–!!10!
BAB I Sistem Koordinat Cartesius

Jadi kita lihat bahwa P1 P2 = x2 – x1 dalam semua kasus dalam hal mana P2 berada di

kanan P1. Jika P2 berada di kiri P1 maka dengan cara yang sama akan kita peroleh

P1 P2 = x1 – x2.

Jadi P1 P2 dapat selalu direpresentasikan sebagai koordinat terbesar dikurangi

koordinat terkecil. Karena x2 – x1 dan x1 – x2 berbeda hanya salah satu dikurangi

lainnya dan karena jarak selalu tidak boleh negatif maka jarak antara P1 dan P2 dapat

dirumuskan sebagai

P1 P2 = |x2 – x1| = (x2 − x1 )2 (1)

Bentuk ini adalah notasi jarak yang umum tanpa memandang posisi relatif P1

terhadap P2 diketahui ataupun tidak.

Sekarang kembali kepada perhatian kita permasalahan yang lebih sulit yaitu

menemukan jarak antara dua titik di bidang datar. Misalkan kita tertarik pada jarak

antara P1(x1, y1) dan P2(x2, y2) (lihat gambar 1.6).

y
P1(x1, y1)

Q(x1, y2) P2(x2, y2)

Gambar 1.6

2/6/!Kbsbl!Boubsb!3!Ujujl!!–!!11!
BAB I Sistem Koordinat Cartesius

Garis vertikal yang melalui P1 dan garis horizontal yang melalui P2 berpotongan pada

titik Q(x1, y2). Asumsikan P1 dan P2 tidak berada pada garis vertikal atau horizontal

yang sama. P1P2Q membentuk segitiga siku-siku dengan sudut siku-siku pada Q.

Sekarang kita pergunakan teorema Pythagoras untuk menghitung panjang P1P2.

Dengan penjelasan yang telah dikemukakan di depan diperoleh

QP2 = |x2 – x1| dan P1Q = |y2 – y1|

Dengan teorema Pythagoras diperoleh,

2 2 2
P1 P2 = P1Q + QP2

2 2
⇔ P1Q + QP2 = x 2 − x1 + y1 − y1
2 2
P1 P2 =

Karena |x2 – x1|2 = (x2 – x1)2 = (x1 – x2)2 maka nilai mutlak boleh dihilangkan dalam

langkah ini dan kita peroleh

P1 P2 = (x2 − x1 )2 + ( y1 − y1 )2 (2)

Kenyataan ini dinyatakan dalam teorema berikut.

Teorema 1.1

Jarak antara dua titik P1(x1, y1) dan P2(x2, y2) adalah

P1 P2 = (x2 − x1 )2 + ( y1 − y1 )2

2/6/!Kbsbl!Boubsb!3!Ujujl!!–!!12!
BAB I Sistem Koordinat Cartesius

Pada penurunan rumus di atas, diasumsikan bahwa P1 dan P2 tidak berada

pada garis horizontal atau vertikal yang sama; akan tetapi rumus jarak di atas akan

berlaku pula pada kasus ini. Sebagai contoh misalkan P1 dan P2 berada pada garis

horizontal yang sama, maka y1 = y2 dan y1 – y2 = 0. Jadi

P1 P2 = (x2 − x1 )2 = |x2 – x1|

Satu catatan bahwa (x2 − x1 )2 tidak selalu bernilai x2 – x1. Karena simbul √

menandakan akar kuadrat non-negatif. Jadi jika x2 – x1 bernilai negatif, maka

(x2 − x1 )2 tidak sama dengan jika x2 – x1 tetapi sama dengan |x2 – x1|. Sebagai

contoh misalkan x2 – x1 = –5 maka

(x2 − x1 )2 = (− 5)2 = 25 = 5

Contoh 1:

Tentukan jarak antara P1(1, 4) dan P2(–3, 2).

Jawab:

P1 P2 = (− 3 − 1)2 + (2 − 4)2

= (− 4)2 + (− 2)2 = 20 = 2 5

2/6/!Kbsbl!Boubsb!3!Ujujl!!–!!13!
BAB I Sistem Koordinat Cartesius

Contoh 2:

Tentukan apakah titik-titik A(1, 7), B(0, 3), C(–2, –5) terletak pada satu garis

lurus(kolinier) ?

Jawab:

Kita hitung jarak antara masing-masing titik dengan lainnya.

AB = (0 − 1)2 + (3 − 7 )2 = 17

BC = (− 2 − 0)2 + (− 5 − 3)2 = 68 = 2 17

AC = (− 2 − 1)2 + (− 5 − 7 )2 = 153 = 3 17

Tampak bahwa AC = AB + BC , oleh karena itu ketiga titik harus berada pada

satu garis lurus (jika tidak demikian, mereka akan membentuk segitiga dan

salah satu sisinya harus kurang dari jumlah dua yang lain).

Contoh 3:

Tunjukkan bahwa (1, 2), (4, 7), (–6, 13), dan P3(-6,13)

(–9, 8) adalah titik-titik dari persegi panjang.


P4(-9,8)
P2(4, 7)

P1(1, 2)
Jawab:

Titik-titik tersebut dapat digambarkan pada Gambar 1.7

2/6/!Kbsbl!Boubsb!3!Ujujl!!–!!14!
BAB I Sistem Koordinat Cartesius

gambar 1.7. Kita hitung panjang masing-masing sisi.

P1 P2 = (4 − 1)2 + (7 − 2)2 = 34

P3 P4 = (− 9 − (−6) )2 + (8 − 13)2 = 34

P2 P3 = (− 6 − 4)2 + (13 − 7 )2 = 136

P4 P1 = (1 − (−9) )2 + (2 − 8)2 = 136

Meskipun P1 P2 = P3 P4 dan P2 P3 = P4 P1 , kita tidak bisa menyimpulkan

bahwa bangun di atas adalah persegi panjang. Dalam hal ini baru kita

simpulkan bahwa bangun tersebut adalah jajaran genjang. Untuk

menunjukkan bahwa jajaran genjang di atas adalah sebuah persegi panjang

perlu ditunjukkan lagi salah satu sifat yaitu jika panjang diagonalnya sama.

Panjang diagonal bangun di atas adalah

P1 P3 = (− 6 − 1 )2 + (13 − 2 )
2
= 170

P2 P4 = (− 9 − 4)2 + (8 − 7 )2 = 170

Karena telah ditunjukkan bahwa bangun di atas adalah jajaran genjang dengan

panjang diagonalnya sama maka kita simpulkan bahwa bangun di atas adalah persegi

panjang.

2/6/!Kbsbl!Boubsb!3!Ujujl!!–!!15!
BAB I Sistem Koordinat Cartesius

Latihan 1 B:

Dalam soal 1 - 4, tentukan jarak antara dua titik yang diberikan

1. (1, –3), (2, 5) 2. (5, –3), (5, 4)

3. (1/2, 2), (–3/2, 1/2) 4. ( 3 , 3 2 ), (3 3 , – 2 )

Dalam soal 5 - 8 tentukan x dengan syarat-syarat yang diberikan

5. P1(5, –2), P2(x, –5), P1 P2 = 5 6. P1(–4, x), P2(8, 5), P1 P2 = 13

7. P1(x, x), P2(1, 4), P1 P2 = 5 8. P1(x, 2x), P2(2x, 1), P1 P2 = 34

Dalam soal 9 - 14 tentukan apakah ketiga titik yang diberikan segaris lurus (kolinier)

atau tidak.

9. (–2, 3), (7, –2), (2, 5) 10. (–3, 4), (0, 2), (6, –2)

11. (1, –1), (3, 4), (–1, –6) 12. (1, 2 2 ), (–1, 5 2 ), (3, –2 2 )

13. (–3, 3), (2, –1), (7, –5) 14. (2, 3), (1, –2), (–1, 11)

Dalam soal 15 dan 16 tentukan apakah tiga titik yang diberikan membentuk segitiga

siku-siku atau tidak.

15. (0, 2), (–2, 4), (1, 3)

Ujujl!Cfsbu!Tfhjujhb!!!!–!!16!!
BAB I Sistem Koordinat Cartesius

16. ( 3 –3, 2 3 + 1), ( 3 – 1, 3 + 1), (2 3 – 1, 3 + 2)

17. Tunjukkan bahwa segitiga dengan titik-titik sudutnya berupa titik pusat, titik

(a, b), dan ( ½(a + b√3), ½(b – a√3)) adalah sama sisi.

18. Tentukan panjang diagonal dari segiempat yang titik-titik sudutnya

mempunyai koordinat (10, 7), (2, –8), (–5, –1), (–3, 4).

19. Alas suatu segitiga samakaki adalah segmen garis yang menghubungkan titik

(6, 1) dengan (–1, 2). Absis dari titik sudut yang lain adalah 3. Tentukan ordinat

dari titik sudut itu.

20. Jarak titik (x, –5) ke titik (–5, 4) adalah tiga kali terhadap jarak titik itu ke

titik (10, –1). Tentukan x (ada dua jawab).

1.6. Luas Segitiga dan Poligon

Suatu segitiga atau poligon dapat dihitung luasnya apabila titik-titik sudut

diketahui koordinatnya. Salah satu cara mencari formula luas suatu poligon adalah

menggunakan prinsip penghitungan luas suatu trapesium.

Misalkan suatu segitiga diketahui mempunyai koordinat P1(x1, y1), P2(x2, y2),

dan P3(x3, y3), sedemikian hingga label memutar segitiga yang melewati titik-titik

P1P2P3 akan berlawanan dengan arah jarum jam seperti pada gambar 1.8.

2/7/!Mvbt!Tfhjujhb!ebo!Qpmjhpo!!–!!17!
BAB I Sistem Koordinat Cartesius

P3(x3, y3)
Y

P1(x1, y1)

P2(x2, y2)
y3
y1
y2

X
O M1 M2 M3

Gambar 1.8.

Misalkan M1, M2, M3 proyeksi titik-titik P1, P2, P3 pada sumbu-x maka

Luas ∆P1P2P3 = luas M1M3P3P1 + luas M3M2P2P3 – luas M1M2P2P1.

Dalam hal ini M1M3P3P1 adalah trapesium dengan alas M1P1 dan M3P3 yang

sama dengan y1 dan y2, dan tingginya M1M3 yang besarnya sama dengan x3 – x1.

Secara sama M3M2P2P3 adalah trapesium dengan panjang alas y3 dan y2 dan dengan

tinggi x2 – x3; dan M1M2P2P1 adalah trapesium dengan panjang alas y1 dan y2 dan

dengan tinggi x2 – x1. Oleh karena itu,

Luas ∆P1P2P3 = ½(y1 + y3)(x3 – x1) + ½(y3 + y2)(x2 – x2) – ½(y1 + y2)(x2 – x1)

= ½(x1y2 + x2y3 + x3y1 – x2y1 – x3y2 – x1y3) (1)

Bentuk persamaan (1) di atas dapat ditulis dalam bentuk determinan yaitu :

2/7/!Mvbt!Tfhjujhb!ebo!Qpmjhpo!!–!!18!
BAB I Sistem Koordinat Cartesius

x1 y1 1
1
Luas ∆P1P2P3 = x2 y2 1 (2)
2
x3 y3 1

Jika titik-titik P1, P2, P3 disusun dalam arah putar jarum jam, maka nilai

determinan dari persamaan (2) di atas menjadi negatif. Tetapi nilai numerik yang

diberikan adalah sama. Untuk menghindari nilai negatif dari luas segitiga yang

diberikan karena susunan titik, maka luas segitiga diambil nilai mutlak dari ruas

kanan rumus (2).

Contoh 1:

Tentukan luas segitiga jika titik-titik sudutnya adalah (–2, 7), (8, 2), dan (4, –3).

Jawab:

Gambar pada bidang koordinat segitiga tersebut seperti gambar 1.9. berikut.

Y
P3(–2, 7)

P2(8, 2)

X
O

P1(4, –3)
Gambar 1.9.

2/7/!Mvbt!Tfhjujhb!ebo!Qpmjhpo!!–!!19!
BAB I Sistem Koordinat Cartesius

Misalkan segitiga tersebut dinamai ∆P1P2P3. Perhatikan bahwa urutan

P1P2P3 adalah berlawanan dengan arah putar jarum jam. Dengan menggunakan

rumus (1) atau (2) untuk menghitung akan diperoleh luas segitiga tersebut

yaitu:

1
Luas ∆P1P2P3 = (4×2 + 8×7 + (–2)×(–3) – (–3) ×8 – (–2)×2 – 4×7)
2

1
= (8 + 56 + 6 + 24 + 4 – 28) = 35
2

Ada suatu cara mudah untuk mengingat dan menerapkan rumus (2) dalam

menentukan luas suatu segitiga ataupun poligon dengan langkah-langkah sebagai

berikut:

(1) Tuliskan koordinat titik sudut poligon dalam dua kolom. Kolom satu digunakan

untuk menuliskan absis dan kolom lainnya untuk ordinat.

(2) Lakukan untuk urutan titik-titik yang lain sedemikian hingga titik-titik yang

berurutan membentuk poligon dengan arah berlawanan dengan arah putar jarum

jam seperti pada diagram di bawah ini. Hal ini untuk menjamin nilai yang

dihasilkan adalah positif.

2/7/!Mvbt!Tfhjujhb!ebo!Qpmjhpo!!–!!20!
BAB I Sistem Koordinat Cartesius

Titik Absis Ordinat

P1 x1 y1

P2 x2 y2

P3 x3 y3

... ... ...

Pn xn yn

P1 x1 y1

(3) Lakukan perkalian absis dengan ordinat baris berikutnya seperti pada tanda anak

panah lurus, dan jumlahkan akan menghasilkan nilai numerik

x1y2 + x2y3 + … + xn-1yn + xny1

(4) Lakukan perkalian absis dengan ordinat baris sebelumnya seperti pada tanda anak

panah putus-putus, dan jumlahkan akan menghasilkan nilai numerik

x2y1 + x3y2 + … + xnyn-1 + x1yn

(5) Terakhir kurangkan hasil numerik langkah (3) dengan langkah (4) dan hasilnya

dibagi dua akan menghasilkan rumus luas poligon P1P2…Pn yaitu

1
Luas poligon P1P2…Pn = {( x1y2 + x2y3 + … + xn-1yn + xny1) – (x2y1 + x3y2 + …
2

+ xnyn-1 + x1yn)} (3)

2/7/!Mvbt!Tfhjujhb!ebo!Qpmjhpo!!–!!21!
BAB I Sistem Koordinat Cartesius

Contoh 2:

Tentukan luas segi empat yang mempunyai titik-titik sudut (–1, 4), (3, –7),

(–6, 0), dan (8, 2).

Jawab:

Buat plot titik-titik pada bidang koordinat. Susun titik-titik itu sedemikian

hingga susunan titik-titik itu membentuk segi empat dengan arah berlawanan

dengan arah putar jarum jam. Perhatikan sketsa gambar 1. 10

Y
P3(–1, 4)

P2(8, 2)

P3(–6, 0) O X

P1(3, –7)

Gambar 1.10.

Selanjutnya dapat dibuat susunan koordinat dalam kolom seperti berikut ini

2/7/!Mvbt!Tfhjujhb!ebo!Qpmjhpo!!–!!22!
BAB I Sistem Koordinat Cartesius

Titik x y

P1 : 3 –7

P2 : 8 2

P3 : –1 4

P4 : –6 0

P1 : 3 –7

Dari susunan bilangan itu dengan rumus (3) segera kita peroleh luas segi empat

yaitu :

1
Luas P 1 P 2 P 3 P 4 = (3 × 2 + 8 × 4 + (–1) × 0 + (–6) × (–7) – 8 × (–7) – (–1) × 2
2

– (–6)×4 – 3×0)

1
= (6 + 32 + 0 + 42 + 56 + 2 + 24 – 0) = 81
2

Latihan 1 C:

Tentukan luas daerah segitiga dengan titik-titik sudut sebagai berikut:

1. (2, 3), (8, 0), (5, 6). 2. (1, 4), (7, 1), (5, 8).

3. (6, 0), (–2, 3), (2, 7). 4. (5, 1), (–3, 4), (–1, –2).

5. (0, –5), (7, –1), (–1, –1). 6. (4, 0), (0, 6), (–3, –5).

Mbujibo!2!D!!–!!23!
BAB I Sistem Koordinat Cartesius

7. (–5, –3), (–2), (0, 0). 8. (–4, –2), (–1, –1), (5, 1).

9. (1.5, –3), (6.5, 2), (3, 4). 10. (7, –6), (–2, –7), (5, 5).

Tentukan luas poligon dengan titik-titik sudut sebagai berikut:

11. (2, 6), (0, –4), (5, –3), (8, 3).

12. (–3, 7), (6, 5), (2, 12), (–2, 0)

13. (9, 2), (4, 7), (–2, 0), (5, 3).

14. (6, 7), (9, –1), (–4, 0), (–2, 7), (0, –5).

15. (2, –5), (10, –3), (6, 4), (1, 2), (2, 0).

16. Tentukan luas segitiga dengan titik-titik sudutnya P1(x1, y1), P2(x2, y2), dan pusat

koordinat.

17. Tentukan luas segitiga dengan titik-titik sudutnya (0, 0), (x1, 0), dan (x2, y2).

18. Titik-titik sudut segitiga adalah (2, 7), (5, 1), dan (x, 3).; luasnya adalah 18.

Tentukan nilai dari x:

(a) jika titik itu diberikan pada arah berlawanan dengan arah putar jarum jam.

(b) jika titik itu diberikan searah putar jarum jam.

Mbujibo!2!D!!–!!24!
BAB I Sistem Koordinat Cartesius

19. Tunjukkan bahwa titik-titik (–2, 8), (1, –1), dan (3, –7) berada pada satu garis

lurus dengan membuktikan bahwa luas “segitiga” dari ketiga titik tersebut adalah

nol.

20. Tentukan nilai dari x sedemikian hingga titik (x, –8), berada pada garis yang

melalui titik (2, 1) dan (3, 4).

21. Diberikan titik-titik A(–3, 4), B(–1, –2), C(5, 6), D(x, –4). Tentukan nilai dari x

sedemikian hingga segitiga ABD dan ACD mempunyai luas yang sama (ada dua

jawaban).

22. Seperti soal no.21, tentukan x sedemikian hingga luas segitiga ABD adalah dua

kali luas segitiga ACD.

23. Tentukan nilai dari a sedemikian hingga titik-titik (a, 4), (5, a) dan (–1, 6) berada

pada satu garis lurus.

24. Luas segitiga dengan titik-titik sudut (a, 6), (2, a), (4, 2) adalah 28. Tentukan

nilai a.

1.7. Rasio Pembagian Segmen Garis

Pada bagian ini akan dibicarakan koordinat sebuah titik yang membagi sebuah

segmen garis menjadi dua bagian dengan perbandingan tertentu.

2/8/!Sbtjp!Qfncbhjbo!Tfhnfo!!–!!25!
BAB I Sistem Koordinat Cartesius

Misalkan diketahui titik P membagi segmen garis AB sedemikian hingga

terdapat perbandingan

AP m
= (1)
PB n

Rasio m : n disebut rasio pembagian. Titik P disebut titik pembagi, dan P

dikatakan membagi segmen AB secara internal atau eksternal bergantung apakah P

terletak antara A dan B atau di luar segmen AB.

A P B

AP
0≤ <∞
PB

(a)

P A B

AP
–1 < ≤0
PB

(b)

A B P

AP
–∞ < ≤ –1
PB

(c)

Gambar 1.11

2/8/!Sbtjp!Qfncbhjbo!Tfhnfo!!–!!26!
BAB I Sistem Koordinat Cartesius

Jika P terletak antara A dan B maka rasio pembagian adalah positif. Hal ini

dikarenakan AP dan PB mempunyai arah yang sama (perhatikan gambar 1.11 (a)).

Rasio akan bernilai 0 jika P berimpit dengan A dan naik tak terbatas sebagaimana P

mendekati B.

Jika P terletak di luar A dan B sebagaimana pada gambar 1.11 (b) dan (c)

maka rasio pembagian adalah negatif. Hal ini dikarenakan AP dan PB mempunyai

arah yang berlawanan. Sejalan dengan mundurnya P dari A pada arah BA (gambar

1.11.(b)), maka rasio akan turun dari 0 hingga mendekati nilai –1. Jika P pada

perpanjangan AB (gambar 1.11. (c)) maka rasio pembagian secara aljabar akan

kurang dari –1. Rasio secara aljabar akan besar tak terbatas apabila P mendekati B

dan rasio mendekati –1 apabila P menuju titik tak hingga.

Perhatikan gambar 1.12. berikut:

A(x1, y1)
m
P’ P(xP, yP)

A’ B(x2, y2)
m n

O x1 xP x2

Gambar 1.12.

2/8/!Sbtjp!Qfncbhjbo!Tfhnfo!!–!!27!
BAB I Sistem Koordinat Cartesius

Jika koordinat titik A dan B diketahui, dan juga rasio pembagian diketahui

maka koordinat titik P dapat dicari. Pada gambar 1.12. misalkan diketahui titik A

dengan koordinat (x1, y1) dan titik B (x2, y2) dan titik P(xp, yp) membagi segmen garis

AB sedemikian hingga terdapat perbandingan AP : PB = m : n.

Berdasarkan sifat kesebangunan segitiga A’AB dengan P’AP maka diperoleh

perbandingan :

AP : AB = P’P : A’B = m : m + n (2)

Sedangkan P’P = xP – x1 dan A’B = x2 – x1 sehingga perbandingan menjadi

xP − x1 m
= .
x2 − x1 m+n

Dengan menyelesaikan persamaan untuk xP diperoleh

mx2 + nx1
xP = . (3)
m+n

Dengan cara yang sama dapat ditunjukkan bahwa

my 2 + ny1
yP = . (4)
m+n

Contoh 1:

Tentukan koordinat titik yang membagi segmen dari titik (–6, 2) ke titik (4, 7)

2/8/!Sbtjp!Qfncbhjbo!Tfhnfo!!–!!28!
BAB I Sistem Koordinat Cartesius

(a). dengan rasio 2 : 3

(b). dengan rasio –7 : 2

Jawab:

Dengan menggunakan rumus (3) dan (4) dapat diperoleh

2 × 4 + 3 × (−6) 2× 7 + 3× 2
(a). xP = = –2, yP = = 4;
2+3 2+3

− 7 × 4 + 2 × (−6) − 7×7 + 2×2


(b). xP’ = = 8, yP’ = = 9.
−7+2 −7+2

Titik-titik yang berkaitan dengan jawaban (a) dan (b) adalah P dan P’ seperti

pada gambar 1.13 berikut

Y P’

P2(4, 7)
P

P1(-6, 2)
X

Gambar 1.13

2/8/!Sbtjp!Qfncbhjbo!Tfhnfo!!–!!29!
BAB I Sistem Koordinat Cartesius

1.8. Titik Tengah Segmen Garis

Rumus penting lain pada kasus khusus yang banyak digunakan dalam

koordinat Cartesius adalah mencari titik tengah suatu segmen garis, yang dinyatakan

dalam teorema berikut.

Teorema 1.2:

Jika P adalah titik tengah dari AB dengan koordinat A(x1, y1) dan B(x1, y1)

maka koordinat titik P diberikan oleh (x, y) dengan rumus

x1 + x 2 y1 + y 2
x= , y= (5)
2 2

Bukti :

Misalkan P adalah titik tengah dari AB maka jelas bahwa m : n = 1 : 1, atau m

= n dan rumus (3) dan (4) dari seksi 1.6 dapat direduksi menjadi

x1 + x 2 y1 + y 2
x= , y=
2 2

Jadi untuk mendapatkan titik tengah dari segmen AB, kita hanya menghitung

rata-rata masing-masing koordinat x dan y dari titik yang diberikan. Dengan kejadian

ini akan beralasan jika menyimpulkan bahwa rata-rata dua temperatur yang berbeda

terletak di tengahnya, rata-rata dua ketinggian akan berada di tengah-tengah

antaranya, dan lain-lain.

2/9/!Ujujl!Ufohbi!Tfhnfo!Hbsjt!!–!!30!
BAB I Sistem Koordinat Cartesius

Contoh 2:

Tentukan titik tengah dari segmen AB jika koordinat masing-masing titik

diberikan oleh (1, 5) dan (–3, –1).

Jawab:

x1 + x2 y1 + y 2
x = , y =
2 2

1− 3 5 −1
= = –1, = = 2.
2 2

Jadi P(–1, 2)

1.9. Titik Berat (Centroid) dari Segitiga

Titik berat atau pusat dari suatu segitiga adalah titik potong dari garis-garis

tengahnya. Jika segitiga itu berkenaan dengan suatu material dengan kepadatan sama

pada setiap permukaan maka titik berat adalah pusat gravitasi.

P1(x1, y1)
Y

M
P2
P3(x3, y3)
(x2, y2) M1

O X

Gambar 1.14

2/:/!Ujujl!Cfsbu!Tfhjujhb!!!!–!!31!!
BAB I Sistem Koordinat Cartesius

Pada gambar 1.14 diberikan segitiga P1P2P3. Misalkan M1 adalah titik tengah

dari sisi P2P3 dan M adalah pusat segitiga tersebut.

Jika koordinat titik-titik sudut segitiga sebagaimana ditunjukkan dalam

gambar 1.14 maka koordinat titik M1 dengan rumus (4) adalah

⎛ x 2 + x3 y 2 + y 3 ⎞
⎜ , ⎟
⎝ 2 2 ⎠

Dari Geometri Elementer kita tahu bahwa M, titik potong antar garis

tengahnya, berada pada garis tengah P1M1 pada jarak dua pertiga dari P1 ke M1. Jadi

rasio perbandingan pembagiannya adalah

P1M 2
=
MM 1 1

Dengan menggunakan rumus (3) dan (4) seksi 1.6, koordinat titik M dapat

ditemukan yaitu,

x1 + x 2 + x3 y1 + y 2 + y 3
xM = , yM = (6)
3 3

Hal ini berarti, absis dari titik pusat segitiga adalah rata-rata dari absis ketiga titik

sudutnya, dan ordinat dari titik pusat segitiga adalah rata-rata dari ordinat ketiga titik

sudutnya.

Ujujl!Cfsbu!Tfhjujhb!!–!!32!
BAB I Sistem Koordinat Cartesius

Latihan 1.D

Pada masing-masing latihan 1 sampai dengan 12 diberikan dua titik dan satu rasio

pembagian. Tentukan titik baginya dan plot di bidang koordinat.

1. (1, 2), (7, 5); 1 : 2.

2. (2, 1), (9, 15); 3 : 4.

3. (–3, 8), (7, –7); 3 : 2.

4. (–5, 0), (7, –6); 1 : 3.

5. (1, 2), (9, 8); –3 : 5.

6. (1, 2), (9, 8); –5 : 3.

7. (6, 3), (–1, –2); –1 : 2.

8. (–2, 3), (7, –8); –5 : 2.

9. (–7, –8), (1, –2); 3 : 1.

10. (–1, 7), (–8, –3); –2 : 1.

11. (–3, 8), (7, –7); 2 : 3.

12. (–3, 8), (7, –7); –2 : 3.

Mbujibo!2!E!!–!!33!
BAB I Sistem Koordinat Cartesius

Tentukan koordinat titik tengah dari segmen garis yang dihubungkan oleh pasangan

titi-titik berikut:

13. (1, 2), (7, 5).

14. (2, 1), (9, 15).

15. (–3, 8), (7, 5).

16. (–5, 0), (7, –7).

17. (6, 3), (–1, –2).

18. (–7, –8), (1, –2).

19. (0, 0), (a, b).

20. (a, 0), (0, b).

21. (a, b), (–a, –b).

22. (a, b), (b, a).

23. Tunjukkan bahwa jika rasio perbandingan r1 : r2 dinyatakan dengan r, maka

koordinat titik baginya adalah

x1 + rx 2 y1 + ry 2
xP = , yP =
1+ r 1+ r

Mbujibo!2!E!!–!!34!
BAB I Sistem Koordinat Cartesius

24. Tentukan titik-titik pembagi tiga dari segmen garis yang dihubungkan oleh titik

(12, –7) dengan titik (–3, 5).

25. Diberikan titik-titik A(–5, 3) dan B(7, –9).

(a). Tentukan koordinat titik yang membagi segmen AB dengan perbandingan

2 : 3.

(b). Tentukan koordinat titik yang membagi segmen AB dengan perbandingan

3 : 2.

26. Titik-titik sudut suatu segiempat adalah (7, 4), (–5, –2), (3, –8), dan (–1, 6).

Dengan menghitung secara numerik, tunjukkan bahwa keliling segiempat yang

dibentuk dengan menghubungkan titik-titik tengah sisi segiempat asal, sama

dengan jumlah diagonal segiempat asal.

27. Tentukan rasio pembagian jika titik (2, 3) membagi segmen yang dihubungkan

oleh titik (3, 8) dan (–1, –12).

28. Titik (5, –1) membagi segmen P1P2 dalam rasio 2 : 3. Jika koordinat titik P1

adalah (11, –3), tentukan koordinat titik P2.

29. Jika P(4, –1) adalah titik tengah dari segmen AB, dengan A(2, 5), tentukan

koordinat titik B.

30. Jika P(4, 1) adalah titik tengah dari segmen AB, dengan B(5, –2), tentukan

koordinat titik A.

Mbujibo!2!E!!–!!35!
BAB I Sistem Koordinat Cartesius

31. Tunjukkan bahwa (5, 2) terletak pada bisektor tegak lurus segmen garis AB di

mana A(1, 3) dan B(4, –2).

32. Tunjukkan bahwa (–2, 4), (2, 0), (2, 8), dan (6, 4) adalah titik-titik dari suatu persegi.

33. Tentukan semua nilai y yang mungkin sehingga A(5, 8), B(–4, 11), dan C(2, y)

berupa segitiga siku-siku.

34. Titik (1, 4) berjarak 5 dari titik tengah segmen yang dihubungkan oleh titik (3, –2)

dan titik (x, 4). Tentukan nilai x.

35. Titik tengah dari sisi-sisi suatu segitiga adalah (–1, 6), (4, –2) dan (10, 1).

Tentukan koordinat titik-titik ujung segitiga tersebut.

1.10. Bukti Analitik Teorema-teorema Geometri

Apabila kita menggunakan metode geometri analitik ketika membuktikan

teorema geometri, maka pembuktian ini disebut pembuktian secara analitik. Ketika

membawa permasalahan untuk membuktikan geometri secara analitik, kita harus

menempatkan bidang bersama dengan sumbu-sumbu koordinat untuk kemudian

membuat transisi dari geometri ke aljabar. Jadi kita bebas meletakkan sumbu-sumbu

koordinat dalam sembarang posisi dan kita pilih relasi dari gambar yang diberikan.

Kita tempatkan gambar itu dengan cara sedemikian hingga membuat aljabar

sesederhana mungkin.

2/21/!Cvluj!Bobmjujl!Ufpsfnb!Hfpnfusj!!–!!36!
BAB I Sistem Koordinat Cartesius

Contoh 1:

Buktikan secara analitik bahwa diagonal persegipanjang adalah sama panjang.

Jawab:

Langkah pertama tempatkan sumbu-sumbu koordinat pada tempat yang

bersesuaian. Tempatkan sumbu-x tegaklurus dengan sumbu-y, seperti pada

gambar 1.15.

Y D(0, b) C(a, b)

A(0, 0) B(a, 0)

Gambar 1.15

Karena bangun yang akan kita bentuk adalah persegipanjang, maka koordinat

titik B dan D bergantung pada titik C. Kemudian kita hitung panjang masing-

masing diagonal AC dan BD.

AC = (a − 0) 2 + (b − 0) 2 = a2 + b2

BD = (0 − a ) 2 + ( 0 − b ) 2 = a2 + b2

Karena AC = BD maka teorema terbukti.

2/21/!Cvluj!Bobmjujl!Ufpsfnb!Hfpnfusj!!–!!37!
BAB I Sistem Koordinat Cartesius

Contoh 2:

Buktikan secara analitik bahwa segmen garis yang menghubungkan titik tengah

dua sisi suatu segitiga adalah sejajar sisi yang ketiga dan panjangnya setengah

dari sisi ketiga itu.

Jawab :

Misalkan diambil sembarang segitiga dengan titik-titik ujungnya kita tempatkan

pada sumbu koordinat seperti pada gambar 1.16.

Y
C(0, c)

D E
X

A(a, 0) B(b, 0)

Gambar 1. 16:

Titik-titik D dan E masing-masing titik tengah dari sisi AC dan BC, berturut-turut.

Dengan Rumus titik tengah diperoleh koordinat titik D(a/2, c/2) dan E(b/2, c/2).

Karena C dan D mempunyai ordinat y yang sama, maka DE adalah garis

2/21/!Cvluj!Bobmjujl!Ufpsfnb!Hfpnfusj!!–!!38!!
BAB I Sistem Koordinat Cartesius

horizontal (mendatar), sehingga sejajar dengan AB. Sedangkan DE = b/2 – a/2

= (b – a)/2 dan AB = b – a; sehingga DE = AB /2.

Latihan 1 E:

Buktikan secara analitik bahwa :

1. Diagonal-diagonal persegipanjang adalah sama panjang.

2. Titik tengah sisi miring suatu segitiga siku-siku adalah berjarak sama dari ketiga

titik sudutnya.

3. Garis yang menghubungkan titik tengah sisi-sisi yang tidak sejajar dari trapesium

adalah sejajar dengan alasnya dan panjangnya sama dengan setengah jumlah kedua

alasnya.

4. Gambar yang dibentuk dengan menghubungkan secara berturutan titik tengah sisi-

sisi suatu segiempat adalah jajaran genjang dan panjang kelilingnya sama dengan

jumlah diagonal segiempat semula.

5. Jumlah kuadrat empat sisi jajaran genjang adalah sama dengan jumlah kuadrat

diagonal-diagonalnya.

6. Jumlah kuadrat garis-garis tengah suatu segitiga sama dengan tiga perempat jumlah

kuadrat sisi-sisinya.

Mbujibo!2!F!!–!!39!
BAB I Sistem Koordinat Cartesius

1.11. Sudut Inklinasi dan Kemiringan (Slope)

Konsep penting dalam mendeskripsikan sebuah garis dan selalu digunakan

dalam pembahasan grafik adalah sudut inklinasi dan kemiringan. Pertama kita ingat

kesepakatan dari trigonometri; bahwa sudut yang diukur dalam arah berlawanan arah

putar jarum jam adalah positif, dan yang diukur searah putaran jarum jam adalah

negatif.

Definisi :

Sudut inklinasi dari garis lurus yang berpotongan dengan sumbu-x adalah

ukuran sudut non-negatif terkecil dari sudut yang dibentuk antara garis itu

dengan sumbu-x positif.

Sudut inklinasi dari garis yang sejajar dengan sumbu-x adalah 0.

Kita gunakan simbol θ untuk menyatakan sudut inklinasi. Sudut inklinasi

sebuah garis selalu kurang dari 180°, atau π radian, dan setiap garis mempunyai sudut

inklinasi. Jadi untuk sembarang garis berlaku

0° ≤ θ < 180°, atau 0 ≤ θ <π. (1)

Gambar 1.17 menunjukkan beberapa garis dan sudut inklinasinya.

2/22/!Tvevu!Jolmjobtj!ebo!Lfnjsjohbo!!–!!40!!
BAB I Sistem Koordinat Cartesius

Y 0° = 0

π 2π π 3π
45°= 120°= 90° = 135°=
4 3 2 4
X

Gambar 1.17

Definisi :

Kemiringan (slope) m dari suatu garis adalah nilai tangen dari sudut

inklinasinya; yaitu

m = tanθ (2)

Adalah mungkin, jika dua sudut yang berbeda mempunyai nilai tangen yang

sama, tetapi tidak mungkin dua sudut inklinasi yang berbeda mempunyai kemiringan

yang sama. Hal ini disebabkan pembatasan sudut inklinasi, yaitu 0° ≤ θ < 180°. Salah

satu masalah yang muncul adalah kemiringan dari garis dengan sudut inklinasi = 90°,

sebab tangen 90° tidak ada. Jadi garis vertikal mempunyai sudut inklinasi 90° tetapi

tidak mempunyai kemiringan. Kadang-kadang dikatakan bahwa kemiringan garis

vertikal adalah “tak hingga”, atau lambang “∞”. Bagaimanapun lambang ini

bukanlah bilangan. Akan tetapi garis dengan sudut inklinasi nol yaitu garis horisontal

mempunyai kemiringan yaitu nol.

2/22/!Tvevu!Jolmjobtj!ebo!Lfnjsjohbo!!–!!41!
BAB I Sistem Koordinat Cartesius

Terlepas dari ketiadaan kemiringan garis vertikal, ada suatu hubungan yang

sederhana antara kemiringan dengan pasangan koordinat titik pada suatu garis.

Kemiringan suatu garis dapat dinyatakan dalam bentuk dari koordinat sembarang dua

titik pada garis itu, misalnya melalui titik P1(x1, y1) dan P2(x2, y2) seperti pada gambar

1.18.

Y
⎫ P2(x2, y2)


⎬ y2 – y1

P1(x1, y1) θ ⎪

14243
x2 − x1
θ

O X

Gambar 1.18

Maka kemiringan garis P1P2 diberikan oleh

y 2 − y1 y − y2
m = tan θ = = 1 ; di mana x1 ≠ x2. (3)
x 2 − x1 x1 − x2

Contoh 1:

Tentukan kemiringan garis yang memuat titik P1(1, 5) dan P2(7, –7)

2/22/!Tvevu!Jolmjobtj!ebo!Lfnjsjohbo!!–!!42!
BAB I Sistem Koordinat Cartesius

Jawab :

Dengan menggunakan rumus (3) di atas diperoleh

y 2 − y1
m =
x 2 − x1

− 7 − 5 − 12
= = = – 2.
7 −1 6

1.12. Garis-garis Sejajar dan Tegak Lurus

Jika dua garis yang bukan vertikal adalah sejajar maka harus mempunyai

sudut inklinasi sama besar, sehingga mempunyai kemiringan yang sama. Jika dua

garis sejajar adalah vertikal maka salah satunya pasti tidak mempunyai kemiringan.

Sebaliknya jika garis mempunyai kemiringan sama maka mereka mempunyai sudut

inklinasi yang sama dan oleh karena itu mereka sejajar. Jadi

dua garis yang mempunyai kemiringan m1 dan m2 adalah sejajar jika dan

hanya jika

m1 = m2 (1)

atau kedua garis tidak mempunyai kemiringan (lihat gambar 1.19).

2/23/!Hbsjt!Tfkbkbs!ebo!Ufhbl!Mvsvt!!–!!43!
BAB I Sistem Koordinat Cartesius

l1 l2
θ1 θ2
X

Gambar 1.19

Jika dua garis bukan vertikal l1 dan l2 dengan sudut inklinasi θ1 dan θ2 tegak

lurus (lihat gambar 1.20),

Y θ1
θ2

θ1
θ2
x

Gambar 1.20

maka

θ1 – θ2 = 90°,

atau

θ1 = θ2 + 90°,

Jadi

1
tanθ1 = tan(θ2 + 90°) = – cotθ2 = − ,
tan θ 2

atau

1
m1 = − (2)
m2

2/23/!Hbsjt!Tfkbkbs!ebo!Ufhbl!Mvsvt!!–!!44!
BAB I Sistem Koordinat Cartesius

1
Di lain pihak, jika m1 = − , dengan argumen penelusuran balik penalaran
m2

di atas maka dapat ditunjukkan bahwa selisih sudut inklinasinya adalah 90° dan

kedua garis adalah tegak lurus. Kenyataan itu dituangkan dalam teorema berikut.

Teorema 1.3 :

Jika dua garis l1 dan l2 mempunyai kemiringan m1 dan m2 berturut-turut, maka

mereka

(a) sejajar jika dan hanya jika m1= m2,

(b) tegak lurus jika dan hanya jika m1m2 = –1.

Contoh 1:

Tentukan kemiringan dari garis l1 yang memuat (1, 5) dan (3, 8) dan garis l2

yang memuat (–4, 1) dan (0, 7); tentukan apakah l1 dan l2 sejajar, berimpit,

tegak lurus atau yang lain.

Jawab:

Pertama kita hitung masing-masing kemiringan garis

8−5 3 7 −1 6 3
m1 = = , m2 = = = ,
3 −1 2 0 − (−4) 4 2

2/23/!Hbsjt!Tfkbkbs!ebo!Ufhbl!Mvsvt!!–!!45!
BAB I Sistem Koordinat Cartesius

Karena m1 = m2 maka l1 dan l2 sejajar. Untuk menguji apakah keduanya

berimpit kita ambil sembarang titik pada masing-masing garis kemudian kita

hitung kemiringannya, misalkan kita ambil titik (1, 5) pada l1 dan titik (–4, 1).

5 −1 4
m3 = = .
1 − (−4) 5

Karena m3 ≠ m1 maka titik (–4, 1) tidak dapat berada di l1. Jadi l1 dan l2 adalah

dua garis yang sejajar dan tidak berimpit.

1.13. Sudut antara Dua Garis

Dua garis yang berpotongan, l1 dan l2, akan membentuk sudut yang saling

berpelurus (suplemen), salah satu darinya diambil sebagai sudut antara dua garis.

Untuk menghindari arti ganda, kita definisikan :

Sudut antara garis l1 dan l2 dilambangkan dengan ∠(l1, l2) adalah

sudut terkecil dalam arah berlawanan dengan arah putar jarum jam

yang diperlukan untuk memutar garis l1 dengan pusat titik

potongnya sehingga berimpit dengan garis l2.

Gambar 1.21 memperlihatkan sudut antara dua garis l1 dan l2, yang

dinotasikan dengan θ.

2/24/!Tvevu!Boubsb!Evb!Hbsjt!!–!!46!
BAB I Sistem Koordinat Cartesius

l2 l1 l1 l2

θ
θ

θ
θ

(a) (b)

Gambar 1.21

Suatu rumus sederhana untuk tangen sudut antara dua garis dapat diturunkan

dalam bentuk kemiringan dari kedua garis pembentuk sudut tersebut. Misalkan garis

l1 dan l2 berturut-turut mempunyai sudut inklinasi θ1 dan θ2 dan kemiringan m1 dan

m2. Misalkan θ adalah sudut yang dibentuk oleh garis l1 dan l2 seperti pada gambar

1.22. berikut ini.

l1
l2

θ1 θ1
X

Gambar 1.22

2/24/!Tvevu!Boubsb!Evb!Hbsjt!!–!!47!
BAB I Sistem Koordinat Cartesius

Dengan menggunakan kenyataan bahwa sudut luar suatu segitiga sama

dengan jumlah dua sudut dalam lainnya maka diperoleh

θ = θ2 – θ1 atau θ = 180° + θ2 – θ1 (1)

Persamaan terkhir akan dipenuhi pada posisi relatif l1 terhadap l2 seperti pada gambar

1.21 (b).

Dalam kasus lain, berdasarkan rumus trigonometri diperoleh hubungan

tan θ 2 − tan θ 1
tan θ = tan (θ2 – θ1) = (2)
1 + tan θ 1 tan θ 2

m2 − m1
atau tan θ = (3)
1 + m1 m2

Tanda anak panah dalam arah putar berlawanan dengan arah putar jarum jam

di atas rumus (3) menandakan bahwa sudut θ diukur dari garis l1 ke l2 berlawanan

arah dengan arah putar jarum jam.

Jika garis-garis adalah sejajar, yaitu m1 = m2 maka tan θ = 0, dan θ = 0° atau

180°. Jika garis-garis tersebut saling tegak lurus maka menurut teorema 1.3 penyebut

persamaan (3) menjadi nol, dan oleh karena itu menjadi takberarti. Ini juga tak berarti

jika salah satu garis adalah tegak lurus dengan sumbu-x atau sejajar dengan sumbu-y.

2/24/!Tvevu!Boubsb!Evb!Hbsjt!!–!!48!
BAB I Sistem Koordinat Cartesius

Contoh 1:

Tentukan besar sudut-sudut dalam segitiga yang mempunyai titik-titik sudut

dengan koordinat A(–4, 2), B(12, –2), dan C(8, 6).

Jawab :
C(8, 6)
Y

A(–4, 2)

O X
B(12, –2)

Gambar 1.23

Gambar 1.23 menunjukkan gambar segitiga tersebut. Sudut-sudut yang dicari

ditandai dengan anak panah dengan arah berlawanan dengan arah putar jarum

jam. Dengan persamaan (3) seksion 1.10 dapat ditemukan

−2−2 1
mAB = =– ,
12 + 4 4

6−2 1
mAC = = ,
8+4 3

6+2
mBC = = –2.
8 − 12

2/24/!Tvevu!Boubsb!Evb!Hbsjt!!–!!49!
BAB I Sistem Koordinat Cartesius

Dengan menggunakan rumus (3) seksi ini diperoleh

1
3
− (− 14 ) 7
tan A = = = 0.6364, sehingga A = 32,4712°
1 + 3 (− 4 ) 11
1 1

− 14 − (−2) 7
tan B = = = 1.1667, sehingga B = 49,3987°
1 + (− 4 )(−2)
1
6

− 2 − 13
tan C = = –7, sehingga C = 180° – 81,8699° = 98.1301
1 + (−2) 13

Jika dicek A + B + C = 180°

Tangen sudut-sudut dalam segitiga juga dapat dicek tanpa mencari besar

sudutnya dengan rumus trigonometri yang lain yaitu

tan A + tan B + tan C = tan A tan B tan C.

Dari contoh diatas jika kita ujikan akan diperoleh kesamaan

7 7 7 7
+ –7= × ×( – 7)
11 6 11 6

343 343
atau – =–
66 66

2/24/!Tvevu!Boubsb!Evb!Hbsjt!!–!!50!
BAB I Sistem Koordinat Cartesius

Latihan 1 F:

Paa soal 1 – 8, tentukan kemiringan (jika ada) dan besar sudut inklinasi dari garis

yang melalu titik-titik yang diberikan.

1. (2, 3), (5, 8) 5. (–4, 2), (–4, 5)

2. (3, –2), (5, 1) 6. (5, 0), (0, –3)

3. (–3, –2/), (3, 2) 7. (a, a), (b, b), a ≠ b

4. ( 4, 0), (2, 5) 8. (a, a), (–a, 2a), a ≠ 0

Pada soal 9 – 12, tentukan kemiringan (jika ada) dari garis yang melalui dua pasangan

titik yang diberikan dan tentukan apakah kedua garis itu sejajar, berimpit, saling

tegak lurus, atau yang lain.

9. (1, –2), (–2, –11); (2, 8), (0, 2)

10. (3, 4), (1, –2); (–5, –4), (4, –1)

11. (3, 5), (2, 1); (6, 1), (–2, 3)

12. (3, 7), (–3, –1); (–1, –2), (–5, 1)

13. (1, 1), (4, –1); (–2, 3), (7, –3)

14. (5, 5), (4, –1); (6, 3), (2, –2)

Mbujibo!2!G!!!51!
BAB I Sistem Koordinat Cartesius

15. (2, 2), (–2, 7); (0, 4), (6, –5)

16. (3, 7), (–3, –1); (–1, –2), (–5, 1)

17. (1,0), (0, –1); (2, 2), (3, 1)

18. Jika sebuah garis melalui (x, 5) dan (4, 3) adalah sejajar dengan garis yang

mempunyai kemiringan 3, tentukan x.

19. Jika sebuah garis melalui (x, 4) dan (3, 2) adalah tegak lurus dengan garis yang

mempunyai kemiringan 3, tentukan x.

20. Jika sebuah garis melalui (x, 1) dan (0, y) adalah berimpit dengan garis yang

melalui (5, –1) dan (–1, 3), tentukan x dan y.

21. Jika sebuah garis melalui (2, 7) dan (0, y) adalah tegak lurus dengan garis yang

melalui (1, 3) dan (x, 2), tentukan hubungan antara x dan y.

22. Jika sebuah garis melalui (x, 4) dan (3, 7) adalah sejajar dengan garis yang

melalui (x, –1) dan (5, 1), tentukan x.

23. Tentukan kemiringan semua garis tengah dari segitiga yang titik-titik sedutnya

mempunyai koordinat (2, 6), (8, 3), dan (–2, –1).

24. Dengan pengertian kemiringan, tunjukkan bahwa titik-titik (1, 1), (4, 1), (3, –2),

dan (0, –2) adalah titik-titik dari jajaran genjang.

Mbujibo!2!G!!!52!
BAB I Sistem Koordinat Cartesius

25. Dengan pengertian kemiringan, tunjukkan bahwa (–2, 4), (2, 0), (2, 8), dan (6, 4)

adalah titik-titik dari bujur sangkar.

26. Tentukan besar sudut yang dibentuk oleh garis yang melalui (2, 6) dan (4, -1) dan

garis yang melalui (5, 2) dan (0, 3).

27. Tentukan sudut-sudut dalam segitiga yang titik-titik sudutnya

(a). (1, 4), (6, 2), (0, –3),

(b). (0, 2), (4, –1), (–2, 3),

(c). (3, 6), (4, –1), (–3, 0),

(d). (1, 2), (3, 6), (7, –1),

(e). (5, 1), (3, –2), (–3, 4),

(f). (–1, 2), (8, 0), (3, 4).

28. Tentukan kemiringan garis yang membentuk sudut dengan garis yang melalui

titik (–1, 2) dan (5, 5) dengan sifat

(a). sudut yang dibentuk mempunyai tangen 3/5

(b). sudut yang dibentuk mempunyai tangen –3/5

(c). sudut yang dibentuk berukuran 45°

(d). sudut yang dibentuk berukuran 135°

Mbujibo!2!G!!!53!
BAB I Sistem Koordinat Cartesius

29. Buktikan bahwa tangen sudut suatu garis yang mempunyai kemiringan m

terhadap sumbu-y adalah –1/m.

30. Dua garis berpotongan mempunyai kemiringan berturut-turut m1 dan m2.

Tunjukkan bahwa garis bagi sudut yang dibentuk oleh kedua garis mempunyai

kemiringan

m1 m2 − 1 ± (m12 + 1)(m22 + 1)
m1 + m2

Mbujibo!2!G!!!54!
BAB 2 Tempat Kedudukan dan Persamaan

2 T
Teem
mppaatt K
Keed
duud
duukkaan
nddaan
n PPeerrssaam
maaaan
n

2.1. Tempat Kedudukan

Tempat kedudukan (locus) adalah himpunan titik-titik yang memenuhi suatu

syarat tertentu yang diberikan. Atau bisa juga diartikan sebagai lintasan dari sebuah

titik yang bergerak yang dibatasi oleh satu atau beberapa syarat. Dalam geometri

bidang tempat kedudukan biasanya berupa sebuah kurva, meskipun kadang-kadang

merupakan susunan lebih dari satu kurva dan kadang-kadang memuat satu atau

beberapa titik terisolasi. Jadi, misalnya tempat kedudukan dari titik-titik yang

berjarak 5 satuan dari titik asal adalah lingkaran dengan pusat di titik asal dan dengan

radius 5.

Syarat yang ditentukan pada titik dalam tempat kedudukan bisa dinyatakan

secara analitik dengan sebuah persamaan yang mana koordinat-koordinat titik

tersebut harus memenuhi persamaan. Persamaan ini disebut persamaan tempat

kedudukan, sebaliknya tempat kedudukannya disebut tempat kedudukan dari

persamaan. Secara umum prinsip dasar geometri analitik adalah :

3/2/!Ufnqbu!Lfevevlbo!!–!55!
BAB 2 Tempat Kedudukan dan Persamaan

Jika koordinat suatu titik memenuhi sebuah persamaan, maka titik tersebut
berada pada tempat kedudukan persamaan.
Jika sebuah titik berada pada tempat kedudukan dari sebuah persamaan, maka
koordinat titik tersebut akan memenuhi persamaan.

2.2. Grafik Persamaan

Kurva atau tempat kedudukan suatu persamaan disebut grafik dari

persamaan. Grafik dari suatu persamaan dalam dua variabel x dan y secara sederhana

adalah himpunan semua titik (x, y) pada bidang yang memenuhi persamaan yang

diberikan. Menggambar grafik suatu persamaan adalah salah satu masalah pokok dari

geometri analitik. Salah satu cara sederhana yang bisa dilakukan dalam menggambar

grafik suatu persamaan adalah membuat plot beberapa titik tertentu kemudian

dilakukan penghalusan gambar/grafik.

Cara penggambaran grafik seperti di atas untuk beberapa kasus memang

memudahkan, misalnya pada garis lurus. Tetapi untuk grafik dari persamaan yang

lebih umum cara di atas sangat tidak memuaskan. Untuk memperoleh grafik yang

ideal biasanya dipelajari karakteristik dari persamaan yang diberikan kemudian

menentukan titik-titik tertentu yang merupakan karakteristik tertentu dari persamaan.

Dalam hal ini aljabar menjadi sangat dominan dalam menentukan karakteristik suatu

persamaan. Misalkan informasi tentang titik-titik di mana grafik berlaku ekstrim. Jadi

yang perlu di pelajari hanyalah titik-titik yang merupakan titik ekstrim saja untuk

kemudian dapat dibuat sketsa grafiknya.

3/3/!!Hsbgjl!Qfstbnbbo!–!56!
BAB 2 Tempat Kedudukan dan Persamaan

2.3. Perpotongan Antar Kurva

Jika tempat kedudukan dua persamaan berpotongan, maka koordinat masing-

masing titik potongnya harus memenuhi kedua persamaan tersebut. Oleh karena itu

dalam menemukan titik-titik potong kedua kurva dikenal sebagai persamaan simultan

dan menyelesaikannya dengan metoda aljabar yang telah dikenal. Koordinat titik

potong kurva tersebut akan berupa pasangan penyelesaian real. Penyelesaian imajiner

meskipun valid secara aljabar, tetapi tidak dapat diterima dalam pengertian

geometrik, karena koordinat semua titik adalah bilangan real.

Contoh :

Tentukan titik-titik potong dari tempat kedudukan dengan persamaan

x2 + y2 = 25 (1), dan 4x2 – 9y = 0 (2)

Jawab:

Untuk menyelesaikan persamaan simultan di atas, dapat dilakukan dengan

beberapa metoda yang dikenal dalam aljabar seperti eleminasi atau substitusi

variabel. Misalkan dilakukan dengan cara eleminasi maka kalikan 4 pada

masing-masing ruas persamaan (1) dan kurangkan persamaan (2):

3/4/!!Qfsqpupohbo!Boubs!Lvswb!–!57!
BAB 2 Tempat Kedudukan dan Persamaan

4 × (1) 4x2 + 4y2 = 100

(2) 4x2 – 9y = 0

4 × (1) – (2) 4y2 + 9y = 100

Persamaan kuadrat yang terjadi, 4y2 + 9y – 100 = 0, dapat diselesaikan dengan

pemfaktoran yaitu;

4y2 + 9y – 100 = 0

⇔ (y – 4)(4y + 25) = 0

⇔ y = 4 atau y = – 254

Dengan substitusi y = 4 pada salah satu dari persamaan (1) atau (2) diperoleh

x = ± 3. Sedangkan dengan substitusi y = – 254 diperoleh x = ± 154 i. Jadi

penyelesaian dari persamaan simultan (1) dan (2) adalah

(3, 4), (–3, 4), ( 154 i, – 254 ), (– 154 i, – 254 ).

Dua jawaban pertama merupakan titik potong dari kurva yaitu (3, 4) dan

(–3, 4), dan dua jawaban terakhir karena imajiner tidak tampak pada grafik.

3/4/!!Qfsqpupohbo!Boubs!Lvswb!–!58!
BAB 2 Tempat Kedudukan dan Persamaan

Latihan 2 A

Pada soal 1 – 14 tentukan titik potong dari pasangan persamaan tempat kedudukan

yang diberikan:

1. y = x2, y = x.

2. y = x2 – 2, y = x + 4.

3. y = x2 – 4x, y = 16 – x2

4. x2 + y2 = 25, x – 7y = –25.

5. 4y = x2, 4x = y2.

6. x + y2 = 5, x2 + y2 = 25.

7. y = x2 – 2x, y = 4 – x2 .

8. y = ½x3 – 2x – 1, y + 1 = 0.

9. y = x2, y = 4 – x2 .

10. x2 + y2 = 36, x2 + y = 6.

11. x2 + y2 = 9, y = x2 + 3.

12. x2 + y2 = 4, y = x2 – 2.

13. x3 = 3y, y = 3x.

Mbujibo!3!B!!–!59!
BAB 2 Tempat Kedudukan dan Persamaan

14. 2x = y2, 4y = x3.

15. Tentukan jarak antara titik-titik potong tempat kedudukan dengan persamaan

x2 + y2 = 25 dengan x2 – 6x + 7y – 19 = 0.

16. Tentukan kemiringan segmen garis yang menghubungkan titik potong tempat

kedudukan dengan persamaan : y = 4 – x2 dengan y = x2 + 4x + 4

2.4. Menemukan Persamaan Tempat Kedudukan

Masalah mendasar yang kedua dalam geometri analitik adalah menentukan

persamaan tempat kedudukan titik-titik yang memenuhi suatu syarat yang diberikan.

Prosedur umum untuk menyelesaikan masalah di atas adalah sebagai berikut:

– Buatlah gambar yang menunjukkan data dan asumsikan bahwa P(x, y) adalah

sembarang titik pada tempat kedudukan.

– Tuliskan hubungan atau syarat yang diberikan.

– Nyatakan kondisi ini dalam bentuk koordinat x dan y pada titik P kemudian

sederhanakan persamaan yang terjadi.

Contoh 1:

Tentukan persamaan tempat kedudukan titik-titik yang jaraknya terhadap titik

(–4, 0) adalah sama dengan jarak titik tersebut dari sumbu-y.

3/5/!Nfofnvlbo!Qfstbnbbo!Ufnqbu!Lfevevlbo!!–!60!
BAB 2 Tempat Kedudukan dan Persamaan

Jawab:

Misalkan P(x, y) sembarang titik pada tempat kedudukan. Misalkan A

menyatakan titik (–4, 0) dan B titik proyeksi tegak lurus titik P pada sumbu-y.

Perhatikan gambar 2.1. berikut:

Y
P(x, y)
B

X
A(–4, 0) O

Gambar 2.1:

Maka syarat yang diberikan adalah

PA = PB (1)

Dengan rumus jarak seperti pada teorema 1.1. maka,

PA = ( x − (−4)) 2 + y 2 = ( x + 4) 2 + y 2 (2)

Dengan definisi absis, maka jarak titik P dari sumbu-y adalah x. Oleh karena

itu panjang PB adalah

B = |x| (3)

3/5/!Nfofnvlbo!Qfstbnbbo!Ufnqbu!Lfevevlbo!!–!61!
BAB 2 Tempat Kedudukan dan Persamaan

Dengan menggunakan (1) , (2), dan (3) diperoleh

( x + 4) 2 + y 2 = |x| (4)

Kemudian kuadratkan kedua ruas dan dengan penyederhanaan secara aljabar

akan diperoleh persamaan tempat kedudukan yang dicari yaitu

y2 + 8x + 16 = 0 (5)

Setiap titik yang memenuhi syarat yang diberikan, yaitu setiap titik pada

tempat kedudukan, akan mempunyai koordinat yang memenuhi persamaan (5) di

atas. Sebaliknya, dengan menelusuri ulang langkah-langkah pada penurunan

persamaan, kita dapat membuktikan bahwa setiap titik yang koordinatnya memenuhi

persamaan akan berada pada tempat kedudukan dengan syarat yang diberikan.

Latihan 2 B

Tentukan persamaan tempat kedudukan titik-titik dengan syarat-syarat yang

diberikan berikut

1. Berjarak 5 dari titik (2, 3).

2. Berjarak sama dari titik A(7, 4) dan B(1, –2).

3. Berjarak sama dari titik (3, 6) dan dari sumbu-x.

Mbujibo!3!C!–!62!
BAB 2 Tempat Kedudukan dan Persamaan

4. Jaraknya dari titik asal adalah dua kali dari jarak titik tersebut terhadap titik

(2, 3).

5. Jaraknya dari titik (6, 0) adalah dua kali dari jarak titik tersebut terhadap

sumbu-y.

6. Jaraknya dari titik (6, 0) adalah setengah kali dari jarak titik tersebut terhadap

sumbu-y.

7. Jaraknya dari titik (6, 0) adalah setengah kali dari jarak titik tersebut terhadap

titik (–6, 0).

8. Jaraknya dari titik (6, 0) adalah dua satuan lebih panjang terhadap jaraknya

dengan titik asal.

9. Kuadrat jaraknya terhadap titik pusat adalah sama dengan jaraknya terhadap titik

(3, 4).

10. Perkalian jarak titik dari titik (5, 0) dan (–5, 0) adalah sama dengan 25.

11. Jumlah jarak titik dari titik (4, 0) dan (–4, 0) adalah sama dengan 10.

12. Selisih jarak titik dari titik (5, 0) dan (–5, 0) adalah sama dengan 8.

Mbujibo!3!C!!–!63!
BAB 3 Garis Lurus

3 G
Gaarriiss LLu
urru
uss

Dalam geometri aksiomatik/Euclide konsep garis merupakan salah satu unsur

yang “tak terdefinisikan” dalam arti keberadaannya tidak perlu didefinisikan.

Karakteristik suatu garis diberikan pada suatu postulat yang berbunyi sebagai berikut:

– melalui dua buah titik yang berbeda terdapat tepat satu dan hanya satu garis

lurus.

– melalui sebuah titik di luar garis yang diberikan ada satu dan hanya satu garis

yang sejajar dengan garis yang diberikan tersebut.

Dua postulat di atas akan digunakan dalam menganalisis secara aljabar

karakteristik suatu garis dan menyatakannya dalam bentuk persamaan.

3.1. Persamaan Garis Bentuk Titik-Kemiringan

Pandanglah suatu garis yang melalui titik tetap P1(x1, y1) dan mempunyai

kemiringan m. (Perhatikan gambar 3.1.) Jika diambil sembarang titik P(x, y) untuk x

berbeda dengan x1 maka dengan rumus (3) seksi 1.11, kemiringan garis P1P adalah

y − y1
x − x1

4/2/!Cfouvl!Ujujl!.!Lfnjsjohbo!!–!64!
BAB 3 Garis Lurus

Y
P( x , y )

⎪ y – y1

P1(x1, y1) ⎬



14243
x− x1

O X
Gambar 3.1

Kemiringan garis akan sama dengan m jika dan hanya jika titik P berada pada

garis yang diberikan. Jadi, jika P(x, y) berada pada garis yang diberikan maka harus

dipenuhi kesamaan

y − y1
= m.
x − x1

atau jika dilakukan penyederhanaan bentuk pembagian diperoleh persamaan :

y – y1 = m(x – x1). (1)

Persamaan (1) di atas disebut persamaan garis lurus bentuk titik-kemiringan

dan perlu ditekankan kembali bahwa koordinat suatu titik akan memenuhi persamaan

di atas jika dan hanya jika titik itu berada pada garis yang melalui titik P1(x1, y1) dan

mempunyai kemiringan m.

4/2/!Cfouvl!Ujujl!.!Lfnjsjohbo!!–!65!
BAB 3 Garis Lurus

Contoh 1:

Tentukan persamaan garis yang melalui (3, –2) dengan kemiringan 3/5.

Jawab:

Dengan menggunakan rumus (1) di atas diperoleh

y – y1 = m(x – x1).

y – (–2) = 3/5(x – 3).

3x – 5y – 19 = 0.

Grafik garis lurus yang melalui titik (3, –2) dan mempunyai kemiringan 3/5

dapat dilihat pada gambar 3.2 di bawah ini.

P1(3, –2)

Gambar 3.2

4/2/!Cfouvl!Ujujl!.!Lfnjsjohbo!!–!66!
BAB 3 Garis Lurus

Contoh 2:

Tentukan persamaan garis yang melalui P(2, 1) dan membuat sudut 45° dengan

garis 2x – 3y = 6.

Jawab:

Misalkan m1 kemiringan garis l1 yang akan dicari.

Diketahui garis yang diminta membentuk sudut 45° dengan garis l2 ≡ 2x – 3y = 6

yang mempunyai kemiringan m2 = 2/3. Dalam hal ini ada dua garis kasus yang

memenuhi sifat garis yang dicari yaitu :

Kasus 1 : Jika θ = ∠(l1, l2) = 45°

Maka menurut rumus (3) seksi 1.13 didapatkan:

m2 − m1
tan θ =
1 + m1 m2

2
−m
tan 45° = 3
1 + 23 m

2
−m
⇔ 1= 3

1 + 23 m

1
⇔ m=–
5

4/2/!Cfouvl!Ujujl!.!Lfnjsjohbo!!–!67!
BAB 3 Garis Lurus

Karena garis melalui titik P(2, 1) dan mempunyai kemiringan m = –

1
, maka menurut rumus (1) persamaan garis bentuk titik-kemiringan
5

persamaan garis yang dicari adalah:

1
y – 1 = – (x – 2)
5

atau x + 5y = 7.

Kasus 2 : Jika θ = ∠(l2, l1) = 45°

Maka menurut rumus (3) seksi 1.13 didapatkan:

m1 − m2
tan θ =
1 + m1 m2

m − 23
tan 45° =
1 + 23 m

m − 23
⇔ 1=
1 + 23 m

⇔ m=5

Karena garis melalui titik P(2, 1) dan mempunyai kemiringan m = 5,

maka menurut rumus (1) persamaan garis bentuk titik-kemiringan

persamaan garis yang dicari adalah:

4/2/!Cfouvl!Ujujl!.!Lfnjsjohbo!!–!68!
BAB 3 Garis Lurus

y – 1 = 5(x – 2)

atau

5x – y = 9.

Gambar 3.3.

3.2. Persamaan Garis Bentuk Titik – Titik.

Mengingat postulat pertama tentang karakteristik garis lurus, maka apabila

diketahui dua titik yang berbeda pada bidang, maka garis yang melalui dua titik

tersebut dapat dilukis. Dengan demikian persamaan garisnya pun juga dapat

ditemukan.

4/3/!Cfouvl!Ujujl.!Ujujl!!–!69!
BAB 3 Garis Lurus

Y
⎫ P(x2, y2)


⎬ y2 – y1

P1(x1, y1) ⎪

14243
x2 − x1

O X
Gambar 3.4

Misalkan sebuah garis melalui titik P1(x1, y1) dan P2(x2, y2), x1 ≠ x2 maka

menurut rumus (3) seksi 1.11 garis P1P2 mempunyai kemiringan

y2 − y1
m=
x2 − x1

y2 − y1
Berdasarkan rumus (1) seksi 3.1, dengan mengganti kemiringan m =
x2 − x1

dan memilih satu dari dua titik yang diketahui diperoleh hubungan :

y2 − y1
y – y1 = (x – x1) (1)
x2 − x1

atau dituliskan dalam bentuk

y − y1 x − x1
= (2)
y 2 − y1 x2 − x1

4/3/!Cfouvl!Ujujl.!Ujujl!!–!70!
BAB 3 Garis Lurus

Persamaan (1)atau (2) di atas disebut persamaan garis bentuk titik – titik.

Satu hal yang menjadi catatan bahwa penamaan titik sebagai “titik pertama” dan

“titik kedua” diambil secara sembarang.

Contoh 1:

Tentukan persamaan garis yang melalui (4, 1) dan (–2, 3).

Jawab:

Dengan menggunakan persamaan (1) di atas diperoleh persamaan

y 2 − y1
y – y1 = (x – x1).
x 2 − x1

3 −1
y–1 = (x – 4).
−2−4

x + 3y – 7 = 0

Contoh 2:

Tentukan persamaan garis yang tegak lurus dengan segmen yang

menghubungkan titik A(5, –3) dengan B(1, 7) dan melalui titik tengah segmen

tersebut (bisektor).

4/3/!Cfouvl!Ujujl.!Ujujl!!–!71!
BAB 3 Garis Lurus

Jawab:

Misalkan titik tengah segmen AB adalah P. Pertama kita cari koordinat titik P

dengan rumus (5) seksi 1.8.

5 +1 −3+7
xP = = 3; yP = =2
2 2

Jadi koordinat titik P (3, 2).

Kemiringan dari segmen yang menghubungkan titik (5, –3) dan (1, 7) adalah

−3−7 5
m= = − ;
5 −1 2

sehingga kemiringan dari garis yang tegak lurus AB adalah m = 2/5.

Dengan menggunakan persamaan (1) seksi 3.1 untuk titik (3, 2) dan m = 2/5

diperoleh persamaan yang kita cari yaitu

2
y–2 = (x – 3),
5

⇔ 2x – 5y + 4 = 0

4/3/!Cfouvl!Ujujl.!Ujujl!!–!72!
BAB 3 Garis Lurus

3.3. Persamaan Garis Bentuk Kemiringan – Titik Potong

Jika sebuah garis mempunyai kemiringan m dan memotong sumbu-y sejauh

b satuan maka dihasilkan suatu kasus khusus dari permasalahan yang diuraikan

dalam seksi 3.1. (Lihat gambar 3.5.)

(0, b)

O X

Gambar 3.5

Untuk titik tetap (0, b) dan kemiringan m, maka dari (1) seksi 3.1 diperoleh

persamaan

y – b = m(x – 0)

atau

y = mx + b (1)

Persamaan (1) di atas disebut bentuk kemiringan – titik potong dari

persamaan garis lurus. Jelasnya garis dengan persamaan (1) merupakan garis yang

4/4/!Cfouvl!Lfnjsjohbo!.!Ujujl!Qpupoh!!–!73!
BAB 3 Garis Lurus

mempunyai kemiringan m, dan memotong sumbu-y di b, yaitu untuk x = 0, maka

y = b.

Contoh 1:

Tentukan persamaan garis yang mempunyai kemiringan 2 dan memotong

sumbu-y di 5.

Jawab:

y = mx + b

y = 2x + 5

2x – y + 5 = 0

Contoh 2:

Tentukan persamaan garis p yang tegak lurus dengan garis l ≡ x + 3y = 6 dan

terhadap sumbu-sumbu koordinat membentuk segitiga yang luasnya 6 satuan.

Jawab:

Karena p tegak lurus l maka menurut teorema 1.3 maka diperoleh

4/4/!Cfouvl!Lfnjsjohbo!.!Ujujl!Qpupoh!!–!74!
BAB 3 Garis Lurus

mp = – 1/ml

1
=– =3
−1 3

Misalkan garis p memotong sumbu-y di titik B(0, b), maka persamaan garis p

menurut rumus (1) berbentuk

y = 3x + b (2)

Misalkan memotong sumbu-x di titik A maka dari rumus (2) diperoleh

1
xA = – b
3

Diketahui bahwa luas segitiga AOB = 6, maka

½ |OA|⋅|OB| = 6

1 1
− b |b| = 6
2 3

b2 = 36

b =±6

Jadi garis yang dicari ada dua macam yaitu

y = 3x + 6 dan y = 3x – 6

4/4/!Cfouvl!Lfnjsjohbo!.!Ujujl!Qpupoh!!–!75!
BAB 3 Garis Lurus

atau p1 ≡ 3x – y + 6 = 0 dan p2 ≡ 3x – y – 6 = 0

p1≡ 3x – y + 6 = 0

B1

A1 A2
B2

p2≡ 3x – y – 6 = 0

Gambar 3.6

3.4. Garis-garis Sejajar Sumbu Koordinat

Garis-garis vertikal tidak dapat direpresentasikan dengan bentuk titik-

kemiringan, sebab tidak mempunyai kemiringan. Perlu diingat bahwa “tidak

mempunyai kemiringan” bukan berarti “kemiringan nol”. Sebuah garis horisontal

mempunyai kemiringan nol, dan dapat direpresentasikan dengan bentuk titik-

kemiringan, yang memberikan bentuk persamaan y – y1 = 0. Dalam hal ini persamaan

tidak memuat x. Tetapi titik-titik pada garis horisontal memenuhi keadaan ini, yaitu

4/5/!Hbsjt.hbsjt!Tfkbkbs!Tvncv!Lppsejobu!!–!76!
BAB 3 Garis Lurus

mempunyai koordinat y yang sama, tanpa memandang berapa koordinat x. Dengan

cara yang sama, titik-titik pada garis vertikal memenuhi kondisi bahwa semua titik

mempunyai koordinat x yang sama. Jadi jika (x1, y1) adalah salah satu titik di garis

vertikal, maka setiap titik (x, y) dengan x = x1 atau x – x1 = 0 berada pada garis

vertikal tersebut.

y1 y = y1
x = x1

O x1 X

Gambar 3.7

Contoh 1:

Tentukan persamaan garis vertikal yang melalui (5, –2).

Jawab:

Karena koordinat x dari titik yang diketahui adalah 5, maka semua titik yang

berada pada garis tersebut mempunyai absis 5. Jadi

x = 5 atau x – 5 = 0

4/5/!Hbsjt.hbsjt!Tfkbkbs!Tvncv!Lppsejobu!!–!77!
BAB 3 Garis Lurus

3.5. Persamaan Umum Garis Lurus

Dari pembahasan pada seksi-seksi sebelumnya terlihat bahwa persamaan

sembarang garis lurus adalah berderajad satu dalam koordinat tegak lurus x dan y.

Sebaliknya akan ditunjukkan bahwa sembarang persamaan berderajad satu dalam x

dan y menyatakan sebuah garis lurus. (Hal ini merupakan jawaban mengapa sebuah

persamaan derajad satu disebut persamaan linier).

Persamaan umum derajad satu dalam x dan y adalah

Ax + By + C = 0 (1)

di mana A dan B tidak keduanya nol.

Jika B ≠ 0, bagilah kedua ruas persamaan (1) dengan B dan setelah disusun

ulang akaan diperoleh,

A C
y=– x– (2)
B B

A C
Ini adalah sebuah garis dengan kemiringan – dan memotong sumbu-y di – ,
B B

meskipun A atau C atau keduanya bernilai nol.

Jika B = 0, maka A ≠ 0 dan selanjutnya akan diperoleh persamaan

C
x=– , (3)
A

4/6/!Qfstbnbbo!Vnvn!Hbsjt!Mvsvt!!–!78!
BAB 3 Garis Lurus

yang mana ini merupakan persamaan garis lurus yang sejajar dengan sumbu-y jika

C ≠ 0, dan berimpit dengan sumbu-y jika C = 0.

Dengan demikian dalam semua kasus, persamaan (1) merepresentasikan

sebuah garis lurus.

A
Seperti telah diperlihatkan bahwa kemiringan garis (1) adalah – dan
B

C
memotong sumbu-y di – (dengan asumsi pada masing-masing kasus B ≠ 0). Untuk
B

C
menentukan perpotongan dengan sumbu-x diambil y = 0 akan menghasilkan x = – .
A

(dengan asumsi A ≠ 0).

Pada penggambaran sketsa grafik sembarang persamaan derajad satu yang

berbentuk Ax + By + C = 0 dapat ditentukan dengan cukup mengambil plot dua

koordinat titik berbeda sembarang yang termuat dalam garis itu, kemudian lukis garis

yang melalui kedua titik.

Salah satu cara termudah dan tercepat dalam membuat sketsa garis adalah

mengambil titik-titik potong dengan sumbu koordinat sebagai dua titik sembarang itu

kemudian menghubungkan kedua titik itu sebagai garis lurus. Satu masalah yang

mungkin timbul adalah apabila garis melalui titik pusat koordinat, atau kedua titik

potong sangatlah dekat, atau mungkin sulit menggambarkan secara tepat dikarenakan

perpotongan di kedua sumbu berupa nilai pecahan. Tetapi hal ini bisa diatasi dengan

4/6/!Qfstbnbbo!Vnvn!Hbsjt!Mvsvt!!–!79!
BAB 3 Garis Lurus

mengambil sembarang titik lain yang termuat dalam garis, kemudian digambar

sebagaimana cara sebelumnya.

Contoh 1:

Buat sketsa grafik dari garis 2x – 3y – 6 = 0

Jawab:

Titik potong dengan sumbu-x dapat dicari dengan memberi nilai y = 0, sehingga

diperoleh x = 3. Jadi (3, 0) adalah titik potong dengan sumbu-x.

Titik potong dengan sumbu-y dapat dicari dengan memberi nilai x = 0, sehingga

diperoleh y = –2. Jadi (0, –2) adalah titik potong dengan sumbu-y. Dari titik

(3, 0) dan (0, -2) dapat dilukis sketsa grafik persamaan tersebut seperti pada

gambar 2.2.

Gambar 3.8

4/6/!Qfstbnbbo!Vnvn!Hbsjt!Mvsvt!!–!80!
BAB 3 Garis Lurus

Latihan 3.A

Pada soal 1 – 8, tentukan persamaan garis yang mempunyai kemiringan dan melalui

titik yang diberikan dan buatlah sketsa grafiknya.

1. (2, –4); m = –2 2. (–2, 1); m = 3

3. (5, 1); m = –4 4. (2, 3); m = –2

5. (0, 0); m = 1 6. (0, –2); m = –4

7. (–3, 1); m = 0 8. (–4, –5); tidak mempunyai kemiringan

Pada soal 9 – 16, tentukan persamaan garis yang melalui dua titik yang diberikan dan

buatlah sketsa grafiknya.

9. (1, 4) dan (3, 5) 10. (–2, 1) dan (6, –1)

11. (–2, 4) dan (3, 5) 12. (–2, 1) dan (–1, –1)

13. (0, 0) dan (1, 5) 14. (–2, 1) dan (8, 0)

15. (4, 5) dan (4, 8) 16. (–2, 1) dan (–1, 4)

17. Tentukan perpotongan dengan sumbu-sumbu koordinat dan kemiringan masing-

masing garis berikut. Gambar garisnya pada bidang koordinat.

a. 3x – 2y – 12 = 0, b. 2x + 7y – 21 = 0,

Mbujibo!4!B!!–!81!
BAB 3 Garis Lurus

c. x – 5y + 20 = 0, d. y = 3x + 5,

e. –4x + 3y + 18 = 0, f. x = 3y – 4,

g. 3x + 5 = 0, h. 2x + 5y = 0,

i. 2y – 12 = 0, j. 2x + 8y + 3 = 0.

18. Tentukan persamaan bisektor tegak lurus (garis bagi) dari segmen garis yang

dihubungkan oleh titik-titik:

a. (4, 2), (8, 6), b. (2, 1), (8, –3),

c. (8, 1), (–3, –6), d. (–2, –7), (8, –4),

e. (4, –6), (–10, 0), f. (0, –15), (7, –4),

g. (8, 3), (–4, 3), h. (a, 0), (0, b),

i. (7, 0), (0, –4), j. (0, 0), (a, b).

19. Tunjukkan bahwa persamaan garis yang memotong sumbu-x di a dan sumbu-y di

b dengan a, b ≠ 0 adalah

x y
+ =1
a b

Persamaan ini disebut bentuk perpotongan dari persamaan garis.

Mbujibo!4!B!!–!82!
BAB 3 Garis Lurus

20. Tentukan persamaan garis yang memotong sumbu-x di 5 dan sumbu-y di –2.

21. Tentukan persamaan sisi-sisi segitiga dengan titik-titik sudutnya (1, 4), (3, 0),

dan (–1, –2).

22. Tentukan persamaan garis-garis tengah dari segitiga soal no 20.

23. Tentukan persamaan garis-garis tinggi dari segitiga soal no 20.

24. Tentukan persamaan garis yang sejajar dengan 3x – 2y + 1 = 0 dan melalui titik

(5, 1).

25. Tentukan persamaan garis yang sejajar dengan 2x + y – 3 = 0 dan memotong

sumbu-y di 5.

26. Tentukan persamaan garis yang tegak lurus dengan x + 2y – 5 = 0 dan memuat

titik (4, 1).

27. Tentukan persamaan garis yang tegak lurus dengan 3x + y – 5 = 0 dan memotong

sumbu-x di 4.

28. Tentukan persamaan garis yang mempunyai kemiringan m dan memotong

sumbu-x di a.

29. Tentukan persamaan garis yang di kuadran satu dengan sumbu-sumbu koordinat

membentuk segitiga sama kaki dengan luas 8 satuan.

Mbujibo!4!B!!–!83!
BAB 3 Garis Lurus

30. Tentukan persamaan garis yang melalui titik (2, –4) dan membentuk segitiga

sama kaki dengan sumbu koordinat di kuadran empat.

31. Tentukan persamaan garis yang melalui titik (4, –2) dan membentuk segitiga

sama kaki dengan sumbu koordinat di kuadran satu.

32. Tentukan persamaan garis yang melalui titik (3, 5) dan membentuk segitiga

dengan sumbu koordinat di kuadran pertama dengan luas 30 satuan.

33. Tentukan persamaan garis yang melalui titik (2, 3) dan membentuk segitiga

dengan sumbu koordinat di kuadran kedua dengan luas 12 satuan.

34. Tunjukkan bahwa persamaan garis yang melalui (x1, y1) dan (x2, y2) dapat

dinyatakan dalam bentuk

x y 1

x1 y1 1 = 0

x2 y2 1

35. Buktikan bahwa garis-garis A1x + B1y + C1 = 0 dan A2x + B2y + C2 = 0 adalah

saling tegak lurus jika dan hanya jika A1A2 + B1B2 = 0

36. Tentukan tangen sudut dari garis pertama ke garis kedua pada persamaan berikut

a. x – 3y + 7 = 0, 3x – 4y + 6 = 0

b. 2x + 5 + 1 = 0, x+ y+4=0

Mbujibo!4!B!!–!84!
BAB 3 Garis Lurus

c. 2x + 3y – 11 = 0, 5x – 6y + 40 = 0

d. 2x – 7y – 5 = 0, 4x – 3y – 7 = 0

e. 2y + 3 = 0, 2x + 3y = 0

f. 5x + 7y – 6 = 0, 3y – 4 = 0

g. 7x + 24 = 0, 7x – 2y – 8 = 0

h. 6x + 2y – 13 = 0, 3x – 5 = 0

37. Tentukan persamaan garis yang melalui titik (2, 3) dan membuat sudut 45°

dengan garis l ≡ 3x – 4y – 24 = 0.

38. Tentukan tangen sudut dalam segitiga yang sisi-sisinya dibentuk oleh garis-garis

x + 2y – 10 = 0, x – 10y + 14 = 0, dan x – y + 5 = 0.

39. Tentukan besar sudut dalam segitiga yang sisi-sisinya dibentuk oleh garis-garis

3x + y – 26 = 0, 3x – 5y + 4 = 0, dan 3x – 13y – 22 = 0.

40. Tentukan luas segitiga pada soal nomor 36 dan 37.

41. Tentukan titik pada garis 4x + 3y – 4 = 0 yang berjarak sama dari titik (–3, –1)

dan (7, 3).

Mbujibo!4!B!!–!85!
BAB 3 Garis Lurus

3.6. Persamaan Garis Bentuk Normal

Suatu garis dapat ditentukan dengan menentukan panjang p yang tegak lurus

atau normal dari titik asal ke garis tersebut, dan sudut α yaitu sudut arah positif yang

dibentuk oleh sumbu-x dengan garis normalnya yang ditetapkan sebagai arah dari

titik asal terhadap garis. (lihat gambar 3.9)

Y
l

p P(x, y)
R
y Q’
α
M X
O x

Gambar 3.9

Untuk menurunkan persamaan garis dalam bentuk p dan α diambil sembarang

titik P(x, y) pada garis. Ditarik garis dari P yang tegak lurus dengan sumbu-x, hingga

memotong sumbu x di M. Dari M digambar garis yang tegak lurus dengan garis

normal ON dan berpotongan dititik R.

Proyeksi tegak lurus dari OM pada ON adalah:

OR = OM cos α = x cos α. (1)

4/7/!Qfstbnbbo!Hbsjt!Cfouvl!Opsnbm!!–!86!
BAB 3 Garis Lurus

Secara sama proyeksi tegak lurus dari MP pada ON adalah:

RQ = MP cos (90° – α) = y sin α. (2)

Tetapi OR + RQ = OQ = p, (3)

dan dengan menggunakan hubungan (1), (2), dan (3) dapat dituliskan sebagai:

x cos α + y sin α – p = 0 (4)

Persamaan (4) disebut bentuk normal dari persamaan garis lurus yang panjang

normalnya p dan besar sudut normalnya α.

Perlu diingat bahwa p adalah besaran positif (kecuali pada kasus garis melalui

titik asal, yang mana dalam kasus ini nilai p adalah nol).

3.7. Reduksi Persamaan ke Bentuk Normal

Untuk menunjukkan bagaimana mereduksi persamaan umum garis lurus

Ax + By + C = 0 (2)

ke bentuk normal, kita kalikan masing-masing ruas dengan konstanta k sehingga

diperoleh :

kAx + kBy + kC = 0. (2)

4/8/!Sfevltj!Lf!Cfouvl!Opsnbm!!–!87!
BAB 3 Garis Lurus

Jika persamaan (2) dalam bentuk normal, maka jika dibandingkan dengan

persamaan (4) seksi 3.6, maka harus dipunyai

kA = cos α; kB = sin α; kC = – p. (3)

Jika dua persamaan pertama masing-masing dikuadratkan, kemudian

dijumlahkan akan diperoleh:

k2A2 + k2B2 = cos2α + sin2α = 1 (4)

sehingga diperoleh

1 1
k2 = ,k= . (5)
A +B
2 2
± A2 + B 2

Jika hasil ini disubstitusikan ke persamaan (3) akan didapatkan:

A B C
cos α = , sin α = ,p= (6)
± A2 + B 2 ± A2 + B 2 m A2 + B 2

Sehingga persamaan (1) dapat dituliskan sebagai:

Ax + By + C
=0 (7)
± A2 + B 2

Tanda ± yang berada di depan tanda akar dipilih sedemikian hingga p bernilai

positif, dan tanda pada konstanta (yaitu –p) dalam bentuk normal adalah negatif. Hal

4/8/!Sfevltj!Lf!Cfouvl!Opsnbm!!–!88!
BAB 3 Garis Lurus

ini berarti tanda harus dipilih yang berlawanan dengan bentuk konstanta pada

persamaan asal yaitu C.

Jika dalam persamaan (1), C = 0 tetapi B ≠ 0, maka tanda diambil sedemikian

hingga koefisien y dalam bentuk normal harus positif, yaitu diambil tanda yang sama

dengan tanda pada koefisien persamaan asal.

Jika dalam persamaan (1), B = C = 0 tetapi A ≠ 0, maka tanda dipilih

sedemikian hingga koefisien x adalah positif. Dalam kasus ini garis adalah sumbu-y.

Contoh 1:

Reduksi persamaan 3x – 4y – 15 = 0 ke dalam persamaan normal dan buat

sketsa grafiknya.

Jawab:

Menurut (5) nilai k adalah

1 1 1
k= = =
± A2 + B 2 ± 3 2 + (−4) 2 ±5

Karena C = –15 yang berarti bertanda negatif, maka k bertanda positif yaitu

1
k= . Kemudian kalikan ke persamaan asal diperoleh bentuk normal:
5

3x − 4 y − 15
= 0, atau 53 x – 4
5 y – 3 = 0,
5

4/8/!Sfevltj!Lf!Cfouvl!Opsnbm!!–!89!
BAB 3 Garis Lurus

yang menunjukkan bahwa

cos α = 3
5 , sin α = – 54 , p = 3

Untuk membuat sketsa grafiknya, pertama tentukan normal garis dengan sudut

normal

− 54 −4
α = arc tan 3
= .
5 3

Dengan demikian α adalah sudut yang berada di kuadran empat dan dengan

menggunakan tabel trigonometri maka besar sudut α dapat ditemukan yaitu

α = 360° – 53,13° = 306,17°.

Sudut α dapat dikonstruksikan dengan memplot titik N(3, –4) pada bidang

koordinat, kemudian buatlah garis berarah ON sebagai normal garis, maka

ukuran sudut XON sama dengan α. Lukisan garis yang dicari adalah garis yang

tegak lurus dengan ON pada titik Q sedemikian hingga OQ = p = 3.

Contoh 2:

Reduksi persamaan 3x – 4y = 0 ke dalam persamaan normal dan buat sketsa

grafiknya.

4/8/!Sfevltj!Lf!Cfouvl!Opsnbm!!–!90!
BAB 3 Garis Lurus

Jawab:

Menurut (5) nilai k adalah

1 1 1
k= = =
± A2 + B 2 ± 3 2 + (−4) 2 ±5

Karena C = 0 dan kofisien y adalah negatif, maka k dipilih yang bertanda

1
negatif yaitu k = – . Kemudian kalikan ke persamaan asal diperoleh bentuk
5

normal:

3x − 4 y
= 0, atau – 53 x + 4
y = 0,
−5 5

yang menunjukkan bahwa

cos α = – 53 , sin α = 4
5 ,p=0

− 54 −4
α = arc tan 3
= .
5 3

Kemudian α dapat dicari dengan hubungan

4
4
α = arc tan 5
= .
− 3
5 −3

yang berarti α adalah sudut yang berada di kuadran dua dan dengan

menggunakan tabel trigonometri diperoleh besar sudut α = 126,87°.

4/8/!Sfevltj!Lf!Cfouvl!Opsnbm!!–!91!
BAB 3 Garis Lurus

Latihan 3 B

1. Tentukan persamaan bentuk normal dari garis dengan α dan p yang diberikan

berikut ini, dan konstruksikan grafiknya.

(a) α = 45°, p = 4, (h) α = 60°, p = 5

(b) α = 90°, p = 3, (i) α = 150°, p = 10

(c) α = 180°, p = 7, (j) α = 225°, p = 6

(d) α = 270°, p = 2, (k) α = 300°, p = 3

(e) α = 0°, p = 13
2 ,

(f) α = arc cos – 135 di kuadran II, p = 6

(g) α = arc cos – 257 di kuadran IV, p = 8

Reduksi masing-masing persamaan berikut ke dalam bentuk normal, dan

konstruksikan grafiknya.

2. 5x + 12y – 26 = 0.

3. 3x – 4y + 30 = 0.

4. 6x – 8y – 15 = 0.

Mbujibo!4!C!!–!92!
BAB 3 Garis Lurus

5. 2x + 3y + 12 = 0.

6. 8x – 15y + 34 = 0.

7. y = 2x + 3.

8. 5x + 12y = 0.

9. 5x – 12y = 0.

10. 2y = 3.

11. 2x = –5.

12. y = x.

13. y = –2x.

14. Tentukan semua nilai k sedemikian hingga garis 15x + ky – 51 = 0 sejauh 3

satuan dari titik asal.

15. Tentukan persamaan garis yang melalui titik (–3, –2) dan berjarak 2 satuan dari

titik asal. (ada dua jawaban)

16. Tentukan persamaan garis yang melalui titik (–1, 7) dan menyinggung lingkaran

yang berpusat di titik asal dan dengan jari-jari 5. (ada dua jawab)

Mbujibo!4!C!!–!93!
BAB 3 Garis Lurus

3.8. Jarak Titik ke Garis

Sebelum membahas jarak titik ke garis, kita ingat kembali beberapa kenyataan

yang telah dibahas pada seksi sebelumnya.

Garis Ax + By + C1 = 0 dan Ax + By + C2 = 0 haruslah dua garis yang sejajar

karena memberikan bentuk

A C A C
y=– x – 1 dan y = – x – 2 (1)
B B B B

untuk B ≠ 0 dan mereka merepresentasikan dua garis vertikal jika B = 0. Perhatikan

bahwa kedua garis mempunyai kemiringan yang sama.

Selain itu jika diberikan garis Ax + By + C = 0 dan titik (x1, y1), maka garis

yang melalui (x1, y1) dan sejajar garis yang diberikan mempunyai persamaan

Ax + By – (Ax1 + By1) = 0 (2)

Juga garis Ax + By + C1 = 0 dan Bx – Ay + C2 = 0 adalah saling tegak lurus,

karena mereka memberikan bentuk

A C B C
y=– x – 1 dan y = x – 2 (3)
B B A B

jika A dan B ≠ 0; dan memberikan garis horisontal dan garis vertikal jika A = 0 atau B = 0.

Perhatikan bahwa kemiringan kedua garis jika dikalikan hasilnya adalah –1. Lebih lanjut,

4/9/!Kbsbl!Ujujl!Lf!Hbsjt!!–!94!
BAB 3 Garis Lurus

Bx – Ay + (Bx1 – Ay1) = 0 (4)

adalah garis yang memuat (x1, y1) dan tegak lurus Ax + By + C = 0.

Sekarang misalkan diberikan garis l1 ≡ Ax + By + C = 0 dan titik P(x1, y1),

maka

jarak titik P ke garis l ditulis d(P, l) adalah panjang dari titik P ke

titik proyeksi tegak lurus titik tersebut di garis l.

Menurut (4) maka l2 ≡ Bx – Ay – (Bx1 – Ay1) = 0 adalah garis yang tegak lurus

dengan garis l1 dan melalui P(x1, y1) (lihat gambar 3.10). Misalkan kedua garis l1 dan

l2 berpotongan di titik Q maka koordinat titik Q adalah

⎛ AC − B 2 x1 + ABy1 BC + ABx1 − A 2 y1 ⎞
Q⎜⎜ − , − ⎟⎟ (5)
⎝ A2 + B 2 A2 + B 2 ⎠

PQ adalah jarak titik P ke garis l. Dengan menggunakan rumus jarak, maka

panjang d(P, l) = PQ adalah

2 2
⎛ AC − B 2 x1 + ABy1 ⎞ ⎛ BC + ABx1 − A 2 y1 ⎞
d(P, l) = ⎜⎜ x1 + ⎟ + ⎜
⎟ ⎜ 1 y + ⎟⎟
⎝ A2 + B 2 ⎠ ⎝ A2 + B 2 ⎠

2 2
⎛ A 2 x1 + AC + ABy1 ⎞ ⎛ B 2 y1 + BC + ABx1 ⎞
= ⎜⎜ ⎟⎟ + ⎜⎜ ⎟⎟
⎝ A 2
+ B 2
⎠ ⎝ A 2
+ B 2

4/9/!Kbsbl!Ujujl!Lf!Hbsjt!!–!95!
BAB 3 Garis Lurus

⎛ A( Ax1 + By1 + C ) ⎞ ⎛ B( Ax1 + By1 + C ) ⎞


2 2

= ⎜ ⎟ +⎜ ⎟
⎝ A2 + B 2 ⎠ ⎝ A2 + B 2 ⎠

⎛ Ax + By + C ⎞
2

= ( 2 2
)
A +B ⎜ 1 2 12 ⎟
⎝ A +B ⎠

( Ax1 + By1 + C )2
=
A2 + B 2

Ax1 + By1 + C Ax1 + By1 + C


∴ d ( P, l ) = = (6)
± A2 + B 2 A2 + B 2

Tanda ± didepan tanda akar di penyebut dipilih sedemikian hingga jarak yang

dicari d(P, l) bernilai positif.

P(x1, y1)

d Bx – Ay – (Bx1 – Ay1) = 0

Q
x

l ≡ Ax + By + C = 0

Gambar 3.10

Contoh 1:

Tentukan jarak titik (1, 4) ke garis 3x – 5y + 2 = 0.

4/9/!Kbsbl!Ujujl!Lf!Hbsjt!!–!96!
BAB 3 Garis Lurus

Jawab:

Ax1 + By1 + C
d =
A2 + B 2

3 ⋅1 − 5 ⋅ 4 + 2 − 15 15
= = = .
3 2 + (−5) 2 34 34

Contoh 2:

Tentukan semua panjang garis tinggi dari segitiga dengan koordinat titik-titik

sudutnya A(1, –1), B(4, 6), dan C(–1, 7).

Jawab:

C
B

Gambar 3.11

Kita cari persamaan masing-masing garis sisi segitiga ABC.

Persamaan garis AB adalah

4/9/!Kbsbl!Ujujl!Lf!Hbsjt!!–!97!
BAB 3 Garis Lurus

y − y1 x − x1
=
y 2 − y1 x 2 − x1

y − (−1) x −1
=
6 − (−1) 4 −1

7x – 3y – 10 = 0

Kemudian kita hitung jarak titik C(–1, 7) terhadap garis 7x – 3y – 10 = 0

Maka diperoleh

Ax1 + By1 + C
d(C, AB) =
A2 + B 2

7 ⋅ (−1) − 3 ⋅ 7 − 10
=
7 2 + (−3) 2

38
= .
58

Dengan cara yang sama jarak titik A terhadap garis BC dan jarak titik B terhadap garis

AC dapat dicari sebagai latihan.

4/9/!Kbsbl!Ujujl!Lf!Hbsjt!!–!98!
BAB 3 Garis Lurus

Latihan 3 C

1. Tentukan jarak garis 5x + 12y – 30 = 0 terhadap titik : (a) (9, 2), (b) (2, –7), (c)

(–4, 2), (d) (–6, 5).

2. Tentukan jarak garis 8x – 15y + 79 = 0 terhadap titik : (a) (–7, –3), (b) (4, –4),

(c) (–1, 7), (d) (5, 0).

3. Tentukan jarak garis y = 2x – 6 terhadap titik : (a) (4, 5), (b) (3, –5), (c) (–3, 8),

(d) (–10, 2).

4. Tentukan jarak garis 4x + 3y = 0 terhadap titik : (a) (2, –6), (b) (3, –6), (c) (4, 2),

(d) (–8, 3).

5. Tentukan jarak garis y = 3x terhadap titik : (a) (–2, 4), (b) (0, 4√5), (c) (–8, 6),

(d) (√10, 0).

6. Tentukan jarak garis y = 3 terhadap titik : (a) (6, –8), (b) (3, –8), (c) (–2, –1).

7. Tentukan jarak garis x + 3 = 0 terhadap titik : (a) (7, –3), (b) (–1, 4), (c) (–2, –4).

8. Tentukan jarak titik (5, 7) terhadap garis yang melalui titik (8, 3) dan (–4, –6).

9. Tentukan jarak titik (10, –3) terhadap garis yang melalui titik (18, 6) dan (–6, –1).

10. Tentukan titik-titik yang berabsis –3 dan berjarak 6 satuan dari garis 5x – 12y = 3.

Mbujibo!4!D!!–!99!
BAB 3 Garis Lurus

11. Tentukan jarak antara garis 2x – 5y + 5 = 0 dan 2x – 5y + 8 = 0.

12. Tentukan nilai a sehingga garis (x/a) + (y/2) = 1 berjarak 2 satuan dari titik (4, 0).

13. Tentukan c sedemikian hingga jarak dari garis 4x – 3y – 24 = 0 terhadap titik

(c, 2) sama dengan 6.

14. Sebuah garis berpotongan dengan sumbu-y di 2. Tentukan kemiringan garis itu

jika jaraknya terhadap titik (3, –4) adalah 6.

15. Tentukan panjang semua garis tinggi dari segitiga yang mempunyai titik-titik

sudut (–4, 3), (8, –6), (6, 8).

16. Persamaan sisi segitiga diberikan oleh

3x – 4y – 15 = 0, x + 2y – 5 = 0, 2x – y = 0.

Tentukan panjang semua garis tingginya.

17. Tentukan persamaan tempat kedudukan titik-titik yang berjarak sama terhadap

garis 3x + 4y = 0 dan terhadap titik (2, 3).

18. Tentukan persamaan tempat kedudukan titik-titik yang jaraknya terhadap garis

x – 2y – 2 = 0 adalah dua kali jaraknya terhadap titik asal.

Mbujibo!4!D!!–!100!
BAB 3 Garis Lurus

3.9. Garis Bagi Sudut

Dengan pengertian rumus atau aturan untuk jarak dari suatu garis ke suatu

titik, dapat ditemukan persamaan garis bagi sudut yang dibentuk oleh dua garis yang

berpotongan. Dalam hal ini garis bagi sudut adalah tempat kedudukan titik-titik yang

berjarak sama terhadap kedua garis yang mengapit sudut.

Misalkan dua garis l1 ≡ A1x + B1y + C1 = 0 dan l2 ≡ A2x + B2y + C2 = 0 adalah

dua garis sembarang yang membentuk sudut α. Misalkan P(xP, yP) adalah tempat

kedudukan titik-titik yang berjarak sama dari l1 dan l2.

Maka

A1 x P + B1 y P + C1 A2 xP + B2 y P + C2
d ( P, l 1 ) = dan d(P, l2) = (1)
± A12 + B12 ± A22 + B22

Jadi tempat kedudukan titik P sedemikian hingga d(P, l1) = d(P, l2) adalah

A1 x P + B1 y P + C1 A2 xP + B2 y P + C2
= (2)
± A12 + B12 ± A22 + B22

Jika koordinat titik P dijalankan maka diperoleh persamaan garis bagi sudut

yg dicari adalah :

A1 x + B1 y + C A2 x + B2 y + C 2
=± (3)
A12 + B12 A22 + B22

4/:/!Hbsjt!Cbhj!Tvevu!!–!101!
BAB 3 Garis Lurus

b2
l2
Y P2 ( x , y )
l1

P1 ( x , y )
b1
X
O

Gambar 3.12: Garis Bagi Sudut

Contoh 1:

Tentukan persamaan garis bagi sudut yang dibentuk oleh garis

l1 ≡ 5x + 12y – 52 = 0 dengan l2 ≡ 4x – 3y + 34 = 0

Jawab:

Dengan menggunakan persamaan (3) maka persamaan garis bagi yang dicari

adalah:

5 x + 12 y − 52 4 x − 3 y + 34

5 + 12
2 2
4 2 + (−3) 2

Garis bagi sudut yang pertama adalah

4/:/!Hbsjt!Cbhj!Tvevu!!–!102!
BAB 3 Garis Lurus

5 x + 12 y − 52 4 x − 3 y + 34
=
13 5

⇔ 3x – 11y + 78 = 0

Sedangkan garis bagi sudut yang kedua adalah

5 x + 12 y − 52 4 x − 3 y + 34
=–
13 5

⇔ 11x + 3y + 26 = 0

Jadi persamaan garis bagi yang dicari adalah

3x – 11y + 78 = 0 dan 11x + 3y + 26 = 0

Latihan 3 D

Pada soal 1 – 12, tentukan persamaan garis-garis bagi sudut antara dua garis yang

persamaannya diberikan di bawah ini:

1. x – y – 5 = 0, x – 7y – 47 = 0

2. x – 8y + 13 = 0, 4x – 7 y + 2 = 0

3. x – 3y + 9 = 0, 3x – y – 9 = 0

4. x + 3y + 9 = 0, 13x – 9y – 27 = 0

Mbujibo!4!E!!–!103!
BAB 3 Garis Lurus

5. 19x – 17y – 2 = 0, 11x – 23y + 12 = 0

6. x – y + 20 = 0, 17x – 7y + 20 = 0

7. 2x + 5y – 30 = 0, 5x – 2y = 0

8. 5x – 12y – 2 = 0, 2y – 3 = 0

9. 3x + 4y + 10 = 0, 3x + 4 = 0

10. 2x + 3y – 7 = 0, 3x – 4y = 0

11. 5x + 2 = 0, 2y – 3 = 0

12. 8x + 6y – 5 = 0, 5x – 12y – 11 = 0

13. Tunjukkan bahwa garis-garis bagi sudut antara dua garis adalah saling tegak

lurus.

14. Tentukan persamaan garis bagi sudut segitiga yang sisi-sisinya diberikan oleh

persamaan:

13x – 9y – 75 = 0, 3x – y + 15 = 0, x – 3y + 45 = 0

15. Tentukan persamaan garis bagi sudut segitiga dengan koordinat titik-titik sudut

adalah A(40, 20), B(–12, –16), dan C(–5, 5).

Mbujibo!4!E!!–!104!
BAB 3 Garis Lurus

3.10. Keluarga Garis

Persamaan y = 2x + b menyatakan semua garis yang mempunyai kemiringan

2. Untuk setiap perubahan nilai b (yang mana merupakan perpotongan dengan

sumbu-y) hanyalah mempunyai pengaruh pada pergerakan garis ke atas atau ke

bawah tanpa perubahan kemiringan. Kuantitas b disebut parameter.

Sebuah parameter adalah suatu konstanta yang dapat disesuaikan fungsinya.

Ia mempunyai beberapa karakteristik variabel dan beberapa karakteristik konstanta.

Parameter menjadi variabel jika dalam hal kita memberikan sembarang perubahan

nilai, tetapi setelah pemberian nilainya ia dipandang sebagai tetapan atau konstan,

sementara itu kita memposisikan x dan y bervariasi, jadi diperoleh sebuah garis

tunggal untuk setiap nilai tetap b.

X
O

Gambar 3.13 : Keluarga garis y = 2x + b.

4/21/!Lfmvbshb!Hbsjt!!–!105!
BAB 3 Garis Lurus

Dengan pemberian b semua nilai yang mungkin diperoleh himpunan semua

garis sejajar yang mempunyai kemiringan 2. Himpunan seperti itu disebut juga

sebuah sistem atau keluarga garis. Perhatikan gambar 3.13 menunjukkan keluarga

garis yang mempunyai kemiringan 2.

Secara sama, persamaan y – 3 = m(x – 2) menyatakan himpunan semua garis

yang melalui titik (2, 3) (dengan perkecualian garis vertikal x = 2). Dalam hal ini

parameter m menunjukkan kemiringan garis. Keluarga garis yang melalui titik (2, 3)

dapat digambarkan seperti pada gambar 3.14 di bawah ini.

X
O

Gambar 3.14 : Keluarga garis y – 3 = m(x – 2).

Persamaan 3x – 2y = k menyatakan himpunan semua garis sejajar dengan

garis yang mempunyai kemiringan 3/2, meskipun parameter k tidak mempunyai arti

4/21/!Lfmvbshb!Hbsjt!!–!106!
BAB 3 Garis Lurus

geometrik secara khusus. Hal ini memberikan salah satu metoda yang sedikit berbeda

dalam menyelesaikan masalah pada topik pembahasan persamaan umum garis lurus.

Contoh 1:

Tentukan persamaan garis yang melalui titik (4, –1) dan sejajar dengan garis

2x – 3y + 6 = 0.

Jawab:

Garis yang akan dicari merupakan anggota keluarga garis yang berbentuk

2x – 3y = k. Karena melalui titik (4, –1), maka jika titik ini disubstitusikan

untuk nilai x dan y ke persamaan akan diperoleh :

2⋅4 – 3(–1) = k, atau k = 11.

Oleh karena itu persamaan garis yang dicari adalah 2x – 3y = 11.

3.11. Garis yang Melalui Perpotongan Dua Garis

Untuk menentukan perpotongan antara dua garis, berarti kita mencari dua

bilangan yang tidak diketahui, yang memenuhi dua persamaan garis tersebut. Jika

(2, 1) adalah perpotongan antara garis 3x + 2y – 8 = 0 dan garis 2x – y – 3 = 0, maka

4/22/!Hbsjt!zboh!Nfmbmvj!Qfsqpupohbo!Evb!Hbsjt!!–!107!
BAB 3 Garis Lurus

x = 2 dan y = 1 merupakan penyelesaian dari kedua persamaan tersebut atau titik

(2, 1) terletak pada garis 3x + 2y – 8 = 0 dan juga pada garis 2x – y – 3 = 0.

3x + 2 y – 8 = 0 2x – y – 3 = 0

P(2, 1)
X
O

Gambar 3.15: Dua Garis yang berpotongan

Jika k adalah konstanta tertentu, maka garis dengan persamaan

(3x + 2y – 8) + k(2x – y – 3) = 0

juga memuat titik (2, 1) yaitu titik potong antara garis 3x + 2 y – 8 = 0 dan garis

2 x – y – 3 = 0. Untuk harga k yang berbeda, maka akan terdapat garis lain yang juga

melalui (2, 1). Sebagai contoh jika kita tentukan k = –4 maka akan didapatkan garis

dengan persamaan

(3x + 2y – 8) + (-4)(2x – y – 3) = 0

⇔ –5x + 6y – 4 = 0,

⇔ 5x – 6y + 4 = 0.

4/22/!Hbsjt!zboh!Nfmbmvj!Qfsqpupohbo!Evb!Hbsjt!!–!108!
BAB 3 Garis Lurus

dan garis ini juga melalui titik (2, 1). Jadi persamaan setiap garis yang melalui titik

(2, 1) dapat ditulis dalam bentuk (3x + 2y – 8) + k(2x – y – 3) = 0, dengan

menentukan nilai tertentu k.

Secara umum jika U(x, y) = 0 dan V(x, y) = 0 adalah dua buah persamaan

kurva (lurus maupun lengkung) maka

U(x, y) + kV(x, y) = 0 (1)

merupakan persamaan kurva yang melalui titik-titik potong kurva U(x, y) = 0 dan

V(x, y) = 0. Jika U(x, y) = 0 dan V(x, y) = 0 tidak berpotongan maka U(x, y) + kV(x, y)

= 0 juga tidak memotong kedua kurva tersebut.

Persamaan U(x, y) + kV(x, y) = 0 disebut berkas kurva (lihat gambar 3.16).

Jika U(x, y) = 0 dan V(x, y) = 0 merupakan persamaan garis lurus (linear) yang

berpotongan maka U(x, y) + kV(x, y) = 0 disebut berkas garis. Jadi berkas garis

adalah keluarga garis yang berpotongan di satu titik seperti pada gambar 3.14. Dan

jika U(x, y) = 0 dan V(x, y) = 0 tidak berpotongan, maka U(x, y) + kV(x, y) = 0 disebut

berkas pensil (a pencil of lines) yaitu keluarga garis yang sejajar (lihat gambar 3.13).

Y
U( x , y )

U(x, y) + kV(x, y)
V( x , y )
O X

Gambar 3.16: Berkas Kurva

4/22/!Hbsjt!zboh!Nfmbmvj!Qfsqpupohbo!Evb!Hbsjt!!–!109!
BAB 3 Garis Lurus

Misalkan l1 dan l2 adalah dua buah garis yang berpotongan, maka dengan

memberikan semua nilai k yang mungkin dalam persamaan l1 + kl2 = 0 diperoleh

semua garis yang mungkin melalui perpotongan daris l1 dan l2 kecuali garis l2 sendiri.

Hal ini memberikan suatu motoda atau cara menemukan persamaan garis

yang melalui perpotongan dua titik yang diberikan dan memenuhi satu syarat lain

tanpa mencari terlebih dahulu titik perpotongan kedua garis yang diketahui.

Contoh 1:

Tentukan persamaan garis yang melalui titik potong garis l1 ≡ 3x + 2y – 8 = 0

dan garis l2 ≡ 2x – y – 3 = 0 dan melalui (4, 2).

Jawab:

Metoda I:

Biasanya untuk memperoleh persamaan yang diinginkan, pertama dicari titik

potong antara dua garis tersebut baik dengan cara eleminasi maupun substitusi

variabel, kemudian dicari persamaan garis yang melalui kedua titik tersebut.

Cara ini mungkin menghabiskan waktu pada proses eleminasi atau substitusi.

Silakhan dicoba untuk membandingkan dengan cara kedua.

4/22/!Hbsjt!zboh!Nfmbmvj!Qfsqpupohbo!Evb!Hbsjt!!–!110!
BAB 3 Garis Lurus

Metoda II:

Persamaan garis yang melalui titik potong 3x + 2y – 8 = 0 dan 2x – y – 3 = 0

adalah

l1 + kl2 ≡ (3x + 2y – 8) + k(2x – y – 3) = 0.

Karena garis yang ditanyakan juga melalui (4, 2) maka berlaku:

(3⋅4 + 2⋅2 – 8) + k(2⋅4 – 2 – 3) = 0

8
⇔ 8 + 3k = 0, atau k=–
3

8
Selanjutnya dengan mensubstitusikan nilai k = – , maka akan diperoleh
3

persamaan garis yang dicari yaitu :

8
l1 + kl2 ≡ (3x + 2y – 8) + – (2x – y – 3) = 0.
3

⇔ 3(3x + 2y – 8) – 8(2x – y – 3) = 0

⇔ –7x + 14y = 0

⇔ x – 2y = 0

Jadi persamaan garis yang melalui titik potong garis 3 x + 2 y – 8 = 0 dan

2x – y – 3 = 0 dan melalui titik (4, 2) adalah x – 2y = 0.

4/22/!Hbsjt!zboh!Nfmbmvj!Qfsqpupohbo!Evb!Hbsjt!!–!111!
BAB 3 Garis Lurus

Contoh 2:

Tentukan persamaan garis yang melalui titik potong garis l1 ≡ 3x – 8y – 12 = 0

dan garis l2 ≡ 2x + 3y – 7 = 0 dan melalui P1(2, 1).

Jawab:

Persamaan garis yang melalui titik potong 3x – 8y + 12 = 0 dan 2x + 3y – 7 = 0

adalah

l1 + kl2 ≡ (3x – 8y + 12) + k(2x + 3y – 7) = 0.

Karena garis yang ditanyakan juga melalui P1(2, 1) maka harus dipenuhi:

(3⋅2 – 8⋅1 + 12) + k(2⋅2 + 3⋅1 – 7) = 0

⇔ 10 + k⋅0 = 0

Dalam hal ini tidak ada nilai k yang menyatakan persamaan garis yang dicari.

Dengan kata lain garis yang dicari adalah garis tunggal yang melalui titik

potong l1 dan l2 yang tidak diberikan oleh l1 + kl2 = 0, yaitu garis l2 sendiri. Hal

itu berarti titik P1 adalah berada pada garis l2, di mana mudah untuk

menunjukkannya.

4/22/!Hbsjt!zboh!Nfmbmvj!Qfsqpupohbo!Evb!Hbsjt!!–!112!
BAB 3 Garis Lurus

Contoh 3:

Tentukan persamaan garis yang melalui titik potong garis 2x – y – 1 = 0 dan

garis 3x + 4y = 2 serta tegak lurus dengan garis 4x + 5y = 3.

Jawab:

Berkas garis 2x – y = 1 dan 3x + 4y = 2 adalah

(2x – y – 1) + k(3x + 4y – 2) = 0

⇔ (2 + 3k)x – (1 – 4k)y – (1 + 2k) = 0

2 + 3k
Persamaan garis ini mempunyai kemiringan . Sedangkan kemiringan
1 − 4k

4
garis 3x + 4y = 3 adalah – , maka menurut teorema 1.3 berlaku
5

4 2 + 3k
– × = –1
5 1 − 4k

⇔ 4(2 + 3k) = 5(1 – 4k)

⇔ 3 + 32k = 0

3
⇔ k =–
32

4/22/!Hbsjt!zboh!Nfmbmvj!Qfsqpupohbo!Evb!Hbsjt!!–!113!
BAB 3 Garis Lurus

Persamaan garis yang dicari adalah:

3 3 3
(2 + 3⋅(– ))x – (1 – 4⋅(– ))y – (1 + 2⋅(– )) = 0
32 32 32

⇔ (2⋅32 + 3⋅(-3))x – (32 – 4⋅ (-3))y – (32 + 2⋅(-3)) = 0

⇔ 55x – 44y – 26 = 0

Jadi persamaan garis yang diinginkan adalah 55x – 44y – 26 = 0.

Contoh 4:

Buktikan bahwa ketiga garis berat setiap segitiga berpotongan di satu titik.

Jawab:

Untuk membuktikan soal ini, kita tempatkan titik-titik ujung segitiga pada titik-

titik A(a, 0), B(b, 0), dan C(0, c). Sedangkan P, Q, dan R masing-masing titik

tengah dari garis BC, AC, dan AB. Dengan menggunakan rumus titik tengah

diperoleh koordinat masing-masing titik tengah yaitu P(½b, ½c), Q(½a, ½c),

R(½(a + b), 0) (lihat gambar 3.17 berikut).

4/22/!Hbsjt!zboh!Nfmbmvj!Qfsqpupohbo!Evb!Hbsjt!!–!114!
BAB 3 Garis Lurus

Q D P

X
A O R B

Gambar 3.17:

Persamaan garis yang melalui titik C dan R adalah:

y−c x−0
=
0−c 1
2 ( a + b) − 0

⇔ 2cx + (a + b)y – (a + b)c = 0 (1)

Persamaan garis yang melalui titik A dan P adalah:

y−0 x−a
= 1
c−0 2b−a
1
2

⇔ cx + (2a – b)y – ac = 0 (2)

Persamaan garis yang melalui titik B dan Q adalah:

y−0 x−b
= 1
c−0 2 a −b
1
2

⇔ cx + (2b – a)y – bc = 0 (3)

4/22/!Hbsjt!zboh!Nfmbmvj!Qfsqpupohbo!Evb!Hbsjt!!–!115!
BAB 3 Garis Lurus

Jika kita dapat menunjukkan bahwa masing-masing garis (1), (2) dan (3) adalah

anggota suatu berkas garis, dengan kata lain bahwa satu garis merupakan hasil

kombinasi linear dari dua garis lainnya maka kita telah membuktikan bahwa

ketiga garis adalah berpotongan di satu titik.

Berkas garis (2) dan (3) adalah

(cx + (2a – b)y – ac) + k(cx + (2b – a)y – bc) = 0

Jika diambil k = 1 maka akan diperoleh anggota berkas garis

cx + (2a – b)y – ac + cx + (2b – a)y – bc = 0

⇔ 2cx + (a + b)y – (a + b)c = 0.

Persamaan terakhir tidak lain adalah persamaan (1). Hal ini membuktikan bahwa

ketiga garis tersebut berpotongan di satu titik.

Latihan 3 F

1. Tentukan persamaan keluarga garis yang bersifat :

(a) mempunyai kemiringan – 13 ,

(b) memotong dengan sumbu-y di 4,

(c) memotong sumbu-x di –5,

(d) melalui titik (–2, 7),

Mbujibo!4!G!!–!116!
BAB 3 Garis Lurus

(e) sejajar dengan garis 2x + 3y – 9 = 0,

(f) tegak lurus dengan garis 5x + 4y – 20 = 0.

2. Tentukan keluarga garis yang jaraknya terhadap titik asal adalah 2.

3. (a) Tentukan keluarga garis yang perpotongannya dengan sumbu-y adalah dua

kali perpotongannya dengan sumbu-x.

(b) Tentukan persamaan anggota keluarga garis di (a) yang melalui titik (7, –10).

4. (a) Tentukan keluarga garis yang perpotongannya dengan sumbu-y dan

perpotongannya dengan sumbu-x berjumlah 5.

(b) Tentukan persamaan anggota keluarga garis di (a) yang mempunyai

kemiringan – 23

5. (a) Tentukan keluarga garis yang perpotongannya dengan sumbu-y dikurangi

perpotongannya dengan sumbu-x adalah 5.

(b) Tentukan persamaan anggota keluarga garis di (a) yang melalui (2, 4).

6. Tentukan persamaan keluarga garis yang perkalian perpotongan dengan sumbu-x

dan sumbu-y adalah 5.

7. Tentukan persamaan keluarga garis yang perpotongan dengan sumbu-x dibagi

perpotongan dengan sumbu-y adalah 5.

Mbujibo!4!G!!–!117!
BAB 3 Garis Lurus

8. Tentukan persamaan keluarga garis yang membentuk sudut 45° dengan garis

2x – 3y – 10 = 0.

9. Tentukan persamaan keluarga garis yang jaraknya terhadap titik (6, 2) adalah 5.

10. Tentukan persamaan garis yang melalui perpotongan garis 2x + 3y – 7 = 0 dan

5x – 2y – 8 = 0 dan

(a) melalui titik asal,

(b) mempunyai kemiringan – 165 ,

(c) sejajar dengan garis 2x – 3y + 7 = 0.

(d) tegak lurus dengan garis 4x + 3y – 12 = 0.

11. Tentukan persamaan garis yang melalui perpotongan garis 2x – 3y – 26 = 0

dan 6x + 16y + 97 = 0 dan

(a) tegak lurus dengan garis yang pertama,

(b) tegak lurus dengan garis kedua,

(c) sejajar dengan sumbu-x,

(d) tegak lurus dengan sumbu-x.

12. Tentukan persamaan garis yang melalui perpotongan garis 5x – 3y – 10 = 0

dan x – y + 1 = 0 dan

(a) melalui titik (7, 6),

Mbujibo!4!G!!–!118!
BAB 3 Garis Lurus

(b) membagi dua sama panjang segmen yang menghubungkan titik (1, 6) dengan

(–3, 2),

(c) memotong sumbu-x di 4.

13. Tentukan persamaan garis yang melalui perpotongan garis 2x – 3y – 3 = 0 dan

x – 2y – 1 = 0 dan

(a) berjarak 1 dari titik asal,

(b) memotong sumbu-y di –2,

(c) perkalian titik potong dengan sumbu koordinat sama dengan –4.

14. Tunjukkan bahwa ketiga garis tinggi suatu segitiga berpotongan di satu titik.

15. Tunjukkan bahwa titik berat suatu segitiga membagi garis berat dengan

perbandingan 1 : 2.

16. AB dan CD adalah sisi-sisi yang sejajar dari sebuah trapesium ABCD, sedangkan

P dan Q masing-masing merupakan titik tengah sisi-sisi AB dan CD.

(a) Buktikan bahwa sisi AD dan BD serta garis PQ berpotongan di satu titik.

(b) Buktikan bahwa diagonal AC dan BD serta garis PQ berpotongan di satu titik.

Mbujibo!4!G!!–!119!
BAB 4 Lingkaran

4 LLiinnggkkaarraann

4.1. Persamaan Lingkaran Bentuk Baku.

Lingkaran adalah tempat kedudukan titik-titik pada bidang yang berjarak

tetap dari suatu titik tetap. Titik tetap dari lingkaran disebut pusat lingkaran, dan

jarak tetap dari lingkaran disebut jari-jari (radius). Jadi suatu lingkaran ditentukan

oleh dua parameter yaitu titik pusat dan jari-jari lingkaran.

Misalnya kita perhatikan lingkaran yang berpusat di C(h, k) dan dengan jari-

jari r (lihat gambar 4.1). Jika P(x, y) adalah sembarang titik pada lingkaran, maka

jarak dari titik pusat C(h, k) ke titik P(x, y) adalah r, akibatnya

(x – h)2 + (y – k)2 = r2 (1)

Y
P(x, y)

y–k
C(h, k) x – h

O X

Gambar 4.1:

4.1. Bentuk Baku Lingkaran – 120


BAB 4 Lingkaran

Persamaan (1) di atas disebut persamaan lingkaran bentuk baku dari suatu

lingkaran yang diketahui letak titik pusat dan jari-jarinya. Koordinat sembarang titik

pada lingkaran akan memenuhi persamaan (1), sedangkan koordinat titik-titik di luar

lingkaran tidak akan memenuhi persamaan tersebut.

Secara khusus, jika pusat lingkaran adalah titik asal maka persamaan

lingkaran yang berjari-jari r adalah

x2 + y2 = r2 . (2)

Contoh :

Tentukan Persamaan lingkaran yang berpusat di (3, – 2) dan jari-jari 6.

Jawab:

Dengan persamaan (1) diperoleh persamaan lingkaran yang dicari yaitu

(x – 3)2 + (y – (–2))2 = 62,

⇔ (x – 3)2 + (y + 2)2 = 36.

Persamaan di atas dapat juga dijabarkan dalam bentuk

x2 + y2 – 6x + 4y – 23 = 0

4.1. Bentuk Baku Lingkaran – 121


BAB 4 Lingkaran

4.2. Persamaan Lingkaran Bentuk Umum

Meskipun bentuk (1) mudah digunakan untuk melihat pusat dan jari-jari suatu

lingkaran, tetapi ada bentuk persamaan lain yang sering digunakan untuk menyatakan

sebuah lingkaran yang dinyatakan dalam teorema berikut.

Jika persamaan (1) dijabarkan akan diperoleh bentuk

x2 – 2hx + h2 + y2 – 2ky + k2 = r2,

x2 + y2 – 2hx – 2ky + (h2 + k2 – r2) = 0.

Ini merupakan bentuk dari

x2 + y2 + Ax + By + C = 0. (3)

di mana

A = –2h, B = –2k , C = h2 + k2 – r2 (4)

Persamaan (3) disebut persamaan lingkaran bentuk umum. Bentuk ini lebih

bermanfaat untuk suatu keperluan dari pada bentuk (1).

Mudah menjabarkan persamaan lingkaran bentuk baku ke bentuk umum.

Sebaliknya jika diketahui suatu lingkaran yang berbentuk umum maka juga dapat

diturunkan menjadi bentuk baku. Tetapi tidak semua persamaan yang

berbentuk x 2 + y2 + Ax + By + C = 0 akan merepresentasikan suatu lingkaran.

4.2. Bentuk Umum Lingkaran – 122


BAB 4 Lingkaran

Untuk mengetahui karakteristik persamaan (3) secara umum, kita ubah

persamaan tersebut dalam bentuk baku persamaan lingkaran. Jika diketahui

persamaan x2 + y2 + Ax + By + C = 0, maka

⇔ x2 + Ax + y2 + By = –C

⇔ x2 + Ax + (½A)2 + y2 + By +(½B)2 = (½A)2 +(½B)2 – C

⇔ (x + ½A)2 + (y + ½B)2 = ¼(A2 + B2 – 4C) (5)

• Jika ¼(A2 + B2 – 4C) > 0 maka merepresentasikan (3) adalah sebuah

lingkaran dengan pusat (–½A, –½B) dan berjari-jari 1


2 A 2 + B 2 − 4C .

• Jika ¼(A2 + B2 – 4C) = 0 maka (3) merepresentasikan sebuah lingkaran

yang berpusat di titik (–½A, –½B) dan jari-jarinya nol. Pada kasus ini (3)

menyatakan lingkaran titik dengan kata lain suatu lingkaran yang hanya

terdiri dari satu titik yaitu titik pusat itu sendiri.

• Jika ¼(A2 + B2 – 4C) < 0 maka (3) tidak memberikan kurva real. Dalam hal

ini (3) dikatakan mempresentasikan sebuah lingkaran imajiner.

Jadi setiap persamaan yang berbentuk x2 + y2 + Ax + By + C = 0

merepresentasikan sebuah lingkaran, sebuah titik atau lingkaran titik, atau lingkaran

imajiner.

4.2. Bentuk Umum Lingkaran – 123


BAB 4 Lingkaran

Contoh 1:

Tentukan bentuk umum lingkaran yang berpusat di (4, –6) dan berjari-jari 5.

Jawab:

Menurut (1) bentuk baku dari lingkaran yang berpusat di (4, –6) dan berjari-jari

5 adalah

(x – 4)2 + (y – (–6))2 = 52

⇔ x2 – 8x + 16 + y2 + 12y + 36 = 25

⇔ x2 + y2 – 8x + 12y + 27 = 0

Jadi bentuk umum lingkaran yang berpusat di (4, –6) dan berjari-jari 5 adalah

x2 + y2 – 8x + 12y + 27 = 0

Contoh 2:

Nyatakan dalam bentuk baku dari x2 + y2 – 8x + 12y + 27 = 0 dan tentukan

persamaan merepresentasikan apa.

4.2. Bentuk Umum Lingkaran – 124


BAB 4 Lingkaran

Jawab:

Menurut persamaan (3) diperoleh A = –8, B = 12, C = 27, sehingga dengan

persamaan (5) diperoleh bentuk baku

(x + ½A)2 + (y + ½B)2 = ¼(A2 + B2 – 4C)

(x + ½⋅(–8))2 + (y + ½⋅12)2 = ¼⋅[(–8)2 + (12)2] – 4⋅27

⇔ (x – 4)2 + (y + 6)2 = 25

Dalm hal ini persamaan di atas merepresentasikan sebuah lingkaran yang

berpusat di (4, –6) dan berjari-jari 5

Contoh 3:

Nyatakan dalam bentuk baku dari x2 + y2 + 4x – 6y + 13 = 0 dan tentukan

persamaan merepresentasikan apa.

Jawab:

Dengan persamaan (3) diperoleh A = 4, B = –6, C = 13, sehingga dengan

persamaan (5) diperoleh bentuk baku

(x + ½A)2 + (y + ½B)2 = ¼[A2 + B2 – 4C]

(x + ½⋅4)2 + (y + ½⋅(–6))2 = ¼⋅[42 + (–6)2 – 4⋅13]

(x + 2)2 + (y – 3)2 = 0
4.2. Bentuk Umum Lingkaran – 125
BAB 4 Lingkaran

Karena dua ekspresi di ruas kiri di persamaan terakhir tidak dapat negatif, maka

jumlahnya adalah nol hanya jika kedua ekspresi bernilai nol. Hal ini hanya

mungkin untuk x = –2 dan y = 3. Jadi hanya titik (–2, 3) dalam bidang yang

memenuhi persamaan asal atau dengan kata lain persamaan itu menyatakan

sebuah persamaan lingkaran titik.

Contoh 4:

Nyatakan dalam bentuk baku dari x2 + y2 + 2x + 8y + 19 = 0 dan tentukan

persamaan merepresentasikan apa.

Jawab:

Dengan persamaan (3) diperoleh A = 2, B = 8, C = 19, sehingga dengan

persamaan (5) diperoleh bentuk baku

(x + ½A)2 + (y + ½B)2 = ¼[A2 + B2 – 4⋅C]

(x + ½⋅2)2 + (y + ½⋅8)2 = ¼⋅[22 + 82 – 4⋅19]

(x + 1)2 + (y + 4)2 = –2

Karena dua ekspresi di ruas kiri di persamaan terakhir tidak dapat negatif,

maka jumlahnya tidak mungkin negatif, sehingga tidak ada titik di bidang yang

memenuhi persamaan itu. Jadi ini merupakan persamaan lingkaran imajiner.


4.2. Bentuk Umum Lingkaran – 126
BAB 4 Lingkaran

Latihan 4 A

Dalam soal 1 – 16 tulislah persamaan lingkaran dalam bentuk baku dan bentuk

umum. Sketsa grafiknya.

1. Pusat (1, 3); jari-jari = 5. 2. Pusat (–2, 1); jari-jari = 2.

3. Pusat (3, –2); jari-jari = 3. 4. Pusat (0, 0); jari-jari = ½.

5. Pusat (½, –3/2); jari-jari = 2. 6. Pusat (– ¼, 3/4); jari-jari = ¼.

7. Pusat (5, 5); jari-jari = 5√2. 8. Pusat (√2, √3); jari-jari = √5.

9. Pusat (a, 0); jari-jari = a. 10. Pusat (0, b); jari-jari = b.

11. Pusat (a, b); jari-jari = a2 + b2 . 12. Pusat (a, a); jari-jari = a.

13. Pusat (5, 1); melalui (2, –3) 14. Pusat (2, –4); melalui (5, 1)

15. Titik (2, –3) dan (–2, 0) sebagai titik ujung diameter.

16. Titik (4, –1) dan (8, 3) sebagai titik ujung diameter.

17. Tentukan persamaan lingkaran yang berpusat di (4, 2) dan menyinggung

(a) sumbu-x, (b) sumbu-y, (c) garis 2x + 3y = 6

18. Tentukan persamaan lingkaran yang berpusat di (–4, –2) dan menyinggung

(a) garis 3x – 4y – 10 = 0, (b) garis 5x + 12y – 10 = 0

Latihan 4 A – 127
BAB 4 Lingkaran

Pada soal 19 – 30, nyatakan dalam bentuk baku, tentukan pusat dan jari-jarinya, dan

buat sketsa grafiknya jika ada.

19. x2 + y2 – 2x – 4y + 1 = 0

20. x2 + y2 – 4x + 10y + 20 = 0

21. x2 + y2 + 2x – 6y + 10 = 0

22. x2 + y2 – 4y = 0

23. 4x2 + 4y2 – 4x – 12y + 1 = 0

24. 9x2 + 9y2 – 6x + 12y – 4 = 0

25. 2x2 + 2y2 – 2x + 6y + 5 = 0

26. 9x2 + 9y2 + 12x + 24y – 16 = 0

27. 9x2 + 9y2 – 6x – 18y + 11 = 0

28. 36x2 + 36y2 – 36x – 24y – 59 = 0

29. 16x2 + 16y2 – 16x – 8y + 21 = 0

30. 8x2 + 8y2 + 12x – 8y – 27 = 0

Latihan 4 A – 128
BAB 4 Lingkaran

Pada soal 31 – 34 tentukan titik potong antara dua kurva yang persamaannya

diberikan di bawah ini dan gambar grafiknya.

31. x2 + y2 – x – 3y – 6 = 0 dan 4x – y – 9 = 0

32. x2 + y2 + 6x – 12y + 5 = 0 dan 2x + 3y + 6 = 0

33. x2 + y2 – 6x + 2y – 15 = 0 dan x2 + y2 + 6x – 22y + 45 = 0

34. x2 + y2 + x + 12y + 8 = 0 dan 2x2 + 2y2 – 4x + 9y + 4 = 0

35. Diketahui titik A(1, 2) dan B(4, –2). Tentukan persamaan (tempat kedudukan)

titik-titik P(x, y) pada bidang sedemikian hingga AP tegak lurus BP. Membentuk

persamaan apa yang memenuhi titik P ?.

36. Tentukan semua titik pada bidang yang jaraknya dari (–1, 2) adalah dua kali jarak

terhadap (2, 4).

37. Tunjukkan bahwa tempat kedudukan titik-titik yang jumlah kuadrat jaraknya

terhadap dua titik tetap adalah konstan merupakan suatu lingkaran.

38. Tunjukkan bahwa tempat kedudukan titik-titik yang perbandingan jaraknya

terhadap dua titik tetap adalah konstanta positif yang tidak sama dengan satu

adalah suatu lingkaran.

39. Tentukan tempat kedudukan titik-titik yang perbandingan jaraknya terhadap titik

A(2, –1) dan B(–4, 2) adalah 2 : 3.


Latihan 4 A – 129
BAB 4 Lingkaran

40. Diketahui sebuah titik A(a, 0), dan sebuah titik B(0, yb). Dari titik B dibuat garis

yang tegak lurus dengan AB dan memotong sumbu-x di C. Tentukan tempat

kedudukan titik D yang terletak pada perpanjangan CB dan BC = BD jika B

bergerak sepanjang sumbu-y.

4.3. Lingkaran yang ditentukan oleh Tiga Syarat

Perhatikan bahwa pada persamaan lingkaran baik yang berbentuk baku

maupun yang berbentuk umum yaitu

(x – h)2 + (y – k)2 = r2, (1)

atau x2 + y2 + ax + by + c = 0 (2)

memuat tiga konstanta sembarang. Akibatnya adalah memungkinkan untuk

menentukan tiga syarat pada lingkaran. Sebagai contoh, dapat ditentukan persamaan

lingkaran yang melalui tiga titik yang diberikan, atau apabila titik pusatnya diberikan

secara khusus harus berada pada titik tertentu dan lingkaran melalui satu titik yang

lain. Contoh yang kedua tampaknya hanya ditentukan oleh dua syarat, tetapi

pemberian informasi tentang titik pusat sesungguhnya memuat dua syarat, karena

berisi tentang absis dan ordinat dari titik pusat, dan dengan melalui titik yang lain

akan memberikan syarat ketiga.

Lingkaran dengan Tiga Syarat – 130


BAB 4 Lingkaran

Untuk menurunkan persamaan lingkaran yang memenuhi tiga syarat,

dimisalkan persamaan yang diminta berbentuk baku atau umum. Kadang-kadang

bentuk satu lebih menguntungkan dari pada yang lain bergantung pada konteks

permasalahan. Kemudian tentukan tiga persamaan yang memuat tiga konstanta h, k, r

atau a, b, c. Selesaikan ketiga persamaan dan substitusikan ke persamaan yang

dimisalkan.

Contoh 1:

Tentukan persamaan lingkaran yang melalui titik-titik A(2, 7), B(–5, 6), C(3, 0).

Jawab:

Misalkan persamaan yang diminta adalah

x2 + y2 + ax + by + c = 0

Karena A, B, C berada pada lingkaran maka kordinat mereka harus memenuhi

persamaan lingkaran. Substitusi ketiga syarat akam memberikan :

22 + 72 + 2a + 7b + c = 0

(–5)2 + 62 + (–5)a + 6b + c = 0

32 + 02 + 3a + 0b + c = 0

Lingkaran dengan Tiga Syarat – 131


BAB 4 Lingkaran

Ketiga persamaan di atas dapat dituliskan sebagai:

2a + 7b + c = –53,

–5a + 6b + c = –61,

3a + c = –9.

Dengan menyelesaikan sistem persamaan simultan di atas diperoleh

penyelesaian a = 2, b = –6, c = –15. Jika nilai-nilai ini dimasukkan ke

persamaan asal akan diperoleh persamaan lingkaran yang dicari yaitu

x2 + y2 + 2x – 6y – 15 = 0 (3)

Dapat diverifikasi kembali bahwa koordinat titik-titik A, B, C memenuhi

persamaan (3), sehingga lingkaran yang dinyatakan dengan persamaan (3)

memuat ketiga titik tersebut.

Contoh 2:

Tentukan persamaan lingkaran yang menyinggung sumbu-x, mempunyai pusat

pada garis x + y = 7, dan melalui titik (5, 4).

Lingkaran dengan Tiga Syarat – 132


BAB 4 Lingkaran

Jawab:

Andaikan lingkaran yang dicari berpusat di (h, k) dan berjari-jari r dan oleh

karena itu persamaan lingkaran berbentuk

(x – h)2 + (y – k)2 = r2. (1)

Oleh karena diketahui lingkaran menyinggung sumbu-x maka

r = k. (2)

Karena titik pusat lingkaran (h, k) berada pada garis x + y = 7, maka koordinat

titik itu harus memenuhi persamaan garis sehingga:

h+k=7 (3)

Terakhir diketahui pula lingkaran memuat titik (5, 4), sehingga diperoleh

persamaan:

(5 – h)2 + (4 – k)2 = r2. (4)

Persamaan (3) akan ekuivalen dengan

h=7–k (5)

Jika (2) dan (5) disubstitusikan ke (4) akan diperoleh:

(5 – (7 – k))2 + (4 – k)2 = k2

Lingkaran dengan Tiga Syarat – 133


BAB 4 Lingkaran

⇔ k2 – 12k + 20 = 0

⇔ k = 2 atau k = 10

Jika k = 2 maka h = 5 dan r = 2.

Jika k = 10 maka h = –3 dan r = 10.

Dalam hal ini penyelesaian persamaan simultan (2), (3), dan (4) adalah

h = 5, k = 2, r = 2 atau h = –3, k = 10, r = 10.

Jadi ada dua lingkaran yang memenuhi syarat-syarat yang diberikan yaitu:

(x – 5)2 + (y – 2)2 = 4 atau x2 + y2 – 10x – 4y – 25 = 0, dan

(x + 3)2 + (y – 10)2 = 100 atau x2 + y2 + 6x – 20y – 9 = 0.

Grafik kedua lingkaran ditunjukkan dalam gambar 4.2 berikut.


Y

x+y=7

(5, 4)

Gambar 4.2:

Lingkaran dengan Tiga Syarat – 134


BAB 4 Lingkaran

Latihan 4 B

Pada soal 1 – 12 tentukan persamaan lingkaran yang melalui titik-titik di bawah ini

dan lukis grafiknya.

1. (6, 0), (0, 4),(0, 0). 2. (4, 0), (0, –2), (4, –2).

3. (2, 5), (9, 6), (3, –2). 4. (5, 12), (13, 0), (–12, 5).

5. (6, 0), (–1, 7), (–11, –7). 6. (1, –2), (3, 0), (–6, 0).

7. (3, 4), (–11, 6), (1, –10). 8. (3, 2), (–1, 2), (1, 1).

9. (10, 2), (5, 4), (–5, 8). 10. (17, 19), (–14, 2), (–10, 10).

11. (1, 3), (2, –2), (5, 1). 12. (1, 7), (–2, 8), (2, 6).

Tentukan persamaan lingkaran dalam segitiga yang titik-titik sudutnya mempunyai

koordinat:

13. (10, 9), (–4, 11), (–6, –3). 14. (1, 7), (–2, 8), (18, 12).

15. Tentukan persamaan lingkaran yang dibatasi oleh segitiga yang sisi-sisinya

diberikan oleh persamaan

x + 7y – 30 = 0, 7x – y – 10 = 0, 4x + 3y + 5 = 0

Latihan 4 B – 135
BAB 4 Lingkaran

Tentukan persamaan lingkaran dengan syarat-syarat yang diberikan berikut ini:

16. Melalui titik (–1, 3) dan (7, –1), dan pusatnya berada pada garis 2x + y – 11 = 0.

17. Menyinggung garis 3x – 4y + 10 = 0 di titik (2, 4) dan pusatnya berada pada garis

2x – 5y – 10 = 0.

18. Meyinggung kedua sumbu koordinat dan melalui (2, –1).

19. Pusatnya berimpit dengan pusat lingkaran x2 + y2 – 10x + 4y – 20 = 0 dan

menyinggung garis x + 2y + 9 = 0.

20. Menyinggung garis 3x – 4y – 24 = 0 di titik (4, –3) dan mempunyai jari-jari 5.

21. Menyinggung kedua sumbu dan pusatnya berada pada garis x – 3y – 8 = 0.

22. Menyinggung lingkaran x2 + y2 + 4x + 2y – 20 = 0, dan pusatnya di (6, 5).

23. Melalui segitiga yang sisi-sisinya diberikan oleh persamaan garis

3x + 4y – 17 = 0, 4x – 3y + 19 = 0, y+7=0

24. Menyinggung garis 3x – 4y + 5 = 0 dan 4x + 3y – 10 = 0 dan melalui titik (2, 4).

25. Titik-titik sudut segitiga diberikan oleh A(5, 10), B(7, 4), C(–9, –4). Garis berat

(tengah) AD, BE, dan CF berpotongan di titik G. Garis tinggi AK, BL, dan CM

berpotongan di H. Titik tengah AH, BH, dan CH berturut-turut R, S, dan T.

Latihan 4 B – 136
BAB 4 Lingkaran

Tunjukkan bahwa sembilan titik D, E, F, K, L, M, R, S, dan T berada pada

lingkaran yang berpusat di garis yang menghubungkan titik G dan H dan

membagi G dan H dengan rasio 1 : 3. (Lingkaran ini disebut lingkaran sembilan

titik dari segitiga ABC.)

4.4. Kuasa Lingkaran

4.4.1. Kuasa Titik terhadap Lingkaran

Jika diketahui sebuah titik P dan lingkaran L yang berpusat di M dan

sembarang garis yang melalui P dan memotong lingkaran di A dan B maka yang

dimaksud dengan kuasa titik P terhadap lingkaran L adalah perkalian panjang PA

dengan panjang PB.

P M

A B

Gambar 4.3

Perhatikan gambar 4.3. Menurut definisi maka kuasa titik P ditulis K(P) atau

KP adalah

4.4. Kuasa Lingkaran – 137


BAB 4 Lingkaran

KP = PA⋅PB (1)

Misalkan C adalah titik singgung garis yang melalui P. Perhatikan segitiga

PBC dan segitiga PCA. Terlihat bahwa :

∠ BPC = ∠ CPA (2)

dan ∠ PAC = ∠ PCB = ½ ∠ AMC (3)

Oleh karena dua segitiga PAC dan PCB mempunyai dua pasang sudut yang

berukuran sama, maka kedua segitiga tersebut adalah sebangun. Akibatnya terdapat

hubungan perbandingan:

PA PC
=
PC PB

atau PA⋅PB = PC2 (4)

Jika (4) disubstitusikan ke (1) maka diperoleh

KP = PC2 (5)

Perhatikan bahwa PC merupakan panjang garis singgung dari titik P ke titik

singgung di lingkaran. Jadi kuasa titik P terhadap lingkaran L sebenarnya adalah

kuadrat panjang garis singgung lingkaran dari titik P ke titik singgungnya.

Selanjutnya perhatikan bahwa segitiga PCM adalah siku-siku di C, karena PC

adalah garis singgung. Menurut dalil Pythagoras terdapat hubungan


4.4. Kuasa Lingkaran – 138
BAB 4 Lingkaran

PM2 = PC2 + CM2 atau PC2 = PM2 – CM2 (6)

Apabila koordinat titik P adalah (x1, y1) dan lingkaran L mempunyai

persamaan yang berbentuk (x – h)2 + (y – k)2 = r2, maka

PM2 = (x1 – h)2 + (y – k)2 dan CM2 = r2 (7)

sebab CM merupakan jari-jari lingkaran.

Jika persamaan (7) disubstitusikan ke (6) dan (5) diperoleh kuasa titik P

terhadap lingkaran L adalah

KP = (x1 – h)2 + (y – k)2 – r2 (8).

Jika persamaan lingkaran L berbentuk umum x2 + y2 + ax + by + c = 0, maka

kuasa titik P(x1, y1) terhadap lingkaran L adalah

KP = x12 + y12 + ax1 + by1 + c (9)

Catatan :

a. Jika titik P berada di luar lingkaran L, maka kuasa titik P terhadap lingkaran

tersebut adalah positif. Hal ini jelas karena panjang garis singgung dari titik P ke

titik singgungnya adalah bilangan positif.

b. Jika titik P berada pada lingkaran maka kuasa titik P terhadap lingkaran itu adalah

nol.

4.4. Kuasa Lingkaran – 139


BAB 4 Lingkaran

c. Jika titik P berada di dalam lingkaran maka kuasa titik P terhadap lingkaran adalah

negatif. sehingga memperoleh panjang garis singgungnya inajiner. Hal ini sesuai

dengan kenyataan geometrik bahwa garis singgung suatu lingkaran tidak bisa

dikonstruksi dari sebuah titik di dalam lingkaran.

4.4.2. Garis Kuasa

Tempat kedudukan titik-titik yang mempunyai kuasa sama terhadap dua

lingkaran berupa garis lurus dan disebut garis kuasa.

Jika diberikan dua lingkaran L1 dan L2 maka garis kuasa dapat dicari.

Misalkan kita akan menentukan persamaan garis kuasa lingkaran L1 ≡ x2 + y2 + a1x +

b1y + c1 dan lingkaran L2 ≡ x2 + y2 + a2x + b2y + c2 dan misalkan P(xP, yP) adalah titik

yang mempunyai kuasa sama terhadap L1 dan L2.

Menurut (9) maka kuasa titik P terhadap lingkaran L1 adalah

KP = xP2 + yP2 + a1xP + b1yP + c1

dan kuasa titik P terhadap lingkaran L1 adalah

KP = xP2 + yP2 + a2xP + b2yP + c2

Kuasa titik P terhadap kedua lingkaran adalah sama sehingga:

xP2 + yP2 + a1xP + b1yP + c1 = xP2 + yP2 + a2xP + b2yP + c2

4.4. Kuasa Lingkaran – 140


BAB 4 Lingkaran

⇔ (a1 – a2)xP + (b1 – b2)yP + (c1 – c2) = 0

Jika titik P dijalankan maka diperoleh tempat kedudukan titik-titik yang

mempunyai kuasa sama terhadap lingkaran L1 dan L2 yaitu

(a1 – a2)x + (b1 – b2)y + (c1 – c2) = 0 (10)

Secara simbolis persamaan garis kuasa lingkaran L1 = 0 dan L2 = 0 dituliskan

sebagai :

L1 – L2 = 0 (11)

Contoh :

Tentukan titik pada sumbu-x yang mempunyai kuasa sama terhadap lingkaran

L1 ≡ (x – 1)2 + (y – 4)2 = 16 dan L2 = x2 + y2 + 2x – 6y – 15 = 0, dan tentukan

kuasa titik tersebut terhadap kedua lingkaran.

Jawab:

Menurut (11) maka persamaan garis kuasa kedua lingkaran adalah L1 – L2 = 0.

Jadi persamaan garis kuasanya adalah :

(x – 1)2 + (y – 4)2 –16 – (x2 + y2 + 2x – 6y – 15) = 0

⇔ –4x – 2y + 16 = 0

4.4. Kuasa Lingkaran – 141


BAB 4 Lingkaran

⇔ 2x + y – 8 = 0

Semua titik yang berada pada garis ini mempunyai kuasa sama terhadap kedua

lingkaran L1 dan L2 di atas. Sedangkan titik yang ditanyakan adalah berada pada

sumbu-x, yaitu titik potong sumbu-x dengan garis kuasa. Jadi ordinat titik yang

dicari adalah y = 0. Substitusi ke garis kuasa diperoleh absis titik yang dicari

yaitu

2x + 0 – 8 = 0, atau x = 4.

Jadi koordinat titik yang dicari adalah P(–4, 0) dan kuasa titik P terhadap kedua

lingkaran adalah

KP = (4 – 1)2 + (0 – 4)2 – 16 = 9

4.4.3. Titik Kuasa

Misalkan L1, L2, L3 adalah tiga lingkaran yang pusat-pusatnya tidak berada

pada satu garis lurus (konsentris). Ketiga lingkaran tersebut mempunyai tiga garis

kuasa yang saling berpotongan di satu titik. Titik potong ketiga garis ini disebut titik

kuasa.

Jika ketiga lingkaran adalah konsentris maka garis-garis kuasanya sejajar, dan

ini berarti titik kuasa ketiga lingkaran berada di titik tak hingga.

4.4. Kuasa Lingkaran – 142


BAB 4 Lingkaran

Contoh:

Tentukan titik kuasa lingkaran L1 ≡ x2 + y2 + 3x + 5y – 7 = 0; L2 ≡ x2 + y2 – 2x +

4y – 6 = 0; dan L3 ≡ x2 + y2 + 4x – 2y – 2 = 0.

Jawab:

Garis kuasa lingkaran L1 dan L2 adalah L1 – L2 = 0 yaitu

5x + y – 1 = 0 (1)

Garis kuasa lingkaran L1 dan L3 adalah L1 – L3 = 0 yaitu

x – 7y + 5 = 0 (2)

Dari persamaan simultan (1) dan (2) menghasilkan penyelesaian x = 1/18 dan

y = 13/18. Dengan demikian koordinat titik kuasa ketiga lingkaran tersebut

adalah (1/18, 13/18).

4.5. Keluarga Lingkaran

Seperti diperlihatkan pada seksi 3.10, bahwa jika sebuah persamaan linier

memuat satu konstanta sembarang, atau parameter, maka persamaan itu menyatakan

sebuah himpunan semua garis pada bidang. Situasi yang sama juga ada untuk

lingkaran. Persamaan lingkaran yang memuat parameter disebut keluarga lingkaran.

4.5. Keluarga Lingkaran – 143


BAB 4 Lingkaran

Misalkan persamaan

(x – 2)2 + (y – 3)2 = r2

akan menyatakan keluarga lingkaran yang berpusat di (2, 3) (lihat gambar 4.4).

(2, 3)

O X
Gambar 4.4

Dengan memberikan nilai tertentu untuk r maka akan menunjuk pada lingkaran

tertentu secara unik.

Persamaan dalam bentuk

(x – h)2 + (y ± h)2 = h2

akan menyatakan keluarga lingkaran yang meyinggung kedua sumbu koordinat

(perhatikan gambar 4.5).

Gambar 4.5

4.5. Keluarga Lingkaran – 144


BAB 4 Lingkaran

Juga sangat memungkinkan mempunyai keluarga lingkaran yang mempunyai

dua parameter. Sebagai contoh, persamaan

(x – h)2 + (y – 2h)2 = r2

menyatakan keluarga lingkaran yang mempunyai pusat pada garis y = 2x, tetapi

dengan jari-jari sebagai variabel.

4.6. Berkas Lingkaran

Pandang dua lingkaran L1 dan L2 yang berpotongan (baik real maupun

imajiner) dengan persamaan sebagai berikut:

L1 ≡ x2 + y2 + a1x + b1y + c1 = 0 dan

L2 ≡ x2 + y2 + a2x + b2y + c2 = 0;

Pandang pula persamaan yang berbentuk:

L1 + kL2 ≡ x2 + y2 + a1x + b1y + c1 + k(x2 + y2 + a2x + b2y + c2) = 0 (1)

C1 + C2 = 0

C2 = 0
C1 = 0
C1 + kC2 = 0

4.6. Berkas Lingkaran – 145


BAB 4 Lingkaran

Untuk sembarang nilai k ≠ –1 maka persamaan L1 + kL2 = 0 menyatakan

lingkaran yang melalui titik potong kedua lingkaran L1 dan L2. Ini mudah dipahami

bahwa (1) adalah suatu lingkaran dengan menyusun kembali persamaan (1) dalam

bentuk:

a1 − a 2 b − b2 c − c2
x2 + y2 + x+ 1 y+ 1 =0 (2)
1+ k 1+ k 1+ k

yang mana menurut seksi 4.2 persamaan di atas merupakan sebuah lingkaran.

Koordinat titik potong kedua lingkaran L1 dan L2 juga memenuhi lingkaran dengan

persamaan L1 + kL2 = 0, sebab titik potong itu memenuhi persamaan L1 dan L2.

Sedangkan untuk k = –1, maka L1 – L2 = 0 merupakan garis kuasa kedua

lingkaran yang juga dapat dianggap sebagai lingkaran dengan pusat pada garis

hubung titik pusat kedua lingkaran dan terletak di tak hingga, sehingga busurnya

berupa garis lurus.

Jika diberikan semua nilai parameter k yang mungkin maka himpunan semua

lingkaran yang berbentuk L1 + kL2 = 0 disebut berkas lingkaran dengan L1 dan L2

sebagai lingkaran dasar/basis.

Sifat istimewa yang dimiliki anggota berkas lingkaran adalah bahwa semua

anggota berkas lingkaran mempunyai sebuah garis kuasa berserikat dan pusatnya

adalah berada pada garis lurus yang menghubungkan kedua titik pusat lingkaran

dasarnya.

4.6. Berkas Lingkaran – 146


BAB 4 Lingkaran

Contoh:

Tentukan persamaan lingkaran yang melalui titik potong lingkaran

L1 ≡ x2 + y2 + 4x – 6y – 96 = 0 dan L2 ≡ x2 + y2 – 18x – 8y + 48 = 0,

dan melalui titik asal.

Jawab:

Lingkaran yang dicari merupakan salah satu anggota berkas lingkaran dengan

basis L1 dan L2, yaitu

(x2 + y2 + 4x – 6y – 96) + k(x2 + y2 – 18x – 8y + 48) = 0.

Karena lingkaran juga melalui titik asal O(0, 0) maka substitusikan x = 0 dan

y = 0 pada persamaan di atas diperoleh

–96 + 48k = 0, atau k = 2

Substitusikan nilai k pada berkas lingkaran diperoleh persamaan lingkaran yang

dicari yaitu :

3x2 + 3y2 – 32x – 22y = 0

4.6. Berkas Lingkaran – 147


BAB 4 Lingkaran

Latihan 4 C

1. Tentukan persamaan keluarga lingkaran dengan sifat

(a) Berjari-jari 3 dan pusatnya berada di sumbu-x.

(b) Berjari-jari 4 dan pusatnya berada di sumbu-y.

(c) Menyinggung sumbu-y di titik asal.

(d) Menyinggung sumbu-x di titik asal.

2. Tentukan persamaan keluarga lingkaran yang berpusat pada garis x – y – 5 = 0 dan

(a) melalui titik asal.

(b) menyinggung sumbu-y.

3. Tentukan persamaan keluarga lingkaran yang melalui titik asal dan titik (8, 0).

4. Tentukan persamaan keluarga lingkaran yang melalui titik (2, 3) dan titik (–4, 5).

5. Tunjukkan bahwa persamaan lingkaran yang berpusat di (h, k) yang menyinggung

lingkaran satuan x2 + y2 = 1 adalah x2 – 2hx + y2 – 2ky + 1 = 0.

6. Tentukan persamaan lingkaran yang melalui perpotongan lingkaran

x2 + y2 + 10x + 12y + 45 = 0, x2 + y2 + 6x – 2y – 15 = 0,

dan melalui titik asal.

Latihan 4 C – 148
BAB 4 Lingkaran

7. Tentukan persamaan lingkaran yang melalui perpotongan lingkaran

x2 + y2 + 6x + 4y – 12 = 0, x2 + y2 – 2x – 12y + 12 = 0,

dan melalui pusat lingkaran pertama.

8. Tentukan persamaan lingkaran yang melalui perpotongan lingkaran

x2 + y2 – 6x + 2y = 0, x2 + y2 + 6x – 4y – 12 = 0,

dan melalui titik (5, 3).

9. Tentukan persamaan lingkaran yang melalui perpotongan lingkaran

x2 + y2 – x + 7y – 3 = 0, x2 + y2 – 5x – y + 1 = 0,

dan berpusat di :

(a) sumbu-x (b) sumbu-y

(c) garis x – y = 0 (d) garis x + y = 0

10. Diberikan lingkaran x2 + y2 + 4x – 8y – 30 = 0. Nyatakan apakah titik-titik berikut

di dalam, di luar atau pada lingkaran:

(a) (4, 7), (b) (–8, 8), (c) (–9, 3), (d) (–2, –3),

(e) (–6, –2), (f) (5, 5), (g) (–6, 0), (h) (3, 9),

(i) (–8, 1), (j) (–5, –2) (k) (–7, –1), (l) (5, 2).

Latihan 4 C – 149
BAB 4 Lingkaran

11. (a). Tentukan panjang garis singgung lingkaran x2 + y2 – 4x + 6y – 12 = 0 dari

titik (–3, 7).

(b) Tentukan dua titik singgung pada (a).

12. Tentukan persamaan garis kuasa lingkaran L1 ≡ x2 + y2 – 2x – 4y – 4 = 0 dan

lingkaran L2 ≡ x2 + y2 + 6x + 10y – 15 = 0. Buktikan bahwa garis kuasa itu tegak

lurus dengan garis hubung pusat-pusat lingkaran basis. Buktikan pula bahwa

semua pusat singkaran anggota berkas adalah terletak pada satu garis lurus, yaitu

garis hubung kedua pusat lingkaran dasar.

13. P adalah salah satu titik yang terletak pada garis kuasa lingkaran L1 dan L2. Dari

P dibuat garis singgung pada anggota-anggota berkas lingkaran yang lingkaran

dasarnya L1 dan L2. Jika Qi adalah titik-titik singgungnya, maka buktikan bahwa

panjang PQi selalu sama untuk semua i.

4.7. Garis Singgung Lingkaran.

Satu hal yang tak perlu kita jelaskan lagi bahwa berdasarkan teori pada

geometri Eucide, garis singgung pada lingkaran selalu tegak lurus pada garis yang

menghubungkan titik singgung itu dengan pusat lingkaran. Dengan beberapa sifat

dasar yang ada pada teori geometri Euclide dapat diturunkan persamaan garis

singgung suatu lingkaran pada beberapa karakter.

Garis SInggung Lingkaran – 150


BAB 4 Lingkaran

4.7.1. Persamaan Garis Singgung yang melalui Titik pada Lingkaran

Misalkan kita ingin mencari persamaan garis singgung lingkaran (x – h)2

+ (y – k)2 = r2 di titik P(x1, y1) yang terletak pada lingkaran. Kita tentukan sembarang

titik Q(x, y) yang terletak pada garis singgung itu (lihat gambar 4.6).

Karena P(x1, y1) berada pada lingkaran maka memenuhi persamaan lingkaran

yaitu (x1 – h)2 + (y1 – k)2 = r2.

Y
P(x1, y1)

Q(x, y)
R(h, k)

X
O

Gambar 4.6:

Lingkaran itu berpusat di R(h, k). PQR merupakan segitiga siku-siku,

sehingga dengan teorema Pythagoras diperoleh hubungan

QR2 = PQ2 + PR2

⇔ (x – h)2 + (y – k)2 = (x – x1)2 + (y – y1)2 + r2

⇔ x2 – 2xh + h2 + y2 – 2yk + k2 = x2 – 2xx1 + x12 + y2 – 2yy1 + y12 + r2

⇔ – 2xh – 2yk + h2 + k2 = – 2xx1 + x12 – 2yy1 + y12 + r2.


Garis SInggung Lingkaran – 151
BAB 4 Lingkaran

⇔ 2xx1 – 2xh + h2 + 2yy1 – 2yk + k2 = x12 + y12 + r2.

Jika masing-masing ruas ditambahkan dengan faktor

h2 + k2 – 2x1h – 2y1k

maka diperoleh persamaan

2xx1 – 2xh – 2x1h + 2h2 + 2yy1 – 2yk – 2y1k + 2k2

= r2 + x12 – 2x1h + h2 + y12 – 2y1k + k2

⇔ xx1 – xh – x1h + h2 + yy1 – yk – y1k + k2 = ½{r2 + (x1 – h)2 + y1 – k)2}

⇔ (x – h)(x1 – h) + (y – k)(y1 – k) = ½{r2 + r2}

Jadi diperoleh persamaan garis singgung lingkaran (x – h)2 + (y – k)2 = r2 di

titik P(x1, y1) yang terletak pada lingkaran adalah

(x – h)(x1 – h) + (y – k)(y1 – k) = r2 (1)

Sedangkan jika persamaan lingkaran berbentuk umum x2 + y2 + ax + by + c = 0

di titik P(x1, y1) yang terletak pada lingkaran adalah

xx1 + yy1 + ½a(x + x1) + ½b(y + y1) + c = 0 (2)

Garis SInggung Lingkaran – 152


BAB 4 Lingkaran

Contoh 1:

Tentukan persamaan garis singgung lingkaran (x – 4) 2 + y2 = 25 di titik

P(1, –4).

Jawab:

Tampak bahwa persamaan di atas merupakan persamaan lingkaran dalam

bentuk baku, berpusat di (4, 0) dan berjari-jari 5. Sehingga persamaan garis

singgung di titik (1, –4) adalah

(x – h)(x1 – h) + (y – k)(y1 – k) = r2

(x – 4)(1 – 4) + (y – 0)(– 4 – 0) = 25

3x + 4y + 13 = 0

Contoh 2:

Tentukan persamaan garis singgung lingkaran x2 + y2 – 2x + y = 5 di titik (3, 1).

Jawab:

Dengan persamaan (2) diperoleh persamaan garis singgung yang ditanyakan

yaitu

Garis SInggung Lingkaran – 153


BAB 4 Lingkaran

xx1 + yy1 + ½a(x + x1) + ½b(y + y1) + c = 0

x⋅3 + y⋅1 + ½⋅(–2)(x + 3) + ½⋅1(y +1) – 5 = 0

⇔ 2x + 1½ y – 7½ = 0

⇔ 4x + 3y – 15 = 0

4.7.2. Persamaan Garis Singgung yang melalui Titik di luar Lingkaran

Misalkan diberikan lingkaran L ≡ (x – h)2 + (y – k)2 = r2 dan titik P(x1, y1)

yang berada di luar lingkaran L. Akan dicari persamaan garis singgung g yang

melalui P. (Perhatikan gambar 4.7)

r g1

P(x1, y1)
R(h, k)
g2
r
X
O

Gambar 4.7:

Karena garis g melalui P(x1, y1) maka g merupakan anggota keluarga garis

yang berbentuk

Garis SInggung Lingkaran – 154


BAB 4 Lingkaran

g ≡ y – y1 = m(x – x1) (3)

⇔ mx – y – (mx1 – y1) = 0 (4)

Karena g meyinggung lingkaran L, maka jarak titik pusat lingkaran ke garis g

adalah sama dengan r, sehingga:

d(P, g) = r

mh − k − (mx1 − y1 )
=r
± m 2 + (−1) 2

⇔ m(h – x1) – (k – y1) = ± r m 2 + 1

⇔ [(x1 – h)2 – r2]m2 – 2(x1 – h)(y1 – k)m + (y1 – k)2 – r2 = 0

Penyelesaian untuk m dari persamaan kuadrat di atas adalah

m =
1
( x1 − h) − r
2 2
(
( x1 − h)( y1 − k ) ± r ( x1 − h) 2 + ( y1 − k ) 2 − r 2 )

=
1
( x1 − h) 2 − r 2
(( x1 − h)( y1 − k ) ± r K P ) (5)

dengan KP adalah kuasa titik P terhadap lingkaran L.

Jika persamaan (5) disubstitusikan ke persamaan (3) akan diperoleh

persamaan garis singgung yang dicari yaitu:

Garis SInggung Lingkaran – 155


BAB 4 Lingkaran

1
y – y1 = [(x1 – h)(y1 – k) ± r K P ](x – x1) (6)
( x1 − h) 2 − r 2

Contoh:

Tentukan persamaan garis singgung lingkaran x2 + y2 – 2x + 6y – 6 = 0 yang

melalui titik P(–4, –3).

Jawab:

Bentuk baku dari persamaan lingkaran di atas adalah (x – 1)2 + (y + 3)2 = 16,

sehingga lingkaran berpusat di titik (h, k) = (1, –3) dan berjari-jari r = 4.

Kuasa titik P terhadap lingkaran adalah

KP = (–4 – 1)2 + (–3 + 3)2 – 16 = 25 + 0 – 16 = 9

Dengan menggunakan persamaan (6) maka persamaan garis singgung yang

dicari adalah

y – (–3) =
1
(−4 − 1) 2 − 4 2
( )
(−4 − 1)(−3 − (−3)) ± 4 9 (x – (–2))

1
y+3= (0 ± 12)(x + 2)
9

4x – 3y + 7 = 0 dan 4x + 3y + 25 = 0

Garis SInggung Lingkaran – 156


BAB 4 Lingkaran

4.7.3. Persamaan Garis Singgung pada Lingkaran dengan Kemiringan


Tertentu

Sekarang akan dibicarakan garis singgung suatu lingkaran yang mempunyai

kemiringan tertentu. Misalkan akan dicari persamaan garis singgung lingkaran

(x – h)2 + (y – k)2 = r2 dan mempunyai kemiringan m (lihat gambar 4.8).

l1
P(x, y)
r

R(h, k)
l2 r

Gambar 4.8:

Karena kemiringan garis singgung l sudah diketahui maka l merupakan

anggota keluarga garis yang mempunyai persamaan:

y = mx + c, (7)

dengan c parameter yang belum diketahui.

Karena garis singgung pada lingkaran selalu tegak lurus pada garis yang

menghubungkan titik singgung itu dengan pusat lingkarannya, maka jarak titik pusat

ke garis singgungnya sama dengan jari-jari. Dengan rumus jarak titik (h, k) ke garis

mx – y + c = 0, diperoleh :

Garis SInggung Lingkaran – 157


BAB 4 Lingkaran

r = d[(h, k), l]

mh − k + c
r=
± m 2 + (−1) 2

sehingga diperoleh konstanta c

c = k – mh ± r m 2 + 1 (8)

Selanjutnya dengan mengganti konstanta c pada persamaan (4) ke persamaan

(3) diperoleh persamaan garis singgung yang dicari yaitu :

y = mx + k – mh ± r m 2 + 1

⇔ y – k = m(x – h) ± r m 2 + 1 (9)

Contoh 8:

Tentukan persamaan garis singgung lingkaran x2 + y2 – 2x + y – 5 = 0 yang

sejajar dengan garis 4x + 3y = 15.

Jawab:

Pertama kita cari terlebih dahulu pusat dan jari-jari lingkaran yang diberikan.

Persamaan x2 + y2 – 2x + y – 5 = 0 merupakan lingkaran dengan pusat (1, –½)

Garis SInggung Lingkaran – 158


BAB 4 Lingkaran

dan berjari-jari

r = 1
2 A 2 + B 2 − 4C

= 1
2 (−2) 2 + 12 − 4(−5)

5
=
2

Sedangkan garis singgung yang dicari sejajar (berkemiringan sama)

dengan garis 4x + 3y = 15, sehingga ml = –4/3.

Dengan menerapkan rumus (5) diperoleh persamaan garis singgung

yang dicari yaitu

y – k = m(x – h) ± r m 2 + 1

y – (–½) = –4/3 (x – 1) ± 5/2 (−4 / 3) 2 + 1

⇔ y + ½ = –4/3 x + 4/3 ± 5/2 25 / 9

⇔ y + ½ = –4/3 x + 4/3 ± 5/2⋅5/3

⇔ y + ½ = –4/3 x + 4/3 ± 25/6

Jadi persamaan garis singgung yang dicari adalah

4x + 3y + 23 = 0 dan 4x + 3y – 27 = 0
Garis SInggung Lingkaran – 159
BAB 4 Lingkaran

Latihan 4 D

Dalam soal 1 – 13 tentukan persamaan garis singgung lingkaran pada titik yang

diberikan

1. x2 + y2 = 25, di (–3, 4)

2. x2 + y2 – 2x – 4y + 1 = 0, m=2

3. x2 + y2 – 4x + 10y + 20 = 0, di titik potong dengan sumbu-x

4. x2 + y2 + 2x – 6y + 10 = 0, di titik potong dengan sumbu-y

5. x2 + y2 – 4y = 0, di (3, 1)

6. 4x2 + 4y2 – 4x – 12y + 1 = 0, di (4, 5)

7. 9x2 + 9y2 – 6x + 12y – 4 = 0, m=¼

8. 2x2 + 2y2 – 2x + 6y + 5 = 0, sejajar dengan sumbu-x

9. 9x2 + 9y2 + 12x + 24y – 16 = 0, sejajar dengan sumbu-x

10. 9x2 + 9y2 – 6x – 18y + 11 = 0, sejajar garis 3x + 4y = 12

11. 36x2 + 36y2 – 36x – 24y – 59 = 0, m = –1

12. 16x2 + 16y2 – 16x – 8y + 21 = 0, m=½

Latihan 4 D – 160
BAB 4 Lingkaran

13. 8x2 + 8y2 + 12x – 8y – 27 = 0, Tegak lurus garis 2x – 5y = 10

14. Garis singgung lingkaran x2 + y2 = r2 di titik A(x1, y1) memotong sumbu-x di T.

Titik potong lingkaran dengan sumbu-y di titik P(0, r) dan Q(0, –r). PA

memotong sumbu-x di R dan QA memotong sumbu-x di S. Tentukan koordinat

titik R, S, dan T, kemudian tunjukkan bahwa T adalah titik tengah SR.

15. Titik P(x1, y1) terletak di luar lingkaran L ≡ x2 + y2 = r2, sedangkan Q dan R

masing-masing adalah titik singgung garis yang melalui P. Buktikan bahwa garis

yang melalui Q dan R mempunyai persamaan x1x + y1y = r2. Garis ini disebut

garis polar dari titik P.

Latihan 4 D – 161
BAB 5 Ellips

EElllliippss

5.1. Persamaan Ellips Bentuk Baku

Ellips adalah tempat kedudukan titik-titik sedemikian hingga jumlah jaraknya

dari pasangan dua titik tertentu yang berbeda adalah konstan tertentu. Dua titik

tertentu di atas disebut titik fokus (foci).

Untuk menurunkan persamaan kurva ellips, dimisalkan kedua fokus berada

pada sumbu-x dan sumbu-y menjadi bisektor tegaklurus segmen yang

menghubungkan kedua fokus. Misalkan jarak antara kedua fokus adalah 2c, sehingga

titik fokusnya adalah F(c, 0) dan F ( c, 0) (perhatikan gambar 5.1).

Y P(x, y)

F ( c, 0) O F(c, 0) X

Gambar 5.1.

5.1. Bentuk Baku Ellips 162


BAB 5 Ellips

Jika P(x, y) adalah sembarang titik yang berada pada ellips, maka menurut

definisi akan berlaku

PF + PF = konstan. (1)

Dan apabila dimisalkan konstanta tertentu itu adalah 2a, maka dengan

menggunakan rumus jarak untuk menyatakan PF dan PF diperoleh:

( x c) 2 y2 + ( x c) 2 y 2 = 2a

( x c) 2 y 2 = 2a ( x c) 2 y2

x2 2cx + c2 + y2 = 4a2 4a ( x c) 2 y 2 + x2 + 2cx + c2 + y2

4a ( x c) 2 y 2 = 4a2 + 4cx

cx
( x c) 2 y2 = a +
a

2 2 2c2x22
x + 2cx + c + y = a + 2cx +
a2

a2 c2
x2 + y2 = a2 c2
a2

x2 y2
+ 2 =1 (2)
a2 a c2

5.1. Bentuk Baku Ellips 163


BAB 5 Ellips

Segitiga F PF pada gambar 5.1, dengan titik-titik sudut ( c, 0), (c, 0), dan

(x, y) salah satu sisinya mempunyai panjang 2c. Sedangkan jumlah dua sisi yang lain

adalah 2a. Jadi

2a > 2c

a>c

a2 >c2

a2 c2 > 0.

Karena a2 c2 adalah positif, maka bisa diganti dengan bilangan positif lain

katakanlah

b2 = a 2 c2 (3)

Ini juga berarti bahwa b < a.

Jika persamaan (3) disubstitusikan ke persamaan (2) maka akan diperoleh

persamaan:

x2 y2
+ =1 (4)
a2 b2

Persamaan (4) di atas disebut persamaan ellips bentuk baku.

5.1. Bentuk Baku Ellips 164


BAB 5 Ellips

Jika fokus ellips adalah titik-titik (0, c) dan (0, c) yang berada di sumbu-y

(gambar 5.2) maka persamaan ellips bentuk baku adalah

y2 x2
+ =1 (5)
a2 b2

F(0, c) P(x, y)

X
O

F (0, c)

Gambar 5.2.

Dalam hal ini bilangan yang lebih besar adalah berada di bawah suku y2.

Karakteristik utama suatu ellips persamaan (4) ditunjukkan pada gambar 5.3.

B
L L
a b a b2

a
A F c c F A
O b2

R B R

Gambar 5.3.

5.1. Bentuk Baku Ellips 165


BAB 5 Ellips

Lebih dahulu kita amati bahwa grafik dari ellips dengan persamaan (4), adalah

simetris dengan sumbu-x dan sumbu-y. Selanjutnya grafik memotong sumbu-x di titik

(a, 0) dan ( a, 0), dan memotong sumbu-y di titik (0, b) dan (0, b).

Garis yang melalui kedua fokus dinamakan sumbu utama ellips. Untuk ellips

dengan persamaan berbentuk (4) sumbu-x menjadi sumbu utama ellips. Titik potong

ellips dengan sumbu utamanya disebut puncak. Jadi untuk ellips dalam persamaan

(4) puncaknya adalah A(a, 0) dan A ( a, 0). Titik pada sumbu utama yang terletak di

tengah-tengah kedua puncak ellips dinamakan pusat ellips. Pusat ellips dengan

bentuk persamaan (4) adalah berimpit dengan titik asal. Segmen garis yang

menghubungkan kedua puncak disebut sumbu mayor (sumbu panjang) ellips

dengan panjang 2a satuan, dan kita katakan bahwa a adalah satuan panjang setengah

panjang sumbu mayor. Pada ellips ini segmen garis yang menghubungkan titik

potong ellips dengan sumbu-y yaitu titik (0, b) dan (0, b) disebut sumbu minor

(sumbu pendek) ellips. Panjang sumbu minor adalah 2b satuan, sehingga b adalah

satuan panjang setengan sumbu minor. Titik-titik tetap F dan F terletak pada sumbu

mayor dan disebut fokus, sebagaimana telah disebutkan pada definisi, adalah berjarak

c dari pusat ellips.

Karakteristik dari ellips dengan persamaan (5) secara essensial adalah sama.

Pada kenyataannya ellips dengan bentuk persamaan (4) dan (5) adalah identik dalam

bentuk dan ukuran, hanya berbeda dalam posisi.

5.1. Bentuk Baku Ellips 166


BAB 5 Ellips

Karena titik B pada ellips, maka jumlah jarak dari kedua fokus adalah 2a;

yaitu BF + BF = 2a. Akan tetapi B berada pada bisektor tegak lurus dari FF , hal ini

berarti berjarak sama dari F dan F yaitu BF = BF = a. Hal ini memungkinkan kita

untuk memberikan interpretasi geometris pada relasi (4). Pada kenyataannya pada

gambar 5.3 terlihat bahwa a adalah sisi miring dan b dan c adalah sisi-sisi dari

segitiga siku-siku BOF. Hal ini juga memberikan metoda geometrik berikut untuk

menentukan letak fokus ellips: letakkan satu kaki jangka pada salah satu titik puncak

sumbu minor, dengan radius sama dengan panjang setengah sumbu mayor, lukislah

busur hingga memotong sumbu mayor. Titik potong garis lukis dengan sumbu mayor

merupakan fokus ellips.

Tali busur yang melalui salah satu fokus dan tegak lurus dengan sumbu mayor

disebut latus rektum. Sedangkan titik potong latus rektum dengan ellips disebut

latera rekta. Untuk mencari panjang latus rektum diberikan nilai x = c = a2 b2

pada persamaan (4) dan dengan menyelesaikan persamaan untuk y diperoleh

y = b2/a. Jadi latera rekta ellips (4) adalah L(c, b2/a) dan R(c, b2/a), sehingga

panjang latus rektum ellips adalah 2b2/a. Jika panjang setengah latus rektum

dinotasikan dengan l maka

b2
l= (6)
a

Sebuah ellips dapat dibuat sketsa grafiknya secara kasar dengan

memperhatikan ujung-ujung sumbu mayor dan minor dan ujung latus rektum, dan
5.1. Bentuk Baku Ellips 167
BAB 5 Ellips

dengan menggunakan kenyataan bahwa grafinya simetrik terhadap kedua sumbu.

Konstruksi secara mekanik akan diberikan pada seksi lain.

Contoh 1:

Selidiki dan buat sketsa grafik dari persamaan 9x2 + 25y2 = 225

Jawab:

Pertama nyatakan persamaan yang diberikan ke dalam bentuk baku dengan

membagi masing-masing ruas dengan 225 dan diperoleh bentuk baku

9x 2 25 y 2
+ =1
225 225

x2 y2
+ =1
25 9

Dalam hal ini a2 = 25, b2 = 9, dan c2 = a2 b2 = 25 9 = 16, atau a = 5, b = 3,

c = 4. Jadi persamaan di atas adalah ellips yang berpusat di (0, 0), puncak

( 5, 0) dan titik fokus ( 4, 0). Sumbu mayor sejajar dengan sumbu-x dan

panjangnya 10 satuan, dan sumbu minor panjangnya 6 satuan. Sketsa grafik

dapat dilihat di gambar 5.4.

5.1. Bentuk Baku Ellips 168


BAB 5 Ellips

Y (0, 3)

X
(0, 5) (0, 4) (0, 4) (0, 5)

(0, 3)

Gambar 5.4

Contoh 2:

Tentukan persamaan ellips dengan pusat (0, 0), salah satu puncak (0, 13), dan

salah satu titik fokus (0, 12).

Jawab:

Puncak (0, 13) berarti sumbu mayor sejajar dengan sumbu-y dengan a = 13,

panjang sumbu mayor = 26 dan karena fokus di (0, 12) berarti c = 12. panjang

sumbu minor dapat dicari dengan rumus

b2 = a2 c2 = 132 122 = 169 144 = 25

Jadi b = 5.

Bentuk baku dari persamaan ellips yang dicari adalah

y2 x2
+ =1
169 25
5.1. Bentuk Baku Ellips 169
BAB 5 Ellips

Contoh 3:

Suatu kelengkungan berbentuk setengah ellips dengan lebar alas 48 meter dan

tinggi 20 meter. Berapa lebar kelengkungan itu pada ketinggian 10 meter dari

alas ?

Jawab:

Gambar 5.5 memperlihatkan sketsa lengkungan dan sumbu-sumbu koordinat

dapat dipilih sedemikian hingga sumbu-x terletak pada alas dan titik asal adalah

titik tengah alas. Maka sumbu utama ellips terletak sepanjang sumbu-x,

pusatnya di titik asal, a = ½ 48 = 24, b = 20. Persamaan ellips berbentuk

x2 y2
+ =1
576 400

Pada ketinggian 10 meter, berarti untuk nilai y = 10 akan diperoleh x yang

menyatakan lebar setengah lengkungan pada ketinggian 10 meter. Jadi

x2 10 2
+ =1
576 400

sehingga diperoleh

x2 = 432 , x = 12 3

5.1. Bentuk Baku Ellips 170


BAB 5 Ellips

Dengan demikian pada ketinggian 10 meter dari alas, lebar kelengkungan

adalah AB = 24 3 meter.

Y
20

A 10 B

O x
X
24 24

Gambar 5.5:

5.2. Konstruksi Mekanik sebuah Ellips

Dari definisi, sebuah ellips dapat dikonstruksi dengan mengikat ujung tali

sepanjang 2a pada dua titik sejauh 2c. Kemudian tarik dan tegangkan tali dengan

pensil seperti terleihat pada gambar 5.6 berikut. Gerakkan pensil dengan selalu

menjaga agar tali tetap tegang. Hasil lukisan pensil itu akan merupakan sebuah ellips.

Gambar 5.6:

5.2. Konstruksi Mekanik Sebuah Ellips 171


BAB 5 Ellips

Latihan 5 A

1. Tunjukkan bahwa jika setiap ordinat dari lingkaran x2 + y2 = a2 diperpendek dalam

rasio b/a, maka kurva yang dihasilkan adalah berupa ellips

x2 y2
+ =1
a2 b2

Pada soal 2 15 tentukan pusat, titik-titik fokus, puncak, panjang sumbu mayor,

panjang sumbu minor dan laktus rektum dari persamaan ellips yang diberikan. Buat

sketsa grafiknya.

x2 y2 x2 y2
2. + =1 3. + =1
169 25 169 144

4x 2 16 y 2 x2 9y2
4. + =1 5. + =1
3 25 81 16

6. 4x2 + 9y2 = 36 7. 3x2 + 2y2 = 6

8. 5x2 + 4y2 = 16 9. 16x2 + y2 = 16

10. 4x2 + 25y2 = 100 11. 25x2 + 16y2 = 400

12. 144x2 + 169y2 = 24336 13. 1681x2 + 81y2 136161 = 0

14. y2 = 50 2x2 15. x2 = 49(1 y2)

Latihan 5 A 172
BAB 5 Ellips

Dari data-data berikut tentukan persamaan ellips yang memenuhi:

16. Titik puncak di ( 6, 0), dan sumbu minor sepanjang 10.

17. Titik puncak di (0, 8), titik-titik ujung sumbu minor di ( 3, 0).

18. Titik puncak di ( 5, 0), satu fokus di (3, 0).

19. Satu puncak di (0, 13), fokus terdekat dengan puncak ini (0, 5), pusat di titik asal.

20. Titik puncak di ( 4, 0), panjang latus rektum sama dengan 2.

21. Titik ujung sumbu minor di ( 4, 0), panjang latus rektum sama dengan 4.

22. Fokus di titik ( 4, 0), panjang latus rektum sama dengan 12.

23. Titik-titik latera rekta pada ( 3 , ½), ( 3 , ½), ( 3 , ½), ( 3 , ½), dan

sumbu mayor sepanjang sumbu-x.

24. Dengan menggunakan definisi dari sebuah ellips, tentukan persamaan ellips yang

mempunyai fokus di titik (4, 4) dan ( 4, 4) dan panjang sumbu mayor 16.

25. Kurva suatu jembatan batu bebentuk semi ellips. Jika panjang rentangan 40 kaki

dan tinggi maksimum 10 kaki. Tentukan tinggi kurva pada salah satu ujung

interval 5 kaki dari titik tengah.

Latihan 5 A 173
BAB 5 Ellips

5.3. Persamaan Ellips Bentuk Umum

Ellips yang mempunyai sumbu simetri sejajar dengan sumbu koordinat dan

berpusat pada (h, k), persamaannya dapat diperoleh dengan mentranslasikan sumbu

koordinat sedemikian hingga sumbu koordinat berimpit pada pusat ellips. Sehingga

persamaan ellips akan berbentuk

( x h) 2 ( y k)2
+ =1 (1)
a2 b2

( y k)2 ( x h) 2
atau + =1 (2)
a2 b2

bergantung apakah sumbu mayor horisontal atau vertikan.

Kedua persamaan (1) dan (2) di atas dapat direduksi ke dalam bentuk

Ax2 + Cy2 + Dx + Ey + F = 0 (3)

yang mana AC > 0 (yaitu A dan C keduanya posisif atau keduanya negatif) dan A C.

(Jika A = C, maka akan merupakan lingkaran). Persamaan (3) disebut persamaan

ellips bentuk umum.

Sebaliknya dapat ditunjukkan bahwa sembarang persamaan berbentuk (3)

dapat direduksi menjadi bentuk (1) atau bentuk (2), atau menjadi persamaan yang

mirip, tetapi pada ruas kanan adalah bilangan 0 atau 1. Dalam hal ini persamaan (3)

akan menggambarkan tiga kategori ellips, yaitu ellips real dengan sumbu sejajar

5.3. Bentuk Umum Ellips 174


BAB 5 Ellips

sumbu koordinat, atau ellips titik yaitu apabila ruas kanan bernilai 0, atau ellips

imajiner yaitu apabila ruas kanan bernilai 1.

Contoh 1:

Gambarlah ellips yang mempunyai persamaan

3x2 + 5y2 6x + 20y + 8 = 0

Jawab:

Untuk menggambar ellips di atas persamaan harus diubah ke dalam bentuk

baku, yaitu dengan melakukan manipulasi bentuk kuadrat sempurna sebagai

berikut:

3x2 + 5y2 6x + 20y + 8 = 0

3x2 6x + 5y2 + 20y = 8

3(x2 2x) + 5(y2 + 4y) = 8

3(x2 2x + 1) + 5(y2 + 4y + 4) = 8 + 3 + 20

3(x 1)2 + 5(y2 + 2)2 = 15

5.3. Bentuk Umum Ellips 175


BAB 5 Ellips

( x 1) 2 ( y 2) 2
+ =1
5 3

Dari persamaan terakhir dapatlah disimpulkan bahwa ellips yang terjadi

berpusat di (1, 2), a = 5 sehingga panjang sumbu mayor adalah 2 5 sejajar

dengan sumbu-x. Diketahui pula b = 3 , sedangkan fokusnya diperoleh

dengan menghitung c2 = a2 b2 = 5 3 = 2, sehingga c = 2 dan koordinat

titik fokus adalah (1 2 , 2). Titik puncak yaitu titik potong dengan sumbu

mayor di (1 5 , 2), dan titik potong dengan sumbu minor di titik (1, 2 3 ).

Sketsa gambar dapat dilihat pada gambar 5.7. berikut.

F F

Gambar 5.7:

5.3. Bentuk Umum Ellips 176


BAB 5 Ellips

Latihan 5 B

Pada soal 1 10 tentukan persamaan ellips jika diberikan data-data berikut. Buat

sketsa grafiknya.

1. Sumbu mayor sama dengan 12 dan sejajar sumbu-x, sumbu minor sama dengan

10, pusat di (2, 1).

2. Titik-titik puncak di (8, 2) dan ( 2, 2), dan satu fokus di (6, 2).

3. Ujung sumbu minor di (0, 5) dan (0, 7), ujung salah satu latus rektum di

(6 3 , 2) dan (6 3 , 4).

4. Ujung sumbu minor di ( 2, 8) dan ( 2, 16) dan salah satu fokus di (3, 4).

5. Titik-titik latera rekta (9, 2), (9, 6), ( 7, 2), dan ( 7, 6).

6. Fokus di (5 + 4 3 , 1) dan (5 4 3 , 1), dan latus rektum sepanjang 4.

7. Pusat (3, 2); salah satu puncak (8, 2); salah satu fokus ( 1, 2)

8. Fokus di (2, 3) dan (2, 7), dan panjang sumbu minor adalah dua-pertiga panjang

sumbu mayor.

9. Puncaknya di (2, 0) dan ( 2, 0) dan melalui titik ( 1, ½ 3 ).

5
10. Puncaknya di (0, 5) dan (0, 5) dan melalui titik (2, 3 5 ).

Latihan 5 B 177
BAB 5 Ellips

Dalam soal no 11 20 ubahlah ke dalam bentuk baku, kemudian tentukan pusat,

puncak, fokus, panjang sumbu mayor dan minor, dan latera rekta. Buat sketsa

grafiknya.

11. 9x2 + 16y2 + 18x 64y 71 = 0

12. 25x2 + 4y2 + 100x 4y + 101 = 0

13. 4x2 + y2 = y

14. 4x2 + 9y2 8x + 18y 3 = 0

15. 9x2 + 4y2 18x + 16y 11 = 0

16. 2x2 + 3y2 4x + 12y + 2 = 0.

17. 5x2 + 3y2 3y 12 = 0

18. 3x2 + 4y2 30x + 16y + 100 = 0

19. 2x2 + 3y2 + 8x 6y + 20 = 0

20. 4x2 + y2 8x + 2y + 5 = 0

21. Sebuah titik bergerak sedemikian hingga jaraknya dari (6, 0) adalah setengah

jaraknya terhadap sumbu-y. Tunjukkan bahwa tempat kedudukan titik-titik itu

berupa ellips.

Latihan 5 B 178
BAB 5 Ellips

22. Bumi mengitari matahari dengan lintasan berbentuk ellips dengan matahari pada

salah satu fokusnya. Jarak matahari terhadap bumi yang terdekat adalah 9,3 106

mil, sedangkan jarak yang paling jauh adalah 9,6 106 mil. Tentukan persamaan

lintasan bumi tersebut jika matahari terlatak pada salah satu titik fokusnya dan

menganggap titik pusat adalah (0, 0).

23. Sebuah satelit mengitari bumi dengan lintasan berbentuk ellips. Jarak terdekat

satelit terhadap bumi adalah 119 mil dan jarak terjauh 881 mil. Tentukan

persamaan baku ellips tersebut jika pusat ellips adalah titik ( 2, 1).

24. Langit-langit suatu gang berbentuk setengah ellips, lebarnya 10 m, dan tingginya

9 m di pusatnya dan tinggi6 m pada sisi dinding. Tentukan tinggi langit-langit

pada jarak 2 m dari dinding.

5.4. Persamaan Garis Singgung pada Ellips.

Seperti halnya pada lingkaran, terdapat dua macam garis singgung yang akan

dibicarakan, yaitu garis singgung yang melalui salah satu titik pada ellips dan garis

singgung yang mempunyai kemiringan tertentu.

5.4.1. Persamaan Garis Singgung yang melalui titik di Ellips.

Misalkan P(x1 , y1) titik pada ellips

5.4. Persamaan Garis SInggung Ellips 179


BAB 5 Ellips

x2 y2
+ =1 (1)
a2 b2

maka titik P akan memenuhi persamaan (1) yaitu

x12 y12
+ =1 (2)
a2 b2

Persamaan garis singgung ellips di titik P merupakan anggota keluarga garis

yang melalui P(x1, y1) dan berbentuk:

y = m(x x1) + y1 (3)

Jika persamaan (3) disubstitusikan ke persamaan (1) maka akan diperoleh

persamaan kuadrat dalam x yaitu:

x2 (m( x x1 ) y1 ) 2
2
+ =1
a b2

(a2 + b2)x2 2a2(m2x1 my1)x + a2(m2x12 + y12 2mx1y1 b2) = 0 (4)

Karena garis (3) menyinggung kurva (1) maka dari pengetahuan aljabar

haruslah persamaan (4) mempunyai akar yang sama. Hal ini berarti nilai diskriminan

persamaan kuadrat di atas bernilai nol, yaitu

[2a2(m2x1 my1)]2 4(a2 + b2)a2(m2x12 + y12 2mx1y1 b2) = 0

(a2 x12)m2 + 2x1y1m + (b2 y12) = 0

5.4. Persamaan Garis SInggung Ellips 180


BAB 5 Ellips

x12 2 y12
a2(1 )m + 2x1y1m + b2(1 )=0
a2 b2

Substitusi persamaan (2) ke persamaan terakhir akan memberikan persamaan

kuadrat dalam m yaitu

y12 2 2
2 x1
a2 m + 2x 1 y1 m + b =0 (5)
b2 a2

Dari persamaan (5) diperoleh selesaian untuk m yaitu

x1 b 2
m= (6)
a 2 y1

Jika persamaan (6) disubstitusikan ke persamaan (3) diperoleh persamaan

garis singgung ellips di titik P yaitu

x1 x y1 y x12 y12
+ = + (7)
a2 b2 a2 b2

Dengan persamaan (2) persamaan garis singgung direduksi menjadi

x1 x y y
2
+ 12 = 1 (8)
a b

Apabila titik P(x1, y1) tidak terletak pada lingkaran, maka persamaan (8)

disebut persamaan polar terhadap titik P dan titik P disebut titik polar.

5.4. Persamaan Garis SInggung Ellips 181


BAB 5 Ellips

Jika ellips dalam bentuk baku yang berpusat di (h, k), yaitu

( x h) 2 ( y k)2
+ =1 (9)
a2 b2

maka persamaan garis singgung ellips dengan persamaan berbentuk (9) di titik

P(x1, y1) yang terletak di ellips tersebut dapat diperoleh dari persamaan (8) dengan

mentranslasikan sumbu koordinat sedemikian hingga pusat sumbu O(0, 0) bergeser

ke titik O ( h, k).

Misalkan sumbu baru hasil translasi adalah X dan Y , dan koordinat baru

adalah x dan y , maka hubungan koordinat baru dan koordinat lama adalah:

x=x h dan y = y k (10)

Koordinat titik P(x1, y1) juga mengalami perubahan terhadap sistem koordinat

baru yaitu

x1 = x1 h dan y = y1 k (11)

Selanjutnya dengan mensubstitusikan persamaan (10) dan (11) ke persamaan

(8) akan diperoleh

( x1' h)( x ' h) ( y1' k )( y ' k)


+ =1 (12)
a2 b2

Jika tanda aksen( ) dihilangkan maka diperoleh persamaan garis singgung

ellips (9) di titik P(x1, y1) yang terletak pada ellips tersebut adalah
5.4. Persamaan Garis SInggung Ellips 182
BAB 5 Ellips

( x1 h)( x h) (y k )( y k )
2
+ 1 =1 (12)
a b2

Dengan cara yang sama dapat ditentukan persamaan garis singgung ellips

dengan persamaan

( y k)2 ( x h) 2
+ =1 (13)
a2 b2

di titik P(x1, y1) yang terletak pada ellips tersebut diberikan oleh persamaan

( y1 k )( y k ) (x h)( x h)
2
+ 1 =1 (14)
a b2

Persamaan (12) jika dijabarkan lebih lanjut akan menghasilkan

b2x1x + a2y1y b2h(x1 + x) a2k(y1 + y) + (b2h2 + a2k2 a2b2) = 0 (15)

Sedangkan penjabaran persamaan (9) dalam bentuk umum adalah

b2x2 + a2y2 2b2hx 2a2ky + (b2h2 + a2k2 a2b2) = 0 (16)

Dengan memperhatikan persamaan (15) dan (16) maka secara umum dapat

disimpulkan bahwa persamaan garis singgung ellips dalam bentuk umum

Ax2 + Cy2 + Dx + Ey + F = 0

di titik (x1, y1) yang terletak pada ellips tersebut diberikan oleh:

5.4. Persamaan Garis SInggung Ellips 183


BAB 5 Ellips

Ax1x + Cy1y + ½ D(x1 + x) + ½ E(y1 + y) + F = 0 (17)

Untuk memudahkan mengingat, bahwa persamaan garis singgung ellips dalam

bentuk umum di sembarang titik (x1, y1) pada ellips dapat ditemukan dengan cara

mengganti suku-suku pada persamaan sebagai berikut:

x2 diganti dengan x1x

y2 diganti dengan y1y

x diganti dengan ½(x1 + x)

y diganti dengan ½(y1 + y)

Harus diingat bahwa cara di atas dapat dilakukan hanya jika titik (x1, y1)

berada pada ellips. Akan tetapi metoda di atas juga dapat digunakan sebagai metoda

alternatif untuk mencari persamaan garis singgung ellips yang melalui sebuah titik di

luar ellips tersebut.

Contoh 1:

Tentukan persamaan garis singgung ellips x2 + 4y2 = 40 di titik (2, 3).

Jawab:

x2 + 4y2 = 40

5.4. Persamaan Garis SInggung Ellips 184


BAB 5 Ellips

x2 y2
+ =1
40 10

Dengan persamaan (8) diperoleh persamaan garis singgung yang dicari, yaitu

2x 3y
+ =1
40 10

x + 6y 20 = 0

Grafik persamaan ellips dan garis singgungnya dapat dilihat di gambar berikut

Gambar 5.8:

Contoh 2:

Tentukan persamaan garis singgung ellips 9x2 + 4y2 18x + 2y 30 = 0 di titik

(2, 3).

5.4. Persamaan Garis SInggung Ellips 185


BAB 5 Ellips

Jawab:

Dapat diperlihatkan bahwa titik (2, 3) terletak pada ellips tersebut. Selanjutnya

dengan menggunakan persamaan (17), persamaan garis singgung yang dicari

adalah

9 2 x + 4 ( 3)y ½ 18(2 + x) + ½ 2( 3 + y) 30 = 0

9x 11y 51 = 0

Contoh 3:

Tentukan persamaan garis singgung ellips 9x2 + 2y2 18x + 4y 7 = 0 yang

melalui titik (0, 2).

Jawab:

Jelas bahwa titik (0, 2) tidak terletak pada ellips tersebut. Dalam hal ini kita

tidak bisa menggunakan persamaan (17) secara langsung. Misalkan (x1, y1)

adalah titik singgung dari garis singgung ellips yang melalui (0, 2). Maka

persamaan garis singgung yang dicari dalam bentuk

9x1x + 4y1y ½ 18(x1 + x) + ½ 2(y1 + y) 7 = 0

9x1x + 4y1y 9x1 9x + y1 + y 7 = 0 (18)


5.4. Persamaan Garis SInggung Ellips 186
BAB 5 Ellips

Karena garis singgung melalui titik (0, 2), maka persamaan di atas harus

memenuhi koordinat (0, 2), sehingga

9x1 0 + 4y1 2 9x1 9 0 + y1 + 2 7 = 0

y1 = x1 + 5/9 (19)

Tetapi titik (x1, y1) berada pada ellips, akibatnya berlaku hubungan

9x12 + 4y12 18x1 + 2y1 7=0 (20)

Substitusi persamaan (19) ke (20) diperoleh persamaan kuadrat dalam x1,

1053x2 936x 377 = 0

4 5
yang memberikan penyelesaian untuk x1 = . Dengan demikian juga
9 3

5
diperoleh nilai y1 = 1 . Jadi koordinat titik-titik singgungnya pada ellips
3

4 5 5 4 5 5
adalah + , 1 + dan , 1 . Selanjutnya dengan
9 3 3 9 3 3

persamaan (17) dapat diterapkan pada kasus ini untuk mendapatkan persamaan

garis singgung yang dicari atau mensubstitusikan nilai-nilai (x1, y1) ke

persamaan (18). Terdapat dua garis singgung yang dicari.

5.4. Persamaan Garis SInggung Ellips 187


BAB 5 Ellips

4 5 5
Pertama yang melalui titik + ,1+ adalah
9 3 3

4 5 5 4 5 5
9 + x+4 1 y 9 + 9x + 1 +y 7=0
9 3 3 9 3 3

4 8
(13 + 3 5 )x (5 + 5 )y + (10 + 5)=0
3 3

4 5 5
Dan kedua yang melalui titik ,1 adalah
9 3 3

4 5 5 4 5 5
9 x+4 1 y 9 9x + 1 +y 7=0
9 3 3 9 3 3

4 8
(13 3 5 )x + (5 5 )y (10 5)=0
3 3

5.4.2. Persamaan Garis Singgung yang mempunyai Kemiringan Tertentu.

Sekarang kita bicarakan garis singgung suatu ellips yang mempunyai

kemiringan tertentu. Pertama misalkan akan dicari persamaan garis singgung ellips

x2 y2
+ =1 (1)
a2 b2

dan mempunyai kemiringan m (lihat gambar 5.9).


5.4. Persamaan Garis SInggung Ellips 188
BAB 5 Ellips

Y
l1 :

X
O
l 2:

Gambar 5.9:

Karena kemiringan garis singgung l sudah diketahui maka garis l merupakan

anggota berkas garis yang berbentuk

y = mx + c (2)

dengan c parameter konstanta yang belum diketahui.

Jika persamaan garis (2) disubstitusikan ke persamaan ellips (1) akan

diperoleh hubungan

x2 (mx c) 2
+ =1
a2 b2

(b2 + a2m2)x2 + 2mca2x + (a2c2 a2b2) = 0

Oleh karena garis menyinggung ellips maka haruslah memotong pada satu

titik saja, dengan kata lain persamaan kuadrat di atas haruslah mempunyai

penyelesaian yang kembar. Hal itu berarti nilai diskriminannya haruslah nol, yaitu

5.4. Persamaan Garis SInggung Ellips 189


BAB 5 Ellips

(2mca2)2 4(b2 + a2m2)(a2c2 a2b2) = 0

dan memberikan penyelesaian untuk nilai c

c2 = (b2 + a2m2)

c = a2m2 b2

Jadi persamaan garis singgung yang dicari adalah

y = mx a 2m2 b2 (3)

Sedangkan persamaan garis singgung pada ellips dengan persamaan baku

umum

( x h) 2 ( y k)2
+ =1
a2 b2

yang mempunyai kemiringan m diberikan oleh:

y k = m(x h) a2m2 b2 (4)

Contoh 4:

( x 2) 2 ( y 3) 2
Tentukan persamaan garis singgung ellips + = 1 yang tegak
25 16

lurus garis 2x + 3y 1 = 0.

5.4. Persamaan Garis SInggung Ellips 190


BAB 5 Ellips

Jawab:

Misalkan m adalah kemiringan garis singgung yang dicari.

Garis 2x + 3y 1 = 0 mempunyai kemiringan 2/3, sedangkan garis singgung

yang diminta tegak lurus dengan di atas, yang berarti perkalian antar

kemiringan garis = 1. Jadi

2 3
m.( ) = 1 atau m = .
3 2

Berdasarkan rumus (4) maka persamaan garis singgung yang dicari adalah :

2
3 2 3
y + 3 = (x 2) 5 42
2 2

3 1
y+3 = x 3 289
2 2

3 1
y+3 = x 3 .17
2 2

2y + 6 = 3x 6 17

3x 2y 12 17 = 0

Jadi persamaan garis singgung yang dicari adalah

3x 2y + 5 = 0 dan 3x 2y 29 = 0

5.4. Persamaan Garis SInggung Ellips 191


BAB 5 Ellips

5.5. Terapan Ellips

Ellips mempunyai banyak terapan di dalam ilmu pengetahuan maupun seni.

Pegas pada sistem suspensi mobil sering berbentuk elliptik atau semi elliptik.

Dalam astronomi, lintasan edar planet dan satelit berupa ellips, di mana

matahari berada pada salah satu fokusnya. Hal ini seperti dijelaskan pada hukum

Keppler tentang gerak edar planet.

Dalam bidang konstruksi dan arsitektur, lengkungan jembatan kadang-kadang

berbentuk ellips, suatu bentuk yang mempunyai efek kekuatan dan nilai seni.

Ada satu sifat aplikatif pada ellips berkenaan dengan pantulan ellips.

Perhatikan gambar 5.10. berikut.

T
P

F F

Gambar 5.10:

PT adalah sembarang garis singgung ellips yang dengan fokus di F dan F'.

Misalkan ukuran sudut antara FP dengan PT adalah , dan ukuran sudut antara F P

dengan PT adalah , maka dapat ditunjukkan bahwa = (lihat latihan 5 C no. 1).

Oleh karena itu sinar cahaya yang memancar dari sumber di salah satu fokus cermin

5.5. Terapan Ellips 192


BAB 5 Ellips

elliptik yang mengenai cermin akan dipantulkan sepanjang garis yang melalui fokus

lainnya. Sifat ellips ini digunakan dalam serambi bisikan dengan langit-langit yang

mempunyai penampang berupa lengkungan ellips dengan fokus yang sama.

Seseorang yang berdiri di salah satu fokus F dapat mendengan bisikan orang lain

pada fokus F yang lain sebab gelombang suara yang berasal dari pembisik di F

mengenai langit-langit dan oleh langit-langit dipantulkan ke pendengan di F. Contoh

termashur serambi bisikan ada di bawah kubah gedung Capitol di Washington, D.C.

Yang lain ada di Mormon Tabernacle di Salt Lake City.

Latihan 5 C

1. Pada gambar 5.10. buktikan bahwa = .

( x 2) 2 ( y 1) 2
2. Tentukan persamaan garis singgung ellips + = 1 pada titik
25 16

potong dengan sumbu-y. Berapa kemiringan garis singgung tersebut ?

3. Tentukan persamaan garis singgung ellips 4x2 + y2 8x + 6y + 9 = 0 di titik

(2 + 3 ; 1).

4. Tentukan persamaan garis singgung ellips 16x2 + 25y2 400 = 0 yang

mempunyai kemiringan 2.

Latihan 5 C 193
BAB 5 Ellips

5. Tentukan persamaan garis singgung ellips 16x2 + 25y2 50x + 64y = 311 yang

mempunyai kemiringan 2/3.

6. Tentukan persamaan garis singgung ellips 4x2 + y2 8x + 6y + 9 = 0 yang melalui

titik (0, 0).

7. Tentukan persamaan garis singgung ellips 9x2 + 16y2 + 36x + 32y 92 = 0 yang

mempunyai kemiringan 1.

8. Dua garis yang saling tegak lurus menyinggung ellips 2x2 + 3y2 + 4x 12y 36 = 0.

3
Jika salah satu garis mempunyai kemiringan 2 , tentukan titik potong kedua

garis singgung.

9. Tentukan besar sudut antara dua garis singgung ellips 6x2 + 9y2 24x 54y + 51 = 0

yang melalui titik pusat koordinat.

10. Tentukan persamaan garis singgung ellips 4x2 + y2 + 24x 16y + 84 = 0 di titik

potong ellips dengan sumbu-sumbu koordinat. Tentukan pula besar sudut antara

garis-garis singgung tersebut.

11. Tentukan luas segiempat yang dibentuk oleh garis-garis singgung ellips

25x2 + 16y2 + 150x 128y 1119 = 0 di titik-titik ujung latus rektum (laktera

rekta).

Latihan 5 C 194
BAB 6 Parabola

PPaarraabboollaa

6.1. Persamaan Parabola Bentuk Baku

Parabola didefinisikan sebagai tempat kedudukan titik-titik P(x, y) pada

bidang sedemikian hingga titik itu berjarak sama dari suatu titik tertentu yang disebut

fokus dan garis tertentu yang tidak memuat fokus dan disebut direktrik.

Untuk menentukan persamaan parabola, pertama ditinjau parabola dengan

fokus berada pada sumbu-x dan dengan direktrik tegak lurus sumbu-x. Sedangkan

sumbu-y diletakkan di tengah-tengah segmen garis hubung dari titik fokus F ke

garis direktrik d.

D P(x, y)

O F(c, 0) X
x= c

Gambar 6.1

6.1. Bentuk Baku Parabola 195


BAB 6 Parabola

Misalkan jarak antara garis direktrik dengan fokus adalah 2c, maka koordinat

titik fokusnya adalah F(c, 0) dan persamaan garis direktrik d adalah x = c, c 0.

(lihat gambar 6.1).

Jika P(x, y) adalah sembarang titik pada parabola, maka dari definisi kurva

parabola diperoleh hubungan

PF = PD

yaitu ( x c) 2 y 2 = |x + c|

(x c)2 + y2 = (x + c)2

x2 2cx + c2 + y2 = x2 + 2cx + c2

y2 = 4cx (1)

Persamaan (1) di atas merupakan persamaan parabola yang dicari yaitu

parabola yang mempunyai fokus F dengan koordinat (c, 0) dan persamaan garis

direktrik d x = c, c 0.

Jika dilakukan pertukaran x dan y dalam (1) maka diperoleh

x2 = 4cy, (2)

yang mana (2) merupakan persamaan parabola dengan fokus di titik (0, c) pada

sumbu-y dan garis direktrik dengan persamaan d y = c.

6.1. Bentuk Baku Parabola 196


BAB 6 Parabola

Persamaan (1) dan (2) dikenal sebagai persamaan parabola bentuk baku.

Jika c adalah positif, maka parabola adalah terbuka ke arah sumbu-x atau

sumbu-y positif; sebaliknya jika c adalah negatif, maka parabola adalah terbuka ke

arah sumbu-x atau sumbu-y negatif, bergantung parabola bentuk baku (1) atau (2).

Sekarang kita perhatikan beberapa sifat dari parabola sebelum melanjutkan ke

permasalahan yang lain. Pertama parabola adalah kurva yang simetrik. Garis simetri

dari parabola disebut sumbu parabola. Garis ini tegak lurus dengan direktrik dan

memuat titik fokus. Titik potong sumbu dengan parabola disebut puncak (vertex).

2c L
D

2c
c c
E V F
2c
D
2c R

Gambar 6.2.

Tali busur parabola yang melalui fokus dan tegak lurus sumbu parabola

disebut latus rectum parabola. Panjang latus rektum dapat dihitung secara langsung

dari gambar 6.2, yang mana latus rektum adalah segmen garis LR. Fokus dan puncak

parabola F dan V, sedangkan direktriknya d = DD' . Sumbu parabola dan

garisdirektrik berpotongan di E. Berdasarkan definisi parabola, LF = LD = |2c|. Jadi

panjang laktus rektum adalah LR = |4c|.

6.1. Bentuk Baku Parabola 197


BAB 6 Parabola

6.2. Konstruksi Geometrik dari Parabola

Sebuah parabola yang diketahui fokus dan direktriknya dapat segera

dikonstruksi dengan penggaris dan jangka sebagai berikut:

Misalkan F adalah fokus dan d direktrik yang diberikan (lihat gambar 6.3).

Gambar sumbu parabola EF, yang tentu saja memuat titik fokus F dan tegak lurus

dengan garis d berpotongan di E. Puncak parabola V adalah titik tengah antara E dan F.

d B
P
D

E V F A

D
P

Gambar 6.3.

Ambil sembarang titik A pada sumbu dan berada pada sisi yang sama dengan

F terhadap titik V. Melalui A lukis garis AB yang sejajar dengan direktrik (atau tegak

lurus dengan sumbu parabola).

Dengan F sebagai pusat dan jari-jari sama dengan panjang EA, lukis busur

yang memotong AB di P dan P . Maka P dan P adalah titik-titik pada parabola yang

6.2. Konstruksi Geometrik Parabola 198


BAB 6 Parabola

dicari, karena PF = AE = PD, yaitu titik yang berjarak sama terhadap titik F dan garis

d. Secara sama dapat diujikan untuk titik P .

Dengan mengubah posisi titik A dapat dikonstruksikan sebanyak titik yang

diinginkan pada parabola. Secara praktis, akan sangat memudahkan, apabila pada

langkah awal dilukis sejumlah garis sejajar dengan direktrik untuk memperoleh titik

anggota tempat kedudukan.

Suatu cara yang sangat mudah dilakukan dalam memvisualisasikan bentuk

parabola adalah dengan menggunakan sehelai benang. Jika sehelai benang yang

lentur ujung-ujungnya dikaitkan pada paku pada dinding yang rata, maka lengkungan

benang yang menggantung akan membentuk parabola.

Contoh 1:

Tentukan koordinat fokus dan persamaan direktrik parabola dengan persamaan

y2 = 8x. Lukis grafik parabola tersebut.

Jawab:

Dengan membandingkan persamaan parabola dalam bentuk baku (1) maka

diperoleh hubungan

4c = 8

c= 2
6.2. Konstruksi Geometrik Parabola 199
BAB 6 Parabola

Jadi parabola di atas mempunyai titik fokus di ( 2, 0).

Persamaan garis direktriknya adalah x = 2.

Untuk melukis grafik parabola di atas, pertama dilukis garis direktrik dan

fokusnya. Kemudian buat sketsa grafik dengan menentukan beberapa titik yang

berjarak sama dari fokus dengan direktrik. Sketsa grafik dapat diperlihatkan

dalam gambar 6.4.

x=2

F
X
(-2, 0) O

Gambar 6.4.

Contoh 2:

Tentukan persamaan parabola dengan puncak di titik asal (0, 0)dan titik fokus

di ( 4, 0).

Jawab:

Karena fokus dan puncak pada sumbu-x, maka sumbu-x adalah sumbu parabola.

6.2. Konstruksi Geometrik Parabola 200


BAB 6 Parabola

Jadi persamaan parabola dalam bentuk y 2 = 4cx.

Karena fokusnya adalah ( 4, 0), maka c = 4 dan persamaannya adalah

y2 = 4 ( 4)x atau y2 = 16x

Contoh 3:

Tentukan persamaan parabola yang mempunyai puncak titik asal dan melalui

titik (8, 10),

(a) jika sumbu parabola berimpit dengan sumbu-x,

(b) jika sumbu parabola berimpit dengan sumbu-y.

Jawab:

(a) Karena sumbu parabola berimpit dengan sumbu-x, maka persamaan

bakunya berbentuk (1) yaitu y2 = 4px. Dengan mensubstitusikan koordinat

25
(8, 10) ke persamaan diperoleh 100 = 32p, p = 8
. Jadi persamaan parabola

yang dicari adalah y2 = 25


2
x.

(b) Karena sumbu parabola berimpit dengan sumbu-y, maka persamaan

bakunya berbentuk (1) yaitu x2 = 4py. Dengan mensubstitusikan koordinat

8
(8, 10) ke persamaan diperoleh 64 = 40p, p = 5
. Jadi persamaan parabola

yang dicari adalah x2 = 32


5
y.
6.2. Konstruksi Geometrik Parabola 201
BAB 6 Parabola

6.3. Aplikasi Parabola

Lintasan peluru meriam yang ditembakkan dari suatu tempat dengan sudut

elevasi tertentu, dengan mengabaikan resistensi udara dan lainnya, adalah sebuah

parabola. Kabel pada jembatan gantung yang mempunyai distribusi beban seragam

akan menggantung dalam bentuk parabola. Arsitektur jembaran atau ornamen pada

sebuah gedung kadang-kadang dibuat dalam bentuk parabolik.

Ada dua sifat yang menarik dari parabola yang mempunyai terapan dalam

konstruksi lampu sorot, lampu mobil dan teleskop. Sebuah parabola yang diputar

terhadap sumbunya akan membentuk sebuah permukaan. Jika permukaan cekung

pada benda ini digunakan sebagai reflektor, sinar cahaya yang datang secara paralel

dengan sumbu akan diarahkan ke fokus. Sebaliknya, jika sebuah sumber cahaya

dipancarkan dari fokus, maka cahaya akan dipantulkan ke luar dalam bentuk cahaya

yang sejajar.

T
F
P

O R

Gambar 6.5.

6.3. Aplikasi Parabola 202


BAB 6 Parabola

Dalam gambar 6.5. misalkan P adalah sembarang titik pada grafik suatu

parabola dan PT adalah garis singgung di titik P. F adalah fokus parabola, dan

adalah sudut antara FP dan garis singgung PT. PR sejajar dengan sumbu parabola,

dan sudut antara PR dan PT. Dapat dibuktikan (dalam latihan 6 C) bahwa = .

Dengan penjelasan ini, kepala lampu senter, permukaan kepala lampu

kendaraan, dan sebagainya dibuat dalam bentuk parabolik. Tetapi reflektor pada

teleskop, detektor suara parabolik, antena radio atau televisi berbentuk parabolik

dibuat berdasar pada prinsip yang berkebalikan (gambar 6.6). Pada teleskop, sinar

cahaya dari suatu obyek di langit yang jatuh ke cermin dan sejajar dengan sumbu

parabola akan dipantulkan dan dikumpulkan pada fokusnya.

Gambar 6.6 :

6.3. Aplikasi Parabola 203


BAB 6 Parabola

Latihan 6 A.

Pada masing-masing parabola berikut, tentukan koordinat fokus, persamaan direktrik

dan panjang latus rektum.

1. y2 = 12x. 7. 5y2 = 2x.

2. x2 = 4y. 8. 10x = y2.

3. 2y2 = 5x. 9. y2 = 4x.

4. y2 = 2x. 10. x= y2.

5. y2 = 12x. 11. y2 + 8x = 0.

6. x2 = 6y. 12. y = ax2.

Tentukan persamaan parabola jika diberikan data-data berikut:

13. Fokus (6, 0), direktrik x = 6.

14. Fokus ( 4, 0), puncak pada titik asal.

15. Puncak pada titik asal, sumbu berimpit dengan sumbu-x, melalui titik (3, 2).

Apakah koordinat fokus dari parabola ini.

16. Latus rektum sama dengan 8, puncak pada titik asal, sumbu berimpit dengan

sumbu-y.

Latihan 6 A 204
BAB 6 Parabola

17. Melalui titik-titik (5, 4), (5, 4), dan titik asal, sumbu berimpit dengan sumbu-x.

Tentukan pula koordinat fokusnya.

18. Direktrik x = 6, puncak pada titik asal.

19. Ujung latus rektum pada titik (2, 4) dan (2, 4), puncak pada titik asal.

20. Fokus pada (0, 4), direktrik sejajar dan di atas sumbu-x, panjang latus rektum

sama dengan 16.

21. Tentukan persamaan lingkaran yang melalui puncak dan titik-titik ujung latus

rektum parabola y2 = 4x.

22. Suatu kurva berbentuk parabola memotong alas sepanjang 20 inci, ujungnya

setinggi 8 inci dari alas. Tentukan panjang tali busur yang sejajar dengan alas

dan berada di atas alas setinggi 6 inci.

23. Kabel pada suatu jembatan gantung, menggantung membentuk parabola diantara

dua menara yang berjarak 600 kaki. Ujung kabel diikat pada menara setinggi 110

kaki dari jalan raya dan titik terendah kabel setinggi 10 kaki dari jalan raya.

Tentukan total panjang lengan pengangkat jika tiap 50 kaki diberi lengan

pengangkat.

Latihan 6 A 205
BAB 6 Parabola

Dengan menggunakan definisi parabola secara langsung, tentukan persamaan

parabola, jika diberikan fokus dan direktriknya sebagai berikut:

24. Fokus (6, 0), direktrik sumbu-y.

25. Fokus (5, 4), direktrik garis x 3 = 0.

26. Fokus (0, 0), direktrik garis x + 4 = 0.

27. Fokus (8, 4), direktrik garis y 2 = 0.

28. Fokus ( 6, 2), direktrik sumbu-y.

29. Fokus ( 2, 0), direktrik garis x 4 = 0.

30. Fokus (2, 1), direktrik garis 3x + 4y = 0.

31. Fokus (0, 0), direktrik garis x + y 6 = 0.

32. Fokus (4, 3), direktrik y = x.

33. Fokus (0, 1), direktrik garis 5x + 12y 13 = 0.

34. Fokus (2, 4), direktrik garis 12x 5y = 0.

35. Radius fokal sebuah titik pada parabola adalah garis yang menghubungkan fokus

dengan titik tersebut. Tunjukkan bahwa radius fokal titik (x, y) pada parabola

y2 = 4px mempunyai panjang |x + p|.

Latihan 6 A 206
BAB 6 Parabola

6.4. Persamaan Parabola Bentuk Umum

Dengan merujuk pada penjelasan tentang translasi sumbu, jika puncak

parabola di titik V dengan koordinat (h, k) maka akan diperoleh persamaan parabola

yang lebih umum, dan persamaan baku parabola (1) dan (2) dari seksi 6.1 akan

berubah menjadi berturut-turut

(y k)2 = 4c(x h) (1)

(x h)2 = 4c(y k) (2)

Persamaan (1) di atas adalah persamaan parabola yang berpuncak di (h, k),

dengan titik fokus (h + c, k) dan direktrik x = h c. Sedangkan fokus parabola dengan

persamaan (2) adalah (h, c + k) dan direktrik y = k c.

Penjabaran lebih lanjut dari persamaan parabola (1) menghasilkan

(y k)2 = 4c(x h)

y2 2ky + k2 = 4cx 4ch

y2 4cx 2ky + k2 + 4ch = 0

Secara umum persamaan (1) dapat direduksi dalam bentuk

Cy2 + Dx + Ey + F = 0 (3)

6.4. Bentuk Umum Parabola 207


BAB 6 Parabola

dengan C dan D tidak sama dengan nol yang menyatakan persamaan parabola dengan

sumbu simetrinya sejajar dengan sumbu-x.

Secara sama persamaan (2) dapat direduksi dalam bentuk

Ax2 + Dx + Ey + F = 0 (4)

dengan A dan E tidak sama dengan nol yang menyatakan persamaan parabola dengan

sumbu simetrinya sejajar dengan sumbu-y.

Persamaan (3) dan (4) di atas dikenal sebagai bentuk umum persamaan

parabola.

Contoh 1:

Tentukan persamaan parabola yang mempunyai fokus di titik (7, 2) dan dengan

direktrik garis x = 1. Buat sketsa grafiknya.

Jawab:

Puncak parabola berada di tengah antara fokus dan direktrik. Dengan mudah

dapat diperoleh bahwa titik puncak parabola berada pada titik (4, 2). Jadi h = 4

dan k = 2.

Karena direktrik parabola adalah garis x = 1, maka parabola yang dicari

bersesuaian dengan persamaan (1) dan berlaku

6.4. Bentuk Umum Parabola 208


BAB 6 Parabola

h c=1

c=h 1 = 4 1 = 3.

Jadi persamaan parabola bentuk baku yang dicari adalah

(y 2)2 = 4 3 (x 4) (y 2)2 = 12(x 4)

Parabola diatas dapat direduksi menjadi dalam bentuk umum

y2 12x 4y + 52 = 0.

Sketsa grafik dapat dilihat pada gambar 6.7 berikut.

Y
x=1

F(7, 2)
V(4, 2)
O X

Gambar 6.7.

Contoh 2:

Sebuah parabola mempunyai persamaan

3x2 + 6x + 12y = 5

6.4. Bentuk Umum Parabola 209


BAB 6 Parabola

Nyatakan ke dalam bentuk baku, kemudian tentukan puncak, titik fokus dan

direktrik dari parabola tersebut.

Jawab:

Kita ubah bentuk persamaan di atas ke dalam bentuk baku seperti pada

persamaan (2)

3x2 + 6x + 8y = 5

3x2 + 6x = 8y + 5

3(x2 + 2x) = 8y + 5

3(x2 + 2x + 1 1) = 8y + 5

3(x + 1)2 3 = 8y + 5

3(x + 1)2 = 8y + 8

3(x + 1)2 = 8(y 1)

8
(x + 1)2 = (y 1)
3

Dengan membandingkan persamaan ini dengan persamaan (2) maka diperoleh

informasi

6.4. Bentuk Umum Parabola 210


BAB 6 Parabola

h = 1, k = 1

dan

8 2
4c = c=
3 3

Jadi dapatlah disimpulkan bahwa parabola yang terjadi berpuncak di ( 1, 1),

2 1
titik fokusnya adalah ( 1, 1 + ( )) = ( 1, ); dan garis direktriknya
3 3

2 5
y=1 ( ) y=
3 3

Sketsa grafik dapat dilihat di gambar 6.8.

V(-1, 1) Y
5
y=
3

O X
F(7, 2)

Gambar 6.8.

Contoh 3:

Tentukan persamaan parabola yang sumbu simetrinya sejajar dengan sumbu-y,

berpuncak di P(2, 3) dan melalui titik Q(4, 5)

6.4. Bentuk Umum Parabola 211


BAB 6 Parabola

Jawab:

Bentuk baku dari persamaan parabola yang mempunyai sumbu simetri sejajar

dengan sumbu-y dan berpuncak di (h, k) adalah

(x h)2 = 4c(y k)

Karena parabola yang diminta berpuncak di P(2, 3), maka persamaan parabola

dalam bentuk

(x 2)2 = 4c(y 3)

Titik Q(4, 5) terletak pada parabola, maka berlaku

(4 2)2 = 4c(5 3) c=½

Jadi persamaan parabola yang diminta adalah

(x 2)2 = 4 ½ (y 3)

x2 4x 2y + 10 = 0

6.4. Bentuk Umum Parabola 212


BAB 6 Parabola

Latihan 6 B.

Pada soal 1 6 tentukan persamaan parabola jika diberikan data-data sebagai

berikut: Buat sketsa grafiknya.

1. Puncak di titik (2, 3); fokus di titik (5, 3).

2. Puncak (2, 5); fokus (2, 1).

3. Fokus (6, 1); direktrik sumbu-y.

4. Puncak (3, 1); direktrik y = 3

5. Puncak ( 4, 3); direktrik x = 6.

6. Puncak (4, 2); latus rektum sama dengan 8; sumbu parabola y + 2 = 0.

7. Ujung-ujung latus rektum ( 2, 7) dan (6, 7), parabola menghadap ke atas.

8. Ujung-ujung latus rektum (3, 1) dan (3, 5), parabola menghadap ke kanan.

9. Absis salah satu ujung latus rektum adalah 5, puncak parabola di (1, 1), sumbu

parabola sejajar dengan sumbu-y.

10. Fokus (4, 5), garis x = 4 menjadi sumbu simetri, dan melalui titik (2, 3).

Latihan 6 B 213
BAB 6 Parabola

6.5. Persamaan Garis Singgung pada Parabola.

Seperti halnya pada lingkaran dan ellips, terdapat dua macam garis singgung

yang akan dibicarakan, yaitu garis singgung yang melalui salah satu titik pada

parabola dan garis singgung yang mempunyai kemiringan tertentu.

6.5.1. Persamaan Garis Singgung yang mempunyai kemiringan m.

6.5.1.1. Pada parabola yang membuka ke kiri/kanan

Sekarang dibahas garis singgung suatu parabola yang mempunyai kemiringan

tertentu.

Misalkan kita akan mencari persamaan garis singgung parabola y2 = 4cx

yang mempunyai kemiringan m (lihat gambar 6.9).

Y l y = mx + b

y2 = 4cx

X
O

Gambar 6.9:

6.5. Persamaan Garis Singgung Parabola 214


BAB 6 Parabola

Karena kemiringan garis singgung l sudah diketahui maka dimisalkan

mempunyai persamaan garis yaitu keluarga garis dengan kemiringan m;

l y = mx + b,

dengan b konstanta yang belum diketahui.

Jika persamaan garis itu disubstitusikan ke persamaan parabola akan diperoleh

hubungan

(mx + b)2 = 4cx

m2x2 + (2mb 4c)x + b2 = 0 (1)

Oleh karena garis menyinggung parabola maka haruslah memotong pada satu

titik saja, dengan kata lain persamaan kuadrat di atas haruslah mempunyai

penyelesaian yang kembar. Hal itu berarti nilai diskriminannya haruslah nol.

Kondisi ini diberikan oleh persamaan :

(2mb 4c)2 4m2b2 = 0

Persamaan di atas akan memberikan selesaian untuk b

c
b= ,m 0
m

Jadi persamaan garis singgung parabola y2 = 4cx yang mempunyai kemiringan

m adalah

6.5. Persamaan Garis Singgung Parabola 215


BAB 6 Parabola

c
l y = mx + (2)
m

Persamaan garis singgung parabola (y k)2 = 4c(x k) yang berpuncak di titik

(h, k) dan sumbu parabola sejajar dengan sumbu-x, jika garis mempunyai kemiringan

m, dapat diperoleh dengan mentranslasikan persamaan (2) sedemikian hingga titik

asal berpindah ke titik (h, k). Dengan translasi ini diperoleh persamaan garis:

c
y k = m(x h) + (3)
m

Contoh 1:

Tentukan persamaan garis singgung parabola y2 + 6y 8x + 25 = 0 yang tegak

lurus garis 2x + y 3 = 0.

Jawab:

Kita tulis kembali persamaan parabola

y2 + 6y = 8x + 25

Dengan melengkapkan kuadrat persamaan parabola pada suku yang memuat y

pada ruas kiri diperoleh bentuk :

(y + 3)2 = 8x 16

6.5. Persamaan Garis Singgung Parabola 216


BAB 6 Parabola

(y + 3)2 = 4 2(x 2)

Persamaan terakhir adalah bentuk baku dari persamaan parabola dengan puncak

(2, 3) dan c = 2, yaitu h = 2, dan k = 3.

Misalkan m adalah kemiringan garis singgung yang dicari. Garis 2x + y 3=0

mempunyai kemiringan 2, sedangkan garis singgung yang diminta tegak lurus

dengan di atas, yang berarti perkalian antar kemiringan garis sama dengan 1.

Jadi

m.( 2) = 1 m = ½.

Dengan persamaan (3) di atas maka persamaan garis singgung yang dicari

adalah :

2
y + 3 = ½(x 2) +
1
2

x 2y = 0

Jadi persamaan garis singgung yang dicari adalah

x 2y = 0

6.5.1.2. Pada parabola yang membuka ke atas/bawah

Perhatikan bahwa persamaan garis singgung seperti tertuang baik dalam

persamaan (2) maupun (3) di atas hanya berlaku pada parabola yang sumbu
6.5. Persamaan Garis Singgung Parabola 217
BAB 6 Parabola

simetrinya berimpit atau sejajar sumbu-x. Jika sumbu simetrinya sejajar dengan

sumbu-y, atau membuka ke atas/bawah maka rumus tersebut tidak berlaku.

Persamaan baku parabola yang berpuncak di titik asal dan sumbu simetrinya

berimpit dengan sumbu-y adalah x2 = 4cy. Misalkan persamaan garis singgung

parabola itu mempunyai kemiringan m, dan kita misalkan berbentuk

l y = mx + b

dengan b konstanta yang belum diketahui.

Jika y disubstitusikan pada parabola diperoleh

x2 = 4c(mx + b)

x2 4cmx 4cb = 0 (4)

Dengan penjelasan yang sama dalam menurunkan rumus (3) maka l

menyinggung parabola maka diskriminan persamaan kuadrat (4) haruslah nol. Hal itu

diberikan oleh persamaan

(4cm)2 4 ( 4cb) = 0

yang memberikan penyelesaian untuk b yaitu :

b = cm2

Jadi persamaan garis singgung yang dicari adalah

6.5. Persamaan Garis Singgung Parabola 218


BAB 6 Parabola

y = mx cm2 (5)

Demikian pula untuk memperoleh persamaan garis singgung parabola yang

lebih umum (x h)2 = 4c(y k) yang berpuncak di titik (h, k) dan sumbu parabola

sejajar dengan sumbu-y, jika garis mempunyai kemiringan m, dapat diperoleh dengan

mentranslasikan persamaan (5) sedemikian hingga titik asal berpindah ke titik (h, k).

Dengan translasi ini diperoleh persamaan garis:

y k = m(x h) cm2 (6)

Contoh 2:

Tentukan titik potong garis singgung parabola x2 4x 4y 8 = 0 yang

mempunyai kemiringan 3 dengan sumbu-sumbu koordinat.

Jawab:

Pertama dicari persamaan garis singgungnya, kemudian ditentukan titik potong

garis tersebut dengan sumbu-sumbu koordinat.

Tulis kembali persamaan parabola dalam bentuk :

x2 4x = 4y + 8

6.5. Persamaan Garis Singgung Parabola 219


BAB 6 Parabola

Dengan melengkapkan kuadrat sempurna pada ruas kiri persamaan parabola

dapat ditulis ke dalam bentuk baku

(x 2)2 = 4y + 12

(x 2)2 = 4(y + 3)

Persamaan terakhir adalah bentuk baku dari persamaan parabola dengan puncak

(2, 3) dan diperoleh h = 2, k = 3. Dan juga 4c = 4 atau c = 1.

Garis singgung yang dicari mempunyai kemiringan m = 3.

Dengan menggunakan persamaan (6) maka persamaan garis singgung yang

dicari adalah :

y + 3 = 3(x 2) 1 32

y + 3 = 3x 6 9

3x y 18 = 0

Jadi persamaan garis singgung yang dicari adalah

3x y 18 = 0

Dengan demikian titik potong dengan sumbu-x dapat ditentukan dengan

memberi nilai y = 0 pada garis singgung sehingga diperoleh x = 6. Jadi

memotong sumbu-x di titik (6, 0).

6.5. Persamaan Garis Singgung Parabola 220


BAB 6 Parabola

Hal yang sama dapat dilakukan untuk memperoleh titik potong dengan sumbu-y

dengan memberi nilai x = 0, sehingga diperoleh y = 18. Jadi memotong sumbu-

y di titik (0, 18).

6.5.2. Persamaan Garis Singgung yang melalui titik di Parabola.

6.5.2.1. Pada parabola yang membuka ke kiri/kanan

Untuk menentukan persamaan garis singgung parabola di titik (x1, y1) yang

terletak pada parabola, pertama kita pandang parabola dalam bentuk y2 = 4cx dan

rumus persamaan garis singgung yang ada rumus (2) pada seksi 6.5.1.

Menurut (2), persamaan garis singgung parabola y2 = 4cx dengan kemiringan

c
m adalah y = mx + . Jika titik (x1, y1) merupakan titik singgung garis pada
m

parabola, maka akan berlaku

c
y1 = mx1 + (1)
m

Sekarang nilai m akan kita cari dalam bentuk x1, y1 dan c yang mana

parameter itu sudah diketahui/diberikan.

Kalikan masing-masing ruas pada persamaan (1) dengan m diperoleh bentuk

persamaan kuadrat

x1m2 y1m + c = 0

6.5. Persamaan Garis Singgung Parabola 221


BAB 6 Parabola

yang memberikan penyelesaian untuk m

y1 y12 4 x1c
m= (2)
2 x1

Karena titik (x1, y1) juga terletak pada parabola maka juga berlaku hubungan

y12 = 4cx1 (3)

sehingga jika disubstitusikan ke persamaan (2) diperoleh

y1
m= (4)
2x1

Jika nilai m disubstitusikan ke persamaan garis singgung diperoleh

c
y = mx + .
m

y1 2x c
y = x+ 1
2x1 y1

y12
y 1y = x + 2x1c
2x1

Substitusi nilai y12 = 4cx1 ke persamaan di atas diperoleh

y1y = 2c(x + x1)

6.5. Persamaan Garis Singgung Parabola 222


BAB 6 Parabola

Jadi jika P(x1, y1) titik pada parabola y2 = 4cx, maka persamaan garis singgung

parabola di titik P diberikan oleh persamaan

y1y = 4c ½(x + x1) (5)

Misalkan P(x1 , y1) titik pada parabola (y k)2 = 4c(x h), maka persamaan

garis singgung parabola di titik P dapat dicari dari persamaan (5) dengan

mentranslasikan sumbu-sumbu koordinat sedemikian hingga titik asal (0, 0) menjadi

titik dengan koordinat (h, k), yaitu dengan substitusi

(y1 k)(y k) = 4c(½(x + x1) h) (6)

Jika parabola dalam bentuk umum Cy2 + Dx + Ey + F = 0, maka persamaan

garis singgung parabola yang menyinggung di titik P(x1, y1) dapat dituliskan dalam

bentuk:

Cy1y + ½D(x + x1) + ½E(y + y1) + F = 0 (7)

Contoh 1:

Tentukan persamaan garis singgung parabola y2 = 8x di titik yang mempunyai

ordinat 4.

Jawab:

Kita nyatakan parabola dalam bentuk baku


6.5. Persamaan Garis Singgung Parabola 223
BAB 6 Parabola

y2 = 8x

y2 = 4 2x

Dari persamaan di atas terlihat bahwa c = 2 dan puncak parabola di titik (0, 0)

Untuk menentukan koordinat titik yang terletak pada parabola dengan ordinat 4,

kita masukkan y = 4 pada parabola maka diperoleh absis

42 = 8x

x =2

Jadi titik singgung yang dimaksud adalah (2, 4). Dengan mempergunakan

persamaan (5) kita peroleh

4y = 2 2(x + 2)

4y = 4x + 8

x y+2 =0

Grafik persamaan parabola dan garis singgungnya dapat dilihat di gambar 6.10

berikut

6.5. Persamaan Garis Singgung Parabola 224


BAB 6 Parabola

Gambar 6.10 :

Contoh 2:

Tentukan persamaan garis singgung parabola y2 4y 8x + 28 = 0 di titik yang

mempunyai ordinat 6.

Jawab:

Kita nyatakan parabola dalam bentuk baku

y2 4y 8x + 28 = 0

y2 4y = 8x 28

y2 4y + 4 = 8x 28 + 4

(y 2)2 = 8x 24

6.5. Persamaan Garis Singgung Parabola 225


BAB 6 Parabola

(y 2)2 = 4 2(x 3)

Dari persamaan terakhir diperoleh (h, k) = (3, 2) dan c = 2.

Untuk menentukan koordinat titik yang terletak pada parabola dengan ordinat 6,

kita substitusikan y = 6 pada parabola maka diperoleh absis

(6 2)2 = 4 2(x 3)

x =5

Jadi titik singgung yang dimaksud adalah (5, 6). Dengan mempergunakan

persamaan (6) akan diperoleh

(6 2)(y 2) = 2 2(x + 5 2 3)

4(y 2) = 4(x 1)

4y 8 = 4x 4

x y+1 =0

6.5.2.2. Pada parabola yang membuka ke atas/bawah

Selanjutnya kita perhatikan parabola dalam bentuk x2 = 4cy dan rumus

persamaan garis singgung yang ada rumus (5) pada seksi 6.5.1.

6.5. Persamaan Garis Singgung Parabola 226


BAB 6 Parabola

Andaikan titik P(x1, y1) pada parabola x2 = 4cy, maka berlaku

x12 = 4cy1 (1)

dan dengan mengingat persamaan garis singgung parabola yang mempunyai kemiringan

m adalah y = mx cm2 dan titik P(x1, y1) pada garis singgung, maka berlaku

y1 = mx1 cm2

cm2 x1m + y1 = 0 (2)

Diperoleh penyelesaian m dalam x1, y1, dan c yaitu

x1 x12 4cy1
m=
2c

Dengan mengingat (1) maka

x1
m= (3)
2c

Jika nilai m ini disubstitusikan ke persamaan garis singgung diperoleh

2
x x
y= 1 x c 1
2c 2c

4cy = 2x1x x12

Dengan mengingat rumus (1) diperoleh


6.5. Persamaan Garis Singgung Parabola 227
BAB 6 Parabola

4cy = 2x1x 4cy1

y y1
x1x = 4c (4)
2

Jika parabola dalam bentuk umum Ax2 + Dx + Ey + F = 0, maka persamaan garis

singgung parabola yang menyinggung di titik P(x1, y1) dapat dituliskan dalam bentuk:

Ax1x + ½D(x + x1) + ½E(y + y1) + F = 0 (5)

Contoh 1:

Tentukan persamaan garis singgung parabola y = x2 6x + 5 di titik (2, 3).

Jawab:

Persamaan parabola di atas jika dinyatakan dalam bentuk umum akan berbentuk

x2 6x y+5=0

Dengan demikian diketahui bahwa A = 1, D = 6, E = 1, dan F = 5. Diketahui

pula x1 = 2, y1 = 3. Jadi menurut persamaan (5) persamaan garis yang dicari

adalah

2x ½ 6(x + 2) ½ (y 3) + 5 = 0

2x + y 1 = 0
6.5. Persamaan Garis Singgung Parabola 228
BAB 6 Parabola

Latihan 6 C:

Pada soal 1 6 tentukan persamaan garis singgung pada parabola di titik A(x1, y1)

yang diberikan dan yang mempunyai kemiringan m yang diberikan.

1. y2 = 6x, m = 2, A(2, 2/3)

2. x2 + 4y = 0, m=½, A(2, 1)

3. x + 2y2 = 1, m = 3/4, A(1, 1)

4. 8x2 3y = 0, m = 2, A(1/2, 4/3)

5. 2x2 + 3y 6 = 0, m = 3/4, A(1, 4/3)

6. y2 + 2y + 6x + 4 = 0, m = 1, A( 2, 4)

7. Tentukan persamaan parabola yang menyinggung garis x = 2 di titik (2, 0) dan

titik fokusnya (4, 0).

8. Puncak parabola menyinggung garis y = 2. Tentukan persamaan parabola

tersebut jika titik fokusnya (5, 2).

9. Tentukan persamaan garis singgung parabola y 2 = 16x yang sejajar garis

x y = 3.

10. Tentukan persamaan garis singgung parabola y2 + 2y + 6x + 4 = 0 yang tegak

lurus garis x + 2y = 6.
Latihan 6 C 229
BAB 6 Parabola

11. Tentukan persamaan garis singgung parabola x2 = 8y yang memuat titik (4, 0).

12. Tentukan persamaan garis singgung parabola y 2 4x = 0 yang memuat titik

( 2, 1).

13. Sebuah komet mempunyai orbit berbentuk parabolik dengan matahari sebagai

fokusnya. Pada saat komet berjarak 100 juta mil dari matahari, garis yang

menghubungkan matahari dengan komet membentuk sudut 60 dengan sumbu

parabola. Tentukan jarak lintasan terdekat ke matahari perjalanan komet tersebut.

14. Misalkan V adalah titik puncak parabola y2 = 4cx, F fokus, P titik pada parabola

yang berbeda dengan V, T adalah titik potong garis singgung di titik P dengan

sumbu-x, N adalah titik potong garis normal di P dengan sumbu-x, X proyeksi

tegak lurus titik P pada sumbu-x, dan Q titik potong antara garis singgung dengan

sumbu-y (lihat gambar 6.11). Tunjukkan bahwa

(a). TF = FP
Y
P
(b). TV = VX Q
X
T V F X N
(c). XN = c

(d). QF TP

Gambar 6.11 :

Latihan 6 C 230
BAB 7 Hiperbola

HHiippeerrbboollaa

7.1. Persamaan Hiperbola Bentuk Baku

Hiperbola adalah himpunan semua titik (x, y) pada bidang sedemikian hingga

selisih positif jarak titik (x, y) terhadap pasangan dua titik tertentu yang disebut titik

fokus (foci) adalah tetap.

Untuk menentukan persamaan hiperbola, misalkan kita pilih titik-titik fokus F

dan F terletak pada sumbu-x. Sedangkan sumbu-y diletakkan di tengah-tengah

segmen garis FF .

Misalkan kita tentukan titik fokusnya adalah F (-c, 0) dan F(c, 0) sedangkan

selisih jarak konstan tertentu adalah 2a. (lihat gambar 5.1).

Q(x, y) P(x, y)

F (-c, 0) F(c, 0) x

Gambar 6.1

Latihan 6 C 231
BAB 7 Hiperbola

Jika (x, y) merepresentasikan titik pada hiperbola, maka dari definisi diperoleh

PF ' PF = 2a

( x ( c)) 2 y2 ( x c) 2 y2 = 2a

( x c) 2 y2 = ( x c) 2 y 2 + 2a

(x + c)2 + y2 = (x c)2 + y2 + 4a ( x c) 2 y 2 + 4a2

x2 + 2cx + c2 + y2 = x2 2cx + c2 + y2 + 4a2 + 4a ( x c) 2 y2

-4a2 + 4cx = 4a ( x c) 2 y2

cx
-a + = ( x c) 2 y2
a

cx
( x c) 2 y2 = -a +
a

c2 x2
x2 2cx + c2 + y2 = a2 2cx +
a2

c2 a2
2
x2 y2 = c2 a2
a

x2 y2
=1
a2 c2 a2

Dalam segitiga PFF terlihat bahwa

PF ' < PF + FF '

PF ' PF < FF '

2a < 2c

Latihan 6 C 232
BAB 7 Hiperbola

a<c

c2 a2 > 0

Karena c2 a2 adalah positif, maka bisa diganti dengan bilangan positif lain,

sebut b2 sehingga

x2 y2
=1
a2 b2

dimana b2 = c2 a2. Ini merupakan bentuk baku persamaan hiperbola.

Kedua sumbu koordinat sumbu-x dan sumbu-y adalah sumbu simetri pada

hiperbola dan ( a, 0) adalah titik-titik potong dengan sumbu-x. Dalam hal ini tidak

memotong sumbu-y, sebab untuk x = 0 diperoleh

y2
= 1,
b2

yang mana tidak ada bilangan real y yang memenuhi persamaan di atas.

Sumbu-x (yang memuat dua titik dari hiperbola) disebut sumbu tranversal

(transverse axis) dan sumbu-y disebut sumbu sekawan (conjugate axes). Titik potong

hiperbola dengan sumbu trasversal disebut titik ujung (dalam hal ini ( a, 0)) dan

perpotongan kedua sumbu simetri disebut pusat hiperbola. Jarak antara kedua titik

ujung adalah 2a dan disebut sumbu mayor dan besaran 2b disebut sumbu minor.

Dalam hal ini panjang sumbu mayor tidak harus lebih besar dari sumbu minor. Hal

x2 y2
ini berbeda pada persamaan ellips. Sketsa grafik persamaan hiperbola =1
a2 b2

dan posisi titik-titik ( a, 0), ( c, 0), dan (0, b) dapat dilihat pada gambar 6.2 berikut.

Latihan 6 C 233
BAB 7 Hiperbola

(0, b)

(-a, 0) (a, 0)

F (-c, 0) F(c, 0) x

(0, -b)

Gambar 6.2

x2 y2
Garis ax by = 0 disebut persamaan garis asimtotik dari hiperbola
a2 b2

= 1.

Teorema 6.1:

Titik (x, y) berada pada hiperbola yang mempunyai fokus ( c, 0) dan

titik-titik ujung ( a, 0) jika dan hanya jika memenuhi persamaan

x2 y2
=1
a2 b2

Latihan 6 C 234
BAB 7 Hiperbola

dimana b2 = c2 a2.

Peranan sumbu-x dan sumbu-y dalam bentuk grafik akan dinyatakan dalam

teorema berikut.

Teorema 6.2:

Titik (x, y) berada pada hiperbola yang mempunyai fokus (0, c) dan

titik-titik ujung (0, a) jika dan hanya jika memenuhi persamaan

y2 x2
=1
a2 b2

dimana b2 = c2 a2.

Dari teorema 6.2 dan 6.2 di atas, bahwa sumbu mayor sejajar dengan sumbu

yang variabelnya berharga positif.

Contoh 1:

x2 y2
Selidiki dan buat sketsa grafik dari persamaan =1
9 16

Jawab:

Jika kita perhatikan terlihat bahwa a2 = 9, b2 = 16, dan c2 = a2 + b2 = 25.

Hiperbola ini mempunyai pusat (0, 0), titik-titik ujung ( 3, 0), dan titik fokus

( 5, 0). Persamaan garis asimtotik hiperbola di atas adalah 3x 4y = 0. Panjang

sumbu mayor = 6 sejajar sumbu-x dan panjang sumbu minor = 8. Sketsa grafik

dapat dilihat pada gambar 6.3 dibawah ini.

Latihan 6 C 235
BAB 7 Hiperbola

(0, 4)

(-3, 0) (3, 0)
F (-5, 0) F(5, 0) x

(0, -4)

Gambar 6.3

Contoh 2:

Selidiki dan buat sketsa grafik persamaan 16x2 9y2 + 144 = 0.

Jawab:

Kita ubah persamaan 16x2 9y2 + 144 = 0 ke dalam bentuk baku, yaitu

16x2 9y2 + 144 = 0

9y2 16x2 = 144

y2 x2
=1
16 9

Latihan 6 C 236
BAB 7 Hiperbola

Dari persamaan terakhir terlihat bahwa a2 = 16, b2 = 9, dan c2 = a2 + b2 = 25.

Hiperbola ini mempunyai pusat (0, 0), titik-titik ujung (0, 4), dan titik fokus

(0, 5). Persamaan garis asimtotik hiperbola di atas adalah 4x 3y = 0. Panjang

sumbu mayor = 8 sejajar sumbu-x dan panjang sumbu minor = 6. Sketsa grafik

dapat dilihat pada gambar 6.4 dibawah ini.

F(0, 5)

(0, 4)

(-3, 0) (3, 0)
x

(0, -4)

F (0, -5)

Gambar 6.4

Contoh 3:

Tentukan persamaan hiperbola yang fokus ( 4, 0) dan titik-titik ujung ( 2, 0).

Latihan 6 C 237
BAB 7 Hiperbola

Jawab:

Karena fokus yang diberikan terletak pada sumbu-x maka bentuk baku dari

persamaan hiperbola yang dicari seperti pada teorema 6.1. Dari titik fokus yang

diberikan maka diperoleh c = 4, titik ujung diperoleh a = 2 dan b2 = c2 a2 = 16

4 = 12.

Jadi persamaan yang dicari adalah

x2 y2
=1
4 12

3x2 y2 = 12

Untuk memperoleh persamaan hiperbola yang lebih umum, misalkan

diadakan translasi pusat sumbu koordinat ke titik (h, k), maka diperoleh persamaan

x2 y2
hiperbola = 1 menjadi
a2 b2

(x h )2 ( y k )2
=1
a2 b2

Untuk c2 = a2 + b2, persamaan di atas adalah persamaan hiperbola dengan pusat di (h,

k), titik-titik fokus (h c, k) dan titik-titik ujung (h a, k) Hal ini dinyatakan dalam

teorema berikut.

Latihan 6 C 238
BAB 7 Hiperbola

Teorema 6.3:

Titik (x, y) berada pada hiperbola yang mempunyai pusat (h, k), fokus

(h c, k) dan titik-titik ujung (h a, k) jika dan hanya jika memenuhi

persamaan

(x h )2 ( y k )2
=1
a2 b2

dengan b2 = c2 a2 (lihat gambar 6.5).

(h, k + b)

(h - a, k) (h + a, k)

F (h -c, k) (h, k) F(h+c, k)

(h, k - b)

Gambar 6.5

Teorema 6.4:

Latihan 6 C 239
BAB 7 Hiperbola

Titik (x, y) berada pada hiperbola yang mempunyai pusat (h, k), fokus

(h, k c) dan titik-titik ujung (h, k a) jika dan hanya jika memenuhi

persamaan

( y h )2 (x k )2
=1
a2 b2

dengan b2 = c2 a2 (lihat gambar 6.6).

Latihan 6 C 240
BAB 7 Hiperbola

F(h+c, k)

(h, k + b)

(h - a, k) (h - a, k)

(h, k)

(h, k - b)

F (h -c, k) x

Gambar 6.6

Contoh 4:

Sebuah hiperbola mempunyai persamaan

9x2 4y2 36x 8y + 68 = 0

Tentukan pusat, titik ujung, titik fokus dan gambar grafik hiperbola tersebut.

Jawab:

Latihan 6 C 241
BAB 7 Hiperbola

Kita ubah bentuk persamaan di atas ke dalam bentuk baku seperti pada teorema

6.3 atau teorema 6.4.

9x2 4y2 36x 8y + 68 = 0

9x2 36x 4y2 8y = -68

9(x2 4x + 4) 4(y2 + 2y + 1) = -68 + 36 - 4

9(x 2)2 4(y + 1)2 = -36

4(y + 1) 2 9(x 2)2 = 36

( y 1)2 (x 2 )2
=1
9 4

Dari persamaan terakhir diperoleh informasi h = 2, k = -1, a2 = 9, dan b2 = 4.

Dengan demikian c2 = a2 + b2 = 9 + 4 = 13.

Menurut teorema 6.4 dapatlah disimpulkan bahwa hiperbola yang terjadi

berpusat di (2, -1), titik-titik ujungnya (2, -1 + 3) = (2, 2) dan (2, -1 3) = (2, -

4), titik fokusnya adalah (2, -1 + 13 ) dan (2, -1 13 ). Sketsa grafik dapat

dilihat di gambar 6.7

F(2,-1+ 13 )

(2, 2)

Latihan 6 C 242
BAB 7 Hiperbola

(0,-1) (2,-1) (4,-1)


(2, -4)

F (2,-1 13 )

Gambar 6.7

Latihan 6 C 243
BAB 7 Hiperbola

Soal-soal:

Pada soal 1 4 tentukan pusat, titik ujung, titik fokus, dan buat sketsa

grafiknya.

1. 4x2 9y2 + 36 = 0

2. 4x2 5y2 10y 25 = 0

3. 9x2 12y2 36y 72 = 0

4. 18x2 16y2 + 180x 32y 396 = 0

5. 9x2 4y2 18x 24y 63 = 0

6. 4x2 y2 40x 2y + 95 = 0

7. 16x2 9y2 + 54y 225 = 0

8. 4x2 9y2 4x 18y 26 = 0

9. 9x2 16y2 + 36x + 32y 124 = 0

10. 9x2 4y2 + 90x + 32y + 125 = 0

Pada soal 11 13 tentukan persamaan hiperbola dengan informasi yang diberikan dan

buat sketsa grafiknya.

7. Tentukan persamaan hiperbola yang salah satu titik fokus (0, 0), jarak antara

kedua titik fokus 10 dan sumbu mayor berjarak 6 serta sejajar dengan sumbu-x

(ada dua jawaban)

8. Tentukan persamaan hiperbola yang mempunyai sumbu sekawan di x = 12,

menyinggung sumbu-y di (0, -2), dan sumbu minor berjarak 10.

Latihan 6 C 244
BAB 7 Hiperbola

9. Tentukan persamaan hiperbola yang mempunyai titik ujung (0, 6), dan fokus (0,

10).

Latihan 6 C 245